IDENTIFIKASI FAKTOR PENYEBAB KETUBAN PECAH DINI
DI RUANG DELIMA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KABUPATEN MUNA PERIODE 2011-2012
K...
25
LEMBAR PENGESAHAN
Karya Tulis Ilmiah ini telah disetujui dan diperiksa oleh Tim Penguji Karya Tulis
Ilmiah Akademi Kebi...
25
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapa...
25
5. Kepala Ruangan Kebidanan RSUD Kabupaten Muna yang telah banyak
membantu penulis dalam pemberian informasi untuk kese...
25
Halaman Judul......................................................................................................... ...
25
D................................................................................................................ Ident...
25
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Defenisi operasional ...............................................................................
25
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Konsep ..................................................................................
25
INTISARI
Wa Ode Novira Yukrimula (PSWB2010.1B0047) “Identikasi Faaktor Penyebab
Ketuban Pecah Dini di Ruang Delima Ruma...
25
(20,8) dan berdasarkan faktor lain, persalinan premature adalah penyebab tertinggi
(16,7%).
Kata kunci : faktor-faktor ...
25
meliputi prematuritas, respiratory distress syndrome, perdarahan intraventrikel,
sepsis, hipoplasia paruserta deformita...
25
dan KPD diasia tenggara salah satu penyumbangnya ialah Indonesia (Arali, 2009 ).
Ketuban pecah dini (KPD) di Indonesia ...
25
persalinan sebanyak 370 persalinan. Angka kejadian KPD pada tahun 2011 sebanyak
13 kasus, pada tahun 2012 angka kejadia...
25
c. Untuk mengetahui jumlah Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini ditinjau dari
pekerjaan di Ruang Delima Rumah Sakit Umum ...
25
1. Manfaat Teoritis
Sebagai bahan masukan dalam bidang ilmu kesehatan khususnya tentang
kehamilan.
2. Bagi Praktisi
Seb...
25
d. Manfaat bagi Peneliti Selanjutnya
Manfaat bagi peneliti selanjutnya yaitu dapat dijadikan acuan dan
tambahan informa...
25
G Moore, 2005). Insiden ketuban pecah dini dilaporkan bervariasi dari 6%
hingga 10%, dimana sekitar 20% kasus terjadi s...
25
Diagnosa ketuban pecah dini didasarkan atas:
1) Riwayat pengeluaran cairan dalam jumlah besar secara mendadak atau
sedi...
25
2) Sekret vagina
f. Komplikasi
Adapun komplikasi yang dapat terjadi akibat ketuban pecah dini, antara
lain:
1) Komplika...
25
Belum ada cara pasti untuk mencegah kebocoran kantung ketuban.
Namun, untuk menurunkan risikonya adalah dengan berhenti...
25
b) Tirah baring dapat dikombinasikan dengan pemberian antibiotik
sehingga dapat menghindari infeksi.
2) Aktif
a) Dilaku...
25
(3) Usia kehamilan antara 31-33 minggu
Dianjurkan untuk melakukan amniosentesis untuk menentukan
maturitas paru. Perlu ...
25
e) Evaluasi detak jantung janin dengan KTG menunjukkan hasil gawat
janin atau redup BB janin cukup viabel untuk dapat b...
25
berisiko tinggi untuk melahirkan. Kesiapan seorang perempuan untuk hamil
harus siap fisik, emosi,psikologi, sosial dan ...
25
Paritas 2-4 merupakan paritas yang paling aman ditinjau dari
sudut maternal. Primigravida memiliki resiko lebih tinggi ...
25
kehidupan dan kehidupan keluarga .pekerjaan bukanlah sumber kesenangan
tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafka...
25
Pintu atas panggul dianggap sempit apabila conjugata vera kurang
dari 10 cm atau kalau diameter transversa kurang dari ...
25
b) Sciliose didaerah tulang panggung menyebabkan panggul sempit
miring.
4) Kelainan panggul disebabkan kelainan aggota ...
25
dari susunan saraf sentral dan traktus gastrointestinal, cukup tinggi. Di
samping itu, sering ditemukan pada kehamilan ...
25
kehamilan (kehamilan ganda, kehamilan lebih dari dua), keadaan uterus
(uterus arkuatus), keadaan dinding abdomen, keada...
25
pengawasan hamil yang intensif. Factor resiko ketuban pecah dini pada kembar
dua 50% dan kembar tiga 90% (Manuaba,dkk. ...
25
singkat ialah akibat adanya penurunan kandungan kolagen dalam membrane
sehingga memicu terjadinya ketuban pecah dini da...
25
pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstertik yang lebih baik, sedangkan
risiko pada paritas tinggi dapat di k...
25
Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten
tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan ...
25
C. Kerangka Konsep
Gambar 1 : Kerangka Konsep Identifikasi Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini di
Ruang Delima RSUD Kabu...
25
Umur
Paritas
CPD
Hidramnion
Kelainan Letak
Ketuban
Pecah Dini
Gem
Persalinan
Prematur
Infeksi
Gambar 1 : Kerangka Konsep Identifikasi Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini di
Ruang Delima...
4. Berapa jumlah presentase kejadian Ketuban Pecah Dini ditinjau dari faktor
hidramnion di Ruang Delima Rumah Sakit Umum D...
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dimana de...
Populasi dalam penelitian adalah semua ibu yang bersalin yang mengalami
ketuban pecah dini di Ruang Delima RSUD Kabupaten ...
VARIABEL DAN DEFENISI OPERASIONAL
No Variabel Defenisi Operasional Alat ukur
1. Dependen :
Ketuban Pecah
Dini
2. Independe...
G. Cara Analisis Data
1. Pengolahan Data
Data akan diolah secara manual dan juga elektronik dengan menggunakan
kalkulator ...
2. Tahap Pengumpulan Data
Pelaksanaannya dilakukan dengan mencatat semua jumlah populasi dari dalam
buku register untuk ke...
anda
1) Sebelah utara : Jl. Basuki Rahmat
2) Sebelah Timur : Jl. Sultan Hasanudin
3) Sebelah selatan : Jl. Laode Pandu
4) ...
dokter Post. Dokter Post mempunyai dua orang asisten sehingga sebagian
besar pekerjaannya diserahkan pada kedua asistennya...
5).Tahun 1950 – 1960 : dr.Lemens
6).Tahun 1967 – 1970 : dr.Ibrahim Ahtar Nasution
7).Tahun 1970 – 1973 : dr.Suardi
8).Tahu...
Upaya melaksanakan tugas pokok sebagaimana tersebut diatas Rumah
Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna mempunyai fungsi yakni:
...
d).Melaksanakan pencatatan dan pelaporan yang tertib dan tepat waktu
untuk semua aktivitas pelayanan dan pelayanan lain ya...
klinik gigi dan mulut, poli klinik bedah, poli klinik anak,poli klinik saraf,
poli klinik dalam, instalasi rehabilitasi me...
8 DIII Keperawatan 151 orang
9 DI dan SPK Perawat 2 orang
10 DIV Kebidanan 3 orang
11 DIII Kebidanan 21 orang
12 Apoteker/...
Berdasarkan data yang sudah diperoleh dari buku register kemudian diolah
dengan cara manual dengan menggunakan kalkulator,...
Tabel 4. DISTRIBUSI FREKUENSI KEJADIAN KETUBAN PECAH
DINI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KABUPATEN MUNATAHUN 2011-2012
Faktor-...
Tabel 4 memperlihatkan bahwa dari 24 ibu dengan kasus ketuban pecah
dini berdasarkan faktor ibu yaitu umur ibu seluruhnya ...
prematur dan umur ibu ada 1 ibu. Dan untuk faktor lain dengan Infeksi tidak ada
(0%).
3. Grafik Hasil Penelitian
Gambar 2....
sejak dilahirkan atau diadakan (Purwodarminto, 2008). Penyebab kematian
maternal dari faktor reproduksi diantaranya adalah...
yang telah mencapai batas viabilitas dan telah dilahirkan.Paritas 1 dan paritas
lebih dari 4 berisiko.Risiko pada paritas ...
Berdasarkan hasil dari analisis univariat pada tabel 4
menunjukkanbahwa dari 24 ibu dengan kasus ketuban pecah dini berdas...
Trijatmo, 2005). Hidramnion dapat memungkinkan ketegangan rahim
meningkat, sehingga membuat selaput ketuban pecah sebelum ...
minggu kenaikan berat badan janin kembar sama dengan janin kehamilan
tunggal. Setelah itu, kenaikan badan lebih kecil di k...
Berdasarkan hasil dari analisis univariat pada tabel 4 menunjukan
bahwa dari 24 ibu dengan kasus ketuban pecah dini berdas...
1. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa dari 24 responden, 8 responden (33,4%)
yang mengalami ketuban pecah dini karena f...
2. Bagi pihak Puskesmas di Daerah Kabupaten Muna, sebaiknya melakukan
penyuluhan ibu-ibu hamil tentang factor-faktor yang ...
. (2012) Angka Kejadian ketuban pecah dini di Indonesia dan Dunia.
Available at http://prematurenicu.wordpress.com, di aks...
Prawirohardjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Wahyudi, S.B. 2010. Jika Ketuban P...
No
Nama
Responden
Faktor Ibu Faktor Kehamilan Faktor Lain
Umur Paritas Pekerjaan CPD Hidramnion
Kelainan
Letak
Gemeli
Pers...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

G

478 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
478
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
5
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

G

  1. 1. IDENTIFIKASI FAKTOR PENYEBAB KETUBAN PECAH DINI DI RUANG DELIMA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN MUNA PERIODE 2011-2012 Karya Tulis Ilmiah Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Ahli Madya Kebidanan pada Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna WA ODE NOVIRA YUKRIMULA PSWB 2010.1B0047 YAYASAN PENDIDIKAN SOWITE AKADEMI KEBIDANAN PARAMATA RAHA KABUPATEN MUNA 2013
  2. 2. 25 LEMBAR PENGESAHAN Karya Tulis Ilmiah ini telah disetujui dan diperiksa oleh Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna TIM PENGUJI 1. Asmaidah, SST (…………………….........) 2. Dina Asminatalia, S.Kep.Ners (………………………….) 3. Wa Ode Siti Asma, SST.,M.Kes (……………………….....) Raha, Oktober 2013 Pembimbing I Pembimbing II Dina Asminatalia, S.Kep.Ners Wa Ode Siti Asma, SST.,M.Kes Mengetahui, Direktur Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M.Kes KATA PENGANTAR
  3. 3. 25 Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan karya tulis ilmiah yang berjudul “Identifikasi Faktor-faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini di Ruang Delima di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Tahun 2011- 2012”. Dalam proses penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis banyak sekali menemui kesulitan namun, berkat bimbingan, arahan, serta petunjuk yang selalu dan tiada hentinya di berikan oleh Ibu Dina Asminatalia, S.Kep,.Ners selaku pembimbing I dan Wa Ode Siti Asma, SST.,M.Kes selaku pembimbing II akhirnya karya tulis ilmiah ini dapat penulis selesaikan. Pada kesempatan ini pula, maka dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Ketua Yayasan Pendidikan Sowite Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna, Bapak Laode Muhlisi, A.Kep, M.Kes atas kesempatan yang telah di berikan kepada penulis untuk menimba ilmu di Akademi Kebidanan Paramata Raha. 2. Ibu Rosminah Mansyarif, S.Si.T.,M.Kesselaku Direktur Akademi Kebidanan Paramata Kabupaten Muna dan juga sebagai dosen penguji yang telah begitu banyak memberikan pengetahuan baru bagi penulis. 3. Seluruh jajaran dosen dan staf administrasi serta tata usaha di Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna yang selama ini sudah begitu banyak membantu penulis. 4. Direktur RSUD Kabupaten Muna yang telah banyak membantu penulis dalam pemberian informasi untuk kesempurnaanpenyusunankarya tulis ilmiah ini.
  4. 4. 25 5. Kepala Ruangan Kebidanan RSUD Kabupaten Muna yang telah banyak membantu penulis dalam pemberian informasi untuk kesempurnaan penyusunan karya tulis ilmiah ini. 6. Teristimewa untuk Ayahanda La Ode Biola dan Ibunda Wa Ode Ndowala tercinta yang tiada henti-hentinya selalu memberikan doa serta dukungan moril maupun materil pada penulis selama penyusunan karya tulis ini. Terimakasih atas cinta dan kasih sayang yang telah kalian berikan selama ini kepadaku. Semoga kalian selalu ada dalam lindungan Yang Maha Kuasa. 7. Semua teman-teman seangkatan di Akademi Kebidanan Paramata khususnya kelas A yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu per satu, terima kasih atas semangat dan bantuan serta kesan mendalamyang sudah kalian berikan selama tiga tahun ini. Penulis menyadari bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, dan kekurangan adalah milik manusia. Tak ada gading yang tak retak, begitu pula karya tulis ilmiah ini masih banyak kekurangan baik dari isi maupun tulisan. Oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan demi kesempurnaan. Wassalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh. Raha, September 2013 Wa Ode Novira Yukrimula DAFTAR ISI
  5. 5. 25 Halaman Judul......................................................................................................... i Lembar Persetujuan................................................................................................. ii Lembar Pengesahan................................................................................................. iii Riwayat Hidup ........................................................................................................ iv Kata Pengantar ........................................................................................................ v Daftar Isi ................................................................................................................. vii Daftar Tabel ............................................................................................................ ix Daftar Gambar ........................................................................................................ x Intisari ..................................................................................................................... xi BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang...................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah................................................................................. 3 C. Tujuan Penelitian.................................................................................. 4 D. Manfaat Penelitian................................................................................ 5 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A................................................................................................................ Tel aah Pustaka ........................................................................................... 7 B.................................................................................................................Land asan Teori.............................................................................................. 23 C.................................................................................................................Kera ngka Konsep.......................................................................................... 25 D................................................................................................................ Perta nyaan Penelitian.................................................................................... 26 BAB III. METODE PENELITIAN A................................................................................................................ Jenis dan Rancangan Penelitian .................................................................... 28 B.................................................................................................................Suby ekPenelitian .......................................................................................... 28 C.................................................................................................................Temp at dan Jalannya Penelitian..................................................................... 28
  6. 6. 25 D................................................................................................................ Identi fikasi Variabel Penelitian ..................................................................... 29 E................................................................................................................. Defe nisi Operasional dan Kriteria Obyektif................................................. 29 F................................................................................................................. Instru men Penelitian....................................................................................... 30 G................................................................................................................ Peng olahan dan Analisis Data ..................................................................... 30 H................................................................................................................ Jalan nya Penelitian........................................................................................ 31 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A................................................................................................................ Hasil penelitian .............................................................................................. 32 B.................................................................................................................Pembah asan....................................................................................................... 43 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A................................................................................................................ Kesimp ulan........................................................................................................ 49 B.................................................................................................................Saran ...............................................................................................................50 Daftar Pustaka....................................................................................................... 51 Lampiran
  7. 7. 25 DAFTAR TABEL Tabel 1. Defenisi operasional ................................................................................... 29 Tabel 2 : Jumlah Ketenagaan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Tahun 2013 ................................................................................................ 38 Tabel 3. Karakteristik responden berdasarkan umur ibu di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Tahun 2011-2012 ................................ 39 Tabel 4. Karakteristik responden berdasarkan paritas ibu di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Tahun 2011-2012 .................................. 39 Tabel 5. Distribusi frekuensi kejadian Ketuban Pecah Dini di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna ............................................................... 40
  8. 8. 25 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Kerangka Konsep ................................................................................... 25 Gambar 2. Grafik Hasil Penelitian ........................................................................... 42
  9. 9. 25 INTISARI Wa Ode Novira Yukrimula (PSWB2010.1B0047) “Identikasi Faaktor Penyebab Ketuban Pecah Dini di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten MunaPeride Tahun 2011-2012”. Di bawah bimbingan Dina Asminatalia dan Wa Ode Siti Asma. Latar belakang : Kehamilan merupakan proses reproduksinyang normal, tetapi perlu perawatan diri yang kusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang normal pun mempunyai risiko kehamilan, namun tidak secara langsung meningkatkan risiko kematian ibu (Depkes RI,2005). Metode penelitian : Menggunakan metode deskriptif dengan mengambil data sekunder pada register pasien di ruang delima RSUD Kabupaten Muna tahun 2011- 2012 yang mengalami kasus ketuban pecah dini (KPD). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif yakni studi yang menggambarkan, mengidentikasi, mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang mengalami ketuban pecah dini yang tercatat dalam buku register. Hasil penelitian : menunjukkan bahwa ketuban pecah dini yang terjadi disebabkan factor ibu yakni umur ibu ada 8 orang (33,3%), paritas ibu ada 5 orang (20,8%). Faktor kahamilan yakni panggul sempit ada 5 orang (20,8%), hidramnion ada 2 orang (8,3%), kelainan letak (0%), gemeli (0%). Dan faktor lain yakni persalinan prematur ada 4 orang (16,7%), dan infeksi (0%). Kesimpulan : berdasarkan faktor ibu, umur adalah penyebab tertinggi (33,3%). Berdasarkan faktor kehamilan, panggul sempit (CPD) adalah penyebab tertinggi
  10. 10. 25 (20,8) dan berdasarkan faktor lain, persalinan premature adalah penyebab tertinggi (16,7%). Kata kunci : faktor-faktor yang berhubungan, KPD Daftar pustaka : 6 buku, 10 internet (2007 s/d 2013) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal, tetapi perlu perawatan diri yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang normal pun mempunyai risiko kehamilan, namun tidak secara langsung meningkatkan risiko kematian ibu (Depkes RI, 2005). Ketuban pecah dini atau PROM (premature rupture of membran) adalah pecahnya ketuban sebelum waktunya tanpa disertai tanda inpartu dan setelah 1 jam tetap tidak diikuti dengan proses inpartu sebagaimana mestinya. Ketuban pecah dini (KPD) sering kali menimbulkan konsekuensi yang berimbas pada morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama pada kematian perinatal yang cukup tinggi. Ketuban pecah dini dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi pada neonatus
  11. 11. 25 meliputi prematuritas, respiratory distress syndrome, perdarahan intraventrikel, sepsis, hipoplasia paruserta deformitas skeletal (Piet, 2009). Ketuban pecah dini (KPD) merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur terjadinya infeksi korioamnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi pada ibu. Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan, pada keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban pecah dini (Prawirohardjo, 2008). Kebanyakan ibu dengan ketuban pecah dini akan mengalami persalinan spontan dan hasilnya baik. Namun ada bahanya yang berhubungan dengan ketuban pecah dini meliputi infeksi, tali pusat menumbung, infeksi iatrogenik asenden dari pemeriksaan vagina dan perlunya induksi atau augmentasi persalinan dengan intervensi yang sesuai. Kematian ibu memang menjadi perhatian dunia international, World Health organization (WHO) memperkirahkan diseluruh dunia lebih dari 585, 000 ibu meninggal tiap tahun saat hamil dan bersalin, salah satunya ialah persalinan ketuban pecah dini (KPD). Tahun 2009 terdapat 23 (4%) persalinan prematur dari 580 persalinan normal karena ketuban pecah dini, 93 (39) sedangkan 2010 terdapat 32 (6%) persalinan prematur dari 541 persalinan noemal karena ketuban pecah dini 12 (37, 5%) (Mitra, 2010). Di asia tenggara (ASEAN) ketuban pecah dini (KPD) masih tergolong tinggi, angka kematian ibu akibat ketuban pecah dini yang tidak nyaman diperkirahkan berturut-turut 170 ribu dan 1,3 juta pertahun (98%) dari seluruh persalinan normal
  12. 12. 25 dan KPD diasia tenggara salah satu penyumbangnya ialah Indonesia (Arali, 2009 ). Ketuban pecah dini (KPD) di Indonesia secara global 80% kematian ibu. Pola penyebab langsung dimana-mana yaitu perdarahan (25%) biasanya perdarahan pasca persalinan,sepsis (15%) hipertensi dalam kehamilan (12%), partus macet (8%) komplikasi abortus tidak aman (13%), ketuban pecah dini (4%) dan sebab-sebab lainnya (8%) (Wiknjosastro, 2008). Persalinan dengan KPD pada tahun 2008-2009 masih cukup tinggi dan masih memerlukan penatalaksanaan yang tepat sehingga angka kematian ibu dan bayi dapat diturunkan. Insiden ketuban pecah dini dilaporkan bervariasi dari 6% hingga 10% , dimana sekitar 20% kasus terjadi sebelum memasuki masa gestasi 37 minggu. Sekitar 8 hingga 10% pasien ketuban pecah dini memiliki risiko tinggi infeksi intrauterine akibat interval antara ketuban pecah dan persalinan yang memanjang (Kakashi Reza, 2009). Sering kali KPD tersebut menyebabkan partus kering (dry labor) karena air ketuban habis (Bibilung, 2008). Belum ada cara pasti untuk mencegah kebocoran kantung ketuban. Namun, untuk menurunkan risikonya adalah dengan berhenti merokok dan menghindari lingkungan perokok agar tidak menjadi perokok pasif (Yecha, 2009). Disamping itu, pemberian suplemen Vitamin C dapat membantu para ibu mencegah terjadinya ketuban pecah dini, sehingga kehamilan dapat dipertahankan hingga tiba masa persalinan (Piet, 2009). Berdasarkan data yang diperoleh dari ruang Delima RSUD Kabupaten Muna, jumlah persalinan tahun 2011 sebanyak 323 persalinan, pada tahun 2012 jumlah
  13. 13. 25 persalinan sebanyak 370 persalinan. Angka kejadian KPD pada tahun 2011 sebanyak 13 kasus, pada tahun 2012 angka kejadian KPD sebanyak 11 kasus. Berdasarkan data diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Identifikasi Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini di Ruang Delima RSUD Kabupaten Muna Periode Tahun 2011-2012”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan data penelitian maka rumuskan masalah “Bagaimanakah Identifikasi Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini di Ruang Delima RSUD Kab.Muna Periode Tahun 2011-2012? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk Mengetahui jumlah Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode Tahun 2011-2012. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui jumlah Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini di tinjau dari faktor umur di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011 -2012. b. Untuk mengetahui jumlah Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini ditinjau dari Paritas di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012.
  14. 14. 25 c. Untuk mengetahui jumlah Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini ditinjau dari pekerjaan di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012. d. Untuk mengetahui jumlah Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini berdasarkan Cephalo Pelvic Disproportion ( CPD) di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012. e. Untuk mengetahui jumlah Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini ditinjau dari factor hidramnion di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012. f. Untuk mengetahui jumlah Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini ditinjau dari kelainan letak di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012. g. Untuk mengetahui jumlah Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini ditinjau dari faktor gemeli di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012. h. Untuk mengetahui jumlah Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini ditinjau dari persalinan premature di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012. i. Untuk mengetahui jumlah Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini ditinjau dari faktor infeksi di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012. D. Manfaat Penelitian
  15. 15. 25 1. Manfaat Teoritis Sebagai bahan masukan dalam bidang ilmu kesehatan khususnya tentang kehamilan. 2. Bagi Praktisi Sebagai penambah wawasan bagi masyarakat pada umumnya yang belum faham benar tentang Identifikasi Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini . a. Manfaat bagi Profesi Merupakan tambahan informasi dalam memberikan pelayanan khususnya dalam pemberian KIE pada ibu hamil berkaitan dengan ketuban pecah dini. b. Manfaat bagi Institusi Manfaat bagi institusi adalah sebagai bahan acuan untuk memberikan penilaian akhir kepada mahasiswa yang akan menyelesaikan studi khususnya di D-III Kebidanan dan juga menambah referensi untuk kepustakaan di institusi agar dapat dijadikan contoh pembuatan karya tulis bagi peserta didik yang lain. c. Manfaat bagi Peneliti Peneliti dapat mengembangkan pengetahuan yang didapatkan dalam bentuk tulisan dan dapat menambah wawasan pengetahuan tentang Ketuban Pecah Dini serta sebagai bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
  16. 16. 25 d. Manfaat bagi Peneliti Selanjutnya Manfaat bagi peneliti selanjutnya yaitu dapat dijadikan acuan dan tambahan informasi untuk melakukan penelitian. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Ketuban Pecah Dini a. Pengertian Ketuban Pecah Dini (KPD) atau spontaneous/ early/ premature rupture of the membrane (PROM) adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu bila pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multi para kurang dari 5 cm (Kakashi Reza, 2009). Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu, yaitu bila pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm (Sarwono Prawirohardjo, 2009). Ketuban Pecah Dini didefinisikan sebagai amnioreksis sebelum permulaan persalinan pada setiap tahap kehamilan (Hacker Neville F dan J
  17. 17. 25 G Moore, 2005). Insiden ketuban pecah dini dilaporkan bervariasi dari 6% hingga 10%, dimana sekitar 20% kasus terjadi sebelum memasuki masa gestasi 37 minggu (Kakashi Reza, 2009). b. Tanda dan gejala 1) Keluar air ketuban warna putih, jernih, kuning, hijau, atau kecoklatan dengan sedikit atau sekaligus banyak. 2) Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi. 3) Janin mudah diraba. 4) Pada pemeriksaan dalam selaput ketuban sudah tidak ada atau air ketuban kering. c. Mekanisme Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini adalah terjadinya pembukaan prematur serviks dan membran terkait dengan pembukaan terjadi devaskularisasi dan nekrosis serta dapat diikuti pecah spontan. Jaringan ikat yang menyangga membran ketuban makin berkurang. Melemahnya daya tahan ketuban dipercepat dengan infeksi yang mengeluarkan enzim (enzim proteolitik, enzim kolagenase). Masa interval sejak ketuban pecah sampai terjadi kontraksi disebut fase laten. Makin panjang fase laten, makin tinggi kemungkinan infeksi. Makin muda kehamilan, makin sulit upaya pemecahannya tanpa menimbulkan morbiditas janin. Oleh karena itu, komplikasi ketuban pecah dini makin meningkat (Manuaba IBG, 2010). d. Diagnosa
  18. 18. 25 Diagnosa ketuban pecah dini didasarkan atas: 1) Riwayat pengeluaran cairan dalam jumlah besar secara mendadak atau sedikit demi sedikit pervaginam. 2) Untuk menegakkan diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan Inspekulo untuk pengambilan cairan pada forniks posterior: a) Pemeriksaan lakmus yang akan berubah menjadi biru (bersifat basa). b) Fern test cairan amnion. c) Kemungkinan infeksi dengan memeriksa (Betastreptokokus, Clamydia trachomatis, Neisseria gonnorhe). 3) Pemeriksaan USG untuk mencari: a) Amniotik fluid index (AFI) b) Aktivitas janin c) Pengukuran BB janin d) Detak jantung janin e) Kelainan kongenitas dan deformitas 4) Membuktikan kebenaran ketuban pecah dengan jalan a) Aspirasi air ketuban untuk dilakukan: kultur cairan amnion, pemeriksaan interleukin, alfa fetoprotein. Seluruhnya digunakan untuk membuktikan adanya kemungkinan infeksi intrauterin. b) Penyuntikan indigo karmin ke dalam amnion serta melihat keluarnya pervaginal (Manuaba, 2010). e. Diagnosis Banding 1) Kebocoran urine
  19. 19. 25 2) Sekret vagina f. Komplikasi Adapun komplikasi yang dapat terjadi akibat ketuban pecah dini, antara lain: 1) Komplikasi pada Neonatus Komplikasi yang dapat terjadi pada neonatus berhubungan erat dengan prematuritas, termasuk juga sindrom gawat nafas (respiratory distress syndrome, RDS), perdarahan intraventrikel (Intraventrikular hemorrhage,IVH), sepsis, hipoplasia paru (terutama pada kasus KPD di usia < 22inggu), serta deformitas skeletal (berhubungan dengan tingkat keparahan dan lamanya KPD). Korioamnionitis, oligohidramnion, prolaps tali pusat dan juga malpresentasi (Diane M Frasher, 2009). Secara keseluruhan, KPD terkait dengan peningkatan mortalitas perinatal sebanyak empat kali lipat. 2) Komplikasi pada Ibu Komplikasi yang terjadi pada ibu meliputi partus lama, atonia uteri, perdarahan postpartum, serta infeksi nifas. Disamping itu, juga mencakup peningkatan kejadian persalinan melaluibedah sesar (akibat malpresentasi, prolaps tali pusat), infeksi intraamnion (15-30 %), dan endometritis pasca persalinan (Helen Varney,dkk 2008) g. Pencegahan
  20. 20. 25 Belum ada cara pasti untuk mencegah kebocoran kantung ketuban. Namun, untuk menurunkan risikonya adalah dengan berhenti merokok dan menghindari lingkungan perokok agar tidak menjadi perokok pasif. Dan mengurangi aktivitas atau istirahat pada akhir triwulan kedua atau triwulan ketiga juga dianjurkan Disamping itu, dengan pemberian suplemen Vitamin C dapat membantu para ibu mencegah terjadinya ketuban pecah dini, sehingga kehamilan dapat dipertahankan hingga tiba masa persalinan (The American Journal of Clinical Nutrition, 2008). Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air yang memiliki nama lain asam askorbat, manfaat dari vitamin C adalah sebagai salah satu penunjang pertumbuhan dan perbaikan jaringan di seluruh tubuh, karena vitamin C membantu pembentukan kolagen, protein yang mempunyai peranan penting dalam pembentukan kulit, jaringan yang pernah luka, tendon ligamen dan pembuluh darah. Fungsi fisiologis vitamin C yaitu diperlukan untuk mempertahankan jaringan ikat yang sehat (Anink Maryunani, 2010). h. Penatalaksanaan Tiga kemungkainan tindakan yang dapat dilakukan pada ketuban pecah dini, yaitu: 1) Konservatif Tata laksana konservatif, antara lain: a) Tirah baring untuk mengurangi keluarnya air ketuban sehingga masa kehamilan dapat diperpanjang.
  21. 21. 25 b) Tirah baring dapat dikombinasikan dengan pemberian antibiotik sehingga dapat menghindari infeksi. 2) Aktif a) Dilakukan tindakan untuk memperpanjang usia kehamilan dengan memberi kombinasi antara: b) Tindakan tatalaksana aktif juga tidak terlalu banyak dapat meningkatkan maturasi janin dan paru. Dalam keadaan terpaksa harus dilakukan terminasi kehamilan untuk menyelamatkan bayi atau maternal. c) Dalam upaya menunda proses persalinan dikemukakan lima kriteria sikap sebagai berikut: (1) Usia kehamilan kurang dari 26 minggu Sulit mempertahankan kehamilan sampai aterm atau sampai usia kehamilan sekitar 34 minggu. Bahaya infeksi dan keadaan oligohidramnion akan menimbulkan masalah pada janin. Bayi dengan usia kehamilan kurang dari 26 minggu, sulit untuk hidup dan beradaptasi di luar kandungan. (2) Usia kehamilan 26-31 minggu Sikap dan komplikaasi persalinan masih sama seperti pada usia kehamilankurang dari 26 minggu. Pada rumah sakit yang sudah maju mungkin terdapat unit perawatan intensif neonatus unttuk perawatan janin. Pertolongan persalinan dengan BB janin kurang dari 2000 gr dianjurkan dengan seksio sesarea.
  22. 22. 25 (3) Usia kehamilan antara 31-33 minggu Dianjurkan untuk melakukan amniosentesis untuk menentukan maturitas paru. Perlu diperhatikan tanda infeksi intrauteri, dan umumnya BB janin sudah sekitar 2000 gr sehingga sangat mungkin tertolong. (4) Usia kehamilan antara 34-36 minggu BB janin sudah cukup baik sehingga langsung dapat dilakukan terapi induksi dan seksio sesarea. (5) Usia kehamilan diatas 36 minggu Sudah dianggap aterm sehingga seharusnya dapat hidup diluar kandungan dan selamat.(Bibilung, 2008) i. Tata laksana Agresif Tindakan agresif dilakukan jika ada indikasi vital sehingga tidak dapat ditunda karena mengancam kehidupan janin atau maternal. Indikassi vital yang dimaksudkan yaitu: a) Infeksi intrauterin b) Solusio plasenta c) Gawat janin d) Prolaps tali pusat
  23. 23. 25 e) Evaluasi detak jantung janin dengan KTG menunjukkan hasil gawat janin atau redup BB janin cukup viabel untuk dapat beradaptasi diluar kandungan (Wahyudi, 2010) . 2. Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini a. Umur Umur adalah perhitungan usia yang dimulai dari saat kelahiran seseorang sampai dengan waktu penghitungan usia. Umur individu terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kemtangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja (Bibilung 2008). Dengan bertambahnya umur seseorang maka kematangan dalam berfikir semakin baik sehingga akan termotivasi dalam pemeriksaan kehamilam untuk mecegah komplikasi pada masa persalinan. Umur adalah lama waktu hidup atau ada sejak dilahirkan atau diadakan (Amalia, 2009). Penyebab kematian maternal dari faktor reproduksi diantaranya adalah maternal age/usia ibu. Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untukkehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2 sampai 5 kali lebih tinggi daripada kematian maternal yang terjadi pada usia 20 sampai 29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30 sampai 35 tahun (Sarwono, 2009). Usia seorang wanita pada saat hamil sebaiknya tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Umur yang kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun,
  24. 24. 25 berisiko tinggi untuk melahirkan. Kesiapan seorang perempuan untuk hamil harus siap fisik, emosi,psikologi, sosial dan ekonomi. Usia reproduktif yang normal terjadi pada umur 25 – 35 tahun, jika seorang wanita hamil < 20 tahun, kondisi ini dianggap sebagai kehamillan remaja dan terkait dengan buruknya hasil akhir perinatal, ketergantungan ibu dalam hal kesejahteraan seperti tidak memperhatikan gizi makanan, keengganan untuk memeriksakan kehamilannya, menyebabkan ibu kekurangan nutrisi terutama vitamin C yang akan mempengaruhi pembentukan selpaut ketuban menjadi abnormal sehingga ketuban mudah pecah sebelum waktunya. Pada usia > 35 tahun merupakan gerbang memasuki periode resiko tinggi dari segi reproduksi untuk menjalankan fungsinya. Keadaan ini juga mempengaruhi pada proses embriogenesis sehingga selaput ketuban lebih tipis yang memudahkan untuk pecah sebelum waktunya. b. Paritas Ibu Paritas adalah jumlah anak yang memenuhi syarat untuk melangsungkan kehidupan. Paritas menunjukan jumlah kehamilan terdahulu yang telah mencapai batas viabilitas dan telah dilahirkan. Paritas 1 dan paritas lebih dari 4 berisiko. Risiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstertik yang lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat di kurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan. (Manuaba, 2008).
  25. 25. 25 Paritas 2-4 merupakan paritas yang paling aman ditinjau dari sudut maternal. Primigravida memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan multigravida, karena pada primi terjadi perubahan fisik dam psikologis yang kompleks dan baru pertama dihadapinya.Perubahan-perubahan ini sangat memerlukan adaptasi dan penyesuaian diri dari wanita tersebut. Namun pada ibu yang belum bisa beradaptasi dengan hal ini dapat meningkatkan resiko dan komplikasi yang akan dihadapinya pada kehamilannya. Berbeda pada multigravida, logisnya ibu-ibu yang pernah mengalami kehamilan dan persalinan akan lebih mudah beradaptasi karena ia telah memiliki pengalaman pada kehamilan sebelumnya. Paritas ibu yang bersangkutan mempengaruhi morbiditas dan mortalitas ibu dan anak. Risiko terhadap ibu yang pertama hamil cukup tinggi ,akan tetapi risiko ini tidak dapat di hindari. Kemudian risiko itu menurun pada paritas kedua dan ketiga serta meningkat lagi pada paritas keempat dan seterusnya (Sarwono,2009). c. Pekerjaan Pekerjaan adalah suatu yang penting dalam kehidupan dengan bekerja kita bisa memenuhi kebutuhan, namun pada masa kehamilan pekerjaan yang berat dan dapat membahayakan kehamilannya hendaklah dihindari untuk menjaga keselamatan ibu maupun janin. Kejadian ketuban pecah sebelum waktunya dapat disebabkan oleh kelelahan dalam bekerja. Hal ini dapat dijadikan pelajaran bagi ibu-ibu hamil agar selama masa kehamilan hindari/kurangi melakukan pekerjaan yang berat. Pekerjaan adalah kesibukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang
  26. 26. 25 kehidupan dan kehidupan keluarga .pekerjaan bukanlah sumber kesenangan tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan,berulang dan banyak tantangan (Eva Riny, 2009). Bekerja pada umumnya membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak aktivitas yang berlebihan mempengaruhi kehamilan ibu untuk menghadapi proses persalinanya d. Cephalopelvic Disproportion(CPD) Keadaan panggul merupakan faktor penting dalam kelangsungan persalinan, tetapi yang tidak kurang penting ialah hubungan antara kepala janin dengan panggul ibu. Partus lama yang sering kali disertai pecahnya ketuban pada pembukaan kecil, dapat menimbul dehidrasi serta asdosis,dan infeksi intrapartum Pengukuran panggul (pelvimetri) merupakan cara pemeriksaanyang penting untuk mendapat keterangan lebih banyak tentang keadaan panggul (Sarwono,2009). Dalam Obstetri yang terpenting bukan panggul sempit secara anatomis melainkan panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara kepala dan panggul. Kesempitan panggul dibagi sebagai berikut : 1) Kesempitan pintu atas panggul . 2) Kesempitan bidang bawah panggul 3) Kesempitan pintu bawah panggul 4) Kombinasi kesempitan pintu atas pangul, bidang tengah dan pintu bawah panggul.
  27. 27. 25 Pintu atas panggul dianggap sempit apabila conjugata vera kurang dari 10 cm atau kalau diameter transversa kurang dari 12 cm. Conjugatavera dilalui oleh diameter biparietalis yang ± 9½ cm dan kadang-kadang mencapai 10 cm, maka sudah jelas bahwa conjugatavera yang kurang dari 10 cm dapat menimbulkan kesulitan. Kesukaran bertambah lagi kalau kedua ukuran ialah diameter antara posterior maupun diameter transversa sempit. Sebab-sebab yang dapat menimbulkan kelainan panggul dapat dibagi sebagai berikut : 1) Kelainan karena gangguan pertumbuhan a) Panggul sempit seluruh : semua ukuran kecil b) Panggul picak : ukuran muka belakang sempit, ukuran melintang biasa c) Panggul sempit picak : semua ukuran kecil tapi terlebiha ukuran muka belakang d) Panggul corong : pintu atas panggul biasa,pintu bawah panggul sempit. e) Panggul belah : symphyse terbuka 2) Kelainan karena penyakit tulang panggul atau sendi-sendinya a) Panggul rachitis : panggul picak, panggul sempit, seluruha panggul sempit picak dan lain-lain b) Panggul osteomalacci : panggul sempit melintang c) Radang articulatiosacroilliaca : panggul sempit miring 3) Kelainan panggul disebabkan kelainan tulang belakang a) Kyphose didaerah tulang pinggang menyebabkan panggul corong
  28. 28. 25 b) Sciliose didaerah tulang panggung menyebabkan panggul sempit miring. 4) Kelainan panggul disebabkan kelainan aggota bawah Coxitis,luxatio, atrofia. Salah satu anggota menyebabkan panggul sempit miring. 5) fraktura dari tulang panggul yang menjadi penyebab kelainan panggul Pintu bawah panggul dikatakan sempit kalau jarak antara tubera ossis ischii 8 atau kurang kalau jarak ini berkurang dengan sendirinya arcus pubis meruncing maka besarnya arcus pubis dapat dipergunakan untuk menentukan kesempitan pintu bawah panggul. Menurut thomas dustacia dapat terjadi kalau jumlah ukuran antar tuberum dan diameter sagitalis posterior < 15 cm ( normal 11 cm + 7,5 cm = 18,5 cm). Kalau pintu bawah panggul sempit biasanya bidang tengah panggul juga sempit. Kesempitan pintu bawah panggul dapat menyebabkan gangguan putaran paksi. Kesempitan pintu bawah panggul jarang memaksa kita melakukan SC, tetapi dapat diselesaikan dengan forcep dan dengan episiotomyyangcukupluas. e. Hidramnion Hidramnion atau polihidramnion adalah keadaan dimana banyaknya air ketuban melebihi 2000cc. Penambahan air ketuban ini bisa mendariak dalam beberapa hari disebut hidramnion akut, atau secara perlahan-lahan disebut hidramnion kronis. Insidennya berkisar antar 1:62 dan 1:754 persalinan, tetapi bentuk yang menyebabkan gangguan lebih jarang (1:1000 persalinan). Hidramnion yang disertai dengan kelainan konginital, terutama
  29. 29. 25 dari susunan saraf sentral dan traktus gastrointestinal, cukup tinggi. Di samping itu, sering ditemukan pada kehamilan ganda dan beberapa penyakit ibu seperti diabetes mellitus, preeklampsia. Sampai sekarang etiologi hidramnion belum jelas, tetapi diketahui bahwa hidramnion terjadi bila produksi air ketuban bertambah, bila pengaliran air ketuban terganggu atau kedua-duanya. Dicurigai air ketuban dibentuk dari sel-sel amnion. Di samping itu ditambah oleh air seni janin dan cairan otak pada anensefalus. Air ketuban yang dibentuk, secara rutin dikeluarkan dan diganti dengan yang baru. Salah satu cara pengeluaran ialah ditelan oleh janin, diabsorpsi oleh usus kemudian dialirkan ke plasenta untuk akhirnya masuk peredaran darah ibu. Ekskresi air ketuban akan terganggu bila janin tidak bisa menelan seperti pada atresia esophagus atau tumor-tumor plasenta. Hidramnion dapat memungkinkan ketegangan rahim meningkat, sehingga membuat selaput ketuban pecah sebelum waktunya (Piet, 2009). f. Kelainan Letak Malpresentasi janin atau kelainan letak janin dapat membuat ketuban bagian yang terendah langsung menerima tekanan intrauteri yang dominant yaitu letak sungsang dan bokong. Persalinan pada letak sungsang merupakan kontroversi karena komplikasinya tidak dapat diriuga sebelumnya, terutama pada persalinan kepala bayi. Sebab terjadinya letak sungsang adalah terdapat plasenta previa, keadaan janin yang menyebabkan letak sungsang (makrosemia, hidrosefalus, anensefalus), keadaan air ketuban (oligohidramnion, hidramnion), keadaan
  30. 30. 25 kehamilan (kehamilan ganda, kehamilan lebih dari dua), keadaan uterus (uterus arkuatus), keadaan dinding abdomen, keadaan tali pusat (pendek, terdapat lilitan tali pusat pada leher). Kejadian letak lintang tidak terlalu banyak hanya sekitar 0,5% kehamilan. Penyebab letak lintang dari sudut maternal (panggul sempit, multipara, kehamilan ganda, hidramnion/oligohidramnion, tumor pada daerah pelvis). Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan dalam uterus. Pada kehamilan <32 minggu, jumlah air ketuban relative lebih banyak sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa, dan demikian janin dapat menempatkan diri dalam letak sungsang/letak lintang. Pada kehamilan trimester akhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relative berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai yang terlipat lebih besar daripada kepala maka bokong dipaksa untuk menempati ruang yang lebih luas difundus uteri, sedangkan kepala berada dalam ruangan yang lebih kecil disegmen bawah uterus. Letak sungsang dapat memungkinkan ketegangan rahim meningkat, sehingga membuat selaput ketuban pecah sebelum waktunya.(Amalia, 2009) g. Kehamilan Ganda (gamelli) Kehamilan ganda adalah kehamilan dua janin atau lebih. Kehamilan kembar dapat memberikan resiko yang lebih tinggi baik bagi janin maupun ibu. Oleh karena itu, dalam menghadapi kehamilan kembar harus dilakukan
  31. 31. 25 pengawasan hamil yang intensif. Factor resiko ketuban pecah dini pada kembar dua 50% dan kembar tiga 90% (Manuaba,dkk. 2007). Hamil ganda dapat memungkinkan ketegangan rahim meningkat, sehingga membuat selaput ketuban pecah sebelum waktunya (Maria, 2007).Meskipun banyak publikasi tentang ketuban pecah dini (KPD), namun penyebabnya secara langsung masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. h. Persalinan Prematur Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam. Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu. i. Infeksi Risiko infeksi ibu dan anak meningkat pada ketuban pecah dini. Pada ibu terjadi korioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis. Umumnya terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada ketuban pecah dini premature, infeksi lebih sering dari pada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada KPD meningkat sebanding dengan lamanya periode laten. j. Riwayat ketuban pecah dini Riwayat ketuban pecah dini sebelumnya beresiko 2-4 kali mengalami ketuban pecah dini kembali. Patogenesis terjadinya ketuban pecah dini secara
  32. 32. 25 singkat ialah akibat adanya penurunan kandungan kolagen dalam membrane sehingga memicu terjadinya ketuban pecah dini dan ketuban pecah dini preterm terutama pada pasien risiko tinggi. Wanita yang mengalami ketuban pecah dini pada kehamilan atau menjelang persalinan maka pada kehamilan berikutnya wanita yang telah mengalami ketuban pecah dini akan lebih beresiko mengalaminya kembali antara 3-4 kali dari pada wanita yang tidak mengalami ketuban pecah dini sebelumnya, karena komposisi membran yang menjadi mudah rapuh dan kandungan kolagen yang semakin menurun pada kehamilan berikutnya (Piet, 2009). B. Landasan Teori Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda mulai persalinan dan ditunggu satu jam sebelum terjadi inpartu (Manuaba, 2009). Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu, yaitu bila pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm (Sarwono Prawirohardjo, 2009). Umur adalah perhitungan usia yang dimulai dari saat kelahiran seseorang sampai dengan waktu penghitungan usia. Umur individu terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja . Paritas adalah jumlah anak yang memenuhi syarat untuk melangsungkan kehidupan. Paritas menunjukan jumlah kehamilan terdahulu yang telah mencapai batas viabilitas dan telah dilahirkan. Paritas 1 dan paritas lebih dari 4 berisiko. Risiko
  33. 33. 25 pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstertik yang lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat di kurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan. (Manuaba, 2009). Keadaan panggul merupakan faktor penting dalam kelangsungan persalinan, tetapi yang tidak kurang penting ialah hubungan antara kepala janin dengan panggul ibu. Partus lama yang sering kali disertai pecahnya ketuban pada pembukaan kecil, dapat menimbul dehidrasi serta asdosis,dan infeksi intrapartum Pengukuran panggul (pelvimetri) merupakan cara pemeriksaanyang penting untuk mendapat keterangan lebih banyak tentang keadaan panggul (Sarwono,2009). Hidramnion atau polihidramnion adalah keadaan dimana banyaknya air ketuban melebihi 2000cc. Penambahan air ketuban ini bisa mendariak dalam beberapa hari disebut hidramnion akut, atau secara perlahan-lahan disebut hidramnionkronis. Malpresentasi janin atau kelainan letak janin dapat membuat ketuban bagian yang terendah langsung menerima tekanan intrauteri yang dominant yaitu letak sungsang dan bokong. Persalinan pada letak sungsang merupakan kontroversi karena komplikasinya tidak dapat diriuga sebelumnya, terutama pada persalinan kepala bayi. Kehamilan ganda adalah kehamilan dua janin atau lebih. Kehamilan kembar dapat memberikan resiko yang lebih tinggi baik bagi janin maupun ibu. Oleh karena itu, dalam menghadapi kehamilan kembar harus dilakukan pengawasan hamil yang intensif. Factor resiko ketuban pecah dini pada kembar dua 50% dan kembar tiga 90% (Manuaba,dkk. 2010).
  34. 34. 25 Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam. Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu. Risiko infeksi ibu dan anak meningkat pada ketuban pecah dini. Pada ibu terjadi korioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis. Umumnya terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada ketuban pecah dini premature, infeksi lebih sering dari pada aterm.
  35. 35. 25 C. Kerangka Konsep Gambar 1 : Kerangka Konsep Identifikasi Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini di Ruang Delima RSUD Kabupaten Muna Periode Tahun 2011-2012 Umur Paritas CPD Hidramnion Kelainan Letak Gemeli Persalinan Prematur Infeksi Ketuban Pecah Dini
  36. 36. 25 Umur Paritas CPD Hidramnion Kelainan Letak Ketuban Pecah Dini
  37. 37. Gem Persalinan Prematur Infeksi Gambar 1 : Kerangka Konsep Identifikasi Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini di Ruang Delima RSUD Kabupaten Muna Periode Tahun 2011-2012 D. Pertanyaan Penelitian 1. Berapa jumlah presentase kejadian Ketuban Pecah Dini di tinjau dari faktor umur di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011 -2012 ? 2. Berapa jumlah presentase kejadian Ketuban Pecah Dini ditinjau dari factor paritas di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012 ? 3. Berapa jumlah presentase kejadian Ketuban Pecah Dini berdasarkan Cephalo Pelvic Disproportion (CPD) di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012 ?
  38. 38. 4. Berapa jumlah presentase kejadian Ketuban Pecah Dini ditinjau dari faktor hidramnion di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012 ? 5. Berapa jumlah presentase kejadian Ketuban Pecah Dini ditinjau dari kelainan letak di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012 ? 6. Berapa jumlah presentase kejadian Ketuban Pecah Dini ditinjau dari faktor gemeli di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012 ? 7. Berapa jumlah presentase kejadian Ketuban Pecah Dini ditinjau dari persalinan premature di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012 ? 8. Berapa jumlah presentase kejadian Ketuban Pecah Dini ditinjau dari factor infeksi di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode tahun 2011-2012 ?
  39. 39. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dimana desain ini di maksudkan untuk menggambarkan, mengidentifikasi, mendeskripsikan atau menguraikan suatu keadaan dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. B. Subjek Penelitian 1. Populasi
  40. 40. Populasi dalam penelitian adalah semua ibu yang bersalin yang mengalami ketuban pecah dini di Ruang Delima RSUD Kabupaten Muna pada Tahun 2011- 2012 sebanyak 24 kasus. 2. Cara Pengambilan Sampel Cara pengambilan sampel pada penelitian ini adalah TotalSampling. C. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Watu Penelitian Penelitian ini di laksanakan pada bulan September 2013. 2. Penelitian ini di laksanakan di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna. D. Identifikasi Variabel Penelitian 1. Variabel bebas : factor ibu (umur, paritas, pekerjaan) factor kehamilan (Cephalo Pelvic Disproportion (CPD), hidramnion, gemeli,) dan factor lain (persalinan premature, infeksi) 2. Variabel terikat : Ketuban Pecah Dini E. Definisi Operasional Defenisi operasional adalah pembatasan ruang lingkup variable-variabel yang diteliti dengan mendefinisikannya sesuai dengan ruang lingkup penelitian. Tabel 1
  41. 41. VARIABEL DAN DEFENISI OPERASIONAL No Variabel Defenisi Operasional Alat ukur 1. Dependen : Ketuban Pecah Dini 2. Independen : Faktor ibu a. Umur b. Paritas 3. Faktor Kehamilan a. CPD (Panggul Sempit) b. Hidramnion c. Kelainan Letak Pecahnya selaput ketuban sebelum proses persalinan dimulai, yang di diagnosa KPD dan tertulis dalam register Usia ibu <20 tahun atau >35 tahun yang dihitung mulai tahun sejak ia lahir sampai berulang tahun terakhir yang tercatat didalam buku register Kelahiran anak yang ke-1 atau >4 yang dialami oleh ibu dan tercatat didalam buku register Status cephalo pelvic disproporsi (CPD) yang dimiliki oleh ibu bersalin dengan ketuban pecah d yang di diagnosa dan tercatat dalam buku register Keadaan dimana jumlah cairan amnion dalam kehamilan ibu >2000 cc dan tercatat didalam buku register Kelainan letak janin dapat membuka ketuban bagian yang terendah langsung menerima tekanan intrauterin yang dominan yaitu letak sungsang dan bokong yang d idiagnosa dan tercatat dalam buku register Daftar checklist Daftar checklist Daftar checklist Dftar checklist Daftar checklist Daftar checklist d. Gemeli Kehamilan dengan dua janin atau lebih dan tercatat dalam buku register Daftar checklist 4. Faktor Lain : a.Persalinan Prematur b. Infeksi Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan yang di diagnosa dan tercatat dalam buku register Risiko infeksi ibu dan anak meningkat pada ketuban pecah dini yang di diagnosa dan tercatat dalam buku register Daftar checklist Daftar checklist F. Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini, yang akan dipakai adalah daftar checklist yang datanya didapatkan berdasarkan data yang ada di dalam buku register pasien di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna.
  42. 42. G. Cara Analisis Data 1. Pengolahan Data Data akan diolah secara manual dan juga elektronik dengan menggunakan kalkulator dan juga komputerisasi yang nantinya akan disajikan dalam bentuk tabel dan distribusi frekuensi. 2. Analisis Data Pengolahan data dilakukan dengan sistem manual menggunakan kalkulator dan komputerisasi, dengan menggunakan rumus : = Dimana : = Persentase f = Frekuensi n = Jumlah Responden Setelah dianalisis, data akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan grafik. H. Jalannya Penelitian Penelitian yang dilakukan ini telah menjalani beberapa tahapan, yaitu : 1. Tahapan Persiapan Pelaksanaan penelitian ini di mulai dengan persiapan serta pengurusan surat izin penelitian dari institusi pendidikan yang berupa surat pengantar untuk di serahkan kepada Kepala Kesbang dan dibuatkan tembusannya kepada tempat penelitian yang dimaksud yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna.
  43. 43. 2. Tahap Pengumpulan Data Pelaksanaannya dilakukan dengan mencatat semua jumlah populasi dari dalam buku register untuk kemudian ditarik sampel dengan tekhnik penarikan total sampling. 3. Tahap Pengumpulan Data Data yang telah dikumpulkan, kemudian di olah secara manual, lalu di masukkan ke dalam master tabel dan di sajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi serta grafik. 4. Tahap Penulisan Laporan Pada tahap ini hasil penelitian dibuat dalam bentuk laporan sebagai proses akhir penulisan Karya Tulis Ini. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian a. Letak Geografis Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna berdiri diatas lahan seluas 10.740 Ha. Terletak di ibukota kabupaten tepatnya di jalan Sultan Syahrir Kelurahan Laende Kecamatan Katobu. Lokasi rumah sakit ini tergolong mudah untuk diakses dengan kendaraan umum dan memiliki batas wilayah sebagai berikut :
  44. 44. anda 1) Sebelah utara : Jl. Basuki Rahmat 2) Sebelah Timur : Jl. Sultan Hasanudin 3) Sebelah selatan : Jl. Laode Pandu 4) Sebelah Barat : Jl. Ir. Juanda b. Sejarah Singkat Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna didirikan pada masa penjajahan Belanda oleh mantri yang berkebangsaan Belanda. Pada saat itu mantri berkebangsaan Belanda hanya dibantu oleh seorang asistennya dan dua orang perawat. Setelah 11 tahun berlalu mantri tersebut pulang kembali ke negerinya dan tepat pada tahun 1928 beliau diganti oleh seorang dokter dari jawa yang bernama dokter Soeparjo. Masyarakat muna mengenal dokter Soeparjo dengan sebutan dokter jawa. Beliau tamatan dari sekolah belanda yaitu Nederlandhes In Launshe Aonzen School (NIAS). Masa kepemimpinan dokter Soeparjo hanya berlangsung selama tujuh tahun, kemudian beliau digantikan oleh dokter berkebangsaan Bel 32 bernama dokter Hyaman. Selang 5 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1940 seorang dokter asal China bernama dokter Pang Ing Ciang menggantikan kepemimpinan dokter Hyaman. Pada masa kepemimpinan dokter Pang Ing Ciang sangat disukai oleh masyarakat Muna sebab beliau sangat memperhatikan kesehatan masyarakat Muna pada saat itu. Pada tahun 1949, saat peralihan pemerintahan Belanda ke pemerintahan Republik Indonesia masa pemerintahan dokter Pang Ing Cian berakhir dan beliau diganti oleh dokter berkebangsaan Belanda bernama
  45. 45. dokter Post. Dokter Post mempunyai dua orang asisten sehingga sebagian besar pekerjaannya diserahkan pada kedua asistennya. Namun kepemimpinan dokter Post tidak berlangsung lama, beliau hanya satu tahun lamanya. Pada tahun 1950 dokter Post digantikan oleh dokter Lemens yang berasal dari Belgia. Dokter Lemens memimpin selama 10 tahun yakni pada tahun 1950 sampai dengan tahun 1960. Pada tahun 1965 dilakukan rehabilitasi yang di prakarsai oleh Bupati Muna Laode Rasyid, SH. Ini merupakan rehabilitasi pertama selama Rumah sakit tersebut didirikan tahun 1965-1970. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna dipimpin oleh dokter Ibrahim Ahtar Nasution. Masa kepemimpinannya berlangsung selama 3 tahun dan sejak itu periode masa kepemimpinan Rumah Sakit Umum Kabupaten Muna ditetapkan setiap 3 tahun sekali memimpin. Saat ini Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna dijadikan sebagai salah satu rumah sakit yang merupakan lahan praktek dan kajian ilmiah bagi mahasiswa Akademi Keperawatan Kabupaten Muna dan Mahasiswa Akademi Kebidanan Paramata Kabupaten Muna. Periode kepemimpinan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna: 1).Tahun 1917 – 1928 : Mantri berkebangsaan Belanda 2).Tahun 1928 – 1935 : dr.Soeparjo 3).Tahun 1935 – 1940 : dr.Pang Ing Ciang 4).Tahun 1949 – 1950 : dr.Post : Kepala Rumah Sakit Schotanus : Asisten I Malaha : Asisten II
  46. 46. 5).Tahun 1950 – 1960 : dr.Lemens 6).Tahun 1967 – 1970 : dr.Ibrahim Ahtar Nasution 7).Tahun 1970 – 1973 : dr.Suardi 8).Tahun 1973 – 1976 : dr.Cecep Tisna Sukarna 9).Tahun 1976 – 1979 : dr.Soraya Suradinata 10).Tahun 1979 – 1982 : dr.Sewang Aburaerah 11).Tahun 1985 – 1988 : dr.Made Sarmadi 12).Tahun 1988 – 1991 : dr.Zamrud 13).Tahun 1991 – 1994 : dr.La Ode Bariun 14).Tahun 1994 – 1997 : dr.Triyanto S Bialangi 15).Tahun 2001 – 2005 : dr.La Ode Munandar Hibi 16).Tahun 2005 : dr.Wa Ode Aswati 17).Tahun 2005 – 2010 : Hasdiman Maani, SKM.,M.Kes 18).Tahun 2011 : dr.L.M.Tamzila,SpoG.,M.Kes 19).Tahun 2011 – 2012 : dr.Wa Ode Aswati 20). Tahun 2013 : dr.Tutut Purwanto c. Tugas Pokok dan Fungsi Rumah Sakit Tugas pokok dan fungsi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna mengacu pada Perda No. 18 Tahun 1999 tentang susunan Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Daerah adalah melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakn penyembuhan , pemulihan yang dilaksanakan secara serasi terpadu dengan upaya meningkatkan serta pencegahan dan melaksanakan upaya rujukan.
  47. 47. Upaya melaksanakan tugas pokok sebagaimana tersebut diatas Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna mempunyai fungsi yakni: 1). Menyelenggarakan Pelayanan Medik 2). Menyelenggarakan Pelayanan Penunjang Medis 3).Menyelenggarakan Pelayanan dan Asuhan Keperawatan 4).Menyelenggarakan Pelayanan Rujukan 5). Menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan 6). Menyelenggarakan Penelitian dan Pengembangan 7). Menyelenggarakan Administrasi Umum dan Keuangan d. Visi dan Misi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna 1). Visi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna a). Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna menjadi pusat rujukan pelayanan kesehatan di Kabupaten. b). Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna menjadi Rumah Sakit Kabupaten terbaik di Sulawesi Tenggara. 2). Misi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna a).Memberikan pelayanan kesehatan yang prima dan profesional kepada semua lapisan masyarakat. b).Menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa rujukan merupakan hal yang penting dalam pelayanan kesehatan dengan terpenuhinya empat keahlian dasar c).Meningkatkan sarana dan prasarana Rumah Sakit
  48. 48. d).Melaksanakan pencatatan dan pelaporan yang tertib dan tepat waktu untuk semua aktivitas pelayanan dan pelayanan lain yang terkait dalam pelayanan kesehatan di lingkungan Rumah Sakit. e. Tujuan dan Strategi Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna 1). Mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, terjangkau, efektif, dan efesien yang berorientasi pada sosial dan ekonomi pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna harus bermutu serta yang dapat di jangkau oleh seluruh lapisan masyarakat dengan status ekonomi menengah keatas tanpa mengabaikan fungsi sosial dalam memberikan pelayanan kepada keluarga miskin. Dalam memberikan pelayanan tersebut harus senantiasa diperhatikan. 2). Mewujudkan Rumah Sakit yang aman, tertib, bersih, dan nyaman 3). Meningkatkan sarana dan prasarana penunjang pelayanan Rumah Sakit. f. Lingkungan Fisik Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Propinsi Sulawesi Tenggara berdiri diatas lahan seluas 10.740 Ha. g. Fasilitas pelayanan kesehatan Fasilitas/sarana pelayanan kesehatan yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Propinsi Sulawesi tenggara adalah : 1) Pelayanan kesehatan rawat jalan yakni poliklinik penyakit dalam, poliklinik umum,poli klinik kebidanan dan penyakit kandungan, poli
  49. 49. klinik gigi dan mulut, poli klinik bedah, poli klinik anak,poli klinik saraf, poli klinik dalam, instalasi rehabilitasi medik, dan instalasi gawat darurat. 2) Pelayanan kesehatan rawat inap yakni kebidanan dan kandungan, perawatan bayi/perinatologi dan perawatan umum. 3) Pelayanan medik yakni fisioterapi, rontgen, apotek, laboratorium klinik dan instalasi gizi. h..Ketenagaan Tabel 2 : Jumlah Ketenagaan Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Tahun 2013 No Jenis Ketenagaan Jumlah tenaga 1. Dokter Spesialis Obgyn 2 orang 2. Dokter Spesialis Penyakit Dalam 1 orang 4 Dokter Gigi 1 orang 5 Dokter Umum 5 orang 6 Dokter ahli saraf 1 orang 7 Sarjana Keperawatan 12 orang
  50. 50. 8 DIII Keperawatan 151 orang 9 DI dan SPK Perawat 2 orang 10 DIV Kebidanan 3 orang 11 DIII Kebidanan 21 orang 12 Apoteker/SI Farmasi 21 orang 13 DIII Farmasi 10 orang 14 Asisten Apoteker 4 orang 15 SII KesMas 3 orang 16 SI KesMas 27 orang 17 DIII KesLing 6 orang 18 DIV Gizi 4 orang 19 DIII Gizi 13 orang 20 DIII Laboratorium 11 orang 21 DI Transfusi darah 2 orang 22 SMAK/Analisis Laboratorium 1 orang 23 DIII Perawat Gigi 2 orang 24 DIII Rontgen 3 orang 25 DIII Fisioterapi 5 orang 26 DIII Elektromedik 3 orang 27 DIII Perakam Medik 7 orang Total Tenaga 320 orang 2. Hasil Penelitian
  51. 51. Berdasarkan data yang sudah diperoleh dari buku register kemudian diolah dengan cara manual dengan menggunakan kalkulator, selanjutnya hasil pengolahan data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Adapun hasil pengolahan data tersebut diuraikan sebagai berikut: Tabel 2. KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN UMUR IBU DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN MUNA TAHU1 2011-2012 Umur Ibu n % ˂20 tahun dan >35 tahun 8 33,3 20-35 tahun 16 66,7 Jumlah 24 100 Tabel 2 menunjukkan bahwa karakteristik responden berdasarkan umur ibu <20 tahun dan >30 tahun ada 8 orang (33,3%) dan umur ibu yang ada di rentang 20-35 tahun ada 16 orang (66,7%). Tabel 3. KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN PARITAS IBU DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN MUNA TAHUN 2011- 2012 Paritas n % Beresiko 5 Tidak beresiko 19 20,9 79,1 Jumlah 24 100 Tabel 3 menunjukkan karakteristik responden berdasarkan paritas ibu yang berisiko yaitu sebanyak 5 orang ibu (20,9) dan yang tidak berisiko sebanyak 19 orang ibu (79,1).
  52. 52. Tabel 4. DISTRIBUSI FREKUENSI KEJADIAN KETUBAN PECAH DINI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN MUNATAHUN 2011-2012 Faktor-faktor yang berhubungan KPD % 1 2 3 4 5 6 7 8 Faktor ibu Umur 8 33,4 5 3 2 1 Paritas 5 20,8 5 2 Faktor Panggul sempit (CPD) 5 20,8 3 1 Kehamilan Hidramnion 2 8,3 2 2 Kelainan letak 0 0 Gemelli 0 0 Faktor lain Persalinan premature 4 16,7 1 Infeksi 0 Total 24 100 Sumber:BukuRegisterKebidananRSUDKab.MunaTahun2011-2012 Ket: (1): terjadi bersamaan dengan faktor umur ibu (2): terjadi bersamaan dengan faktor paritas ibu (3): terjadi bersamaan dengan Panggul sempit (CPD) (4): terjadi bersamaan dengan Hidramnion (5): terjadi bersamaan dengan Kelainan letak (6): terjadi bersamaan dengan gemeli (7): terjadi bersamaan dengan Persalinan Prematur (8): terjadi bersamaan dengan infeksi
  53. 53. Tabel 4 memperlihatkan bahwa dari 24 ibu dengan kasus ketuban pecah dini berdasarkan faktor ibu yaitu umur ibu seluruhnya ada 19 ibu dengan kasus ketuban pecah dini dimana yang di latar belakangi oleh umur ibu saja ada 8 ibu (33,4%), sedangkan yang di latar belakangi oleh umur ibu dan parita ada 5 ibu, umur ibu dan panggul sempit ada 3 ibu, umur ibu dan hidramnion ada 2 ibu serta umur ibu dan persalinan prematur ada 1 ibu. Sedangkan untuk paritas ibu seluruhnya ada 12 ibu dengan kasus ketuban pecah dini dimana yang di latar belakangi oleh paritas ibu saja ada 5 ibu (20,8%), sedangkan yang di latar belakangi oleh paritas ibu dan umur ibu ada 5 ibu, serta paritas ibu dan panggul sempit ada 2 ibu. Berdasarkan faktor kehamilan yaitu Panggul sempit seluruhnya 9 ibu dengan kasus ketuban pecah dini dimana yang di latar belakangi oleh panggul sempit saja ada 5 ibu (20,8%), sedangkan yang di latar belakangi oleh panggul sempit dan umur ibu ada 3 ibu, serta panggul sempit dan persalinan prematur ada 1 ibu. Untuk faktor kehamilan yang lain yaitu hidramnion seluruhnya 6 ibu dengan kasus ketuban pecah dini dimana yang di latar belakangi oleh hidramnion saja ada 2 ibu (8,3%), sedangkan yang di latar belakangi oleh hidramnion dan umur ibu 2 ibu, hidramnion dan paritas ibu ada 2 ibu. Kelainan letak tidak ada (0%), dan gemelli tidak ada (0%). Berdasarkan faktor lain yaitu persalinan prematur seluruhnya 5 ibu dengan kasus ketuban pecah dini dimana yang di latar belakangi oleh persalinan prematur saja ada 4 ibu (16,7%), sedangkan yang di latar belakangi oleh persalinan
  54. 54. prematur dan umur ibu ada 1 ibu. Dan untuk faktor lain dengan Infeksi tidak ada (0%). 3. Grafik Hasil Penelitian Gambar 2. Grafik Hasil Penelitian B. Pembahasan 1. Faktor Ibu a. Umur ibu Umur adalah perhitungan usia yang dimulai dari saat kelahiran seseorang sampai dengan waktu penghitungan usia. Umur individu terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja (Nursalam 2001:133). Umur adalah lama waktu hidup atau ada
  55. 55. sejak dilahirkan atau diadakan (Purwodarminto, 2008). Penyebab kematian maternal dari faktor reproduksi diantaranya adalah maternal age/usia ibu. Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untukkehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2 sampai 5 kali lebih tinggi daripada kematianmaternal yang terjadi pada usia 20 sampai 29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30 sampai 35 tahun (Sarwono, 2008). Usia seorang wanita pada saat hamil sebaiknya tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Umur yang kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, berisiko tinggi untuk melahirkan.Kesiapan seorang perempuan untuk hamil harus siap fisik, emosi,psikologi, sosial dan ekonomi (Ruswana, 2006). Berdasarkan hasil dari analisis univariat pada tabel 4 menunjukkan bahwa dari 24 ibu dengan kasus ketuban pecah dini berdasarkan faktor ibu yaitu umur ibu seluruhnya ada 19 ibu dengan kasus ketuban pecah dini dimana yang di latar belakangi oleh umur ibu saja ada 8 ibu (33,4%), sedangkan yang di latar belakangi oleh umur ibu dan parita ada 5 ibu, umur ibu dan panggul sempit ada 3 ibu, umur ibu dan hidramnion ada 2 ibu serta umur ibu dan persalinan prematur ada 1 ibu. b. Paritas Paritas adalah jumlah anak yang memenuhi syarat untuk melangsungkan kehidupan. Paritas menunjukan jumlah kehamilan terdahulu
  56. 56. yang telah mencapai batas viabilitas dan telah dilahirkan.Paritas 1 dan paritas lebih dari 4 berisiko.Risiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstertik yang lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat di kurangi atau dicegah dengan keluarga berencana.Sebagian kehamilan pada paritasTinggi adalah tidak di rencanakan.(Manuaba. 2008). Berdasarkan hasil dari analisis univariat pada tabel 4 menunjukkanbahwa dari 24 ibu dengan kasus ketuban pecah dini berdasarkan faktor ibu yaitu untuk paritas ibu seluruhnya ada 12 ibu dengan kasus ketuban pecah dini dimana yang di latar belakangi oleh paritas ibu saja ada 5 ibu (20,8%), sedangkan yang di latar belakangi oleh paritas ibu dan umur ibu ada 5 ibu, serta paritas ibu dan panggul sempit ada 2 ibu. 2. Faktor Kehamilan a. CPD Keadaan panggul merupakan faktor penting dalam kelangsungan persalinan, tetapi yang tidak kurang penting ialah hubungan antara kepala janin dengan panggul ibu. CPD yang sering kali disertai pecahnya ketuban pada pembukaan kecil, dapat menimbul dehidrasi serta asdosis,dan infeksi intrapartum Pengukuran panggul (pelvimetri) merupakan cara pemeriksaanyang penting untuk mendapat keterangan lebih banyak tentang keadaan panggul (Sarwono,2006). Dalam Obstetri yang terpenting bukan panggul sempit secara anatomis melainkan panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara kepala dan panggul.
  57. 57. Berdasarkan hasil dari analisis univariat pada tabel 4 menunjukkanbahwa dari 24 ibu dengan kasus ketuban pecah dini berdasarkan faktor kehamilan yaitu Panggul sempit seluruhnya 9 ibu dengan kasus ketuban pecah dini dimana yang di latar belakangi oleh panggul sempit saja ada 5 ibu (20,8%), sedangkan yang di latar belakangi oleh panggul sempit dan umur ibu ada 3 ibu, serta panggul sempit dan persalinan prematur ada 1 ibu. Sejalan dengan teori bahwa Pintu atas panggul dianggap sempit apabila conjugata vera kurang dari 10 cm atau kalau diameter transversa kurang dari 12 cm. Conjugata vera dilalui oleh diameter biparietalis yang ± 91/2 cm dan kadang-kadang mencapai 10 cm, maka sudah jelas bahwa conjugata vera yang kurang dari 10 cm dapat menimbulkan kesulitan. Kesukaran bertambah lagikalau kedua ukuran ialah diameter antara posterior maupun diameter transversa sempit. b. Hidramnion Hidramnion atau polihidramnion adalah keadaan dimana banyaknya air ketuban melebihi 2000cc. Penambahan air ketuban ini bisa mendariak dalam beberapa hari disebut hidramnion akut, atau secara perlahan-lahan disebut hidramnion kronis.Insidennya berkisar antar 1:62 dan 1:754 persalinan, tetapi bentuk yang menyebabkan gangguan lebih jarang (1:1000 persalinan).Hidramnion yang disertai dengan kelainan konginital, terutama dari susunan saraf sentral dan traktus gastrointestinal, cukup tinggi. Ekskresi air ketuban akan terganggu bila janin tidak bisa menelan seperti pada atresia esophagus atau tumor-tumor plasenta (Rachimhanihi,
  58. 58. Trijatmo, 2005). Hidramnion dapat memungkinkan ketegangan rahim meningkat, sehingga membuat selaput ketuban pecah sebelum waktunya (Maria, 2007). Berdasarkan hasil dari analisis univariat pada tabel 4 menunjukkan bahwa dari 24 ibu dengan kasus ketuban pecah dini berdasarkan faktor kehamilan yaitu hidramnion Untuk hidramnion seluruhnya 6 ibu dengan kasus ketuban pecah dini dimana yang di latar belakangi oleh hidramnion saja ada 2 ibu (8,3%), sedangkan yang di latar belakangi oleh hidramnion dan umur ibu 2 ibu, hidramnion dan paritas ibu ada 2 ibu. c. Kelainan Letak Malpresentasi janin atau kelainan letak janin dapat membuat ketuban bagian yang terendah langsung menerima tekanan intrauteri yang dominan yaitu letak sungsang dan bokong. Persalinan pada letak sungsang merupakan kontroversi karena komplikasinya tidak dapat diduga sebelumnya, terutamapada persalinan kepala bayi. Berdasarkan hasil dari analisis univariat pada tabel 4 menunjukkan bahwa dari 24 ibu dengan kasus ketuban pecah dini berdasarkan factor kehamilan yaitu kelainan letak, tidak ada satupun (0%) ibu yang mengalami kelainan letak selama kehamilannya. d. Gemeli Kehamilan kembar ialah suatu kehamilan dengan dua janin atau lebih. Berat badan janin pada kehamilan kembar lebih ringan daripada janin pada kehamilan tunggal pada umur kehamilan yang sama. Sampai kehamilan 30
  59. 59. minggu kenaikan berat badan janin kembar sama dengan janin kehamilan tunggal. Setelah itu, kenaikan badan lebih kecil di karenakan regangan berlebihan yang menyebabkan peredaran darah plasenta berkurang.Berat badan satu janin pada kehamilan kembar rata-rata 1000 gram lebih ringan daripada janin kehamilan tunggal (R.D. Pudiastuti, 2011). Berdasarkan hasil dari analisis univariat pada tabel 4 menunjukkan bahwa dari 24 ibu dengan kasus ketuban pecah dini berdasarkan factor kehamilan yaitu gemeli, tidak ada satupun (0%) ibu yang mengalami gemeliselama kehamilannya. Hamil ganda dapat memungkinkan ketegangan rahim meningkat, sehingga membuat selaput ketuban pecah sebelum waktunya (Maria, 2007). Meskipun banyak publikasi tentang ketuban pecah dini (KPD), namun penyebabnya secara langsung masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. 3. Faktor Lain a. Persalinan Prematur Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam. Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.
  60. 60. Berdasarkan hasil dari analisis univariat pada tabel 4 menunjukan bahwa dari 24 ibu dengan kasus ketuban pecah dini berdasarkan faktor lain yaitu persalinan prematur seluruhnya 5 ibu dengan kasus ketuban pecah dini dimana yang di latar belakangi oleh persalinan prematur saja ada 4 ibu (16,7%), sedangkan yang di latar belakangi oleh persalinan prematur dan umur ibu ada 1 ibu. b. Infeksi Risiko infeksi ibu dan anak meningkat pada ketuban pecah dini. Pada ibu terjadi korioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis. Umumnya terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada ketuban pecah dini prematur, inifeksi lebih sering dari pada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada KPD meningkat sebanding dengan lamanya periode laten. Berdasarkan hasil dari analisis univariat pada tabel 4 menunjukkan bahwa dari 24 ibu dengan kasus ketuban pecah dini berdasarkan faktor lain yaitu infeksi, tidak ada satupun (0%) ibu yang mengalami infeksi. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap Identikasi Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini di Ruang Delima Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Periode Tahun 2011-2012, maka dapat disimpulkan :
  61. 61. 1. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa dari 24 responden, 8 responden (33,4%) yang mengalami ketuban pecah dini karena faktor umur. 2. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa dari 24 responden, 5 responden (20,8%) yang mengalami ketuban pecah dini karena faktor paritas. 3. Dari hasil penelitian di peroleh bahwa dari 24 responden, 5 responden (20,8%) yang mengalami ketuban pecah dini karena faktor CPD. 4. Dari hasil penelitian di peroleh bahwa dari 24 responden, 2 responden (8,3%) yang mengalami ketuban pecah dini karena faktor hidramnion. 5. Dari hasil penelitian di peroleh bahwa dari 24 responden, 0 responden (0%) yang mengalami ketuban pecah dini karena faktor KPD. 6. Dari hasil penelitian di peroleh bahwa dari 24 responden, 0 responden (0%) yang mengalami ketuban pecah dini karena faktor gemeli. 7. Dari hasil penelitian di peroleh bahwa dari 24 responden, 4 responden (16,7%) yang mengalami ketuban pecah dini karena faktor persalinan premature. 8. Dari hasil penelitian di peroleh bahwa dari 24 responden, 0 responden (0%) yang mengalami ketuban pecah dini karena faktor infeksi ibu. B. Saran Berdasarakan hasil dan pembahasan, kesimpulan, peneliti dapat menyarankan : 1. Bagi Dinas Kesehatan, agar dapat merencanakan tentang persiapan kehamilan pada ibu-ibu yang ingin hamil guna mencegah terjadinya factor penyebab semakin meningkat.
  62. 62. 2. Bagi pihak Puskesmas di Daerah Kabupaten Muna, sebaiknya melakukan penyuluhan ibu-ibu hamil tentang factor-faktor yang menyebabkan KPD (Ketuban Pecah Dini) serta akibat yang dapat ditimbulkan. 3. Bagi pihak institusi agar kedepannya bisa memberi kesempatan memberikan kesempatan kepada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian ini menjadi penelitian kohort. DAFTAR PUSTAKA Anonim. (2011) Waspadai TORCH Saat Kehamilan. Available at http://www.forumsains.com, di akses tanggal 22 Mei 2013.
  63. 63. . (2012) Angka Kejadian ketuban pecah dini di Indonesia dan Dunia. Available at http://prematurenicu.wordpress.com, di akses tanggal 22 Mei 2013. . (2013) ketuban pecah dini. Available at http://www.ibudanbalita.net, di akses tanggal 26 April 2013. Abdul Bari Saifudin dkk. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Anink Maryanani. 2010. Bilogi Reproduksi Dalam Kebidanan. Jakarta: Trans Info Media. Amalia, Lila. 2009. Ketuban Pecah Dini. http://www.scribd.com (diakses 20 April 2013). Bibilung. 2008. Ketuban Pecah Dini. http://wordpress.com. (di akses tanggal 2 April 2013). Evariny, A. 2009. Ketuban Pecah Terlalu Dini. http://www.hypno-birthing.web.id (di akses 15 Maret). Frasher, Diane M dan Margaret A. 2009. Myles Buku Ajar Bidan Edisi 14. Jakarta: EGC. Helen Varney, dkk.2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta.: EGC. Kakashi, Reza. 2009. Ketuban Pecah Dini. http://ceriwis.us.co.id. (di akses 15 Maret) Manuaba IBG, dkk. 2007. PengantarKuliahObstetri. Jakarta: EGC. Piet. 2009. Vitamin C Mencegah Ketuban Pecah Dini. http://mymind- piet.blogspot.com.
  64. 64. Prawirohardjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Wahyudi, S.B. 2010. Jika Ketuban Pecah Dini. http:// ayahbunda.co.id (diakses 20 April 2013). Master Tabel IDENTIFIKASI FAKTOR PENYEBAB KETUBAN PECAH DINI DI RUANG DELIMA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN MUNA PERIODE 2011-2012
  65. 65. No Nama Responden Faktor Ibu Faktor Kehamilan Faktor Lain Umur Paritas Pekerjaan CPD Hidramnion Kelainan Letak Gemeli Persalinan Prematur Infeksi 1 Ny. EL √ - - √ - - - √ - 2 Ny. AG √ √ √ - √ - - - - 3 Ny. WD - - - √ - - - - - 4 Ny. SU √ √ - - √ - - - - 5 Ny. RO - - √ - - - - √ - 6 Ny. RA - - - - - - - √ - 7 Ny. SA √ √ - - - - - - - 8 Ny. SU - - √ - - - - - - 9 Ny. WO - - - √ - - - - - 10 Ny. WE - - √ - - - - - - 11 Ny. SD - - - - - - - - - 12 Ny. DM - - - - - - - √ - 13 Ny. DI - - - - - - - - - 14 Ny. SR - - - - - - - - - 15 Ny. DA - - - - - - - - - 16 Ny. AI - - - - - - - - - 17 Ny. HA - - - - - - - - - 18 Ny. HN √ - - √ - - - - - 19 Ny. KH - - - - - - - - - 20 Ny. SJ - - - - - - - - - 21 Ny. MO - - √ - - - - - - 22 Ny. JS √ √ √ - - - - - - 23 Ny. SL √ - - √ - - - - - 24 Ny. SR √ √ - - - - - - - Sumber:BukuRegisterKebidananRSUDKabupatenMunaTahun2011-2012

×