t TUGAS: KMB II
DOSEN:YATABA S.KeP Ns
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN ABSES PARU

OLEHKELOMPOK X:
1.LISNA WATI
2.JAYAMIN
3.JASRI...
AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN MUNA
2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT yang te...
menyadari bahwa dalam penulisan askep ini masih terdapat banyak kesalahan dan
kekurangan karena faktor batasan pengetahuan...
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Organ penting merupakan salah satu organ vital bagi kehidupan manusia.
Khususnya berfungsi pada sistem p...
C. Metode Penulisan
Dalam memperoleh data atau informasi yang digunakan untuk penulisan
makalah ini, penyusun mengambil da...
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP PENYAKIT
a. Pengertian
Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi
materia...
B. Etiologi
Pendapat dari Prof. dr. Hood Alsagaff (2006) tentang penyebab abses paru
sesuai dengan urutan frekuensi yang d...
Kuman penyebab Abses Paru menurut Asher MI dan Beadry PH (1990) antara lain
adalah sebagai berikut:

1. Staphillococcus ae...
2. Aerob: Viridans streptococci; Staphylococcus sp; Corynebacterium sp;
Klebsiella sp; Haemophilus sp; Gram-negative cocci...
inflamasi
↓
Lesi
↓
Lesi membentuk ruang
↓

Abses paru

D. Manifestasi klinis

Gejala klinis yang ada pada abses paru hampi...
2. Batuk, pada stadium awal non produktif. Bila terjadi hubungan rongga abses
dengan bronkus batuknya menjadi meningkat de...
Penatalaksanaan Abses paru harus berdasarkkan pemeriksaan mikrobiologi dan
data penyakit dasar penderita serta kondisi yan...
Abses paru yang tidak berhubungan dengan bronkus maka perlu
dipertimbangkan drainase melalui bronkoskopi.
3. Bedah
Reseksi...
B.KONSEP ASKEP
A.Pengkajian
1.aktifitas atau istirahat
Gejala:klien tidak mampu melakukan aktifitas karena badany terasa l...
Gejala:klien mengatakan nyeri pada dadanya.
Tanda:- klien memegang daerah yang nyeri
-klien memegang daerah yang nyeri
6.m...
Io.higiene
Gejala:klien mengatakan tidak mampu melakukan perawatan diri
Tanda:klien Nampak kusam
11.penyuluhan dan pembela...
Gangguan
nyaman nyeri

rasa Infeksi parenkim paru

DS:- klien mengatakan nyeri

↓

dadanya

Inflamasi parenkim paru
↓
Adan...
Gangguan
keseimbangan

Adanya

infeksi

perenkim DS:-

klien

mengatakan

paru

demam

↓

Do:- suhu tubuh meningkat

suhu ...
Nutrisi kurang dari

Adanya

kebutuhan tubuh

berbau
sputum

sputum
amis

yang DS: - Klien mengatakan nafsu

dan

saat

ra...
Intoleransi aktifitas

Infasi
penyebap

mikrooganisme DS:pada

parenkim

paru

klien

tidak

melakukan

mampu
aktifitas

s...
menurun
↓
ATP↓
Kurang energi
Terjadi kelemahan
↓
Intoleransi aktifitas
ansietas

Adanya penyakit

DS:-klien mengatakan stress

↓

pada penyakitnya

Perubahan status kesehatan
↓
Klien

DO:- geli...
-batuk produktif dengan warna kuning kehijauan dan berbau amis
2.gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya abse...
DS:- klien tidak mampu melaksanakan aktifitas sehari- hari karena merasa lemah
-klien mengatakan kurang mampumelakukan per...
D.Perencanaan
Dx
1.

Tujuan

intervensi

Tupan:setelah
diberikan

Rasional

a.berikan petunjuk kepada a.dengan

7

hari kl...
2

Tupan:setelah

a.ajarkan tehnik distraksi a.tehnik distraksi dapat

diberikan

askep Pada klien

menghilangkan perhatia...
peningkatan

suhu

tubuhberangsurangsur

dengan

kriteria
-klien

tidak

mengeluh demam
-suhu tubuh 36-37C
4.

Tupan:setel...
dihabiskan

5

Tupan:setelah

a.pantau

sejauh

diberikan

askep kemampuan

klien

mana a.membantu

dapat melakukan ADL

b...
-klien

dapat pada klien

membantu klien dalam

melakukan

memebantu

aktifitasnya

kebutuhan

ADL

-klien tidak lemas
-PH...
mengatasi masalahnya

mengurangi
menghilangkan
kecemasan

atau
BAB III
PENUTUP
A.kesimpulan

Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material
purulent berisikan ...
Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi, epilepsi
tak terkontrol, kerusakan paru sebelumnya dan p...
DAFTAR PUSTAKA

1. Asher MI, Beadry PH ; 1990, Lung Abscess in infections of Respicatory tract
; Canada
2. Baughman, Diane...
8. Kardjito, Thomas; 1994; Pedoman Diagnosis Therapi; Lab/UPF Ilmu
Penyakit Paru RSUD dr. Sutomo, Surabaya
9. Sabiston; 19...
DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR.......................................................................................DAFTARISI....
G.PenatalaksanaanMedis............................................................................
BAB III KONSEP ASKEP KL...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Askep abses paru

1,050 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,050
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
13
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Askep abses paru

  1. 1. t TUGAS: KMB II DOSEN:YATABA S.KeP Ns ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN ABSES PARU OLEHKELOMPOK X: 1.LISNA WATI 2.JAYAMIN 3.JASRIN 4.JUMHARIANI 5.LISNA TRIWULAN NDARI 6.SAIDA
  2. 2. AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN MUNA 2012 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya hingga penulis dapat merampungkan pembuatan makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN DENGANABSES PARU” Penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak – pihak yang telah mendukung dan memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini. Penyusun
  3. 3. menyadari bahwa dalam penulisan askep ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan karena faktor batasan pengetahuan penyusun, maka penyusun dengan senang hati menerima kritikan serta saran – saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini ini. Semoga hasil dari penyusunan makalah ini dapat dimanfaatkan bagi generasi mendatang, khususnya mahasiswa D-III Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Muna. Akhir kata, melalui kesempatan ini penyusun makalah mengucapkan banyak terima kasih. Raha, februari 2012 Penyusun
  4. 4. BAB I PENDAHULUAN
  5. 5. A. Latar belakang Organ penting merupakan salah satu organ vital bagi kehidupan manusia. Khususnya berfungsi pada sistem pernapasan manusia. Bertugas sebagai tempat pertukaran oksigen yang dibutuhkan manusia dan mengeluarkan karbondioksida yang merupakan hasil sisa proses pernapasan yang harus dikeluarkan dari tubuh, sehingga kebutuhan tubuh akan oksigen tetap terpenuhi. Udara sangat penting bagi manusia, tidak menhirup oksigen selama beberapa menit dapat menyebabkan kematian. Itulah peranan penting paru-paru. Organ yang terletak di bawah tulang rusuk ini memang mempunyai tugas yang berat, belum lagi semakin tercemarnya udara yang kita hirup serta berbagai bibit penyakit yang berkeliaran di udara. Ini semua dapat menimbulkan berbagai penyakit paru-paru B. Tujuan 1. Mengetahui tentang definisi dari abses paru 2. Mengetahui Eteologi dari abses paru 3. Mengetahui klasifikasi dari abses paru 4. Mengetahui dampak terhadap berbagai sistem tubuh dari abses paru 5. Mengetahui patofisiologis dan penyimpangan KDM dari abses paru 6. Mengetahui tanda dan gejala dari abses paru 7. Mengetahui Prosedur diagnostik dari abses paru 8. Mengetahui menejemen medik dari abses paru 9. Mengetahui Pengkajian, Diagnosa, Intervensi, dan Evaluasi dengan masalah pada sistem pernafasan bawah
  6. 6. C. Metode Penulisan Dalam memperoleh data atau informasi yang digunakan untuk penulisan makalah ini, penyusun mengambil dari internet yang relevan dan berbagai kajian pustaka dengan topik penulisan askep ini sebagai dasar untuk mengetahui dan memperkuat teori yang digunakan.
  7. 7. BAB II PEMBAHASAN A. KONSEP PENYAKIT a. Pengertian Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses terinfeksi. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small abscesses) dinamakan “necrotising pneumonia”. Abses besar atau abses kecil mempunyai manifestasi klinik berbeda namun mempunyai predisposisi yang sama dan prinsip diferensial diagnosea sama pula. Abses timbul karena aspirasi benda terinfeksi, penurunan mekanisme pertahanan tubuh atau virulensi kuman yang tinggi. Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi, epilepsi tak terkontrol, kerusakan paru sebelumnya dan penyalahgunaan alkohol. Pada negara-negara maju jarang dijumpai kecuali penderita dengan gangguan respons imun seperti penyalahgunaan obat, penyakit sistemik atau komplikasi dari paska obstruksi. Pada beberapa studi didapatkan bahwa kuman aerob maupupn anaerob dari koloni oropharing yang sering menjadi penyebab abses paru.
  8. 8. B. Etiologi Pendapat dari Prof. dr. Hood Alsagaff (2006) tentang penyebab abses paru sesuai dengan urutan frekuensi yang ditemukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya adalah: 1. Infeksi yang timbul dari saluran nafas (aspirasi) 2. Sebagai 3. penyulit dari beberapa tipe pneumonia tertentu 4. Perluasan abses subdiafragmatika 5. Berasal dari luka traumatik paru 6. Infark paru yang terinfeksi Pravelensi tertinggi berasal dari infeksi saluran pernafasan, mikroorganisme penyebab umumnya berupa campuran dari bermacam-macam kuman yang berasal dari flora mulut, hidung, tenggorokan, termasuk kuman aerob dan anaerob seperti Streptokok, Basil fusiform, Spirokaeta, Proteus, dan lain-lain. Finegold SM dan Fishman JA (1998) mendapatkan bahwa organisme penyebab abses paru lebih dari 89% adalah kuman anaerob. Asher MI dan Beadry PH (1990) mendapatkan bahwa pada anak-anak kuman penyebab abses paru terbanyak adalah stapillococous aureus.
  9. 9. Kuman penyebab Abses Paru menurut Asher MI dan Beadry PH (1990) antara lain adalah sebagai berikut: 1. Staphillococcus aereus: Haemophilus influenzae types B, C, F, and nontypable; Streptococcus viridans pneumoniae; Alpha-hemolytic streptococci; Neisseria sp; Mycoplasma pneumoniae 2. Kuman Aerob: Haemophilus aphropilus parainfluenzae; Streptococcus group B intermedius; Klebsiella penumonia; Escherichia coli, freundii; Pseudomonas pyocyanea, aeruginosa, denitrificans; Aerobacter aeruginosa Candida; Rhizopus sp; Aspergillus fumigatus; Nocardia sp; Eikenella corrodens; Serratia marcescens 3. Sedangkan kuman Anaerob: Peptostreptococcus constellatus intermedius, saccharolyticu;s Veillonella sp alkalenscenens; Bacteroidesmelaninogenicus oralis, fragilis, corrodens, distasonis, vulgatus ruminicola, asaccharolyticus Fusobacterium necrophorum, nucleatum Bifidobacterium sp. Sedangkan Spektrum isolasi bakteri Abses paru akut menurut Hammond et al (1995) adalah: 1. Anaerob: Provetella sp; Porphyromonas sp; Bacteroides sp; Fusobacterium sp; Anaerobic cocci: Microaerophilic streptococci; Clostridium sp; Nonsporing Gram-positive anaerobes. Veilonella sp;
  10. 10. 2. Aerob: Viridans streptococci; Staphylococcus sp; Corynebacterium sp; Klebsiella sp; Haemophilus sp; Gram-negative cocci Sedangkan menurut Finegold dan Fishmans (1998), Organisme dan kondisi yang berhubungan dengan Abses paru : 1. Bacteria Anaerob; Staphylococcus aureus, Enterbacteriaceae, Pseudomanas aeruginosa streptocicci, Legonella spp, Nocardia asteroides, Burkholdaria pseudomallei 2. Mycobacteria (often multifocal): M. Tuberculosis, M. Avium complex, M. Kansasii. 3. Fungi: Aspergillus spp, Mucoraceae, Histoplasma capsulatum, Pneumocystis carinii, Coccidioides immitis, Blastocystis homini 4. Parasit: Entamoeba histolytical, Paragonimus westermani, Stronglyoides stercoralis (post-obstructive) C.Patofisiologi Adanya mikrorganisme penyebab infeksi ↓ Masuk ke perenkim paru ↓
  11. 11. inflamasi ↓ Lesi ↓ Lesi membentuk ruang ↓ Abses paru D. Manifestasi klinis Gejala klinis yang ada pada abses paru hampir sama dengan gejala pneumonia pada umumnya yaitu: 1. Panas badan Dijumpai berkisar 70% - 80% penderita abses paru. Kadang dijumpai dengan temperatur > 400C.
  12. 12. 2. Batuk, pada stadium awal non produktif. Bila terjadi hubungan rongga abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk yang khas (Foetor ex oroe) 3. Produksi sputum yang meningkat dan Foetor ex oero dijumpai berkisar 40 – 75% penderita abses paru. 4. Nyeri yang dirasakan di dalam dada 5. Batuk darah 6. Gejala tambahan lain seperti lelah, penurunan nafsu makan dan berat badan. Pada pemeriksaan dijumpai tanda-tanda proses konsolidasi seperti redup pada perkusi, suara nafas yang meningkat, sering dijumpai adanya jari tabuh serta takikardi. E.Pemeriksaan Penunjang Lab:leukosit meningkat (10.000-20.000/mm3 Pemeriksaan kultur sputum Radiologi Pemeriksaan scorologi F.Penatalaksanaan
  13. 13. Penatalaksanaan Abses paru harus berdasarkkan pemeriksaan mikrobiologi dan data penyakit dasar penderita serta kondisi yang mempengaruhi berat ringannya infeksi paru. Ada beberapa modalitas terapi yang diberikan pada abses paru : 1. MedikaMentosa Pada era sebelum antibiotika tingkat kematian mencapai 33%, pada era antibiotika maka tingkat kematian dan prognosa abses paru menjadi lebih baik. Pilihan pertama antibiotika adalah golongan Penicillin, pada saat ini dijumpai peningkatan abses paru yang disebabkan oleh kuman anaerobs (lebih dari 35% kuman gram negatif anaerob). Maka bisa dipikirkan untuk memilih kombinasi antibiotika antara golongan penicillin G dengan clindamycin atau dengan Metronidazole, atau kombinasi clindamycin dan Cefoxitin. Alternatif lain adalah kombinasi Imipenem dengan ß Lactamase inhibitase pada penderita dengan pneumonia nosokomial yang berkembang menjadi Abses paru. Waktu pemberian antibiotika tergantung dari gejala klinis dan respon radiologis penderita. Penderita diberikan terapi 2-3 minggu setelah bebas gejala atau adanya resolusi kavitas, jadi diberikan antibiotika minimal 2-3 minggu. 2. Drainage Drainase postural dan fisiotherapi dada 2-5 kali seminggu selama 15 menit diperlukan untuk mempercepat proses resolusi Abses paru. Pada penderita
  14. 14. Abses paru yang tidak berhubungan dengan bronkus maka perlu dipertimbangkan drainase melalui bronkoskopi. 3. Bedah Reseksi segmen paru yang nekrosis diperlukan bila: 1. Respon yang rendah terhadap therapi antibiotika. 2. Abses yang besar sehingga mengganggu proses ventilasi perfusi 3. Infeksi paru yang berulang 4. Adanya gangguan drainase karena obstruksi.
  15. 15. B.KONSEP ASKEP A.Pengkajian 1.aktifitas atau istirahat Gejala:klien tidak mampu melakukan aktifitas karena badany terasa lemah Tanda:klien Nampak lemah 2.sirkulasi Tanda:takikardi 3.pernapasan Gejala:klien mengatakan sulit bernafas dan batuk . Tanda:- klien Nampak sesak napas -batuk produktif dengan sputum kuning kehijauan dan berbau amis. 4.integritas ego Gejala :klien mengatakan stress pada penyakitnya. Tanda:gelisah 5.nyeri atau kenyamanan
  16. 16. Gejala:klien mengatakan nyeri pada dadanya. Tanda:- klien memegang daerah yang nyeri -klien memegang daerah yang nyeri 6.makanan atau cairan Gejala:klien mengatakan nafsucmakanya menurun dan mual. Tanda: - penurunan berat badan. -porsi makan tidak dihabiskan. 7.neurosensori Tanda:perubahan mental. 8.keamanan Gejala:klien mengatakan demam Tanda:peningkatan suhu tubuh 9.seksualitas Gejala:penurunan minat melakukan hubungan seks
  17. 17. Io.higiene Gejala:klien mengatakan tidak mampu melakukan perawatan diri Tanda:klien Nampak kusam 11.penyuluhan dan pembelajaran Gejala:klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnya dan penangananya Tanda:-klien kurang mengetahui tentang penyakitnya. -klien Nampak bingung bila ditanya tentang penyakitnya B.Analisa data problem Etiologi symtom Adanya infeksi perenkim DS:klien mengatakan sulit Bersihan jalan nafas paru bernafas dan batuk ↓ tidak efektif Peningkatan produksi DO:-Nampak sesak nafas sputum -patuk produktif dengan ↓ Bersihan efektif nafas sputum kuning kehijauan tidak dan bau amis
  18. 18. Gangguan nyaman nyeri rasa Infeksi parenkim paru DS:- klien mengatakan nyeri ↓ dadanya Inflamasi parenkim paru ↓ Adanya abses paru dekat DO:- Klien Nampak pleura memegang dadanya saat ↓ nyeri terjadi pergesekan antara pleura parietaldan visceral saat respirasi ↓ impuls diteruskan di korteks cerebri ↓ nyeri dipersepsikan -nampak meringis
  19. 19. Gangguan keseimbangan Adanya infeksi perenkim DS:- klien mengatakan paru demam ↓ Do:- suhu tubuh meningkat suhu tubuh Inflamasi perenkim paru ↓ terjadi reaksi tubuh terhadap infeksi ↓ Peningkatan suhu tubuh ↓ Gangguan keseimbangan suhu tubuh
  20. 20. Nutrisi kurang dari Adanya kebutuhan tubuh berbau sputum sputum amis yang DS: - Klien mengatakan nafsu dan saat rasa batuk makanya menurun dan mual produktif ↓ DO:- penurunan berat badan Anoreksia dan mual -porsi ↓ makan dihabiskan Intake nutrisi kurang ↓ Nutrisi kurang kebutuhan tubuh dari tidak
  21. 21. Intoleransi aktifitas Infasi penyebap mikrooganisme DS:pada parenkim paru klien tidak melakukan mampu aktifitas sehari-hari karena terasa ↓ lemah Infeksi parenkim paru ↓ -klienmengatakan lesi kurang ↓ melakukan abses diri ↓ Produksi karena mampu perawatan badanya lemah sputum meningkat DO:- klien Nampak lemah ↓ Sputum tertelan ↓ anoreksia ↓ Intake nutrisi berkurang ↓ Metabolism glukosa -klien Nampak kusam
  22. 22. menurun ↓ ATP↓ Kurang energi Terjadi kelemahan ↓ Intoleransi aktifitas
  23. 23. ansietas Adanya penyakit DS:-klien mengatakan stress ↓ pada penyakitnya Perubahan status kesehatan ↓ Klien DO:- gelisah -perubahan kurang informasi terpapar mental(bingung) tentang penyakitnya ↓ Kurang pengetahuan ↓ ansietas C.Diagnosa keperawatan 1.bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sputum ditandai dengan: DS: - klien mengatakan susah untuk bernafas DO:- Nampak sesak nafas
  24. 24. -batuk produktif dengan warna kuning kehijauan dan berbau amis 2.gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya abses paru yang ditandai dengan DS:- klien mengatakan nyeri pada dadanya DO:- Klien Nampak memegang dadanya saat nyeri -klien Nampak meringis 3.gangguan keseimbangan suhu tubuh berhubungan dengan proses inflamasi ditandai dengan: DS:- klien mengatakan merasa demam DO:- suhu tubuh meningkat 4.nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan: DS:- klien mengatakan nafsu makanya berkurang DO:- penurunan berat badan -Porsi makan tidak dihabiskan 5.intoleransi aktifitas berhubungan dengan dengan kelemahan ditandai dengan:
  25. 25. DS:- klien tidak mampu melaksanakan aktifitas sehari- hari karena merasa lemah -klien mengatakan kurang mampumelakukan perawatan diri karena badanya lemah DO:-klien Nampak lemah -klien Nampak kusam
  26. 26. D.Perencanaan Dx 1. Tujuan intervensi Tupan:setelah diberikan Rasional a.berikan petunjuk kepada a.dengan 7 hari klien untuk batuk efektif askep bersihan jalan batuk efektifdapat melancarkan bersihan jalan nafas alami nafas dapat efektif b.berikan minum hangat Tupan: setelah diberikan 2 hari c.kolaborasi medis dan dalam membaik antibiotic,ekspetoran dengan criteria: obat c.antibiotik dapat membunuh mikroorganismepenyakit -klien dapat bernafas d.beri o2 dengan nasal dan dengan baik -.putum berkurang dapat dddengan mengeluarkan secret berangsur- pemberian angsur cairan memobilisasi askep bersihan jalan tim nafas b. kanul sesuai resep ekspetoran mengencerkan dahak d.memberikan pernafasan bagi bantuan pasien agar bernafas dengan baik
  27. 27. 2 Tupan:setelah a.ajarkan tehnik distraksi a.tehnik distraksi dapat diberikan askep Pada klien menghilangkan perhatian nyeri dapat hilang pasien pada nyeri b.anjurkan Tupen: berkurang tehnik nyeri relaksasi dan nafas dalam dengan kriteria b tehnik relaksasi dan nafas dalam mengurangi c.atur posisi yang nyaman nyeri -klien tidak pada klien mengeluh nyeri c.posisi -wajah klien tenang d.kolaborasi nyaman dengan memberikan dapat rasa medis dalam pemberian kenyamanan pada klien obat analgesik d.analgesik dapat menekan pusat nyeri 3. Tupan:setelah diberikan a. berikan kompres mandi a.kompres mndi hangat askep hangat dapat suhu tubuh kembali normal membantu mengurangi demam b.kolaborasi dengan medis dalam pemberian b.antipiretikdapat Tupen: diberikan setelah obat anti piretik askep mengurangi demam
  28. 28. peningkatan suhu tubuhberangsurangsur dengan kriteria -klien tidak mengeluh demam -suhu tubuh 36-37C 4. Tupan:setelah a.pantau kebiasaan diit a.kebiasaan diberikan askep pasien pasiendapat kebutuhan nutrisi diit dalam dapat terpenuhi diberikan pelaksanaan intervensi b.berikan Tupen: membantu setelah berfariasi makanan dan sesuai b.makanan askep dengan kesukan klien bervariasi mengurangi rasa jenuh berangsur-angsur c.porsi sering membantu nutrisi meningkatkan terpenuhi dapat dengan c.berikan makanan porsi nutrisi,dan criteria kecil hangat dan menarik -nafsu makan baik tidak masukan porsi membuat kecil pasien bosan ,makanan menarik dapat menambah nafsu -porsi makan makan
  29. 29. dihabiskan 5 Tupan:setelah a.pantau sejauh diberikan askep kemampuan klien mana a.membantu dapat melakukan ADL beraktifitas klien pelaksanaan interfensi dengan b.imbangi baik dengan istirahat secara yang energy berangsur- melakukan ringan keluarga sehingga c.motifasi askep c.motivasi angsur dapat dapat mengurangi kelemahan setelah diberikan b.istirahat aktifitas mengurangi cukup Tupen: dalam klien menimbulkan untuk dorongan bagi klien untuk aktifitas dapat melaksanakan aktivitas ringan dapatmelakukan aktifitas sehari –hari d.libatkan keluarga dalam d.keluarga adalah orang dengan criteria pemberian bantuan ADL terdekat yang dapat
  30. 30. -klien dapat pada klien membantu klien dalam melakukan memebantu aktifitasnya kebutuhan ADL -klien tidak lemas -PH terpenuhi 6 Tupan:setelah a.bina hubungan saling a.hubungan saling percaya diberikan askep percaya antara pasien dan menurunkan aansietas dapat perawat kecemasan klien teratasi Tupen: setelah b.bantu diberikan pasien untuk b.mengungkapkan askep mengungkap ansietas berangsur- kecemasanya angsur perasaan berkurang sportif dengan kriteria c.berikan -klien tidak gelisah tentang secara mengurangi kecemasan c.penjelasan tentang penjelasan penyakit dan kesembuhan penyakitnya dapat -klien tidak bingung dengan kesembuhanya dan tidak stres dapat mengurangi kecemasan d.berikan pujian jika klien d.berikan pujian dapat dapat bekerja sama dalam memberikan motifasi dan
  31. 31. mengatasi masalahnya mengurangi menghilangkan kecemasan atau
  32. 32. BAB III PENUTUP A.kesimpulan Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material purulent berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses terinfeksi. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small abscesses) dinamakan “necrotising pneumonia”. Abses besar atau abses kecil mempunyai manifestasi klinik berbeda namun mempunyai predisposisi yang sama dan prinsip diferensial diagnosea sama pula. Abses timbul karena aspirasi benda terinfeksi, penurunan mekanisme pertahanan tubuh atau virulensi kuman yang tinggi.
  33. 33. Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi, epilepsi tak terkontrol, kerusakan paru sebelumnya dan penyalahgunaan alkohol. Pada negaranegara maju jarang dijumpai kecuali penderita dengan gangguan respons imun seperti penyalahgunaan obat, penyakit sistemik atau komplikasi dari paska obstruksi. Pada beberapa studi didapatkan bahwa kuman aerob maupupn anaerob dari koloni oropharing yang sering menjadi penyebab abses paru. B.saran Dalam penulisan askep ini masih kurang dari kesempurnaan karena kurangnya referensi yang kami dapatkan. Jadi, kritik dan saran yang sifatnya membangun khususnya dari dosen pembimbing maupun dari rekan-rekan pembaca sangat kami harapkan untuk kesempurnaan askep ini kedepannya.
  34. 34. DAFTAR PUSTAKA 1. Asher MI, Beadry PH ; 1990, Lung Abscess in infections of Respicatory tract ; Canada 2. Baughman, Diane C; 2000; Keperawatan Medikal-Bedah: Buku saku untuk Brunner & Sudarth; Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta 3. Capernito, Linda Juall; 1998; Diagnosa keperawatan: Aplikasi pada praktek klinis; Edisi ke-6 Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta 4. Doenges, Marilynn E; 1999; Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien; Edisi ke-3 Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta 5. Finegold SM, Fishman JA; 1998; Empyema and lung Abcess; in Fishman’s Pulmonary Diseases and Disorders 3rded; Philadelphia 6. Hammond JMJ et al; 1995, The Ethiology and Anti Microbial Susceptibility Patterns of Microorganism in acute Commuity – Acquired Lung Abscess ; Chest ;; 937 – 41. 7. Hood Alsagaff, Prof. dr; 2006; Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru; Airlangga University Press, Surabaya
  35. 35. 8. Kardjito, Thomas; 1994; Pedoman Diagnosis Therapi; Lab/UPF Ilmu Penyakit Paru RSUD dr. Sutomo, Surabaya 9. Sabiston; 1994; Buku ajar Bedah bag: 2; Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta 10. Sjahriar Rasad; 2005; Radiologi Diagnostik; Edisi ke-2; Balai penerbit FKUI, Jakarta 11. Smeltzer, Suzanne C; 2001; Buku ajar keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Sudarth; Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta
  36. 36. DAFTAR ISI KATAPENGANTAR.......................................................................................DAFTARISI.. .................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang........................................................................................ B. Tujuan.................................................................................................... C. Metode................................................................................................. BABII KONSEP PENYAKIT ABSES PARU A.Pengertian.................................................................................... B.Etiologi................................................................................................. C.ManifestasiKlinis.................................................................................... D.Patofisiologi............................................................................................. E.Komplikasi............................................................................................... F.PemeriksaanPenunjang...........................................................................
  37. 37. G.PenatalaksanaanMedis............................................................................ BAB III KONSEP ASKEP KLIEN DENGAN ABSES PARU A.Pengkajian............................................................................................ B.DiagnosaKeperawatan......................................................................... C.Intervensi................................................................................................. BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan......................................................................................... B.Saran....................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA

×