Deja Vu

453 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
453
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
2
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Deja Vu

  1. 1. DEJA VUHujan deras mewarnai pagi ini. Aku menuruni mobil sambil menutupi kepalaku dengan telapak tangankiriku. Aku berlari menerobos hujan, sampai tiba di lobi sekolah. Kulihat parkiran motor dan mobil masihsepi. Beginilah jika hujan deras datang. Rasanya malas sekali keluar rumah, apalagi ke sekolah. Huh,lebih enak tidur daripada keluar rumah. Aku, sih inginnya seperti itu. Tapi, aku sudah bertekad tidakakan malas sekolah, apalagi aku sudah duduk di kelas 12 IPA. Kelas yang paling memusingkan, yangkelak akan menyambut Ujian Nasional yang sangat mengerikan itu. Selain alasan itu, hari ini ada ulanganfisika. Daripada remedial atau ulangan susulan, mendingan ikut ulangan sekarang saja. Aku tiba di depankelas 12 IPA 1, kelasku. Aku memasuki kelas, dan terperanjat. Oh My God ! Entah ini sesuatu yangterbaik atau terburuk bagiku, yang pasti kini di kelas hanya ada aku, dan sesosok cowok yang paliiingmanis dan paliiiing keren, yang kukenal sepanjang hidupku. Ia duduk di depan bangku yangkutempati,dan berjarak dua bangku. Tidak kusangka, pagi ini hanya ada aku dan Rainald, cowok terkerendan terpintar di kelasku. Wonderfull time ! Aku menundukkan kepala saat lewat di samping Rainald, dansepertinya ia tidak melirikku sedikitpun. Bahkan sampai aku meletakkan tas di atas meja dengan caramembanting tasku, cowok itu tidak bergeming. Aku menopang dagu, sambil menatap punggung Rainalddari belakang. Huff… sudah tiga tahun aku dan Rainald sekelas, mulai dari kelas 10 sampai kelas 12.Tapi… rasanya aku dan Rainald tidak pernah berinteraksi sedikitpun, seolah ia sekolah di bulan dan akudi bumi. Aku masih menatap punggungnya. Tangannya sibuk menulis di kertas coretan. Sepertinya iasedang mempelajari bab fisika yang nanti akan dijadikan ulangan. Hmmp… aku ingin menyapa dia pagiini. Tapi bagaimana caranya ? Aku bukan Citra, anak kelas 11 IPA, sekaligus komandan geng cewek –cewek centil, yang selalu punya waktu luang untuk menemani Rainald main basket. Aku juga bukan Erin,yang boleh keluar pada malam hari hanya untuk menonton Rainald latihan band. Aku juga bukan Jany,cewek culun se-SMU yang punya otak cerdas, dan selalu menjadi “guru privat” Rainald. Aku bukan siapa– siapa. Aku adalah aku, yang tubuhnya kurus dan tinggi seperti tiang listrik. Wajahku biasa saja. Hanyahidung mancungku yang terlihat sempurna dari wajahku. Alisku melengkung, mataku agak sipit danbibirku tebal. Kulitku putih, seperti anak – anak China, tapi aku tidak secantik Citra atau Erin, yangwajahnya menawan dan mempunyai lekuk tubuh yang sempurna. Rambutku hitam kecoklatan, yangtergerai panjang sampai punggung. Yaah, memang aku tidak secantik Asmirandah. Aku juga tidaksepintar Einstein. Aku tidak seperti Aura Kasih, yang tubuhnya sangat sempurna. Aku adalah Melanie,seseorang yang bangga akan dirinya sendiri. Be your self, itu adalah mottoku. Tanpa kusadari, Rainalddengan spontan menoleh dan menatap mataku yang sedang memandangnya saat itu. Aku sedikit kaget.Aku pura – pura mencari buku dalam tasku ketika menyadari ia menatapku. Aduuuh, tengsin banget !Sumpah ! Aku tidak tahu, wajahku seperti apa pada saat ini. Mungkin seperti kepiting rebus ? Atauapalah… yang penting aku malu banget. Ketika memandang ke depanku lagi, Rainald sudah tidakmenatapku. Ia membalikkan badan ke depan, dan sibuk menghitung soal – soal fisika. Aku memaki dirikusendiri. Aku sangat bodoh. Mencintainya sejak dua tahun lalu, tapi tidak bisa kukatakan isi hatiku hinggasekarang. Aku ingin mengajaknya bicara pagi ini, mumpung kita hanya berdua di dalam kelas. Kira – kirabicara apa, ya ? “ Pagi, Rainald “ uhm… terlalu sederhana. Atau seperti ini ? “ Rainald, pinjam bolpoin,dong “ Iiih, kata – kata itu sepertinya kurang pas, deh. Malah mungkin Rainald menganggapku sebagaicewek nggak modal alat sekolah. Or…meybe like this.. “ Rainald, ntar sore latihan basket, ya ? Boleh aku
  2. 2. temani ? “ boleh juga. Atau… “ Rainald, nanti malam aku lihat latihan bandmu dong “ hmm… atau lebihnekatnya lagi.. “ Eh, nanti malam ada film keren, loh di bioskop. Nonton, yuk “ Aku meringis. Tidak adakata yang pas untuk kuucapkan pagi ini. Bukan ! Aku meralat isi hatiku. Kata- kata itu sebenarnya pantasuntuk kuucapkan, hanya saja tak ada keberanian di hatiku. Hanya tatapan mata yang bisa kuberikanuntuk Rainald. Tatapan mata penuh cinta dan kasih sayang. Hanya itu keberanianku yang timbul pagi ini.Tapi, tatapan itu kini pudar sudah, ketika Citra, Erin dan cewek – cewek centil lainnya masuk ke kelas 12IPA 1. Rainald menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang sepertinya terasa hambar itu. Akumenghembuskan nafas. Uuuh… sebel banget lihat cewek – cewek itu duduk di dekat Rainald sambiltertawa dibuat – buat dan gaya jaim yang sangat memuakkan. Walaupun hal itu terlihat sempurna dimata cowok, sayangnya, aku tidak bisa berperilaku seperti mereka, apalagi di depan Rainald Huff… akumenghembuskan nafas dengan nada kecewa. *** Aku menggendong Miau, kucing anggoraku yangsangat lucu. Entah aku berada di mana saat ini. Rasanya, tempat ini belum pernah kulihat. Perumahanyang rata – rata warna rumahnya hijau pastel. Aku menyukai tempat ini, meski diriku sendiri tak tahuaku berada di mana. Kakiku berjalan menyusuri trotoar kecil di pinggir jalan. Perumahan jalan itu begitubesar. Mungkin dua mobil yang berdampingan dapat berjalan di jalan beraspal di kompleks perumahanini. Kakiku terasa letih untuk berjalan kembali, dan betapa girangnya aku melihat sebuah pohon mahoni.Di bawah pohon mahoni terletak sebuah batu yang bisa kujadikan sebagai tempat duduk. Aku duduk dibawah pohon mahoni sambil tetap menggendong Miau. Aku menghembuskan nafas, menikmatipemandangan di sekitarku. Entah mengapa, jalan di perumahan ini rasanya sepi, padahal waktu masihmenunjukkan siang hari. Aku mengamati ke sekelilingku. Sepi. Sunyi. Tapi memang beginilah kondisiperumahan orang – orang kaya. Sepi. Aku mengelus kepala Miau. “ Meoooong !!! “ Miau mengeongdengan keras. Aku menyipitkan mataku menatap Miau. Ia mengeong dengan sangat keras. Matanyatertuju pada jalan aspal di depannya. Aku mengerutkan kening dan menatap jalan aspal itu. Ugh… akuterpana. Jika mataku tidak salah, Rainald berdiri di seberang jalan. Sendirian. Ia menatapku dengantatapan mata yang tajam, lalu mengembangkan senyumannya, yang bagiku adalah senyum manis.Bukan senyum hambar saat bertemu dengan cewek – cewek centil di sekolah. Mau tak mau, akumembalas senyumannya. Mataku lebih terbelalak lagi, saat Rainald menyeberang jalan, setelahmemberi isyarat bahwa ia akan menyeberang jalan dan menuju ke arahku. Aku senang sekali. Mungkindi detik ini, aku bisa mendengar suara lembut Rainald yang berbicara langsung padaku, menyapaku dantertawa di depanku. Saat pertama aku berbicara dengannya setelah hampir tiga tahun memendamperasaanku. Ini adalah saat yang kutunggu ! Rainald menyeberang jalan, tanpa tahu ada sebuah mobilHonda Jazz hitam melaju di pinggir jalan. Aku juga tidak tahu akan kehadiran mobil itu. Rainaldmenatapku dengan tatapan matanya yang sejuk. Aku membalas menatapnya. “ Meoooong !!! “ Miaumengeong dengan keras. Aku tersentak dan menatap Miau. Ada apa ? Mengapa ia mengeong ? Danbaru detik itu pula, aku mendengar suara sesuatu di tengah jalan, dan aku terpekik dengan keras.Rainald tertabrak mobil !!! Miau terlepas dari pelukanku, dan mengeong dengan keras. “ RAINAAAALD!!!!! “ seruku dengan keras, dan tanpa sadar aku membuka mataku. Astaga ! Ternyata hanya mimpi.Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Wajahku penuh dengan keringat, meskipun AC telahkupasang dengan suhu yang paling rendah, namun tetap berkeringat. Aku melihat jam dinding. Astaga !!Setengah enam ! Aku harus mandi dan cepat ke sekolah. Aku melangkah ke kamar mandi untuk cepat –cepat mandi. *** Baru kali ini kutatap mata Rainald. Tatapan mata yang sejuk, membuat terhipnotis. Diabegitu tampan, dan hal itu membuatku duduk di atas batu selayaknya seorang patung. “ Meoooong !!! “
  3. 3. Miau mengeong. Ia terlepas dari pelukanku. “ Miau, kenapa ? “ tanyaku. Aku memperhatikan Miau, dantak lama kemudian…… “ RAINAAAALD !!!!!! “ aku berseru. Tubuh Rainald terguling di jalan raya.Keningnya basah oleh tetesan darah, membuatku membuka mata kembali. Ugh… mimpi lagi ! Kenapa,sih mimpi buruk itu menghantuiku selama tiga hari ? Apakah hal itu akan benar – benar terjadi ? Ugh…cepat kubuang pikiran buruk itu. Aku melihat jam dinding. Pukul 5. Aku memutuskan untuk segeraShalat Subuh, agar melupakan masalah itu dengan cepat. *** “ Meooong !!! “ Miau mengeong dengankeras. Aku menatap kucing peliharaanku itu, karena Miau telah melepaskan diri dari pelukanku. Ketikahendak berlari mengejar Miau, sebuah Honda Jazz berwarna hitam, tanpa di ketahui siapapengemudinya, menghantam tubuh Rainald dengan keras, menyisakan darah yang keluar dari tubuhRainald. Mobil Honda Jazz hitam itu, dengan kaca pengemudi tertutup rapat, tidak meninggalkantempat. Mobil itu hanya terdiam di depan mayat Rainald, membuatku tak kuasa untuk tidak berteriak. “RAINAAAAALD !!!! “ seruku lantang, dan kembali lagi aku bangun dari tidurku. Aku mengusap keringat diwajahku. Astaga, mimpi ini telah hadir selama dua minggu. Kenapa… dua minggu ini aku semakin jelasmelihat jalannya kematian Rainald ? Apakah ini deja vu ? Uups.. aku membuang pikiran itu. Mungkinkarena aku terlalu banyak nonton film, jadinya mimpi seperti ini. Tapi… kenapa mimpi ini selalu hadirselama dua minggu ? Apakah ini akan menjadi kenyataan ? “ Tidak, Rainald tidak boleh mati “ akubergumam sambil menendang selimut yang menutupi tubuhku sampai batasan pinggul. Aku harusmemberitahukan hal ini pada Rainald ! Harus ! Pagi ini juga, aku akan berkata hal itu pada Rainald ! ***Perpustakaan dipenuhi murid – murid berseragam abu – abu putih saat istirahat. Aku masuk ke dalamperpustakaan untuk mencari buku fisika. Ketika aku mencari buku fisika latihan soal di rak buku Sains,seseorang yang sangat kucintai, namun kehadirannya tidak kuinginkan, hadir di sebelahku. Ia munculsecara tiba – tiba, dan menarik sebuah buku yang ada di rak buku Sains. Ia membuka – buka buku itu,dan menatap isi buku itu dengan serius. Aku ingin menjauh darinya saat itu juga. Ketika badanku akanberbalik, aku teringat. Teringat mimpiku yang menghantuiku selama dua minggu ini. Saat yang tepatuntuk berkata dengan Rainald, karena saat ini Rainald sedang sendiri di perpustakaan. Tidak adagengnya Citra yang suka mengikutinya kemanapun Rainald pergi, tidak ada teman band atau temanbasket Rainald. Hanya ada aku dan Rainald di perpustakaan. Yap… aku harus mengatakannya padaRainald. Satu… dua… tiga… ! “ Ehm… Rainald “ panggilku. Tiba – tiba hatiku menciut. Bodoh, buat apaaku memanggil namanya ? Ugh… aku cewek bodoh sedunia. Rainald menoleh ke arahku dan tersenyum.“ Kenapa, Melanie ? “ tanya Rainald ramah. Seketika, nyaliku untuk berkata pada Rainald kini telahmenghilang. “ Ehm… aku mau pinjam buku itu “ tanpa pikir panjang, kata – kata itu telah keluar darimulutku, menunjuk buku yang sedang di genggam Rainald. Rainald menatap bukunya dan tersenyum,senyum manis yang kulihat seperti di mimpiku. “ Ambil aja. Aku hanya mau lihat – lihat buku aja, kok “ucap Rainald sambil menyerahkan buku itu ke arahku. Aku membalas senyumannya, dan membalikkanbadan, menjauh dari perpustakaan. Aku tercengang. Hari ini, adalah hari pertamaku berbicara denganRAINALD !! Perasaanku lega campur gelisah. Lega, karena sudah mendengar suara lembut Rainald yangditujukannya padaku untuk pertama kalinya. Dan gelisah, karena tidak mengungkapkan sesuatu yangmenghantuiku selama ini. *** Esok harinya…. Aku berdecak saat mobil belum datang. Aku menunggu didepan gerbang sekolah, sambil mengetik SMS ke Kak Marsya, kakakku yang telah kuliah di bidangbiokimia, untuk menjemputku saat ini juga. Karena SMS tidak kunjung di balas, aku memencet nomorHP Kak Marsya untuk meneleponnya. “ Halo, Kak Marysa ?! Kakak di mana ? Kok nggak nongol – nongol,sih ?! Melanie capek, nih nunggu Kak Marsya “ ucapku manja sambil memonyongkan bibir. “ Aduuh…
  4. 4. Melanie. Kakak lagi makan siang, nih di kampus. Lima belas menit lagi, deh kakak ke sana “ ucap KakMarsya. “ Iya, iya. Cepet, ya. Nggak pake lama “ ucapku sambil mematikan telepon. Dasar Kak Masrya !Molor terus, nih kerjaannya. “ Hai “ sapa seseorang dari belakangku. Aku menoleh ke belakang dan……..astaga !! Rainald ! Tidak, tidak… aku gugup sekali saat ini. Hatiku deg – degan saat berhadapan dengansosok Rainald saat ini. “ Ehm… hai juga “ mau tak mau aku harus membalas perkataannya. Jantungkuberdetak dengan kencang. “ Nunggu jemputan ? “ tanya Rainald ramah. Kedua tangannyamenggenggam tali ranselnya, sedangkan wajahnya menatapku dengan ramah. Aku mengangguk. “ Iya “aku hanya menjawab sekenanya. Sungguh ingin melayang ke langit ketujuh, saat ini, saat Rainaldmengajakku bicara !! Apalagi sekarang kita berdua berdiri di depan pagar. Berdua saja ! Citra, Erin,cewek – cewek sepopuler apapun di SMUku, tidak pernah mengalami saat indah sepertiku ini. Akumerasa beruntung. Tiba – tiba, aku teringat soal mimpiku yang menghantuiku semalam. Tapi, rasanyamalu sekali jika berbicara pada Rainald. Kami berdua diam agak lama, dan akhirnya…. “ Eh, itujemputanku udah datang. Duluan, ya Melanie “ ucap Rainald dan berlari ke arah mobil Jaguar yangmenjemputnya. Aku balas melambaikan tangan pada Rainald. Yaah… aku memang pemalu. Dan akuyakin, sampai matipun aku tidak akan bisa berkata tentang mimpiku, apalagi perasaanku pada Rainald.*** “ Buruan, deh Mel ! Cepet ! Kakak butuh ! “ seru Kak Marsya dari telepon. Aku yang sedang makansiang, cemberut mendengar kata – kata Kak Marsya. “ Yeeeh, makanya lain kali makalahnya janganditinggal di rumah, dong “ sahutku. “ Mel, kan selama ini kalau buku PR kamu ketinggalan, kakak yangantar. Sekarang, kamu yang antar, dong “ gerutu Kak Marsya. “ Iya, iya ! Bawel ! Harus kuantar ke mana,nih ? “ tanyaku. “ Ke rumahnya Awit, temanku. Nanti kakak SMS alamatnya Awit, deh “ ucap KakMarsya. “ Oke. Tapi Melanie ke sana naik apa, nih ? “ tanyaku. “ Mobilnya Mama. Cepet, ya ! Gak pakelama “ ucap Kak Marsya, lalu mematikan telepon. Aku tersenyum girang. Yess !! Akhirnya, aku bolehjuga naik mobil baru Mama. Haha… senang juga boleh mengendarai mobil, meskipun belum buat SIM.Aku mengambil makalah Kak Marsya di kamarnya, lalu mengambil sandalku di rak sepatu. Kupakaisandal itu, lalu mengambil kunci mobil yang di gantung di paku dekat pintu masuk. Lalu menuju garasidan menyalakan mesin mobil. Setelah menggerakkan tongkat porsneling, kuinjak gas dan mobil melajudengan kencang. “ Hmmm… jalan Dieng.. jalan Dieng “ aku bergumam ketika melihat SMS dari KakMarsya yang menunjukkan alamat rumah temannya. Aku menjalankan mobil dengan hati – hati ketikamemasuki Jalan Dieng, karena sebelumnya aku belum pernah memasuki tempat ini. Meskipun sejakSMP aku tinggal di kota ini, sayangnya aku belum tahu di mana letaknya jalan Dieng. Makanya aku butaarah jika memasuki kawasan jalan Dieng. “ Belok kanan… terus cari perumahan Green Diamond. RumahAwit adalah rumah nomor 6. Di depan rumahnya ada pohon mahoni “ aku membaca deskripsi rumahteman Kak Marsya. Aku membelokkan mobil ke tikungan kanan. Uhh… pantas perumahan ini di berinama Green Diamond. Rumahnya rata – rata bercat hijau pastel, sih. Tiba – tiba aku tersentak.Sepertinya…… aku pernah ke tempat ini. Tapi sama siapa ? Aku terperanjat. Tanganku yang memegangsetir, semakin dingin saat menyadari bahwa mobil yang kubawa adalah mobil Honda Jazz. Honda Jazzhitam !! Dan ini adalah perumahan yang pernah hadir di dalam mimpiku ! Iya, benar ! Saat itu, akumenggendong Miau dan mengajaknya jalan – jalan di daerah yang ciri khasnya sama dengan jalan Diengyang kudatangi saat ini, tempat yang baru pertama kali kulihat secara nyata, bukan secara abstrak.Namun, aku berdoa, semoga kejadian dalam mimpiku tidak benar – benar terjadi. Sayangnya, aku salahduga. Di seberang jalan, Rainald yang memakai jaket putih sedang menyeberang jalan, tanpa melihatkanan kiri. Aku kaget. “ RAINAAAALD !!!! “ aku berseru. Aku mencoba menginjak rem dan….. rem
  5. 5. mobilnya blong !!! Aku menekan klakson, namun terlambat. Mobil sudah terlalu dekat dengan Rainald.Tak ada jalan lain. Aku membanting setir mobil ke kiri dan mobilku berhadapan langsung dengan pohonmahoni, pohon yang kutempati sebelum melihat mayat Rainald dalam mimpiku. Dan kejadian buruk itumenimpaku. Mobilku menabrak pohon mahoni. Kepalaku membentur setir. Kurasakan ada sesuatu yangdingin mengalir di keningku. Entah… sepertinya darah. Aku hanya bisa menangis dalam hati. Seharusnya,Rainald tahu akan mimpiku sejak lama. Seandainya aku bisa berkata secepatnya dengan Rainald.Seandainya aku berani berkata semuanya pada Rainald….. Seandainya Rainald tahu tentang semua yangia tidak tahu…..

×