Askep isk

1,268 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,268
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
11
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Askep isk

  1. 1. Pengertian Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001) Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998) B. Klasifikasi Klasifikasi infeksi saluran kemih sebagai berikut : 1. Kandung kemih (sistitis) 2. Uretra (uretritis) 3. Prostat (prostatitis) 4. Ginjal (pielonefritis) Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut, dibedakan menjadi: 1. ISK uncomplicated (simple) ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun fungsional normal. ISK ini pada usi lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih. 2. ISK complicated Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis dan shock. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut: o Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap dan prostatitis. o Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK. o Gangguan daya tahan tubuh o Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang memproduksi urease. C. Etiologi 1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain: o Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated o Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple) o Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan-lain-lain. 2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain: o Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif o Mobilitas menurun o Nutrisi yang sering kurang baik o Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral o Adanya hambatan pada aliran urin o Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat
  2. 2. D. Patofisiologi Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada dua jalur utama terjadinya ISK yaitu asending dan hematogen. Secara asending yaitu: o Masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih, antara lain: factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, factor tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi. o Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal. Secara hematogen yaitu: Sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut, dan lain-lain. Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya: Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif. Mobilitas menurun Nutrisi yang sering kurang baik System imunnitas yng menurun Adanya hambatan pada saluran urin Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar ke suluruh traktus urinarius. Selain itu, beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK, antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun. E. Tanda dan Gejala 1. Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah adalah :
  3. 3. o Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih o Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis o Hematuria o Nyeri punggung dapat terjadi 2. Tanda dan gejala ISK bagian atas adalah : o Demam o Menggigil o Nyeri panggul dan pinggang o Nyeri ketika berkemih o Malaise o Pusing o Mual dan muntah F. Pemeriksaan P enunjang 1. Urinalisis o Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih o Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis. 2. Bakteriologis o Mikroskopis o Biakan bakteri 3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik 4. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi. 5. Metode tes o Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit. o Tes Penyakit Menular Seksual (PMS) : Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek). o Tes- tes tambahan : Urogram intravena (IVU), Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten. G. Penatalaksanaan Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan
  4. 4. bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhaap flora fekal dan vagina. Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas: Terapi antibiotika dosis tunggal Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu Terapi dosis rendah untuk supresi Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi, factor kausatif (mis: batu, abses), jika muncul salah satu, harus segera ditangani. Setelah penanganan dan sterilisasi urin, terapi preventif dosis rendah. Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin), trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ, bactrim, septra), kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan, tetapi E. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Pyridium, suatu analgesic urinarius jug adapt digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi. Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkina adanya: Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan Interansi obat Efek samping obat Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dengan faal ginjal: Efek nefrotosik obat Efek toksisitas obat D O W N L O A D A S K E P I S K D I S I N I D A N D I S I N I Sumber : http://kumpulan-asuhan-keperawatan.blogspot.com/2009/01/asuhan-keperawatan-pada-pasien- dengan.html Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Infeksi Saluran Kemih (ISK) A. Pengkajian 1. Pemerikasaan fisik: dilakukan secara head to toe 2. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko: o Adakah riwayat infeksi sebelumnya? o Adakah riwayat obstruksi pada saluran kemih? 3. Adanya faktor predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial o Bagaimana dengan pemasangan folley kateter ? o Imobilisasi dalam waktu yang lama ? o Apakah terjadi inkontinensia urine? 4. Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi saluran kemih
  5. 5. o Bagaimana pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor predisposisi terjadinya ISK pasien (dorongan, frekuensi, dan jumlah) o Adakah disuria? o Adakah urgensi? o Adakah hesitancy? o Adakah bau urine yang menyengat? o Bagaimana haluaran volume orine, warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urine? o Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah ? o Adakah nyesi pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas ? o Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas. 5. Pengkajian psikologi pasien: o Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan yang telah dilakukan? o Adakakan perasaan malu atau takut kekambuhan terhadap penyakitnya. B. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain. 2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain. 3. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. C. Intervensi 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan struktur traktus urinarius lain. Kriteria Hasil : o Nyeri berkurang / hilang saat dan sesudah berkemih Intervensi: o Pantau perubahan warna urin, pantau pola berkemih, masukan dan keluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang Rasional: untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan o Catat lokasi, lamanya intensitas skala (1-10) nyeri. Rasional: membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan penyebab nyeri o Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan. Rasional: meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot. o Berikan perawatan perineal Rasional: untuk mencegah kontaminasi uretra
  6. 6. o Jika dipaang kateter, perawatan kateter 2 kali per hari. Rasional: Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan. o Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan Rasional : relaksasi, menghindari terlalu merasakan nyeri. 2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain. Kriteria Hasil : Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi, oliguri, disuria) Intervensi: o Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristi urin Rasional: memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi o Dorong meningkatkan pemasukan cairan Rasional: peningkatan hidrasi membilas bakteri. o Kaji keluhan pada kandung kemih Rasional: retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan (kandung kemih/ginjal) o Observasi perubahan tingkat kesadaran Rasional: akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada susunan saraf pusat o Kolaborasi:  Awasi pemeriksaan laboratorium; elektrolit, BUN, kreatinin Rasional: pengawasan terhadap disfungsi ginjal  Lakukan tindakan untuk memelihara asam urin: tingkatkan masukan sari buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan aam urin. Rasional: aam urin menghalangi tumbuhnya kuman. Peningkatan masukan sari buah dapt berpengaruh dalm pengobatan infeksi saluran kemih. 3. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. KriteriaHasil : menyatakan mengerti tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, rencana pengobatan, dan tindakan perawatan diri preventif. Intervensi: o Berikan waktu kepada pasien untuk menanyakan apa yang tidak di ketahui tentang penyakitnya. Rasional : Mengetahui sejauh mana ketidak tahuan pasien tentang penyakitnya.
  7. 7. o Kaji ulang proses penyakit dan harapan yang akan datang Rasional: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan beradasarkan informasi. o Berikan informasi tentang: sumber infeksi, tindakan untuk mencegah penyebaran, jelaskan pemberian antibiotik, pemeriksaan diagnostik: tujuan, gambaran singkat, persiapan ynag dibutuhkan sebelum pemeriksaan, perawatan sesudah pemeriksaan. Rasional: pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan membantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencan terapetik. o Anjurkan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan, minum sebanyak kurang lebih delapan gelas per hari. Rasional: Pasien sering menghentikan obat mereka, jika tanda-tanda penyakit mereda. Cairan menolong membilas ginjal. o Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan masalah tentang rencana pengobatan. Rasional: Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik. DAFTAR PUSTAKA Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni made Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC. Enggram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC. Parsudi, Imam A. (1999). Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: FKUI Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih Bahasa: Peter Anugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC. Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.
  8. 8. ASKEP DENGAN INFEKSI SALURAN PERKEMIHAN Pengkajian 1. Riwayat Adanya Faktor – Faktor Resiko - Ebstuksi saluran kemih - Riwayat infeles saluran kemih 2. Adanya Immobilitas Dan Inkotenisia 3. Kaji manifestasi klinis - Doronga - Prekuensi - Disuria, bau urin - Nyeri supra pubis - demam 4. kaji perasaan khen terhadap hasil dan tindakan Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri b/d infeksi saluran kemih Tujuan - Tidak nyeri waktu berkemih, tidak ada nyeri pada saat dipalpasi daerah pinggul Intervansi - Pantau intake dengan output setiap jam - Berikan analgetik - Anjutrkan kheri berkemih kapan saja bila ada keinginan - Berikan cairan 2900 ml / hari Rasionalisai - Untuk mengidentifikasi kemajuan penyimpangan dan hasil yang di harapkan - Analgetik memblok lintasan nyeri - Menghindari pertumbuhan bakteri dengan mengurangi statis - Membantu di bilas saluran perkemihan 2. Resti terhadap infeksi b/d dengan adanya factor masa koma Tujuan : berkemih dengan urin yang jernih Intervensi - berikan pertineal - pertahankan tekruk aseptic - ubah posisi setiap 2 jam - tingkatan dari buah beri Rasional - untuk mencegah kontaminasi uretra - untuk mencegah terhadap masuknya kuman - mencegah statis urin - jumlah dan sari buah berisi diperlukan untuk mencapai dengan memelihara kesamaa urin, asam urin, menghalangi tumbuhnya kuman 3. Kurang pengetahuan b/d perawatan di rumah Tujuan : mengatakan mengerti tentang kondisi Intervensi ; - berikan informasi tentang sumber infeksi - terapi antibiotik - sarankan untuk berkemih sesuai keinginan - berikan kesempatan untuk mengungkapkan perawatan Rasionalisasi - pengetahuan yang di dapat mengurangi ansietas - mencegah infeksi menyebar
  9. 9. - menjaga saluran perkemihan bebas dari bakteri - untuk membantu mengembangkan penerimaan dengan cara terapetik
  10. 10. Pengertian Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid 2, Hal 369). Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik laki-laki maupun perempuan dari semua umur baik pada anak-anak, remaja, dewasa maupun pada usia lanjut. Akan tetapi, wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi kurang lebih 5-15%. Infeksi traktus urinarius pada pria merupakan akibat dari menyebarnya infeksi yang berasal dari urethra seperti juga pada wanita. Namun demikian, panjang uretra dan jauhnya jarak antara urethra dari rektum pada pria dan adanya bakterisidal dalam cairan prostatik melindungi pria dari infeksi traktus urinarius. Akibatnya UTI pada pria jarang terjadi, namun ketika gangguan ini terjadi akan menunjukkan adanya abnormalitas fungsi dan struktur dari traktus urinarius. B. Etiologi 1. Bakteri (Eschericia coli) 2. Jamur dan virus 3. Infeksi ginjal 4. Prostat hipertropi (urine sisa) Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya infeksi saluran kemih yaitu: 1. Bendungan aliran urine: a. Anatomi konginetal b. Batu saluran kemih c. Oklusi ureter (sebagian atau total) 2. Refluks vesiko ureter 3. Urine sisa dalam buli-buli dapat terjadi karena: a. Neurogenik bladder b. Striktur urethra c. Hipertropi prostat 4. Gangguan metabolic: a. Hiperkalsemia (kalsium) b. Hipokalemia (Kalium) c. Agammaglobulinemia 5. Instrumentasi a. Dilatasi urethra sistoskopi 6. Kehamilan a. Faktor statis dan bendungan b. pH urine yang tinggi sehingga mempermudah pertumbuhan kuman
  11. 11. C. Patofisiologi Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih dapat melalui: 1. Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat terdekat saluran kemih yang terinfeksi. 2. Hematogen yaitu penyebaran mikroorganisme patogen yang masuk melalui darah yang terdapat kuman penyebab infeksi saluran kemih yang masuk melalui darah dari suplay jantung ke ginjal. 3. Limfogen yaitu kuman masuk melalui kelenjar getah bening yang disalurkan melalui helium ginjal. 4. Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi. Dua jalur utama terjadi infeksi saluran kemih ialah hematogen dan ascending. Tetapi dari kedua cara ini, ascending-lah yang paling sering terjadi. Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah karena menderita suatu penyakit kronik atau pada pasien yang sementara mendapat pengobatan imun supresif. Penyebaran hematogen bisa juga timbul akibat adanya infeksi di salah satu tempat misalnya infeksi S.Aureus pada ginjal bisa terjadi akibat penyebaran hematogen dari fokus infeksi dari tulang, kulit, endotel atau di tempat lain. Infeksi ascending yaitu masuknya mikroorganisme dari uretra ke kandung kemih dan menyebabkan infeksi pada saluran kemih bawah. Infeksi ascending juga bisa terjadi oleh adanya refluks vesico ureter yang mana mikroorganisme yang melalui ureter naik ke ginjal untuk menyebabkan infeksi. Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang naik dari perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan mukosa. Agar infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada dan mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui berkemih, mekanisme pertahan penjamu dan cetusan inflamasi. D. Macam-macam ISK 1. Infeksi saluran kemih bagian bawah yaitu: a. Peradangan pada urethra atau urethritis. b. Peradangan pada kandung kemih atau cystitis. c. Peradangan pada prostat atau prostatitis. 2. Infeksi saluran bagian kemih atas yaitu: a. Pielonefritis akut b. Pielonefritis kronik
  12. 12. E. Gambaran Klinis 1. Uretritis biasanya memperlihatkan gejala: a. Mukosa memerah dan edema b. Terdapat cairan eksudat yang purulent c. Ada ulserasi pada urethra d. Adanya rasa gatal yang menggelitik e. Adanya nanah awal miksi f. Dysuria (nyeri waktu berkemih) g. Kesulitan memulai kencing, kurang deras dan berhenti sementara miksi (prostatismus) h. Nyeri pada abdomen bagian bawah (supra pubic) 2. Cystitis biasanya memperlihatkan gejala: a. Dysuria (nyeri waktu berkemih) b. Peningkatan frekuensi berkemih c. Sering kencing pada malam (nocturia) d. Keinginan kuat untuk berkemih (urgency) e. Kencing yang susah dan disertai kejang otot pinggang (stranguria) f. Nyeri pinggang bawah atau suprapubic g. Demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah 3. Pielonefritis akut biasanya memperlihatkan gejala: a. Demam b. Menggigil c. Nyeri pinggang d. Mual sampai muntah e. “Irritative voiding symptoms” (sering miksi, mendesak dan dysuria) f. Tanda penting: nyeri ketok pada pinggang (ginjal) yang terkena 4. Pielonefritis kronik mungkin memperlihatkan gambaran mirip dengan pielonefritis akut, tetapi dapat juga menimbulkan hipertensi dan akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal. F. Komplikasi 1. Pembentukan abses ginjal atau perirenal 2. Gagal ginjal G. Pemeriksaan diagnostic Urinalisis, Bakteriologis, USG dan IVP
  13. 13. H. Pengobatan 1. Terapi antibiotik untuk membunuh bakteri gram positif maupun gram negatif 2. Apabila pielonefritis kroniknya disebabkan oleh obstruksi atau refluks, maka diperlukan penatalaksanaan spesifik untuk mengatasi masalah- masalah tersebut 3. Dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas mikroorganisme yang mungkin naik ke urethra, untuk wanita harus membilas dari depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri faeces. I. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri 2. Perubahan pola eliminasi 3. Hipertermia 4. Resiko defisit volume cairan 5. Resiko infeksi sekunder 6. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur 7. Kecemasan 8. Kurang pengetahuan
  14. 14. ASKEP ISK (INFEKSI SALURAN KEMIH) 04JAN20111 Komentar by WR in NURSING Tag:KepeRawatan, MAKALAH & ASKEP BAB I Konsep Medis 1. A. Pengertian Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001). Infeksi saluran kemih adalah berkembang biaknya mikroorganisme di dalam saluran kemih yang dalam keadaan normal tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain. Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang disebabkan oleh bakteri terutama Escherichia coli ; resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluks vesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemihan, pemakaian instrumen uretral baru, septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk, 1998). Infeksi traktus urinarius pada pria merupakan akibat dari menyebarnya infeksi yang berasal dari uretra seperti juga pada wanita. Namun demikian, panjang uretra dan jauhnya jarak antara uretra dari rektum pada pria dan adanya bakterisidal dalam cairan prostatik melindungi pria dari infeksi traktus urinarius. Akibatnya UTI pada pria jarang terjadi, namun ketika gangguan ini terjadi kali ini menunjukkan adanya abnormalitas fungsi dan struktur dari traktus urinarius. 1. B. Etiologi 1. Dapat berasal dari organisme pada faeces yang naik dari perineum uretra dan kandung kemih, serta menempel pada permukaan mucosa. 2. Pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap . 3. Gangguan status metabolis (diabetes). 4. Refluks uretrovesikel ® refluks (aliran balik) urine dari uretra ke dalam kandung kemih. 5. Refluks uretrovesikel ®dapat disebabkan o/ disfungsi leher kandung kemih uretra. Uretrovesikel atau refluks uretrovesikel ® aliran balik urin dari kandung kemih ke dlm kedua ureter. 6. Kontaminasi fekal. 7. Hubungan seksual ® berperan masuknya organisme dari perineum ke dalam kandung kemih. 8. Pemasangan alat ke dalam traktus urinarius 9. Statis urine 2. C. Patofisiologi Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang naik dari perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan mukosa. Agar infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada dan
  15. 15. mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui berkemih, mekanisme pertahan penjamu dan cetusan inflamasi. Inflamasi, abrasi mukosa uretral, pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap, gangguan status metabolisme (diabetes, kehamilan, gout) dan imunosupresi meningkatkan resiko infeksi saluran kemih dengan cara mengganggu mekanisme normal. Infeksi saluran kemih dapat dibagi menjadi sistisis dan pielonefritis. Pielonefritis akut biasanya terjadi akibat infeksi kandung kemih asendens. Pielonefritis akut juga dapat terjadi melalui infeksi hematogen. Infeksi dapat terjadi di satu atau di kedua ginjal. Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang, dan biasanya dijumpai pada individu yang mengidap batu, obstruksi lain, atau refluks vesikoureter. Sistitis (inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung kemih (refluks urtrovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau sistoskop. Uretritis suatu inflamasi biasanya adalah suatu infeksi yang menyebar naik yang digolongkan sebagai general atau mongonoreal. Uretritis gnoreal disebabkan oleh niesseria gonorhoeae dan ditularkan melalui kontak seksual. Uretritis nongonoreal ; uretritis yang tidak berhubungan dengan niesseria gonorhoeae biasanya disebabkan oleh klamidia frakomatik atau urea plasma urelytikum. Pielonefritis (infeksi traktus urinarius atas) merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tobulus dan jaringan intertisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai kandung kmih melalui uretra dan naik ke ginjal meskipun ginjal 20 % sampai 25 % curah jantung; bakteri jarang mencapai ginjal melalui aliran darah ; kasus penyebaran secara hematogen kurang dari 3 %. 1. D. Macam-macam ISK : 1. Uretritis (uretra) 2. Sistisis (kandung kemih) 3. Pielonefritis (ginjal) Gambaran Klinis : Uretritis biasanya memperlihatkan gejala : 1. Mukosa memerah dan oedema 2. Terdapat cairan eksudat yang purulent 3. Ada ulserasi pada urethra 4. Adanya rasa gatal yang menggelitik 5. Good morning sign 6. Adanya nanah awal miksi 7. Nyeri pada saat miksi
  16. 16. 8. Kesulitan untuk memulai miksi 9. Nyeri pada abdomen bagian bawah. Sistitis biasanya memperlihatkan gejala : 1. Disuria (nyeri waktu berkemih) 2. Peningkatan frekuensi berkemih 3. Perasaan ingin berkemih 4. Adanya sel-sel darah putih dalam urin 5. Nyeri punggung bawah atau suprapubic 6. Demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah. Pielonefritis akut biasanya memperihatkan gejala : 1. Demam 2. Menggigil 3. Nyeri pinggang 4. Disuria Pielonefritis kronik mungkin memperlihatkan gambaran mirip dengan pielonefritis akut, tetapi dapat juga menimbulkan hipertensi dan akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal. 1. E. Manifestasi Klinis 1. Bakteriuria 2. Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih (sistisis) 3. Hematuria 4. Nyeri punggung 5. Demam 6. Menggigil, nyeri ketika berkemih 7. Terdesak kencing (urgency), disuria 2. F. Komplikasi : Pembentukan Abses ginjal atau perirenal. Gagal ginjal 1. G. Pemeriksaan diagnostik v Urinalisis Leukosuria atau piuria terdapat > 5 /lpb sedimen air kemih. § Hematuria 5 – 10 eritrosit/lpb sedimen air kemih. v Bakteroilogis Mikroskopis ; satu bakteri lapangan pandang minyak emersi. 102 – 103 organisme koliform/mL urin plus piuria. Biakan bakteri Tes kimiawi; tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada uji carik.
  17. 17. 1. H. Pengobatan penyakit ISK 1. Terapi antibiotik untuk membunuh bakteri gram positif maupun gram negatif. 1. Amoxicillin 20-40 mg/kg/hari dalam 3 dosis. 2. Co-trimoxazole atau trimethoprim 6-12 mg trimethoprim/kg/hari dalam 2 dosis. 3. Cephalosporin seperti cefixime atau cephalexin. 4. Co-amoxiclav digunakan pada ISK dengan bakteri yang resisten terhadap cotrimoxazole. 5. Obat-obatan seperti asam nalidiksat atau nitrofurantoin tidak digunakan pada anak-anak yang dikhawatirkan mengalami keterlibatan ginjal pada ISK. 6. Apabila pielonefritis kroniknya disebabkan oleh obstruksi atau refluks, maka diperlukan penatalaksanaan spesifik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. 7. Dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas microorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk wanita harus membilas dari depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri faeces. BAB II KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. A. Pengkajian 1. 1. Aktivitas / istirahat · Gejala : pekerjaan mononton, pekerjaan dimana pasien terpajan pada lingkungan bersuhu tinggi. keterbatasan aktivitas atau imobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya. 1. 2. Sirkulasi Tanda : peningkatan tekanan darah, nadi (nyeri, ansietas, gagal ginjal). kulit hangat dan kemerahan, pucat. 1. 3. Eliminasi · Gejala : adanya riwayat ISK kronis, obstruksi sebelumnya (kalkulus). penurunan keluaran urine, kandung kemih penuh. rasa terbakar, dorongan berkemih, diare. · Tanda : poliguria, hematuria, piuria. perubahan pola berkemih. 1. 4. Makanan / Cairan · Gejala : mual dan muntah, nyeri tekan abdomen diet tinggi purin, kalsium oksalat, dan fosfat ketidakcukupan pemasukan cairan, tidak minum air dengan cukup · Tanda : distensi abdominal,penurunan/ tak adanya bising usus muntah
  18. 18. 1. 5. Nyeri / kenyamanan · Gejala : episode akut, nyeri akut, nyeri kolik. lokasi tergantung pada lokasi batu, contoh pada panggul di regio sudut kostavertebra, dapat menyebar ke punggung abdomen, (lipat paha atau genetelia) ngeri dangkal konstan menunjukkan kalkulus ada di pelvis atau kalkulus ginjal. nyeri dapat di gambarkan sebagai akut, hebat, tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain. · Tanda : melindungi, perilaku distraksi nyeri tekan pada area ginjal pada palpasi 1. 6. Keamanan · Gejala : penggunaan alkohol demam, menggigil. 1. B. Diagnosa Keperawatan. 1. Nyeri yang berhubungan dengan ISK. 2. Penyebaran Infeksi yang berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran kemih. 3. Ansietas berhubungan dengan koping yang tidak efektif. 4. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah. 2. C. Intervensi 1. Nyeri yang berhubungan dengan ISK Kriteria Hasil : - Pasien mengatakan / tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih. - Kandung kemih tidak tegang - Pasien nampak tenang - Ekspresi wajah tenang Intervensi : 1. Kaji intensitas, lokasi, dan factor yang memperberat atau meringankan nyeri. Rasional : Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi 1. Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat di toleran. Rasional : Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot-otot 1. Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontra indikasi Rasional : Untuk membantu klien dalam berkemih 1. Berikan obat analgetik sesuai dengan program terapi.
  19. 19. Rasional : Analgetik memblok lintasan nyeri 1. Penyebaran Infeksi yang berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran kemih. Kriteria Hasil : - Tanda vital dalam batas normal - Nilai kultur urine negatif - Urine berwarna bening dan tidak bau Intervensi : 1. Kaji suhu tubuh pasien setiap 4 jam dan lapor jika suhu diatas 38,50 C. Rasional : Tanda vital menandakan adanya perubahan di dalam tubuh 1. Catat karakteristik urine Rasional : Untuk mengetahui/mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. 1. Anjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit setiap kali kemih. Rasional : Untuk mencegah adanya distensi kandung kemih. 1. Berikan perawatan perineal, pertahankan agar tetap bersih dan kering. Rasional : Untuk menjaga kebersihan dan menghindari bakteri yang membuat infeksi uretra. 2. Ansietas berhubungan dengan koping yang tidak efektif. Kriteria hasil : - Klien tidak gelisah - Klien tenang Intervensi : 1. Kaji tingkat kecemasan Rasional : Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien 1. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan dan pengobatan 1. Beri dorongan spiritual
  20. 20. Rasional : Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan YME. Beri support pada klien 1. Beri penjelasan tentang penyakitnya Rasional : Agar klien mengerti sepenuhnya tentang penyakit yang dialaminya. 1. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah. Kriteria hasil : - Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan Intervensi : 1. Berikan informasi tentang proses penyakit, program pengobatan, jadwal, dan kemungkinan efek samping. Rasional : memberikan dasar pengetahuan pada pasien yang memungkinkan membuat pilihan berdasarkan informasi. 1. Anjurkan melakukan aktifitas biasanya secara bertahap sesuai toleransi, dan sediakan waktu untuk istrahat adekuat. Rasional : menjaga kelemahan dan meningkatkan perasaan sehat. D. Evaluasi Pada tahap yang perlu dievaluasi pada klien dengan ISK adalah, mengacu pada tujuan yang hendak dicapai yakni apakah terdapat : 1. Nyeri yang menetap atau bertambah 2. Perubahan warna urine 3. Pola berkemih berubah, berkemih sering dan sedikit-sedikit, perasaan ingin kencing, menetes setelah berkemih. DAFTAR PUSTAKA Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni made Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC. Enggram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC.
  21. 21. Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih Bahasa: Peter Anugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC. Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.
  22. 22. Posts tagged asuhan keperawatan askep infeksi saluran kemih CARA CEPAT MENGATASI INFEKSI SALURAN KEMIH MAY 31ST Posted by Aradea in Obat herbal Infeksi saluran kemih 2 comments Terapi aman dan alamiah untuk mengatasi Infeksi saluran kemih dengan obat herbal infeksi saluran kemih XAMthone plus yang sangat mujarab sekaligus efektif untuk menyembuhkan infeksi saluran kemih. Menurut Wikipedia,Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang terjadi pada saluran kemih. ISK merupakan kasus yang sering terjadi dalam dunia kedokteran. Walaupun terdiri dari berbagai cairan, garam, dan produk buangan, biasanya urin tidak mengandung bakteri. Jika bakteri menuju kandung kemih atau ginjal dan berkembang biak dalam urin, terjadilah ISK. Jenis ISK yang paling umum adalah infeksi kandung kemih yang sering juga disebut sebagai sistitis. Gejala yang dapat timbul dari ISK yaitu perasaan tidak enak berkemih (disuria, Jawa: anyang-anyangen). Tidak semua ISK menimbulkan gejala, ISK yang tidak menimbulkan gejala disebut sebagai ISK asimtomatis.
  23. 23. Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001). Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik laki-laki maupun perempuan dari semua umur baik pada anak- anak remaja, dewasa maupun pada umur lanjut. Akan tetapi, dari dua jenis kelamin ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umu, kurang lebih 5 – 15 %. Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang disebabkan oleh bakteri terutama scherichia coli ; resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluks vesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemiha, pemakaian instrumen uretral baru, septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk, 1998) sumber : http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/28/askep-infeksi-saluran- kemih/ Etiologi Bakteri (Eschericia coli) Jamur dan virus Infeksi ginjal Prostat hipertropi (urine sisa) Anatomi Fisiologi Sistem perkemihan atau sistem urinaria terdiri atas, dua ginjal yang fungsinya membuang limbah dan substansi berlebihan dari darah, dan membentuk kemih dan dua ureter, yang mengangkut kemih dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) yang berfungsi sebagai reservoir bagi kemih dan urethra. Saluran yang menghantar kemih dari kandung kemih keluar tubuh sewaktu berkemih. Setiap hari ginjal menyaring 1700 L darah, setiap ginjal mengandung lebih dari 1 juta nefron, yaitu suatu fungsional ginjal. Ini lebih dari cukup untuk tubuh, bahkan satu ginjal pun sudah mencukupi. Darah yang mengalir ke kedua ginjal normalnya 21 % dari curah jantung atau sekitar 1200 ml/menit. Masing-masing ginjal mempunyai panjang kira-kira 12 cm dan lebar 2,5 cm pada bagian paling tebal. Berat satu ginjal pada orang dewasa kira-kira 150 gram dan kira-kira sebesar kepalang tangan. Ginjal terletak retroperitoneal dibagian belakang abdomen. Ginjal kanan terletak lebih rendah dari ginjal kiri karena ada hepar disisi kanan. Ginjal berbentuk kacang, dan permukaan medialnya yang cekung disebut hilus renalis, yaitu tempat masuk dan keluarnya sejumlah saluran, seperti pembuluh darah, pembuluh getah bening, saraf dan ureter. Panjang ureter sekitar 25 cm yang menghantar kemih. Ia turun ke bawah pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum. Di pelvis menurun ke arah luar dan dalam dan menembus dinding posterior kandung kemih secara serong (oblik). Cara masuk ke dalam kandung kemih ini penting karena
  24. 24. bila kandung kemih sedang terisi kemih akan menekan dan menutup ujung distal ureter itu dan mencegah kembalinya kemih ke dalam ureter. Kandung kemih bila sedang kosong atau terisi sebagian, kandung kemih ini terletak di dalam pelvis, bila terisi lebih dari setengahnya maka kandung kemih ini mungkin teraba di atas pubis. Peritenium menutupi permukaan atas kandung kemih. Periteneum ini membentuk beberapa kantong antara kandung kemih dengan organ-organ di dekatnya, seperti kantong rektovesikal pada pria, atau kantong vesiko-uterina pada wanita. Diantara uterus dan rektum terdapat kavum douglasi. Uretra pria panjang 18-20 cm dan bertindak sebagai saluran untuk sistem reproduksi maupun perkemihan. Pada wanita panjang uretra kira-kira 4 cm dan bertindak hanya sebagai system Perkemihan. Uretra mulai pada orifisium uretra internal dari kandung kemih dan berjalan turun dibelakang simpisis pubis melekat ke dinding anterior vagina. Terdapat sfinter internal dan external pada uretra, sfingter internal adalah involunter dan external dibawah kontrol volunter kecuali pada bayi dan pada cedera atau penyakit saraf. Patofisiologi Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih dapat melalui : a.Penyebaran endogen yaitu kontak langsung daro tempat terdekat. b.Hematogen. c.Limfogen. d.Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi. Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya infeksi saluran kemih yaitu : Bendungan aliran urine. 1)Anatomi konginetal. 2)Batu saluran kemih. 3)Oklusi ureter (sebagian atau total). Refluks vesi ke ureter. Urine sisa dalam buli-buli karena : 4)Neurogenik bladder. 5)Striktur uretra. 6)Hipertropi prostat. Gangguan metabolik. 7)Hiperkalsemia. 8)Hipokalemia 9)Agamaglobulinemia. Instrumentasi 10)Dilatasi uretra sistoskopi. Kehamilan 11)Faktor statis dan bendungan. 12)PH urine yang tinggi sehingga mempermudah pertumbuhan kuman. Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang naik dari perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan mukosa. Agar infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada dan mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui berkemih, mekanisme pertahan penjamu dan cetusan inflamasi.
  25. 25. Inflamasi, abrasi mukosa uretral, pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap, gangguan status metabolisme (diabetes, kehamilan, gout) dan imunosupresi meningkatkan resiko infeksi saluran kemih dengan cara mengganggu mekanisme normal. Infeksi saluran kemih dapat dibagi menjadi sistisis dan pielonefritis. Pielonefritis akut biasanya terjadi akibat infeksi kandung kemih asendens. Pielonefritis akut juga dapat terjadi melalui infeksi hematogen. Infeksi dapat terjadi di satu atau di kedua ginjal. Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang, dan biasanya dijumpai pada individu yang mengidap batu, obstruksi lain, atau refluks vesikoureter. Sistitis (inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung kemih (refluks urtrovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau sistoskop. Uretritis suatu inflamasi biasanya adalah suatu infeksi yang menyebar naik yang digolongkan sebagai general atau mongonoreal. Uretritis gnoreal disebabkan oleh niesseria gonorhoeae dan ditularkan melalui kontak seksual. Uretritis nongonoreal ; uretritis yang tidak berhubungan dengan niesseria gonorhoeae biasanya disebabkan oleh klamidia frakomatik atau urea plasma urelytikum. Pielonefritis (infeksi traktus urinarius atas) merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tobulus dan jaringan intertisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai kandung kmih melalui uretra dan naik ke ginjal meskipun ginjal 20 % sampai 25 % curah jantung; bakteri jarang mencapai ginjal melalui aliran darah ; kasus penyebaran secara hematogen kurang dari 3 %. Macam-macam ISK : 1)Uretritis (uretra) 2)Sistisis (kandung kemih) 3)Pielonefritis (ginjal) Gambaran Klinis : Uretritis biasanya memperlihatkan gejala : 1)Mukosa memerah dan oedema 2)Terdapat cairan eksudat yang purulent 3)Ada ulserasi pada urethra 4)Adanya rasa gatal yang menggelitik 5)Good morning sign 6)Adanya nanah awal miksi 7)Nyeri pada saat miksi 8)Kesulitan untuk memulai miksi 9)Nyeri pada abdomen bagian bawah. Sistitis biasanya memperlihatkan gejala : 10)Disuria (nyeri waktu berkemih) 11)Peningkatan frekuensi berkemih 12)Perasaan ingin berkemih 13)Adanya sel-sel darah putih dalam urin 14)Nyeri punggung bawah atau suprapubic 15)Demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah. Pielonefritis akut biasanya memperihatkan gejala : 16)Demam 17)Menggigil
  26. 26. 18)Nyeri pinggang 19)Disuria Pielonefritis kronik mungkin memperlihatkan gambaran mirip dengan pielonefritis akut, tetapi dapat juga menimbulkan hipertensi dan akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal. Pemeriksaan diagnostik Urinalisis 1)Leukosuria atau piuria terdapat > 5 /lpb sedimen air kemih 2)Hematuria 5 – 10 eritrosit/lpb sedimen air kemih. Bakteriologis 1)Mikroskopis ; satu bakteri lapangan pandang minyak emersi. 2)Biakan bakteri ? 102 – 103 organisme koliform/mL urin plus piuria. 3)Tes kimiawi; tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada uji carik. Namun demikian ada cara cepat dan aman untuk mengatasi infeksi saluran kemihdengan obat herbal infeksi saluran kemih XAMthone plus yang terbuat dari komposisi juice manggis yang bekerja efektif dan mujarab dalam menyembuhkan infeksi saluran kemih. Seperti penjelasan diatas bahwa penyebab infeksi saluran kemih adalah bakteri, kita ketahui bahwa xamthone plus terbuat dari manggis mempunyai kandungan xanthone yang efektif membasmi berbagai bentuk bakteri penyebab penyakit. untuk lebih jelas mengenai pendapat ahli bisa baca disini. Testimoni pasien yang sembuh dari infeksi saluran kemih Maryam (48) asal Jakarta menceritakan riwayat penyakitnya di kantor XAMthone plus untuk disebar luaskan kepada seluruh masyarakat Indonesia melalui media USB News atau website yang sedang anda akses ini. Berikut petikan wawancaranya: USB News: Sudah berapa lama Ibu menderita penyakit ini? Bu Maryam: Saya menderita penyakit ini sudah lama semenjak saya operasi kanker payudara beberapa tahun lalu. Pasca operasi hampir setahun sekali saya ke dokter karena infeksi. Saya jalani kemo tetapi kemonya selesai tepatnya kemo ke yang ke-5, muncul infeksi pada saluran kandung kemih saya. USB News: Berapa lama menderita infeksi saluran kandung kemihnya Bu? Bu Maryam: Sekitar 3 bulan lebih infeksi saluran kandung kemih yang saya derita. USB News: Selama sakit infeksi saluran kandung kemih ke mana saja Ibu berobat? Bu Maryam: Saya berobat lagi ke dokter spesial yang memberikan kemo pada saya itu. USB News: Dari mana kenal XAMthone plus jus kulit manggis? Bu Maryam: Dari Mba Citra seorang penyuka herbal dan saya diajak untuk mengikuti seminar tentang manggis yang diselenggarakan oleh Dr. Ir. Raffi Paramawati, M.Si di German Center, Bumi Serpong Damai. Setelah kembali dari seminar saya semakin yakin akan kehebatan khasiat kulit manggis XAMthone plus ini.
  27. 27. USB News: Berapa kali minum sehari Bu? Bu Maryam: Saya minum 2 kali sehari, 30 ml / setara 6 sendok makan, sesudah makan. USB News: Apa kesan pertama Ibu setelah minum XAMthone plus? Bu Maryam: Yang pertama saya rasakan adalah kesegaran yang luar biasa pada badan saya, matanya melek, vit-lah pokoknya. USB News: Kapan terakhir Ibu kontrol ke dokter setelah minum XAMthone plus? Bu Maryam: Setelah habis 2 botol saya periksa ke dokter, diambil urine, darah, dsbnya, hasilnya bagus, infeksinya sembuh. USB News: Setelah sembuh apakah Ibu terus minum XAMthone plus? Bu Maryam: Persis! Saya akan minum XAMthone plus seumur hidup saya, namun frekuensinya dikurangi, yang tadinya 2 kali sekarang hanya sekali, 30 ml setiap malam sebelum tidur sesudah makan. USB News: Ibu sudah memberikan testimoni dengan suka rela, ada yang ingin disampaikan kepada para ibu-ibu / bapak-bapak yang menderita penyakit seperti ibu di seluruh Indonesia? Bu Maryam: Ya! Saya telah memberikan kesaksian yang sebenar-benarnya. Minumlah XAMthone plus untuk kesehatan yang sempurna. Saya sudah bersaksi andalah yang memutuskan, keputusan terkecil apa pun dalam hidup anda sangat menentukan langkah hidup anda selanjutnya, termasuk kesehatan. USB News: Baik Ibu, terima kasih untuk keikhlasannya untuk testimoni. Dari XAMthone plus akan memberikan reward berupa 6 botol XAMthone plus seharga 1.2 juta rupiah. Bu Maryam: Terima kasih. Untuk pemesanan silahkan Klik disini asuhan keperawatan askep infeksi saluran kemih, cara mengobati infeksi saluran kemih, cara menyembuhkan penyakit Infeksi saluran kemih, gejala infeksi saluran kemih, infeksi saluran kemih, infeksi saluran kemih pada anak,infeksi saluran kemih pada ibu hamil, obat alami infeksi saluran kemih, obat alternatif infeksi saluran kemih, obat herbal infeksi saluran kemih, obat herbal penyakit saluran kemih, obat infeksi saluran kemih, obat tradisional infreksi saluran kemih, obat traditional penyakit infeksi saluran kemih, patofisiologi infeksi saluran kemih, pengobatan infeksi saluran kemih, penyakit infeksi saluran kemiH, penyebab infeksi saluran kemih, saluran kemih

×