Eliminasi

7,183 views

Published on

1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
7,183
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
131
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Eliminasi

  1. 1. May 17, 2011
  2. 2. LATAR BELAKANG May 17, 2011
  3. 3. <ul><li>Di Indonesia, menurut Surkesnas (2001) diare merupakan salah satu penyebab kematian kedua terbesar pada balita, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya. Di Inggris 1 dari 5 orang menderita diare infeksi setiap tahunnya dan  1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita diare infeksi. Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding di negara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun. </li></ul><ul><li>www.library.usu.ac.id </li></ul>May 17, 2011
  4. 4. DEFINISI DIARE <ul><li>Definisi diare berdasarkan Seminar Rehidrasi Nasional III (1982) adalah perubahan konsistensi berak menjadi lembek sampai cair lebih dari 3 – 5 kali per hari. Untuk bayi dan anak-anak, bila volume berak lebih dari 10 gram / kgBB / hari. </li></ul><ul><li>Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja. </li></ul><ul><li>Sedangkan diare secara epidemiologi biasanya didefinisikan sebagai keluarnya tinja yang lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari. </li></ul>May 17, 2011
  5. 5. PENYEBAB DIARE <ul><li>a. Faktor makanan </li></ul><ul><li>Merupakan penyebab non infeksi yang paling sering </li></ul><ul><li>b. Faktor infeksi </li></ul><ul><li>- Infeksi Parenteral : Infeksi di luar usus, mempengaruhi sistem saluran cerna sehingga terjadi diare. </li></ul><ul><li>- Infeksi enteral : Infeksi dalam usus dan penyakit diare ini menular secara jalur orofecal. </li></ul><ul><li>c. Faktor konstitusi </li></ul><ul><li>Kondisi saluran cerna, dijumpai pada keadaan intoleransi laktosa, malabsorbsi lemak & intoleransi protein. </li></ul><ul><li>d. Faktor psikis </li></ul><ul><li>Keadaan depresif melalui susunan saraf vegetatif dapat mengganggu saluran cerna sehingga terjadi diare. </li></ul>May 17, 2011
  6. 6. DAMPAK DIARE <ul><li>Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik). </li></ul><ul><li>Renjatan hipovolemik. </li></ul><ul><li>Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram). </li></ul><ul><li>Hipoglikemia. </li></ul><ul><li>Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa, usus halus. </li></ul><ul><li>Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik. </li></ul><ul><li>Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan. </li></ul>May 17, 2011
  7. 7. Kebutuhan Eliminasi <ul><li>Eliminasi adalah proses pembuangan sisia metabolisme tubuh baik berupa urine atau alvi (buang air besar). </li></ul><ul><li>Kebutuhan eliminasi terdiri atas dua, yaitu eliminasi urin (buang air kecil) dan eliminasi alvi (buang air besar), yang merupakan bagian dari kebutuhan fisiologi dan bertujuan untuk mengeluarkan bahan sisa. </li></ul>May 17, 2011
  8. 8. Eliminasi Fecal <ul><li>Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut buang air besar. Terdapat dua pusat ang menguasai refleks untuk defekasi, yang terletak di medula dan sumsum tulang belakang. </li></ul><ul><li>Susunan feses terdiri dari : </li></ul><ul><li>Bakteri yang umumnya sudah mati </li></ul><ul><li>Lepasan epitalium dari usus </li></ul><ul><li>Sejumlah kecil zat nitrogen terutama musin (mucus) </li></ul><ul><li>Garam terutama kalsium fosfat </li></ul><ul><li>Sedikit zat besi dari selulosa </li></ul><ul><li>Sisa zat makanan yang tidak dicerna dan air (100 ml) </li></ul>May 17, 2011
  9. 9. Factor yang mempengaruhi Eliminasi Fekal <ul><li>Usia dan perkembangan </li></ul><ul><li>Diet </li></ul><ul><li>Pemasukan cairan </li></ul><ul><li>Aktivitas fisik </li></ul><ul><li>Factor psikologik </li></ul><ul><li>Gaya Hidup </li></ul><ul><li>Penyakit </li></ul><ul><li>Kebiasaan </li></ul><ul><li>Posisi </li></ul><ul><li>Nyeri </li></ul><ul><li>Operasi & anestesi </li></ul><ul><li>Obat – obatan </li></ul>May 17, 2011
  10. 10. Masalah – masalah pada Eliminasi Urin dan Fekal <ul><li>Masalah Eliminasi Urin </li></ul><ul><li>1. Retensi </li></ul><ul><li>Ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan isinya. </li></ul><ul><li>2. Inkontinensis </li></ul><ul><li>Ketidakmampuan otot sphincter eksternal sementara atau menetap untuk mengontrol ekskresi urine. </li></ul><ul><li>3. Enuresis </li></ul><ul><li>Ketiksanggupan menahan kemih (mengompol) yang diakibatkan tidak mampu mengontrol sphincter eksterna. </li></ul><ul><li>4. Perubahan pola eliminasi urine </li></ul><ul><li>Terjadi karena obstruksi anatomis, kerusakan motorik sensorik, dan infeksi saluran kemih </li></ul>May 17, 2011
  11. 11. <ul><li>Masalah pada Eliminasi Fecal </li></ul><ul><ul><ul><li>Konstipasi </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Keadaan individu yang mengalami eliminasi yang jarang/ keras, serta tinja yang keluar terlalu kering dan keras. Tanda Klinis: </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Adanya feses yang keras </li></ul></ul><ul><ul><li>Defekasi kurang dari 3 kali seminggu </li></ul></ul><ul><ul><li>Menurunnya bising usus </li></ul></ul><ul><ul><li>Adanya keluhan pada rectum </li></ul></ul><ul><ul><li>Nyeri saat mengejan dan defekasi </li></ul></ul><ul><ul><li>Adanya perasaan masih ada sisa feses </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>2. Diare </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Keadaan individu yang mengalami atau beresiko sering mengalami pengeluaran feses dalam bentuk cair. Tanda klinis: </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Adanya pengeluaran feses cair </li></ul></ul></ul>May 17, 2011
  12. 12. <ul><ul><li>Frekuensi lebih dari 3 kali sehari </li></ul></ul><ul><ul><li>Nyeri/ kram abdomen </li></ul></ul><ul><ul><li>Bising usus meningkat </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>3. Inkontinensia Usus </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Keadaan individu yang mengalami perubahan kebiasaan dari proses defekasi normal, sehingga mengalami proses pengeluaran feses tidak disadari. Tanda klinis : Pengeluaran feses yang tidak dikehendaki </li></ul></ul></ul><ul><li>Kemungkinan penyebab : </li></ul><ul><li>Gangguan spingter rectal akibat cedera anus, pembedahan dll </li></ul><ul><li>Distensi rectum berlebih </li></ul><ul><li>Kurangnya control sfingter akibat cedera medulla spinalis, CVA dll </li></ul><ul><li>Kerusakan kognitif </li></ul>May 17, 2011
  13. 13. <ul><ul><ul><li>4. Kembung </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Kembung merupakan keadaan penuh udara dalam perut karena pengumpulan gas berlebihan dalam lambung atau usus. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>5. Hemorrhoid </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Hemorrhoid merupakan keadaan terjadinya pelebaran vena di daerah anus sebagai akibat peningkatan tekanan di daerah anus yang dapat disebabkan karena konstipasi, peregangan saat defekasi dan lain-lain </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>6. Fecal impaction </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Merupakan massa feses karena dilipatan rektum yang diakibatkan oleh retensi dan akumulasi materi feses yang berkepanjangan. </li></ul></ul></ul><ul><li>Penyebab fecal impaction adalah asupan kurang, aktivitas kurang, diet rendah serat, dan kelemahan tonus otot. </li></ul>May 17, 2011

×