Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

2 2-1-pb

1,196 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

2 2-1-pb

  1. 1. STUDI PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP ROTI TAWAR LABU KUNING(Cucurbitamoschata)Juanda1, Cut Erika1, dan Hanum Vine Meilliza21) Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah KualaDarussalam, Banda Aceh2) Alumni Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas SyiahKuala Darussalam, Banda AcehEmail: juanda@unsyiah.ac.idABSTRAKLabu kuning (Cucurbitamoschata) merupakan sayuran buah yang cocok dikembangkansebagai biofortifikasi karena banyak mengandung β-karoten yang sangat bermanfaat bagikesehatan.Saat ini, roti labu kuning belum terlihat dijual di pasaran.Hal ini diduga karenabelum adanya pengetahuan yang memadai tentang tingkat kesukaan konsumen terhadaproti labu kuning.Studi tentang preferensi konsumen terhadap roti labu kuning dilakukan untukmemperkenalkan dan mengembangkan produk ini kepada masyarakat.Responden dipilihsecara acak untuk diberikan sampel roti labu kuning dan mengisi kuesioner secara tertutupdengan mengisikan nilai skala hedonik terhadap atribut mutu organoleptik roti labu kuning.Analisis data mengunakan regresi linier berganda dengan preferensi konsumen terhadap rotilabu kuning sebagai variabel terikat dan variabel bebas terdiri atas: usia, jenis kelamin,tingkat pendidikan, dan besar pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan tidak adaperbedaan nilai hedonik antara laki-laki dan perempuan sedangkan untuk variabel lainnyaberbeda.Rata-rata nilai preferensi konsumen terhadap warna roti labu kuning adalah 3.42,rasa roti labu kuning sebesar 3.51, aroma roti labu kuning sebesar 3.31, dan tekstur roti labukuning sebesar 3.77.PENDAHULUANRoti merupakan salah satu makanan yang sering dikonsumsi masyarakatIndonesia.Salah satu akibat dari konsumsi roti yang semakin meningkat dan menjadimakanan rakyat adalah penambahan (fortifikasi) berbagai zat gizi ke dalam roti untukmeningkatkan kandungan gizinya (Astawan, 2006).Fortifikasi merupakan suatu cara untukmeningkatkan kandungan suatu komponen gizi produk pangan, yang dapat dilakukandengan menambahkan secara langsung komponen gizi yang ingin ditingkatkan ataupunmenambahkan bahan yang kaya akan komponen gizi tersebut ke dalam produk pangan.Fortifikasi diharapkan dapat berperan untuk mengatasi masalah kekurangan gizi mikronutriendi Indonesia (Sinar Tani, 2008).Labu kuning (Cucurbitamoschata) atau pumpkin (Inggris) ataupun labu tanah waluh(Jawa) merupakan buah-buahan komoditas pertanian yang cocok dikembangkan sebagaibiofortifikasi untuk produk pangan.Labu kuning banyak mengandung β-karoten atauprovitamin-A yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Di samping itu labu kuning jugamengandung zat gizi seperti protein, karbohidrat, beberapa mineral seperti kalsium, fosfor,besi, serta vitamin B dan C (Hendrasty, 2007).
  2. 2. Fortifikasi dapat dilakukan dengan menambahkan labu kuning segar yang ditambahkanpada pembuatan es krim, dodol, saus, roti, dan produk pangan lain. Fortifikasi juga dapatdilakukan dengan terlebih dahulu mengolah labu kuning menjadi tepung yang selanjutnyadiaplikasikan pada pengolahan pangan. Produk olahan yang ditambah dengan tepung labukuning mempunyai warna dan rasa yang spesifik, sehingga diharapkan lebih disukaikonsumen.Roti adalah produk makanan hasil fermentasi tepung dengan ragi atau bahanpengembang lainnya, kemudian dipanggang (Mudjajanto dan Yulianti, 2007). Roti yangtersedia di pasaran terbuat dari tepung terigu dan dari gandum utuh (whole wheat bread).Tepung terigu dipilih sebagai bahan baku pembuatan roti karena kandungan protein glutenindan gliadin yang berguna untuk memperkuat dan menjaga elastisitas ikatan dinding danserat adonan sehingga memungkinkan terciptanya kantong-kantong udara di dalam roti.Dalam pembuatan roti labu kuning, tepung labu kuning hanya ditambahkan sebanyak10 persen saja dari berat tepung keseluruhan. Terlalu banyak menambahkan tepung labukuning akan mengakibatkan roti tidak dapat mengembang sempurna karena tepung labukuning tidak mengandung protein gluten. Protein gluten hanya bisa didapatkan di dalamtepung terigu (Bogasari, 2010).Saat ini, roti labu kuning belum terlihat dijual di pasaran. Hal ini diduga karena belumadanya pengetahuan yang memadai tentang tingkat kesukaan konsumen terhadap roti labukuning. Studi tentang preferensi konsumen terhadap roti labu kuning perlu dilakukan untukmemperkenalkan dan mengembangkan produk ini kepada masyarakat umum.Preferensi konsumen dapat diartikan secara luas sebagai pilihan terhadap suatu halyang lebih disukai oleh konsumen. Preferensi konsumen mengukur tingkat kesukaankonsumen terhadap suatu produk dibandingkan dengan produk lain. Konsumen akanmempertimbangkan banyak hal dalam menentukan konsumsi produk yang akan dipilihnyadan proses ini tidak begitu saja terjadi. Keberhasilan produsen dalam memperkenalkanproduknya akan bergantung pada tingkat penerimaan dan kesukaan terhadap produktersebut (Carpenter, et al., 2000).Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap rotilabu kuning. Konsumen dipilih secara acak kemudian diberikan sampel roti labu kuning danmengisi kuesioner tertutup sesuai dengan instruksi yang tertulis. Target konsumen mencakuphampir seluruh lapisan masyarakat, baik dari segi jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, danbesar pendapatan.METODOLOGI PENELITIANA. Tempat dan Waktu PenelitianProses pembuatan produk roti labu kuning dilaksanakan di Chicago Moslem FamilyRestaurant Simpang Mesra Banda Aceh. Analisis kimia sampel tepung labu kuningdilaksanakan di Laboratorium Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah(Bapedalda) Banda Aceh.Analisis kimia sampel roti labu kuning dilaksanakan diLaboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Banda Aceh. Penelitian tentangpreferensi konsumen terhadap produk roti labu kuning dilaksanakan di Gedung FakultasPertanian Universitas Syiah Kuala, lembaga bimbingan belajar Sony Sugema College (SSC)
  3. 3. Beurawe dan Phi Beta Group Punge Blang Cut, dan di beberapa tempat lain dalam ruanglingkup Kota Banda Aceh.B. Alat dan BahanBahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah labu kuning(Cucurbitamoschata) varietas bokor atau cerme yang diperoleh dari pasar tradisional BandaAceh dengan tingkat kematangan mengkal (buah sudah tua tetapi belum masak optimum),tepung terigu protein tinggi (Cakra Kembar dari Bogasari), mentega, yeast, gula pasir, air,susu cair, telur, garam, bread improver. Bahan kimia yang digunakan untuk analisis antaralain aquadest, kloroform, K2SO4, HgO, H2SO4, NaOH, Na2S2O3, H3BO3, HCl, indikator metalmerah, indikator metilen biru, dan pelarut dietil eter.Alat-alat yang digunakan selama pengolahan yaitu timbangan, pisau stainless steel,slicer, oven pengeringan, oven pemanggangan, hammer mill, ayakan 80 mesh, mixer, danloyang. Alat-alat yang digunakan untuk analisis yaitu timbangan analitik, gelas ukur, tanurabu, oven, spektrofotometer, labu Kjeldahl, alat destilasi, Erlenmeyer, kertas saring, dan alatsoxhlet.C. Analisis KimiaAnalisis kimia dilakukan untuk dua jenis sampel, yaitu tepung labu kuning dan roti labukuning. Untuk tepung labu kuning, analisis kimia yang dilakukan adalah uji kadar air dan ujikadar β-karoten. Sedangkan untuk roti labu kuning dilakukan uji kadar air, kadar abu, kadarprotein, kadar lemak, dan kadar β-karoten.Diagram Alir Pembuatan Tepung Labu Kuningadalah seperti ditunjukkan pada Gambar 1.D. Penyajian Sampel Roti Labu KuningSampel (roti labu kuning yang diolah dengan prosedur pada Gambar 2. disajikan padapanelis segera setelah roti selesai dipanggang atau paling lambat pada hari yang samauntuk menjaga agar tekstur roti masih tetap lembut dan tidak ada perubahan fisik. Analisisyang dilakukan oleh panelis adalah uji deskripsi terhadap atribut mutu dari roti labu kuningdan uji hedonik untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap karakteristikorganoleptiknya.Uji deskripsi dilakukan karena roti labu kuning merupakan produk baru yangbelum pernah tersedia di pasaran.Atribut mutu roti tersebut meliputi penampakan roti (warna,aroma, rasa), tekstur (crust dan crumb roti), after taste, dan mouthfeel.
  4. 4. Gambar 1.Diagram Alir Pembuatan Tepung Labu KuningLabu kuningPemotonganPencucianPengupasan biji, serat,kulitPengecilan ukuranBlansir dengan larutan asam sitrat 1 g/LPengeringan oven (80°C ; 7 jam)PenggilinganPengayakan 80 meshTepung labu kuning Analisis :• β-karoten• Kadar air
  5. 5. Gambar 2.Diagram Alir Pembuatan Roti Labu KuningE. Teknik Pengambilan Sampel PanelisTeknik pengambilan sampel yang digunakan adalah samplingnonprobabilitas, yaituteknik sampling yang tidak menggunakan prosedur pemilihan peluang melainkanmengandalkan judgement pribadi peneliti (Malhotra, 2005). Jenis yang digunakan adalahconvenience sampling dan snowball sampling.Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif berupa data-datahasil tabulasi dari kuesioner. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer, yaitudengan cara pemberian kuesioner langsung kepada responden. Metode survey yangdigunakan dalam penelitian ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain kuesioner mudahdikelola dan data yang diperoleh dapat dipercaya (Malhotra, 2005).Tepung terigu, tepung labukuning, BTM (F-1000), ragi,butter, gula pasirPencampuranAir, telur, dansusu cairPengulenan sampai kalisFermentasi I 35°C 25 menitPembuangan gas dan pembagian adonan @30 gramFermentasi II 35°C 20 menitPemanggangan dalam oven 180°C selama 25 menitRoti labu kuningAnalisis :• kadar air• kadar abu• lemak• protein• β-karoten
  6. 6. F. PanelisPanelis yang diikutsertakan dalam penelitian ini terdiri dari panelis agak terlatih dantidak terlatih berjumlah 100 orang. Panelis tidak terlatih diambil secara acak dalam ruanglingkup penduduk Kota Banda Aceh dengan usia minimal 10 tahun sampai di atas 35 tahundan panelis agak terlatih diambil dari mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian Universitas SyiahKuala. Para panelis ini diambil untuk menguji tingkat preferensi konsumen terhadap roti labukuning dengan melihat sifat-sifat organoleptik roti labu kuning. Pemilihan danpengelompokan panelis ditetapkan berdasarkan kriteria usia, jenis kelamin, tingkatpendidikan (berdasarkan lamanya pendidikan dalam tahun), dan tingkat pendapatan(termasuk uang saku).G. Pengumpulan DataMetode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitumenggunakan data primer dan data sekunder.Data primer diperoleh dari paket kuesioneryang terdiri dari lembaran kuesioner berisi identitas panelis, pertanyaan-pertanyaan tentangpersepsi konsumen terhadap produk roti labu kuning, dan lembar pengujian deskripsi danhedonik.Dalam lembaran pertanyaan pada kuesioner, pertanyaan yang diajukan adalah jenispertanyaan tertutup, di mana panelis diberikan alternatif jawaban dan hanya diperbolehkanmemilih satu jawaban dari beberapa jawaban yang tersedia.Selanjutnya dalam lembarpengujian deskripsi dan hedonik, panelis diminta memberikan penilaiannya sesuai metodepengujian masing-masing.Sedangkan data sekunder diperoleh dari studi literaturkepustakaan.H. Metode Analisis DataMetode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linierberganda (multiple regression analysis).Regresi linier berganda digunakan untuk mengatasipermasalahan analisis regresi yang melibatkan hubungan dari dua atau lebih variabel bebas.Ada empat variabel bebas yang digunakan untuk menganalisis preferensi konsumenterhadap roti labu kuning, yaitu usia (X1), jenis kelamin (X2), tingkat pendidikan (X3), danbesar pendapatan (X4). Keempat variabel ini disebut variabel bebas, sedangkan variabelyang akan diramalkan yaitu preferensi konsumen terhadap roti labu kuning (Y) dinamakanvariabel terikat.Selanjutnya untuk membandingkan pengaruh karakteristik responden terhadapkesukaan roti labu kuning, digunakan analisis non-parametrik Mann-Whitney Test danKruskal-Wallis Test. Mann-Whitney test digunakan jika hanya ada dua variabel bebas,sedangkan Kruskal-Wallis Test digunakan jika ada beberapa kelompok variabel.Penggunaan Kruskal-Wallis Test kemudian dilanjutkan dengan Mann-Whitney Test antaramasing-masing kelompok bila berbeda signifikan.I. Parameter dalam AnalisisParameter yang diuji dalam penelitian ini adalah uji deskripsi (berdasarkan atributmutu) sebagai pengenalan produk baru dan uji hedonik (tingkat kesukaan) terhadap sifat-sifat organoleptik dari roti labu kuning. Dalam penelitian ini, panelis diminta untukmemberikan penilaian terhadap deskripsi atribut mutu roti, yaitu penampakan (warna, aroma,
  7. 7. rasa, tekstur), mouthfeel, dan after taste (manis, pahit) dengan memberikan deskripsi secarajelas.Kemudian dilanjutkan dengan penilaian tingkat kesukaan panelis denganmenggunakan pengujian hedonik terhadap warna, rasa, dan tekstur roti labu kuning.Pengujian dilakukan dengan memberikan penilaian pada lima tingkat skala hedonik, dimulaidari sangat tidak suka (=1), tidak suka (=2), netral (=3), suka (=4), dan sangat suka (=5).HASIL DAN PEMBAHASANA. Kandungan Kimia Roti Labu KuningMengacu pada SNI 01-2891-1992 tentang cara uji makanan dan minuman, telahdilakukan pengujian terhadap tepung labu kuning dan roti labu kuning. Hasil pengujian untuktepung labu kuning berdasarkan parameter uji fisika adalah berbentuk serbuk, dengan baudan rasa yang normal, dan berwarna kuning. Untuk uji kimia, kadar air tepung labu kuningadalah 12.54% dan kadar β-karoten sebesar 11.161 mg/L. Jika dibandingkan dengan SNINo. 01-3751-1995 untuk tepung terigu, kadar air tepung labu kuning ini masih dikategorikannormal (maksimal kadar air tepung terigu adalah 14.5%).Pada roti labu kuning, uji fisika menunjukkan bentuk padat, bau dan rasa yang normal,dan berwarna coklat. Sedangkan untuk uji kimia, kadar air roti labu kuning adalah 30.46%,kadar abu 1.26%, kadar lemak 2.57%, dan kadar protein 9.14%. Sebagai perbandingankadar air dan kadar abu pada roti tawar menurut SNI No. 01-3840-1995, kadar air dan abupada roti labu kuning ini juga masih menunjukkan keadaan normal, di mana kadar air untukroti tawar adalah maksimal 40% dan kadar abu maksimal 3%.B. Atribut Mutu OrganoleptikRoti Labu KuningAda empat jenis atribut mutu yang diujikan dalam kuesioner preferensi konsumen,yaitu warna, rasa, aroma, dan tekstur roti labu kuning.Atribut mutu ini dianggaprepresentatifekriteriaorganoleptik yang dapat menunjukkan rata-rata kesukaan konsumenterhadap roti labu kuning secara keseluruhan.Nilai rata-rata kesukaan untuk masing-masingatribut mutu roti labu kuning seperti ditunjukkan pada Tabel 1.Tabel 1. Atribut Mutu Roti Labu KuningAtribut Mutu Roti Labu Kuning Min Max Mean Std DevWarna 1 5 3,42 0,878Rasa 1 5 3,51 0,847Aroma 1 4 3,31 0,748Tekstur 1 5 3,77 0,851Keterangan: 1 = sangat tidak suka 4 = suka2 = tidak suka 5 = sangat suka3 = netral / biasa
  8. 8. Warna merupakan karakteristik utama dari sebuah produk. Hampir 60% penerimaanterhadap sebuah produk ditentukan oleh warna. Warna suatu produk dapat menyebabkanseseorang menerima atau sebaliknya menolak produk tersebut, memberikan kenyamananatau ketidaknyamanan, bahkan bisa mempengaruhi nafsu makan (Dony, 2009). Rata-ratanilai preferensi konsumen terhadap warna roti labu kuning adalah 3.42 yaitu antara netralsampai suka. Mayoritas panelis tidak begitu menyukai warna roti labu kuning yangkecoklatan, karena sudah terbiasa mengonsumsi roti yang berwarna keemasan.Rasa adalah sebuah reaksi kimia dari gabungan berbagai bahan makanan danmenciptakan suatu sensasi yang dirasakan oleh lidah. Rasa merupakan organoleptik yangpenting pada suatu produk makanan karena dapat berfungsi sebagai penentu enak atautidak enaknya suatu produk bahan pangan. Rata-rata preferensi konsumen terhadap rasaroti labu kuning adalah 3.51yaitu antara netral sampai suka. Hasil survey menunjukkanbeberapa panelis merasa asing terhadap rasa roti labu kuning tersebut, dan menyarankanagar roti labu kuning ditambah bahan lainnya, seperti coklat atau keju.Rata-rata penilaian konsumen terhadap aroma roti labu kuning adalah 3.31yaituantara netral sampai suka. Aroma roti labu kuning disukai oleh panelis. Mayoritas panelislebih menyukai aroma roti tawar yang tidak ditambahkan bahan lainnya. Sedangkan rata-ratapenilaian konsumen terhadap tekstur roti labu kuning adalah 3.77yaitu antara netral sampaisuka. Panelis sangat menyukai tekstur roti labu kuning yang lembut dan mudah dikunyah.C. Responden dan Roti Labu KuningPanelis berjumlah 100 orang yang diikutsertakan dalam penelitian ini dikategorikanberdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan besar pendapatan pada tingkatkesukaan konsumen terhadap roti labu kuning. panelis diambil secara acak menggunakanconvenience dan snowball sampling dalam ruang lingkup Kota Banda Aceh.Jenis roti yang paling banyak dikonsumsi panelis secara umum adalah roti denganpelengkap (mentega, meises, selai) sebesar 75%, kemudian roti tawar 14%, roti manis tanpaisian 8%, dan roti lain seperti baguette dan waffle sebesar 3%. Sebanyak 55% panelismengonsumsi roti dalam waktu yang tidak tentu, 26%mengonsumsinya 2-3 kali seminggu,15%setiap hari, dan hanya 4% yang mengonsumsi roti 2-3 kali sebulan. Para panelis inibiasanya mengonsumsi roti sebagai kudapan dengan persentase 66% dari total jumlahpanelis, 29%mengonsumsinya sebagai menu sarapan, dan 5% sebagai pemenuhan asupankarbohidrat.Mayoritas panelis belum pernah mendengar atau mengonsumsi roti labu kuning. Hanya2% yang mengatakan mengetahui dan pernah mengonsumsinya. Roti labu kuning sendirimerupakan produk olahan yang baru saja dikembangkan dan saat ini belum terlihat tersediadi pasaran. Sebanyak 78% panelis mengatakan menyukai roti labu kuning yang telah dicicipidan 22% lainnya mengatakan tidak suka dengan alasan rasa yang tidak enak dan warnayang kurang menarik. Namun hampir seluruh panelis menginginkan ada tambahan rasa ataupelengkap pada roti labu kuning agar mereka lebih menyukainya dan dapat mencirikhaskanroti labu kuning tersebut.
  9. 9. D. Preferensi Konsumen Berdasarkan Karakteristik RespondenPengujian preferensi konsumen menggunakan Kruskal-Wallis Test antara usiakonsumen dengan skor rata-rata hedonik didapatkan nilai signifikansi 0.001 (α = 0.05) yangartinya ada perbedaan yang sangat signifikan antarkelompok usia konsumen. Hasil uji Mann-Whitney Test menunjukkan bahwa kelompok usia 10 – 14 tahun dengan 20 – 24 tahunberbeda secara signifikan dengan nilai signifikansi 0.000 (α = 0.05). Nilai rata-rata preferensikonsumen berdasarkan karakteristik responden disajikan pada Tabel 2 sampai dengan Tabel5.Tabel 2. Nilai Rata-rata Preferensi Berdasarkan Variabel UsiaMean Std. Dev.10 - 14 tahun 37 3,7432 0,4840715 - 19 tahun 20 3,1875 0,6380220 - 24 tahun 25 3,2000 0,5051825 tahun atau lebih 18 3,7361 0,61520Usia NNilai Rata-rata PreferensiSumber : Data mentah diolahTabel 3. Nilai Rata-rata Preferensi Berdasarkan Variabel Jenis KelaminMean Std. DevLaki-laki 44 3,4886 0,65137Perempuan 56 3,5000 0,57009Jenis Kelamin NNilai Rata-rata PreferensiSumber : Data mentah diolahUntuk variabel jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, Mann-Whitney Testmenghasilkan nilai signifikansi 0.723 (α >0.1), sehingga hipotesis H0 diterima dan hipotesisH1 ditolak. Artinya, tidak ada perbedaan rata-rata antara jenis kelamin laki-laki danperempuan dalam menentukan tingkat kesukaan terhadap roti labu kuning.Pada variabel tingkat pendidikan, Kruskal-Wallis Test menunjukkan bahwa terdapatperbedaan yang signifikan antarkelompok tingkat pendidikan, mulai dari tingkat SD sampaiPascasarjana, dengan signifikansi 0.004 (α < 0.05) terhadap nilai rata-rata hedonik kesukaanroti labu kuning. Pengujian dilanjutkan dengan menggunakan Mann-Whitney Test dimanayang paling menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan dalam mempengaruhi kesukaanroti labu kuning adalah level pendidikan SD dengan SMA, yaitu nilai signifikansinya sebesar0.000 (α <0.01) sehingga H1 diterima.
  10. 10. Tabel 4. Nilai Rata-rata Preferensi Berdasarkan Tingkat PendidikanMean Std. Dev.4 - 6 tahun (SD) 27 3,8148 0,498047 - 9 tahun (SMP) 11 3,6136 0,4352310 - 12 tahun (SMA) 21 3,1548 0,5993513 - 16 tahun (Universitas) 31 3,4274 0,6525417 - 20 tahun (Pascasarjana) 10 3,4250 0,50069Tingkat Pendidikan NNilai Rata-rata PreferensiSumber : Data mentah diolahPada Kruskal-Wallis Test antara besar pendapatan dengan rata-rata skor hedonikkesukaan, terdapat perbedaan yang secara statistik signifikan antarkelompok besarpendapatan dengan nilai signifikansi 0.036 (α = 0.05). Dilanjutkan dengan Mann-WhitneyTest, sehingga diketahui bahwa yang menunjukkan perbedaan rata-rata adalah kelompokyang memiliki besar pendapatan antara Rp 500,000 – Rp 999,900 dengan Rp 1,000,000atau lebih per bulannya dengan nilai signifikansi 0.013. Kelompok ini diasumsikan memilikipreferensi yang lebih tinggi terhadap roti labu kuning, karena mereka mampu membeliproduk-produk baru.Tabel 5. Nilai Rata-rata Preferensi Berdasarkan Besar PendapatanMean Std. Dev.Rp 100,000 - Rp 499,000 51 3,4706 0,56046Rp 500,000 - Rp 999,000 17 3,2353 0,43724Rp 1,000,000 atau lebih 32 3,6719 0,69976Besar Pendapatan NNilai Rata-rata PreferensiSumber : Data mentah diolahE. Preferensi Konsumen Terhadap Roti Labu KuningPersamaan regresi linier yang digunakan dalam merumuskan preferensi konsumenterhadap roti labu kuning berdasarkan skor rata-rata hedonikditentukan oleh variabel terikatdan variabel bebas. Variabel terikat dalam persamaan regresi linier berganda ini adalahtingkat kesukaan konsumen terhadap roti labu kuning, sedangkan variabel bebas yangdigunakan adalah seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6.Tabel 6. Prediktor yang Terlibat dalam Persamaan Regresi Linier BergandaVariabel Min Max Mean Std DevUsia (tahun) 10 55 19,980 9,910Jenis Kelamin (laki-laki = 0, perempuan = 1) 0 1 0,560 0,499Tingkat Pendidikan (tahun) 4 20 11,300 5,058Besar Pendapatan (puluhan ribu rupiah) 10 300 80,490 80,420
  11. 11. Persamaan regresi linier preferensi konsumen terhadap roti labu kuning berdasarkanskor rata-rata hedonic adalah:Y = 3.777 + 0.015 X1 + 0.101 X2 – 0.071 X3 + 0.002 X4Persamaan ini menunjukkan peningkatan nilai kesukaan konsumen terhadap roti labukuning yang akan diprediksi oleh kenaikan satu unit dari prediktor yang ada.Secara keseluruhan, kelompok usia konsumen 10 – 14 tahun menunjukkan perbedaankesukaan dibandingkan dengan kelompok usia lainnya, terutama jika dibandingkan dengankelompok usia 15 – 19 tahun dan kelompok usia 20 – 24 tahun. Variabel jenis kelaminkonsumen menunjukkan tidak adanya perbedaan kesukaan antara konsumen laki-lakidengan perempuan terhadap karakteristik roti labu kuning. Pada variabel tingkat pendidikan,hanya pada karakteristik rasa dan aroma roti labu kuning saja yang berpengaruh signifikan,sedangkan pada warna dan tekstur roti, tingkat pendidikan tidak berpengaruh. Kelompokpendidikan SD (4 – 6 tahun) menunjukkan perbedaan rata-rata kesukaan terhadap roti labukuning dibandingkan dengan kelompok pendidikan lain. Untuk variabel besar pendapatan,rerata masing-masing kelompok pendapatan menunjukkan pengaruh yang sama terhadapkarakteristik roti labu kuning baik dari segi warna, aroma, rasa, dan tekstur. Sehingga bisadisimpulkan bahwa besar pendapatan tidak berpengaruh secara signifikan pada preferensikonsumen terhadap roti labu kuning.KESIMPULAN DAN SARANA. Kesimpulan1. Faktor usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan berpengaruh signifikan terhadappreferensi konsumen terhadap roti labu kuning berdasarkan warna, rasa, aroma,dan tekstur. Sedangkan besar pendapatan tidak berpengaruh secara signifikan.2. Preferensi konsumen terhadap warna roti labu kuning secara parsial dipengaruhioleh faktor usia dan jenis kelamin.3. Preferensi konsumen terhadap rasa roti labu kuning secara parsial dipengaruhi olehusia, jenis kelamin, dan besar pendapatan.4. Preferensi konsumen terhadap aroma roti labu kuning secara parsial dipengaruhioleh usia dan jenis kelamin.5. Preferensi konsumen terhadap tekstur roti labu kuning secara parsial dipengaruhioleh usia, jenis kelamin, dan besar pendapatan.B. SaranPada penelitian lebih lanjut sebaiknya disarankan untuk menggunakan faktor-faktor lainyang dapat mempengaruhi preferensi konsumen mencakup faktor intrinsik, ekstrinsik,biologis, fisiologis, psikologis, personal, sosioekonomi, pendidikan, kultur, agama, dandaerah.
  12. 12. DAFTAR PUSTAKAAdriani, Y. 2005. Ekstraksi Karotenoid dari Minyak Kelapa Sawit Mentah (CPO) denganMenggunakan Pelarut Heksana. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UniversitasSyiah Kuala, Banda Aceh.Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. 1972. Daftar Komposisi Bahan Makanan.Bhratara, Indonesia.Anonima. 2006. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan.http://www.iptek.net.id/ind/teknologi_pangan/index.php?id=239.htm [5 November 2007].Anonimb. 2007. Penuntun Praktikum Kimia dan Analisis Hasil Pertanian. JurusanTeknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian, Banda Aceh.Apriyantono, A., D. Fardiaz, D.L. Puspitasari, Sedarnawati, dan S. Budiyanto. 1989. AnalisisPangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB, Bogor.Assael. H. 1996. Consumer Behavior and Marketing Action. South Western CollagePublishing, Ohio.Astawan, M. 2004. Labu Kuning Penawar Racun dan Cacing Pita yang KayaAntioksidan. Berita SENIOK. No. 247/9-15 April 2004.Astawan, M. 2006. Talk About Bread.http://www.ayahbundaonline.com/info_ayahbunda/info_detail.asp?id=Nutrisi&info_id=430.htm. [13 Juli 2006].Astawan, M. 2008. Kolak Tangkal Kanker Kolorektal.http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/pda/detail.aspx?x=Nutrition&y=cybertech|0|0|6|468. [29 September 2008].Aziah, N.A.A. dan C.A. Komathi. 2009. Physicochemical and Functional Properties ofPeeled and Unpeeled Pumpkin Flour. Journal of Food Science, Vol. 74, Nr. 7.Badan Pengawasan Obat dan Makanan. 2007. Standar Mutu Roti Tawar SNI 01-3840-1995. Bhratara, Indonesia.Bogasari. 2010. Penggunaan Tepung Terigu dalam Pembuatan Roti.http://www.bogasariflour.com. [29 Januari 2010].Carpenter, P.R., D.H. Lyon, and T.A. Hasdell. 2000. Guidelines for Sensory Analysis inFood Product Development and Quality Control.An Aspen Publication, Maryland.Djutin, K.E. 1991. Pumpkin: Nutritional Properties. Potatoes and Vegetables, 3: 25-26(Russian).Dony. 2009. Psikologi Warna dan Marketing. http://donydw.wordpress.com/ [15 Mei 2009].Engel, J.F., R.D. Vlanckwell, dan P.W. Miniard. 1994. Perilaku Konsumen(Terjemahan).Binarupa Aksara, Jakarta.Hendrasty, H.K. 2007. Tepung Labu Kuning, Pembuatan dan Pemanfaatannya.PenerbitKanisius, Yogyakarta.Kohkonen, P., H. Toruila, dan H. Rita. 1996. How Informations Enhances Acceptability OfA Low-fat Spread. di dalam Juric, B. dan A. Worsley. 1998. Consumer AttitudesTowards Imported Food Product. Food Quality and Preference.Kusharto, C.M. 2007. Di Balik Sepotong Roti, Alternatif Sarapan Pengganti Nasi danMie.http://www1.surya.co.id/v2/?p=7749. [27 April 2007].
  13. 13. Kramer, A. 1991. Pengawasan Mutu dalam Industri Pangan.PAU Pangan dan Gizi IPB,Bogor.Malhotra, N. K. 2005. Riset Pemasaran Pendekatan Terapan Edisi Bahasa Indonesia.Edisi Keempat. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.Muchtadi, T.R. dan Sugiyono. 1992. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. PAU Pangan danGizi IPB, Bogor.Mudjajanto, E.S dan L.N. Yulianti. 2007. Seri Agrotekno Membuat Aneka Roti. PenerbitSwadaya, Jakarta.Sanjur, D. 1982. Social and Cultural Perspective In Nutrition. Pientice-Hall. Engle-WoodCliff, New Jersey.Scheaffer, R. L., M. William, dan O. Lyman. 1986. Elementary Survey Sampling. di dalamTricahyati. Analisis Atribut yang Mempengaruhi Preferensi Konsumen untuk MacaroniSnack. Skripsi Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,IPB, Bogor.Schiffman, L. G. and L. L. Kanuk. 1994. Consumen Behavior. 5thEdition. Prentice Hall,Englewood Cliffs, New Jersey.Simamora, B. 2002. Panduan Riset Perilaku Konsumen. Gramedia Pustaka Utama,Jakarta.Suharjo, 1989. Berbagai Cara Pendidikan Gizi. Pusat Antar Universitas Institut PertanianBogor, Bogor.Sumarwan, U. 2003. Perilaku Konsumen : Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran.PT Ghalia Indonesia, Jakarta.Suprapti, M. L. 2007. Awetan Kering dan Dodol Waluh. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.Wagiyono. 2003. Menguji Kesukaan Secara Organoleptik. Modul Sekolah MenengahKejuruan. Depdiknas, Jakarta.Wahyudi. 2003. Memproduksi Roti. Modul Sekolah Menengah Kejuruan. Depdiknas,Jakarta.Wikipedia. 2009. Roti. http://id.wikipedia.org/wiki/Roti. [14 Maret 2009].Yuliani, S., S. Utami, Misgiyarta, Y.P. Endang, H. Setianto, R. Tahir, dan Suarni. 2004.Pengembangan Produk Pangan Berbahan Baku Labu Kuning. Disampaikan padaSosialisasi Teknologi Pengolahan Labu Kuning, di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.Senin 4 Oktober.

×