Makalah sistem muskuloskeletal AKPER PEMKAB MUNA

19,184 views

Published on

0 Comments
6 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
19,184
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
17
Actions
Shares
0
Downloads
342
Comments
0
Likes
6
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah sistem muskuloskeletal AKPER PEMKAB MUNA

  1. 1. Makalah : Ilmu Penyakit Dalam Dosen : dr. Lelly Marlina Mahmud SISTEM MUSKULOSKELETAL Oleh : Kelompok 3 NURDIN KOWA LD. IFAN RUFI FACHTOR RAHMAN LM. ACAL MANSIRI SECTYA NENDYA S FITRIA WULANDARI YULHIRDA ESTI WD. SITI NARNI LILI ASMIN NURNI AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN MUNA 2012
  2. 2. KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Anatomi Fisisologi Sistem Muskuloskeletal”. Adapun harapan kami kepada para pembaca atau semua kalangan yang telah membaca makalah ini yaitu dapat menambah wawasan / pengetahuan dalam kehidurpan sehari-hari Namun kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan yang disebabkan karena terbatasnya kemampuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan partisipasi dalam penyempurnaannya dengan memberikan kritik dan saran agar makalah ini dapat lebih terkonsep dengan baik. Kami sangat mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Kritik & saran anda sangat kami harapkan dalam penyempurnaan makalah ini. Sekian & terima kasih. Raha, April 2012 Penyusun
  3. 3. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR…………………………………………………………… i DAFTAR ISI…………………………………………………………………….. ii BAB I. PENDAHULUAN………………………………………………………. 1 A. LatarBelakang………………………………………………………… 1 B. Tujuan………………………………………………………………… 1 C. RumusanMasalah…………………………………………………….. 1 D. Metode Penulisan……………………………………………………... 1 BAB II. PEMBAHASAN………………………………………………………… 2 A. Pengertian Sistem Muskuloskeletal…………………………………... 2 B. Anatomi Fisiologi …………………………………………………….. 2 C. Penyakit – penyakit pada Sistem Muskoloskeletal………………………………………….......……….. BAB III. PENUTUP……………………………………………………………… 14 25 A. Kesimpulan…………………………………………………………… 25 B. Saran……………………………………………………….................. 25 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
  4. 4. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Susunan kerangka terdiri dari susunan berbagai macam tulang yang banyaknya kira-kira 206 buah tulang yang satu sama lainnya saling berhubunga yang terdiri dari tulang kepala yang berbentuk tengkorak ( 8 buah), tulang wajah (14 buah), tulang telinga dalam (6 buah), tulang lidah (1 buah), tulang kerangka dada (25 buah), tulang belakang dan panggul (26 buah), tulang anggota gerak atas (64 buah), tulang anggota gerak bawah (62 buah). Fungsi utama Sistem Muskuloskeletal adalah menegakkan posture dan untuk pergerakan Sedangkan fungsi otot adalah kontraksi dan menghasilkan gerakan-gerakan bagian tubuh/Semua komponen bekerjasama untuk melakukan fungsi gangguan salah satu komponen → mengganggu fungsi. Otot terdiri dari otot rangka, otot polos, dan otot jantung. Sendi merupakan suatu engsel yang membuat anggota tubuh dapat bergerak dengan baik, juga merupakan suatu penghubung antara ruas tulang yang satu dengan ruas tulang lainnya, sehingga kedua tulang tersebut dapat digerakkan sesuai dengan jenis persendian yang diperantarainya. B. Tujuan Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan dalam makalah ini adalah 1. Untuk mengetahui devenisi musculoskeletal 2. Untuk mengetahui anatomi fisiologi musculoskeletal 3. Untuk mengetahui penyakit-penyakit pada system musculoskeletal C. Rumusan Masalah Berdasarka, tujuan makalah diatas, maka rumusan makalah dalam makalah ini adalah 1. Apakah devenisi sistem musculoskeletal? 2. Bagaimana anatomi fisiologi musculoskeletal? 3. Penyakit-penyakit apa saja pada system musculoskeletal? D. Manfaat Manfaat yang kami harapkan dengan adanya makalah ini adalah dapat menambah wawasan pengetahuan bagi penbaca, layaknya penyusun makalah ini dan dapat digunakan sebagai referensi untuk perbaikan makalah ini kedepannya.
  5. 5. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Sistem Muskuloskeletal Sistem Muskuloskeletal adalah penunjang bentuk tubuh dan pengurus pergerakan. B. Anatomi Fisiologi Sistem Muskuloskeletal Muskuloskeletal terdiri atas :  Muskuler/Otot : Otot, tendon,dan ligament  Skeletal/Rangka : Tulang dan sendi 1. Muskuler/Otot 1.1. Otot Otot Rangka Otot Polos Otot Jantung Jenis-jenis otot a. Otot Rangka Merupakan otot lurik, volunter, dan melekat pada rangka. Serabut otot sangat panjang, sampai 30 cm, berbentuk silindris dengan lebar berkisar antara 10 mikron sampai 100 mikron. Setiap serabut memiliki banyak inti yang tersusun di bagian perifer. Kontraksinya sangat cepat dan kuat. Struktur Mikroskopis Otot Skelet/Rangka  Otot skelet disusun oleh bundel-bundel paralel yang terdiri dari serabut-serabut berbentuk silinder yang panjang, disebut myofiber /serabut otot.  Setiap serabut otot sesungguhnya adalah sebuah sel yang mempunyaibanyak nukleus ditepinya.  Cytoplasma dari sel otot disebut sarcoplasma yang penuh denganbermacam-macam organella, kebanyakan berbentuk silinder yang panjangdisebut dengan myofibril.
  6. 6.  Myofibril disusun oleh myofilament-myofilament yang berbeda-beda ukurannya. Yang kasar terdiri dari protein myosin dan yang halus terdiri dari protein aktin/actin. b. Otot Polos Merupakan otot tidak berlurik dan involunter. Jenis otot ini dapat ditemukan pada dinding berongga seperti kandung kemih dan uterus, serta pada dinding tuba, seperti pada sistem respiratorik, pencernaan, reproduksi,urinarius, dan sistem sirkulasi darah. Serabut otot berbentuk spindel dengan nukleus sentral.Serabut ini berukuran kecil, berkisar antara 20 mikron (melapisi pembuluhdarah) sampai 0,5 mm pada uterus wanita hamil. Kontraksinya kuat dan lamban. Struktur Mikroskopis Otot Polos  Sarcoplasmanya terdiri dari myofibril yang disusun oleh myofilamen-myofilamen. Jenis otot polos Ada dua kategori otot polos berdasarkan cara serabut otot distimulasi untuk berkontraksi. 1. Otot polos unit ganda Ditemukan pada dinding pembuluh darah besar,pada jalan udara besar traktus respiratorik, pada otot mata yangmemfokuskan lensa dan menyesuaikan ukuran pupil dan pada otot erektorpili rambut. 2. Otot polos unit tunggal (viseral) Ditemukan tersusun dalam lapisan dinding organ berongga atau visera. Semua serabut dalam lapisan mampu berkontraksi sebagai satu unit tunggal. Otot ini dapat bereksitasi sendiri atau miogenik dan tidak memerlukan stimulasi saraf eksternal untuk hasildari aktivitas listrik spontan. c. Otot Jantung Merupakan otot lurik. Disebut juga otot seran lintang involunter. Otot ini hanya terdapat pada jantung. Bekerja terus-menerus setiap saat tanpa henti, tapi otot jantung jugamempunyai masa istirahat, yaitu setiap kali berdenyut. Struktur Mikroskopis Otot Jantung  Mirip dengan otot skelet
  7. 7. 1.2. Tendon Tendon adalah tali atau urat daging yang kuat yang bersifat fleksibel, yang terbuat dari fibrous protein (kolagen). Tendon berfungsi melekatkan tulang dengan otot atau tot dgn otot. 1.3 Ligamen Ligamen adalah pembalut/selubung yang sangat kuat, yang merupakan jaringan elastis penghubung yang terdiri atas kolagen. Ligamen membungkustulang dengan tulang yang diikat oleh sendi. Beberapa tipe ligamen : a. Ligamen Tipis Ligamen pembungkus tulang dan kartilago. Merupakan ligament kolateral yang ada di siku dan lutut. Ligamen ini memungkinkan terjadinya pergerakan. b. Ligamen jaringan elastik kuning Merupakan ligamen yang dipererat oleh jaringan yang membungkus dan memperkuat sendi, seperti pada tulang bahu dengan tulang lengan atas. Fungsi sistem muskuler:  Pergerakan Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut melekat dan bergerak dalam bagian organ internal tubuh.  Penopang tubuh dan mempertahankan postur. Otot menopang rangka danmempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri atau saat duduk terhadap gaya gravitasi.  Produksi panas. Kontraksi otot-otot secara metabolis menghasilkan panasuntuk mepertahankan suhu tubuh normal. 2. Skeletal/Rangka 2.1. Tulang Susunan tulang  Tulang kepala/tengkorak  Kerangka dada 25 buah  Tulang belakang dan pinggul 26 buah  Tulang anggota gerak atas 64 buah
  8. 8.  Tulang anggota gerak bawah 62 buah 1. Tulang Tengkorak Tengkorak otak 1. Kubah tengkorak, terdiri dari tulang-tulang: Os frontal/ tulang dahi, terletak dibagian depan kepala Os parietal/ tulang ubun-ubun, terletak ditengah kepala Os oksipetal/ tulang belakang kepala 2. Dasar tengkorak, terdiri dari tulang-tulang: Os sfenoidal/ tulang baji, terdapat ditengahasar tengkorak, bentuknya seperti kupukupu yang memiliki 3 pasang sayap. Dibagian depan terdapat sebuah rongga yang disebut kavum sfeinodalis yang berhubungan dengan rongga hidung. Dibagian atasnya agak meninggi dan berbentuk seperti pelana (sela tursika). Os etmoidal/ tulang tapis, terletak disebelah depan dari os sfeinodalis, diantara lekuk mata, terdiri dari tulang tipis yang tegak dan mendatar. Bagian yang mendatar mempunyai lubang-lubang kecilyaitu te,pat lalunya saraf pencium kehidung sedangkan bagian yang tegak disebelah depannya membentuk sekat rongga hidung. 3. Samping tengkorak dibentuk oleh tulang pelipis (os temporal) dan sebagian dari tulang dahi, tulang ubun-ubun, dan tulang baji. Tulang pelipis dibagian kiri dan kanan, terbagi atas 3 bagian: Bagian tulang karang (skuamosa), yang membentuk rongga-rongga yaitu rongga telinga tengah dan dalam. Bagian tulang keras (os petrosum) yang menonjol kebagian tulang pipi dan mempunyai taju yang disebut prosesus stiloid
  9. 9. Bagian mastoid, terdiri dari tulang-tulang yang mempunyai lubang-lubang halus berisi udara dan mempunyai taju, bentuknya seperti putting susu yang disebut prosesus mastoid. 2 . Tengkorak wajah Bagian hidung Os lakrimal/ tulang air mata, terletek disebelah kiri/kanan pangkal hidung disudut mata Os nasal/ tulang hidung, yang membentuk batang hidung sebelah atas Os konka nasal/ tulang karang hidung , letaknya didalam rongga hidung, bentuknya berlipat-lipat Septum nasi/ tulang sekat ronggo hidung adalah sanbunga tulang tapis yang tegak Bagian rahang Os maksilaris (tulang rahang atas), terdiri dari tulang bagian kiri dan kanan menjadi stu didalamnya terdapat lubang-lubang besar yang berisi udara yang disebut sinus maksilaris yang berhubungan dengan rongga hidung. Dibawah os maksilaris terdapat suatu taju tempat melekatnya urat gigi (prosesus alveolaris) Os zigomatikum/ tulang pipi, terdiri dari 2 tulang kiri dan kanan Os palatum/ tulang langit-langit, terdiri dari 2 tulang kiri dan kanan, dibagian tulang muka ini yang keras disebut palatum mole Os mandibularis/ tulang rahang bawah, 2 buah kiri/ kanan dan menjadi 1 dipertengahan dagu. Os hyoid tulang lidah, letaknya agak terpisah dari tulang0tulang wajah yang lain yaitu terdapat dipangkal leher diantara otot-otot leher. 2. Kerangka Dada Kerangka dada dibentuk oleh susunan tulang yang melindungi rongga dada yang terdiri dari tulang dada (sternum) : 1 buah, tulang iga (kosta) : 12 pasang, vertebra torakalis : 12 ruas. 1. Tulang dada (sternum) Tulang dada menjadi tonggak dinding depan dari toraks, bentuknya gepeng, dan sedikit melebar, terdiri 3 bagian: a. Manubrium sterni, bagian tulang dada sebelah atas yang membentuk persendian dengan tulang selangka (klavikula) dan tulang iga. b. Korpus sterni, bagian yang terbesar dari tulang dada dan membentuk persendian dengan tulang-tulang iga.
  10. 10. c. Prosesus xifoid, bagian ujung dari tulang dada. 2. Tulang Iga Banyaknya 12 pasang kiri dan kanan, bagian depan berhubungan dengan tulang dada dengan perantaraan tulang rawan. Bagian belakang berhubungan dengan ruas-ruas vertebra torakalis dengan perantaraan persendian. Tulang iga terdiri dari 3 macam: a. Iga sejati (os kosta vera), 7 pasang, berhubungan langsung dengan tulang dada dengan perantaraan persendian. b. Tulang iga tak sejati (os kosta spuria), 3 pasang, berhubungan dengan tulang dada dengan perantaraan tulang rawan dari tulang iga sejati ke7. c. Tulang iga melayang ( os kosta fluitantes), 2 pasang, tidak mempunyai hubungan dengan tulang dada. 3. Kerangka Tulang Belakang dan Gelang Panggul 3.1. Kerangka Tulang Belakang Ruas-ruas tulang belakang disebut juga tulang belakang disusun oleh 33 buah tulang dengan bentuk tidak beraturan. ke 33 buah tulang tersebut terbagai atas 5 bagian yaitu: 1. Tujuh ruas pertama disebut tulang leher/vertebra servikalis. Ruas pertama dari tulang leher disebut tulang atlas, dan ruas kedua berupa tulang pemutar atau poros. bentuk dari tulang atlas memungkinkan kepala untuk melakukan gerakan atau goyangan “ya” atau goyangan “tidak” 2. Dua belas ruas berikutnya membentuk tulang punggung/vertebra torakalis. Ruasruas tulang punggung pada bagian kiri dan kanannya merupakan tempat melekatnya tulang rusuk
  11. 11. 3. Lima ruas berikutnya merupakan tulang pinggang/vertebra lumbalis. Ukuran tulang pinggang lebih besar dibandingkan tulang punggung. Ruas-ruas tulang pinggang menahan sebagian besar berat tubuh dan banyak melekat otot-otot 4. Lima ruas tulang kelangkangan (sacrum), yang menyatu, berbentuk segitiga terletak dibawah ruas-ruas tulang pinggang. 5. Bagian bawah dari ruas-ruas tulang belakang disebut tulang ekor (coccyx), tersusun atas 3 sampai dengan 5 ruas tulang belakang yang menyatu. Ruas-ruas tulang belakang berfungsi untuk menegakkan badan dan menjaga keseimbangan. menyokong kepala dan tangan, dan tempat melekatnya otot, rusuk dan beberapa organ. 3.2. Gelang Panggul Tulang gelang panggul terdiri atas dua buah tulang pinggung. Pada anak anak tulang pinggul ini terpisah terdiri atas tiga buah tulang yaitu illium (bagian atas), tulang ischiun (bagian bawah) dan tulang pubis (di bagian tengah). Dibagian belakang dari gelang panggul terdapat tulang sakrum yang merupakan bagian dari ruas-ruas tulang belakang. Pada bagian depan terdapat simfisis pubis merupakan jaringan ikat yang menghubungkan kedua tulang pubis. Fungsi gelang panggung terutama untuk mendukung berat badan bersama-sama
  12. 12. dengan ruas tulang belakang. melindungi dan mendukung organ-organ bawah, seperti kandung kemih, organ reproduksi, dan sebagai tempat tumbuh kembangnya janin. 4. Tulang Anggota Gerak Atas Tulang penyusun anggota gerak atas tersusun atas: 1. Tulang gelang bahu (klavikula dan scapula / belikat dan selangka) Tulang gelang bahu disebut juga tulang pectoral bahu tersusun atas 4 buah tulang yaitu 2 tulang belikat (skapula) dan 2 tulang selangka ( klavikula). Tulang selangka berbentuk seperti huruf “S”, berhubungan dengan tulang lengan atas (humerus) untuk membentuk persendian yang menghasilkan gerakan lebih bebas, ujung yang satu berhubungan dengan tulang dada sedangkan ujung lainnya berhubungan dengan tulang belikat.
  13. 13. Tulang belikat (skapula) berukuran besar, bentuk segitiga dan pipih, terletak pada bagian belakang dari tulang rusuk. Fungsi utama dari gelang bahu adalah tempat melekatnya sejumlah otot yang memungkinkan terjadinya gerakan pada sendi. 2. Humerus / tulang lengan atas. Termasuk kelompok tulang panjang /pipa, ujung atasnya besar, halus, dan dikelilingi oleh tulang belikat. Pada bagian bawah memiliki dua lekukan merupakan tempat melekatnya tulang radius dan ulna 3. Radius dan ulna / pengumpil dan hasta. Tulang ulna berukuran lebih besar dibandingkan radius dan melekat dengan kuat di humerus. Tulang radius memiliki kontribusi yang besar untuk gerakan lengan bawah dibandingkan ulna. 4. Karpal / pergelangan tangan, tersusun atas 8 buah tulang yang saling dihubungkan oleh ligament 5. Metakarpal / telapak tangan. Tersusun atas lima buah tangan. Pada bagian atas berhubungan dengan tulang pergelangan tangan, sedangkan bagian bawah berhubungan dengan tulang-tulang jari (palanges) 6. Falanges (tulang jari-jari). tersusun atas 14 buah tulang. Setiap jari tersusun atas tiga buah tulang, kecuali ibu jari yang hanya tersusun atas 2 buah tulang. 5. Tulang Anggota Gerak Bawah Tulang anggota gerak bawah disusun oleh tulang: 1. Femur / tulang paha. Termasuk kelompok tulang panjang, terletak mulai dari gelang panggul sampai ke lutut.
  14. 14. 2. Tibia dan fibula / tulang kering dan tulang betis. Bagian pangkal berhubungan dengan lutut bagian ujung berhubungan dengan pergelangan kaki. Ukuran tulang kering lebih besar dinandingkan tulang betis karena berfungsi untuk menahan beban atau berat tubuh. Tulang betis merupakan tempat melekatnya beberapa otot 3. Patela / tempurung lutut. terletak antara femur dengan tibia, bentuk segitiga. patela berfungsi melindungi sendi lutut, dan memberikan kekuatan pada tendon yang membentuk lutut 4. Tarsal / Tulang pergelangan kaki. Termasuk tulang pendek, dan tersusun atas 8 tulang dengan salah satunya adalah tulang tumit. 5. Metatarsal / Tulang telapak kaki. Tersusun atas 5 buah tulang yang tersusun mendatar. 6. Palanges / tulang jari-jari kaki. Tersusunetiap jari tersusun atas 3 tulang kecuali tulang ibu jari atas 14 tualng. Fungsi Tulang  Fungsi tulang secara umum: 1. Formasi kerangka 2. Formasi sendi 3. Perlengketan otot 4. Sebagai pengungkit 5. Menyokong berat badan 6. Proteksi 7. Hemopoiesis 8. Fungsi imunologi 9. Penyimpanan kalsium  Fungsi tulang secara khusus: 1. Sinus-sinus paranasalis dapat menimbulkan nada khusus pada suara. 2. Email gigi dikhususkan untuk memotong, menggigit, dan menggilas makanan . email merupakan struktur terkuat dalam tubuh. 3. Tulang-tulang kecil telinga dalam mengonduksi gelombang suara untuk fungsi pendengaran. 4. Panggul wanita dikhususkan untuk memudahkan proses kelahiran bayi. 2.2. Persambungan Tulang (Sendi) Sendi merupakan suatu engsel yang membuat anggota tubuh dapat bergerak dengan baik, juga merupakan suatu penghubung antara ruas tulang yang satu dengan ruas
  15. 15. tulang lainnya, sehingga kedua tulang tersebut dapat digerakkan sesuai dengan jenis persendian yang diperantarainya. Persendian Menurut tempat Sendi anggota gerak atas a. Sendi pergelangan bahu Art Sternoklavikular. Sendi ini adalah antara gelang bahu batang badan, antar pars sternalis klavikula manubrium sterni rawan iga I, sebelah atas berhubungan dengan klavikula dan sebelah bawah dengan sternum. Art. Akromioklavikular. Sendi ini merupakan hubungan antara ekstermitas akromialis dan klavikula. Ar. Humeri. Persendian ini merupakan sendi peluru karena kaput humeri merupakan sebuah bola yang melekat pada bagian dalam bidang scapula dengan kaput humeris. b. Sendi siku ( art. Cubiti ) Bagian merupakan artikulasiokomposita, pada sumbuh ini bertemu humerus, ulna dan radius. Sedangkan menurut faalnya sendi merupakan sutau sendi engsel yang terdiri dari tiga bagian. Art. Humeroulnaris. Sendi antara trokhlea humeris dan insissura semilunaris ulnae. Kedua permukaan sendi mempunyai bidang pertemuan yang terlebar pada sikap lengan yang sedikit dikentulkan sehingga merupakan sikap terbaik bagi lengan untuk menerima tumpuan. Art. Humeroradialis. Sendi antara capitula humeri fovea capitulum radii. Art. Radio ulnaris proksimal. Sendi antara sirkumferensia artikularis radii dan insisura radialis ulna. c. Sendi lengan bawah dan tangan Art. Radiokarpal, merupakan sebuah sendi ellipsoid, hubungan antara ujung distal radialis yang merupakan lekuk sendi dan os navikulare,lunatum dan triquintrum merupakan kepala sendi yang terletak di sebelah distal. Art karpometacarpae, terdiri : a. Art carpometacarpae ( policcis ), hubungan antara os metacarpal I dan os multangulum manus merupakan sendi pelana simpai sendi sangat longgar sehingga pergerakan lebih luas
  16. 16. b. Articulationes carpometacarpae II-V, sendi antara ossa carpalia dan ossa matacarpalia II-V Articulationes intermetacarpae, basis ossis metacarpalia II-V bersendi satu sama lainnya dengan satu permukaan sendi yang kecil. Articulations metacarpophalangeal, merupakan ossis metakarpalia, kepala sendi dengan bassis ossis phalanx I merupakan lekuk sendi. Articulations dugitorum manus, sendi antara phalanx I, II, III merupakan sendi-sendi engsel d. Persendian gelang panggul Sendi pinggul adalah sendi sinovial dari varietas sendi putar. a. Articulation sakroilliaka Persendian antara os sarkum dan os ileum melalui fascies artikularis ossis illi dan fasies artikularis ossis sacrum. Sendi ini merupakan hubungan antara gelang panggul dan rangka badan yang identik dengan artikulasio sternoklavikularis b. Art. Simfisis pubis Hubungan antara os pubis. Di dalamnya ada suatu kavum yang disebut pseudokruris berupa kartilago interpubis. c. Artikulatio koxae Persendian ini merupakan enarthrosis spheroidea, diperkuat oleh ligamentum illeo femorales sehingga caput femoris bias keluar dari lekuknya dan berada di bawah os ileum. e. Persendian tungkai atas dan lutut Articulation genu menghubungkan permukaan ujung tulang distal os femur dengan permukaan ujung proksimal tibia yaitu antara condilus medialis dan lateralis ossis femur dengan fascies articularis superior ossis tibia. Sendi lutut adalah sendi engsel yang dibentuk oleh kondilus femoralis yang bersendi dengan prmukaan dari kondilus tibia.patela terletak diatas permukaan yang halus pada femur tetapi tidak termasuk dalam sendi lutut. f. Persendian tungkai bawah Persendian ini merupakan persendian antara tibia dan fibula a. artikulatio tibia-fibula proximal Sendi yang terdapat antara fasies artikularis kapitulum fibula ossis pada kondilus dengan fascies artikularis fibularis ossis pada kodilus tibia,ikat sendi ligamentum tibio fibularis proximal.
  17. 17. b. Sindesmosis tibio fibularis Persendian antara fasies artikularis tibialis ossis fibulae dengan insisuri fibularis ossis tibialis. g. Pesendian kaki Art. Talo tibia fibulris. Art. Talo tibia fibularis (pergelangan kaki), antara fascies articularis tali os tibia dan os fibula dengan trochlea tali bagian medial dan lateral. Art. Talo tarsalia. Art. Talo tarsalia (sendi loncat), karena pada gerakan meloncat ada dua bagian. Art. Talo calcaneo (sendi loncat atas), antara fascies articularis calcanei posterior assis talus dan fascies articularis tali posterior ossis calcaneus Art. Talo calcaneo navicularis (sendi loncat bagian bawah) antara fasies articular naviculare klkanei mediaanterio dan fasies artikularis naviculare ossis talus dengan fascies tali media anterior ossis calcaneus dan fasies artikularis tali ossis navikularf pedis. Art. Tarso transversa. Art. Tarso transversa merupakan linea amputasiones choparti ada dua bagian yaitu art. Talo navikularis pedis dan art. Kalkanea kuboidea. Art. Tarso metatarsea. Sendi ini ada di antara permukaan distal ossa kunaiformi renon I, II, III dengan permukaan distal ossa metatarsalia I, II, III. Permukaan sendi distal os kaboideum dengan permukaan proksimal ossa metatarsalia IV, V. antara permukan distal ossa metatarsalia dengan permukaan proximal ossa falangea I, digiti I, II, III, IV, V. Art. Interfalangeal. Ada diantara ruas jari I, II, III, masing-masing jari (digiti) I, II, III, IV, V untuk gerakan flexio dan ekstensio (sendi engsel). h. Sendi kolumna vertebralis Kecuali vertebra servikalis I, semua vertebrae lainnya saling berartikulasi dengan perantaraan artikulasio kartilaginea dan artikulasio sinovial. a. Sendi antara korpus vertebrae Permukaan atas dan bawah korpus vertebrae yang berdekatan di lapisi oleh tulang rawan hialin tipis. Di antara lempeng tersebut terdapat diskus intervertebralis yang tersusun oleh jaringan vibrokartilago.
  18. 18. b. Sendu diantara arkus vertebrae Terdiri dari dua sendi sinovial di antara prosessus artikularis superior dan inferior vertebrae. Fasies artikularis tertutup oleh tulang rawan hialin dan sendi dikelilingi oleh ligamentum kapsularis. c. Artikulatio atiantio oksipitalis Sendi ini merupakan sendi sinovial antara kondilus oksipitalis kiri-kanan, foramen magnum, di atas fascies artikularis superior massa lateral, atlas bagian bawah. d. Artikulatio atianto aksilaris Sendi ini terdiri dari 3 sendi sinovial antara dens aksis dengan arkus anterior atlas yang lain di antara massa lateralis kedua tulang. Lig. Apisis dentis, terletak di tengah, mwnghubungkan apeks dentis dengan tepi anterior foramen magnum Lig. Alaria, terletak di kiri-kanan ligamentum apicis dentis menghubungkan dens aksis dengan sisi medial condilus oksipitalis Lig. Cruciform atiantis terdiri dari lig transfersum antiatis yang kuat dan fasculi longitudinalis yang lemah, ujung transfersum melekat pada bagian dalam massa lateralis atlas dan mengikat aksis. C. Penyakit-Penyakit pada Sistem Muskuloskeletal DISLOKASI 1. Pengertian Dislokasi adalah keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari sendi) (Brunner&Suddarth). 2. Etiologi Etiologi tidak diketahui dengan jelas tetapi ada beberapa faktor predisposisi, diantaranya a. Akibat kelainan pertumbuhan sejak lahir b. Trauma akibat kecelakaan c. Trauma akibat pembedahan ortopedi d. Terjadi infeksi di sekitar sendi 4. Patofisiologi Penyebab terjadinya dislokasi sendi ada tiga hal yaitu karena kelainan congenital yang mengakibatkan kekenduran pada ligamen sehingga terjadi penurunan stabilitas sendi. Dari adanya traumatic akibat dari gerakan yang berlebih pada sendi dan dari
  19. 19. patologik karena adanya penyakit yang akhirnya terjadi perubahan struktur sendi. Dari 3 hal tersebut, menyebabkan dislokasi sendi. Dislokasi mengakibatkan timbulnya trauma jaringan dan tulang, penyempitan pembuluh darah, perubahan panjang ekstremitas sehingga terjadi perubahan struktur. Dan yang terakhir terjadi kekakuan pada sendi. Dari dislokasi sendi, perlu dilakukan adanya reposisi dengan cara dibidai. 5. Manifestasi Klinis  Nyeri  Perubahan kontur sendi  Perubahan panjang ekstremitas  Kehilangan mobilitas normal  Perubahan sumbu tulang yang mengalami dislokasi  Deformitas  Kekakuan 6. Komplikasi  Dini 1). Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut 2). Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak 3). Fraktur disloksi  Komplikasi lanjut 1. Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu, terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara otomatis membatasi abduksi. 2. Dislokasi yang berulang:terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid 3. Kelemahan otot 7. Pemeriksaan Diagnostik 1. Foto X-ray Untuk menentukan arah dislokasi dan apakah disertai fraktur 2. Foto rontgen
  20. 20. Menentukan luasnya degenerasi dan mengesampingkan malignasi 3. Pemeriksaan radiologi Tampak tulang lepas dari sendi 4. Pemeriksaan laboratorium Darah lengkap dapat dilihat adanya tanda-tanda infeksi seperti peningkatan leukosit 8. Penatalaksanaan 1. Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi berat. 2. Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke rongga sendi. 3. Sendi kemudian dimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan dijaga agar tetap dalam posisi stabil. 4. Beberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan mobilisasi halus 3-4X sehari yang berguna untuk mengembalikan kisaran sendi 5. Memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa penyembuhan SKOLIOSIS 1. Defenisi Skoliosis mengandung arti kondisi patologik yaitu kelengkungan tulang belakang yang abnormal ke arah samping. 2. Etiologi Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis:  Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam pembentukan tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu.  Neuromuskuler, pengendalian otot yang buruk atau kelemahan otot atau kelumpuhan akibat penyakit berikut: 1) Cerebral palsy 2) Polio  Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui. 3. Tanda dan Gejala Gejalanya berupa: a.Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping b. Bahu dan atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya
  21. 21. c. Nyeri punggung d. Kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama e. Skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60 ) f. Kebanyakan pada punggung bagian atas, tulang belakang membengkok ke kanan dan pada punggung bagian bawah, tulang belakang membengkok ke kiri; sehingga bahu kanan lebih tinggi dari bahu kiri. Pinggul kanan juga mungkin lebih tinggi dari pinggul kiri. 4. Patofisiologi Skoliosis adalah kondisi abnormal lekukan tulang belakang, Skoliosis di turunkan, serta umumnya sudah terjadi sejak masa kanak-kanak. Penyebabnya tidak diketahui dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan postur tubuh, diet, olahraga, dan pemakaian backpack. Dan ternyata, anak perempuan lebih sering terkena ketimbang anak laki-laki. Penyebab lain dari skoliosis yaitu infeksi kuman TB daerah korpus vertebra ( spondiliatis ) dan terjadi perlunakan korpus. Perubahan postural berupa lengkungan berbentuk S dan C terjadi pada tulang spinal atau termasuk rongga tulang spinal. Derajat lengkungan penting untuk di ketahui apakah terjadi penekanan pada paru-paru dan jantung. Umumnya sih, skoliosis tidak akan memburuk, dan yang terpenting adalah lakukan check up secara teratur (setiap 3 sampai 6 bulan). Catatan: Pada kondisi yang berat, bisa terjadi nyeri punggung, kesulitan bernapas, atau kelainan bentuk tubuh. Bisa jadi, anak perlu „brace‟ (alat khusus) atau harus dioperasi. Tidak ada patokan baku untuk membantu membuat keputusan penanganan skoliosis, karena sangat dipengaruhi usia anak, derajat pembengkokan tulang punggung, serta prediksi tingkat keparahan sejalan dengan pertumbuhannya. 5. Komplikasi a. Kerusakan paru-paru dan jantung. Ini boleh berlaku jika tulang belakang membengkok melebihi 700. Tulang rusuk akan menekan paru-paru dan jantung, menyebabkan penderita sukar bernafas dan cepat capai. Justru, jantung juga akan mengalami kesukaran memompa darah. Dalam keadaan ini, penderita lebih mudah mengalami penyakit paru-paru dan pneumonia. b. Sakit tulang belakang. Semua penderita, baik dewasa atau kanak-kanak, berisiko tinggi mengalami masalah sakit tulang belakang kronik. Jika tidak dirawat, penderita mungkin akan menghidap masalah sakit sendi. Tulang belakang juga mengalami lebih banyak masalah apabila penderita berumur 50 atau 60 tahun.
  22. 22. 6. Pemeriksaan a. Penunjang Skoliometer adalah sebuah alat untuk mengukur sudut kurvaturai. Cara pengukuran dengan skoliometer dilakukan pada pasien dengan posisi membungkuk, kemudian atur posisi pasien karena posisi ini akan berubah-ubah tergantung pada lokasi kurvatura, sebagai contoh kurva dibawah vertebra lumbal akan membutuhkan posisi membungkuk lebih jauh dibanding kurva pada thorakal. Kemudian letakkan skoliometer pada apeks kurva, biarkan skoliometer tanpa ditekan, kemudian baca angka derajat kurva.Pada screening, pengukuran ini signifikan apabila hasil yang diperoleh lebih besar dari 50, hal ini biasanya menunjukkan derajat kurvatura > 200 pada pengukuran cobb‟s angle pada radiologi sehingga memerlukan evaluasi yang lanjut b. Rontgen tulang belakang X-Ray Proyeksi Foto polos : Harus diambil dengan posterior dan lateral penuh terhadap tulang belakang dan krista iliaka dengan posisi tegak, untuk menilai derajat kurva dengan metode Cobb dan menilai maturitas skeletal dengan metode Risser. Kurva structural akan memperlihatkan rotasi vertebra, pada proyeksi posterior-anterior, vertebra yang mengarah ke puncak prosessus spinosus menyimpang kegaris tengah; ujung atas dan bawah kurva diidentifikasi sewaktu tingkat simetri vertebra diperoleh kembali.Cobb Angle diukur dengan menggambar garis tegak lurus dari batas superior dari vertebra paling atas pada lengkungan dan garis tegak lurus dari akhir inferior vertebra paling bawah. Perpotongan kedua garis ini membentuk suatu sudut yang diukur. Maturitas kerangka dinilai dengan beberapa cara, hal ini penting karena kurva sering bertambah selama periode pertumbuhan dan pematangan kerangka yang cepat. Apofisis iliaka mulai mengalami penulangan segera setelah pubertas; ossifikasi meluas kemedial dan jika penulangan krista iliaka selesai, pertambahan skoliosis hanya minimal. Menentukan maturitas skeletal melalui tanda Risser, dimana ossifikasi pada apofisis iliaka dimulai dari Spina iliaka anterior superior (SIAS) ke posteriormedial. Tepi iliaka dibagi kedalam 4 kuadran dan ditentukan kedalam grade 0 sampai 5. 7. Penatalaksanaan a. Orthosis Orthosis dalam hal ini adalah pemakaian alat penyangga yang dikenal dengan nama brace. Biasanya indikasi pemakaian alat ini adalah : Pada kunjungan pertama, ditemukan derajat pembengkokan sekitar 250
  23. 23. Terdapat Jenis progresifitas dari Milwaukee, alat peningkatan orthosis Boston, derajat ini Charleston sebanyak antara 250 lain bending : brace. Alat ini dapat memberikan hasil yang cukup signifikan jika digunakan secara teratur 23 jam dalam sehari hingga masa pertumbuhan anak berhenti. b. Operasi Tidak semua skoliosis dilakukan operasi. Indikasi dilakukannya operasi pada skoliosi adalah Terdapat progresifitas peningkatan derajat pembengkokan >40-45 pada anak yang sedang tumbu Terdapat kegagalan setelah dilakukan pemakaian alat orthosis Terdapat derajat pembengkokan >50 pada orang dewasa AMPUTASI 1. Pengertian Amputasi adalah tindakan pembedahan dengan memotong / membuang bagian tubuh. 2. Etiologi 1) Fraktur multople organ tubuh yang tidak mungkin dapat diperbaiki 2) Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin diperbaiki 3) Gangguan vaskuler / sirkulasi pada ekstremitas yang benar 4) Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif 3. Metode – Metode Amputasi Dilakukan sebagian kecil sampai dengan sebagian besar dari tubuh, dengan 2 metode : 1) Metode terbuka (Guillotine Amputasi) Metode ini digunakan pada klien dengan infeksi yang mengembang.Bentuknya benar – benar terbuka dan dipasang drainase agar luka bersih, dan luka dapat ditutup setelah tidak terinfeksi. 2) Metode Tertutup (Flap Amputasi) Pada metode ini, kulit tepi ditarik pada atas ujung tulang dan dijahit pada daerah yang diamputasi.
  24. 24. 4. Jenis Amputasi Berdasarrkan pelaksanaan amputasi, dibedakan menjadi : 1. Amputasi slektif / terencana 2. Amputasi akibat trauma 3. Amputasi darurat Jenis – jenis yang dikenal adalah : 1. Amputasi terbuka Amputasi terbuka dilakaukan pada kondisi infeksi yang berat dimana pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama. 2. Amputasi tertutup Amputasi tertutup dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka dibuat dengan memotong kurang lebih 5 cm dibawah potongan otot dan tulang. 5. Tingkatan Amputasi 1. Ekstremitas atas Amputasi pada eksremitas atas dapat mengenai tangan kanan atau kiri.Hal ini berkaitan dengan aktivitas sehari – hari seperti makan, minum, mandi, berpakaian dan aktivitas yang lainnya yang melibatkan tangan. 2. Ekstremitas bawah Amputasi pada ekstremitas in dapat mengenai semua atau sebagian dan jari – jari kaki yang menimbulkan seminimal mungkin kemampuannya. 6. Penatalaksanaan Amputasi dianggap selesai dipasang prostetis yang baik dan berfungsi. Ada 2 cara perawatan post amputasi, yaitu : 1. Rigid dressing Yaitu dengan menggunak plester of paring yang dipasang waktu dikamar operasi.Pada waktu memasang harus direncanakan apakah penderita harus direncanakan apakah penderita harus
  25. 25. immobilidsasi atau tidak. Bila tidak diperlukan pemasangan segera dengan memperhatikan jangan sampai menyebabkan kontruksi stump dana memamsang bulatan pada ujung stump serta tempat – tempat tulang yang menonjol. Keuntungan cara ini bisa mencegah oedema, mengurangi nyeri dan mempercepat posisi berdiri.Setelah pemasangan rigid dressing bisa dianjutkan dengan mobilisasi segera, mobilisasi setelah 7-10 post operasi setelah luka sembuh, setelah 2-3 minggu, setelah stump sembuh dan mature. Namun untuk mobilisasi dengan rigid dressing ini dipertimbangan juga factor usia, kekuatan, kecerdasan penderita, tersedianya perawata yang terampil, therapist dan prosthetist serta keleraan dan kemauan dokter bedah untuk melakukan supervise program perawatan. Rigid dressing dibuka pada hari ke 7-10 post operasi untuk tanda – tanda infeksi likal atau sistemik. 2. Soft dressing Yaitu bila ujung stump dirawat secara konvesional, maka digunakan pembalut steril dan rapid an semua tulang yang menonjol dipasang bantalan yang cukup. Harus diperhatikan penggunaan elastic verban jangan sampai menyebabkan kontriksi pada stump. Ujung stump dielevasi dengan meninggikan kaki tempat tidur, melakukan elevasi dengan mengganjal bantal pada stump tidak baik sebab akan menyebabkan fleksi kontraktur. Biasanyya luka diganti balutan dan draindicabut setelah 48 jam. Ujung stump ditekan sedikit dengan soft dressing dan pasien diizinkan secspat mungkin untuk berdiri setelah kondisinya memungkinkan. Biasanya jahitan dibuka pada hari ke 10-14 post operasi.Pada ampuutasi diatas lutut, penderita diperingatkan untuk tidak meletakkan bantal dibawah stump, hal ini perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya kontraktur.
  26. 26. OSTEOMIELITIS 1. Pengertian  Osteomyelitis adalah infeksi Bone marrow pada tulang-tulang panjang yang disebabkan oleh staphylococcus aureus dan kadang-kadang Haemophylus influensae (Depkes RI, 1995).  Osteomyelitis adalah infeksi tulang (Carpenito, 1990). 2. Etiologi Infeksi bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari fokus infeksi di tempat lain (mis. Tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat di mana terdapat trauma dimana terdapat resistensi rendah kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas). Osteomielitis dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak (mis. Ulkus dekubitus yang terinfeksi atau ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis, fraktur ulkus vaskuler) atau kontaminasi langsung tulang (mis. Fraktur terbuka, cedera traumatik seperti luka tembak, pembedahan tulang. 3. Patofisiologi Staphylococcus aurens merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya sering dujumpai pada osteomielitis meliputi Proteus, Pseudomonas dan Ecerichia coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi resisten penisilin, nosokomial, gram negatif dan anaerobik. Awitan osteomielitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan stadium I) dan sering berhubungan dengan penumpukan hematoma atau infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan. 4. . Manifestasi Klinik Jika infeksi dibawah oleh darah, biasanya awitannya mendadak, sering terjadi dengan manifestasi klinis septikemia (mis. Menggigil, demam tinggi, denyut nadi cepat dan malaise umum). Gejala sismetik pada awalnya dapat menutupi gejala lokal secara lengkap. Setelah infeksi menyebar dari rongga sumsum ke korteks tulang, akan mengenai
  27. 27. periosteum dan jaringan lunak, dengan bagian yang terinfeksi menjadi nyeri, bengkak dan sangat nyeri tekan. Pasien menggambarkan nyeri konstan berdenyut yang semakin memberat dengan gerakan dan berhubungan dengan tekanan pus yang terkumpul. 5. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan darah; sel darah putih meningkat sampai 30.000 disertai laju endap darah;pemeriksaan titer antibody anti-stafilokokus;pemeriksaan kultur darah untuk menentukan bakterinya(50% POSITIF)dan di ikuti uji sensetivitas.selain itu,harus diperiksa adanya penyakit anemia sel sabit yang merupakan jenis osteomeilitisyang jarang terjadi.Pemerisaan feces ;pemeriksaan feces untuk kultur dilakukan bila trdapat kecurigaaninfeksi oleh bakteri.Pemeriksaan biopsy;pemeriksaan di lakukan pada tempat yang di curigai.Pemeriksaan ultra sound;pemeriksaan ini dapat memperlihatkan efusi pada sendi. Pemeriksaan radiologi;Pada pemeriksaan foto polos sepuluh hari pertama,tidak di temukan kelainan radiologis yang berarti,dan mungkin hanya di temukan pembengkakan jaringan lunak.Gambaran destruksi tulang dapat dilihat setelah sepuluh hari(2 minggu).Pemeriksaan radioisotope akan memperlihatkan penangkapan isotop pada daerah lesi 6. Penatalaksanaan Medis Daerah yang terkana harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman salin hangat selama 20 menit beberapa kali per hari untuk meningkatkan aliran daerah. Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan proses infeksi, Kultur darah dan swab dan kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi organisme dan memilih antibiotika yang terbaik. Kadang, infeksi disebabkan oleh lebih dari satu patogen. Begitu spesimen kultur telah diperoleh, dimulai pemberian terapi antibiotika intravena, dengan asumsi bahwa dengan infeksi staphylococcus yang peka terhadap penisilin semi sintetik atau sefalosporin. Tujuannya adalah mengentrol infeksi sebelum aliran darah ke daerah tersebut menurun akibat terjadinya trombosis. Pemberian dosis antibiotika terus menerus sesuai waktu sangat penting untuk mencapai kadar antibiotika
  28. 28. dalam darah yang terus menerus tinggi. Antibiotika yang paling sensitif terhadap organisme penyebab yang diberikan bila telah diketahui biakan dan sensitivitasnya. Bila infeksi tampak telah terkontrol, antibiotika dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotika oral, jangan diminum bersama. ARTRITIS REUMATOID 1. Pengertian Penyakit reumatoid adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris. ( Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi, hal. 165 ) 2. Etiologi Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri, mikoplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001). Ada beberapa teori yang dikemukakan mengenai penyebab artritis reumatoid, yaitu : 1. Infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus non-hemolitikus 2. Endokrin 3. Autoimun 4. Metabolik 5. Faktor genetik serta faktor pemicu lainnya. 3. Patofisiologi Cidera mikro vascular dan jumlah sel yang membatasi dinding sinovium merupakan lesi paling dini pada sinovisis remotoid. Sifat trauma yang menimbulkan respon ini masih belum diketahui. Kemudian, tampak peningkatan jumlah sel yang membatasi dinding sinovium bersama sel mononukleus privaskular. Seiring dengan perkembangan proses sinovium edematosa dan menonjol kedalam rongga sendi sebagai tonjolan-tonjolon vilosa. Pada penyakit 4. Manifestasi Klinis Rheumatoid arthritis ditandai oleh adanya gejala umum peradangan berupa: 1. Demam, lemah tubuh dan pembengkakan sendi. 2. Nyeri dan kekakuan sendi yang dirasakan paling parah pada pagi hari. 3. Rentang gerak berkurang, timbul deformitas sendi dan kontraktur otot.
  29. 29. 4. Pada sekitar 20% penderita rheumatoid artritits muncul nodus rheumatoid ekstrasinovium. Nodus ini erdiri dari sel darah putih dan sisa sel yang terdapat di daerah trauma atau peningkatan tekanan. Nodus biasanya terbentuk di jaringan subkutis di atas siku dan jari tangan. 5. Komplikasi Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komlikasi utama penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit ( disease modifying antirhematoid drugs, DMARD ) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid. Komlikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas , sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis. 6. Penatalaksanaan Medis Adapun penatalaksanaan umum pada rheumatoid arthritis antara lain : 1. Pemberian terapi Pengobatan pada rheumatoid arthritis meliputi pemberian aspirin untuk mengurangi nyeri dan proses inflamasi, NSAIDs untuk mengurangi inflamasi, pemberian corticosteroid sistemik untuk memperlambat destruksi sendi dan imunosupressive terapi untuk menghambat proses autoimun. 2. Pengaturan aktivitas dan istirahat Pada kebanyakan penderita, istirahat secara teratur merupakan hal penting untuk mengurangi gejala penyakit. Pembebatan sendi yang terkena dan pembatasan gerak yang tidak perlu akan sangat membantu dalam mengurangi progresivitas inflamasi. Namun istirahat harus diseimbangkan dengan latihan gerak untuk tetap menjaga kekuatan otot dan pergerakan sendi. 3. Kompres panas dan dingin Kompres panas dan dingin digunakan untuk mendapatkan efek analgesic dan relaksan otot. Dalam hal ini kompres hangat lebih efektive daripada kompres dingin. 4. Diet Untuk penderita rheumatoid arthritis disarankan untuk mengatur dietnya. Diet yang disarankan yaitu asam lemak omega-3 yang terdapat dalam minyak ikan. 5. Pembedahan Pembedahan dilakukan apabila rheumatoid arthritis sudah mencapai tahap
  30. 30. akhir. Bentuknya dapat berupa tindakan arhthrodesis untuk menstabilkan sendi, arthoplasty atau total join replacement untuk mengganti sendi. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Sistem Muskuloskeletal adalah penunjang bentuk tubuh dan pengurus pergerakan. Muskuloskeletal terdiri atas :  Muskuler/Otot : Otot, tendon,dan ligament  Skeletal/Rangka : Tulang dan sendi Otot terdiri dari 3 jenis yaitu: 1. Otot rangka 2. Otot polos 3. Otot jantung Susunan tulang  Tulang kepala/tengkorak  Kerangka dada 25 buah  Tulang belakang dan pinggul 26 buah  Tulang anggota gerak atas 64 buah  Tulang anggota gerak bawah 62 buah Sendi merupakan suatu engsel yang membuat anggota tubuh dapat bergerak dengan baik, juga merupakan suatu penghubung antara ruas tulang yang satu dengan ruas tulang lainnya, sehingga kedua tulang tersebut dapat digerakkan sesuai dengan jenis persendian yang diperantarainya. B. Saran Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun sangat kami harapkan demi perbaikan makalah ini kedepannya.
  31. 31. DAFTAR PUSTAKA Corwin, Elizabeth J. 2009.Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC. C.Pearce, Evelyn. 1992. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Ganong, F. William. 1998. Buku Ajar Fisiologi kedokteran. Penerbit: EGC. Gibson, John. 2003. Fisiologi & Anatomi Modern untuk Perawat. Jakarta : EGC. http://www.tempo.co.id/medika/arsip/062002/war-2.htm http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2002/093/kes1.htm http://www.amsar.com/smu-indo/bahasa/images/5-2.jpg http://web.indstate.edu/ehcme/psp/elabs/radiology/chf-xtray.jpg http://yogapoint.com/iamges/brain4.jpg http://www.medused.com/iamges/inventory-picture/41619-02.jpg http://www.web-books.com/elibrary/medicine/Physiology/skeletal/divisions Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses – proses Penyakit. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Robbins & Kumar. 1995. Patofisiologi II Edisi 4. Jakarta : Buku Kedokteran EGC Smeltzer, Sizanne C. & Brenda G. Bare. 2002. Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Suratun, dkk. 2008. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : EGC. Syaifudin, Drs. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : EGC. Watson, Roger. 2002. Anatomi & Fisiologi untuk Perawat. Jakarta : EGC.

×