Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
* BERFIKIR KRITIS
Berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Informasi
tersebut ...
penjelasan dan ketegasan asumsi, kuatnya bukti-bukti, menilai kesimpulan, membedakan antara
baik dan buruknya argumen sert...
Profesional yang berfikir kritis bertekad menemukan solusi yang efektif untuk mengatasi konflik
terkait dengan profesional...
a. Kompetensi Umum
b. Kompetensi Khusus dalam situasi kerja
c. Kompetensi khusus dalam keprofesionalan
3. Sikap
Sikap adal...
staf perawat, perawat tugas pribadi, pendidik, administrasi keperawatan dan sebagai konsultan
(1970).
1. Tahun 1958- 1959 ...
kesehatan.
Penekanan teori self care secara umum :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pemeliharaan intake udara
Pemeliharaan intake ...
4. Metode bantuan :
Perawat membantu klien dengan menggunakan system dan melalui lima metode bantuan
yang meliputi :
1. Ac...
3. Health deviation self care requisite : timbul karena kesehatan yang tidak sehat dan
merupakan kebutuhan- kebutuhan yang...
Dalam lingkungan perawatan kesehatan yang kompleks sekarang ini, perawat harus
mampu memecahkan masalah secara akurat, men...
e.

Revisi Rencana Perawatan dan Berpikir Kritis
Sejalan dengan telah dievaluasinya tujuan, penyesuaian terhadap rencana a...
7)

Justification

Member bukti-bukti, contoh, atau justifikasi terhadap suatu solusi atau kesimpulan yang
diambilnya. Ter...
Meningkatkan kualitas keputusan guna menghindari kesalahan dalam keputusan
Konsisten
Melibatkan perasaan, angan-angan, har...
Tahap ini adalah tahap pengambilan keputusan yang paling kritikal. Dimana perawat dapat
menentukan masalah yang benar-bena...
implementasi sistem sementara mengontrol NNP dan tingkat ketajaman. Persentase kesepakatan antara
penilai akan dihitung un...
tentang sistem sekarang dokumentasi, dan apa solusi yang mereka miliki untuk menawarkan.
Temuan dari survei ini menunjukka...
Evaluasi
Discharge.
Ini diagnosis / proses telah dikembangkan sebagai kerangka untuk dokumentasi keperawatan
karena menyed...
Itu diantisipasi bahwa beberapa perlawanan terhadap proses dapat diungkapkan dan perubahan
aspek dokumentasi mungkin dicar...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Berfikir kritis juliana AKPER PEMKAB MUNA

1,045 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Berfikir kritis juliana AKPER PEMKAB MUNA

  1. 1. * BERFIKIR KRITIS Berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Informasi tersebut didapat dari hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau komunikasi. Menurut Halpen (dalam Achmad, 2007) menyatakan bahwa berpikir kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi kognitif dalam menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan, mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran-merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi-mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan. Berpikir kritis juga biasa disebut directed thinking, sebab berpikir langsung kepada fokus yang akan dituju. R. Matindas (dalam Sarwono, 2009) menyatakan bahwa: “Berpikir kritis adalah aktivitas mental yang dilakukan untukmengevaluasi kebenaran sebuah pernyataan. Umumnya evaluasi berakhir dengan putusan untuk menerima, menyangkal, atau meragukan kebenaran pernyataan yang bersangkutan”. Dari dua pendapat tersebut, tampak adanya persamaan dalam hal sistematika berpikir yang ternyata berproses. Berpikir kritis harus melalui beberapa tahapan untuk sampai kepada sebuah kesimpulan atau penilaian. Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2241992-pengertian-berfikirkritis/#ixzz1sZ4EJ6Gc 2. Komponen model berfikir kritis 1. Feeling Model Model ini menekankan pada rasa, kesan, dan data atau fakta yang ditemukan. Pemikir kritis mencoba mengedepankan perasaan dalam melakukan pengamatan, kepekaan dalam melakukan aktifitas keperawatan, dan perhatian. Misalnya terhadap aktifitas dalam pemeriksaan tanda vital, perawat merasakan gejala, petunjuk, dan perhatian kepada pernyataan serta pikiran klien. 2. Vision Model Model ini digunakan untuk membangkitkan pola pikir, mengorganisasi dan menerjemahkan perasaan untuk merumuskan hipotesis, analisis, dugaan, dan ide tentang permasalahan perawatan kesehatan klien. Berpikir kritis ini digunakan untuk mencari prinsip-prinsip pengertian dan peran sebagai pedoman yang tepat untuk merespon ekspresi. 3. Examine Model Model ini digunakan untuk merefleksi ide, pengertian, dan visi. Perawat menguji ide dengan bantuan kriteria yang relevan. Model ini digunakan untuk mencari peran yang tepat untuk analisis, mencari, menguji, melihat, konfirmasi, kolaborasi, menjelaskan, dan menentukan sesuatu yang berkaitan dengan ide. Ada empat bentuk alasan berpikir kritis yaitu : deduktif, induktif, aktivitas informal, aktivitas tiap hari, dan praktek. Untuk menjelaskan lebih mendalam tentang defenisi tersebut, alasan berpikir kritis adalah untuk menganalisis penggunaan bahasa, perumusan masalah,
  2. 2. penjelasan dan ketegasan asumsi, kuatnya bukti-bukti, menilai kesimpulan, membedakan antara baik dan buruknya argumen serta mencari kebenaran fakta dan nilai dari hasil yang diyakini benar serta tindakan yang dilakukan. 3. dasar pengetahuan khusus 1. Dasar Pengetahuan khusus Komponen pertama berfikir kritis adalah dasar pengetahuan khusus seorang profesional. Dasar pengetahuan ini beragam sesuai dengan profesi yang dijalani dan pendidikan tambahan yang harus dicari maupun ditempuh. 2. Pengalaman Pengalaman memberikan suatu sarana untuk menguji pengetahuan keprofesionalan . seorang professional harus mengetahui bahwa pendekatan teori mempunyai landasan kerja yang penting untuk praktik tetapi harus dibuat modifikasi untuk merangkul lingkungan kerja, kualitas keunikan yang ada. Kompetensi dalam pemikiran kritis adalah proses kognitif yang digunakan profesional untuk membuat penilaian tentang profesionalisme itu sendiri. Kompetensi berfikir kritis dibagi menjadi 3 a. Kompetensi Umum b. Kompetensi Khusus dalam situasi kerja c. Kompetensi khusus dalam keprofesionalan 3. Sikap Sikap adalah adalah nilai yang diyakini terbentuk dalam bentuk pemikiran yang termanifestasi dalam sebuah tindakan. 4. Tanggung gugat Tanggung gugat adalah kesiapan seorang profesional mengalami tanggung gugat untuk apapun penilaian yang dibuatnya atas nama pekerjaan terhadap segala sesuatu tindakanya atau keputusannya. 5. Berfikir mandiri Berfikir Mandiri adalah inti dari riset ,untuk dapat berfikir mandiri seseorang profesional akan berfikir dan mencari rasional serta jawaban yang logis. 6. Mengambil Resiko Seorang profesional harus rela ide-idenya ditelaah dan harus dapat menerima pemikiran baru dan maju, Perlu dibutuhkan keyakinan dan niat serta kemauan untuk mengambil resiko apa yang salah dan dan untuk kemudian melakukan tindakan didasarkan pada keyakinan yang didukung fakta dan bukti yang kuat. 7. Kerendahan Hati Penting untuk mengakui keterbatasan diri, pemikir kritis mengetahui ersiko yang timbul dari sebuah keputusan maupun situasi jika profesional tidak mampu mengenali ketidakmampuannya untuk mengatasi masalah yang muncul maka bias dipastikan strateginya akan mengalami kegagalan. Seorang profesional harus memikirkan kembali untuk mencari pengetahuan baru, mencari sumber informasi yang lain. 8. Integritas Integritas pribadi membangun ras percaya diri , seorang profesional yang mempunyai integritas dengan cepat akan berkeinginan mengakui dan mengevaluasi segala ketidak konsistenan dalam ide dan keyakinanya. 9. Ketekunan
  3. 3. Profesional yang berfikir kritis bertekad menemukan solusi yang efektif untuk mengatasi konflik terkait dengan profesionalisme , Profesional belajar sebanyak mungkin mengenali masalah yang mungkin timbul dari profesinya . 10. Kreatif Kreatifitas mencakup berfikir original, hal ini berarti menemukan solusi di luar apa yang dilakukan secara tradisonal. Komponen standar dalam berfikir kritis mencakup standar intelektual dan profesional. ( Paul, 1993). Diterbitkan di: 15 April, 2008 Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/1803525-bagaimana-berfikirkritis/#ixzz1sZ5ye6IN Standart Intelektual Berfikir kritis adalah suatu proses dimana seseorang atau individu dituntut untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi untuk membuat sebuah penilaian atau keputusan berdasarkan kemampuan,menerapkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. ( Pery & Potter,2005). Supaya bisa berfikir secara kritis melibatkan suatu rangkaian yang terintegrasi tentang kemampuan dan sikap berfikir, berfikir secara aktif dengan menggunakan intelegensia, pengetahuan, dan ketrampilan diri untuk menjawab pertanyaan, dengan cermat menggali situasi dengan cara mengajukan pertanyaan dan menjawab dengan relevan, berfikir untuk diri sendiri dan secara cermat menelaah berbagai ide dan mencapai kesimpulan yang berguna, mendiskusikan ide kedalam suatu cara yang terorganisasi untuk pertukaran dan menggali ide dengan orang lain. Sebagai seorang profesional berfikir kreatif harus selalu melihat kedepan, profesional tidak boleh membiarkan berfikir menjadi sesuatu yang rutin atau standar. Seorang yang berfikir dengan cara kreatif akan melihat setiap masalah dengan sudut yang selalu berbeda meskipun obyeknya sama, sehingga dapat dikatakan, dengan tersedianya pengetahuan baru, seorang profesional harus selalu melakukan sesuatu dan mencari apa yang paling efektif dan ilmiah dan memberikan hasil yang lebih baik untuk kesejahteraan diri maupun orang lain. Proses berfikir ini dilakukan sepanjang waktu sejalan dengan keterlibatan kita dalam pengalaman baru dan menerapkan pengetahuan yang kita miliki kita menjadi lebih mampu untuk membetuk asumsi, ide-ide dan menbuat simpulan yang valid. Semua proses tersebut tidak terlepas dari sebuah proses berfikir dan belajar Komponen Berfikir Kritis 1. Dasar Pengetahuan khusus Komponen pertama berfikir kritis adalah dasar pengetahuan khusus seorang profesional. Dasar pengetahuan ini beragam sesuai dengan profesi yang dijalani dan pendidikan tambahan yang harus dicari maupun ditempuh. 2. Pengalaman Pengalaman memberikan suatu sarana untuk menguji pengetahuan keprofesionalan . seorang professional harus mengetahui bahwa pendekatan teori mempunyai landasan kerja yang penting untuk praktik tetapi harus dibuat modifikasi untuk merangkul lingkungan kerja, kualitas keunikan yang ada. Kompetensi dalam pemikiran kritis adalah proses kognitif yang digunakan profesional untuk membuat penilaian tentang profesionalisme itu sendiri. Kompetensi berfikir kritis dibagi menjadi 3
  4. 4. a. Kompetensi Umum b. Kompetensi Khusus dalam situasi kerja c. Kompetensi khusus dalam keprofesionalan 3. Sikap Sikap adalah adalah nilai yang diyakini terbentuk dalam bentuk pemikiran yang termanifestasi dalam sebuah tindakan. 4. Tanggung gugat Tanggung gugat adalah kesiapan seorang profesional mengalami tanggung gugat untuk apapun penilaian yang dibuatnya atas nama pekerjaan terhadap segala sesuatu tindakanya atau keputusannya. 5. Berfikir mandiri Berfikir Mandiri adalah inti dari riset ,untuk dapat berfikir mandiri seseorang profesional akan berfikir dan mencari rasional serta jawaban yang logis. 6. Mengambil Resiko Seorang profesional harus rela ide-idenya ditelaah dan harus dapat menerima pemikiran baru dan maju, Perlu dibutuhkan keyakinan dan niat serta kemauan untuk mengambil resiko apa yang salah dan dan untuk kemudian melakukan tindakan didasarkan pada keyakinan yang didukung fakta dan bukti yang kuat. 7. Kerendahan Hati Penting untuk mengakui keterbatasan diri, pemikir kritis mengetahui ersiko yang timbul dari sebuah keputusan maupun situasi jika profesional tidak mampu mengenali ketidakmampuannya untuk mengatasi masalah yang muncul maka bias dipastikan strateginya akan mengalami kegagalan. Seorang profesional harus memikirkan kembali untuk mencari pengetahuan baru, mencari sumber informasi yang lain. 8. Integritas Integritas pribadi membangun ras percaya diri , seorang profesional yang mempunyai integritas dengan cepat akan berkeinginan mengakui dan mengevaluasi segala ketidak konsistenan dalam ide dan keyakinanya. 9. Ketekunan Profesional yang berfikir kritis bertekad menemukan solusi yang efektif untuk mengatasi konflik terkait dengan profesionalisme , Profesional belajar sebanyak mungkin mengenali masalah yang mungkin timbul dari profesinya . 10. Kreatif Kreatifitas mencakup berfikir original, hal ini berarti menemukan solusi di luar apa yang dilakukan secara tradisonal. Komponen standar dalam berfikir kritis mencakup standar intelektual dan profesional. ( Paul, 1993). Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/1803525-bagaimana-berfikirkritis/#ixzz1spkHImxh Hubungan Proses Keperawatan Menjadi Model Untuk Berfikir kritis Dorothea E. Orem pendidikan sekolah perawatan di rumah sakit Providence di Washington DC. Lulus Sarjana Muda tahun 1930. Lulus Master tahun 1939 pendidikan keperawatan. Tahun 1945 bekerja di Universitas Katolik di Amerika selama perjalanan kariernya ia telah bekerja sebagai
  5. 5. staf perawat, perawat tugas pribadi, pendidik, administrasi keperawatan dan sebagai konsultan (1970). 1. Tahun 1958- 1959 sebagai konsultan di Departemen kesehatan pada bagian pendidikan kesejahteraan dan berpartisipasi pada proyek pelatihan keperawatan 2. Tahun 1959 konsep perawatan Orem dipublikasikan pertama kali 3. Tahun 1965 bergabung dengan Universitas Katolik di Amerika membentuk model teori keperawatan komunitas 4. Tahun 1968 membentuk kelompok konferensi perkembangan keperawatan, yang menghasilkan kerja sama tentang perawatan dan disiplin keperawatan 5. Tahun 1976 mendapat gelar Doktor Honoris Causa 6. Tahun 1980 mendapat gelar penghargaan dari alumni Universitas Katolik Amerika tentang teori keperawatan 7. Selanjutnya Orem mengembangkan konsep keperawatan tentang perawatan diri sendiri dan dipulikasikan dalam keperawatan (Concept of Pratice tahun 1971). 8. Tahun 1980 mempublikasikan buku kedua yang berisi tentang edisi pertama diperluas pada keluarga, kelompok dan masyarakat. 9. Tahun 1985 mempublikasikan buku kedua yang berisi tentang tiga teori, yaitu ; Theory self care, theory self care deficit, theory system keperawatan. Pengertian Keperawatan mandiri (self care) menurut Orem's adalah : "Suatu pelaksanaan kegiatan yang diprakarsai dan dilakukan oleh individu sendiri untuk memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraannya sesuai dengan keadaan, baik sehat maupun sakit " (Orem's, 1980). Pada dasarnya diyakini bahwa semua manusia itu mempunyai kebutuhan-kebutuhan self care dan mereka mempunyai hak untuk mendapatkan kebtuhan itu sendiri, kecuali bila tidak mampu. Teori Sistem Keperawatan Orem Teori ini mengacu kepada bagaimana individu memenuhi kebutuhan dan menolong keperawatannya sendiri, maka timbullah teori dari Orem tentang Self Care Deficit of Nursing. Dari teori ini oleh Orem dijabarkan ke dalam tiga teori yaitu : 1. Self Care Teori self care ini berisi upaya tuntutan pelayanan diri yang The nepeutic sesuai dengan kebutuhan Perawatan diri sendiri adalah suatu langkah awal yang dilakukan oleh seorang perawat yang berlangsung secara continue sesuai dengan keadaan dan keberadaannya , keadaan kesehatan dan kesempurnaan. Perawatan diri sendiri merupakan aktifitas yang praktis dari seseorang dalam memelihara kesehatannya serta mempertahankan kehidupannya. Terjadi hubungan antar pembeli self care dengan penerima self care dalam hubungan terapi. Orem mengemukakan tiga kategori / persyaratan self care yaitu : persyaratan universal, persyaratan pengembangan dan persyaratan
  6. 6. kesehatan. Penekanan teori self care secara umum : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pemeliharaan intake udara Pemeliharaan intake air Pemeliharaan intake makanan Mempertahankankan hubungan perawatan proses eliminasi dan eksresi Pemeliharaan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat Pemeliharaan keseimbangan antara solitude dan interaksi sosial Pencegahan resiko-resiko untuk hidup, fungsi usia dan kesehatan manusia Peningkatan fungsi tubuh dan pengimbangan manusia dalam kelompok sosial sesuai dengan potensinya. 2. Self Care Deficit Teori ini merupakan inti dari teori perawatan general Orem, yang menggambarkan kapan keperawatan di perlukan, oleh karena perencanaan keperawatan pada saat perawatan yang dibutuhkan. Bila dewasa (pada kasus ketergantungan, orang tua, pengasuh) tidak mampu atau keterbatasan dalam melakukan self care yang efektif Teori self care deficit diterapkan bila : 1. Anak belum dewasa 2. Kebutuhan melebihi kemampuan perawatan 3. Kemampuan sebanding dengan kebutuhan tetapi diprediksi untuk masa yang akan datang, kemungkinan terjadi penurunan kemampuan dan peningkatan kebutuhan. 3. Nursing system Teori yang membahas bagaimana kebutuhan "Self Care" pasien dapat dipenuhi oleh perawat, pasien atau keduanya. Nursing system ditentukan / direncanakan berdasarkan kebutuhan "Self Care" dan kemampuan pasien untuk menjalani aktifitas "Self Care". Orem mengidentifikasikan klasifikasi Nursing System : 1. The Wholly compensatory system Bantuan secara keseluruhan, dibutuhkan untuk klien yang tidak mampu mengontrol dan memantau lingkungannya dan berespon terhadap rangsangan. 2. The Partly compensantory system Bantuan sebagian, dibutuhkan bagi klien yang mengalami keterbatasan gerak karena sakit atau kecelakaan. 3. The supportive - Educative system Dukungan pendidikan dibutuhkan oleh klien yang memerlukannya untuk dipelajari, agar mampu melakukan perawatan mandiri.
  7. 7. 4. Metode bantuan : Perawat membantu klien dengan menggunakan system dan melalui lima metode bantuan yang meliputi : 1. Acting atau melakukan sesuatu untuk klien 2. Mengajarkan klien 3. Mengarahkan klien 4. Mensupport klien Menyediakan lingkungan untuk klien agar dapat tumbuh dan berkembang. Keyakinan dan nilai - nilai Kenyakianan Orem's tentang empat konsep utama keperawatan adalah : 1. Klien : individu atau kelompok yang tidak mampu secara terus menerus memperthankan self care untuk hidup dan sehat, pemulihan dari sakit atau trauma atu koping dan efeknya. 2. Sehat : kemampuan individu atau kelompoki memenuhi tuntutatn self care yang berperan untuk mempertahankan dan meningkatkan integritas structural fungsi dan perkembangan. 3. Lingkungan : tatanan dimana klien tidak dapat memenuhi kebutuhan keperluan self care dan perawat termasuk didalamnya tetapi tidak spesifik. 4. Keperawatan : pelayanan yang dengan sengaja dipilih atau kegiatan yang dilakukan untuk membantu individu, keluarga dan kelompok masyarakat dalam mempertahankan self care yang mencakup integritas struktural, fungsi dan perkembangan. Tiga kategori self care Model Orem's menyebutkan ada beberapa kebutuhan self care yang disebutkan sebagai keperluan self care (self care requisite), yaitu : 1. Universal self care requisite ; keperluan self care universal dan ada pada setiap manusia dan berkaitan dengan fungsi kemanusiaan dan proses kehidupan, biasanya mengacu pada kebutuhan dasar manusia. Universal requisite yang dimaksudkan adalah : 1. Pemeliaharaan kecukupan intake udara 2. Pemeliharaan kecukupan intake cairan 3. Pemeliaharaan kecukupan makanan 4. Pemeliaharaan keseimabnagn antara aktifitas dan istirahat 5. Mencegah ancaman kehidupan manusia, fungsi kemanusiaan dan kesejahteraan manusia 6. Persediaan asuhan yang berkaitan dengan proses- proses eliminasi. 7. Meningkatkan fungsi human fungtioning dan perkembangan ke dalam kelompok sosial sesuai dengan potensi seseorang, keterbatasan seseorang dan keinginan seseorang untuk menjadi normal. 2. Developmental self care requisite : terjadi berhubungn dengan tingkat perkembangn individu dan lingkungan dimana tempat mereka tinggal yang berkaitan dengan perubahan hidup seseorang atau tingkat siklus kehidupan.
  8. 8. 3. Health deviation self care requisite : timbul karena kesehatan yang tidak sehat dan merupakan kebutuhan- kebutuhan yang menjadi nyata karena sakit atau ketidakmampuan yang menginginkan perubahan dalam perilaku self care. Tujuan Tujuan keperawatan pada model Orem"s secara umum adalah : 1. Menurunkan tuntutan self care pada tingkat dimana klien dapat memenuhinya, ini berarti menghilangkan self care deficit. 2. Memungkinkan klien meningkatkan kemampuannya untuk memenuhi tuntutan self care. 3. Memungkinkan orang yang berarti (bermakna) bagi klien untuk memberikan asuhan dependen jika self care tidak memungkinkan, oleh karenanya self care deficit apapun dihilangkan. Jika ketiganya ditas tidak tercapai perawat secara langsung dapat memenuhi kebutuhankebutuhan self care klien. Tujuan keperawatan pada model Orem's yang diterapkan kedalam praktek keperawatan keluarga / komunitas adalah : 1. Menolong klien dalam hal ini keluarga untuk keperawatan mandiri secara terapeutik 2. Menolong klien bergerak kearah tidakan-tidakan asuhan mandiri 3. Membantu anggota keluarga untuk merawat anggota keluarganya yang mengalami gangguan secara kompeten. Dengan demikian maka fokus Asuhan Keperawatan pada model orem's yang diterapkan pada praktek keperawtan keluaga/komunitas adalah : 1. Aspek interpersonal : hubungan didalam kelurga 2. Aspek sosial : hubungan keluarga dengan masyarakat disekitarnya. 3. Aspek prosedural : melatih ketrampilan dasar keluarga sehingga mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi 4. Aspek tehnis : mengajarkan kepada keluarga tentang tehnik dasar yang dilakukan di rumah, misalnya melakukan tindakan kompres secara benar. Read more: http://www.kapukonline.com/2012/02/konsepkeperawatandorotheaeorem.html#ixzz1sptc8RXj Tingkat Berfikir Kritis ditinjau dari Proses Keperawatan (Pengkajian, Diagnosa, Perencanaan, Tindakan, Evaluasi) Berpikir Kritis dalam Asuhan Keperawatan a. Pendekatan Berpikir Kritis Untuk Pengkajian
  9. 9. Dalam lingkungan perawatan kesehatan yang kompleks sekarang ini, perawat harus mampu memecahkan masalah secara akurat, menyeluruh, dan cepat. Hal ini berarti bahwa perawat harus mampu menelaah informasi dalam jumlah yang sangat banyak untuk membuat penilaian kritis. Penting artinya bagi perawat untuk belajar berpikir secara kritis tentang apa yang harus dikaji. Penilaian mandiri tentang kapan pertanyaan atau pengukuran diperlukan adalah dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman klinik perawat (Gordon, 1994). b. Berpikir Kritis dan Proses Diagnostik Keperawatan Berpikir kritis adalah pemeriksaan data, pengumpulan informasi dari literatur, pengorganisasian pengamatan, dan penelitian atas pengalaman masa lalu (Bandman & Bandman, 1995). Penggunaannya dalam perumusan diagnosa keperawatan adalah penting. Pada saat asuhan keperawatan meluas ke dalam berbagai lingkungan perawatan kesehatan, makin banyak aspek berpikir kritis diperlukan dalam pertimbangan dan penilaian diagnostic (Gordon, 1994). Proses diagnostik ini memadukan ketrampilan berpikir kritis dalam langkah-langkah pembuatan keputusan yang digunakan perawat untuk mengembangkan pernyataan diagnostik (Carnevali, 1984; Carnevali & Thomas, 1993). Proses ini mencakup analisis dan interpretasi data pengkajian, identifikasi masalah, dan merumuskan diagnosa keperawatan. c. Berpikir Kritis dan Merancang Intervensi Keperawatan Memilih intervensi keperawatan yang sesuai adalah proses pembuatan keputusan (Bulechek & McCloskey, 1990). Perawat secara kritis mengevaluasi data pengkajian, prioritas, pengetahuan, dan pengalaman untuk memilih tindakan yang akan secara berhasil memenuhi tujuan dan hasil yang diperkirakan yang telah ditetapkan (Gordon, 1994; Gordon et al, 1994). d. Keterampilan Berpikir Kritis dan Pengimplementasian Intervensi Keperawatan Perawat membuat dua jenis keputusan yang besar dalam proses keperawatan. Proses diagnostik menentukan kekuatan dan masalah klien saat pembuatan konklusi pengkajian dan sepanjang fase diagnostic (Bandman & Bandman, 1994; Mc Farland dan Mc Farlane, 1989). Perawat kemudian menggunakan pendekatan metodis, sistematis, yang didasarkan pada riset untuk merencanakan dan memilih intervensi yang sesuai (Bulechek & McCloskey, 1995; Gordon, 1987, 1994). Peserta didik harus cermat memilih intervensi yang dirancang untuk mencapai hasil yang diharapkan dan mengetahui perbedaan antara intervensi perawat dan intervensi dokter.
  10. 10. e. Revisi Rencana Perawatan dan Berpikir Kritis Sejalan dengan telah dievaluasinya tujuan, penyesuaian terhadap rencana asuhan dibuat sesuai dengan keperluan. Jika tujuan telah terpenuhi dengan baik, bagian dari rencana asuhan tersebut dihentikan. Tujuan yang tidak terpenuhi dan tujuan yang sebagian terpenuhi mengharuskan perawat untuk mengaktifkan kembali urutan dari proses keperawatan. Setelah perawat mengkaji klien kembali, diagnosa keperawatan dapat dimodifikasi atau ditambahkan dengan tujuan, hasil yang diharapkan sesuai, dan intervensi ditegakkan. Perawat juga menetapkan kembali prioritas. Hal ini merupakan langkah penting dalam berpikir kritis mengetahui bagaimana klien mengalami kemajuan dan bagaimana masalah dapat teratasi atau memburuk. Perawat dengan cermat memantau dan deteksi dini terhadap masalah adalah pertahankan garis depan klien (Benner, 1984). Aspek-Aspek Berpikir Kritis Kegiatan berpikir kritis dapat dilakukan dengan melihat penampilan dari beberapa perilaku selama proses berpikir kritis itu berlangsung. Berpikir kritis seseorang dapat dilihat dari beberapa aspek : 1) Relevance Relevansi (keterkaitan) dari pernyataan yang dikemukakan. 2) Importance Penting tidaknya isu atau pokok-pokok pikiran yang dikemukakan. 3) Novelty Kebaruan dari isi pikiran, baik dalam membawa ide-ide atau informasi baru maupun dalam sikap menerima adanya ide-ide baru orang lain. 4) Outside Material Menggunakan pengalamannya sendiri atau bahan-bahan yang diterimanya dari perkuliahan (refrence). 5) Ambiguity clarified Mencari penjelasan atau informasi lebih lanjut jika dirasakan ada ketidak jelasan. 6) Linking ideas Senantiasa menghubungkan fakta, idea tau pandangan serta mencari data baru dari informasi yang berhasil dikumpulkan.
  11. 11. 7) Justification Member bukti-bukti, contoh, atau justifikasi terhadap suatu solusi atau kesimpulan yang diambilnya. Termasuk di dalalmnya senantiasa member penjelasan mengenai keuntungan (kelebihan) dan kerugian (kekurangan) dari suatu situasi atau solusi 8) Critical assessment Melakukan evaluasi terhadap setiap kontribusi/ masukan yang dating dari dalam dirinya maupun dari orang lain. 9) Practical utility Ide-ide baru yang dikemukakan selalu dilihat pula dari sudut keperaktisan/ kegunaanya dalam penerapan 10) Width of understanding Diskusi yang dilaksanakan senantiasa bersifat muluaskan isi atau materi diskusi. Secara garis besar, perilaku berpikir kritis diatas dapat dibedakan dalam beberapa kegiatan: a. Berpusat pada pertanyaan (focus on question) b. Analisa argument (analysis arguments) c. Bertanya dan menjawab pertanyaan untuk klarifikasi (ask and answer questions of clarification and/or challenge) d. Evaluasi kebenaran dari sumber informasi (evaluating the credibility sources of information) C. KARAKTERISTIK BERPIKIR KRITIS Merupakan proses pengetahuan multi dimensi Berorientasi pada proses Kerangka dalam menginterpretasikan pengetahuan, tantangan, pengambilan keputusan, hipotesa dan memodifikasi Mengembangkan nilai-nilai untuk pengambilan keputusan dan aktifitas Kesadaran diri sendiri sebagai dasar membangun hubungan dengan klien, kesadaran diri, perasaan, keyakinan, nilai-nilai Empati dan pemberdayaan Menerapkan teori belajar Sebagai hasi sosialisasi professional Merupakan sikap/perilaku mencari dan meningkatkan kemampuan professional Menyatukan pendapat
  12. 12. Meningkatkan kualitas keputusan guna menghindari kesalahan dalam keputusan Konsisten Melibatkan perasaan, angan-angan, harapan dan intuisi. I. 1. 2. 3. 4. a. b. PENERAPAN KONSEP BERPIKIR KRITIS DALAM KEPERAWATAN Ada empat hal pokok dalam penerapan berfikir kritis dalam keperawatan, yaitu : Penggunaan bahasa dalam keperawatan Perawat menggunakan bahasa secara verbal maupun nonverbal dalam mengekspresikan idea, pikiran, informasi, fakta, perasan, keyakinan, dan sikapnya terhadap klien, sesama perawat, profesi lain ataupun secara nonverbal pada saat melakukan pendokumentasian keperawatan. Dalam hal ini berfikir kritis adalah kemampuan menggunakan bahasa secara reflektif Lima macam penggunaan bahasa dalam konteks berfikir kritis : Memberikan informasi yang dapat diklarifikasi (informative use of language) Mengekspresikan perasaan dan sikap (expressive use of language) Melaksanakan perencanan keperawatan atau ide-ide dalam tindakan keperawatan (directive use of language) Mengajukan pertanyaan dalam rangka mencari informasi, mengekspresikan keraguan dan keheranan (interrogative use of language) Mengekspresikan pengandaian (conditional use of language) Argumentasi dalam keperawatan Badman (1988) mengemukakan beberapa pengertian argumentasi terkait dengan konsep berfikir dalam keperawatan adalah sebagai berikut : Berhubungan dengan situasi perdebatan atau pertengkaran (dalam bahasa sehari-hari) Debat tentang suatu isu Upaya untuk mempengaruhi individu atau kelompok untuk berbuat suatu dalam rangka merubah perilaku sehat Berhubungan dengan bentuk penjelasan yang rasional dimana memerlukan serangkaian alas an perlunya suatu keyakinan dan pengambilan keputusan atau tindakan. Pengambilan keputusan Dalam praktek keperawatan sehari-hari, perawat selalu dihadapkan pada situasi dimana harus mengambil keputusan dengan tepat. Hal ini dapat terjadi dalam interaksi teman sejawat profesi lain dan terutama dalam penyelesaian masalah manajemen di ruangan. Penerapan dalam proses keperawatan Pada tahap pengkajian Perawat dituntut untuk dapat mengumpulkan data dan memvalidasinya dengan hasil observasi. Perawat harus melaksanakan observasi yang dapat dipercaya dan membedakannya dari data yang tidak sesuai. Hal ini merupakan keterampilan dasar berfikir kritis. Lebih jauh perawat diharapakan dapat mengelola dan mengkategorikan data yang sesuai dan diperlukan. Untuk memiliki keterampilan ini, perawat harus memiliki kemampuan dalam mensintesa dan menggunakan ilmu-ilmu seperti biomedik, ilmu dasar keperawatan, ilmu perilaku, dan ilmu sosial Perumusan diagnose keperawatan
  13. 13. Tahap ini adalah tahap pengambilan keputusan yang paling kritikal. Dimana perawat dapat menentukan masalah yang benar-benar dirasakan klien, berikut argumentasinya secara rasional. Semakin perawat terlatih untuk berfikir kritis, maka ia akan semakin tajam dalam menentukan masalah atau diagnose keperawatan klien, baik diagnose keperawatan yang sifatnya possible, resiko, ataupun actual. Berfikir kritis memerlukan konseptualisasi dan ketrampilan ini sangat penting dalam perumusan diagnose, karena taksonomi diagnose keperawatan pada dasarnya adalah suatu konsep (NANDA, 1998). c. Perencanaan keperawatan Pada saat merumuskan rencana keperawatan, perawat menggunakan pengetahuan dan alas an untuk mengembangkan hasil yang diharapkan untuk mengevaluasi asuhan keperawatan yang diberikan. Hal ini merupakan keterampilan lain dalam berfikir kritis, pemecahan masalah atau pengambilan keputusan. Untuk hal ini dibutuhkan kemampuan perawat dalam mensintesa ilmuilmu yang dimiliki baik psikologi, fisiologi, dan sosiologi, untuk dapat memilih tindakan keperawatan yang tepat berikut alasannya. Kemudian diperlukan pula keterampilan dalam membuat hipotesa bahwa tindakan keperawatan yang dipilih akan memecahkan masalah klien dan dapat mencapai tujuan asuhan keperawatan d. Pelaksanaan keperawatan Pada tahap ini perawat menerapkan ilmu yang dimiliki terhadap situasi nyata yang dialami klien. Dalam metode berfikir ilmiah, pelaksanaan tindakan keperawatan adalah keterampilan dalam menguji hipotesa. Oleh karena itu pelaksanaan tindakan keperawatan merupakan suatu tindakan nyata yang dapat menentukan apakah perawat dapat berhasil mencapai tujuan atau tidak. e. Evaluasi keperawatan Pada tahap ini perawat mengkaji sejauh mana efektifitas tindakan yang telah dilakukan sehingga dapat mencapai tujuan, yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar kien. Pada proses evaluasi, standar dan prosedur berfikir kritis sangat memegang peranan penting karena pada fase ini perawat harus dapat mengambil keputusan apakah semua kebutuhan dasar klien terpenuhi, apakah diperlukan tindakan modifikasi untuk memecahkan masalah klien, atau bahkan harus mengulang penilaian terhadap tahap perumusan diagnose keperawatan yang telah ditetapkan sebelumnya Sebuah titik sistem dokumentasi asuhan keperawatan terkomputerisasi sedang dievaluasi untuk menentukan apakah pelaksanaan menghasilkan timesaving untuk praktisi perawat neonatal (NNP) sambil mempersiapkan putaran pasien. Manfaat dari proses kerja hipotesis menurun adalah inisiasi awal dari perubahan perawatan sehingga meningkatkan kualitas pelayanan. Kegiatan diamati dalam proses kerja yang waktunya sebelum dan lagi 4 bulan setelah penerapan sistem dokumentasi keperawatan terkomputerisasi. Data akan dianalisis dan hasil yang dilaporkan. Pengumpulan data hanya selesai dan data yang sedang dimasukkan ke dalam SPSS untuk analisis statistik. Statistik deskriptif akan mencakup frekuensi, persentase, berarti, dan standar deviasi untuk menggambarkan waktu yang dihabiskan dalam berbagai kegiatan sambil menyiapkan Formulir Kemajuan Harian oleh 3 NNPs dan untuk memeriksa tingkat ketajaman bayi. Sebuah analisis tindakan berulang varians direncanakan untuk membandingkan waktu yang dihabiskan sebelum dan sesudah
  14. 14. implementasi sistem sementara mengontrol NNP dan tingkat ketajaman. Persentase kesepakatan antara penilai akan dihitung untuk kehandalan antar-penilai. Hasil akan memberikan indikasi kualitas dokumentasi sistem keperawatan komputerisasi ini, berdampak pada pengguna, dan efeknya pada proses kerja. Penelitian - Menerapkan perubahan dalam praktek keperawatan Sistem dokumentasi keperawatan di Rumah Sakit Mercy, Cork itu dirombak menyusul sebuah penelitian yang dilakukan oleh Tim Pengembangan Praktek Proses keperawatan terus berubah untuk memenuhi tuntutan baru, harapan dan teknologi. Praktisi perawat terus memberikan pelayanan langsung kepada pasien karena mereka telah di masa lalu, tapi sekarang akuntabel untuk praktek profesional dan self-direction. Masalah yang mempengaruhi praktik keperawatan saat ini meliputi: Dorongan untuk profesionalisme Promosi kesehatan dan meningkatnya penekanan pada keuntungan kesehatan dan pemeliharaan kesehatan perubahan dalam program perawatan dan manajemen Akuntabilitas dan keputusan etika / moral Teknologi informasi tuntutan. 1 Setelah diakui dan diterima kebutuhan untuk naik ke tantangan todays, Tim Pengembangan Praktek di Rumah Sakit Mercy, Cork, dianalisis dan dievaluasi praktek klinis saat ini dengan tujuan mempengaruhi perubahan jika dan bila perlu. Dokumentasi keperawatan yang terakhir karena beberapa alasan: Unsur keuangan / biaya dalam konteks penganggaran rumah sakit, keperawatan harus mampu membenarkan dirinya sendiri. Dokumentasi memungkinkan manajemen keperawatan untuk mempertahankan tingkat staf saat ini dan untuk memperbaiki mereka jika diperlukan. Peningkatan kualitas manfaat dokumentasi pasien dan sistematis mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam perawatan mereka. Selain itu, dokumentasi yang akurat dan ringkas mengidentifikasi dan memperkuat peran perawat penting dalam mempromosikan kesejahteraan pasien. Teknologi informasi dokumentasi keperawatan akan terkomputerisasi dalam waktu dekat, menciptakan database otomatis. Sebuah database dikumpulkan sebelum perubahan yang dilakukan sehingga perbandingan dapat dibuat setelah perubahan dilaksanakan. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan kardexes keperawatan di bangsal masing-masing, dan dengan meminta perawat untuk pendapat mereka
  15. 15. tentang sistem sekarang dokumentasi, dan apa solusi yang mereka miliki untuk menawarkan. Temuan dari survei ini menunjukkan bahwa: Sistem sekarang menulis laporan tidak cukup mencerminkan tingkat keahlian keperawatan dan perawatan diperpanjang untuk pasien. Perawat menyadari kebutuhan untuk beradaptasi pendekatan seragam dan kohesif untuk dokumentasi. Staf menunjukkan bahwa perubahan tersebut, sementara diterima, akan memerlukan dukungan dari fasilitator. Setelah konsultasi dengan personil lingkungan, obyektif menimbang praktek yang ada dan mencari literatur, Tim Pengembangan Praktek memutuskan untuk menggabungkan dua konsep diagnosis keperawatan dan proses keperawatan dan untuk memperkenalkan kerangka disintesis dokumentasi perawat ke daerah klinis. Diagnosis keperawatan Peran perawat sebagai diagnosa yang telah mapan di AS, namun telah mendapat sedikit perhatian di tempat lain. Bunga dalam mengembangkan diagnosis keperawatan dalam pengaturan Inggris muncul dalam literatur 2-4 Sampai saat ini., Sastra tidak ada yang tersedia mengenai penggunaannya di Irlandia. Diagnosis keperawatan saat ini mendominasi drive menuju otonomi di Amerika Utara. Amerika Utara Keperawatan Diagnosis Association (NANDA) mendefinisikan konsep tersebut sebagai:. Masalah kesehatan aktual atau potensial yang perawat, berdasarkan pendidikan dan pengalaman mereka, mampu dan berlisensi untuk mengobati 5 NANDA telah mengembangkan daftar klasifikasi yang membantu perawat untuk menjadi akrab dengan diagnosis keperawatan yang disetujui dan diakui. Untuk menempatkan ini dalam konteks Irlandia, Tim Pengembangan Praktek mengembangkan daftar diagnosis keperawatan sering terlihat di Rumah Sakit Mercy. Daftar ini, digunakan bersama dengan daftar NANDA, memungkinkan spektrum yang luas dari diagnosis keperawatan aktual atau potensial. Proses keperawatan Proses berpikir logis dan kritis adalah komponen penting dari praktek profesional. Proses ini berasal dari manajemen bisnis dan merupakan dan / atau organisasi kerangka pemecahan masalah. Dalam kasus keperawatan empat komponen utama adalah: menilai, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi. The Mercy Hospital Diagnosa Keperawatan diubah / Proses terdiri dari enam fase: Penaksiran Diagnosa keperawatan Perencanaan / diharapkan hasil Implementasi
  16. 16. Evaluasi Discharge. Ini diagnosis / proses telah dikembangkan sebagai kerangka untuk dokumentasi keperawatan karena menyediakan link penting antara penyediaan dan evaluasi perawatan. Itu diantisipasi bahwa beberapa kesulitan mungkin ditemui ketika memperkenalkan diagnosis keperawatan / proses untuk praktisi perawat. Sebelum perubahan dapat diimplementasikan dan diterima, pentingnya keyakinan yang ditantang harus sepenuhnya dihargai. Isu, sikap dan keyakinan pada proses perubahan telah baik dieksplorasi. Pelajaran utama adalah bahwa: Semua individu diperlukan untuk mengubah harus merasa terlibat dalam proses Waktu harus diperbolehkan untuk perubahan terjadi. Diputuskan untuk memperkenalkan diagnosis keperawatan / proses secara bertahap. Sebuah strategi yang direncanakan untuk memastikan pelaksanaan kerjasama dan sukses dari konsepkonsep ini. Dengan kerjasama dari para suster lingkungan dan staf itu memutuskan untuk proyek percontohan ini pada dua bangsal bangsal medis laki-laki dan perempuan. Strategi Diputuskan bahwa pendekatan diubah dokumentasi akan mulai beroperasi pada bulan Agustus 1997. Sebelum ini, perpustakaan rumah sakit penuh dengan literatur yang sesuai dan daftar referensi diberikan ke semua lingkungan. Taksonomi dari diagnosis keperawatan dan intervensi keperawatan yang mungkin sering terlihat di bangsal medis dibuat tersedia untuk masing-masing daerah. Perusahaan asuransi rumah sakit terakhir dokumentasi yang diusulkan dan menemukan itu dapat diterima. Sebuah studi diadakan hari di rumah sakit pada bulan Juni 1997. Sipir, nyonya asisten, saudara bangsal, perawat staf senior dan tutor hubungan diundang untuk hadir. Hari studi dikoordinasi oleh tim dan tema untuk hari termasuk: Alasan untuk perubahan Gambaran dari diagnosis keperawatan diubah / proses The intrinsik penghargaan Perawat profesional dan kebutuhan untuk membuat tubuh pengetahuan klinis Hukum implikasi dari dokumentasi miskin Kebutuhan untuk catatan sistematis dan akurat menjaga Sebuah gambaran dari perubahan dokumentasi Bermain peran, menunjukkan episode 48 jam rumah sakit pasien menggunakan diagnosis keperawatan / proses. Hari studi diikuti oleh kuliah tentang konsep diagnosis keperawatan / proses dan perubahan dokumentasi untuk semua personil keperawatan yang terlibat dalam studi percontohan. Ini diulangi 30 kali selama empat minggu interim dan perawat diundang untuk reattend presentasi sesering mungkin. Tim juga melakukan lokakarya praktis di bangsal yang ditunjuk.
  17. 17. Itu diantisipasi bahwa beberapa perlawanan terhadap proses dapat diungkapkan dan perubahan aspek dokumentasi mungkin dicari oleh staf. Untuk menghindari mencemari hasil penelitian, komentar dan / atau kritik dari proses yang diakui sebagai mereka muncul, tapi desain dari proses itu tidak diubah dengan cara apapun sampai hasil audit diperoleh dan dianalisis. Studi percontohan dimulai pada Agustus 1997. Selama empat minggu pertama Tim Pengembangan Praktek bekerja secara intensif bersama staf perawat di daerah yang ditunjuk. Diagnosis keperawatan / proses yang digunakan setiap waktu perawatan pasien didokumentasikan dari masuk ke debit. Hal ini diawasi oleh tim dan saran, bantuan dan dorongan yang ditawarkan dimanapun diperlukan. Setelah dua bulan KARDEX keperawatan telah diaudit untuk mengamati apakah diagnosis / proses sedang dimanfaatkan dengan benar, dan tenaga keperawatan yang diaudit untuk memastikan tingkat kepuasan mereka dengan metode baru dokumentasi, dan pelatihan dan dukungan yang diberikan. Audit retrospektif dari 20 kardexes keperawatan, yang dipilih secara acak oleh petugas catatan medis, dilakukan SPenggunaan teknologi dan komputer telah menyebabkan proses perbaikan, yang memungkinkan untuk waktu kurang mendokumentasikan, lebih banyak waktu dengan pasien dan oleh karena itu peningkatan kualitas perawatan pasien dan keselamatan. Penggunaan charting elektronik oleh komputer dan perangkat elektronik lainnya telah terbukti dapat meningkatkan hasil pasien dan keselamatan pasien.emua hak dilindungi oleh INMO. Jangan gunakan tanpa izin

×