Karlis maya

401 views

Published on

KABUPATEN MUNA

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
401
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
2
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Karlis maya

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat meliputi bio, psiko, social spiritual yang komperhensif ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh kehidupan manusia (Nursalam, 2002). Bidang layanan dalam keperawatan sangat luas, salah satunya adalah bidang keperawatan maternitas. Keperawatan maternitas merupakan layanan profesional yang ditujukan kepada wanita usia subur yang meliputi masa sebelum hamil, masa hamil, masa melahirkan, masa nifas, masa diantara kehamilan, neonatus dan keluarga yang berfokus kepada kebutuhan dasar dalam melakukan adaptasi fisik dan psikososial dengan menggunakan proses keperawatan (Mansjoer, 2002). Peningkatan kesehatan bagi dan oleh kalangan perempuan menjadi sangat penting dalam mencapai target MDGs (Millenium Development Goals). Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang menjadi indikator bidang kesehatan dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sangat di tentukan oleh kesehatan di kalangan perempuan, dan hingga kini kondisi kesehatan masyarakat kita (terutama kaum perempuan) masih sangat memprihatinkan. Hingga saat ini Angka
  2. 2. 2 Kematian Ibu di Indonesia merupakan yang tertinggi di kawasan ASEAN. Tahun 2007 lalu Angka Kematian Ibu di Indonesia tercatat sebesar 248 per 100 ribu kelahiran hidup. Hal yang tak jauh berbeda juga dengan Angka Kematian Bayi di tahun yang sama yang mencapai 26,9 per seribu kelahiran hidup. Padahal dalam Millenium Development Goals ditargetkan pada tahun 2015 nanti Angka Kematian Ibu tidak lebih dari 104 per 100 ribu (Carpenito, 2002). Dewasa ini sectio caesarea jauh lebih aman berkat kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi seperti adanya antibiotik, transfusi darah, anastesi, dan tehnik operasi yang lebih sempurna. Karena itu saat ini ada kecenderungan untuk melakukan operasi tanpa dasar indikasi yang cukup kuat. Operasi caesar hanya boleh dilakukan bila plasenta menutup jalan lahir, bayi yang besar, letak bayi abnormal dan chepalo pelvic disproporsi sehingga di khawatirkan persalinan akan macet (Wikjosastro, 2002). Operasi caesar atau sectio caesarea adalah proses persalinan yang dilakukan dengan cara mengiris perut sehingga rahim seorang ibu untuk mengeluarkan bayi akan tetapi, persalinan melalui sectio caesarea bukanlah alternatif yang lebih aman karena diperlukan pengawasan khusus terhadap indikasi dilakukannya maupun perawatan ibu setelah tindakan sectio caesarea, karena tanpa pengawasan yang baik dan cermat akan berdampak pada kematian ibu (Wikjosastro, 2002).
  3. 3. 3 Menurut WHO (2007), menyatakan bahwa persalinan dengan bedah caesar adalah sekitar 10-15% dari semua proses persalinan dinegara berkembang. Di Indonesia sendiri, presentasi operasi caesar sekitar 5% semua proses persalinan yang ada di Indonesia. Sedangkan menurut Bensons dan pernolls, angka kematian pada operasi caesar adalah 40-80 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukan resiko 25 kali lebih besar dibanding persalinan pervaginal. Untuk kasus karena infeksi mempunyai angka 80 kali lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan pervaginal. Komplikasi tindakan anastesi sekitar 10% dari seluruh angka kematian ibu. Disamping itu sumber lain mengatakan bahwa sectio caesaria berhubungan dengan peningkatan dua kali lipat resiko mortalitas ibu dibandingkan pada persalinan pervaginal. Kematian ibu akibat operasi sectio itu sendiri menunjukan angka 1 per 1.000 persalinan (Depkes, 2008). Menurut catatan Medical Record Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna, periode Januari sampai dengan April 2014 kejadian Sectio Caesarea atas indikasi Letak Lintang dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :
  4. 4. 4 Tabel 1. Distribusi Persalinan Dengan Tindakan Sectio Caesarea di Ruang Delima Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Pada Periode Januari Sampai Dengan April 2014 NO JENIS PENYAKIT JUMLAH PERSEN 1 Abortus Inkomplit 15 23,07 2 Myoma Uteri 8 12,30 3 Eklamsi 7 10,76 4 Gawat Janin 7 10,76 5 Plasenta Previa 6 9,23 6 Letak Bokong 5 7,69 7 Panggul Sempit 5 7,69 8 Serotinus 4 6,15 9 Ketuban Pecah Dini 4 6,15 10 Letak Lintang 4 6,15 Jumlah 65 100 Sumber : Catatan Medik Diruang Kebidanan RSUD Kabupaten Muna Periode Bulan Januari s/d April 2014 Melihat keadaan tersebut diatas dan mengingat dampak yang ditimbulkan pada klien, penulis tertarik untuk menyusun suatu karya tulis yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Ny. R Dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna”. B. Ruang Lingkup Pembahasan Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis membatasi ruang lingkup masalah yang dibahas yaitu “Asuhan Keperawatan Pada Klien Ny. R dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna”.
  5. 5. 5 C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk memperoleh gambaran dan pengalaman secara nyata serta mampu melaksanakan Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang secara langsung dan komperhensif yang meliputi aspek biologis, psikologis, sosial dan spiritual berdasarkan Ilmu dan Kiat Keperawatan. 2. Tujuan Khusus a. Mampu melaksanakan pengkajian secara komperhensif pada klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas masalah pada klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. c. Mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. e. Mampu mengevaluasi hasil tindakan yang dilakukan pada klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. f. Mampu mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan pada klien dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang.
  6. 6. 6 D. Manfaat Penulisan 1. Pihak Rumah Sakit a. Sebagai bahan bagi rekan-rekan sejawat dalam melakukan studi kasus lebih lanjut dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. b. Sebagai bahan perbandingan bagi perawat dalam bertugas melaksanakan pelayanan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. 2. Bagi Institusi Pendidikan Sebagai bahan bacaan ilmiah ataupun kerangka perbandingan dalam mengembangkan ilmu keperawatan dan usaha penyempurnaan asuhan keperawatan yang telah ada saat ini. 3. Profesi Sebagai pedoman bagi perawat dalam memberikan Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang. 4. Penulis Sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama pendidikan. E. Metode Telaahan Metode yang digunakan penulis dalam menyusun karya tulis ilmiah ini yaitu metode analisis deskriptif melalui studi kasus berdasarkan
  7. 7. 7 pendekatan proses keperawatan yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam menyusun karya tulis ini adalah: 1. Wawancara yaitu dengan mengadakan tanya jawab langsung dengan klien dan keluarga klien untuk memperoleh informasi yang akurat. 2. Observasi yaitu dengan mengamati keadaan klien secara langsung meliputi bio, psiko, sosial, kultural dan spiritual. 3. Pemeriksaan fisik yaitu pengumpulan data dengan melakukan pemeriksaan fisik pada klien dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. 4. Studi dokumentasi yaitu dengan melakukan pengumpulan data atau informasi melalui catatan atau arsip dari medical record yang berhubungan dengan perkembangan kesehatan klien. 5. Studi kepustakaan yaitu mencari sumber melalui bahan bacaan atau buku-buku literatur yang dapat dipercaya untuk mendapatkan kejelasan teori yang berhubungan dengan masalah klien (Nursalam, 2002). F. Waktu Pelaksanaan Studi kasus ini dilaksanakan mulai tanggal 7 - 10 Mei 2014.
  8. 8. 8 G. Tempat Pelaksanaan Studi kasus ini dilaksanakan di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna. H. Sistematika Telaahan Karya tulis ini disusun secara sistematis yang dijabarkan dalam 4 BAB yaitu sebagai berikut: BAB I : Pendahuluan, pada bab ini berisikan Latar Belakang, Ruang Lingkup Pembahasan, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Metode Telaahan, Waktu Pelaksanaan, Tempat Pelaksanaan dan Sistematika Penulisan. BAB II : Tinjauan Teoritis, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang, pada bab ini berisikan tentang Pengertian, Anatomi Fisiologi Sistem Reproduksi, Etiologi, Patofisiologi, Tanda dan Gejala, Pemeriksaan Penunjang, Penatalaksanaan Medis, Komplikasi, Dampak Masalah Terhadap Perubahan Struktur/ Pola Fungsi Sistem Tubuh Tertentu serta Tinjauan Teoritis Asuhan Keperawatan yang meliputi Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi. BAB III : Tinjauan Kasus dan Pembahasan, Tediri dari laporan kasus yang membahas tentang Laporan Asuhan Keperawatan Pada Klien Ny. R dengan Post Op Sectio Caesarea POD I a/i Letak Lintang di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah
  9. 9. 9 Kabupaten Muna yang disusun berdasarkan pada proses keperawatan yang mencakup pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi serta catatan perkembangan. Serta pembahasan berisikan perbandingan antara teori dan fakta yang ada pada tinjauan studi kasus, dibahas secara sistematis mulai dari pengkajian diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. BAB IV : Kesimpulan dan rekomendasi, Bab ini berisikan kesimpulan dan rekomendasi dari hasil pelaksanaan studi kasus.
  10. 10. 10 BAB II TINJAUAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN POST OP SECTIO CAESAREA POD I A/I LETAK LINTANG A. Konsep Dasar 1. Pengertian Letak lintang adalah suatu keadaan dalam kehamilan atau dalam persalinan dimana sumbu panjang janin melintang terhadap sumbu panjang ibu (termasuk di dalamnya bila janin dalam posisi oblique). Letak lintang kasep adalah letak lintang kepala janin tidak dapat didorong keatas tanpa merobekkan uterus (PPNI, 2009). Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang didalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain bokong berada sedikit lebih tinggi dari kepala janin sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul (Prawirohardjo, 2003). Letak lintang adalah letak janin dengan posisi sumbu panjang tubuh janin memotong atau tegak lurus dengan sumbu panjang ibu (Nursalam, 2008). Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa letak lintang adalah suatu keadaan dalam kehamilan atau dalam persalinan dimana posisi janin atau posisi sumbu panjang tubuh janin di dalam uterus memotong atau melintang terhadap sumbu panjang tubuh ibu
  11. 11. 11 dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain. 2. Anatomi Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita a. Anatomi sistem reproduksi wanita Alat reproduksi wanita terbagi menjadi dua bagian yaitu : 1) Alat genetalia (reproduksi) bagian luar : a) Mons veneris b) Bibir besar (Labia Mayora) c) Bibir kecil (Labia Minora) d) Klitoris e) Vestibulum f) Hymen (Selaput Darah) g) Kelenjar : bartholini, skene 2) Alat genetalia (reproduksi) bagian dalam : a) Liang senggama (Vagina) b) Rahim (Uterus) c) Kedua tuba fallopi d) Kedua indung telur e) Parametrium jaringan ikat penyangga (Wilson, 2002). Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang alat genetalia bagian dalam dan luar telah dijabarkan secara singkat adalah sebagai berikut:
  12. 12. 12 1) Alat genetalia bagian luar Gambar 1 Organ Reproduksi eksterna Wanita (Wilson, 2002) a) Mons Veneris Di sebut juga gunung fenus merupakan bagian yang menonjol di bagian depan simfisis terdiri dari jaringan lemak dan sedikit jaringan ikat setelah dewasa tertutup oleh rambut yang bentuknya segitiga. b) Bibir Besar (Labia Mayora) Merupakan kelanjutan dari mons veneris berbentuk lonjong kedua bibir ini di bagian bawah bertemu membentuk perineum, permukaan terdiri dari: (1) Bagian luar : Tertutup rambut yang merupakan kelanjutan dari rambut pada mons veneris. (2) Bagian dalam Tanpa rambut merupakan selaput yang mengandung kelenjar sebasea (lemak).
  13. 13. 13 c) Bibir Kecil (Labia Minora) Merupakan lipatan bagian dalam bibir besar tanpa rambut di bagian atas klitoris bibir kecil bertemu membentuk prepusium klitoridis dan di bagian bawahnya bertemu membentuk prenulum klitoridis bibir ini mengeliling orivisium vagina. d) Klitoris (1) Merupakan bagian penting alat reproduksi luar yang bersifat erektil. (2) Mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf sensoris sehingga sangat sensitif. (3) Analok dengan penis pada laki-laki. e) Vestibulum Merupakan alat reproduksi yang di batasi oleh kedua bibir kecil, bagian atas klitoris serta bagian belakang (bawah) pertemuan kedua bibir kecil. f) Kelenjar bartholini (1) Kelenjar yang penting di daerah vulva dan vagina karena dapat mengeluarkan lender. (2) Pengeluaran lender meningkat saat hubungan seks. g) Hymen (Selaput Darah) (1) Merupakan jaringan yang menutupi lubang vagina bersifat rapuh dan mudah robek.
  14. 14. 14 (2) Hymen ini berlubang sehingga menjadi saluran dari lendir yang di keluarkan uterus dan darah saat menstruasi. (3) Bila hymen tertutup menimbulkan gejala klinis setelah mendapat menstruasi. (4) Setelah persalinan sisanya disebut karukule hymenalis. 2) Alat genetalia bagian dalam Gambar 2 Organ Reproduksi Interna Wanita (Wilson, 2002) a) Vagina (1) Merupakan saluran muskulo membraneus yang menghubungkan rahim dengan vulva. (2) Jaringan muskulusnya merupakan kelanjutan dari muskulus sfingter ani dan muskulus lefator ani oleh karena itu dapat di kendalikan. (3) Vagina terletak antara kandung kemih dan rectum.
  15. 15. 15 (4) Panjang bagian depannya sekitar 9 cm dan dinding belakangnya sekitar 11 cm. (5) Pada dinding vagina terdapat lipatan-lipatan melintang disebut rugae dan terutama di bagian bawah. (6) Pada puncak (ujung) vagina menonjol serviks bagian dari uterus. (7) Bagian serviks yang menonjol kedalam vagina disebut portio. (8) Portio uteri membagi puncak vagina menjadi forniks anterior, forniks posterior, forniks dekstra, dan forniks sinistra. (9) Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang menghasilkan asam susu dengan ph 4,5. Keasaman vagina memberikan proteksi terhadap infeksi, Fungsi utama vagina: b) Uterus (1) Merupakan jaringan otot yang kuat terletak di pelvis minor di antara kandung kemih dan rectum. (2) Dinding belakang dan dinding depan dan bagian atas tertutup petitonium sedangkan bagian bawahnya berhubungan dengan kandung kemih. (3) Bentuk uterus seperti bola lampu (buah pir) dan gepeng.
  16. 16. 16 (4) Untuk mempertahankan posisinya uterus disangan beberapa ligamentum, jaringan ikat, dan para metrium. (5) Ukuran uterus tergantung dari usia wanita dan paritas ukuran anak-anak 2-3 cm, nulipara 6-8 cm, dan multipara 9 cm. (6) Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan yaitu peritoneum, lapisan otot dan endometrium (Wiknjosastro, 2002). c) Tuba Fallopi Tuba fallopi terdiri atas : (1) Pars intertisialis bagian yang terdapat pada dinding uterus. (2) Pars ismika merupakan bagian medial tuba yang sempit seluruhnya. (3) Pars ampularis bagian yang berbentuk sebagai saluran agak lebar tempat konsepsi terjadi. (4) Infundibulum bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen dan mempunyai fimbria (Wiknjosastro, 2002). d) Ovarium (Indung Telur) Ovarium terdapat dua buah yaitu kanan dan kiri ovarium ke arah uterus tergantung pada ligamentum infundibulifeltikum dan melekat pada ligamentum latum melalui mesofarium.
  17. 17. 17 e) Para metrium Jaringan ikat yang terdapat di antara kedua lembar ligamentum latum disebut parametrium yang dibatasi oleh : (1) Bagian atas terdapat tuba fallopi dengan mesosalfing. (2) Bagian depan mengandung ligamentum teres uteri. (3) Bagian kaudal berhubungan dengan mesometrium. (4) Bagian belakang terdapat ligamentum ovari proprium. b. Fisiologi alat reproduksi wanita Fisiologi alat reproduksi wanita merupakan sistem yang kompleks. Pada saat puberitas sekitar umur 13-16 tahun di mulai pertumbuhan folikel primodial ovarium yang mengeluarkan hormon estrogen. Pengeluaran hormon ini menunjukan tanda seks sekunder pada wanita misalnya pengeluaran darah menstruasi pertama (menarche). Selanjutnya menarche di ikuti menstruasi yang tidak teratur karena folikel graf belum melepaskan ovum yang disebut ovulasi. Pada usia 17-18 tahun menstruasi sudah teratur dengan interval 28-30 hari yang berlangsung lebih kurang 2-3 hari di sertai dengan ovulasi sebagai pertanda kematangan alat reproduksi wanita. Sejak saat itu wanita memasuki masa reproduksi aktif sampai mencapai mati haid pada umur sekitar 50 tahun. Kejadian menarche dan menstruasi di pengaruhi beberapa faktor yang mempunyai sistem tersendiri, yaitu: 1) Sistem susunan saraf pusat dan panca indranya.
  18. 18. 18 2) Sistem hormonal: aksishipotalamo-hipofisis-ovarial. 3) Perubahan yang terjadi pada ovarium. 4) Perubahan yang terjadi pada uterus sebagai organ akhir. 5) Rangsangan estrogen dan progesteron pada panca indra langsung pada hipothalamus dan melalui perubahan emosi (Manuaba, 2002). 3. Etiologi Penyebab dari letak lintang sering merupakan kombinasi dari berbagai faktor, sering pula penyebabnya tetap merupakan suatu misteri. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: a. Fiksasi kepala tidak ada karena panggul sempit, hidrosefalus, anensefalus, plasenta previa, dan tumor-tumor pelvis. b. Janin sudah bergerak pada hidramnion, multiparitas, anak kecil atau sudah mati. c. Gemelli (Kehamilan Ganda). d. Kelainan uterus seperti arkuatus, bikornus atau septum. e. Lumbar skoliosis. f. Monster. g. Pelvic kidney dan kandung kemih serta rektum yang penuh (Prawirohardjo, 2003).
  19. 19. 19 4. Patofisiologi Letak janin dalam uterus tergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan dalam uterus pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu. Jumlah air ketuban relatif banyak sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian janin dapat menempatkan diri dalam presentase kepala letak lintang atau sungsang. Relaksasi dinding abdomen pada perut yang menggantung menyebabkan uterus beralih kedepan, sehingga menimbulkan defleksi sumbu memanjang bayi menjauhi sumbu jalan lahir menyebabkan terjadinya posisi obliq atau melintang (Mochtar, 2002). 5. Tanda dan Gejala a. Dengan inspeksi biasanya abdomen melebar kesamping dan fundus uteri membentang sedikit diatas umbilikus. b. Ukuran tinggi fundus uterus lebih rendah tidak sesuai dengan umur kehamilan. c. Pada palpasi 1) Leopold 1 tidak di temukan bagian bayi di daerah fundus uteri. 2) Leopold 2 balotemen kepala teraba pada salah satu fosa iliaka dan bokong pada fosa iliaka yang lain. 3) Leopold 3 dan 4 memberikan hasil negatif (Bobak, 2002). 6. Pemeriksaan penunjang Dilakukan USG untuk melihat keadaan janin.
  20. 20. 20 7. Penatalaksanaan a. Pada kehamilan 1) Pada primigravida umur kehamilan kurang dari 28 minggu dianjurkan posisi lutut dada jika lebih dari 28 minggu di lakukan versi luar, kalau gagal dianjurkan posisi lutut dada sampai persalinan. 2) Pada multigravida umur kehamilan kurang dari 32 minggu posisi lutut dada jika lebih dari 32 minggu dilakukan versi luar, kalau gagal posisi lutut dada sampai persalinan. b. Pada persalinan Pada letak lintang belum kasep, ketuban masih ada dan pembukaan kurang dari 4 cm di coba lakuka versi luar jika pembukaan lebih dari 4 cm pada primigravida dengan janin hidup dilakukan sectio caesarea. Pada letak lintang kasep janin hidup dilakukan sectio caesarea. Sectio caesarea dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Pengertian Sectio caesarea adalah tindakan alternative metode melahirkan melalui tindakan pembedahan untuk melahirkan janin melalui sayatan yang dibuat pada dinding uterus dan abdomen (Manuaba, 2002). Operasi caesar atau sectio caesarea adalah proses persalinan yang dilakukan dengan cara mengiris perut hingga rahim seorang ibu untuk mengeluarkan bayi (Wiknjosastro, 2002).
  21. 21. 21 2) Jenis Sectio caesarea dapat dibagi dalam empat macam yaitu sebagai berikut: a) Sectio caesarea transperitoneal yaitu insisi yang dilakukan menurut arah sayatan yaitu memanjang (vertical), sayatan melintang (transversal) dan sayatan huruf T (T inscision). b) Sectio caesarea clasi (corporal) yaitu pembedahan yang dilakukan apabila ada halangan transperitonial profunda misalnya melekatnya uterus pada dinding karena sectio caesarea sebelumnya. c) Sectio caesarea exraperitonealis yaitu pembedahan tanpa membuka peritoneum parietal dan cavum abdominalis tehnik ini paling sering dilakukan. d) Sectio caesarea hysterectomy yaitu setelah sectio caesarea dikerjakan histerektomi. 3) Indikasi a) Indikasi Sectio Caesarea (1) Sebelum persalinan; infisiensi plasenta, hipoksia janin dan fekal distress. (2) Dalam persalinan; fekal distress, prolaps tali pusat, batasan persalinan pada multipara lebih dari 12 jam dan multipara selama 8 jam dan ketuban pecah premature.
  22. 22. 22 b) Indikasi pada ibu (1) Sebelum persalinan (a) Foto pelvik disporpotion. (b) Tumor uterus dan ovarium dalam kehamilan yang menyumbat jalan lahir. (c) Karsinoma serviks, eklampsia dan pre eklampsia. (2) Saat persalinan (a) Perdarahan hebat. (b) Rupture uteri dan membran. c) Kombinasi indikasi fetus dan ibu (1) Perdarahan pervaginam akut disebabkan oleh plasenta previa atau solusio plasenta premature. (2) Letak lintang karena akan timbul retraksi progresif. 4) Komplikasi Terdapat beberapa resiko pada janin jika dilakukan sectio caesarea yaitu hypoxia akibat sindrom hipotensi terlentang, depresi pernapasan akibat penggunaan anastesi dan sindrom gagal napas karena imaturinitas pulmonal janin. Sedangkan resiko pada ibu adalah infeksi sesudah sectio caesarea (SC), ileus akibat peritonitis, kecelakaan anastesi dan fenomena tromboemboli terutama pada ibu multipara dengan varikositas.
  23. 23. 23 5) Penatalaksanaan a) Pra sectio caesarea (1) Persiapan fisik Persiapan kamar operasi, pengambilan darah untuk transfusi sebanyak 1000-2000 cc (pra operasi), pemeriksaan laboratorium seperti Hb, leukosit, masa perdarahan, masa pembekuan, puasa 6-8 jam, cukur area operasi, persiapan colon, pengukuran Tanda-Tanda Vital, pengawasan pemasangan infus dextrose 5% atau sesuai program, pemasangan foley kateter, pemberian obat premidikusi, informant consent serta pemeriksaan EKG jika diperlukan. (2) Pemeriksaan mental Informasi akurat mengenai alasan tindakan operasi dan perawatan pasca operasi. b) Pasca sectio caesarea Pemantauan Tanda-Tanda Vital, keadaan umum, mengurangi dan mengatasi gangguan rasa nyeri akibat opersai, perawatan luka, perawatan payudara dan perawatan bayi. 8. Komplikasi Meskipun letak lintang dapat di ubah menjadi presentasi kepala tetapi kelainan-kelainan yang menyebabkan letak lintang misalnya panggul
  24. 24. 24 sempit, tumor panggul dan plasenta previa masih tetap dapat menimbulkan kesulitan pada persalinan persalinan letak lintang memberikan prognosis yang jelek baik terhadap ibu maupun janinnya. a. Bagi Ibu Bahaya yang mengancam adalah rupture uteri baik spontan atau sewaktu versi dan ekstraksi. Partus lama, ketuban pecah dini, dengan demikian mudah terjadi infeksi intrapartum. b. Bagi Janin Angka kematian tinggi (25-49%), yang dapat disebabkan oleh: 1) Prolasus funiculi. 2) Trauma partus. 3) Hipoksia karena kontraksi uterus terus menerus. 4) Ketuban pecah dini (Bobak, 2002). 9. Dampak masalah terhadap perubahan struktur/pola fungsi sistem tubuh tertentu a. Sistem Pernapasan Enam jam pertama bisa terjadi akumulasi sekret dijalan napas akibat pengaruh anastesi mensupresi pusat napas, menyebabkan peningkatan mukus, bunyi napas ronchi atau vesikuler, frekuensi napas 16-24 kali permenit. b. Sistem Kardiovaskuler Perubahan otonom pada fungsi ventrikel atau perubahan gelombang T, gelombang P tinggi dan distrithmia, vibrilasi atrium
  25. 25. 25 dan ventrikel tachicardia. Perubahan aktivitas miocardial mencakup peningkatan frekuensi jantung dan Central Venous Pressure (CVP) abnormal. Dengan tidak adanya endogenous stimulus saraf simpatis maka akan mempengaruhi penurunan kontraktilitas ventrikel. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan CO2 dan peningkatan tekanan atrium kiri. c. Sistem Pencernaan Terjadi penurunan kerja peristaltik usus akibat efek anastesi, enam jam pertama tidak diperbolehkan makan untuk mengurangi resiko aspirasi, peristaltik lemah mempengaruhi kekuatan otot abdominal mual dan muntah post SC jarang ditemukan karena kemajuan dibidang anastesi. 24 jam pertama klien dapat infus intra vena untuk memenuhi kebutuhannya, klien dipuasakan sampai bising usus positif lakukan test feeding setelah bising usus positif. d. Sistem Perkemihan Anastesi dapat mengakibatkan hilangnya sensasi pada area bladder sampai anastesi hilang, kateter dapat dilepas dari setelah 12 jam operasi atau keesokan harinya. e. Sistem Muskuloskeletal Merasa tidak mampu mengerjakan sesuatu karena kelemahan fisik dan pada saat yang sama citra tubuh ibu menjadi rusak mengakibatkan ibu merasa sensitif dan cepat tersinggung (PPNI, 2009).
  26. 26. 26 B. Tinjauan Teoritis Tentang Asuhan Keperawatan Proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang sistematis dalam melakukan asuhan keperawatan pada individu, kelompok dan masyarakat yang berfokus pada identifikasi dari pemecahan masalah dan dari respon pasien terhadap penyakitnya. Digunakan untuk membantu perawat melakukan praktik keperawatan secara sistematis dalam memecahkan masalah keperawatan. Pendekatan proses keperawatan yang digunakan dalam asuhan keperawatan tersebut meliputi Pengkajian Data, merumuskan Diagnosa Keperawatan, menyusun Rencana Keperawatan, Implementasi dan Evaluasi (Carpenito, 2000). Adapun langkah-langkah dalam proses keperawatan adalah sebagai berikut : 1. Pengkajian Pengkajian yaitu tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasikan status kesehatan klien yang berdasarkan pada kebutuhan dasar manusia (Nursalam, 2001). a. Pengumpulan data Merupakan upaya untuk mendapatkan data yang dapat digunakan sebagai informasi tentang klien. Data yang dibutuhkan tersebut mencakup data tentang biopsikososial dan spiritual dari klien, data yang berhubungan dengan klien serta data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi atau yang berhubungan dengan klien seperti data tentang keluarga (Hidayat, 2004).
  27. 27. 27 Adapun data yang dikumpulkan antara lain: 1) Identitas a) Identitas klien Identitas klien terdiri dari: nama, umur, jenis kelamin, status, agama, suku/bangsa, pekerjaan, pendidikan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, nomor register, dan diagnosa medik. b) Identitas penanggung jawab Meliputi nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, suku/bangsa, dan hubungan dengan klien. 2) Riwayat Kesehatan Sekarang a) Keluhan utama Merupakan keluhan yang dirasakan klien saat dilakukan pengkajian. Pada pasien post sectio caesarea keluhan utamanya berupa nyeri pada area abdomen yaitu luka operasi. b) Riwayat Keluhan Utama Merupakan informasi mengenai hal-hal yang menyebabkan klien mengalami keluhan hal apa saja yang mendukung dan mengurangi, kapan, dimana dan berapa jauh keluhan tersebut dirasakan klien. Hal tersebut dapat diuraikan dengan metode PQRST sebagai berikut:
  28. 28. 28 (1) Palliative/Provokatif : Apa yang menyebabkan terjadinya nyeri pada abdomen faktor pencetusnya adalah post op sectio caesarea a/i letak lintang. (2) Qualitative/Quantitas : bagaimana gambaran keluhan yang dirasakan dan sejauh mana tingkat keluhannya seperti berdenyut, ketat, tumpul atau tusukan. (3) Region/Radiasi : lokasi keluhan yang dirasakan dan penyebarannya. (4) Scale/Serverity : intensitas keluhan apakah sampai mengganggu atau tidak. Pada kasus sectio caesarea nyeri selalu mennganggu dengan skala 7-8 (0-10). (5) Timing : kapan waktu mulai terjadi keluhan dan berapa lama kejadian ini berlangsung biasanya pada luka sectio caesarea dirasakan secara terus-menerus. c) Riwayat kesehatan yang lalu Biasanya klien belum pernah menderita penyakit yang sama atau klien tidak pernah mengalami penyakit yang berat atau suatu penyakit tertentu yang memungkinkan akan berpengaruh pada kesehatan sekarang. d) Riwayat kesehatan keluarga Dalam pengkajian ini ditanyakan tentang hal keluarga yang dapat mempengaruhi kehamilan langsung ataupun tidak langsung seperti apakah dari keluarga klien yang sakit
  29. 29. 29 terutama penyakit yang menular yang kronis karena dalam kehamilan daya tahan ibu itu menurun bila ada penyakit menular dapat lekas menular kepada ibu dan mempengaruhi janin dan sectio caesarea ini biasanya tidak tergantung dari keturunan. e) Riwayat obstetri dan ginekologi (1) Riwayat obstetri (a) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu yang terdiri dari tahun persalinan, umur kehamilan, tempat pertolongan, jenis persalinan, jenis kelamin bayi serta keadaan bayi. (b) Riwayat kehamilan sekarang yang perlu di kaji seberapa seringnya memeriksakan kandungan serta menjalani imunisasi. (c) Riwayat persalinan sekarang yang perlu di kaji adalah lamanya persalinan, BB bayi (Mansjoer, 2000). (2) Riwayat ginekologi (a) Riwayat menstruasi Yang perlu dikaji adalah usia pertama kali haid, siklus dan lamanya haid, warna dan jumlah, HPHT dan tafsiran kehamilan.
  30. 30. 30 (b) Riwayat perkawinan Yang perlu dikaji adalah usia saat menikah dan usia pernikahan, pernikahan keberapa bagi klien dan suami. (c) Riwayat keluarga berencana Yang perlu dikaji adalah jenis kontrasepsi yang digunakan sebelum hamil, waktu dan lamanya serta masalah selama pemakaian alat kontrasepsi, jenis kontrasepsi yang akan digunakan setelah persalinan. 3) Pemeriksaan fisik a) Keadaan umum : klien dengan sectio caesarea akan mengalami kelemahan. b) Kesadaran : pada umumnya Compos Mentis c) Tanda-tanda vital : hal-hal yang dilakukan pada pemeriksaan tanda-tanda vital pada klien post Sectio Caesarea biasanya tekanan darah menurun, suhu meningkat, nadi meningkat dan pernapasan meningkat. d) Sistem Pernapasan Kaji tentang bentuk hidung, ada tidaknya secret pada lubang hidung, ada tidaknya pernapasan cuping hidung, gerakan dada saat bernapas apakah simetris atau tidak, frekuensi napas.
  31. 31. 31 e) Sistem Indera Yang perlu di kaji pada sistem inin adalah adanya ketajaman penglihatan, pergerakan mata, proses pendengaran dan kebersihan pada lubang telinga, ketajaman penciuman dan fungsi bicara serta fungsi pengecapan. f) Sistem Kardiovaskuler Yang perlu di kaji adalah tentang keadaan konjungtiva, keadaan warna bibir, ada tidaknya peninggian vena jugularis, auskultasi bunyi jantung pada daerah dada dan pengukuran tekanan darah serta pengukuran nadi. g) Sistem Pencernaan Kaji tentang keadaan mulut, gigi, lidah dan bibir, peristaltik usus, keadaan atau bentuk abdomen ada atau tidak adanya massa atau nyeri tekan pada daerah abdomen. h) Sistem Muskuloskeletal Kaji tentang keadaan darajat Range Of Montion pada tungkai bawah, ketidaknyamanan atau nyeri yang pada waktu bergerak, serta keadaan tonus dan kekuatan otot pada ekstremitas bagian bawah dan bagian atas. i) Sistem Persyarafan Kaji tentang adanya gangguan-gangguan yang terjadi pada ke-12 sistem persyarafan.
  32. 32. 32 j) Sistem Perkemihan Kaji adanya keadaan yang terjadi pada kandung kemih, warna urin, bau urin, serta pengeluaran urin. k) Sistem Reproduksi Yang perlu di kaji adalah tentang keadaan bentuk payudara, puting susu, ada tidaknya pengeluaran ASI serta kebersihan pada daerah payudara, kaji adanya pengeluaran darah pada vagina, warna darah, bau serta ada tidaknya pemasangan kateter. l) Sistem Integumen Kaji tentang keadaan kulit, rambut dan kuku, turgor kulit, pengukuran suhu serta warna kulit dan penyebaran rambut. m) Sistem Endokrin Yang perlu di kaji adalah tentang ada tidaknya pembesaran kelenjar thyroid, bagaimana refleks menelan serta pengeluaran ASI dan kontraksi. n) Sistam Imun Yang perlu di kaji pada sistem ini adalah tentang keadaan kelenjar limfe, apakah mengalami pembesaran pada kelenjar limfe.
  33. 33. 33 4) Pola aktivitas sehari-hari Perlu dikaji pola aktivitas klien selama di Rumah Sakit dan pola aktivitas klien selama di rumah, terdiri atas : a) Nutrisi : kaji adanya perubahan dan masalah dalam memenuhi kebutuhan nutrisi karena kurangnya nafsu makan, kehilangan sensasi pengecap, menelan, mual dan muntah. b) Eliminasi (BAB dan BAK) : bagaimana pola eliminasi BAB dan BAK, apakah ada perubahan selama sakit atau tidak. c) Istrahat Tidur : kesulitan tidur dan istirahat karena adanya nyeri dan kejang otot. d) Personal hygiene : klien biasanya memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan perawatan dirinya. e) Aktivitas gerak : kaji adanya kehilangan sensasi atau paralise dan kerusakan dalam memenuhi kebutuhan aktifitas sehari-harinya karena adanya kelemahan. 5) Data Psikologis a) Status emosi Klien menjadi iritable atau emosi yang labil terjadi secara tiba-tiba klien menjadi mudah tersinggung.
  34. 34. 34 b) Konsep diri (1) Body image : klien memiliki persepsi dan merasa bahwa bentuk tubuh dan penampilan sekarang mengalami penurunan berbeda dengan keadaan sebelumnya. (2) Ideal diri : klien merasa tidak dapat mewujudkan cita- cita yang diinginkan. (3) Harga diri : klien merasa tidak berharga lain dengan kondisinya yang sekarang, klien merasa tidak mampu dan tidak berguna serta cemas dirinya akan selalu memerlukan bantuan orang lain. (4) Peran : klien merasa dengan kondisinya yang sekarang ia tidak dapat melakukan peran yang dimilikinya baik sebagai orang tua, istri ataupun seorang pekerja. (5) Identitas diri : klien memandang dirinya berbeda dengan orang lain karena kondisi badannya yang disebabkan oleh penyakitnya. c) Pola koping Klien biasanya tampak menjadi pendiam atau menjadi tertutup.
  35. 35. 35 6) Data Sosial Klien dengan sectio caesarea cenderung tidak mau bersosialisasi dengan orang lain yang disebabkan oleh rasa malu terhadap keadaannya. 7) Data Spiritual Perlu dikaji keyakinan klien tentang kesembuhannya dihubungkan dengan agama yang dianut klien dan bagaimana persepsi klien tentang penyakitnya. Bagaimana aktivitas spiritual klien selama menjalani perawatan dirumah sakit dan siapa yang menjadi pendorong dan memotivasi bagi kesembuhan klien. 8) Data penunjang Kaji pemeriksaan darah Hb, Hematokrit ibu, Leukosit dan USG. 9) Perawatan dan pengobatan a) Terapi Pada pasien yang post sectio caesarea biasanay diberikan obat analgetik serta antipiuretik serta pemberian cairan perinfus dan elektrolit harus cukup. b) Diet Pemberian sedikit minuman sudah boleh diberikan enam sampai 10 jam post operasi berupa air putih atau teh manis.
  36. 36. 36 Setelah cairan infus dihentikan diberikan makan bubur saring selanjutnya secara bertahap boleh makan biasa. c) Kateterisasi Biasanya dilepas 12 jam post operasi atau keesokan paginya, kemampuan selanjutnya untuk mengosongkan vesika urinaria sebelum terjadi distensi yang berlebihan harus dipantau. b. Klasifikasi data Pengelompokan data adalah pengelompokan data-data klien atau keadaan tertentu dimana klien mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria permasalahannya. Setelah dapat dikelompokan maka perawat dapat mengidentifikasi masalah keperawatan klien dengan merumuskannya. Adapun data-data yang muncul diklasifikasikan dalam data subyektif dan obyektif. Data subyektif adalah data yang diperoleh lansung melalui ungkapan atau keluhan dari klien sedangkan data obyektif adalah data yang diperoleh dari hasil observasi atau pengukuran (Nursalam, 2002). c. Analisa data Analisa data adalah proses intelektual yaitu kegiatan mentabulasi, menyelidiki, mengklasifikasi dan mengelompokan data serta mengkaitkannya untuk menentukan kesimpulan dalam bentuk
  37. 37. 37 diagnosa keperawatan biasanya ditemukan data subyektif dan obyektif (Carpenito, 2002). Dalam analisa data mengandung 3 komponen utama yaitu : 1) Problem (P/masalah), merupakan gambaran keadaan dimana tindakan keperawatan dapat diberikan. 2) Etiologo (E/penyebab), keadaan ini menunjukan penyebab keadaan atau masalah kesehatan yang memberikan arah terhadap terapi keperawatan. 3) Sign dan Symptom (S/tanda dan gejala), adalah ciri, tanda atau gejala yang merupakan suatu informasi yang diperlukan untuk dapat merumuskan suatu diagnosis keperawatan. 2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menguraikan respon aktual atau potensial klien terhadap masalah kesehatan yang perawat mempunyai izin dan berkompeten dan mengatasinya. Respon aktual dan potensial klien didapatkan dari data dasar pengkajian, tinjauan literatur yang berkaitan catatan medis klien masa lalu dan konsultasi dengan profesional lain yang kesemuanya dikumpulkan selama pengkajian (Potter, 2005). Menurut Bobak (2002), diagnosa keperawtan yang dapat muncul pada kasus sectio caesarea a/i letak lintang antara lain : a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat tindakan pembedahan.
  38. 38. 38 b. Gangguan kebutuhan istrahat dan tidur berhubungan dengan nyeri terus menerus. c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan/keterbatasan gerak dan kelemahan fisik. d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi tentang penyakitnya. e. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang status kesehatan dan keadaan pasca operasi. f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi yang masih basah. g. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pendarahan. 3. Perencanaan Perencanaan keperawatan adalah menyusun rencana tindakan keperawatan yang dilaksanakan untuk menanggulangi masalah dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien (Nursalam, 2001). Perencanaan keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan klien post op sectio caesarea yang ditegakan antara lain : a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan. Tujuan : Nyeri yang dirasakan klien dapat berkurang/ teratasi. Kriteria hasil : 1) Ekspresi wajah klien tidak meringis
  39. 39. 39 2) Klien tidak mengeluh nyeri Intervensi : 1) Pantau tingkat atau lokasi nyeri yang dirasakan klien Rasional : membantu menentukan tingkat dan lokasi nyeri yang dirasakan klien sehingga memudahkan intevensi selanjutnya. 2) Observasi tanda-tanda vital Rasional : tanda-tanda vital dapat berubah akibat rasa nyeri dan merupakan indikator untuk menilai perkembangan penyakit. 3) Anjurkan klien untuk nafas dalam secara teratur dan perlahan- lahan bila nyeri muncul Rasional : penarikan nafas dalam secara perlahan-lahan dapat terjadi suatu relaksasi dan melancarkan aktivitas suplai O2 ke jantung sehingga nyeri berkurang. 4) Anjurkan klien untuk melakukan mobilisasi secara bertahap Rasional : motivasi untuk mobilisasi bertahap akan meningkatkan vaskularisasi sehingga suplai O2 dan nutrisi ke jaringan meningkat. 5) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : analgetik dapat menghambat pengiriman impuls nyeri ke korteks serebri sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. b. Gangguan kebutuhan istrahat dan tidur berhubungan dengan nyeri. Tujuan : kebutuhan istrahat dan tidur dapat terpenuhi
  40. 40. 40 Kriteria hasil : 1) Klien dapat tidur dengan nyenyak 2) Klien tidak mudah terbangun 3) Konjungtiva tidak anemis Intervensi : 1) Observasi pola tidur klien Rasional : sebagai pedoman untuk intervensi selanjutnya. 2) Hindarkan prosedur yang kurang penting selama periode tidur Rasional : dengan tindakan yang tidak penting dapat mengganggu ketenangan tidur klien sehingga klien mudah terbangun. 3) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman Rasional : lingkungan yang tenang dan nyaman memberikan kemudahan pada klien untuk tidur dan istrahat. 4) Beri HE pada klien tentang manfaat istrahat dan tidur Rasional : istrahat dan tidur dapat memulihkan stamina sehingga proses penyembuhan dapat berlangsung dengan baik. c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan dan keterbatasan gerak. Tujuan : klien dapat melakukan perawatan diri dengan baik Kriteria hasil : 1) Klien nampak bersih dan rapi 2) Klien dan keluarga mengerti pentingnya kebersihan diri
  41. 41. 41 Intervensi : 1) Pantau tingkat pemahaman klien, berikan berikan penjelasan tentang manfaat perawatan diri Rasional : informasi sangat mempengaruhi klien sehingga klien dapat termotivasi untuk melakukan perawatan diri. 2) Berikan bantuan kepada klien dalam melakukan perawatan diri seperti mandi, sikat gigi, keramas dan mengganti pakaian Rasional : membantu klien dalam melakukan perawatan diri dan memenuhi kebutuhannya serta memberikan rasa nyaman. 3) Lakukan perawatan vulva hygiene Rasional : Vulva hygiene akan mencegah berkembang biaknya kuman-kuman yang dapat masuk ke dalam serviks. 4) Anjurkan klien untuk melakukan perawatan diri setiap hari Rasional : meningkatkan tingkat kemandirian klien di dalam merawat dirinya serta memperlancar sirkulasi darah. d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya Tujuan : pengetahuan klien dapat teratasi Kriteria hasil : 1) Keadaan umum baik 2) Klien dapat merasa tenang 3) Klien dapat menjelaskan cara merawat payudara
  42. 42. 42 Intervensi : 1) Kaji kemampuan dan motivasi klien untuk belajar serta bantu klien dan pasangan dalam mengidentifikasi kebutuhan Rasional : Periode Post Op Sectio Caesarea menjadikan pengalaman positif bila kesempatan penyuluhan di berikan untuk membantu ibu 2) Berikan penyuluhan lisan dan tertulis Rasional : Membantu menjamin ketangkapan informasi yang di terima 3) Berikan informasi yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan psikologis berkenaan dengan persalinan Sectio Caesarea dan kebutuhan dengan periode Post Op Sectio Caesarea Rasional : Membantu klien mengenali perubahan normal dari proses abnormal yang mungkin memerlukan tindakan 4) Anjurkan kepada klien melakukan perawatan payudara Rasional : Agar dapat memproduksi ASI dengan lancar e. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang status kesehatan dan keadaan pasca operasi. Tujuan : rasa cemas yang dirasakan klien dapat teratasi Kriteria hasil : 1) Klien dapat menjelaskan tentang penyakitnya, prosedur pengobatan dan perawatan
  43. 43. 43 2) Klien nampak tenang Intervensi : 1) Observasi perasaan klien terhadap kecemasan yang dihadapinya Rasional : mengetahui lebih lanjut tentang perasaan klien sehingga memudahkan untuk menentukan intervensi selanjutnya. 2) Anjurkan pada pasangan atau keluarga untuk memberi support Rasional : support dari pasangan dan keluarga memberi semangat bagi ibu menjalani proses penyembuhan. 3) Berikan informasi yang tepat tentang keadaan bayi Rasional : khayalan yang disebabkan oleh kurangnya informasi atau kesalahpahaman dapat meningkatkan kecemasan. 4) Anjurkan klien untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sering berdoa Rasional : agar klien merasa tenang dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perawatan luka tidak efektif. Tujuan : tanda-tanda infeksi tidak terjadi Kriteri hasil : tidak terjadi tanda radang, kemerahan, bengkak dan panas.
  44. 44. 44 Intervensi : 1) Observasi keadaan luka Rasional : untuk mengetahui adanya tanda-tanda infeksi dini. 2) Gunakan tehnik aseptik dan antiseptik dalam setiap tindakan Rasional : menurunkan resiko penyebaran infeksi. 3) Lakukan perawatan luka dengan memperhatikan kesterilan Rasional : melakukan perawatan luka untuk menjaga agar luka tetap bersih yang mencegah terjadinya kontaminasi dengan mikroorganisme. 4) Observasi tanda-tand vital terutama suhu Rasional : adanya peningkatan tanda-tanda vital terutama suhu merupakan salah satu tanda adanya infeksi. 5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antibiotik Rasional : antibiotik dapat mencegah infeksi dengan cara membunuh kuman yang masuk. g. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pengeluaran cairan pendarahan. Tujuan : kebutuhan klien akan cairan dapat terpenuhi Kriteria hasil : 1) Tidak ada pendarahan serta membran mukosa lembab 2) Tanda-tanda vital stabil Intervensi : 1) Ukur semua sumber pemasukan dan pengeluaran cairan
  45. 45. 45 Rasional : membantu mengevaluasi status cairan khususnya bila dibandingkan dengan berat badan. 2) Timbang berat badan klien Rasional : memberikan perkiraan kebutuhan akan penggantian volume cairan dan keefektifan pengobatan. 3) Ukur tanda-tanda vital Rasional : hipotensi dan takikardi menunjukan kekurangan cairan. 4) Kolaborasi pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit Rasional : menurun karena anemia, hemodilusi atau kehilangan darah aktual. 4. Implementasi Pelaksanaan/implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditunjukan pada perawat untuk membuat klien dalam mencapai tujuan yang diharapkan oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien. Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pemulihan (Nursalam, 2001).
  46. 46. 46 5. Evaluasi Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaan yang sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa data, perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang menyediakan nilai informasi mengenai pengaruh intervensi yang telah direncanakan dan merupakan perbandingan dari hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang telah dibuat pada tahap perencanaan (Nursalam, 2001). Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP sebagai pola pikir yaitu sebagai berikut : S: Respon subyektif klien terhadap intervensi yang dilaksanakan. O: Respon obyektif klien terhadap intervensi yang dilaksanakan. A: Analisa ulang atas data subjektif dan data objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau ada masalah baru atau mungkin terdapat data yang kontradiksi dengan masalah yang ada. P: Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa data pada respon.

×