21218804 ida-rufaida-ptk-matematika-kontekstual

7,792 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
7,792
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
298
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

21218804 ida-rufaida-ptk-matematika-kontekstual

  1. 1. MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAHMATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA (Penelitian Tindakan Kelas Terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Cicalengka Kabupaten Bandung ) Skripsi “Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika” oleh: Ida Rufaida 08513058 JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN GARUT 2009
  2. 2. Persembahan Kepada semua insan yang berkhidmah menyiapkan generasi yang teguh berakidah, patuh bersyariah dan berakhlakul karimah serta berbakti kepada orang tua, menghargai ilmu dan menghormati guru
  3. 3. Moto All the children are our future Teach them well And let them lead the way (Semua anak adalah masa depan kita Didiklah mereka dengan baik Biarkan mereka memimpin) Whitney Houston(1991): The greatest Love of all I love how you reach Without to touch I love how you teach without to rush (Aku suka caramu anda meraih tanpa menyentuh Aku suka cara anda mendidik tanpa menghardik) Odia coates (1982): The Woman Song
  4. 4. PERNYATAN Dengan ini, saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA” (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VIII SMP Negeri 1 Cicalengka) Ini benar-benar karya saya sendiri. Pengutipan dari sumber-sumber lain,telah saya lakukan berdasarkan kaidah-kaidah pengutipan yang sesuai denganetika keilmuan yang berlaku sehingga isi skripsi serta semua kelengkapannya inimerupakan karya asli. Apabila kemudian ditemukan hal-hal yang tidak sesuaidengan isi pernyataan saya ini, saya bersedia menerima resiko atau sanksi apapun. Garut,1 Aguntus 2009 Yang membuat pernyataan IDA RUFAIDA
  5. 5. Lembar Pengesahan Skripsi oleh: IDA RUFAIDA NIM: 08513058 Disetujui dan disahkan oleh: Pembimbing I Pembimbing IIDrs. Deddy Sofyan, M.Pd. Drs. Sukanto Sukandar M.NIP: 132057541 NIP: 131 793 696 Diketahui oleh:Ketua STKIP Garut Ketua Jurusan MatematikaDrs. H. Imid Hamid, M.Pd. Drs. Moersetyo Rahadi, M.Pd.NIP: 130 143 743 NIP: 131 793 701
  6. 6. ABSTRAK Kemampuan matematika adalah kemampuan bagi kehidupan sehari-hari,oleh sebab itu seyogyanya setiap manusia memiliki kemampuan matematika.Stigma bahwa matematika pelajaran yang sulit menyebabkan hasrat belajarrendah, akibatnya kemampuan matematika siswa tidak seperti yang diharapkan.Rendahnya hasrat belajar metematika menyebabkan siswa menghindar dari prosespenyelesaian masalah matematika, akibatnya kemampuan menyelesaikan masalahmatematika tidak terlatih dengan baik. Untuk meningkatkan kemampuanmatematika perlu motivasi belajar yang kuat dan untuk memotivasi siswa perluditerapkan pendekatan yang menimbulkan kesan bahwa matematika tidak sesulityang diduga. Lingkungan keseharian adalah sumber belajar yang kaya dan murah.Menghadirkan matematika dalam format keseharian yang dekat dengan kehidupansiswa ternyata menyadarkan siswa bahwa matematika memang rumit, tetapi tetapdapat diselesaikan dengan baik. Pembelajaran kontekstual merupakan prosespembelajaran yang mengajak siswa aktif mengamati keseharian dan kaitannyadengan matematika. Keterlibatan siswa dalam menemukan dan menyelesaikanmasalah telah meningkatkan motivasi belajar. Kelas merupakan laboratoriumpembelajaran yang sebenarnya, maka penelitian mengenai pembelajaran yangpaling otentik adalah penelitian yang dilakukan di kelas. Salah satu penelitiantersebut adalah Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian tindakan kelas di kelasVIII SMP Negeri I Cicalengka, menunjukkan adanya peningkatan kemampuansiswa dalam pemecahan masalah matematika. Peningkatan tersebut antara lainadanya perbedaan antara nilai awal dengan nilai akhir. Pada tes awal nilaiminimum 10, nilai tertinggi 80 dan nilai rata-rata 46,67. Setelah perlakuan denganmenerapkan pembelajaran kontekstual, terjadi peningkatan. Pada tes akhir, nilaiminimum 35, nilai tertinggi 100 dan nilai rata-rata 80,46.
  7. 7. Kata Pengantar Segala puji adalah milik Ilahi yang Maha Tinggi. Syukur berbinar terujarbagi yang Akbar, seraya memijar shabar menjalani alur yang tidak sepanjangnyadatar. Terima kasih tiada tara dan apresiasi dari lubuk hati dihaturkan dengantawadlu kepada segenap insan yang berkenan mendorong, mendukung danmembantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah mencatatkan segalakebaikan tersebut sebagai jariyah dengan pahala menggelagah tiada henti. Ada banyak alasan mengapa sebuah karya ditulis: Karena subyeknyasedang menjadi topik yang hangat; Karena materinya enak untuk dijadikan bahanpolemik; Karena topiknya menarik untuk diselidik dan alasan-alasan lainnya.Alasan penulis memilih tema dan mengangkat problema sebagaimana disebutpada sampul, karena masalahnya adalah bagian tidak terpisahkan dari diri dankeseharian penulis. Siapapun tentu berkehendak melahirkan karya yang sempurna. Tetapi adapepatah bahwa bila menunggu kesempurnaan, sebuah buku tidak akan pernahterbit, karena setiap selesai menulis satu paragrap informasi ada ribuan paragrapbaru yang harus ditulis untuk menyajikan informasi mutakhir. Maka tanpamenunggu sempurna skripsi ini disajikan apa adanya. Lebih dari itu, skripsi yangbaik adalah skripsi yang selesai, maka dengan disajikannya skripsi maka skripsidapat dinyatakan selesai. Selesainya skripsi sudah tentu berkat dukungan berbagai pihak, untuk itusekali lagi disampaikan terimakasih dan penghargaan kepada siapa saja yangberkenan membantu, diantaranya sosok-sosok tersebut di bawah ini.
  8. 8. Siswa-siswi tercinta yang telah bersedia berperanserta menggiatipembelajaran baik dalam putaran-putaran penelitian kelas maupun dalamwawancara serta observasi. Terima kasih tidak sekadar atas perannya dalamproses penyusunan skripsi, tetapi secara nyata telah menunjukkan sekaligusmenyadarkan mengenai pentingnya perubahan pandangan mengenai eksistensipeserta didik sebagai subyek pembelajaran yang sangat menentukan berhasiltidaknya proses pembelajaran. Guru, Kepala dan staf pimpinan SMP Negeri 1 Cicalengka yang denganpenuh kesetiakawanan, di tengah kesibukannya menjalankan tugas,menyempatkan diri memberi dorongan dan sumbang saran serta membagipengalaman baiknya dalam mendukung proses penelitian tindakan kelas sampaipenyusunan laporan menjadi skripsi, Pimpinan STKIP Garut, khususnya, Ketua jurusan Matematika beserta stafyang memberikan kemudahan-kemudahan dan arahan baik dalam konteksakademik maupun administratif. Dosen Pembimbing yang dengan sabar dan telaten memberikan arahandalam merapihkan pola pikir dan penulisan buah pikir menjadi skripsi. Sertadosen STKIP yang memperluas wawasan akademik sebagai bekal menjalaniprogram belajar maupun membangun suasana belajar. Sekali lagi atas segala kabajikan dan kebijakan yang telah terpancar,mendapat balasan dari Allah dan menjadi barokah bagi kita semua. Penulis jugamemohon maaf apabila ada hal-hal yang tidak semestinya dikemukakan ternyatatermuat dalam skripsi ini. Terakhir, penulis bermunajat, semoga semua yang telah berjariah ilmubaik disampaikan langsung kepada penulis atau penulis kutip pendapatnya dari
  9. 9. buku dan buah tulisan lainnya, diberikan ganjaran yang pantas. Semoga kebaikanyang telah mereka lakukan dapat penulis teladani. Garut, 1 Agustus 2009 Penulis
  10. 10. DAPTAR ISIABSTRAK viiKATA PENANGTAR viiiDAFTAR ISI xiDAFTAR TABEL xiiiDAFTAR GAMBAR xvDAFTAR LAMPIRAN xvBAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang Masalah 1 B. Pembatasan Masalah 6 C. Rumusan Masalah 7 D. Tujuan penelitian 7 E. Manfaat Penelitian 7 F. Asumsi 8 G. Hipotesis 8BAB II KAJIAN PUSTAKA 10 A. Pembelajaran Berbasis Kecerdasan 10 B. Matematika Sebagai Pelajaran Kehidupan Sehari-hari 14 C. Kesulitan Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematika 15 D. Pergeseran Konsep Pembelajaran 20 E. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and 27 Learning)BAB III METODE PENELITIAN 37 A. Penelitian Tindakan Kelas 37 B. Variabel Penelitian 47 C. Definisi Operasional D. Tehnik Pengumpulan Data 51BAB IV LAPORAN HASIL TINDAKAN KELAS 52 A. Gambaran Penelitian 52 B. Penjelasan Siklus Pertama 54 C. Penjelasan Siklus Kedua 68 D. Penjelasan Siklus Ketiga 86 E. Post Test 97 F. Pembahasan dan Pengambilan Keputusan 106BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 117DAFTAR PUSTAKA 120LAMPIRAN-LAMPIRAN 123
  11. 11. DAFTAR TABEL No Judul Tabel Hal.1.1 Standar Kelulusan SMP Tahun Pelajaran 2008/2009 22.1 Perbedaan Pembelajaran kontekstual dengan Konvensional 284.1 Deskripsi Kelompok 574.2 Nilai Kumulatif Tes Prasyarat 604.3 Siswa yang benar menurut butir soal 614.4 Siswa yang benar dalam prosedur dan perhitungan 624.5 Siswa yang benar prosedurnya tetapi salah dalam operasi 63 perhitungan4.6 Siswa yang benar dalam operasi perhitungan tetapi salah dalam 63 menetapkan ukuran4.7 Siswa yang benar dalam mengukur dan menghitung 774.8 Hasil pengukuran dan penghitungan kelompok 784.9 Kebutuhan porselin untuk bak air 804.10 Nilai Tes Siklus Ketiga per butir soal 934.11 Perbandingan Nilai soal nomor 1 dan nomor 2 944.12 Daftar hasil kwadrat 964.13 Perolehan nilai kumulatif Post Test 994.14 Perolehan nilai post test per butir soal 1004.15 Perolehan nilai penerapan per butir soal 1034.16 Rekapitulasi nilai penerapan per butir soal 1064.17 Tingkat kenaikan nilai Tes prasyarat-Post test 1074.18 Sikap siswa terhadap pembelajaran 1104.19 Pandangan siswa mengenai pembelajaran 111L.1 Validitas Instrumen, Data hasil uji coba 123L.2 Validitas butir soal 124L.3 Reliabilitas Instrumen 126L.4 Indeks Kesukaran 128L.5 Daya Pembeda 129
  12. 12. DAFTAR GAMBARNo Nama Gambar Hal. 1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas 45 2 Kuis Matematik, Denah Tanah 69 3 Kuis Matematik Segitiga bertumpuk 87 4 Segitiga samasisi 88 5 Kuis Matematik, 4 segitiga samasisi 89 6 Limas 93 7 Prisma 93 8 Persegi & Persegi Panjang 136 9 Segitiga Siku-siku, Samasisi dan Samakaki 13610 Balok dan Kubus 148
  13. 13. DAFTAR LAMPIRANLampiran A: Uji Validitas Instrumen 123 1 Data hasil uji coba 124 2 Validitas butir soal 125 3 Reliabilitas instrumen 127 4 Indeks Kesukaran 129 5 Daya Pembeda 130 6 Analisis validitas 131Lampiran B: Instrumen Penelitian 134 1 Tes prasarat 135 a Soal tes prasarat 135 b Pedoman penilaian 136 c Lembar jawab prasarat 137 d Kunci jawaban 138 2 Tugas Kelompok 141 a Lembar tes keelompok 141 b Lembar jawab/pelaporan tes kelompok 149 3 Post Test 150 a Soal post test 150 b Lembar jawab post test 153 c Pedoman penilaian 154 d Kunci jawaban post test 155 4 Kuisioner 1 158 5 Kuisioner 2 160 6 Lembar pengamatan dinamika kelompok 162Lampiran C: Distribusi Hasil Tes 163 1 Nilai Tes Prasarat 164 a Nilai kumulatif 164 b Nilai Gambar nomor 1 dan 2 165 c Nilai Gambar nomor 3 166 d Nilai Gambar nomor 4 167 e Nilai Gambar nomor 5 168 2 Nilai Tes Siklus 3 169 a Nilai kumulatif 169 b Nilai soal nomor 1 170 c Nilai soal nomor 2 171 3 Nilai Post Test 172 a Nilai Kumulatif 172 b Nilai soal nomor 1 173 c Nilai soal nomor 2 174 d Nilai soal nomor 3 175 e Nilai soal nomor 4 176LAMPIRAN D: RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 177 1 Silabus 178 2 RPP Balok dan Kubus 179 3 RPP Limas dan Pisma 182 4 Materi Pelajaran 185LAMPIRAN E: SURAT-SURAT PENELITIAN 197
  14. 14. 1 Surat Keputusan Pengangkatan Dosen Pembimbing 198 2 Surat Permohonan Izin Penelitian 199 3 Surat Keterangan Telah melaksanakan Penelitian 200 4 Keterangan Supervisi Kepala SMP N 1 Cicalengka 201 5 Kartu Bimbingan 202DAFTAR RIWAYAT HIDUP 203
  15. 15. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran di SMP adalah upaya untuk mengembangkan potensi,kecakapan dan kepribadian siswa. Perkembangan aspek-aspek pada siswa tersebuttidak diberikan oleh guru, tetapi siswa sendiri yang berusaha mengembangkandirinya. Fungsi guru hanyalah menciptakaan situasi, memberikan dorongan,arahan, bimbingan dan kemudahan agar siswa dapat belajar dan mengembangkandirinya. Dalam proses pembelajaran, interaksi siswa dipengaruhi berbagai faktor,antara lain: Karakteristik dan perkembangan siswa; Intelektual dalam belajar;Transfer dalam belajar dan Penyesuaian pembelajaran dengan perbedaanintelektual. Sejak awal millennium III telah terjadi upaya-upaya peningkatan kualitas,baik pada tataran konsep dan strategi pendidikan; kompetensi Pendidik danTenaga Kependidikan; Manajemen; Sarana & Prasarana; Buku dan teknologipembelajaran; Anggaran pendidikan dan kebijakan lain yang mendukung.Sekolah Gratis yang dikampanyekan, antara lain oleh Utomo Danandjaya, padatahun 2008 telah terealisasi sampai tingkat SMP. Peningkatan mutu tersebut diikuti dengan terus meningkatnya standarkelulusan sekolah sejak SD hingga SMA/SMK. Peraturan Menteri PendidikanNasional Nomor 78 Tahun 2008, menetapkan Standar Kompetensi Lulusan danKemampuan yang di uji sebagai mana dipresentasikan pada tabel di bawah. Tabel 1.1
  16. 16. Kisi-kisi Soal Ujian Nasional SMP & Madrasah Tsanawiyah Standar KompetensiNo Kemampuan yang diuji Lulusan Menghitung hasil operasi tambah, kurang, kali dan bagi pada bilangan bulat. Menggunakan konsep operasi Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan hitung dan sifat- bilangan pecahan. sifat bilangan, Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perbandingan, skala dan perbandingan.1. aritmetika Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan sosial,barisan jual beli. bilangan, serta Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan penggunaannya perbankan dan koperasi. dalam pemecahan Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan masalah . barisan bilangan. Mengalikan bentuk aljabar. Memahami operasi Menghitung operasi tambah, kurang, kali, bagi bentuk aljabar, atau kuadrat bentuk aljabar. konsep persamaan Menyederhanakan bentuk aljabar dengan dan pertidaksamaan memfaktorkan. linier, persamaan Menentukan penyelesaian persamaan linier satu garis, himpunan, variabel.2 relasi, fungsi, sistem Menentukan irisan atau gabungan dua himpunan persamaan linier dan menyelesaikan masalah yang berkaitan serta menggunakan- dengan irisan atau gabungan dua himpunan. nya dalam Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pemecahan masalah. relasi dan fungsi. Menentukan gradien, persamaan garis dan grfiknya.
  17. 17. Menentukan penyelesaian sistem persamaan linier dua variabel. Menyelesaikan soal dengan menggunakan teorema Pythagoras. Menghitung luas bangun datar. Menghitung keliling bangun datar dan penggunaan konsep keliling dalam kehidupan Memahami bangun sehari-hari. datar, bangun ruang, garis sejajar, sudut, Menghitung besar sudut pada bidang datar.3 serta menggunakan- Menghitung besar sudut yang terbentuk jika dua nya dalam peme- garis berpotongan atau garis sejajar berpotongan cahan masalah. dengan garis lain. Menghitung besar sudut pusat dan sudut keliling pada lingkaran. Menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep kesebangunan. Menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep kongruen. Menentukan unsur-unsur bangun ruang sisi datar. Menentukan jaring-jaring bangun ruang. Menghitung volume bangun ruang sisi datar dan sisi lengkung. Menghitung luas permukaan bangun ruang sisi datar dan sisi lengkung. Memahami konsep Menentukan ukuran pemusatan dan menggunakan dalam statistika, serta dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. menerapkannya4 dalam pemecahan Menyajikan dan menafsirkan data.
  18. 18. masalah. Merujuk kepada kisi-kisi di atas, Standar Kompetensi Lulusan dalam matapelajaran matematika semuanya berorientasi kepada pemecahan masalah. Olehsebab itu guru seyogianya menciptakan suasana pembelajaran yang dinamis danceria sehingga siswa bersemangat melakukan penyelesaiaan soal-soal metematikasebagai upaya meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Selain itu gurujuga harus berupaya menghubungkan matematika dengan masalah-masalahkehidupan nyata. Hal ini penting mengingat matematika merupakan matapelajaran yang akan dipergunakan dalam seluruh aspek kehidupan. Memiliki kemampuan memecahkan soal matematika akan menjadi bekalbagi siswa untuk melakukan pemecahan maslah dalam menjalani kehidupan saatini dan nanti. Masalah adalah kesenjangan antara kenyataan dengan keseharusanatau harapan. Pemecahan Masalah adalah upaya untuk menemukan alternatif bagipenyelesaiannya. Bangun datar adalah bagian paling dasar dalam geometri yang lahir danberkembang di Mesir dan Babilonia. Geometri merupakan sebuah temuan yangdidorong oleh ambisi para pemimpin pemerintahan pada masa itu untuk dapatmendirikan bangunan yang besar dan kokoh serta untuk mengusai tanah bagikepentingan pendapatan pajak. Berbagai fakta tentang Geometri Bangun datar termuat dalam AhmesPapirus yang ditulis pada tahun 1650 SM yang ditemukan pada abad ke Sembilan.Dalam Papyrus terdapat formula tentang perhitungan luas persegi panjang,segitiga siku-siku, trapezium dengan kaki tegak lurus dan luas lingkaran. Pakaryang memberikan kontribusi antara lain: Thales (640-546 SM), matematikawan
  19. 19. yang selalu ingin melakukan pembuktian atas teori-teori geometri; Pythagoras(528-507 SM), yang menemukan teori panjang garis miring suatu segitiga siku-siku sebagai akar dari penjumlahan kuadrat kedua sisi yang lain. Teori-teoritersebut kemudian dikembangkan oleh Euclid dalam buku Element. Bangun datar merupakan teori dasar bagi penyelesaian persoalan-persoalanbangun ruang sebagai kelanjutan atau perkembangan berikutnya. Bangun ruangmerupakan kombinasi dari bangun datar, anatara lain: pasangan-pasangan empatpersegi panjang menjadi balok dan kotak; persegi menjadi kubus; segitiga menjadilimas; segitiga dan persegi pajang atau persegi menjadi prisma dan sebagainya.Namun demikian, walaupun siswa telah mengusai masalah bangun datar, ketikaharus menyelesaikan masalah bangun ruang sebaagian bersar siswa menghadapikesulitan. Hal ini bukan saja dipengaruhi oleh stigma bahwa matematika pelajaranyang sangat sulit juga masih kurangnya kesadaran siswa mengenai pentingnyamatematika bagi kehidupan sehari-hari. Pembelajaran konsteksual (Teaching Learning consteksual) menurutSukmadinata, (2004:196) merupakan suatu sistim atau pendekatan pembelajaranyang bersifat holistic (menyeluruh). Menurut Johnson (2002:210): pembelajarankonsteksual sekurang-kurangnya memiliki tiga prinsip, yaitu: interpendence(kesaling-tergantungan); diferensiasi dan self organization (pengorganisasiandiri). Adapun komponen-komponen pembelajaran konsteksual adalah: hubunganbermakna, mengerjakan pekerjaan penting, belajar mengatur diri sendiri,bekerjasama, berpikir kritis, bimbingan individual, pencapaian standar tinggi danmenggunakan penilaian otentik. Penulis sangat tertarik untuk mengimplementasikan pendekatankontekstual dalam pembelajaran matematika karena CTL memberikan
  20. 20. kesempatan yang sangat luas kepada pembelajar untuk bekerjasama, berfikir kritisdan mengkaitkan materi ajar dengan latar belakang individual, sosial dan kulturalsehingga pembelajaran lebih bermakna (meaningful). Dengan latar belakang di atas maka diajukan penelitian tindakan kelasdengan judul: “Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah MatematikaMelalui Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika “B. Pembatasan Masalah Pendidikan adalah upaya mewariskan dan mengembangkan nilai, olehsebab itu memiliki komponen dan faktor yang kompleks. Untuk menegaskan arahdan keluaran hasil yang ingin dicapai, maka penelitian dibatasi pada hal-halberikut: 1. Dalam upaya mencapai prestasi terbaik akan selalu ada hambatan yang dihadapi, termasuk dalam hal prestasi belajar. Dengan demikian siswa harus melakukan upaya yang dapat mengatasi hambatan belajar, khususnya matematika, sehingga siswa dapat meraih prestasi terbaik. 2. Guru sebagai fasilitor memberikan dukungan dengan cara antara lain: membangun suasana belajar yang menyenangkan; menyajikan materi pelajaran yang berkaitan langsung dengan kehidupan keseharian siswa; menerapkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan konteks yang dihadapi. 3. Suasana belajar yang kondusif dapat menolong siswa melakukan upaya mengatasi kesulitan/hambatan serta persoalan yang dihadapi berkaitan dengan belajar matematika. Dalam suasana yang ceria dan partisipatif siswa tidak merasa tertekan dan dapat melakukan eksplorasi sehingga
  21. 21. inspirasi untuk melahirkan solusi bagi penyelesaian masalah mengalir dengan lancar. 4. Dengan keterlatihannya dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan secara berkelanjutan, siswa menjadi terlatih dalam melakukan penyelesaian masalah. Kemampuan melakukan secara terus menerus akan mendorong siswa meraih prestasi puncak.C. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas adalah: Adakahpeningkatan kemampuan siswa dalam melakukan pemecahan masalah matematikamelalui pembelajaran kontekstual?D. Tujuan penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk: Mengetahui peningkatan kemampuan siswa dalam melakukan pemecahanmasalah matematika melalui pembelajaran kontekstual.E. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini, antara lain: 1. Bagi penulis sebagai penguatan kompetensi kependidikan dan pematangan profesi keguruan. 2. Bagi siswa sebagai pengalaman terstruktur dalam mengikuti metode pembelajaran yang variatif , sehingga siswa termotivasi dan merasa senang dalam belajar matematik.
  22. 22. 3. Bagi guru sebagai bagian dari brainstorming (curah gagasan) dan sharing pengalaman untuk pengayaan metode pembelajaran. 4. Bagi sekolah sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pembelajaran dalam memenuhi standar pelayanan minimum , sekurang-kurangnya dalam hal mutu guru dan proses pembelajaran. 5. Bagi STKIP Garut menjadi salah satu data penelitian yang dapat dimanfaatkan oleh peneliti-peneliti lain untuk lebih didalami atau dikembangkan lebih luas. 6. Bagi dunia pendidikan menjadi salah satu materi untuk bahan studi kependidikan dan pengayaan proses pendidikan.F. Asumsi Penelitian ini didasarkan atas asumsi bahwa: pembelajaran kontekstualdapat meningkatkan kemampuan siswa dalam melakukan pemecahan masalah.G. Hipotesis Tindakan Hipotesis berasal dari dua kata yaitu hypo (di bawah) dan thesa(kebenaran). Menurut Rahadi (2003:3), Hipotesis adalah jawaban sementara yangsifatnya tentatif dari rumusan masalah yang telah disusun dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis: Terdapat peningkatan kemampuan siswa dalam melakukan pemecahanmasalah matematika melalui pembelajaran kontekstual.
  23. 23. BAB II KAJIAN PUSTAKAA. Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Untuk melahirkan manusia berprestasi ada banyak metode danpendekatan, salah satu diantaranya pola dasar system dengan menerapkan limadisiplin, yaitu: Personal Mastery; Team Learning; Shared Vision; Mental Modeldan System Thinking. (diadaptasi dari Peter M Senge, 1990) dalam The FifthDiscipline, The Art and Practice of the Learning Organization). 1. Personal Mastery Personal mastery, adalah upaya melahirkan kader-kader yang memiliki kompeten dan kompetitif berbasis kecerdasan. Menurut Shepard, (2001): Kecerdasan tidak dapat diukur dengan angka. kecerdasan adalah Ability to solve Problem or Fashion Product. Kecerdasan adalah kemampuan menggunakan keterampilan, menciptakan sesuatu dan mengatasi masalah sesuai budaya komunitas. Shepard mengidentifikasi kecerdasan sebagai berikut: a. Interpersonal intelligence, kecerdasan antarpribadi, kemampuan memahami orang lain dan tampil dalam kemampuannya berinteraksi dengan baik dengan orang lain- dapat melakukan komunikasi dengan orang lain. b. Logical Intelligence, Kecerdasan Logika/Matematika, kemampuan kuantitatif, kemampuan memproses sesuatu secara analitis dan sistematis.
  24. 24. c. Spatial Intelligence, Kecerdasan Spatial/Visual, kemampuan membangun gagasan atau model, membayangkan penerapan dan mengubahnya yang semua ini dilakukan dalam pikirannya. d. Musical Intelligence, Kecerdasan Musik, kepekaan terhadap irama, melodi dan nada baik sebagai pelaku maupun pendengar. e. Verbal Intelligence, Kecerdasan Verbal berbahasa/berbicara. Kemampuan mengekspresikan pikiran-pikirannya dengan jernih baik melalui bahasa lisan maupun bahasa tulisan. f. Intrapersonal Intelligence, Kecerdasan intrapersonal, kemampuan berinteraksi dengan diri sendiri, introspeksi, refleksi dan kontemplasi melalui renungan. g. Kinesthetic intelligence, Kecerdasan kinestik/tubuh, kemampuan gerakan fisik, menari, berolah raga, berkelahi, melempar, memotong. Keterampilan mengubah suatu obyek /memanipulasi obyek dinamakan Tactile.Goldman (1997) merumuskan kecerdasan sebagai berikut: a. Emotional Intelligence, Kecerdasan Emotional, kemampuan mengenali situasi emosi diri sendiri dan kondisi emosi orang lain. b. Natural Intelligence, Kecerdasan terhadap Alam, kemampuan menikmati hidup dan berinteraksi serta menyatu dengan alam. c. Exisistential Intelligence, Kecerdasan memahami hidup dan kehidupan.Sternberg memperkenalkan Triarchic Theory a. Componential Intelligence, Kemampuan menganalisis, membandingkan dan mengevaluasi (Analyse, Compare & Evaluate).
  25. 25. b. Creative Intelligence, Kemampuan menciptakan, menemukan dan merancang (Create, Invent & Design). c. Contextual Intelligence, Kemampuan menggunakan dan menerapkan (use and apply) secara praktis.2. Team Learning Dalam satu kelompok yang aktif setidaknya ada 5 hal yang dapatdipelajari, yaitu: a. Learning To Know (Belajar Untuk Mengetahui) Mengetahui apa yang harus dilakukan dan untuk apa. b. Learning To Do (Belajar Untuk Bisa Melakukan) Memahami apa yang harus dilakukan, kemampuan apa yang harus dimiliki. c. Learning To Be (Belajar Untuk Dapat Menjadi Seseorang) Menjadi seseorang yang berkarakter sangatlah penting agar dapat bersikap dan bertindak dengan nyaman dan mendorong orang lain untuk menjadi seseorang. d. Learning How To Learn (Belajar Bagaimana Belajar) Bisa jadi kita telah cukup banyak belajar tetapi sedikit sekali yang menjadi pelajaran. Bergegaslah untuk memahami bagaimana mestinya kita belajar. e. Learning Live Together (Belajar Hidup Berdampingan) Belajar berkontribusi dan apresiatif agar orang lain berpartisipasi secara optimal.3. Shared Vision
  26. 26. Memasyarakatkan visi atau dalam konteks pembelajaran mengkhalayakkan target yang ingin dicapai dari proses belajar sangatlah penting. Bila siswa mengetahui apa target yang ingin dicapai dan manfaat apa yang dapat diperoleh dari pembelajaran maka siswa akan lebih semangat dalam menjalani pembelajaran. 4. Mental Model Pembinaan dengan menggunakan pemodelan mental, yaitu bagaimana seseorang dibiasakan dalam kondisi tertentu sehingga menjadi seperti itu selama hidupnya. Mental model akan terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, organisasi dan masyarakat secara luas. 5. System of Thinking. Senge,– (1994) dalam The Leader,s New Work: Building Learning Organization & Managing Learning menjelaskan adanya 10 tahapan system berfikir yang dapat menyederhanakan pola kerja, yaitu: Fixes that fail & fight back fire ( memperbaiki kegagalan); Shifting the Burden (pengalihan beban); Shifting the burden to the intervenor (pengalihan beban kepada pihak lain); Eroding goals (pengikisan sasaran); Limits to growth (batas-batas pertumbuhan); Growth and Underinvestment (pertumbuhan dan investasi yang rendah); Success to successful (keberhasilan berangkai); Escalation (Peningkatan); Tragedy of the Commons (nestapa yang merata); Balancing with delay (penyeimbangan dengan penundaan). Kelima disiplin di atas pada dasarnya berkehendak melahirkan manusia-manusia yang memiliki penalaran melalui proses pembelajaran. Belajarmatematika merupakan proses yang paling erat kaitannya karena penalaran ataukemampuan berfikir logis merupakan inti dari pembelajaran matematika. Berfikir
  27. 27. logis dalam matematika merupakan salah satu tujuan matematika yangdirumuskan dalam Kurikulum 2004.B. Matematika Sebagai Pelajaran Kehidupan Sehari-hari Semua ilmu dan pengetahuan berkembang dan dikembangkan daripengalaman dan realitas. Karena manusia berkomunikasi menggunakan bahasamaka dikembangkan teori-teori tenang bahasa. Karena ada yang suka berpidatomaka dikembangkan teori tentang berpidato. Karena ada orang yang sukamenyanyi maka dikembangkan teori-teori seni suara. Karena manusia bercocoktanam maka dikembangkan ilmu pertanian. Demikian juga dengan teorikonstruksi, perikanan, transportasi, komunikasi dan lain-lain. Matematika juga sama, ia berkembang karena kebutuhan dalam kehidupansehari-hari. Menghitung, mengukur dan menakar telah menjadi bagian kehidupansejak zaman Nabi Adam Alaihissalam. Ketika Habil dan Qobil diperintahkanuntuk berqurban. Nabi Adam menyebutkan jumlah dan takaran yang harusdiqurbankan. Demikian juga jarak ke tempat pelaksanaan qurban. Bilangan adalah materi paling dasar dalam matematika. Pada mulanyaorang membandingkan jumlah dengan istilah lebih banyak dan lebih sedikit.Tetapi ketika sistem kepemilikan mulai melekat dalam masyarakat maka jumlahmulai disebut dengan angka-angka. Konsep bilangan pada awalnya hanyalahuntuk kepentingan menghitung dan mengingat jumlah. Lambat laun para ahlimatematika menambahkan perbendaharaan simbol.dan kata-kata yang tepat untukmendefinisikan bilangan. Dari bilangan berkembang ilmu yang lain yaituaritmetika dan aljabar.
  28. 28. Demikian halnya dengan geometri. Karena orang harus mengukur luastanah dan benda lainnya maka maka dikembangkan ilmu untuk mengukur bangundatar. Kemudian ketika manusia mulai menempati bangunan yang dibuat, bukanlagi di lapangan, pohon atau goa, maka mulai dirasakan kebutuhan menghitungvolume dan hal-hal yang berkaitan dengan bangun ruang. Cara mengukur luas dan keliling Segiempat merupakan pengetahuan yangpertama kali dikembangkan, selanjutnya segitiga. Dari teori-teori yang berkaitandengan segiempat dan segitiga dikembangkan teori-teori untuk mengukur segilainnya, termasuk lingkaran. Dengan dasar pengetahuan bangun datar dua dimensimaka dikembangkan pengetahuan untuk mengukur bangun ruang tiga dimensi.C. Kesulitan Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematika Menurut Hudiono (2008), masalah utama yang dihadapi siswa SMP adalahlemahnya daya representasi dalam menyelesaikan permasalahan matematika.Padahal sasaran pembelajaran matematika di antaranya adalah mengembangkankemampuan siswa dalam berfikir secara matematika (think mathematically).Pengembangan kemampuan ini sangat diperlukan agar siswa lebih memahamikonsep yang dipelajari dan dapat menerapkannya dalam berbagai situasi. Ada lima standar yang mendeskripsikan keterkaitan pemahamanmatematika dan kompetensi matematika yang perlu dimiliki siswa yaitu: problemsolving, reasoning and proof, communication, connections, and representation(National Council of Teachers of Mathematics. (2000) Principles and Standardsfor School Mathematics. Reston, VA, NCTM p. 29. Kemampuan representasi matematika yang dimiliki seseorang, selainmenunjukkan tingkat pemahaman, juga terkait erat dengan kemampuan
  29. 29. pemecahan masalah dalam matematika. Suatu masalah yang dianggap rumit dankompleks, bisa menjadi lebih sederhana jika strategi dan pemanfaatan representasimatematika yang digunakan sesuai dengan permasalahan tersebut. Kemampuanrepresentasi yang pada akhirnya menjadi kemampuan melakukan pemecahanmasalah matematika terkait erat dengan kemampuan berfikir logis. Salah satu keterampilan matematika yang sangat erat kaitannya dengankarakteristik matematika adalah berfikir logis, karena matematika dipahamimelalui penalaran atau berfikir logis dan penalaran dipahami serta dilatih melaluibelajar matematika. Kemampuan penalaran atau berfikir logis perludikembangkan karena dapat meningkatkan kemampuan dalam matematika, darisekadar mengingat kepada kemampuan pemahaman. Audiblox (2006)menyatakan, … logical thinking: helping children to become smarter. (berfikirlogis membantu anak menjadi lebih cerdas). Namun demikian di sekolah terdapatbanyak kelainan yang menyebabkan kemampuan siswa dalam hal berfikir logismasih jauh dari memuaskan. Menurut Saragih (2008), hasil belajar matematika siswa sampai saat inimasih menjadi suatu permasalahan yang sering dikumandangkan baik oleh orangtua siswa maupun oleh pakar pendidikan matematika itu sendiri. Hasil penelitianyang dilakukan Suyanto dan Somerset di beberapa Propinsi di Indonesia,menemukan bahwa hasil tes mata pelajaran matematika siswa SMP sangat rendah,terutama pada soal aplikasi matematika. Suryadi (2005) dalam thesisnya menemukan bahwa siswa kelas dua SMPdi Kota dan Kabupaten Bandung mengalami kesulitan dalam mengajukanargumentasi serta menemukan pola dan pengajuan bentuk umumnya.
  30. 30. Priatna (2003) melakukan penelitian di Kota Bandung menemukankenyataan sebagai berikut: Setelah mendapat penjelasan mengenai segitiga samasisi dan segitiga sama kaki, dimana guru mengungkapkan bahwa semua segitigasama sisi adalah segitiga sama kaki. Ketika diberikan soal dengan diketahuipanjang salah satu sisi dan dua buah sudut, banyak siswa yang mempersepsisegitiga sama kaki semua sisinya sama sehingga menghitung keliling denganmengalikan tiga panjang sisinya. Kemampuan Secara umum kesulitan siswadalam aspek kemampuan berfikir logis berturut-turut pada kemampuan berfikirdeduktif (aspek silogisma dan aspek kondisional) dan kemampuan berfikirinduktif (aspek generalisasi dan aspek analogi). Rendahnya hasil belajar di atas merupakan hal yang wajar jika dikaitkandengan proses pembelajaran di kelas selama ini menggunakan metode kuliah,dimana guru sekadar menyampaikan informasi dan siswa sekadar mendengarserta menyalin. Sesekali guru bertanya dan sesekali siswa menjawab. Pada akhirpembelajaran guru menjelaskan cara mengerjakan contoh soal dilanjutkan denganmemberi soal latihan untuk dikerjakan kemudian guru memberikan penilaian.Soal latihan umumnya bersipat rutin dan kurang melatih daya nalar. Siswamenjadi robot yang harus mengikuti aturan dan prosedur dalam kegiatanpembelajaran yang mekanistik. Rendahnya pemahaman konsep matematikamenyebabkan siswa tidak dapat menggunakannya ketika diberi permasalahanyang agak kompleks. Menyikapi permasalahan di atas Cooney menyarankan reformasipembelajaran matematika dari pendekatan belajar meniru (menghapal) ke belajarpemahaman yang berlandaskan pada konsep knowing mathematics is doingmathematics. Pembelajaran lebih menekankan kepada doing atau proses
  31. 31. dibanding knowing that. Perubahan di atas dimaksudkan agar pembelajaran lebihmemfokuskan pada proses yang menggiatkan siswa untuk menemukan kembali(reinventing) konsep-konsep, melakukan refleksi, abstraksi, formalisasi danaplikasi. Untuk mendukung proses pembelajaran yang mengaktifkan siswadiperlukan pengembangan materi pelajaran matematika yang difokuskan kepadaaplikasi dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual) yang disesuaikan dengantingkat kognitif siswa, serta menggunakan metode evaluasi yang terintegrasi padaproses pembelajaran, tidak hanya tes pada akhir pembelajaran, formatif atausumatif. Matematika merupakan kegiatan manusia, oleh karenanya salah satualternatif yang sesuai dengan tuntutan perubahan adalah diterapkannyaPendekatan Matematika Realistik (PMR) yang lebih menekankan aktivitas siswauntuk mencari, menemukan dan membangun sendiri pengetahuan yangdiperlukan. Ruseffendi (2001) menyatakan bahwa membudayakan berfikir logis ataukemampuan penalaran serta bersikap kritis dan kreatif, proses pembelajaran dapatdilakukan dengan Pendekatan Matematika Realistik. PMR secara garis besarmemiliki lima karakteristik, yaitu: (1) menggunakan masalah kontekstual, (2)menggunakan model, (3) kontribusi siswa, (4) terjadinya interaksi dalam prosespembelajaran dan (5) menerapkan berbagai teori pembelajaran yang relevan,saling terkait dan terintegrasi dengan topik. Menurut Sabandar (2001), kontekstual memainkan peranan utama dalamsemua aspek pendidikan, yaitu dalam pembentukan konsep, pembentukan model,aplikasi dan dalam mempraktekkan keterampilan. Dalam pelaksanaan di kelas,
  32. 32. konteks digunakan sejak awal dan terus menerus untuk membangun pemahamansiswa melalui learning trajectory dalam suatu proses pembelajaran. Proses penyelesaian soal kontekstual dilakukan dengan menggunakanmodel. Pemodelan berfungsi menjembatani jurang antara pengetahuanmatematika tidak formal dan metematika formal dari siswa. Siswamengembangkan model tersebut dengan model-model matematika (formal dantidak formal) yang telah diketahuinya dengan menyelesaikan soal kontekstual darisituasi nyata (real) yang sudah dikenal siswa sehingga ditemukan model daribentuk informal kemudian menemukan model dalam bentuk formal. Akhirnyasiswa mendapatkan penyelesaian masalah dalam bentuk matematika yang standar. Terciptanya keragaman pemodelan dari masalah kontekstual sangatpenting bagi guru untuk mengetahui kemampuan siswa menemukan hubunganbagian-bagian dari masalah kontekstual melalui penskemaan, perumusan danvisualisasi sekaligus sebagai pertimbangan untuk memberikan bimbingan.Menurut Ruseffendi (1979) ada tiga macam model yang dapat digunakan dalamproses pembelajaran, yaitu: model kongkrit, model diagram dan model abstrakatau symbol.D. Pergeseran Konsep Pembelajaran Adanya kebijakan peningkatan jaminan kualitas lulusan SMP membawakonsekuensi dalam bidang pendidikan, antara lain perubahan dari modelpembelajaran yang mengajarkan mata-mata pelajaran (subject matter basedprogram) ke model pembelajaran berbasis kompetensi (competencies basedprogram). Model pembelajaran berbasis kompetensi bermaksud menuntun prosespembelajaran secara langsung berorientasi pada kompetensi atau satuan-satuan
  33. 33. kemampuan. Pengajaran berbasis kompetensi menuntut perubahan kemasankurikulum, dari model lama berbentuk silabus yang berisi uraian mata pelajaranyang harus diajar ke dalam kemasan yang berbentuk paket-paket kompetensi. Halini membawa konsekuensi bahwa proses pembelajaran harus berorientasi padapembentukan seperangkat kompetensi sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Haldemikian menuntut kemampuan guru dalam merancang model pembelajaranyang sesuai dengan karakteristik bidang kajian dan karakteristik siswa agarmencapai hasil yang maksimal. Oleh kerana itu peran guru dalam kontekspembelajaran menuntut perubahan, antara lain: (a) peranan guru sebagai penyebarinformasi semakin kecil, tetapi lebih banyak berfungsi sebagai pembimbing,penasehat, dan pendorong; (b) peserta didik adalah individu-individu yangkompleks, yang berarti bahwa mereka mempunyai perbedaan cara belajar sesuatuyang berbeda pula; (c) proses belajar mengajar lebih ditekankan pada belajardaripada mengajar (Laster, 1985). Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikanpergeseran peran guru dalam pembelajaran, yaitu: (a) Cara pandang guru terhadapsiswa perlu diubah. Siswa bukan lagi sebagai obyek pengajaran, tetapi siswasebagai pelaku aktif dalam proses pembelajaran. Dalam diri siswa terdapatberbagai potensi yang siap dikembangkan. Oleh katena itu dalam kontekspembelajaran guru diharapkan mampu memberikan dorongan kepada siswa untukmengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya dan (b) Gurudiharapkan mampu mengajarkan bagaimana siswa bisa berhubungan denganmasalah yang dihadapi dan mengatasi persoalan yang muncul di masyarakat.Antara lain dengan cara memberikan tantangan yang berupa kasus-kasus yangsering terjadi di masyarakat yang terkait bidang studi. Melalui kegiatan tersebut
  34. 34. diharapkan siswa dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya, yang padaakhirnya dapat digunakan sebagai bekal kemandirian dalam menghadapi berbagaitantangan di masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi diharapkan bisa ikut ambil bagiandalam mengembangkan potensi masyarakatnya. 1. Prinsip Pembelajaran Kompetensi Prinsip pembelajaran yang dikembangkan untuk mencapai keefektifan dan efisiensi pengelolaan pembelajaran di SMP, antara lain: a. Pembelajaran berfokus pada siswa (student cenrtered), artinya siswa menjadi subyek pembelajaran dan kecepatan belajar siswa yang tidak sama perlu diperhatikan. b. Pembelajaran terpadu (integrated learning), maksudnya pengelolaan pembelajaran dilakukan secara integratif. Semua tujuan pembelajaran yang berupa kemampuan dasar yang ingin dicapai bermuara pada satu tujuan akhir, yaitu mencapai kemampuan dasar lulusan. c. Pembelajaran individu (individual learning), artinya siswa memiliki peluang untuk melakukan pembelajaran secara individual. d. Belajar tuntas (mastery learning), maksudnya pembelajaran mengacu pada ketuntasan belajar kemampuan dasar melalui pemecahan masalah. Setiap individu dan kelompok harus menuntaskan pembelajaran satu kemampuan dasar baru belajar ke kemampuan dasar berikutnya. e. Pemecahan masalah (problem solving), artinya proses dan hasil pembelajaran mengacu pada aktifitas pemecahan masalah yang ada di masyarakat, yaitu dengan menggunakan pendekatan belajar kontekstual.
  35. 35. f. Experience-based learning, yakni pembelajaran dilaksanakan melalui pengalaman-pengalaman belajar tertentu dalam mencapai kemampuan belajar tertentu. g. Selain pemanfaatan prinsi-prinsip tersebut, guru dimungkinkan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran lain yang sesuai dengan tuntutan perkembangan.2. Belajar aktif Winkel (1996) mendefinisikan belajar sebagai suatu aktivitasmental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yangmenghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,keterampilan, nilai, dan sikap. Perubahan itu bersifat tetap dan berbekas.Belajar dapat dipandang sebagai usaha untuk melakukan proses perubahantingkah laku kearah menetap sebagai pengalaman berinteraksi denganlingkungannya. Belajar aktif merupakan perkembangan dari teori Dewey learning by doing (1859-1952). Dewey sangat tidak setuju pada rote learning “belajar dengan menghafal”. Dewey merupakan pendiri sekolah Dewey School yang menerapkan prinsip-prinsip learning by doing, yaitu bahwa siswa perlu terlibat dalam proses belajar secara spontan. Keingintahuan siswa akan hal- hal yang belum diketahuinya mendorong keterlibatannya secara aktif dalam suatu proses belajar. Menurut Dewey, guru berperan untuk menyediakan sarana bagi siswa untuk dapat belajar. Dengan peran serta siswa dan guru dalam belajar aktif, akan tercipta suatu pengalaman belajar yang bermakna. Belajar aktif mengandung berbagai kiat yang berguna untuk menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri siswa dan menggali potensi
  36. 36. siswa dan guru untuk sama-sama berkembang dan berbagi pengetahuan,keterampilan, serta pengalaman. Melalui pendekatan belajar aktif, siswadiharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitasbelajar dan potensi yang dimilikinya. Belajar aktif menuntut guru bekerja secara profesional, mengajarsecara sistematis, dan berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektifdan efisien. Artinya, guru dapat merekayasa model pembelajaran yangdilaksanakan secara sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagaipengalaman yang bermakna bagi siswa. Untuk itu guru diharapkan memilikikemampuan: a. Memanfaatkan sumber belajar di lingkungannya secara optimal dalam proses pembelajaran. b. Berkreasi dan mengembangkan gagasan baru. c. Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh di masyarakat. d. Memperjelas relevansi dan keterkaitan mata pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat. e. Mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku siswa secara bertahap dan utuh. f. Memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuannya. g. Menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif.
  37. 37. Dengan demikian, belajar aktif diasumsikan sebagai pendekatanbelajar yang efektif untuk dapat membentuk siswa sebagai manusiaseutuhnya yang mempunyai kemampuan untuk belajar mandiri sepanjanghayatnya, dan untuk membina profesionalisme guru.3. Pembelajaran Efektif Pembelajaran efektif adalah pembelajaran dimana siswa memperolehketerampilan-keterampilan yang spesifik, pengetahuan dan sikap sertamerupakan pembelajaran yang disenangi siswa. Intinya bahwa pembelajarandikatakan efektif apabila terjadi perubahan-perubahan pada aspek kognitif,afektif, dan psikomotor (Reiser Robert, 1996). a. Ciri-ciri pembelajaran efektif: o Aktif bukan pasif o Kovert bukan overt o Kompleks bukan sederhana o Dipengaruhi perbedaan individual siswa o Dipengaruhi oleh berbagai konteks belajar b. Kriteria Pembelajaran Efektif: o Kecermatan penguasaan o Kecepatan unjuk kerja o Tingkat alih belajar o Tingkat retensi (Reigeluth & Merril, 1989)4. Perencanaan Pembelajaran Mengajar atau “teaching” adalah membantu siswa memperolehinformasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk
  38. 38. mengekpresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar (Joyce danWell, 1996). Pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Secaraimplisit dalam pengertian ini terdapat kegiatan memilih, menetapkan,mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yangdiinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkanpada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan ini pada dasarnya merupakan inti dari perencanaanpembelajaran. Dalam hal ini istilah pembelajaran memiliki hakekatperencanaan atau perancangan (disain) sebagai upaya untuk membelajarkansiswa. Itulah sebabnya dalam belajar, siswa tidak berinteraksi dengan gurusebagai salah satu sumber belajar, tetapi berinteraksi dengan keseluruhansumber belajar yang mungkin dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran.Oleh karena itu pembelajaran menaruh perhatian pada “bagaimanamembelajarkan siswa”, dan bukan pada “apa yang dipelajari siswa”. Dengandemikian perlu diperhatikan adalah bagaimana cara mengorganisasipembelajaran, bagiaman cara menyampaikan isi pembelajaran, danbagaimana menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agardapat berfungsi secara optimal. Rancangan Pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagaiberikut: a. Pembelajaran diselenggarakan dengan pengalaman nyata dan lingkungan otentik, karena hal ini diperlukan untuk memungkinkan seseorang berproses dalam belajar (belajar untuk memahami, belajar untuk berkarya, dan melakukan kegiatan nyata) secara maksimal.
  39. 39. b. Isi pembelajaran harus didesain agar relevan dengan karakteristik siswa karena pembelajaran difungsikan sebagai mekanisme adaptif dalam proses konstruksi, dekonstruksi dan rekonstruksi pengetahuan, sikap, dan kemampuan. c. Menyediakan media dan sumber belajar yang dibutuhkan. Ketersediaan media dan sumber belajar yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar secara konkrit, luas, dan mendalam, adalah hal yang perlu diupayakan oleh guru yang profesional dan peduli terhadap keberhasilan belajar siswanya. d. Penilaian hasil belajar terhadap siswa dilakukan secara formatif sebagai diagnosis untuk menyediakan pengalaman belajar secara berkesinambungan dan dalam bingkai belajar sepanjang hayat (life long contiuning education).E. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajaryang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasidunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuanyang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggotakeluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebihbermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentukkegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kesiswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
  40. 40. Landasan filosofi pembelajaran kontekstual adalah konstruktivisme, yaitufilosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghapal,harus dikonstruksikan pengetahuan dalam benak siswa. Siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apamereka, dan bagaimana mencapainya. Siswa perlu menyadari bahwa yang merekapelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan demikian siswa memposisikansebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Merekamempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah membantu siswamencapai tujuan belajar. Oleh karena itu guru lebih banyak berurusan denganstrategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuahtim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggotakelas (siswa). Sesuatu yang baru (pengetahuan, keterampilan) datang darimenemukan sendiri, bukan dari apa kata guru. 1. Perbedaan pembelajaran kontektual dan konvensional Pola pembelajaran kontekstual berbeda dengan pembelajaran konvensional yang selama ini dikenal. Perbedaan tersebut tergambar dalam tabel berikut. Tabel 2.1 Perbedaan Pembelajaran kontekstual dengan Konvensional Pembelajaran Konvensional Pembelajaran Kontektual • Menyandarkan pada • Menyandarkan pada memori hafalan. spasial. • Pemilihan informasi • Pemilihan informasi ditentukan oleh guru. berdasarkan kebutuhan individu siswa.
  41. 41. • Cenderung terfokus pada • Cenderung satu bidang tertentu. mengintegrasikan beberapa bidang. • Memberikan tumpukan • Selalu mengkaitkan informasi kepada siswa sampai informasi dengan pengetahuan pada saatnya diperlukan. awal yang telah dimiliki siswa. • Penilaian hasil belajar • Menerapkan penilaian hanya melalui kegiatan auntentik melalui penerapan akademik berupa ujian ulangan. praktis dalam pemecahan masalah.2. Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual. Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jikamenerapkan komponennya, dalam pembelajaran Pendekatan kontekstualmemiliki tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism),menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learningcommunity), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yangsebenarnya (authentic assessment). a. Konstruktivisme (Constructivism) Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konsteks yang terbatas dan tidak sekonyong- konyong. (Bukan seperangkat fakta, konsep, kaidah untuk diingat). b. Menemukan (Inquiry) Pengetahuan + ketrampilan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil menemukan sendiri melalui: observasi, bertanya, hipotesis, pengumpulan data dan penyimpulan. c. Bertanya (Questioning)
  42. 42. Bertanya merupakan kegiatan guru untuk mendorong, menimbang dan menilai kemampuan berfikir siswa. d. Masyarakat Belajar (Learning Community) Hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama, melalui: 1) Pembentukan kelompok kecil. 2) Pembentukan kelompok besar. 3) Mendatangkan ahli ke kelas. 4) Bekerja dengan kelas sederajat. 5) Kerja kelompok dengan kelas di atasnya. 6) Bekerja dengan masyarakat. e. Pemodelan (Modelling) Pembelajaran atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru, misalnya cara melempar bola, contoh karya tulis, cara menghafalkan bahasa Inggris, guru memberi contoh mengerjakan sesuatu, cara memerlukan kata kunci dalam bacaan. Artinya ada model yang ditiru dan diambil siswa, sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci. Guru bukan satu-satunya model. f. Refleksi (Refection) Cara berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. g. Penilaian yang sebenarnya (Autentic Assesment)3. Langkah-langkah Pembelajaran Kontekstual Penerapan model pembelajaran kontekstual dalam kelas secara garisbesar mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
  43. 43. a. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. b. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. c. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. d. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). e. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. f. Lakukan refleksi di akhir pertemuan. g. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.4. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa dalam konteksbermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yangsedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individualsiswa dan peran guru. Untuk itu guru dalam menggunakan pendekatanpengajaran konekstual memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental siswa (developmentally appropriate). b. Membentuk group belajar yang saling ketergantungan (interdependent learning group). c. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri (self regulated learning) yang mempunyai karakteristik: kesadaran berfikir, penggunaan strategi, dan motivasi berkelanjutan. d. Mempertimbangkan keragaman siswa (disversity of student). e. Memperhatikan multi-intelegensi siswa (multiple intelligences), spasial-verbal, linguistic-verbal, interpersonal, musikal ritmik,
  44. 44. naturalis, badan-kinestetika, intrapersonal, dan logismatematis. (Gardner, 1993). f. Menggunakan teknik-teknik bertanya yang meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan pemecahan masalah dan keterampilan berfikir tingkat tinggi. g. Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment).5. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual a. Adanya kerjasama. b. Saling menunjang. c. Menyenangkan, tidak membosankan. d. Belajar dengan bergairah. e. Pembelajaran terintegrasi. f. Menggunakan bebagai sumber. g. Siswa aktif. h. Sharing dengan teman. i. Siswa kritis, guru kreatif. j. Laporan kepada orang tua bewujud, rapor, hasil karya siswa, laporan praktikum, dan karangan siswa, dll.6. Penilaian Penilaian dilakukan dengan menggunakan penilaian authentik, yangmempunyai karakteristik sebagai berikut: a. Penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. b. Menggunakan penilaian formatif maupun sumatif. c. Mengukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta.
  45. 45. d. Berkesinambungan. e. Terintegrasi. f. Digunakan sebagai umpan balik. Hal-hal yang digunakan sebagai dasar penilaian prestasi siswameliputi: • Penilaian kinerja (performance assessment). • Observasi Sistematik (Systematic observation). • Portofolio (portofolio). • Jurnal Sain (Journal). • Penilaian mencakup umpan balik dan berbagai bentuk refleksi7. Mengembangkan sikap kritis dan kreatif siswa Sebagai salah satu ciri pembelajaran kontekstual adalah sikap kritissiswa dan kreatif guru dalam proses pembelajaran. Berfikir kritis dan kreatifmerupakan komponen utama berfikir tingkat tinggi (higher order thinking).Proses berfikir tingkat tinggi harus dikembangkan pada setiap diri siswa. Halini merupakan tugas guru, karena guru harus megembangkan potensi siswasemaksimal mungkin hingga mencapai kemampuan yang tinggi pada setiapdiri siswa. Oleh karena itu pembelajaran dituntut dapat mengembangkan sikapkritis dan kreativitas siswa. Sikap kritis dan kreatifitas siswa dapatdikembangkan melalui pembelajaran yang berpusat pada otak kanan. Otakkanan mempunyai kemampuan berfikir kreatif, holistik, spasial. sedangkanotak kiri mengembangkan kemampuan berfikir rasional, analitis, linier. Otakkiri mengendalikan wicara dan otak kanan mengendalikan tindakan. Tabelberikut ditunjukkan perbedaan proses berfikir otak kiri dan kanan.
  46. 46. Berfikir Konvergen Berfikir Divergen (Proses di belahan otak Kiri) (Proses di belahan otak kanan)1. 1. Tertarik pada prosesTertarik pada proses penemuan yang pengintegrasian dari bagian- bersifat bagian-bagian dari suatu bagian suatu komponen menjadi komponen. satu kesatuan yang bersifat utuh dan menyeluruh. 2. Proses berfikir yang2. bersifat relasional,Proses berfikir analisis. konstruksional, dan membangun suatu pola.3. 3. Proses berfikirProses berfikir yang mementingkan simultan, dan parallel. tata urutan secara sekuensial dan 4. Proses berfikir lintas serial. ruang, tidak terikat pada waktu4. kini.Proses berfikir temporal, terikat pada 5. Proses berfikir yang waktu kini. bersifat visual, lintas ruang dan 5. musikal. Proses berfikir verbal, matematis, notasi musikal. Berikut disajikan berbagai perilaku dan kaitannya dengan berfikirkreatif dan kritis pada diri siswa. PERILAKU TERKAIT DENGAN ♦ Bosan dengan tugas rutin; ♦ Kreativitas. menolak membuat pekerjaan ♦ Toleransi tinggi untuk makna rumah. ganda. ♦ Tidak berminat terhadap ♦ Berfikir bebas, divergen. detail dan pekerjaan kotor. ♦ Berani ambil resiko. ♦ Membuat lelucon atau ♦ Imaginatif, sensitive. komentar pada saat tidak tepat. ♦ Menolak otoritas, tidak Motivasi
  47. 47. konformistis, keras kepala. ♦ Tekun dalam bidang yang ♦ Sukar beralih pada topik diminatinya. lain. ♦ Intens dalam menghayati ♦ Emosional sensitif, perasaan dan nilai. overacting, cepat marah atau ♦ Bebas. menangis kalau ada yang salah. ♦ Kecenderungan dominasi. Berfikir kritis ♦ Sering tak setuju ide orang ♦ Dapat melihat kesenjangan antara lain atau tak setuju ide gurunya. kenyataan dan kebenaran. ♦ Kritis terhadap diri, tak ♦ Mengacu pada hal-hal yang ideal. sabar menghadapi kegagalan. ♦ Mampu menganalisis dan ♦ Kritis terhadap guru dan evaluasi. orang lain. Dengan merujuk kepada uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa: (1)Hasil belajar siswa SMP pada saat ini masih belum memuaskan; (2) Siswa harusdimotivasi agar lebih bersemangat dalam meningkatkan kemampuannya dalamhal matematika, karena matematika merupakan pengetahuan yang digunakandalam kehidupan sehari-hari; (3) Agar siswa bersemangat maka pembelajaranharus menarik, dalam arti prosesnya menyenangkan dan materinya tidak terasasulit; dan (4) Pendekatan kontekstual menyajikan hal-hal keseharian yang mudahdifahami oleh siswa dan menekankan kepada keceriaan serta berorientasi kepadapeningkatan kemampuan berfikir logis. Dengan demikian pendekatan kontekstualsangat cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika dan dianggapdapat meningkatkan kemampuan siswa SMP dalam menyelesaikan masalahmatematika.
  48. 48. BAB III METODE PENELITIANA. Penelitian Tindakan Kelas Dengan melakukan penelitian ilmiah manusia mencoba mempertanyakan,menemukan, dan memanfaatkan pengetahuan yang benar. Menurut (Musnir &Gunawan, 1998/1999:12), ada tiga pendekatan yang dapat digunakan dalampenelitian, yaitu: • Pendekatan positivistik, yang berupaya untuk mengkaji dan menguji pengetahuan. Bentuknya dapat berupa uji hipotesis, uji teori, uji model, uji validitas, uji reliabilitas, perbandingan efektivitas/efesiensi, dsb. • Pendekatan penelitian naturalistik, yang berupaya mencari pengetahuan dengan cara menggali pengetahuan baru dari kompleksitas suatu tatanan komunitas ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dsb. • Pendekatan penelitian tindakan atau action research, yang merupakan pendekatan penelitian untuk menggunakan/memanfaatkan pengetahuan dalam dunia nyata. Penelitian tindakan atau action research merupakan salah satu pendekatanyang digunakan dalam penelitian untuk memahami realita. Penelitian tindakanberpijak pada pendekatan yang yang bersifat kualitatif. Pendekatan penelitiantindakan relatif baru, ia memiliki karakteristik yang berbeda dengan pendekatanpenelitian konvensional yang biasa digunakan dalam penelitian kuantitatif. Pendekatan penelitian tindakan ini mulai banyak digunakan dalamberbagai profesi, termasuk dalam profesi pendidikan. Penelitian pendidikan
  49. 49. memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu meningkatkan mutupendidikan di sekolah. Dalam melakukan penelitian pendidikan terhadap praktekpembelajaran di persekolahan, dapat digunakan berbagai pendekatan dan modelpenelitian. Salah satu model penelitian yang tepat untuk meneliti dan sekaligusmemperbaiki pembelajaran di sekolah adalah model penelitian tindakan kelas(classroom action research).Pengertian Penelitian Tindakan Kelas D. Hopkins (1993:44) memberikan definisi tentang action research sebagai berikut: … a form of self-reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out. Secara singkat penelitian tindakan menurut Hopkins dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk pengkajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan (partisipan), dalam suatu situasi sosial (termasuk pendidikan) dalam upaya untuk meningkatkan kemantapan rasional dan keadilan dari: (a) praktek sosial atau pendidikan mereka, (b) pemahaman mereka terhadap praktek tersebut, dan (c) memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan. Stringer (1996:15) mengemukakan definisi tentang action research sebagai berikut: … is a collaborative approach to inquiry or investigation that provides people with the means to take systematic action to resolve specific problems. This approach to research favors consensual and participatory procedures that enable people (a) to investigate systematically their problems and issues, (b) to formulate powerful and sophisticated accounts of their situations, and (c) to devise plans to deal with the problems at hand.
  50. 50. Jadi menurut Stringer penelitian tindakan merupakan suatu pendekatankerja sama (kolaboratif) dalam penelitian atau pengkajian yang menyediakansarana bagi seseorang untuk melakukan tindakan sistematis dalammemecahkan masalah-masalah khusus. Pendekatan penelitian ini lebihmenyenangi prosedur kesepakatan dan partisipatif yang memungkinkan oranguntuk (a) meneliti masalah-masalah mereka secara sistematis, (b) merumuskancatatan situasi mereka secara berkekuatan dan canggih, dan (c)mengembangkan rencana untuk mengatasi masalah-masalah yang dekattersebut. Dengan melihat definisi di atas, maka penelitian tindakan bukansekedar kegiatan meneliti untuk meneliti, atau sekedar menemukanpengetahuan baru, melainkan lebih diarahkan pada tindakan praktis, yakniuntuk menentukan suatu tindakan guna memecahkan masalah tertentu.Penelitian tindakan ini membantu seseorang menemukan masalahnya secarasistematis sampai kemudian membuat perencanaan untuk mengatasi masalahtersebut. Penelitian tindakan dapat diterapkan oleh para praktisi di berbagaibidang seperti praktisi pendidikan, kesehatan, pekerja sosial, pengembangekonomi, pembangunan organisasi, dan sebagainya. Grundy dan Kemmis (Zuber-Skerritt, 1996:5) menyatakan: Action research is research into practice, by practitioners, for practitioners…In action research, all actors involved in the research process are equal participants, and must be involved in every stage of the research…The kind of involvement required is collaborative involvement. It requires a special kind of communication…which has bee described as ‘symmetrical communication’…which allows all participants to be partners of communication on equal terms…Collaborative participation in theoretical, practical and political discourse is thus a hallmark of action research and the action researcher.
  51. 51. Dalam pandangan ini penelitian tindakan ditekankan sebagai sebuah kegiatan penelitian untuk keperluan praktis (terapan) yang dapat dilakukan oleh para praktisi dan untuk para praktisi. Dalam penelitian tindakan, semua aktor (pelaku) yang terlibat dalam proses penelitian adalah partisipan yang sederajat, karakteristik utamanya adalah adanya keterlibatan secara kolaboratif atau kerjasama antara yang meneliti dengan yang diteliti.Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas Penelitian tindakan (action research) adalah penelitian yang berkaitan dengan manusia; dengan kata lain, penelitian yang meneliti manusia. Menurut Guba (Stringer, 1996:ix) suatu penelitian yang meneliti manusia perlu memenuhi tiga karakteristik, yaitu: desentralisasi, deregulasi, dan kerjasama dalam pelaksanaannya. Desentralisasi diartikan sebagai suatu perpindahan dari upaya untuk menemukan “kebenaran” yang tergeneralisasi ke arah suatu penekanan pada konteks lokal. Desentralisasi dimaksudkan untuk mengurangi kesenjangan antara hukum-hukum yang umum dengan aplikasi yang khusus. Dengan pengetahuan yang mendalam tentang konteks lokal, seseorang diharapkan dapat menemukan pemecahan terhadap masalah-masalah local. Oleh karena itu penelitian didesentralisasi pada konteks lokal. Deregulasi merupakan langkah penelitian yang mencoba lepas dari ketatnya ikatan regulasi penelitian konvensional, seperti: validitas, reliabilitas, objektivitas, dan generalisasi. Penelitian tindakan mengkaji kehidupan sosial yang tergantung pada konstruksi mental atau interpretasi mental. Penelitian tidak menemukan pengetahuan dengan mengamati alam dari satu arah, tetapi
  52. 52. penelitian secara langsung diciptakan melalui interaksi antara si peneliti dengan “objek” (konstruk) yang diteliti. Kerjasama dalam pelaksanaan diartikan untuk mengindikasikan gaya penelitian dimana tidak ada perbedaan fungsi antara peneliti dengan yang diteliti. Keduanya didefinisikan sebagai partisipan yang memiliki kedudukan sama dalam menentukan pertanyaan apa yang akan ditanyakan, informasi apa yang akan dianalisis, dan bagaimana kesimpulan dan tindakan yang akan ditentukan.Prinsip Penelitian Tindakan Kelas Penelitian tindakan ini mesti berpijak atas prinsip-prinsip seperti yang diungkapkan oleh, antara lain, Stringer (1996:38): a. Prinsip-prinsip hubungan dalam penelitian tindakan, mesti: - Promote feelings of equality for all people involved (mendorong perasaan kesederajatan bagi semua orang yang terlibat); - Maintain harmony (mempertahankan keharmonisan); - Avoid conflicts, where possible (menghindari konflik jika mungkin); - Resolve conflicts that arise, openly and dialogically (menyelesaikan konflik yang muncul secara terbuka dan dialogis); - Accept people as they are, not as some people think they ought to be (menerima orang seperti apa adanya, bukan apa yang mereka pikir seharusnya); - Encourage personal, cooperative relationships, rather than impersonal, competitive, conflictual, or authoritarian relationships (mendorong hubungan pribadi dan kerja sama,
  53. 53. daripada hubungan yang tak mempribadi, kompetitif, penuh pertentangan atau otoriter); - Be sensitive to people’s feelings (bersifat sentifi terhadap perasaan orang).b. Prinsip dalam komunikasi yang efektif seseorang mesti: - Listens attentively to people (mendengarkan orang dengan penuh perhatian); - Accepts and acts upon what they say (menerima dan bertindak pada apa yang mereka katakan); - Can be understood by everyone (dapat difahami oleh setiap orang); - Is truthful and sincere (jujur dan tulus); - Acts in socially and culturally appropriate ways (bertindak dalam cara yang pantas secara sosial dan budaya); - Regularly advises others about what is happening (secara teratur menasehati orang lain tentang apa yang terjadi).c. Prinsip dalam partisipasi. Pastisipasi sangat efektif bila ia: - Enables significant levels of active involvement (memungkinkan keterlibatkan secara aktif pada tingkatan yang bermakna); - Enables people to perform significant tasks (memungkinkan orang untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna); - Provides support for people as they learn to act for themselves (memberikan dorongan bagi orang lain sebagaimana mereka belajar bertindak bagi diri mereka sendiri);
  54. 54. - Encourages plans and activities that people are able to accomplish themselves (mendorong rencana dan kegiatan yang yang mampu dicapai oleh mereka sendiri); - Deals personally with people rather than with their representatives or agents (berhubungan dengan orang secara pribadi dari pada melalui perwakilan atau agen mereka). d. Prinsip inklusi dalam penelitian tindakan melibatkan: - Maximization of the involvement of all relevant individuals (memaksimalkan keterlibatan semua individu yang relevan); - Inclusion of all groups affected (menyatukan semua kelompok yang terpengaruhi); - Inclusion of all relevant issues—social, economic, cultural, political—rather than a focus on narrow administrative or political agendas (menyatukan semua masalah yang relevan baik sosial, ekonomi, budaya, dan politik, dari pada memfokuskan pada agenda administratif atau politik yang sempit); - Ensuring cooperation with other groups, agencies, and organizations (memastikan kerja sama dengan kelompok, agen, dan organisasi lain); - Ensuring that all relevant groups benefit from activities (memastikan bahwa semua kelompok yang relevan memperoleh keuntungan dari kegiatan).Siklus Penelitian Tindakan Kelas Penelitian tindakan memiliki langkah-langkah yang khas dan berbeda dengan penelitian konvensional. Penelitian tindakan (action research)
  55. 55. memiliki langkah-langkah yang bersifat siklus (proses pengkajian berdaur),yang bergerak dari satu tahap ke tahap berikutnya, tetapi kemudian kembalipada tahap awal dengan suatu peningkatan. Daur tersebut secara sederhanadigambarkan pada bagan di bawah RENCANA MERENCANAK MELAKUKAN AN TINDAKAN REFLEKSI MENGAMATI MEREFLEKSI TINDAKAN/OBSERVASI Dengan mengadaptasi model Hopkin, Tim PGSM (199:7)menggambarkan siklus penelitian tindakan kelas dalam bentuk spiral, seperti REVISIberikut: RENCANA REFLEKSI TINDAKAN/OBSERVASI REVISI RENCANA REFLEKSI TINDAKAN/OBSERVASI REVISI
  56. 56. Sementara itu Stringer (1996:16) mengemukakan langkah-langkah pokokdalam siklus penelitian tindakan sebagai berikut:Look : - Gather relevant information (gather data) - Build a picture: Describe the situation (define and describe)Think : - Explore and analyzes: What is happening here? (hypothesize) - Interpret and explain: How/why are things as they are? (theorize)Act : - Plan (report) - Implement - EvaluateLangkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas Langkah-langkah pelaksanaan penelitian tindakan secara terinci (Musnir dan Gunawan,1998/1999). a. Mencari masalah penelitian. b. Memilih masalah penelitian. c. Mempertajam masalah penelitian. d. Mengembangkan rancangan pemecahan masalah putaran pertama.
  57. 57. e. Melaksanakan pemecaham masalah putaran pertama. f. Mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah putaran pertama. g. Merevisi rancangan pemecahan masalah putaran pertama atau mengembangkan rancangan pemecahan masalah putaran kedua. h. Melaksanakan pemecahan masalah putaran kedua. i. Mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah putaran kedua. j. Merevisi rancangan pemecahan masalah putaran ketiga atau mengembangkan rancangan pemecahan masalah putaran ketiga. k. Melaksanakan pemecahan masalah putaran ke-n. l. Mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah putaran ke-n. m. Merevisi rancangan pemecahan masalah putaran ke-n atau mengembangkan rancangan pemecahan masalah putaran ke-n+1. n. Melaksanakan pemecahan masalah putaran ke-n+1. o. Mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah putaran ke-n+1. p. Membuat laporan hasil pemecahan masalah.Rencana Penelitian Tindakan Kelas a. Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian. b. Variabel yang diselidiki. c. Rencana tindakan. d. Data dan cara pengumpulannya. e. Indikator kinerja. f. Tim peneliti dan tugasnya.B. Variabel Penelitian
  58. 58. Penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuandan kegunaan tertentu. Menurut Sugiono (2007:1), penelitian ilmiah didasarkanpada cirri-ciri keilmuan yaitu, rasional, empiriss dan sistematis. Penelitian inidimaksudkan untuk menemukan hubungan antara fakta yang satu dengan faktalainnya. Salah satu bentuk hubungan dalam menjelaskan mengapa sesuatu adaatau terjadi, adalah hubungan kasual. Namun di sini perlu kiranya jenis-jenis variabel dan hubungan antarvariabel. 1. Hakikat Variabel dan Atribut Variabel (nampak dari kata vary dan able) berarti "bisa beragam." Artinya, variabel adalah konsep yang memiliki keragaman nilai. Variabel adalah pengelompokan logis atribut-atribut, sebagai contoh: laki- laki dan perempuan adalah atribut, sedangkan jenis kelamin atau gender adalah variabel. Atribut adalah ciri-ciri atau kualitas yang memaparkan suatu obyek - dalam hal ini seseorang, misalnya: perempuan, berkebangsaan Timur, terasing, konservatif, tak jujur, cerdas, petani, dan sebagainya. 2. Jenis-jenis Variabel a. variabel diskrit (discrete variable). b. variabel bersambungan (continuous variable).Jenis Variabel Diperoleh dari kegiatan ContohDISKRIT MENGHITUNG Jumlah anak, jumlah sepeda motor, jumlah …BERSAMBUNGAN MENGUKUR Tinggi badan, bobot badan, jarak rumah dengan tempat
  59. 59. kerja, dsb. 3. Sifat Variabel a. Variabel Dependen (bebas) atau vriabel yang tidak terpengaruh, disebut juga varibel peubah. b. Variabel Independen atau variabel yang terpengaruh dan dapat mengalami perubahan Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini ditetapkan variabel-variabel:Variabel dependen adalah: Pembelajaran KontekstualVariabel Independen adalah: Kemampuan siswa dalam melakukan pemecahanmasalah matematikaC. Definisi Operasional 1. Prestasi Belajar Prestasi diterjemahkan dari kata achievement yang berarti hasil yang telah dicapai. Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai melalui belajar. Menurut Syaodih (2004:78) prestai belajar ada 10 yaitu: pengetahuan, pemahaman, keterampilan berpikir, keterampiln umum, penyesuaian diri, sikap, nilai, minat dan apresiasi. Masih ada banyak definisi dan uraian aspek- aspeknya mengenai prestasi belajar, akan tetapi pada intinya prestasi belajar yang terpenting adalah kecerdasan komprehensif. Tugas utama manusia adalah menyelesaikan masalah, menurut Zohar (2004): dalam melahirkan solusi, kontribusi kecerdasan spiritual dan emosional adalah 80 % dan kecerdasan intelektual 20 %. Membina kecerdasan perlu memadukan neurocortex-otak kiri (kecerdasan rasional/intelektual) dengan system limbic- otak kanan (kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional).
  60. 60. 2. Pemecahan Masalah Sebagaimana disebut di atas, bahwa tugas manusia adalah melakukanpemecahan masalah. Suatu masalah adalah suatu situasi yang dirasakanadanya sejumlah informasi yang hilang (ada kesenjangan). Pemecahanmasalah meliputi mencari pola – pola membuat prediksi, dan pengujianprediksi . Penyelesaian Masalah dilakukan ilmiah (Scientific Problem Solving)atau dengan menggunakan intuisi secara kreatif (Creative Problem Solving).Dalam konteks matematika Pemecahan Masalah adalah penyelesaianpersoalan-persoalan matematika dengan dengan menggunakan ukuran ataudata yang telah lebih dulu ditemukan atau dibuktikan. Dengan bekal data awalmaka diterapkan rumus yang berkaitan sehingga dapat ditemukan solusi ataupemecahannya. 3. Pembelajaran Kontekstual Menurut Dania (2006), Pembelajaran Kontekstual merupakan konsepbelajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannyadengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubunganantara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupanmereka. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa karenaproses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswabekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Guru matematikaidelanya mengambil peran sebagai mediator, bukan menyuapi siswa. Di dalamkelas guru adalah instrumen pembelajaran yang utama, bukan sebagaipengantar materi semata ataupun penyaji utama pelajaran.
  61. 61. D. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan datanya dilakukan dengan cara : 1. Riset kepustakaan, yaitu pengumpulan data referensi-referensi tertulis, meliputi buku-buku tentang pendidikan, pembelajaran, perkembangan siswa, matematika dan dokumen tertulis yang berkaitan dengan topik penelitian. 2. Pengamatan terlibat (participant observation) yaitu pengamatan langsung pada obyek penelitian tanpa intervensi eksistensinya dan terjadi interaksi antara peneliti dan yang diteliti. 3. Wawancara terbuka (open interview) dan mendalam, langkah ini dilakukan untuk memperoleh jawaban yang tidak dibatasi dari informan. Interview merupakan proses interaksi antara pewawancara dan responden. 4. Pengujian prestasi belajar melalui tes berkaitan dengan pokok bahasan mata pelajaran matematika. 5. Kuisioner, yaitu serangkaian pertanyaan tertulis yang disebarkan kepada siswa untuk mengumpulkan respon atas proses peneliti.
  62. 62. BAB IV HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELASA. Gambaran Penelitian 1. Perencanaan Penelitian dilakukan di kelas VIII I SMP Negeri I Cicalengka. Materi pembelajaran luas permukaan bangun ruang kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2008 – 2009. Materi termaksud meliputi luas permukaan kubus, balok, limas dan prisma. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan selama bulan Mei 2008, sebanyak tiga siklus ditambah siklus untuk pos tes. Pelaksanaan penelitian melibatkan guru dan kepala sekolah terutama dalam pelaksanaan pengamatan dan refleksi selama penelitian. Siklus pertama merupakan penjajagan melalui test prasyarat dan membangun dinamika kelompok. Sesi ini untuk mengondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran yang menekankan keperansertaan siswa. Siklus kedua diawali dengan apersepsi mengenai materi pelajaran bidang datar, khususnya persegi dan empat persegi panjang. Selanjutnya dilakukan proses pembelajaran mengenai bangun ruang kubus dan balok. Setelah proses pembelajaran diberikan tes yang langsung dianalisis. Siklus ketiga diawali dengan apersepsi mengenai materi pelajaran bidang datar, khususnya segitiga siku-siku, segitiga sama sisi dan segitiga sama kaki. Selanjutnya dilakukan proses pembelajaran mengenai bangun ruang Limas dan Prisma. Setelah proses pembelajaran diberikan tes. Setelah dilaksanakan ketiga siklus di atas kemudian diberikan post tes pada waktu tersendiri
  63. 63. 2. Tindakan Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika melalui pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika. 3. Pengamatan Dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran. pengamatan tersebut meliputi kegiatan guru dan siswa; pengembangan materi pembelajaran dan capaian hasil belajar siswa. Pengamatan dilakukan oleh peneliti, guru pamong, wali kelas dan yang ditugasi oleh PKS bidang kurikulum. Pengamatan dilakukan terhadap proses pembelajaran serta perilaku guru peneliti dan siswa selama pembelajaran berlangsung. 4. Refleksi Proses pembelajaran, hasil tes dan capaian hasil belajar pada umumnya dianalisis untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi sekaligus mengukur peningkatan kemampuan siswa. Hasil analisis sekaligus dijadikan bahan pertimbangan untuk menyusun rencana perbaikan siklus berikutnya. 5. Diskusi Dalam upaya mengidentifikasi masalah dan menghimpun gagasan perbaikan yang lebih tepat, peneliti melakukan diskusi dengan guru pamong, wali kelas dan PKS Bidang Kurikulum.B. Penjelasan Siklus Pertama
  64. 64. Sebagaimana disebutkan di atas, siklus pertama merupakan penjajaganmaka pada siklus pertama ini dilasksanakan langkah-langkah pembelajaransebagai berikut: 1. Pembukaan Setelah mengajak siswa membaca basmalah untuk memulai pembelajaran, peneliti memperkenalkan diri sebagai guru yang akan membimbing pembelajaran bangun ruang selama empat kali pertemuan. Selanjutnya kepada siswa disampaikan pertanyaan, Berapa enam kali delapan (6X8)? Hampir seluruh siswa berteriak menyebutkan empat puluh delapan dengan keras. Kemudian disampaikan pertanyaan kedua, mengapa enam kali delapan sama dengan empat puluh delapan? Kali ini semua siswa bungkam. Lima belas detik pertama hening kemudian terjadi saling bisik diantara siswa selama lebih dari satu menit. Kemudian seorang siswa mengangkat tangan. Ketika dipersilahkan, ia menjawab karena aturannya begitu. Kepada siswa yang lain ditanyakan apakah setuju dengan jawaban tersebut, ada sebagian siswa. Seorang siswa menyampaikan pendapatnya: karena enam nya ada delapan jadi kalau dijumlahkan ada empat puluh delapan. Kepada siswa dijelaskan, bahwa siswa yang menjawab pertanyaan, lebih memiliki tingkat keberanian yang lebih tinggi. Menjawab dengan mengemukakan alasannya lebih baik. Pendahuluan tersebut menghabiskan waktu 5 menit 2. Test Prasyarat Siswa mengerjakan tes prasyarat sebanyak 5 soal selama 10 menit. Materi tes mengenai Persegi, persegi panjang, segitiga siku-siku, segitiga
  65. 65. sama kaki dan segitiga sama sisi. Tes prasyarat dilakukan untuk mengetahuisejauh mana siswa menguasai kemampuan menyelesaikan penghitungankeliling dan luas bangun datar dua dimensi. Untuk menguasai bangun ruangtiga dimensi, siswa terlebih dulu harus menguasai bangun datar.3. Simulasi Pengakraban Untuk lebih mengakrabkan antara siswa dengan guru dan di antarasesama siswa, dilakukan proses perkenalan melalui simulasi: a. Siswa diminta ke teras kemudian membagi diri menjadi dua kelompok besar. Semua siswa, 48 orang hadir sehingga satu kelompok 24 orang. b. Kedua kelompok diminta berjajar berhadap-hadapan, satu baris membelakangi jendela satu lagi membelakangi halaman kelas. Waktu yang terpakai dari keluar hingga berjejer dengan rapih selama 5 menit. c. Selanjutnya siswa diminta berjejer dari kanan ke kiri secara alfabetis, menurut huruf pertama nama panggilan. Waktu yang terpakai 4 menit. d. Setelah berjejer rapih kemudian diverifikasi apakah posisinya benar? Ternyata masih belum selaras karena yang huruf awalnya sama lebih dari seorang dan urutan menurut huruf kedua belum tersusun. e. Peserta mengatur kembali posisinya hingga benar-benar rapih. Waktu yang terpakai 3 menit. f. Setelah kedua barisan tersusun rapih, siswa diminta mengubah barisan, kali ini yang paling kanan yang lebih dulu di lahirkan. g. Seperti halnya pada cara berjejer pertama, terjadi revisi posisi dua kali pada susunan barisan kedua. Waktu yang terpakai sampai barisan benar-benar rapih adalah 6 menit.

×