Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Askep gangguan berbicara

8,977 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Askep gangguan berbicara

  1. 1. TUGAS: KMB II DOSEN: MUSRIANI S.KeP Ns ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM WICARA “DISATRIA ,A PARAU DAN AFASIA OLEHKELOMPOK IV 1.LISNA WATI 2.TITIHUSNIATI 3.NURVITRI HANDAYANI 4.FIFI YANTI 5.DEWI YATI YULIANA 6.LD MAHMUD 7.FANDI AKLIM MANGKARSI 8.LD PARIAMLIN 9.ALHAFID 10. JASRIN AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN MUNA 2012
  2. 2. KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya hingga penulis dapat merampungkan pembuatan makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN SISTEM WICARA DISATRIA PARAU DAN AFASIA” Penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak – pihak yang telah mendukung dan memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini. Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan askep ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan karena faktor batasan pengetahuan penyusun, maka penyusun dengan senang hati menerima kritikan serta saran – saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini ini. Semoga hasil dari penyusunan makalah ini dapat dimanfaatkan bagi generasi mendatang, khususnya mahasiswa D-III Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Muna. Akhir kata, melalui kesempatan ini penyusun makalah mengucapkan banyak terima kasih. Raha, februari 2012 penyusun
  3. 3. BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG Pendengaran adalah kemampuan untuk mengenali suara. Dalam manusia dan binatang bertulang belakang, hal ini dilakukan terutama oleh sistem pendengaran yang terdiri dari telinga, syaraf-syaraf,danotak.Tidak semua suara dapat dikenali oleh semua binatang. Beberapa spesies dapat mengenali amplitudo dan frekuensi tertentu. Manusia dapat mendengar dari 20 Hz sampai 20.000 Hz. Bila dipaksa mendengar frekuensi yang terlalu tinggi terus menerus, sistem pendengaran dapat menjadi rusak. Bahasa juga merupakan alat untuk menginterpretasikan dan mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kemauan dari seseorang kepada orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahasa merupakan kemampuan bahasa, pada umumnya dapat dibedakan atas kemampuan reseptif (mendengar dan memahami) dan kemampuan ekspresif (berbicara). Afasia adalah hilangnya kemampuan penggunaan bahasa karena cedera pada area bahasa di otak. Kelainan ini tidak termasuk kelainan karena defisit fungsi-fungsi sensorik, intelektual, atau psikiatrik, juga bukan kelemahan otot. Bagian otak yang rusak ini adalah lobus temporalis sebelah kiri dan lobus frontalis di sebelahnya. Kedua area ini mengatur penggunaan bahasa seseorang. Kerusakan pada area-area tersebut dapat terjadi karena cedera kepala, tumor, stroke, atau infeksi. Area bahasa ini mengatur penggunaan bahasa secara umum, seperti: 1. Berbicara 2. Menyimak 3. Menulis 4. Membaca Kejadian paling sering pada afasia adalah karena kerusakan/lesi pada pusat bahasa di otak, seperti area Broca. Area ini terletak pada hemisfer kiri atau bagian otak kiri. Namun ada
  4. 4. pula orang yang mengalami gangguan pada bagian otak kanan, walaupun jarang sekali ditemukan. Prognosis dari afasia sangat beragam, tergantung pada usia pasien, lokasi dan luas lesi/kerusakan, dan jenis afasia. Tentunya semakin sempit luas lesinya, prognosisnya akan semakin baik. Untuk membantu menentukan prognosis, diperlukan metode diagnosa yang baik, yaitu dapat dilakukan dengan screening. B.TUJUAN 1.Merealisasikan tugas yang diberikan oleh dosen yang bersangkutan 2.Tujuan dari penulisan askep ini adalah untuk mengetahui proses keperawatan pada penyakit tersebut C.Rumusan masalah Adapun rumusan masalah yang dibahas pada kesempatan ini yaitu mengenai penyakit Gangguan system wicara disatria , parau dan afasia yang menyangkut mengenai konsep penyakit dan konsep askep.
  5. 5. BAB II PEMBAHASAN A.KONSEP PENYAKIT A.DISATRIA 1.PENGERTIAN  Disartria adalah gangguan bicara yang diakibatkan cidera neuromuscular, gangguan bicara ini diakibatkan luka pada system saraf, yang pada gilirannya mempengaruhi bekerja baiknya satu atau beberapa otot yang diperlukan untuk berbicara.” (Rheni DharmaPerwira,2000.5.)  Disartria adalah gangguan artikulasi yang disebabkan oleh kerusakan sistem saraf pusat yang secara langsung mengontrol aktivitas otot-otot yang berperan dalam proses artikulasi dalam pembentukansuarapengucapan.  Disartria adalah suatu jenis kelainan bicara khususnya pada kelainan artikulasi yang berdampak pada kejelasan produksi bunyi bicara, pada umumnya dikarenakan adanya gangguan atau kelainan pada susunan saraf pusat, dan biasanya berdampak pula pada gerakan -gerakan motorik ( motorik kasar ataupun halus ) sesuai dengan tingkat atau derajat keparahan/kerusakan yang terjadi. 2.ETIOLOGI Disartia dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : 1. Disartria dapat juga disebabkan oleh penyakit serebellum, karena kehilangan koordinasi yang menyebabkan bicara pelo dan sering berbicara eksplosif, atau bicaranya dengan kalimat – kalimat terpenggal – penggal yang disebut scanning speech. 2. Kerusakan otak (Kelainan neuromuscular, Kelainan sensorimotor, Palsi serebral, Kelainan persepsi) 3. Gangguan Peredaran Darah Otak (GPDO) (Cerebrovascular accident (CVA) ) (stroke) Karena trombosis, emboli atau pendarahan, saluran darah ke sebagian otak terhambat.
  6. 6. 4. Gangguan Biokimia Pembuatan neurotransmitor tidak cukup atau neutransmitor terlalu cepat dihanyutkan sehingga penyampaian rangsangan terganggu. Penyakit Myasthenia gravis misalnya diakibatkan diakibatkan kurangnya asetikolin sehingga otot-otot cepat capai. Penyakit Parkinson disebabkan kekurangan produksi dopamine. 5. Trauma Karena jatuh, pukulan atau luka sebagian dari sistem saraf rusak. 6. Neoplasma (tumor) ,Sebuah tumor ini membuat tekanan pada sebagian sistem saraf. 7. Keracunan, dapat disebabkan racun alkohol (penyakit Korsakow) atau obat. 8. Radang di otak (ensefalitis), di saraf (neuritis) atau di otot (miositis). 9. Sistem saraf diserang virus (misalnya poliomyelitis) atau prion (penyakit Creutzfeldt-Jacob) 10. Degenerasi progresif Semakin banyak bagian sistem saraf terkena. Penyebab bisa keturunan, seperti misalnya ‘distrofia otot keturunan’, penyakit Huntington atau penyakit Wilson. Pada penyakit Wilson terdapat kekurangan putih telur pengikat tembaga, yang mengakibatkan tembaga terendap di striatum dan di hati. Pada penyakit Multiple Sclerose, oleh karena reaksi oto-imun, terjadi peningkatan demielinisasi (pemecahan lapis pelindung mielin akson). 11. Kelainan Kongenital Sejak kelahiran sedah terdapat kerusakan di sistem saraf sentral, yang menyebabkan bicara tidak berkembang dengan baik. (Reni Dharma Perwira-Prins, 2000. 13.) 12. Faktor Lingkungan a. Sosial Ekonomi Rendah Seseorang dengan keluarga social ekonmi rendah akan mengalami keterlambatan dalam berbahasa karena fasilitas berbahasa dan pendidikan yang rendah pula dari orang tua. b. Faktor Psikososial Antara lain, stimulasi motivasi belajar, kualitas interaksi anak dan orang tua. c. Faktor Keluarga dan Adat Iatiadat Antara lain, pekerjaan keluarga, pendidikan, jumlah saudara, jenis kelamin, stabilitas rumah tangga, kepribadian orang tua, adat istiadat.
  7. 7. 3.MANIFESTASI KLINIS Cara berbicara yang lemah dan gemetar Lidah sukar dikeluarkan dan umumnya kaku untuk digerakan Otot – otot bicara terganggu 4.PATOFISIOLOGI Korteks serebri yang terdapat pada otak besar (serebrum)terdapat area yang dikenal dengan area brodman sebagai area bicara broca.dimana area ini bertanggung jawab atas pelaksanaanmotorik bicara.apabila lesi terjadi pada hemisfer dominan , maka kerusakan pada area ini akan menyebabkan kesulitan dalam artikulasi pada waktu bicara, sehingga otot – wicara susah untuk digerakan . Disartria Artikulasi atau berbicara harus dibedakan dari fungsi berbahaya yang lebih tinggi dan gangguan-gangguannya – disfasia. Artikulasi normal tergantung dari , koordinasi laring, faring, lidah, bibir, dan respirasi oleh jaras kortikobulbar, bulbar, serebelar, dan ekstrapiramidal. Selain menilai percakapan pasien, harus dilakukan tes mengulang frase-frase yang agak sulit (Inggris: baby hippopotamus, West Register Street, British Constitution). Lesi pada bagian spesifik yang mengontrol jaras saraf dapat menyebabkan abnormalitas yang khasseperti: • Paralisis • Lesi serebelum – bicara tidak jelas, dengan pola stakato atau skrining ireguler, palatum – bicara sengau (seperti bicara lewat hidung), • Lesi ekstrapiramidal – bicara dengan nada monoton dan lemah,Kerusakan kortikobul barbilateral Wicara lambat,menggerutu,spastik’.lingkungan,kerusakan,emosi: dari poin di atas akan menyebabkan gangguan bicara,gangguan bicara akan menyebabkan 1. keluarga : cemas,kurang pengetahuan,koping keluarga tdk efektif. 2. hubungan sosial : gangguan komunikasi verbal,gangguan bermain, isos,interaksi sosial. 3. perkembangan akan menjadi intelegensia sehingga produktifitas akam menurun dan menyebabkan resiko ketergantungan
  8. 8. 5.TANDA DAN GEJALA Karakteristik Disatria: a. Ketidaktepatan artikulasi b. Kekacauan wicara c. Kekacauan fonem d. Durasi vokal yang pendek e. Perpanjangan pada fonem f. Rata-rata bicara yang lambat g. Cepat atau tersentak-tersentak h. Ketidaktepatan penjedahan i. Tidak dapat dipahami j. Artikulasi buruk/tidak jelas k. Susunan kata tidak tepat l. Artikulasi lebih sedikit pada konteks bicara dibandingkan pada satu kata m. Alat artikulasi yang kurang kuat dan kurang terkontrol n. Satu nada, nada dan kenyaringan sering tidak terkontrol dan tidak jelas o. Suara parau, kasar/keras, breathiness, dan hipernasalitas p. Kehilangan pendengaran q. Masalah pertumbuhan 6.KOMPLIKASI Disartria tidak memiliki komplikasi, melainkan disartria merupakan komplikasi dari beberapa penyakit syaraf, diantaranya ; stroke, myasthenia gravis, parkinson. 7.PEMERIKSAAN PENUNJANG 1.BERA(BrainstemEvokedResponseAudiometry) merupakan cara pengukuran evoked potensial (aktivitas listrik yang dihasilkan saraf VIII, pusat-pusat neural dan traktus di dalam batang otak) sebagai respon terhadap stimulus auditorik.
  9. 9. 2.Pemeriksaanaudiometric Pemeriksaan audiometri diindikasikan untuk anak-anak yang sangat kecil dan untuk anakanak yang ketajaman pendengarannya tampak terganggu. Ada 4 kategori pengukuran dengan audiometri: a. Audiometri tingkah laku, merupakan pemeriksaan pada anak yang dilakukan dengan melihat respon dari anak jika diberi stimulus bunyi. Respon yang diberikan dapat berupa menoleh ke arah sumber bunyi atau mencari sumber bunyi. Pemeriksaan dilakukan di ruangan yang tenang atau kedap suara dan menggunakan mainan yang berfrekuensi tinggi. Penilaian dilakukan terhadap respon yang diperlihatkan anak. b. Audiometri bermain, merupakan pemeriksaan pada anak yang dilakukan sambil bermain, misalnya anak diajarkan untuk meletakkan suatu objek pada tempat tertentu bila dia mendengar bunyi. Dapat dimulai pada usia 34 tahun bila anak cukup kooperatif. c. Audiometri bicara. Pada tes ini dipakai kata-kata yang sudah disusun dalam silabus dalam daftar yang disebut : phonetically balance word LBT (PB List). Anak diminta untuk mengulangi kata-kata yang didengar melalui kaset tape recorder. Pada tes ini dilihat apakah anak dapat membedakan bunyi s, r, n, c, h, ch. Guna pemeriksaan ini adalah untuk menilai kemampuan anak dalam pembicaraan seharihari dan untuk menilai pemberian alat bantu dengar(hearingaid). d.Audiometri objektif, biasanya memerlukan teknologi khusus. 3.CTscankepala untuk mengetahui struktur jaringan otak, sehingga didapatkan gambaran area otak yang abnormal. 4.Timpanometri digunakan untuk mengukur kelenturan membrana timpani dan system osikular. Selain tes audiometri, bisa juga digunakan tes intelegensi. Paling dikenal yaitu skala Wechsler, yang menyajikan 3 skor intelegen, yaitu IQ verbal, IQ performance, dan IQ gabungan 5.EEG 6. EMG
  10. 10. 8. PENATALAKSANAAN MEDIS 1.Latihanbicaradenganbaik. 2. Pada anak dapat dilakukan Logopedi (terapi bicara)
  11. 11. B.KONSEP ASKEP 1.pengkajian a.biodata  Identitas Klien Nama : Umur : Jenis Kelamin : Status Perkawinan : Agama : Suku/bangsa : Pendidikan : Pekerjaan : Pendapatan : Alamat :  Identitas penanggung Nama : Umur : Jenis Kelamin : Status Perkawinan : Agama : Suku/bangsa : Pendidikan : Pekerjaan : Pendapatan : Hub. Dengan Klien : Alamat :
  12. 12. b.Riwayat Penyakit sekarang - Keluhan utama : kekakuan berbicara - Riwyat Keluhan utama: P : kekakuan berbicara Q :- R : mulut bagian dalam S :- T : Pada Saat beraktivitas c.pemeriksaan fisik  Integritas ego: Gejala : - sulit untuk mengekspresikan diri nya - Kecemasan keluarga Tanda: -Perasaan malu  Neuro sensiri Gejala:- sulit untuk mengungkapkan kata - kata Tanda: - lidah sulit dikeluarkan dan kaku untuk digerakan -Cara bicara yang lemah dan gemetar Interaksi sosial Gejala:- kesulitan dalam berkomunikasi Tanda:- menarik diri
  13. 13. Penyuluhan dan pembelajaran Tanda:- keluarga sering menyatakan tentang kondisi klien d. klasifikasi data  Data subyektif -Keluarga mengatakan klien sulit untuk mengekspresikan diri - Keluarga mengatakan cemas dengan keadaan klien - Keluarga mengatakan klien sulit untuk mengungkapkan kata - kata  Data obyektif - Nampak klien merasa malu - Lidah sulit dikeluarkan dan kaku untuk digerakan - Cara bicara yang lemah dan gemetar - Menarik diri - Keluarga sering mengatakan tentang kondisi klien e. analisa data Problem Gangguan komunikasi verbal Etiologi strok symtom DS; ↓ Suplai darah keotak terganggu kesulitan ↓ dalam berkomunikasi - Keluarga mengatakan kesulitan Penurunan fungsi pada korteks dalam mengungkapkan kata – kata serebri dan area brodmen ↓ Keluarga mengatakan klien D0; - Nampak cara bicara klien
  14. 14. Motorik wicara terganggu ↓ lemah dan gemetar - Nampak lidah klien sulit untuk dikeluarkan dan kaku Gangguan komunikasi verbal Gangguan harga diri Gangguan pada otot bicara digerakan DS: ↓ Kesulitan dalam berkomunikasi sulit untuk mengekspresikan ↓ Gangguan harga diri Keluarga mengatakan klien dirinya DO; Anisetas keluarga Kurang terpajan informasi ↓ Nampak klien merasa malu Nampak klien menarik diri DS: - Keluarga mengatan cemas dengan keadaan klien Kurang pengetahuan ↓ ansietas DO: - Keluarga sering menanyakan keadaan klien
  15. 15. B.DIAGNOSA KEPERAWATAN  Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan fungsi pada korteks serebri dan area brodman ditandai dengan : DS: - Keluarga mengatakan klien kesulitan dalam berkomunikasi - Keluarga mengatakan klien kesulitan dalam mengungkapkan kata - kata DO: -  Nampak cara bicara klien lemah dan gemetar Nampak lidah klien sulit dikeluarkan dan kaku digerakan Gangguan harga diri berhubungan dengan kesulitan dalam berkomunikasiditandai dengan : DS: - Keluarga mengatakan klien susah untuk mengekspresikan dirinya DO: - Nampak klien merasa - Nampak klien menarik diri  Anisetas berhubungan dengan kurang pengetahuan ditandai dengan DS: - Keluarga mengatakan cemas dengan keadaan klien DO: - Keluarga sering menanyakan keadaan klien
  16. 16. Prioritas masalah - Gangguan komunikasi verbal - Gangguan citra diri - ansietas C PERENCANAAN NO DX 1 TUJUAN INTERVENSI 1.jelaskan efek gangguan TUPAN: Setelah diberikan tindakan bicara keperawatan selama 7 hari gangguan komunikasi RASIONAL 1.pengertian dapatmeningkatkan kepatuhan pada latihan perbaikan suara verbal teratasi 2.lakukan latihan untuk TUPEN: memperbaiki variasi suara 2. latihan ini meningkatkan kejelasan suara Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari 3.lakukan latihan lidah Gangguan komunikasi 3.latihan ini menguatkan lidah dan meningkatkan verbal membaik dengan retan artikulasi criteria : - klien mulai berkomunikasi dengan baik - klien mulai bias mengeluarkan kata- kata - otot bicara mulai dapat digerakan 4.jelaskan keuntungan latihan perbaikan bicara 4.latihan setiap hari membantu memperbaiki kebersihan muscular bicara dan meningkatkan kecepatan volume dan artikulasi
  17. 17. 2 TUPAN: 1.anjurkan klien untuk 1.dapat mengetahui Setelah diberikan tindakan mengekspresikan perasaan yang dirasakan keperawatan selama 6 hari perasaanya oleh klien sehingga gangguan harga diri memudahkan dalam teratasi perawatan TUPEN: 2.beri dukungan terhadap 2.dapat meningkatkan Setelah diberikan tindakan setiap perilaku yang minat atau partisipasi keperawatan selama 3 hari ditunjukan oleh klien klien dalam segala hal Harga diri klien mulai termasuk dalam kegiatan membaik dengan criteria: rehabilitasi - klien tidak mulai 3.anjurkan keluarga klien 3.dapat meningkatkan rasa lagi - untuk meningkatkan percaya diri dan klien mulai bias perhatian kepada klien mencegah terjadinya mengekspresikan perilaku merusak diri dirinya 3 TUPAN: Setelah diberikan tindakan 1.observasi tingkat kecemasan keluarga keperawatan selama 2 hari 1.sebagai dasar untuk menentukan rencana tindakan selanjutnya Ansietas hilang 2.beri kesempatan pada 2. membuat keluarga lebih TUPEN; keluarga untuk memahami tentang Setelah diberikan tindakan mendiskusikan penyakit kondisi klien keperawatan selama 1hari klien Ansietas berkurang dengan criteria: - kecemasan keluarga berkurang - 3.beri penjelasan tentang penyakit klien pada keluarga 3. menambah pengetahuan keluarga sehingga mengurangi ansietas
  18. 18. 2.A PARAU A.KONSEP PENYAKIT 1.PENGERTIAN  Suara parau merupakan gejala yang disebabkan kelainan dari pita suara.suara parau merupakan suara yang digambarkan oleh penderita sebai suara yang kasar atau suara yang susah keluar dan suara dengan nada rendah yang biasa atau normal .  Suara parau adalah suatu istilah umum untuk setiap gangguan yang menyebabkan perubahan suara. Ketika parau, suara dapat terdengar serak, kasar dengan nada lebih rendah daripada biasanya, suara lemah, hilang suara, suara tegang dan susah keluar, suara terdiri dari beberapa nada, nyeri saat bersuara, atau ketidakmampuan mencapai nada atau intensitas tertentu. Suara parau bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan gejala penyakit. Perubahan suara ini seringkali berkaitan dengan kelainan pita suara yang merupakan bagian dari kotak suara (laring). 2.ETIOLOGI Penyebab suara parau bermacam – macam yang prinsipnya menimpa laring dan sekitarnya. Penyebap ini dapat berupa peradangan akibat infasi bakteri , tumor(neoplasma), paralisis otot nyaring , kelainan laring seperti sikatris akibat operasi .suara parau dapat juga disebabkan oleh pemakaian suara yang berlebihan dan sangat nyaring 4.PATOFISIOLOGI Suara parau terjadi dimana pertemuan kedua pita suara yang normal sewaktu fonasi terganggu oleh adanya udema akibat peradangan laring .saat akan mengeluarkan suara , pita suara bergerak secara terpisah mengalami ketegangan . akibat proses peradangan tersebut pada laring maka terjadi lesi pada saraf . bila hal ini tidak dapat di atasi maka pita suara menjadi lumpuh , dimana pita suara menjauhi garis tengah sehingga menimbulkan celah di antara kedua pita suara yang menyebabkan kompresi pita suara yang tidak sehat. 5.KOMPLIKAS Dapat terjadi kelumpuhan pita suara
  19. 19. 6.TANDA DAN GEJALA Gejala awalnya dapat berupa batuk – batuk sesak napas disertai dengan demam kemudian suara menjadi parau bahkan bias sampai tidak bersuara sama sekali ,dapat juga muncul gejala nyeri saat menelan 7.PENATALAKSANAAN MEDIK a.pemeriksaan laboratorium klinik b.radiologik c.patologi anatomic d. laring diperiksa dengan menggunakan kaca laring
  20. 20. 2.KONSEP ASKEP 1.PENGKAJIAN A.Biodata  Identitas Klien Nama : Umur : Jenis Kelamin : Status Perkawinan : Agama : Suku/bangsa : Pendidikan : Pekerjaan : Pendapatan : Alamat :  Identitas penanggung Nama : Umur : Jenis Kelamin : Status Perkawinan : Agama : Suku/bangsa : Pendidikan : Pekerjaan : Pendapatan : Hub. Dengan Klien : Alamat :
  21. 21. B..Riwayat Penyakit sekarang - Keluhan utama : nyeri - P : nyeri - Q : seperti ditusuk-tusuk - R : mulut - S : 3 (0-5) - T : Pada Saat menelan C.Pemeriksaan fisik  Nyeri /kenyamanan Gejala; - Sakit saat menelan Tanda; - Meringis -Udema laring -Gelisah -cemas  pernapasan gejala:- sesak nafas -batuk tanda: - frekuensi nafas meningkat  metabolisme tubuh gejala:- badan terasa panas -banyak keringat tanda: - suhu tubuh meni -keadaan umum lemah
  22. 22.  penyuluhan / pembelajaran gejala: - tidak mengetahui proses penyakitnya tanda: - klien sering menanyakan penyakitnya D.klasifikasi data  data subyektif: - sesak nafas - batuk - badan terasa panas - Banyak keringat  sakit saat menelan Tidak mengetahui proses penyakitnya Data obyektif - Meringis - Udema laring - Gelisah - Cemas - Frekuensi nafas meningkat - Suhu tubuh meningkat - Keadaan umum lemah - Klien sering menanyakan penyakitnya
  23. 23. E.ANALISA DATA PROBLEM ETIOLOGI Pola nafas tidak efektif Infaksi bakteri SYMTOM DS: ↓ - Peradangan pada laring Klien mengeluh sesak nafas ↓ - Klien mengeluh batuk – batuk Udema laring ↓ Adanya sumbatan pada DO: laring ↓ - Dispneu Frekuensi nafas meningkat ↓ Pola nafas tidak efektif Nyeri Infaksi bakteri DS: ↓ - Peradangan pada laring Klien mengeluh saat sakit menelan ↓ Udema ↓ Do: - Merangsang mediator kimia meringis saat menelan mengeluarkan prostat glandin ↓ Inpuls dihantarkan kepusat nyeri di thalamus ↓ korteks serebri ↓ Nyeri di presepsikan Klien Nampak makanan - Terdapat ydema pada laring
  24. 24. hipertermia Infasi bakteri ↓ DS: - Peradangan pada laring ↓ Klien mengeluh badanya terasa panas - Klienmengeluh Merangsang keringatnya susunansaraf otonom banyak yang keluar dihipotalamus yang mengatur suhu ↓ Hipertermia DO: Suhu tubuh meningkat Kurang terpajan informasi Keadaan umum lemah - Ansietas - Gelisah DS: ↓ Kurang pengetahuan - ↓ Klien mengeluh cemas Dengan keadaanya Stress psikologi ↓ - ansietas Klien mengatakan tidak mengetahui tentang proses penyakitnya DO: - Espresi wajah Nampak tegang - Klien menanyakan penyakitnya sering tentang
  25. 25. B.DIAGNOSA KEPERAWATAN  Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya sumbatan pada laring ditandai dengan : DS: - klien mengeluh sesak nafas - klien mengeluh batuk – batuk DO:  Keadaan umum lemah Frekuensi nafas meningkat Nyeri berhubungan dengan udema ditandai dengan ; DS: - Klien mengeluh sakit saat menelan DO; - klien Nampak meringis saat menelan makanan -  Terdapat udema pada laring Hipertermi berhubungan dengan peradangan pada laring ditandai dengan : DS: - Klien mengeluh badanya terasa panas - Klien mengeluh keringatnya banyak yang keluar DO: - Suhu tubuh meningkat  Keadaan umum lemah Gelisah Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan ditandai dengan : DS: - Klien mengeluh cemas dengan keadaanya - Klien mengatakan tidak mengetahui tentang proses penyakitnya
  26. 26. DO: - Ekspresi wajah Nampak tegang - Klien sering menayakan tentang penyakitnya C.PRIORITAS MASALAH - Pola nafas tidak efektif - Nyeri - Hipertermi - Ansietas PERENCANAAN NO.DX TUJUAN 1 INTERVENSI TUPAN: 1. Obserfasi pola nafas Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 6 hari pola nafas kembali efektif TUPEN: Setelah diberi tindakan nafas berangsur membaik dengan criteria: - 2. Atur posisi klien senyaman mungkin 3. Beri oksigen yang keperawatan selama3 hari pola klien Klien tidak mengeluh dilembabkan 4. Ciptakan lingkungan yang nyaman 5. Beri minum banyak pada klien RASIONAL 1.sebagai dasar menentukan rencana tindakan selanjutnya 2. dapat meningkatkan ekspansi paru dalam menerima oksigen sehingga mengurangi sesak 3 oksigen yang dilembabkan dapat sesak nafas - mencegah iritasi yang Klien tidak mengeluh berlebihan pada laring batuk 4.dapat mengurangi kepengapan sehingga pola pernapasan lebih baik 5 dapat melonggarkan pernafasan
  27. 27. 2 1. Observasi tanda – TUPAN; Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 hari Nyeri hilang 2. Beri makanan dalam bentuk lunak TUPEN: 3. Kolaborasi dalam Setelah diberi tindakan keperawatan selama 2 hari Nyeri tanda vital berkurang dengan criteria : pemberian obat analgetik 4. Anjurkan klien 1. Sebagai dasar untuk menentukan tindakan selanjutnya 2. Makan yang lunak atau cair dapat mengurangi rasa Klien tidak mengeluh makanan dalam nyeri pada klien nyeri saat menelan bentuk padat atau saat menelan makanan - untuk tidak makan keras 3. Dapat menekan pusat nyeri 4. Makanan yang keras dapat menambah rasa nyeri saat menelan 3 TUPAN; 1. Obserfasi TTV 1.sebagai dasar Setelah diberikan tindakan 2. Beri kompres hangat menentukan rencana keperawatan selama 4 harI hipertermi teratasi pada klien 3. Kolaborasi dalam tindakan selanjutnya 2.dapat terjadi TUPEN ; pemberian obat anti kompensasi sehingga Setelah diberikan tindakan piretik dapat menurunkan keperawatan selama 2 hari panas tubuh Suhu 3.dapat menurunkan badan berangsur normal dengan criteria ; panas tubuh dan - Keringat berkurang meningkatkan - Suhu badan normal penyembuhan
  28. 28. 4. TUPAN; 1. Sebagai dasar Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3 harI Ansietas hilang 1. Obserfasi tingkat kecemasan klien 2. Beri penjelasan untuk menentukan tindakan TUPEN ; tentang proses selanjutnya Setelah diberikan tindakan penyakit klien 2. Menambah keperawatan selama 2 hari 3. Beri kesempatan pengetahuan ansietas berkurang dengan kepada klien untuk klien dan dapat criteria: mendiskusikan mengurangi tentang penyakitnya ansietas - Ekspresi wajah rileks - Klien sudah paham dengan penyakit dideritanya proses yang 3. Klien bisa lebih paham tentang penyakitnya
  29. 29. 3.AFASIA 1.KONSEP PENYAKIT 1.PENGERTIAN Afasia merupakan gangguan berbahasa. Dalam hal ini pasien menunjukkan gangguan dalam memproduksi dan / atau memahami bahasa. Defek dasar pada afasia ialah pada pemrosesan bahasa tingkat integratif yang lebih tinggi. Gangguan artikulasi dan praksis mungkin ada sebagai gejala yang menyertai. Afasia adalah gangguan berbahasa akibat gangguan serebrovaskuler hemisfer dominan, trauma kepala, atau proses penyakit. Terdapat beberapa tipe afasia, biasanya digolongkan sesuai lokasi lesi. Semua penderita afasia memperlihatkan keterbatasan dalam pemahaman, membaca, ekspresi verbal, dan menulis dalam derajat berbeda-beda. 2. ETIOLOGI Afasia biasanya berarti hilangnya kemampuan berbahasa setelah kerusakan otak. Kata afasia perkembangan (sering disebut sebagai disfasia) digunakan bila anak mempunyai keterlambatan spesifik dalam memperoleh kemampuan berbahasa. Dalam hal ini, perkembangan kemampuan berbahasa yang tidak sebanding dengan perkembangan kognitif umumnya. Strok, tumor di otak, cedera otak, demensi dan penyakit lainnya dapat mengakibatkan gangguan berbahasa. 3.MANIFESTASI KLINIS Gejala dan Gambaran klinik Afasia  Afasia global. Afasia global ialah bentuk afasia yang paling berat. Koadaan ini ditandai oleh tidak adanya lagi bahasa spontan atau berkurang sekali dan menjadi beberapa patah kata yang diucapkan secara stereotip (itu-itu saja, berulang), misalnya : "iiya, iiya, iiya", atau: "baaah,
  30. 30. baaaah, baaaaah" atau: "amaaang, amaaang, amaaang". Komprehensi menghilang atau sangat terbatas, misalnya hanya mengenal namanya saja atau satu atau dua patah kata. Repetisi (mengulangi) juga sama berat gangguannya seperti bicara spontan. Membaca dan menulis juga terganggu berat. Afasia global disebabkan oleh lesi luas yang merusak sebagian besar atau semua daerah bahasa. Penyebab lesi yang paling sering ialah oklusi arteri karotis interna atau arteri serebri media pada pangkalnya. Kemungkinan pulih ialah buruk. Afasia global hampir selalu disertai hemiparese atau hemiplegia yang menyebabkan invaliditas khronis yang parah.  Afasia Broca. Bentuk afasia ini sering kita lihat di klinik dan ditandai oleh bicara yang tidak lancar, dan disartria, serta tampak melakukan upaya bila berbicara. Pasien sering atau paling banyak mengucapkan kata-benda dan kata-kerja. Bicaranya bergaya telegram atau tanpa tata-bahasa (tanpa grammar). Contoh: "Saya....sembuh....rumah....kontrol....ya..kon..trol." "Periksa...lagi...makan... banyak.." Mengulang (repetisi) dan membaca kuat-kuat sama terganggunya seperti berbicara spontan. Pemahaman auditif dan pemahaman membaca tampaknya tidak terganggu, namun pemahaman kalimat dengan tatabahasa yang kompleks sering terganggu (misalnya memahami kalimat: "Seandainya anda berupaya untuk tidak gagal, bagaimana rencana anda untuk maksud ini"). Ciri klinik afasia Broca: bicara tidak lancar tampak sulit memulai bicara kalimatnya pendek (5 kata atau kurang per kalimat) pengulangan (repetisi) buruk kemampuan menamai buruk Kesalahan parafasia
  31. 31. Pemahaman lumayan (namun mengalami kesulitan memahami kalimat yang sintaktis kompleks) Gramatika bahasa kurang, tidak kompleks Irama kalimat dan irama bicara terganggu  Afasia Wernicke. Pada kelainan ini pemahaman bahasa terganggu. Di klinik, pasien afasia Wernicke ditandai oleh ketidakmampuan memahami bahasa lisan, dan bila ia menjawab iapun tidak mampu mengetahui apakah jawabannya salah. la tidak mampu memahami kata yahg diucapkannya, dan tidak mampu mengetahui kata yang diucapkannya, apakah benar atau salah. Maka terjadilah kalimat yang isinya kosong, berisi parafasia, dan neologisme. Misalnya menjawab pertanyaan: Bagaimana keadaan ibu sekarang ? Pasien mungkin menjawab: "Anal saya lalu sana sakit tanding tak berabir". Pengulangan (repetisi) terganggu berat. Menamai {naming) umumnya parafasik. Membaca dan menulis juga terganggu berat. Gambaran klinik afasia Wernicke: Keluaran afasik yang lancar Panjang kalimat normal Artikulasi baik Prosodi baik Anomia (tidak dapat menamai) Parafasia fonemik dan semantik Komprehensi auditif dan membaca buruk Repetisi terganggu Menulis lancar tapi isinya "kosong" Penderita dengan defisit komprehensi yang berat, pronosis penyembuhannya buruk, walaupun diberikan terapi bicara yang intensif. Afasia konduksi. Ini merupakan gangguan berbahasa yang lancar (fluent) yang ditandai oleh gangguan yang berat pada repetisi, kesulitan
  32. 32. dalam membaca kuat-kuat (namun pemahaman dalam membaca baik), gangguan dalam menulis, parafasia yang jelas, namun umumnya pemahaman bahasa lisan terpelihara. Anomianya berat. Terputusnya hubungan antara area Wernicke dan Broca diduga menyebabkan manifestasi klinik kelainan ini. Terlibatnya girus supramarginal diimplikasikan pada beberapa pasien. Sering lesi ada di massa alba subkortikal - dalam di korteks parietal inferior, dan mengenai fasikulus arkuatus yang menghubungkan korteks temporal dan frontal.  Afasia transkortikal. Afasia transkortikal ditandai oleh repetisi bahasa lisan yang baik (terpelihara), namun fungsi bahasa lainnya terganggu. Ada pasien yang mengalami kesulitan dalam memproduksi bahasa, namun komprehensinya lumayan. Ada pula pasien yang produksi bahasanya lancar, namun komprehensinya buruk. Pasien dengan afasia motorik transkortikal mampu mengulang (repetisi), memahami dan membaca, namun dalam bicara -spontan terbatas, seperti pasien dengan afasia Broca. Sebaliknya, pasien dengan afasia sensorik transkortikal dapat mengulang (repetisi) dengan baik, namun tidak memahami apa yang didengarnya atau yang diulanginya. Bicara spontannya dan menamai lancar, tetapi parafasik seperti afasia jenis Wernicke. Sesekali ada pasien yang menderita kombinasi dari afasia transkortikal motorik dan sensorik. Pasien ini mampu mengulangi kalimat yang panjang, juga dalam bahasa asing, dengan tepat. Mudah mencetuskan repetisi pada pasien ini, dan mereka cenderung menjadi ekholalia (mengulang apa yang didengarnya). Gambaran klinik afasia sensorik transkortikal: Keluaran (output) lancar (fluent) Pemahaman buruk Repetisi baik Ekholalia Komprehensi auditif dan membaca terganggu Defisit motorik dan sensorik jarang dijumpai Didapatkan defisit lapangan pandang di sebelah kanan.
  33. 33. Gambaran klinik afasia motorik transkortikal: Keluaran tidak lancar (non fluent) Pemahaman (komprehensi) baik Repetisi baik Inisiasi ot/fpunerlambat Ungkapan-ungkapan singkat Parafasia semantik Ekholalia Gambaran klinik afasia transkortikal campuran: Tidak lancar (nonfluent) Komprehensi buruk Repetisi baik Ekholalia mencolok  Afasia transkortikal disebabkan oleh lesi yang luas, berupa infark berbentuk bulan sabit, di dalam zona perbatasan antara pembuluh darah serebral mayor (misalnya di lobus frontal antara daerah arteri serebri anterior dan media). Afasia transkortikal motorik terlihat pada lesi di perbatasan anterior yang menyerupai huruf C terbalik (gambar 9-1). Lesi ini tidak mengenai atau tidak melibatkan korteks temporal superior dan frontal inferior (area 22 dan 44 dan lingkungan sekitar) dan korteks peri sylvian parietal. Korteks peri sylvian yang utuh ini dibutuhkan untuk kemampuan mengulang yang baik. Penyebab yang paling sering dari afasia transkortikal ialah: Anoksia sekunder terhadap sirkulasi dijumpai pada henti-jantung (cardiac arrest). Oklusi atau stenosis berat arteri karotis. darah yang menurun, seperti yang
  34. 34. Anoksia oleh keracunan karbon monoksida. Demensia.  Afasia anomik. Ada pasien afasia yang defek berbahasanya berupa kesulitan dalam menemukan kata dan tidak mampu menamai benda yang dihadapkan kepadanya. Keadaan ini disebut sebagai afasia anomik, nominal atau amnestik. Berbicara spontan biasanya lancar dan kaya dengan gramatika, namun sering tertegun mencari kata dan terdapat parafasia mengenai nama objek. Gambaran klinik alasia anomik: Keluaran lancar Komprehensi baik Repetisi baik Gangguan (defisit) dalam menemukan kata. 4.PATOFISIOLOGI Skema kronologis terjadinya gangguan bahasa dan bicara secara umum. Seseorang mengalami pendarahan otak jika aliran darah di otak tiba-tiba mengalami gangguan. Hal ini dapat terjadi melalui dua cara, yaitu : - Terjadi penyumbatan pada pembuluh darah Kebocoran pada pembuluh darah. Penyumbatan : Disebabkan oleh penebalan dinding pembuluh darah (trombosis) atau penggumpalan darah (emboli) yang mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah. Dalam hal ini terjadi serangan otak. Kebocoran : Di pembuluh darah terdapat bagian yang lemah (aneurisma). Bagian tersabut dapat menjadi berpori-pori, selanjutnya mengalami kebocoran, bahkan pecah. Dalam hal ini terjadi pendarahan otak.
  35. 35. Oleh para dokter, pendarahan otak disebut CVA Cerebro Vasculair Accident atau kecelakaan vaskuler otak. Otak kita membutuhkan oksigen dan glukoso untuk dapat berfungsi. Jika terjadi perdarahan otak atau gangguan lainnya seperti cedera otak, tumor, stroke, infeksi dan lain-lain sehingga terjadi penyumbatan maupun kebocoran pembuluh darah. Maka lambat laun sel-sel otak di bagian tersebut mengalami kematian. Di otak terdapat berbagai bagian dengan fungsi berbeda-beda. Pada kebanyakan orang, bagian untuk kemampuan menggunakan bahasa terdapat di sisi kiri otak diantaranya area broca dan area wernicke. Jika terjadi cedera pada bagian bahasa di otak, maka terjadi afasia. 5.TANDA DAN GEJALA Gejala afasia adalah tanda-tanda klinis yang tidak normal dari fungsi reseptif atau ekspresif yang secara reatif mempengaruhi kemampuan komunikasi seseorang. Gejala-gejala yang dapat mengarah pada diagnosa afasia adalah sebagai berikut: 1. Ketidakmampuan berbicara spontan 2. Ketidakmampuan membentuk kata-kata 3. Ketidakmampuan menyebut nama suatu benda/objek 4. Ketidakmampuan mengulang suatu frase 5. Parafasia (mengganti huruf atau kata) 6. Agramatisme (ketidakmampuan berbicara dengan bahasa yang baik dan baku) 7. Produksi kalimat yang tidak lengkap 8. Ketidakmampuan membaca dan mrnulis 9. Ketidakmampuan untuk memahami bahasa 6.KOMPLIKASI - Hipoksia serebral Embolisme serebral
  36. 36. 7PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan pemahaman (komprehensi) bahasa lisan Pemeriksaan repetisi (mengulang) Pemeriksaan menamai dan menemukan kata Pemeriksaan sistem bahasa Pemeriksaan penggunaan tangan (kidal atau kandal) Pemeriksaan berbicara - spontan 8. PENATALAKSANAAN MEDIS Tindakan dalam terapi wicara. Berikut, sifat tindakan dalam terapi wicara dapat dibedakan atas : - Kuratif. Tindakan terapi wicara bertujuan untuk menyembuhkan gangguan/kelainan perilaku komunikasi, agar dapat berkomunikasi secara wajar. - Rehabilitatif atau Habilitatif. Tindakan terapi wicara bertujuan untuk memulihkan dan memberikan kemampuan kepada penderita gangguan/kelainan perilaku komunikasi sebagaimana kemampuan sebelum sakit atau sekurang-kurangnya mendekati kemampuan komunikasi normal. - Preventif. Tindakan terapi wicara bertujuan mencegah terjadinya gangguan/kelainan perilaku komunikasi, sehingga seseorang dapat tumbuh dan perkembangan secara wajar. - Promotif. Tindakan terapi wicara yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan perilaku komunikasinya sehingga dapat meningkatkan tingkat kehidupan secara lebih optimal.
  37. 37. 2.KONSEP ASKEP 1.Pengkajian a.biodata  Identitas Klien Nama : Umur : Jenis Kelamin : Status Perkawinan : Agama : Suku/bangsa : Pendidikan : Pekerjaan : Pendapatan : Alamat :  Identitas penanggung Nama : Umur : Jenis Kelamin : Status Perkawinan : Agama : Suku/bangsa : Pendidikan : Pekerjaan : Pendapatan : Hub. Dengan Klien : Alamat :
  38. 38. b.Riwayat Penyakit sekarang - Keluhan utama : nyeri - Riwyat Keluhan utama: P : nyeri Q : seperti ditusuk-tusuk Setiap 2 jam R : Kepala S : 3 (0-5) T : Pada Saat beraktivitas c.pemeriksaan fisik  Neurosensorik Gejala; - Keluarga mengatakan Klien kesulitan dalam berkomunikasi - Keluarga mengatakan klien sulit mengungkapkan kata - kata Tanda: - Klien Nampak sulit mengungkapkan kata – kata  Integritas ego Gejala: - Keluarga mengatakan klien malu akan keadaannya Tanda: - Klien Nampak frustasi - Klien Nampak gelisah  kenyamanan gejala; - keluarga mengatakan klien selalu merasa resah dan gelisah
  39. 39. tanda; - klien Nampak cemas - klien Nampak takut d.Klasifikasi data  Data subyektif - Keluarga mengatakan Klien kesulitan dalam berkomunikasi - Keluarga mengatakan klien sulit mengungkapkan kata - kata - d Keluarga mengatakan klien malu akan keadaannya - keluarga mengatakan klien selalu merasa resah dan gelisah  Data obyektif - Klien Nampak sulit mengungkapkan kata – kata - Klien Nampak frustasi - Klien Nampak gelisah - klien Nampak cemas - klien Nampak takut e.Analisa data PROBLEM Kerusakan komunikasi verbal ETIOLOGI Cedera kepala SIMTOM DS: ↓ - Terjadai iskemia dan hemoralgi Klien kesulitan dalam serebral berkomunikasi ↓ - Penghentian suplai darah ke otak Keluarga mengatakan klien sulit ↓ mengungkapkan kata - Devisit neurologis ↓ Keluarga mengatakan kata DO:
  40. 40. Fungsi bahasa terganggu ↓ - Klien Nampak sulit mengungkapkan kata – Kerusakan komunikasi verbal kata Gangguan harga diri Devisit neurologis DS; ↓ - Gangguan fungsi bahasa klien malu akan ↓ Kesulitan dalam berbicara Keluarga mengatakan keadaannya DO: ↓ Gangguan harga diri Kurang terpajan informasi Klien Nampak frustasi - Ansietas - Klien Nampak gelisah - keluarga mengatakan DS: ↓ Kurang pengetahuan klien selalu merasa ↓ Stress psikologis resah dan gelisah DO: ↓ - klien Nampak cemas ansietas - klien Nampak takut
  41. 41. 2.DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan fungsi bahasa terganggu berhubungan dengan : DS:- Keluarga mengatakan Klien kesulitan dalam berkomunikasi -Keluarga mengatakan klien sulit mengungkapkan kata - kata DO: -Klien Nampak sulit mengungkapkan kata – kata 2. gangguan harga diri berhubungan dengan kesulitan dalam berbicara ditandai dengan: DS: - Keluarga mengatakan klien malu akan keadaannya DO: - Klien Nampak frustasi -Klien Nampak gelisah 3.ansietas berhubungan kurang pengetahuan ditandai dengan: DS; - keluarga mengatakan klien selalu merasa resah dan gelisah DO: - klien Nampak cemas -klien Nampak takut 3.PRIORITAS MASALAH - Kekurangan komunikasi verbal - Gangguan harga diri - ansietas
  42. 42. 4.PERENCANAAN NO.DX INTERVENSI RASIONAL TUPAN: 1 TUJUAN 1.kaji tingkat disfungsi 1.sebagai dasar untuk Setelah diberikan tindakan komunikasi klien keperawatan selama 2 minggu kerusakan menentukan rencana tindakan selanjutnya 2.pertahankan kesalahan 2. dengan mengetahui komunikasi verbal teratasi dalam komunikasi dan kesalahan yang TUPEN: berikan umpan balik diucap dapat Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 1 minggu kerusakan memberikan 3.minta klien untuk mengikuti perintah sederhana komunikasi verbal mulai membaik dengan criteria: pemahaman untuk benar 3.untuk mengetahui 4..tunjukan objek dan minta tingkat pemahaman klien untuk menyebutkan - klien mulai dapat berkomunikasi dengan baik - klien dapat klien terhadap apa objek tersebut yang diperintahkan 5.konsultasi dengan ahli terapi wicara 4.dapat memperlancar cara bicara atau komunikasi yang baik mengeluarkan kata - kata 5.dapat mengetahui metode dalam mengatasi masalah komunikasi klien
  43. 43. 2. TUPAN: 1 . Identifikasi arti dari 1.sebagai dasar untuk Setelah diberikan tindakan kehilangan / perubahan menentukan tindakan keperawatan selama klien selanjutnya selama 6 hari gangguan harga diri teratasi TUPEN: 2. dapat mengetahui 2. anjurkan klien untuk mengekspresikan dirinya Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3 hari dirasakan oleh klien sehingga 3.beri dukungan terhadap harga diri mulai membaik setiap prilaku yang dengan criteria: dilakukan klien - perasaan yang memudahkan dalam perawatan 3. dapat meningkatkan minat / partisipasi malu lagi - klien tidak merasa klien dalam segala hal klien Nampak termasuk dalam tenang 4. anjurkan kepada keluarga untuk meningkatkan perhatian pada klien kegiatan rehabilitasi 4. dapat meningkatkan harga diri dan mencegah terjadinya prilaku menyimpang 3. TUPAN: Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3 hari 1. obserfasi tingkat kecemasan klien 2. beri penjelasan ansietas hilang tentang penyakit TUPEN: klien Setelah diberikan tindakan 3. beri kesempatan 1. sebagai dasar untuk menentukan tindakan selanjutnya 2. menambah pengetahuan klien keperawatan selama 2 pada klien untuk dan dapat hari ansietas berkurang mendiskusikan mengurangi rasa dengan kriteriadengan tentang penyakitnya asietas criteria: - 3. klien bias lebih paham tentang tenang - klien Nampak penyakitnya klien tidak merasa
  44. 44. cemas dan takut lagi
  45. 45. BAB III PENUTUP A.KESIMPULAN  Disartria adalah suatu jenis kelainan bicara khususnya pada kelainan artikulasi yang berdampak pada kejelasan produksi bunyi bicara, pada umumnya dikarenakan adanya gangguan atau kelainan pada susunan saraf pusat, dan biasanya berdampak pula pada gerakan -gerakan motorik ( motorik kasar ataupun halus ) sesuai dengan tingkat atau derajat keparahan/kerusakan yang terjadi.  Suara parau adalah suatu istilah umum untuk setiap gangguan yang menyebabkan perubahan suara. Ketika parau, suara dapat terdengar serak, kasar dengan nada lebih rendah daripada biasanya, suara lemah, hilang suara, suara tegang dan susah keluar, suara terdiri dari beberapa nada, nyeri saat bersuara, atau ketidakmampuan mencapai nada atau intensitas tertentu. Suara parau bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan gejala penyakit. Perubahan suara ini seringkali berkaitan dengan kelainan pita suara yang merupakan bagian dari kotak suara (laring).  Afasia adalah gangguan berbahasa akibat gangguan serebrovaskuler hemisfer dominan, trauma kepala, atau proses penyakit. Terdapat beberapa tipe afasia, biasanya digolongkan sesuai lokasi lesi. Semua penderita afasia memperlihatkan keterbatasan dalam pemahaman, membaca, ekspresi verbal, dan menulis dalam derajat berbeda-beda. B.SARAN Dalam penulisan askep ini masih kurang dari kesempurnaan karena kurangnya referensi yang kami dapatkan. Jadi, kritik dan saran yang sifatnya membangun khususnya dari dosen pembimbing maupun dari rekan-rekan pembaca sangat kami harapkan untuk kesempurnaan askep ini kedepannya.
  46. 46. DAFTAR PUSTAKA 1. pendengaran, http://id.wikipedia.org/wiki/Pendengaran 2. tentang pendengaran www.widex.com Engram, Barbara. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol.2. Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Jakarta. 1998 Long, Barbara C. Keperawatan Medikal Bedah 3. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran. Bandung. 1996 Price, Sylvia Anderson. Patologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. EGC. 1990
  47. 47. DAFTAR ISI KATAPENGANTAR....................................................................................... DAFTARISI.................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang........................................................................................ B. Tujuan.................................................................................................... C. Metode................................................................................................. BABII KONSEP PENYAKIT SISTEM WICARA A.Pengertian.................................................................................... B.Etiologi................................................................................................. C.ManifestasiKlinis.................................................................................... D.Patofisiologi............................................................................................. E.Komplikasi............................................................................................... F.PemeriksaanPenunjang........................................................................... G.PenatalaksanaanMedis............................................................................ BAB III KONSEP ASKEP KLIEN DENGAN ABSES PARU A.Pengkajian............................................................................................ B.DiagnosaKeperawatan......................................................................... C.Intervensi................................................................................................. BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan......................................................................................... B.Saran....................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA

×