BAB I
PENDAHULUAN
Istilah Goiter berarti terjadinya pembesaran pada kelenjar tiroid, yang
dikenal dengan goiter non toxik ...
BAB II
KONSEP MEDIS

A. DEFENISI
Goiter merupakan pembesaran kelenjar tiroid sebagai akibat pertambahan
ukuran sel/jaringa...
Gejala hipertiroid biasanya : si penderita hiperaktif, tidak bisa diam. Badan
berkeringat berlebihan, suhu tubuh hangat, j...
2. Goiter endemik dan kretinisme
Biasa terjadi pada daerah geografis dimana defisiensi yodium berat,
dekompensasi dan kipo...
 Stadium I : Goiter Palpasi dan terlihat hanya jika leher tereks
tensi peenuh.
 Stadium II : Goiter terlihat pada leher ...
 Tes TSH serum meningkat
 Biasanya tanpa rasa nyeri kecuali bila timbul perdarahan didaerah nodul.
 pada umumnya tidak ...
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
 Pengukuran T3 dan T4 sorum.
 Scintiscan yodium radio aktif dengan teknetium porkeknera, untuk...
J. PENCEGAHAN
 Penyakit goiter dapat dicegah dengan pemberian senyawa yodium pada
anak-anak dikawasan yang kandungan yodi...
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan langkah awal dari dasar dalam proses keperawatan
secara kes...
Seksualitas ; libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali,
impotensi.

1. Kaji Riwayat Penyakit :
 Sudah se...
9. Lakukan pengkajian lengkap dampak perubahan patologis diatas
terhadap kemungkinan adanya gangguan pemenuhan oksigen, nu...
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penekanan kelenjar tiroid
terhadap trachea ditanda...
C. INTERVENSI

No

Diagnosa

Tujuan & Kriteria Intervensi
Hasil

1

Pola

nafas

1. Batasi

tidak Tujuan :

efektif berhub...
terutama

keadaan

frekuensi
pernapasan/kebebasan
jalan napas.
5. Hindarkan

klien

dari

kondisi yang menuntut
penggunaan...
7. Bila dengan konservatif
gejala

tidak

hilang,

kolaborasi

tindakan

operatif.
R/ : tindakan operatif
untuk

mengangka...
R/

:

meningkatkan

frekuensi asupan nutrisi
untuk

menyediakan

energi yang cukup bagi
pasien.
4. Ciptakan

lingkungan

...
3

Gangguan

konsep Tujuan :

diri ; citra tubuh Setelah

1. Dorong
menjalan

mengungkapkan pikiran

klien

dan perasaanny...
klien terhadap perubahan
tubuh

yang

dalam

dialami
melakukan

sosialisasi dengan orang
lain.
4. Jelaskan

penyebab

terj...
bersosialisasi .
4

Ansietas

1. Observasi tingkah laku

Tujuan :

berhubungan dengan Klien
perubahan

status menyadari

k...
4.

Anjurkan

pasien

melakukan tehnik relaksasi
; napas dalam, bimbingan
imajinasi,

relaksasi

progresif.
R

:

memberik...
mengurangi bicara.
3. Memberikan

metode

komunikasi
yang

alternatif

sesuai,

seperti

tulis,

kertas

papan

tulis/papa...
mendengarkan
komunikasi perlahan dan
menurunkan
suara

kerasnya

yang

harus

diucapkan pasien untuk
dapat didengarkan.

6...
dalam

tindakan

prevalensi

pengobatan.

Penyakit.
 Kondisi-kondisi
yang

dapat

menyebabkan

hal

yang lebih buruk
dan ...
24
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Askep goiter

1,705 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,705
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
16
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Askep goiter

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN Istilah Goiter berarti terjadinya pembesaran pada kelenjar tiroid, yang dikenal dengan goiter non toxik atau simpel goiter atau struma endemik, dengan dampak yang ditimbulkannya hanya bersifat local yaitu sejauh mana pembesaran tersebut mempengaruhi organ disekitarnya seperti pengaruhnya pada trachea dan esophagus. Goiter adalah salah satu cara mekanisme kompensasi tubuh terhadap kurangnya unsure yodium dalam makanan dan minuman. Asupan yodium dapat diperiksa secara langsung yaitu dengan cara menganalisis makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat tertentu yang mengidap goiter, sedangkan pemeriksaan secara tidak langsung dipakai berbagai cara antara lain : pemeriksaan kadar yodium dalam urine dan dengan studi kinetik yodium. Berdasarkan kejadiannya atau penyebarannya ada yang disebut struma endemis dan sporadik. Secara sporadik dimana kasus-kasus struma ini dijumpai menyebar diberbagai tempat atau daerah. Bila dihubungkan dengan penyebab maka struma sporadik banyak disebabkan oleh faktor goitrogenik, anomali, penggunaan obat-obat anti tiroid, peradangan dan neoplasma, secara endemis, dimana kasus-kasus struma ini dijumpai pada sekelompok orang didaerah tertentu, sdihubungkan dengan penyakit defisiensi yodium. Pada umumnya goiter sering dijumpai pada daerah pegunungan, namun ada juga yang ditemukan di dataran rendah dan ditepi pantai. 1
  2. 2. BAB II KONSEP MEDIS A. DEFENISI Goiter merupakan pembesaran kelenjar tiroid sebagai akibat pertambahan ukuran sel/jaringan. Goiter adalah pembesaran pada kelenjar tiroid, pembesaran ini dapat memiliki fungsi kelenjar yang normal (eutirodisme), pasien tyroid (hipotirotdisme) atau kelebihan produksi hormon (hipetroidisme). B. ANATOMI FISIOLOGI KELENJAR TIROID Kelenjar tiroid terdiri dari 2 buah lobus yang terletak disebelah kanan dari trakea di ikat bersama dengan oleh jaringan tiroid dan yang melintasi trakea disebelah depan. Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang terdapat di dalam leher bagian bawah melekat pada dinding laring. Dalam keadaan normal, kelenjar tiroid berukuran kecil, dengan berat hanya 2-4 gram posisinya dileher depan bagian tengah dan tidak teraba. Sehingga pada leher orang normal tidak tampak tonjolan atau massa yang mengganggu pemandangan seperti apa yang kita lihat pada penderita gondok. Fungsi kelenjar tiroid yaitu mengatur metabolisme tubuh, sehingga segala sesuatunya berjalan lancar dan normal didalam tubuh seseorang. Maka dikenal beberapa istilah seperti : eutiroid, hipertiroid dan hipotiroid. Eutiroid adalah keadaan dimana besar dan fungsi kelenjar gondok dalam keadaan normal. Hipertiroid, berarti kelenjar gondok bekerja melebihi kerja normal sehingga biasanya kelenjar gondok membesar dan juga akan didapatkan hasil laboratorium untuk hormon TSH, T3 dan T4 yang berada diatas ambang normal. Hipotiroid kebalikan dari hipertiroid, disini kelenjar gondok bekerja dibawah normal, sehingga ketiga hormon tadi kadarnya didalam serum dibawah angka normal. Apa gejala dan dampak dari kelainan kelenjar gondok ini ? 2
  3. 3. Gejala hipertiroid biasanya : si penderita hiperaktif, tidak bisa diam. Badan berkeringat berlebihan, suhu tubuh hangat, jantung berdebar-debar, tangan sering gemetar, bola mata agak menonjol. Banyak bicara susah diam, makan banyak akan tetapi badan tetap kurus dan seterusnya. Penderita hipotiroid umumnya badan suhunya dingin, lembab. Orangnya rada obese, malas bergerak dan malas bicara. Biasanya lidahnya tampak besar dan tebal. Makan tidak banyak, akan tetapi tubuhnya tambun. Semuanya kebalikan dari gejala hipertiroid. Pada hipertiroid , peradangan kelenjar tiroid maupun adanya neoplasma atau tumor kelenjar gondok, maka kelenjar itu akan membesar, berupa benjolan atau massa yang bisa diraba pada leher tengah bagian depan. Ciri khasnya : benjolan itu akan turut bergerak saat penderita melakukan gerakan menelan. Artinya bila penderita disuruh melakukan gerakan menelan, maka si benjolan tadi bergerak keatas dan kebawah, sesuai dan mengikuti irama gerakan menelan si penderita. Adapun struktur tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel – vesikel yang dibatasi oleh epytelium silinder disatukan oleh jaringan ikat sel – selnya mengeluarkan sera.adapun fungsi kelenjar tiroid, terdiri dari : 1. Bekerja sebagai perangsang proses oksidasi 2. Mengatur penggunaan oksidasi 3. Mengatur pengeluaran karbon dioksida 4. Metabolic dalam hal pengaturan susunan kimia dalam jaringan. 5. Pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental. C. KLASIFIKASI GOITER a) Klasifikasi goiter menurut Jasj : 1. Goiter kongenital Hampir selalu ada pada bayi hipertiroid kongenital, biasanya tidak besar dan sering terjadi pada ibu yang memiliki riwayat penyakit graves. 3
  4. 4. 2. Goiter endemik dan kretinisme Biasa terjadi pada daerah geografis dimana defisiensi yodium berat, dekompensasi dan kipotiroidisme dapat timbul karenanya, goiter endemik ini jarang terjadi pada populasi yang tinggal disepanjang laut. 3. Goiter sporadis Goiter yang terjadi oleh berbagai sebab diantaranya tiroiditis fositik yang terjadi lazim pada saudara kandung, di mulai pada awal kehidupan dan kemungkinan bersama dengan hiperrvoidisme yang merupakan petunjuk penting untuk diagnosa. Digolongkan menjadi 3 (tiga) bagian yaitu :  Goiter yodium Goiter akibat pemberian yodium biasanyakeras dan membesar secara difus, dan pada beberapa keadaan, hipotirodisme dapat berkembang.  Goiter sederhana (Goiter koloid) Yang tidak diketahui asal-muasalnya. Pada pasien bistokgis tirord tampak normal atau menunjukan berbagai ukuran follikel, koloid dan efitel pipih.  Goiter multinodular Goiter keras dengan permukaan berlobulasi dan tunggal atau bsnyak nodulus yang dapat diraba, mungkin terjadi perdarahan, perubahan kistik dan fibrosis. 4. Goiter intra trakea Tiroid intralumen terletak dibawah mokusa trakhea dan sering berlanjut dengan tiroid extratrakea yang terletak secara normal. b) Klasifikasi Goiter menurut WHO :  Stadium O – A : tidak ada Goiter.  Stadium O – B : Goiter terdeteksi dari Palpasi tetapi tidak terlihat walaupun leher terekstensi penuh. 4
  5. 5.  Stadium I : Goiter Palpasi dan terlihat hanya jika leher tereks tensi peenuh.  Stadium II : Goiter terlihat pada leher dalam Potersi.  Stadium III : Goiter yang besar terlihat dari Darun. D. ETIOLOGI Berbagai faktor diidentifikasikan sebagai penyebab terjadinya hipertropi kelenjar tiroid antara lain :  Defisiensi yodium  Goitrogenik glikosida agent (zat atau bahan ini dapat mensekresi hormon tiroid) seperti ubi kayu, jagung, lobak, kangkung, kubis bila dikonsumsi secara berlebihan.  Anomali  Peradangan dan tumor neoplasma  Peningkatan sekresi hormone tirotropik kelenjar pitritari dalam responya terhadap penurunan kadar hormone tiroid dalam sirkulasi.  Proses infiltratif yang dapat berupa radang atau neoplastik  Goiter kongensial:pemberian obat – obat anti tiroid atau yodium selama kehamilan pengobatan tiroktoksikosik  Tiroiditis rumfositik  Pemberian lithium karbonat dan gotordarum  Rangsangan goitrogenikrin ringan berlangsung lama E. MANIFESTASI KLINIS  Sesak nafas  Kelainan fisik (pembengkakan leher depan )  Sulit menelan  Suara serak atau parau  Pada palpasi kelenjar tiroid, nodul tunggal atau ganda dengan konsistensi keras atau tidak. 5
  6. 6.  Tes TSH serum meningkat  Biasanya tanpa rasa nyeri kecuali bila timbul perdarahan didaerah nodul.  pada umumnya tidak terasa sakit akan tetapi membesar bertahap sejalan dengan bertambahnya umur.  dapat disertai hipotirodisme / hipertiroidisme F. PATOFISIOLOGI Penyebab gondok yang tersering adalah akibat kekurangan yodium, selain itu juga akibat agen goitrogenik. Kekurangan yodium mencegah produksi hormon tiroksin dan triiodotironin, akibatnya tidak tersedia hormon yang dapat dipakai untuk menghambat produksi TSH oleh hhipofisis anterior; hal ini menyebabkan kelenjar hipofisis menyekresi banyak sekali TSH. Selanjutnya TSH merangsang sel-sel tiroid menyekresi banyak sekali koloid tiroglobulin ke dalam folikel, dan kelenjarnya tumbuh semakin besar. Tetapi oleh karena yodiumnya berkurang, produksi tiroksin dan triiodotironin tidak meningkat dalam molekul tiroglobulin, dan oleh karena itu tidak ada penekanan secara normal pada produksi TSH oleh kelenjar hipofisis. Ukuran folikeln ya menjadi sangat besar, dan kelenjra tiroidnya dapat membesar 10 sampai 20 kali ukuran normal. Factor pencetus (mis :kurang yodium) Peningkatan kadar TSH Kapasitas kelenjar tiroid terganggu Hipertropi dan hiperplasia folikel – folikel tiroid Fibrosis dan nodula yang mengandung folikel – folikel tumbuh kelenjar tiroid goiter . G. KOMPLIKASI Komplikasi Goiter antara lain dapat menimbulkan kompresi trakea dan daerah lain di sekitar leher, jika kelenjar tiroid mengganas dapat menimbulkan kanker tiroid. Neoplasma jinak biasanya jenis struma adenomatosa dan adenoma folikuler tiroid. Sedangkan neoplasma ganas umumnya yang tersering adalah karsinoma tiroid papilliferum. 6
  7. 7. H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK  Pengukuran T3 dan T4 sorum.  Scintiscan yodium radio aktif dengan teknetium porkeknera, untuk melihat medulanya.  Sidik ultra saaoud untuk mendeteksi perubahan-perubahan kistik pada modula tiroid.  Foto pulas leher dan dada atau berguna untuk menunjukan pergeseran trakea dan eso fagus.  Eso fagogran untuk menunjukan goiter sebagai penyebab dispalgia. I. PENATALAKSANAAN  Edukasi Program ini bertujuan merubah prilaku masyarakat, dalam hal pola makan dan memasyarakatkan pemakaian garam beriodium.  Untuk menekan aktivitas kelenjar hipofisis yang menstimulasi tiroid diberi preparat supplement yodium, seperti larutan jenuh kalium yodida, terutama bagi penduduk di daerah endemik sedang dan berat.  Penyuntikan lipidol Sasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang tinggal di daerah endemik diberi suntikan 40 % tiga tahun sekali dengan dosis untuk orang dewasa dan anak di atas enam tahun 1 cc, sedang kurang dari enam tahun diberi 0,2 cc – 0,8 cc.  Dilakukan tindakan operatif Komplikasi pasca operasi dapat dikurangi dengan menciptakan keadaan eutiroid praoperatif yang ditimbulkan oleh pengobatan dengan preparat antitiroid dan pemberian senyawa yodida praoperatif untuk mengurangi ukuran serta vaskularisasi goiter tersebut. 7
  8. 8. J. PENCEGAHAN  Penyakit goiter dapat dicegah dengan pemberian senyawa yodium pada anak-anak dikawasan yang kandungan yodiumnya buruk.  Hipertropi terjadi karena asupan rerata yodium kurang dari 40 mg/hari, WHO menganjurkan yodiosasi garam hingga mencapai konsentrasi satu bagian dalam 100.000 yang sudah cukup untuk pencegahan goiter.  Pengenalan garam beryodium merupakan satu-satunya cara yang paling efektif untuk mencegah Penyakit goiter dalam masyarakat yang rentan.  Menggontrol konsumsi agen goitrogenik secara berlebihan yang dapat menyebabkan gangguan absorbsi yodium dalam tubuh. Menurut Chapman goitrogenik alami ada dalam jenis pangan seperti kelompok Sianida (daun dan umbi singkong , gaplek, gadung, rebung, daun ketela, kecipir, dan terung) ; kelompok Mimosin (pete cina dan lamtoro) ; kelompok Isothiosianat (daun pepaya) dan kelompok Asam (jeruk nipis, belimbing wuluh dan cuka). 8
  9. 9. BAB III KONSEP KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN Pengkajian merupakan langkah awal dari dasar dalam proses keperawatan secara keseluruhan guna mendapat data atau informasi yang dibutuhkan untuk menentukan masalah kesehatan yang dihadapi pasien melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik meliputi : Aktivitas/istirahat ; insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat, atrofi otot. Eliminasi ; urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare. Integritas ego ; mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil, depresi. Makanan/cairan ; kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid, goiter. Rasa nyeri/kenyamanan ; nyeri orbital, fotofobia. Pernafasan ; frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea, edema paru (pada krisis tirotoksikosis). Keamanan ; tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah. 9
  10. 10. Seksualitas ; libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi. 1. Kaji Riwayat Penyakit :  Sudah sejak kapan keluhan dirasakan klien ?  Apakah ada anggota keluarga yang berpenyakit sama ? 2. Tempat tinggal sekarang dan pada masa balita 3. Usia dan jenis kelamin 4. Kebiasaan makan : bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya faktor goitrogenik ? 5. Penggunaan obat-obatan :  Kaji jenis-jenis obat yang sedang digunakan dalam 3 bulan terakhir.  Sudah berapa lama digunakan  Tujuan pemberian obat 6. Keluhan klien :  Sesak nafas, apakah bertambah sesak bila beraktivitas.  Sulit menelan  Leher bartambah besar  Suara serak / parau  Merasa malu dengan leher yang besar dan tidak simetris. 7. Pemeriksaan fisik :  Palpasi kelenjar tiroid, nodul tunggal atau ganda, konsistensi dan simetris tidaknya, apakah terasa nyeri pada saat dipalpasi.  Inspeksi bentuk leher simetris tidaknya.  Auskultasi bunyi pada arteri tyroidea  Nilai kualitas suara  Palpasi apakah terjadi deviasi trachea 8. Pemeriksaan diagnostik :  Pemeriksaan kadar T3 dan T4 serum  Test TSH serum 10
  11. 11. 9. Lakukan pengkajian lengkap dampak perubahan patologis diatas terhadap kemungkinan adanya gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi, cairan dan elektrolit serta gangguan rasa aman dan perubahan konsep diri seperti :  Status pernafasan : frekwensi, pola dan teratur tidaknya, dan apakah klien menggunakan otot pernapasan tambahan seperti retraksi sternal dan cuping hidung.  Warna kulit apakah nampak pucat atau cianosis.  Suhu kulit khususnya daerah akral.  KU / kesadaran, apakah klien tampak gelisah atau tidak berdaya  Berat badan dan tinggi badan.  Kadar Hb  Kelembaban kulit dan teksturnya  Porsi makan yang dihabiskan  Turgor  Jumlah dan jenis cairan proral yang dikonsumsi  Kondisi mukosa mulut  Kualitas suara  Bagaimana ekspresi wajah, cara berkomunikasi dan gaya berinteraksi klien dengan orang disekitarnya.  Bagaimana klien memandang dirinya sebagai seorang pribadi. 11
  12. 12. B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penekanan kelenjar tiroid terhadap trachea ditandai dengan kesulitan bernapas. 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan nutrien kurang akibat kompresi/penekanan esophagus ditandai dengan kesulitan menelan makanan (disfagia). 3. Gangguan konsep diri ; citra tubuh/body image berhubungan dengan perubahan/pembesaran bentuk leher ditandai dengan pasien malu dengan kondisi penyakitnya. 4. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan ditandai dengan gelisah dan khawatir. 5. Resti gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan penekanan pita 6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi ditandai dengan dengan pasien menayakan kondisi/keadaan penyakitnya. 12
  13. 13. C. INTERVENSI No Diagnosa Tujuan & Kriteria Intervensi Hasil 1 Pola nafas 1. Batasi tidak Tujuan : efektif berhubungan Selama dengan kelenjar dalam penekanan perawatan, pola tiroid napas klien efektif aktivitas, hindarkan aktivitas yang melelahkan. R/ : dapat mengurangi terhadap trachea kembali pemakaian/konsumsi ditandai dengan Kriteria hasil : oksigen sehingga dapat kesulitan bernapas.  Frekwensi menghemat energi bagi pernapasan 16- 20 x/menit dan pasien untuk aktivitas lain. 2. Posisi pola teratur tidur setengah  Akral hangat duduk dengan kepala  Kulit tidak pucat ekstensi bila diperlukan. atau cianosis R/ : dapat melancarkan  Keadan tenang gelisah klien / aliran udara pernapasan tidak dan membuat ekspansi paru lebih baik . 3. Bantu aktivitas klien di tempat tidur. R/ : mengurangi konsumsi oksigen dan menghemat pemakaian tenaga/energi oleh pasien. 4. Observasi keadaan klien secara teratur. R/ : sebagai petunjuk perkembangan terapi yang telah dilakukan, 13
  14. 14. terutama keadaan frekuensi pernapasan/kebebasan jalan napas. 5. Hindarkan klien dari kondisi yang menuntut penggunaan lebih oksigen banyak seperti ketegangan, lingkungan yang panas atau yang terlalu dingin. R/ : kondisi menuntut yang pemakaian oksegen yang berlebihan dapat meningkatkan asupan oksigen berlebihan dan yang dapat memperburuk keadaan. 6. Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti dexamethason. R/ : deksametason merupakan glukokrtikoid dengan sintetik aktivitas antiinflamasi, mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi. Diberikan pada goiter akibat reaksi peradangan (Tiroiditis rumfositik ). 14
  15. 15. 7. Bila dengan konservatif gejala tidak hilang, kolaborasi tindakan operatif. R/ : tindakan operatif untuk mengangkat nodul-nodul pembesaran kelenjar tiroid mencegah dan keparahan kondisi yang lebih lanjut. 2 Perubahan kurang kebutuhan 1. Beri makan lunak atau nutrisi Tujuan : dari Nutrisi klien dapat tubuh terpenuhi dalam cair sesuai kondisi klien. R/ : makanan lunak berhubungan dengan waktu 1-2 minggu dapat mengurangi kompresi/penekanan kontraksi esophafgus dalam mendorong esophagus Kriteria hasil : ditandai  Berat badan dengan kesulitan menelan makanan  Hb 12 - 14 mg% (disfagia). bertambah (untuk laki-laki. makanan ke lambung, sehingga meningkatkan asupan nutrisi.  Tekstur kulit baik 2. Pantau masukan makanan setiap hari. Dan timbang berat badan setiap hari serta laporkan adanya penurunan R/ : memberikan informasi tentang keefektifan terapi program yang telah dilakukan. 3. Beri makanan tambahan diantara jam makan 15
  16. 16. R/ : meningkatkan frekuensi asupan nutrisi untuk menyediakan energi yang cukup bagi pasien. 4. Ciptakan lingkungan yang menyenangkan menjelang jam makan. R/ : linkungan menyenangkan menciptakan yang dapat suasana kenyamanan saat makan dan meningkatkan asupan nutrisi. 5. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memeberikan diet tinggi kalori, protein, karbohidrat, dan vitamin R/ : Mungkin memerlukan untuk bantuan menjamin pemasukan zat-zat makanan yang adekuat, dan megidentifikasi makanan pengganti yang paling sesuai. Meningkatkan aktivitas metabolik menurunkan dan simpanan glikogen. 16
  17. 17. 3 Gangguan konsep Tujuan : diri ; citra tubuh Setelah 1. Dorong menjalan mengungkapkan pikiran klien dan perasaannya tentang berhubungan dengan perawatan, perubahan/pembesar an bentuk ditandai memiliki gambaran leher diri yang positif dengan kembali bentuk leher yang Ekspresi emosi berubah. R/ pasien malu dengan Kriteria hasil : kondisi penyakitnya. klien : membantu pasien mulai  Klien menerima menyenangi kenyataan pembesaran leher.. kembali 2. Diskusikan upaya-upaya tubuhnya. yang dapat dilakukan  Klien dapat klien untuk mengurangi melakukan perasaan malu seperti upaya-upaya menggunakan baju yang untuk berkerah tertutup. mengurangi R/ : penggunaan baju dampak yang berkerah tertutup negatif pembesaran pada dapat leher. pembesaran leher, sehingga dapat  Klien dapat menutupi melakukan mengurangi penurunan aktivitas fisik dan citra tubuh pasien saat social sehari-hari. bersosialisasi. 3. Beri pujian bila klien dapat melakukan upayaupaya positif untuk meningkatkan penampilan diri. R/ : diberikan pujian yang dapat menguatkan rasa positif dan percaya diri bagi 17
  18. 18. klien terhadap perubahan tubuh yang dalam dialami melakukan sosialisasi dengan orang lain. 4. Jelaskan penyebab terjadinya perubahan bentuk leher dan jalan keluar yang dapat dilakukan seperti tindakan operasi. R/ : informasi diberikan yang mengenai prjalanan penyakit dan cara-cara pencegahan, membuat klien mengetahui kondisi penyakit yang sebenarnya dan dapat menerima perubahan yang terjadi peda dirinya sehingga membuat pandangan positif terhadapa diri sendiri. 5. Fasilitasi bertemu klien untuk teman-teman dan sebagainya. R/ : pertemuan dengan teman-teman pasien dapat menigkatkan rasa percaya diri dan harga diri positif dalam 18
  19. 19. bersosialisasi . 4 Ansietas 1. Observasi tingkah laku Tujuan : berhubungan dengan Klien perubahan status menyadari kesehatan dapat dan ditandai menerima menunjukan tingkat ansietas. R/ : tingkah laku yang dengan gelisah dan keadaannya khawatir. yang serta mengindikasikan dapat ansietas sebagai mengekspresikan petunjuk tingkat perasaannya kecemasan yang dialami oleh pasien.mis; gelisah, khawatir, dll. Kriteria hasil :  Klien nampak 2. Tinggal bersama klien, rileks. mempertahankan sikap  Klien yang tenang, mengakui melaporkan atau ansietasnya kekuatirnnya dan berkurang mengijinkan perilaku sampai tingkat dapat diatasi.  Klien mampu menjawab klien yang umum. R/ : membantu perhatian mengarahkan mengidentifikasi kembali cara hidup yang meningkatkan relaksasi, sehat meningkatkan untuk membagikan perasaannya.  Klien dapat dan kemampuan koping. 3. Koordinasikan waktu istrahat dan aktivitas saat melakukan senggang aktivitas sehari- kondisi. hari dengan baik. R : memberikan rasa kontrol tepat pasien menangani untuk untuk beberapa aspek pengobatan . 19
  20. 20. 4. Anjurkan pasien melakukan tehnik relaksasi ; napas dalam, bimbingan imajinasi, relaksasi progresif. R : memberikan penghilangan arti respon ansietas, menurunkan perhatian, meningkatkan relaksasi, meningkatkan kemampuan koping. 5 Resti gangguan Tujuan : komunikasi verbal Klien 1. Kaji fungsi bicara secara mampu periodik, anjurkan untuk berhubungan dengan menciptakan metode tidak penekanan pita komunikasi dimana menerus. kebutuhan R/ : suara serak dan dipahami. dapat bicara parau terus akibat edema jaringan atau pembesaran tiroid kelenjar (goiter) dapat menyebabkan terganggunya pita suara dan penekanan pada trakea. 2. Pertahankan komunikasi yang sederhana, beri pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban “ya” atau “tidak”. R/ : kebutuhan menurunkan berespon, 20
  21. 21. mengurangi bicara. 3. Memberikan metode komunikasi yang alternatif sesuai, seperti tulis, kertas papan tulis/papan gambar. R/ : memfasilitasi ekspresi yang dibutuhkan. 4. Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin, kunjungi klien secara teratur. R/ : menurunkan ansietas dan kebutuhan pasien untuk berkomunikasi. 5. Beritahu klien untuk terus membatasi bicara dan jawablah panggilan bel dengan segera. R/ : mencegah pasien bicara yang dipaksakan untuk menciptakan kebutuhan yang diketahui atau memerlukan bantuan. 6. Pertahankan lingkungan yang tenang. R/ : meningkatkan kemampuan 21
  22. 22. mendengarkan komunikasi perlahan dan menurunkan suara kerasnya yang harus diucapkan pasien untuk dapat didengarkan. 6 Kurang pengetahuan Tujuan: berhubungan dengan Setelah kurang 1. Kaji pengetahuan klien diberikan informasi pendidikan ditandai tentang Penyakit dan pengobatannya, dengan kesehatan sebanyak identifikasi sumber pasien menanyakan 2 kali, klien dapat informasi yang diterima kondisi/keadaan mengerti klien penyakitnya. Kriteria hasil :  Klien R/ : memberi informasi dapat pada klien dan prosedur berpartisipasi pengobatan dapat dalam memberi dasar proses belajar pengetahuan bagi klien  Klien dapat mengidentifikasi tentang panyakit yang dideritanya. antara hubungan 2. Buat rancangan dan gejala pada pembelajaran proses Penyakit mencakup : dan  Jenis Penyakit dan hubungan gejala dengan faktor penyebab  Klien mau memulai yang penyebabnya.  Upaya penanggulangan seperti pemberian perubahan pola obat-obatan, hidup yang tindakan penting berpartisipasi dan operasi bila ada indikasi.  Prognosa dan 22
  23. 23. dalam tindakan prevalensi pengobatan. Penyakit.  Kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan hal yang lebih buruk dan kondisi yang mempercepat penyembuhan. R/ : sebagai petunjuk dalam proses terapi penyakit dan memudahkan dalam pelaksanaannya. Serta menghindari yang hal-hal memperburuk keadaan penyakit. 4. Laksanakan pembelajaran bersama dengan anggota keluarga, kondisi perhatian klien dan lingkungannya. R/ : pelaksanaan pembelajaran bersama anggota keluarga dapat meningkatkan perawatan pemulangan pasien di rumah dan lingkungan yang memperingan dapat kondisi penyakit. 23
  24. 24. 24

×