SlideShare a Scribd company logo
1 of 22
NEMERTEA & NEMATODA
                                MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Biosistematik Hewan Yang
               Dibina Oleh Ibu Dwi Santy Damayati, SKm. Mkes.




                                Disusun Oleh:

                        M. Irfan Hilmi ( 1211702056 )

                        Neneng Solihat ( 1211702058 )

                       R. Robbi Januari ( 1211702060 )

                       Selly Purnamasari ( 1211702071 )

                       Tsamrotul Fuadah ( 1211702079 )

                        Vinni Destiani ( 1211702082 )

                          JURUSAN BIOLOGI

               FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

              UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

                                 2011/2012
KATA PENGANTAR


       Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayahNya penulis
dapat menyelesaikan Makalah ini yang berjudul “Nematoda dan Nemertea”

        Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada
teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk
itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.

       Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah-mudahan apa
yang penulis susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang
ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil hikmah dari judul ini sebagai
tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.



                                                               Bandung, 22 November 2012




                                                                  Penulis
Pengertian Nematoda

  Nematoda atau cacing bulat, berbeda secara keseluruhan dari platyhelminthes dan
nemertines. Nematode dikenal dengan kulit ari tebal kasar di sisi luarnya dan didalamnya ada
tekanan hidrostatik yang tinggi. Mereka terlihat sama (gambar 8.1a) dan memberikan
tekanan. Sulit untuk melihat bagaimana bentuk lain dapat dijaga, karena ada sekitar satu juta
spesies. Pilum ini ada dimana-mana : nematoda hidup bebas di laut, air tawar dan habitat
darat juga parasit pada hewan dan tumbuhan. Mereka adalah hewan yang memiliki jumlah
banyak dan memainkan peran penting dalam siklus energi dan materi biosphere. Buchsbaum
(Animals Without Backbones, 1938) menulis, „jika semua materi di alam semesta kecuali
nematoda, tersapu, dunia kita masih dikenali samar-samar, dan jika, jiwa terbuhuh, kita bisa
menyelidikinya, kita harus menemukan gunungnya, bukit, lembah, sungai, danau dan laut.
Lokasi kota akan terurai, pohon-pohon akan berdiri berjajar menakutkan‟. Ada yang
mengatakan pada kita bahwa empat dan setengah juta individu nematoda ditemukan di satu
meter persegi di lumpur laut Belanda dan 90.000 di apel busuk. Nematoda parasit sangat
berbahaya bagi manusia karena menyebabkan penyakit dan kerusakan pertanian, ada banyak
jumlah pentingnya nematoda sebagai hewan yang ada dimana saja, berjumlah banyak dan
parasit yang sukses dengan siklus hidup bervariasi.

  Nematoda adalah cacing silinder, melingkar dengan belahan menyilang dan jarak
panjangnya dari 200 µ sampai 40 cm (pada Ascaris, parasit dalam usus manusia) dan 9 meter
pada parasit dalam paus. Cacing ini triploblastik, tanapa segmen dan terututup , kulit ari yang
fleksibel tapi liat, dibawahnya hanya ada lapisan otot melintang. Tidak ada sistem darah atau
sirkulasi lainnya. Rongga tubuhnya tidak mempunyai garis dalam mesoderm dan itu bukan
coelom; itu diperoleh secara langsung dari blastocoel . Terdiri dari banyak tabung untuk
sistem reproduksi dan juga saluran cerna, yang terbuka di setiap ujung cacing.

2.2.2 Sistem Fisiologi
a. Sistem Reproduksi
       Dalam filum nematoda reproduksi selalu dilakukan secara seksual. Umumnya
dioecious, dan jantan ditandai dengan ekor berbentuk kait, berukuran lebih kecil dari betina.
Alat repoduksi jantan terdiri atas testis, rongga vesika, seminalis, dan sebuah lubang kelamin.
Alat reprodusi betina terdiri atas ovarium, receptacolom seminalis, uterus, vagina, pulpa.
Telur yang telah dibuahi akan menetas ± 8 hari dan menjadi larva yang besarnya 0,2 mm
kemudian menjadi dewasa setelah 4 minggu. Pembuahan terjadi di dalam uterus, telur yang
telah dibuahi mendapat cangkang yang tebal dan keras. Permukaan cangkang dihiasi ukiran
yang spesifik untuk masing-masing spesies, hingga bentuk telur dipakai untuk identifikasi
infeksi parasit dari pengamatan tinja penderita.
       Sistem reproduksi cacing betina terdiri dari satu atau dua gulungan tubulus yang
menyatu membentuk suatu vagina yang bermuara keluar melewati vulva. Vulva biasanya
terletak di bagian anterior tubuh. Ujung distal tubulus tersebut diatas membentuk ovarium,
bagian-bagian selanjutnya adalah oviduk, dan sisanya adalah uterus. Bagian anterior yang
berkelenjar dari uterus mempunyai aktifitas metabolik dan sintetik yang tinggi. Lipida
cenderung melimpah pada organ reproduksi baik pada yang jantan maupun betina.
       Bentuk telur pada nematoda sangat bervariasi. Kulit telur terdiri dari tiga lapis pokok.
Paling luar atau lapisan vitelinaadalah submikroskopik dan kemungkinan berasal dari
oolema. Lapisan tersebut diselubungi oleh lapisan uterina. Berikutnya adalah lapisan
kitinosa merupakan lapisan yang paling jelas dan mengandung berbagai macam jumlah kitin.
Paling dalam adalahlapisan lipida yang dibentuk paling akhir, dan diduga bertanggung jawab
terhadap impermeabilitas kulit telur. Protein pada kulit telur mengandung kira-kira 35%
prolina.
       Pembelahan telur-telur Nematoda yaitu melalui perkembangan embrio melalui
beberapa stadia yaitu :
      Stadium morula, yang berbentuk ellipsoid.
      Stadium blastula.
      Stadium gastrula, dengan cara invaginasi terbentuk stomodaeum, dan embrio
memanjang.
      Stadium cacing muda yang berubah menjadi dewasa.
       Cacing jantan mempunyai organ reproduksi yang juga merupakan modifikasi dari
gulungan tabung yang panjang. Cacing nematoda biasanya hanya mempunyai satu testis,
yang berada di ujung distal tabung yang melanjutkan sebagai vas deferens dan bersatu
dengan ujung bawah usus pada kloaka. Sebelum persatuan itu, vasdeferens melebar
membentuk vesikula seminalis sebagai kantung penyimpanan sperma.


b. Sistem Pencernaan Makanan
       Kebanyakan nematoda yang hidup bebas karnivor dan memakan metazoa kecil,
termasuk jenis nematoda yang lain. Spesies lain baik laut maupun air tawar adalah
phytophagus, memakan diatom, ganggang dan jamur. Spesies terestrial merupakan hama
tanaman komersial. Ada pula spesies laut, air tawar dan terestrial “deposit feeder”, memakan
lumpur dan memanfaatkan bakteri dan bahan organik yang terkandung dalam lumpur.
Beberapa spesies memakan sampah organik seperti kotoran hewan, bangkai dan tanaman
busuk.
         Nematoda yang bersifat parasit, memperoleh makan dari hospesnya. Cara-cara
memperoleh makanan ini antara lain:
a.    Dengan menghisap darah, contoh : Ancylostoma.
b.   Dengan merusak jaringan hospes, contoh : Trichuris.
c.    Dengan memakan atau menghisap sari-sari makanan dalam intestinum hospes, contoh
: Ascaris.
d.   Dengan mengabsorbsi sari-sari makanan dari cairan tubuh hospes, contoh : Fillaria.
         Makanan    masuk    melalui    mulut pharinx esopagus usus         halus rekton
pendek  anus. Saluran pencernaan nematoda berupa tabung sederhana terdiri dari sel-sel
yang tersusun dalam lapisan tunggal. Mulut menuju ke kapsul bukalis (tidak selalu ada),
kemudian ke esofagus yang berotot yang selanjutnya ke usus. Tonjolan-tonjolan kecil
dinamakan mikrovilimelapisi permukaan dalam usus telah ditemukan pada beberapa spesies.
Anus terdapat hampir diujung posterior cacing, dan sebuah pelebaran yang dinamakan
rektum terletak tepat di anterior anus. Sel-sel usus biasanya kaya akan mitokondria, kompleks
golgi, ribosom, glikogen, protein, lipida, dan retkulum endoplasmik. Sel- sel kelenjar di
daerah mulut dan anus berfungsi mensintesis protein dan mukopolisakarida, dan hasilnya
dikeluarkan ke dalam saluran pencernaan atau langsung keluar tubuh.


c. Sistem Saraf
         Lingkaran cincin syaraf mengelilingi oesophagus merupakan otak, dan berhubungan
dengan enam benang syaraf anterior yang pendek dan enam benang syaraf posterior. Alat
indera pada nematoda adalah papila, setae dan amphid. Setaeterdapat di kepala dan seluruh
permukaan tubuh. Amphid di jumpai pada nematoda yang hidup bebas, terutama spesies
laut.Amphid ialah lubang kutikula yang buntu dan bercilia, berfungsi sebagai chemoreceptor.
Bentuk dari amphid bermacam-macam karena itu di gunakan untuk identifikasi. Banyak
nematoda yang mempunyai phasmid pada bagian ekornya, yaitu sepasang kelenjar uniseluler
yang bermuara di kedua sisi lateral tubuh cacing, berfungsi sebagai chemoreseptor. Beberapa
spesies laut dan air tawar mempunyai bintik mata.
d. Sistem Ekskresi
       Alat ekskresi nematoda bukan protonephridia, melainkan suatu sistem sel kelenjar,
dengan atau tanpa saluran yang terletak pada anterior. Pseudecoelom terisi hemolimpha yang
mengandung berbagai substansi yang terlarut didalamnya, mungkin juga hasil-hasil excresi.
Hasil axcresi itu antara lain nitrogen sebagai ammonia, asam urat, ureum, yang akan
dikeluarkan dari tubuh melalui porus excretorius.
       Pada spesies laut biasanya terdapat satu atau dua sel kelenjar yang besar, tanpa
saluran, terletak dekat pharinx dan mempunyai sebuah lubang ekskresi, disebut kelenjar
renette. Jenis lain mempunyai sistem kelenjar dengan saluran, seperti bentuk huruf H.


e. Sistem Pernafasan
       Nematoda tidak mempunyai organ pernapasan yang spesial. Respirasi dilakukan
secara anaerob. Energi diperoleh dengan cara mengubah glikogen menjadi CO2 dan asam
lemak yang di ekskresikan melalui kutikula. Haemoglobin terjadi pada cairan perivisceral
beberapa parasitik nematoda. Ini terbentuk dengan terang oleh organisme, selama ini berbeda
dari haemoglobin tuan rumah, dan haemoglobin dari sifat yang berbeda kadang-kadang
terjadi pada dinding tubuh dan cairan periviscera.


f. Sistem Otot
   Nematoda mempunyai dua macam otot :
1. Somatik (yang tidak mengkhusus) yang terdiri dari satu lapis langsung di bawah
         hipodermis.
2. Khusus, yang memiliki berbagai fungsi, tergantung pada lokasinya, sebagai contoh otot
        spikuler berguna untuk mengeluarkan spikulum pada yang jantan.
       Otot-otot dinding tubuh terletak longitudinal dan bertanggung jawab untuk melakukan
gerakan cacing seperti ular. Zona yang banyak berserabut pada setiap ujung serabut otot
melekat pada hipodermis, sedangkan ujung lain yang kurang berserabut dari sel otot itu
dihubungkan dengan batang-batang syaraf dorsal maupun ventral, yang akan memberi
stimulasi motor kepada otot-otot tersebut. Bagian yang non kontraktil dari otot somatik
bertindak sebagai penyimpan glikogen. Diantara lapisan otot dan saluran pencernaan terdapat
rongga tubuh yang dikenal sebagai pseudoselom, yang berfungsi sebagai kerangka
hidrostatik.
g. Sistem Gerak
       Gerak pada Nematoda disebabkan oleh adanya otot-otot yang terdapat pada dinding
tubuh. Otot-otot itu terletak diantara tali epidermal, dan membujur sepanjang tubuh. Otot-otot
itu terbagi menjadi empat kuadran, dua kuadran terletak pada sisi dorsal, dan yang lain pada
sisi ventral. Kontraksi dan relaksasi daari otot-otot menyebabkan tubuh cacing memendek
dan memanjannng. Koordinasi gerak dari keempat kuadran otot menyebabkan cacing
bergerak dengan cara meliuk-liuk.


2.2.3 Klasifikasi Nematoda

       Pada kelas Nematoda sudah dikenal ada 17 Ordo, dari tujuh ordo yang pertama dari
ke-17 ordo yang tersebut di bawah ini kebanyakan hidup bebas dan mempunyai tanda-tanda
karakteristik sebagai berikut:
 Ukuran relative kecil, kecuali Ordo Mermithoidea
 Jelas mempunyai bulu-bulu kaku yang bersifat sensoris atau mempunyai papillae pada
ujung anterior yang tersusun dalam gelang-gelang atau lingkaran-lingkaran tertentu
 Amphid relative besar
 Ada glandula adhesive caudalis


a) Kelas 1. Aphasmida (Adenophorea)
       Phasmid tidak ada, amphid besar, kebanyakan hidup bebas.


Ordo 1: Cromadorida
       Hidup bebas, amphid spiral dan melingkar, kantung oesophagus terbagi menjadi tiga
bagian, hidupnya di laut dan air tawar. Kebanyakan hidup di laut, bersifat aquatis, cuticula
halus atau tersusun dalam cincin-cincin, capsula buccalis dilengkapi dengan gigi-gigi dan
pharynx ujung posteriornya membesar.
       Contoh          : Chromadora sp, Wilsonema dan Monhystera


Ordo 2: Enoploidea
       Pada Enoploidea tidak ada cincin-cincin cuticula, tetapi cuticula halus, seringkali
dilengkapi dengan bulu-bulu kaku. Pada bagian ujung anterior terdapat 6 papillae labiales, 10
atau 12 bulu-bulu kaku di dalam 1 atau 2 gelang-gelang atau lingkaran, sepasang celah
cephal, dan amphid berbentuk cyathiform, hidup bebas di laut. Oeshophagus terbagi menjadi
dua bagian, amphid berbentuk kantung panjang atau seperti tabung, hidup bebas dan parasit
di laut, air payau, dan air tawar
Contoh            : Metocholaimus pristiurus, hidup bebas di laut di benua Amerika Utara dan
Eropa, Enoplus dan Nygolaimus


Ordo 3 : Dorylamoidea
         Dorylamoidea umumnya hidup di dalam tanah dan air tawar, cuticula halus, tanpa
bulu-bulu kaku, ujung anterior dengan 2 lingkaran papillae yang masing-masing terdiri atas 6
dan 10 papillae, amphid cyathiform, pharynx bersifat muscular dan jarang bagian
posteriornya membesar,
         contoh : Dorylaimus sp.


b) Phasmida (Secernatea)
         Pada ekor terdapat sepasang lubang phasmid, amphid seperti lubang.


Ordo 1: Araeolaimoidea
         Adanya 4 bulu kaku di daerah kepala, cuticula licin, kadang-kadang dengan bulu-bulu
kaku, ada papillae labials, amphid berbentuk spiral.
         Contoh          : Araeolaimus sp.


Ordo 2 : Rhabdiasoidea
Rhabdiasoidea yang bersifat gonochoristis adalah hidup bebas sedang yang bersifat
hermaprodit atau parthenogenesisi adalah bersifat parasit. Terdiri dari 2 famili. Oesophagus 3
bagian, terutama pada larva, hidup bebas dan parasit
Rhabdiacidae, yang bersifat parasit dalam pulmo Amphibia dan reptilian
Strongyloididae.
Contoh            : Rhabdias bufonis dan Diplogaster


Ordo 3 : Strongylida
         Parasit pada vertebrata darat, mempunyai mulut yang tanpa labia tetapi seringkali
terdapat corolla, cacing betina umumnya mempunyai ovejector dan cacing jantan mempunyai
bursa copulatrix yang di sokong oleh 13 jari-jari otot, parasit pada vertebrata darat
Contoh : Strongylus vulgaris


Ordo 4 : Ascarida
         Parasit pada siput darat, serangga dan vertebrata, mempunyai mulut yang dibatasi
oleh 3 labia, pharynx tanpa bulbus posterior atau jika ada tidak bervalvula.
Contoh : Ascaris lumbricoides


Ordo 5 : Spirudida
         Umumya mempunyai 2 labia laterals yang kadang-kadang masing-masing terdiridari
4-6 papillae, seringkali terdapat interlabia yang berfungsi sebagai alat muscular.
 Parasit pada vertebrata ( Dracunculus dan Wucheria )
 Parasit pada ikan ( Cammalanus dan Spinitectus )
Contoh : Spirura talpae


Ordo 6 : Mermithoidea
         Stadium larva Mermithoidea bersifat parasit pada Avertebrata, umumnya hidup bebas
dalam tanah, bersifat terrestrial aquatis dalam air bersifat aquatis terutama air tawar,
Mermithoidea dewasa tubuhnya halus, berbentuk filiform, panajng 50cm atau lebih pendek,
umumnya ada 16 papillae, cacing-cacing jantan lebih kecil daripada yang betina dengan 1
tau 2 spiculae dan dengan beberapa papillae genetales pada ujung posteriornya, bersifat
gonoshoristis atau parthenogenesis.
Contoh : Mermithonema entomophilum, Paramermis contorta(bersifat aquatis).


Ordo 7 : Monhysteroidea
         Amphid circuler, bersifat aquatis dan terestrial, tetapi yang hidup di laut umumnya
cincin cuticulanya halus dan terkadang terdapat bulu-bulu kaku yang tersebar, ujung anterior
tubuh terdapat 4,6 atau 8 bulu-bulu kaku, ovarium tunggal atau sepasang.
Contoh          : Monhystera sp.


Ordo 8 : Demoscolecoidea
         Cuticulanya jelas bercincin-cincin dengan bulu-bulu kaku di seluruh bagian tubuh
atau hanya pada bagian-bagian yang menyempit saja. Amphid berbentuk bulan sabit atau
setengah bola, hidup di laut.
Contoh          : Demoscolex sp. Dan Greeffiela sp.
Ordo 9 : Rhabtitoidea
         Hidup bebas tau bersifat parasit, cuticula halus atau bercincin-cincin, amphid kecil
berbentuk kantong, glandula adhesive caudalis tidak ada, tetapi phasmid ada
Contoh          : Rhabdites coarctata


Ordo 10 : Oxyuroidea
         Mempunyai pharynx dengan bulbus posterior, cacing betina dengan ekor yang
panjang, cacing jantan mempuyai 1 spicula atau 2 spiculae yang equal, bersifat zooparasite
obligat terutama pada vertebrata, di derah kepala terdapat 8 atau 10 papillae yang tersusun
dalam 1 lingkaran, umumnya terdapat 3 atau 6 labia, amphid berbentuk kantong tubuler.
Contoh          : Leidynema appendiculata.


Ordo 11 : Dracunculoidea
         Berbentuk filiform tanpa labia, terdapat 8 bulu-bulu kaku yang tersusun dalam 1
lingkaran atau 2 lingkaran dengan masing-masing bulu kaku.
Contoh : Dracunculus modinensis.


Ordo 12 : Filarioidea
         Bersifat filiform, cacing jantan lebih kecil daripada cacing betina, labia atau capsula
buccalis tidak ada atau rudimeter,
Contoh : Wuchereria bancrofti


Ordo 13 : Trichuroidea
         Bagian anterior bersifat filiform, mulut tanpa labia, pharynx langsing, cacing jantan
tanpa alat kopulasi atau dengan cirrus, kadang-kadang ada 1 spikula.
Contoh : Trchuris ovis


Ordo 14 : Dioctophymoidea
         Mulutnya tanpa labia, tetapi dikelilingi oleh 6, 12 atau 18 papillae, pharynx panjang
tanpa bulbus, dinding dalam bersifat muscular berbentuk seperti genta.
Contoh : Dioctophyme renale.
2.2.4 Analisis Genetik

       Analisis genetik berdasarkan pada perkembangan mutan. Kelebihan terpenting
Caenorhabditis elegans adalah genetik dapat dikombinasikan dengan hewan beresolusi sel
tunggal. Kemampuan hermaprodit ,menjadi dirinya atau fertilisasi menyilang adalah fitur
berguna lainnya. Keturunan sel merusak mutan dapat digambarkan, dan perubahan dapat
dipahami dalam istilah perkembangan perubahan dalam individu sel. Mutasi mungkin
menghasilkan sebuah transfformasi diskrit penentuan sel pada titik silsilah, atau mungkin
tertukar selama terjadinya perkembangan keturunan. Penyelidikkan Caenorhabditis elegans
menyatakan ada 10 kali lebih mutasi yang terjadi dari yang diperkirakan, yang pertama
menunjukkan bahwa mutasi tidak sejarang teori yang telah diungkapkan. Perluasan      dari
gen, dan proses dasar biologi, telah dijaga selama evolusi adalah hal yang paling
mengejutkan dan penemuan penting untuk memunculkan dari persaingan yang ada pada
nematoda, lalat buah dan mamalia.

       Perbandingan genome Caenorhabditis elegans dengan ragi (jamur sel satu)
menyatakan tingkat kemiripan yang sama: perbedaanya mungkin membantu memberi kita
definisi genetik hewan multiseluler. Pada waktu yang sama, sekitar 400 gen ditemukan yang
mirip dengan nematoda, contohnya struktur biokimianya yang unik seprti kulit ari. Gen
tersebut bisa berguna untuk mengatur hama nematoda tanpa merusak hewan lainnya.
Caenorhabditis elegans mempunyai kesamaan sekitar setengah gen manusia yang diketahui,
beberapa diantaranya menawarkan kesempatan medis: prinsipnya adalah ketika sebuah gen
diketahui dapat menyebabkan penyakit, gen tersebut dapat disisipkan pada cacing untuk
mengetahui apa yang terjadi. Untuk memberi beberapa contoh penggunaan potensial
kesempatan yang ditawarkan :

1. Gen yang mengontrol sel mati dalam Caenorhabditis elegans menjadi penting dalam
penyembuhan kanker
2. Satu gen ditemukan untuk merubah angka metabolisme dan penuaan nematoda, gen ini
bisa diterima manusia sebagai reseptor insulin.
3. Yang baru saja ditemukan bentuk RNA disebut RNAi telah dibuat oleh Caenorhabditis
elegans dimana ini ditemukan untuk mengontrol penyusunan neurones. RNAi bersisi bagian
kecil RNA helai ganda yang dapat menghambat tanda gen dari tempat mereka diperoleh
dengan menghancurkan mRNA mereka. Penyisipan yang bisa mematikan mereka merupakan
alat yang menakjubkan untuk menyelidiki fungsi gen: RNAi telah digunakan pada gen
nematoda yang menghubungkan dengan gen penyebab pennyakit pada mamalia. Cara itu
sudah terbuka untuk pengobatan menggunkan gen tanapa menyebabkan kerusakan pada
tubuh manusia hidup .


2.2.5 Penyakit yang disebabkan oleh Nematoda

Parasit adalah hewan renik yang dapat menurunkan produktivitas hewan yang
ditumpanginya. Parasit dapat menyerang manusia dan hewan, seperti menyerang kulit
manusia. Parasitoid adalah parasit yang menggunakan jaringan organisme lainnya untuk
kebutuhan nutrisi mereka sampai orang yang ditumpangi meninggal karena kehilangan
jaringan atau nutrisi yang dibutuhkan. Nah, mari kita dekati parasit-parasit itu dengan
berbagai data berikut ini:
NB: untuk memperbesar gambar daur hidup masing-masing parasit, klik saja gambarnya!
Hookworm (Cacing Tambang)
Cacing    tambang     manusia     termasuk    ke    dalam    spesies   nematoda,Ancylostoma
duodenale dan Necator americanus. Kebanyakan kelompok dari cacing tambang yang
menginfeksi hewan dapat juga menyerang dan bersifat parasit terhadap manusia, mereka juga
dapat menembus kulit manusia.
Ascariasis
Ascaris lumbricoides adalah nematoda terbesar (cacing gelang) yang bersifat parasit pada
usus manusia. (betina dewasa: 20 sampai 35 cm; jantan dewasa: 15 sampai 30 cm.)




Ascaris lumbricoides terdistribusi di seluruh dunia. Tingkat kejadian tertinggi berada di
daerah tropis dan subtropis, serta daerah dengan sanitasi yang tidak memadai.
Balantidiasis
Balantidium coli adalah protozoa parasit yang memiliki silia.
Balantidium coli tersebar di seluruh dunia. Infeksi ke manusia lebih sering terjadi di daerah
yang memiliki populasi babi tinggi, selain itu hewan seperti tikus dan primata (bukan
manusia) juga memiliki peran besar.
Schistosomiasis
Schistosomiasis disebabkan oleh trematoda. Tiga spesies utama menginfeksi manusia
adalah Schistosoma haematobium, S. japonicum, dan S. mansoni. Dua spesies lain, yang
terlokalisasi secara geografis, adalah S. mekongi dan S. intercalatum. Selain itu, spesies lain
darischistosomes, yang bersifat parasit pada burung dan mamalia, dapat
menyebabkan cercarial dermatitis pada manusia.
Kontak manusia dengan air perlu mendapat perhatian juga karena bisa saja terserang infeksi
yang disebabkan oleh schistosomes. Berbagai hewan, seperti anjing, kucing, tikus, babi, kuda
dan kambing, berfungsi sebagai inang untuk S. japonicum, dan anjing untuk S.
mekongi. Schistosoma mansoni ditemukan di sebagian Amerika Selatan dan Karibia, Afrika,
dan Timur Tengah; S. haematobium di Afrika dan Timur Tengah; dan S. japonicum di Asia
Timur. Schistosoma mekongi danS. intercalatum ditemukan di Asia Tenggara dan bagian
tengah Afrika Barat.


Clonorchiasis
Daerah endemis berada di Asia termasuk Korea, Cina, Taiwan, dan
Vietnam. Clonorchiasis telah dilaporkan di daerah non endemis (termasuk Amerika Serikat).
Dalam kasus tersebut, infeksi ditemukan pada imigran Asia, atau mereka yang telah
mengonsumsi ikan air tawar impor mentah (tanpa dimasak terlebih dahulu) yang
mengandung metaserkaria.
Echinostomiasis
Genus Echinostoma tersebar di seluruh dunia, dan sekitar sepuluh spesies telah dicatat oleh
manusia, termasuk E. Hortense, E. macrorchis,E. revolutum, E. ilocanum dan E. perfoliatum.




Kasus echinostomiasis terjadi di seluruh dunia, tetapi terjadi paling sering di Asia Tenggara
dan di daerah di mana siput, ikan air tawar, dan kerang dimakan mentah atau setengah
matang.
Amuba Usus
Entamoeba coli, E. hartmanni, E. polecki, Endolimax nana, dan Iodamoeba
buetschlii umumnya dianggap non patogen dan berada di usus besar manusia. Entamoeba
gingivalis juga dianggap non patogen dan berada dalam rongga mulut manusia, tepatnya di
kantung gingiva di dasar gigi.




Tidak dikenal ada tahap kista pada Entamoeba gingivalis; tropozoit hidup di rongga mulut
manusia, yang berada di kantung gingiva dekat dasar gigi. Mereka tidak dianggap patogen,
dan memakan bakteri dan kotoran lainnya. Tropozoit ditularkan dari orang yang satu ke
orang lain secara lisan dengan mencium atau menggunakan peralatan makan yang sama.
Tahap tropozoit dari E. gingivalis memiliki ciri morfologis yang mirip dengan E. histolytica.
Semua enam spesies ini tersebar di seluruh dunia. Di alam, Entamoeba polecki menjadi
parasit terutama untuk babi dan monyet, serta terjadinya infeksi pada manusia yang lebih
sering di daerah di mana orang memiliki kontak yang dekat dengan hewan.
Amebiasis
Beberapa spesies protozoa dalam genus Entamoeba bersifat parasit pada manusia, tetapi tidak
semuanya berhubungan dengan penyakit.Entamoeba histolytica dianggap sebagai amoeba
patogen, terkait dengan infeksi usus dan ekstraintestinal.




Tersebar di seluruh dunia, dengan tingkat kejadian yang lebih tinggi terdapat di negara
berkembang. Di negara industri, terdapat kelompok risiko seperti laki-laki homoseksual,
wisatawan, dan imigran baru.


Enterobiasis
Enterobius vermicularis (sebelumnya Oxyuris vermicularis) juga disebut cacing kremi pada
manusia. (Betina dewasa: 8 sampai 13 mm, jantan dewasa. 2 sampai 5 mm), E.
vermicularis dianggap sebagai inang dari manusia. Selain itu Enterobius Gregorii, telah
dijelaskan dan dilaporkan dari Eropa, Afrika, dan Asia. E. Gregorii sifatnya identik
dengan E. vermicularis.
Enterobius vermicularis tersebar di seluruh dunia, dengan infeksi lebih sering di sekolah atau
prasekolah anak. Enterobiasis tampaknya lebih sering terjadi pada negara-negara yang
memiliki iklim tropis. Ini adalah infeksi cacing yang paling umum di Amerika Serikat
(sekitar 40 juta orang yang terinfeksi).
Fascioliasis
Fasciola hepatica (yang disebut cacing hati) dan Fasciola gigantica, adalah parasit herbivora
yang dapat menginfeksi manusia.




Fascioliasis terjadi di seluruh dunia. Infeksi manusia dengan F. hepaticaditemukan di daerah
di mana banyak terdapat domba dan sapi, dan di mana manusia mengonsumsi selada air
mentah (tanpa dimasak), termasuk Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Infeksi dengan F.
giganticatelah dilaporkan, tapi lebih jarang, hanya di Asia, Afrika, dan Hawaii.


Taeniasis
Taenia saginata (cacing pita pada sapi), T. solium (cacing pita pada babi) dan T.
asiatica (cacing pita Asia). Taenia solium juga dapat menyebabkan sistiserkosis.




Taenia saginata dan T. solium adalah parasit yang tersebar di seluruh dunia. Taenia
solium lebih sering ditemukan pada masyarakat miskin di mana manusia hidup dalam kontak
dekat dengan babi dan makan daging babi kurang matang bahkan mentah. Taenia
asiatica terbatas pada kawasan Asia dan ini sering terdapat terutama di daerah Republik
Korea, Cina, Taiwan, Indonesia, dan Thailand.


Filariasis
Filariasis disebabkan oleh nematoda (cacing gelang) yang mendiami jaringan limfatik dan
subkutan. Delapan spesies utama menginfeksi manusia. Tiga dari delapan spesies tersebut
bertanggung jawab untuk sebagian besar morbiditas akibat filariasis: Wuchereria
bancrofti danBrugia malayi penyebab filariasis limfatik, dan Onchocerca
volvulusmenyebabkan onchocerciasis (river blindness). Lima lainnya spesies Loa
loa, Mansonella perstans, M. streptocerca, M. ozzardi, dan Brugia timori. (Spesies terakhir
juga menyebabkan filariasis limfatik.)
Di antara banyak agen filariasis limfatik, Wuchereria bancrofti ditemui di daerah tropis di
seluruh dunia; Brugia malayi terbatas hanya di kawasan Asia, dan Brugia timori terbatas
pada beberapa pulau di Indonesia. Agenriver blindness, Onchocerca volvulus, banyak terjadi
terutama di Afrika, dan beberapa di Amerika Latin serta Timur Tengah. Di antara spesies
yang lain, Loa loa dan Mansonella streptocerca ditemukan di Afrika;Mansonella
perstans terjadi di Afrika dan Amerika Selatan, dan Mansonella ozzardi hanya terjadi di
benua Amerika.




2.2.6 Peranan Nematoda

       Nematoda mempunyai peranan :
 1.    Nematoda mampu memodifikasi lingkungan dan menyediakan unsur hara bagi
organisme lain.
2.    Nematoda dapat dimanfaatkan sebagai obat penyakit tifus dan sebagai bahan kosmetik
dalam bentuk tepung untuk menghaluskan kulit. Di Cina dimanfaatkan sebagai bahan
campuran kue. Di Indonesia digunakan untuk makanan ternak.
3.    Berperan dalam sustainable agriculture yang berprinsip mengurangi pupuk kimia yang
mencemari lingkungan dan polusi air tanah yang akan mempengaruhi kahidupan organisme
perairan.
4.    Nematoda berperan sebagai parasit pada tanaman dan hewan.
5.    Merupakan parasit pada manusia dan mamalia di Afrika dan Asia. Larvanya terdapat
dalam tubuh cyclops di perairan tawar.
DAFTAR PUSTAKA

R. Gibson, British Nemerteans (Cambridge: Cambridge University Press, 1982).
C. Little, The Terrestrial Invasion (Cambridge: Cambridge University Press, 1990).
J. Hodgkin, H. R. Horvitz, B. R. Jasny & J. Kimble, C. elegans: sequence to biology.
Science, 282 (1998), 2011. Introduction to a special issue of Science devoted
        to C. elegans.
Janet Moore.2001.E-Book An introduction of Invertebrates. Cambridge: Cambridge
       University Press.
R. H. A. Plasterk, The Year of the Worm. BioEssays, 21 (1999), 105_109.
M. Blaxter, Two worms are better than one. Nature, 426 (2003), 395_396.
P. Cohen, Review of work on RNA interference (RNAi). New Scientist,
      14 September 2002, 28_33.

More Related Content

What's hot

Klasifikasi Nemathelminthes
Klasifikasi NemathelminthesKlasifikasi Nemathelminthes
Klasifikasi Nemathelminthesevarahma70
 
Laporan Mikrobiologi - Teknik Pewarnaan Mikroorganisme
Laporan Mikrobiologi -  Teknik Pewarnaan MikroorganismeLaporan Mikrobiologi -  Teknik Pewarnaan Mikroorganisme
Laporan Mikrobiologi - Teknik Pewarnaan MikroorganismeRukmana Suharta
 
Laporan Mikrobiologi - Pengamatan Morfologi Fungi
Laporan Mikrobiologi -  Pengamatan Morfologi FungiLaporan Mikrobiologi -  Pengamatan Morfologi Fungi
Laporan Mikrobiologi - Pengamatan Morfologi FungiRukmana Suharta
 
Presentasi zoologi invertebrata filum platyhelminthes
Presentasi zoologi invertebrata filum platyhelminthesPresentasi zoologi invertebrata filum platyhelminthes
Presentasi zoologi invertebrata filum platyhelminthesdewii_er
 
Soal dan jawaban Fisiologi Hewan
Soal dan jawaban Fisiologi HewanSoal dan jawaban Fisiologi Hewan
Soal dan jawaban Fisiologi HewanRizal EnsyaMada
 
Laporan praktikum 6 bunga majemuk (morfologi tumbuhan)
Laporan praktikum 6 bunga majemuk (morfologi tumbuhan)Laporan praktikum 6 bunga majemuk (morfologi tumbuhan)
Laporan praktikum 6 bunga majemuk (morfologi tumbuhan)Maedy Ripani
 
Porifera leucosolenia viriabilis
Porifera leucosolenia viriabilisPorifera leucosolenia viriabilis
Porifera leucosolenia viriabilisSinggih Azwar Anas
 
3. laporan praktikum biologi perhitungan jumlah eritrosit darah
3. laporan praktikum biologi perhitungan jumlah eritrosit darah3. laporan praktikum biologi perhitungan jumlah eritrosit darah
3. laporan praktikum biologi perhitungan jumlah eritrosit darahSofyan Dwi Nugroho
 
Sistem Pencernaan Hewan
Sistem Pencernaan HewanSistem Pencernaan Hewan
Sistem Pencernaan HewanAdy Erfy D'Nc
 
Penicillium Paecilomyces Aspergillus
Penicillium Paecilomyces AspergillusPenicillium Paecilomyces Aspergillus
Penicillium Paecilomyces AspergillusJosua Sitorus
 
Coelenterata meandrina meandrites
Coelenterata meandrina meandritesCoelenterata meandrina meandrites
Coelenterata meandrina meandritesSinggih Azwar Anas
 
Laporan Praktikum 6 Identifikasi Burung
Laporan Praktikum 6 Identifikasi BurungLaporan Praktikum 6 Identifikasi Burung
Laporan Praktikum 6 Identifikasi BurungSelly Noviyanty Yunus
 

What's hot (20)

Klasifikasi Nemathelminthes
Klasifikasi NemathelminthesKlasifikasi Nemathelminthes
Klasifikasi Nemathelminthes
 
Laporan Mikrobiologi - Teknik Pewarnaan Mikroorganisme
Laporan Mikrobiologi -  Teknik Pewarnaan MikroorganismeLaporan Mikrobiologi -  Teknik Pewarnaan Mikroorganisme
Laporan Mikrobiologi - Teknik Pewarnaan Mikroorganisme
 
Laporan Mikrobiologi - Pengamatan Morfologi Fungi
Laporan Mikrobiologi -  Pengamatan Morfologi FungiLaporan Mikrobiologi -  Pengamatan Morfologi Fungi
Laporan Mikrobiologi - Pengamatan Morfologi Fungi
 
GERAK REFLEKS PADA SPINAL KATAK SAWAH (Fejervarya cancrivora)
GERAK REFLEKS PADA SPINAL KATAK SAWAH (Fejervarya cancrivora) GERAK REFLEKS PADA SPINAL KATAK SAWAH (Fejervarya cancrivora)
GERAK REFLEKS PADA SPINAL KATAK SAWAH (Fejervarya cancrivora)
 
Laporan Praktikum 5 Mammalia
Laporan Praktikum 5 MammaliaLaporan Praktikum 5 Mammalia
Laporan Praktikum 5 Mammalia
 
Filotaksis daun
Filotaksis daunFilotaksis daun
Filotaksis daun
 
Presentasi zoologi invertebrata filum platyhelminthes
Presentasi zoologi invertebrata filum platyhelminthesPresentasi zoologi invertebrata filum platyhelminthes
Presentasi zoologi invertebrata filum platyhelminthes
 
Soal dan jawaban Fisiologi Hewan
Soal dan jawaban Fisiologi HewanSoal dan jawaban Fisiologi Hewan
Soal dan jawaban Fisiologi Hewan
 
Laporan praktikum 6 bunga majemuk (morfologi tumbuhan)
Laporan praktikum 6 bunga majemuk (morfologi tumbuhan)Laporan praktikum 6 bunga majemuk (morfologi tumbuhan)
Laporan praktikum 6 bunga majemuk (morfologi tumbuhan)
 
Porifera leucosolenia viriabilis
Porifera leucosolenia viriabilisPorifera leucosolenia viriabilis
Porifera leucosolenia viriabilis
 
Laporan 1 alat ek um
Laporan 1 alat ek umLaporan 1 alat ek um
Laporan 1 alat ek um
 
3. laporan praktikum biologi perhitungan jumlah eritrosit darah
3. laporan praktikum biologi perhitungan jumlah eritrosit darah3. laporan praktikum biologi perhitungan jumlah eritrosit darah
3. laporan praktikum biologi perhitungan jumlah eritrosit darah
 
Makalah Nemathelminthes
Makalah NemathelminthesMakalah Nemathelminthes
Makalah Nemathelminthes
 
Sistem Pencernaan Hewan
Sistem Pencernaan HewanSistem Pencernaan Hewan
Sistem Pencernaan Hewan
 
Penicillium Paecilomyces Aspergillus
Penicillium Paecilomyces AspergillusPenicillium Paecilomyces Aspergillus
Penicillium Paecilomyces Aspergillus
 
Coelenterata meandrina meandrites
Coelenterata meandrina meandritesCoelenterata meandrina meandrites
Coelenterata meandrina meandrites
 
Trypanosoma
TrypanosomaTrypanosoma
Trypanosoma
 
Nematoda
NematodaNematoda
Nematoda
 
Laporan praktikum media
Laporan praktikum mediaLaporan praktikum media
Laporan praktikum media
 
Laporan Praktikum 6 Identifikasi Burung
Laporan Praktikum 6 Identifikasi BurungLaporan Praktikum 6 Identifikasi Burung
Laporan Praktikum 6 Identifikasi Burung
 

Viewers also liked

Viewers also liked (20)

Nematoda (biologi kelas x)
Nematoda (biologi kelas x)Nematoda (biologi kelas x)
Nematoda (biologi kelas x)
 
Presentation nematoda
Presentation nematodaPresentation nematoda
Presentation nematoda
 
Ppt nematoda.
Ppt nematoda.Ppt nematoda.
Ppt nematoda.
 
Phylum Nematoda
Phylum NematodaPhylum Nematoda
Phylum Nematoda
 
Phylum nematoda
Phylum nematodaPhylum nematoda
Phylum nematoda
 
Cacing nematoda
Cacing nematodaCacing nematoda
Cacing nematoda
 
Kelompok 4 nematoda xmia2
Kelompok 4 nematoda xmia2Kelompok 4 nematoda xmia2
Kelompok 4 nematoda xmia2
 
Nematodes
NematodesNematodes
Nematodes
 
class nematoda(Smk duta pratama indonesia)
class nematoda(Smk duta pratama indonesia)class nematoda(Smk duta pratama indonesia)
class nematoda(Smk duta pratama indonesia)
 
Cdc health and parasitology
Cdc health and parasitologyCdc health and parasitology
Cdc health and parasitology
 
MAKALAH ANNELIDA
MAKALAH ANNELIDAMAKALAH ANNELIDA
MAKALAH ANNELIDA
 
Power Point nemathelminthes
Power Point nemathelminthesPower Point nemathelminthes
Power Point nemathelminthes
 
Parasitologi. Nematoda
Parasitologi. NematodaParasitologi. Nematoda
Parasitologi. Nematoda
 
Cacing nematoda usus
Cacing nematoda ususCacing nematoda usus
Cacing nematoda usus
 
Makalah siap posting
Makalah siap postingMakalah siap posting
Makalah siap posting
 
Platyhelminthes & nematoda
Platyhelminthes & nematodaPlatyhelminthes & nematoda
Platyhelminthes & nematoda
 
Tugas powerpoint biologi
Tugas powerpoint biologiTugas powerpoint biologi
Tugas powerpoint biologi
 
Nemathelminthes
NemathelminthesNemathelminthes
Nemathelminthes
 
Laporan praktikukum parasitologi
Laporan praktikukum parasitologiLaporan praktikukum parasitologi
Laporan praktikukum parasitologi
 
Nemathelminthes
NemathelminthesNemathelminthes
Nemathelminthes
 

Similar to Nematoda dan Nemertea

Similar to Nematoda dan Nemertea (20)

materi klasifikasi dan karakteristik protozoa
materi klasifikasi dan karakteristik protozoamateri klasifikasi dan karakteristik protozoa
materi klasifikasi dan karakteristik protozoa
 
1. bahan ajar
1. bahan ajar1. bahan ajar
1. bahan ajar
 
Nemathelminthes (Nematoda)
Nemathelminthes (Nematoda)Nemathelminthes (Nematoda)
Nemathelminthes (Nematoda)
 
Bab 8 Hewan.pptx
Bab 8 Hewan.pptxBab 8 Hewan.pptx
Bab 8 Hewan.pptx
 
Bab 8 hewan
Bab 8 hewanBab 8 hewan
Bab 8 hewan
 
Hewan
HewanHewan
Hewan
 
Ppt coelenterata
Ppt coelenterataPpt coelenterata
Ppt coelenterata
 
Protozoa [Protista Mirip Hewan]
Protozoa [Protista Mirip Hewan]Protozoa [Protista Mirip Hewan]
Protozoa [Protista Mirip Hewan]
 
Helmintologi copy
Helmintologi   copyHelmintologi   copy
Helmintologi copy
 
Makalah colenterata
Makalah colenterataMakalah colenterata
Makalah colenterata
 
Platymelminthes
PlatymelminthesPlatymelminthes
Platymelminthes
 
document (5).pptx
document (5).pptxdocument (5).pptx
document (5).pptx
 
Kerkom Biologi.pptx
Kerkom Biologi.pptxKerkom Biologi.pptx
Kerkom Biologi.pptx
 
2. power point
2. power point2. power point
2. power point
 
2. power point
2. power point2. power point
2. power point
 
Power Point Platyhelminthes
Power Point PlatyhelminthesPower Point Platyhelminthes
Power Point Platyhelminthes
 
DUNIA HEWAN (ANIMALIA).ppt
DUNIA HEWAN (ANIMALIA).pptDUNIA HEWAN (ANIMALIA).ppt
DUNIA HEWAN (ANIMALIA).ppt
 
Filum platyhelminthes, nemathelminthes, anellida.
Filum platyhelminthes, nemathelminthes, anellida.Filum platyhelminthes, nemathelminthes, anellida.
Filum platyhelminthes, nemathelminthes, anellida.
 
Coelenterata biologi
Coelenterata biologiCoelenterata biologi
Coelenterata biologi
 
Power Point Protozoa
Power Point ProtozoaPower Point Protozoa
Power Point Protozoa
 

More from R Januari

Mollusca umum dan gastropoda
Mollusca umum dan gastropodaMollusca umum dan gastropoda
Mollusca umum dan gastropodaR Januari
 
Ppt cnidaria dan porifera
Ppt cnidaria dan poriferaPpt cnidaria dan porifera
Ppt cnidaria dan poriferaR Januari
 
Presentasi for arthropode
Presentasi for arthropodePresentasi for arthropode
Presentasi for arthropodeR Januari
 
Makalah celicerata
Makalah celicerataMakalah celicerata
Makalah celicerataR Januari
 
MAKALAH INSEKTA
MAKALAH  INSEKTAMAKALAH  INSEKTA
MAKALAH INSEKTAR Januari
 

More from R Januari (7)

Celicerata
CelicerataCelicerata
Celicerata
 
Mollusca umum dan gastropoda
Mollusca umum dan gastropodaMollusca umum dan gastropoda
Mollusca umum dan gastropoda
 
Ppt cnidaria dan porifera
Ppt cnidaria dan poriferaPpt cnidaria dan porifera
Ppt cnidaria dan porifera
 
Presentasi for arthropode
Presentasi for arthropodePresentasi for arthropode
Presentasi for arthropode
 
Makalah celicerata
Makalah celicerataMakalah celicerata
Makalah celicerata
 
ppt insekta
ppt insektappt insekta
ppt insekta
 
MAKALAH INSEKTA
MAKALAH  INSEKTAMAKALAH  INSEKTA
MAKALAH INSEKTA
 

Recently uploaded

slide presentation bab 2 sain form 2.pdf
slide presentation bab 2 sain form 2.pdfslide presentation bab 2 sain form 2.pdf
slide presentation bab 2 sain form 2.pdfNURAFIFAHBINTIJAMALU
 
UNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptx
UNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptxUNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptx
UNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptxFranxisca Kurniawati
 
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptxGandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptxHansTobing
 
RPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docx
RPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docxRPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docx
RPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docxSyifaDzikron
 
rpp bangun-ruang-sisi-datar kelas 8 smp.pdf
rpp bangun-ruang-sisi-datar kelas 8 smp.pdfrpp bangun-ruang-sisi-datar kelas 8 smp.pdf
rpp bangun-ruang-sisi-datar kelas 8 smp.pdfGugunGunawan93
 
Teks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian Kasih
Teks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian KasihTeks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian Kasih
Teks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian Kasihssuserfcb9e3
 
SKPM Kualiti @ Sekolah 23 Feb 22222023.pptx
SKPM Kualiti @ Sekolah 23 Feb 22222023.pptxSKPM Kualiti @ Sekolah 23 Feb 22222023.pptx
SKPM Kualiti @ Sekolah 23 Feb 22222023.pptxg66527130
 
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdf
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdfAKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdf
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdfHeriyantoHeriyanto44
 
PAMPHLET PENGAKAP aktiviti pengakap 2024
PAMPHLET PENGAKAP aktiviti pengakap 2024PAMPHLET PENGAKAP aktiviti pengakap 2024
PAMPHLET PENGAKAP aktiviti pengakap 2024MALISAAININOORBINTIA
 
Modul Ajar Bahasa Inggris Kelas 2 Fase A [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Inggris Kelas 2 Fase A [abdiera.com]Modul Ajar Bahasa Inggris Kelas 2 Fase A [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Inggris Kelas 2 Fase A [abdiera.com]Abdiera
 
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]Abdiera
 
Workshop penulisan buku (Buku referensi, monograf, BUKU...
Workshop penulisan buku                       (Buku referensi, monograf, BUKU...Workshop penulisan buku                       (Buku referensi, monograf, BUKU...
Workshop penulisan buku (Buku referensi, monograf, BUKU...Riyan Hidayatullah
 
PERTEMUAN 9 KESEIM 3 SEKTOR.............
PERTEMUAN 9 KESEIM 3 SEKTOR.............PERTEMUAN 9 KESEIM 3 SEKTOR.............
PERTEMUAN 9 KESEIM 3 SEKTOR.............SenLord
 
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptxAKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptxHeriyantoHeriyanto44
 
Modul Ajar IPA Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar IPA Kelas 7 Fase D Kurikulum MerdekaModul Ajar IPA Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar IPA Kelas 7 Fase D Kurikulum MerdekaAbdiera
 
Diagram Fryer Pembelajaran Berdifferensiasi
Diagram Fryer Pembelajaran BerdifferensiasiDiagram Fryer Pembelajaran Berdifferensiasi
Diagram Fryer Pembelajaran BerdifferensiasiOviLarassaty1
 
Keberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptx
Keberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptxKeberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptx
Keberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptxLeniMawarti1
 
PPT TEKS TANGGAPAN KELAS 7 KURIKUKULM MERDEKA
PPT TEKS TANGGAPAN KELAS 7 KURIKUKULM MERDEKAPPT TEKS TANGGAPAN KELAS 7 KURIKUKULM MERDEKA
PPT TEKS TANGGAPAN KELAS 7 KURIKUKULM MERDEKARenoMardhatillahS
 
Panduan Mengisi Dokumen Tindak Lanjut.pdf
Panduan Mengisi Dokumen Tindak Lanjut.pdfPanduan Mengisi Dokumen Tindak Lanjut.pdf
Panduan Mengisi Dokumen Tindak Lanjut.pdfandriasyulianto57
 
Catatan di setiap Indikator Fokus Perilaku
Catatan di setiap Indikator Fokus PerilakuCatatan di setiap Indikator Fokus Perilaku
Catatan di setiap Indikator Fokus PerilakuHANHAN164733
 

Recently uploaded (20)

slide presentation bab 2 sain form 2.pdf
slide presentation bab 2 sain form 2.pdfslide presentation bab 2 sain form 2.pdf
slide presentation bab 2 sain form 2.pdf
 
UNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptx
UNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptxUNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptx
UNSUR - UNSUR, LUAS, KELILING LINGKARAN.pptx
 
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptxGandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
 
RPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docx
RPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docxRPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docx
RPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docx
 
rpp bangun-ruang-sisi-datar kelas 8 smp.pdf
rpp bangun-ruang-sisi-datar kelas 8 smp.pdfrpp bangun-ruang-sisi-datar kelas 8 smp.pdf
rpp bangun-ruang-sisi-datar kelas 8 smp.pdf
 
Teks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian Kasih
Teks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian KasihTeks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian Kasih
Teks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian Kasih
 
SKPM Kualiti @ Sekolah 23 Feb 22222023.pptx
SKPM Kualiti @ Sekolah 23 Feb 22222023.pptxSKPM Kualiti @ Sekolah 23 Feb 22222023.pptx
SKPM Kualiti @ Sekolah 23 Feb 22222023.pptx
 
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdf
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdfAKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdf
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pdf
 
PAMPHLET PENGAKAP aktiviti pengakap 2024
PAMPHLET PENGAKAP aktiviti pengakap 2024PAMPHLET PENGAKAP aktiviti pengakap 2024
PAMPHLET PENGAKAP aktiviti pengakap 2024
 
Modul Ajar Bahasa Inggris Kelas 2 Fase A [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Inggris Kelas 2 Fase A [abdiera.com]Modul Ajar Bahasa Inggris Kelas 2 Fase A [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Inggris Kelas 2 Fase A [abdiera.com]
 
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]
 
Workshop penulisan buku (Buku referensi, monograf, BUKU...
Workshop penulisan buku                       (Buku referensi, monograf, BUKU...Workshop penulisan buku                       (Buku referensi, monograf, BUKU...
Workshop penulisan buku (Buku referensi, monograf, BUKU...
 
PERTEMUAN 9 KESEIM 3 SEKTOR.............
PERTEMUAN 9 KESEIM 3 SEKTOR.............PERTEMUAN 9 KESEIM 3 SEKTOR.............
PERTEMUAN 9 KESEIM 3 SEKTOR.............
 
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptxAKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK.pptx
 
Modul Ajar IPA Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar IPA Kelas 7 Fase D Kurikulum MerdekaModul Ajar IPA Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar IPA Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
 
Diagram Fryer Pembelajaran Berdifferensiasi
Diagram Fryer Pembelajaran BerdifferensiasiDiagram Fryer Pembelajaran Berdifferensiasi
Diagram Fryer Pembelajaran Berdifferensiasi
 
Keberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptx
Keberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptxKeberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptx
Keberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptx
 
PPT TEKS TANGGAPAN KELAS 7 KURIKUKULM MERDEKA
PPT TEKS TANGGAPAN KELAS 7 KURIKUKULM MERDEKAPPT TEKS TANGGAPAN KELAS 7 KURIKUKULM MERDEKA
PPT TEKS TANGGAPAN KELAS 7 KURIKUKULM MERDEKA
 
Panduan Mengisi Dokumen Tindak Lanjut.pdf
Panduan Mengisi Dokumen Tindak Lanjut.pdfPanduan Mengisi Dokumen Tindak Lanjut.pdf
Panduan Mengisi Dokumen Tindak Lanjut.pdf
 
Catatan di setiap Indikator Fokus Perilaku
Catatan di setiap Indikator Fokus PerilakuCatatan di setiap Indikator Fokus Perilaku
Catatan di setiap Indikator Fokus Perilaku
 

Nematoda dan Nemertea

  • 1. NEMERTEA & NEMATODA MAKALAH Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Biosistematik Hewan Yang Dibina Oleh Ibu Dwi Santy Damayati, SKm. Mkes. Disusun Oleh: M. Irfan Hilmi ( 1211702056 ) Neneng Solihat ( 1211702058 ) R. Robbi Januari ( 1211702060 ) Selly Purnamasari ( 1211702071 ) Tsamrotul Fuadah ( 1211702079 ) Vinni Destiani ( 1211702082 ) JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2011/2012
  • 2. KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan Makalah ini yang berjudul “Nematoda dan Nemertea” Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah-mudahan apa yang penulis susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil hikmah dari judul ini sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah ada. Bandung, 22 November 2012 Penulis
  • 3. Pengertian Nematoda Nematoda atau cacing bulat, berbeda secara keseluruhan dari platyhelminthes dan nemertines. Nematode dikenal dengan kulit ari tebal kasar di sisi luarnya dan didalamnya ada tekanan hidrostatik yang tinggi. Mereka terlihat sama (gambar 8.1a) dan memberikan tekanan. Sulit untuk melihat bagaimana bentuk lain dapat dijaga, karena ada sekitar satu juta spesies. Pilum ini ada dimana-mana : nematoda hidup bebas di laut, air tawar dan habitat darat juga parasit pada hewan dan tumbuhan. Mereka adalah hewan yang memiliki jumlah banyak dan memainkan peran penting dalam siklus energi dan materi biosphere. Buchsbaum (Animals Without Backbones, 1938) menulis, „jika semua materi di alam semesta kecuali nematoda, tersapu, dunia kita masih dikenali samar-samar, dan jika, jiwa terbuhuh, kita bisa menyelidikinya, kita harus menemukan gunungnya, bukit, lembah, sungai, danau dan laut. Lokasi kota akan terurai, pohon-pohon akan berdiri berjajar menakutkan‟. Ada yang mengatakan pada kita bahwa empat dan setengah juta individu nematoda ditemukan di satu meter persegi di lumpur laut Belanda dan 90.000 di apel busuk. Nematoda parasit sangat berbahaya bagi manusia karena menyebabkan penyakit dan kerusakan pertanian, ada banyak jumlah pentingnya nematoda sebagai hewan yang ada dimana saja, berjumlah banyak dan parasit yang sukses dengan siklus hidup bervariasi. Nematoda adalah cacing silinder, melingkar dengan belahan menyilang dan jarak panjangnya dari 200 µ sampai 40 cm (pada Ascaris, parasit dalam usus manusia) dan 9 meter pada parasit dalam paus. Cacing ini triploblastik, tanapa segmen dan terututup , kulit ari yang fleksibel tapi liat, dibawahnya hanya ada lapisan otot melintang. Tidak ada sistem darah atau sirkulasi lainnya. Rongga tubuhnya tidak mempunyai garis dalam mesoderm dan itu bukan coelom; itu diperoleh secara langsung dari blastocoel . Terdiri dari banyak tabung untuk sistem reproduksi dan juga saluran cerna, yang terbuka di setiap ujung cacing. 2.2.2 Sistem Fisiologi a. Sistem Reproduksi Dalam filum nematoda reproduksi selalu dilakukan secara seksual. Umumnya dioecious, dan jantan ditandai dengan ekor berbentuk kait, berukuran lebih kecil dari betina. Alat repoduksi jantan terdiri atas testis, rongga vesika, seminalis, dan sebuah lubang kelamin. Alat reprodusi betina terdiri atas ovarium, receptacolom seminalis, uterus, vagina, pulpa.
  • 4. Telur yang telah dibuahi akan menetas ± 8 hari dan menjadi larva yang besarnya 0,2 mm kemudian menjadi dewasa setelah 4 minggu. Pembuahan terjadi di dalam uterus, telur yang telah dibuahi mendapat cangkang yang tebal dan keras. Permukaan cangkang dihiasi ukiran yang spesifik untuk masing-masing spesies, hingga bentuk telur dipakai untuk identifikasi infeksi parasit dari pengamatan tinja penderita. Sistem reproduksi cacing betina terdiri dari satu atau dua gulungan tubulus yang menyatu membentuk suatu vagina yang bermuara keluar melewati vulva. Vulva biasanya terletak di bagian anterior tubuh. Ujung distal tubulus tersebut diatas membentuk ovarium, bagian-bagian selanjutnya adalah oviduk, dan sisanya adalah uterus. Bagian anterior yang berkelenjar dari uterus mempunyai aktifitas metabolik dan sintetik yang tinggi. Lipida cenderung melimpah pada organ reproduksi baik pada yang jantan maupun betina. Bentuk telur pada nematoda sangat bervariasi. Kulit telur terdiri dari tiga lapis pokok. Paling luar atau lapisan vitelinaadalah submikroskopik dan kemungkinan berasal dari oolema. Lapisan tersebut diselubungi oleh lapisan uterina. Berikutnya adalah lapisan kitinosa merupakan lapisan yang paling jelas dan mengandung berbagai macam jumlah kitin. Paling dalam adalahlapisan lipida yang dibentuk paling akhir, dan diduga bertanggung jawab terhadap impermeabilitas kulit telur. Protein pada kulit telur mengandung kira-kira 35% prolina. Pembelahan telur-telur Nematoda yaitu melalui perkembangan embrio melalui beberapa stadia yaitu :  Stadium morula, yang berbentuk ellipsoid.  Stadium blastula.  Stadium gastrula, dengan cara invaginasi terbentuk stomodaeum, dan embrio memanjang.  Stadium cacing muda yang berubah menjadi dewasa. Cacing jantan mempunyai organ reproduksi yang juga merupakan modifikasi dari gulungan tabung yang panjang. Cacing nematoda biasanya hanya mempunyai satu testis, yang berada di ujung distal tabung yang melanjutkan sebagai vas deferens dan bersatu dengan ujung bawah usus pada kloaka. Sebelum persatuan itu, vasdeferens melebar membentuk vesikula seminalis sebagai kantung penyimpanan sperma. b. Sistem Pencernaan Makanan Kebanyakan nematoda yang hidup bebas karnivor dan memakan metazoa kecil, termasuk jenis nematoda yang lain. Spesies lain baik laut maupun air tawar adalah
  • 5. phytophagus, memakan diatom, ganggang dan jamur. Spesies terestrial merupakan hama tanaman komersial. Ada pula spesies laut, air tawar dan terestrial “deposit feeder”, memakan lumpur dan memanfaatkan bakteri dan bahan organik yang terkandung dalam lumpur. Beberapa spesies memakan sampah organik seperti kotoran hewan, bangkai dan tanaman busuk. Nematoda yang bersifat parasit, memperoleh makan dari hospesnya. Cara-cara memperoleh makanan ini antara lain: a. Dengan menghisap darah, contoh : Ancylostoma. b. Dengan merusak jaringan hospes, contoh : Trichuris. c. Dengan memakan atau menghisap sari-sari makanan dalam intestinum hospes, contoh : Ascaris. d. Dengan mengabsorbsi sari-sari makanan dari cairan tubuh hospes, contoh : Fillaria. Makanan masuk melalui mulut pharinx esopagus usus halus rekton pendek  anus. Saluran pencernaan nematoda berupa tabung sederhana terdiri dari sel-sel yang tersusun dalam lapisan tunggal. Mulut menuju ke kapsul bukalis (tidak selalu ada), kemudian ke esofagus yang berotot yang selanjutnya ke usus. Tonjolan-tonjolan kecil dinamakan mikrovilimelapisi permukaan dalam usus telah ditemukan pada beberapa spesies. Anus terdapat hampir diujung posterior cacing, dan sebuah pelebaran yang dinamakan rektum terletak tepat di anterior anus. Sel-sel usus biasanya kaya akan mitokondria, kompleks golgi, ribosom, glikogen, protein, lipida, dan retkulum endoplasmik. Sel- sel kelenjar di daerah mulut dan anus berfungsi mensintesis protein dan mukopolisakarida, dan hasilnya dikeluarkan ke dalam saluran pencernaan atau langsung keluar tubuh. c. Sistem Saraf Lingkaran cincin syaraf mengelilingi oesophagus merupakan otak, dan berhubungan dengan enam benang syaraf anterior yang pendek dan enam benang syaraf posterior. Alat indera pada nematoda adalah papila, setae dan amphid. Setaeterdapat di kepala dan seluruh permukaan tubuh. Amphid di jumpai pada nematoda yang hidup bebas, terutama spesies laut.Amphid ialah lubang kutikula yang buntu dan bercilia, berfungsi sebagai chemoreceptor. Bentuk dari amphid bermacam-macam karena itu di gunakan untuk identifikasi. Banyak nematoda yang mempunyai phasmid pada bagian ekornya, yaitu sepasang kelenjar uniseluler yang bermuara di kedua sisi lateral tubuh cacing, berfungsi sebagai chemoreseptor. Beberapa spesies laut dan air tawar mempunyai bintik mata.
  • 6. d. Sistem Ekskresi Alat ekskresi nematoda bukan protonephridia, melainkan suatu sistem sel kelenjar, dengan atau tanpa saluran yang terletak pada anterior. Pseudecoelom terisi hemolimpha yang mengandung berbagai substansi yang terlarut didalamnya, mungkin juga hasil-hasil excresi. Hasil axcresi itu antara lain nitrogen sebagai ammonia, asam urat, ureum, yang akan dikeluarkan dari tubuh melalui porus excretorius. Pada spesies laut biasanya terdapat satu atau dua sel kelenjar yang besar, tanpa saluran, terletak dekat pharinx dan mempunyai sebuah lubang ekskresi, disebut kelenjar renette. Jenis lain mempunyai sistem kelenjar dengan saluran, seperti bentuk huruf H. e. Sistem Pernafasan Nematoda tidak mempunyai organ pernapasan yang spesial. Respirasi dilakukan secara anaerob. Energi diperoleh dengan cara mengubah glikogen menjadi CO2 dan asam lemak yang di ekskresikan melalui kutikula. Haemoglobin terjadi pada cairan perivisceral beberapa parasitik nematoda. Ini terbentuk dengan terang oleh organisme, selama ini berbeda dari haemoglobin tuan rumah, dan haemoglobin dari sifat yang berbeda kadang-kadang terjadi pada dinding tubuh dan cairan periviscera. f. Sistem Otot Nematoda mempunyai dua macam otot : 1. Somatik (yang tidak mengkhusus) yang terdiri dari satu lapis langsung di bawah hipodermis. 2. Khusus, yang memiliki berbagai fungsi, tergantung pada lokasinya, sebagai contoh otot spikuler berguna untuk mengeluarkan spikulum pada yang jantan. Otot-otot dinding tubuh terletak longitudinal dan bertanggung jawab untuk melakukan gerakan cacing seperti ular. Zona yang banyak berserabut pada setiap ujung serabut otot melekat pada hipodermis, sedangkan ujung lain yang kurang berserabut dari sel otot itu dihubungkan dengan batang-batang syaraf dorsal maupun ventral, yang akan memberi stimulasi motor kepada otot-otot tersebut. Bagian yang non kontraktil dari otot somatik bertindak sebagai penyimpan glikogen. Diantara lapisan otot dan saluran pencernaan terdapat rongga tubuh yang dikenal sebagai pseudoselom, yang berfungsi sebagai kerangka hidrostatik.
  • 7. g. Sistem Gerak Gerak pada Nematoda disebabkan oleh adanya otot-otot yang terdapat pada dinding tubuh. Otot-otot itu terletak diantara tali epidermal, dan membujur sepanjang tubuh. Otot-otot itu terbagi menjadi empat kuadran, dua kuadran terletak pada sisi dorsal, dan yang lain pada sisi ventral. Kontraksi dan relaksasi daari otot-otot menyebabkan tubuh cacing memendek dan memanjannng. Koordinasi gerak dari keempat kuadran otot menyebabkan cacing bergerak dengan cara meliuk-liuk. 2.2.3 Klasifikasi Nematoda Pada kelas Nematoda sudah dikenal ada 17 Ordo, dari tujuh ordo yang pertama dari ke-17 ordo yang tersebut di bawah ini kebanyakan hidup bebas dan mempunyai tanda-tanda karakteristik sebagai berikut:  Ukuran relative kecil, kecuali Ordo Mermithoidea  Jelas mempunyai bulu-bulu kaku yang bersifat sensoris atau mempunyai papillae pada ujung anterior yang tersusun dalam gelang-gelang atau lingkaran-lingkaran tertentu  Amphid relative besar  Ada glandula adhesive caudalis a) Kelas 1. Aphasmida (Adenophorea) Phasmid tidak ada, amphid besar, kebanyakan hidup bebas. Ordo 1: Cromadorida Hidup bebas, amphid spiral dan melingkar, kantung oesophagus terbagi menjadi tiga bagian, hidupnya di laut dan air tawar. Kebanyakan hidup di laut, bersifat aquatis, cuticula halus atau tersusun dalam cincin-cincin, capsula buccalis dilengkapi dengan gigi-gigi dan pharynx ujung posteriornya membesar. Contoh : Chromadora sp, Wilsonema dan Monhystera Ordo 2: Enoploidea Pada Enoploidea tidak ada cincin-cincin cuticula, tetapi cuticula halus, seringkali dilengkapi dengan bulu-bulu kaku. Pada bagian ujung anterior terdapat 6 papillae labiales, 10
  • 8. atau 12 bulu-bulu kaku di dalam 1 atau 2 gelang-gelang atau lingkaran, sepasang celah cephal, dan amphid berbentuk cyathiform, hidup bebas di laut. Oeshophagus terbagi menjadi dua bagian, amphid berbentuk kantung panjang atau seperti tabung, hidup bebas dan parasit di laut, air payau, dan air tawar Contoh : Metocholaimus pristiurus, hidup bebas di laut di benua Amerika Utara dan Eropa, Enoplus dan Nygolaimus Ordo 3 : Dorylamoidea Dorylamoidea umumnya hidup di dalam tanah dan air tawar, cuticula halus, tanpa bulu-bulu kaku, ujung anterior dengan 2 lingkaran papillae yang masing-masing terdiri atas 6 dan 10 papillae, amphid cyathiform, pharynx bersifat muscular dan jarang bagian posteriornya membesar, contoh : Dorylaimus sp. b) Phasmida (Secernatea) Pada ekor terdapat sepasang lubang phasmid, amphid seperti lubang. Ordo 1: Araeolaimoidea Adanya 4 bulu kaku di daerah kepala, cuticula licin, kadang-kadang dengan bulu-bulu kaku, ada papillae labials, amphid berbentuk spiral. Contoh : Araeolaimus sp. Ordo 2 : Rhabdiasoidea Rhabdiasoidea yang bersifat gonochoristis adalah hidup bebas sedang yang bersifat hermaprodit atau parthenogenesisi adalah bersifat parasit. Terdiri dari 2 famili. Oesophagus 3 bagian, terutama pada larva, hidup bebas dan parasit Rhabdiacidae, yang bersifat parasit dalam pulmo Amphibia dan reptilian Strongyloididae. Contoh : Rhabdias bufonis dan Diplogaster Ordo 3 : Strongylida Parasit pada vertebrata darat, mempunyai mulut yang tanpa labia tetapi seringkali terdapat corolla, cacing betina umumnya mempunyai ovejector dan cacing jantan mempunyai bursa copulatrix yang di sokong oleh 13 jari-jari otot, parasit pada vertebrata darat
  • 9. Contoh : Strongylus vulgaris Ordo 4 : Ascarida Parasit pada siput darat, serangga dan vertebrata, mempunyai mulut yang dibatasi oleh 3 labia, pharynx tanpa bulbus posterior atau jika ada tidak bervalvula. Contoh : Ascaris lumbricoides Ordo 5 : Spirudida Umumya mempunyai 2 labia laterals yang kadang-kadang masing-masing terdiridari 4-6 papillae, seringkali terdapat interlabia yang berfungsi sebagai alat muscular.  Parasit pada vertebrata ( Dracunculus dan Wucheria )  Parasit pada ikan ( Cammalanus dan Spinitectus ) Contoh : Spirura talpae Ordo 6 : Mermithoidea Stadium larva Mermithoidea bersifat parasit pada Avertebrata, umumnya hidup bebas dalam tanah, bersifat terrestrial aquatis dalam air bersifat aquatis terutama air tawar, Mermithoidea dewasa tubuhnya halus, berbentuk filiform, panajng 50cm atau lebih pendek, umumnya ada 16 papillae, cacing-cacing jantan lebih kecil daripada yang betina dengan 1 tau 2 spiculae dan dengan beberapa papillae genetales pada ujung posteriornya, bersifat gonoshoristis atau parthenogenesis. Contoh : Mermithonema entomophilum, Paramermis contorta(bersifat aquatis). Ordo 7 : Monhysteroidea Amphid circuler, bersifat aquatis dan terestrial, tetapi yang hidup di laut umumnya cincin cuticulanya halus dan terkadang terdapat bulu-bulu kaku yang tersebar, ujung anterior tubuh terdapat 4,6 atau 8 bulu-bulu kaku, ovarium tunggal atau sepasang. Contoh : Monhystera sp. Ordo 8 : Demoscolecoidea Cuticulanya jelas bercincin-cincin dengan bulu-bulu kaku di seluruh bagian tubuh atau hanya pada bagian-bagian yang menyempit saja. Amphid berbentuk bulan sabit atau setengah bola, hidup di laut. Contoh : Demoscolex sp. Dan Greeffiela sp.
  • 10. Ordo 9 : Rhabtitoidea Hidup bebas tau bersifat parasit, cuticula halus atau bercincin-cincin, amphid kecil berbentuk kantong, glandula adhesive caudalis tidak ada, tetapi phasmid ada Contoh : Rhabdites coarctata Ordo 10 : Oxyuroidea Mempunyai pharynx dengan bulbus posterior, cacing betina dengan ekor yang panjang, cacing jantan mempuyai 1 spicula atau 2 spiculae yang equal, bersifat zooparasite obligat terutama pada vertebrata, di derah kepala terdapat 8 atau 10 papillae yang tersusun dalam 1 lingkaran, umumnya terdapat 3 atau 6 labia, amphid berbentuk kantong tubuler. Contoh : Leidynema appendiculata. Ordo 11 : Dracunculoidea Berbentuk filiform tanpa labia, terdapat 8 bulu-bulu kaku yang tersusun dalam 1 lingkaran atau 2 lingkaran dengan masing-masing bulu kaku. Contoh : Dracunculus modinensis. Ordo 12 : Filarioidea Bersifat filiform, cacing jantan lebih kecil daripada cacing betina, labia atau capsula buccalis tidak ada atau rudimeter, Contoh : Wuchereria bancrofti Ordo 13 : Trichuroidea Bagian anterior bersifat filiform, mulut tanpa labia, pharynx langsing, cacing jantan tanpa alat kopulasi atau dengan cirrus, kadang-kadang ada 1 spikula. Contoh : Trchuris ovis Ordo 14 : Dioctophymoidea Mulutnya tanpa labia, tetapi dikelilingi oleh 6, 12 atau 18 papillae, pharynx panjang tanpa bulbus, dinding dalam bersifat muscular berbentuk seperti genta. Contoh : Dioctophyme renale.
  • 11. 2.2.4 Analisis Genetik Analisis genetik berdasarkan pada perkembangan mutan. Kelebihan terpenting Caenorhabditis elegans adalah genetik dapat dikombinasikan dengan hewan beresolusi sel tunggal. Kemampuan hermaprodit ,menjadi dirinya atau fertilisasi menyilang adalah fitur berguna lainnya. Keturunan sel merusak mutan dapat digambarkan, dan perubahan dapat dipahami dalam istilah perkembangan perubahan dalam individu sel. Mutasi mungkin menghasilkan sebuah transfformasi diskrit penentuan sel pada titik silsilah, atau mungkin tertukar selama terjadinya perkembangan keturunan. Penyelidikkan Caenorhabditis elegans menyatakan ada 10 kali lebih mutasi yang terjadi dari yang diperkirakan, yang pertama menunjukkan bahwa mutasi tidak sejarang teori yang telah diungkapkan. Perluasan dari gen, dan proses dasar biologi, telah dijaga selama evolusi adalah hal yang paling mengejutkan dan penemuan penting untuk memunculkan dari persaingan yang ada pada nematoda, lalat buah dan mamalia. Perbandingan genome Caenorhabditis elegans dengan ragi (jamur sel satu) menyatakan tingkat kemiripan yang sama: perbedaanya mungkin membantu memberi kita definisi genetik hewan multiseluler. Pada waktu yang sama, sekitar 400 gen ditemukan yang mirip dengan nematoda, contohnya struktur biokimianya yang unik seprti kulit ari. Gen tersebut bisa berguna untuk mengatur hama nematoda tanpa merusak hewan lainnya. Caenorhabditis elegans mempunyai kesamaan sekitar setengah gen manusia yang diketahui, beberapa diantaranya menawarkan kesempatan medis: prinsipnya adalah ketika sebuah gen diketahui dapat menyebabkan penyakit, gen tersebut dapat disisipkan pada cacing untuk mengetahui apa yang terjadi. Untuk memberi beberapa contoh penggunaan potensial kesempatan yang ditawarkan : 1. Gen yang mengontrol sel mati dalam Caenorhabditis elegans menjadi penting dalam penyembuhan kanker 2. Satu gen ditemukan untuk merubah angka metabolisme dan penuaan nematoda, gen ini bisa diterima manusia sebagai reseptor insulin. 3. Yang baru saja ditemukan bentuk RNA disebut RNAi telah dibuat oleh Caenorhabditis elegans dimana ini ditemukan untuk mengontrol penyusunan neurones. RNAi bersisi bagian kecil RNA helai ganda yang dapat menghambat tanda gen dari tempat mereka diperoleh dengan menghancurkan mRNA mereka. Penyisipan yang bisa mematikan mereka merupakan alat yang menakjubkan untuk menyelidiki fungsi gen: RNAi telah digunakan pada gen
  • 12. nematoda yang menghubungkan dengan gen penyebab pennyakit pada mamalia. Cara itu sudah terbuka untuk pengobatan menggunkan gen tanapa menyebabkan kerusakan pada tubuh manusia hidup . 2.2.5 Penyakit yang disebabkan oleh Nematoda Parasit adalah hewan renik yang dapat menurunkan produktivitas hewan yang ditumpanginya. Parasit dapat menyerang manusia dan hewan, seperti menyerang kulit manusia. Parasitoid adalah parasit yang menggunakan jaringan organisme lainnya untuk kebutuhan nutrisi mereka sampai orang yang ditumpangi meninggal karena kehilangan jaringan atau nutrisi yang dibutuhkan. Nah, mari kita dekati parasit-parasit itu dengan berbagai data berikut ini: NB: untuk memperbesar gambar daur hidup masing-masing parasit, klik saja gambarnya! Hookworm (Cacing Tambang) Cacing tambang manusia termasuk ke dalam spesies nematoda,Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Kebanyakan kelompok dari cacing tambang yang menginfeksi hewan dapat juga menyerang dan bersifat parasit terhadap manusia, mereka juga dapat menembus kulit manusia.
  • 13. Ascariasis Ascaris lumbricoides adalah nematoda terbesar (cacing gelang) yang bersifat parasit pada usus manusia. (betina dewasa: 20 sampai 35 cm; jantan dewasa: 15 sampai 30 cm.) Ascaris lumbricoides terdistribusi di seluruh dunia. Tingkat kejadian tertinggi berada di daerah tropis dan subtropis, serta daerah dengan sanitasi yang tidak memadai. Balantidiasis Balantidium coli adalah protozoa parasit yang memiliki silia.
  • 14. Balantidium coli tersebar di seluruh dunia. Infeksi ke manusia lebih sering terjadi di daerah yang memiliki populasi babi tinggi, selain itu hewan seperti tikus dan primata (bukan manusia) juga memiliki peran besar. Schistosomiasis Schistosomiasis disebabkan oleh trematoda. Tiga spesies utama menginfeksi manusia adalah Schistosoma haematobium, S. japonicum, dan S. mansoni. Dua spesies lain, yang terlokalisasi secara geografis, adalah S. mekongi dan S. intercalatum. Selain itu, spesies lain darischistosomes, yang bersifat parasit pada burung dan mamalia, dapat menyebabkan cercarial dermatitis pada manusia.
  • 15. Kontak manusia dengan air perlu mendapat perhatian juga karena bisa saja terserang infeksi yang disebabkan oleh schistosomes. Berbagai hewan, seperti anjing, kucing, tikus, babi, kuda dan kambing, berfungsi sebagai inang untuk S. japonicum, dan anjing untuk S. mekongi. Schistosoma mansoni ditemukan di sebagian Amerika Selatan dan Karibia, Afrika, dan Timur Tengah; S. haematobium di Afrika dan Timur Tengah; dan S. japonicum di Asia Timur. Schistosoma mekongi danS. intercalatum ditemukan di Asia Tenggara dan bagian tengah Afrika Barat. Clonorchiasis Daerah endemis berada di Asia termasuk Korea, Cina, Taiwan, dan Vietnam. Clonorchiasis telah dilaporkan di daerah non endemis (termasuk Amerika Serikat). Dalam kasus tersebut, infeksi ditemukan pada imigran Asia, atau mereka yang telah mengonsumsi ikan air tawar impor mentah (tanpa dimasak terlebih dahulu) yang mengandung metaserkaria.
  • 16. Echinostomiasis Genus Echinostoma tersebar di seluruh dunia, dan sekitar sepuluh spesies telah dicatat oleh manusia, termasuk E. Hortense, E. macrorchis,E. revolutum, E. ilocanum dan E. perfoliatum. Kasus echinostomiasis terjadi di seluruh dunia, tetapi terjadi paling sering di Asia Tenggara dan di daerah di mana siput, ikan air tawar, dan kerang dimakan mentah atau setengah matang. Amuba Usus
  • 17. Entamoeba coli, E. hartmanni, E. polecki, Endolimax nana, dan Iodamoeba buetschlii umumnya dianggap non patogen dan berada di usus besar manusia. Entamoeba gingivalis juga dianggap non patogen dan berada dalam rongga mulut manusia, tepatnya di kantung gingiva di dasar gigi. Tidak dikenal ada tahap kista pada Entamoeba gingivalis; tropozoit hidup di rongga mulut manusia, yang berada di kantung gingiva dekat dasar gigi. Mereka tidak dianggap patogen, dan memakan bakteri dan kotoran lainnya. Tropozoit ditularkan dari orang yang satu ke
  • 18. orang lain secara lisan dengan mencium atau menggunakan peralatan makan yang sama. Tahap tropozoit dari E. gingivalis memiliki ciri morfologis yang mirip dengan E. histolytica. Semua enam spesies ini tersebar di seluruh dunia. Di alam, Entamoeba polecki menjadi parasit terutama untuk babi dan monyet, serta terjadinya infeksi pada manusia yang lebih sering di daerah di mana orang memiliki kontak yang dekat dengan hewan. Amebiasis Beberapa spesies protozoa dalam genus Entamoeba bersifat parasit pada manusia, tetapi tidak semuanya berhubungan dengan penyakit.Entamoeba histolytica dianggap sebagai amoeba patogen, terkait dengan infeksi usus dan ekstraintestinal. Tersebar di seluruh dunia, dengan tingkat kejadian yang lebih tinggi terdapat di negara berkembang. Di negara industri, terdapat kelompok risiko seperti laki-laki homoseksual, wisatawan, dan imigran baru. Enterobiasis Enterobius vermicularis (sebelumnya Oxyuris vermicularis) juga disebut cacing kremi pada manusia. (Betina dewasa: 8 sampai 13 mm, jantan dewasa. 2 sampai 5 mm), E. vermicularis dianggap sebagai inang dari manusia. Selain itu Enterobius Gregorii, telah dijelaskan dan dilaporkan dari Eropa, Afrika, dan Asia. E. Gregorii sifatnya identik dengan E. vermicularis.
  • 19. Enterobius vermicularis tersebar di seluruh dunia, dengan infeksi lebih sering di sekolah atau prasekolah anak. Enterobiasis tampaknya lebih sering terjadi pada negara-negara yang memiliki iklim tropis. Ini adalah infeksi cacing yang paling umum di Amerika Serikat (sekitar 40 juta orang yang terinfeksi). Fascioliasis Fasciola hepatica (yang disebut cacing hati) dan Fasciola gigantica, adalah parasit herbivora yang dapat menginfeksi manusia. Fascioliasis terjadi di seluruh dunia. Infeksi manusia dengan F. hepaticaditemukan di daerah di mana banyak terdapat domba dan sapi, dan di mana manusia mengonsumsi selada air
  • 20. mentah (tanpa dimasak), termasuk Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Infeksi dengan F. giganticatelah dilaporkan, tapi lebih jarang, hanya di Asia, Afrika, dan Hawaii. Taeniasis Taenia saginata (cacing pita pada sapi), T. solium (cacing pita pada babi) dan T. asiatica (cacing pita Asia). Taenia solium juga dapat menyebabkan sistiserkosis. Taenia saginata dan T. solium adalah parasit yang tersebar di seluruh dunia. Taenia solium lebih sering ditemukan pada masyarakat miskin di mana manusia hidup dalam kontak dekat dengan babi dan makan daging babi kurang matang bahkan mentah. Taenia asiatica terbatas pada kawasan Asia dan ini sering terdapat terutama di daerah Republik Korea, Cina, Taiwan, Indonesia, dan Thailand. Filariasis Filariasis disebabkan oleh nematoda (cacing gelang) yang mendiami jaringan limfatik dan subkutan. Delapan spesies utama menginfeksi manusia. Tiga dari delapan spesies tersebut bertanggung jawab untuk sebagian besar morbiditas akibat filariasis: Wuchereria bancrofti danBrugia malayi penyebab filariasis limfatik, dan Onchocerca volvulusmenyebabkan onchocerciasis (river blindness). Lima lainnya spesies Loa loa, Mansonella perstans, M. streptocerca, M. ozzardi, dan Brugia timori. (Spesies terakhir juga menyebabkan filariasis limfatik.)
  • 21. Di antara banyak agen filariasis limfatik, Wuchereria bancrofti ditemui di daerah tropis di seluruh dunia; Brugia malayi terbatas hanya di kawasan Asia, dan Brugia timori terbatas pada beberapa pulau di Indonesia. Agenriver blindness, Onchocerca volvulus, banyak terjadi terutama di Afrika, dan beberapa di Amerika Latin serta Timur Tengah. Di antara spesies yang lain, Loa loa dan Mansonella streptocerca ditemukan di Afrika;Mansonella perstans terjadi di Afrika dan Amerika Selatan, dan Mansonella ozzardi hanya terjadi di benua Amerika. 2.2.6 Peranan Nematoda Nematoda mempunyai peranan : 1. Nematoda mampu memodifikasi lingkungan dan menyediakan unsur hara bagi organisme lain. 2. Nematoda dapat dimanfaatkan sebagai obat penyakit tifus dan sebagai bahan kosmetik dalam bentuk tepung untuk menghaluskan kulit. Di Cina dimanfaatkan sebagai bahan campuran kue. Di Indonesia digunakan untuk makanan ternak. 3. Berperan dalam sustainable agriculture yang berprinsip mengurangi pupuk kimia yang mencemari lingkungan dan polusi air tanah yang akan mempengaruhi kahidupan organisme perairan. 4. Nematoda berperan sebagai parasit pada tanaman dan hewan. 5. Merupakan parasit pada manusia dan mamalia di Afrika dan Asia. Larvanya terdapat dalam tubuh cyclops di perairan tawar.
  • 22. DAFTAR PUSTAKA R. Gibson, British Nemerteans (Cambridge: Cambridge University Press, 1982). C. Little, The Terrestrial Invasion (Cambridge: Cambridge University Press, 1990). J. Hodgkin, H. R. Horvitz, B. R. Jasny & J. Kimble, C. elegans: sequence to biology. Science, 282 (1998), 2011. Introduction to a special issue of Science devoted to C. elegans. Janet Moore.2001.E-Book An introduction of Invertebrates. Cambridge: Cambridge University Press. R. H. A. Plasterk, The Year of the Worm. BioEssays, 21 (1999), 105_109. M. Blaxter, Two worms are better than one. Nature, 426 (2003), 395_396. P. Cohen, Review of work on RNA interference (RNAi). New Scientist, 14 September 2002, 28_33.