Eddy sihrun

515 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
515
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
3
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Eddy sihrun

  1. 1. Karya Tulis Ilmiah GAMBARAN KASUS KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU DI BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD Diajukan kepada DOSEN BAHASA INDONESIA OLEH DIAN SYUHARNI ANDRIANI DJIKI 11.11.901 AKADEMI KEPERAWATAN PROPINSI SULAWESI TENGGARA 2011/ 2012
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menyikat gigi harus dilakukan dengan baik dan benar agar debris atau sisa makanan benar-benar dapat dihilangkan dari permukaan gigi. Debris ini jika tidak dibersihkan akan menimbulkan berbagai masalah, antara lain karang gigi, gigi berlubang, bau mulut dan sebagainya. Cara menyikat gigi yang baik dan benar yaitu dilakukan secara tekun, teliti dan teratur. Tekun artinya sikat gigi dilakukan dengan giat dan sungguh-sungguh, teliti artinya sikat gigi dilakukan pada seluruh permukaan gigi dan teratur dilakukan minimal dua kali sehari. Waktu yang paling tepat untuk menyikat gigi adalah setiap selesai sarapan dan sebelum tidur malam (Ircham, 1995) Kelompok anak-anak pada umumnya belum dapat menyikat gigi dengan baik dan efektif karena menyikat gigi itu tidak mudah terutama pada makanan yang lengket, serta sisa makanan yang berada pada permukaan gigi yang sulit dijangkau dengan sikat gigi (Ircham, 1995).Untuk itulah peran orang tua dalam membimbing dan mendisiplinkan anak untuk melatih pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan menyikat gigi secara baik dan benar pada anakanak sangat diperlukan agar sisa makanan yang tertinggal dipermukaan gigi yang sulit dijangkau dengan sikat gigi bisa dibersihkan. Orang tua berperan dalam dalam pengembangan kualitas pribadi anak, melalui caracaranya mengasuh dan mendidik anak. Cara-cara ortang tua mengasuh anak meliputi sejauh mana orang tua menjadikan dirinya sebagai pantauan anak, hubungan kognitif dan afektif antara orang tua dan anak ,cara mengajar anak serta cara mendisiplinkan anak (Kudwiratri,1998).Termasuk didalammya peran orang tua dalam membimbing dan mendisiplinkan anak untuk melatih pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan menyikat gigi secara baik dan benar. Karena pada umumnya kebiasaan anak dalam menyikat gigi hanyalah bertujuan untuk menyegarkan mulut saja,bukan karena mengerti bahwa hal tersebut baik untuk kesehatan gigi dan mulutnya,sehingga anak cenderung menyikat gigi dengan semaunya sendiri (Tomasowa,1981).Padahal tujuan menyikat gigi adalah mengghilangkan dan mengganggu pembentukan plak serta membersihkan gigi dari sisa makanan ataupun debris,yang mana plak dan sisa makanan yang tertinggal dalam gigi merupakan faktor terjadinya lubang gigi (Niken,2005).Untuk itulah peran orang tua sangat diperlukan dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut anak-anaknya agar tercapai kesehatan gigi dan mulut yang optimal. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang maka disusun suatu permasalahan masalah yaitu “Apakah ada perbedaan debris indeks antara menyikat gigi secara mandiri dengan menyikat gigi dibantu orang tua pada murid TK?” 1.3. Tujuan Penelitian 1.Tujuan Umum Untuk mengetahui perbedaan debris indeks antara menyikat gigi secara mandiri dengan menyikat di bantu orang tua pada murid TK 2.Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui nilai debris sesudah menyikat gigi secara mandiri murid TK
  3. 3. b. Untuk mengetahui nilai debris sesudah menyikat gigi dibantu orang tua pada murid Tk BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Pengertian menyikat gigi Menurut Tomasowa (1981) menyikat gigi adalah menghilangkan plak dari permukaan gigi yang tujuannya untuk mencegah penumpukan plak. Menyikat gigi adalah cara yang umum dianjurkan untuk membersihkan deposit lunak pada permukaan gigi dan gusi sehingga penumpukan plak dapat dihindari (Niken,2005). b.Waktu menyikat gigi. Maulani (2005), berpendapat bahwa menyikat gigi minimal sehari cukup dua kali sehari, yaitu 30 menit setelah makan pagi dan malam hari sebelum tidur. Niken (cit. Weidjen dkk, 1993) telah menstandarisasikan lama waktu menyikat gigi yang efektif adalah dua menit.Selain menggunakan lama waktu menyikat gigi, maka untuk efektivitas menyikat gigi ada anjuran untuk menggosok gigi pada tiap-tiap bagian sebanyak 5 sampai 10 gosokan (Niken cit. Yankel dan Saxen,2005). 2.2.Debris Debris adalah sisa makanan yang tertinggal di dalam mulut pada permukaan dan diatas gigi geligi serta gingiva setelah makan yang tidak segera dibersihkan. Debris mudah dilepaskan oleh gerakan lidah, bibir serta pipi atau berkumur-kumur. Partikel-partikel makanan yang tertekan didaerah interdental, oklusal didaerah cervikal gigi sukar dibersihkan dan merupakan makanan bagi kuman sehingga perlu dibersihkan dengan tindakan mekanis. 2.3.Hubungan Menyikat Gigi Terhadap Debris. Menyikat gigi merupakan cara yang umum dianjurkan untuk membersihkan debris atau deposit plak pada permukaan gigi dan gusi. Manfaat menyikat gigi adalah menghilangkan kotoran dan sisa makanan sehingga dapat mencegah penyakit gigi dan mulut (Depkes RI,1993). Tujuan menyikat gigi adalah membersihkan mulut dari sisa makanan agar fermentasi sisa makanan tidak berlangsung lama, sehingga kerusakan gigi dapat dihindari (Anonim,2008). Menurut Zelva (2008) kegunaan menyikat gigi adalah agar sisa-sisa makanan dapat hilang dari sela-sela gigi dan permukaan gigi selain itu untuk mendapatkan kenyamanan dari terselipnya sisa makanan dan mulut yang bebas dari bau. 2.4. Perkembangan Anak TK. Anak TK termasuk kelompok pra sekolah. Anak pra sekolah adalah mereka yang berusia 3-5 tahun. Pada anak usia pra sekolah, merupakan masa kehidupan yang mana individu relative tidak berdaya dan tergantung pada orang lain (Hurlock,1999).Mereka masih dalam taraf memerlukan bimbingan yang ketat serta memerlukan kesabaran yang luar biasa dalam mendidiknya (Ircham, 1995). Perkembangan anak difokuskan pada peran keluarga, terutama orang tua sebagai perantara antara anak dan lingkungan budaya yang melingkupinya.Mereka mulai belajar hidup bermasyarakat dan berkembang. Pada usia ini mereka akan mengalami mengenal banyak teman,mengenal dan minta banyak macam makanan dan meniru atau mencontoh apa yang dilihatnya dampaknya akan berakibat menguntungkan atau merugikan bagi kesehatan giginya. 2.5.Peranan Orang Tua.
  4. 4. Fase perkembangan anak usia pra sekolah masih sangat tergantung pada orang dewasa dalam memelihara kesehatan mulutnya .Belum ada kesadaran anak dalam menjaga kebersihan mulut. Peranan orang tua dalam peningkatan derajat kesehatan anak sangat dibutuhkan terutama untuk menentukan keberhasilan kesehatan keluarga secara menyeluruh. B.Pertanyaan Penelitian. Dari kerangka konsep di atas dapat dibuat pertanyaan penelitian yaitu “Apakah ada perbedaan debris indeks antara menyikat gigi secara mandiri dengan menyikat gigi dibantu dengan orang tua. BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian. Penelitian ini adalah penelitian survei (survey research) yaitu penelitian dengan tidak melakukan perubahan (tidak ada manipulasi atau perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti. Pengumpulan data dalam penelitian ini baik untuk variable sebab maupun variabel akibat dilaksanakan secara bersamaan atau sekaligus (Cross sectional). Kelompok dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 kelompok, satu kelompok menyikat gigi secara mandiri, dan satu kelompok menyikat gigi dengan dibantu orang tua. Rencana penelitian yang akan dilakukan dapat digambarkan pada model rancangan one shot case study. 3.2. Subyek Penelitian. 3.2.1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto,2006).Dalam hal ini populasinya adalah murid kelas nol besar TK Marsudisiwi Pengkol Kapling Jepara yang berjumlah 26 orang. 3.2. 2. Sampel sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti,apabila jumlah populasi yang diteliti kurang dari 100,maka semuanya dijadikan sebagai subyek penelitian. Karena populasi penelitian berjumlah 26 orang maka seluruh populasinya dijadikan sampel.Untuk pemilihan sampel menggunakan teknik purposive accidental sampling yaitu pemilihan sampel dilakukan atas perimbangan tertentu dan data diperoleh dari subyek yang ditemui saat itu serta dalam jumlah secukupnya (Saryono, 2008).Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan atas perimbangan pada hari dilakukan pemeriksaan subyek telah melakukan sikat gigi sebelum kesekolah adapun cara menyikat giginya dengan kritera tanpa atau pun dengan bantuan orang tua. 3.2.3. Analisis Data Untuk menjawab pertanyaan penelitian dalam penelitian ini metode analisa data yang digunakan adalah diskriptif kuantitatif yaitu mendiskripsikan hasil penelitian yang berupa angka dimana data yang diperoleh, dimasukkan dalam tabel,kemudian dihitung skor atau nilai rata-ratanya.Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabulasi. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.3.1.Hasil penelitian Pengambilan data tentang Debris Indeks (DI) pada 12 sampel murid kelas nol besar TK Marsudisiwi Pengkol Kapling Jepara yang terdiri dari enam responden dengan menyikat gigi secara mandiri dan enam responden dengan menyikat gigi dibantu orang tua telah dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 07 Februari 2009 atas ijin dari Kepala Sekolah setempat. Dari hasil penelitian didapatkan data tentang Debris Index antara menyikat gigi secara mandiri dan menyikat gigi dibantu orang tua adalah sebagai berikut :
  5. 5. Nilai DI menyikat gigi secara mandiri pada anak murid TK nol besar adalah 1,50 dengan enam responden berkriteria sedang. Nilai DI menyikat gigi dengan bantuan orang tua pada anak murid TK nol besar adalah 0,87 dengan satu responden berkriteria baik sedangkan lima responden lainnya berkriteria sedang. 4.3.2.Pembahasan Hasil yang didapat antara DI menyikat gigi secara mandiri dibanding dengan DI menyikat gigi dibantu orang tua terdapat selisih rata-rata DI sebesar 0,63 dengan nilai rata-rata DI menyikat gigi secara mandiri sebesar 1,50 dan nilai rata-rata DI menyikat gigi dibantu orang tua sebesar 0,87. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa nilai rata-rata DI menyikat gigi dibantu orang tua lebih rendah nilainya, lebih baik dibanding dengan nilai rata-rata DI menyikat gigi secara mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa peran orang tua sangat mendukung dalam meningkatkan ketrampilan cara menyikat gigi yang baik dan benar khususnya dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut. Tingginya nilai rata-rata DI menyikat gigi secara mandiri dikarenakan masih kurangnya ketrampilan perilaku pelihara diri dan pengalaman pada usia anak pra sekolah dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Dan dilihat dari enam responden DI menyikat gigi secara mandiri didapatkan berkriteria sedang, hal ini menunjukkan bahwa dalam diri anak sudah mulai mengenal dan sudah adanya ketrampilan anak dalam menyikat gigi secara mandiri walaupun teknik menyikat giginya kurang maksimal sebagai contoh bagian gigi yang disikat hanyalah bagian gigi yang terlihat saja. Pada umumnya kebiasaan anak dalam menyikat gigi hanyalah bertujuan untuk menyegarkan mulut saja,bukan karena mengerti bahwa hal tersebut baik untuk kesehatan gigi dan mulutnya,sehingga anak cenderung menyikat gigi dengan semaunya sendiri (Tomasowa,1981). Walaupun nilai rata-rata DI menyikat gigi dibantu orang tua lebih baik daripada menyikat gigi secara mandiri, akan tetapi dari hasil yang diperoleh hanya satu responden yang berkatagori baik dan lainnya berkatagori sedang. Ini menunjukkan bahwa orang tua dalam menyikat gigi anaknya masih belum optimal atau belum mencapai kategori baik. Hal ini dimungkinkan karena perilaku anak yang kurang kooperatif saat menyikat gigi serta orang tua belum menguasai dengan baik akan pengetahuan dan ketrampilan menjaga kesehatan gigi dan mulut anak-anak. Tingkat pendidikan orang tua mewarnai perbedaan pengetahuan di bidang kesehatan gigi dan mulut. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.4.1.Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa : 1. Nilai rata-rata DI menyikat gigi secara mandiri pada murid kelas nol besar TK Marsudisiwi Pengkol Kapling Jepara adalah 1,50 . 2. Nilai rata-rata DI menyikat gigi dibantu orang tua pada murid kelas nol besar TK Marsudisiwi Pengkol Kapling Jepara adalah 0,87 3. Perbedaan nilai rata-rata DI menyikat gigi secara mandiri dibanding dengan DI menyikat gigi dibantu orang tua adalah sebasar 0,63 dengan nilai selisih ini menunjukkan nilai rata-rata DI menyikat gigi dibantu orang tua lebih baik dibandingkan dengan menyikat gigi secara mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa peran orang tua sangat mendukung untuk meningkatkan kebersihan gigi dan mulut anak terutama terhadap nilai debris indeks. 5.4.2.Saran Sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti maka peneliti memberikan saran sebagai berikut : 1. Menyarankan kepada guru TK supaya ikut memotivasi atau memberikan dorongan pada anak-anak agar lebih meningkatkan ketrampilan dan kedisiplinan prilaku pelihara diri khususnya dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut mengenai kebiasaan dan teknik menyikat gigi anak-anak. 2. Kepada para orang tua supaya lebih memberikan perhatian dan meningkatkan ketrampilan serta pengetahuan dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut, karena orang tua merupakan pusat percontohan anak dalam keluarga.
  6. 6. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2008, Bersihkan Gigi Dengan Benar Agar Sehat, http;//www.pikiran rakyat.com/cetak/0604/06/0902.htm, Tanggal 26 September 2008 Arikunto,S., 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta Besford, John,1996,Mengenal Gigi Anda Petunjuk Bagi Orang Tua,Arcam, Jakarta Departemen Kesehatan RI,1973,Penyuluhan Kesehatan Gigi di Sekolah Dasar,Depkes RI,Jakarta ------,1991,Pendidikan Kesehatan Gigi,Depkes RI,Jakarta ------,1992,Buku Pedoman Metode Kesehatan Gigi Dan Mulut Untuk Kegiatan KIA,Depkes RI,Jakarta -------,1993,Upaya Kesehatan Gigi Dan Mulut Dengan Pendekatan PKMD,Depkes RI,Jakarta ------,1994,Profil Kesehatan Gigi Dan Mulut di Indonesia Pada Pelita V,Depkes RI,Jakarta ------,2000,Profil Kesehatan Gigi Dan Mulut di Indonesia Pada Pelita VI,Depkes RI,Jakarta

×