1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan adalah salah satu unsur kesejahteraan umum, sesuai dengan cita-cita bangsa...
2
b. Pemecahan masalah, merencanakan intervensi, melaksanakan intervensi,
melakukan pemantauan intervensi serta menilai ke...
3
3. Instansi Tempat Magang
a. Dapat memanfaatkan mahasiswa dalam kegiatan manajemen dan operasional
berbasis keperawatan....
4
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
A. ALUR PELAYANAN PUSKESMAS
a. Pengertian
Menurut Kepmenkes RI Nomor 128/Menkes/SK/II/2004. ...
5
Setiap unit pelaksana pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas
(Poliklinik) akan mendokumentasikan semua hasil anamnesi...
6
Pasien masuk
Registrasi
Pemberian tindakan
Pemberian resep
Pengambilan obat di apotik
Pulang
2. Alur Tidak Langsung.
Pas...
7
Penyerahan obat pada pasien
Periksa nama pasien, aturan pemakaian dan jenis serta jumlah obat
Penyerahan obat disertai i...
8
Uraian Tugas:
1. Memberikan asuhan keperawatan pada kasus gawat darurat
2. Membantu melaksanakan tindakan pada penderita...
9
3. Memberikan penyuluhan penyakit menular baik perorangan maupun perorangan
4. Melaporkan dengan cepat kasus-kasus penya...
10
Uraian tugas:
1. Membantu memeriksa dan memberikan tindakan gigi dan mulut didalam gedung dan
diluar gedung
2. Mengukur...
11
BAB III
GAMBARAN UMUM INSTITUSI MAGANG DAN HASIL
PENGKAJIAN LAPANGAN
A. Gambaran umum institusi tempat magang.
1. Letak...
12
Tabel 2:Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Lohia
Menurut Jenisnya 2013
No. Tenaga Kesehatan 2008
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8....
13
 Kunjungan KI 95 atau 81 %
 Kunjungan Bumil ke IV 117 atau 96%
 Bumil Nakes 232 atau 97%
 KNI 108 atau 100%
 KN3 1...
14
Wilayah kerja Puskesmas Lohia terdiri dari 4 Desa,dengan jumlah penduduk
5688 jiwa, Posyandu 8 Buah terdiri dari:
 Des...
15
pelaksanaan kegiatan di luar gedung diharapkan cakupannya dapat mencapai
target yang telah ditetapkan.
Kegiatan yang di...
16
Dari hasil kegiatan yang dilakukan dari 2.685 KK yang memiliki kriteria
Rumah sehat sebanyak 1.495 KK atau 55,67%. Seda...
17
Adapun jaringan petugas TB paru adalah :
 Dr.Praktek.
 Bidan Desa
 Staf Puskesmas
 Kader Posyandu
 PMO
 Penderita...
18
 Pembinaan balita BGM di Posyandu dan masyarakat.
b. Permasalahan
Dari hasil kegiatan gizi di puskesmas,cakupan penimb...
19
desebabkan karena tenaga yang ada tidak berdomisili dilokasi Bakesra dan juga
insentif bakesra sampai saat ini tidak je...
20
- 1 kepala ruangan “apotik “ yang membuat jadwal dinas setiap bulan dan
tidak mengalami kesulitan dalam membuat jadwal ...
21
- Tidak ada audit terhadap dokumentasi askep dan tidak ada kegiatan
peningkatan mutu pelayanan keperwatan di ruangan
- ...
22
- Jika ada kesalahan yang di lakukan pada waktu pemberian askep, maka
perawat akan melapor kepada kepala ruangan sehing...
23
- Di ruangan poli umum dan poli gigi kebutuhan tenaga dan kompetensi
tenaga belum cukup memadai. Sedangkan yang dapat y...
24
BAB IV
ANALISA HASIL KAJIAN DAN RENCANA PENYELESAIAN
MASALAH DI TEMPAT MAGANG
A. Identifikasi Masalah
Identifikasi Masa...
25
Dari masing-masing dinilai untuk setiap aspek tersebut, masing-masing aspek memiliki
bobot sendiri dengan rentang 1 – 5...
26
B. Saran.
1. Perlu ditingkatkan koordinasi lintas sector untuk mencapai dukungan dalam
pelaksanaan program.
2. Diharapk...
27
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pemaparan laporan diata maka kami dapat menarik kesimpulan
sebagai beriku...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Laporan magang avisena multi kampus muna

1,729 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,729
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
33
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Laporan magang avisena multi kampus muna

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah salah satu unsur kesejahteraan umum, sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yang terdapat dalam UUD 1945. Maksudnya dengan mewujudkan kesejahteraan kesehatan masyarakat yang optimal yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Kesehatan yang semula berupa untuk menyembuhkan penderita yang sakit secara berangsur-angsur berkembang kearah lebih baik. Upaya kesehatan untuk seluruh masyarakat dengan peran masyarakat sebagai penentu dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan dan pemulihan suatu penyakit yang bersifat menyeluruh serta sifat berkesinambungan. Pendidikan yang sistematis dan sistemis merupakan pilar uatama, baik dalam pembentukan kemampuan, sikap dan perilaku profesional mahasiswa, sekolah tinggi ilmu kesehatan avicenna kendari memberi peluang yang lebih besar bagi peserta didik untuk mengembangka diri secara profesional di dunia kerja. Dalam proses kegiatan studi lapangan tentang kebijakan kesehatan dalam bentuk magang, mahasiswa memperoleh pengalaman praktis tentang kebijakan kesehatan serta pendekatan multidisiplin ilmu yang relevan untuk melakukan analisa situasi, mengidentifikasi masalah, menetapkan alternatif pemecahan masalah, merencanakan program intervensi, melakukan intervensi, serta memantau dan menilai keberhasilan. Oleh itu proses tersebut akan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengamati secara langsung sebagai kesenjangan antara teori dan praktek, sehingga pada akhirnya memahami seluruh proses pemecahan masalah dalam situasi nyata di lapangan. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Terbentuknya pemahaman yang utuh dari mahasiswa tentang proses pemecahan masalah dalam kebijakan kesehatan serta memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di bangku kuliah langsung di lapangan. 2. Tujuan Khusus Setelah mengikuti kegiatan ini mahasiswa diharapkan: a. Memahami cara menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah, menetapkan alternatif
  2. 2. 2 b. Pemecahan masalah, merencanakan intervensi, melaksanakan intervensi, melakukan pemantauan intervensi serta menilai keberhasilan. c. Mampu bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah kesehatan/keperawatan terkait kebijakan kesehatan. d. Mampu melakukan pendekatan keperawatan untuk mengolah, menganalisa, menginterpretasi data hingga menjadi informasi yang bermanfat bagi yang membutuhkan. C. Manfaat 1. Bagi mahasiswa a. Dapat mengamati secara langsung berbagai peristiwa terkait kebijakan kesehatan secara nyata di lapangan yang terkait dengan manajemen bidang keperawatan. b. Mendapat pengetahuan dan keterampilan yang lebih aplikatif dalam bidang keperawatan. c. Merupakan suatu sarana pembelajaran kerja dalam tim untuk pemecahan masalah dengan pendekatan keperawatan. d. Menggunakan metodologi yang relevan dalam melakukan analisa situasi, identivikasi masalah, penetapan alternatif, pemecahan masalah, perancanaan program intervensi, pelaksanaan program intervensi, pemantauan dan penilaian program intervensi. e. Peluang untuk memperoleh data terkait penyusunan karya ilmiah, khususnya skripsi. 2. STIK Avicenna Multi Kampus Muna a. Terbinanya suatu jaringan kerjasama dengan institusi tempat magang dalam rangka meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan antara akademis dengan pengetahuan dan pengalaman nyata dilapangan, sehingga menghasilkan suatu informasi tentang SDM yang dibutuhkan dalam dunia kerja. b. Tersedianya suatu sumber informasi dalam penyusunan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan SDM. c. Melibatkan tenaga terampil dilapangan sebagai pembimbing mahasiswa, dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
  3. 3. 3 3. Instansi Tempat Magang a. Dapat memanfaatkan mahasiswa dalam kegiatan manajemen dan operasional berbasis keperawatan. b. Dapat memanfaatkan pembimbing akademis untuk memberikan masukan manajemen maupun operasional instansi, terutama yang berkaitan dengan keperawatan. c. Dapat mengembangkan kemitraan antar instansi tempat magang dengan STIK Avicenna Multi Kampus Muna.
  4. 4. 4 BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN A. ALUR PELAYANAN PUSKESMAS a. Pengertian Menurut Kepmenkes RI Nomor 128/Menkes/SK/II/2004. Puskesmas adalah UPTD Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan disuatu wilayah kerja. Dalam melakukan pelayanan kesehatan, puskesmas menganut azas penyelenggaraan sebagai berikut: a. Azas pertanggung jawaban wilayah b. Azas pemberdayaan masyarakat. c. Azas keterpaduan. d. Azas rujukan. Dalam metode pelayanan pasien puskesmas, terdapat dua jenis pelayanan yaitu a. Pasien Rawat Jalan adalah pasien yang datang berobat ke Poliklinik Puskesmas. b. Pasien Gawat Darurat adalah suatu kondisi dimana pasien tiba-tiba dalam keadaan gawat, karena mengancam nyawa atau kecacatan anggota badannya sehingga memerlukan penanganan segera b. Tujuan Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. c. Pengisian Rekam Medis Rawat Jalan Sistem pengumpulan data rekam medis pada tingkat Puskesmas pada dasarnya sama dengan rekam medik Rumah Sakit dengan tahapan sebagai berikut : a. Penerimaan pasien Pada tahap ini pasien mendaftarakan diri sesuai dengan permasalahan kesehatan yang terjadi pada dirinya, selanjutnya akan didistribusikan sesuai dengan pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas b. Pencatatan
  5. 5. 5 Setiap unit pelaksana pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas (Poliklinik) akan mendokumentasikan semua hasil anamnesis, pemeriksaan dan pengobatan yang telah dilakukan pada semua pasien. c. Pengolahan Data yang telah didokumentasikan akan dikelola dalam bentuk sebagai berikut: 1. Coding Membuat kode atas setiap diagnosis penyakit berdasarkan klasifikasi penyakit yang ada, berdasarkan pengelompokan penyakit yang dituangkan dalam bentuk kode. 2. Indexing Pembuatan indeks, diantaranya indeks rawat jalan, inap, penyakit. Semua ini dipersiapkan untuk membuat laporan statistik yang biasa digunakan di puskesmas ataupun Rumah Sakit. d. Penyimpanan Setiap hasil pemeriksaan dan pengumpulan data yang sudah di dokumentasikan akan di simpan sesuai dengan kebijakan puskesmas tersebut. Puskesmas biasanya membuat laporan dan pencatatan bulanan untuk dikirimkan ke tingkat yang lebih tinggi Dinas Kesehatan Kabupaten. Beberapa contoh sistem pencatatan dan pelaporan Puskesmas, yaitu 1. F 1, Laporan KIA 2. F 1, Laporan KB 3. K IV, pencatatan akseptor baru 4. Laporan jumlah kunjungan. 5. Laporan jenis penyakit pada bulan laporan berdasarkan jumlah kunjungan 6. Laporan PWS KIA 7. Laporan pemberian Vit. A 8. Laporan kegiatan posyandu 9. Laporan kelahiran dan kematian B. Alur pelayanan Pasien Rawat Jalan Dalam pelayanan Pasien di Puskesmas Lohia ada dua alur yakni alur langsung dan tidak langsung (rawat jalan). 1. Alur Langsung
  6. 6. 6 Pasien masuk Registrasi Pemberian tindakan Pemberian resep Pengambilan obat di apotik Pulang 2. Alur Tidak Langsung. Pasien Masuk Registrasi Poli Umum (Pengmabilan resep) Ruang Tindakan Pemberian Tindakan Pulang Prosedur pelayanan Apotik Pasien membawa resep Penerimaan resep Peracikan obat Ambil obat dari rak penyimpanan Peracikan obat Pemberian etiket yang sesuai Memasukkan obat ke dalam wadah yang sesuai
  7. 7. 7 Penyerahan obat pada pasien Periksa nama pasien, aturan pemakaian dan jenis serta jumlah obat Penyerahan obat disertai informasi kepada pasien C. Tugas pokok dan Fungsi Laboratorium Tugas pokok : - Penanggung jawab P2TB, Kusta - Penanggung jawab Laboratorium Fungsi : - Melaksanakan pemeriksaan laboratorium sesuai permintaan dokter - Melaksanakan asuhan keperawatan penyakit menular, khususnya TB dan kusta - Melaksanakan asuhan keperawatan pada kegiatan diluar gedung Uraian tugas : 1. Menyiapkan alat-alat pemeriksaan laboratorium 2. Mengambil specimen penderita 3. Melakukan pemeriksaan widal 4. Melakukan pemeriksaan DDR dan HB 5. Melakukan pemeriksaan urine lengkap 6. Melakukan pemeriksaan golongan darah 7. Melakukan pemeriksaan kimia darah 8. Membuat fiksasi sputum 9. Melaksanakan pewarnaan preparat 10. Memeriksa hasil BTA 11. Membantu pemeriksaan pasien didalam dan diluar gedung 12. Melakukan penyuluhan kesehatan, baik perorangan maupun kelompok 13. Membersihkan alat laboratorium 14. Membuat laporan kegiatan P2TB dan P2 Kusta 15. Mengikuti mini lokakarya. D. Tugas pokok dan Fungsi Unit Gawat Darurat (Ruang Tindakan) Tugas Pokok : 1. Penanggung jawab Unit Gawat Darurat (UGD) 2. Penganggung jawab puskesmas pembantu. Fungsi : - Memberikan asuhan keperawatan pada kasus gawat darurat Memberikan asuhan keperawatan di Puskesmas Pembantu.
  8. 8. 8 Uraian Tugas: 1. Memberikan asuhan keperawatan pada kasus gawat darurat 2. Membantu melaksanakan tindakan pada penderita gawat darurat antara lain: Kecelakaan Lalu lintas dan penyakit lain yang mendadak dan gawat 3. Membantu membimbing mahasiswa dalam bidang keperawatan 4. Membuat laporan UGD (Ruang Tindakan). 5. Membantu memberikan pelayanan pengobatan di Puskesmas Pembantu. 6. Memberikan penyuluhan di Puskesmas Pembantu. 7. Membuat Laporan Puskesmas Pembantu. 8. Mengikuti Minlok (Mini lokakarya). D. Tugas pokok dan fungsi Ketata-Usahaan Puskesmas Tugas Pokok : Menghimpun dan menyusun semua laporan kegiatan Puskesmas Fungsi : Membantu Kepala Puskesmas dalam melaksanakan Keta-Usahaan Puskesmas. Uraian tugas : 1. Mengumpulkan laporan berkala setiap petugas Puskesmas untuk disusun menjadi laporan Puskesmas sesuai dengan format yang telah ditentukan 2. Membuat surat dan menyimpan arsip atau surat masuk 3. Tata usaha rumah tangga 4. Tata usaha kepegawaian Puskesmas 5. Pengetikan laporan maupun surat 6. Mengatur petugas yang keluar lapangan 7. Membuat Duk akhir tahun 8. Mengambil gaji ke Dinas Kesehatan. 9. Mendistribusikan gaji pegawai 10. Mengikuti mini lokakarya 11. Bekerja sama dengan tim dalam pelayanan pengobatan diluar gedung. E. Tugas Pokok Dan Fungsi P2M Tugas pokok : pelaksana P2M Fungsi : Melaksanakan kegiatan P2M Uraian tugas: 1. Melacak dan menangani kasus-kasus penyakit menular dilapangan 2. Membantu pelayanan pengobatan diluar gedung (posyandu, puskel)
  9. 9. 9 3. Memberikan penyuluhan penyakit menular baik perorangan maupun perorangan 4. Melaporkan dengan cepat kasus-kasus penyakit menular yang berpotensi wabah 5. Membuat laporan kegiatan P2M 6. Membuat PWS kasus-kasus penyakit menular 7. Mengikuti mini lokakarya F. Tugas Pokok dan Fungsi Ruang Poli a. ) Poli KIA Tugas pokok: - mengkoordinir kegiatan puskesmas diwilayah binaan kelurahan. - Mengkoordinir kegiatan KIA, KB dan kegiatan pokok lainnya diwilayah binaan kelurahan. - Melaksanakan kegiatan pengobatan diposkeskel Fungsi: memberikan pelayanan kebidanan dalam wilayah binaan kelurahan dan diluar gedung - Membantu kepala puskesmas dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan dipuskesmas dan pelayanan pengobatan diluar gedung (posyandu) Uraian tugas: 1. Melakukan anamneses, register ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita 2. Melakukan pelayanan KIA, KB, dalam gedung dan diposyandu 3. Menolong persalinan normal diluar gedung 4. Melakukan pelayanan imunisasi TT bumil, capen dalam dan diluar gedung 5. Melakukan kunjungan rumah dan melacak kasus-kasus resti dalam wilayah binaan dan menolong P4K 6. Memberikan penyuluhan kesehatan pada ibu hamil 7. Memberikan pengobatan sederhana pada pasien umum 8. Melaksanakan pembinaan kader posyandu maupun kader POSKESKEL 9. Membuat laporan akhir bulan 10. Mengikuti mini lokakarya b.) Poli Gigi Tugas Pokok: - melaksanakan asuhan keperawatan gigi didalam gedung dan diluar gedung - Penanggung jawab kegiatan UKS dan UKGS Fungsi: memberikan pelayanan keperawatan gigi didalam gedung dan diluar gedung
  10. 10. 10 Uraian tugas: 1. Membantu memeriksa dan memberikan tindakan gigi dan mulut didalam gedung dan diluar gedung 2. Mengukur atau memeriksa TTV pasien 3. Membantu penyuluhan kesehatan gigi dan mulut didalam gedung dan diluar gedung 4. Meregistrasi pasien atau membuat rekaman medis pasien 5. Membuat laporan hasil pelayanan kesehatan gigi dan mulut 6. Membuat laporan hasil kegiatan UKS atau UKGS 7. Mengikuti mini lokakarya
  11. 11. 11 BAB III GAMBARAN UMUM INSTITUSI MAGANG DAN HASIL PENGKAJIAN LAPANGAN A. Gambaran umum institusi tempat magang. 1. Letak Geografis Puskesmas Lohia adalah puskesmas yang berada di wilayah Kecamatan Lohia. Wilayah ini terletak di pesisir pulau Muna dibagian timur dan, secara geografis Kecamatan Lohia terletak di bagian selatan katulistiwa pada garis lintang 40 06’ sampai 50 15’ Lintang selatan dan 1220 8’ Bujur timur sampai dengan 1230 15’ Bujur Timur. Dari aspek Geografis, Kecamatan Lohia mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut: o Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Duruka. o Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tongkuno. o Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Buton. o Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kontunaga. 2. Keadaan Penduduk. Keadaan penduduk berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) wilayah kerja Puskesmas Lohia dalam angka Tahun 2013 menunjukkan jumlah penduduk sebesar 5668 jiwa. 3. Keadaan Umum Puskesmas. Keadaan umum puskesmas ditampilkan dengan angka dalam bentuk tabel-tabel sebagai berikut: Tabel 1: Jumlah sarana kesehatan Puskesmas Lohia Tahun 2013 No. Jenis Sarana Jumlah Satuan 1. Puskesmas Induk 1 Gedung 2. Polindes 1 Gedung 3. Perumahan Paramedis 4 Gedung 4. Bakesra 2 Gedung 5. Pos Pelayanan Terpadu 8 Pos
  12. 12. 12 Tabel 2:Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Lohia Menurut Jenisnya 2013 No. Tenaga Kesehatan 2008 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Perawat Pekarya Sanitarian Gizi Perawat Gigi Bidan Perawat Gigi Penyuluh Kesehatan 12 1 2 2 1 3 1 3 Jumlah 25 Tabel 3: Jumlah kunjungan Penderita penyakit Menurut jenisnya tahun 2013 No. Nama penyakit 2013 1. 2. 3. 4. Malaria TB Paru Ispa Diare 32 39 948 177 Total 1196 4. Pencapaian Program A. PROGRAM KIA 1. Gambaran Umum Dalam melaksanakan program KIA di Puskesmas Lohia di bantu oleh 3 orang tenaga Bidan yang terdiri dari satu orang bidan Koordinator dan 2 orang Bidan Desa. Pola pertolongan persalinan Puskesmas Lohia kurang lebih 80% di tolong oleh tenaga kesehatan dengan sistim APN dengan pola 60 Langkah. Adapun cakupan pelayanan KIA tahun 2012 adalah sebagai berikut :
  13. 13. 13  Kunjungan KI 95 atau 81 %  Kunjungan Bumil ke IV 117 atau 96%  Bumil Nakes 232 atau 97%  KNI 108 atau 100%  KN3 104 atau 97%  SF1 255 atau 98%  SF3 238 atau 92% Sasaran K1 = 258 Sasaran Bumil = 253 Kunjungan k1 = SF1 Kunjungan Bumil=SF3 2. Permasalahan : Dalam melaksanakan program KIA ada beberapa hambatan yang di dapat dilapangan:  Sarana transportasi  Keterlambatan masyarakat mengambil keputusan.  Tingkat ekonomi masyarakat yang masih rendah  Tingkat pendidikan masyarakat yang masih kurang  Kurangnya pemahaman masyarakat tentang faktor resiko yang akan terjadi pada Bumil apabila tidak cepat tertangani oleh tenaga Nakes (Bidan) terhadap resiko tinggi. 3. Strategi Puskesmas dalam menurunkan AKI dan AKB.  Pengadaan sarana transportasi  Deteksi dini terhadap Bumil,Bulin dan bati resiko tinggi  Meningkatkan koordinasi pelayanan KIA baik lintas sektor maupun lintas program.  Penyuluhan kepada masyarakat sasaran program KIA. Dengan adanya Jamkesmas dan Jampersal diharapkan cakupan persalinan yang ditolong oleh nakes meningkat dan dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Anga Kematian Bayi (AKB). B. PROGRAM PROMOSI PLP 1. Promosi Kesehatan. a. Gambaran Umum Posyandu (analisis situasi)
  14. 14. 14 Wilayah kerja Puskesmas Lohia terdiri dari 4 Desa,dengan jumlah penduduk 5688 jiwa, Posyandu 8 Buah terdiri dari:  Desa Lohia : 2 Buah  Desa Lakarinta : 2 Buah  Desa Korihi : 2 Buah  Desa Wabintingi : 2 Buah b. Analisis Keterjangkauan Berdasarkan data tersebut diatas dapat dilihat bahwa semua Desa/kelurahan yang ada di Wilayah kerja Puskesmas Lohia telah terjangkau dengan pelayanan Posyandu sehingga permasalahan keterjangkauan tidak ada c. Analisis Tingkat Perkembangan Adapun data tingkat perkembangan Posyandu di Wilayah Puskesmas Lohia adalah :  Posyandu Ros I : 1 buah atau 7,7 %  Posyandu Ros II : 1 buah atau 7,7 %  Posyandu Flamboyan I : 1 buah atau 7,7 %  Posyandu Flamboyan II : 1 buah atau 7,7 %  Posyandu Motonuno I : 1 buah atau 7,7 %  Posyandu Motonuno II : 1 buah atau 7,7 % Berdasarkan data tersebut diatas bahwa di wilayah puskesmas Lohia hanya terdapat 1 buah atau 7,7% posyandu mandiri. Oleh karena itu maka alternatif pemecahan masalah adalah :  Meningkatkan jumlah Posyandu Mandiri  Malakukan pelatihan kader untuk program tambahan di posyandu  Mengadakan pertemuan dalam rangka pemberdayanaan tokoh masyarakat yang ada di wilayah kerja puskesmas Lohia.  Mengadakan koordinasi dengan lintas sektor 2. Penyehatan lingkungan Pemukiman. a. Analisis situasi Program penyehatan lingkungan adalah salah satu program yang sangat penting dalam upaya menuju Mellinium Developmen Goals(MDGs) dalam mewujudkan Visi Muna sehat 2015. Didalam paradigma sehat program penyehatan lingkungan adalah pilar kedua sesudah promosi kesehatan,oleh karna itu dengan adanya bantuan dana BOK yang membiayai semua
  15. 15. 15 pelaksanaan kegiatan di luar gedung diharapkan cakupannya dapat mencapai target yang telah ditetapkan. Kegiatan yang dilakukan diPuskesmas Lohia dibidang PLP ini adalah sebagai berikut :  Pengawasan kualitas air  Pengawasan tempat-tempat umum dan TPM  Penyuluhan penyehatan lingkungan  Pengawasan terhadap tempat industri Cakupan kegiatan penyehatan kingkungan adalah sbb : 1. Air bersih 69,2% 2. Rumah sehat 48,7% 3. SPAL 65,1% 4. JAGA 64,7% 5. TTU Memenuhi syarat 57,6% 6. TPM memenuhi syarat 60% 7. Pengawasan Tempat industri/Lingkungan kerja 80% 8. Tempat industry/ling kerja memenuhi Syrat 58,7 b. Permasalahan. Dalam melaksanakan program penyehatan lingkungan permasalahan yang di hadapi adalah:  Kesadaran masyarakat tentang pentingnya penyehatan lingkungan yang masih kurang  Tingkat ekonomi masyarakat yang masih kurang. c. Alternatif pemecahan masalah.  Penggalian dana baik dari pemerintah maupun swadaya masyarakat  Meningkatkan frekwensi maupun kualitas penyuluhan kepada masyarakat  Melakukan advokasi PLP baik kepada pemerintah maupun dunia usaha dan masyarakat C. PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN (Kesling) 1. Kondisi Kesehatan Lingkungan dan Sarana kesehatan lingkungan dirinci per Desa Lohia. Tahun 2011 dapat dilihat pada tabel.
  16. 16. 16 Dari hasil kegiatan yang dilakukan dari 2.685 KK yang memiliki kriteria Rumah sehat sebanyak 1.495 KK atau 55,67%. Sedangkan yang memiliki Jamban memenuhi syarat adalah 650 KK ,SPAL 350 KK dan SAB 580 KK 2. Kondisi Tempat Pembuangan Tinja (Jamban Keluarga) Puskesmas Lohia Tahun 2012 Dari 2.685 KK yang memiliki septic tank yang memenuhi syarat adalah 254 KK dengan jumlah jangkauan sebanyak 1.270 orang .Sedangkan yang menggunakan leher angsa memenuhi syarat sebanyak 704 KK dengan jumlah jangkauan sebanyak 3.520 orang.yang selanjutnya dapat dilihat pada tabel lampiran 3. Cakupan penggunaan sarana air bersih yang terlindung dari resiko pencemaran tahun 2013 Dari hasil kegiatan cakupan penggunaan air bersih yang terlindung dari resiko pencemaran adalah sumur gali prtibadi senyak 443 buah dengan jumlah jangkauan 2.215 orang ,sumur gali umum sebanyak 31 buah dengan jumlah jangkauan adalah 775 orang begitu pula yang menggunakan ledeng/pp senyask 416 kk dengan jumlah jangkauan 2.080 orang dan selanjutnya dapat dilihat pada table lampiran. D. PROGRAM P2M 1. Imunisasi Program imunisasi di Puskesmas Lohia berjalan sesuai jadwal posyandu yang ada, dimana dari hasil evaluasi Tahun 2013 menunjukkan bahwa Antigen BCG,DPT,Polio,Campak dan TT Bumil rata-rata pencapian adalah kurang dari 83% kebawa .Berdasarkan data ini maka rata-rata dalam kategori tidak UCI. Adapun pencapaian kegiatan selengkapnya terlampir. 2. P2 Kecacingan Penderita kecacingan yang berkunjung dipuskesmas Lohia selama tahun 2013 adalah tdak ditemukan kasus filariasis. 3. P2 Ispa Cakupan kegiatan P2 Ispa berdasarkan kunjungan puskesmas adalah sebagai berikut : sebanyak 948 kasus Ispa. 4. P2 Malaria Jumlah penderita malaria klinis Tahun 2013 adalah 32 kasus 5. P2 TB Paru Program TB paru di Puskesmas Lohia dilaksanakan dengan sistim jaringan dalam penentuan penderita maupun pengobatan.
  17. 17. 17 Adapun jaringan petugas TB paru adalah :  Dr.Praktek.  Bidan Desa  Staf Puskesmas  Kader Posyandu  PMO  Penderita yang sembuh. Penderita yang sembuh selalu melakukan promosi di masyarakat sehingga secara langsung mensosialisasikan program TB tersebut. Adapun cakupan kegiatan program TB di Puskesmas Lohia Tahun 2012 sbb :  Jumlah suspek : 39 Orang  Jumlah BTA positif : 39 Orang  Jumlah BTA Negatif rox.positif : 2 Orang  Jumlah mendapat pengobatan : 21 Orang  Jumlah konversi BTA positif : 6 Orang  Jumlah yang sembuh : 21 Orang  Jumlah pengobatan lengkap : 21 Orang  Jumlah yang belum menyelesaikan pengobatan : 1 Orang  Jumlah penderita kambuh : - Orang 6. P2 Diare Cakupan kegiatan P2 Diare Tahun 2013 adalah sbb :  Jumlah penderita : 177 orang  Jumlah penderita meninggal : Tidak ada  Data selengkapnya terlampir. E. UPAYA KESEHATAN 1. Program Gizi a. Evaluasi program gizi tahun 2013 Kegiatan program gizi tahun 2013 yaitu :  Penimbangan balita yang dilakukan setiap bulan di Posyandu  Pemberian tablet Fe pada ibu hamil setiap bulan di posyandu  Pemberian kapsul Vit A pada bayi umur 6 – 11 bulan dan balita umur 1 – 5 tahun setiap 6 bulan sedang ibu nifas diberikan setiap bulan.  Pelacakan kasus Gizi buruk baik di posyandu maupun pada masyarakat
  18. 18. 18  Pembinaan balita BGM di Posyandu dan masyarakat. b. Permasalahan Dari hasil kegiatan gizi di puskesmas,cakupan penimbangan balita di posyandu masih kurang. Pada tahun 2010 target penimbangan balita 80%, yang tercapai hanya 52%, sedangkan tahun 2011 meningkat 54% namun bila dibandingkan dengan setiap desa/kelurahan ada beberapa desa yang cakupannya sudah memenuhi target (cakupan penimbangan balita perdesa terlampir). Dilihat dari kurangnya cakupan penimbangan balita tersebut di sebabkan oleh:  Kurangnya dukungan dari lintas sektor terhadap kegiatan posyandu  Ada beberapa orang kader yang tidak aktif  Asumsi orang tua yang keliru bahwa setelah campak anaknya tdk dibawa lagi diposyandu. c. Pemecahan masalah Untuk mencapai cakupan kegiatan program penimbangan balita di posyandu sesuai dengan target yang telah ditentukan: 1. harus ada dukungan dari lintas sektor dan diaktifkan kembali beberapa orang kader yang tidak aktif. 2. Meruba imec masyarakat bahwa setelah bayi dicampak harus tetap keposyandu sampai umur 5 tahun untuk diketahui berapa berat anak ibu setiap bulannya.di ibaratkan kalau sapi ditimbang supaya diketahui harganta. Begitu pula balita ditimbangf tiap bulan untuk diketahui berapa beratnya sehingga kita bisa memastikan balita ibu sehat atau tidak. F. PROGRAM TAMBAHAN. 1. Jamkesmas /Jampersal. Pembiayaan Jamkesmas diperuntukan untuk semua kegiatan yang sifatnya kuratif yaitu:  Pelayanan kesehatan Dasar Didalam gedung .  Pelayanan Kesehatan Kebidanan 2. Biaya Operasional Kesehatan (BOK) Pembiyaannya diperuntukan semua kegiatan yang sifatnya prefentif atau kegiatan yang berada diluar gedung Puskesmas 3. di wilayah puskesmas Lohia adalah 4 buah. Dalam perjalananya Bakesra dipuskesmas Lohia tidak berjalan dengan baik seperti apa yang diharapkan, hal ini
  19. 19. 19 desebabkan karena tenaga yang ada tidak berdomisili dilokasi Bakesra dan juga insentif bakesra sampai saat ini tidak jelas. B. Pengkajian Lapangan 1. Fungsi manajemen Kepal ruangan (poli KIA, kartu, Poli gigi, Ruang Tindakan, apotik, poli umum). a) Fungsi perencanaan - Ada 6 kepala ruangan, dimana tiap kepala ruangan tidak terlibat dalam perencanaan tenaga keperawatan juga tidak dilibatkan dalam proses rekruitmen tenaga perawat. - Ada 4 kepala ruangan ( poli gigi, kartu, poli umum) yang tidak terlibat dan ada 2 kepala ruangan yang terlibat dalam proses seleksi perawat, mutasi tenaga perawat, proses relasi tenaga perawat, pembuatan perencanaan sarana yang menunjang kegiatan pelayanan kesehatan keperawatan - Ada 5 kepala ruangan yang terlibat dan 1 kepala ruangan : kartu “ yang tidak terlibat untuk pembuatan perencanaan alat kesehatan penunjang pelayanan keperawatan - Semua kepala ruangan tidak membuat perencanaan yang bukan alat kesehatan dan juga tidak membuat perencanaan untuk meningkatkan kualitas asuhan pasien dan keluaga b) Fungsi pengorganisasian - Ada 5 kepala ruangan yang berasumsi bahwa struktur organisasi di puskesmas Lohia telah memadai dalam memberikan pelayanan keperawatan, juga tidak ada dampak dari metode yang di gunakan ( fungsional ) terhadap pemberian askep sehingga pemberian askep di nilai lebih efisien dan 1 kepala ruangan “ kartu “ yang berasumsi tidak - Ada 5 kepala ruangan yang berasumsi bahwa metode pemberian askep yang di gunakan memberikan kepuasan pada perawat dan 1 kepala ruangan “ kartu “yang mengatakan tidak. - Semua kepala ruangan merasakan bahwa metode pemberian askep yang di gunakan memberi kepuasaan pada perawat dan masing – masing kepala ruangan tidak selalu menekankan aspek – aspek “ caring “ pada perawat dalam menjalankan askep
  20. 20. 20 - 1 kepala ruangan “apotik “ yang membuat jadwal dinas setiap bulan dan tidak mengalami kesulitan dalam membuat jadwal dinas c) Fungsi staffing - Tidak ada orientasi kepada tenaga perawat baru - Kebutuhan tenaga di ruangan sudah cukup memadai - 5 kepala ruangan menilai kompetensi tenaga di ruangan tidak memadai dan 1 kepala ruangan menilai kompetensi tenaga di ruangan memadai yaitu di ruangan ” kartu “ - 5 kepala ruangan melibatkan diri secara langsung dalam proses mutasi tenaga perawat dan 1 kepala ruangan “ kartu “ yang tidak - Hanya 3 kepala ruangan ( apotik, poli gigi, kartu ) yang tidak dilibatkan dalam proses rotasi tenaga perawat - Tidak ada pemberian penghargaan kepada perawat jika menunjukan standar yang sesuai dan tidak ada hukuman kepada perawat dari kepala ruangan jika menunjukan standar kinerja yang tidak sesuai - Semua kepala ruangan melaksanakan penilaian kinerja staf dan menberi tugas kepada stafnya sesuai dengan kompetensi yang dimiliki dalam memberikan - 5 kepala ruangan memberi tugas kepada staf tidak berdasarkan pendidikan yang dimiliki dalam memberikan askepdan 1 kepala ruangan yang memberi tugas bedasarkan pendidikan yang dimiliki “ poli gigi “ d) fungsi pengarahan - Tidak terdapat jadwal pertemuan rutin dengan perawat di ruangan yang di pimpin dan belum di terapkan manajemen konflik bila ada permasalahan di ruangan - 5 ruangan tidak ada hambatan dalam mengatasi permasalahan pelayanan keperawatan di ruangan dan 1 ruangan “ Ruang Tindakan “ yang mengalami hambatan dalam kelengkapan alat - Semua kepala ruangan mempunyai motivasi untuk meningkatkan pelayanan keperawatan di ruangan masing – masing agar pasien puas dengan pelayanan yang di berikan e ) fungsi pengendalian
  21. 21. 21 - Tidak ada audit terhadap dokumentasi askep dan tidak ada kegiatan peningkatan mutu pelayanan keperwatan di ruangan - 1 kepala ruangan “Ruangan Tindakan “ yang memiliki hambatan dalam kegiatan peningkatan mutu pelayanan keperawatan di ruangan yaitu dalam kelengkapan alat - Setiap ada kelalaian perawat dalam memberikan askep, kepala ruangan akan mendokumentasikan dan menindak lanjuti. Kepala ruangan secara keseluruhan puas dalam bekerja karena tindakan yang di lakukan selalu berjalan dengan baik, pasien merasa puas Perawat pelaksana ( poli kia, kartu, poli gigi, Ruang Tindakan, apotik, poli umum ). a) Fungsi perencanaan - Sebagian besar ( 60 % ) mengetahui visi dan misi keperawatan di puskesmas - Hanya sebagian kecil ( 40 % ) yang tidak memahami visi dan misi keperawatan di puskesmas, utamanya yang berpendidikan sebatas SPK - Sebagian besar ( 90 % ) mengetahui rencana pengembangan perawat dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan - Keseluruhan perawat mempunyai uraian tugas dalam memberikan pelayanan keperawatan dan mempunyai rencana kegiatan dalam melaksanakan tugas, baik dalam bentuk harian, mingguan maupu bulanan. - Sebagian besar ( 70 % ) tidak mempunyai jenjang karir yang jelas b) Fungsi pengorganisasian - Hanya diruangan poli gigi yang tidak terdapat struktur organisasi di karenakan kapasitas perawat gigi yang sangas kurang - Metode fungsional merupakan metode yang di gunakan dalam pemberian askep karena di nilai lebih efisien juga memberikan kepuasan kepada perawat, kepada pasien dan kepada keluarga pasien - Semua perawat dalam melakukan tindakan memberikan penjelasan kepada pasien sehingga pasien mengerti dan kooperatif
  22. 22. 22 - Jika ada kesalahan yang di lakukan pada waktu pemberian askep, maka perawat akan melapor kepada kepala ruangan sehingga kesalahan tersebut dapat dipecahkan dan ditanggulangi bersama - SAK yang tersedia membantu dalam dalam bekerja juga mengarahkan dan sebagai acuan dalam semua kegiatan pelayanan yang akan di lakukan sehingga kegiatan yang di lakukan dapat selesai tepat pada waktunya, teratur dan sesuai yang di harapkan - SOP yang tersedia membantu dalam bekerja, sebagai acuan dalam proses tindakan askep sehingga mengurangi atau menghindari hal – hal yang tidak di inginkan, berfokus pada sasaran kebutuhan yang akan di capai juga memberikan batasan dalam melakukan tindakan sehingga tidak terjadi hal yang tidak di inginkan dalam mencapai kepuasan pasien dan membantu mencipatakan pelayanan yang efisien, dinamis serta berkesinambungan - Semua perawat mengikuti pre conference dan post conference di ruangan. Perawat juga mendokumentasikan hasil pengkajian, diagnosa, implementasi dan evaluasi keperawatan dengan lengkap - Sekitar 40 % ( poli gigi dan KIA ) tidak memberikan pendidikan askep kepada keluarga pasien dan klien di karenakan jumlah pasien yang banyak dan keterbatasan personil di ruangan. sedangkan untuk poli KIA, paien lebih memilih untuk datang konsul dirumah bidan tersebut ketimbang datang dipuskesmas untuk memeriksakan kesehatannya. - Diruangan poli umum dan KIA fasilitas peralatan yang ada memadai untuk memberikan askep - Perawat memahami penilaian tingkat ketergantungan pasien dalam memberikan askep dan selalu menekankan aspek caringdalam menjalankan askep c) Fungsi staffing - Semua perawat mendapatkan orientasi tentang tugas – tugas pelaksanaan askep ketika pertama kali di terima sebagai tenaga perawat baru dan program orientasi membantu perawat dalam memahami dan meningkatkan kemampuan dalam memberikan Askep - Terdapat sistem penghargaan pada perawat yang berprestasi
  23. 23. 23 - Di ruangan poli umum dan poli gigi kebutuhan tenaga dan kompetensi tenaga belum cukup memadai. Sedangkan yang dapat yang di jadikan acuan kebutuhan tenaga dan kompetensi tenaga yang berkompeten sesuai bidangnya dan dapat di nilai memadai yaitu ruangan poli kia - Ada sistem penghargaan pada perawat yang berprestasi dan ada sistem yang imbalan yang di dapat sesuai denga beban kerja - Setiap perawat di berikan kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilanya masing – masing - Setiap perawat mendapatkan sanksi jika melakukan pelanggaran disilin dan pelanggaran profesi agar dapar berhati – hati dalam menangani pasien d) Fungsi pengarahan - Semua perawat di ruangan selalu di super visi setiap bulan dengan atasan dan mendapatkan bimbingan yang jelas pada saat super visi kecuali ruangan poli gigi - Setiap perawat mendapatkan umpan balik dari ketua tim atas tugas yang telah di kerjakan, kecuali ruangan poli gigi dan ruangan poli umum - Setiap perawat mendapatkan motivasi dari kepala ruangan untuk mengembangkan diri dalam melaksanakan tugas, kecuali ruangan poli gigi. e) Fungsi pengendalian - Terdapat program pengendalian mutu di ruangan, kecuali ruangan poli umum dan poli gigi - Semua perawat mendapatkan penilaian secara berkala juga mendapatkan penilaian kerja setiap tahun - Setiap perawat puas bekerja di puskesmas
  24. 24. 24 BAB IV ANALISA HASIL KAJIAN DAN RENCANA PENYELESAIAN MASALAH DI TEMPAT MAGANG A. Identifikasi Masalah Identifikasi Masalah digunakan untuk menganalisis faktor – faktor dan penyebab masalah (menggunakan metode fish bone ) Perawat Perawat Lingkungan Terlibat secara Distribusi Langsung dalam tenaga yang Perencanaan kete- tidak merata nagaan mutasi perawat Perekrutan Ketenagaan Tidak Terlibat secara langsung dalam perencanaan ketenagaan, mutasi perawat B. Prioritas Masalah Dalam rangka memudahkan penentuan uruten masalah yang menjadi prioritas, maka dilakukan penghitungan dengan pembobotan pada setiap masalah yang ditemukan. Proses memprioritaskan masalah akan dilakukan dengan pembobotan yang memperhatikan aspek sebagai berikut :  Magnitude (Mg) : Kecenderungan besar dan seringnya masalah tersebut.  Severity (Sv) : Besarnya kerugian yang ditimbulkan.  Managebility (Mn) : Bisa dipecahkan.  Nursing Concern (Nc): Perhatian bidang keperawatan.  Affordability (Af) : Ketersediaan sumber daya.
  25. 25. 25 Dari masing-masing dinilai untuk setiap aspek tersebut, masing-masing aspek memiliki bobot sendiri dengan rentang 1 – 5 yaitu : 1) 1 (satu) jika sangat kurang sesuai. 2) 2 (dua) jika kurang sesuai. 3) 3 (tiga) jika cukup sesuai. 4) 4 (empat) jika sesuai. 5) 5 (lima) jika sangat sesuai. Nilai dari setiap masalah kemudian dikalikan dengan masing-masing nilai setiap masalah, masalah yang memiliki total nilai terbesar merupakan prioritas masalah yang terpilih. Prioritas Masalah Manajemen Keperawatan Puskesmas Wapunto : NO MASALAH Mg Sv Mn Nc Af Total 1. Perencanaan Ketenagaan 4 5 4 5 5 2000 Dari metode diatas maka masalah yang akan diatasi terlebih dahulu adalah : 1. Perencanaan ketenagaan C. Alternatif Penyelesaian Masalah Utama G. Kesimpulan Dan Saran A. Kesimpulan. 1. Program KIA sebahagian besar cakupan kegiatannya sudah mencapai target,malah ada yang hamper mencapai 100% 2. Program promosi dan PLP cakupan kegiatannya belum mencapai target yang diinginkan. 3. Program P2M cakupan kegiatannya sebahagian sudah mencapai target ,khususnya imunisasi tidak UCI yaitu rata-rata dibawa 80%. 4. Program Upaya kesehatan sebahagian sudah mencapai target utamnya program UKGS.
  26. 26. 26 B. Saran. 1. Perlu ditingkatkan koordinasi lintas sector untuk mencapai dukungan dalam pelaksanaan program. 2. Diharapkan dukungan dana program ,utamanya program promosi PLP 3. Untuk kelancaraan pelaksanaan kegiatan di Puskesmas Lohia perlu adanya sarana transportasi yang memadai. 4. Intensif tenaga Bakesra perlu diperhatikan kembali agar bakesra berjalan dengan lancar. H. Masalah 1. Sumber Daya Manusia Berdasarkan data ketenagaan dari masing-masing profesi, tenaga di Puskesmas Lohia masih kurang, yaitu tenaga dokter gigi,apoteker 2. Sarana dan Prasarana - Gedung masih kurang memadai - Letak Puskesmas yang kurang strategis - Ruang LAB tidak ada - Sumber air bersih yang kurang, serta SPAL yang tidak ada
  27. 27. 27 BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pemaparan laporan diata maka kami dapat menarik kesimpulan sebagai berikut : B. SARAN Adapun saran dalam laporan magang ini yaitu ; 1) Perlunya kerjasama team dalam pembuatan laporan sehingga dapat memaparkan hasil yang maksimal mengenai kegiatan yang dilakukan selama magang sehingga nilai yang diperoleh memuaskan. 2) Perlu adanya komunikasi yang sering antara pembimbing dan mahasiswa, agar mahasiswa mampu memahami hal-hal apa saja yang seharusnya dilakukan selama magang

×