Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Kuliah 2 3 siklus pendapatan 2

2,845 views

Published on

Kuliah

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Kuliah 2 3 siklus pendapatan 2

  1. 1. Matrik untuk mencatan dan mengkorelasikan berbagai komponen resikoKomponen Risiko Keberadaa Kelengkapan Hak dan Penilaian/ Penyajian dan n dan Kewajiban Alokasi Pengungkapan KeterjadianRisiko Audit Rendah Rendah Rendah Rendah RendahRisiko Bawaan Tinggi Sedang Rendah Tinggi SedangRisiko Pengendalian- Rendah Rendah Sedang Sedang SedangTransaksi PenjualanRisiko Pengendalian- Rendah Rendah Rendah Rendah SedangTransaksi PenerimaanKasRisiko Pengendalian- Sedang Rendah Sedang Tinggi SedangPenyesuaian PenjualanPenggabungan Risiko Rendah Sedang Sedang Tinggi SedangPengendalianRisiko Deteksi yang Sedang Sedang Tinggi Rendah SedangDiterima
  2. 2. Pengujian Substantif Saldo PiutangTransaksi yang mempengaruhi piutang usaha adalah:1. Transaksi penjualan kredit barang dan jasa kepada customers. Jurnal untuk mencatat transaki ini adalah:• Piutang Usaha xx• Pendapatan penjualan xx2. Transaksi retur penjualan. Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah:• Retur Penjualan xx• Piutang Usaha xx3. Transaksi penerimaan kas dari debitur. Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah:• Kas xx• Piutang Usaha xx4. Transaksi penghapusan piutang. Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah:• Cadangan Kerugian Piutang xx• Piutang Usaha xx
  3. 3. Prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian piutang di neracaberikut ini:1.Piutang usaha harus disajikan di neraca sebesar jumlah yang diperkirakan dapat ditagihdari debitur pada tanggal neraca. Piutang usaha disajikan di neraca dalam jumlah brutodikurangi dengan taksiran kerugian tidak tertagihnya piutang.2.Jika perusahaan tidak membentuk cadangan kerugian piutang usaha, harusdicantumkan pengungkapannya di neraca bahwa saldo piutang usaha tersebut adalahjumlah bersih (neto).3.Jika piutang usaha bersaldo material pada tanggal neraca, harus disajikan rinciannya dineraca.4.Piutang usaha yang bersaldo kredit (terdapat di dalam kartu piutang) pada tanggalneraca harus disajikan dalam kelompok utang lancar. Jika jumlahnya material, piutangnon usaha harus disajikan terpisah dari piutang usaha.
  4. 4. Tujuan pengujian substantif terhadap piutang usaha adalah:Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutandengan piutang usaha.Membuktikan keberadaan piutang usaha dan keterjadian transaksi yang berkaitandengan piutang usaha yang dicantumkan di neraca.Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dankelengkapan saldo piutang usaha yang disajikan dalam neraca.Membuktikan hak kepemilikan klien atas piutang usaha yang dicantumkan di neraca.Membuktikan kewajaran penilaian piutang usaha yang dicantumkan di neraca.Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan piutang usaha di neraca.
  5. 5. Tujuan Audit dan Program Audit Untuk Mencapainya Saldo akun piutang, cadangan kerugian piutang yang disajikan dalam Laporan KeuanganKeberadaan Keterjadian Prosedur Audit AwalKelengkapan Prosedur AnalitikPenilaian atau Alokasi Pengujian Detail TransaksiHak dan Kewajiban Pengujian Detail SaldoPenyajian dan Penyajian dan PengungkapanPengungkapan Saldo akun piutang, cadangan kerugian piutang yang sesungguhnya
  6. 6. Penjelasan :1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan piutang usaha >>>> melakukan rekonsiliasi antara saldo piutang yang dicantumkan di neraca dengan akun piutang di dalam buku besar dan selanjutnya ke jurnal penjualan, jurnal penerimaan kas, dan jurnal umum.2. Membuktikan keberadaan piutang usaha dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan piutang usaha yang dicantumkan di neraca.>>>>>pengujian ditujukan untuk membuktikan apakah aktiva yang dicantumkan di neraca sesuai dengan aktiva yang sesungguhnya ada dan berasal dari transaksi yang benar- benar terjadi.
  7. 7. Untuk membuktikan asersi keberadaan aktiva dan keterjadian transaksi pengujian substantif yang dilakukan : a.Pengujian analitik. b.Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan piutang usaha. c.Pemeriksaan pisah batas transaksi yang berkaitan dengan piutang usaha. d.Konfirmasi piutang usaha3. Membuktikan asersi kelengkapan piutang usaha yang dicantumkan di neraca Untuk membuktikan bahwa piutang usaha yang dicantumkan di neraca mencakup semua klaim klien kepada debitur pada tanggal neraca dan mencakup semua transaksi yang berkaitan dengan piutang usaha dalam tahun yang diaudit pengujian substantif yang dilakukan : a.Pengujian analitik. b.Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan piutang usaha. c.Pemeriksaan pisah batas transaksi yang berkaitan dengan piutang usaha. d.Konfirmasi piutang usaha
  8. 8. 4. Membuktikan asersi hak kepemilikan klien atas piutang usaha yang dicantumkan di neraca. Piutang usaha yang ada pada tanggal neraca belum tentu merupakan hak milik klien, karena piutang tersebut telah dijual kepada perusahaan penagih atau digadaikan sebagai jaminan penarikan utang Pengujian substantif yang dilakukan : a.Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan piutang usaha. b.Konfirmasi piutang usaha.
  9. 9. 5. Membuktikan asersi penilaian piutang usaha yang dicantumkan di neraca. Piutang usaha disajikan di neraca dalam jumlah bruto dikurangi dengan taksiran kerugian tidak tertagihnya piutang usaha. Shg Cadangan Kerugian Piutang Usaha merupakan akun penilaian (valuation account) untuk mengurangi saldo piutang usaha Pengujian substantif untuk membuktikan kewajaran penentuan jumlah akun Cadangan Kerugian Piutang Usaha yang dicantumkan di neraca, sbb : 1.Prosedur audit awal. 2.Pengujian analitik 3.Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan piutang usaha. 4.Konfirmasi piutang usaha. 5.Penilaian terhadap kecukupan akun Cadangan Kerugian Piutang 6.Pembandingan penyajian piutang usaha di neraca dengan prinsip akuntansi berterima umum.
  10. 10. 6. Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan piutang usaha di neraca Pengujian substantif terhadap piutang usaha diarahkan membuktikan apakah unsur piutang usaha telah disajikan dan diungkapkan oleh klien di neracanya sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum pengujian substantif untuk membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan piutang usaha di neraca adalah : membandingkan penyajian dan pengungkapan piutang usaha di neraca yang diaudit dengan prinsip akuntansi berterima umum.
  11. 11. PROGRAM PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP PIUTANG USAHAProgram audit untuk pengujian substantif terhadap piutangusaha berisi prosedur audit yang dirancang untuk mencapaitujuan audit sedangkan tahap-tahap prosedur audit dimulaidari pemeriksaan yang bersifat luas dan umum sampai kepemeriksaan yang bersifat rinciProsedur audit dilaksanakan dalam lima tahap berikut ini:1.Prosedur audit awal2.Prosedur analitik3.Pengujian terhadap transaksi rinci.4.Pengujian terhadap saldo akun rinci,5.Verifikasi terhadap penyajian dan pengungkapan
  12. 12. Prosedur Audit Kertas Pelaksa Pelaksa Kerja naan naProsedur Audit Awal1.Lakukan prosedur audit awal atas saldo akun piutangusaha yang akan diuji lebih lanjuta.Usut saldo piutang usaha yang tercantum di dalamneraca ke saldo akun piutang usaha yang bersangkutandi dalam buku besar.b.Hitung kembali saldo akun piutang usaha di dalambuku besar.c.Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalamjumlah dan sumber posting dalam akun Piutang Usahadan akun Cadang Kerugian Piutang Usaha
  13. 13. Prosedur Audit Kertas Pelaksa Pelaksa Kerja naan nad. Usut saldo awal akun Piutang Usaha dan akun Cadangan Kerugian Piutang ke kertas kerja tahun yang lalu.e. Usut posting pendebitan akun Piutang Usaha ke dalam jurnal yang bersangkutan.f. Lakukan rekonsiliasi akun kontrol piutang usaha dalam buku besar ke buku pembantu piutang usahaProsedur Analitik2. Lakukan prosedur analitik.a. Hitung ratio berikut ini:(1) Tingkat perputaran piutang usaha(2) Ratio piutang usaha dengan aktiva lancar(3) Rate of return on sales
  14. 14. Prosedur Audit Kertas Pelaksa Pelaksa Kerja naan na(4) Ratio kerugian piutang usaha dengan penjualan kredit(5) Ratio kerugian piutang usaha dengan jumlah piutang usaha yang sesungguhnya tidak tertagih.b. Lakukan analisis hasil prosedur analitik dengan harapan yang didasarkan pada data masa lalu data industri, jumlah yang dianggarkan, atau data lainPengujian terhadap Transaksi Rinci3. Periksa sampel transaksi piutang yang tercatat ke dokumen yang
  15. 15. Prosedur Audit Kertas Pelaksa Pelaksa Kerja naan naa. Periksa pendebitan akun piutang usaha ke dokumen pendukung: faktur penjualan, laporan pengiriman barang, dan order penjualanb. Periksa pengkreditan akun piutang usaha ke dokumen pendukung: bukti kas masuk, memo kredit untuk retur dan rabat penjualan atau penghapusan piutang4. Lakukan verifikasi pisah batas (cutoff) transaksi penjualan dan retur penjualana. Periksa dokumen yang mendukung timbulnya piutang usaha dalam minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah tanggal neraca.b. Periksa dokumen yang mendukung berkurangnya piutang usaha dalam minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah tanggal neraca.
  16. 16. Prosedur Audit Kertas Pelaksa Pelaksa Kerja naan na5. Lakukan verifikasi pisah batas (cutoff) transaksi penerimaan kas.a. Lakukan observasi apakah semua kas yang diterima pada hari terakhir tahun yang diaudit telah dimasukkan ke dalam kas di tangan atau setoran dalam perjalanan dan penerimaan kas dalam tahun berikutnya tidak dimasukkan sebagai penerimaan kas tahun yang diaudit.b. Lakukan review terhadap dokumentasi berikut ini: ringkasan transaksi kas harian, copy bukti setor, rekening koran bank beberapa hari sebelum dan sesudahnya
  17. 17. Prosedur Audit Kertas Pelaksa Pelaksa Kerja naan naPengujian terhadap Saldo Akun Rinci6.Lakukan konfirmasi piutang.a.Tentukan metode, saat, dan luas konfirma si yangakan dilaksanakanb.Pilih debitur yang akan dikirimi surat konfir masidan kirimkan konfirmasic.Untuk konfirmasi positif yang tidak dipero lehjawabannya, laksanakan prosedur alter natif berikutini:1)Periksa dokumen yang mendukungpencatatan penerimaan kas dari debitur yang terjadisetelah tanggal neraca.2)Periksa dokumen yang mendukung pendebitandan pengkreditan akun piutang kepada debitur yangbersangkutan.
  18. 18. Prosedur Audit Kertas Pelaksa Pelaksa Kerja naan na7. Lakukan evaluasi terhadap kecukupan akun Cadangan Kerugian Piutang Usaha yang dibentuk oleh klien.a. Lakukan footing dan cross-footing daftar saldo piutang dan cocokkan jumlahnya dengan akun piutang usaha dalam buku besar.b. Lakukan pengujian penentuan umur piutang usaha yang dibuat oleh klien.c. Bandingkan cadangan kerugian piutang usaha yang tercantum di neraca tahun yang diaudit dengan cadangan tersebut yang tercantum di neraca tahun sebelumnya.d. Periksa catatan kredit untuk debitur yang utangnya telah kadaluwarsa (lewat waktu).
  19. 19. Prosedur Audit Kertas Pelaksa Pelaksa Kerja naan naVerifikasi Penyajian dan Pengungkapan8.Bandingkan penyajian piutang usaha di neracadengan prinsip akuntansi berterima umuma. Periksa klasifikasi piutang usaha ke dalamkelompok aktiva lancar dan aktiva tidak lancar.b. Periksa jawaban konfirmasi bank.c. Periksa klasifikasi piutang ke dalamkelompok piutang usaha dan piutang nonusaha.d. Periksa kecukupan pengungkapan danakuntansi untuk piutang antarpihak yang memilikihubungan istimewa, piutang yang digadaikan, anjakpiutang.e. Periksa surat representasi klien mengenaipiutang. sesudah tanggal neraca, untuk menentukanketepatan pisah batas
  20. 20. 1. Prosedur Awal6 prosedur dalam melakukan rekonsiliasi informasi piutangusaha di neraca dengan catatan akuntansi yang bersangkutan e Buku a Jurnal Neraca Besar b (b) c (c) d f Kertas Kerja Buku Tahun Lalu Pembantu
  21. 21. a. Usut Saldo Piutang yang Tercantum di Neraca Ke Saldo Akun Piutang Usaha yang Bersangkutan di dalam Buku BesarTujuan memperoleh keyakinan bahwa saldo piutang yang tercantum di neraca didukung dengan catatan akuntansi yang andal kebenaran mekanisme pencatatannya,caranya saldo piutang yang dicantumkan di neraca diusut ke akun buku besar berikut ini:Piutang Usaha: yang merupakan akun yang digunakan untuk menampung transaksi timbulnya piutang usaha dari transaksi penjualan kredit, penerimaan kas dari debitur, dan penghapusan piutang usaha.Piutang Nonusaha: yang terdiri dari akun-akun piutang kepada karyawan, piutang penjualan saham, piutang klaim asuransi, piutang pengembalian pajak, piutang dividen dan bunga dan Iain-lain akun piutang yang timbul bukan dari transaksi penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.Cadangan Kerugian Piutang Usaha: yang merupakan akun penilai, untuk mengurangi saldo piutang usaha bruto menjadi saldo piutang usaha bersih yang diperkirakan dapat ditagih dari debitur.
  22. 22. b. Hitung Kembali Saldo Akun Piutang di dalam Buku BesarUntuk memperoleh keyakinan mengenai ketelitian penghitungan saldo akun piutang usaha, auditor menghitung kembali saldo akun Piutang Usaha dan Piutang Nonusaha, dengan cara menambah saldo awal dengan jumlah pendebitan dan menguranginya dengan jumlah peng-kreditan akun tersebutc. Lakukan Review terhadap Mutasi Luar Biasa dalam Jumlah dan Sumber Posting dalam Akun Piutang Usaha dan Akun Cadangan Kerugian Piutang UsahaKecurangan dalam transaksi penjualan kredit dan transaksi yang mengurangi piutang usaha (retur penjualan dan penghapusan piutang) dapat ditemukan melalui review atas mutasi luar biasa, baik dalam jumlah maupun sumber posting dalam akun Piutang Usaha dan akun Cadangan Kerugian Piutang Usaha
  23. 23. d. Usut Saldo Awal Akun Piutang Usaha dan Akun Cadangan Kerugian Piutang Usaha ke Kertas Kerja Tahun yang LaluUntuk memperoleh keyakinan atas kebenaran saldo awal kedua akun tersebut. Perlu melakukan pengusutan saldo awal akun Piutang Usaha dan akun Cadangan Kerugian Piutang Usaha ke kertas kerja tahun yang lalu.Hal ini dilakukan karena Kertas kerja tahun lalu dapat menyediakan informasi tentang berbagai koreksi yang diajukan oleh auditor dalam audit tahun yang lalu, sehingga auditor dapat mengevaluasi tindak lanjut yang telah ditempuh oleh klien dalam menanggapi koreksi yang diajukan oleh auditor tersebute. Usut Posting Pendebitan dan Pengkreditan Akun Piutang ke dalam Jurnal yang BersangkutanPengusutan ini dilakukan oleh auditor untuk memperoleh keyakinan bahwa mutasi penambahan dan pengurangan piutang usaha berasal dari jurnal-jurnal yang bersangkutan.
  24. 24. f. Lakukan Rekonsiliasi Akun Kontrol Piutang di dalam Buku Besar ke Buku Pembantu Piutang yang BersangkutanTujuan untuk memperoleh keyakinan bahwa catatan akuntansi klien yang bersangkutan dengan piutang usaha dapat dipercaya ketelitiannyaCaranya : Saldo akun kontrol (controlling account) piutang usaha di dalam buku besar dicocokkan dengan jumlah saldo akun pembantu (subsidiary atcounts) piutang usaha, begutu juga untuk piutang non usaha
  25. 25. 2. ProsedurAnalitikPengujian analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahamibisnis klien dan dalam menemukan bidang yang memerlukan audit lebihintensif, caranya melakukan perhitungan berbagai ratio, Pembandingan inimembantu auditor untuk mengungkapkan: (1) peristiwa atau transaksi yangtidak biasa, (2) perubahan akuntansi, (3) perubahan usaha, (4) fluktuasi acak,atau (5) salah saji. Formula :Rasio : 1.Pendapatan penjualan bersih : Rerata1.Tingkat perputaran piutang usaha piutang usaha 2.Saldo piutang usaha : Aktiva lancar2.Ratio piutang usaha dengan aktivalancar 3.Laba bersih + Pendapatan penjualan bersih3.Rate of return on net sales 4.Kerugian piutang usaha : Pendapatan penjualan4.Ratio kerugian piutang usaha denganpendapatan penjual an bersih bersih 5.Kerugian piutang usaha : Piutang yang usaha5.Ratio kerugian piutang usaha dengan sesungguhnya tidak tertagihpiutang usaha yang sesungguhnyatidak tertagih
  26. 26. 3. Prosedur Audit terhadap Transaksi Rinci Yang akan dilakukan : 1.Pengujian substantif terhadap transaksi rinci yang mendebit dan mengkredit akun Piutang Usaha. Transaksi yang mendebit dan mengkredit (transaksi yang berpengaruh) piutang usaha : a.Transaksi penjualan kredit b.Transaksi retur penjualan c.Transaksi penghapusan piutang usaha, dan d.Transaksi penerimaan kas dari piutang usaha 2.Pengujian pisah batas (Cut off) yang digunakan untuk mencatat transaksi yang berkaitan dengan akun tersebut
  27. 27. 1. Pada pengujian rinciPeriksa Sampel Transaksi yang Tercatat dalam Akun Piutang Usaha KeDokumen yang Mendukung Timbulnya Transaksi TersebutProsedur dimulai dari buku pembantu piutang usaha. Pengujian dilaksanakandengan mengambil sampel berikut ini:a.Sampel akun debitur yang akan diperiksa transaksi mutasinya.b.Sampel transaksi yang dicatat dalam akun debitur pilihan.a. Periksa Pendebitan Akun Piutang ke Dokumen Pendukung: FakturPenjualan, Laporan Pengiriman Barang, dan Order Penjualan1.Mengambil dari arsip klien faktur penjualan beserta dokumen pendukungnya:laporan pengiriman barang dan order penjualan.2.Memeriksa kelengkapan dokumen yang mendukung faktur penjualan.3.Memeriksa kesesuaian data yang tercantum dalam faktur penjualan dandokumen pendukungnya.4.Memeriksa kebenaran data yang di-posting ke dalam akun debitur berdasarkanfaktur penjualan.5.Memastikan bahwa semua faktur penjualan yang disampel telah dicatat disebelah debit akun debitur
  28. 28. b. Periksa Pengkreditan Akun Piutang Ke Dokumen Pendukung: BuktiKas Masuk, Memo Kredit Untuk Retur Penjualan atau Penghapusan Piutang1.Mengambil dari arsip klien bukti kas masuk dan memo kredit besertadokumen pendukung­nya: surat pemberitahuan (remittance advice) danlaporan penerimaan barang..2.Memeriksa kelengkapan dokumen yang mendukung bukti kas masuk danmemo kredit.3.Memeriksa kesesuaian data yang tercantum dalam bukti kas masuk danmemo kredit dan dokumen pendukungnya.4.Memeriksa kebenaran data yang di-posting ke dalam akun debiturberdasarkan bukti kas masuk dan memo kredit.5.Memastikan bahwa semua bukti kas masuk dan memo kredit yang disampeltelah dicatat di sebelah kredit akun debitur
  29. 29. 1. Lakukan Verifikasi Pisah Batas (Cutoff) TransaksiMaksud : untuk membuktikan apakah klien menggunakan pisah batas yangkonsisten dalam memperhitungkan transaksi penjualan yang termasuk dalamtahun yang diaudit dibanding dengan tahun sebelumnyaAkibat tidak memakai pisah batas (cutoff)1.Transaksi penjualan yang seharusnya diakui sebagai pendapatan tahunberikutnya, dicatat oleh klien sebagai pendapatan tahun yang diaudit.2.Transaksi penjualan tahun yang diaudit dapat diakui oleh klien sebagaipendapatan tahun berikutnyaTransaksi yang menjadi perhatian audit : transaksi penjualan, retur penjualan,dan penerimaan kas dari debitur yang terjadi dalam beberapa minggu sebelumdan sesudah tanggal neraca
  30. 30. Prosedur pemeriksaan yang dilakukan pada Pisah Batas (Cutoff)1. Periksa dokumen yang mendukung timbulnya piutang usaha dalamminggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah tanggalneracaDengan membandingkan tanggal faktur, tanggal laporan pengiriman barang,dan syarat penjualan yang digunakan, auditor dapat membuktikan apakahtransaksi penjualan dan bertambahnya piutang usaha yang terjadi dalamperiode sebelum dan sesudah tanggal neraca, telah dicatat dalam periodeakuntansi yang seharusnya2.Periksa dokumen yang mendukung berkurangnya piutang usaha dalamminggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah tanggalneracaDari pemeriksaan ini auditor dapat membuktikan ketepatan pisah batas yangdipakai oleh klien dalam mencatat pengurangan piutang usaha daripenerimaan kas dari debitur. Contoh : dokumen bukti kas masuk dan surat pemberitahuan(remittance advice) dari debitur yang dipakai sebagai dasar pencatatan ke didalam kartu piutang.
  31. 31. 3. Lakukan Verifikasi Pisah Batas {Cutoff) TransaksiPenerimaan KasMembuktikan apakah penerimaan kas tersebut telahdimasukkan ke dalam kas di tangan atau setoran dalamperjalanan dan penerimaan kas dalam tahun berikutnyatidak dimasukkan sebagai penerimaan kas tahun yangdiaudit seharusnyaReview yang dilakukan terhadap dokumentasi : ringkasantransaksi kas harian, copy bukti setor, rekening koran bankbeberapa hari sebelum dan sesudah tanggal neraca.
  32. 32. 4. Pengujian Terhadap Saldo Akun RinciTujuan pengujian saldo akun piutang usaha rinci adalah untukmemverifikasi:a. Keberadaan atau keterjadianb. Kelengkapanc. Hak kepemilikand.PenilaianHal hal yang dilakukan :1. Lakukan Konfirmasi PiutangTahapan dalam konfirmasi piutang :a.Tentukan metode, saat, dan luas konfirmasi yang akan dilaksanakandengan metode :Metode konfirmasi positif adalah metode konfirmasi yang auditormeminta jawaban penegasan dari debitur, baik dalam hal terdapatkesesuaian maupun ketidak-sesuaian antara saldo utang debiturmenurut catatan akuntansinya dengan saldo utangnya yang tercantumdi dalam surat konfirmasi tersebut.
  33. 33.  Metode konfirmasi positif umumnya digunakan jika auditor menghadapi situasi:(1) saldo piutang klien kepada debitur secara individual berjumlah besar,(2) auditor mempunyai dugaan bahwa terdapat banyak akun piutang usaha yang disengketakan antara klien dengan debiturnya atau terdapat ketidaktelitian atau kecurangan saldo akun piutang usaha Metode konfirmasi negatif adalah metode konfirmasi yang auditor meminta jawaban penegasan dari debitur hanya jika terdapat ketidaksesuaian antara saldo utang debitur menurut catatan akuntansinya dengan saldo utangnya yang tercantum di dalam surat konfirmasi tersebut
  34. 34. Metode konfirmasi negatif umumnyadigunakan oleh auditor jika:(1)pengendalian intern terhadap piutangusaha dinilai baik oleh auditor,(2)akun piutang klien berjumlah banyakdengan saldo piutang usaha yang secaraindividual kecil,(3) auditor memperkirakan bahwa debituryang menerima konfirmasi tidak akanmenaruh perhatian terhadap surat konfirmasiyang diterimanya
  35. 35. Lanjutan tahapan dalam konfirmasi piutang :b.Kirimkan surat konfirmasi kepada debiturc.Untuk konfirmasi positif yang tidak diperoleh jawabannya, laksanakanprosedur alternatif berikut ini:1.Periksa dokumen yang mendukung pencatatan penerimaan kas daridebitur yang terjadi setelah tanggal neraca.Pemeriksaan penerimaan kas dari debitur yang terjadi setelah tanggalneraca akan dapat memberikan informasi kepada auditor mengenaikeberadaan debitur yang saldo piutang kepadanya dicantumkan di neracaklien. Prosedur audit ini juga merupakan prosedur audit alternatif, jika suratkonfirmasi yang dikirimkan kepada debitur tidak diperoleh jawaban.2.Periksa dokumen yang mendukung pendebitan dan pengkreditan akunpiutang usaha kepada debitur yang bersangkutan.Dokumen pendukung transaksi timbulnya piutang usaha ini mempunyai duatujuan: (1) untuk membuktikan keberadaan piutang usaha dan (2) untukmembuktikan hak milik atas piutang usaha yang dicantumkan di neraca.
  36. 36. 5. Evaluasi Terhadap Kecukupan Cadangan Kerugian Piutang Usaha yang Dibuat Oleh KlienProsedur ini ditempuh oleh auditor untuk memverifikasi penilaian piutangusaha yang dicantumkan di neraca. Menurut prinsip akuntansi berterimaumum, piutang usaha disajikan dalam neraca pada nilai bersih yang dapatditagih dari debitur (net realizable value) pada tanggal neraca. Oleh karena itu,verifikasi penilaian dimaksudkan untuk menilai kewajaran penentuan jumlahcadangan kerugian piutang usaha yang dibentuk oleh klien pada tanggalneraca. Nilai piutang usaha dihitung dengan formula berikut ini:Piutang Usaha Bruto xCadangan Kerugian Piutang Usaha x -Piutang Usaha Bersih x
  37. 37. Pemeriksaan yang dilakukan :1. Hitung kembali cadangan kerugian piutang usaha yang dibuat olehkliena.Cadangan tersebut biasanya dihitung berdasarkan persentase tertentu daripendapatan penjualan atau sebagai persentase tertentu dari saldo piutangusaha pada tanggal neraca.b.Menghitung ratio untuk beberapa tahun sebelumnya guna menilaikewajaran jumlah cadangan kerugian piutang usaha:1.Tingkat perputaran piutang usaha yang dihitung dengan rumus: pendapatanpenjualan dibagi rerata saldo piutang usaha).2.Jumlah hari pengumpulan piutang usaha (days sales to collection) yangdihitung dengan rumus: 365 dibagi tingkat perputaran piutang usaha
  38. 38. Pemeriksaan yang dilakukan :2. Periksa penentuan umur piutang usaha yang dibuat oleh klien.Langkah pertama dalam memverifikasi kewajaran penilaian piutang usahaadalah meminta dari klien daftar umur piutang usaha per tanggal neraca.Terhadap daftar umur piutang usaha tersebut auditor melakukan proseduraudit berikut ini:1.Lakukan footing dan cross footing terhadap daftar umur piutang usahatersebut.2.Bandingkan jumlah piutang usaha menurut daftar umur piutang ke akunPiutang Usaha di dalam buku besar.3.Usut saldo piutang usaha kepada setiap debitur ke dalam kartu piutang yangbersangkutan.4.Periksa penentuan umur piutang kepada setiap debitur denganmenggunakan informasi berikut ini:a. Periksa syarat penjualan yang berlaku.b. Periksa tanggal faktur yang belum dibayar oleh debitur pada tanggalneraca.c. Hitung kembali umur piutang kepada setiap debitur sejak tanggalfaktur tersebut pada butir 3b sampai dengan tanggal neraca.
  39. 39. 3. Bandingkan cadangan kerugian piutang usaha yang tercantum di neraca tahun yang diaudit dengan cadangan tersebut yang tercantum di neraca tahun sebelumnya. Untuk menilai cukup tidaknya cadangan kerugian piutang yang dicantumkan di neraca klien, auditor membandingkan cadangan kerugian piutang usaha yang dibentuk oleh klien di neraca sekarang dengan yang dibentuk di neraca tahun sebelumnya.4. Periksa catatan kredit untuk debitur yang utangnya telah kadaluwarsa. Mengajukan pertanyaan kepada klien mengenai kemungkinan dapat ditagih atau tidaknya piutang yang telah lama kadaluwarsa tersebut.
  40. 40. 6. Penyajian dan Pengungkapan Akun dalam Laporan Keuangan Bandingkan Penyajian Piutang Usaha dengan Penyajian Menurut Prinsip Akuntansi Berterima Umum Prosedur audit terhadap penyajian dan pengungkapan piutang usaha adalah: (1)memeriksa klasifikasi piutang ke dalam kelompok aktiva lancar dan aktiva tidak lancar, (2)memeriksa klasifikasi piutang ke dalam kelompok piutang- usaha dan piutang nonusaha, (3)menentukan kecukupan pengungkapan dan akuntansi untuk transaksi antar pihak yang memiliki hubungan istimewa, piutang yang digadaikan, piutang yang telah dianjakkan (factored account receivable) ke perusahaan anjak piutang.
  41. 41. Periksa klasifikasi piutang ke dalam kelompok aktiva lancar dan aktiva tidaklancar.Menurut prinsip akuntansi berterima umum, Piutang yang tidak dapat dimasukkandalam kelompok aktiva lancar harus disajikan terpisah dari piutang usaha dandisajikan dalam kelompok aktiva tidak lancar. Contoh piutang kepala manajerperusahaan, direksi, dan perusahaan afiliasi yang laporan keuangannya tidakdikonsolidasikanPeriksa klasifikasi piutang ke dalam kelompok piutang usaha dan piutangnonusaha.Piutang karyawan, piutang penjualan saham, piutang klaim asuransi, piutangpengembalian pajak. piutang dividen dan bunga harus disajikan terpisah daripiutang usaha.Tentukan kecukupan pengungkapan dan akuntansi untuk transaksi antarpihakyang memilik: hubungan istimewa, piutang yang digadaikan, piutang yang telahdianjakkan (factored accoun: receivable) ke perusahaan anjak piutang. Menurutprinsip akuntansi berterima umumtransaksi antar pihak yang memiliki hubunganistimewa harus diungkapkan memadai dalam neraca. begitu pula, piutang yangdigadaikan dan yang dianjakkan harus diungkapkan memadai dalam neraca.
  42. 42. Terima kasih.

×