Manusia dan Absurditas

3,395 views

Published on

Tulisan ini dibuat untuk memberi gambaran latar belakang karya-karya lukisan Wahyu Nugroho

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,395
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
72
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Manusia dan Absurditas

  1. 1. MANUSIA DAN ABSURDITAS A. Pendahuluan Memahami karya seni lukis hasil karya seorang seniman, bisa dari bermacam-macam sudut tinjauan. Bisa dari sisi artistik, tehnik, objek, gaya, aliran, maupun pandangan hidup penciptanya. Tulisan ini akan meninjau karya seni Wahyu Nugroho dari sisi pandangan hidup yang menjadi dasar berkeseniannya. Alasan dipilihnya tinjauan ini karena Wahyu Nugroho mencoba mengusung pandangan baru dalam berkesenian, yang dinamainya dengan Plural Art. Memahami pandangan hidup seseorang akan tidak lengkap jika hanya dilihat dari sisi pandangan hidup orang tersebut an sich. Karena akan menghasilkan kesimpulan yang parsial. Untuk itu, diperlukan pembandingan dengan pandangan-pandangan yang telah ada dan situasi kontemporer yang melatari lahirnya pandangan hidup seseorang. Dengan cara ini, akan bisa diketahui dalam posisi bagaimana pandangan hidup tersebut lahir dan , yang penting, pandangan yang dimaksud apakah lahir karena sebuah penghayatan terhadap kehidupan ataukah sekadar asal beda saja. B. Pertarungan Antara Akal dan Hati Lahirnya berbagai pandangan hidup yang ada sebagaian besar didorong oleh keinginan manusia untuk memahami eksistensinya di alam ini. Titik pandang yang digunakan juga bisa berbeda-beda antara satu dan lainnya. Ada yang menyoroti peranannya dalam kehidupan ini sebagaimana dilakukan oleh filosof- filosof religius, ada yang menyoal tenatng kemadiriannya seperti dilakukan Karl Jaspers dan Albert Camus, atau proses perkembangannya seperti dilakukan Charles Darwin maupun Hegel, dan masih banyak lainnya. Dan jika boleh disimplifikasikan, sejarah pemikiran tersebut selalu diwarnai oleh pertarungan dua kubu, yakni pertarungan antara akal versus hati ( agama ). Di dalam sejarah filsafat, akal pernah menang, juga pernah kalah ; hati pun pernah berkuasa, pernah pula kalah. Sesuai dengan tujuan pembahasan di sini, yakni mencoba menguak pandangan hidup yang didiskursuskan oleh Wahyu Nugroho, maka yang akan diangkat hanyalah dua masa, yakni abad pertengahan dan abad modern saja. Karena, dua masa ini dianggap tampak relevan dengan proses kelahiran pandangan hidup yang menjadi pijakan lahirnya Plural Art. C. ABAD PERTENGAHAN Salah satu tokoh penting masa ini ialah Plotinus ( 204-270 ). Plotinus merupakan filsuf pertama yang mengemukakan teori penciptaan, yakni teori emanasi. Teori ini merupakan jawaban atas pertanyaan Thales delapan abad sebelumnya : “Apa bahan alam semesta ini ?” dan dijawab oleh Plotinus : “Bahannya ialah Tuhan.” Filsafat Plotinus bersifat mistik. Karena itu, tujuan filsafat, menurutnya, adalah mencapai pemahaman mistik. Pada masa ini, kedudukan akal tersubordinasikan di bawah agama, iman, hati. Masa ini bisa dikatakan merupakan masa balas dendam terhadap dominasi akal yang menguasai Yunani sebelumnya, yakni pada zaman sofis. Pemikiran Plotinus jelas merupakan cerminan pemasungan akal. Ia mengatakan bahwa Tuhan bukan untuk dipahami, melainkan untuk dirasakan. Rasa inilah yang dituntun oleh Kitab Suci. Karena itu, rasa merupakan pedoman hidup manusia. Filsafat rasional dan sains dianggap tidak penting. Pengembangan intelektual adalah tindakan mubazir. Cinta kepada Tuhan merupakan yang terpenting. Pandangan Plotinus tersebut diperkuat oleh Saint Anselmus. Karakteristi filsafat abad pertengahan terletak pada rumusan yang diajukan oleh Saint Anselmus, yaitu credo ut intelligam. Artinya, kira-kira, iman
  2. 2. lebih dulu, setelah itu mengerti. Misalnya, imanilah dulu bahwa pusat jagad raya ini adalah bumi, setelah itu susunlah argumen untuk memahaminya. Anggapan yang berkembang saat itu, pemikiran yang dimulai dari akal akan berakibat pada kemusyrikan. Sebaliknya, jika dimulai dari iman, justru akan mempertebal iman itu sendiri. Kalau sebelumnya kaum sofistik beranggapan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak, maka Augustinus - salah seorang filsof yang juga banyak memberi warna masa tersebut - berpendapat bahwa kebenaran itu harus mutlak, yaitu kebenaran yang berasal dari ajaran agama. Ia juga berpendapat bahwa mempelajari hukum alam adalah mubadzir. Keyakinan yang berkembang pada masa ini adalah kebenaran hanyalah dari Tuhan yang tertulis dalam kitab suci Injil. Bukan dari pemikiran-pemikiran filsafati yang dikembangkan oleh para filosof. Augustinus mengatakan “Outside the Church no salvation can be found”. Satu-satunya penyelamatan adalah melalui gereja, untuk itu dalam segala perilaku dan pemikirannya harus mengikuti ajaran-ajaran Gereja. Sebaliknya, segala macam perbuatan manusia haruslah untuk Gereja. Bisa dikatakan bahwa kebudayaan masa ini adalah gereja sentris. Mulai dari situlah, filsafat sains mengalami kejumudan luar biasa selama lima belas abad pada periode Abad Pertengahan, kurun waktu yang dikuasai oleh semangat Kristen. Sesungguhnya filsafat credo ut intelligam tidak akan merugikan filsafat sains andai saja Kitab Suci yang dijadikan landasan memang Kitab Suci yang berasal dari wahyu ilahi. Karena, wahyu tidak akan berbenturan dengan akal logis. Kejumudan terjadi manakala wilayah kerja masing-masing tidak jelas. Sains, filsafat, dan iman merupakan totalitas pengetahuan manusia. Masing-masing memiliki wilayah kerja sendiri-sendiri. Sains bekerja pada bidang-bidang empiris, filsafat pada objek-objek yang abstrak logis, dan hati ( iman ) berdiri di daerah supra logis. Ketidak jelasan masing-masing bidang menjadi penyebab terjadinya bentrokan antara sains, filsafat, dan iman. Tampaknya, faktor kekurang-jelasan wilayah kerja masing-masing bidang itulah yang menjadi sebab macetnya perkembangan filsafat sains pada masa itu. Mengapa hal ini terjadi ? Sebab yang pokok barangkali ialah sifatnya yang terlalu yakin pada penafsiran teks Kitab Suci oleh para santo. Para santo ini melarang orang berfilsafat. Mereka lupa bahwa pada saat mereka menafsirkan kitab suci, hakikatnya mereka berfilsafat juga. Karena itu, kebenaran versi mereka ini sifatnya juga relatif, seperti pemikiran-pemikiran filsafat pada umumnya, bukan kebenaran absolut. Tapi, para santo ini dengan sangat percaya diri menyatakan bahwa hasil penafsirannya merupakan pengertian agama yang absolut. Barangkali inilah pangkal musabab terjadinya tekanan-tekanan psikologis dan fisik terhadap filosof lain yang berbeda pemikiran dengan mereka. Misalnya, Copernicus dan Galileo. Akibat pikiran kedua filosof tersebut berbeda dengan pemikiran tokoh-tokoh Gereja, maka mereka mendapatkan hukuman karena dianggap bertentangan dengan Gereja, yang berarti bertentangan dengan Kitab Suci Padahal, pendapat keduanya bukanlah bertentangan dengan Kitab Suci, melainkan berbeda dengan pendapat tokoh Gereja yang mengatasnamakan Kitab Suci. Andaikata betul-betul berlawanan dengan Kitab Suci, maka berarti Kitab Suci itu yang salah karena bukti-bukti menunjukkan bahwa kedua ilmuwan itulah yang benar. Dari sini bisa disimpulkan bahwa segala aktivitas manusia harus berpusat pada Gereja. Karena, hanya melalui Gereja manusia bisa terselamatkan. Aquinas mengatakan bahwa manusia tidak akan selamat tanpa perantaraan Gereja. Ini sama benar dengan pendapat Augustinus : outside the Church no salvation can be found. ( Frederick Mayer, 1950 ). Sayangnya, yang dimaksud Gereja di sini pada kenyataannya adalah para pendapat-pendapat para Santo, bukan wahyu yang tertuang dalam Kitab Suci.
  3. 3. C. Kecenderungan Seni Rupa Pada Abad Pertengahan Kecenderungan dalam wilayah filsafat pada waktu itu tentu membawa pengaruh pada wilayah hidup yang lain, termasuk pada seni rupa. Segala aktivitas berkesenian harus berorientasi pada Gereja. Objek kesenian tidak boleh lepas dari ajaran-ajaran gereja. Sebetulnya, pada mulanya agama Kristen belum dapat menciptakan bahasa seni sebagai sarana mengekspresikan perasaan-perasaan religiusitas. Untuk mengekspresikan perasaan ini dipergunakan bahasa seni Hellenisme. Konon, lukisan-lukisan masa ini ditemukan di dinding-dinding gua tempat menguburkan mayat. Kuburan-kuburan ini,barangkali akibat pengaruh agama Yahudi disebut katakombe. Orang-orang Kristen sendiri menyebutnya “coemeteria”. Katakombe ini disebut-sebut sebagai peninggalan seni Kristen Awal. Sebagai peninggalan tertua, katakombe banyak menyimpan pusaka-pusaka seni. Di dalam katakombe sering diketemukan sarcophag-sarcophag yang dihiasi relief-relief yang menggambarkan motif- motif historis-allegories. Lukisan-lukisan dengan menggunakan tehnik lepa basah yang terdapat di dinding- dinding gua juga merupakan peninggalan seni yang sangat berharga. Seperti dikemukakan di atas, bahwa orang-orang Kristen awal tidak memiliki bentuk sendiri dalam mengekspresikan berkeseniannya. Mereka mempergunakan bentuk-bentuk lama ( Hellenisme ) untuk menyatakan dorongan-dorongan seninya. Bentuk lama diisi dengan pandangan-pandangan baru, yakni pandangan agama Kristen. Simbol-simbol khas ciptaan seniman Kristen, antara lain : lambang burung merpati dengan tangkai zaitun melambangkan kehidupan abadi, simbol jangkar melambangkan harapan, dan anak domba dimaksudkan untuk melambangkan jiwa Kristen. Ada juga gambar-gambar yang sifatnya historis-allegoris dan murni historis. Dalam hal thema, kebenyakan dikutip dari kitab perjanjian lama dan kitab perjanjian baru. Dari kitab perjanjian lama dikutip misalnya, adegan-adegan yang menggambarkan Nabi Nuh di dalam perahu, Nabi Musa memukul batu karang dengan tongkatnya sehingga keluar air, Nabi Ibrahim dengan pengorbanannya dan sebagainya. Dari kitab perjanjian baru dikutip antara lain : pembabtisan Kristus, adegan yang menggambarkan Kristus dan para Apostyl dan sebagainya. ( I Made Sunu, 1982 ). Pada masa ini, perasaan religiusitas dirupakan dalam simbol-simbol keagamaan yang relatif diseragamkan. Misalnya, cerita tentang nabi-nabi atau ritual-ritual keagamaan. Padahal, perasaan religiusitas itu merupakan sesuatu yang amat kompleks dan kaya. Ia tidak bisa dibatas-batasi seperti itu. D. Abad Modern Abad Modern ini diawali sebuah masa yang dinamakan renaissance. Istilah ini berasal dari bahasa Perancis, re dan nasci. Renasci berarti kelahiran kembali. Istilah ini biasa digunakan untuk menandai periode kebangkitan intelektual, khususnya di Eropa, lebih-lebih di Itali, abad ke 15 dan 16. Istilah ini mula-mula digunakan oleh sejarawan Michelet, dan dilanjutkan oleh J. Burckhardt untuk menunjuk peride yang bersifat individualisme, kebangkitan kebudayaan antik, penemuan dunia manusia, sebagai periode yang dilawankan dengan periode Abad Pertengahan. ( Runes, 1971 ). Sebagiamana dikemukakan di atas, abad pertengahan merupakan periode terjadinya hegemoni agama atas akal. ( hal 102 )

×