Sistem Penomoran diagram pneumatic

2,104 views

Published on

Numbering System or marking system always needeed for Diagram Pneumatic Instrumentation to make Indication for each function.

Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,104
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
71
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Sistem Penomoran diagram pneumatic

  1. 1. 10. Diagram rangkaian dan Penomoran komponen pneumatik
  2. 2. Pendekatan sistematis pada pemakaian pneumatik   Pemakaian sistem pneumatik dan pengaturannya dilakukan dengan dokumentasi yang dapat mengkomunikasikan langkah atau proses , rangkaian dan hasil akhir dari disain.
  3. 3. Cara penomoran tiap elemen diberi kan dengan kriteria berikut: 0. Catu daya 1,2,3 dst Nomor dari tiap grup atau mata rantai kontrol 1.0, 2.0 dst Elemen kerja (aktuator) .1 Elemen kontrol .01 , .02 dst Elemen antara elemen kontrol dan elemen kerja .2, .4 dst Elemen pengaktif silinder silinder ke luar .3, .5 dst Elemen pengaktif silinder bergerak masuk
  4. 4. No . lubang/ sambungan DIN ISO 5599 Sistem huruf lubang tekanan 1 P lubang buangan 3 R (katup 3/2) lubang buangan 5,3 R,S (katup 5/2) keluaran 2,4 B,A saluran pengaktifan: membuka aliran dari 1 ke 2 12 Z (katup 3/2) membuka aliran dari 1 ke 4 14 Y (katup 5/2) menutup aliran 10 Z, Y pilot udara tambahan 81,91 PZ Klasifikasi penomoran dan indikator warna sistem penomoran yang digunakan untuk menandai KKA sesuai dengan DIN ISO 5599. sistem huruf yang terdahulu digunakan untuk penomoran table
  5. 5. 1.0 1.3 1.01 1.6 1.1 1.2 1.4 1.3 0.1 1(P) 3(R) 1(P) 1(P)3(R) 3(R) 2(A) 2(A) 2(A) x y A 14(Z) 5(R) 3(S) 1(P) 12(Y) 4(A) 2(B) Penomoran elemen pada rangkaian pneumatik
  6. 6. Penamaan komponen dalam sistem Semua elemen pada posisi awal diaktifkan Ditandai dengan panah dari sumber tekanan 1(P) ke 2(A) saat tidak aktif Cam tidak menekan sehingga pegas akan mengembalikan posisi 2(A) terhubung dengan saluran buang. 1(P) 2(A) 3(R) posisi awal teraktuasi
  7. 7. ·        Sinyal mengalir dari bawah rangkaian ke atas ·        Gambar silinder arah horisontal ·        Arah gerak silinder ke luar dari kiri ke kanan ·        Sinyal yang diaktifkan dalam satu arah digambarkan dengan sebuah panah sebagai tanda ·        Cam digambar dengan garis diarsir atau panah Sambungan ditandai dengan tanda dot pada persilangan garis.
  8. 8. Keselamatan kerja Kegagalan sistem kontrol Pemberhentian darurat Polusi lingkungan Safety dalam sistem pneumatik Persyaratan safety pada sistem pneumatik standar dan ketentuan sistem pneumatik masih terbatas rujukan diambildari berbagai bidang teknik misal pedoman VDI 3229 tentang keselamatan “Technical Design Guidelines for Machine Tools and other Production Equipment”
  9. 9. misalnya: sistem kontrol alat cekam pneumatik harus dirancang dan diatur sedemikian rupa sehingga kecelakaan terhindar. caranya adalah: •peralatan kontak secara manual yang dilengkapi tutup pelindung atau •kontrol saling mengunci(interlock) •perlu waspada untuk mencegah agar luka tangan akibat alat cekam dihindari •mesin dengan alat cekam pneumatik harus dilengkapi sehingga spindle atau alat pemakan tidak akan bekerja sampai pencekaman cempurna. caranya adalah dengan menambahkan transduser tekanan atau katup sekuens tekanan
  10. 10. •bila ada kegagalan suplai udara tekan, alat cakam yang masih mengerjakan benda kerja tidak boleh membuka, caranya : tersedia tangki udara cadangan •kontrol saling mengunci atau katup memori Polusi Lingkungan ada 2 yang dapat disebutkan disini yaitu: •kebisingan suara udara bertekanan •kabut oli
  11. 11. Diagram alir sistem pengaturan Aktuator sinyal keluaran Elemen kontrol akhir sinyal kendali Elemen pemproses sinyal proses Elemen masukan sinyal masukan Pasokan Energi sumber Energidan Aliransinyal
  12. 12. Pendekatan sistematis pada pemakaian pneumatik   Pemakaian sistem pneumatik dan pengaturannya dilakukan dengan dokumentasi yang dapat mengkomunikasikan langkah atau proses , rangkaian dan hasil akhir dari disain.   Dokumentasi yang memadai meliputi: 1. diagram gerakan terhadap langkah dan atau gerakan 2. diagram alir proses 3. diagram rangkaian 4. daftar nama komponen pada sistem 5. petunjuk operasi 6. petunjuk penanganan gangguan 7. data komponen Tata letak rangkaian Diagram rangkaian
  13. 13. 1.0 1.3 1.01 1.6 1.1 1.2 1.4 1.3 0.1 1(P) 3(R) 1(P) 1(P)3(R) 3(R) 2(A) 2(A) 2(A) x y A 14(Z) 5(R) 3(S) 1(P) 12(Y) 4(A) 2(B) Penamaan komponen dalam sistem Semua elemen pada posisi awal diaktifkan Ditandai dengan panah dari sumber tekanan 1(P) ke 2(A) saat tidak aktif Cam tidak menekan sehingga pegas akan mengembalikan posisi 2(A) terhubung dengan saluran buang. 1(P) 2(A) 3(R) posisiawalteraktuasi
  14. 14. ·        Sinyal mengalir dari bawah rangkaian ke atas ·        Gambar silinder arah horisontal ·        Arah gerak silinder ke luar dari kiri ke kanan ·    Sinyal yang diaktifkan dalam satu arah digambarkan dengan sebuah panah sebagai tanda ·        Cam digambar dengan garis diarsir atau panah ·       Sambungan ditandai dengan tanda dot pada persilangan garis.
  15. 15. konstruksi control valve dan penutup control valve sizing digunakan sebagai prosedur untuk menghitung ukuran yang tepat dari penutup untuk penentuan debit aliran fluida yang akan dikendalikan alirannya. Persamaan debit aliran fluida berkorelasi dengan bukaan katup (valve) yaitu ukurannya (size). ρ P AQ v ∆ = . dengan : Av = valve flow coefficient dalam satuan SI ∆P = pressure drop sepanjang valve ρ = kerapatan fluida Cv = valve flow coefficient G = specific gravity atau relative density
  16. 16. Control valve Kegunaan control valve pada sistem pneumatik Mengatur arah gerakan dari aktuator Mengatur kecepatan dari aktuator Mengatur batasan tekanan pada sistem Jenis control valve berdasarkan kegunaannya: Directional control valve Flow controlvalve Pressure control valve Directional control valve Adalah control valve yang berfungsi untuk mengarahkan aliran fluida. Aliran fluida secara bebas akan lewat searah leawat valve Posisi ball bearing ditekan melawan pegas Saat ball bearing tidak ditekan aliran fluida akan tertutup Sebagai contoh pada mesin otomatik yang memerlukan operasi untuk memulainya tekanan awal harus melewati ambang batas tertentu.
  17. 17. Ada 3 tipe pressure control valve yaitu: 1. pressure regulating valve 2. pressure limiting valve 3. pressure sequence valve pressure limiting valve adalah valve yang mempunyai 1 buah orifice yang dalam keadaan normal akan tertutup. Saat tekanan fluida inlet berlebih maka akan mendorong pegas, dan valve akan terbuka dan fluida akan terbuang ke atmosfer. Valve jenis ini sering disebut pressure limiting valve atau pressure relief valve yang gunanya untuk pengaman(safeguard) sistem terhadap tekanan yang berlebih. pressure sequence valve pada pressure limiting valve tekanan batas di set pada input, maka valve dapat digunakan sebagai pressure sequence valve. Yang akan mengalirkan fluida dari suatu bagian tertentu jika tekanan telah melewati batas tekanan tertentu pada pressure sequence valve. Tampak pada gambar bahwa valve akan switching on (terbuka) pada saat tekanan inletnya mencapai suatu nilai ambang dan membolehkan tekanan yang diperbolehkan untuk melewatinya pada bagian pada sistem selanjutnya. Pada rangkaian sekuensial
  18. 18. konstruksi control valve dan penutup
  19. 19. Persamaan debit untuk standar US gallons: ρ P CxxQ v ∆ = − .1037.2 5 atau G P CxxQ v ∆ = − .1075.0 6 tabel 1. hubungan koefiien aliran dengan ukuran valve Flow coefficient Valve size (mm) 480 640 800 960 1260 1920 2560 Cv 8 14 22 30 50 110 200 Av x 10-5 19 33 52 71 119 261 474
  20. 20. Contoh: Hitung ukuran bukaan katup valve yang diperlukan untuk mengendalikan debit aliran air dengan debit aliran maksimum yang diperlukan adalah sebesar Q= 0.012 [m3 / s] dan pressure drop sepanjang valve yang diperbolehkan adalah 300 kPa. Solusi: dengan menggunakan persamaan karena kerapatan air adalah 1000 kg/m3 , maka nilai Av terdekat dengan nilai tersebut adalah 71x10-5 ; jadi berdasarkan tabel 1, maka ukuran valve adalah 960 mm. ρ P AQ v ∆ = . 5 3 103,69 10300 1000 012.0 − == ∆ = x xP QAv ρ
  21. 21. Sistem pengaturan yang digunakan pada pneumatik: • Sistem pengaturan manual(pilot) • Sistem pengaturan memory • Sistem pengaturan terprogram
  22. 22. Penamaan bagi tiap komponen: sistem penomoran tiap elemen biasanya bertalian dengan nomor group dan kriteria sebagai berikut: No . Pemberian nomor 0. catu daya 1, 2, 3 dst nomor group atau mata rantai kontrol 1.0, 2.0. dst elemen kerja (actuator) .1 elemen kontrol .01, .02 dst elemen yang dipasang antara elemen kontrol dan elemen kerja .2, .4 dst elemen yang mengaktifkan silinder bergerak ke luar .3, .5 dst elemen yang mengaktifkan silinder bergerak ke dalam deskripsi
  23. 23. Simbol dan pendekatan gambar yang seragam dari elemen pneumatik dengan simbol yang mempunyai ciri2 sbb: •Fungsi dari elemen •metode pengaktifan dan deaktivasi •jumlah lubang •jumlah posisi kontak •prinsip kerja •gambaran aliran sinyal namun simbol sistem pneumatik tidak menjelaskan tentang: •ukuran / dimensi dari komponen •metode konstruksi •biaya •disain arah saluran •komponen fisik secara detail •jenis sambungan
  24. 24. simbol yang digunakan dalam pneumatik dalam standar norma DIN ISO 1219.(circuit symbols fo fluidic equipment and system) simbol untuk pengadaan dan penyaluran udara tekan pasokan kompresor kapasitas tetap tangki udara dan sambungan T peralatan pelayanan filter separasi dan filtrasi partikel pemisah air pemisah air parsial pelumas jumlah terukur oli yang melalui aliran udara pengatur tekanan tipe relief ventilasi untuk kelebihan tekanan simbol kombinasi
  25. 25. unit pelayanan udara filter, pengatur tekanan, alat ukur, pelumas unit pelayanan udara sumber tekanan

×