Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Ma dan Kebangkrutan Kultural

210 views

Published on

kebangkrutan kultural lebih berbahaya ketimbang intelektual

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Ma dan Kebangkrutan Kultural

  1. 1. MATHLA’UL ANWAR (MA)DAN KEBANGKRUTAN KULTURAL** Oleh: AAT ROYHATUDIN* MA anti Kebangkrutan MA pada awal sejarah perkembangannya menancapkan kearifan lokal dengan kegiatan-kegiatan sosial dan gerakan-gerakan keagamaan, ini dimanifestasikan dalam bentuk pendidikan, dakwah dan kebudayaan. Pendidikan menciptakan generasi atau kader yang semangat mencari ilmu, dakwah menanamkan kekuatan iman para kader karena memiliki ghirah keilmuan, kebudayaan dengan kemunculannya menghadirkan segala bentuk perubahan, pembaharuan pemikiran dari kejumudan menuju pemikiran yang mencerahkan, salah satu roh yang ingin dilahirkan MA adalah melepaskan dari keterpurukan, penindasan, kebodohan yang dirasakan oleh para kader, dan dialami umat Islam secara keseluruhan, sebagai akibat lamanya MA dilanda krisis multidimensional, seiring dengan terlalu keasyikan dalam lingkaran kekuasaan dan jabatan. Berpegang teguh kepada kebudayaan lama (tradisional) yang cenderung disalah artikan tidak mau menerima perubahan sehingga menjadi ekslusif dan tidak rasional. Padahal kebudayaan tradsional bukan menutup keran perkembangan dan kemodernan. Dikatakan oleh Harun Nasution, bukan kebudayaan yang menentang perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan, melainkan pertentangan paradigma orang-orang berkebudayaan yang terbatas dengan pengetahuan. Dengan latarbelakang dan munculnya pemikiran dan berdirinya MA adalah karena tuntutan kebudayaan dan keagamaan di masa yang akan datang. Tuntutan keagamaan inilah yang ditandai dengan perubahan-perubahan yang selalu menekankan kekini-an dan kedisini-an, yang berorientasi ke depan sebagai tindakan memenuhi kebutuhan manusia kontemporer dan masa depan bergerak tanpa batas, sedangkan tuntutan keagamaan dimulai dengan menguatkan keyakinan, menjalankan refleksi keimanan, diakhiri dengan solidaritas dan kebersamaan..
  2. 2. Menangkap realitas historis dan persoalan yang berkembang, MA merupakan estafet perjuanagan para ulama yang melahirkan pemikiran brilian untuk mengembalikan ruh tradisi keilmuan islam yang memiliki kekuatan iman dan ihsan, karena MA dari perspektif oraganisasi mampu menerjemahkan idealismenya menjadi suatu empiris, yang tidak terhenti pada persoalan politik semata, melainkan bagaimana diharapkan membangun bangsa dari himpitan-himpitan imperealisme dan kolonialisme dengan semangat menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. MA seiring dengan dinamikanya mampu merespon terhadap berbagai peristiwa besar dengan menempatkan diri dalam perspektif dan dalam peranan hak sebagai organisasi perjuangan mulai dari menghadapi penjajahan kolonilaisme, pemerintahan status quo (orde baru) sampai berhadapan dengan reformasi, ternayata titik nadir dari sebuah penentuan, MA diuji dengan sikap adaptasi rasional, pragmatis, sehingga kualitas kritik muncul dan hadir berbeda karena berhadapan dengan situasi yang berbeda. Kebangkrutan kultural Tradisi keislaman untuk keindonesiaan adalan ciri khas pendidikan, dakwah dan sosial yang dimiliki MA. Karena tradisi keislaman- keindonesiaan adalah dua variable yang relevansi dengan wacana intelektual dan tradisi kultural Islam dengan realitas Negara bangsa Indonesia. Semangat keislaman di MA adalah bagian dari dinamika sejarah tradisi dan budaya islam di Indonesia. Dari ide-idenya yang dilahirkan dari MA memberikan sumbangsih terbesar melalui konsep-konsep pemikiran yang masih abstrak, dituangkan berdasarkan fakta-fakta yang teraktualisasikan secara konkrit dalam pelbagai aktivitas. Sejatinya, perubahan atas nasib suatu umat dan bangsa, maka variable terpentingnya adalah usaha ke arah terjadinya perubahan cara berpikir yang bertujuan menunjukkan adanya kecenderungan membangun bangsa ke arah suatu konvergensi nasional, yaitu adanya saling pengertian yang berakar dalam semangat kesediaan untuk saling
  3. 3. memberi dan menerima dalam kemantapan masing-masing kelompok, golongan maupun agama. Tujuan awal MA yang diinterpretasikan melalui pemikiran, ide dan sikap sebagai embrio perjuangan pendidikan untuk mencerdaskan generasi Islam ke depan untuk mengawal bangsa Indonesia yang memiliki identitas dan nilai-nilai, terutama nilai- nilai kebangsaan dan keislaman. Gerakan dakwah melestarikan ghirah ulama dalam menyebarkan keilmuan yang memunyai nilai toleransi dan kesadaran hidup beragama. Sedangkan pelaksanaan hidup sosial sebagai upaya dan cara mempersiapkan generasi terhindar dari sikap egoisme, sukuisme, lebih-lebih menggerus kebodohan dan keterbelakangan. Gagasan inilah yang mesti dibuktikan secara konkrit oleh penerus generasi muda islam, khususnya MA sebagai sumbangsih terbesar dalam sejarah kultural. Semangat kultural semestinya tidak ada kata berhenti. Dan merasa malu untuk tidak melanjutkan, apalagi melanjutkan dengan banyak dan ada kepentingan. Namun Mohammad Zen tokoh muda MA mengatakan, sudah waktunya ada perubahan sikap dan karakter perjuangan MA dari semula perjuangan bersifat fight against “berjuang melawan” akan tetapi perjuangan sekarang lebih menuntut kemampuan untuk fight for “berjuang untuk”. Dipertegas lagi oleh beliau bahwa tradisi kultural MA bisa saja menjadi redup bahkan raib seandainya dari para kader mengabaikan ruh khittah MA bersemangat memperjuangkan pendekatan structural ketimbang memperjuangkan dan menggerakkan tradisi kultural. Macetnya reproduksi kultural diakibatkan menipisnya semangat perjuangan pemuda dalam menghantarkan gerbang pendidikan, kritisisme gerakan dakwah dan sosial yang dilakukan oleh para ulama tidak menjadi estafet bagi para pemuda dan kader, merupakan indikasi adanya kebangkrutan kultural, yang bisa saja akan merambah dan menggerogoti organisasi Islam, khususnya MA
  4. 4. Antikebangkrutan Kultural MA adalah embrio ulama, memproduksi kaum terpelajar dengan gerakan kultural mampu merespon masalah yang tidak bisa ditawar dan ditunda lagi. MA harus mampu beradaptasi secara lentur, melengkapi diri dengan strategi dan taktik yang tepat dan sesuai dengan situasi dalam menghadapi unsure-unsur yang tak terduga, baik positif maupun negative. Di tengah-tengah kondisi bangsa yang melemah, dengan sendi-sendi kebangsaan yang merapuh dan tidak wajar, meskipun MA bukan merupakan tujuan, hanya merupakan alat perjuangan, eksistensi harus tetap dipertahankan sebagai sarana mencapai tujuan. MA akan tetap berperan untuk merespon setiap tantangan dalam situasi kondisi yang bagaimanapun demi tejadinya berbagai perubahan. Semangat dan selamat ber Muktamar, jangan pernah abaikan pesan dari tradisi kultural. ------------------------------------ **Tulisan ini telah dimuat di Radar banten edisi Agustus 2015 *Penulis adalah Anggota Mubes GEMMA (Generasi Muda Mathla’ul Anwar)

×