Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Memahami Islam Secara Komprehensif

9,512 views

Published on

Ms. Ari Ulfa

Published in: Education
  • Be the first to comment

Memahami Islam Secara Komprehensif

  1. 1. 1 MEMAHAMI ISLAM SECARA KOMPREHENSIF A. PENGERTIAN ISLAM 1. Secara Etimologis Secara etimologis (asal-usul kata, lughawi) kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Sebagaimana firman Allah SWT: “Bahkan, barangsiapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati” (Q.S. Al-Baqarah: 112). Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya1. Hal senada dikemukakan Hammudah Abdalati. Menurutnya, kata “Islam” berasal dari akar kata Arab, SLM (Sin, Lam, Mim) yang berarti kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan ketundukkan.2 Hubungan antara pengertian asli dan pengertian religius dari kata Islam adalah erat dan jelas. Hanya melalui penyerahan diri kepada kehendak Allah SWT dan ketundukkan atas hukum-Nya, maka seseorang dapat mencapai kedamaian sejati dan menikmati kesucian abadi. Ada juga pendapat, akar kata yang membentuk kata “Islam” setidaknya ada empat yang berkaitan satu sama lain. 2. Secara Terminologis Secara terminologis (istilah, maknawi) dapat dikatakan, Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. 1 Nasruddin Razak, Dienul Islam, Al-Ma’arif Bandung, 1989, hlm. 56-57 2 Hammudah Abdalati, Islam in Focus, American Trust Publications Indianapolis-Indiana, 1975, hlm. 7.
  2. 2. 2 Cukup banyak ahli dan ulama yang berusaha merumuskan definisi atau pengertian Islam secara terminologis. KH Endang Saifuddin Anshar mengemukakan, setelah mempelajari sejumlah rumusan tentang agama Islam, lalu menganalisisnya, ia merumuskan dan menyimpulkan pengertian Islam, bahwa agama Islam adalah: a) Wahyu yang diurunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa dan setiap persada. b) Suatu sistem keyakinan dan tata-ketentuan yang mengatur segala perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam pelbagai hubungan: dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lainnya. c) Bertujuan: keridhaan Allah, rahmat bagi segenap alam, kebahagiaan di dunia dan akhirat. d) Pada garis besarnya terdiri atas akidah, syariat dan akhlak. e) Bersumberkan Kitab Suci Al-Quran yang merupakan kodifikasi wahyu Allah SWT sebagai penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya yang ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah SAW.3 3. Menurut Para Ahli a) Syaikh Muhammad bin' Abdul Wahab rahimahullah, ''Islam berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk dan patuh kepada-nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya. b) Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah at-tawaijiri, "Islam adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dengan mengesakann-Nya dan melaksanakan syariat-Nya denga penuh ketaatan atau melepaskan dari kesyirikan. c) Umar bin Khatab, " Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Muhammad SAW. Agama ini meliputi : Akidah, Syariah, dan Akhlak. Adapun Isi penjelasan sesuai dengan definisi Umar bin Khattab,ra. dijabarkan sebagai berikut: 3 Endang Saifuddin Anshari, Kuliah Al-Islam, Pusataka Bandung, 1978, hlm. 46.
  3. 3. 3 1) Aqidah adalah kepercayaan terhadap Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, rasul-nya, hari akhir dan qadha dan qadhar Allah. Aqidah sering dikatakan sebagai pondasi iman seseorang, sehingga apabila goyah aqidahnya maka menjadi tidak berarti dan bahkan tidak diterima ibadahnya maupun amal perbuatannya yang lain. 2) Syari'ah adalah segala bentuk peribadatan baik ibadah khusus yaitu thaharah, shalat, zakat, puasa dan haji maupun ibadah umum (muamalah) seperti hukum, ekonomi, politik, pendidikan, jual beli, sosial. istilah syari'ah berarti aturan atau undang-undang yang diturunkan Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan alam semesta. 3) Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia dan menimbulkan perbuatan ynag mudah tanpa memerlukan pertimbangan pikiran. B. SUMBER AJARAN ISLAM Sumber ajaran Islam pertama dan kedua (Al-Quran dan Hadits/As-Sunnah) langsung dari Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Sedangkan yang ketiga (ijtihad) merupakan hasil pemikiran umat Islam, yakni para ulama mujtahid (yang berijtihad), dengan tetap mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunnah. 1. Al-Quran Secara harfiyah, Al-Quran artinya “bacaan” (qoroa, yaqrou, quranan), sebagaimana firman Allah dalam Q.S. 75:17-18: “Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya dan ‘membacanya’. Jika Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah ‘bacaan’ itu”. Al-Quran adalah kumpulan wahyu atau firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, berisi ajaran tentang keimanan (akidah/tauhid/iman), peribadahan (syariat), dan budi pekerti (akhlak). Al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW, bahkan terbesar pula dibandingkan mukjizat para nabi sebelumnya. Al-Quran membenarkan Kitab-Kitab sebelumnya dan menjelaskan hukum- hukum yang telah ditetapkan sebelumnya. “Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Quran itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab sebelumnya...” (Q.S. 35:31).
  4. 4. 4 Al-Quran dalam wujud sekarang merupakan kodifikasi atau pembukuan yang dilakukan para sahabat. Pertama kali dilakukan oleh shabat Zaid bin Tsabit pada masa Khalifah Abu Bakar, lalu pada masa Khalifah Utsman bin Affan dibentuk panitia ad hoc penyusunan mushaf Al-Quran yang diketuai Zaid. Karenanya, mushaf Al-Quran yang sekarang disebut pula Mushaf Utsmani. 2. Hadits (As-Sunnah) Hadits disebut juga As-Sunnah. Sunnah secara bahasa berarti "adat-istiadat" atau "kebiasaan" (traditions). Sunnah adalah segala perkataan, perbuatan, dan penetapan/persetujuan serta kebiasaan Nabi Muhammad SAW. Penetapan (taqrir) adalah persetujuan atau diamnya Nabi SAW terhadap perkataan dan perilaku sahabat. Kedudukan As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam dijelaskan Al-Quran dan sabda Nabi Muhammad SAW. “Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang (selama kalian berpegang teguh dengan keduanya) kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah-ku.” (HR. Hakim dan Daruquthni). “Berpegangteguhlah kalian kepada Sunnahku dan kepada Sunnah Khulafaur Rasyidin setelahku.”(H.R. Abu Daud). Sunnah merupakan “penafsir” sekaligus “juklak” (petunjuk pelaksanaan) Al- Quran. Sebagai contoh, Al-Quran menegaskan tentang kewajiban shalat dan berbicara tentang ruku’ dan sujud. Sunnah atau Hadits Rasulullah-lah yang memberikan contoh langsung bagaimana shalat itu dijalankan, mulai takbiratul ihram, doa iftitah, bacaan Al- Fatihah, gerakan ruku’, sujud, hingga bacaan tahiyat dan salam. Kodifikasi Hadits dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (100 H/718 M), lalu disempurnakan sistematikanya pada masa Khalifah Al-Mansur (136 H/174 M). Para ulama waktu itu mulai menyusun kitab Hadits, di antaranya Imam Malik di Madinah dengan kitabnya Al-Mutwaththa, Imam Abu Hanifah menulis Al-Fqhi, serta Imam Syafi’i menulis Ikhtilaful Hadits, Al-Um, dan As-Sunnah. Berikutnya muncul Imam Ahmad dengan Musnad-nya yang berisi 40.000 Hadits. Ulama Hadits terkenal yang diakui kebenarannya hingga kini adalah Imam Bukhari (194 H/256 M) dengan kitabnya Shahih Bukhari dan Imam Muslim (206 H/261
  5. 5. 5 M) dengan kitabnya Shahih Muslim. Kedua kitab Hadits itu menjadi rujukan utama umat Islam hingga kini. Imam Bukhari berhasil mengumpulkan sebanyak 600.000 hadits yang kemudian diseleksinya. Imam Muslim mengumpulkan 300.000 hadits yang kemudian diseleksinya. Ulama Hadits lainnya yang terkenal adalah Imam Nasa'i yang menuangkan koleksi haditsnya dalam Kitab Nasa'i, Imam Tirmidzi dalam Shahih Tirmidzi, Imam Abu Daud dalam Sunan Abu Daud, Imam Ibnu Majah dalam Kitab Ibnu Majah, Imam Baihaqi dalam Sunan Baihaqi dan Syu'bul Imam, dan Imam Daruquthni dalam Sunan Daruquthni. 3. Ijtihad Ijtihad adalah berpikir keras untuk menghasilkan pendapat hukum atas suatu masalah yang tidak secara jelas disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Pelakunya disebut Mujtahid. Kedudukan Ijtihad sebagai sumber hukum atau ajaran Islam ketiga setelah Al- Quran dan As-Sunnah, diindikasikan oleh sebuah Hadits (Riwayat Tirmidzi dan Abu Daud) yang berisi dialog atau tanya jawab antara Nabi Muhammad SAW dan Mu’adz bin Jabal yang diangkat sebagai Gubernur Yaman. “Bagaimana memutuskan perkara yang dibawa orang kepada Anda?” “Hamba akan memutuskan menurut Kitabullah (Al-Quran).” “Dan jika di dalam Kitabullah Anda tidak menemukan sesuatu mengenai soal itu?” “Jika begitu, hamba akan memutuskannya menurut Sunnah Rasulillah.” “Dan jika Anda tidak menemukan sesuatu mengenai hal itu dalam Sunnah Rasulullah?” “Hamba akan mempergunakan pertimbangan akal pikiran sendiri (Ijtihadu bi ra’yi) tanpa bimbang sedikit pun.” “Segala puji bagi Allah yang telah menyebabkan utusan Rasulnya menyenangkan hati Rasulullah!” Hadits tersebut diperkuat sebuah fragmen peristiwa yang terjadi saat-saat Nabi Muhammad SAW menghadapi akhir hayatnya. Ketika itu terjadi dialog antara seorang sahabat dengan Nabi Muhammad SAW.
  6. 6. 6 “Ya Rasulallah! Anda sakit. Anda mungkin akan wafat. Bagaimana kami jadinya?” “Kamu punya Al-Quran!” “Ya Rasulallah! Tetapi walaupun dengan Kitab yang membawa penerangan dan petunjuk tidak menyesatkan itu di hadapan kami, sering kami harus meminta nasihat, petunjuk, dan ajaran, dan jika Anda telah pergi dari kami, Ya Rasulallah, siapakah yang akan menjadi petunjuk kami?” “Berbuatlah seperti aku berbuat dan seperti aku katakan!” “Tetapi Rasulullah, setelah Anda pergi peristiwa-peristiwa baru mungkin timbul yang tidak dapat timbul selama hidup Anda. Kalau demikian, apa yang harus kami lakukan dan apa yang harus dilakukan orang-orang sesudah kami?” “Allah telah memberikan kesadaran kepada setiap manusia sebagai alat setiap orang dan akal sebagai petunjuk. Maka gunakanlah keduanya dan tinjaulah sesuatu dan rahmat Allah akan selalu membimbing kamu ke jalan yang lurus!” Ijtihad adalah “sarana ilmiah” untuk menetapkan hukum sebuah perkara yang tidak secara tegas ditetapkan Al-Quran dan As-Sunnah. Pada dasarnya, semua umat Islam berhak melakukan Ijtihad, sepanjang ia menguasai Al-Quran, As-Sunnah, sejarah Islam, juga berakhlak baik dan menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Lazimnya, Mujtahid adalah para ulama yang integritas keilmuan dan akhlaknya diakui umat Islam. Hasil Ijtihad mereka dikenal sebagai fatwa. Jika Ijtihad dilakukan secara bersama-sama atau kolektif, maka hasilnya disebut Ijma’ atau kesepakatan.
  7. 7. 7 C. PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA 1. Awal Masuknya Islam di Indonesia Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme, dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan dibeberapa wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha. Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya. Namun Islam datang ke wilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik, karena Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia, menghilangkan perbudakan dan yang paling penting juga adalah masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimah syahadat dan tidak ada paksaan. Tentang kapan Islam datang masuk ke Indonesia, menurut kesimpulan seminar “masuknya Islam di Indonesia” pada tanggal 17 s.d 20 Maret 1963 di Medan, Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriyah (7 masehi). Menurut sumber lain menyebutkan bahwa Islam sudah mulai ekspedisinya ke Nusantara pada masa Khulafaur Rasyidin (masa pemerintahan Abu Bakar). 2. Cara masuknya Islam Dengan cara damai dan persuasif berkat kegigihan para ulama. Karena memang para ulama berpegang teguh pada prinsip Q.S. al-Baqarah ayat 256 : Artinya : “Tidak ada paksaan dalam agama.” (Q.S. al-Baqarah ayat 256) Adapun cara masuknya Islam di Indonesia melalui beberapa cara antara lain: a) Perdagangan b) Kultural c) Pendidikan d) Kekusaan politik
  8. 8. 8 3. Perkembangan Islam dibeberapa wilayah nusantara a) Di Sumatera Nusantara yang mula-mula dimasuki Islam adalah pantai barat pulau Sumatra dan daerah Pasai yang terletak di Aceh utara yang kemudian di masing- masing kedua daerah tersebut berdiri kerajaan Islam yang pertama yaitu kerajaan Islam Perlak dan Samudra Pasai. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh” yang digelar tahun 1978 disebutkan bahwa kerajaan Islam yang pertama adalah kerajaan Perlak. Namun ahli sejarah lain telah sepakat, Samudra Pasailah kerajaan Islam yang pertama di Nusantara dengan rajanya yang pertama adalah Sultan Malik Al-Saleh (1261-1297 M). Sultan Malik Al-Saleh semula bernama Marah Silu. Setelah mengawini putri raja Perlak kemudian masuk Islam berkat pertemuannya dengan utusan Syarif Mekkah yang kemudian memberi gelar Sultan Malik Al-Saleh. Kerajaan Pasai sempat diserang oleh Majapahit di bawah panglima Gajah Mada, tetapi bisa dihalau. Ini menunjukkan bahwa kekuatan Pasai cukup tangguh dikala itu.Pada tahun 1521 di taklukkan oleh Portugis dan mendudukinya selama tiga tahun. Pada tahun 1524 M Pasai dianeksasi oleh raja Aceh, Ali Mughayat Syah. Selanjutnya kerajaan Samudra Pasai berada di bawah pengaruh keSultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam (sekarang dikenal dengan kabupaten Aceh Besar). Munculnya kerajaan baru di Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam, hampir bersamaan dengan jatuhnya kerajaan Malaka karena pendudukan Portugis. Dibawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim kerajaan Aceh terus mengalami kemajuan besar. Saudagar-saudagar muslim yang semula berdagang dengan Malaka memindahkan kegiatannya ke Aceh. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam ( 1607 - 1636). Kerajaan Aceh ini mempunyai peran penting dalam penyebaran Agama Islam ke seluruh wilayah Nusantara. Para da’i, baik lokal maupun yang berasal dari Timur terus berusaha menyampaikan ajaran Islam ke seluruh wilayah Nusantara. Hubungan yang telah terjalin antara kerajaan Aceh dengan Timur Tengah terus
  9. 9. 9 semakin berkembang. Tidak saja para ulama dan pedagang Arab yang datang ke Indonesia, tapi orang-orang Indonesia sendiri banyak pula yang hendak mendalami Islam datang langsung ke sumbernya di Mekah atau Madinah. Kapal-kapal dan ekspedisi dari Aceh terus berlayar menuju Timur Tengah pada awal abad ke 16. Bahkan pada tahun 974 H (1566 M) dilaporkan ada 5 kapal dari kerajaan Asyi (Aceh) yang berlabuh di bandar pelabuhan Jeddah. Ukhuwah yang erat antara Aceh dan Timur Tengah itu pula yang membuat Aceh mendapat sebutan Serambi Mekah. b) Di Jawa Pada tahun 674 M sampai tahun 675 M. sahabat Nabi, Muawiyah bin Abi Sufyan pernah singgah di tanah Jawa (Kerajaan Kalingga) menyamar sebagai pedagang. Bisa jadi Muawiyah saat itu baru penjajagan saja, tapi proses dakwah selanjutnya dilakukan oleh para da’i yang berasal dari Malaka atau kerajaan Pasai sendiri. Sebab saat itu lalu lintas atau jalur hubungan antara Malaka dan Pasai disatu pihak dengan Jawa dipihak lain sudah begitu pesat. Adapun gerakan dakwah Islam di Pulau Jawa selanjutnya dilakukan oleh para Wali Sanga, yaitu : 1) Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik (Syeikh Magribi) 2) Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) 3) Sunan Giri (Raden Aenul Yaqin atau Raden Paku) 4) Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim) 5) Sunan Kalijaga (Raden Syahid) 6) Sunan Drajat 7) Syarif Hidayatullah 8) Sunan Kudus 9) Sunan Muria c) Di Selawesi Pada tahun 1540 saat datang ke Sulawesi, di tanah ini sudah ditemui pemukiman muslim di beberapa daerah. Meski belum terlalu banyak, namun upaya dakwah terus berlanjut dilakukan oleh para da’i di Sumatra, Malaka dan Jawa hingga
  10. 10. 10 menyentuh raja-raja di kerajaan Gowa dan Tallo atau yang dikenal dengan negeri Makasar, terletak di semenanjung barat daya pulau Sulawesi. Kerajaan Gowa ini mengadakan hubungan baik dengan kerajaan Ternate dibawah pimpinan Sultan Babullah yang telah menerima Islam lebih dahulu. Melalui seorang da’i bernama Datuk Ri Bandang agama Islam masuk ke kerajaan ini dan pada tanggal 22 September 1605 Karaeng Tonigallo, raja Gowa yang pertama memeluk Islam yang kemudian bergelar Sultan Alaudin Al Awwal (1591-1636 ) dan diikuti oleh perdana menteri atau Wazir besarnya, Karaeng Matopa. Setelah resmi menjadi kerajaan bercorak Islam Gowa Tallo menyampaikan pesan Islam kepada kerajaan-kerajaan lain seperti Luwu, Wajo, Soppeng dan Bone. Raja Luwu segera menerima pesan Islam diikuti oleh raja Wajo tanggal 10 Mei 1610 dan raja Bone yang bergelar Sultan Adam menerima Islam tanggal 23 November 1611 M. Dengan demikian Gowa (Makasar) menjadi kerajaan yang berpengaruh dan disegani. Pelabuhannya sangat ramai disinggahi para pedagang dari berbagai daerah dan manca negara. Hal ini mendatangkan keuntungan yang luar biasa bagi kerajaan Gowa (Makasar). Puncak kejayaan kerajaan Makasar terjadi pada masa Sultan Hasanuddin (1653-1669). d) Di Kalimantan Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo melalui tiga jalur. Jalur pertama melalui Malaka yang dikenal sebagai kerajaan Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar sebab para muballig dan komunitas muslim kebanyakan mendiamai pesisir barat Kalimantan. Jalur kedua, Islam datang disebarkan oleh para muballig dari tanah Jawa. Ekspedisi dakwah ke Kalimantan ini mencapai puncaknya saat kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan banyak Muballig ke negeri ini. Para da’i tersebut berusaha mencetak kader-kader yang akan melanjutkan misi dakwah ini. Maka lahirlah ulama besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Jalur ketiga para da’i datang dari Sulawesi (Makasar) terutama da’i yang terkenal saat itu adalah Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan.
  11. 11. 11 1) Kalimantan Selatan Masuknya Islam di Kalimantan Selatan adalah diawali dengan adanya krisis kepemimpinan dipenghujung waktu berakhirnya kerajaan Daha Hindu. Saat itu Raden Samudra yang ditunjuk sebagai putra mahkota oleh kakeknya, Raja Sukarama minta bantuan kepada kerajaan Demak di Jawa dalam peperangan melawan pamannya sendiri, Raden Tumenggung Sultan Demak (Sultan Trenggono) menyetujuinya, asal Raden Samudra kelak bersedia masuk Islam. Dalam peperangan itu Raden Samudra mendapat kemenangan. Maka sesuai dengan janjinya ia masuk Islam beserta kerabat keraton dan penduduk Banjar. Saat itulah tahun (1526 M) berdiri pertama kali kerajaan Islam Banjar dengan rajanya Raden Samudra dengan gelar Sultan Suryanullah atau Suriansyah. Raja-raja Banjar berikutnya adalah Sultan Rahmatullah (putra Sultan Suryanullah), Sultan Hidayatullah (putra Sultan Rahmatullah dan Marhum Panambahan atau Sultan Musta’in Billah. Wilayah yang dikuasainya meliputi daerah Sambas, Batang Lawai, Sukadana, Kota Waringin, Sampit Medawi, dan Sambangan. 2) Kalimantan Timur Di Kalimantan Timur inilah dua orang da’i terkenal datang, yaitu Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan, sehingga raja Kutai (raja Mahkota) tunduk kepada Islam diikuti oleh para pangeran, para menteri, panglima dan hulubalang. Untuk kegiatan dakwah ini dibangunlah sebuah masjid. Tahun 1575 M, raja Mahkota berusaha menyebarkan Islam ke daerah-daerah sampai ke pedalaman Kalimantan Timur sampai daerah Muara Kaman, dilanjutkan oleh Putranya, Aji Di Langgar dan para penggantinya. e) Di Maluku Kepulauan Maluku terkenal di dunia sebagai penghasil rempah-rempah, sehingga menjadi daya tarik para pedagang asing, tak terkecuali para pedagang muslim baik dari Sumatra, Jawa, Malaka atau dari manca negara. Hal ini menyebabkan cepatnya perkembangan dakwah Islam di kepulauan ini. Islam masuk ke Maluku sekitar pertengahan abad ke 15 atau sekitar tahun 1440 dibawa oleh para pedagang muslim
  12. 12. 12 dari Pasai, Malaka dan Jawa (terutama para da’i yang dididik oleh para Wali Sanga di Jawa). Tahun 1460 M, Vongi Tidore, raja Ternate masuk Islam. Namun menurut H.J De Graaft (sejarawan Belanda) bahwa raja Ternate yang benar-benar muslim adalah Zaenal Abidin (1486-1500 M). Setelah itu Islam berkembang ke kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku. Tetapi diantara sekian banyak kerajaan Islam yang paling menonjol adalah dua kerajaan , yaitu Ternate dan Tidore. Raja-raja Maluku yang masuk Islam seperti : 1) Raja Ternate yang bergelar Sultan Mahrum (1465-1486). 2) Setelah beliau wafat digantikan oleh Sultan Zaenal Abidin yang sangat besar jasanya dalam menyiarkan Islam di kepulauan Maluku, Irian bahkan sampai ke Filipina. 3) Raja Tidore yang kemudian bergelar Sultan Jamaluddin. 4) Raja Jailolo yang berganti nama dengan Sultan Hasanuddin. 5) Pada tahun 1520 Raja Bacan masuk Islam dan bergelar Zaenal Abidin. Selain Islam masuk dan berkembang di Maluku, Islam juga masuk ke Irian yang disiarkan oleh raja-raja Islam di Maluku, para pedagang dan para muballig yang juga berasal dari Maluku. Daerah-daerah di Irian Jaya yang dimasuki Islam adalah : Miso, Jalawati, Pulau Waigio dan Pulau Gebi. D. KARAKTERISTIK AJARAN ISLAM Istilah karakteristik ajaran Islam terdiri dari dua kata: karakteristik dan ajaran Islam. Kata karakteristik dalam kamus bahasa Indonesia, diartikan sesuatu yang mempunyai karakter atau sifat yang khas. Islam dapat diartikan agama yang diajarkan nabi Muhammad SAW yang berpedoman pada kitab suci al Qur'an dan diturunkan di dunia ini melalui wahyu allah SWT. Berarti karakteristik ajaran Islam dapat diartikan sebagai ciri yang khas ataukhusus yang mempelajari tentang berbagai ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia dalam berbagai bidang agama, muamalah (kemanusiaan), yang didalamnya temasuk ekonomi,social, politik, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan disiplin ilmu yang baik dan benar.konsepsi Islam dalam berbagai bidang yang menjadi karakteristiknya itu dapat dikemukakansebagai berikut.
  13. 13. 13 1. Dalam Bidang Agama Menurut Nurcholis Majid dalam bukunya, bahwa dalam bidang agama, Islam mengakui adanya pluralisme. Dan Islam adalah agama yang kitab sucinya yang dengan tegas mengakui hak agama lain, kecuali yang berdasarkan paganisme dan syirik. Karena itu agama tidak boleh dipaksakan. (QS. Al-Baqara:256). Bahwa Al- Quran juga mengisyaratkan bahwa para penganut berbagai agama, asalkan percaya kepada Allah dan hari akhir serta berbuat baik, semuanya akan selamat. (QS. Al- Baqarah: 62). Inilah yang menjadi dasar toleransi agama yang menjadi ciri khas Islam dalam sejarahnya yang otentik, suatu semangat yang merupakan kelanjutan pelaksanaan ajaran Al-Quran.4 2. Dalam Bidang Ibadah Secara harfiah ibadah berarti bakti manusia kepada Allah SWT, karena didorong dan dibangkitkan oleh akidah tauhid.5 Ibadah adalah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi semua larangan- Nya. 3. Dalam Bidang Akidah Karakteristik Islam yang dapat diketahui melalui bidang akidah ialah bahwa akidah Islam bersifat murni baik dalam isinnya maupun prosesnya. Yang diakui sebagai Tuhan yang wajib disembah hanyalah Allah SWT.6 4. Dalam Bidang Ilmu dan Kebudayaan Karakteristik ajaran Islam dalam bidang ilmu dan kebudayaan bersikap terbuka, akomodatif, tetapi juga selekttif. Dari satu segi Islam terbuka dan sangat akomodatif untuk menerima berbagai masukan dari luar, tetapi bersamaan denga itu Islam juga selektif, yakni tidak begitu saja menerima seluruh jenis ilmu dan kebudayaan, melainkan ilmu dan kebudayaan yang sejalan dengan Islam. 4 Nurcholis Majid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992), cet. II, hlm.IXXViii. 5 QS. Adz-Dzariyat:56 6 Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A.Metodologi Studi Islam, cetakan kesembilan, (Jakarta, PT RajaGrafindo,2004), p.84.
  14. 14. 14 5. Dalam Bidang Pendidikan Sejalan dengan bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan tersebut di atas,Islam juga memiliki ajaran yang khas dalam pendidikan. Islam memandang bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap orang, laki-laki maupun perempuan, dan berlangsung sepanjang hayat. Seperti yang terkutip di hadist Rasul. "Menuntut ilmu itu adalah wajib bagi orang Islam laki-laki dan perempuan. Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat". 6. Dalam Bidang Sosial Ajaran Islam dalam bidang sosial adalah yang paling menonjol karena seluruh bidang ajaran Islam adalah untuk kesejahteraan manusia. Islam menjunjung tinggi tolong-menolong, saling menasehati tentang hak dan kesabaran, kesetiakawanan, kerukunan antar tetangga, tenggang rasa dan kebersamaan. 7. Dalam Bidang Kehidupan Ekonomi Seperti hadist nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Mubarak yang artinya: “Bukanlah termasuk orang yang baik diantara kamu adalah orang yang meninggalkan dunia untuk mengejar kehidupan akhirat, danorang yang meninggalkan akhirat untuk mengejar kehidupan dunia. Orang yang baik adalah orang yang meraih keduanya secara seimbanng, karena dunia adalah alat untuk menuju akhirat, dan jangan dibalik yakni akhirat dikorbankan untuk urusan dunia.” Dari sini dapat kita lihat bahwa Islam sangat memperhatikan kehidupan dunia,dan kehidupan dunia tidak akan lepas dengan yang namanya ekonomi. Alam raya ini adalah sesuatu yang diciptakan manusia untuk dimanfaatkan manusia bukan malah menjadi obyek sesembahan. Maka cara terbaik untuk mensyukurinya adalah dengan mengggunakan dan memanfaatkannya dengan baik dan benar untuk keperluan ekonomi yang menopangkehidupan dunia. 8. Dalam Bidang Kesehatan Ciri khas Islam selanjutnya dapat dilihat dari konsepnya mengenai kesehatan. Ajaran Islam memegang prinsip pencegahan lebih baik daripada penyembuhan. Yang dalam bahasa Arab, prinsip ini berbunyi, al-wiqayah khair min al-'laj. Untuk menuju pada upaya pencegahan tersebut, Islam menekankan segi kebersihan lahir dan batin.
  15. 15. 15 Kabersihan lahir dapat mengambil bentuk kebersihan tempat tinggal, lingkungan sekitar, badan, pakaian,makanan, minuman, dan lain sebagainya. Dalam hubungan ini kita dapat menelaah ayat Al-Quran yang artinya: Seesungguhnya Allah menyukai orang- orang yang bertaubat dan senang kepada orang-orang yang membersihkan diri.7 Bertaubat yang dikemukakan di atas akanmenghasilkan kesehatan mental, dan kebersihan lahiriah akan menghasilkan kesehatan fisik. Selanjutnya kita baca lagi ayat Al-Quran yang artinya: Dan bersihkanlah pakaianmu dan tinggalkanlah segala macam kotoran.8 9. Dalam Bidang Politik Ciri ajaran Islam selanjutnya dapat dijketahui melalui konsepsinya dalam bidang politik. Dalam Al-Quran surat An Nisa ayat 156 terdapat perintah menaati ulil amri yang terjemahannya termasuk penguasa di bidang politik, pemerintah dan negara. Dalam hal ini Islam tidak menerangkan atau menyuruh ketaatan yang buta. Tetapi menghendaki suatu ketaatan yang kritis dan selektif, maksudnya adalah jika pemimpin tersebut berpegang teguh kepada tuntunan Allah SWT dan RasulNya maka kita patut mentaatinya, tetapi jika pemimpin tersebut bersebalahan dan bertentangan dengan kehendak Allah SWT dan Rasul-Nya maka boleh dikritik atau diberi saran agar kembali ke jalan yang benar dengan cara-cara yang persuasif. Dan jika pemimpin tersebut juga tidak menghiraukan, boleh saja untuk tidak dipatuhi. 10.Dalam Bidang Pekerjaan Karakteristik Islam selanjutnya dapat dilihat dari ajarannya mengenai kerja. Islam memandang bahwa kerja sebagai ibadah kepada Allah SWT. Atas dasar ini maka kerja yang dikehendaki Islam adalah kerja yang bermutu, terarah kepada pengabdian kepada Allah SWT, dan kerja yang bermanfaat bagi orang lain. Untuk itu Islam tidak menekankan pada banyaknya pekerjaan, tetapi pada kualias manfaat kerja. Seperti pada ayat Al-Quran yang artinya adalah “Dialah yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu siapa diantara kamu yang paling baik amalnya.” 7 QS. Al-Baqarah : 222. 8 QS. Al-Mudatsir : 4-5.
  16. 16. 16 11. Islam Sebagai Disiplin Ilmu Selain sebagai ajaran yang berkenaan dengan berbagai bidang kehidupan dengan ciri-cirinya yang khas tersebut, Islam juga hadir sebagai sebuah disiplin ilmu, yaitu ilmu keIslaman. Menurut Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Tahun 1985, bahwa yang termasuk disiplin ilmu keIslaman adalah Al-Quran/Tafsir, Hadist/Ilmu Hadist, IlmuKalam, Filsafat, TaSAWuf, Hukum Islam (Fiqh), Sejarah dan Kebudayaan Islam serta Pendidikan Agama Islam. Inilah yang selanjutnya membawa kepada timbulnya berbagai jurusan dan fakultas di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang tersebar di Indonesia, serta berbagai Perguruan Tinggi Islam swasta lainnya di tanah air. E. MISI ISLAM Sejumlah argumentasi yang dapat digunakan untuk menyatakan bahwa misi ajaran Islam sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam. Argumentasi tersebut diantaranya: 1. Untuk menunjukkan Islam sebagai pembawa rahmat dapat dilihat dari pengertian Islam itu sendiri. Kata Islam makna aslinya masuk dalam perdamaian, dan orang muslim ialah orang yang damai dengan Allah dan damai dengan manusia. 2. Sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam dapat juga dilihat dari peran-peran yang dimainkan Islam dalam menangani berbagai problematika agama, sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya. 3. Dapat juga dilihat dari misi ajaran yang dibawa dan dipraktikan oleh Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan seorang yang sayang dengan umatnya dan kepada manusia umumnya. 4. Dapat pula dilihat pada kedudukannya sebagai sumber nilai dan pandangan hidup manusia. Dalam hal ini, Islam telat memainkan 4 peran yaitu faktor kreatif, faktor motivatif, faktor sublimatif, dan faktor integratif.9 5. Sebagai pembawa rahmat dapat pula dilihat dari peran yang dimainkannya dalam sejarah. Sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa islam diabad klasik(Abad 7 sd 13 Masehi) atau lebih kurang 7 abad telah tampil sebagai 9 Suyuthi Pulingan, Universalisme Islam, (Jakrta: Moyo Segoro Agung, 2002), hlm. 145
  17. 17. 17 pengawal sejarah umat manusia menuju kehidupan yang tertib, aman, damai, sejahtera, maju dalam bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban. Peran kesejarahan umat islam tersebut masih dapat dlilihat dinegara-negara dimana Islam pernah melakukan perannya itu, seperti diirak, Bukhara, Turkistan, Turki, Spanyol, India, Mesir, dan lain sebagainya. 6. Dapat dilihat dari praktik hubungan Islam dengan penganut agama lain sebagaimana yang dilakukan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam di Madinah. Fakta sejarah membuktikan bahwa yang pertama dilakukan Nabi di Madinah adalah menjali hubungan yang harmonis dengan seluruh komponen masyarakat.
  18. 18. 18 KESIMPULAN Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Sumber ajaran Islam pertama dan kedua (Al-Quran dan Hadits/As-Sunnah) langsung dari Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Sedangkan yang ketiga (ijtihad) merupakan hasil pemikiran umat Islam, yakni para ulama mujtahid (yang berijtihad), dengan tetap mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Islam berkembang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Masuknya Islam di Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Islam dapat berkembang di Nusantara melalui beberapa jalur, yaitu perdagangan, kultural, pendidikan, dan kekusaan politik. Sebagai agama, Islam juga mempunyai karakteristik, diantaranya di bidang agama, ibadah, ilmu dan kebudayaan, akidah, pendidikan, sosial, kehidupan ekonomi, politik, kesehatan, pekerjaan, dan disiplin ilmu. Islam dibawa oleh Rasulullah SAW agar menjadi rahmat seluruh alam yang dapat dilihat dari misi-misinya.
  19. 19. 19 DAFTAR PUSTAKA Endang Saifuddin Anshari, Kuliah Al-Islam, Pustaka Bandung, 1978. Drs. Nasruddin Razak, Dienul Islam, Maarif Bandung, 1989 Zainab Al-Ghazali, Menuju Kebangkitan Baru, Gema Insani Press Jakarta, 1995 H. Djarnawi Hadikukusam, “Ijtihad”, dalam Amrullah Achmad dkk. (Editor), Persepektif Ketegangan Kreatif dalam Islam, PLP2M Yogyakarta, 1985 Nurcholis Majid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1992), cet. II, hlm.IXXViii. Nasruddin Razak,Dienul Islam,(Bandung: al-ma'arif, 1977) cet. II hlm 44 dan 47. Ahmad Amin, Fajar Islam, (Cirebon: 1967), hlm. 94 Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A.Metodologi Studi Islam, cetakan kesembilan, (Jakarta, PT RajaGrafindo,2004), p.84. Suyuthi Pulingan, Universalisme Islam, (Jakrta: Moyo Segoro Agung, 2002), hlm. 145 Drs. Nasruddin Razak, Dienul Islam, Al-Ma’arif Bandung, 1989, hlm. 56-57. Hammudah Abdalati, Islam in Focus, American Trust Publications Indianapolis-Indiana, 1975, hlm. 7. Endang Saifuddin Anshari, Kuliah Al-Islam, Pusataka Bandung, 1978, hlm. 46. http://nurmadiah44ft.blogspot.com/2014/02/definisi-islam-menurut-para-ulama-dan.html

×