TINJAUAN TEORITIS GASTRITIS
A. Konsep Dasar Medik
1. Pengertian
Gastritis adalah merupakan suatu peradangan mukosa lambung...
2) Bagian dalam atau rongga mulut yaitu : rongga mulut yang dibatasi
sisinya oleh tulang maxilaris, palatum dan mandibular...
4. Daerah kardia
5. Kurvatura mayor
6. Kurvatura minor
7. Sfingter pilorus
Lambung terletak oblik dari kiri ke kanan menyi...
c. Serabut oblik yang terutama dijumpai pada fundus lambunh dan
berjalan dari orivisium kardiak, kemudian membelok kebawah...
gastrik, pilorik, hepatik dan seliaka. Pengetahuan tentang anatomi ini
sangat penting, karena vagotomi selektif merupakan ...
utamanya yaitu mukus, HCL (hydrochloric acid), pensinogen, dan air.
Hormon gastrik yang disekresi langsung masuk kedalam a...
pengeluaran zat yang telah dicernakan kedalam usus besar diatur oleh
katup ileosekal dimana katup ini juga mencengah reflu...
1) Seikum, dibawah seikum terdapat appendiks vermiformis yang
berbentuk seperti cacing sehingga disebut juga umbai cacing,...
a) Sfingter ani internus (sebelah kiri), bekerja tidak menurut
kehendak
b) Sfingter levaton ani, bekerja juga tidak menuru...
Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim dalam getah
usus (sukus enterikus). Banyak diantara enzim-enzim ini te...
4. Patofisiologi
Mekanisme kerusakan mukosa pada gastritis diakibatkan oleh ketidak
seimbangan faktor-faktor pencernaan. (...
4. Hematemesis.
5. Perdararhan.
6. Rasa selalu kenyang (tidak lapar).
6. Penatalaksanaan Medik
a. Gastriris Akut
1) Menghi...
a. Perdarahan saluran cerna bagian atas yang merupakan kedaruratan medis.
Kadang-kadang perdararahannya cukup banyak sehin...
c. Mual, kadang-kadang sampai muntah
d. Nafsu makan berkurang
e. Rasa lekas kenyang
f. Perut kembung
g. Rasa panas di dada...
8. Penatalaksanaan Medik
a. Penatalaksanaan non farmakologis
1. Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
2...
a. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak ditekankan untuk
menyingkirkan penyebab organik lain...
TUGAS : Kebutahan Medikal Bedah II
DOSEN : MUSRIANI, S.Kep. M.Kes
ANATOMI FISIOLOGI SERTA 2 MACAM
GANGGUAN SISTEM PENCERNA...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Dispep AKPER PEMDA MUNA

235 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
235
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
2
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Dispep AKPER PEMDA MUNA

  1. 1. TINJAUAN TEORITIS GASTRITIS A. Konsep Dasar Medik 1. Pengertian Gastritis adalah merupakan suatu peradangan mukosa lambung yang bersifat akut, kronik, difus, atau lokal (Soeparman, 2000). Gastritis adalah inflamasi pada lambung yang bersifat akut maupun kronis (Ester.M, 2003). Gastritis adalah inflamasi pada mucosa lambung (Brunner & Suddarth, 2002). Dari beberapa definisi di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa gastritis adalah merupakan inflamsi pada mukosa lambung yang dapat bersifat akut atau kronis, difus atau local. 2. Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan Gambar 2.1 Anatomi sistem pencernaan a. Oris (mulut) Mulut adalah permulaann pencernaan yang terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu : 1) Bagian luar, yaitu ruang diantara gusi, gigi, bibir dan pipi
  2. 2. 2) Bagian dalam atau rongga mulut yaitu : rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang maxilaris, palatum dan mandibularis disebelah belakang dengan faring. b. Faring (tekak) Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan (esophagus). Di dalam lengkungan faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. Disini terletak persimpangan antara jalan napas dan jalan makan, letaknya di belakang rongga mulut dan rongga hidung di depan ruas tulang belakang. c. Esophagus (kerongkongan) Merupakan saluran yang menghubungkan rongga mulut dengan lambung, panjangnya  25 cm, mulai dari faring sampai masuk kardiak di bawah lambung. Esophagus terletak di belakang trachea dan di depan tulang punggung setelah melalui thoraks menembus diafragma masuk ke dalam abdomen menyambung dengan lambung. d. Gaster (lambung) Gambar. Anatomi Lambung Keterangan ; 1. Fundus 2. Korpus 3. Antrum pylorus
  3. 3. 4. Daerah kardia 5. Kurvatura mayor 6. Kurvatura minor 7. Sfingter pilorus Lambung terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang di abdomen atas tepat dibawah diafragma. Dalam keadaan kosong lambung berbentuk tabung J, dan bila penuh berbentuk seperti buah alpukat raksasa. Kapasitas normal lambung 1 sampai 2 liter. Secara anatomis lambung terbagi atas fundus, korpus dan antrum pilorus. Sebelah atas lambung terdapat cekungan kurvatura minor, dan bagian kiri bawah lambung terdapat kurvatura mayor. Sfingter kedua ujung lambung mengatur pengeluaran dan pemasukan. Sfingter kardia atau sfingter esofagus bawah, mengalirkan makanan yang masuk kedalam lambung dan mencegah refluks isi lambung memasuki esofagus kembali. Daerah lambung tempat pembukaan sfingter kardia dikenal dengan nama daerah kardia. Disaat sfingter pilorikum berelaksasi makanan masuk kedalam duodenum, dan ketika berkontraksi sfingter ini akan mencegah terjadinya aliran balik isis usus halus kedalam lambung. Lambung terdiri dari empat lapisan yaitu : 1. Lapisan peritoneal luar yang merupakan lapisan serosa. 2. Lapisan berotot yang terdiri atas 3 lapisan : a. Serabut longitudinal, yang tidak dalam dan bersambung dengan otot esophagus. b. Serabut sirkuler yang palig tebal dan terletak di pylorus serta membentuk otot sfingter, yang berada dibawah lapisan pertama.
  4. 4. c. Serabut oblik yang terutama dijumpai pada fundus lambunh dan berjalan dari orivisium kardiak, kemudian membelok kebawah melalui kurva tura minor (lengkung kelenjar). 3. Lapisan submukosa yang terdiri atas jaringan areolar berisi pembuluh darah dan saluran limfe. 4. Lapisan mukosa yang terletak disebelah dalam, tebal, dan terdiri atas banyak kerutan/ rugae, yang menghilang bila organ itu mengembang karena berisi makanan. Ada beberapa tipe kelenjar pada lapisan ini dan dikategorikan menurut bagian anatomi lambung yang ditempatinya 5. Kelenjar kardia berada dekat orifisium kardia. Kelenjar inimensekresikan mukus. Kelenjar fundus atau gastric terletak di fundus dan pada hampir selurus korpus lambung. Kelenjar gastrik memiliki tipe-tipe utama sel. Sel-sel zimognik atau chief cells mensekresikan pepsinogen. Pepsinogen diubah menjadi pepsin dalam suasana asam. Sel-sel parietal mensekresikan asam hidroklorida dan faktor intrinsik. Faktor intrinsik diperlukan untuk absorpsi vitamin B 12 di dalam usus halus. Kekurangan faktor intrinsik akan mengakibatkan anemia pernisiosa. Sel-sel mukus (leher) ditemukan dileher fundus atau kelenjar-kelenjar gastrik. Sel-sel ini mensekresikan mukus. Hormon gastrin diproduksi oleh sel G yang terletak pada pylorus lambung. Gastrin merangsang kelenjar gastrik untuk menghasilkan asam hidroklorida dan pepsinogen. Substansi lain yang disekresikan oleh lambung adalah enzim dan berbagai elektrolit, terutama ion-ion natrium, kalium, dan klorida. Persarafan lambung sepenuhnya otonom. Suplai saraf parasimpatis untuk lambung dan duodenum dihantarkan ke dan dari abdomen melalui saraf vagus. Trunkus vagus mempercabangkan ramus
  5. 5. gastrik, pilorik, hepatik dan seliaka. Pengetahuan tentang anatomi ini sangat penting, karena vagotomi selektif merupakan tindakan pembedahan primer yang penting dalam mengobati tukak duodenum. Persarafan simpatis adalah melalui saraf splenikus major dan ganlia seliakum. Serabut-serabut aferen menghantarkan impuls nyeri yang dirangsang oleh peregangan, dan dirasakan di daerah epigastrium. Serabut-serabut aferen simpatis menghambat gerakan dan sekresi lambung. Pleksus saraf mesentrikus (auerbach) dan submukosa (meissner) membentuk persarafan intrinsik dinding lambung dan mengkordinasi aktivitas motoring dan sekresi mukosa lambung. Seluruh suplai darah di lambung dan pankreas (serat hati, empedu, dan limpa) terutama berasal dari daerah arteri seliaka atau trunkus seliaka, yang mempecabangkan cabang-cabang yang mensuplai kurvatura minor dan mayor. Dua cabang arteri yang penting dalam klinisadalah arteri gastroduodenalis dan arteri pankreas tikoduodenalis (retroduodenalis) yang berjalan sepanjang bulbus posterior duodenum. Tukak dinding postrior duodenum dapat mengerosi arteria ini dan menyebabkan perdarahan. Darah vena dari lambung dan duodenum, serta berasal dari pankreas, limpa, dan bagian lain saluran cerna, berjalan kehati melalui venaporta. Fisiologi Lambung : a. Mencerna makanan secara mekanikal. b. Sekresi, yaitu kelenjar dalam mukosa lambung mensekresi 1500 – 3000 mL gastric juice (cairan lambung) per hari. Komponene
  6. 6. utamanya yaitu mukus, HCL (hydrochloric acid), pensinogen, dan air. Hormon gastrik yang disekresi langsung masuk kedalam aliran darah. c. Mencerna makanan secara kimiawi yaitu dimana pertama kali protein dirobah menjadi polipeptida d. Absorpsi, secara minimal terjadi dalam lambung yaitu absorpsi air, alkohol, glukosa, dan beberapa obat. e. Pencegahan, banyak mikroorganisme dapat dihancurkan dalam lambung oleh HCL. f. Mengontrol aliran chyme (makanan yang sudah dicerna dalam lambung) kedalam duodenum. Pada saat chyme siap masuk kedalam duodenum, akan terjadi peristaltik yang lambat yang berjalan dari fundus ke pylorus. e. Intestinum minor (usus halus) Usus halus merupakan tabung kompleks, berlipat-lipat yang membentang dari pylorus sampai katup ileosekal panjangnya  6 meter. Usus ini mengisi bagian tengah dan bawah rongga abdomen. Ujung proksimalnya bergaris tengah sekitar 3,8 cm, tetapi semakin kebawah lambat laun garis tengahnya berkurang sampai menjadi sekitar 2,5 cm. Usus halus dibagi menjadi duodenum, jejenum dan ileum. Pembagiaan ini didasarkan pada sedikit perubahan struktur dan perbedaan fungsinya. Deudenum panjangnya sekitar 25 cm mulai dari pylorus sampai jejenum. Pemisahan dedenum dan jejenum ditandai oleh ligamentum treitz kira-kira 2/5 dari sisi usus halus adalah jejenum dan 3/5 bagian terminalnya adalah ileum. jejenum terletak diregio abdominalis media sebelah kiri, sedangkan ileum cenderung terletak di regio abdominalis sebelah kanan. Masuknya kimus kedalam usus halus diatur oleh spinter pylorus sedangkan
  7. 7. pengeluaran zat yang telah dicernakan kedalam usus besar diatur oleh katup ileosekal dimana katup ini juga mencengah refluks isi usus besar kedalam usus halus. Otot yang meliputi usus halus mempunyai dua lapisan yaitu lapisan luar terdiri atas serabut-serabut longitudinal yang lebih tipis dan lapisan dalam berupa serabut-serabut sirkular. Penataan demikin membantu gerakan peristaltik usus halus. Lapisan supmukosa terdiri atas jaringan penyambung sedangkan lapisan mukosa bagian dalam tebal, banyak mengandung pembuluh darah dan kelenjar. Arteria mesentrika superior dicabangkan dari aorta tepat dibawah arteri siliaka memperdarahi seluruh usus halus kecuali deodenum yang diperdarahi oleh arteri gastroduodenalis dan cabangnya arteri pankrea- tiduodenalis superior. Darah dikembalikan lewat vena mesentrika superior yang menyatuh dengan vena lienalis membentuk vena porta. Usus halus dipersarafi cabang-cabang kedua sistem saraf otonom rangsangan parasimpatis merangsang aktivitas sekresi dan pergerakan, sedangkan rangsangan simpatis menghambat pergerakan usus. Serabut- serabut sensoris sistem simpatis mengahantarkan nyeri, sedangkan serabut-serabut parasimpatis mengatur refleks usus. Suplai saraf intrinsif, yang menimbulkan fungsi motorik, berjalan melalui pleksus auerbach yang terletak dalam lapisan muskularis dan pleksus meissner dilapisan submukosa. f. Intestinum mayor (usus besar) Panjang  1 ½ meter, lebarnya 5 – 6 cm, lapisan-lapisan usus besar dari dalam keluar. Intestinum mayor terdiri dari :
  8. 8. 1) Seikum, dibawah seikum terdapat appendiks vermiformis yang berbentuk seperti cacing sehingga disebut juga umbai cacing, panjangnya 6 cm. 2) Colon asendens, panjangnya 13 cm, terletak dibawah abdomen sebelah kanan membujur keatas dari ileum ke bawah hati di bawah hati melengkung ke kiri, lengkungan ini disebut fleksura hepatica dilanjutkan sebagai colon tranversum. 3) Apendiks (usus buntu) bagian dari usus besar yang muncul seperti corong dari akhir seikum mempunyai pintu keluar yang sempit tapi masih memungkinkan dapat dilewati oleh beberapa isi usus. 4) Colon tranversum, panjangnya  38 cm, membujur dari colon asendens sampai colon desendens berada di bawah abdomen, sebelah kanan terdapat fleksura hepatica dan sebelah kiri terdapat fleksura lienalis. 5) Colon desendens panjangnya  25 cm, terletak di bawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah dari fleksura lienalis sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan colon sigmoid. 6) Colon sigmoid merupakan lanjutan dari colon desendens terletak miring, dalam rongga pelvis sebelah kiri bentuknya menyerupai huruf sehubungan dengan ujung bawahnya berhubungan dengan rectum. 7) Rectum terletak di bawah colon sigmoid yang menghubungkan intestium mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os sacrum dan os koksigeus. 8) Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rectum dengan dunia luar (udara luar) terletak didasar pelvis, dindingnya diperkuat oleh 3 sfingter :
  9. 9. a) Sfingter ani internus (sebelah kiri), bekerja tidak menurut kehendak b) Sfingter levaton ani, bekerja juga tidak menurut kehendak c) Sfingter ani eksternus (sebelah bawah) bekerja menurut kehendak Usus halus mempunyai dua fungsi utama yaitu pencernaan dan absorbsi bahan-bahan nutrisi dan air. Semua aktivitas lainnya mengatur atau mempermudah berlangsungnya proses ini. Proses pencernaan dimulai dalam mulut dan lambung oleh kerja ptialin, asam klorida, dan pepsin terhadap makanan yang masuk. Proses dilanjutkan di dalam duodenum terutama oleh kerja enzim-enzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat, lemak dan protein menjadi zat-zat yang lebih sederhana. Adanya bikarbonat dalam sekret pankreas membantu menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk kerja enzim-enzim. Sekresi empedu dari hati membantu proses pencernaan dengan mengemulsikan lemak sehingga memberikan permukaan yang lebih luas bagi kerja lipase pankreas. Kerja empedu terjadi sebagai akibat dari sifat deterjen asam-asam empedu yang dapat melarutkan zat-zat lemak dengan membentuk misel. Misel merupakan agregat asam-asam empedu dan molekul-molekul lemak. Lemak membentuk inti hidrofobik, sedangkan asam empedu karena merupakan molekul polar, membentuk permukaan misel dengan ujung hidrofobik mengarah ke dalam dan ujung hidrofilik menghadap keluar menuju medium cair. Bagian sentral misel juga melarutkan vitamin-vitamin yang larut lemak dan kolesterol. Jadi, asam-asam lemak bebas, gliserida dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak dipertahankan dalam larutan sampai mereka dapat diabsorpsi oleh permukaan sel epitel.
  10. 10. Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim dalam getah usus (sukus enterikus). Banyak diantara enzim-enzim ini terdapat pada brush border vili dan mencernakan zat-zat makanan sambil diabsorbsi. Asam yang bersentuhan dengan mukosa usus menyebabkan dikeluarkannya hormon lain, sekretin, dan jumlah yang dikeluarkan sebanding dengan jumlah asam yang mengalir melalui duodenum. Sekretin merangsang sekresi getah yang mengandung bikarbonat dari pankreas, dan empedu dari hati. Pergerakan sekmental usus halus mencampur zat-zat yang dimakan dengan sekret pankreas, hepatobiliar, dan sekresi usus, dan pergerakan peristaltik mendorong isi dari salah satu ujung ke ujung lain dengan kecepatan yang sesuai untuk absorpsi optimal dan suplai kontinu isi lambung. 3. Etiologi Secara makroskopik terdapat lesi erosi mukosa dengan lokasi. Jika ditemukan pada corpus dan fundus, biasanya disebabkan oleh stress. Jika disebabkan karena obat-obatan AINS terutama ditemukan di daerah antrum, namun dapat juga menyeluruh. Gastritis akut dapat pula timbul tanpa diketahui penyebabnya. Penyebab yang sering dijumpai ialah : a. Obat analgetik-anti inflamasi, terutama aspirin. b. Bahan kimia misalnya lisol. c. Merokok. d. Alcohol. e. Stress fisis yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan, gagal pernafasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat. f. Refleks usus lambung. g. Endotoksin.
  11. 11. 4. Patofisiologi Mekanisme kerusakan mukosa pada gastritis diakibatkan oleh ketidak seimbangan faktor-faktor pencernaan. (Anonim, 3 Mei 2007) Faktor-faktor pencernaan yaitu faktor agresif dan faktor defensive. Faktor- faktor agresif adalah asam lambung, pepsin, obat-obatan, infeksi bakteri dan bahan korosif (Asam dan Basa kuat). Sedangkan faktor-faktor defensive adalah mucus, bikarbonat dan prostaglandin. Dalam keadaan normal, faktor defensive mampu mengusai faktor agresif sehingga tidak terjadi kerusakan atau kelainan patologik . (Arif Mansjoer, 2001) Mukosa lambung cukup kuat untuk menahan asam lambung, sehingga asam lambung tetap terjaga didalam lambung yang nantinya akan berfungsi untuk mencerna sari-sari makanan, namun karena sering lupa makan atau kebiasaan menunda makan, maka asam lambung bisa mengiritasi lambung. Sehingga dinding lambung lama kelamaan tidak kuat menahan asam lambung dan timbul penyakit gastritis. (Widfyandana, 4 juni 2007) Gastritis membuat membran mukosa lambung menjadi edema dan hiperemik (cairan dan darah) dan mengalami erosi sehingga akan mensekresi sejumlah getah lambung yang mengandung sedikit asam tetapi banayak mukus dan dapat terjasi atau menimbulkan hemoragi, akibatnya terjadi ketidaknyamanan epigastrik. Mukosa lambung mampu memperbaiki diri sendiri setelah mengalami gastritis, namun kadang hemorargi memerlukan intervensi bedah. (SuZanne C. Smeltzer, 2001) 5. Gambaran Klinik 1. Mual, muntah. 2. Nyeri epigastrium. 3. Anoreksia.
  12. 12. 4. Hematemesis. 5. Perdararhan. 6. Rasa selalu kenyang (tidak lapar). 6. Penatalaksanaan Medik a. Gastriris Akut 1) Menghindari makanan dan minuman yang dapat sekresi asam lambung 2) Pemakaian penghambat HO2 (seperti ranitidin untuk mengurangi sekresi asam, sukrafat atau antacid dapat mempercepat penyembuhan) 3) Obat-obat anti muntah dapat membantu menghilangkan mual dan muntah. 4) Jika terjadi muntah perlu keseimbangan cairan dan elektrolit dengan memberikan infus vena 5) Lavare jika terjadi korosif yang luas atau berat b. Gastritis Kronik 1) Memodifikasi diet pasien, meningkatkan istirahat, mengurangi stres dan memulai farmako terapi. 2) Helicobacter pylori diatas dengan antibiotik (seperti tetraciklin atau amoksilin) dengan garam bismut (peta bismut) 3) Menghindari alkohol dan obat-obatan yang mengiritasi mukosa lambung 4) Vh B 12 dan terapi yang sesuai lainnya diberikan pada anemia pernisiosa (Brunner and Suddarth, 2002 : 1063)C. Boughman, 2000) 7. Komplikasi Komplikasi yang penting adalah :
  13. 13. a. Perdarahan saluran cerna bagian atas yang merupakan kedaruratan medis. Kadang-kadang perdararahannya cukup banyak sehingga dapat menyebabkan kematian. b. Terjadi ulkus, kalau prosesnya hebat. c. Jarang terjadi perforasi. A. DISPEPSIA 1. Pengertian a. Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung kini tidak lagi termasuk dispepsia (Mansjoer A edisi III, 2000 hal : 488). 3. Etiologi a. Perubahan pola makan b. Pengaruh obat-obatan yang dimakan secara berlebihan dan dalam waktu yang lama c. Alkohol dan nikotin rokok d. Stres e. Tumor atau kanker saluran pencernaan 5. Manifestasi Klinik a. nyeri perut (abdominal discomfort) b. Rasa perih di ulu hati
  14. 14. c. Mual, kadang-kadang sampai muntah d. Nafsu makan berkurang e. Rasa lekas kenyang f. Perut kembung g. Rasa panas di dada dan perut h. Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba) 6. Patofisiologi Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas, zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres, pemasukan makanan menjadi kurang sehingga lambung akan kosong, kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung, kondisi demikian dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung, sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan. 7. Pencegahan Pola makan yang normal dan teratur, pilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkomsumsi makanan yang berkadar asam tinggi, cabai, alkohol, dan pantang rokok, bila harus makan obat karena sesuatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung.
  15. 15. 8. Penatalaksanaan Medik a. Penatalaksanaan non farmakologis 1. Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung 2. Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang peda, obat- obatan yang berlebihan, nikotin rokok, dan stres 3. Atur pola makan b. Penatalaksanaan farmakologis yaitu: Sampai saat ini belum ada regimen pengobatan yang memuaskan terutama dalam mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat dimengerti karena pross patofisiologinya pun masih belum jelas. Dilaporkan bahwa sampai 70 % kasus DF reponsif terhadap placebo. Obat-obatan yang diberikan meliputi antacid (menetralkan asam lambung) golongan antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lambung) dan prokinetik (mencegah terjadinya muntah) 9. Test Diagnostik Berbagai macam penyakit dapat menimbulkan keluhan yang sama, seperti halnya pada sindrom dispepsia, oleh karena dispepsia hanya merupakan kumpulan gejala dan penyakit disaluran pencernaan, maka perlu dipastikan penyakitnya. Untuk memastikan penyakitnya, maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan, selain pengamatan jasmani, juga perlu diperiksa : laboratorium, radiologis, endoskopi, USG, dan lain-lain.
  16. 16. a. Laboratorium Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak ditekankan untuk menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti: pankreatitis kronik, diabets mellitus, dan lainnya. Pada dispepsia fungsional biasanya hasil laboratorium dalam batas normal. b. Radiologis Pemeriksaan radiologis banyak menunjang dignosis suatu penyakit di saluran makan. Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologis terhadap saluran makan bagian atas, dan sebaiknya menggunakan kontras ganda. c. Endoskopi (Esofago-Gastro-Duodenoskopi) Sesuai dengan definisi bahwa pada dispepsia fungsional, gambaran endoskopinya normal atau sangat tidak spesifik. d. USG (ultrasonografi) Merupakan diagnostik yang tidak invasif, akhir-akhir ini makin banyak dimanfaatkan untuk membantu menentukan diagnostik dari suatu penyakit, apalagi alat ini tidak menimbulkan efek samping, dapat digunakan setiap saat dan pada kondisi klien yang beratpun dapat dimanfaatkan e. Waktu Pengosongan Lambung Dapat dilakukan dengan scintigafi atau dengan pellet radioopak. Pada dispepsia fungsional terdapat pengosongan lambung pada 30 – 40 % kasus.
  17. 17. TUGAS : Kebutahan Medikal Bedah II DOSEN : MUSRIANI, S.Kep. M.Kes ANATOMI FISIOLOGI SERTA 2 MACAM GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN Disusun Oleh : Wa Ode Julianti NIM. 11.1.943 PEMERINTAH KABUPATEN MUNA AKADEMI KEPERAWATAN 2013

×