Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Makalah depresi (6)

116 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Makalah depresi (6)

  1. 1. Mata Kuliah : keperawatan Jiwa II Dosen : Haruddin S.kep. Ns ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN.A DENGAN KASUS DEPRESI O L E H Kelompok IV Susi herlina Futrah wahyuni Zaenal Mustafa Osri daya ningsih Citra novayanti fitriawaty SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MANDALA WALUYA KENDARI 2010
  2. 2. K A T A P E N G A N T A R Alhamdulillahi Rabbil Alamin . . . Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan Rahmat, Taufik dan hidayahnya sehingga makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. A DENGAN KASUS DEPRESI “ dapat diselesaikan dengan lancar. Penulis sangat menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kekeliruan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan Ucapan terima kasih tak lupa penulis sampaikan kepada pihak yang telah ikut berpartisipasi didalam penyelesaian makalah ini. Kendari, Juni 2010 Penulis
  3. 3. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………………………! DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………………………..!! BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………………………….1 A. LATAR BELAKANG…………………………………………………………………………………………………..1 B. RUMUSAN MASALAH…………………………………………………………………………………………….2 C. TUJUAN………………………………………………………………………………………………………..…………2 BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………………………………………….3 A. DEFINISI……………………………..…………………………………………………………………………….……3 B. FAKTOR PREDISPOSISI……………………………………………………………………………………………5 C. FAKTOR PRESIPITASI…….………………………………………………………………………………………..7 D. PERILAKU DAN MEKANISME KOPING………………………………………………………………..…..7 E. PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN DEPRESI……………………………..………………8 F. KRITERIA EPISODE DEPRESI BERAT……………………………………………………………………….8 G. KRITERIA UNTUK PENENTU KEPARAHAN DEPRESI BERAT SEKARANG…………………..10 H. TERAPI OBAT……………………………………………………………………….……………………………….11 I. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN ……………………………………………………..12 J. POHON MASALAH………………………………………………………………………………………………..21 BAB III PENGKAJIAN KASUS KEPERAWATAN JIWA DEPRESI PADA TN A ……………………22 A. IDENTITAS KLIEN……………………………………………………………………………………………………22 B. ALASAN MASUK……………………………………………………………………………………………………..22 C. FAKTOR PREDISPOSISI……………………………………………………………………………………………22 D. PEMERIKSAAN FISIK……………………………………………………………………………………………….23 E. PSIKOSOSIAL………………………………………………………………………………………………………….23 F. STATUS MENTAL……………………………………………………………………………………………………24 G. KEBUTUHAN PERENCANAAN PULANG……………………………………………………………………27 H. MEKANISME KOPING……………………………………………………………………………………………..29 I. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN……………………………………………………………30 J. PENGETAHUAN………………………………………………………………………………………………………30 K. ASPEK MEDIK…………………………………………………………………………………………………………30 L. DAFTAR MASALAH KESEHATAN……………………………………………………………………………..30 M. POHON MASALAH…………………………………………………………………………………………………31 N. DAFTAR DIAGNOSAKEPERAWATAN……………………………………………………………………...31
  4. 4. O. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN………………………………………………………………….32 BAB IV P E N U T U P A. KESIMPULAN………………………………………………………………………………………………………….37 B. SARAN……………………………………………………………………………………………………………………38 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………39
  5. 5. B A B I P E N D A H U L U A N A. Latar belakang Alam perasaan merujuk pada perpanjangan keadaan emosional yang mempengaruhi seluruh kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang . Alam perasaan ini meliputi perlakuan dan penyerapan emosi seseorang dan mempunyai arti yang sama dengan afek, keadaan perasaan dan emosi. Emosi atau alam perasaan memberikan suatu peran adaptif terhadap individu. Terdapat dua pola gejala dasar pada gangguan mood yaitu depresi dan mania. Jika memandang ekspresi emosi dalam suatu rentang sehat sakit, maka akan timbul beberapa parameter yang relevan: 1. Respon emosional termasuk dipengaruhi oleh dan berperan aktif dalam dunia internal dan eksternal seseorang. Tersirat bahwa orang tersebut terbuka dan sadar akan perasaannya sendiri. 2. Reaksi berduka tak terkomplikasi terjadi sebagai respon terhadap kehilangan dan tersirat bahwa seseorang sedang menghadapi suatu kehilangan yang nyata serta terbenam dalam proses berduka 3. Supresi emosi mungkin tampak sebagai penyangkalan (denial) terhadap perasaan sendiri, pelepasan dari keterikatan dengan emosi, atau penalaran terhadap semua aspek dari dunia afektif seseorang. 4. Penundaan reaksi berkabung adalah ketidakadaan yang persisten respon emosional terhadap kehilangan. Ini dapat terjadi pada awal proses berkabung, dan menjadi nyata pada kemunduran proses, mulai terjadi atau keduanya. Pendundaan dan penolakan proses berduka kadang terjadi bertahun-tahun 5. Depresi, atau malankolia, suatu kesedihan atau perasaan duka yang berkepanjangan. Dapat digunakan untuk menunjukan berbagai fenomena--- tanda , gejala, sindrom, keadaan emosional, reaksi, penyakit atau klinik 6. Mania ditandai dengan elevasi alam perasaan, berkepanjangan atau mudah tersinggung.
  6. 6. B. Rumusan masalah 1. Apa yang di maksud dengan depresi? 2. Factor – factor predisposisi terjadinya depresi ? 3. Factor – factor presipitasi terjadinya depresi ? 4. Bagaimana perilaku dan mekanisme koping depresi? 5. Perilaku apa yang berhubungan dengan depresi 6. Bagaimana criteria episode berat depresi ? 7. Bagaimana criteria untuk penentu keparahan episode depresi berat sekarang? 8. Bagaiaman terapi obat untuk depresi ? 9. Bagaimana diagnose dan intervensi depresi ? 10. Bagaimana pengkajian keperawatan kesehatan jiwa pada Tn. A dengan kasus depresi? 11. Bagaimana diagnose dan intervensi gangguan jiwa pada Tn A dengan kasus depresi ? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui depresi 2. Untuk mengetahui Factor – factor predisposisi terjadinya depresi 3. Untuk mengetahui Factor – factor presipitasi terjadinya depresi 4. Untuk mengetahui perilaku dan mekanisme koping depresi 5. Untuk mengetahui Perilaku yang berhubungan dengan depresi 6. Untuk mengetahui criteria episode berat depresi 7. Untuk mengetahui criteria untuk penentu keparahan episode depresi berat sekarang 8. Untuk mengetahui terapi obat untuk depresi 9. Untuk mengetahui diagnose dan intervensi depresi 10. Untuk mengetahuipengkajian keperawatan kesehatan jiwa pada Tn. A dengan kasus depresi 11. Untuk mengetahui diagnose dan intervensi gangguan jiwa pada Tn A dengan kasus depresi
  7. 7. D E P R E S I A. Definisi Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa -dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia,konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun. Depresi merupakan gangguan alam perasaan yang berat dan dimanifestasikan dengan gangguan fungsi social dan fungsi fisik yang hebat, lama dan menetap pada individu yang bersangkutan. Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya. Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedahan, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras. Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. Gangguan Depresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur. Depresi merupakan salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri.
  8. 8. Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih dan berduka yang berlebihan dan berkepanjangan B. Kepekaan Reaksi berduka supresi Penundaan Depresi/Emosional Takterkomplikasi emosi reaksi berduka mania Diperkirakan 2/3 pasien terdepresi merenungkan bunuh diri, 10-15 % melakukan bunuh diri. Tetapi pasien terdepresi kadang-kadang tampak tidak menyadari depresinya dan tidak mengeluh suatu gangguan mood, walaupun mereka menunjukan penarikan diri dari keluarga, teman, dan aktifitas sebelumnya menarik diri mereka. 97 % mengeluh penurunan energi yang menyebabkan kesulitan dalam menyelesaikan tugas, sekolah dan pekerjaan dan penurunan motifasi. 80 % mengeluh susah tidur, khususnya terbanguna pada dini hari (insomia terminal) dan sering terbangun pada malam hari . Pada kenyataannya kecemasan merupakan gejala yang sering pada depresi (90 % ). Kecemasan termasuk serangan panik, penyalahgunaan alcohol, dan keluhan somatic (konstipasi, dan nyeri kepala) sering kali mempersulit pengobatan depresi. Gejala kognetif adalah laporan subyektif yang berupa ketidak mampuan berkosentrasi (84 %), dan gangguan dalam berfikir (67 %) C. Faktor Predisposisi Beberapa teori telah diajukan untuk menjelaskan gangguan alam perasaan yang parah. Teori ini menunjukan tentang factor-faktor penyebab yang mungkin bekerja sendiri atau dalam kombinas a) Teori biologis 1. Faktor Genetik mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan. Frekwensi gangguan alam perasaan meningkat pada kembar monizigot di dizigot.
  9. 9. Dari sejumlah penyelidikan yang telah dilakukan ditemukan bahwa terdapat dukungan keterlibatan herediter dalam penyakit depresi.luasnya akibat pada pokoknya tampakakan menjadi lebih tinggi diantara individu – individu yang memiliki hubungan keluarga dalam kelainan tersebut daripada di antara populasi umum (DSM – III-R, 1987 ) 2. Biokimia. Ketidakseimbangn elektrolit tampak memainkan peranan dalam penyakit depresif. Suatu kesalahan hasil metabolism dalam perubahan natrium dn kalium di dalam neuron ( Gibbons, 1960 ) Teori biokimia yang lainnya menyangkut biogenic amin neropinefrin, dopamine dan serotonin. Tingkatan zat – zat kimia ini mengalami defisiensi dalam individu dengan penyakit depresif ( Janowsky et al, 1998 ) b) Teori psikososial 1. Psikoanalisa. Teori ini melibatkan suatu ketidakpuasan dalam hubungan awal ibu bayi sebagai suatu predisposisi untukpenyakit depresif. Kebutuhan bayi tidak terpenuhi, suatu kondi yang digambarkan sebagai suatu kehilangan. Respon berduka belum terpecahkan, kemarahan dan permusuhan ditunjukan pada diri sendiri. Ego tetaplemah, sementara superego meluas dan menjadi menghukum. 2. Teori agresi berbalik pada diri sendiri mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri. Frued mengatakan bahwa kehilangan obyek/orang, ambivalen antara perasaan benci dan cinta dapat terbalik menjadi perasaan yang menyalahkan diri sendiri 3. Teori kehilangan, Berhubungan dengan factor perkembangan , misalanya kehilangan orang tua pada masa anak, perpisahan yang bersifat traumatis dengan orang yang sangat dicintai. Individu tidak berdaya mengatasi kehilangan. 3. Teori kepribadian, mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu menyebabkan seseorang mengalami depresi atau mania. 4. Model kognitif menyatakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh penilaian negative seseorang terhadap diri sendiri lingkungan dan masa depan. 5. Model belajar ketidakberdayaan mengemukakan bahwa depresi dimulai dari kehilangan kendali diri, lalu menjadi pasif dan tidak mampu menghadapi masalah . Kemudian
  10. 10. individu timbul keyakinan akan ketidak mampuannya mengendalikan kehidupan sehingga ia tidak berupaya mengembangan respon yang adaptif 6. Model perilaku mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya pujian (reinforcement) positif selama berinteraksi dengan lingkungan D. Faktor presipetasi 1. Stres yang dapat menimbulkan gangguan alam perasaan meliputi factor, biologis, psikologis, sosiala budaya 2. Faktor biologis meliputi perubahan fisiologis yang disebabkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi,neoplasma , dan ketidakseimbangan metabolisme. 3. Faktor psikologis meliputi kehilangan kasih sayang, termasuk kehilangan cinta seseorang, dan kehilangan harga diri. 4. Faktor sosial budaya kehilangan peran, perceraiam, kehilangan pekerjaan. E. Perilaku dan mekanisme koping Perilaku yang berhubungan dengan depresi bervariasi. Pada keadaan depresi kesedihan dan kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi agitasi Depresi yaitu perasaan berduka yang belum terselesaikan , mekanisme koping yang digunakan adalah represi, supresi, denael dan disosiasi. Tingkah laku mania merupakan mekanisme pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan dari kurang efektifnya koping dalam menghadapi kehilangan. F. Perilaku yang berhubungan dengan depresi 1. Afektif : Sedih, cemas, apatis, murung, kebencian, kekesalan, marah, persaan ditolak, perasaan bersalah, merasa tak berdaya, putus asa , merasa sendirian, rendah diri, merasa tidak berharga. 2. Kognitif : Abivalensi, bingung, ragu-ragu, tidak mampu kosentrasi, hilang perhatian dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, pikiran merusak diri, rasa tidak menentu, pesimis,
  11. 11. 3. Fisik : Sakit perut anoreksia, mual, muntah, gangguan pencernaan, konstipasi, lemah, lesu, nyeri kepala, pusing, insomnia, nyeri dada, over acting, perubahan berat badan, gangguan selera makan, , gangguan menstruasi, impoten, tidak berrespon terhadap seksual. 4. Tingkah laku : Agresif, agitasi, tidak toleran, gangguan tingkat aktifitas, kemunduran psikomotor, menarik diri, isolasi sosial, iritebel (mudah marah, nangis, tersinggung), berkesan menyedihkan, kurang sopan, gangguan kebersihan. G. Kriteria episode Depresi Berat a) Lima atau lebih gejala berikut telah ditemukan selama periode dua minggu yang sama dan mewakili perubahan dari fungsi sebelumnya ; sekurangnya satu dari gejala yaitu mood terdepresi atau hilangnya minat atau kesenangan. 1. Mood terdepresi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, seperti yang ditunjukan oleh laporan subyektif (misalnya merasa sedih atau kosong) atau pengamatan yang dilakukan orang lain (tampak sedih). Catatan pada anak-anak dan remaja dapat berupa mood yang mudah tersinggung. 2. Hilangnya minat atau kesenangan secara jelas dalam semua, atau hampir semua, aktifitas sepanjang hari, hamper setiap hari (seperti yang ditunjukan keterangan subyektif atau pengamatan yang dilakukan oleh orang lain). 3. Penurunan berat makan yang bermakna jika tidak melakukan diet atau penambahan berat badan (misalnya perubahan berat badan lebih dari 5 % dalam satu bulan), atau penurunan atau peningkatan nafsu makan hampir setiap hari. Catatan pada anak-anak, pertimbangan kegagalan untuk mencapai pertambahan berat badan yang diharapkan. 4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari. 5. Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (dapat dilihat oleh orang lain, tidak semata-mata perasaan subyektif adanya kegelisahan atau menjadi lamban).
  12. 12. 6. Kelelahan atau hilangnya energi hampir setiap hari 7. Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan atau tidak tepat (mungkin bersifat waham) hampir setiap hari (tidak semata-mata mecela diri sendiri atau menyalahkan karena sakit) 8. Hilangnya kemampuan untuk berfikir atau memusatkan perhatian , atau tidak dapat mengambil keputusan , hampir setiap hari (baik oleh keterangan subyektif atau seperti yang dilihat oleh orang lain). 9. Pikiran akan kematian yang rekuren (bukan hanya takut mati), ide bunuh diri yang rekuren tanpa rencana spesifik,atau usaha bunuh diri atau rencana khsus untuk melakukan bunuh diri. b) Gejala tidak memenuhi criteria untuk episode campuran c) Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam funsgi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. d) Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan , suatu medikasi)atau suatu kondisi medis umum (hipoterodisme) e) Gejala tidak lebih baik diterangkan oleh duka cita , yaitu setelah kehilangan orang yang dicintai , gejala menetap lebih dari 2 bulan atau ditandai oleh gangguan fungsional yang jelas , berokupasi morbid dengan rasa tidak berharga, ide bunuh diri, gejala psikotik, atau retardasi psikomotor. H. Kriteria untuk penentu Keparahan Episode Depresi Berat Sekarang (atau paling akhir) 1. Ringan : jika ada gejala yang melebihi dari yang diperlukan untuk membuat diagnosis dan gejala menyebabkan hanya gangguan ringan dalam fungsi pekerjaan atau dalam aktifitas sosial yang biasanya hubungan dengan orang lain 2. Sedang : Gejala atau gangguan fungsional berada di antara ringan dan parah
  13. 13. 3. Parah tanpa ciri psikotik : beberapa gejala adalah melebihi yang diperlukan untuk membuat diagnosis, dan gejala dengan jelas menggunggu fungsi pekerjaan atau aktifitas sosisal yang biasanya atau hubungan dengan orang lain. Dengan ciri psikotik : waham atau halusinasi, jika mungkin , sejalan dengan mood atau tidak sejalan dengan mood Ciri psikotik sejalan dengan mood : waham atau halusinasi yang isi keseluruhannya adalah konsisten dengan tema depresif tipikal tentang ketidakberdayaan pribadi, rasa bersalah, penyakit, kematian, nihilisme, atau hukuman yang layak diterima. Ciri psikotik yang tidak sejalan dengan mood : waham atau halusinasi yang isinya tidak memiliki tema depresif tipikal tentang ketidakberdaayn pribadi, rasa bersalah, penyakit , nihilisme, atau hukuman yang layak diterima. (tidak secara langsung berhubungan dengan tema depresif, sisip pikir , siar pikir, dan waham yang dikendalikan I. TERAPI OBAT a) Antidepresan Kelompok – kelompok yang umum digunakan : KELAS KIMIA NAMA GENERIK ( DAGANG ) DOSIS HARIAN Unisiklik Bupropion (wellbutrin) 200 – 450 mg Trisiklik Amitrilitin ( elavil ) Amoksapin (asendin ) Klomipramin ( anafranil ) 75 – 300 mg 100 – 600 mg 75 – 150 mg
  14. 14. Desipramin ( norpramin ) Doksepin Imipramin ( tafranil ) Nortritilin Proptritilin Trimipramin (surmontil ) 75 – 300 mg 30 – 300 mg 75 – 300 mg 75 – 150 mg 15 -160mg 75 – 300 mg Tetrasiklik Mapratilin ( ludiomil ) 75 – 225 mg Penghambat monoamine Oksidase Fenelzin ( nardil ) Isakarboksazid (marplan) Tranilkipromin ( parnate ) 45 – 90 mg 10 – 30 mg 10 – 60 mg Penghambat ambilan ulang serotonin Fluoksetin ( procaz ) Sertralin ( Zoloft ) Paroksetin ( paxil) 20 – 80 mg 50 – 200 mg 20 – 50 mg Lainnya Trazodon ( desyrel ) 150 – 600 mg Efek samping dan implikasi keperawatn : 1. Efek – efek antikolinergik 2. Sedasi 3. Hipotensi ortostatik 4. Reduksi ambang kejang 5. Takikardi 6. Fotosensitivitas 7. Krisis hipertensi 8. Priapisme 9. Penurunan berat badan
  15. 15. b) Terapi elektokonvulsif ( ECT ) J. DIGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN a) Resiko tinggi terhadap kekerasan yang diarahkan pada diri b/d alam perasan tertekan, perasaan bahwa dirinya tidak berharga, keputusaan, kemarahan yang ditujukan ke dalam dirinya, perasaan yang ditinggalkan oleh orang yang berkana, halusinasi  Tujuan :  Pasien akan mencari staf saat rasa dorongan unruk membahayakan diri sendiri  Pasien tidak membahayakan dirinya sendiri selama berada di rumah sakit  Kritera hasil :  Pasien mengatakan secara verbal tidak adanya pikiran – pikiran bunuh diri  Pasien berjanji tidak ada tindakan – tindakan merusak diri  Pasien mampu mrnyatakan secara verbal nama – nam sumber di luar rumah sakit yang darinya ia dapat meminta pertolongan jika perasaan ingin biunuh diri terjadi  Intervensi :  Tanyakan pada pasien secara langsung: pernakah anda berpikir untuk membunuh diri anda sendiri ? jika iya, apa uyang anda rencanakan? R/ resiko bunuh diri akan sangat meningkat jika pasien telah mengembangkan suatu perencanaan dan khususnya jika ada cara – cara dari pasien untuk melaksanakan perencaan tersebut  Ciptakan lingkungan yang aman unruk pasien. Singkirkan benda – benda yang memiliki potensi untuk membahayakan R/ keamanan pasien merupakan prioritas keperawatan  Rumuskan suatu kontrak verbal jangka pendek dengan pasien bahwa ia tidaka akan membahayakan dirinya sendiri selama periode waktu yang spesifik  Jaminn janji pasien bahwa ia akan cari staf jika pikiran bunuh diri muncul R/ pasien – pasien bunuh diri seringkali ambivalen tentang ;perasaan mereka. Mendiskusikan perasaan dengan individu yang dipercayai dapat memberikan bantuan sebelum pasien mengalami suatu situasi krisis  Dorong pasien untuk mengekspresikan rasa maranhya dalam batasan yang sesuai
  16. 16. R/ perilaku depresi dan bunuh diri dapat digambarkan sebagai kemarahan yang ditujukan kepada diri sendiri. Jika kemerahan ini dapat dinyatakan secara verbal dalamsuatu lingkungan yang tidak mengancam, pasien akan mampu untuk menyesuaikan perasaan in, tanpa menghiraukan ketidaknyamanan yang ada  Identifikasi sumber – sumber di masayarakat yang dapat digunakan oleh pasien sebagai sistem pendukung dan yang darinya dapat memnta pertolongan jika mengalami kembali perasaan ingin bunuh diri R/ dengan memiliki perencanaan yang nayata untuk mencari bantuan selama krisis dapat mengurangi untuk mencegah perilaku untuk merusak diri  Paling penting, meluangkan waktu bersama dengan pasien R/ hal ini memberikan suatu perasaan aman dan nyaman b) Berduka disfungsional b/d kehilangan yang nyata atu dirasakan dari beberapa konsep nilai untuk individu, kehilangan yang terlalu berat, perasaan bersalah yang disebabkan oleh hubungan ambivalen dengan konsep kehilangan  Tujuan  Pasien akan mengekspresikan kemarahan terhadap konsepkehilangan dalam 1 minggu  Pasien akan mampu secara verbal perilaku – perilaku yang berhubungan dengan tahap – tahap berduka yang normal  Criteria hasil  Pasien mampu untuk menyatakan secara verbal tahap- tahap proses berduka yang normal dan perilaku yang berhubungan dengan tiap – tiap tahap  Pasien mampu menidentifikasi posisinya sendiri dalam proses berduka dan mengekspresikan perasaannya yang berhubungan dengan konsepkehilangan secara jujur  Pasien tidak terlalu lama mengekspresikan emosi dan perilaku yang berlebihan yang berhubungan dengan disfungsi berduka dan mampu melaksanakan aktivitas hidup sehari – hari secara mandiri  Intervensi:  Tentukan pada tahap berduka mana pasien terfiksasi.
  17. 17. R/ pengkajian data dasar yang akurat adalah penting unutk perencanaan keperawatan yang efektif bagi pasien yang berduka  Kembangkan hubungan saling percaya dengan pasien R/ rasa percaya merupakan dasar untuk suatu hubungan yang terapeutik  Perlihatkan sikap saling menerima dan membolehkan pasien untuk mengekspresikan perasaannya secara terbuka R/ sikap menerima menunjukan kepada pasien yakin bahwa ia merupakan seorang pribadi yang bermakna.rasa percaya meningkat  Dorong pasien untuk mengekspresikan rasa marah R/ pengungkapan secar verbal perasaan dalamsuatu lingkungan yang tidak mengancam dapat membantu pasien sampai kepada hubungan dengan persoalan – persoalan yang belum terpecahkan  Bantu pasien untuk mengeluarkan rasa marah yang terpendam melalui berpartisipasi dalam aktivitas motorik besar ( berjalan cepat, jogging, memukul karung pasir, sepeda latihan) R/ latihan fisik memberikan suatu metode yang aman dan efektif untukmengeluarkan kemarahan yang terpendam  Ajarkan tahap – tahap berduka yang normal dan perilaku yang berhubungan dengan setiap tahap R/ pengetahuan tentangi perasaan – perasaan yang wajar yang berhubungan dengan berduka yang normal dapat menolong mengurangi beberapa perasaan bersalah menyebabkan timbilya respon – respon ini  Dorong pasien untuk meninjau hubungan dengan konsep kehilangan. R/ pasien harus menghentikan ;persepsi idealisnya dan mampu menerima baik aspek positif maupun negative dari konsep kehilangan sebelum proses berduka selesai seluruhnya  Komunikasikan pada pasien bahwa menangis merupakan hal yang dapat diterima  Bantu pasien dalam pemecahan masalahnya sebagai usaha untukmenentukan metode – metode koping yang lebih adaptif terhadap pengalaman kehilangan R/ umpan balik positif meningkatkan harga diri dan mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan.
  18. 18. c) Gangguan harga diri b/d kurangnya umpan balik positif,perasaan ditolak oleh orang terdekat, sejumlah kegagalan  Tujuan  Pasien mendiskusikan rasa takut gagalnya kepada perawat dalam 3 hari  Pasien menyatakan secara verbal hal – hal yang disukai dari dirinya dalam 5 hari  Pasien memperlihatkan peningkatan harga diri yang dibuktikan dengan mengekspresikan secara verbalaspek – aspek positif dirinya  Criteria hasil  Pasien mampu menyatakan secara verbal aspek aspek positif dirinya  Pasien mampu berkomunikasi secara asertif dengan orang lain  Pasien mengekspresikan beberapa optimism dan harapan untuk masa depan  Pasien menata tujuan – tujuan yang realities untuk dirinya dan mendemonstrasikan keinginan untuk pencapaiannya  Intervensi :  Bersikap menerima pasien dan negativisnya R/ sikap menerima meningkatkan perasaan makna diri  Luangkan waktu bersama pasien R/ untuk memperlihatkan penerimaan dan menambah harga diri  Bantu pasien untuk mengakui dan berfokus pada kekuatan dan pencapaiannya R/ kurangnya perhatian dapat menolong untuk melenyapkan perenungan yang negative  Dorong untuk berpartisipasi dalam aktivitas – aktivitas kelompok R/ pasien dapat menerima umpan balik positif dan dukungan dari teman sebaya  Bantu pasien mengidentifikasi bagian – bagian diri yang ingin diubahnya dan bantu dengan pemecahan masalah terhadap usaha ini R/ harga diri yang rendah dapat mengganggu persepsi pasien tentang kemampuannya menyelesaikan masalah  Pastikan bahwa pasien tidak menjadi semakin tergantung dan bahwa ia menerima tanggung jawab untuk perilakunya sendiri R/ pasien harus mampu untuk berfungsi secara mandiri jiki ingin menjadi berhasil dalam lingkungan masyarakat yang kurang terstruktur
  19. 19.  Ajarkan teknik – teknik asertif R/ harga diri ditingkatkan melalui kemampuan berinteraksi dengan orang lain dalam suatu cara yang asertif  Bantu pasien untuk melakukan aspek – aspek perawatan diri saat dibutuhkan R/ umpan balik positif meningkatkan harga diri dan mendorong pengulangan perilaku yang diharapakan d) Isolasi social b/d regresi perkembangan, perilaku- perilaku egoisentris, kerusakan proses piker, waham, takut akan penolakan atau kegagalan dalam berinteraksi, proses berduka yang belum terselesaikan, tidak adanya orang yang bermakana bagi klien atau teman sebaya.  Tujuan  Pasien akan mengembangkan hubungan saling percaya dengan staf dalam 5 hari  Pasien akan dengan suka rela meluangkan waktu bersama dengan pasien – pasien lain dan staf dalam aktivitas kelompok d bangsal  Pasien menahan diri dari menggunakan perilaku egosentris yang menyinggung orang lain dan tidak mendukung suatu hubungan  Criteria hasil  Pasien mendemonstrasikan keinginan dan hasrat untuk bersosialisasi dengan orang lain  Pasien secara sukarela menghadiri aktivitas kelompok  Pasien mendekati orang lain dengan cara yang tepat untuk interaksi satu per satu  Intervensi :  Luangkan waktu dengan pasien R/ kehadiran anda dapat menolong meningkatkan persepsi dari pasien sebagai seorang pribadi yang berharga  Kembangkan hubungan perawat pasien yang terapeutik melalui kontak yang sering, singkat dan sikap menerima R/ kehadiran, penerimaan dan penyampaian penghargaan positif  Setelah pasien merasa nyaman dalam suatu hubungan satu per satu dorong untuk hadir dalam aktivitas – aktivitas kelompok
  20. 20. R/ kehadiran individu yang dipercayai memberikan rasa aman secara emosianal untuk pasien  Secara verbal akui ketidakhadiran pasien dari beberapa aktivitas – aktivitas kelompok R/ mengetahui bahwa ketidakhadirannya diperhatikan dapat menguatkan perasaan harga diri pasien  Ajarkan teknik asertif R/ pengetahuan tentang penggunaan teknik – teknik asertif dapat meningkatkan hubungan pasien dengan orang lain  Berikan penguatan positif untuk pasien yang secara sukarela berinteraksi denagn orang lain R/ penguatan positif meningkatkan harga diri dan mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan e) Perubahan proses piker b/d menarik diri, ego yang belum berkembang, kelainan kognitif  Tujuan  Paisen mengakui dan menyatakan secara verbal saat interpretasi terhadap lingkungan tidak akurat dalam 1minggu  Pasien tidaka akan mengalami delusi atau distrofi pikiran  Criteria hasil  Proses berpikir pasien merefleksikan interprets lingkungan yang akurat  Pasien mampu mengakui pikiran- pikiran yang negative atau irasional  Intervensi :  Perlihatkan penerimaan terhadap kebutuhan pasien untuk keyakinan yang salah R/ suatu respon positif akan memperlihatkan kepada pasien bahwa anda menerima delusi sebagai realita  Jangan mendebat atau menyangkali keyakinan tersebut R/ berdebat dengan pasien atau menyangkali keyakinan tersebut memberikan tujuan yang tidak berguna, ide – ide delusi tidak dapat dilenyapkan dengan pendekatan ini, dan perkembahan hubungan saling percaya dapat terganggu  Gunakan teknik – teknik validasi konsensual dan meminta klarifikasi saat komunikasi menggambarkan perubahan dalam berpikir
  21. 21. R/ teknik – teknik ini menyatakan kepada pasien betapa ia diterima oleh orang lain, sementara tanggung jawab untuk tidak memahami diterima oleh pasien  Berikan penguatan positif kapada pasien karena mampu memisahkan antara pikiran beradasarkan realita dan yang tidak realita R/ penguatan positif meningkatkan harga diri dan mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan  Ajarkan pasien untuk menghalangu menggunakan teknik berhenti berpikir, saat pikiran melibatkan penggunaan kata perintah R/ kebisingan atau perintah mengalihkan individu dari berpikir yang tidak diinginkan yang seringkali mendahului emosi atau perilaku yang tidak diharapkan.  Gunakan sentuhan secara hati –hati ,khusunya jika pikiran – pikirannya menyatakan ide – ide panganiayaan R/ pasien yang curiga dapat menerima sentuhan sebagai ancaman dan dapat berespon menyerang f) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d perasaan depresi, kurangnya nafsu makan  Tujuan  Pasien akan mencapai pertambahan berate badan sebanayak 0,9 kg setiap minggu dalam 3 minggu  Pasien tidak akan memperlihatkan tanda atau gejala malnutrisi  Kriteri hasil  Pasien memperlihatkan pencapaian berat badan yang perlahan, kemajuan selama dirawat di rumah sakit  TTV dan hasil laboratorium serum berada dalam batas normal  Pasien mampu menyatakan secara verbal pentingnya nutrisi dan masukan cairan yang adekuat  Intervensi :  Pastikan bahwa dietnya meliputi makanan yang mengandung tinggi serta untuk mencegah konstipasi
  22. 22. R/ pasien – pasien depresi ,khususnys mudah untuk mengalami konstipasi sehubungan retardasi psikomotori. Konstipasi juga merupakan efek samping yang umum unruk banyak obat – obatan antidepresan  Buat dokumentasi yang ketat tentang masukan, haluaran dan jumlah kalori R/ informasi ini penting untuk membuat suatu pengkajian nutrisi yang akurat dan mempertahankan keamanan pasien  Timbang berat badan pasien setiap hari R/ penurunan atau penambahan berat badan meruapakn informasi pengkajian yang paling penting  Tentukan makanan yang disukai dan makanan yang tidak disukai oleh pasien dan kolaborasi denagn ahli diet untuk menyediakan makanan kesukaan pasien R/ pasien akan lebih suka makan makanan yang khusus disukainya  Temani pasien selama makan R/ untuk membantu sesuai kebutuhan dan untuk memberikan dukungan dan dorongan  Pantau hasil laboratorium dan laporka perubahan yang bermakna kepada dokter R/ hasil laboratorium memberikan data objektif berkenan dengan status nutrisi  Jelaskan pentingnya nutrisi dan masukan cairan yang adekuat R/ pasien mungkin tidak memiliki pengetahuan yang adekuat dan akurat dengan peran nutrisi yang baik untuk kesehatan secara menyeluruh g) Gangguan pola tidur b/d alam perasaan tertekan, ketakutan yang direpresi, perasaan putus asa, rasa takut gagal, ansietas, halusinasi, pikiran delusi  Tujuan  Pasien dapat tidur 30 menit, dan mendapatkan 6 – 8 jam tidur yang nyenyak setiapmalam tanpa obat tidur  Kriteria hasil  Pasien tidur 6- 8 jam setiap malam tanpa obat tidur  Pasien mampu tidur dalam 30 menit  Intervensi :
  23. 23.  Catat secara ketat pola tidur pasien R/ data dasar yang akurat adalah penting dalam merencanakan perawatan untuk membantu pasien dengan masalah ini  Mengurangi tidur seharian R/ untuk mendukung tidur yang lebih tenang pada malam hari  Batasi masukan minuman yang mengandung kafein seperti the, kopi, dan sejenis coca cola R/ kafein merupakan stimulant SSP yang dapat mempengaruhi kemampuan pasien untuk istirahat dan tidur  Berikan obat penenang sesuai anjuran dokter R/ untuk membantu pasien dapat tidur sampai pola tidur yang normal pulih kembali K. POHON MASALAH RESIKO TINGGI BUNUH DIRI PERUBAHAN PROSES PKIR ISOLASI SOSIAL GANGGUAN HARGA DIRI NUTRISI < KEB BERDUKA DISFUNGSIONAL G3 POLA TIDUR
  24. 24. B A B IV P E N U T U P A. Kesimpulan Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa -dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia,konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun  Faktor Predisposisi c) Teori biologis 7. Faktor Genetik 8. Biokimia. d) Teori psikososial 4. Psikoanalisa.. 5. Teori agresi 6. Teori kehilangan, 7. Teori kepribadian 8. Model kognitif 9. Model belajar ketidakberdayaan 10. Model perilaku  Faktor presipetasi 5. Stres yang dapat menimbulkan gangguan alam perasaan meliputi factor, biologis, psikologis, sosiala budaya 6. Faktor biologis meliputi perubahan fisiologis yang disebabkan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik seperti infeksi,neoplasma , dan ketidakseimbangan metabolisme. 7. Faktor psikologis meliputi kehilangan kasih sayang, termasuk kehilangan cinta seseorang, dan kehilangan harga diri. 8. Faktor sosial budaya kehilangan peran, perceraiam, kehilangan pekerjaan.  Perilaku yang berhubungan dengan depresi 5. Afektif. 6. Kognitif
  25. 25. 7. Fisik 8. Tingkah laku  TERAPI OBAT c) Antidepresan d) ECT  DIGNOSA h) Resiko tinggi terhadap kekerasan yang diarahkan pada diri b/d alam perasan tertekan, perasaan bahwa dirinya tidak berharga, keputusaan, kemarahan yang ditujukan ke dalam dirinya, perasaan yang ditinggalkan oleh orang yang berkana, halusinasi i) Berduka disfungsional b/d kehilangan yang nyata atu dirasakan dari beberapa konsep nilai untuk individu, kehilangan yang terlalu berat, perasaan bersalah yang disebabkan oleh hubungan ambivalen dengan konsep kehilangan j) Gangguan harga diri b/d kurangnya umpan balik positif,perasaan ditolak oleh orang terdekat, sejumlah kegagalan k) Isolasi social b/d regresi perkembangan, perilaku- perilaku egoisentris, kerusakan proses piker, waham, takut akan penolakan atau kegagalan dalam berinteraksi, proses berduka yang belum terselesaikan, tidak adanya orang yang bermakana bagi klien atau teman sebaya. l) Perubahan proses piker b/d menarik diri, ego yang belum berkembang, kelainan kognitif m) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d perasaan depresi, kurangnya nafsu makan n) Gangguan pola tidur b/d alam perasaan tertekan, ketakutan yang direpresi, perasaan putus asa, rasa takut gagal, ansietas, halusinasi, pikiran delusi B. Saran Di harapkan kepada semua pembaca khususnya bagi perawat tyang professional agar dapat memahami tentang depresi baik definisi, factor predisposisi, factor presipitasi, terapi sampai pada diagnose yang mungkin terjadi dan intervensi yang akan dilakukan.
  26. 26. D A R T A R P U S T A K A Annisaacs. Panduan Belajar keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatrik.edisi 3. EGC.Jakarta. 2005 Iyus yosep S.Kep. M.Si. keperawatan jiwa.rafika aditama. Bandung. 2009. IM, Ingram. Catatan Kuliah Psikiatri. Edisi 6. Buku kedokteran. EGC. Jakarta. 1995 Mary C Townsend. Diagnose Keperawatan Pada Keperatan psikiatri. Buku kedokteran. EGC. Jakarta. 1998. Mary E Muscari. PB Keperawatan pediatric edisi 3. EGC. Jakarta. 2005. Niven, Neil. Psikologi Kesehatan pengantar Untuk Keperawatan Dan Profesional Kesehatan Lain. Buku Kedokteran. EGC. Jakarta.2002

×