KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat
limpahan ra...
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Masalah

kesehatan

yang

berpengaruh

terhadap

sistem

kardiovaskuler yang menuntut ...
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Teori
Pengertian
 Aritmia adalah Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan
komplik...
PATOSIOLOGI
A. DISRITMIA NODUS SINUS
1. Bradikardi Sinus
Bradikardi sinus bisa terjadi karena stimulasi vagal, intoksikasi...
 Karakteristik :
a. Frekuensi : 60 sampai 100 denyut per menit
b. Gelombang P : biasanya mempunyai konfigurasi yang
berbe...
penyekat terapi pada nodus AV, yang mencegah penghantaran
beberapa

impuls.

sebenartnya

masih

Penghantaran
normal,

imp...
3. Takikardi Ventrikel
Disritmia ini disebabkan oleh peningkatan iritabilitas miokard,
seperti pada PVC. Penyakit ini bias...
 Sinkop, pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung,
letargi, perubahan pupil.
 Nyeri dada ringan sampai ber...
PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Terapi medis
Obat-obat antiaritmia dibagi 4 kelas yaitu :
1. Anti

aritmia

Kelas

1

:

sodium

...
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. PENGKAJIAN
a. PENGUMPULAN DATA
Identitas Klien
Nama :
TTL :
Umur :
Jenis kelamin :
Alamat ...
g. Riwayat Kesehatan Sekarang
Gejala yang menyertai : Gangguan kesadaran, Kebingungan, pucat, mual
dan muntah, kecemasan t...
c. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai oksigen ke jaringan.
d. Kecemasan yang be...
3.

·

Pantau tanda vital ·
dan kaji keadekuatan
curah jantung /perifusi
jaringan. Laporkan
variasi penting pada
TD/ freku...
tak mampu
mengkompensasi
frekuensi lambat karena
peningkatan volume
sekuncup. Sehingga
penurunan curah
jantung, GJK, dan
p...
contoh VT atau kematian
mendadak/henti jantung
karena flutter/fibrinlasi
ventrikel.
catatan : Disritmia
ventrikel tak semb...
·

·

Mekningkatkan jumlah
sediaan oksigen untuk
miokard, yang
menurunkan iritabilitas
yang disebabkan oleh
hipoksia.

Ber...
4.

Jelaskan pola
peningkatan bertahap
dari tingkat aktivitas.
contoh: bangun dari
kursi bila tidak ada
nyeri, ambulasi, d...
dan tindakan yang
diprogramkan.
Dapat
mengidentifikasi
penyebab atau
faktor yang
mempengaruhinya.
Menyatakan
ansietas
berk...
akan dilakukan

sehingga klien dan
keluarga merasa
mendapatkan kepastian

10.

Tanyakan keluhan dan
masalah psikologis
yan...
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
 Aritmia adalah Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan
komplikasi yang sering terja...
DAFTAR PUSTAKA
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Askep distria

748 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
748
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
7
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Askep distria

  1. 1. KATA PENGANTAR Assalamualaikum wr.wb Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat limpahan rahmat dan karunia-Nyalah, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Makalah Medikal Bedah dengan judul :“ Profesionalisme Perawat dalam Praktik Keperawatan” tepat pada waktunya Dalam penyusunan, pelaksanaan dan penyelesaian Makalah ini penulis awalnya mengalami banyak hambatan dan kesulitan, namun berkat adanya bantuan, bimbingan, arahan, maupun petunjuk dari berbagai pihak sehingga Makalah ini terselesaikan. Olehnya itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas doa dan motivasi dari berbagai pihak maupun pribadi yang telah memberikan dukungannya dalam bentuk apapun Akhirnya penulis hanya bisa berharap, semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.Amin. Wassalamualaikum wr.wb Raha, Februari 2013 penulis
  2. 2. DAFTAR ISI Kata Pengantar .................................................................................................................... 1 Daftar Isi ............................................................................................................................... 2 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang........................................................................................... 3 B. TujuanPenulisan ...................................................................................... 3 C. RumusanMasalah .................................................................................... 3 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Keperawatan ............................................................................ 4 B. Keperawatan sebagai profesi .................................................................... .5 C. Praktik Keperawatan ................................................................................... .6 D. Nilai – Nilai Profesi ........................................................................................ .7 BAB III PENUTU[P A. Kesimpulan ............................................................................................... 12 B. Saran .......................................................................................................... 12 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 13
  3. 3. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Masalah kesehatan yang berpengaruh terhadap sistem kardiovaskuler yang menuntut asuhan keperawatan dapat dialami oleh orang pada berbagai tingkat usia. Sistem kardiovaskuler mencakup jantung, sirkulasi atau peredaran darah dan keadaan darah, yang merupakan bagian tubuh yang sangat penting karena merupakan pengaturan yang menyalurkan O2 serta nutrisi ke seluruh tubuh. Bila salah satu organ tersebut mengalami gangguan terutama jantung, maka akan mengganggu semua sistem tubuh. Disritmia merupakan salah satu gangguan dari sistem kardiovaskuler. Disritmia adalah tidak teraturnya irama jantung. Disritmia disebabkan karena terganggunya mekanisme pembentukan impuls dan konduksi. Hal ini termasuk terganggunya sistem saraf. Perubahan ditandai dengan denyut atau irama yang merupakan retensi dalam pengobatan. Sebab cardiac output dan miokardiac contractility. B. Tujuan Tujuan pembuatan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II serta sebagai bahan mata kuliah dan membantu mahasiswa dalam mempelajari asuhan keperawatan tentang aritmia. C. Batasan Masalah Adapun batasan masalah dalam makalah ini yaitu : 1. Mengetahui pengertian dari aritmia. 2. Mengetahui penyebab dari aritmia. 3. Mengetahui penatalaksanaan aritmia. 4. Mempelajari asuhan keperawatan aritmia.
  4. 4. BAB II PEMBAHASAN A. Konsep Dasar Teori Pengertian  Aritmia adalah Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokardium.  Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan irama jantung yang disebabkan oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis (Doenges, 1999)  Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokardium. Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan irama jantung yang disebabkan oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis (Doenges, 1999). Disritmia adalah kelainan denyut jantung yang meliputi gangguan frekuensi atau irama atau keduanya. Disritmia adalah gangguan sistem hantaran jantung dan bukan strruktur jantung. (Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Suddarth, 1997. ETILOGI Etiologi aritmia jantung dalam garis besarnya dapat disebabkan oleh :  Peradangan jantung, misalnya demam reumatik, peradangan miokard (miokarditis karena infeksi)  Gangguan sirkulasi koroner (aterosklerosis koroner atau spasme arteri koroner), misalnya iskemia miokard, infark miokard  Karena obat (intoksikasi) antara lain oleh digitalis, quinidin dan obat-obat anti aritmia lainnya  Gangguan keseimbangan elektrolit (hiperkalemia, hipokalemia  Gangguan pada pengaturan susunan saraf autonom yang mempengaruhi kerja dan irama jantung  Ganggguan psikoneurotik dan susunan saraf pusat.  Gangguan metabolik (asidosis, alkalosis)  Gangguan endokrin (hipertiroidisme, hipotiroidisme)  Gangguan irama jantung karena kardiomiopati atau tumor jantung  Gangguan irama jantung karena penyakit degenerasi (fibrosis sistem konduksi jantung).
  5. 5. PATOSIOLOGI A. DISRITMIA NODUS SINUS 1. Bradikardi Sinus Bradikardi sinus bisa terjadi karena stimulasi vagal, intoksikasi digitalis, peningkatan tekanan intracranial, atau infark miokard. Bradikardi sinus juga dijumpai pada olahraghawan berat, orang yang sangat kesakitan, atau orang yang mendapat pengobatan (propanolol, reserpin, metildopa), pada keadaan hipoendokrin (miksedema, penyakit adison, panhipopituitarisme), pada anoreksia nervosa, pada hipotermia, dan setelah kerusakan bedah nodus SA.  Karakteristik : a. Frekuensi : 40 sampai 60 denyut per menit b. Gelombang P : mendahului setiap kompleks QRS; interval PR normal c. Kompleks QRS : biasanya normal d. Hantaran : biasanya normsl e. Irama : regular f. Takikardi Sinus 2. Takikardi sinus (denyut jantung cepat) dapat disebablkan oleh demam, kehilangan darah akut, anemia, syok, latihan, gagal jantung kongestif, nyeri, keadaan hipermetabolisme, kecemasan, simpatomimetika atau pengobatan parasimpatolitik.  Karakteristik : a. Frekuensi : 100 sampai 180 denyut per menit b. Gelombang P : mendahului setiap kompleks QRS, dapat tenggelam dalam gelombang T yang mendahuluinya; interval PR normal c. Kompleks QRS : biasanya mempunyai durasi normal d. Hantaran : biasanya normsl e. Irama : regular B. DISRITMIA ATRIUM 1. Kontraksi Prematur Atrium Kontraksi Prematur Atrium (PAC = premature atrium contraction) dapat disebabakan oleh iritabilitas otot atrium kerana kafein, alcohol, nikotin, miokardium Atrium yang teregang seperti pada gagal jantung kongestif, stress atu kecemasan, hipokalemia (kadar kalium rendah), cedera, infark, atau keadaan hipermetabolik.
  6. 6.  Karakteristik : a. Frekuensi : 60 sampai 100 denyut per menit b. Gelombang P : biasanya mempunyai konfigurasi yang berbeda dengan gelombang P yang berasal dari nodus SA. Tempat lain pada atrium telah menjadi iritabel (peningkatan otomatisasi) dan melepaskan impuls sebelum nodus SA melepaskan impuls secara normal. Interval PR dapat berbeda dengan interval PR impuls yang berasal dari nodus SA. c. Kompleks QRS : bisa normal, menyimpang atau tidak ada. Bila ventrikel sudah menyelesaikan fase rep[olarisasi, mereka dapat merespons stimulus atrium ini dari awal.Hantaran : biasanya normal d. Irama : regular, kecuali bila terjadi PAC. Gelombang P akan terjadi lebih awal dalam siklus dan biasanya tidak akan mempunyai jeda kompensasi yang lengkap. 2. Takikardi Atrium Paroksismal Takikardi Atrium Paoksismal (PAT = paroxysmal atrium tachychardia) adalah takikardi atrium yang ditandai dengan awitan mendadak dan penghentian mendadak. Dapat dicetuskan oleh emosi, tembakau, kafein, kelelahan, pengobatan simpatomimetik, atau alcohol. PAT biasanya tidak berhubungan dengan penyakit jantung organic. Frekuensi yang sangat tinggfi dapat menyebabkan angina akibat pebnurunan pengisian artei koroner. Curah jantung akan menurun dan dapat terjadi gagal jantung.  Karakteristik : a. Frekuensi : 150 sampai 250 denyut per menit b. Gelombang P : ektopik dan mengalami distorsi disbanding gelombang P normal; dapat ditemukan pada awal gelombang T; interval PR memendek (kurang dari 0,12 detik) c. Kompleks QR : biasanya normal, tetapi dapat mengalami distorsi apabila terjadi penyimpangan hantaran d. Hantaran : biasanya normal e. Irama : regular 3. Flutter Atrium Fluter atrium terjadi bila ada titik focus di atrium yang menangkap irama jantung dan membuat impuls antara 250 sampai 400 kali per menit. Karakter penting pada disritmia ini adalah terjadinya
  7. 7. penyekat terapi pada nodus AV, yang mencegah penghantaran beberapa impuls. sebenartnya masih Penghantaran normal, impuls sehingga melalui komp;leks jantung QRS tak terpengaruh. Inilah tanda penting dari disritmia tipe ini, karena hantran 1 :1 impuls atrium yang dilepaskan 250 sampai 400 kali per menit akan mengakibatkan fibrilasi ventrikel, suatu disritmia yang mengancam jiwa.  Karakteristik : a. Frekuensi : frekuensi atrium antara 250 sampai 400 denyut per menit b. Gelombang P : tidak ada, melainkan diganti oleh pola gigi gergaji yang dihasilkan oleh focus di atrium yang melepaskan impuls dengan cepat. Gelombang ini disebut sebagai gelombang F. c. Kompleks QRS : konfigurasinya normal dan waktu hantarannya juga normal. d. Gelombang T : ada namun bisa tertutup oleh gelombang fluter e. Irama : regular atau ireguler, tergantung jenis penyekatnya (mis., 2:1, 3:1, atau kombinasinya) 4. Fibrilasi Atrium Fibrilasi atrium (kontraksi otot atrium yang tidak terorganisasi dan tidak terkoordinasi)biasanya berhubungan dengan penyakit jantung aterosklerotik, penyakit katup jantung, gagal jantung kongestif, tirotoksikosis, cor pulmonale, atau penyakit jantung congenital. C. DISRITMIA VENTRIKEL 1. Kontraksi Prematur Ventrikel Kontraksi premature ventrikel (PVC = premature ventricular contraction) terjadi akibat peningkatan otomatisasi sel otot ventrikel. PVC biasa disebabkan oleh toksisitas digitalis, hipoksia, hipokalemia, demam, asidosis, latihan, atau peningkatan sirkulasi katekolamin. 2. Bigemini Ventrikel Bigemini Ventrikel biasanya diakibatkan oleh intoksikasi digitalis, penyakit arteri koroner, MI akut, dan CHF. Istilah bigemini mengacu pada kondisi di mana setiap denyut adalah premature.
  8. 8. 3. Takikardi Ventrikel Disritmia ini disebabkan oleh peningkatan iritabilitas miokard, seperti pada PVC. Penyakit ini biasanya berhubungan dengan penyakit arteri koroner dan terjadi sebelum fibrilasi ventrikel. Takikardi ventrikel sangat berbahaya dan harus dianggap sebagai keadaan gawat darurat. Pasien biasanya sadar akan adanya irama cepat ini dan sangat cemas. 4. Fibrilasi Ventrikel Adalah denyutan ventrikel yang cepat dan tak efektif. Pada disritmia ini denyut jantung tidak terdengar dan tidak teraba, dan tidak ada respirasi. Polanya sangat ireguler dan dapat dibedakan dengan disritmia tipe lainnya. Karena tidak ada koordinasi aktivitas jantung, maka dapat terjadi henti jantung dan kematian bila fibrilasi ventrikel tidak segera dikoreksi. D. ABNORMALITAS HANTARAN a. Penyekat AV Derajat-Satu Biasanya berhubungan dengan penyakit jantung organic atau mungkin disebabkan pleh efek digitalis. Hal ini biasanya terlihat pada pasien dengan infark miokard dinding inferior jantung. b. Penyekat AV Derajat-Dua Juga disebabkan oleh penyakit jantung organic, IM, atau intoksikasi digitalis. Bentuk penyekat ini menghasilkan penurunan frekuensi jantung dan biasanya penurunan curah jantung(curah jantung = volume sekuncup x frekuensi jantung). c. Penyekat AV Derajat-Tiga Juga berhubungan dengan penyakit jantung organik, intoksikasi digitalis, dan MI. frekuensi jantung berkurang drastis, mengakibatkan penurunan perfusi ke organ vital. Seperti otak, jantung, paru, dan kulit. E. ASISTOLE VENTRIKEL Tidak akan terjadi kompleks QRS. Tidak ada denyut jantung, denyut nadi dan pernafasan. Tanpa penatalaksanaan segera, asistole ventrikel sangat fatal. MANIFESTASI KLINIS  Perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi; bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menurun bila curah jantung menurun berat.
  9. 9.  Sinkop, pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.  Nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah  Nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.  demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan. PEMERIKSAAN DIAGNOSIK  EKG : menunjukkan pola cedera iskemik dan gangguan konduksi. Menyatakan tipe/sumber disritmia dan efek ketidakseimbangan elektrolit dan obat jantung.  Monitor Holter : Gambaran EKG (24 jam) mungkin diperlukan untuk menentukan dimana disritmia disebabkan oleh gejala khusus bila pasien aktif (di rumah/kerja). Juga dapat digunakan untuk mengevaluasi fungsi pacu jantung/efek obat antidisritmia.  Foto dada : Dapat menunjukkanpembesaran bayangan jantung sehubungan dengan disfungsi ventrikel atau katup  Skan pencitraan miokardia : dapat menunjukkan aea iskemik/kerusakan miokard yang dapat mempengaruhi konduksi normal atau mengganggu gerakan dinding dan kemampuan pompa.  Tes stres latihan : dapat dilakukan utnnuk mendemonstrasikan latihan yang menyebabkan disritmia.  Elektrolit : Peningkatan atau penurunan kalium, kalsium dan magnesium dapat mnenyebabkan disritmia.  Pemeriksaan obat : Dapat menyatakan toksisitas obat jantung, adanya obat jalanan atau dugaan interaksi obat contoh digitalis, quinidin.  Pemeriksaan tiroid : peningkatan atau penururnan kadar tiroid serum dapat menyebabkan.meningkatkan disritmia.  Laju sedimentasi : Penignggian dapat menunukkan proses inflamasi akut contoh endokarditis sebagai faktor pencetus disritmia.  GDA/nadi oksimetri : Hipoksemia menyebabkan/mengeksaserbasi disritmia. dapat
  10. 10. PENATALAKSANAAN MEDIS a. Terapi medis Obat-obat antiaritmia dibagi 4 kelas yaitu : 1. Anti aritmia Kelas 1 : sodium channel blocker Kelas 1 A:  Quinidine adalah obat yang digunakan dalam terapi pemeliharaan untuk mencegah berulangnya atrial fibrilasi atau flutter.  Procainamide untuk ventrikel ekstra sistol atrial fibrilasi dan aritmi yang menyertai anestesi.  Dysopiramide untuk SVT akut dan berulang 2. Kelas 1 B  Lignocain untuk aritmia ventrikel akibat iskemia miokard, ventrikel takikardia.  Mexiletine untuk aritmia entrikel dan VT 3. Kelas 1 C: 1. Flecainide untuk ventrikel ektopik dan takikardi 2. Anti aritmia Kelas 2 (Beta adrenergik blokade): Atenolol, Metoprolol, Propanolol : indikasi aritmi jantung, angina pektoris dan hipertensi 3. Anti aritmia kelas 3 (Prolong repolarisation): Amiodarone, indikasi VT, SVT berulang 4. Anti aritmia kelas 4 (calcium channel blocker): Verapamil, indikasi supraventrikular aritmia b. Terapi mekanis 1. Kardioversi : mencakup pemakaian arus listrik untuk menghentikan disritmia yang memiliki kompleks GRS, biasanya merupakan prosedur elektif. 2. Defibrilasi : kardioversi asinkronis yang digunakan pada keadaan gawat darurat. 3. Defibrilator kardioverter implantabel : suatu alat untuk mendeteksi dan mengakhiri episode takikardi ventrikel yang mengancam jiwa atau pada pasien yang resiko mengalami fibrilasi ventrikel. 4. Terapi pacemaker : alat listrik yang mampu menghasilkan stimulus listrik berulang ke otot jantung untuk mengontrol frekuensi jantung.
  11. 11. B. Konsep Asuhan Keperawatan 1. PENGKAJIAN a. PENGUMPULAN DATA Identitas Klien Nama : TTL : Umur : Jenis kelamin : Alamat : Agama : Suku/bangsa : Pendidikan : Pekerjaan : Tgl. MRS : Jam : Tgl. Pengkajian : Jam : Diagnosa medis : b. Sumber informasi Nama : Pendidikan : Pekerjaan : Alamat : 2. RIWAYAT KESEHATAN a. Riwayat Keluhan Utama  Nyeri dada  Pusing b. Riwayat Kesehatan Sekarang Gejala yang menyertai : Gangguan kesadaran, Kebingungan, pucat, mual dan muntah, kecemasan terdapat hematoma. c. Riwayat Kesehatan Terdahulu  Apakah pernah mengalami disritmia sebelumnya d. Riwayat Kesehatan Keluarga. Apakah ada keluarga riwayat penyakit ini. e. Riwayat Kesehatan Lingkungan. f. Riwayat Kesehatan Psikososial. Adanya perasaan isolasi karena pasien tidak dapat beraktifitas dalam masyarakat
  12. 12. g. Riwayat Kesehatan Sekarang Gejala yang menyertai : Gangguan kesadaran, Kebingungan, pucat, mual dan muntah, kecemasan terdapat hematoma. h. Riwayat Kesehatan Terdahulu Apakah pernah mengalami disritmia sebelumnya. i. Riwayat Kesehatan Keluarga. Apakah ada keluarga yang pernah mengalami penyakit ini sebelumnya. j. Riwayat Kesehatan Lingkungan. k. Riwayat Kesehatan Psikososial. Adanya perasaan isolasi karena pasien tidak dapat beraktifitas dalam masyarakat. 3. PENGKAJIAN FISIK a. Aktivitas : kelelahan umum b. Sirkulasi : perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi; bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit warna dan kelembaban berubah misal pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menruun bila curah jantung menurun berat. c. Integritas ego : perasaan gugup, perasaan terancam, cemas, takut, menolak,marah, gelisah, menangis. d. Makanan/cairan : hilang nafsu makan, anoreksia, tidak toleran terhadap makanan, mual muntah, peryubahan berat badan, perubahan kelembaban kulit e. Neurosensori : pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil. f. Nyeri/ketidaknyamanan : nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah g. Pernafasan : penyakit paru kronis, nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis. h. Keamanan : demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan 4. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan gangguan konduksi elektrikal dan penurunan kontraktilitas miokard b. Penurunan perfusi perifer yang berhubungan dengan menurunnya curah jantung.
  13. 13. c. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen ke jaringan. d. Kecemasan yang berhubungan dengan ketakutan akan kematian, penurunan status kesehatan, situasi krisis, dan ancaman atau perubahan kesehatan. e. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, sifat dasar penyakit dan metode untuk menghindari komplikasi, serta kebutuhan pengobatan yang berhubungan dengan kurangnya informasi. 5. INTERVENSI a. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan gangguan konduksi elektrikal dan penurunan kontraktilitas miokard. No Tujuan 1. Intervensi Mempertahankan/ meningkatkan curah jantung adekuat yang dibuktikan oleh: Rasional Mandiri Perbedaan frekuensi, kesamaan dan keteraturan nadi menunjukkan efek gangguan curah jantung pada sirkulasi sistemik/perifer. Raba nadi (radial, karotid, femoral, dorsalis pedis) catat frekuensi, keteraturan, TD/nadi dalam amplitudo rentang normal, (penuh/kuat) dan haluaran urine simetris. Catat adanya adekuat, nadi teraba pulsus alternan, nadi sama, status mental bigeminal, atau defisit biasa. nadi. · Menunjukkan penurunan frekuensi /tak adanya disritmia. · Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan kerja miokard. 2. · Auskultasi bunyi · jantung, catat frekuensi, irama. Catat adanya denyut jantung ekstra, penurunan nadi. Disritmia khusus lebih jelas terdeteksi dengan pendengaran dari pada dengan palpasi. Pendengaran terhadap bunyi jantung ekstra atau penurunan nadi membantu mengidentifikasi disritmia pada pasien tak terpantau.
  14. 14. 3. · Pantau tanda vital · dan kaji keadekuatan curah jantung /perifusi jaringan. Laporkan variasi penting pada TD/ frekuensi, kulit/suhu, tingkat kesadaran/sensori, dan haluaran urine selama episode disritmia. Meskipun tidak semua disritmia mengancam hidup, penanganan cepat untuk mengakhiri disritmia diperlukan pada adanya gangguan curah jantung dan perfusi jaringan. 4. · Tentukan tipe disritmia dan catat irama (bila pantau jantung/ telemetri tersedia: · Berguna dalam menentukan kebutuhan/tipe intervensi. · Takikardi dapat terjadi dalam respons terhadap stres, nyeri, demam, infeksi, hambatan arteri koroner, disfungsi katup, hipovolemia, hipoksia, atau sebagai akibat penurunan tonus vagal atau penurunan aktvitas sistem saraf simpatis dengan pengeluaran katekolamin. Takikardi menetap dapat memburuk secara patologis pada pasien dengan penyakit jantung iskemi karena pengisian sistolik pendek dan peningkatan kebutuhan oksigen. · Bradikardia umum pada pasien dengan IM akut (khususnya inferior) dan akibat aktivitas parasimpatis berlebihan, ham batan pada konduksi nodus SA atau AV, atau kehilangan otomatisistas otot jantung. Pasien dengan penyakit jantung berat · Takikardi
  15. 15. tak mampu mengkompensasi frekuensi lambat karena peningkatan volume sekuncup. Sehingga penurunan curah jantung, GJK, dan potensial disritmia ventrikel letal dapat terjadi. · · PAC dapat terjadi sebagai respons terhadap iskemia dan secara normal berbahaya tetapi dapat terjadi atau mencetuskan AF. Denyutan atrial akut dan kronis dan/atau fibrilasi dapat terjadi karena penyakit arteri koroner atau katup dan dapat atau bukan merupakan patologis. Denyutan atrial cepat/fibrilasi menurunkan curah jantung sebagai akibat tidak penuhnya pengisian ventrikel (pemendekan siklus jantung) dan meningkatnya kebutuhan oksigen. · PVC atau VPB menunjukkan iritabilitas jantung dan umumnya berhubungan dengan IM, toksisitas digitalis, vasospasme koroner, dan kesalahan letak lead pacu jantung sementara. PVC sering, multipel atau multifokal mengakibatkan penurunan curah jantung dan dapat menimbulkan potensial disritmia letal, Bradikardia
  16. 16. contoh VT atau kematian mendadak/henti jantung karena flutter/fibrinlasi ventrikel. catatan : Disritmia ventrikel tak sembuh tidak berespons pada obat dapat mencerminkan aneurisma ventrikel. · Menunjukkan gangguan transmisi impuls melalui konduksi normal (lambat, terganggu) yang mungkin disebabkan oleh IM, penyakit arteri koroner dengan penurunan suplai darah terhadap nodus SA atau AV, toksisitas obat, dan kadang-kadang bedah jantung. Berlanjutnya blok jantung berhubungan dengan melambatnya frekuensi ventrikel, penurunan curah jantung, dan potensial disritmia ventrikel letal atau henti jantung. Ketidakseimbangan elektrolit seperti kalium, magnesium, dan kalsium, secara merugikan mempengaruhi irama dan kontraktilitas jantung. · Disritmia atria · · · Menyatakan kadar terapeutik/toksik obat yang diberikan atau obat jalanan dimana dapat mempengaruhi/berpera n pada adanya disritmia. Disritmia ventrikel · Blok jantung Kolaborasi · · · Pantau pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit. Kadar oba Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
  17. 17. · · Mekningkatkan jumlah sediaan oksigen untuk miokard, yang menurunkan iritabilitas yang disebabkan oleh hipoksia. Berikan obat sesuai · indikasi Disritmia umumnya diobati secara simtomatik, kecuali untuk ventrikel prematur, dimana dapat diobati secara profilaktik pada IM akut. b. . Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen ke jaringan No. Tujuan Intervensi Rasional Catat frekuensi jantung, irama, serta perubahan tekanan darah selama dan sesudah aktivitas Respon klien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan penurunan oksigen miokard. 2. Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas, dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat. Menurunkan kerja miokard atau konsumsi oksigen yang akan berdampak pada peningkatan suplai darah ke jaringan. 3. Anjurkan menghindari peningkatan tekanan abdomen, misalnya mengejan saat defekasi Dengan mengejan dapat mengakibatkan bradikardi, menurunkan curah jantung dan takikardi, serta peningkatan TD. 1. Aktivitas seharihari klien terpenuhi dan meningkatkan kemampuan beraktivitas. kriteria: klien menunjukkan kemampuan beraktivitas tanpa gejala-gejala yang berat, terutama mobilisasi ditempat tidur.
  18. 18. 4. Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas. contoh: bangun dari kursi bila tidak ada nyeri, ambulasi, dan istirahat selama 1 jam setelah makan. Aktivitas yang maju memberikan kontrol jantung, meningkatkan regangan, dan mencegah aktivitas berlebihan. 5. Pertahankan rentang gerak pasif selama sakit kritis. Meningkatkan kontraksi otot sehingga membantu venous return. 6. Pertahankan klien tirah baring sementara sakit akut. Untuk mengurangi beban jantung, menurunkan kebutuhan miokard. 7. Evaluasi tanda vital saat kemajuan aktivitas terjadi. Untuk mengetahui fungsi jantung bila dikaitkan dengan aktivitas. 8. Berikan waktu untuk istirahat dan beraktivitas. Untuk mendapatkan cukup waktu resolusi bagi tubuh dan tidak terlalu memaksakan kerja jantung. 9. Pertahankan penambahan O2 sesuai pesanan. Untuk meningkatkan oksigenasi jaringan. 10. Selama aktivitas, kaji EKG, dispnea, sianosis, kerja dan frekuensi nafas serta keluhan subyektif. Melihat dampak aktivitas terhadap fungsi jantung. c. Cemas yang berhubungan dengan hospitalisasi dan kurangnya pengetahuan tentang penyakit serta penanganan yang akan didapatkan. No. Tujuan 1. Setelah 1x24 jam dirawat kecemasan klien berkurang. kriteria: tidur 6-8 jam /hari, gelisah hilang, klien kooperatif, mengenal perasaannya dengan petugas Intervensi Rasional Kaji tanda-tanda dan ekspresi verbal dari kecemasan. Level kecemasan berkembang ke panik yang merangsang respons simpatis dengan melepaskan katekolamin. Hal ini berkontribusi pada peningkatan kebutuhan O2 miokardium.
  19. 19. dan tindakan yang diprogramkan. Dapat mengidentifikasi penyebab atau faktor yang mempengaruhinya. Menyatakan ansietas berkurang/hilang. 2. Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan. Beri lingkungan yang tenang dan suasana yang penuh istirahat. Mengurangi rangsangan yang tidak perlu 3. Temani pasien selama periode kecemasan tinggi, beri kekuatan, dan gunakan suara tenang. Pengertian dan empati merupakn bagian dari pengobatan, serta dapat mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien. 4. Bantu klien mengekspresikan perasaan marah, kehilangan, dan takut Cemas berkelanjutan dapat memberikan dampak serangan jantung selanjutnya. 5. Hindari konfrontasi Konfontrasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerjasama dan dapat memperlambat penyembuhan. 6. Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan Orientasi dapat menurunkan kecemasan. 7. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan ansietasnya Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran tidak di ekspresikan. 8. Lakukan pendekatan dan komunikasi Untuk membina rasa saling percaya 9. Berikan penjelasan tentang penyakit, penyebab, serta penanganan yang Untuk memberikan jaminan kepastian tentang langkah-langkah tindakan yang akan diberikan,
  20. 20. akan dilakukan sehingga klien dan keluarga merasa mendapatkan kepastian 10. Tanyakan keluhan dan masalah psikologis yang dirasakan klien saat ini. Untuk dapat menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapi klien sehingga dapat mengurangi beban psikologis klien 11. Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat, bila mungkin rujuk kepenasihat spiritual Memberikan waktu untuk mengekspresikan perasaan, menghilangkan cemas dan prilaku adaptasi. Penggunaan sistem pendukung pasien dapat meningkatkan kenyaman dan mengurangi ketenangan.
  21. 21. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN  Aritmia adalah Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokardium.  Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan irama jantung yang disebabkan oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis (Doenges, 1999)  Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokardium. Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan irama jantung yang disebabkan oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis (Doenges, 1999). Disritmia adalah kelainan denyut jantung yang meliputi gangguan frekuensi atau irama atau keduanya. Disritmia adalah gangguan sistem hantaran jantung dan bukan strruktur jantung. (Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Suddarth, 1997. B. SARAN Kurangnya pengetahuan tentang penyebab atau kondisi pengiobatan penyakit aritmia dapat mengakibatkan terjadinya komplikasi penyakit lain, oleh karena itu pendidikan untuk pasien dan keluarga mengenai aritmia sangat diperlukan untuk mendukung proses penyembuhan atau pengobatan aritmia dan pencegahan adanya kom plikasipenyakit lain.
  22. 22. DAFTAR PUSTAKA

×