PENINGKATAN KINERJA  PROFESI TENAGA PENDIDIK <br />MELALUI KEGIATAN PELATIHAN <br />PEMBUATAN BAHAN AJAR BERBASIS ICT DAN ...
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Peningkatan Kinerja  Profesi Tenaga Pendidik
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Peningkatan Kinerja Profesi Tenaga Pendidik

18,567 views

Published on

Kinerja merupakan suatu sikap dan prilaku dapat mengikat dari waktu ke waktu. Kinerja personal/individu berbeda antara yang satu dan yang lain.Perbedaan terjadi tentunya dipengaruhi berbagai faktor. Kinerja adalah salah satu kegiatan personal diinterpretasikan dengan makna pertumbuhan kebutuhan individu yang ditunjukkan dengan pengembangan dari tiap-tiap individu secara optimal pada bidang tugas dan pekerjaannya. Fisik, mental dan potensi-potensi merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja personal/individu

Published in: Education
  • Be the first to comment

Peningkatan Kinerja Profesi Tenaga Pendidik

  1. 1. PENINGKATAN KINERJA PROFESI TENAGA PENDIDIK <br />MELALUI KEGIATAN PELATIHAN <br />PEMBUATAN BAHAN AJAR BERBASIS ICT DAN WEB<br />KARYA ILMIAH <br />Dsusun Oleh<br />H. M. SARTONO, S.Pd<br />Pembina IV/a<br /> NIP : 19601231 198601 1 055<br />SMA NEGERI 2 MATARAM <br />2009<br />KATA PENGANTAR<br />Kinerja merupakan suatu sikap dan prilaku dapat mengikat dari waktu ke waktu. Kinerja personal/individu berbeda antara yang satu dan yang lain.Perbedaan terjadi tentunya dipengaruhi berbagai faktor. Kinerja adalah salah satu kegiatan personal diinterpretasikan dengan makna pertumbuhan kebutuhan individu yang ditunjukkan dengan pengembangan dari tiap-tiap individu secara optimal pada bidang tugas dan pekerjaannya. Fisik, mental dan potensi-potensi merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja personal/individu <br />Melalui kegiatan Pelatihan Pembuatan Bahan ajar Berbasis ICT dan WEB bagi guru-guru supaya dapat tumbuh berkembang dalam tugas dan jabatan keprofesionalan mereka, di samping itu dapat memberi keterampilan kepada guru dalam meningkatkan profesi mengajar mereka untuk mengubah sikap tradisional yang merasa puas dengan apa adanya menjadi sikap terbuka terhadap setiap usaha pembaharuan , merubah sikap korektif menjadi sikap kreatif. dalam rangka memberikan kesempatan mengembangkan diri, bukan hanya semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan, bakat dan minatnya akan tetapi kompetensi/ kemampuan dasar yang dimiliki dan disiplin dengan memiliki etos kerja yang tinggi terlepas dari hal-hal yang melatarbelakangi pengembangan diri dalam suatu pekerjaan. Dan faktor lingkungan kerjalah yang pertama kali mempengaruhi pertumbuhan perkembangan personal/individu <br /> BAB I<br />PENDAHULUAN<br />Latar Belakang <br />Pendidikan kita sudah terasakan selama bertahun-tahun sudah semakin merosot, dan untuk kesekian kalinya kurikulum dituding sebagai penyebabnya. Hal ini tercermin dengan adanya upaya mengubah kurikulum mulai kurikulum 1975 diganti dengan kurikulum 1984, kemudian diganti lagi dengan kurikulum 1994. Dan kemerosotan pendidikan bukan diakibatkan oleh kurikulum tetapi oleh kurangnya kemampuan profesionalisme guru dan keengganan belajar siswa. Nasanius (1998)<br />Profesionalisme sebagai penunjang kelancaran guru dalam melaksanakan tugasnya, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar yaitu faktor internal yang meliputi minat dan bakat dan faktor eksternal yaitu berkaitan dengan lingkungan sekitar, sarana prasarana, serta berbagai latihan yang dilakukan guru Sumargi, (1996)<br />Profesionalisme guru dan tenaga kependidikan masih belum memadai utamanya dalam hal bidang keilmuannya diberengi dengan Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan informasi dalam berbagi hal kehidupan manusia terus menerus berkembang dengan pesatnya, secara langsung berdampak terhadap dunia pendidikan. Berkembang cepatnya IPTEK dan informasi dimaksud tidak jarang para ilmuan mengalami kesulitan menghadapi dampak dan tantangan nyata yang timbul sebagai akibat dari berbagai macam teori dan praktek serta persepsi yang dikembangkannya. Kendati perbedaan itu timbul, sudah banyak pula dirasakan manfaatnya bagi dunia pendidikan. Fungsi dan makna pendidikan pada umumnya bertujuan untuk membantu individu mengembangkan ilmu pengetahuan dan atau teknologi serta informasi. Ani M Hasan (2003) mnyetakan<br />Tantangan yang dihadapi para penyelenggara pendidikan di sekolah dewasa ini adalah kemampuan dalam memahami, menyerap serta menerapkan paradigma baru di bidang pendidikan. Jadi dengan demikian perlu memberdayakan Musyawarah Kerja Guru sebagai motor penggerak. Perubahan dan perbaikan mutu pendidikan dituntut untuk memiliki daya mampu dan daya lebih dalam menjawab tantangan Sokoguru yang menopang kokoh dan tegak berdirinya satu Unjuk Kerja/ Kinerja Profesional adalah para penyelia dan penyelenggara pendidikan sekolah . <br />Berdasarkan UU No 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, di bidang pendidikan Otonomi Pendidikan berazaskan desentralisasi pendidikan dengan Pendekatan “ Manajemen Berbasis Sekolah” untuk menumbuhkan kemandirian dan kreativitas Pemyelenggara pendidikan. Kemandirian dan kreativitas Penyelenggara Pendidikan mengisyaratkan kriteria yang harus dipenuhi oleh para penyelia dan para guru yang mendapat tugas professional dalam mengelola Pendidikan dan pengajaran yang harus kuat dan efektif. <br />Untuk menumbuh kembangkan kinerjanya yang kuat dan efektif secara profesional diperlukan satu wadah yang dapat menampung semua problematik dan kendala yang dihadapi. Wadah ini akan mampu menjadi arena berbagi pengalaman dan gagasan serta terobosan baru dalam upaya memahami, menerapkan serta menyikapi kebijakan di bidang pendidikan, <br />Pada abad 21 merupakan abad pengetahuan karena pengetahuan menjadi landasan utama segala aspek kehidupan, yang sangat dipengaruhi oleh adanya sepuluh kecenderungan besar yang akan terjadi pada pendidikan di abad 21 yaitu; (1) dari masyarakat industri ke masyarakat informasi, (2) dari teknologi yang dipaksakan ke teknologi tinggi, (3) dari ekonomi nasional ke ekonomi dunia, (4) dari perencanaan jangka pendek ke perencanaan jangka panjang, (5) dari sentralisasi ke desentralisasi, (6) dari bantuan institusional ke bantuan diri, (7) dari demokrasi perwakilan ke demokrasi partisipatoris, (8) dari hierarki-hierarki ke penjaringan, (9) dari utara ke selatan, dan (10) dari atau/atau ke pilihan majemuk. Kemudian Selanjutnya Ia mengemukakan bahwa berbagai implikasi kecenderungan di atas berdampak terhadap dunia pendidikan yang meliputi aspek kurikulum, manajemen pendidikan, tenaga kependidikan, strategi dan metode pendidikan dipengaruhi dengan adanya delapan kecenderungan besar di Asia yang ikut mempengaruhi dunia yaitu; (1) dari negara bangsa ke jaringan, (2) dari tuntutan eksport ke tuntutan konsumen, (3) dari pengaruh Barat ke cara Asia, (4) dari kontrol pemerintah ke tuntutan pasar, (5) dari desa ke metropolitan, (6) dari padat karya ke teknologi canggih, (7) dari dominasi kaum pria ke munculnya kaum wanita, (8) dari Barat ke Timur. Kedelapan. Ia menjelaskan juga bahwa kecenderungan itu akan mempengaruhi tata nilai dalam berbagai aspek, pola dan gaya hidup masyarakat baik di desa maupun di kota. Pada gilirannya semua itu akan mempengaruhi pola-pola pendidikan yang lebih disukai dengan tuntutan kecenderungan tersebut. Dalam hubungan dengan ini pendidikan ditantang untuk mampu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi tantangan kecenderungan itu tanpa kehilangan nilai-nilai kepribadian dan budaya bangsanya. <br />Surya (1998) mengungkapkan bahwa pendidikan di Indonesia di abad 21 mempunyai karakteristik sebagai berikut: <br />(1) Pendidikan nasional mempunyai tiga fungsi dasar yaitu; (a) untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, (b) untuk mempersiapkan tenaga kerja terampil dan ahli yang diperlukan dalam proses industrialisasi, (c) membina dan mengembangkan penguasaan berbagai cabang keahlian ilmu pengetahuan dan teknologi; <br />(2) Sebagai negara kepulauan yang berbeda-beda suku, agama dan bahasa, pendidikan tidak hanya sebagai proses transfer pengetahuan saja, akan tetapi mempunyai fungsi pelestarian kehidupan bangsa dalam suasana persatuan dan kesatuan nasional; <br />(3) Dengan makin meningkatnya hasil pembangunan, mobilitas penduduk akan mempengaruhi corak pendidikan nasional; <br />(4) Perubahan karakteristik keluarga baik fungsi maupun struktur, akan banyak menuntut akan pentingnya kerja sama berbagai lingkungan pendidikan dan dalam keluarga sebagai intinya. Nilai-nilai keluarga hendaknya tetap dilestarikan dalam berbagai lingkungan pendidikan;<br /> (5) Asas belajar sepanjang hayat harus menjadi landasan utama dalam mewujudkan pendidikan untuk mengimbangi tantangan perkembangan jaman; (6) Penggunaan berbagai inovasi Iptek terutama media elektronik, informatika, dan komunikasi dalam berbagai kegiatan pendidikan, <br />(7) Penyediaan perpustakaan dan sumber-sumber belajar sangat diperlukan dalam menunjang upaya pendidikan dalam pendidikan;<br /> (8) Publikasi dan penelitian dalam bidang pendidikan dan bidang lain yang terkait, merupakan suatu kebutuhan nyata bagi pendidikan di abad pengetahuan. <br />Pendidikan di abad pengetahuan menuntut adanya manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan, staf, proses belajar mengajar, pengembangan staf, kurikulum, tujuan dan harapan, iklim sekolah, penilaian diri, komunikasi, dan keterlibatan orang tua/masyarakat. Tidak kalah pentingnya adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme dan jiwa juang, keimanan dan ketakwaan, penguasaan iptek, etos kerja dan disiplin, profesionalisme, kerjasama dan belajar dengan berbagai disiplin, wawasan masa depan, kepastian karir, dan kesejahteraan lahir batin. (Pendidikan Network , 2003) <br />Pendidikan mempunyai peranan yang amat strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi dan menguasai megaskills yang mantap. Untuk itu, lembaga penidikan dalam berbagai jenis dan jenjang memerlukan pencerahan dan pemberdayaan dalam berbagai aspeknya. Gambaran Pembelajaran di Abad Pengetahuan. Praktek pembelajaran yang terjadi sekarang masih didominasi oleh pola atau paradigma yang banyak dijumpai di abad industri. Pada abad pengetahuan paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industri. Galbreath (1999) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan antara pendekatan belajar dari guru, belajar dari siswa lain, dan belajar pada diri sendiri. <br />Ani M Hasan ( 2003 ) mengungkapkan bahwa Sebagai menyebabkan rendahnya profesionalisme guru disebabkan oleh antara lain; <br />(1) masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara utuh. Hal ini disebabkan oleh banyak guru yang bekerja di luar jam kerjanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga waktu untuk membaca dan menulis untuk meningkatkan diri tidak ada;<br /> (2) belum adanya standar profesional guru sebagaimana tuntutan di negara-negara maju;<br /> (3) kemungkinan disebabkan oleh adanya perguruan tinggi swasta sebagai pencetak guru yang lulusannya asal jadi tanpa mempehitungkan outputnya kelak di lapangan sehingga menyebabkan banyak guru yang tidak patuh terhadap etika profesi keguruan; <br />(4) kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kualitas diri karena guru tidak dituntut untuk meneliti sebagaimana yang diberlakukan pada dosen di perguruan tinggi. <br /> ( Ani M Hasan, dalam Artikel Pendidikan Network, 2003 )<br />Rasionalisasi <br />a. Kependidikan menurut pendapat Piet A Suhertian (1982 ) secara sederhana sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam tujuan dari pendidikan itu sendiri di mana tujuan pendidikan pada umumnya untuk memperoleh adanya :<br /> (1) Kematangan intelektual (kemampuan mengarahkan diri, memiliki wawasan belajar dari pengalaman hidup, kemampuan mengembangkan inisiatif, inovasi serta kreatifitas diri untuk menggapai kemandirian hidup). <br />(2) Kematangan emosional ( memiliki kemampuan untuk santai, gembira menyatakan perasaan, percaya diri penuh semangat.<br /> (3) Kematangan sosial (kemampuan berinteraksi, selalu terdorong untuk berpartisipasi dalam suasana harmonis , realita sosial,serta kemampuan kepemimpinan <br /> (4) Kematangan moral dan tanggung jawab (kemampuan kerja dan semangat bekerja , jujur serta sanggup memperjuangkan nilai-nilai kehidupan, berdisiplin tinggi, kemampuan mengambil keputusan penuh keadilan dan kebijakan. <br /> Merujuk pada ketetapan MPR nomor II/ MPR/ 1988 untuk menggambarkan lebih luas sejalan dengan uraian diatas, secara tegas menuangkan tujuan pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila bertujuan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras,tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan trampil serta sehat jasmani dan rohani. <br />b. Ali Saifullah, 1980 : 79 memaparkan tentang beberapa konsep pendidikan sebagai berikut::<br />Education is the getting dan giving of knowledge so as to pass on our culture from one generation on the next ( pendidikan adalah kegiatan memperoleh dan dan menyatakan menyampaikan pengetahuan sehingga memungkinkan transisi kebudayaaan kita dari generasi yang satu kepada yang berikutnya.<br />Education is the process by which the individual is taught loyalty and conformity by which the human mind is disciplined and developed (Pendidikan adalah proses dengan mana individu diajar bersikap setia dan taat dengan mana pikiran manusia ditewra dan dibina.<br />Education is process of a growth in which the individual is helped to the developed his power, his talents, his ability and his interests (Pendidikan adalah suatuproses pertumbuhan didalam mana individudu diberi pertolongan untuk mengembangkan kekuatan, bakat kemampuan dan minatnya)<br />Education is that reconstruction ad reorganization of experiences and which increases ability to direct to the course of subsequent experiences ( Pendidikan adalah pembangunan kembali atau penyusunan kembali pengalaman, sehingga memperkaya arti perbendaharaan pengalaman yang dapat mengikat kemampuan dalam menentukan arah tujuan pengalaman selanjutnya)<br />Education is the process by which a person is adjusted to those elements of environment which are of concern in mocern life so as to prepare his successful adult living ( pendidikan adalah proses dengan mana seseorang diberi kesempatan menyesuaikan diri terhadap aspek-aspek kehidupan lingkungan yang berkaitan dengan kehidupan modern untuk mempersiapkan agar berhasil dalam kehidupan orang dewasa) <br />c. Suatu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa perkembangan Iptek serta informasi yang pada akhirnya muncul muncul berbagai penemuan baru di segala bidang kehidupan. Dan atas berkat rahmat Allah SWT, manusia diberikan akal dan pikiran. Hasil pikiran manusia telah mengubah wajah dunia, dimana kegiatan manusia untuk mengetahui segala sesuatu yang ada di dunia ( alam semesta tidak hanya bumi) ini adalah semata-mata perintah Allah, bahkan Allah SWT berfirman: “ Orang-orang yang berilmu pengetahuan (dengan beriman) lebih tinggi derajadnya dibanding dengan yang tidak berilmu pengetahuan ( Alqur’an Surat Al Mujadalah ayat 11 dan Azzumar ayat 9). Hal ini berarti bahwa apabila manusia berusaha menuntut ilmu pengetahuan berarti ia telah melaksanakan perintah Allah. <br />d. Berdasarkan uraian-uraian di atas tentang fungsi, makna, tujuan dan konsep pendidikan dapat dijadikan acuan teoritis unutuk mengetahui sejauh mana kinerja supervisor dan profesi Guru. Namun, apabila kita semua yang terlibat dalam penyelenggaraan Kependidikan menengok beberapa tahun sebelumnya dapat dipastikan merasakan adanya kemerosotan pendidikan kita yang sudah terasakan selama bertahun-tahun, untuk kesekian kalinya kurikulum dituding sebagai penyebabnya adalah adanya upaya mengubah kurikulum mulai kurikulum 1975 diganti dengan kurikulum 1984, kemudian diganti lagi dengan kurikulum 1994. <br />e. Nasanius (1998) mengungkapkan bahwa kemerosotan pendidikan bukan diakibatkan oleh kurikulum tetapi oleh kurangnya kemampuan profesionalisme tenaga kependidikan atau guru dan keengganan belajar siswa. <br /> f. Sumargi, (1996) menyatakan bahwa Profesionalisme sebagai penunjang kelancaran guru dalam melaksanakan tugasnya, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar yaitu faktor internal yang meliputi minat dan bakat dan faktor eksternal yaitu berkaitan dengan lingkungan sekitar, sarana prasarana, serta berbagai latihan yang dilakukan guru.(Sumargi, 1996), Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa: “Profesionalisme guru dan tenaga kependidikan masih belum memadai utamanya dalam hal bidang keilmuannya”. Ia pun memberikan contoh nyata, misalnya guru Biologi dapat mengajar Kimia atau Fisika. Ataupun guru IPS dapat mengajar Bahasa Indonesia. <br />g. Dahrin, (2000). Menyatakan bahwa Jumlah tenaga pendidik secara kuantitatif sudah cukup banyak, tetapi mutu dan profesionalisme belum sesuai dengan harapan. Banyak diantaranya yang tidak berkualitas dan menyampaikan materi yang keliru sehingga mereka tidak tahu apa yang mereka sampaikan atau kurang mampu menyajikan dan menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar berkualitas <br />Dari uraian pendapat para ahli tersebut diatas dapat dijadikan acuan dalam melakukan pengkajian dalam membuka tabir kinerja Penyelia dan profesi guru. Dimana kita telah memasuki abad 21 yang banyak kalangan para ahli menyebutnya sebagai abad Pebgetahuan. Dan di abad ini sudah mulai kita merasakan perubahan perkembangan Ilumu Pengetahuan dan Teknologi serta Informasi yang multidimensional, yang merasakan dampak langsung adalah dunia pendidikan. <br />BAB II.<br /> KAJIAN KHUSUS <br />Kinerja profesi Guru<br />Pengertian Kinerja<br />a. Hoy & Miskel, (1978) mengungkapkan bahwa : Kinerja merupakan kemampuan dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan yang sesuai dengan sikap, pengetahuan tugas dan keterampilan serta motivasi kerja. Kinerja memilki beberapa karakteristik antara lain: 1) Melaksanakan tugas sesuai dengan harapan organisasi 2)Personal yang menggunakan peralatan yang tersedia 3) Personal mempunyai semangat tinggi 4)Personal mempunyai hubuingan baik dengan atasan maupun dengan teman sejawatnya 5) Personal dapat mengatasi maslah masalah yang berkaitan dengan tugas tugas rutin yang dilaksanakan setiap hari <br />b. Eysench, wurburg dan Meili, 1972, menyatakan bahwa pengertian kinerja dapat disamakan dengan performance. Kinerja/performance adalah hasil kerja yang dapat dicapai seseorang atau sekelompok orang lain dalam suatu organisai sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing masing dlam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika( Purwanto, 1999). <br />c. Kemudian Tempe A Dale, 1992 lebih jauh mengungkapkan bahwa pengertian kinerja adalah hasil dari fungsi pekerjaan aatu kegiatan tertentu di dalamnya mencakup tiga aspek antara lain: 1) Kejelasan tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawab, 2)Kejelasan hasil yang diharapkan dari suatu pekerjaan atau fungsi 3) Wktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau hasil diharapkan dapat terwujud. Snell dan Wexley (1992) menyatakan bahwa kinerja merupakan kulminasi dari elemen elemen yang saling berkaitan yakni : ketrampilan, upaya sifat keadaan dan kondisi external. Ketrampilan merupakan bahan mentah yang dibawa oleh seseorang ketempat kerja berupa pengalaman, kemampuan kemampuan, kecakapan kecakapan interpersonal serta kecakapan teknik. Sedangkanelemen upaya sifat keadaan dapat diartikan sebagai motivasi yang diperlihatkan seseorang dalam menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian kondisi eksternal dapatt diartikan sebagai kondisi yang berasal dari luar seseorang untuk mendukung produktivitas kerja. <br /> Jadi “Kinerja Penyelia” sangatlah erat kaitannya dengan bagaimana penyelia itu sendiri melaksanakan fungsi utama keprofessionalannya sebagai berikut :<br /> 1. merencanakan kegiatan supervise terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh para guru yang merupakan supervise kunjungan kelas <br /> 2. memberikan masukan bimbingan dan atau saran kepada guru yang melaksanakan kegiatan belajr mengajar serta memberikan penilaian yang obyektif <br />3. Melaksanakan hubungan antar pribadi atau antar sesama maupun kelompok yang disupervisi <br /> 4. mengadakan penilaian terhadap jalannya penyelenggaraan pendidikan di sekolah<br /> d. Sejalan dengan fungsi tersebut diatas, A. Qodri A. Azizy (Juli 2003) mengungkapkan bahwa untuk mengetahui sejauh mana kinerja Penyelia, maka perlu memperhatikan hal- hal pokok akan keberhasilan atau tidaknya upaya kinerja penyelia dimaksud dengan memperhatikan masalah-masalah kemungkinan yang akan terjadi sebagai berikut: <br /> 1. Masalah wawasan dan kemampuan profesionalnya 2. masalah persiapan prangkat supervisi 3. masalah hubungan kerja sama pnyelia dengan guru dan atau sesama penyelia, mitra kerja lainya termasuk kepala sekolah. 4. masalah hubungan tri pusat pendidikan ( sekolah, keluarga dan masyarakat) 5. masalah aktifitas dan kehadiran penyelia ke sekolah sekolah dan ke luar lingkungan sekolah 6. masalah kemajuan dan upaya keikutsertaan dalam peningkatan mutu pendidikan ( pelatihan/penataran guru ) 7. masalah sarana dan prasaran fasilitas penyelia 8. masalah strategi, metodologi dan teknik supervisi <br /> e. Berdasarhan pendapat pendapat diatas, maka dapatlah memperoleh gambaran bahwa Kinerja penyelia dapat pula diartikan sebagi unjuk kerja seorang penyelia yang diharapkan dapat menampilkan diri melaksanakan fungsinya dan peranannya terutama sebagai orang yang melaksanakan supervisi pendidikan sebagaimana telah diuraikan diatas dan dapat ditarik kesimpulan sebagaimana juga diungkapkan oleh Qodri A Azizy (2003) menyatakan bahwa keberhasilan kinerja penyelia dengan kemampuan profesional nya sebagai berikut : (1) Penyelia harus memiliki kemampuan dalam penguasaan bidang tugasnya (2) penyelia harus memilki kemampuan penguasaan landasan profesional keguruan dan pendididkan (3) Penyelia harus memiliki kemampuan dan penguasaan proses belajar mengajar lebih baik dari pada guru . (4). Penyelia harus memiliki kemampuan dalam menguasai kondisi (5) Penyelia memilki wawasan dan kepribadian yang matang<br />Pengertian Profesi Guru <br /> a. Qodry A. Azizy ( 2003: 24) mengungkapkan bahwa guru menempati peranan yang suci dan mulia dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Peranan ini dapat diemban apabila guru memilki tingkat kemampuan profesionalnya yang tinggi. Keprofesionalnya tidak dapat diukur dari kemampuan atau Ketrampilan intelektualnya melainkan pula harus memilki keunggulan dalam aspek moral, keimanan dan ketaqwaan, disiplin yang tinggi, tanggung jawab serta keleluasaan wawasan kependidikannya dalam mengelola kegiatan pembelajaran, juga memiliki keleluasaan pendidikan yang bercirikan tumbuhnya semangat keterbukaan dalam profesi yang diembannya. Keleluasaan dan diversifikasi layanan berdasarkan tugas profesionalnya juga menjadikan persyaratan ,dan persyaratan yang lain yang harus dimiliki adalah sebagai berikut: (a) . Sudah dewasa (b) Sehat jasmani dan rohani (c). Mempunyai kompetensi yang cukup (d). Memilki keahlian dalam mendidik dan mengajar (e). Bermoral serta berdedikaisi tinggi. Selanjutnya Qodri mengutip pendapat Zakiah Darajat yang mengkolaboasikan peranan guru dengan persyaratan untuk menjadi guru dititikberatkan pada” Bermral dan berdedikasi tinggi”, mengandung pengertian : (a). Mentaati jabatanna sebagi guru (b). Bersikap adil terhadap semua muridnya (c). Berlaku sabar dan tenang (d). Berwibawa (e). Gembira (f). Bersifat manusiawi (g) Bekerja sama dengan masyarakat. Dalam pendapatnya juga menyatakan bahwa tidak mmudah mengetahui guru mana yang memiliki peranan yang suci dan mulia tersebut kendati memilki persyaratan pokok sebagaimana diuraikan diatas. <br /> b. Selanjutnya Qodri mengutip pendapat Muhammad Yunus (2003), di samping memiliki persyaratan di atas peranan guru harus pula memilliki persyaratan sebagai berikut : (a). Kasih sayang kepada anak didiknya (b) lemah lembut (c) Rendah diri (d). Menghormati yang bukan pegangannya (e). Besikap dan berlaku adil (f ). Menyenangi ijtihad (g). Konsisten (h). Sederhana. Lebih jauh ia mengungkapakan bahwa peran guru sebagai pelaksana pendidikan disekolah tentunya dapat memenuhi persyaratan persyaratan tersebut dan diharapkan mampu mendorong , memotivasi para peserta didiknya untuk aktif terhadap kegiatan kegiatan belajarnya. Mutu dan hasil belajar murid sangat tergantung bagaimana guru berperan dalam mempersiapkan kemasan pelajaran dan metodologi yang digunakannya. Guru dan siswa yang memilki kualiotas sehat jasmani dan rohani yang andal secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pula prilaku yang ditunjukkan oleh masing-masing individu kendati setiap individu memilkii potensi/ kemampuan dasar yang berbeda- beda. Jika individu benar- benar memperhatikan faktor kesehatan jasmani dan rohaninya akan menjadi motivasi dalam kegiatan belajar mengajar dan prestasinya akan mendekati optimal sesuai dengan kemampuan dan tingkat kecerdasan masing-masing dalam hal ini berlaku bagin semua guru dan siswa yang melakukan kegiatan belajar mengajar.<br /> Profesi guru:<br />Guru yang profesional tentunaya memiliki tingkat berfikir kreatif, inovatif dan madani serta memilki komitmen tinggi terhadap tugasnya, selalu menjunjung tinggi citra profesi guru, serta memiliki kemampuan dan ketrampilannya sesuai dengan bidang tugasnya.<br />Kosenu Weight (1981) menyatakan bahwa guru memiliki tingkat kemamppuan berbeda-beda: 1. Guru yang tigkat kinerjanya rendah memiliki ciri-ciri sebagaii berikut: <br />a) Taidak memikliki kemampuan melaksanakan tugas mengajar sesuai progaram yang telah disusunya b) tiodak memilki kemampuan menemukan program pengajaran c) tiadak memiliki kemampuan dalam melaksanakan program hasil belajar siswa 2. Guru yang tinggat kinerjanya tinggi memiliki karakteristik sebagai berikut: a) memilki kemampuan merencanakan progaram pengajaran b). Memilki kemampuanmelaksanakan tugas mengajar sesuai program yanag telah disusunnya. c) memilki kemampuan melaksanakan evaluasi belajar. <br /> Persyaratan guru yang profesional sebagaimana diungkapkan oleh Usman (2001 ) adalah : 1) Menuntut adanya aketerampilan berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam 2) Memilki keahlian di bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya 3) Memiliki kelayakan pendidikan 4) Memilki kepekaan terhadap dampak yang terjadi di masyarakat dari pekerjaan yang dilaksanakan 5) Sejalan dengan pengemabangan dinamika kehidupan 6) Memilki kode etik sebagaia acuan melaksanakan tugas dan fungsinya. 7) Memilki objek layanan yang tetap 8) Diakui oleh masyarakat karena diperlukan jasanya. Untuk menjadi guru yang profesional dituntut memilki persyaratan tersebut di atas. Hal ini dimaksudkan bahwa guru mampu bekerja dengan baik sesuai dengan tuntutan pekerjaannya dan norma – norma yang berlaku, memilki kemampuan teoritis dan praktis serta motivasi kerja., di samping itu juga memilki kemampuan melaksanakan fungsi khusus yaitu membuat dan melaksanakan keputusan-keputusan dalam pembelajaran peserta didik memiliki dedikasi yang tinggi penuh tanggung jawab mengutamakan nilai kemanusiaan daripada nilai material. Jabatan guru secara hakiki adalah panggilan untuk melayanuin peserta didiknya yang diserahkan tanggung jawab kepada mereka, suka atau tida suka guru harus sanggup untuk bersikap profesional yang meliputi: (a)Pengetahuan mereka terhadap murid yang dibimbingnya, (b). Terhadap pelajaran yang diajarkan (c). Keterampilan guru dalam memotivasi dan membimbing cara murid belajar. (d)Kecakapan dalam menerangkan dan menyesuaikan pelajaran dengan kemapuan anak mulai dari anak yang lambat sampai anak yang pandai (e).Cara menilai hasil belajar anak (f). Cara menangani masalah disiplin (g)Cara menilai pertumbuhan dan perkembangan anak. (h) Cara mengikutsertakan anak dalam merencanakan kegiatan belajar. dan car berkomunikasi dengan orang tua. <br /> c. Qodry A. Azizy ( 2003: 24) mengungkapkan bahwa guru menempati peranan yang suci dan mulia dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Peranan ini dapat diemban apabila guru memilki tingkat kinerja dan kemampuan profesionalnya yang tinggi. Kemampuan dan kinerja profesionalnya tidak dapat diukur dari kemampuan atau kinerja intelektualnya melainkan pula harus memilki keunggulan dalam aspek moral, keimanan dan ketaqwaan, disiplin yang tinggi, tanggung jawab serta keleluasaan wawasan kependidikannya dalam mengelola kegiatan pembelajaran, juga memiliki keleluasaan pendidikan yang bercirikan tumbuhnya semangat keterbukaan dalam profesi yang diembannya. Keleluasaan dan diversifikasi layanan berdasarkan tugas profesionalnya juga menjadikan persyaratan ,dan persyaratan yang lain yang harus dimiliki adalah sebagai berikut: (a) . Sudah dewasa (b) Sehat jasmani dan rohani (c). Mempunyai kompetensi yang cukup (d). Memilki keahlian dalam mendidik dan mengajar (e). Bermoral serta berdedikaisi tinggi. <br /> d. Selanjutnya Qodri mengutip pendapat Zakiah Darajat yang mengkolaboasikan peranan guru dengan persyaratan untuk menjadi guru dititikberatkan pada” Bermral dan berdedikasi tinggi”, mengandung pengertian :<br /> (a). Mentaati jabatanna sebagi guru <br /> (b). Bersikap adil terhadap semua muridnya <br /> (c). Berlaku sabar dan tenang <br /> (d). Berwibawa<br /> (e). Gembira <br /> (f). Bersifat manusiawi <br /> (g) Bekerja sama dengan masyarakat. <br /> Adanya perkembangan iptek dan informasi secara otomatis akan merubah sifat- sifat pekerjaan dan keterampilan para penyelenggara pendidikan. Dan guru yang profesional harus memilki kemampuan tentang konsep konsep analisis kebutuhan (needs analysis), materi dan model model pembelajaran (matrial and model of learning) supervisi yang bersifat6 preventif (preventive supervision) yang berarti bahwa penyelia bertugas unutuk mengemukakan kesulit, validitas dan reabilitas evaluasi ( validity and reability of evaluation). Guru yang profesional hendaknya memiliki kompetensi dasar : 1) Landasan landasn kependidikan 2) Penguasaan fungsi layanan BP/BK 3) Penyusunan administrasi sekolah 4) Kreatifitas penelitian untuk kepentingan pembelajaran 5) Kemampuan pengelolaan KBM 6) Kemampuan pengelolaan kelas 7) Kemampuan penggunaan media 8) Kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar 9) Kemapuan menilai prestasi siswa dan 10) kemampuan menguasai bahan (Zakiyah Derajat ) <br /> e. Piet A Sahertian , 1982) mengungkapkan bahwa guru memilki posisi strategis sebagai faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil penyelenggraaan pendidikan , namunsangat dipengaruhi oleh kemampuan profesional, mutu dan kinerjanya. Pemantauan, observasi dan kegiatan supervisi para penyelia sangatlah diperlukan untuk mengetahui sejauh mana persiapan guru dalam mempersiapkan peserta didiknya melaui kegiatan belajar mengajarnya. Apabila guru mengalami kesulitan/ hambatan maka peran penyelia yang harus memberikan masukan , motivasi, agar guru berkemampuan mengikuti perkembnangan ilmu pengetahuan dan teknologi mdan informasi, fungsi penyelia di sini sebagai fasilitator bukan sebagai penyelia yang diktator. Penyelia maupun guru tidak memiliki jabatan struktural namun sama sama memilki jabatan fungsional . Idealnya penyelia hendaknya memilki kemampuan profesional lebih dari guru, akan tetapi disadari bahwa setiap individu berada pada tingkat kemampuan kinerja yang berbeda- beda, perbedaan yang dimaksud disebabkan oleh 1) Latar belakang kebudayaan 2) Latar belakang kecakapan hidup (life skills) 3). latar belakang pengalaman, kreatifitas diri, berfikir untuk masa depan, situasi dan emosional yang dialami setiapindividu 4) Latar belakang sosial (bekerja sama, kooperatif, bertanggung jawab, demokratis, menstimulir setiap anggota kelompok untuk bekerja sama 5) Latar belakang sosiologis (keadaan physik, perkembangan pribadi, interaksi sosial, perkembangan keadaan keluarga, sekolah dan lingkungan daerahnya, keberadaan sosial ekonomi 6) Latar belakang pertumbuhan jabatan fungsional (penganalisaan situasi belajar mengajar, menerapkan prinsip prinsip psikologi modern dalam pembelajaran, pengetahuan tata cara bekerja sama <br /> f. Sementara Makagiansar (1996) mengungkapkan bahwa memasuki abad 21 pendidikan akan mengalami pergeseran perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma: <br /> (1) dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat, (2) dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik, (3) dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan, (4) dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan fokus pendidikan nilai, (5) dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buat teknologi, budaya, dan komputer, (6) dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja, (7) dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama. Dengan memperhatikan pendapat ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif<br /> g. Medley dalam depdikbud (1984) secara lebih spesifik menjelaskan tentang efektifitas guru sebagai berikut: (a).Guru yang efektif adalah mereka yang memilki pribadi kooperatif, daya tarik, penampilan, minat besar, pertimbangan dan kepemimpinan. (b).Guru yang efektif adalah mereka yang menguasai metode mengajar yang baik. (c).Guru yang efektif adalah mereka yang memilki tingkah laku yang baik saat mengajar. (d).Guru yang efektif adalah guru yang menguasai berbagai kompetensi dalam mengajar. Sejalan dengan pendapat Medley tersebut di atas, supervisi yang bersifat kreatif membantu guru dengan menekankan pada kebebasan agar guru guru dengan kemampuan berfikirnya dapat mencapai hasil dengan lebih efektif sebagaimana dimaksud, kebebasan dalam batas batas keterlibatan untuk mengembangkan daya kreasi dan daya karya, di mana fungsi supervisi memberi rangsangan untuk menimbulkan daya kreatif guru dengan cara memelihara kerja sama yang erat dan harmonis Sasaran dari seorang supervisor adalah pelaksanaan supervisi yang ditujukan kepada usaha memperbaiki situasi belajar mengajar, situasi dimana terjadi proses interaksi antara guru dan murid dalam mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan. <br /> h. Alexander dan Saylor dalam bukunya Dictionary of Education (8; 1442); “supervisor has become a program of in service education cooperative group development, while they difine “ supervision is all efforts of disignated school official toward providing leadership to teachers and other educational workers in the improvement and professional growth and development of teachers, the selection and revision of educational objective, materials of instruction, sebagaimana yang dikemukakan Stiles dan Horsley (1998) dan NRC (1996) bahwa ada empat standar standar pengembangan profesi guru yaitu; (1) Standar pengembangan profesi A adalah pengembangan profesi untuk para guru sains memerlukan pembelajaran isi sains yang diperlukan melalui perspektif-perspektif dan metode-metode inquiri. Para guru dalam sketsa ini melalui sebuah proses observasi fenomena alam, membuat penjelasan-penjelasan dan menguji penjelasan-penjelasan tersebut berdasarkan fenomena alam; (2) Standar pengembangan profesi B adalah pengembangan profesi untuk guru sains memerlukan pengintegrasian pengetahuan sains, pembelajaran, pendidikan, dan siswa, juga menerapkan pengetahuan tersebut ke pengajaran sains. Pada guru yang efektif tidak hanya tahu sains namun mereka juga tahu bagaimana mengajarkannya. Guru yang efektif dapat memahami bagaimana siswa mempelajari konsep-konsep yang penting, konsep-konsep apa yang mampu dipahami siswa pada tahap-tahap pengembangan, profesi yang berbeda, dan pengalaman, contoh dan representasi apa yang bisa membantu siswa belajar; (3) Standar pengembangan profesi adalah pengembangan profesi untuk para guru sains memerlukan pembentukan pemahaman dan kemampuan untuk pembelajaran sepanjang masa. Guru yang baik biasanya tahu bahwa dengan memilih profesi guru, mereka telah berkomitmen untuk belajar sepanjang masa. Pengetahuan baru selalu dihasilkan sehingga guru berkesempatan terus untuk belajar; (4) Standar pengembangan profesi D adalah program-program profesi untuk guru sains harus koheren (berkaitan) dan terpadu. Standar ini dimaksudkan untuk menangkal kecenderungan kesempatan-kesempatan pengembangan profesi terfragmentasi dan tidak berkelanjutan.<br /> i. Wirawan, memilki pandangan tentantang suatu profesi yang merupakan suatu pekerjaan, profesi menentukan prasyarat/ persyaratan tertentu sebagai berikut:<br /> (a).Pekerjaan penuh, suatu profesi merupakan pekerjaan penuh artinya pekerjaan yang diperlukan oleh masyarakat atau perorangan, tanpa pekerjaan masyarakat akan mengalami kesulitan, Profesi merupakan pekerjaan yang mencakup tugas fungsi kebutuhan, aspek atau bidang tertentu dari anggota masyarakat secara keseluruhan. (b).Ilmu pengetahuan profesi memerlukan ilmu pengetahuan atau sains tertentu, ialah satu persyaratan ilmu pengetahuan adalah teori. Suatu teori berfungsi menjelaskan dan meramalkan suatu fenomena. Teori ilmu pengetahuan mengarahkan bprofesional dalm mengambil langkah langkah yang diperlukan dalam melaksanakan teori. Pelaksanaan pekerjaan hanya memewrlukan keterampilan bukan ilmu pengetahuan yang merupakan kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik sebagi hasil dari pengalaman praktek. (c).Aplikasi ilmu pengetahuan dimaksud adalah penerapan teori teori ilmu pengetahuan untuk membuat sesuatu, mengerjakan sesuatu atau memcahkan sesuatu yang diperlukan, identik dengan profesi yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan untuk mengerjakan, menyelesaikan atau membuat sesuatu.(d).Lembaga pendidikan profesi, ilmu pengetahuan yang diperlukan oleh profesional untuk melaksanakan profesinya harus dipelajari dari lembaga pendidikan tinggi khusus mengerjakan, menerapkan dan meneliti suatu pengembangan ilmu tersebut. Profesional harus mengikuti pendidikan, lulus ujian dan berijazah lembaga pendidikan tinggi.(e).Prilaku profesional harus memenuhi persyaratan tertentu yaitu mengacu kepada ilmu pengetahuan , orientasi kepada interest masyarakat bukan interest pribadi, mengendalikan prilaku diri sendiri dengan menggunakan kode etik. Imbalan atau kompensasi uang atau kehormatan merupakan simbol prestasi kerja bukan tujuan dari profesi. (f).Standar profesi, mengarah pada profesi yang lebih baik, memungkinkan pengembangan teori pelatihan yang lebih baik, menyediakan alat ukur, kompromi dalam desain profesi tidak akan merusak profesi tersebut. Kemudian<br />Kompetensi Guru<br /> Kompetensi artinya sangat identik dengan kemampuan dan Kemampuan setiap individu didasari oleh Ketramp[ilan, dan kemampuan kognitif/ kecerdasan , kemampuan psikomotorik/ aktuatif dan kemampuan afektif . LM. Tauhid (1987 : 7 ) ia juga berpendapat bahwa pengembangan Ketrampilan dan kemampuan kogniti, psikomotor, dan afektif harus dilandasi oleh Budi Pekerti yang tinggi dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sehingga para individu dapat mencapai kualitas IPTEK dan IMTAQ yang handal , ditandai dengan kematangan emosional, intelektual, kematangan social serta kematangan moral dan tanggung jawab. <br />Kompetensi- Kompetensi Dasar<br /> Untuk mengukur tinggi rendahnya atau berhasil tidaknya kemampuan Kinerja Penyelia dan Profesi guru dipersyaratkan memiliki kompetensi dasar sebagai mena diungkapkan oleh Piet A Suhertian ( 1982 ) antara lain : <br /> 1 Kompotensi kebudayaan (cultural competence)<br /> Kebudayaan yang berbeda sangat mempengaruhi lapangan gerak pendidikan dan pengajaran. Robert L. Chapman (1992; 235) mendefinisikan tentang kebudayaan sebagai berikut” culture is the training and development of mind, the social and religious structure and intellectual, artistic manifestations that characterize a society ( kebudayaan adalah pelatihan dan pengembangn pikiran, tentang tatanan social dan keagamaan serta manifestai dari seni intelektual yang bercirikan keberadaan suatu masyarakat. Ia mendefinisikan pula tentang kompetensi sebagai berikut:” competence is sufficient ability, a modest income, enough to live on, legal capacity or qualification (kompetensi adalah pemenuhan kemampuan, cara pemahaman , sifat mandiri, diakui kualitas dan kapasitasnya). Dari uraian di atas apabila didefinisikan secara terpadu antara kompetensi dan kebudayaan dimaksud mengandung pengertian bahwa adanya perbedaan kebudayaan akan sangat tergantung pada sejauh mana kemampuan individu mengembangkan fikiran tentang tatanan social dan atau keagamaan serta sifat mandiri yang didasari oleh seni dan intelektualitas diakui secara syah akan kapasitas, kualitasnya berada dalam suatu masyarakat. Saat ini kebudayaan sedang mengalami suatu perubahan, pencampuran antara factor-faktor intern dan ekstern, disebabkan oleh hasil budi fikiran manusia yang semakin maju dan kompleks. Sekolah sebagai salah satu pusat kebudayaan, bertugas dan bertanggung jawab memilah dan memilih serta menyeleksi unsure-unsur negative dari pengaruh perubahan kebudayaan, mengambil unsure-unsur positif berdasarkan norma-norma yang berlaku unutk tidak tergeser atau digeser, sehingga seorang supervisor wajib memiliki kompetensi kebudayaan.<br /> 2. Kompetensi filosofis (Phylosophics competence)<br />Adanya perubahan kebudayaan diakibatkan oleh daya cipta, karsa, budi, jasa manusia yang semakin berkembang. Kontinuitas berfikir di dalam memperbaiki dan mengembangkan kecakapan untuk berfikir, merencanakan dan berbuat sebagai usaha –usaha nyata mengisi kebutuhan didasari atas penafsiran, pengalaman hasil interaksi antara organisme dan keadaan sekitar, hal ini disebut kompetensi filosofis yang ditandai dengan daya kreasi dan dinamika kehidupan , mau tidak mau dibutuhkan daya koordinasi dan penyusunan rencana-rencana mengatur interaksi yang lazim dijadikan salah satu dasar kecakapan/ kemampuan/ kompetensi filosofis yang sangat diperlukan oleh seorang supervisor dalam melaksanakan supervisi<br /> 3. Kompetensi psikologis (Psychological competence)<br />Kegiatan mencoba melaksanakan arti dari suatu peristiwa atau situasi dalam mengembangkan pengalaman untuk dapat mengetahui cara pemecahan masalah yang timbul sekarang dan masa yang akan datang didasari oleh pengalaman masa lalu memperluas wawasan untuk memperaktekkannya. Hal ini merupakan arti dari kompetensi psikologis, dimana supervisor harus memiliki kompetensi tersebut dalam melaksanakan kegiatan supervisi.<br /> 4. Kompetensi Sosial ( Social competence)<br />Menghargai pendapat orang lain, saling tolong menolong, memberi kebebasan pada orang lain untuk bekerja dengan penuh rasa aman merupakan ciri kehidupan masyarakat demokratis, hal ini merupakan dasar kehidupan sosial, apabila diartikan lebih mendalam jelaslah bahwa kemampuan bekerja dengan komitmen pada tiap kelompok untuk merealisasikan potensi-potensi dalam memecahkan setiap problema dengan cara mengikutsertakan pendapat orang lain dapat diartikan pula sebagaimana disebut kompetensi sosial.<br /> 5. Kompetensi Sosiologis (Sociological competence)<br />Perkembangan seseorang terhadap melalui kondisi sosial berupa hubungannya dengan faktor kebudayaan yang mempunyai pengaruh dari tindakan usahanya tidak saja berdasrkan apa yang dibawa sejak lahir, tetapi bergantung kepada perlengkapan physik, dengan kata lain keberadaan manusia dikembangkan melalui belajar, bagaimana kepribadiannya di dalam berinteraksi pengembangan kebudayaan, keluaraga kelompok bermain, kelompok kerja, sekolah, daerah lingkungannya, sosial ewkonomi dimana ia berada. Kompetensi pribadi itu berkembang dalam situasi di mana pengaruh perkembangan masyarakat yang dapat menimbulkan kontak sosial dan komunikasisecara langsung maupun tidak langsung sehingga dapat membantu sekolah dalam mebina peserta didiknya, dan secara bersama-sama menaruh perhatian khusus terhadap perkembangan intelektualitasnya, emosinya.<br /> 6. Kompetensi Pertumbuhan Jabatan.<br /> (Professional growth competence) Seseorang supervisor yang memiliki kompetensi pertumbuhan jabatan dapat menggunakan hasil temuan barunya, mengembangkan pengetahuan untuk memberikan kesempatan kepada guru untuk belajar dengan maksud agar seorang supervisor di lapangan dapat: (1) menguasai sauatu bidang khusus dan pengetahuan (khusus). (2) Membina perkembangan pengetahuan sesuai dengan latar belakang/kelayakan profesi yang dimiliki. (3) Mengerti akan tugas-tugas sosial dan potensi kemanusiaan (4).Membina rasa tanggung jawab dan kemampuan unutuk menggunakan waktu dan energi <br /> Kompetensi Kinerja Profesionalisme Guru<br />SK Menpan No. 118/1996 BAB II pasal 3 ayat (1)” Tugas pengawas Pendidikan Adgama Islam adalah menilai dan membina teknis pelaksanaan pendidikan Agama Islam di sekolah umum dan penyelenggara pendidikan di Madarasah baik negeri maupun swasta yang menjadi tanggung jawabnya.”<br /> 1. H. Abdul Aziz, MA, menyatakan bahwa tujuan dan atau fungsi pengawasan adalah suatu kegiatan tetap yang sejenis dilakukan oleh supervisor untuk mengenal, memantau, mengarahkan, menilai dan melaporkan sebagaimana halnya pengawas pendidikan agama Islam pada pendidikan menengah yaitu: <br /> (1) mengenal seluk beluk pengawasan dan kondisi medan di lingkungan wilayah pengawasannya (2) Memantau pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilakukan Guru Pendidikan Agama Islam pada SMA dan SMK. (3) Memantau penggunaan sarana dan kurikulum Pendidikan Agama Islam di SAMA dan SMK (4) Memantau lingkunagna sekolah dalam kehidupan beragama . (5) Memantau faktor penghambat dan pendukung pelaksanaan pendidikan agama Ioslam pada SMA dan SMK (6) Memeriksa ketentuan yang berlaku dengan ketentuan yang ada (7) Mengarahkan kegiatan guru pendidikan agama islam pada SMA dan SMK kepada sasaran memperbaiki penyimpangan-penyimpangan yang ditemui. (8) Menilaiwawasan ,kemampuan profersional dan kerjasama guru pendidikan agama Islam pada SMA dan SMK dalam melaksanakan proses belajar mengajar (2002: 11)<br /> 2. Yusuf A. Hasan dan Muhamad Idrus (2002 :5-7) dalam bukunya “ Pedoman Pengawasan”, mengungkapkan bahwa ada tiga strategi utama yang dapat ditempuh pengawas agar pengjaran menjadi efektif: <br /> (1). Mengupayakan agar guru lebih bersungguh-sungguh dan bekerja lebih keras dan bersemangat dalam mengajar. (2).Mengupayakan agar sistem pengajaran ditata sedemikian rupa sehingga berlaku prinsip belajkar tuntas, dalam arti guru harus benar-benar berupaya agar benar-benar mengetahui apa yang diajarkan. (3) Diupayakan agar terdapat penekanan terhadap guru untuk mencapai tujuan pengajarannya yang disertai dengan “Support”,<br /> 3. Tinjauan Tentang Supervisor dan kompetensinya menurut pendapat Pidarta ( Januari 1999; 76 -103) mejelaskan bahwa:<br /> (3.1).Supervisor menurut pengertian tradisional adalah membina guru-guru memberikan penjelsan tentang tugas tugas guru dan berusaha meningkatkan prestasi kerjanya. Supervisor juga harus melakukan dan memahami kurikulum dengan segala segi dan isinya, sebab tugas-tugas sebagian besar para guru berhubungan dengan kurikulum.<br /> (3.2).Supervisor menurut pengertian baru adalah hanya atasan langsung dari para guru dan personalia lainnya yang berhubungan dengan proses belajar mengajar dari para siswa, mereka adalah pejabat lini terdepan atau administrator pejabat terdepan staf dan pejabat fungsional terdepan. <br /> (3.3) Pengertian supervisor dikatagorikan sesuai menurut asal dan tempatnya. Katagori ini berupa: a. Kepala sekolah atau direktur yang bertugas mengatur seluruh aspek kurikulum yang berlaku di sekolah itu, agar berjalan dengan lancar sehingga dapat memberikan hasil sesuai dengan tugas-tugas yang telah ditentukan, kepala sekolah atau direktur juga bertugas mengatur tentang aspek kurikulum yang terdiri dari: (a) Materi pelajaran . (b).Proses belajar mengajar (c). Evaluasi kurikulum (d) Pengelolaan kurikulum. (e). Pengembangan kurikulum.<br /> b. Wakil kepala sekolah atau asisten direktur yang bertugas membantu pekerjaan kepala sekolah dalam bidang supervisi. <br /> c. Para ketua pembantu proses belajar mengajar yang bertugas menyiapkan fasilitas, memperkaya, memperlengkapi, dan meningkatkan suatu fasilitas belajar , memberikan layanan terhadap guru yang hendaka memakainya serta meningkatkan cara mempergunakannya dengan memberi pelayanan dan bimbingan kepada para guru. <br /> d. . Guru bidang study yang sudah senior dalam arti kompetensinya bertugas mengembangkan materi bidang study maing masing dan meningkatkan prestasi para siswan dengan cara mengembangkan cara belajar yang lebih baik. <br /> (3.4). Katagori Supervisor menurut cara kerjanya di sekolah adalah cara membimbing guru untuk meningkatkan prestasi kerjanya, kebiasaan yang berkaitan dengan keberadaan yang diwarnai oleh palsafah dari apa yanag mereka anut dalam membina guru. Hal ini dimaksud bahwa setiap supervisor mempunyai palsafah dan pandangan tertentu disesuaikan dengan pendapatnya yang paling cocok untuk dip[akai dalam membimbing guru.<br /> 4. Pemberdayaan kinerja supervisor (penyelia pendidikan Agama Islam) khususnya agar dapat memiliki kemampuan profesional. Sebagaimana dijelaskan oleh. Qodri A Azizy, dan H. Abdul Aziz sebagai berikut “ Begitu pentignya pengawas/supervisor atau penyelia dalam meningkatkan kualitas pendidikan pengajaran agama di sekolah. Dalam era baru sekarang ini, pengawas telah ditetapkan sebagi pejabat fungsional penuh yang konsekwensinya adalah bahwa setiap pengawas pun harus memiliki kemampuan profesional guru (1999 :10).<br /> 5. Lebih jauh mereka mengungkapkan bahwa pengawas yang tugas pokoknya melakukan pengawasan yang tugas pokoknya melakukan pengawasan yang memiliki fungsi kepemimpinan sebagai berikut: <br /> (a) Mendorong aktifitas dan kreatifitas serta dedikasi seluruh personil sekolah (b) Mendorong terciptanya suasana kondusif di dalam dan di luar lingkungan sekolah. c) Menampung dan melayani segala macam keluhan guru agama di sekolah dan berusaha membantu pemecahannya (d). Membantu mengembangkan kerja sama kemitraan kerja dengan semua unsur terkait (e) Membantu mengembangkankegiatan intra dan ektrakulikuler di sekolah (f). Membimbing dan mengarahkan seluruh personil sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran pada sekolah tersebut (g). Menampilkan sikap keteldanan sebagai seorang supervisor dengan berpedoman pada pilsafat pendidikan. (h) Menampilkan sikap sebagai seorang pemimpin yang demokratis. (h) Menampilkan sikap sebagai pemimpin yang demokratis. (i) Memiliki komitmen yang tinggi akan kualitas pertumbuhan keprofesionalannya. <br /> 5. Dan sejak diberlakukannya Pelaksanaan otonomi dalam penyelenggaraan pendidikan merupakan konsekwensi dari Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Berdasarkan undang-undang, pelaksanaannya telah berlaku dari tahun 2001, yaitu tiga tahun telah dilaksanakan undang-undang tersebut. Waktu selama tiga tahun tersebut digunakan oleh pemerintah Daerah dan dikeluarkannya peraturan-peraturan teknis pada daerah masing masing kabupaten/ Kota , sedangkan bagi masyarakat pendidikan waktu tersebut dapat digunakan hanya sebagai wacana pembahasan isu-isu yang berkaitan dengan harapan-harapan tentang visi, misi, strategi dan kebijakan seharusnya dimiliki oleh pemerintah dalam penyelenggaraan otonomi pemerintahan dan perimbangan alokasi keuangan antara pusat dan daerah. Salah satu komponen penyelenggaraan pemerintahan yang akan desentralisasikan ke daerah Tingkat I (Propinsi) dan Tingkat II (Kabupaten) adalah dalam bidang penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah yang mencakup SD/MI, SLTP/MTs, SLTA/MA. Mengingat luasnya dampak kebijakan tentang pelayanan pendidikan dasar dan menengah terutama pada golongan masyarakat akar rumput, sebagai wacana terbuka untuk dicermati oleh semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan yaitu para siswa/mahasiswa, orang tua, guru, tokoh masyarakat, pengusaha, birokrat, mentri hingga Presiden. Sedangkan otonomi untuk penyelenggaraan pendidikan tinggi selain cakupan layanannya hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas, pelaksanaan otonomi tersebut <br /> 6. Pendidikan Network ( 2003 ) menjelaskan bahwa Peran para penyelia dalam penyelenggaraan Otonomi pendidikan yang mewakili pemerintah di persyaratkan sebagai berikut :<br /> 1.  Memiliki Landasan dan Wawasan Pendidikan <br />(a) Memahami landasan pendidikan: filosofi, disiplin ilmu (ekonomi, psikologi, sosiologi, budaya, politik), dan ilmiah. (b) Memahami dan menghayati hakikat manusia, hakikat masyarakat, hakikat pendidikan, hakikat sekolah, hakikat guru, hakikat peserta didik dan hakikat proses belajar mengajar (c) Memahami aliran-aliran pendidikan (d) Menerapkan pendekatan sistem dalam sekolah (e) Memahami, menghayati, dan melaksanakan tujuan dan fungsi pendidikan nasional (f) Memahami kebijakan, perencanaan, dan program pendidikan nasional, propinsi, dan kabupaten/kota (g) Memahami kebijakan, perencanaan, dan program pendidikan <br />  2.    Memahami Sekolah sebagai Sistem<br /> (a)Menggunakan sistem sebagai pegangan cara berfikir, cara mengelola dan cara menganalisis sekolah (b) Mengidentifikasi dan mengembangkan jenis-jenis input sekolah (c) Mengembangkan proses sekolah (proses belajar mengajar, pengkoordinasian, pengambilan keputusan, pemberdayaan, pemotivasian, pemantauan, pensupervisian, pengevaluasian dan pengakreditasian). (d) Meningkatkan output sekolah (kualitas, produktivitas, efisiensi, efektivitas, dan inovasi) (e) Memahami dan menghayati Standar Pelayanan Minimal (SPM) (f) Melaksanakan SPM secara tepat (g) Memahami lingkungan sekolah sebagai bagian dari sistem sekolah yang bersifat terbuka <br />Memahami Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)<br />(a) Memahami dan menghayati hakikat otonomi pendidikan (b) Memahami dan menghayati hakikat pendidikan berbasis masyarakat (community based education). (c) Memahami dan menghayati arti, tujuan dan karakteristik manajemen berbasis sekolah (school based management) (d) Memahami kewenangan sekolah dalam kerangka otonomi pendidikan (e) Memahami, menghayati, dan melaksanakan tahap-tahap implementasi manajemen berbasis sekolah (f) Mengevaluasi tingkat keberhasilan manajemen berbasis sekolah. <br />Merencanakan Pengembangan Sekolah<br /> (a) Mengidentifikasi dan menyusun profil sekolah (b) Mengembangkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah (c) Mengidentifikasi fungsi-fungsi (komponen-komponen) sekolah yang diperlukan untuk mencapai setiap sasaran sekolah (d) Melakukan analisis SWOT terhadap setiap fungsi dan faktor-faktornya (e) Mengidentifikasi dan memilih alternatif-alternatif pemecahan setiap persoalan (f) Menyusun rencana pengembangan sekolah (g) Menyusun program, yaitu mengalokasikan sumberdaya sekolah untuk merealisasikan rencana pengembangan sekolah ( h) Menyusun langkah-langkah untuk merealisasikan rencana pengembangan sekolah (i) Membuat target pencapaian hasil untuk setiap program sesuai dengan waktu yang ditentukan (milestone)  <br /> 5.  Mengelola Kurikulum<br />(a) Memfasilitasi sekolah untuk membentuk dan memberdayakan tim pengembang kurikulum (b) Memberdayakan tenaga kependidikan sekolah agar mampu menyediakan dokumen-dokumen kurikulum (c) Memfasilitasi guru untuk mengembangkan standar kompetensi setiap mata pelajaran (d) Memfasilitasi guru untuk menyusun silabus setiap mata pelajaran (e) Memfasilitasi guru untuk memilih buku sumber yang sesuai untuk setiap mata pelajaran (f) Mengarahkan tenaga kependidikan untuk menyusun rencana dan program pelaksanaan kurikulum (g) Membimbing guru dalam mengembangkan dan memperbaiki proses belajar mengajar (h) Mengarahkan tim pengembang kurikulum untuk mengupayakan kesesuaian kurikulum dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks), tuntutan dan kebutuhan masyarakat, dan kebutuhan peserta didik (i) Menggali dan memobilisasi sumberdaya pendidikan (j) Mengidentifikasi kebutuhan bagi pengembangan kurikulum lokal (k) Mengevaluasi pelaksanaan kurikulum  personel sekolah atau mengelola administrasi personel sekolah (l) Mengelola konflik (m) Melakukan analisis jabatan dan menyusun uraian jabatan tenaga kependidikan (n) Memiliki apresiasi, empati, dan simpati terhadap tenaga kependidikan <br /> 6. Ssebagai supervisor  <br /> (a) Memahami teori-teori kepengawasan (b) Memilih strategi yang tepat untuk mencapai visi, misi, tujuan, pelaksanaan kegiatan supervisi (c) Memiliki power dan kesan positif untuk mempengaruhi orang lain (d) Memiliki kemampuan (intelektual dan kalbu) sebagai smart of power supervisor principal agar mampu memobilisasi sumberdaya yang ada di lingkungannya (e) Mengambil keputusan secara terampil (cepat, tepat dan cekat) (f) Mendorong perubahan (inovasi) sekolah (g) Berkomunikasi secara lancar (h) Menggalang teamwork yang kompak, cerdas dan dinamis (h) Mendorong kegiatan yang bersifat kreatif (i) Menciptakan sekolah sebagai organisasi belajar (learning organization) <br /> 7. Mengembangkan Budaya Maju <br />a. Menerapkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang demokratis (b) Membentuk budaya kerjasama (l corporate culture) yang kuat (c) Menumbuhkan budaya profesionalisme saebagai penyelia (d) Menciptakan iklim yang kondusif-akademis (e) Menumbuhkembangkan keragaman budaya dalam kehidupan (f) Mengembangkan budaya maju dan kretivitas diri<br /> 8. Memiliki dan Melaksanakan Kreatifitas, dan Inovasi  <br /> (a) Memahami dan menghayati arti dan tujuan perubahan (inovasi) professional (b) Menggunakan metode, teknik dan proses perubahan pembelajaran (c) Menumbuhkan iklim yang mendorong kebebasan berfikir untuk menciptakan kreativitas dan inovasi (d) Mendorong para guru untuk melakukan eksperimentasi, prakarsa/keberanian moral untuk melakukan hal-hal baru (e) Menghargai hasil-hasil kreativitas para guru dengan memberikan rewards (f) Menumbuhkan jiwa kretivitas para guru  <br /> 9. Mengembangkan Diri<br />(a) Mengidentifikasi karakteristik Penyelia tangguh (efektif) (b) Mengembangkan kemampuan diri pada dimensi tugasnya (c) Mengembangkan dirinya pada dimensi proses (pengambilan keputusan, pengkoordinasian/ penyerasian, pemberdayaan, pemrograman, pengevaluasian, dsb.) (d) Mengembangkan dirinya pada dimensi lingkungan (waktu, tempat, sumberdaya dan kelompok kepentingan) (e) Mengembangkan keterampilan personal yang meliputi organisasi diri, hubungan antarmanusia, pembawaan diri, pemecahan masalah, gaya bicara dan gaya menulis <br /> 10 .Mengelola Waktu<br /> (a). Mengelola waktu belajar (b) Mengelola waktu bimbingan dan konseling (c) Mengelola waktu penilaian (d) Mengelola waktu ekstra kurikuler (e) Mengelola waktu rekreasi (f) Mengelola waktu hari-hari besar/libur <br /> 11.  Memberdayakan Sumberdaya Guru <br /> (a) Mengidentifikasi potensi-potensi sumberdaya guru yang dapat dikembangkan (b) Memahami tujuan pemberdayaan sumberdaya (c) Mengemukakan karakteristik guru berdaya (d) Mengemukakan contoh-contoh yang dapat membuat guru berdaya (e) Merencanakan cara-cara memberdayakan guru (f) Melaksanakan pemberdayaan guru (g) Menilai tingkat keberdayaan guru  <br /> 12. Melakukan Koordinasi/Penyerasian <br /> (a) Mengkoordinasikan/menyerasikan sumberdaya guru dengan tujuan pendidikan dan pengajaran (b)berkoordinasi dengan sekolah dalam Menyiapkan input manajemen untuk mengelola sumberdaya (c) Mengintegrasikan permasalahan dan menyinkronkan ketatalaksanaan program (d) Menyusun mekanisme koordinasi antar guru dan unit-unit organisasi sekolah <br />   13. Mengambil Keputusan secara Terampil <br /> (a) Menjaring informasi berkualitas sebagai bahan untuk mengambil keputusan (b) Mengambil keputusan secara terampil (cepat, tepat, cekat) (c) Memperhitungkan akibat pengambilan keputusan dengan penuh perhitungan (least cost and most benefit) (d) Menggunakan sistem informasi sekolah sebagai dasar dalam pengambilan keputusan<br /> 14. Melakukan Monitoring dan Evaluasi <br /> (a) Memahami dan menghayati arti, tujuan dan teknik monitoring dan evaluasi (b) Mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi sekolah (c) Mengidentifikasi indikator-indikator sekolah yang efektif dan menyusun instrumen (d) Menggunakan teknik-teknik monitoring dan evaluasi (e) Menyosialisasikan dan mengarahkan pelaksanaan monitoring dan evaluasi (f) Menganalisis data monitoring dan evaluasi (g) Memiliki komitmen kuat untuk memperbaiki kinerja sekolah berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi <br />   15.  Melaksanakan Supervisi (Penyeliaan) <br />(a) Memahami dan menghayati arti, tujuan dan teknik supervisi (b) Menyusun program supervisi pendidikan (c) Melaksanakan program supervise (d) Memanfaatkan hasil-hasil supervisi (e) Melaksanakan umpan balik dari hasil supervisi <br /> 16 Menyiapkan,Melaksanakan & Menindaklanjuti Hasil supervisi <br /> (a) Memahami dan mensosialisasikan aspek-aspek yangdisupervisi (b) Melakukan evaluasi diri (c) Memfasilitasi pelaksanaansupervisii ( d) Menindaklanjuti hasil supervisii untuk meningkatkan mutu Belajar mengajar <br /> 17. Membuat Laporan Akuntabilitas supervisi <br /> (a) Menyebutkan dan memahami konsep-konsep laporan (b) Membuat laporan akuntabilitas kinerja guru (c) Mempertanggungjawabkan hasil kerja supervise (d) Membuat penyusunan hasil superisi secara cepat, tepat, dan cekat berdasarkan hasil pertanggungjawaban (e) Memperbaiki hasil temuan perencanaan untuk jangka pendek, menengah dan panjang <br />Supriadi, (1998).Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru “Pemerintah” telah berupaya untuk meningkatkan profesionalisme guru diantaranya meningkatkan kualifikasi dan persyaratan jenjang pendidikan yang lebih tinggi bagi tenaga pengajar mulai tingkat persekolahan sampai perguruan tinggi. Program penyetaaan Diploma II bagi guru-guru SD, Diploma III bagi guru-guru SLTP dan Strata I (sarjana) bagi guru-guru SLTA. Meskipun demikian penyetaraan ini tidak bermakna banyak, kalau guru tersebut secara entropi kurang memiliki daya untuk melakukan perubahan. Selain diadakannya penyetaraan guru-guru, upaya lain yang dilakukan pemerintah adalah program sertifikasi. <br />Pantiwati, (2001) mengungkapka bahwa Program sertifikasi telah dilakukan oleh Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam (Dit Binrua) melalui proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar (ADB Loan 1442-INO) yang telah melatih 805 guru MI dan 2.646 guru MTs dari 15 Kabupaten dalam 6 wilayah propinsi yaitu Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB dan Kalimantan Selatan Selain sertifikasi upaya lain yang telah dilakukan di Indonesia untuk meningkatkan profesionalisme guru, misalnya PKG (Pusat Kegiatan Guru, dan KKG (Kelompok Kerja Guru) yang memungkinkan para guru untuk berbagi pengalaman dalam memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam kegiatan mengajarnya <br />Profesionalisasi harus dipandang sebagai proses yang terus menerus. Dalam proses ini, penataran, pembinaan dari organisasi profesi dan tempat kerja, penghargaan masyarakat terhadap profesi keguruan, penegakan kode etik profesi, sertifikasi, peningkatan kualitas guru, imbalan, dll secara bersama-sama menentukan kompetensi profesionalisme guru. ( pendidikan Networ 2003). <br /> Dari beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah di atas, faktor yang paling penting agar guru-guru dapat meningkatkan kompetensi dan kualifikasi dirinya yaitu dengan menyetarakan banyaknya jam kerja dengan gaji guru. Program apapun yang akan diterapkan pemerintah tetapi jika gaji guru rendah, jelaslah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya guru akan mencari pekerjaan tambahan untuk mencukupi kebutuhannya. Tidak heran kalau guru-guru di negara maju kualitasnya tinggi atau dikatakan profesional, karena penghargaan terhadap jasa guru sangat tinggi. <br />Dalam Journal PAT (2001) dijelaskan bahwa di Inggris dan Wales untuk meningkatkan profesionalisme guru pemerintah mulai memperhatikan pembayaran gaji guru diseimbangkan dengan beban kerjanya. Di Amerika Serikat hal ini sudah lama berlaku sehingga tidak heran kalau pendidikan di Amerika Serikat menjadi pola anutan negara-negara ketiga. Di Indonesia telah mengalami hal ini tetapi ketika jaman kolonial Belanda. Setelah memasuki jaman orde baru semua ber ubah sehingga kini dampaknya terasa, profesi guru menduduki urutan terbawah dari urutan profesi lainnya seperti dokter, jaksa, dll. (Pendidikan Network dalam Artikel : Ani M Hasan, 2003 ) <br />BAB IV<br />PENINGKATAN KINERJA GURUSMA NEGERI 2 MATARAMMELALUI PELATIHAN PEMANFAATAN PENGINTEGRASIAAN ICT DAN WEB TANGGAL, 17, 24 DAN 31 JANUARI 2010MATERI PELATIHAN PENULISAN BAHAN AJAR BERBASIS WEB PEMBUATAN WEB BLOG FORMULAPEMBUATAN WEB BLOGMENGGUNAKAN WORDPRESS2010DISAIN KEGIATAN PELATIHAN PENINGKATAN KINERJA GURU <br />”Pemanfaatan Pengintegrasian ICT & WEB” <br />Dalam Pembuatan Software Bahan Pembelajaran<br />Bagi Guru / Tenaga Kependidikan <br />SMA NEGERI 2 MATARAM <br />TAHUN PEMBELAJARAN 2009/2010<br />17, 24 dan 31 Januari 2010<br />PRAKATA <br />Wujud Kepedulian dari SMA Negeri 2 Mataram akan menyelenggarakan kegiatan Kelompok Kerja Pengintegrasian Pemanfaatan Bahan Belajar Berbasis ICT dan Web guna mengimplementasikan kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (PUSTEKKOM), merupakan salah satu unit di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) mempunyai tugas mengembangkan, membina, dan mengevaluasi kegiatan di bidang teknologi pendidikan dan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan. Untuk melaksanakan tugas tersebut, Pustekkom menyelenggarakan fungsi diantaranya mengembangkan model dan media pembelajaran berbasis teknologi informasi, teknologi komunikasi dan teknologi pembelajaran untuk semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan. Untuk melaksanakan kegiatan tugas tersebut <br />KATA PENGANTAR<br /> Dengan selalu mengucap puji syukur alhamdulillah dipanjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat taufiq inayahNya, proposal kegiatan ini dapat tersusun meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana. Kegiatan Pelatihan Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan diselenggarakan agar semua fihak memiliki kepedulian dalam rangka pemanfaatan perkembangan keilmuan agar dapat memiliki perubahan daya berfikir cerdas kreatif inovatif madani. Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan informasi dalam berbagi hal kehidupan manusia terus menerus berkembang dengan pesatnya, secara langsung berdampak terhadap dunia pendidikan. Berkembang cepatnya IPTEK dan informasi dimaksud tidak jarang para ilmuan mengalami kesulitan menghadapi dampak dan tantangan nyata yang timbul sebagai akibat dari berbagai macam teori dan praktek serta persepsi yang dikembangkannya. Kendati perbedaan itu timbul, sudah banyak pula dirasakan manfaatnya bagi dunia pendidikan. <br />Kesempatan mengembangkan diri, bukan hanya semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan, bakat dan minatnya akan tetapi kompetensi/ kemampuan dasar yang dimiliki dan disiplin, disamping itu juga memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin serta sangat dominan terlepas dari hal-hal yang melatarbelakangi pengembangan diri suatu pekerjaan, tidak kalah pentingnya adalah faktor lingkungan kerja yang pertama kali mempengaruhi pertumbuhan perkembangan personal/individu Tidak semua guru dapat berbuat sesuai , dengan keadaa ataupun harapan, hal ini disebabkan oleh kelayakan atau tidaknya suatu pekerjaan yang ditekuni. Namun demikian sangat tergantung pada kemampuan menyesuaikan diri terhadap kewajiban pekerjaan/ jabatan keprofesionalan dari masing-masing individu. <br />Harapan agar kiranya pengajuan proposal ini dapat diterima dan dikabulkan permohonan kami serta bermanfaat sebagai salah satu informasi dalam usaha untuk pengembangan pendididkan pada umumnya melalui upaya pelatihan pemenfaatan pengintegrasian ICT dan Web dalam pembuatan software bahan pembelajaran yang dipandang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangan kependidikan di masa yang akan datang. <br />LATAR BELAKANG <br />Pada abad 21 merupakan abad pengetahuan karena pengetahuan menjadi landasan utama segala aspek kehidupan, yang sangat dipengaruhi oleh adanya sepuluh kecenderungan besar yang akan terjadi pada pendidikan di abad 21 yaitu; <br />dari masyarakat industri ke masyarakat informasi, <br />dari teknologi yang dipaksakan ke teknologi tinggi, <br />dari ekonomi nasional ke ekonomi dunia, <br />dari perencanaan jangka pendek ke perencanaan jangka panjang,<br />dari sentralisasi ke desentralisasi, <br />dari bantuan institusional ke bantuan diri, <br />dari demokrasi perwakilan ke demokrasi partisipatoris, <br />dari hierarki-hierarki ke penjaringan, <br />dari utara ke selatan, dan <br />dari/atau ke pilihan majemuk. <br />Implikasi kecenderungan di atas berdampak terhadap dunia pendidikan yang meliputi aspek kurikulum, manajemen pendidikan, tenaga kependidikan, strategi dan metode pendidikan dipengaruhi dengan adanya delapan kecenderungan besar di Asia yang ikut mempengaruhi dunia yaitu; <br />dari negara bangsa ke jaringan, <br />dari tuntutan eksport ke tuntutan konsumen, <br />dari pengaruh Barat ke cara Asia, <br />dari kontrol pemerintah ke tuntutan pasar, <br />dari desa ke metropolitan, <br />dari padat karya ke teknologi canggih, <br />dari dominasi kaum pria ke munculnya kaum wanita, <br />dari Barat ke Timur. <br />Kecenderungan itu akan mempengaruhi tata nilai dalam berbagai aspek, pola dan gaya hidup masyarakat baik di desa maupun di kota. <br />Pada gilirannya semua itu akan mempengaruhi pola-pola pendidikan yang lebih disukai dengan tuntutan kecenderungan tersebut.<br />Dalam hubungan dengan ini pendidikan ditantang untuk mampu menyiapkan Sumber Daya Manusia yang mampu menghadapi tantangan kecenderungan itu tanpa kehilangan nilai-nilai kepribadian dan budaya bangsanya. <br />mengutip pendapat Surya (1998) mengungkapkan bahwa pendidikan di Indonesia di abad 21 mempunyai karakteristik sebagai berikut: <br />(1) Pendidikan nasional mempunyai tiga fungsi dasar yaitu; (a) untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, (b) untuk mempersiapkan tenaga kerja terampil dan ahli yang diperlukan dalam proses industrialisasi, (c) membina dan mengembangkan penguasaan berbagai cabang keahlian ilmu pengetahuan dan teknologi; <br />(2) Sebagai negara kepulauan yang berbeda-beda suku, agama dan bahasa, pendidikan tidak hanya sebagai proses transfer pengetahuan saja, akan tetapi mempunyai fungsi pelestarian kehidupan bangsa dalam suasana persatuan dan kesatuan nasional; <br />(3) Dengan makin meningkatnya hasil pembangunan, mobilitas penduduk akan mempengaruhi corak pendidikan nasional; <br />(4) Perubahan karakteristik keluarga baik fungsi maupun struktur, akan banyak menuntut akan pentingnya kerja sama berbagai lingkungan pendidikan dan dalam keluarga sebagai intinya. Nilai-nilai keluarga hendaknya tetap dilestarikan dalam berbagai lingkungan pendidikan;<br />(5) Asas belajar sepanjang hayat harus menjadi landasan utama dalam mewujudkan pendidikan untuk mengimbangi tantangan perkembangan jaman; (6) Penggunaan berbagai inovasi Iptek terutama media elektronik, informatika, dan komunikasi dalam berbagai kegiatan pendidikan, <br />(7) Penyediaan perpustakaan dan sumber-sumber belajar sangat diperlukan dalam menunjang upaya pendidikan dalam pendidikan;<br />(8) Publikasi dan penelitian dalam bidang pendidikan dan bidang lain yang terkait, merupakan suatu kebutuhan nyata bagi pendidikan di abad pengetahuan. <br />Pendidikan di abad pengetahuan menuntut adanya manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan, staf, proses belajar mengajar, pengembangan staf, kurikulum, tujuan dan harapan, iklim sekolah, penilaian diri, komunikasi, dan keterlibatan orang tua/masyarakat. Tidak kalah pentingnya adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme dan jiwa juang, keimanan dan ketakwaan, penguasaan iptek, etos kerja dan disiplin, profesionalisme, kerjasama dan belajar dengan berbagai disiplin, wawasan masa depan, kepastian karir, dan kesejahteraan lahir batin. <br />DASAR PEMIKIRAN <br />Berbicara masalah Sumber Daya Manusia, dalam hal ini, Pendidikanlah memegang peran yang sangat penting terintegrasi dalam proses Peningkatan Kualitasnya itu sendiri. Pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Tetapi pada kenyataannya upaya pemerintah tersebut belum cukup berarti dalam meningkatkan kuailtas pendidikan. Salah satu indikator relatif sangat kecil, sebagaimana dalam bentuk pengembangan ICT di daerah. Karena sebagian besar belum terbiasa dan tidak tahu akan hal itu. <br />Harapan agar kiranya pengajuan Kegiatan Pelatihan ini dapat diterima dan dikabulkan permohonan kami serta bermanfaat sebagai salah satu informasi dalam usaha untuk pengembangan pendididkan pada umumnya melalui upaya pelatihan pemenfaatan pengintegrasian ICT dan Web dalam pembuatan software bahan pembelajaran yang dipandang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangan kependidikan di masa yang akan datang.<br />RASIONALISASI PROFESI GURU<br />Guru yang profesional tentunaya memiliki tingkat berfikir kreatif, inovatif dan madani serta memilki komitmen tinggi terhadap tugasnya, selalu menjunjung tinggi citra profesi guru Kosenu Weight (1981) menyatakan bahwa guru memiliki tingkat kemamppuan berbeda-beda:<br />Guru yang tigkat kinerjanya rendah memiliki ciri-ciri sebaagai berikut: <br />a) Taidak memikliki kemampuan melaksanakan tugas mengajar sesuai progaram yang telah disusunya <br />b) tiodak memilki kemampuan menemukan program pengajaran <br />c) tiadak memiliki kemampuan dalam melaksanakan program hasil belajar siswa <br />Guru yang tingkat kinerjanya tinggi memiliki karakteristik sebagai berikut: <br />memilki kemampuan merencanakan progaram pengajaran <br />Memilki kemampuanmelaksanakan tugas mengajar sesuai program yanag telah disusunnya. <br />memilki kemampuan melaksanakan evaluasi belajar <br />Persyaratan dan tututan guru yang profesional antara lain : <br /> 1) Menuntut adanya keterampilan berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam <br />2) Memilki keahlian di bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya <br />3) Memiliki kelayakan pendidikan <br />4) Memilki kepekaan terhadap dampak yang terjadi di masyarakat dari pekerjaan yang dilaksanakan <br />5) Sejalan dengan pengemabangan dinamika kehidupan <br />6) Memilki kode etik sebagaia acuan melaksanakan tugas dan fungsinya. <br />7) Memilki objek layanan yang tetap <br />8) Diakui oleh masyarakat karena diperlukan jasanya.<br />Jabatan guru secara hakiki adalah panggilan untuk melayanuin peserta didiknya yang diserahkan tanggung jawab kepada mereka, suka atau tida suka guru harus sanggup untuk bersikap profesional yang meliputi: <br />(a) Pengetahuan mereka terhadap murid yang dibimbingnya, <br />(b). Terhadap pelajaran yang diajarkan <br />(c). Keterampilan guru dalam memotivasi dan membimbing cara murid belajar. <br />PANDUAN MATERI PELATIHAN PENULISAN BAHAN AJARBERBASIS WEB UNTUK KEGIATAN PEMANFAATAN PENGINTEGRASIAAN ICT DAN WEB BAGI GURU-GURU SMA NEGERI 2 MATARAM2010<br />MATERI PANDUAN PEMBUATAN WEB BLOGUNTUK MATERI KEGIATAN PELATIAHAN PEMANFAATAN PENGINTEGRASIAAN ICT DAN WEB BAGI TENAGA PENDIDIK/KEPENDIDIKAN SMA NEGERI 2 MATARAM2010<br />PANDUANPEMBUATAN WEB BLOGMENGGUNAKAN WORDPRESSUNTUK KEGIATAN PELATIHAN PEMANFAATAN PENGINTEGRASIAN ICT & WEB BAGI GURU SMA NEGERI 2 MATARAM2O10<br />BAB V<br /> PENUTUP <br />A. SIMPULAN<br />1. Kinerja Penyelia adalah Kemampuan yang ditunjukkan oleh seorang penyelia, sebagai suatu unjuk kerja dengan ketrampilan yangdimiliki dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya . Kinerja tersebut dapat diamati melalui yang ditampilkan berupa hasil kerja dari suatu ketrampililan dan keprofesionalan dari seorang penyelia sesuai dengan tugas, wewenang tanggung jawab yang diembankan, sebagai hasil prestasi yang dicapainya.<br />2. Terdapat tujuh belas persyaratan yang dipersyaratkan kepada para penyelia dalam penyelenggaraan Otonomi pendidikan adalah sebagai berikut : 2.1.  Memiliki Landasan dan Wawasan Pendidikan : (a) Memahami landasan pendidikan: filosofi, disiplin ilmu , Memahami dan menghayati hakikat manusia, hakikat masyarakat, hakikat pendidikan, hakikat sekolah, hakikat guru, hakikat peserta didik dan hakikat proses belajar mengajar, Memahami aliran-aliran pendidikan, Menerapkan pembinaan pendekatan keterbukaan, menghayati, dan melaksanakan tujuan dan fungsi pendidikan nasional, memahami kebijakan, perencanaan, dan program pendidikan nasional, propinsi, dan kabupaten/kota, kebijakan, perencanaan, dan program pendidikan 2.2    Menggunakan system supervisi sebagai pegangan cara berfikir, cara mengelola dan cara menganalisis, mengembangkan proses belajar mengajar, pengkoordinasian, pengambilan keputusan, pemberdayaan, pemotivasian, pemantauan, pensupervisian, pengevaluasian, meningkatkan kualitas, produktivitas, efisiensi, efektivitas, dan inovasi diri, memahami dan menghayati Standar Pelayanan Minimal 2.3. Memahami Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPBS) : Memahami dan menghayati hakikat otonomi pendidikan, memahami dan menghayati hakikat pendidikan berbasis masyarakat (community based education), memahami dan menghayati arti, tujuan dan karakteristik MPMBS, dalam kerangka otonomi pendidikan dan melaksanakan tahap-tahap implementasi MPMBS, mengevaluasi tingkat keberhasilan MPMBS. 2.3.) membina guru untuk mengembangkan standar kompetensi mata pelajaran, membina guru untuk menyusun silabus setiap mata pelajaran 2.4. Mengarahkan guru untuk memilih buku sumber yang sesuai untuk mata pelajaran 2.5 Membimbing guru dalam mengembangkan dan memperbaiki proses belajar mengajar 2.6. sebagai supervisor: Memahami teori-teori kepengawasan memilih strategi yang tepat untuk mencapai visi, misi, tujuan, pelaksanaan kegiatan supervise, memiliki power dan kesan positif untuk mempengaruhi orang lain, memiliki kemampuan (intelektual dan kalbu) sebagai smart of power supervisor principal agar mampu memobilisasi sumberdaya yang ada, mengambil keputusan secara terampil (cepat, tepat dan cekat), mendorong perubahan (inovasi) sekolah, berkomunikasi secara lancar menggalang teamwork yang kompak, cerdas dan dinamis melaluui MKPG mendorong kegiatan yang bersifat kreatif, menciptakan MKPG sebagai organisasi belajar (learning organization)2.7. Mengembangkan Budaya Maju , menerapkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang demokratis, membentuk budaya kerjasama ( coorporate culture) yang kuat menumbuhkan budaya profesionalisme saebagai penyelia, menciptakan iklim yang kondusif-akademis, menumbuhkembangkan keragaman budaya dalam kehidupan, mengembangkan budaya maju dan kretivitas diri 2.8. Memiliki dan Melaksanakan Kreatifitas, dan Inovasi, memahami dan menghayati arti dan tujuan perubahan (inovasi) professional, menggunakan metode, teknik dan proses perubahan pembelajaran, menumbuhkan iklim yang mendorong kebebasan berfikir untuk menciptakan kreativitas dan inovasi (d) Mendorong para guru untuk melakukan eksperimentasi, prakarsa/keberanian moral untuk melakukan hal-hal baru, menghargai hasil-hasil kreativitas para guru dengan memberikan rewards, menumbuhkan jiwa kretivitas para guru 2.9. Mengembangkan Diri mengidentifikasi karakteristik Penyelia tangguh (efektif), mengembangkan kemampuan diri pada dimensi tugasnya, mengembangkan dirinya pada dimensi proses (pengambilan keputusan, pengkoordinasian/ penyerasian, pemberdayaan, pemrograman, pengevaluasian, dsb.), mengembangkan dirinya pada dimensi lingkungan (waktu, tempat, sumberdaya dan kelompok kepentingan), mengembangkan keterampilan personal yang meliputi organisasi diri, hubungan antarmanusia, pembawaan diri, pemecahan masalah, gaya bicara dan gaya menulis 2.10.Mengelola Waktu : Mengelola waktu belajar, mengelola waktu bimbingan guru, mengelola waktu penilaian 2. 11. Memberdayakan Sumberdaya Guru Mengidentifikasi potensi-potensi sumberdaya guru yang dapat dikembangkan, memahami tujuan pemberdayaan sumberdaya mengemukakan karakteristik guru berdaya, mengemukakan contoh-contoh yang dapat membuat guru berdaya, merencanakan cara-cara memberdayakan guru, melaksanakan pemberdayaan guru, menilai tingkat keberdayaan guru  2.12. Melakukan Koordinasi/Penyerasian Mengkoordinasikan /menyerasikan sumberdaya guru dengan tujuan pendidikan dan pengajaran, berkoordinasi dengan sekolah dalam Menyiapkan input manajemen untuk mengelola sumberdaya Mengintegrasikan permasalahan dan menyinkronkan ketatalaksanaan program 2.13. Mengambil Keputusan secara Terampil, Menjaring informasi berkualitas sebagai bahan untuk mengambil keputusan Mengambil keputusan secara terampil (cepat, tepat, cekat) Memperhitungkan akibat pengambilan keputusan dengan penuh perhitungan (least cost and most benefit) Menggunakan sistem informasi sekolah sebagai dasar dalam pengambilan keputusan   2.14. Melakukan Monitoring dan Evaluasi Memahami dan menghayati arti, tujuan dan teknik monitoring dan evaluasi Mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi sekolah Mengidentifikasi indikator-indikator sekolah yang efektif dan menyusun instrument Menggunakan teknik-teknik monitoring dan evaluasi Menyosialisasikan dan mengarahkan pelaksanaan monitoring dan evaluasi menganalisis data monitoring dan evaluasi, memiliki komitmen kuat untuk memperbaiki kinerja guru berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi 2.15.  Melaksanakan Supervisi (Penyeliaan)  Memahami dan menghayati arti, tujuan dan teknik supervise, menyusun program supervisi pendidikan melaksanakan program supervise, memanfaatkan hasil-hasil supervisi melaksanakan umpan balik dari hasil supervisi 2.16 Menyiapkan,Melaksanakan & Menindaklanjuti Hasil supervisi  Memahami dan mensosialisasikan aspek-aspek yangdisupervisi melakukan evaluasi diri memfasilitasi pelaksanaansupervisi, menindaklanjuti hasil supervisii untuk meningkatkan mutu Belajar mengajar  2.17. Membuat Laporan Akuntabilitas supervisi dengan memahami konsep-konsep laporan, membuat laporan akuntabilitas kinerja guru, mempertanggungjawabkan hasil kerja supervise, menyusun hasil supervisi secara cepat, tepat, dan cekat berdasarkan hasil pertanggungjawaban, memperbaiki hasil temuan perencanaan untuk jangka pendek, menengah dan panjang <br /> 3. Memperhatikan peran guru dan tugas guru sebagai salah satu faktor determinan bagi keberhasilan pendidikan, maka keberadaan dan peningkatan profesi guru menjadi wacana yang sangat penting. Pendidikan di abad pengetahuan menuntut adanya manajemen pendidikan modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan.<br /> 4. profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.<br />5. Profesi Guru dipersyaratkan adalah : 1) Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya, (2) Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarnya kepada siswa, (3) Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi, (4) Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya, (5) Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya. <br />6. Guru yang profesional pada dasarnya ditentukan oleh attitudenya yang berarti pada tataran kematangan yang mempersyaratkan willingness dan ability, baik secara intelektual maupun pada kondisi yang prima. Profesionalisasi harus dipandang sebagai proses yang terus menerus, tidak teputus hanya pada saat diperlukan sebagai pengakuan masyarakat. <br />7. Profesionalisme sebagai penunjang kelancaran kinerja Penyelia dan guru dalam melaksanakan tugasnya, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar yaitu faktor internal yang meliputi minat dan bakat dan faktor eksternal yaitu berkaitan dengan lingkungan sekitar, sarana prasarana, serta berbagai latihan yang dilakukan guru.(Sumargi, 1996) Profesionalisme guru dan tenaga kependidikan masih belum memadai utamanya dalam hal bidang keilmuannya<br />B. SARAN<br />1. Perlunya Pemberdayaan terus menerus dari Pemerintah yang telah berupaya untuk meningkatkan profesionalisme guru diantaranya meningkatkan kualifikasi dan persyaratan jenjang pendidikan yang lebih tinggi bagi tenaga pengajar mulai tingkat persekolahan sampai perguruan tinggi. Program penyetaaan Diploma II bagi guru-guru SD, Diploma III bagi guru-guru SLTP dan Strata I (sarjana) bagi guru-guru SLTA. Meskipun demikian penyetaraan ini tidak bermakna banyak, kalau guru tersebut secara entropi kurang memiliki daya untuk melakukan perubahan, dan tidak hanya guru akan tetapi juga pemberdayaan peningkatan profesionalisme penyelia <br />2, Selain diadakannya penyetaraan guru-guru, upaya lain yang dilakukan pemerintah adalah program sertifikasi. Program sertifikasi telah dilakukan oleh Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam (Dit Binrua) melalui proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar hendaknya terus diberdayakan <br />DAFTAR RUJUKAN PUSTAKA<br />Ahmad Azhari, 2001, Supervisi rencana program pembelajaran , Rian Putra Jakarta.<br />Akadum. 1999. Potret Guru Memasuki Milenium Ketiga. Suara Pembaharuan. (Online) (http://www.suara pembaharuan.com/News/1999/01/220199/OpEd, diakses oleh pendidikan network7 Juni 2001).<br />Ani M Hasan, Mahasiswi di PPs Universitas Negeri Malang 2003, Artikel: Pengembangan Profesionalisme Guru di Abad Pengetahuan Pendidikan Network Jakarta <br /> Arifin, I. 2000. Profesionalisme Guru: Analisis Wacana Reformasi Pendidikan dalam Era Globalisasi. Simposium Nasional Pendidikan di Universitas Muham-madiyah Malang, diakses oleh pendidikan network 25-26 Juli 2001. <br />Briggs TH I Improving Instruction Now York The Max Milla Company<br />C F John R D French /Betran Reven The Basic of Social Power Group Dynamis D Cart wright /AF Zender <br />Karlenger F N , Foundation of behavour Reaseach New York Hall Rainebart Inc<br />Depdiknas, 2001Buku Pedoman MPMBS, Jakarta<br />Tim Dosen FIP , IKIP Malang , 1980, Pengantar Dasar Dasar Pendidikan Usaha Nasional Surabaya.<br />Suryadi, S.P. Manajemen Mutu terpadu (TQM) abad 21, Studi Kasus dan Analisis, PT Bumi Aksara Jakarta. <br />Pidarta Made , 1990 Perencanaan Pendidikan participation dengan System Pendidikan Rineka Cipta.<br />Piet A Suhertian, 1982 Prinsip dan Teknik supervisipendidikan , Usaha Nasional Surabaya <br />Qodri A Azizy, 2003 Pedoman Pengawasan atas pelaksanaan Tugas guru Pendidikan Agama Islam ( TK, SD/Mi,MTs/SMP, SMU/MA ) Departemen Agama RI Jaharta.<br />____________2003 Pedoman Pelaksanaan supervise Pendidikan Agama Islam Departemen Agama RI Jakarta <br />Tilaar, HAA, 2001, Manajemen Pendidikan Nasional Kajian Masa depan Bandung , PT Renaji Kosdakarya <br />Muchlas, 2003 , Model Model Manajemen, Studi Kasus Daya Pengetahuan dan Ketrampilan , UNESA Surabaya.<br />Tauhid LM, 1986 Kepribadian Kretif Keterkaitannya dengan Kualitas Interaksi Guru dan Siswa ( Orasi Ilimiah DiesNatalis Universitas Mataram ) <br />Zakiah Derajat, 1986, Kesehatan Mental Guru, Agung Jakarta <br />Effendi, 1979 Human Relation and Public Relation dalam Manajemen Bandung <br />Dahrin, D. 2000. Memperbaiki Kinerja Pendidikan Nasional Secara Komprehensip: Transformasi Pendidikan. Komunitas, Forum Rektor Indonesia. Vol.1 No. Hlm 24 pendidikan network 25-26 Juli 2001.<br />Degeng, N.S. 1999. Paradigma Baru Pendidikan Memasuki Era Desentralisasi dan Demokrasi. Jurnal Getengkali Edisi 6 Tahun III 1999/2000. Hlm. 2-9.<br />DIRJEN Lembaga Agama Islam,2003 Pedoman Administrasi supervise Pendidikan , Departemen Agama RI Jakarta <br />____________2003 Kendali Mutu Pendidikan Agama Islam Departemen Agama RI Jakarta<br />____________2003 , Profesionalisme Pengawas Pendidikan Agama Islam Departemen Agama RI Jakarta<br />Galbreath, J. 1999. Preparing the 21st Century Worker: The Link Between Computer-Based Technology and Future Skill Sets. Educational Technology Nopember-Desember 1999. Hlm. 14-22. <br />Hadiyanto dan Subijanto (2003 ), dalam artikel Pengembalikan Kebebasan Guru untuk Mengkreasi Iklim Kelas dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) diakses melalui Pendidikan Network Maju tak gentar membela yang benar<br />Ki Gunawan (12 Juli 2003) seorang Pengamat di Yogyakarta , dalam Judul Artikel: UAN Dalam Perspektif Desentralisasi Pendidikan Topik: Sistem Evaluasi , Pendidikan Network Jakarta <br />Maister, DH. 1997. True Professionalism. New York: The Free Press. Makagiansar, M. 1996. Shift in Global paradigma and The Teacher of Tomorrow, 17th. Convention of the Asean Council of Teachers (ACT); 5-8 Desember, 1996, Republic of Singapore. <br />Naisbitt, J. 1995. Megatrend Asia: Delapan Megatrend Asia yang Mengubah Dunia, (Alih bahasa oleh Danan Triyatmoko dan Wandi S. Brata): Jakarta: Gramdeia.<br />Nasanius, Y. 1998. Kemerosotan Pendidikan Kita: Guru dan Siswa Yang Berperan Besar, Bukan Kurikulum. Suara Pembaharuan. (Online) (http://www.suara pembaharuan.com/News/1998/08/230898, diakses 7 Juni 2001).Hlm. 1-2. <br />NRC. 1996. Standar for Professional Development for Teacher Sains. Hlm. 59-70 <br />Pantiwati, Y. 2001. Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui Program Sertifikasi Guru Bidang Studi (untuk Guru MI dan MTs). Makalah Dipresentasikan. Malang: PSSJ PPS Universitas Malang. Hlm.1-12. <br />SIXTUS TANJE (3 Oktober 2002 | 609 dalam artikel berjudul “ KURIKULUM BERBASIS REALITAS”, Pendidikan Network Jakarta <br />Stiles, K.E. dan Loucks-Horsley, S. 1998. Professional Development Strategies: Proffessional Learning Experiences Help Teachers Meet the Standards. The Science Teacher. September 1998. hlm. 46-49). Sumargi. 1996. Profesi Guru Antara Harapan dan Kenyataan. Suara Guru No. 3-4/1996. Hlm. 9-11<br />Supriadi, D. 1998. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Jakarta: Depdikbud. Surya, H.M. 1998. Peningkatan Profesionalisme Guru Menghadapi Pendidikan Abad ke-21n (I); Organisasi & Profesi. Suara Guru No. 7/1998. Hlm. 15-17. <br />Semiawan, C.R. 1991. Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI. Jakarta: Grasindo. <br />Galbreath, J. 1999. Preparing the 21st Century Worker: The Link Between Computer-Based Technology and Future Skill Sets. Educational Technology Nopember-Desember 1999. Hlm. 14-22. <br />Maister, DH. 1997. True Professionalism. New York: The Free Press. Makagiansar, M. 1996. Shift in Global paradigma and The Teacher of Tomorrow, 17th. Convention of the Asean Council of Teachers (ACT); 5-8 Desember, 1996, Republic of Singapore. <br /> Pantiwati, Y. 2001. Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui Program Sertifikasi Guru Bidang Studi (untuk Guru MI dan MTs). Makalah Dipresentasikan. Malang: PSSJ PPS Universitas Malang. Hlm.1-12. <br />Journal PAT. 2001. Teacher in England and Wales. Professionalisme in Practice: the PAT Journal. April/Mei 2001. (Online) (http://members. aol.com/PTRFWEB/journal1040.html, diakses 7 Juni 2001) <br />Tilaar, H.A.R. 1999. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Indonesia Tera. <br />Trilling, B. dan Hood, P. 1999. Learning, Technology, and Education Reform in the Knowledge Age or " We're Wired, Webbed, and Windowed, Now What" ? Educational Technology may-June 1999. Hlm. 5-18.<br />Yusuf A Hasan, M.Idrus & Siswanto, Pedoman Pengawasan untuk Madrasah dan Sekolah Umum , CV Mekar Jaya Jakarta.<br />Sumargi. 1996. Profesi Guru Antara Harapan dan Kenyataan. Suara Guru No. 3-4/1996. Hlm. 9-11<br />. <br />

×