Sejarah cbt

664 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
664
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
12
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Sejarah cbt

  1. 1. http://juniditha.wordpress.com/2012/04/13/cognitive-behavior-therapy/ Pendiri terapi perilaku kognitif Aaron T. Beck, MD, yang lulus dari Brown University dan Yale Medical School. Dr Beck mengembangkan terapi perilaku kognitif pada awal 1960-an ketika ia adalah seorang psikiater di University of Pennsylvania. Terapi kognitif menurut penciptanya, Aaron Beck adalah “Didasarkan pada alasanteoritis dasar dimana afek dan perilaku individual adalah didasarkan sangat ditentukan oleh cara dimana ia menyusun dunia ”Penyusunan dunia seseorang didasarkan pada kognisi (idea verbal atau gambaran yang ada bagi alam sadar), yang didasarkan pada asumsi (skema yang dikembangkan dari pengalaman sebelumnya). Menurut Beck, jika seseorang menginterpretasikan pengalaman dalam hal apakah ia kompeten dan adekuat, pikirannya mungkin didominasi oleh skema,” jika saya tidak melakukan segalanyadengan sempurna, saya adalah gagal”. Sebagai akibatnya, ia bereaksi terhadap situasi dalam hal keadekuatan kendatipun hal tersebut tidak berhubungan dengan apakah ia kompeten secara pribadi atau tidak. PERTIMBANGAN UMUM Terapi kognitif adalah terapi terstruktur jangka pendek yang menggunakan kerjasama aktif antara pasien dan ahli terapi untuk mencapai tujuan terapeutik.Terapi ini berorientasi terhadap masalah sekarang dan pemecahannya. Terapi biasanya dilakukan atas dasar individual, walaupun metode kelompok juga digunakan. Terapi juga dapat digunakan bersama-sama dengan obat. Terapi kognitif telah diterapkan terutama untuk gangguan depresif, tetapi terapi ini jugatelah digunakan pada gangguan panic, obsesif kompulsif, gangguan kepribadian paranoid dan gangguan somatoform. Terapi depresi dapat berperan sebagaiparadigma pendekatan kognitif. TEORI KOGNITIF TENTANG DEPRESI Teori kognitif tentang depresi menyatakan bahwa disfungsi kognitif adalah inti dari depresidan bahwa perubahan afektif dan fisik dan ciri penyerta lainnya dari depresi adalah akibat dari disfungsi kognitif. Trias kognitif dari depresi terdiri atas: 1. Persepsi diri yang negative yang melihat seseorang sebagai tidak mampu,tidak adekuat, kekurangan, tidak berguna dan tidak diharapkan. 2. Suatu kecenderungan untuk mengalami dunia sebagai tempat yang negative, menuntut dan mengalahkan diri sendiridan mengharapkan kegagalan dan hukuman. 3. Harapan untuk kesulitan, penderitaan, kekurangan dan kegagalan yangterus menerus. Tujuan terapi : a) Adalah untuk menghilangkan depresi dan mencegah rekurensinya dengan membantu pasien. Untuk mengindentifikasi dan menguji kognisi negative. b) Untuk mengembangkan skema alternative dan lebih fleksibel. c) Untuk mengulangi respon kognitif yang baru dan respon perilaku yangbaru. STRATEGI DAN TEKHNIK Secara keseluruhan terapi relatif singkat berlangsung sampai kira-kira 25 minggu. Ahli terapi harus mampu memancarkan pengalaman hidup yang hangat dan dimengerti dari masing – masing pasien, benar-benar murni dan jujur dengan dirinya sendiri dan dengan pasien. Terapi kognitif memiliki 3 komponen : aspekdidaktik, tekhnik kognitif dan tekhnik perilaku. a) ASPEK DIDAKTIK Aspek didaktik termasuk penjelasan kepada pasien tentang trias kognitif, skema dan logika yang salah. Ahli terapi harus mengatakan kepada pasien bahwa mereka akan menyusun hipotesis bersama–sama dan mengujinya selama perjalanan terapi. Terapi kognitif mengharuskan penjelasan lengkap tentang hubungan antara depresi danpikiran, afek, perilaku,
  2. 2. dan juga alasan semua aspek terapi. b) TEKHNIK KOGNITIF Pendekatan kognitif terdiri dari empat proses : 1. Mendapatkan pikiran automatis 2. Menguji pikiran automatis 3. Mengidentifikasi anggapan dasar yang maladaptive 4. Menguji keabsahan anggapan maladaptive Mendapatkan pikiran automatis. Pikiran automatis adalah kognisi yang menghalangi antara peristiwa eksternal dan reaksi emosional orang terhadap peristiwa. Suatu contoh pikiran automatis adalah keyakinan bahwa setiap orang akan menertawakan saya jika mereka mengetahui betapa buruknya permainan bowling saya. Ini adalah suatu pikiran yang terjadi pada seseorang yang diminta untuk bermain bowling dan berespon secara negative. Contoh lain: Seseorang berpikiran bahwa “ia tidak menyukai saya”, jika seseorang berjalan dihadapan orang tersebut tanpa menyapa. Pikiran automatis juga dinamakan distorsi kognitif. Menguji pikiran automatis. Dengan berperan sebagai guru, ahli terapi membantu pasien menguji keabsahan pikiran automatis. Tujuannya adalah untuk mendorong pasien menolak pikiran automatis yang tidak akurat atau berlebih-lebihan setelah pemeriksaan secara cermat. Pasien seringkali menyalahkan diri sendiri untuk hal–hal buruk yang mungkin ada diluar kendali mereka. Ahli terapi bersama–sama dengan pasien meninjau situasi keseluruhan dan membantu menghubungkan kembali kesalahan atau penyebab peristiwa yang tidak menyenangkan. Menciptakan penjelasan alternative untuk peristiwa adalah cara lain untuk menggali pikiranautomatis yang tidak akurat dan menyimpang. Mengidentifikasi asumsi maladaptive. Saat pasien dan ahli terapi terus berusaha mengidentifikasi pikiran automatis, pola biasanya menjadi tampak. Pola mewakili aturan atau anggapan umum yang maladaptive yangmenuntun kehidupan pasien. Contoh dari aturan tersebut adalah “supaya gembira saya harus sempurna”dan jika setiap orang tidak menyukai saya, saya tidak dicintai.” Aturan tersebut akan menyebabkan kekecewaan dankegagalan dan akhirnya depresi. Menguji keabsahan asumsi maladaptive. Mirip dengan pengujian keabsahan pikiran automatis adalah menguji keakuratan anggapan maldaptive. Satu tes yang cukup efektif adalah bagi ahli terapi untukmeminta pasien mempertahankan keabsahan suatu asumsi. Sebagai contohnya, jika pasien menyatakan bahwa ia harus selalu mambangun kemampuannya, ahli terapi dapat bertanya mengapa hal tersebut sangatpenting baginya. c) TEKHNIK PERILAKU Tekhnik perilaku digunakan untuk menguji dan mengubah kognisimaladaptive dan tujuan keseluruhannya adalah untuk membantu pasienmengerti ketidakakuratan asumsi kognitifnya dan mempelajari strategi dancara baru menghadapi masalah tersebut. Diantara tekhnik perilaku yangdigunakan adalah menjadwalkan aktivitas penguasaan dan kesenangan,menyusun tugas bertahap, latihan kognitif, latihan kepercayaan diri,permainan peran (role playing) dan tekhnik pengalihan. Disampingmenjadwalkan aktivitas pasien diminta untuk menghitung jumlahpenguasaan dan kesenangan yang diberikan oleh aktivitas tersebut. Latihan kognitif meminta pasien membayangkan berbagai langkah dalam menemui dan
  3. 3. menguasai suatu tantangan dan melatih berbagai aspek darinya. Pasien, khususnya rawat inap, didorong untuk mempercayai dirinya sendiridengan merapikan tempat tidurnya, berbelanja sendiri dan mempersiapkan makanannya dinamakan latiaha mempercayai dirinya sendiri. Bermain peran adalah suatu tekhnik yang kuat dan bermanfaat untuk mendapatkan pikiran automatis dan mempelajari perilaku baru. Tekhnik pengalihan adalah berguna dalam membantu pasien melalui waktu yangcukup sulit dan termasuk aktivitas fisik, kontak social, pekerjaan, bermain, danpengkhayalan visual. Perilaku impulsive atau obsesif telah diobati dengan penghentian pikiran. Sebagai contoh, pasien mengkhayalkan tanda berhenti dengan polisi didekatnya atau khayalan yang lain yang menimbulkan inhibisi pada saat mereka mengalamiimpuls atau obsesi yang asing bagi ego. Dengan demikian, obesitas dapat diobati dengan meminta pasien memvisualisasikan dirinya kurus, atletis, ramping, otot yang baik dan selanjutnya untuk menimbulkan citra tersebut bila mereka memiliki dorongan untuk makan. Dalam tekhnik yang dinamakan pengkhayalan terpimpin, pasien didorong untuk memiliki khayalan yang dapat diinterpretasikan sebagai pemenuhan keinginan atau usaha untuk menguasai afek atau impuls yang mengganggu. http://www.beckinstitute.org/history-of-cbt/ Cognitive Therapy (CT), or Cognitive Behavior Therapy (CBT) was pioneered by Dr. Aaron T. Beck in the 1960s, while he was a psychiatrist at the University of Pennsylvania. Having studied and practiced psychoanalysis, Dr. Beck designed and carried out several experiments to test psychoanalytic concepts of depression. Fully expecting the research would validate these fundamental concepts, he was surprised to find the opposite. A new concept of depression: automatic thoughts As a result of his findings, Dr. Beck began to look for other ways of conceptualizing depression. He found that depressed patients experienced streams of negative thoughts that seemed to arise spontaneously. He called these cognitions “automatic thoughts.” He found that the patients’ automatic thoughts fell into three categories. The patients had negative ideas about themselves, the world and/or the future. A new clinical approach Dr. Beck began helping patients identify and evaluate these automatic thoughts. He found that by doing so, patients were able to think more realistically. As a result, they felt better emotionally and were able to behave more functionally. When patients changed their underlying beliefs about themselves, their world and other people, therapy resulted in long-lasting change. Dr. Beck called this approach “cognitive therapy.” It has also become known as “cognitive behavior therapy.” The future of cognitive therapy In the years since its introduction, CT has been studied and proven effective in treating a wide variety of disorders. More than 500 studies have demonstrated its efficacy for psychiatric disorders,
  4. 4. psychological problems and medical problems with a psychiatric component. Today, research continues into cognitive therapies for suicide prevention, and schizophrenia and other psychopathologies. In addition, ongoing research is being conducted to measure the impact of city mental health agencies’ organization structure on the adoption of cognitive therapy by public health systems. Dr. Beck drew on many sources when he developed cognitive therapy. In turn, current researchers and theorists have expanded on his work, and several forms of cognitive therapy have evolved. Although these variants emphasize different things, all share common characteristics of Beck’s therapy.

×