MAFUL LIAJLIH

( َ ََ َ ِ ََ َ َ ََ )
‫مفعول لج ِله‬
ِ

Dipresentasikan dalam Seminar Kelas Semester I Program Magister
UI...
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada masa pra-Islam –atau yang lebih dikenal dengan jaman jahiliyahbahasa Arab mul...
2

pembelajaran bahasa Arab model ini didasarkan pada asumsi bahwa bahasa
adalah gejala alami manusia untuk menyampaikan i...
3

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah Maf’ul liajlih...
4

MAF’UL LIAJLIH DAN KETENTUANNYA

A. Pengertian maf’ul liajlih
Pengertian maf’ul liajlih adalah masdar yang menunjukkan ...
5

4.‫العلم‬
ِ

ِ
ِ
‫أما إذا جاءَ مضافاً فيجوز نصبُهُ أو جرهُ مبن، مثال:سافرت ابتغاءَ العلم، أو:سافرت البتغاء‬
ُّ
ُ
ُْ
ُْ ...
6

a. Bukan maf’ul liajlih hanya menjadi maf’ul mutlaq.
Contohnya : ‫عظمتَالعلماءَتعظيما‬
b. Bukan maf’ul liajlih hanya me...
7

2. Boleh mendahulukan maf’ul liajlih terhadap amilnya, sama adanya dalam
kondisi dinasab, seperti : ‫ رغبة َفى َالعلم َ...
8

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan dari pembahasan tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :
1. Penger...
9

c. Masdar tersebut mudaf, maka boleh dinasab dan dijar

B. Saran
Saran dan kritik sangat dibutuhkan dalam menyempurnaka...
10

DAFTAR PUSTAKA

Abbas Hasan, Nahwul Wafi, Cet. III, (Dar Ma’arif: Mesir:tt )
Abdul Latif Al Said, Qawaid Al Lugatu Al ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Makalah maful li_ajlih

927 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
927
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
29
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah maful li_ajlih

  1. 1. MAFUL LIAJLIH ( َ ََ َ ِ ََ َ َ ََ ) ‫مفعول لج ِله‬ ِ Dipresentasikan dalam Seminar Kelas Semester I Program Magister UIN Alauddin Makassar pada Mata Kuliah Bahasa Arab Oleh SY. JAPAR SADIQ N I M 80100212177 Dosen Pemandu: Prof. Dr. H. Sabaruddin Garancang, M.Ag. Dr. H. Munir, Lc, M.Ag PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR 2013
  2. 2. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada masa pra-Islam –atau yang lebih dikenal dengan jaman jahiliyahbahasa Arab mulai mencapai masa puncaknya (prime condition). Hal ini diawali dengan keberhasilan orang-orang Arab Badui –di bawah pimpinan suku Quraisymenaklukan penduduk padang pasir, sehingga mulai saat itu bahasa Arab dijadikan bahasa utama dan mempunyai kedudukan yang mulia di tengah kehidupan masyarakat sahara. Bahasa Arab merupakan bahasa al-Qur’an dan menjadi salah satu alat komunikasi Internasional. Oleh karena itu mempelajari bahasa Arab menjadi kebutuhan setiap orang khususnya umat Islam. Bahasa Arab terdiri dari beberapa cabang ilmu antara lain: Nahwu, Sharaf, Balaghah, Muthala’ah, Mufradat dan Nushus Adab. Suatu sistem pembelajaran bahasa Arab yang ideal disamping mampu mengantarkan orang yang mempelajarinya menguasai cabang-cabang ilmu tersebut di atas, juga mengantarkan orang yang mempelajarinya mempunyai keterampilan-keterampilan bahasa (Maharat al-lughah). Keterampilan-keterampilan bahasa itu antara lain: (‫)مهارات اإلستماع‬ 1. Keterampilan mendengar 2. Keterampilan berbicara (‫)مهارات الكالم‬ 3. Keterampilan membaca (‫)مهارات القراءة‬ 4. Keterampilan menulis (‫)مهارات الكتا بة‬ Pembelajaran bahasa Arab secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua sistem, yaitu: Pertama, Sistem pembelajaran bahasa Arab yang berorientasi pada penguasaan bahasa sebagai ujaran secara langsung. Sistem
  3. 3. 2 pembelajaran bahasa Arab model ini didasarkan pada asumsi bahwa bahasa adalah gejala alami manusia untuk menyampaikan ide kepada orang lain atau menerima ide dari orang lain. Dengan kata lain manusia sebagai makhluk sosial menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dalam berinteraksi dengan sesamanya. Kedua, Sistem pembelajaran bahasa Arab yang berorientasi pada gramatika. Sistem pembelajaran bahasa Arab dengan cara ini didasarkan pada asumsi bahwa bahasa adalah merupakan kaidah-kaidah atau peraturan-peraturan bahasa yang diambil dari teks-teks yang sudah baku. Dalam bahasa Arab teks-teks itu adalah al-Qur’an, al-Hadis dan kitab-kitab keilmuan lainnya yang sudah baku dari segi gramatikanya. Menurut asumsi ini barang siapa yang ingin mengkaji al-Qur’an, alHadis atau kitab-kitab keilmuan lainnya yang mempunyai konsentrasi kuat terhadap gramatika, maka penguasaan gramatika Arab adalah suatu keharusan baginya.1 Diantara gramatika yang penulis maksudkan adalah, al-mafail alkhamsah yang mencakup antara lain: 1. Maf’ul bih ( ‫) المفعول به‬ 2. Maf’ul mutlaq (‫)المفعول مطلق‬ 3. Maf’ul liajlih (‫) المفعول ألجله‬ 4. Maf’ul fih dan ( ‫) المفعول فيه‬ 5. Maf’ul ma’ah ( ‫) المفعول معه‬ Namun pada kesempatan kali ini dibatasi hanya mengkaji dan membahas maf’ul liajlih. 1 H. Imaduddin Sukamto dan Akhmad Munawwari, Tata Bahasa Arab Sistematis: Pendekatan Baru Mempelajari Tata Bahasa Arab (Cet. VI; Yogyakarta: Nurma Media Idea, 2008), h. vii.
  4. 4. 3 B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah Maf’ul liajlih 2. Bagaimana syarat dan ketentuan maf’ul liajlih BAB II
  5. 5. 4 MAF’UL LIAJLIH DAN KETENTUANNYA A. Pengertian maf’ul liajlih Pengertian maf’ul liajlih adalah masdar yang menunjukkan sebab sebelumnya atau menjelaskan illatnya dan bersatu dengan amil dan failnya dalam satu waktu.2 Sayyid Ahmad Al Hasyimy mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan maf’ul liajlih adalah isim yang disebutkan untuk menjelaskan sebab terjadinya suatu perbuatan, dan merupakan jawaban terhadap pertanyaan kenapa perbuatan tersebut dilakukan serta disyaratkan bolehnya menasab maf’ul liajlih yang masdar.3 Berdasarkan dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian maf’ul liajlih adalah masdar yang menunjukkan sebab terjadinya suatu perbuatan dan menunjukkan kesatuan antara amil dan illatnya pada satu waktu serta merupakan jawaban terhadap pertanyaan kenapa perbuatan tersebut dilakukan. B. Pembagian Maf’ul liajlih Maf’ul liajlih terbagi kepada tiga bagian : 1. Apabila tidak ber alif lam dan mudaf, maka kebanyakan dinasab ِ ِ ِ ِ .‫إذا جاءَ املفعول ألجلِه جمرداً من ال ومن اإلضافة، فينصب غالباً، مثال: جئْت إىل املدرسة طلباً للعلم‬ ٌ ُ ُ ُ ّ 2. Apabila ber alif lam, maka maf’ul liajlih di jar ِ .‫أما إذا جاءَ معرفاً بال فيكون جمروراً مبن،مثال: وقفت لالحرتام‬ ُ ُ ْ ٌ ّ ّ 3. Apabila maf’ul liajlih mudaf/sandar, maka boleh dinasab atau dijar 2 3 Abbas Hasan, Nahwul Wafi, Cet. III, (Dar Ma’arif: Mesir: ) h. 237 Sayyid Ahmad Al Hasyimy, Al Qawaid Al Asasiyah Lillugatil Arabiyah, (TP. : Kairo: 2010) h. 190
  6. 6. 5 4.‫العلم‬ ِ ِ ِ ‫أما إذا جاءَ مضافاً فيجوز نصبُهُ أو جرهُ مبن، مثال:سافرت ابتغاءَ العلم، أو:سافرت البتغاء‬ ُّ ُ ُْ ُْ ٌ ّ C. Syarat menasab maf’ul liajlih Adapun syarat menasab maf’ul liajlih ada lima syarat5 : 1. Masdar Jika bukan masdar, maka tidak boleh menjadi maf’ul liajlih. Contoh : ََ  َ َََ 2. Masdar qalby Masdar qalby berasal dari fiil yang berkaitan dengan perasaan dan batin, jika bukan masdar qalby, maka tidak boleh dinasab. Contohnya : ‫ِ ة‬ َ‫جئتَ ِللقراء‬ ِ ِ 3. Masdar qalby Memiliki satu waktu yang sama dengan fiilnya. Contoh : ‫سافرتَللعلم‬ 4. Masdar qalby Memiliki satu waktu yang sama dengan failnyaَ 5. Masdar qalby memiliki satu waktu dengan fiil dan fail sebagai faktor atau illat terjadinya perbuatan tersebut dan merupakan jawaban atas pertanyaan “kenapa perbuatan tersebut dilakukan” contoh : َ‫( َجئتَرغبةَفىَالعلم‬Saya datang sebagai bentuk kecintaan terhadap ilmu) maka ‫( رغبةَفىَالعلم‬kecintaan terhadap ilmu) merupakan jawaban terhadap pertanyaan kenapa kamu datang? Apabila tidak disebutkan sebagai penjelasan sebab terjadinya suatu perbuatan, dan bukanlah maf’ul liajlih, akan tetapi hanya menjadi sesuatu sesuai dengan tuntutan amil yang berkaitan dengannya, antara lain : 4 5 Abdul Latif Al Said, Qawaid Al Lugatu Al Arabiyah Al Mabsutah, Cet. III (TP.TT) h. 67 Al Syaikh Mustafa Al Gailayany, Jamiu Al Durus Al Arabiyyah, Cet. I (Dar Ibn Al Haisim: Kairo) h. 427
  7. 7. 6 a. Bukan maf’ul liajlih hanya menjadi maf’ul mutlaq. Contohnya : ‫عظمتَالعلماءَتعظيما‬ b. Bukan maf’ul liajlih hanya menjadi maf’ul bih Contohnya : ‫علمتَالجبنَمعرة‬ c. Bukan maf’ul liajlih hanya menjadi mubtada’ Contohnya : ‫البخلَداء‬ d. Bukan maf’ul liajlih hanya khabar Contohnya َ: ‫ادوىَاألدواءَالجهل‬ e. Bukan maf’ul liajlih hanya majrur Contohnya : ‫ايَداءَأدوىَمنَالبخل‬ Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka wajib dijar masdar tersebut dengan huruf jar yang bermakna ta’lil (faktor penyebab) seperti huruf jar ََ‫ الالم,َمنَ,َفى‬contoh : ‫جئتَللكتابة‬ ََ َ َ َ  ََ َ َ  ََ D. Ketentuan maf’ul liajlih Untuk maf’ul liajlih memiliki tiga ketentuan sebagai berikut6 : 1. Dinasab apabila terpenuhi syarat-syarat nasabnya karena maf’ul liajlih sharih (jelas) jika dimaksudkan ta’lil. Apabila syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka dijar dengan huruf jar yang bermakna ta’lil, dan dii’tibarkan bahwa tempatnya dinasab karena maf’ul liajlih. Contohnya :         6 Ibid, h. 428
  8. 8. 7 2. Boleh mendahulukan maf’ul liajlih terhadap amilnya, sama adanya dalam kondisi dinasab, seperti : ‫ رغبة َفى َالعلم َاتيت‬atau dalam kondisi dijar seperti : ‫للتجارةَسافرت‬ 3. Tidak wajib menasab masdar yang memenuhi syarat nasabnya, tetapi boleh dinasab atau dijar dalam tiga bentuk : a. Masdar tersebut tidak ber-alif lam (‫ )ال‬dan sandar (‫ ,)اضافة‬pendapat yang terbanyak adalah menasabnya contoh : ‫ ,وقف َالناس َاحتراما َللعالم‬pendapat yang sedikit adalah menjarnya terdapat dalam syair : ....‫منَامكمَلرغبة‬ b. Masdar tersebut ber-alif lam (‫ )ال‬pendapat yang terbanyak adalah menjarnya contoh : ‫سافرت َللرغبة َفى َالعلم‬ dan kadang dinasab menurut pendapat yang sedikit contohnya : ‫لاقعدَالجبنَعنَالهيجاء‬ c. Masdar tersebut mudaf (sandar) maka boleh dinasab dan dijar Contohnya dinasab : َ‫تركتَالمنكرَخشيةَهللا‬ Atau dijar contohnya :َ‫َتركتَالمنكرَلخشية هللا‬
  9. 9. 8 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan dari pembahasan tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Pengertian maf’ul liajlih adalah masdar yang menunjukkan sebab terjadinya suatu perbuatan dan menunjukkan kesatuan antara amil dan illatnya pada satu waktu serta merupakan jawaban terhadap pertanyaan kenapa perbuatan tersebut dilakukan. 2. Maf’ul liajlih terbagi kepada tiga bagian : a. Apabila tidak ber alif lam dan mudaf, maka kebanyakan dinasab b. Apabila ber alif lam, maka maf’ul liajlih di jar c. Apabila maf’ul liajlih mudaf, maka boleh dinasab atau dijar 3. Syarat menasab maf’ul liajlih : Jika bukan masdar, maka tidak boleh menjadi maf’ul liajlih. Jika bukan masdar qalby, maka tidak boleh dinasab. Memiliki satu waktu yang sama dengan fiilnya dan failnya. Menjadi illat terjadinya perbuatan tersebut dan merupakan jawaban atas pertanyaan “kenapa perbuatan tersebut dilakukan 4. Ketentuan maf’ul liajlih Dinasab apabila terpenuhi syarat-syarat nasabnya. Apabila syarat tidak terpenuhi, maka dijar, tetapi boleh dinasab atau dijar dalam tiga bentuk : a. Masdar tersebut tidak ber-alif lam dan sandar (Terkuat dinasab) b. Masdar tersebut ber-alif lam (Terkuat dijar)
  10. 10. 9 c. Masdar tersebut mudaf, maka boleh dinasab dan dijar B. Saran Saran dan kritik sangat dibutuhkan dalam menyempurnakan tulisan ini, semoga dapat menambah khazanah intelektual
  11. 11. 10 DAFTAR PUSTAKA Abbas Hasan, Nahwul Wafi, Cet. III, (Dar Ma’arif: Mesir:tt ) Abdul Latif Al Said, Qawaid Al Lugatu Al Arabiyah Al Mabsutah, Cet. III (tp.tt) Sayyid Ahmad Al Hasyimy, Al Qawaid Al Asasiyah Lillugatil Arabiyah, (tp. : Kairo: 2010) Sukamto, H. Imaduddin dan Akhmad Munawwari, Tata Bahasa Arab Sistematis: Pendekatan Baru Mempelajari Tata Bahasa Arab (Cet. VI; Yogyakarta: Nurma Media Idea, 2008). Syaikh Mustafa Al Gailayany, Jamiu Al Durus Al Arabiyyah, Cet. I (Dar Ibn Al Haisim: Kairo:tt)

×