KATA PENGANTAR                            g      ransportasi darat merupakan moda transportasi yang paling                ...
DAFTAR ISIKata Pengantar ....................................................................................................
3.8.     PERSAINGAN ANTAR MODA TRANSPORTASI DAN INTEGRASI ANTAR MODA........................ III-203.9.     STANDAR KUALIT...
BAB VIRENCANA UPEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TRANSPORTASI DARAT6.1.         BIDANG LALU LINTAS ANGKUTAN JALAN RAYA.............
DAFTAR TABELTabel 2. 1    Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi di Indonesia 2003 ...................................
Tabel 2. 27   Jumlah Armada Angkutan Air di Kalimantan Barat ................................................................
Tabel 5. 1   Rencana Program Transportasi Jalan .............................................................................
DAFTAR GAMBARGambar 1. 1    Paradigma Berpikir Penyusunan Masterplan Transportasi Darat .....................................
Gambar 3. 1    Kerugian Akibat Muatan Lebih .................................................................................
BAB I                                         PENDAHULUAN1.1. LATAR BELAKANGIndonesia merupakan negara kepulauan dengan lu...
Jalan tol yang dimiliki PT. Jasa Marga mengalami peningkatan panjang hingga 369,78 km di tahun 2002 dantotal panjang jalan...
masyarakat ke sarana angkutan dan standar keselamatan yang dipersyaratkan, dan juga masih kurangmemperhatikan kebutuhan ma...
Perencanaan dalam jangka waktu tertentu yang juga fleksibel terhadap perubahan yang terjadi akanmemberikan manfaat yang le...
Tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah pemilihan strategi dan tindak lanjut kegiatan dalam bentukimplementasi di la...
BAB II                           GAMBARAN UMUM INDONESIA2.1. KONDISI GEOGRAFIS INDONESIAIndonesia terletak antara 6°08’ LU...
menghubungkan dari Turki sampai dengan Singapura (14.000 km), dan masih mungkin dikembangkan ke Eropadan Afrika. Indonesia...
Sektor transportasi merupakan salah satu sektor yang mempunyai trickle down impact terhadap sektor-sektoryang lain. Ini be...
Jawa Timur                        -16,12%      54.398.897        14,45%               3,41    60.754.056    14,24%Bali    ...
Pertumbuhan                             Pertumbuhan        Jenis Pengeluaran                  2001                        ...
DKI Jakarta                   42,20%     49,60%       5,40%      4,00%     47,00%      38,10%     5,50%       8,40%Jawa Ba...
Tabel 2. 5        PDB dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menurut Lapangan Usaha 2001 – 2003 berdasarkan                  Ha...
e Jasa Perusahaan                           6.048,7           5,88%        6.404,1          6,53%     6.822,2 Jasa-jasa   ...
investasi di hampir semua daerah. Merosotnya peran investasi tersebut tampaknya sejalan dengan gejalamerosotnya peran eksp...
Kalimantan Tengah               39,85%        2,80%    7,60%   0,55%       4,93%     18,91%    10,02%       2,35%     12,9...
Tingkat konsumsi dan daya beli yang membaik salah satunya akan berakibat pada terjadinya perubahan polapemilihan moda (mod...
dimana tahun 2002 meningkat sebesar 12,79% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Komponen berikutnyadengan laju pertumbuha...
Tabel 2.9        PDB Atas Dasar Harga Konstan 1993 menurut Lapangan Usaha 1999-2003 (Miliar Rupiah)                    Lap...
lokasi produksi) maupun distribusi komoditi ekonomi (mengangkut dan mengirimkan hasil produksi kekonsumen). Peningkatan pe...
Sumber: Statistik Indonesia, 2003 (diolah)            Gambar 2. 1    Kesenjangan Pendapatan Perkapita Penduduk Perkotaan d...
Sumber: Susenas, 2002 (diolah)  Gambar 2. 2. Perbandingan Pengeluaran Rata-rata Penduduk Perkotaan dan Perdesaan Tiap-tiap...
2.3. KONDISI TRANSPORTASI DARAT SAAT INI2.3.1 TRANSPORTASI JALANPrasarana jaringan jalan masih merupakan kebutuhan pokok b...
Gambar 2.4   Peta Jaringan Jalan berdasarkan Status                     Sumber : Ditjen Tata Ruang, 2003                  ...
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Masterplandarat
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Masterplandarat

2,775 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,775
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
259
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Masterplandarat

  1. 1. KATA PENGANTAR g ransportasi darat merupakan moda transportasi yang paling dominan di Indonesia dibandingkan moda tranportasi lainnya seperti transportasi udara dan transportasi laut. Hal ini ditunjukkan dari data OD Nasional 2001 yang menggambarkan bahwa ± 95% perjalanan penumpang dan barang menggunakan moda transportasi darat. Besarnya persentase tersebut merefleksikan tingginya ketergantungan pendudukIndonesia terhadap moda transportasi ini. Oleh sebab itu, perencanaan pengembangan transportasidarat menjadi prioritas utama dalam rangka pembangunan Indonesia secara keseluruhan.Pengembangan transportasi darat dibutuhkan tidak hanya untuk mengatasi permasalahan transportasiyang terjadi saat ini, tetapi juga untuk menjawab permasalahan transportasi yang diperkirakan munculdi masa yang akan datang. Untuk itu perlu disusun suatu kerangka kebijakan pengembangantransportasi darat dalam bentuk masterplan.Penyusunan masterplan transportasi darat ini secara umum berisikan uraian tentang gambaran umumkondisi Indonesia yang akan mempengaruhi rencana transportasi darat ke depan seperti kondisigeografis Indonesia, kondisi demografi dan perkembangan sosial budaya, dan sebagainya. Selain itu ,juga dikaji produk-produk perencanaan dan hukum yang terkait dengan perencanaan transportasi daratke depan seperti Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Sistem Transportasi Nasional, dan regulasiterkait.Kondisi transportasi darat di Indonesia yang meliputi moda jalan, kereta api, sungai danau danpenyeberangan serta perkotaan, serta pola perjalanan transportasi darat yang terjadi saat ini, baikuntuk penumpang maupun barang juga diuraikan untuk memberikan gambaran kondisi transportasidarat di Indonesia saat ini.Secara detil gambaran umum transportasi darat di Indonesia ini, merupakan data dan informasi yangmenjadi dasar untuk menyusun rencana umum dan program pengembangan transportasi darat diIndonesia.Demikian kami persembahkan buku masterplan transportasi darat ini, kiranya buku ini dapat menjadipedoman bagi pemangku kebijakan dalam menyusun perencanaan transportasi darat lebih lanjut.. Jakarta, Mei 2005 DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT i
  2. 2. DAFTAR ISIKata Pengantar ..........................................................................................................................................................iDaftar Isi ....................................................................................................................................................................iiDaftar Tabel ..............................................................................................................................................................vDaftar Gambar........................................................................................................................................................ viiiBAB IPENDAHULUAN1.1. LATAR BELAKANG ................................................................................................................................. I-11.2. MAKSUD DAN TUJUAN.......................................................................................................................... I-31.3. METODE PELAKSANAAN ...................................................................................................................... I-3BAB IIGAMBARAN UMUM INDONESIA2.1. KONDISI GEOGRAFIS INDONESIA ..................................................................................................... II-12.2. KONDISI PEREKONOMIAN INDONESIA ............................................................................................. II-32.3. KONDISI TRANSPORTASI DARAT SAAT INI .................................................................................... II-17 2.3.1. Transportasi Jalan .................................................................................................................. II-17 2.3.2. Transportasi Sungai, Danau, dan Penyeberangan ............................................................... II-27 2.3.3. Transportasi Perkotaan .......................................................................................................... II-342.4. POLA DAN BANGKITAN PERJALANAN TRANSPORTASI DARAT.................................................. II-43 2.4.1. Pola Perjalanan Penumpang ................................................................................................. II-44 2.4.2. Pola Perjalanan Barang ......................................................................................................... II-46BAB IIIISU STRATEGIS TRANSPORTASI INDONESIA3.1. KESELAMATAN TRANSPORTASI (TRANSPORT SAFETY).............................................................. III-13.2. DESENTRALISASI DAN TATA PEMERINTAHAN YANG BAIK .......................................................... III-33.3. KEBIJAKAN TARIF DAN SUBSIDI ....................................................................................................... III-63.4. KEBIJAKAN LINGKUNGAN .................................................................................................................. III-83.5. MUATAN LEBIH .................................................................................................................................. III-113.6. BACK LOG PEMELIHARAAN ............................................................................................................. III-173.7. PERAN SERTA SWASTA DALAM PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR............................................. III-17 ii
  3. 3. 3.8. PERSAINGAN ANTAR MODA TRANSPORTASI DAN INTEGRASI ANTAR MODA........................ III-203.9. STANDAR KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA............................................................................ III-233.10. PENGHEMATAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK ............................................................ III-25BAB IVDASAR PENYUSUNAN RENCANA UMUM TRANSPORTASI DARAT4.1. KAJIAN LITERATUR DAN REGULASI .................................................................................................IV-1 4.1.1. Kajian Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN).....................................................IV-1 A. Sistem Jaringan Transportasi Jalan ..................................................................................IV-8 B. Sistem Jaringan Transportasi Sungai, Danau, dan Penyeberangan..............................IV-10 4.1.2. Sistem Transportasi Nasional ...............................................................................................IV-12 4.1.3. Regulasi Transportasi Nasional ............................................................................................IV-17 4.1.4. Program Prioritas Pembangunan Nasional ..........................................................................IV-194.2. POLA PERJALANAN TRANSPORTASI DARAT DI MASA DATANG ...............................................IV-23 4.2.1. Skenario Perjalanan Transportasi Darat...............................................................................IV-23 4.2.2. Prediksi Perjalanan Transportasi Darat ................................................................................IV-304.3. ANALISIS SWOT .................................................................................................................................IV-344.4. KERANGKA PIKIR RENCANA UMUM TRANSPORTASI DARAT (MASTERPLAN)........................IV-50BAB VRENCANA UMUM PENGEMBANGAN TRANSPORTASI DARAT5.1. KEBIJAKAN UMUM ................................................................................................................................V-1 5.1.1. Visi dan Misi Pembangunan Transportasi Darat .....................................................................V-1 5.1.2. Tujuan.......................................................................................................................................V-1 5.1.3. Indikator Kinerja Transportasi Darat ........................................................................................V-25.2. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN TRANSPORTASI DARAT .................................................................V-6 5.2.1. Arah Pengembangan Jaringan Transportasi Darat .................................................................V-6 5.2.2. Arah Pengembangan Berdasarkan Moda ...............................................................................V-8 5.2.3. Kebijakan Pembangunan Transportasi Darat........................................................................V-235.3. PROGRAM PENGEMBANGAN TRANSPORTASI DARAT ................................................................V-25 5.3.1. Program Pengembangan Transportasi Darat........................................................................V-25 5.3.2. Rencana Investasi Transportasi Darat...................................................................................V-29 iii
  4. 4. BAB VIRENCANA UPEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH TRANSPORTASI DARAT6.1. BIDANG LALU LINTAS ANGKUTAN JALAN RAYA.............................................................................VI-3 6.1.1. Permasalahan Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya...................................................................VI-4 6.1.2. Sasaran Pembangunan Lalu Lintas Angkutan Jalan..............................................................VI-6 6.1.3. Arah Kebijakan Pembangunan Lalu Lintas Angkutan Jalan ..................................................VI-7 6.1.4. Program dan Kegiatan Pembangunan Lalu Lintas Angkutan Jalan.......................................VI-86.2. BIDANG ANGKUTAN SUNGAI, DANAU, DAN PENYEBERANGAN ................................................VI-12 6.3.1. Permasalahan Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan...........................................VI-12 6.3.2. Sasaran Pembangunan Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan............................VI-13 6.3.3. Arah Kebijakan Pembangunan Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan .....................................................................................................................VI-14 6.3.4. Program dan Kegiatan Pembangunan Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan .....................................................................................................................VI-15 Penutup.....................................................................................................................................................x iv
  5. 5. DAFTAR TABELTabel 2. 1 Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi di Indonesia 2003 ..................................... II-2Tabel 2. 2 PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi per Propinsi Tahun 1998 dan 2002 berdasar Harga Konstan 1993 (PDRB dalam juta Rp,pertumbuhan dalam %)......................... II-3Tabel 2. 3 PDB Menurut Pengeluaran, PNB, dan Pendapatan Nasional Indonesia 2001-2003 berdasarkan Harga Konstan 1993 (PDB, PNB, Pendapatan Nasional dalam milyar, pertumbuhan dalam %)......................................................................... II-5Tabel 2. 4 Kontribusi Komponen-Komponen Pengeluaran terhadap Total PDRB per Propinsi Tahun 1996 dan 2001 (dalam persentase) .................................................................. II-5Tabel 2. 5 PDB dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menurut Lapangan Usaha 2001 – 2003 berdasarkan Harga Konstan 1993 (PDB dalam milyar Rp., pertumbuhan dalam %)............................................................................................................... II-7Tabel 2. 6 Kontribusi Sektoral PDRB per Propinsi Tahun 2001 (cetak tebal menandakan kontribusi sektor utama dalam setiap propinsi) ................................................... II-9Tabel 2. 7 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga tahun 2000-2003 ...................................................... II-11Tabel 2. 8 Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha 1999-2003 (Miliar Rupiah)......................................................................................................... II-12Tabel 2. 9 PDB Atas Dasar Harga Konstan 1993 menurut Lapangan Usaha 1999-2003 (Miliar Rupiah) ........................................................................................................................... II-13Tabel 2. 10 Pendapatan Perkapita Atas Dasar Harga Berlaku ................................................................... II-14Tabel 2. 11 Kerusakan Jaringan Jalan Nasional (2002).............................................................................. II-17Tabel 2. 12 Kondisi Kecepatan, IRI, dan VC Ratio Jalan Tahun 2002........................................................ II-21Tabel 2. 13 Road User Cost pada Seluruh Jaringan (Nasional, Propinsi, dan Non Status) per hari....................................................................................................................................... II-22Tabel 2. 14 Perkembangan Armada Bus AKAP .......................................................................................... II-26Tabel 2. 15 Kondisi Usia Sarana Kereta Api (September 2002) ................................................................. II-30Tabel 2. 16 Lokomotif Berdasarkan Umur ................................................................................................... II-30Tabel 2. 17 Jumlah Perlintasan Sebidang di Jawa dan Sumatera Tahun 2001 ......................................... II-33Tabel 2. 18 Kelambatan dan Ketepatan Waktu Rata-Rata Pelayanan KA (1999-2003) ............................ II-33Tabel 2. 19 Perkembangan Produksi Jasa Angkutan KA 1999-2003 ......................................................... II-34Tabel 2. 20 Perkembangan Angkutan penumpang KA 1995-2002 (orang) ................................................ II-35Tabel 2. 21 Perkembangan Angkutan Barang KA 1998-2002 (ribu ton)..................................................... II-36Tabel 2. 22 Dermaga dan Alur Pelayaran Sungai dan Danau .................................................................... II-38Tabel 2. 23 Jumlah Kapal SDP yang Beroperasi......................................................................................... II-39Tabel 2. 24 Jumlah Kapal SDP Berdasarkan Kepemilikan ......................................................................... II-39Tabel 2. 25 Jumlah Kapal SDP Berdasarkan Klasifikasi Umur Kapal dan Kepemilikan............................. II-40Tabel 2. 26 Produktivitas Beberapa Pelabuhan Penyeberangan Utama (tahun 2003) .............................. II-41 v
  6. 6. Tabel 2. 27 Jumlah Armada Angkutan Air di Kalimantan Barat .................................................................. II-43Tabel 2. 28 Penurunan Volume angkutan Barang dan Orang pada Transportasi Air di Kalimantan Barat....................................................................................................................... II-43Tabel 2. 29 Rasio Panjang Jalan dengan Jumlah Penduduk...................................................................... II-45Tabel 2. 30 Total Jaringan Kereta Api Jabotabek........................................................................................ II-46Tabel 2. 31 Jalur Pelayanan Kereta Api Jabotabek..................................................................................... II-46Tabel 2. 32 Aktivitas Lalulintas di Wilayah Perkotaan Juta Kend-km Pertahun, 1997 ............................... II-47Tabel 2. 33 Jumlah Penumpang Juta Penumpang-Km Pertahun, 1997..................................................... II-48Tabel 3. 1 Perkiraan Angka Kecelakaan dan Korban Kecelakaan Tahun 2002 ........................................ III-2Tabel 3. 2 Perkembangan Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas Tahun 1999-2003 ......................................... III-2Tabel 3. 3 Indeks Kecelakaan per 100.000 Orang per Tahun ................................................................... III-2Tabel 3. 4 Indeks Kecelakaan per 10.000 Kendaraan per Tahun.............................................................. III-2Tabel 3. 5 Data Kecelakaan KA/Peristiwa Luar Biasa Hebat (PLH) .......................................................... III-3Tabel 3. 6 Perkembangan Angkutan Penyeberangan Perintis................................................................... III-9Tabel 3. 7 Emisi CO2 oleh Berbagai Sektor di Indonesia ........................................................................ III-10Tabel 3. 8 Kondisi Udara di Sepanjang Rencana Lokasi MRT di DKI Jakarta (2000)............................. III-11Tabel 3. 9 Deficit Design Life Cost (DDLC) .............................................................................................. III-13Tabel 3. 10 Data Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR)................................................................................. III-16Tabel 3. 11 Jenis Rel Berdasarkan Tipe dan Tahun Pemasangan............................................................ III-19Tabel 3. 12 Kompetisi Antar Moda Trayek Jurusan Jakarta-Surabaya...................................................... III-23Tabel 3. 13 Karakteristik Moda.................................................................................................................... III-24Tabel 3. 14 Rekapitulasi Biaya Operasi Angkutan Umum Berbagai Ukuran dan Jenis ............................ III-29Tabel 4. 1 Peraturan yang Terkait dengan Transportasi Darat Nasional.................................................IV-18Tabel 4. 2 Arus Kunjungan Wiisatawan Mancanegara (Wisman) ............................................................IV-24Tabel 4. 3 Perkiraan Jumlah Penduduk dan Pertumbuhan Penduduk di Indonesia,1999-2000................................................................................................................IV-26Tabel 4. 4 Migrasi Tetap dan Pertumbuhan Migrasi.................................................................................IV-27Tabel 4. 5 Prediksi Pertumbuhan Perjalanan Penumpang Angkutan Darat Dalam Negeri (2010-2020) ..................................................................................................................IV-28Tabel 4. 6 Prediksi Pertumbuhan Perjalanan Angkutan Barang Darat Dalam Negeri (2010-2020) ..............................................................................................................................IV-31Tabel 4. 7 Resume Bangkitan dan Tarikan Penumpang Dalam Negeri ..................................................IV-32Tabel 4. 8 Resume Bangkitan dan Tarikan Barang Dalam Negeri ..........................................................IV-32Tabel 4. 9 Resume Bangkitan dan Tarikan Penumpang Dalam Negeri Skenario 2................................IV-34Tabel 4. 10 Resume Bangkitan dan Tarikan Barang Dalam Negeri Skenario 2........................................IV-34Tabel 4. 11 Koridor dengan Pergerakan Penumpang Terbesar.................................................................IV-35Tabel 4. 12 Koridor dengan Pergerakan Barang Terbesar ........................................................................IV-35 vi
  7. 7. Tabel 5. 1 Rencana Program Transportasi Jalan ......................................................................................V-29Tabel 5. 2 Rencana Program Transportasi Sungai, Danau, dan Penyeberangan....................................V-31Tabel 5. 3 Rencana Program Perkotaan....................................................................................................V-32Tabel 5. 4 Resume Strategi Dasar Pembiayaan Sektor Perhubungan Darat...........................................V-34Tabel 5. 5 Rencana Investasi Transportasi Jalan......................................................................................V-36Tabel 5. 4 Rencana Investasi Transportasi Sungai, Danau, dan Penyeberangan ...................................V-40Tabel 5. 4 Rencana Investasi Transportasi Perkotaan..............................................................................V-43 vii
  8. 8. DAFTAR GAMBARGambar 1. 1 Paradigma Berpikir Penyusunan Masterplan Transportasi Darat ..................................... I-5Gambar 2. 1 Kesenjangan Pendapatan Perkapita Penduduk Perkotaan dan Perdesaan .................. II-15Gambar 2. 2 Perbandingan Pengeluaran Rata-rata Penduduk Perkotaan dan Perdesaan Tiap- tiap Propinsi ...................................................................................................................... II-16Gambar 2. 3 Perbandingan Prosentase Pengeluaran antara Penduduk Perkotaan dan Perdesaan di Indonesia.................................................................................................... II-16Gambar 2. 4 Peta Jaringan Jalan Berdasarkan Status......................................................................... II-18Gambar 2. 5 Kondisi Kerusakan Jalan Nasional dan Propinsi Per Wilayah 2001 ............................... II-19Gambar 2. 6 Kondisi Jalan Nasional – Propinsi (1997-2002)............................................................... II-20Gambar 2. 7 Biaya Operasi Kendaraan (BOK) Total (1992-2002) ....................................................... II-22Gambar 2. 8 Panjang Jalan Tol Milik PT. Jasa Marga.......................................................................... II-23Gambar 2. 9 Volume Lalu Lintas dan Pendapatan Jalan Tol Tahun 2002........................................... II-24Gambar 2. 10 Volume Lalu Lintas Jalan Tol Tahun 2002....................................................................... II-25Gambar 2. 11 Perkembangan Jumlah Armada Lalu Lintas Angkutan Jalan (1999-2003)..................... II-26Gambar 2. 13 Produksi angkutan Penyeberangan ................................................................................. II-31Gambar 2. 14 Jaringan Jalan dan Sungai di Kalimantan Barat.............................................................. II-32Gambar 2. 15 Komposisi Jumlah Kota 2002 dan Estimasi 2020............................................................ II-34Gambar 2. 16 Jumlah Kendaraan per 1000 Penduduk, 1997 ................................................................ II-34Gambar 2. 17 Pembagian Moda Transportasi di Kota Batam, Palembang dan Yogyakarta................. II-38Gambar 2. 18 Distribusi Waktu Perjalanan di Kota Batam, 2002. .......................................................... II-39Gambar 2. 19 Distribusi Waktu Perjalanan di Kota Palembang, 2002 ................................................... II-40Gambar 2. 20 Distribusi Waktu Perjalanan di Kota Yogyakarta, 2002 ................................................... II-40Gambar 2. 21 Hubungan antara Harga Lahan dengan Jarak dari Pusat Kota di Kota Palembang ...... II-41Gambar 2. 22 Hubungan antara Harga Lahan dengan Jarak dari Pusat Kota di Kota Padang ............ II-42Gambar 2. 23 Hubungan antara Harga Lahan dengan Jarak dari Pusat Kota di Kota Yogyakarta ...... II-42Gambar 2. 24 Proporsi Penggunaan Moda Darat-Laut-Udara ............................................................... II-44Gambar 2. 25 Garis Keinginan Perjalanan Penumpang (pnp/tahun), 2001........................................... II-44Gambar 2. 26 Komposisi Perjalanan Penumpang Internal dan Eksternal Propinsi ............................... II-45Gambar 2. 27 Distribusi Jarak Perjalanan Penumpang Antar Propinsi, dalam km relatif ...................... II-46Gambar 2. 28 Garis Keinginan Perjalanan Barang (ton/tahun), 2001.................................................... II-47Gambar 2. 29 Distribusi Jarak Perjalanan Barang Antar Propinsi, dalam km relatif.............................. II-48 viii
  9. 9. Gambar 3. 1 Kerugian Akibat Muatan Lebih ........................................................................................ III-11Gambar 3. 2 Nilai MST di Beberapa Negara........................................................................................ III-13Gambar 3. 3 Ilustrasi Beban OIIerload Kendaraan Truk yang Bermuatan Kayu ................................ III-14Gambar 3. 4 Karakteristik Lalulintas di Ruas Sikijang Mati – Simpang Japura................................... III-15Gambar 3. 5 Persentase Tipe Keterlibatan Swasta di Proyek Jalan................................................... III-19Gambar 3. 6 Kualitas SDM dari Sisi Pemerintah (Direktorat Jenderal Perhubungan Darat) - 2004 .. III-24Gambar 4. 1 Perkembangan Jumlah Penduduk Perkotaan dari 1980, 1990 dan 2000........................IV-1Gambar 4. 2 Contoh Perkembangan Perkotaan di DKI Jakarta dan Sekitarnya ..................................IV-3Gambar 4. 3 Rencana Pengembangan Pelabuhan sebagai Simpul Transportasi Laut Tahun 2020 ...................................................................................................................................IV-5Gambar 4. 4 Rencana Pengembangan Bandar Udara sebagai Simpul Transportasi Udara Tahun 2020 ...................................................................................................................................IV-7Gambar 4. 5 Rencana Sistem Jaringan Jalan Nasional dan Propinsi...................................................IV-9Gambar 4. 6 Rencana Pengembangan Jaringan Penyeberangan tahun 2020 ..................................IV-11Gambar 4. 7 Rencana Sistem Jaringan Jalan Rel dan Propinsi..........................................................IV-11Gambar 4. 8 Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin.......................................................................IV-20Gambar 4. 9 Asumsi Distribusi Perjalanan Penumpang Angkutan Darat 2001-2010 (atas) dan 2010-2020 (bawah)..........................................................................................................IV-27Gambar 4. 10 Asumsi Distribusi Perjalanan Angkutan Barang Angkutan Darat 2001-2010 (atas) dan 2010-2020 (bawah) ..................................................................................................IV-29Gambar 4. 11 Kerangka Pikir Penyusunan Masterplan Transportasi Darat..........................................IV-52Gambar 5. 1 Proporsi Pembiayaan untuk Transportasi Darat..............................................................V-32 ix
  10. 10. BAB I PENDAHULUAN1.1. LATAR BELAKANGIndonesia merupakan negara kepulauan dengan luasan mencapai 9,8 juta km2 (termasuk perairan) dan jumlahpenduduk yang cukup besar yaitu 215,28 juta jiwa (tahun 2003). Dengan jumlah penduduk demikian besarnya,maka sangat wajar apabila perjalanan penumpang dan barang yang dibangkitkan sangat besar jumlahnya. Haltersebut dapat ditunjukkan dari hasil Survei O-D Nasional tahun 2001 (Departemen Perhubungan), yangmenunjukkan angka 3,8 milyar perjalanan penumpang per tahun untuk perjalanan antar kabupaten, yangmeliputi matra darat, laut dan udara. Hal yang sama juga terjadi pada perjalanan barang yang menunjukkanangka 2,4 milyar ton per tahun untuk ketiga matra dan pada tataran antar kabupaten (belum termasukperjalanan internal kabupaten/kota). Jumlah yang luar biasa besarnya tersebut untuk saat ini masih didominasioleh transportasi darat dengan prosentase sebesar 99% untuk penumpang dan 97% untuk barang.Dominasi volume perjalanan juga masih terjadi di Pulau Jawa dengan angka sebesar 2,8 milyar perjalanan atau74% dari total perjalanan yang terjadi. Khusus untuk perjalanan penumpang di Pulau Jawa sebesar 1,2 milyarperjalanan per tahun (di luar perjalanan internal propinsi). Apabila dilihat pada perjalanan antar gugus pulausecara total berjumlah 118 juta perjalanan/tahun diluar perjalanan internal pulau, atau hanya sebesar 3,14%dari keseluruhan total perjalanan penumpang transportasi darat (3,8 milyar perjalanan/tahun).Indonesia memiliki panjang jalan sebesar lebih dari 300.000 km yang merupakan terbesar di antara negara-negara Asia Tenggara, tetapi 40% diantaranya dilaporkan mengalami rusak ringan dan berat dan terdapatkebutuhan pembiayaan jalan sampai 1,5 kali lebih banyak dari pembiayaan saat ini. Berdasar prediksi tahun2001 biaya perjalanan yang ditanggung pengguna jalan mencapai Rp. 1,55 trilliun per hari (SEPM-IRMS) danapabila terus berlanjut, dikhawatirkan biaya ini akan mengganggu kegiatan investasi di sektor ekonomi lainnyayang memerlukan dukungan jasa prasarana. Apabila dilihat dari data beberapa tahun terakhir dapat dilihatbahwa biaya perjalanan tiap pengguna jalan per kilometer tidak pernah turun selama 5 tahun terakhir.Sedangkan apabila dilihat dari tingkat keselamatan yang dilaporkan, terdapat kecenderungan penguranganjumlah kecelakaan, meskipun diperkirakan masih terdapat cukup banyak kasus yang tidak dilaporkan (underreporting accident). Masterplan Transportasi Darat Bab I - 1
  11. 11. Jalan tol yang dimiliki PT. Jasa Marga mengalami peningkatan panjang hingga 369,78 km di tahun 2002 dantotal panjang jalan tol mencapai 514,7 km, meskipun demikian volume lalulintas dan pendapatan tolmenunjukkan grafik penurunan secara relatif pasca krisis moneter tahun 1997. Permasalahan lain yang munculadalah timbulnya hambatan regulasi serius dalam mendorong kembalinya investasi swasta.Panjang sungai di Indonesia mencapai 34.342 km dari 214 buah sungai dan panjang sungai yang dapat dilayariadalah sepanjang 23.255 km, itupun seringkali mengalami pengurangan kerana pengaruh musim. Angkutansungai seringkali merupakan satu-satunya alternatif bagi mereka yang tinggal di daerah terisolasi sehinggamerupakan instrumen penting dalam menanggulangi kemiskinan. Di lain sisi angkutan sungai merupakanangkutan barang yang efisien dan berbiaya murah namun sekali lagi masih tergantung dari siklus musimdimana panjang yang dapat dilayari akan berkurang sangat signifikan di musim kemarau. Armada angkutansungai saat ini mengalami penurunan sangat signifikan dengan adanya kebijakan daerah untukmengembangkan jaringan jalan sejajar sungai. Disisi lain masalah pembiayaan swasta yang semakin menurunkarena sulitnya akses kredit kapal, mengakibatkan semakin tingginya resiko swasta dan implikasinya terhadapkeselamatan pelayaran.Transportasi perkotaan mengalami permasalahan sangat serius akibat dari tekanan migrasi desa ke kotahingga pembiayaan transportasi yang sangat kompleks. Namun demikian, lebih penting lagi bahwakesenjangan infrastruktur dan sarana transportasi antar desa dan kota mengakibatkan hambatanpembangunan dan mendorong migrasi desa-kota. Pertumbuhan urbanisasi saat ini berada diatas angka 1%per-tahun. Pada tahun 1980, jumlah penduduk propinsi yang tinggal di perkotaan adalah 22,3%. Angka inimencapai 30,9% tahun 1990 dan 42,4% tahun 2000. Dengan rendahnya daya beli masyarakat, konsep rationalpricing menjadi tidak mudah diterapkan di pelayanan transportasi perkotaan. Angkutan umum mengalamitekanan sangat berat akibat tingkat motorisasi yang tinggi dan diperkirakan terdapat penurunan pangsa pasarangkutan umum perkotaan sebesar 1% tiap tahun. Terjadinya pengurangan ruang publik dan fasilitas pejalankaki yang terbatas juga mengakibatkan semakin kurang dihormatinya hak-hak pemakai ruang jalan secara adil.Ketersediaan akses transportasi perkotaan bagi penderita cacat, orang tua, wanita dan anak-anak masihdibawah harapan dibandingkan kota-kota besar lain di Asia Timur dan Tenggara.Transportasi perdesaan dan di daerah terpencil semakin tidak diperhatikan, padahal 62% atau 162 jutapenduduk Indonesia hidup di pedesaan dan 59% atau 159 juta jiwa hidup di Pulau Jawa, dengan kepadatan2.077 jiwa/km2 di Pulau Jawa dan 110 jiwa/km2 di luar Pulau Jawa. Hasil penelitian PSP (2000) menunjukkanbahwa angkutan ini bertanggung jawab terhadap 10 – 25% harga komoditi pertanian non korporasi yangmenjadi tumpuan pengentasan kemiskinan di daerah perdesaan. Pemerintah saat ini telah memberikan subsididalam bentuk transportasi keperintisan - baik transportasi darat, udara maupun laut. Pemberian subsidi tidakmemberikan pull effect yang diharapkan karena tidak diimbangi dengan upaya pengembangan ekonomidaerah. Disisi lain penyediaan transportasi sederhana memiliki dilemma yang cukup berat yaitu antara akses Masterplan Transportasi Darat Bab I - 2
  12. 12. masyarakat ke sarana angkutan dan standar keselamatan yang dipersyaratkan, dan juga masih kurangmemperhatikan kebutuhan masyarakat, terutama kaum wanita untuk meringankan beban angkutan bagikebutuhan dasar di sekitar tempat tinggal mereka.Dalam upaya untuk mengantisipasi dan memenuhi tuntutan atas permasalahan-permasalahan fundamentaltersebut, maka perlu disusun Master Plan Transportasi Darat guna memberikan gambaran dalam rangkamenyusun pengembangan transportasi darat di tingkat pusat maupun daerah sehingga terbina harmonisasi dansinkronisasi dalam perumusan kebijakan dan penyusunan program perwujudannya. Penyusunan dokumenMaster Plan Perhubungan Darat tersebut memuat rencana makro transportasi darat (Master Plan) yangmeliputi Kebijakan Transportasi Darat secara umum, kebijakan Moda Jalan dan Kebijakan Moda AngkutanSungai Danau dan PenyeberanganRencana Umum Transportasi Darat Indonesia memuat:a. Kebijakan Pengembangan Transportasi Daratb. Arah Pengembangan Jaringan Transportasi Daratc. Arah Pengembangan Berdasarkan Moda (Transportasi Jalan; Sungai, Danau dan Penyeberangan; Perkotaan)d. Kebijakan Pembangunan Transportasi Darate. Program Pengembangan Transportasi Darat serta Rencana Investasi1.2. MAKSUD DAN TUJUAN STUDIMaksud penyusunan Masterplan Transportasi Darat adalah menyusun Masterplan Perhubungan Darat yangbersifat nasional.Tujuan yang ingin dicapai dari studi ini adalah diperolehnya pedoman dan acuan bagi instansi terkait di tingkatpemerintah Pusat dan Daerah, dalam melakukan perencanaan transportasi darat.1.3. METODE PELAKSANAANMasterplan Transportasi Darat Indonesia pada dasarnya adalah sebuah perencanaan yang mencakupkebijakan transportasi darat secara umum dan mengakomodasi berbagai aspirasi baik yang bersifat bottom-upplanning (aspirasi daerah) dan top down planning (SISTRANAS). Perencanaan yang baik merupakan suaturangkaian proses yang berkelanjutan dan memiliki gabungan dari sifat intuitif dan sifat analitik. Dalamkenyataannya, baik intuitif maupun analitis merupakan sesuatu yang diperlukan bagi perencanaan yang efektif. Masterplan Transportasi Darat Bab I - 3
  13. 13. Perencanaan dalam jangka waktu tertentu yang juga fleksibel terhadap perubahan yang terjadi akanmemberikan manfaat yang lebih optimal karena hal itu akan menjadi semacam payung kebijakan yangmemberikan arah kemana perencanaan transportasi darat akan dibawa.Paradigma berpikir yang dipergunakan untuk menyusun Masterplan Transportasi Darat secara skematisdisajikan dalam Gambar 1.1. Paradigma berpikir yang dipergunakan akan difokuskan pada:1. visi dan misi pembangunan di Indonesia2. sistem transportasi nasional3. hasil pemodelan yang sesuai dengan skenario ekonomi dan rencana transportasi4. program transportasi5. kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan6. strategi implementasi program transportasiPembangunan transportasi darat merupakan sebagian dari pembangunan transportasi secara keseluruhan danmerupakan bagian tidak terpisahkan dari pembangunan nasional. Pembangunan transportasi dilaksanakansebagai dukungan terhadap pembangunan nasional yang berkelanjutan dengan memperhatikan beberapaaspek yang meliputi pembangunan ekonomi dan investasi, keadilan (equity) serta keamanan dan keselamatan.Ketiga aspek tersebut diwujudkan dalam kebijakan dan kerangka kerja regulasi yang dalam operasionalnyadiwujudkan dengan instrumen dan pendekatan. Sebagai masukan dalam penyusunan instrumen danpendekatan tersebut adalah tingkat permintaan untuk mobilitas dan dampak lingkungan yang dihasilkan.Instrumen dan pendekatan yang digunakan dijabarkan melalui masing-masing direktorat di bawah DirektoratJenderal Perhubungan Darat, yang meliputi:1. Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP),2. Bina Sistem Transportasi Perkotaan,3. Lalulintas dan Angkutan Jalan,4. Keselamatan dan,5. Cross Cutting Instrument.Dalam penerapan instrumen dan pendekatan tersebut dibutuhkan pemilihan/prioritas dengan memperhatikanberbagai hambatan yang yang meliputi:1. birokrasi/kelembagaan,2. pembiayaan pembangunan,3. peran serta dan mekanisme partisipasi,4. kualitas sumber daya manusia, dan,5. private sector development. Masterplan Transportasi Darat Bab I - 4
  14. 14. Tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah pemilihan strategi dan tindak lanjut kegiatan dalam bentukimplementasi di lapangan. Implementasi tersebut dilakukan monitoring dan evaluasi secara terus menerussehingga akan menghasilkan keluaran yang diharapkan. Gambar 1.1 Paradigma berpikir penyusunan Materplan Transportasi Darat Hak Asasi Pembangunan M anusia Manusia Berkelanjutan Good Governance PERMINTAAN TRANSPORTASI PENYEDIAAN TRANSPORTASI Dinamika dan Keberadaan dan trend pasar karakteristik wilayah kepulauan Kompetisi dan Sumberdaya alam, kompetensi pasar sosial budaya Segmentasi dan Aksesibilitas sarana perilaku pasar dan prasarana dll Kualitas pelayanan dll ISU - ISU STRATEGIS VISI Monitoring MISI Perubahan dan dampak TUJUAN INDIKATOR TARGET ANALISIS SWOT EVALUASI KEBIJAKAN INDIKATOR TARGET Gambar 1. 1 Paradigma Berpikir dalam Perencanaan Transportasi PROGRAM Masterplan Transportasi Darat Bab I - 5
  15. 15. BAB II GAMBARAN UMUM INDONESIA2.1. KONDISI GEOGRAFIS INDONESIAIndonesia terletak antara 6°08’ LU dan 11°15’ LS dan antara 94°45’ BT dan 141°05’ BT. Secara umumIndonesia masuk dalam negeri beriklim tropis dengan dua musim utama yaitu musim kemarau dan musimpenghujan, dengan beberapa puncak pegunungan diliputi salju. Dengan dua musim ini Indonesia cukupberuntung dilihat dari penyediaan transportasi yang lebih sederhana dibandingkan dengan negara-negara yangmemiliki 4 (empat) musim yang lebih kompleks dalam penyediaan prasarana dan sarana transportasi.Luasan perairan merupakan komponen yang dominan sehingga Indonesia disebut sebagai Negara Baharidengan luas lautnya sekitar 7,9 juta km2 (termasuk daerah Zone Ekonomi Exclusive) atau 81% dari luaskeseluruhan Indonesia. Daratan Indonesia hanya mempunyai luas lebih dari 1,9 juta km2 terbagi-bagi dalamribuan pulau dengan puluhan atau mungkin ratusan gunung api dan sungai. Sehubungan dengan letak NegaraIndonesia yang dikelilingi beberapa samudra, serta banyak terdapat gunung berapi yang masih aktif,menyebabkan Indonesia sering dilanda gempa dan banyak lokasi yang menjadi daerah sesar dan rawanlongsor. Kondisi yang bergunung-gunung memberikan implikasi pada penyediaan infrastruktur transportasi yanglebih rumit, dengan desain geometrik yang lebih beragam. Kondisi alinemen horisontal dan vertikal yangcenderung tidak lurus dan datar akan banyak mewarnai penyediaan infrastruktur jalan di Indonesia.Kondisi negara Indonesia yang terbagi-bagi dalam ribuan pulau menjadikan keunikan tersendiri dimanahubungan antara satu pulau dengan yang lain akan didominasi oleh angkutan penyeberangan sebagai jembatanpenyambung prasarana transportasi darat. Karakteristik lain yang muncul adalah terjalinnya hubungan/interaksiyang lebih kuat di dalam pulau-pulau besar dan interaksi antar pulau yang kuat untuk wilayah kepulauan yangmuncul karena kondisi lingkungan geografisnya.Di sisi lain posisi Indonesia yang berada pada lintasan antara dua samudera dan dua benua serta terletak padajalur pedagangan dunia memberikan implikasi pada tingginya volume lalu lintas udara dan laut. Untuktransportasi darat, penetapan jalur utama Sumatera-Jawa-Bali sebagai jalur Asian Highway belum secara efektifdimanfaatkan, begitu juga dengan ASEAN Highway yang terhubungkan sampai Kalimantan dan Sulawesi.Demikian juga dengan rencana pengembangan Trans-Asian Railway yang direncanakan untuk jalur utama akan Masterplan Transportasi Darat Bab II - 1
  16. 16. menghubungkan dari Turki sampai dengan Singapura (14.000 km), dan masih mungkin dikembangkan ke Eropadan Afrika. Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya termasuk dengan negara-negara di Indochinatermasuk dalam pengembangan sub-koridor Trans-Asian Railway.Indonesia sejak tahun 2001 telah terbagi menjadi 30 propinsi dengan tambahan 4 (empat) propinsi, yaituKepulauan Bangka Belitung, Banten, Gorontalo, dan Maluku Utara (sejak 1999 Timor Timur tidak lagi menjadibagian Indonesia). Pada tahun 2003 propinsi-propinsi tersebut secara keseluruhan terdiri dari 348 kabupaten, 92kota, 4.994 kecamatan dan 70.921 desa (lihat Tabel 2.1).Tabel 2. 1 Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi di Indonesia 2003 Persentase Luas Area Banyaknya Banyaknya Banyaknya Banyaknya Propinsi/Pulau terhadap luas (km2) kabupaten kota kecamatan desa total (%)Sumatera 480.847 25,43 101 31 1.319 22.777Jawa 127.569 6,75 83 32 1.996 24.965Bali, Nusa Tenggara 73.137 3,87 30 4 320 4.009Kalimantan 574.194 30,37 43 9 454 6.326Sulawesi 191.671 10,14 51 10 609 7.668Maluku & Papua 443.336 23,45 40 6 296 5.176Indonesia 1.890.754 100,00 348 92 4.994 70.921Sumber: Statistik Indonesia, 2003Seluruh daerah tersebut harus dapat dijangkau oleh pelayanan transportasi, baik darat, laut maupun udara.Pemerintah berkewajiban menyediakan infrastruktur dan membentuk jaringan transportasi yang akan dapatmenghubungkan seluruh simpul kegiatan masyarakat, sehingga dapat memberikan kesejahteraan padarakyatmya. Jawa dan Sumatera masih menjadi pusat kegiatan utama, yang ditunjukkan dengan jumlah kotakecamatan yang lebih banyak dengan luas wilayah yang lebih kecil, sehingga penyediaan infrastrukturtransportasi akan mengikuti kebutuhan kegiatan yang ditunjukkan dengan banyaknya kota kecamatan yangdimiliki.2.2. KONDISI PEREKONOMIAN INDONESIA Masterplan Transportasi Darat Bab II - 2
  17. 17. Sektor transportasi merupakan salah satu sektor yang mempunyai trickle down impact terhadap sektor-sektoryang lain. Ini berarti pembangunan sektor transportasi secara langsung maupun tidak langsung akanmemberikan dampak yang sangat sigifikan terhadap pengembangan sektor-sektor yang lain. Salah satuindikator dari peningkatan pembangunan transportasi adalah efisiensi terhadap biaya operasi kendaraanmasing-masing pelaku transportasi. Semakin rendah biaya operasi kendaraan maka akan semakin besar marginperdagangan yang diperoleh. Dengan demikian pendapatan yang diterima masing-masing individu akanmeningkat yang juga akan meningkatkan kemakmuran. Dengan peningkatan kemakmuran dari masing-masingindividu akan meningkatkan daya beli pada sektor-sektor yang lain. Peningkatan kemakmuran ini secaralangsung akan meningkatkan tingkat konsumsi dari masing-masing individu tersebut sehingga menciptakandemand yang harus dipenuhi oleh produsen (produksi meningkat). Peningkatan produksi secara keseluruhanakan menggerakkan perekonomian yang tercermin dalam peningkatan Produk Domestik Regional Brutto(PDRB).Kondisi perekonomian nasional semenjak tahun 1999 telah kembali tumbuh secara positif, setelah sempatmengalami kontraksi tajam sebesar 13,1% pada tahun 1998 (Tabel 2.2).Tabel 2. 2 PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi per Propinsi Tahun 1998 dan 2002 berdasar Harga Konstan 1993 (PDRB dalam juta Rp., pertumbuhan dalam %) Pertumbuhan % thd PDB Pertumbuhan % thd PDB Propinsi PDRB 1998 PDRB 2002 1997 – 1998 1998 2001 – 2002 2002Nangroe Aceh Darussalam -9,26% 10.384.958 2,76% 0,13 9..249.480 2,17%Sumatera Utara -10,9% 22.332.690 5,93% 4,04 25.918.696 6,07%Sumatera Barat -6,78% 7.458.576 1,98% 4,29 8.503.928 1,99%Riau -3,86% 19.644.474 5,22% 4,40 23.544.880 5,52%Jambi -5,41% 3.091.527 0,82% 3,45 3.636.903 0,85%Sumatera Selatan -6,81% 13.239.321 3,52% 3,54 12.749.219 2,99%Bangka Belitung - - - 4,74 2.070.432 0,49%Bengkulu -77,35% 1.631.372 0,43% 4,32 1.892.935 0,44%Lampung -6,95% 6.701.179 1,78% 5,15 7.816.357 1,83%DKI Jakarta -17,49% 57.380.516 15,25% 3,87 64.259.075 15,06%Jawa Barat -17,77% 58.847.841 15,64% 3,93 60.096.782 14,08%Banten - - - 5,05 18.216.573 4,27% Pertumbuhan % thd PDB Pertumbuhan % thd PDB Propinsi PDRB 1998 PDRB 2002 1997 – 1998 1998 2001 – 2002 2002Jawa Tengah -11,74% 38.065.273 10,11% 3,44 43.759.541 10,25%DI Yogyakarta -11,18% 4.777.199 1,27% 3,38 5.357.669 1,26% Masterplan Transportasi Darat Bab II - 3
  18. 18. Jawa Timur -16,12% 54.398.897 14,45% 3,41 60.754.056 14,24%Bali -4,04% 7.250.948 1,93% 3,15 8.021.669 1,88%Kalimantan Barat -4,71% 6.879.361 1,83% 2,01 7.559.183 1,77%Kalimantan Tengah -6,92% 3.993.187 1,06% 3,27 4.341.375 1,02%Kalimantan Selatan -5,53% 5.890.821 1,57% 3,07 6.869.600 1,61%Kalimantan Timur -0,76% 20.514.623 5,45% 4,29 24.521.451 5,75%Sulawesi Utara -28,91% 2.677.888 0,71% 3,96 3.490.692 0,82%Gorontalo - - - 6,42 1.030.221 0,24%Sulawesi Tengah -3,96% 2.225.138 0,59% 5,41 2.643.128 0,62%Sulawesi Selatan -5,33% 9.366.229 2,49% 4,61 11.092.996 2,60%Sulawesi Tenggara -5,78% 1.549.033 0,41% 6,49 1.880.970 0,44%Nusa Tenggara Barat -3,07% 3.259.977 0,87% 3,69 4.946.937 1,16%Nusa Tenggara Timur -2,73% 2.758.906 0,73% 5,96 3.287.944 0,77%Maluku -5,93% 2.902.761 0,77% 2,95 1.314.720 0,31%Maluku Utara - - - 2,17 891.160 0,21%Papua 12,72% 8.456.232 2,25% 8,71 8.916.759 2,09%INDONESIA -13,13% 376.374.853 3,66 426.740.546 100,00%Sumber: PDRB Propinsi-Propinsi di Indonesia Menurut Lapangan Usaha 1997 – 2000, (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2001), PDRB Propinsi-Propinsi di Indonesia Menurut Lapangan Usaha 1999 – 2001, (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2002), Statistik Indonesia 2003 (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2004)Meskipun demikian, rata-rata pertumbuhan dalam empat tahun terakhir ini ternyata masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan dalam lima tahun menjelang krisis, yang pernah mencapai 7,5%.Pertumbuhan investasi pada masa pemulihan ternyata masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan padamasa sebelum krisis. Dalam periode 2001-2003, rata-rata pertumbuhan tahunan investasi bernilai negatif, yaitusebesar –3,1% (Tabel 2.3).Tabel 2. 3 PDB Menurut Pengeluaran, PNB, dan Pendapatan Nasional Indonesia 2001-2003 berdasarkan Harga Konstan 1993 (PDB, PNB, Pendapatan Nasional dalam milyar, pertumbuhan dalam %) Masterplan Transportasi Darat Bab II - 4
  19. 19. Pertumbuhan Pertumbuhan Jenis Pengeluaran 2001 2002 2002 2001-2002 2001-2002 Konsumsi Rumah Tangga 285.674,7 3,81% 296.559,3 4,02% 308.477,4 Konsumsi Pemerintah 31.351,5 12,79% 35.362,4 9,84% 38.842,8 Investasi 82.154,9 -5,27% 77.828,4 -0,89% 77.133,9 a. Pembentukan Modal Tetap 95.197,1 0,21% 95.396,9 1,36% 96.695,7 b. Perubahan Stok -13.042,2 34,71% -17.568,5 11,35% -19.561,8 Ekspor Barang dan Jasa 119.600,2 -0,57% 118.920,0 4,04% 123.724,0 Impor Barang dan Jasa 107.027,7 -4,95% 101.727,1 1,96% 103.724,6 PDB 411.753,6 3,69% 426.943,0 4,10% 444.453,5 Pendapatan Bersih Terhadap Luar -17.399,1 27,70% -22.217,8 -7,41% -20.570,4 Negeri atas Faktor Produksi PNB 394.354,5 2,63% 404.725,2 4,73% 423.883,1 Pajak Tidak Langsung 8.865,6 113,47% 18.925,5 12,22% 21.238,3 Depresiasi 20.587,7 3,69% 21.347,2 4,10% 22.222,7 Pendapatan Nasional 364.901,3 -0,12% 364.452,5 4,38% 380.422,1Sumber: Statistik Indonesia 2003 (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2004)Dalam periode yang sama, investasi hanya mampu memberikan kontribusi rata-rata per tahun 16,7% terhadaptotal PDB, jauh di bawah rata-rata kontribusi investasi sebelum krisis sekitar 30% dari total PDB (Tabel 2.4.).Tabel 2. 4 Kontribusi Komponen-Komponen Pengeluaran terhadap Total PDRB per Propinsi Tahun 1996 dan 2001 (dalam persentase) Konsumsi Masyarakat Pengeluaran Investasi Ekspor Bersih Propinsi Pemerintah 1996 2001 1996 2001 1996 2001 1996 2001Nangroe Aceh Darussalam 36,80% 56,60% 7,10% 9,50% 14,70% 14,00% 41,40% 19,90%Sumatera Utara 49,80% 61,90% 7,50% 11,60% 30,50% 26,10% 12,30% 0,40%Sumatera Barat 54,50% 63,80% 12,80% 12,80% 27,10% 19,70% 5,60% 3,70%Riau 21,70% 29,60% 3,80% 4,10% 34,40% 24,40% 40,10% 42,00%Jambi 53,60% 62,10% 10,50% 17,60% 33,20% 20,90% 2,70% -0,60%Sumatera Selatan 53,70% 58,60% 7,30% 7,50% 36,10% 35,10% 2,70% -1,10%Bangka Belitung - 56,80% - 6,00% - 33,10% - 4,20% Konsumsi Masyarakat Pengeluaran Investasi Ekspor Bersih Propinsi Pemerintah 1996 2001 1996 2001 1996 2001 1996 2001Bengkulu 50,90% 67,40% 24,40% 20,90% 28,20% 13,00% -3,80% -1,20%Lampung 54,90% 57,30% 11,30% 10,80% 35,40% 34,70% -1,80% -2,80% Masterplan Transportasi Darat Bab II - 5
  20. 20. DKI Jakarta 42,20% 49,60% 5,40% 4,00% 47,00% 38,10% 5,50% 8,40%Jawa Barat 55,50% 76,40% 6,60% 7,10% 31,40% 15,90% 6,50% 0,60%Banten - 57,90% - 3,50% - 22,90% - 15,60%Jawa Tengah 53,30% 66,40% 10,60% 16,80% 29,70% -0,60% 6,40% 17,50%DI Yogyakarta 43,20% 47,80% 18,10% 19,40% 33,60% 34,80% 5,10% -2,00%Jawa Timur 56,70% 65,40% 7,00% 7,00% 36,90% 23,50% -0,60% 4,10%Bali 54,60% 54,10% 11,20% 11,60% 28,70% 17,50% 5,50% 16,90%Kalimantan Barat 48,00% 49,30% 13,00% 13,50% 32,30% 32,80% 6,70% 4,50%Kalimantan Tengah 53,50% 53,80% 12,30% 17,30% 39,30% 32,90% -5,00% -4,10%Kalimantan Selatan 36,30% 45,60% 10,80% 15,90% 18,30% 20,80% 34,60% 17,70%Kalimantan Timur 12,30% 24,30% 2,00% 2,90% 47,70% 20,20% 37,90% 52,60%Sulawesi Utara 54,00% 59,90% 20,80% 23,30% 26,00% 25,10% -0,70% -8,30%Gorontalo - 70,90% - 36,50% - 36,80% - -44,20%Sulawesi Tengah 52,30% 60,70% 16,20% 14,60% 34,70% 21,10% -3,10% 3,60%Sulawesi Selatan 53,30% 55,80% 21,10% 21,40% 27,80% 24,20% -2,10% -1,40%Sulawesi Tenggara 51,60% 52,80% 24,00% 22,70% 27,30% 28,30% -2,90% -3,80%Nusa Tenggara Barat 55,20% 40,60% 19,60% 14,90% 33,30% 28,00% -8,00% 16,60%Nusa Tenggara Timur 60,70% 64,60% 21,70% 28,10% 28,60% 55,90% -11,00% -48,60%Maluku 40,40% 52,50% 13,10% 26,20% 27,80% 6,10% 17,70% 15,20%Maluku Utara - 52,50% - 26,20% - 6,10% - 15,20%Papua 44,80% 50,30% 8,20% 12,30% 38,10% 41,00% 9,00% -3,60%INDONESIA 61,70% 72,70% 7,70% 7,60% 33,70% 16,00% -3,10% 3,80%Sumber: PDRB Propinsi-Propinsi di Indonesia Menurut Pengeluaran Tahun 1996, (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 1997), PDRB Propinsi-Propinsi di Indonesia Menurut Pengeluaran Tahun 2001, (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2002)Ada dua alasan yang mungkin menyebabkan masih lambatnya pertumbuhan investasi: 1) masalah keamanandan sosial politik yang masih belum sepenuhnya stabil serta kurang kondusif bagi investasi, misalnyaketidakpastian hukum, pungutan liar, dan upah buruh; 2) minimnya dukungan pemerintah terhadappemeliharaan dan pembangunan infrastruktur yang diperlukan untuk kegiatan investasi.Sementara itu, jika dilihat dari sisi produksi secara sektoral, sektor industri pengolahan; sektor perdagangan,hotel, dan restoran; serta sektor pertanian masih merupakan tiga kontributor utama PDB Indonesia (Tabel 2.5).Dampak dari kebutuhan transportasi adalah kebutuhan akan efisiensi transportasi yang akan memberikan nilaiproduk yang lebih tinggi pada hasil industri, perdagangan dan jasa-jasa. Masterplan Transportasi Darat Bab II - 6
  21. 21. Tabel 2. 5 PDB dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menurut Lapangan Usaha 2001 – 2003 berdasarkan Harga Konstan 1993 (PDB dalam milyar Rp., pertumbuhan dalam %) Pertumbuhan Pertumbuhan SEKTOR EKONOMI 2001 2002 2003 2001-2002 2002-2003 Pertanian 67.318,5 2,01% 68.669,7 2,48% 70.374,4 a. Tanaman Bahan Makanan 34.260,2 0,80% 34.533,8 1,55% 35.070,1 b. Tanaman Perkebunan 11.331,9 4,20% 11.807,6 5,16% 12.417,2 c. Peternakan 7.312,7 2,36% 7.485,2 3,47% 7.745,2 d. Kehutanan 6.556,2 1,92% 6.682,2 -0,35% 6.658,9 e. Perikanan 7.857,5 3,86% 8.160,9 3,95% 8.483,0 Pertambangan dan Penggalian 39.401,3 2,55% 40.404,8 0,46% 40.590,8 a. Minyak & Gas Bumi 21.537,3 -2,13% 21.079,4 -3,42% 20.358,2 b. Pertambangan Tanpa Migas 13.026,9 8,91% 14.188,2 2,79% 14.584,4 c. Penggalian 4.837,0 6,21% 5.137,2 9,95% 5.648,2 Industri Pengolahan 108.272,3 3,43% 111.982,5 3,50% 115.900,7 a. Industri Migas 11.196,5 1,22% 11.332,7 0,58% 11.398,6 b. Industri Bukan Migas 97.075,8 3,68% 100.649,8 3,83% 104.502,1 Listrik. Gas & Air Bersih 7.111,9 6,00% 7.538,4 6,82% 8.052,2 a. Listrik 5.818,2 5,13% 6.116,4 6,77% 6.530,2 b. Gas 297,3 14,16% 339,4 10,34% 374,5 c. Air Bersih 996,5 8,63% 1.082,5 6,01% 1.147,6 Bangunan 24.308,2 4,69% 25.448,4 6,87% 27.196,2 Perdagangan, Hotel dan Restoran 65.824,6 4,27% 68.633,3 3,29% 70.891,3 a. Perdagangan Besar & Eceran 51.997,8 3,60% 53.871,4 3,52% 55.766,9 b. Hotel 2.760,2 1,31% 2.796,4 1,35% 2.834,1 c. Restoran 11.066,6 5,41% 11.665,5 5,36% 12.290,4 Pengangkutan & Komunikasi 31.338,9 8,03% 33.855,1 10,69% 37.475,5 a. Pengangkutan 22.451,7 4,98% 23.569,7 8,22% 25.507,4 b. Komunikasi 8.887,2 15,73% 10.285,4 16,36% 11.968,1 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 28.932,3 5,73% 30.590,8 6,28% 32.512,5 SEKTOR EKONOMI 2001 Pertumbuhan Pertumbuhan 2002 2003 2001-2002 2002-2003 a. Bank 9.795,9 6,38% 10.420,8 6,23% 11.070,1 b. Lembaga Keuangan Bukan Bank 3.212,8 4,24% 3.348,9 4,36% 3.494,9 c. Jasa Penunjang Keuangan 243,5 3,61% 252,3 1,82% 256,9 d. Sewa bangunan 9.631,5 5,54% 10.164,8 6,92% 10.868,5 Masterplan Transportasi Darat Bab II - 7
  22. 22. e Jasa Perusahaan 6.048,7 5,88% 6.404,1 6,53% 6.822,2 Jasa-jasa 39.245,4 2,13% 40.080,1 3,44% 41.459,9 a. pemerintahan Umum & Pertahanan 22.795,4 0,40% 22.887,0 0,94% 23.103,0 b. Swasta 16.450,1 4,52% 17.193,1 6,77% 18.356,9 PDB 411.753,5 3,69% 426.942,9 4,10% 444.453,5 PDB (tidak termasuk migas) 379.019,6 4,09% 394.530,8 4,60% 412.696,7Sumber: Statistik Indonesia 2003 (Jakarta: Badan Pusat Statistik. 2004)Di antara ketiga sektor ini, Sektor Industri Pengolahan merupakan sektor dengan performa terbaik, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 4,8% (periode 1998-2001), yang terutama digerakkan oleh IndustriMakanan, Minuman, dan Tembakau (56,1% terhadap Subsektor Industri Nonmigas, 13,2% terhadap total GDPIndonesia). Hal ini realistis mengingat industri tersebut tidak membutuhkan modal yang terlalu besar danproduknya sangat berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan primer.Implikasi yang muncul pada transportasi darat adalah bahwa sektor industri pengolahan membutuhkantransportasi sebagai alat distribusi hasil produksinya. Secara langsung biaya transportasi akan mempengaruhiharga jual hasil produksi sektor industri pengolahan, sehingga efisiensi sektor transportasi akan memberikankeuntungan dengan penurunan harga jual produksi dan kemungkinan keterjangkauan oleh masyarakat semakinbesar.Liberalisasi perdagangan melalui AFTA dan AIA (Asean Investment Area) diperkirakan belum akan berpengaruhbanyak dalam jangka pendek karena memang pelaksanaannya belum dalam skala penuh. Dalam jangkapanjang, ancaman untuk perekonomian Indonesia akan muncul dalam bentuk persaingan keras antar sesamaanggota AFTA dan AIA dalam rangka menjadi “pusat” suatu bisnis berskala global. Thailand memposisikansebagai pusat industri mobil di Asia Tenggara, Malaysia sebagai pusat industri elektronik, Singapura sebagaipusat keuangan, dan ini menyisakan pertanyaan akan posisi Indonesia.Pola pertumbuhan ekonomi nasional yang bertumpu pada pertumbuhan konsumsi masyarakat juga tampakpada peningkatan peran konsumsi masyarakat dalam pembentukan PDRB di hampir setiap propinsi pada tahun2001 (Tabel 2.5). Di beberapa propinsi, peran konsumsi masyarakat di tahun 2001 bahkan mencapai lebih dari70% PDRB. Yang paling menonjol adalah propinsi Jawa Barat yang PDRB-nya 76% ditopang oleh konsumsimasyarakat pada tahun 2001. Mengingat Jawa Barat adalah salah satu propinsi dengan PDRB dan pendudukterbesar di Indonesia, struktur perekonomiannya sedikit banyak akan mempengaruhi perekonomian Indonesia.Seperti halnya di tingkat nasional, peningkatan peran konsumsi masyarakat ini terjadi akibat merosotnya peran Masterplan Transportasi Darat Bab II - 8
  23. 23. investasi di hampir semua daerah. Merosotnya peran investasi tersebut tampaknya sejalan dengan gejalamerosotnya peran ekspor bersih (ekspor – impor) dalam PDRB di sebagian besar propinsi.Secara wilayah, Jawa menyumbang hampir 60% PDB Indonesia dan implikasinya adalah belum ada perubahanmendasar dalam konteks ketergantungan perekonomian Indonesia terhadap perekonomian pulau Jawa. StrukturPDRB propinsi-propinsi di Indonesia secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengantahap-tahap dalam transformasi struktural pembangunan yaitu:a. kelompok yang berbasis pertanian dan sumber daya alam: semua propinsi di Sumatera, Kalimantan (kecuali Kalimantan Timur), Sulawesi, Nusa Tenggara (kecuali Bali), Maluku, dan Papua.b. kelompok yang berbasis pada industri pengolahan: Jawa (kecuali Jakarta dan Yogyakarta) dan Kalimantan Timur.c. kelompok yang berbasis pada penyediaan jasa, khususnya jasa non tradisional: Jakarta, Bali, dan Yogyakarta.Gambaran lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 2.6 berikut.Tabel 2. 6 Kontribusi Sektoral PDRB per Propinsi Tahun 2001 (cetak tebal menandakan kontribusi sektor utama dalam setiap propinsi) Propinsi 1 2 3 4 5 6 7 8 9Nangroe Aceh Darussalam 27,45% 21,22% 20,38% 0,30% 4,14% 7,29% 10,17% 1,94% 7,11%Sumatera Utara 31,62% 1,24% 21,64% 1,63% 4,29% 17,18% 8,67% 6,78% 6,96%Sumatera Barat 21,16% 5,49% 16,34% 2,77% 3,82% 16,67% 12,63% 4,84% 16,28%Riau 8,58% 50,99% 20,51% 0,47% 2,53% 8,07% 3,23% 2,54% 3,08%Jambi 27,33% 11,89% 17,25% 0,96% 2,56% 17,00% 10,24% 2,80% 9,98%Sumatera Selatan 20,16% 19,70% 19,14% 0,87% 5,43% 19,56% 4,98% 3,61% 6,56%Bangka Belitung 25,25% 14,17% 21,78% 0,99% 6,97% 14,63% 3,82% 5,28% 7,11%Bengkulu 32,52% 3,10% 4,81% 1,08% 2,89% 16,62% 15,27% 6,02% 17,69%Lampung 36,54% 2,42% 13,69% 1,18% 7,47% 15,05% 9,32% 5,24% 9,09% Propinsi 1 2 3 4 5 6 7 8 9DKI Jakarta 0,18% 0,00% 21,53% 2,10% 10,73% 23,92% 9,78% 22,21% 9,55%Jawa Barat 13,99% 5,66% 39,62% 3,32% 3,24% 16,43% 5,00% 4,06% 8,69%Banten 9,30% 0,12% 50,21% 4,37% 2,30% 17,98% 8,05% 2,35% 5,32%Jawa Tengah 20,33% 1,52% 30,30% 1,20% 4,00% 23,86% 5,25% 3,84% 9,71%DI Yogyakarta 17,11% 1,18% 13,07% 0,75% 7,96% 16,34% 12,98% 10,49% 20,12%Jawa Timur 17,65% 1,93% 26,44% 2,71% 4,44% 21,85% 8,16% 5,75% 11,06%Bali 19,13% 0,72% 8,55% 1,57% 4,37% 31,30% 13,04% 6,57% 14,75%Kalimantan Barat 24,06% 1,49% 18,84% 1,00% 6,24% 19,46% 10,35% 7,00% 11,57% Masterplan Transportasi Darat Bab II - 9
  24. 24. Kalimantan Tengah 39,85% 2,80% 7,60% 0,55% 4,93% 18,91% 10,02% 2,35% 12,97%Kalimantan Selatan 21,77% 17,97% 16,95% 1,58% 4,31% 15,14% 10,63% 3,16% 8,50%Kalimantan Timur 7,74% 31,15% 32,93% 0,39% 2,87% 8,78% 10,91% 2,72% 2,49%Sulawesi Utara 26,29% 7,51% 8,99% 0,81% 10,16% 12,37% 16,07% 2,96% 14,86%Gorontalo 29,73% 3,93% 10,58% 0,72% 7,26% 16,08% 8,60% 5,07% 18,02%Sulawesi Tengah 44,29% 2,59% 7,49% 0,83% 6,61% 11,08% 8,60% 3,88% 14,63%Sulawesi Selatan 33,56% 4,66% 12,79% 1,48% 4,54% 18,05% 8,45% 3,99% 12,48%Sulawesi Tenggara 31,21% 2,87% 7,65% 1,20% 8,83% 14,44% 12,13% 4,82% 16,84%Nusa Tenggara Barat 25,55% 28,54% 3,86% 0,43% 5,96% 12,24% 9,35% 2,08% 11,99%Nusa Tenggara Timur 37,08% 1,22% 2,39% 1,00% 6,27% 14,25% 10,80% 4,19% 22,79%Maluku 33,34% 0,90% 4,94% 0,60% 0,90% 22,56% 8,67% 6,62% 21,47%Maluku Utara 29,06% 5,70% 19,41% 0,63% 0,78% 23,09% 7,49% 4,36% 9,48%Papua 18,51% 57,40% 3,22% 0,34% 4,09% 4,68% 4,22% 1,44% 6,09%INDONESIA 16,18% 9,36% 26,67% 1,75% 5,88% 16,22% 7,66% 6,86% 9,43%Keterangan: 1 : Pertanian 6 : Perdagangan, Restoran, dan Hotel 2 : Pertambangan dan Penggalian 7 : Pengangkutan dan Komunikasi 3 : Industri Pengolahan 8 : Keuangan, Persewaan Bangunan, dan Jasa Perusahaan 4 : Listrik, Gas, dan Air Bersih 9 : Jasa-jasa Lainnya 5 : BangunanSumber: PDRB Propinsi-Propinsi di Indonesia Menurut Lapangan Usaha 1999-2001 (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2002)Secara umum kondisi perekonomian Indonesia semakin membaik pasca krisis. Hal ini ditandai denganmeningkatnya pertumbuhan PDB dan pendapatan perkapita penduduk serta tingkat konsumsi dan daya belimasyarakat, dibandingkan dengan pada awal masa krisis, seperti diperlihatkan dalam tabel berikut:Tabel 2. 7 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga tahun 2000-2003 Jenis pengeluaran 2000 2001 2002 2003 Pengeluaran konsumsi rumah tangga menurut harga 850.818,7 972.938,3 1.120.164,0 1.238.891.7 berlaku (milyar rupiah) Persentase terhadap total pengeluaran (%) 67,26 66,29 69,55 69,34 Pengeluaran konsumsi rumah tangga harga konstan 266.377,2 285.674,7 296.559,3 308.477,4 1993 (milyar rupiah) Persentase pertumbuhan (%) 3,13 3,36 3,81 4,02Sumber: Statistik Indonesia, 2003 - diolah Masterplan Transportasi Darat Bab II - 10
  25. 25. Tingkat konsumsi dan daya beli yang membaik salah satunya akan berakibat pada terjadinya perubahan polapemilihan moda (modal choice) di masyarakat. Moda yang dirasa memberikan tingkat efektifitas waktu dan biayaakan menjadi pilihan. Oleh karena itu perlu adanya penyediaan dan pembenahan suprastruktur sertainfrastruktur untuk meningkatkan daya saing dan utilitas moda transportasi darat, selain itu penyusunankebijakan-kebijakan yang mencegah terjadinya persaingan antar moda dirasa sangat dibutuhkan. Persainganantar moda yang saat ini lebih menjurus kepada perang tarif, tanpa disertai dengan penetapan dan penerapanstandar pelayanan, yang akhirnya nanti akan dimenangkan oleh siapa yang memiliki modal yang lebih kuat danmematikan moda yang lain. Diharapkan dengan kebijakan baru akan dapat diarahkan bahwa moda yang adatidak menjadi substitusi moda yang lain, akan tetapi lebih bersifat saling melengkapi (komplementer), sehinggadi masa mendatang, antar moda yang ada di Indonesia dapat menjalin kerjasama yang baik dan tercipta sistemtransportasi yang terintegrasi untuk menjamin kelancaran dan kenyamanan para pengguna.Beralihnya sebagian masyarakat Indonesia dari sektor pertanian ke sektor industri pengolahan dapat terlihat daribesarnya peranan sektor industri pengolahan terhadap pembentukan PDB Indonesia. Sejak tahun 1991 hinggasaat ini sumbangan terbesar dihasilkan oleh sektor industri pengolahan. Pada tahun 2002 sumbangan sektorindustri pengolahan telah mencapai 25,01%, sedangkan sumbangan sektor pertanian sekitar 17,47%. Selainkedua sektor tersebut, sektor yang kontribusinya terbilang besar adalah sektor perdagangan, restoran dan hoteldengan andil sebesar 16,08%, sektor pertambangan dan penggalian sebesar 11,91% pada tahun yang sama.Adapun sumbangan lima sektor lainnya masih kurang dari 10%, dengan penyumbang terkecil adalah sektorlistrik, gas dan air bersih yaitu hanya 1,81%.Dilihat dari sisi penggunaan PDB atas dasar harga berlaku, sebagian besar PDB digunakan untuk pengeluarankonsumsi rumah tangga (lihat Tabel 2.7). Pada tahun 2002 besarnya pengeluaran konsumsi rumah tanggaadalah sekitar 1.137,8 triliun rupiah atau sekitar 70,67% dari total PDB Indonesia. Selain itu, kegiatanperdagangan luar negeri juga cukup besar yaitu untuk ekspor sebesar 569,9 triliun rupiah atau sekitar 35,40%dan untuk impor sebesar 459,6 triliun rupiah atau sekitar 28,55% dari total PDB. Penggunaan PDB untukpengeluaran konsumsi pemerintah adalah yang terkecil persentasenya yaitu sekitar 8,21% atau dengan nilaisebesar 132,2 triliun rupiah.Berdasarkan harga konstan 1993, laju pertumbuhan PDB menurut penggunaan pada tahun 2002 lebihdigerakkan oleh komponen konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. Kondisi demikian berdampakpada tingginya pangsa perjalanan lokal yang ditunjukkan oleh tingginya perjalanan internal pulau (74% di PulauJawa). Laju pertumbuhan komponen penggunaan PDB tertinggi yaitu berupa pengeluaran konsumsi pemerintah Masterplan Transportasi Darat Bab II - 11
  26. 26. dimana tahun 2002 meningkat sebesar 12,79% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Komponen berikutnyadengan laju pertumbuhannya yang meningkat cukup tinggi yaitu pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar4,72%. Namun demikian penggunaan PDB untuk pembentukan modal tetap domestik bruto dan untuk eksporserta impor pada tahun 2002 terjadi penurunan masing-masing sebesar –0,19%, –1,24% dan –8,33%.Tabel 2.8 Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha 1999-2003 (Miliar Rupiah) Lapangan Usaha 2000 2001 2002 2003 1. Pertanian, Peternakan, kehutanan & Perikanan 217.897,9 244.721,9 275.271,4 296.237,5 2. Pertambangan & Penggalian 175.262,5 193.540,9 178.197,1 191.176,9 3. Industri Pengolahan 314.918,4 372.915,9 409.666,3 440.451,8 a. Industri Migas 54.279,9 56.087,1 59.999,1 68.103,7 b. Industri Bukan Migas 260.638,5 316.828,7 349.667,2 372.348,1 4. Listrik, Gas & Air Bersih 16.519,3 22.169,5 30.492,1 39.665,4 5. Bangunan 76.573,4 85.601,8 93.966,1 107.118,8 6. Perdagangan, Hotel & Restoran 199.110,4 235.738,4 265.535,1 291.589,8 7. Pengangkutan & Komunikasi 62.305,6 74.247,3 92.796,6 111.727,7 a. Pengangkutan 47.911,3 57.913,8 67.687,8 81.036,3 b. Komunikasi 14.394,3 16.333,5 25.108,9 30.691,4 8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 80.459,9 94.819,2 110.157,9 123.000,7 9. Jasa-jasa 121.871,4 143.900,0 154.482,2 185.722,3 Produk Domestik Bruto 1.264.918,7 1.467.654,8 1.610.565,0 1.786.690,9 Produk Domestik Bruto tanpa Migas 1.081.417,9 1.279.186,3 1.433.815,1 1.594.944,1Sumber: Statistik Indonesia, 2003 Masterplan Transportasi Darat Bab II - 12
  27. 27. Tabel 2.9 PDB Atas Dasar Harga Konstan 1993 menurut Lapangan Usaha 1999-2003 (Miliar Rupiah) Lapangan Usaha 2000 2001 2002 2003 1. Pertanian, Peternakan, kehutanan & Perikanan 66 208,9 67.318,5 68.669,7 70.374,4 2. Pertambangan & Penggalian 38 896,4 39.401,3 40.404,8 40.590,8 3. Industri Pengolahan 104 986,9 108.272,3 111.982,5 115.900,7 a. Industri Migas 11 599,9 1.196,5 11.332,7 11.398,6 b. Industri Bukan Migas 93 387,0 97.075,8 100.649,8 104.502,1 4. Listrik, Gas & Air Bersih 6 574,8 7.111,9 7.538,4 8.052,2 5. Bangunan 23 278,7 24.308,2 25.488,4 27.196,2 6. Perdagangan, Hotel & Restoran 63 498,3 65.824,6 68.333,3 70.891,3 7. Pengangkutan & Komunikasi 29 072,1 31.338,9 33.855,1 37.475,5 a. Pengangkutan 21 176,3 22.451,7 23.569,7 25.507,4 b. Komunikasi 7 895,8 8.887,2 10.285,4 11.968,1 8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 27 449,4 28.932,3 30.590,8 32.512,5 9. Jasa-jasa 38 051,5 39.245,4 40.080,1 41.459,9 Produk Domestik Bruto 398 016,9 411.753,5 426.942,9 444.453,5 Produk Domestik Bruto tanpa Migas 363 758,7 379.019,6 394.530,8 412.696,7Sumber: Statistik Indonesia, 2003Dari kedua tabel diatas dapat dilihat bahwa sektor pengolahan memiliki kontribusi terbesar dalam pembentukanPDB. Lebih spesifik lagi sub sektor industri bukan migas yang meliputi jenis industri makanan, minuman dantembakau, tekstil, barang kulit dan alas kaki, barang kayu dan hasil hutan lain, kertas dan barang cetakan,pupuk, kimia dan barang dari karet, semen, barang galian bukan logam, logam dasar besi dan baja, alat angkut,mesin dan peralatan, dan barang lainnya. Hasil industri bukan migas didominasi oleh produk pengolahanmakanan, minuman dan tembakau.Terkait dengan kondisi di atas (Indonesia dalam tahap pemulihan), maka seperti disebutkan dalam Bappenas2003, pemulihan ekonomi menuntut pertumbuhan kapasitas infrastruktur, dimana hubungan antara peningkataninfrastruktur dengan output ekonomi sangat erat sehingga disebut “step for step” (artinya peningkatan satupersen output perekonomian terkait erat -strongly associated- dengan satu persen peningkatan ketersediaaninfrastruktur). Dengan bahasa yang sederhana pertumbuhan ekonomi menuntut akumulasi infrastruktur yanglebih banyak, dimana hal ini terkait juga dengan layanan transportasi sebagai fasilitas yang memungkinkanorang, barang dan jasa diangkut dari satu tempat ke tempat yang lain. Selain itu infrastruktur juga harusdilengkapi dengan layanan transportasi yang berfungsi sebagai alat perpindahan penumpang, barang dan jasa.Perannya sangat penting, baik dalam proses produksi (untuk mengirimkan bahan baku dari berbagai sumber ke Masterplan Transportasi Darat Bab II - 13
  28. 28. lokasi produksi) maupun distribusi komoditi ekonomi (mengangkut dan mengirimkan hasil produksi kekonsumen). Peningkatan perekonomian akan membutuhkan dukungan pengembangan infrastruktur yang lebihbesar.Secara umum pendapatan setiap penduduk Indonesia dicerminkan oleh pendapatan nasional per kapita. Padatahun 2002 besarnya pendapatan nasional per kapita atas dasar harga berlaku meningkat dari 6,2 juta rupiahpada tahun 2001 menjadi sekitar 6,5 juta rupiah pada tahun 2002. Namun demikian pertumbuhan pada tahun2002 ini bila dilihat berdasarkan harga konstan 1993 turun sebesar –1,58% sementara tahun 2001 pertumbuhanpendapatan nasional perkapitanya turun sebesar –1,39%. Kondisi ini masih merupakan rangkaian dari prosestransisi pemulihan kondisi ekonomi pasca terjadinya krisis ekonomi 1997.Tabel 2. 10 Pendapatan Perkapita Atas Dasar Harga Berlaku Rincian 2000 2001 2002 2003 Pendapatan Nasional (milyar rupiah) 1.147.331.3 1.301.794,9 1.404.337,4 1.532.457,5 Pendapatan Nasional Perkapita (rupiah) 5.573.817,3 6.231.635,4 6.624.139,1 7.122.673,5 Jumlah Penduduk Pertangahan Tahun (juta) 205,8 208,9 212,0 215,2Sumber: Statistik Indonesia, 2003Peningkatan pendapatan perkapita dan didukung dengan data kenaikan konsumsi rumah tangga (Tabel 2.7)dapat menjadi indikator peningkatan daya beli masyarakat, yang berarti jumlah uang yang akan digunakan untukberkegiatan semakin besar. Kegiatan akan didukung oleh sarana-prasarana pergerakan yaitu transportasi,sehingga secara tidak langsung peningkatan pendapatan perkapita akan dapat meningkatkan daya belimasyarakat pada ketersediaan transportasi dan akan meningkatkan keinginan orang untuk berpejalanan.Apabila dilihat secara spasial antara pendapatan perkapita di pedesaan dan perkotaan terdapat kesenjanganyang sangat besar, bahkan hampir mencapai separuhnya (lihat Gambar 2.1). Hal tersebut akan mempengaruhipola konsumsi dan perilaku berkegiatan antara perdesaan dan perkotaan, sehingga karakteristik perjalanan diperkotaan perlu dianalisis tersendiri karena polanya yang berbeda dengan kondisi normal. 9000.0 8000.0 7000.0 6000.0 ru p iah 5000.0 4000.0 3000.0 Masterplan Transportasi Darat 2000.0 Bab II - 14 1000.0 0.0 1990 1993 1995 1998 1999 2000
  29. 29. Sumber: Statistik Indonesia, 2003 (diolah) Gambar 2. 1 Kesenjangan Pendapatan Perkapita Penduduk Perkotaan dan PerdesaanKebutuhan transportasi di daerah perdesaan dan perkotaan sangatlah berbeda, baik dari jumlah prasrana dansarana, maupun tingkat pelayanannya. Penyebab utama dari perbedaan kebutuhan transportasi ini didasari olehperbedaan jumlah pendapatan antara penduduk perkotaan dan perdesaan, baik itu jumlah pendapatan rata-ratamaupun spektrum pendapatannya.Perbedaan pendapatan sangat dipengaruhi oleh karakteristik masing-masing wilayah tersebut, misalnya diperkotaan: sektor perekonomian yang sangat dominan di wilayah ini adalah jasa, perdagangan, konstruksi danpengolahan, sedangkan di perdesaan lebih didominasi oleh sektor pertanian. Penduduk di daerah perkotaanlebih padat dibandingkan dengan penduduk di perdesaan sehingga persaingan dalam dunia kerja juga lebihketat. Beberapa wilayah perdesaan masih bersifat daerah subsisten, yaitu daerah yang kebutuhannya masihdipenuhi sendiri, sedangkan di wilayah perkotaan sistem perdagangan sudah merupakan cara yang lazim dalammemenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya, hal ini didukung dengan adanya bangunan rill pasar (misalnya:pasar rakyat, mall, pertokoan dll). Dengan didominasinya sektor perekonomian di wilayah perkotaan oleh bidangjasa, perdagangan, konstruksi dan pengolahan, maka sudah sewajarnya apabila ketrampilan manuasia diperkotaan lebih dihargai daripada di wilayah perdesaan.Tingginya tingkat pendapatan rata-rata penduduk perkotaan dibandingkan dengan penduduk perdesaan (lihatGambar 2.2 dan 2.3) secara langsung menyebabkan perbedaan dalam penggunaan pendapatannya itu. Selaindigunakan untuk konsumsi, pendapatan penduduk perkotaan masih mencukupi untuk ditabung (saving) dandibelanjakan pada sektor yang lain (disposable income). Meningkatnya pendapatan yang dibelanjakan padasektor transportasi ini akan meningkatkan jumlah permintaan yang harus dipenuhi oleh sektor transportasi.Sehingga wajar apabila jumlah sarana dan prasarana, serta kualitas transportasi di wilayah perkotaan lebihtinggi dibandingkan wilayah perdesaan. 500.000,00 Desa 450.000,00 Kota 400.000,00 350.000,00 300.000,00 250.000,00 200.000,00 Masterplan Transportasi Darat 150.000,00 Bab II - 15 100.000,00 50.000,00
  30. 30. Sumber: Susenas, 2002 (diolah) Gambar 2. 2. Perbandingan Pengeluaran Rata-rata Penduduk Perkotaan dan Perdesaan Tiap-tiap PropinsiSelain itu lebih luasnya spektrum pendapatan penduduk di perkotaan menyebabkan permintaan yang lebihbervariasi atas pelayanan yang harus diberikan. Hal ini mendorong penyediaan kebutuhan transportasi yangbervariasi juga, sehingga kita bisa lebih banyak mengenal macam-macam tingkat pelayanan transportasi diperkotaan dibandingkan di wilayah perdesaan, misalnya adanya sarana transportasi kelas ekonomi, bisnis,eksekutif, super eksekutif dan lain sebagainya. Berikut ini adalah data pengeluaran dari penduduk perkotaandan perdesaan di Indonesia, yang dapat digunakan sebagai proxy dari pendapatan. 40% Perdesaan 35% Perkotaan Rata-rata Pengeluaran (Id) 30% Perdesaan Rata-rata Rp. 169.916, - Pengeluaran ( Ik) 25% Perkotaan Prosentase Rp. 264.191, - 20% 15% 10% 5% 0% 0 < 40.000 40.000- 60.000- 1 2 3 80.000- 100.000- 150.000- 200.000- 300.000- >500,000 10 4 5 6 7 8 9 59.999 79.999 99.999 149.999 199.999 299.999 499.999 Pengeluaran (Rp) σd = 31.065,79 σk = 55.758,71 Sumber: Susenas, 2002 (diolah)Gambar 2. 3. Perbandingan Prosentase Pengeluaran antara Penduduk Perkotaan dan Perdesaan di Indonesia Masterplan Transportasi Darat Bab II - 16
  31. 31. 2.3. KONDISI TRANSPORTASI DARAT SAAT INI2.3.1 TRANSPORTASI JALANPrasarana jaringan jalan masih merupakan kebutuhan pokok bagi pelayanan distribusi komoditi perdagangandan industri. Di era desentralisasi, jaringan jalan juga merupakan perekat kebutuhan bangsa dan negara dalamsegala aspek sosial, budaya, ekonomi, politik dan keamanan. Sehingga keberadaan sistem jaringan jalan yangmenjangkau seluruh wilayah tanah air merupakan tuntutan yang tidak dapat ditawar lagi. Fungsi jaringan jalansebagai salah satu komponen prsarana transportasi sudah saatnya diletakkan pada posisi yang setara dalamperencanaan transportasi secara global. Untuk itu diperlukan keterpaduan dalam perencanaan pembangunansarana dan prasarana transportasi dalam konteks sistem transportasi intermoda. Hal penting untuk mencapaitujuan ini adalah menghilangkan arogansi sektoral maupun wilayah, sehingga mampu memberikan pelayananyang proporsional dan efisien.Hasil survei asal tujuan nasional 2001 memperlihatkan bahwa moda jalan mendominasi sekitar 80-90% dariseluruh perjalanan di Jawa dan Sumatera, sementara kereta api hanya memiliki pangsa pasar sekitar 10,5% diJawa. Di wilayah lain seperti Kalimantan dan Sulawesi, peran masing-masing moda relatif berimbang, namununtuk Maluku, Irian Jaya dan Nusa Tenggara Timur peran moda laut lebih dominan. Walaupun begitu, tidak bisadipungkiri bahwa moda jalan telah menjadi pilihan utama untuk perjalanan jarak pendek dan menengah dalamsatu pulau atau kawasan.Dalam Tabel 2.11 dan Gambar 2.4. ditunjukkan panjang jaringan jalan nasional pada tahun 2002 mencapai330.495 km, namun sekitar 40% (130.000 km) berada dalam keadaan rusak. Jalan nasional dan jalan propinsihanya 24,5% (15.704 km) yang rusak, sementara jalan kabupaten 47% (113.244 km).Tabel 2. 11 Kerusakan Jaringan Jalan Nasional (2002) Rusak Jenis Jalan Panjang (km) Baik Sedang Rusak Berat Ringan Jalan Nasional 26.866 64,3 % 24,0 % 6,9 % 4,8 % Jalan Porpinsi 37.164 34,1 % 32,1 % 16,9 % 16,9 % Jalan Kabupaten 240.946 19,0 % 34,0 % 28,5 % 18,5 % Jalan Kota 25.518 9,0 % 87,0 % 4,0 % 0,0 % Total 330.495 23,6 % 37,1 % 23,6 % 15,8 %Sumber: Ditjen. Prasarana Wilayah, 2003 Masterplan Transportasi Darat Bab II - 17
  32. 32. Gambar 2.4 Peta Jaringan Jalan berdasarkan Status Sumber : Ditjen Tata Ruang, 2003 Gambar 2.4 Jaringan Jalan Berdasarkan Status di Indonesia Masterplan Transportasi Darat Bab II - 18

×