Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
UPAYA PENINGKATAN MINAT MEMBACANYARING KALIMAT SEDERHANA DENGANMEDIA KARTU HURUF PADA SISWA KELAS   1 SDN MALANG MAOSPATI ...
KATA PENGANTAR       Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat danhidayah-Nya sehingga penyusun...
DAFTAR ISIHalaman Judul .....................................................................................................
BAB 1                                 PENDAHULUANA. Latar belakang Masalah       Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 t...
saja dalam kehidupan sehari-hari sehingga kurang mendapatkan perhatian yangselayaknya sesuai dengan fungsi dan kedudukanny...
Dalam kebijakan pendidikaan kita, Bahasa Indonesia diajarkan sejak anak usia dini.Hal ini disebabkan pengajaran tersebut d...
pun dilakukan setelah anak-anak memasuki pendidikan anak usia dini tahap yang lebihtinggi. Hal tersebut terjadi dikarenaka...
intonasi yang tepat) 3 orang siswa membacanya masih kurang lancar, 4 orangmembacanya masih mengeja per suku kata dan 4 ora...
sesuai dengan rangkaian huruf yang dibaca. Apa yang diucapkan kadang-kadang kelirudengan bacaan di atasnya atau di bawahny...
ditempatkan sebagai obyek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secarapasif serta pembelajaran bersifat teoreti...
Berdasarkan masalah penelitian yang telah dirumuskan di atas, tujuan penelitian iniadalah sebagai berikut.1. Mendeskripsik...
1. Hasil PTK tersebut akan memberikan masukan dan wawasan tentang cara       atau strategi yang tepat untuk mengatasi masa...
BAB II                                 LANDASAN TEORI1. Tinjauan Pustaka  A. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD  Bahasa I...
kemampuan berbahasa, (6) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagaikhazanah budaya dan intelektual manusia Indon...
pelaksanaan program kebahasaan di sekolah, (5) sekolah dapat menyusun programpendidikan kebahasaan sesuai dengan keadaan s...
biasa terjadi pada kelas-kelas permulaan, sehingga guru harus memiliki pengetahuantentang anak-anak, kesabaran, ketekunan,...
oleh Akhadiah dkk. (1991: 1) adalah agar siswa ”memiliki kemampuan berbahasaIndonesia yang baik dan benar serta dapat meng...
sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya. Adapun tujuan bagi guru adalahuntuk mengembangkan potensi bahasa siswa ,...
Pengertian Minat Belajar Menurut Ahli :   1. Pengertian Minat menurut Tidjan (1976 :71) adalah gejala psikologis yang     ...
Membaca pada hakikatnya adalah suatu kegiatan menerjemahkan simbol-simbol kedalam buny-bunyi dan memahami maknanya. Para a...
hati. Secara linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali danpembacaan sandi.        Berdasarkan beberapa de...
belajar, khususnya belajar membaca. Beberapa ahli mengemukakan bahawaketerbatasan neurologis (misalnya berbagai cacat otak...
Istilah inteligensi didefinisikan oleh Heinz sebagai suatu kegiatan berpikir yangterdiri dari pemahaman yang esensial tent...
Rubin (1993) mengemukakan bahwa orang tua yang hangat, demokratis, bisamengarahkan anak-anak mereka pada kegiatan yang ber...
2. Faktor Sosial Ekonomi   Ada kecendrungan orang tua kelas menengah ke atas merasa bahwa anak-anakmereka siap lebih awal ...
Faktor lain yang juga memengaruhi kemajuan kemampuan membaca anak       adalah faktor psikologis. Faktor ini mencakup     ...
Pembaca harus memahami aksara di atas kertas seta memproduksikan suarayang tepat dan bermakna. Membaca nyaring pada hakika...
1)    Dia menyoroti ide-ide baru dengan mempergunakan penekanan yang jelas;2)    Dia menjelaskan perubahan dari satu ide k...
Keterampilan membaca nyaring akan berkembang secara wajar secara alamiahkemampuan dalam membaca           itu akan terus d...
klausa, yang membentuk satuan bebas; jawaban minimal, seruan, salam, dansebagainya.       Berdasarkan dengan berbagai pend...
ani menangis    dila membaca    Penggaris berwarna merah    ibu ke pasar    ayah dari kantor E. Media Pembelajaran   Media...
mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke –20usaha pemanfaatan visual dilengkapi denga...
3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta       didik dengan lingkungannya.   4. Media m...
Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya        mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas la...
2.   Speed reading, listening   3. Automatic mental processing   4. Mass-memory   5. Multiple language acquisition   6. Co...
BAB III                                METODOLOGI PENELITIANA. Rancangan Penelitian       Penelitian ini dilakukan dengan ...
II) untuk mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan(Kemmis and Taggart, 1988). Sesuai dengan...
Siklus 1, hari Senin, 26 Oktober 2012                           Siklus 2, hari ……., …….……. 2012C.      Indikator Keberhasi...
media kartu hurufInteraksi antar siswa         …%         Diamati ketika siswa melakukan diskusi, dicatatpada            k...
media kartu hurufInteraksi   antar     siswa     …%         Diamati ketika siswa melakukan diskusi, dicatatpada kegiatan k...
D. Prosedur Pelaksanaan  1. Gambar Perencanaan Siklus 1   a. Perencanaan Tindakan   Perencanaan tindakan dimulai dengan me...
adalah guru Bahasa Indonesia, sedangkan pengamatan dan perekaman data dilakukanoleh guru lain yang sedang piket di sekolah...
-     Guru memberikan beberapa gambar dan menyuruh siswa untuk              menyusun kartu huruf dan membentuk kata sesuai...
-   Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan hasil pembelajaran          -   Refleksi          -   Guru menanyakan bagaima...
Kegiatan pada setiap tahapan ada siklus 2 ini akan disesuaikan dengan masalah-masalah proses dan hasil pembelajaran yang t...
1. Wawancara  Wawancara jenis ini bersifat terbuka, tidak terstruktur ketat, tidak dalam suasanaformal dan dapat dilakukan...
Teknik pengumpulan data ini diperoleh dari dokumen dan arsip. Dokumen ituberupa daftar nilai, daftar hadir, dan arsip-arsi...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Ptk propos

7,827 views

Published on

Ptk propos

  1. 1. UPAYA PENINGKATAN MINAT MEMBACANYARING KALIMAT SEDERHANA DENGANMEDIA KARTU HURUF PADA SISWA KELAS 1 SDN MALANG MAOSPATI TAHUN PELAJARAN 2012/2013 OLEH : ROFI NUR HANISA ALIM NPM.09141190PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN IKIP PGRI MADIUN 2012 i
  2. 2. KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat danhidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Proporsal PTK yang berjudul“Upaya Peningkatan membaca nyaring kalimat Sederhana Pada Siswa Kelas 1 SDNMalang Maospati Tahun Pelajaran 2012/2013" ini dengan tepat waktu. Proporsal PTKini merupakan salah satu tugas mata kuliah PTK pada program studi Pendidikan GuruSekolah Dasar IKIP PGRI Madiun. Pada kesempatan ini penyusun menyampaikan terima kasih kepada semua pihakyang telah membantu terlaksananya penyusunan makalah ini, antara lain kepada : 1. Drs.Parji,M.Pd.,selaku rektor IKIP PGRI Madiun yang telah memberi kesempatan untuk melakukan penelitian ini. 2. Drs.Edi Siswanto, M.Pd selaku dosen mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas yang telah Membimbing pembuatan Proporsal PTK ini. 3. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Proporsal PTK ini. Dalam penyusunan Proporsal PTK ini Penulis menyadari tentang adanyaberbagai kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun akansenantiasa kami terima. Akhir kata penulis berharap semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulissendiri dan pembaca. Madiun, 30 Desember 2012 Penulis ii
  3. 3. DAFTAR ISIHalaman Judul .................................................................................................................. iKata Pengantar ........................................................................................................iiDaftar Isi ..............................................................................................................iiiBAB I Pendahuluan ............................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................... 7 C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 8 D. Hipotesis Penelitian ............................................................................. 8 E. Manfaat Penelitian .............................................................................. 8BAB II Kajian Pustaka ......................................................................................... 9 A. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD ................................................ 9 B. Minat .................................................................................................. 15 C. Pembelajaran Membaca di SD .......................................................... 16 D. Membaca Nyaring kalimat sederhana ............................................... 23 E. Media Pembelajaran .......................................................................... 28 F. Kartu Huruf ....................................................................................... 31 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 33 A. Rancangan Penelitian ........................................................................ 33 B. Lokasi Tempat dan Waktu Penelitian ................................................ 34 C. Indikator Keberhasilan ...................................................................... 35 D. Prosedur Pelaksanaan ........................................................................ 38 E. Instrumen yang digunakan ................................................................. 42 F. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data ........................................... 42 G. Teknik analisis data .......................................................................... 44 iii
  4. 4. BAB 1 PENDAHULUANA. Latar belakang Masalah Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikannasional menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkankemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalamrangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensipeserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YangMaha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan tujuan pendidikannasional, pemerintah dalam hal ini Depertemen Pendidikan Nasional telah berusahamelakukan penyempurnaan terutama dalam pembangunan pendidikan nasional ke depandidasarkan pada paradigma membangun manusia indonesia seutuhnya,yang berfungsisebagai subjek yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensikemanusian secara optimal. Upaya mencerdaskan bangsa sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea empat terkait pada beberapa aspek di antaranya adalahbahasa. Karena bahasa merupakan alat yang vital bagi kehidupan manusia,dipergunakan untuk mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lain. Manusiamemiliki naluri untuk hidup bersama selalu memerlukan hubungan dengan manusia lainsehingga wajarlah jika bahasa dimiliki oleh setiap manusia. Karena bahasa merupakansesuatu yang wajar dimiliki manusia, seakan-akan bahasa menjadi barang yang biasa 1
  5. 5. saja dalam kehidupan sehari-hari sehingga kurang mendapatkan perhatian yangselayaknya sesuai dengan fungsi dan kedudukannya dalam masyarakat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah membawa perubahanyang sangat signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan manusia dalambermasyarakat. Oleh karena itu, agar tidak tertinggal dari perkembangan IPTEK yangada, perlu adanya penyesuaian pendidikan di sekolah. Salah satu hal yang harusdilakukan adalah melalui ketrmpilan membaca dalam Bahasa yang memiliki peransentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakanpenunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Menyadari peran yangdemikian, pembelajaran bahasa diharapkan dapat membantu siswa mengenal dirinya,budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartsipasidalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan sertamenggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya (Depdiknas,2006:317). Dalam hidupnya, setiap saat, selama dalam keadaan sadar, manusiamenggunakan bahasa dalam befikir, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.Namun, kemampuan menggunakan bahasa itu tidaklah merupakan kemampuan yangbersifat alamiah, seperti bernafas dan berjalan. Kemampuan itu tidak dibawa sejak lahirdan dikuasai dengan sendirinya, melainkan harus dipelajari. Pada saat anak memasukisekolah dasar, ia telah siap menerima informasi dalam bahasa yang dikuasainya, sepertibahasa daerah dan bahasa Indonesia. Karena itu, kedua bahasa tersebut dijadikan bahasapengantar dalam pembelajaran di Sekolah Dasar. 2
  6. 6. Dalam kebijakan pendidikaan kita, Bahasa Indonesia diajarkan sejak anak usia dini.Hal ini disebabkan pengajaran tersebut dapat memberikan kemampuan dasar berbahasaIndonesia dengan baik dan benar. Salah satu aspek pengajaran bahasa Indonesia disekolah dasar yang memegang peran penting adalah membaca, khususnya membacapermulaan. Membaca permulaan merupakan kegiatan awal untuk mengenal simbol-simbol fonetis (Arifin, 2004:11). Pada sisi lain, pentingnya pengajaran membacapermulaan pada anak diberikan sejak usia dini ini juga bertolak dari kenyataan bahwamasih terdapat sebelas juta anak Indonesia dengan usia 7 – 8 tahun tercatat masih butahuruf (Infokito, 2007). Selain itu, menurut laporan program pembangunan 2005 PBBtentang daftar negara berdasarkan tingkat melek huruf, Indonesia masih berada padaperingkat 95 dari 175 negara. Kemampuan “ the three R’s”, yaitu Reading’s, Writing’s, and Aritmatic’s(membaca, menulis, dan berhitung) merupakan modalitas yang mutlak harus dimilikisetiap siswa dalam mempelajari dan menguasai berbagai ilmu pengetahuan.Kemampuan 3 R yang tinggi akan mendukung siswa untuk mempelajari dan menguasaiberbagai bidang ilmu. Sebaliknya jika 3 R rendah, maka akan menghambat siswa dalammempelajari dan menguasai berbagai bidang ilmu. Persoalan membaca, menulis, danberhitung atau calistung memang merupakan fenomena tersendiri. Kini menjadisemakin hangat dibicarakan para orang tua yang memiliki anak usia dini dan sekolahdasar karena mereka khawatir anak-anaknya tidak mampu mengikuti pelajaran disekolahnya. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung tidak diperkenankan di tingkatpendidikan anak usia dini, kecuali hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka, itu 3
  7. 7. pun dilakukan setelah anak-anak memasuki pendidikan anak usia dini tahap yang lebihtinggi. Hal tersebut terjadi dikarenakan selama ini, teori psikologi perkembangan JeanPiaget telah menjadi rujukan utama kurikulum taman kanak-kanak dan bahkanpendidikan secara umum. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara tidaklangsung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia 7 tahun. Piagetberanggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasionalkonkret. Fase itu adalah fase, dimana anak-anak dianggap sudah bisa berpikirterstruktur. Sementara itu, kegiatan belajar calistung sendiri didefinisikan sebagaikegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkankepada anak-anak usia dini yang masih berusia balita. Yang menjadi Persoalan terpenting guru pada siswa kelas 1 pada pembelajaranmembaca adalah merekonstruksi cara untuk mempelajarinya sehingga anak-anak siswakelas 1 sd yang baru akan memasuki tahap operasional kongkret dalam pembelajaranmemang guru harus memasukan unsur sebuah permainan. Dan benar jika membacadiajarkan seperti halnya orang dewasa belajar, besar kemungkinan akan berakibat fatal.Anak-anak bisa kehilangan gairah belajarnya karena menganggap pelajaran itu sangatsulit dan tidak menyenangkan. Dalam KTSP di indonesia dalam pelajaran Bahasa Indonesia,penelitimelakukan evaluasi tes aspek membaca permulaan yakni pada KD membaca nyaringkalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat yang disajikan di kelas 1semester 1 SD Negeri Malang Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan, hasilnyakurang memuaskan dari 15 orang siswa di kelas 1 SD Negeri Malang KecamatanMaospati Kabupaten Magetan, 4 orang siswa membacanya lancar (sesuai lafal dan 4
  8. 8. intonasi yang tepat) 3 orang siswa membacanya masih kurang lancar, 4 orangmembacanya masih mengeja per suku kata dan 4 orang masih belum bisa membaca(mengetahui huruf tetapi belum bisa merangkaikan satu kata). Sedangkan kriteriaketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan adalah 70. Untuk lebih jelasnya disajikandata nilai test formatif tertera pada tabel 1.Tabel 1: Nilai Formatif Membaca Nyaring kalimat sederhana dengan Lafal dam intonasi yang tepat kelas 1 SD Negeri Malang tahun 2012/2013 No Nilai Jumlah Siswa 1. 10 - 2. 20 - 3. 30 4 4. 40 2 5. 50 2 6. 60 3 7. 70 2 8. 80 2 9. 90 - 10. 100 - Dalam pembelajaran guru hanya memberi contoh membaca dan siswa disuruhmenirukan. Sehingga bagi siswa yang belum dapat membaca hanya sekedar mengingatucapan guru tanpa memperhatikan rangkaian huruf yang ada. Ketika siswa disuruhmembaca secara bergantian maka sering terjadi apa yang diucapkan oleh siswa tidak 5
  9. 9. sesuai dengan rangkaian huruf yang dibaca. Apa yang diucapkan kadang-kadang kelirudengan bacaan di atasnya atau di bawahnya. Kemudian Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru kelas di SDNMalang kecamatan Maospati diperoleh informasi tentang kondisi kemampuan membacasiswa di beberapa tingkatan kelas. Berdasarkan informasi tersebut diketahui masih adabeberapa siswa di kelas 1,2,4, dan 5 yang membacanya masih dengan cara mengeja. Halini tampak pada nilai siswa pada aspek membaca yang tidak mencapai standarkelulusan. Padahal, pada tingkatan kelas tinggi yakni yang kelas 4 dan 5 tersebutseharusnya kemampuan membaca siswa tidak lagi hanya mengenali tulisan tapi mulaimemaknai dan memahami arti tulisan, sebagaimana dikatakakan Slamet (2007:42)bahwa siswa yang duduk di kelas 4 sampai dengan kelas 2 SMP membaca tidak lagipada pengenalan tulisan tetapi pada pemahaman. Mengetahui adanya kondisi tersebutpeneliti mencoba mendeteksi apa penyebab ketidaktercapaian tujuan pembelajaranmembaca di SDN Malang Maospati. Dari hasil observasi diketahui bahwaketidaktercapaian tujuan tersebut antara lain disebabkan kurang menariknyapembelajaran membaca permulaan di kelas rendah, khususnya kelas 1 dan minimnyakreativitas guru dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Guru dalammengajar cenderung menggunakan pembelajaran konvensional sehingga hasilpembelajaran yang diperoleh kurang maksimal. Guru mengajar hanya menggunakanmetode ceramah tanpa menggunakan media pembelajaran yang menarik minat siswauntuk belajar membaca. Guru langsung mengajak siswa untuk membaca buku teks.Menurut pengamatan peneliti, pembelajaran semacam ini dianggap kurang efektif danmengakibatkan hasil belajar siswa kurang maksimal. ini sesuai pendapat Wina Sanjaya(2007: 231) menyatakan bahwa dalam pembelajaran konvensional peserta didik 6
  10. 10. ditempatkan sebagai obyek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secarapasif serta pembelajaran bersifat teoretis dan abstrak. Menurut Mueller (2006:7), pengajaran membaca permulaan sebaiknya diajarkansejak dini dengan cara mengenalkan tulisan-tulisan yang konkret yang sering ditemukandalam dunia anak. Sebaiknya guru mengajrkan pembelajaran yang menyenangkan inidikemas dengan pembelajaran yang menyenangkan sehingga dapat meningkatkan minatsiswa untuk belajar membaca. Berdasarkan pertimbangan dan informasi dari guru tersebut, peneliti merasa perlumelakukan penelitian mengenai pembelajaran membaca di kelas I SD untukmemperbaiki proses pembelajaran membaca permulaan digunakan media pembelajaraninovatif yang dapat melibatkan siswa aktif belajar, baik secara mental, intelektual, fisikmaupun sosial, dengan harapan hasil belajar siswa meningkat. Hal inilah yang menarikuntuk diadakan penelitian dengan judul “Upaya Peningkatan Minat membaca NyaringKalimat Sederhana Dengan Media Kartu Huruf Pada Siswa kelas 1 SDN MalangMaospati Tahun Pelajaran 2012/2013”B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahansebagai berikut : 1. Bagaimana penerapan pembelajaran dengan media kartu huruf dapat meningkatkan minat membaca nyaring kalimat sederhana pada siswa kelas 1 SDN Malang Maospati Tahun Pelajaran 2012/2013 ?C. Tujuan Penelitian 7
  11. 11. Berdasarkan masalah penelitian yang telah dirumuskan di atas, tujuan penelitian iniadalah sebagai berikut.1. Mendeskripsikan penerapan Pembelajaran dengan menggunakan media kartu huruf dapat meningkatkan minat membaca nyaring kalimat sederhana pada siswa kelas 1 SDN Malang Maospati Tahun ajaran 2012/2013D. Hipotesis Penelitian1. Jika siswa kelas 1 SDN Malang Maospati dibelajarkan membaca nyaring kalimat sederhana dengan kartu huruf maka minat dalam membaca nyaring kalimat sederhana akan meningkat.E. Manfaat Penelitian a. Bagi Guru 1. PTK tersebut akan memperkaya wawasan dan pengalaman dalam mengatasi masalah pembelajaran yang terjadi di kelas. 2. PTK tersebut juga memberikan pengalaman kepada yang bersangkutan dalam menyusun dan mengembangkan karya tulis ilmiah, khususnya dalam membuat laporan penelitian. 3. Diperolehnya media pembelajaran yang tepat dan bervariasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia (Kd:membaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat) bagi siswa kelas 1. b. Bagi guru lain, 8
  12. 12. 1. Hasil PTK tersebut akan memberikan masukan dan wawasan tentang cara atau strategi yang tepat untuk mengatasi masalah pembelajaran, khususnya yang terkait dengan masalah dalam pembelajaran bahasa Indonesia (membaca nyaring kalimat sederhana ) bagi siswa kelas 1.c. Bagi siswa 1. Meningkatnya kemampuan membaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat melalui pengembangan kreativitas dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. 2. Hasil PTK tersebut akan mendorong siswa untuk mencapai prestasi yang lebih baik dan meningkatkan minat siswa untuk melakukan aktivitas belajar yang lebih bergairah.d. Bagi orang tua siswa, 1. Hasil PTK tersebut akan memberikan masukan yang berharga tentang prestasi belajar anaknya sehingga orang tua siswa akan dapat memberikan pembinaan kepada anaknya untuk tetap menjaga dan meningkatkan proses dan prestasinya.e. Bagi sekolah 1. Hasil PTK tersebut akan memberikan masukan yang berharga, terutama dalam pembinaan akademik bagi guru dan siswa dalam hal peningkatan mutu proses dan hasil belajar. 9
  13. 13. BAB II LANDASAN TEORI1. Tinjauan Pustaka A. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara berfungsi sebagai bahasa pengantar resmi dilembaga-lembaga pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.Di samping itu bahasa Indonesia sangat diperlukan untuk menguasai mata pelajaranyang diajarkan, semua bahan pengajaran, kecuali pengajaran bahasa daerah, ditulis dandiantarkan dalam bahasa Indonesia. Karena itu jika anak-anak tidak berhasil menguasaikemampuan berbahasa Indonesia yang memadai, sulitlah bagi mereka untuk mencapaiprestasi belajar yang baik dalam mata pelajaran yang lain. Usaha yang dilakukan Pemerintah agar harapan di atas tercapai, maka bahasaIndonesia mulai diajarkan di sekolah dasar sampai perguruan tinggi. BerdasarkanStandar Isi Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah untuk kelas satu sekolah dasar(2006: 6 ), mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar bertujuan agar pesertadidik memiliki kemampuan sebagai berikut: (1) berkomunikasi secara efektif danefisien dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan, (2) menghargai danbangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, (3)memahami bahasa Indonesia dan menggunakan dengan tepat dan kreatif untuk berbagaitujuan, (4) menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan intelektual sertakematangan emosional dan sosial, (5) menikmati dan memanfaatkan karya sastra untukmemperluas wawasan, memperluas budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan 10
  14. 14. kemampuan berbahasa, (6) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagaikhazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Namun agar bahasa Indonesia dapat memenuhi fungsinya sebagai sarana kehidupanbangsa yang modern perlu dilakukan pengembangan. Dalam rangka pembinaan danpengembangan bahasa Indonesia, Pemerintah membentuk Lembaga Pusat Pembinaandan Pengembangan Bahasa. Pembinaan bahasa Indonesia dilakukan melalui jalur formalmaupun nonformal. Jalur formal ialah lembaga pendidikan mulai sekolah dasar sampaiperguruan tinggi, sedangkan jalur nonformal melalui organisasi, karang taruna, dankelompok belajar. Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang membelajarkan siswa untukberkomunikasi dengan baik dan benar. Komunikasi ini dapat dilakukan baik secara lisanmaupun tulisan. Dengan kesimpulan tersebut, maka standar kompetensi mata pelajaranbahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal siswa yangmenggambarkan penugasan, pengetahuan, ketrampilan berbahasa, sikap positif terhadapbahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi siswa untukmemahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia dirumuskan karena, diharapkanmampu menjadikan: (1) siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengankemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaanterhadap hasil karya kesusastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri, (2) guru dapatmemusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa siswa denganmenyediakan berbagai kegiatan berbahasa, (3) guru lebih mandiri dan leluasa dalammenentukan bahan ajar kebahasaan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dankemampuan siswanya, (4) orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam 11
  15. 15. pelaksanaan program kebahasaan di sekolah, (5) sekolah dapat menyusun programpendidikan kebahasaan sesuai dengan keadaan siswa dengan sumber belajar yangtersedia, dan (6) daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dengankondisi kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional(BSNP:2006). Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang harus diajarkan disekolah dasar. Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang dihasilkan dari alat ucap(artikulasi) yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional (melalui kesepakatan)yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Selain itu,bahasa juga merupakan percakapan atau alat komunikasi dengan sesama manusia.Sedangkan bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi yang menjadi salah satu cirikhas bangsa Indonesia dan digunakan sebagai bahasa nasional. Hal ini yang merupakansalah satu sebab mengapa bahasa Indonesia harus diajarkan pada semua jenjangpendidikan, terutama di SD karena merupakan dasar dari semua pembelajaran.ada pengajaran yang diantarkan menggunakan bahasa daerah terutama pada siswa kelasrendah. Pembinaan bahasa melalui jalur formal adalah tugas semua guru. Dalam hal iniguru SD harus mampu membentuk dasar yang kuat berupa kesadaran, sikap sertakemampuan berbahasa Indonesia. Untuk itu para guru harus membekali dirinya dengankesadaran, sikap serta kemampuan berbahasa Indonesia yang mantap. Guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia dituntut dapat menciptakan situasiyang menumbuhkan kegairahan belajar dan mampu mengatasi permasalahan yangdihadapi secara profesional sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Permasalahan itu 12
  16. 16. biasa terjadi pada kelas-kelas permulaan, sehingga guru harus memiliki pengetahuantentang anak-anak, kesabaran, ketekunan, dan pengabdian yang dilandasi kasih sayang. Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar meliputi keterampilanmenyimak, berbicara, membaca dan menulis. Melalui pembelajaran bahasa Indonesiadiharapkan siswa terampil menggunakan bahasa Indonesia sebagai saranaberkomunikasi. Sedangkan pembelajaran keempat aspek itu dilaksanakan secaraterpadu. Membaca juga tidak mungkin terlepas dari persoalan bahasa, sebab membacamerupakan salah satu aspek dari kemampuan berbahasa yakni berbicara. Standar IsiSatuan Pendidikan Dasar dan Menengah untuk kelas 1 SD (2006: 6) menjelaskanbahwa Berbahasa dan bersastra meliputi empat aspek, yaitu: aspek mendengarkan,aspek berbicara, aspek membaca, aspek menulis. Keempat aspek kemampuan berbahasadan bersastra tersebut memang berkaitan erat sehingga merupakan satu kesatuan yangtidak terpisahkan. Pendidikan bahasa Indonesia di lembaga formal dimulai dari SD. Jumlah jampelajaran bahasa Indonesia di SD kelas I, II dan III sebanyak 6 jam pelajaran.Sedangkan kelas IV, V dan VI sebanyak 5 jam pelajaran. Banyaknya jumlah jampelajaran Bahasa Indonesia dimaksudkan agar siswa mempunyai kemampuan berbahasaIndonesia yang baik serta mempunyai kemampuan berpikir dan bernalar yang baik yangdapat disampaikan melalui bahasa yang baik pula. Bahasa Indonesia merupakan salah satu materi penting yang diajarkan di SD,karena bahasa Indonesia mempunyai kedudukan dan fungsi yang sangat penting bagikehidupan sehari-hari. Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia sebagaimana dinyatakan 13
  17. 17. oleh Akhadiah dkk. (1991: 1) adalah agar siswa ”memiliki kemampuan berbahasaIndonesia yang baik dan benar serta dapat menghayati bahasa dan sastra Indonesiasesuai dengan situasi dan tujuan berbahasa serta tingkat pengalaman siswa sekolahdasar”. Dari penjelasan Akhadiah tersebut maka tujuan pembelajaran bahasa Indonesiadapat dirumuskan menjadi empat bagian. (1) Lulusan SD diharapkan mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. (2) Lulusan SD diharapkan dapatmenghayati bahasa dan sastra Indonesia. (3) Penggunaan bahasa harus sesuai dengansituasi dan tujuan berbahasa. (4) Pengajaran disesuaikan dengan tingkat pengalamansiswa SD. Butir (1) dan (2) menunjukkan tujuan pembelajaran bahasa Indonesia SDyang mencakup tujuan pada ranah kognitif dan afektif. Butir (3) menyiratkan pen-dekatan komunikatif yang digunakan. Sedangkan butir (4) menyiratkan sampai di manatingkat kesulitan materi pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan. Dari tujuan tersebut jelas tergambar bahwa fungsi pengajaran bahasa Indonesiadi SD adalah sebagai wadah untuk mengembangakan kemampuan siswa dalammenggunakan bahasa sesuai dengan fungsi bahasa itu, terutama sebagai alatkomunikasi. Pembelajaran bahasa Indonesia di SD dapat memberikan kemampuan dasarberbahasa yag diperlukan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah menengah maupununtuk menyerap ilmu yang dipelajari lewat bahasa itu. Selain itu pembelajaran bahasaIndonesia juga dapat membentuk sikap berbahasa yang positif serta memberikan dasaruntuk menikmati dan menghargai sastra Indonesia. Dalam pembelajaran bahasaIndonesia perlu diperhatikan pelestarian dan pengembangan nilai-nilai luhur bangsa,serta pembinaan rasa persatuan nasional. Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia dalam BSNP (2006) dijabarkan menjadibeberapa tujuan. Tujuan bagi siswa adalah untuk mengembangkan kemampuannya 14
  18. 18. sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya. Adapun tujuan bagi guru adalahuntuk mengembangkan potensi bahasa siswa , serta lebih mandiri dalam menentukanbahan ajar kebahasaan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuansiswanya. Tujuan bagi orang tua siswa adalah agar mereka dapat secara aktif terlibatdalam pelaksanaan program pembelajaran. Tujuan bagi sekolah adalah agar sekolahdapat menyusun program pendidikan kebahasaan sesuai dengan keadaan siswa dansumber belajar yang tersedia. Sedangkan tujuan bagi daerah adalah agar daerah dapatmenentukan sendiri bahan dan sumber belajar kebahasaan dengan kondisi kekhasandaerah dengan tetap memperhatikan kepentingan sosial B. Minat Untuk mencapai prestasi yang baik disamping kecerdasan juga minat, sebab tanpaadanya minat segala kegiatan akan dilakukan kurang efektif dan efesien. Dalampercakapan sehari-hari pengertian perhatian dikacaukan dengan minat dalampelaksanaan perhatian seolah-olah kita menonjolkan fungsi pikiran, sedangkan dalamminat seolah-olah menonjolkan fungsi rasa, tetapi kenyataanya apa yang menarik minatmenyebabkan pula kita kita berperhatian, dan apa yang menyebabkan perhatian kitatertarik minatpun menyertai kita.” (Dakir. 1971 : 81) Dari pengertian minat diatas memberikan pengertian bahwa minat menyebabkanperhatian dimana minat seolah-olah menonjolkan fungsi rasa dan perhatian seolah-olahmenonjolkan fungsi pikiran. Hal ini menegaskan bahwa apa yang menarik minat menyebabkan pula kitaberperhatian dan apa yang menyebabkan berperhatian kita tertarik, minatpunmenyertainya jadi ada hubungan antara minat dan perhatian. 15
  19. 19. Pengertian Minat Belajar Menurut Ahli : 1. Pengertian Minat menurut Tidjan (1976 :71) adalah gejala psikologis yang menunjukan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek sebab ada perasaan senang. Dari pengertian tersebut jelaslah bahwa minat itu sebagai pemusatan perhatian atau reaksi terhadap suatu obyek seperti benda tertentu atau situasi tertentu yang didahului oleh perasaan senang terhadap obyek tersebut 2. Menurut Jersild dan Taisch dalam Nurkencana (1996 : 214) bahwa minat adalah menyakut aktivitas-aktivitas yang dipilih secara bebas oleh individu. Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar siswa, siswa yang gemar membaca akan dapat memperoleh berbagai pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, wawasan akan bertambah luas sehingga akan sangat mempengaruhi peningkatan atau pencapaian prestasi belajar siswa yang seoptimal mungkin karena siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu pelajaran akan mempelajari dengan sungguh-sungguh karena ada daya tarik baginya. C. Pembelajaran Membaca di SD Dalam pembelajaran bahasa Indonesaia di Sekolah Dasar (SD), kita mengenal adapembelajaran untuk kelas tinggi dan pembelajaran untuk kelas rendah. Yang dimaksuddengan pembelajaran kelas tinggi adalah pembelajaran untuk kelas IV, V, dan VI.Sedangkan pembelajaran kelas rendah meliputi pembelajaran untuk kelas I, II, III. Tentusaja pembelajaran untuk kelas tinggi tidak sama dengan pembelajaran untuk kelasrendah. Pembelajaran di kelas rendah disebut membaca permulaan dan membaca dikelas tinggi disebut membaca pemahaman. 16
  20. 20. Membaca pada hakikatnya adalah suatu kegiatan menerjemahkan simbol-simbol kedalam buny-bunyi dan memahami maknanya. Para ahli memberikan pengertianmembaca secara berbeda-beda, diantaranya: 1. Farris (Rouf, 2009) mendefinisikan membaca sebagai pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemehaman diperoleh apabila pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan. 2. Syafi’i (Rouf, 2009) menyatakan bahwa “membaca adalah suatu proses yang bersifat fisik atau yang disebut proses mekanis, berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual, sedangkan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi”. 3. Tarigan (1991:7) menjelaskan bahwa “membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media bahasa tulis”. 4. Kridalaksana, (1993:135).Membaca merupakan keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis dan perubahannya menjadi wicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Rouf, 2009) membaca didefinisikan sebagaimelihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, yang dibaca secara lisan atau dalam 17
  21. 21. hati. Secara linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali danpembacaan sandi. Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa membacamerupakan proses menerjemahkan sandi atau simbol-simbol yang tertulis terhadap teksbacaan dengan memanfaatkan kemampuan melihat (mata) yang dimiliki oleh pembaca,dan menerapkan pola berfikir dan bernalar mengolah teks bacaan secara kritis dankreatif untuk mendapatkan pesan baik secara tersirat maupun tersurat. Pembelajaran membaca untuk kelas rendah pun harus mendapatkan perhatianyang serius. Pengenalan dan pemahamantulisan dalam bentuk urutan lambang-lambanggrafis dan perubahannya menjadi wicara bermakna ini sulit bagi siswa kelas I SD. Guruharus berhati-hati dan cermat dalam menyusun perencanaan sekaligus pelaksanaannya.Hal ini penting karena kelas I merupakan fondasi bagi kelas-kelas berikutnya. Kelas ISD merupakan pintu gerbang bagi siswa memasuki dunia pendidikan formal. Sekaliguru salah bertindak yang berdampak pada kegagalan siswa, akan sangat berpengaruhbagi kemajuan siswa selanjutnya. Itu sebabnya guru harus benar-benar berhati-hati. Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca, baik membacapermulaan maupun membaca lanjut (membaca pemahaman). Faktor-faktor yangmempengaruhi membaca permulaan menurut Lamb dan Arnold (1976) ialah factorfisiologis, intelektual, lingkungan, dan psikologis.a. Faktor Fisiologis Faktor fisiologis mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, dan jeniskelamin. Kelelahan juga merupakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi anak untuk 18
  22. 22. belajar, khususnya belajar membaca. Beberapa ahli mengemukakan bahawaketerbatasan neurologis (misalnya berbagai cacat otak) dan kekurang matangan secarafisik merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan anak gagal dalammeningkatkan kemampuan membaca pemahaman mereka. Guru hendaknya cepatmenemukan tanda-tanda yang disebutkan di atas. Gangguan pada alat bicara, alat pendengaran, dan alat penglihatan bisamemperlambat kemajuan belajar membaca anak. Analisis bunyi misalnya, mungkinsukar bagi anak yang mempunyai masalah pada pada alat bicara dan pendengaran. Guruharus waspada terhadap beberapa kebiasaan anak, seperti anak sering menggosok-gosokmatanya, dan mengerjap-ngerjapkan matanya ketika membaca. Jika menemukan siswaseperti di atas, guru harus menyarankan kepada orang tuanya untuk membawa si anakke dokter spesialis mata. Dengan kata lain, guru harus sensitif terhadap gangguan yangdialami oleh seorang anak . Makin cepat guru mengetahuinya, makin cepat pulamasalah anak dapat diselesaikan. Sebaiknya, anak-anak diperiksa matanya terlebihdahulu ia mulai membaca permulaan(Lmb dan Arnold, 1976). Walaupuntidak mempunyai ganguan pada alat penglihatanya, beberapa anakmengalami kesukaran belajar membaca. Hal itu dapat terjadi karena belumberkembangnya kemampuan mereka dalam membedakan symbol-simbol cetakan,seperti huruf-huruf, angka-angka, dan kata-kata, misalnya anak belum bisamembedakan b, p, dan d. Perbedaan pendengaran auditory discrimination) adalahkemampuan mendengarkan kemiripan dan perbedaan bunyi bahasa sebagai faktorpenting dalam menentukan kesiapan membaca anak(Lamb dan Arnold, 1976).b. Faktor Intelektual 19
  23. 23. Istilah inteligensi didefinisikan oleh Heinz sebagai suatu kegiatan berpikir yangterdiri dari pemahaman yang esensial tentang situasi yang diberikan dan meresponyasecara tepat(Page dkk, 19800. Terkait dengan penjelasan Heinz di atas, Wechster(dalam Harris dan Sipay, 1980) menunjukkan bahwa secara umum ada hubungan positif(tetapi rendah ) antara kecerdasan yang diindikasikan oleh IQ dengan rata-ratapeningkatan remedial membaca. Pendapat ini sesuai dengan yang dikemukakan olehRubin (1993) bahwa banyak hasil penelitian memperlihatkan tidak semua siswa yangmempunyai kemampuan intelegensi tinggi menjadi pembaca yang baik. Secara umum, inteligensi anak tidak sepenuhnya mempengaruhi berhasil atautiodaknya anak dalam membaca permulaan. Faktor metode mengajar guru, prosedur,dan kemampuan guru juga turut mempengaruhi kemampuan membaca permulaan anak.c. Faktor Lingkungan Faktor lingkungan juga mempengaruhi kemajuan kemampuan membaca siswa.Faktor lingkungan itu mencangkup(1) latar belakang dan pengalaman siswa di rumah,dan (2)sosial ekonomi keluarga siswa 1. Latar Belakang dan Pengalaman Anak di Rumah Lingkungan dapat membentuk pribadi, sikap, nilai, dan kemampuan bahasaanak. Kondisi di rumah mempengaruhi pribadidan penyesuaian diri anak dalammasyarakat. Kondisi itu pada giliranya dapat membantu anak, dan dapat jugamnghalangi anak belajar membaca. Anak yang tinggal di rumah tangga yang harmonis,rumah yang penuh dengan cinta kasih, yang orang tuanya memahami anak-anaknya,dan mempertsiapakan mereka dengan rasa harga diri yang tinggi, tidak akanmenemukan kendala yang berarti dalam membaca. 20
  24. 24. Rubin (1993) mengemukakan bahwa orang tua yang hangat, demokratis, bisamengarahkan anak-anak mereka pada kegiatan yang berorientasi pendidikan, sukamenantang anak untuk berpikir, dan suka mendorong anak untuk mandiri merupakanorang tua yang memiliki sikap yang dibutuhkan anak sebagai persiapan yang baik untukbelajar di sekolah. Di samping itu, komposisi orang dewasa dalam lingkungan rumahjuga berpengaruh pada kemampuan membaca anak. Anak yang dibesarkan oleh keduaorang tuanya, orang tua tunggal, seorang pembantu rumah tangga, atau orang tua angkatakan mempengaruhi sikap dan tingkah laku anak. Anak yang dibesarkan oleh ibu sajaberbeda dengan anak yang di besarkan oleh seorang ayah saja. Kematian salah seoranganggota keluarga umumnya akan menyebabkan tekanan pada anak-anak. Perceraianjuga merupakan pengalaman yang traumatis bagi anak-anak. Guru hendaknyamemahami tentang lingkungan keluarga anak dan peka pada perubahan yang tiba-tibaterjadi pada anak. Rumah juga berpengaruh pada sikap anak terhadap anak terhadap buku danmembaca. Orang tua yang gemar membaca, memiliki koleksi buku, menghargaimembaca, dan senang membacakan cerita kepada anak-anak mereka umumnyamenghasilkan anak yang senang membaca. Orang tua yang mempunyai minat yangbesar terhadap kegiatan di sekolah di mana anak–anak mereka belajar, dapat memacusikap positif anak terhadap belajar,khususnya belajarmembaca. Kualitas dan luasnya pengalaman anak di rumah juga penting bagi kemajuan belajarmembaca. Membaca seharusnya merupakan suatu kegiatan bermakna. Pengalamanmasa lalu anak-anak memungkinkan anak-anak untuk lebih memahami apa yangmereka baca. 21
  25. 25. 2. Faktor Sosial Ekonomi Ada kecendrungan orang tua kelas menengah ke atas merasa bahwa anak-anakmereka siap lebih awal dalam dalam membaca permulaan. Namun, usaha orang tuahendaknya tidak berhenti hanya sampai pada membaca permulaan saja. Orang tua harusmenjalankan kegiatan membaca anak secara terus menerus. Anak lebih membutuhkanperhatian daripada uang. Oleh sebab itu, orang tua hendaknya menghabiskan waktumereka untuk berbicara dengan anak mereka agar anak menyenangi membaca berbagibuku cerita dan pengalaman membaca dengan anak-anak. Sebaliknya, anak-anak yangberasal dari keluarga rendah yang berusaha mengejar kegiatan-kegiatan tersebut akanmemiliki kesempatan yang lebih baik untuk menjadi pembaca yang baik. Faktor sosioekonomi, orang tua, dan lingkungan tetangga merupakan faktor yangmembentuk lingkungan rumah siswa. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa statussosioekonomi siswa mempengaruhi kemampuan verbal siswa. Semakin tinggi statussosioekonomi siswa semakin tinggi kemampuan verbal siswa. Anak-anak yangmendapat contoh bahasa yang baik dari orang dewasa serta orang tua yang berbicaradan mendorong anak-anak mereka berbicara akan mendukung perkembangan bahasadan inteligensi anak. Begitu pula dengan kemampuan membaca anak. Anak-anak yangberasal dari rumah yang memberikan banyak kesempatan membaca anak. Anak-anakyang berasal dari rumah yang memberikan banyak kesempatan membaca, dalamlingkungan yang penuh dengan bahan bacaan yang beragam akan mempunyaikemampuan membaca yang tinggi (Crawley & Mountain, 1995) D. Faktor psikologis 22
  26. 26. Faktor lain yang juga memengaruhi kemajuan kemampuan membaca anak adalah faktor psikologis. Faktor ini mencakup (1) motivasi; (2) minat; dan (3) kematangan sosial, emosi, dan penyesuaian diri.D. Membaca Nyaring kalimat sederhana Membaca nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakanalat bagi guru, murid,ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengaruntuk menangkapserta memahami informasi,pikiran,dan perasaan seorang pengarang.(Tarigan1978:23). Dalam membaca nyaring, selain penglihatan dan ingatan,juga turut aktifauditory memory(ingatan pendengaran) dan motor memory (ingatan yang bersangkutpaut dengan otot-otot kita).(Multon,197 0:15 dalam Tarigan 1979:23). Membaca nyaring adalah sebuah pendekatan yang dapat memuaskan sertamemenuhi berbagai ragam tujuan serta mengembangkan sejumlah keterampilan sertaminat.Oleh karena itu, dalam mengajarkan keterampilan-keterampilan membacanyaring, guru harus memahami proses komunikasi dua arah.Lingkaran komunikasibelumlah lengkap jika pendengar belum memberi tanggapan secukupnya terhadappikiran atau perasaan yang diekspresikan oleh pembaca.Memang tanggapan tersebutmungkin hanya dalam hati, tetapi bersifat apresiatif,mempunyai nilai apresiaisi yangtinggi.(Dawson (et al) 1936:215-216). 23
  27. 27. Pembaca harus memahami aksara di atas kertas seta memproduksikan suarayang tepat dan bermakna. Membaca nyaring pada hakikatnya merupakan suatu masalahlisan atau oral matter. Oleh karena itu, dalam pengajaran bahasa asing aktivitasmembaca nyaring lebih ditujukan pada pengucapan (pronounciation) daripadapemahaman (comprehension).mengingat hal tersebut, maka bahan bacaan haruslahdipilih yang mengandung isi dan bahasa yang relatif mudah dipahami.(Broughton(et al)1978:91). Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita perhatikan bahwa kegunaan membacanyaring sangat terbatas.sedikit orang yang dituntut membaca nyaring dalam kegiatanrutin sehari-hari, seperti penyiar radio, pembicara televisi,pengacara, ataupastor.Demikianlah, dari segi mayoritas, kegunaan atau kepentingannya memangterbatas.(Broughton (et al) 1978:92) Pembaca nyaring yang baik biasanya ingin sekali agar pendengarnya memahami apayang ia sampaikan.Oleh sebab itu, pembaca hendaklah mengetahui keinginan sertakebutuhan pendangarnya,serta menginterpretasikan bahan bacaan secara tepat.(Tarigan2008:27). Agar dapat membaca nyaring dengan baik, pembaca haruslah menguasaiketerampilan-keterampilan persepsi(Penglihatan dan daya tanggap) sehingga diamengenal dan memahami kata-kata dengan cepat.Yang sama pentingnya dengan hal iniadalah kemampuan mengelompokkan kata-kata ke dalam kesatuan-kesatuan pikiranserta membacanya dengan baik dan lancar.Untuk membantu para pendengar menangkapserta memahami maksud pengarang , pembaca biasanya menggunakan berbagai cara,antara lain: 24
  28. 28. 1) Dia menyoroti ide-ide baru dengan mempergunakan penekanan yang jelas;2) Dia menjelaskan perubahan dari satu ide ke ide lainnya;3) Dia menerangkan kesatuan kata-kesatuan kata-kata yang tepat dan baik;4) Menghubungkan ide-ide yang bertautan dengan jalan menjaga suaranya agar tinggi sampai akhir dan tujuan tercapai;5) Menjelaskan klimaks-klimaks dengan gaya dan daya ekspresi yang baik dan tepat. Keterampilan-keterampilan yang dituntut dalam membaca Nyaring dalampembahasan sebelumnya telah dikemukakan bahwa membaca nyaring menuntutberbagai keterampilan.Daftar keterampilan berikut ini sangat menolong para guru dalammenjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam membacanyaring.(Tarigan 2008:25).Kelas I:1) Mempergunakan ucapan (lafal) yang tepat;2) Mempergunakan frasa yang tepat(bukan kata demi kata);3) Mempergunakan intonasi suara yang wajar/tepat agar makna mudah terpahami;4) Memiliki perawakan dan sikap yang baikserta merawat buku dengan baik;5) Menguasai tanda-tanda baca sederhana seperti:titik(.), koma(,), tanda tanya(?), tanda seru(!). Kebanyakan guru dapat memahami hal di atas.Namun sayang, kebanyakanmembaca nyaring di dalam kelas rendah terarah pada satu tujuan penilaian.Sebagaitambahan, terdapat suatu penekanan pada kecepatan sebagai suatu indikasi ataupetunjuk pertumbuhan sang anak.Tidak mengherankan apabila sedikit sekali kegiatanmembaca nyaring yang baik dan menarik. Pada siswa kelas rendah yakni kelas 1, 25
  29. 29. Keterampilan membaca nyaring akan berkembang secara wajar secara alamiahkemampuan dalam membaca itu akan terus dilatih sehingga perkembangan anaksemakin meningkat. apabila anak mampu menghafal alphabet, membaca suku kata, katakemudian kalimat sederhana dan semakin meningkat. Dardjowidojo (1988: 254) menyatakan bahwa kalimat ialah bagian terkecil darisuatu ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secaraketatabahasaan. Slametmuljana (1969) menjelaskan kalimat sebagai keseluruhan pemakaian katayang berlagu, disusun menurut sistem bahasa yang bersangkutan; mungkin yang dipakaihanya satu kata, mungkin lebih. Badudu (1994:3-4) mengungkapkan bahwa sebagai sebuah satuan, kalimatmemiliki dimensi bentuk dan dimensi isi. Kalimat harus memenuhi kesatuan bentuk,sebab kesatuan bentuk itulah yang menjadi kesatuan arti kalimat. Kalimat yangstrukturnya benar tentu memiliki kesatuan bentuk sekaligus arti. Wujud struktur kalimatadalah rangkaian kata-kata yang disusun berdasarkan aturan-aturan tata kalimat. Isisuatu kalimat adalah gagasan yang dibangun oleh rangkaian konsep yang terkandungdalam kata-kata. Jadi, kalimat yang baik adalah kalimat yang selalu memiliki strukturyang jelas. Setiap unsur yang terdapat di dalamnya harus menepati posisi yang jelasdalam hubungan satu sama lain. Kridalaksana (2001:92) juga mengungkapkan kalimat sebagai satuan bahasayang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan secara aktualmaupun potensial terdiri dari klausa; klausa bebas yang menjadi bagian kognitifpercakapan; satuan proposisi yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu 26
  30. 30. klausa, yang membentuk satuan bebas; jawaban minimal, seruan, salam, dansebagainya. Berdasarkan dengan berbagai pendapat tentang definisi kalimat, maka dapatdisimpukkan kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yangmengungkapkan pikiran yang utuh, dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suaranaik turun, keras, lembut, disela jeda, serta memiliki intonasi akhir.Kalimat sederhana merupakan kalimat yang strukturnya menjadi dasar struktur kalimatsuatu bahasa . Kalimat itu ditandai oleh faktor kesesuaian bentuk makna, fungsi,kesederhanaan unsur, dan posisi atau urutan unsur. Menurut kesesuain bentukmaknanya., kalimat sederhana memiliki bentuk yang utuh atau legkap. Menurutfungsinya, kalimat sederhana adalah kalimat berita. Ditinjau dari segikesederhanaannya, kalimat sederhana memiliki unsur-unsur minimal. Berdasarkanurutan unsur-unsurnya, posisi gatra-gatra kalimat sederhana berurutan menurut segiketergantungan diantara sesamanya. Sifat ketergantungan ini ditentukan oleh strukturfungsionalnya: SP, SPO, SPK, SPOK. Kalimat Sederhana dibagi atas dua bagian, yaitukalimat yang tak berklausa dan kalimat yang berklausa satu. Syarat pertama struktur kalimat sederhana adalah bentuknya yang lengkap,dengan kata lain kalimat sederhana termasuk kalimat lengkap. Kelengkapan bentukkalimat sederhana merupakan kelengkapan minimal. Artinya, bila unsur-unsur kalimatitu ditiadakan, maka kalimat itu bukan lagi kalimat sederhana.Contoh: ini buku dia duduk dia berlari 27
  31. 31. ani menangis dila membaca Penggaris berwarna merah ibu ke pasar ayah dari kantor E. Media Pembelajaran Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secaraharfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumberpesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang mediapembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalahteknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalahsarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dansebagainya. Sedangkan, National Education Associaton(1969) mengungkapkan bahwamedia pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkanbahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapatmerangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorongterciptanya proses belajar pada diri peserta didik. Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakandalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran.Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk 28
  32. 32. mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke –20usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlahalat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi(IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu ataumedia pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer daninternet.Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya : 1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial. 2. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (f) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik. 29
  33. 33. 3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya. 4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan 5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis. 6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru. 7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar. 8. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak Kriteria yang paling utama dan tepat dalam pemilihan media bahwa media harusdisesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Pemilihanmedia pembelajaran yang tepat diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses belajarsiswa, hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Nana Sudjana danAhmad Rivai (2002: 2) tentang pemanfaatan media pengajaran dalam proses belajarsiswa, sebagai berikut: Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik. Metode pengajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru harus mengajar untuk setiap jam pelajaran. 30
  34. 34. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain. Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaranadalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsangfikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinyaproses belajar yang efektif dan efisien. Pada proses belajar mengajar guru harus mempunyai keahlian dalam menggunakanberbagai macam media pembelajaran, terutama media yang digunakan dalam prosesmengajarnya, sehingga materi ataupun pesan yang disampaikan akan tersalurkan denganbaik pulaF. Kartu Huruf Kartu Huruf sering dikenal dengan sebutan education card. Kartu huruf adalahkartu-kartu kecil bertuliskan huruf alphabet lengkap. Dilengkapi gambar berwarna danpapan flanel. Kartu huruf dilengkapi gambar berwarna dan papan flanel ini untukmemudahkan anak menyusun huruf sehingga membantu anak belajar mengingat danmenghafal. Karena tujuan dari metode ini adalah melatih kemampuan otak kanan untukmengingat gambar dan menyusun kata kemudian kalimat, sehingga perbendaharaan katadan kemampuan membaca anak bisa dilatih dan ditingkatkan sejak usia dini.Dengan peningkatan fungsi otak kanan, maka mempunyai fungsi luar biasa seperti : 1. Photographic memory 31
  35. 35. 2. Speed reading, listening 3. Automatic mental processing 4. Mass-memory 5. Multiple language acquisition 6. Computer-like math calculation 7. Creativity in movement, music and art 8. Intuitive insight Begitu luar biasanya fungsi dari otak kanan, sementara hampir seluruh kehidupanmasyarakat, baik mulai dari sekolah sampai dengan kegiatan sosial sehari-hari hanyamenekankan pada kemampuan otak kiri. Sistem pendidikan dan masyarakat juga saat inihanya menfokuskan pada kemampuan otak kiri saja. Perkembangan otak kanan seakan-akan ditinggalkan begitu saja sejak anak masuk ke Sekolah Dasar. Dalam hal ini bukan berarti kegunaan otak kiri tidak penting, otak kiri sangatlahpenting, tetapi perkembangan otak kanan tidak bisa diabaikan, artinya diperlukankeseimbangan kemampuan kedua belah otak, supaya kecerdasan anak berkembangdengan maksimal, dan otak kanan dari anak juga ikut dikembangkan sebelum anakterjun ke dunia otak kiri di sebagian besar hidupnya nanti. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan otak kanan, antara laindengan image training, visualisasi, termasuk juga dengan permainan Kartu huruf inimemberikan stimulasi-stimulasi kepada anak itu penting , sehingga perkembanganotaknya, baik kiri maupun kanan bisa tumbuh dengan seimbang. 32
  36. 36. BAB III METODOLOGI PENELITIANA. Rancangan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif karena analisis data akandiuraikan secara verbal yang menggambarkan perencanaan, pelaksanaan, dan hasiltindakan pada siklus I dan II yang bertujuan untuk meningkatkan kalimat sederhanadengan media kartu huruf. Penelitian ini berusaha mengungkapkan gejala secaramenyeluruh dan sesuai dengan konteks (holistik dan kontekstual) melalui pengumpulandata dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci.Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan analisis dengan pendekatan induktif.Proses dan makna dari sudut pandang subjek lebih ditonjolkan dalam penelitian ini,disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkanciri-ciri alamiahnya. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitiantindakan kelas, karena tindakan yang akan dilakukan diterapkan pada pembelajarandalam kelas. Penelitian ini dimulai dari tahap identifikasi masalah mengenaipelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia untuk berbagai kompetensi dasar dananalisis penyebab munculnya masalah. Tindakan penelitian menggunakan siklus, yangterdiri atas tahap (1) perencanaan yang merupakan upaya untuk memperbaikikelemahan dalam proses pembelajaran, (2) pelaksanaan tindakan yaitu melaksanakanproses pembelajaran , (3) pengamatan/observasi untuk mengetahui kemampuan siswadan untuk mengetahui sikap positif dan negatif siswa dalam kegiatan pembelajaran, dan(4) tahap refleksi (perenungan, pemikiran, dan evaluasi) di setiap siklusnya (siklus I dan 33
  37. 37. II) untuk mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan(Kemmis and Taggart, 1988). Sesuai dengan prinsip umum penelitian tindakan, setiaptahapan dan siklusnya dilakukan secara partisipatoris dan kolaboratif antara peneliti danguru mata pelajaran lainnya.B. Lokasi Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat penelitian ini berlokasi di SD Negeri Malang Kecamatan MaospatiKabupaten Magetan. Dengan jumlah siswa 108 orang yang terdiri dari 15 siswa kelas I,15 siswa kelas II, 20 siswa kelas III, 26 siswa kelas IV, 16 siswa kelas V, 16 siswa kelasVI. Staf pengajar terdiri dari 7 guru, 1 guru wiyata bhakti, 1 penjaga, 1 kepala sekolah.Nama-nama siswa yang terlibat disajikan pada lampiran. Observer terdiri atas dua orangguru yaitu, Bapak Kasiyono, S.Pd dan Ibu Pretty, S.Pd yang membantu penelitimerekam proses pembelajaran. Pemilihan tempat ini didasarkan pada pertimbangan: kemampuan membacapermulaan siswa kelas I SD Negeri Senden masih rendah, merupakan tempat penelitiPPL, belum pernah menjadi tempat penelitian tindakan kelas. 1. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013. Adapunwaktu dan jenis kegiatan penelitian mulai tanggal 19 September 2012 sampai dengantanggal 10 Januari 2013 dengan jadwal sebagai berikut : 34
  38. 38. Siklus 1, hari Senin, 26 Oktober 2012 Siklus 2, hari ……., …….……. 2012C. Indikator KeberhasilanPencapaian Siklus (Skor) Keterangan80-100 Sangat Berhasil60-79 Berhasil40-59 Cukup20-39 Kurang Berhasil0-19 Tidak BerhasilTabel indikator Keberhasilan SiklusAspek Pencapaian Cara mengukur siklus IKelancaran siswa …% Diamati saat pembelajaran berlangsung, lembarmembaca nyaring pengamatan, oleh peneliti. Dihitung dari jumlah siswa yang mampu membaca kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat per jumlah keseluruhan siswaKetepatan menyusun …% Jumlah kelompok yang dapat menyelesaikankalimat sederhana tugas tepat waktu dibagi jumlah kelompok.dengan menggunakan Dibuat jurnal setiap pertemuan 35
  39. 39. media kartu hurufInteraksi antar siswa …% Diamati ketika siswa melakukan diskusi, dicatatpada kegiatan keterlibatan masing-masing siswa dalamkooperatif kelompokKetuntasan hasil …% Dihitung dari nilai rata-rata kuiz dan tes blok.belajar Siswa yang memperoleh nilai lebih besar/sama dengan 70 dinyatakan tuntas.Tabel indikator Keberhasilan SiklusAspek Pencapaian Cara mengukur siklus 2Kelancaran siswa …% Diamati saat pembelajaran berlangsung, lembarmembaca nyaring pengamatan, oleh peneliti. Dihitung dari jumlah siswa yang mampu membaca kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat per jumlah keseluruhan siswaKetepatan menyusun …% Jumlah kelompok yang dapat menyelesaikankalimat sederhana tugas tepat waktu dibagi jumlah kelompok.dengan menggunakan Dibuat jurnal setiap pertemuan 36
  40. 40. media kartu hurufInteraksi antar siswa …% Diamati ketika siswa melakukan diskusi, dicatatpada kegiatan kooperatif keterlibatan masing-masing siswa dalam kelompokKetuntasan hasil belajar …% Dihitung dari nilai rata-rata kuiz dan tes blok. Siswa yang memperoleh nilai lebih besar/sama dengan 70 dinyatakan tuntas. 1. Indikator keberhasilan Siklus 1 Pelaksanaan penelitian pada siklus 1 pelaksanaan penelitian pada siklus 1 dikatakan berhasil bila : a. Di atas 60% siswa mendapatkan nilai di atas 60 pada tes hasil belajar. b. Di atas 70 % rata-rata Kelancaran siswa membaca nyaring dan ketepatan dalam menyusun kalimat sederhana dengan menggunakan kartu huruf c. Di atas 65% siswa aktif dalam kbm 2. Indikator Keberhasilan Siklus 11 pelaksanaan penelitian pada siklus 11 dikatakan berhasil bila : a. Di atas 80 % siswa mendapatkan nilai di atas 60 pada tes hasil belajar b. Di atas 80% rata-rata Kelancaran siswa membaca nyaring dan ketepatan dalam menyusun kalimat sederhana dengan menggunakan kartu huruf c. Di atas 80% siswa aktif dalam kbm 37
  41. 41. D. Prosedur Pelaksanaan 1. Gambar Perencanaan Siklus 1 a. Perencanaan Tindakan Perencanaan tindakan dimulai dengan mempersiapakan RPP yang akan digunakansebagai pedoman pelakasanaan pembelajaran wicara dengan kompetensi dasarmembaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat dengan mediakartu huruf. Penyusunan RPP tersebut dilaksanakan pada tanggal 19-25 September2012. Selain itu, peneliti juga menyusun lembar evaluasi untuk menguji kemampuansiswa yakni tes membaca yakni tentang membaca permulaan kompetensi dasar ( KD):Membaca nyaring Kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat di kelas 1 SDNegeri Malang Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan . hasilnya kurangmemuaskan dari 15 orang siswa di kelas 1 SD Negeri Malang Kecamatan MaospatiKabupaten Magetan Dari 15 orang siswa, 4 orang siswa membacanya lancar (sesuailafal dan intonasi yang tepat) 3 orang siswa membacanya masih kurang lancar, 4 orangmembacanya masih mengeja per suku kata dan 4 orang masih belum bisa membaca(mengetahui huruf tetapi belum bisa merangkaikan satu kata). Lembar evaluasi inidisusun menjadi dua yaitu lembar penilaian untuk guru dan siswa. Peneliti sebagaipengumpul data mempersiapkan daftar cek (checklist) pelaksanaan pembelajaran danpencapaian indikator sebagai pedoman observasi, menyusun angket untuk menanyakanpendapat siswa mengenai pembelajaran yang telah dilaksanakan, dan menyusunpedoman wawancara untuk guru. b. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan siklus I direncanakan satu pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakanpada hari Senin tanggal 26 September 2012. Pelaksana tindakan pembelajaran siklus I 38
  42. 42. adalah guru Bahasa Indonesia, sedangkan pengamatan dan perekaman data dilakukanoleh guru lain yang sedang piket di sekolah tersebut. Sesuai dengan RPP yang sudah disusun, langkah-langkah pembelajaran yangakan dilakukan oleh guru mengacu pada langkah-langkah pembelajaran denganmenggunakan kartu huruf . Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut. 1. Pra Kegiatan Pembelajaran (5 menit) - Salam pembuka - Berdo’a - Presensi - Pengkondisian kelas dan menyiapkan sumber dan bahan belajar 2. Kegiatan Awal (5 menit) - Apersepsi (bernyanyi bersama “ABCD”) - Penyampaian tujuan pembelajaran 3. Kegiatan Inti (52 menit) - Eksplorasi - Siswa diminta untuk membentuk kelompok berjumlah 2 0rang - Setiap kelompok diberikan media berupa kartu huruf - Siswa mengerjakan tugas berdiskusi dengan kelompoknya sesuai perintah guru dengan menggunakan media yang telah disediakan - Siswa melengkapi alfabet dari guru - Elaborasi - Siswa menerima informasi materi dari guru 39
  43. 43. - Guru memberikan beberapa gambar dan menyuruh siswa untuk menyusun kartu huruf dan membentuk kata sesuai gambar yang diberikan oleh guru - Guru membimbing kegiatan pembelajaran - Guru menyuruh beberapa siswa untuk membaca kata yang telah disusunya dan siswa lain ikut mengevaluasi - Siswa secara klasikal membaca nyaring kata dalam gambar - Guru memberikan tugas individu siswa diminta mengamati lingkungan kelas - Siswa menyebutkan benda-benda yang ada di dalam kelas - Siswa secara individu bermain kartu huruf dan menyusun menjadi kata dan kalimat sederhana - Semua siswa diminta maju satu per satu ke depan untuk menyelesaikan soal-soal tadi yang diberikan oleh guru dan menulis kata tersebut dipapan tulis kemudian membacanya - siswa dan guru bersama-sama memperhatikan dan mengevaluasi pekerjaan siswa - Guru membaca kalimat sederhana di papan tulis secara klasikal - Konfirmasi - Guru memberikan penguatan pada siswa - Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya - Evaluasi4. Kegiatan Akhir (8 menit) 40
  44. 44. - Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan hasil pembelajaran - Refleksi - Guru menanyakan bagaimana kesan bagaimana pembelajaran hari ini kepada siswa - Siswa diberikan pesan moral dan motivasi - Berdo’a - Bernyanyi bersama - Salam penutup c. Tahap Pengamatan Selama tahap pelaksanaan tindakan, peneliti berusaha melakukan pengamatan danperekaman terhadap aktivitas belajar siswa dan suasana pembelajaran yang terjadi dikelas. Semua aktivitas siswa direkam dengan cara mencatat apa yang dilakukannya,pengalaman apa yang diperolehnya, tanggapan apa yang disampaikannya berkaitandengan aktivitas pembelajaran membaca nyaring kalimat sederhana denganmenggunakan media kartu huruf. d. Tahap Refleksi Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti selama proses perbaikanpembelajaran pada siklus I apakah sudah menunjukan adanya perbaikan ataupeningkatan antusias di dalam pembelajaran apabila masih kurang serta adanya siswayang tidak memperhatikan sehingga perlu diadakan perbaikan pada siklus II. 2. Gambaran Pelaksanaan Siklus 2 Seperti pada halnya pada siklus 1, pada Siklus 2 ini mencangkup kegiatanperencanaan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi, dan perbaikan rencana. 41
  45. 45. Kegiatan pada setiap tahapan ada siklus 2 ini akan disesuaikan dengan masalah-masalah proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siklus 1, apa yang belumdicapai pada siklus 1 akan dilanjutkan dan diatasi pada siklus 2, sehingga padarancangan penelitian ini peneliti belum bisa mendeskripsikan kegiatan-kegiatan danperbaikan-perbaikan apa saja yang akan dilakukan pada siklus 2 ini.E. Instrumen yang digunakan Yang menjadi Instrumen penelitian ini pada dasarnya adalah peneliti sendiri.Peneliti menjadi instrument penelitian karena dalam proses pengumpulan data itulahpeneliti akan melakukan adaptasi secara aktif sesuai dengan keadaan yang dihadapipeneliti ketika berhadapan dengan subjek penelitian. Meskipun peneliti berperansebagai instrument penelitian yang dapat melakukan adaptasi aktif terhadap keadaansubjek dan fokus penelitian, namun untuk menjaga fokus masalah penelitian makapeneliti juga menggunakan instrument penelitian yang meliputi: RPP, lembar observasiketerampilan kooperatif, kuesioner terbuka, kuis atau tes prestasi belajar, dan catatanguru/jurnal. RPP digunakan untuk pelaksanaan parktik pembelajaran (tindakan).Instrumen observasi disusun berdasarkan komponen dasar pembelajaran kooperatif.Kuesioner terbuka digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajarmenggunakan media kartu huruf, dan kuis atau tes prestasi belajar digunakan untukmengetahui kualitas hasil belajar. Instrumen penelitian ini disajikan pada lampiran.F. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data Data yang dikumpulkan melalui hasil dokumentasi, observasi dan tes hasilbelajara mulai dari siklus 1 sampai dengan siklus 2. Pegumpulan data dilakukan denganteknik Wawancara, dokumentasi, observasi, tesdan analisis dokumen. 42
  46. 46. 1. Wawancara Wawancara jenis ini bersifat terbuka, tidak terstruktur ketat, tidak dalam suasanaformal dan dapat dilakukan berulang-ulang untuk menggali informasi yang sama.Dengan wawancara yang mendalam peneliti akan memperoleh informasi yang rinci danmendalam. Teknik wawancara ini akan dilaksanakan pada semua informan. Wawancaraini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi dan mengetahuihambatan apa yang ditemui serta memberi solusi untuk mengatasinya2. Teknik dokumentasi Dokumentasi dilakukan untuk mengetahui kemampuan masing-masing siswasebagai dasar pembagian kelompok. Teknik observasi digunakan untuk merekamkualitas proses belajar mengajar berdasarkan instrumen observasi untuk mengetahuiaktifitas belajar siswa selama pembelajaran berlangsung.dan digunakan camera video,3. Observasi Observasi dilakukan selama pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatanbersama kolaborator untuk mengetahui aktivitas belajar siswa selama pembelajaranberlangsung.4. Metode Evaluasi(Tes) Tes digunakan untuk mengetahui minat dan kualitas hasil belajar (Prestasi belajar)siswa baik secara perseorangan maupun klasikal .5. Analisis Dokumen 43
  47. 47. Teknik pengumpulan data ini diperoleh dari dokumen dan arsip. Dokumen ituberupa daftar nilai, daftar hadir, dan arsip-arsip lain yang dimiliki guru, hal ini berfungsiuntuk mengetahui kondisi siswa sebelum dilakukan penelitian.G. Teknik analisis data Data yang telah terkumpul akan dianalisis secara deskriptif , baik deskriptifkuantitatif maupun deskripstif kualitatif. Data yang akan dianalisis secara deskriptifkuantitatif adalah data tentang nilai yang dicapai siswa, rata-rata sikap, minat baca yangdikumpulkan melalui”cek list” pada rubrik pengamatan minat siswa dan data tentangkemampuan membaca nyaring kalimat sederhan yang dinyatakan dengan nilai (score)yang dicapai siswa atas penilaian latihan dan penugasan membaca nyaring kalimatsederhana dan hasil tes membaca nyaring kalimat sederhana. Data kualitatif berupa catatan pengamatan, dokumen portofilio siswa, dokumenfoto, dan rekaman wawancara akan dianalisis dengan analisis kulitatif dengan tahapan :Pemaparan data, penyerderhanaan data, pengelompokan data sesuai fokus masalah, danpemaknaan. Dalam proses analisis data, untuk memperoleh data yang benar-benar dapatdipercaya kebenaranya maka peneliti akan melakukan memberchek (pengecekananggota/subjek penelitian), trianggulasi-check and recheck dari segi sumber data/subjekdan metode, perpanjangan pengamatan, dan pelacakan data secara mendalam. 44

×