KERAJAAN KUTAI
Kutai adalah salah satu kerajaan tertua di Indonesia, diperkirakan muncul pada abad 5 M atau
± 400 M, keber...
Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi
dengan pihak asing, hingga sangat s...
Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi
dengan pihak asing, hingga sangat s...
KERAJAAN TARUMA NEGARA
Kerajaan Tarumanegara atau Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di
wilayah pulau Jawa...
A. KEHIDUPAN DI KERAJAAN TARUMANEGARA
1. Kehidupan Politik
Raja Purnawarman adalah raja besar yang telah berhasil meningka...
5. Indrawarman 455-515 M
6. Candrawarman 515-535 M
7. Suryawarman 535-561 M
8. Kertawarman 561-628 M
9. Sudhawarman 628-63...
3. Prasasti Kebon Kopi
Prasasti Kebon Kopi ditemukan di kampung Muara Hilir kecamatan Cibungbulang Bogor .
Yang menarik da...
KERAJAAN MATARAM KUNO
Kerajaan Mataram Kuno adalah salah satu kerajaan jaman Hindu yang banyak meninggalkan
sejarah melalu...
Penggunaan istilah Kerajaan Medang juga biasanya digunakan untuk membedakan Kerajaan
Mataram Islam yang Berjaya pada abada...
Panangkaran yang merupakan keturunan Sanjaya oleh Raja Syailendra yang menandakan
berpindahnya kekuasaan dari Sanjaya ke S...
berikut semua fasilitas yang ada. Letusan tersebut menyebabkan adanya perubahan struktur
bumi dengan membentuk wilayah yan...
Kerajaan Mataram Kuno adalah kerajaan adigdaya yang meninggalkan banyak bukti
arkeologis dari keberadaan mereka. Baik itu ...
Kerajaan tertua di wilayah Nusantara adalah Kerajaan Kutai.Kerajaan ini terletak di wilayah
Provinsi Kalimantan Timur,tepa...
Raja Mulawarman dikenal sebagai raja yang bijaksana.Rakyatnya hidup sejahtera dan
makmur.
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Kerajaan di indonesia

2,159 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,159
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
70
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kerajaan di indonesia

  1. 1. KERAJAAN KUTAI Kutai adalah salah satu kerajaan tertua di Indonesia, diperkirakan muncul pada abad 5 M atau ± 400 M, keberadaan kerajaan tersebut diketahui berdasarkan sumber berita yang ditemukan yaitu berupa prasasti yang berbentuk yupa/tiang batu berjumlah 7 buah. Yupa dari Kutai Yupa yang menggunakan huruf Pallawa dan bahasa sansekerta tersebut, dapat disimpulkan tentang keberadaan Kerajaan Kutai dalam berbagai aspek kebudayaan, antara lain politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Kehidupan Politik Dalam kehidupan politik seperti yang dijelaskan dalam yupa bahwa raja terbesar Kutai adalah Mulawarman, putra Aswawarman dan Aswawarman adalah putra Kudungga. Dalam yupa juga dijelaskan bahwa Aswawarman disebut sebagai Dewa Ansuman/Dewa Matahari dan dipandang sebagai Wangsakerta atau pendiri keluarga raja. Hal ini berarti Asmawarman sudah menganut agama Hindu dan dipandang sebagai pendiri keluarga atau dinasti dalam agama Hindu. Untuk itu para ahli berpendapat Kudungga masih nama Indonesia asli dan masih sebagai kepala suku, yang menurunkan raja-raja Kutai. Dalam kehidupan sosial terjalin hubungan yang harmonis/erat antara Raja Mulawarman dengan kaum Brahmana, seperti yang dijelaskan dalam yupa, bahwa raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di dalam tanah yang suci bernama Waprakeswara. Istilah Waprakeswara–tempat suci untuk memuja Dewa Siwa–di pulau Jawa disebut Baprakewara. Mulawarman Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Budha. Aswawarman Aswawarman mungkin adalah raja pertama Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman. Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur.
  2. 2. Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, hingga sangat sedikit yang mendengar namanya. Berakhir Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara. Kerajaan Kutai memiliki sejarah yang cukup panjang, dengan waktu kejayaan kerajaan yang sangat panjang, sehingga dengan begitu telah berganti raja kutai dari masa ke masa, sehingga telah dicatat dalam sejarah yang dapat dibuktikan bahwa bahwa Raja-raja kutai sangat banyak. Raja-raja kerajaan kutai Kerajaan Kutai memiliki sejarah yang cukup panjang, sehingga dalam setiap masa berganti seorang raja ke calon raja lainnya. Raja-raja kerajaan Kutai dari masa ke masa yaitu: 1. Raja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman adalah Raja yang mendirikan Kerajaan Kutai 2. Raja Aswawarman (anak Kundungga) Aswawarman adalah Anak Raja Kudungga.Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman. 3.. Raja Mulawarman (anak Aswawarman) Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Sehingga awal-awal kerajaan Kutai berdiri dipimpin oleh kakeknya, lalu penerusnya bapaknya, dan diteruskan sang cucu. Dikatakan oleh para sejarahwan bahwa nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Budha. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman (Putra Aswawarman), Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur.
  3. 3. Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, hingga sangat sedikit yang mendengar namanya. 4. Raja Marawijaya Warman 5. Raja Gajayana Warman 6. Raja Tungga Warman 7. Raja Jayanaga Warman 8. Raja Nalasinga Warman 9. Raja Nala Parana Tungga 10. Raja Gadingga Warman Dewa 11. Maharaja Indra Warman Dewa 12. Raja Sangga Warman Dewa 13. Raja Candrawarman 14. Raja Sri Langka Dewa 15. Rraja Guna Parana Dewa 16. Raja Wijaya Warman 17. Raja Sri Aji Dewa 18. Raja Mulia Putera 19. Raja Nala Pandita 20. Raja Indra Paruta Dewa 21. Raja Dharma Setia Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu ibukota di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam. Sejak tahun 1735 kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar Pangeran berubah menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara. Nama Raja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India. Sementara putranya yang bernama Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu.
  4. 4. KERAJAAN TARUMA NEGARA Kerajaan Tarumanegara atau Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah pulau Jawa bagian barat pada abad ke-4 hingga abad ke-7 m, yang merupakan salah satu kerajaan tertua di nusantara yang diketahui. Dalam catatan, kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan hindu beraliran wisnu. Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382-395). Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali gomati, sedangkan putranya di tepi kali Candrabaga. Maharaja Purnawarman adalah raja Kerajaan Tarumanegara yang ketiga (395-434 m). Ia membangun ibukota kerajaan baru pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai. Kota itu diberi nama Sundapura pertama kalinya nama Sunda digunakan. Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana. Prasasti Pasir Muara yang menyebutkan peristiwa pengembalian pemerintahan kepada raja Sunda itu dibuat tahun 536 M. Dalam tahun tersebut yang menjadi penguasa Kerajaan Tarumanegara adalah Suryawarman (535 - 561 M) raja Kerajaan Tarumanegara ke-7. Dalam masa pemerintahan Candrawarman (515-535 M), ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan pemerintahan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap Kerajaan Tarumanegara. Ditinjau dari segi ini, maka Suryawarman melakukan hal yang sama sebagai lanjutan politik ayahnya. Kehadiran prasasti Purnawarman di pasir muara, yang memberitakan raja Sunda dalam tahun 536 M, merupakan gejala bahwa ibukota sundapura telah berubah status menjadi sebuah kerajaan daerah. Hal ini berarti, pusat pemerintahan Kerajaan Tarumanegara telah bergeser ke tempat lain. Contoh serupa dapat dilihat dari kedudukaan rajatapura atau salakanagara (kota perak), yang disebut argyre oleh ptolemeus dalam tahun 150 M. Kota ini sampai tahun 362 menjadi pusat pemerintahan raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII). Ketika pusat pemerintahan beralih dari rajatapura ke Tarumanegara, maka salakanagara berubah status menjadi kerajaan daerah. Jayasingawarman pendiri Kerajaan Tarumanegara adalah menantu raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang maharesi dari salankayana di India yang mengungsi ke nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan maharaja samudragupta dari kerajaan magada. Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di ibukota tarumangara dan kemudian menjadi panglima angkatan perang Kerajaan Tarumanegara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih Berkembang Ketika Cicit Manikmaya Mendirikan Kerajaan Galuh Dalam Tahun 612 M. Gambar : Peta Letak Prasasti Kerajaan Tarumanegara
  5. 5. A. KEHIDUPAN DI KERAJAAN TARUMANEGARA 1. Kehidupan Politik Raja Purnawarman adalah raja besar yang telah berhasil meningkatkan kehidupan rakyatnya. Hal ini dibuktikan dari prasasti Tugu yang menyatakan raja Purnawarman telah memerintah untuk menggali sebuah kali. Penggalian sebuah kali ini sangat besar artinya, karena pembuatan kali ini merupakan pembuatan saluran irigasi untuk memperlancar pengairan sawah-sawah pertanian rakyat. 2. Kehidupan Sosial Kehidupan sosial Kerajaan Tarumanegara sudah teratur rapi, hal ini terlihat dari upaya raja Purnawarman yang terus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan rakyatnya. Raja Purnawarman juga sangat memperhatikan kedudukan kaum brahmana yang dianggap penting dalam melaksanakan setiap upacara korban yang dilaksanakan di kerajaan sebagai tanda penghormatan kepada para dewa. 3. Kehidupan Ekonomi Prasasti tugu menyatakan bahwavraja Purnawarman memerintahkan rakyatnya untuk membuat sebuah terusan sepanjang 6122 tombak. Pembangunan terusan ini mempunyai arti ekonomis yang besar nagi masyarakat, Karena dapat dipergunakan sebagai sarana untuk mencegah banjir serta sarana lalu-lintas pelayaran perdagangan antardaerah di Kerajaan Tarumanegara dengan dunia luar. Juga perdagangan dengan daera-daerah di sekitarnya. Akibatnya, kehidupan perekonomian masyarakat Kerajaan Tarumanegara sudah berjalan teratur. 4. Kehidupan Budaya Dilihat dari teknik dan cara penulisan huruf-huruf dari prasasti-prasasti yang ditemukan sebagai bukti kebesaran Kerajaan Tarumanegara, dapat diketahui bahwa tingkat kebudayaan masyarakat pada saat itu sudah tinggi. Selain sebagai peninggalan budaya, keberadaan prasasti-prasasti tersebut menunjukkan telah berkembangnya kebudayaan tulis menulis di kerajaan Tarumanegara. B. RAJA-RAJA DI KERAJAAN TARUMANEGARA Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Pada tahun 669 M, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dari Sunda dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Secara otomatis, tahta kekuasaan Tarumanagara jatuh kepada menantunya dari putri sulungnya, yaitu Tarusbawa. Kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa, karena Tarusbawa pribadi lebih menginginkan untuk kembali ke kerajaannya sendiri, yaitu Sunda yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Tarumanagara. Atas pengalihan kekuasaan ke Sunda ini, hanya Galuh yang tidak sepakat dan memutuskan untuk berpisah dari Sunda yang mewarisi wilayah Tarumanagara. Raja-raja Tarumanegara: 1. Jayasingawarman 358-382 M 2. Dharmayawarman 382-395 M 3. Purnawarman 395-434 M 4. Wisnuwarman 434-455 M
  6. 6. 5. Indrawarman 455-515 M 6. Candrawarman 515-535 M 7. Suryawarman 535-561 M 8. Kertawarman 561-628 M 9. Sudhawarman 628-639 M 10. Hariwangsawarman 639-640 M 11. Nagajayawarman 640-666 M 12. Linggawarman 666-669 M C. PRASASTI-PRASASTI KERAJAAN TARUMANEGARA 1. Prasasti Ciaruteun Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan ditepi sungai Ciarunteun, dekat muara sungai Cisadane Bogor prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta yang terdiri dari 4 baris disusun ke dalam bentuk Sloka dengan metrum Anustubh. Di samping itu terdapat lukisan semacam laba-laba serta sepasang telapak kaki Raja Purnawarman. Gambar telapak kaki pada prasasti Ciarunteun mempunyai 2 arti yaitu: a. Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat ditemukannya prasasti tersebut). b. Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan dan eksistensi seseorang (biasanya penguasa) sekaligus penghormatan sebagai dewa. Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat. 2. Prasasti Jambu Prasasti Jambu atau prasasti Pasir Koleangkak, ditemukan di bukit Koleangkak di perkebunan jambu, sekitar 30 km sebelah barat Bogor, prasasti ini juga menggunakan bahwa Sansekerta dan huruf Pallawa serta terdapat gambar telapak kaki yang isinya memuji pemerintahan raja Mulawarman.
  7. 7. 3. Prasasti Kebon Kopi Prasasti Kebon Kopi ditemukan di kampung Muara Hilir kecamatan Cibungbulang Bogor . Yang menarik dari prasasti ini adalah adanya lukisan tapak kaki gajah, yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata, yaitu gajah tunggangan dewa Wisnu. 4. Prasasti Muara Cianten Prasasti Muara Cianten, ditemukan di Bogor, tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat dibaca. Di samping tulisan terdapat lukisan telapak kaki. 5. Prasasti Pasir Awi Prasasti Pasir Awi berada di daerah 0°10‟37,29” BB (dari Jakarta) dan 6°32‟27,57”, tepat berada di puncak perbukitan Pasir Awi (600 m dpl), Bojong Honje-Sukamakmur Bogor. 6. Prasasti Cidanghiyang Prasasti Cidanghiyang atau prasasti Lebak, ditemukan di kampung lebak di tepi sungai Cidanghiang, kecamatan Munjul kabupaten Pandeglang Banten. Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947 dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan keberanian raja Purnawarman. 7. Prasasti Tugu Prasasti Tugu di temukan di daerah Tugu, kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang melingkar dan isinya paling panjang dibanding dengan prasasti Tarumanegara yang lain, sehingga ada beberapa hal yang dapat diketahui dari prasasti tersebut.
  8. 8. KERAJAAN MATARAM KUNO Kerajaan Mataram Kuno adalah salah satu kerajaan jaman Hindu yang banyak meninggalkan sejarah melalui prasasti yang ditemukan. Kerajaan ini pada awalnya berdiri di wilayah Jawa Tengah yang juga dikenal sebagai kerajaan Medang. Kerajaan mataram kuno atau mataram dengan agama hindu merupakan kerajaan hindu yang pernah berjaya dengan dua dinasti. Dinasti yang pernah berjaya memimpin mataram kuno adalah Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Kerajaan mataram kuno berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan. Kerajaan Mataram Kuno berdiri pada abad 8. Namun, sejak abad 10 kerajaan ini mengalihkan pusat kekuasaannya di Jawa Timur. Saat di Jawa Tengah, pusat kekuasaan berada di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya. Hal ini didasarkan pada penemuan prasati Minto dan Prasasti Anjuk Ladang. Dalam Prasasti Mantyasih pada tahun 907 disebutkan bahwa raja pertama kerajaan Mataram Kuno atau kerajaan Medang adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Raja ini mengeluarkan prasasti Canggal pada tahun 732. dalam prasasti tersebut tidak disebutkan dengan jelas nama kerajaan yang diperintahnya. Dalam periode Jawa Tengah, ada 12 Raja yang memerintah kerajaan Mataram Kuno. Raja pertama adalah Sanjaya yang sekaligus pendiri kerajaan Medang. Selanjutnya digantikan oleh Rakai Panangkaran yang merupakan awal kekuasaan wangsa Syailendra yang mendirikan Candi Borobudur. Berikutnya adalah Rakai Panunggalan alias Dharanindra, Rakai Warak alias Samaragrawira, Rakai Garung alias Samaratungga. Samaratungga digantikan oleh Rakai Pikatan yang merupakan awal kebangkitan wangsa Sanjaya, Rakai Kayuwangi alias Dyah Pitaloka, Rakai Watuhumalang, Rakai Watukura, Mpu Daksa, Rakai Layang Dyah Tulodong dan Rakai Sumba Dyah Wawa. Sedangkan periode kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur dimulai dari pemerintahan Mpu Sindok yang kemudian digantikan oleh Sri Lokapala. Selanjutnya adalah Makuthawangsawardhana. Dan terakhir adalah Dharmawangsa Teguh sebagai penutup di kerajaan Mataram Kuno atau kerajaan Medang ini. Nama Kerajaan Mataram Kuno Secara umum, nama Kerajaan Medang merupakan penyebutan untuk kerajaan mataram hanya pada masa kerajaan mataram waktu berpusat di Jawat Timur. Namun penyebutan tersebut tidak benar secara hirtorisnya. Hal tersebut didasarkan pada adanya penemuan-penemua prasasti yang berisikan tentang Kerajaan Mataram. Dalam beberapa bukti prasasti tersebut diungkapkan bahwa penggunaan nama Kerajaan Medang sudah digunakan sejak Kerajaan Mataram ada di Jawa Tengah sebelum pindah ke Jawa Timur. Jadi penggunaan istilah Kerajaan Medang yang mengalami penyempitan makna hanya pada Kerajaan Mataram yang ada di Jawa Timur adalah hal yang keliru. Dan hal tersebut haruslah dibenarkan supaya tidak terjadi pengkaburan sejarah oleh penggunaan istilah yang tidak tepat. Penggunaan nama Kerajaan Medang untuk periode yang berkuasa di Jawa Tengah biasa dikenal dengan sebutan Kerajaan Mataram. Hal tersebut berdasarkan pada daerah yang dijadikan ibu kota oleh Kerajaan Mataram.
  9. 9. Penggunaan istilah Kerajaan Medang juga biasanya digunakan untuk membedakan Kerajaan Mataram Islam yang Berjaya pada abada ke-16. Kerajaan Medang yang merupakan Kerajaan Mataram yang masih berada di Jawa Tengah juga disebut dengan Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu sebagai pembeda dengan Kerajaan Mataram Islam. Kerajaan Mataram Kuno - Pusat Kerajaan Medang Secara umum menurut para ahli sejarah menyatakan bahwa Kerajaan Mataram Kuno pernah dipimpin oleh tiga dinasti yang pernah berkuasa pada waktu itu. Ketiga dinasti tersebut adalah Wangsa Sanjaya, Wangsa Sailendra, dan Wangsa Isyana. Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra merupakan dua dinasti dari Kerajaan Mataram Kuno yang masih berpusat di Jawa tengah, sedangkan Wangsa Isnaya merupakan Kerajaan Maratam Kuno yang sudah berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. a. Wangsa Sanjaya Penggunaan nama Wangsa Sanjaya didasarkan pada nama dari raja pertama Kerajaan Medang. Nama dari raja tersebut adalah Sanjaya. Raja Kerajaan Medang ini menganut agama hindu yang menyembah kepada Dewa Siwa atau yang lebih dikenal dengan Hindu aliran Siwa. Sebagaimana kerajaan lainnya pada umumny bahwa akan ada masa pergantian kedudukan. Hal tersebut juga berlaku pada Kerajaan Medang pada masa Wangsa Sanjaya. Dalam sebuah kajian teori yang dikemukan oleh van Naerssen mengatakan bahwa keruntuhan dinasti Sanjaya adalah pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran yang merupakan pengganti dari raja Sanjaya tepatnya pada tahun 770-an. b. Wangsa Sailendra Dinasti Sanjaya kemudian digantikan oleh Dinasti Syailendra yang berhasil merebut kekuasaan dari Rakai Panangkaran. Raja Syailendra merupakan seorang penganut agama Budha Mahayana. Sejak saat itu Wangsa Syailendra memimpin di Pulau Jawa. Tidak hanya memimpin Pulau jawa saja, namun juga mampu menaklukan Kerajaan Sriwijaya yang berada di Pulau Sumatra. Hingga akhirnya pada tahun 840 putri dari Wangsa Syailendra yang bernama Pramodawardhani menikah dengan Rakai Pikatan yang merupakan keturunan dari Wangsa Sanjaya. Dari perkawinannya antara Pramodawardhani maka Rakai Pikatan berhasil menduduki tahta sebagai raja di Kerajaan Medang. Kemudian oleh Raja Rakai Pikatan, istana kerajaan dipindahkan ke Mamrati. Peristiwa naiknya Rakai PIkatan yang merupakan keturunan dari Wangsa Sanjaya dianggap sebagai kebangkitan dari Wangsa Sanjaya itu sendiri. Dalam sebuah Prasasti Mantyasih ada perbedaan pendapat mengenai para raja Medang. Berdasarka teori dari Bosch maka berdsarkan nama yang ada di dalam prasasti tersebut diambil kesimpulan bahwa raja-raja Medang merupakan keturunan dari Wangsa Sanjaya secara keseluruhan. Namun teori itu tidak sejalan dengan pendapat dari Slamet Muljana yang beranggapan bahwa nama-nama yang ada pada Prasasti Mantyasih adalah daftar nama raja-raja yang pernah berkuasa di Medang. Jadi bukanlah merupakan daftar silsilah keturunan dari Wangsa Sanjaya. Sebagai contoh adalah tertolaknya teori van Nersen yang menyatakan kekalahan Rakai
  10. 10. Panangkaran yang merupakan keturunan Sanjaya oleh Raja Syailendra yang menandakan berpindahnya kekuasaan dari Sanjaya ke Syailendra. Menurut Slamet Muljana bahwa Rakai Panangkaran dianggap bukan merupakan keturunan dari Sanjaya. Hal tersebut didasarkan pada temuan prasasti yang ada. Prasasti tersebtu adalah Prasasti Kalasan yang mengagung-agunkan Rakai Panangkaran sebagai Sailendrawangsasatilaka. Maksud dari “sailendrawangsasatilaka” adalah permata wangsa Sailendra. Jadi Rakai Panangkaran bukanlah keturunan sanjaya karena disebut sebagai permata sailendra. Menurut Slamet juga bahwa berdasarkan Prasasti Matyasih maka Rakai Panangkaran hingga Rakai Agung merupakan keturunan dari Wangsa Sailendra. Sedangkan bangkitnya Wangsa Sanjaya setelah Wangsa Sailendra adalah pada waktu Rakai Pikatan menjadi Raja menggantikan Rakai Garung. Penggunaan nama “Rakai” pada Kerajaan Medang memiliki makna yang sama dengan istilah “Bhre” pada Kerajaan Majapahit. Istilah Rakaia pada Kerajaan Medang dan Bhre pada Kerajaan Majapahit memiliki arti penguasa. Jadi adanya gelar Rakai Panangkaran memiliki arti sebagai penguasa panangkaran. Dalam sejarah yang ditemukan di Prasati Kalasan ditemukan bahwa nama asli dari Rakai Panangkaran adalah Dyah Pancapana. Di lain waktu ada dinasti ketiga yang berkuasa di Kerajaan Medang. Dinasti tersebut adalah Dinasi Isyana yang merupakan penguasa Kerajaan Mataram setelah pindah dari Jawa Tengah. Dinasi ini memindahkan pusat Kerajaan Mataram yang semula berada di Jawa Tengah berindah ke Jawa Timur. Pendiri dari Dinasi Isyana yang berpusat di Jawa Timur adalah Mpu Sindok. Mpu sindok sendiri baru membangun kerajaannya di Tamwlang pada tahun 929. Kerajaan yang didirikan oleh Mpu Sindok merupakan lanjutan dari kerajaan Mataram karena pada prasasti yang ada diketahui bahwa Mpu Sindok secara tegas menyatakan bahwa kerajaan yang ia bangun merupakan kelanjutan dari Kadatwan Rahyangta I Medang I Bhumi Mataram. Itu merupakan bukti bahwa Kerajaan Mataram yang dibangun oleh Mpu Sindok yang berpusat di Jawa Timur merupakan lanjutan dari Kerajaan Mataram yang sebelumnya ada di Jawa Tengah. Kepindahan Kerajaan Mataram Kuno Ketika pemerintahan Dyah Wawa, pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah berakhir. Tidak ada catatan sejarah yang bisa menjabarkan penyebab kepindahan pusat pemerintahan ke Jawa Timur tersebut. Termasuk dalam berbagai prasasti yang ditemukan dan dibuat pada masa pemerintahan kerajaan Mataram Kuno. Namun ada sebuah pemikiran yang dikemukan seorang ahli sejarah dari Belanda, Van Bammelen. Menurutnya, kemungkinan penyebab perpindahan pusat kerajaan Mataram Kuno adalah faktor alam. Dalam hal ini, letusan gunung Merapi kuno yang sangat dahsyat. Letusan Merapi kuno itulah yang menghancurkan pusat kebudayaan Kerajaan Mataram Kuno
  11. 11. berikut semua fasilitas yang ada. Letusan tersebut menyebabkan adanya perubahan struktur bumi dengan membentuk wilayah yang bernama Gunung Gendol dan juga Pegunungan menoreh. Selain itu, dahsyatnya letusan diperkirakan membawa beberapa dampak erupsi seperti terjangan hujan abu yang cukup pekat dan longsoran batuan vulkanik yang berukuran cukup besar. Teori ini makin kuat dibenarkan, setelah pada tahun 2010 gunung Merapi meletus yang menimbulkan efek luar biasa. Kawasan jangkauan dampak Merapi pun sangat luas dan menimbulkan kerusakan yang luar biasa. Sehingga, diperkirakan letusan dahsyat Merapi kuno memang merupakan penyebab dipindahnya pusat kerajaan Mataram Kuno tersebut ke kawasan Jawa Timur. Kerajaan Mataram Kuno Dan Kebijaksanaan Para Rajanya Kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh seorang raja. Menjadi raja adalah anugerah. Apalagi ketika raja diidentikkan dengan sesosok manusia yang berkuasa layaknya dewa. Punya power luar biasa, kharisma memukau dan kearifan yang tertempa dari pengalaman sarat hikmah. Itulah sekelumit gambaran para raja zaman dahulu. Khususnya ketika masa Kerajaan Mataram Kuno memerintah Pulau Jawa, pada abad ke-8 hingga awal abad ke-11 Masehi. Kerajaan Mataram Kuno - Keagungan Raja Mataram Kuno Bagi rakyat di Kerajaan Mataram Kuno, sosok raja begitu mengultus. Dihormati bahkan dipuja keberadaan mereka. Menjadi panutan dalam bersikap maupun berperilaku. Perkataan para raja adalah sesuatu yang sakral. Sabda pandita ratu. Kata-kata raja merupakan titah yang tak boleh disangkal atau diragukan kebenarannya, pun dengan raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno. Wibawa mereka begitu agung. Bahkan ketika raja tersebut telah mangkat, wibawa mereka tak pudar. Para raja yang telah meninggal, oleh rakyatnya tetap dipuja. Raja-raja itu dibangunkan makam indah dan patung yang dikaitkan dengan sosok para dewa (tradisi Hindu) atau sang Budha (tradisi Budha). Terlepas dari sisi kesakralan para raja Kerajaan Mataram Kuno, mereka sebagai manusia adalah sosok terpilih. Kematangan dan kedewasaan dalam berperilaku memang di atas rata- rata masyarakat pada saat itu. Tak heran bila rakyat meletakkan status raja di posisi tertinggi dalam kasta sosial Kerajaan Mataram Kuno. Meskipun termasuk dalam kasta ksatria yang secara stratanya di bawah kelas brahmana, tapi pengecualian bagi raja. Mereka adalah puncak strata atau kasta. Simbol sekaligus wujud nyata dari keagungan dan kebijaksanaan. Filosofi seperti itu juga berkenaan dengan raja di Kerajaan Mataram Kuno. Sekilas Kerajaan Mataram Kuno Sebelum mengulas lebih jauh bagaimana kebijaksanaan para raja Kerajaan Mataram Kuno, kita ulas selintas sejarah kerajaan yang punya pengaruh nyata bagi kehidupan suku bangsa Jawa itu. Suatu bentuk imperium kekuasaan yang membentang dari wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
  12. 12. Kerajaan Mataram Kuno adalah kerajaan adigdaya yang meninggalkan banyak bukti arkeologis dari keberadaan mereka. Baik itu berupa prasasti maupun candi-candi megah nan indah yang hingga kini masih dapat dinikmati. Salah satunya adalah candi Borobudur dan Prambanan. Candi termegah dan terelok di dunia. Selain bernama Kerajaan Mataram Kuno, kerajaan ini juga punya dua nama lain yang dikenal yakni Kerajaan Medang dan Kerajaan Mataram Hindu. Nama Kerajaan Medang banyak ditemukan di prasasti-prasasti hasil temuan para arkeolog. Sedangkan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu, mengacu pada salah satu daerah yang menjadi ibu kota kerajaan tersebut, yaitu Mataram. Ada pun penamaan di belakangnya yakni „Kuno‟ atau „Hindu‟, untuk membedakan dengan kerajan lain yang muncul beberapa abad kemudian, Kerajaan Mataram Islam. Lalu, di mana letak wilayah bernama Mataram tersebut? Sebagian besar pakar sejarah menunjuk Kota Yogyakarta sebagai wilayah yang dikenal bernama Mataram. Dahulunya, daerah ini adalah pusat pemerintahan dari Kerajaan Mataram Kuno. Pusat kebudayaan dan bertahtanya para raja dari kerajaan penguasa tanah Jawa tersebut. Ibu kota awal dari berdirinya Kerajaan Mataram Kuno. Tetapi, dari beberapa prasasti yang telah ditemukan, ibu kota Kerajaan Mataram Kuno ternyata tak hanya ada di Mataram. Ada beberapa tempat yang pernah menjadi pusat pemerintahan. Mulai dari „Mamrati‟ dan „Poh Pitu‟, diperkirakan terletak di daerah Kedu. Lalu „Tamwlang‟ (Tembelang), dan „Watugaluh‟ (Megaluh). Keduanya nama daerah tersebut terletak di daerah Jombang, Jawa timur. Daerah terakhir adalah „Wwatan‟ (Wotani), terletak di daerah Madiun, Jawa Timur.
  13. 13. Kerajaan tertua di wilayah Nusantara adalah Kerajaan Kutai.Kerajaan ini terletak di wilayah Provinsi Kalimantan Timur,tepatnya di sebuah kota kecamatan yang bernama Muarakaman.Daerah ini yang merupakan daerah percabangan antara sungai Mahakam dengan sungai Kedang Rantau.Kerajaan berdiri pada tahun 400 masehi. Peninggalan sejarah yang membuktikan kerajaan Kutai sebagai kerajaan hindu pertama adalah ditemukannya prasasti berbentuk Yupa menggunakan bahasa sanskerta dan huruf pallawa.Yupa adalah tiang batu pengikat hewan korban untuk dipersembahkan kepada dewa. Beberapa peninggalan kerajaan kutai: 1) tujuh buah Yupa yang ditemukan di daerah sekitar Muarakaman; 2) kalung Cina yang di terbuat dari emas; 3) satu arca Bulus; 4) dua belas arca batu. Dari peninggalan prasasti, diketahui bahwa Kudungga adalah raja Kutai yang pertama Raja Kudungga digantikan oleh putranya yang bernama Aswawarman,kemudian digantikan oleh raja Mulawarman. Pada masa pemerintahan Mulawarman,kerajaan kutai berkembang pesat sebagai pemeluk agama Hindu yang taat.Beliau menyembah dewa Syiwa,sedangkan dalam suatu upacara menghadiahkan 20.000ekor sapi kepada Brahmana.peristiwa ini ditandai dengan berdirinya sebuah Yupa.
  14. 14. Raja Mulawarman dikenal sebagai raja yang bijaksana.Rakyatnya hidup sejahtera dan makmur.

×