Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
Membangun Kepercayaan DiriOleh; Esti Diah Purwitasari*Percaya diri bisa membuat mudah urusan saat menghadapi masalah terte...
Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan rasa percaya-diri. Sikap orang tua sangatpenting terhadap perasaan anak tenta...
Asumsi berbahaya: “Masa lalu saya tetap signifikan dan mengontrol perasaan dan perilakusaya di masa sekarang.”Alternatif k...
• Beri penekanan pada kekuatan-diri. Beri penghargaan sendiri atas semua yang Anda coba.Dengan fokus pada apa yang Anda da...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Membangun Kepercayaan Diri

1,029 views

Published on

building self-confidence in Bahasa Indonesia by Esti Diah Purwitasari

  • Be the first to like this

Membangun Kepercayaan Diri

  1. 1. Membangun Kepercayaan DiriOleh; Esti Diah Purwitasari*Percaya diri bisa membuat mudah urusan saat menghadapi masalah tertentu. Namun,orang sering terjebak dalam asumsi-asumsi keliru yang justru meruntuhkankepercayaan diri. Berikut ini cara-cara pengendaliannya;Anda orang yang percaya-diri? Beruntunglah, Anda. Rasa percaya-diri ini memungkinkanAnda untuk memiliki pandangan positif namun tetap realistis atas diri Anda sendiri dansituasi yang Anda hadapi. Orang-orang yang percaya-diri yakin pada kemampuan sendiri,memiliki naluri kontrol-diri dalam hidup. Mereka juga percaya, dengan perhitungan masukakal, bahwa mereka dapat melakukan apa yang mereka inginkan, rencanakan, dan harapkan.Meski demikian, memiliki kepercayaan-diri tidak berarti bahwa orang akan bisa melakukansegala hal. Tidak. Namun, orang yang percaya-diri akan memiliki harapan lebih realistis.Bahkan, ketika beberapa harapan tidak terpenuhi, ia akan terus bersikap positif dan bisamenerima diri sendiri.Sebaliknya, orang yang tidak percaya-diri akan sangat tergantung pada persetujuan orang lainagar merasa nyaman pada diri sendiri. Kalau ada orang mengatakan ia cantik, maka ia barumerasa dirinya cantik. Kalau orang menilai ia bisa, maka ia baru merasa bisa. Entah,kenyataannya bagaimana.Orang yang tidak percaya-diri cenderung menghindari risiko karena takut gagal. Ia umumnyatidak berharap sukses dan sering menempatkan diri di bawah. Ia cenderung tidak mengetahuikemampuan diri.Sebaliknya, orang yang percaya-diri siap ambil risiko meski ada penolakan orang lain; karenaumumnya ia percaya pada kemampuan sendiri. Orang semacam ini cenderung bisa menerimadiri-sendiri, dan merasa tidak harus sesuai bagi orang lain agar sekadar dapat diterima.Percaya-diri tidak selalu merupakan karakteristik umum yang melingkupi semua aspekkehidupan seseorang. Biasanya, orang memiliki beberapa bidang kehidupan di mana iamerasa cukup percaya-diri, misalnya; akademisi dan olahraga. Semetara, pada saat sama, iatidak merasa percaya-diri di bidang lain, misalnya; penampilan pribadi atau hubungan sosial.Pengembangan Awal
  2. 2. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan rasa percaya-diri. Sikap orang tua sangatpenting terhadap perasaan anak tentang diri mereka, khususnya pada tahun-tahun awal masapembentukan diri. Ketika orang tua bisa menerima anak atas apa pun yang terjadi, anak bisamandapat landasan kuat bagi perasaan baik tentang diri sendiri.Jika salah satu atau kedua orang tua terlalu kritis atau terlalu menuntut, atau jika merekaterlalu protektif dan menghambat gerak menuju kemandirian, anak bisa merasa dirinya tidakmampu, tidak memadai, atau merasa rendah-diri. Namun, jika orang tua mendorong langkahanak-anak menuju kemandirian dan bisa menerima meski si anak melakukan kesalahan, makaanak akan belajar menerima diri-sendiri dan akan berada di jalan menuju pengembangankepercayaan-diri.Yang menarik, kurangnya rasa percaya-diri tidak selalu berhubungan dengan kurangnyakemampuan. Sebaliknya, rasa kurang percaya-diri justru sering sebagai hasil dari terlalumemfokuskan pada harapan atau standar tidak realistis dari orang lain, terutama dari orangtua dan masyarakat.Dalam perkembangannya, pengaruh teman bisa sama kuat atau lebih kuat daripada pengaruhorang tua dan masyarakat untuk membentuk perasaan anak. Para mahasiswa pada era kuliahdi perguruan tinggi bisa saja mengkaji ulang nilai-nilai masa lalu, kemudian mengembangkanidentitas diri sendiri. Pada era ini, ia bisa rentan terhadap pengaruh dari teman.Asumsi-asumsi berbahayaSaat menanggapi pengaruh eksternal, otak seseorang sering mengembangkan asumsi-asumsi.Sangat mungkin asumsi-asumsi ini konstruktif dan bisa menambah kepercayaan diri. Namun,ada juga asumsi-asumsi yang membahayakan. Berikut ini beberapa asumsi yang dapatmengganggu kepercayaan-diri, dan beberapa cara berfikir alternatif untuk mendendalikannya:Asumsi berbahaya: “Saya harus selalu mendapatkan cinta atau persetujuan dari setiap orangpenting dalam hidup saya.”Alternatif konstruktif: Asumsi di atas adalah tujuan yang sangat perfeksionis dan sulitdijangkau. Orang tidak akan bisa sepenuhnya memaksa orang lain untuk bersikap dan berbuatsesuatu. Yang lebih realistis dan patut adalah mengembangkan standar dan nilai-nilai pribadisehingga bisa membuat orang lain jadi menerima.Asumsi berbahaya: “Saya harus benar-benar kompeten, cakap, dan mencapai semua bidangpenting dalam hidup saya.”Alternatif konstruktif: Ini, sekali lagi, adalah tujuan yang perfeksionis dan sulit terjangkau.Ini juga menunjukkan bahwa nilai personal lebih ditentukan oleh prestasi atau pencapaian.Ingat; prestasi memang bisa memuaskan, tapi tidak selalu membuat Anda jadi lebih layakditerima. Sebaliknya, nilai-diri adalah kualitas yang melekat pada diri seseorang; dan semuaorang pasti memilikinya.
  3. 3. Asumsi berbahaya: “Masa lalu saya tetap signifikan dan mengontrol perasaan dan perilakusaya di masa sekarang.”Alternatif konstruktif: Meski benar bahwa rasa percaya-diri adalah rentan terhadap pengaruheksternal selama masa anak-anak, namun saat Anda tumbuh dewasa maka Anda dapatmemperoleh kesadaran dan perspektif baru tentang apa pengaruh-pengaruh itu dahulu.Dengan demikian, Anda dapat memilih pengaruh mana yang Anda akan pelihara untukmempengaruhi hidup Anda sekarang dan Anda bisa membuang pengaruh yang akanmemebratkan Anda sekarang. Jadi, Anda tidak perlu menjadi tak berdaya saat menghadapiperistiwa-peristiwa masa lalu.Pemikiran Mengkebiri-diriJika sudah terbiasa dengan asumsi-asumsi berbahaya ini, dan terjebak jauh di dalamnya,maka Anda akan rentan terkena pola-pola pemikiran yang mengkebiri diri sendiri. Pola-polayang sangat memasung pemikiran itu antara lain:• Berfikir all or nothing. Kalau dapat ya dapat semua. Galau gagal ya gagal semua. “Sayapasti gagal total kalau kinerja saya tidak sempurna.”• Melihat hanya sisi kelamnya. Bencana memang mengintai di setiap sudut dan bisa datangtak terduga. Satu kritik negatif kecil saja bisa menggelapkan semua realitas. “Saya dapat nilaijelek untuk kimia, jadi saya tidak akan pernah bisa masuk Fakultas Kedokteran.”• Membesarkan yang negatif / Mengkerdilkan yang positif. Hal-hal yang baik tidak dihitungsebesar yang buruk. “Meski saya juara tiga kali berturut-turut, tapi kegagalan sekali inimembuatku benar-benar hancur.”• Menganggap emosi tak kritis sebagai kebenaran. Hanya perasaan tapi dianggap sebagaifakta. “Saya merasa jelek, jadi saya pasti jelek.”• Terlalu menekanan pada „Harus‟. Pernyataan „harus‟ ini sering bersifat perfeksionis danreflektif bagi harapan pihak lain daripada ekspresif bagi keinginan dan hasrat diri sendiri.“Setiap orang harus punya tabungan untuk masa depan. Tapi saya belum punya. Jadi, adayang tak beres dengan diri saya dan masa depan saya.”• Labelling. Pelabelan atau memberi „cap‟ adalah proses penyederhanaan atas sesuatu dansering menyampaikan rasa bersalah. “Saya ini pecundang, dan itu karena salahku.”• Sulit menerima pujian. “Kau suka baju ini? Saya pikir itu membuat saya terlihat gemuk.”Nah, pola-pola berfikir yang mengebiri diri sendiri ini bisa membuat orang jadi minder dankehilangan kepercayaan-diri. Strategi-strategi berikut ini dapat membantu mengatasi pola-pola berpikir di atas;
  4. 4. • Beri penekanan pada kekuatan-diri. Beri penghargaan sendiri atas semua yang Anda coba.Dengan fokus pada apa yang Anda dapat lakukan, silahkan Anda memuji diri sendiri atasusaha Anda daripada sekadar menekankan pada hasil akhir. Mulailah dari dasar apa yangAnda bisa lakukan untuk hidup dalam keterbatasan yang tak terelakkan.• Ambil risiko. Pandanglah pengalaman baru sebagai kesempatan untuk belajar daripadasekadar peluang untuk menang atau kalah. Dengan begitu, Anda membuka kemungkinan-kemungkinan baru dan dapat meningkatkan rasa penerimaan-diri. Jika tidak, maka Andajustru mengubah setiap kemungkinan menjadi sekadar kesempatan untuk jadi kegagalan, danbisa menghambat pertumbuhan pribadi Anda.• Gunakan Self-Talk. Berbicara pada diri sendiri ini perlu untuk melawan asumsi-asumsiberbahaya. Kemudian, katakan pada diri „Stop‟ atas asumsi-asumsi berbahaya. Segeragantikan asumsi berbahaya itu dengan asumsi lebih wajar. Contoh, ketika Andamengharapkan kesempurnaan, ingatkan diri sendiri bahwa Anda tidak harus bisa melakukansemuanya dengan sempurna, dan yang lebih mungkin adalah mencoba melakukan hal-halsebaik mungkin. Hal ini bisa membuat Anda menerima diri sendiri sambil terus berjuanguntuk meningkatkan diri.• Evaluasi diri. Belajarlah untuk mengevaluasi diri secara independen. Dengan melakukanitu, Anda akan bisa menghindari rasa gejolak konstan yang bersumber dari terlalumengandalkan pendapat orang lain. Fokuslah, secara internal, pada bagaimana perasaan Andatentang pekerjaan Anda sendiri, perilaku Anda sendiri, dan sebagainya. Ini akan memberirasa-diri yang lebih kuat dan akan mencegah Anda menyerahkan kekuatan pribadi Anda padaorang lain.* Penulis adalah sarjana psikologi yang saat ini menjadi kepala KB/TK Surabaya GrammarSchool di Surabaya.Sumber gambar;http://www.buildingyourselfconfidence.com/_files/Image/Building_Self_Confidence_Esteem_8.jpg

×