Portofolio Evaluasi Pendidikan

2,262 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,262
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
33
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Portofolio Evaluasi Pendidikan

  1. 1. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 1 1. TES DAN NONTES
  2. 2. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 2 1. Konsep Dasar Evaluasi Pendidikan Menggunakan Teknik Penilaian Tes dan Non Tes. Evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keaadaan sesuatu obyek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur untuk memperoleh kesimpulan (Thoha, 2003 :1). Tujuan evaluasi di antaranya adalah pertama, dilihat dari pendekatan proses. Kegiatan pendidikan secara sederhana dapat digambarkan dalam segitiga sebagaimana dikemukakan oleh David McKay sebagai berikut : (Julian Stanley dan Kenneth D Hopkins, 1978 : 6) Berdasarkan gambar tersebut dapat diketahui hubungan antara tujuan pendidikan, proses belajar mengajar, dan prosedur evaluasi. Tujuan pendidikan akan mengarahkan bagaimana pelaksanaan proses belajar mengajar yang seharusnya dilaksanakan, sekaligus merupakan kerangka acuan untuk melaksanakan kegiatan evaluasi hasil belajar. Pelaksanaan proses belajar mengajar juga berkepentingan akan adanya perumusan tujuan yang baik, dan prosedur evaluasi haruslah memperhatikan pelaksanaan proses belajar mengajar. Evaluasi memiliki dua kepentingan yakni untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah tercapai dengan baik dan juga untuk memperbaiki serta mengarahkan pelaksanaan proses belajar mengajar. Kedua, kegiatan mengevaluasi terhadap hasil belajar merupakan salah satu ciri dari pendidik professional. Karena pendidik professional dituntut untuk mampu menyusun rencana belajar mengajar, mengorganisasikan, menata, mengendalikan, membimbing dan membina proses belajar mengajar secara relevan, evisien, dan efektif, menilai program dan hasil belajar, dan mendiagnosis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan proses belajar bagi dapat disempurnakannya proses belajar mengajar selanjutnya. Ketiga, bila dilihat dari pendekatan kelembagaan, kegiatan pendidikan merupakan kegiatan manajemen, yang meliputi kegiatan planning, programming, organizing, actuating, controlling dan evaluating. Jika semua fungsi manajemen tersebut tidak dilaksanakan dengan Educational Objectives Evaluation Procedures Learning Experiences
  3. 3. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 3 baik, maka dapat dipastikan bahwa dalam pelaksanaan program terjadi penyimpangan maka tujuan tidak akan tercapai. Ada beberapa istilah yang sering digunakan untuk pengertian yang serupa dengan evaluasi, yaitu measurement (pengukuran) yang berarti proses untuk menentukan luas atau kuantitas sesuatu (GW Brown, 1957 : 1). Hasil suatu pengukuran belum banyak memiliki arti sebelum ditafsirkan dengan jalan membandingkan hasil pengukuran dengan standar atau patokan yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam penilaian pendidikan patokan itu dapat berupa batas minimal kompetensi materi pelajaran yang harus dikuasai, atau rata-rata nilai yang diperoleh oleh kelompok. Sebagai contoh, peserta didik yang memperoleh skor tujuh (7), dapat berarti memiliki nilai rendah apabila dibandingkan dengan rata-rata kelompok yang memiliki nilai delapan (8), tetapi nilai tersebut dikatakan tinggi jika dibandingkan dengan standar nilai kelulusan yang misalnya hanya memerlukan nilai lima (5). Selain pengukuran, ada pula istilah assessment (penaksiran). Pengertian assessment tidak sampai ke tahap evaluasi, melainkan sekedar mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran. Yang ketiga adalah tes dan non tes (penggunaan alat pengukuran) : tes adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus dijalankan, yang mendasarkan harus bagaimana testee menjawab pertanyaan-pertanyaan atau melakukan perintah-perintah itu penyelidik mengambil kesimpulan dengan cara membandingkannya dengan standar atau testee yang lain (Suryabrata, 1983 : 22). Sedangkan yaitu non tes adalah teknik evaluasi yang tidak menggunakan perangkat soal yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Teknik-teknik non tes juga menempati kedudukan yang penting dalam rangka evaluasi hasil belajar, lebih-lebih evaluasi yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan peserta didik, seperti persepsinya terhadap mata pelajaran tertentu, persepsinya terhadap guru, minatnya, bakatnya, tingkah laku atau sikapnya dan sebagainya, yang kesemuanya itu tidak mungkin dievaluasi dengan menggunakan tes sebagai alat pengukurnya. 2. Jenis Tes dan Non Tes. Secara umum, tes dibedakan berdasarkan obyek pengukurannya dapat dibagi menjadi dua, yaitu tes kepribadian (personality test) dan tes hasil belajar (achievement test) (Thoha, 2003 : 44-46). Tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis atau golongan, tergantung dari segi mana atau dengan alasan apa penggolongan tes itu dilakukan. Pertama, penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat pengukur perkembangan/ kemajuan belajar peserta didik, dibedakan menjadi tes seleksi, tes awal, tes akhir, tes diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif. Kedua, penggolongan tes berdasarkan aspek psikis yang ingin diungkap, tes setidak-tidaknya
  4. 4. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 4 dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu tes intelegensi, tes kemampuan, tes sikap, tes kepribadian, dan tes hasil belajar. Ketiga, penggolongan tes berdasarkan jumlah orang yang mengikuti tes, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu tes individual dan tes kelompok. Keempat, penggolongan tes berdasarkan waktu yang disediakan, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu power test dan speed test. Kelima, penggolongan berdasarkan bentuk respon, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu verbal test dan nonverbal test. Keenam, penggolongan tes berdasarkan cara mengajukan pertanyaan dan cara memberikan jawaban apabila, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu tes tertulis (pencil and paper test), dan tes lisan. Ketujuh, tes dibedakan berdasarkan tingkatnya terdiri dari tes standard an nonstandard. Tes seleksi sering dikenal dengan istilah “ujian ringan” atau “ujian masuk”. Tes ini dilaksanakan dalam rangka penerimaan calon siswa baru, di mana hasil tes digunakan untuk memilih calon peserta didik yang tergolong paling baik dari sekian banyak calon yang mengikuti tes. Materi tes pada tes seleksi merupakan materi prasyarat untuk mengikuti program pendidikan yang akan diikuti oleh calon peserta didik. Isi materi terdiri atas butir- butir soal yang cukup sulit. Tes awal sering dikenal dengan istilah pre-test. Tes jenis ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi atau bahan pelajaran yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh para peserta didik. Jadi tes awal adalah tes yang dilaksanakan sebelum bahan pelajaran diberikan kepada peserta didik. Karena itu maka butir-butir soalnya dibuat yang mudah-mudah. Tes akhir sering dikenal dengan post-test. Tes akhir dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang tergolong penting sudah dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh para peserta didik. Isi materi tes akhir adalah bahan-bahan pelajaran yang tergolong penting. Tes diagnostik adalah tes yang dirancang khusus untuk mengetahui kelemahan- kelemahan konsep atau miskonsepsi yang berada di dalam diri peserta didik sehingga dapat segera dideteksi sedini mungkin oleh guru untuk diberikan bantuan atau terapi yang tepat agar tidak terjadi kesulitan belajar yang lebih besar di kemudian hari (Suwarto, 2013 : v). Tes formatif adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik “telah terbentuk” (sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan) setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Tes formatif ini biasanya dilaksanakan ditengah-tengah pelajaran program pengajaran, yaitu
  5. 5. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 5 dilaksanakan pada setiap kali satuan pelajaran atau sub pokok bahasan terakhir atau dapat diselesaikan tes ini biasanya disebut dengan “Ulangan Harian”. Tes sumatif adalah tes hasil belajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan satuan program pengajaran selesai diberikan. Di sekolah tes ini dikenal dengan istilah “Ulangan Umum” atau “EBTA” (Evaluasi Belajar Tahap Akhir) atau Ujian Akhir Semester (UAS) dimana hasilnya digunakan untuk mengisi rapor atau mengisi ijazah (STTB). Tes sumatif dilaksanakan secara tertulis, agar semua siswa memperoleh soal yang sama. Butir-butir soal yang dikemukakan dalam tes sumatif ini pada umumnya juga lebih sulit atau lebih berat daripada butir-butir soal tes formatif. Tes intelegensi yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkapkan atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang. Tes kemampuan yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh testee. Tes sikap yaitu tes yang dipergunakan untuk mengungkap predis posisi atau kecendrungan seseorang untuk melakukan suatu respon tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu-individu maupun obyek-obyek tertentu. Tes kepribadian yaitu tes yang dilaksanakan dnegan tujuan mengungkapkan ciri-ciri khas dari seseorang yang banyak sedikitnya bersifat lahiriah, seperti gaya bicara, cara berpakaian, nada suara, dan lain-lain. Tes hasil belajar yaitu tes yang biasa digunakan untuk mengungkapkan tingkat pencapaian atau prestasi belajar. Tes individu yakni tes di mana tester hanya berhadapan dengan satu orang testee saja, sedangkan tes kelompok yakni tes di mana tester berhadapan dengan lebih dari satu orang testee. Power test yakni tes di mana waktu yang disediakan bagi testee untuk menyelesaikan tes tersebut tidak dibatasi, sedangkan speed test yakni tes di mana waktu yang disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut dibatasi. Tes verbal adalah tes yang menghendaki respon (jawaban) yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik secara lisan maupun secara tertulis, sedangkan antonimnya nonverbal test yakni tes yang menghendaki respon (jawaban) dari testee bukan berupa ungkapan kata-kata atau kalimat, melainkan berupa tindakan atau tingkah laku. Jadi respon yang dikehendaki muncul dari testee adalah berupa perbuatan atau gerakan-gerakan tertentu.
  6. 6. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 6 Tes tulis, yang dibedakan menjadi dua, yaitu tes obyektif (terstruktur) dan tes subyektif (uraian). Tes obyektif adalah tes yang terdiri dari butir-butir yang dapat dijawab dengan memilih alternatif yang tersedia, atau dengan mengisi jawaban yang benar dengan beberapa perkataan/simbol (Suwarto, 2013 : 34). Sedangkan tes subyektif adalah tes yang terdiri dari soal-soal yang memiliki jawaban berupa uraian. Tes obyektif sendiri dibedakan lagi menjadi beberapa, yaitu short-answer objective items yang berfungsi mengukur kemampuan hafalan/ingatan, completion test (melengkapi soal yang rumpang/kosong), true-false test yaitu tes yang itemnya mengandung statement yang mengandung dua kemungkinan yaitu benar dan salah, multiple choice test, dan test bentuk matching. Tes lisan yaitu tes yang dilaksanakan secara lisan. Tes standar adalah tes yang disusun oleh tim ahli atau lembaga khusus berdasarkan standar tertentu sehingga memiliki validitas tinggi dan memungkinkan untuk diterapkan secara nasional. Misalnya Ujian Nasional. Tes non standar adalah tes yang disusun oleh seorang pendidik dan belum tersusun dengan baik, sehingga validitas dan reliabilitasnya belum dapat dipertanggunggjawabkan. Sedangkan evaluasi mengenai kemajuan perkembangan atau keberhasilan peserta didik tanpa menguji (non tes) dibedakan menjadi beberapa, yaitu observasi, angket (kuisioner), wawancara, sosiometri, otobiografi, dan inventory (DCM). Observasi atau pengamatan adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan. Alat yang digunakan berupa lembar observasi yang disusun dalam bentuk check list atau skala penilaian. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai suatu fenomena dan untuk mengukur perilaku kelas, interaksi, dan kecakapan sosial. Pada dasarnya, kuisioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Dengan kuisioner dapat diketahui tentang keadaan atau data diri, pengalaman, pengetahuan sikap atau pendapatnya. Angket dapat juga digunakan sebagai alat penilaian hasil belajar maupun penilaian terhadap pendidik. Wawancara (interview) secara umum dapat diartikan sebagai cara menghimpun bahan- bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak. Dikatakan sepihak karena dalam wawancara, responden tidak diberi kesempatan sama sekali untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan hanya alat yang digunakan adalah pedoman wawancara yang mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan. Wawancara adalah pertemuan
  7. 7. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 7 antarpribadi yang dilakukan secara informal antara seorang atau sejumlah murid dengan seorang dewasa untuk memperoleh pendapat otoritatif atas keterangan-keterangan informal mengenai beberapa hal. Sosiometri adalah salah satu teknik untuk mengumpulkan data mengenai hubungan sosial dan tingkah laku individu. Melalui teknik ini dapat diperoleh data tentang situasi hubungan sosial antar individu dalam kelompok, struktur sosial, dan arah hubungan sosialnya sehingga dari data sosiometri ini dapat diketahui tingkat pergaulan antar individu, kelompok, dan popularitas sesesorang dalam lingkungannya (Nurhidayah & Indreswari, 1991 : 46). Otobiografi (riwayat hidup) adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan, dan sikap dari objek yang dinilai. Otobiografi ini biasanya berisi tentang kapan dan dimana peserta didik dilahirkan, agama yang dianut, kedudukan anak di dalam keluarga misalnya anak kandung atau anak tiri beserta data-data yang berkaitan dengan anak peserta didik lainnya. Selain itu, di samping dokumen yang memuat data-data mengenai peserta didik, dokumen juga memuat informasi mengenai peserta didik, seperti informasi mengenai nama, tempat tinggal, tempat dan tanggal lahir, tingkat jenjang pendidikan, rata-rata penghasilan setiap bulan, berkerja dalam bidang apa dan sebagainya yang berhubungan dengan informasi-informasi mengenai orang tua peserta didik. Inventory (daftar cek masalah) merupakan salah satu alat yang dipakai untuk mengetahui adanya masalah yang dihadapi individu dengan secara langsung menggunakan daftar kemungkinan masalah yang disusun untuk merangsang atau memancing pengutaraan masalah yang pernah atau sedang dialami oleh seseorang (Nurhidayah & Indreswari, 1991 : 68). 3. Manfaat Tes dan Non Tes. Searah dengan tujuannya, secara umum pembuatan tes dan non tes memiliki manfaat, di antaranya untuk mengetahui keberhasilan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, kemampuan memecahkan masalah, proses berpikir terutama melihat hubungan sebab akibat, serta kemampuan menggunakan bahasa lisan. Selain itu tes juga bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik, mengukur pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik, mengetahui hasil pengajaran, mengetahui hasil belajar, mengetahui pencapaian kurikulum, mendorong peserta didik belajar, dan mendorong guru agar mengajar lebih baik (Mardapi, 2004 : 72). Sedangkan berdasarkan macam-macamnya,tes dan non tes memiliki manfaat sebagai berikut :
  8. 8. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 8 1. Tes seleksi bermanfaat untuk mengukur kemampuan dasar yang dimiliki peserta didik, yang mana kemampuan tersebut dapat digunakan untuk meramalkan kemampuan peserta didik sehingga untuk ke depannya dia bisa dibimbing atau di arahkan ke jurusan yang sesuai dengan kemampuannya. 2. Tes formatif bertujuan untuk pembinaan dan perbaikan proses belajar mengajar. Sehingga setelah dilaksanakannya tes formatif, perlu dilakukan tindak lanjut yaitu jika materi yang diteskan itu telah dikuasai dengan baik, maka pembelajaran dilanjutkan dengan pokok bahasan yang baru, namun jika ada bagian-bagian yang belum dikuasai, maka sebelum melanjutkan dengan pokok bahasan yang baru, terlebih dahulu diulangi atau dijelskan lagi bagian-bagian yang belum dikuasai oleh peserta didik, hal ini sering disebut remidial. 3. Tes sumatif bertujuan untuk mengukur keberhasilan peserta didik secara menyeluruh, mengujikan materi secara menyeluruh juga selama satu semester. Tingkat kesukaran soal pada tes sumatif bervariasi, sedang materinya harus mewakili bahan yang telah diajarkan (Mardapi, 2004 :72). 4. Manfaat tes diagnostik adalah untuk mengetahui kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, termasuk kesalah pemahaman konsep. Tes diagnosis dilakukan apabila diperoleh informasi bahwa sebagian besar peserta didik gagal dalam mengikuti proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu (Suwarto, 2013 : 94). 5. Manfaat tes standar adalah untuk membandingkan tes belajar dengan pembawaan individual atau kelompok, membandingkan tingkat prestasi peserta didik dalam ketrampilan di berbagai bidang studi untuk individu atau kelompok, membandingkan prestasi peserta didik berbagai sekolah atau kelas, serta mempelajari perkembangan peserta didik dalam suatu periode atau waktu tertentu (Arikunto, 1984 : 113) 6. Manfaat tes non standar adalah untuk melaksanakan tes-tes yang bersifat realistik seperti tes formatif dan tes diagnostik yang memang dirancang sesuai dengan keaadaan peserta didik serta proses belajar mengajar pada suatu tingkat dan lembaga tertentu yang memang tidak dapat distandardisasikan. 7. Secara umum, tes obyektif dan subyektif memiliki fungsi yang sama yaitu untuk mengukur pemahaman dan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran tertentu hanya saja tekniknya berbeda. 8. Tujuan tes lisan adalah untuk menilai kemampuan memecahkan masalah, proses berpikir terutama melihat hubungan sebab akibat, kemampuan menggunakan
  9. 9. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 9 bahasa lisan, serta kemampuan mempertanggungjawabkan pendapat atau konsep yang dikemukakan. 9. Observasi bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai suatu fenomena dan untuk mengukur perilaku kelas, interaksi, dan kecakapan sosial. 10. Kuisioner bertujuan untuk mengetahui tentang keadaan atau data diri, pengalaman, pengetahuan sikap atau pendapatnya, dapat juga digunakan sebagai alat penilaian hasil belajar maupun penilaian terhadap pendidik. 11. Tujuan wawancara adalah untuk menghimpun bahan-bahan keterangan dengan cara melakukan tanya jawab lisan secara sepihak. 12. Sosiometri bertujuan untuk memperoleh data tentang situasi hubungan sosial antar individu dalam kelompok, struktur sosial, dan arah hubungan sosialnya sehingga dari data sosiometri ini dapat diketahui tingkat pergaulan antar individu, kelompok, dan popularitas sesesorang dalam lingkungannya 13. Tujuan mempelajari riwayat hidup adalah dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan, dan sikap dari objek yang dinilai. untuk mengetahui adanya masalah yang dihadapi individu dengan secara langsung menggunakan daftar kemungkinan masalah yang disusun untuk merangsang atau memancing pengutaraan masalah yang pernah atau sedang dialami oleh seseorang 4. Kelebihan dan Kekurangan Penilaian Menggunakan Teknik Tes dan Non Tes. 1. Tes subyektif memiliki kelebihan di antaranya mudah disiapkan dan disusun, tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan, mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam kalimat yang baik, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri, serta dapat diketahui sejauh mana peserta didik mendalami suatu masalah yang diteskan (Arikunto, 2001 : 163). Selain itu kelebihan menggunakan tes subyektif adalah melatih peserta didik untuk memilih fakta yang relevan dengan persoalan, serta mengorganisasikannya sehingga dapat diungkapkan menjadi satu hasil pemikiran terintegrasi secara utuh dan tepat untuk mengukur kemampuan analitik, sintetik, dan evaluatif (Thoha, 2003 :56). Keunggulan tes subyektif diungkapkan oleh Walstad dapat dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu guru, peserta didik, dan tes itu sendiri. Kelebihan itu adalah (1) tes uraian mempunyai potensi yang besar untuk menilai tingkat pemahaman peserta didik yang lebih tinggi; (2) para peserta didik memiliki kebebasan untuk memilih, menyiapkan, dan menyajikan gagasan di
  10. 10. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 10 dalam kata-kata mereka sendirisebagai jawaban atas pertanyaan uraian; (3) guru mempunyai kesempatan untuk melihat peserta didiknya membuat jawaban dan tidak hanya memilih jawaban yang terbaik dari empat atau lima pilihan yang ditetapkan, seperti pada tes pilihan ganda; (4) tes uraian juga lebih baik untuk tes prestasi yang kompleks berhubungan dengan aplikasi konsep, analisis permasalahan, atau evaluasi keputusan (Walstad, 2006 : 6). Karena dalam tes subyektif ini peserta didik diberi kebebasan memilih dan menentukan jawaban maka hal tersebut berakibat pada timbulnya variasi jawaban yang berakibat pula pada variasi tingkat kebenaran dan kesalahan yang pada akhirnya berakibat pada subyektifitas penilai. Sehingga tes subyektif memiliki beberapa kelemahan, yaitu kadar validitas dan reabilitas rendah karena sukar diketahui segi-segi mana dari pengetahuan peserta didik yang betul-betul telah dikuasai, kurang representatif dalam hal mewakili seluruh bahan pelajaran yang akan dites karena soalnya terbatas, cara memeriksanya banyak dipengaruhi oleh unsur – unsur subyektif, pemeriksaannya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari penilai, serta waktu waktu untuk koreksinya lama dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Selain itu kelemahan yang lain adalah bahan yang diujikan relatif sedikit sehingga cukup sulit mengukur penguasaan peserta didik terhadap keseluruhan kurikulum, soal jenis subyektif ini bila digunakan secara terus-menerus dapat berakibat peserta didik belajar secara untung-untungan, ia hanya mempelajari soal-soal yang sering dikeluarkan, materi yang jarang keluar tidak pernah dibaca, variasi jawaban terlalu banyak menyebabkan banyaknya tingkat kebenaran sehingga tidak ada kata multak dalam menetapkan criteria benar atau salah, pemberian skor jawaban tiadak reliable sebab ada faktor-faktor lain yang berpengaruh seperti tulisan peserta didik, kelelahanan penilai, situasi saat penilaian, dan sebagainya, membutuhkan banyak waktu untuk memeriksanya, sulit mendapatkan soal yang memiliki validitas dan reliabilitas tinggi, serta sulit mendapatkan soal yang memiliki standar nasional maupun regional. Oleh karena itu, dalam penggunaannya tes jenis ini memiliki beberapa kekhususan, yaitu diterapkan jika jumlah peserta yang diuji relaif sedikit, waktu penyusunan soal terbatas, biaya dan tenaga untuk menggandakan soal tidak memadai, waktu untuk pemeriksaan hasil cukup panjang, tes dilaksanakan untuk mengukur kemampuan berfikir analitik, sintetik, dan efaluatif, serta pendidik ingin mengukur kemampuan dan kekayaan bacaan peserta didik.
  11. 11. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 11 2. Tes obyektif memiliki kelebihan di antaranya lebih representatif mewakili isi dan luas bahan, lebih obyektif, dapat dihindari campur tangannya unsur-unsur subjektif baik dari segi peserta didik maupun guru, lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi, pemeriksaannya dapat diserahkan orang lain, dalam pemeriksaan tidak ada unsur subyektif yang mempengaruhi (Arikunto, 2001 :164). Tes obyektif juga memiliki kelebihan yang lain, yaitu dapat dijawab dengan cepat sehingga memungkinkan peserta didik untuk menjawab sejumlah besar pertanyaan dalam satu periode tes, akibatnya materi tes yang diberikan dapat mencakup hampir sebagian besar daripada bahan pelajaran yang diberikan, dengan demikian maka prestasi yang dicapai peserta didik betul-betul memberi gambaran yang representatif tentang penguasaan materi oleh peserta didik karena tes obyektif terdiri dari butir-butir yang dapat dijawab dengan memilih alternatif yang telah tersedia atau mengisi dengan beberapa perkataan atau simbol. Selain itu reliabilitas skor yang diberikan dapat dijamin sepenuhnya karena butir-butir soal pada tes obyektif hanya memiliki satu jawaban yang dapat diterima, sehingga oleh siapa dan kapan pun diberi skor, maka skornya tetap sama. Kekurangan yang dimiliki tes obyektif adalah persiapan untuk menyusunnya jauh lebih sulit daripada tes esai karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang lain, soal-soalnya cenderung mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi, banyak kesempatan untuk main untung- untungan, serta kerjasama antar peserta didik dalam mengerjakan soal tes lebih terbuka (Arikunto, 2001 :165). Untuk mengurangi kemungkinan peserta didik memilih jawaban secara untung-untungan dapat diminimalisasi dengan cara memberitahu peserta didik tentang rumus-rumus scoring untuk tiap-tiap jenis butir, di mana pilihan yang salah akan mengurangi skor yang diperoleh (Suwarto, 2013 : 35) 3. Kelebihan tes lisan adalah dapat digunakan untuk menilai kepribadian dan kemampuan penguasaan kemampuan peserta didik secara tersirat maupun tersurat dengan akurat dan jelas karena dilakukan secara face to face. Kelemahan yang dimiliki adalah timbulnya ketegangan dapat menyebabkan obyektifitas hasil dan terganggunya konsentrasi peserta didik yang dapat mempengaruhi jawaban yang disampaikan peserta didik, selain itu tes ini memerlukan waktu yang lebih lama.
  12. 12. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 12 4. Tes tindakan memiliki keuntungan di antaranya cocok untuk mengukur aspek psikomotor dan pendidik dapat mengamati langsung respon tindakan yang dilakukan oleh peserta didik. Sedangkan kelemahannya adalah terjadinya kesalahahpahaman dalam menerima perintah sehingga menimbulkan kesalahan pula pada respon tindakannya, selain itu juga membutuhkan waktu yang lebih lama. 5. Penerapan Penggunaan Teknik Tes dan Non Tes dalam Evaluasi Pendidikan 1. Tes Subyektif 2. Tes Obyektif a. Benar-Salah b. Jawaban Singkat 1. Tuliskan persamaan reaksi dari reaksi zat berikut dan beri namanya! a. 2-butanol + larutan Kalium dikromat dalam suasana asam b. 2-etoksi propana + HI 2. Senyawa A dengan rumus molekul C5H12O mempunyai sifat sebagai berikut: a. bereaksi dengan logam Na membentuk gas hidrogen b. bereaksi dengan larutan Kalium Permanganat dalam suasana asam membentuk senyawa B, bila reaksi berlangsung terus senyawa B menjadi senyawa C yang dapat memerahkan kertas lakmus. Tentukan nama dan rumus struktur senyawa B tersebut. 1. Tubuh jamur ada yang tersusun oleh satu sel (uniseluler) atau sebagian besar tubuh terdiri atas banyak sel (multiseluler). (b) 2. Monera disebut juga kelompok makhluk hidup eukariotik. (s) → prokariotik 3. Daur hidup jamur mengalami pergiliran keturunan antara fase kawin (gametofit) dan tak kawin (sporofit), disebut metagenesis. (b) 4. Charles darwin adalah pengembang metode sistem tata nama ganda. (bapak taksonomi). (s) → carolus linnaeus 5. Tata cara pemberian nama makhluk hidup dikenal dengan istilah atau sistematika. (s) → binomial nomenklatur.
  13. 13. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 13 c. Menjodohkan 1 Psikologi perkembangan a Psikologi yang menganalisis tentang tindakan dan tingkah laku negatif dan kejahatan yang dibuat oleh manusia. 2 Psikologi kriminal b Suatu ilmu yang mempelajari interaksi sosial dan hubungan sosial antara individu dan kelompok 3 Psikologi abnormal c Yang menguraikan sedikit tentang kegiatan manusia dan pola belajar serta situasi pendidikan 4 Psikologi pendidikan d Menguraikan tentang kegiatan psikis manusia mulai dari ia lahir sampai dewasa dan usia lanjut serta membahas tingkah lakunya pada setiap periode perkembangan. 5 Psikologi umum e Psikologi yang khusus mempelajari dan menguraikan ketidaknormalan psikis yang terjadi pada individu. Lengkapi pernyataan dan pertanyaan dibawah ini dengan jawaban yang menurut anda benar! 1. Dorongan utama untuk mengikuti dan mencontoh orang lain yang dianggapnya pantas disebut dengan……….. 2. Interaksi sosial yang anggotanya lebih dari satu dan ada interaksi face to face antar anggotanya disebut…….. 3. Kecendrungan untuk meniru orang lain biasanya disebut………….. 4. Hubungan yang terjadi antar anggota kelompok karena adanya faktor kesamaan perasaan yang alamiah dan bersifat kekal disebut dengan….. 5. Sesuatu yang di anggap baik dan benar disebut……..
  14. 14. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 14 d. Pilihan Ganda 1. Diketahui matriks        4 1- 1 2 A ,         y 2 3 yx B , dan        1 2 3 7 C . Apabila B – A = Ct , dan Ct = transpose matriks C, maka nilai x.y = …. a. 10 b. 15 c. 20 d. 25 e. 30 2. Diketahui matriks        5 0 2 3 A ,        1 1- y x B , dan        5 1- 15- 0 C , At adalah transpose dari A. Jika At . B = C maka nilai 2x + y = …. a. – 4 b. – 1 c. 1 d. 5 e. 7 3. Matriks X berordo ( 2 x 2 ) yang memenuhi             1 3 2 4 X 4 2 3 1 adalah …. a.       4 5- 5 6- b.       5 6- 4 5 c.       5 5- 4 6- d.       1 2- 3- 4 e.       8- 10- 10- 12 4. Diketahui matriks        5 2 3 1 A ,        4 2- 1 3 B , dan P(2x2). Jika matriiks A x P = B, maka matriks P adalah …. a.       10 18- 8- 13 b.       2 8- 7- 21 c.       10- 18 8 13- d.       2- 8 7 21- e.       12 6 14 5 Soal Ujian Nasional tahun 2005 5. Diketahui hasil kali matriks                   7 3 9 16 d b c a 2 3 1 4 . Nilai a + b + c + d = …. a. 6 b. 7 c. 8 d. 9 e. 10
  15. 15. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 15 e. Melengkapi Yang dimaksud dengan hadits, adalah suatu berita tentang (1)…, (2) …, dan (3) … yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kalimat yang sering digunakan untuk menyandarkan berita kepada nabi secara langsung adalah (4) …, sedangkan penyandaran yang tidak langsung adalah (5) … . 3. Non Tes a. Observasi Langkah-langkah yang ditempuh dalam membuat pedoman observasi langsung adalah sebagai berikut :  terlebih dulu lakukan observasi langsung terhadap suatu proses tingkah laku.  setelah diketahui, penilai menentukan segi-segi mana dari perilaku tersebut yang akan diamati sehubungan dengan keperluannya.  tentukan bentuk observasi tersebut. Mata pelajaran : PKn Kelas/Semester : IV/Genap Indikator : Mengindahkan kepentingan orang lain No Perilaku yang diamati Hasil pengamatan 1 2 3 4 5 1 Mengganggu teman di kelas 2 Kataatan peserta didik terhadap peraturan sekolah 3 Menunaikan tugas kelompok Keterangan 1 = tidak pernah 2 = jarang 3 = kadang-kadang 4 = sering 5 = selalu
  16. 16. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 16 b. Kuisioner c. Wawancara Memperoleh informasi mengenai cara belajar siswa dirumah Bentuk :Bebas Responden :Siswa yang memperoleh prestasi yang tinggi Nama siswa :………………. Kelas :………………. Jenis kelamin :………………. Pertanyaan Jawaban siswa Komentar dan kesimpulan hasil wawancara 1. Kapan dan berapa lama anda belajar dirumah? 2. Bagaimana anda mempersiapkan diri untuk balajar secara efektif? 3. Seandainya anda mengalami kesulitan dalam mempelajarinya, usaha apa yang anda lakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut?
  17. 17. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 17 d. Sosiometri Siswa diminta untuk menuliskan 3 nama teman yang disenanginya di kelas. Dengan urutan dari atas adalah yang paling disenangi. e. Otobiografi DAFTAR ISIAN SOSIOMETRI Nama : …………………………………. (L/P) Kelas : …………………………………. Tanggal : …………………………………. Kriterium : untuk kegiatan belajar kelompok. Pilihan I : …………………………………. Alasan : …………………………………. Pilihan II : …………………………………. Alasan : …………………………………. Pilihan III : …………………………………. Alasan : ………………………………….
  18. 18. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 18 f. Inventory 6. Contoh Penerapan Penilaian Menggunakan Teknik Tes dan Non Tes 1. Tes Subyektif Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun soal subyektif adalah soal-soal tes dapat meliputi ide-ide pokok dari bahan yang diteskan, dan kalau mungkin disusun soal yang sifatnya komprehensif, soal tidak mengambil kalimat-kalimat yang disalin langsung dari buku atau catatan, pada waktu menyusun, soal-soal itu sudah dilengkapi dengan kunci jawaban serta pedoman penilaiannya, diusahakan agar pertanyaannya bervariasi antara “jelaskan” “mengapa” “seberapa jauh” agar dapat diketahui lebih jauh penguasaan peserta didik terhadap bahan, rumusan soal dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh tercoba, ditegaskan model jawaban apa yang dikehendaki oleh penyusun tes. Untuk itu pertanyaan tidak boleh terlalu umum, tetapi harus spesifik. Menurut Suwarto (2013 : 60), pertimbangan secara umum untuk membuat tes subyektif adalah : (1) memberikan waktu dan berpikir yang cukup untuk memprsiapkan tes uraian, (2) pertanyaan harus ditulis sehingga akan menunjukkan jenis penilaian yang
  19. 19. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 19 akan diukur, (3) menetapkan suatu kerangka kerja dalam domain kerja peserta didik, (4) menunjukkan faktor-faktor yang dapat memajukan penilaian suatu jawaban, (5) jangan memberikan pertanyaan oposional, (6) pergunakan sejumlah pertanyaan yang banyak yang mewajibkan jawaban singkat, (7) jangan memulai pertanyaan uraian dengan kata-kata seperti : daftar/urutkan, siapa, apa, apakah, (8) sesuaikan panjang jawaban dan kompleksitas pertanyaan serta jawaban terhadap tingkat kematangan peserta didik, (9) gunakan jenis pertanyaan yang menarik (pertanyaan menunjukkan kenyataan yang ada), (10) menyiapkan sebuah kunci scoring, (11) melarang digunakannya tes uraian dalam pelajaran yang tidak dapat dijadikan pedoman obyektif yang memuaskan, (12) merumuskan pertanyaan yang akan memberikan jalan keluar, serta (13) menunjukkan estimasi batas waktu rata-rata untuk setiap pertanyaan. Penilaian tes subyektif tidak tergantung pada jawaban yang diberikan peserta didik saja, namun juga pada berbagai hal yang berkaitan dengan pihak-pihak yang berlaku sebagai pemeriksa yang memeriksa dan menilai jawaban tersebut, dan juga pada metode penilaian yang diterapkan. Oleh karena itu, penilaian pada tes subyektif ini pun juga dipengaruhi oleh subyektifitas penilai, karena adanya variasi jawaban dari peserta didik. Oleh karena itu, dalam memberikan penilaian terhadap hasil tes subyektif, pendidik harus menerapkan metode penilaian yang tepat dengan membuat pedoman penilaian (rubrik), penilaian difokuskan pada aspek-aspek penilaian yang penting dan signifikan, tidak membiarkan hal-hal personal memengaruhi pemberian nilainya, serta menerapkan standar yang seragam pada semua jawaban. Ada dua metode yang dapat dikembangkan untuk menilai ujian subyektif, yaitu metode analisis dan metode global (Suwarto, 2013 : 61). Dalam metode analisis, model penilaian jawaban disusun secara detail dengan pemberian poin-poin pada setiap jawaban. Poin pada masing-masing soal dapat ditentukan berdasarkan waktu yang diperlukan untuk menjawab soal, tingkat kerumitan, serta penekanan pada isi yang dibahas pada suatu soal secara garis besar. Sedangkan dalam metode global yang disebut juga sebagai metode holistik atau metode rating, pendidik atau penilai memberi nilai dengan cara memberi pendapat mengenai jawaban secara global (keseluruhan) terlepas dari beragamnya skala nilai yang digunakan. Contohnya, seorang guru bisa memberi nilai “bagus”, “rata-rata”, maupun “kurang”. a. Contoh penerapan penilaian menggunakan metode analisis 1. Sebutkan alat dan bahan yang diperlukan untuk merawat alat ukur mekanis presisi!
  20. 20. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 20 2. Jelaskan fungsi dan penggunaan alat dan bahan untuk merawat alat ukur mekanis presisi! 3. Sebutkan kerugian – kerugian yang ditimbulkan jika alat ukur mekanis presisi tidak dirawat dan dikalibrasi setelah digunakan! No. Kriteria Skor Skor Maks 1. Siswa menyebutkan 7 alat dan bahan yang diperlukan untuk merawat alat ukur mekanis presisi Siswa menyebutkan < 7 dan/atau > 4 alat dan bahan yang diperlukan untuk merawat alat ukur mekanis presisi Siswa menyebutkan < 4 dan/atau > 2 alat dan bahan yang diperlukan untuk merawat alat ukur mekanis presisi 10 5-7 2-4 10 2. Siswa menyebutkan 5 fungsi dan penggunaan alat dan bahan untuk merawat alat ukur mekanis presisi Siswa menyebutkan 3-4 fungsi dan penggunaan alat dan bahan untuk merawat alat ukur mekanis presisi Siswa menyebutkan 1-2 fungsi dan penggunaan alat dan bahan untuk merawat alat ukur mekanis presisi 10 6-8 2-4 10 3. Siswa menyebutkan 7 kerugian – kerugian yang ditimbulkan jika alat ukur mekanis presisi tidak dirawat dan dikalibrasi setelah digunakan Siswa menyebutkan < 7 dan/atau > 4 kerugian – kerugian yang ditimbulkan jika alat ukur mekanis presisi tidak dirawat dan dikalibrasi setelah digunakan Siswa menyebutkan < 4 dan/atau > 2 kerugian – kerugian yang ditimbulkan jika alat ukur mekanis presisi tidak dirawat dan dikalibrasi setelah digunakan 10 5-7 2-4 10 JUMLAH 30 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐴𝑘ℎ𝑖𝑟 = 𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 (10) 𝑋 100
  21. 21. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 21 b. Contoh penerapan penilaian menggunakan metode global Nomor Soal No. Absen Nama Siswa Tes Tulis KRITERIA Bagus Rata-rata Kurang 1 1 2 3 2 1 2 3 3 1 2 3 2. Tes Obyektif Untuk penilaian pada tes obyektif tidak terlalu rumit jika dibandingkan dengan penilaian pada tes subyektif. Selain reliabilitas penskorannya lebih terjamin, waktu serta pelaksanaan penilaiannya pun lebih efektif dan efisien. Teknik penilaian yang dapat digunakan untuk tes obyektif di antaranya adalah dengan penerapan sistem denda dan sistem tanpa denda. Penerapan sistem denda memiliki kelebihan mengurangi kemungkinan siswa untuk berspekulasi kemungkinan siswa berspekulasi dalam menjawab soal, namun kelemahan dalam sistem denda ini adalah adanya kemungkinan siswa memperoleh skor negatif. Sebaliknya, sistem tanpa denda memiliki kelebihan tidak adanya skor negatif, dan kekurangannya adanya kemungkinan siswa menjawab soal secara untung-untungan. Sistem denda : Sk = skor yang diperoleh siswa, B = jumlah jawaban benar, S = jumlah jawaban salah. Contoh : jumlah butir suatu tes ada 100. Rizqiana dapat menjawab dengan benar sejumlah 80 butir soal, jawaban yang salah sejumlah 15 butir soal, dan 5 butir soal tidak dijawab. Maka skor untuk Rizqiana adalah 80-15 = 65. Sistem tanpa denda : Contoh : jumlah butir suatu tes ada 100. Yogi dapat menjawab dengan benar sejumlah 80 butir soal, jawaban yang salah sejumlah 15 butir soal, dan 5 butir soal tidak dijawab. Maka skor untuk Yogi adalah 80. 3. Non tes Untuk penilaian non tes dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya : Sk=B-S Sk=B
  22. 22. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 22 a. Penilaian menggunakan skala No. Pernyataan Skala 1 2 3 4 5 1 Rumah sebaiknya dirawat kebersihannya setiap hari 2 Kebersihan rumah menjadi tanggung jawab semua anggota keluarga 3 Ruang kelas perlu dijaga kebersihannya setiap hari 4 Kebersihan ruang kelas menjadi tanggung jawab setiap anggota kelas 5 Setiap siswa sebaiknya melaksanakan tugas piket dengan penuh rasa tanggung jawab 6 Anak yang lalai melaksanakan tugas piket harus menggantinya pada waktu lain 7 Ketua kelas tidak perlu melaksanakan tugas piket karena sudah bertugas mengatur kegiatan kelas KETERANGAN 1 : sangat tidak setuju 2 : tidak setuju 3 : kurang setuju 4 : setuju 5 : sangat setuju b. Angket (Kuisioner) Nama : ……………………….. Kelas : ……………………….. Petunjuk Pengisian angket! Pilihlah salah satu jawaban yang sesusai dengan Anda dengan memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c atau d. 1. Air minum di keluargamu berasal dari ....
  23. 23. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 23 a. sumur b. kemasan c. hujan d. sungai 2. Air mandi di keluargamu berasal dari .... a. sumur b. kemasan c. hujan d. sungai 3. Buku dan alat tulismu disiapkan oleh .... a. orang tua b. pembantu c. kakak d. saya sendiri 4. Tempat tidurmu dirapikan oleh .... a. orang tua b. pembantu c. kakak d. saya sendiri 5. Setiap hari rumahmu dibersihkan oleh .... a. orang tua b. pembantu c. saudara d. seluruh anggota keluarga
  24. 24. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 24 2. PENILAIAN BERBASIS KELAS
  25. 25. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 25 1. Konsep Dasar Penilaian Berbasis Kelas Penilaian Berbasis Kelas (PBK) adalah penilaian yang dilakukan oleh guru dalam rangka proses pembelajaran. PBK merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi hasil belajar peserta didik yang dilakukan oleh guru untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan (standar komptensi, komptensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar). Penilaian Berbasis Kelas merupakan prinsip, sasaran yang akurat dan konsisten tentang kompetensi atau hasil belajar siswa serta pernyataan yang jelas mengenai perkembangan dan kemajuan siswa. maksudnya adalah hasil Penilaian Berbasis Kelas dapat menggambarkan kompetensi, keterampilan dan kemajuan siswa selama di kelas. Depdiknas (2002), menjelaskan bahwa Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen dalam kurikulum berbasis kompetensi. PBK itu sendiri pada dasarnya merupakan kegiatan penilaian yang dilaksanakan secara terpadu dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan mengumpulkan kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper and pencil). Fokus penilaian diarahkan pada penguasaan kompetensi dan hasil belajar siswa sesuai dengan level pencapaian prestasi siswa. 2. Jenis Penilaian Berbasis Kelas Secara umum penilaian berbasis kelas antara lain terdiri atas ulangan harian, pemberian tugas dan ulangan umum. Berbagai jenis penilaian berbasis kelas antara lain : tes tulis, tes perbuatan, pemberian tugas, penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian hasil kerja peserta didik, penilaian sikap dan penilaian portofolio. a. Tes tertulis Merupakan alat penilaian berbasis kelas peserta didik memberikan jawaban atas pertanyaan atau pertanyaan maupun tanggapan atas pertanyaan atau pertanyaan maupun tanggapan atas pertanyaan atau pertanyaan yang diberikan. Tes tertulis dapat diberikan pada saat ulangan harian dan ulangan umum. Bentuk tes tertulis dapat berupa pilihan ganda, menjodohkan, benar salah, isian singkat, dan uraian (esai). b. Tes perbuatan. Dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung yang memungkinkan terjadinya praktek. Pengamatan dilakukan terhadap perilaku peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsung. Pemberian tugas dilakukan bisa dilakukan mulai awal kelas sesuai dengan akhir kelas sesuai dengan materi pelajaran dan perkembangan peserta didik. Pelaksanaan pemberian tugas perlu memperhatikan hal sebagai berikut;
  26. 26. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 26 (a) Banyaknya tugas mata pelajaran diusahakan tidak memberatkan peserta didik. Karena mereka memerlukan waktu bermain, bersosialisasi dengan teman dan lain-lain. (b) Jenis dan pemberian tugas harus didasarkan pada tujuan pemberian tugas yaitu untuk melatih peserta didik menerapkan atau menggunakan hasil pembelajarannya dan memperkaya wawasan pengetahuannya. (c) Diupayakan pemberian tugas dapat mengembangkan kreatifitas dan rasa tanggung jawab serta kemandirian. Penilaian unjuk kerja (performance assesment) adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan terhadap kegiatan siswa. Penilaian dilakukan terhadap unjuk kerja, perilaku atau interaksi siswa. Cara penilaian ini lebih otentik daripada tes tulis, karena lebih mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya (Puskur, 2002) dalam Wiyono (2004: 35). Penilaian unjuk kerja bisa digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam penyajian lisan, pemecahan masalah dalam kelompok, partisipasi dalam diskusi, kemampuan siswa menari, kemampuan siswa menyanyi, memainkan alat musik, dan sebagainya. Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dengan berbagai konteks. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam membuat penilaian unjuk kerja adalah:  Identifikasi semua langkah penting atau aspek yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir  Menulis kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas  Mengusahakan kemampuan yang akan diukur tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat dipahami  Mengurutkan kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang akan diamati  Menyediakan lembar pengamatan dan kriteria untuk setiap pilihan yang digunakan dalam lembar pengamatan atau penilaian Penilaian hasil kerja dapat menggunakan daftar cek, skala penilaian atau rubik. Daftar cek, penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (ya – tidak). Pada penilaian unjuk kerja yang menggunakan daftar cek, peserta didik mendapat nilai apabila kriteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamati-tidak dapat diamati. Dengan demikian tidak terdapat nilai tengah.
  27. 27. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 27 Contoh Daftar Cek Keterampilan Penggunaan Termometer No. Aktivitas yang Diamati Ya Tidak 1. Mengeluarkan termometer dari tempatnya dengan memegang bagian ujung termometer yang tak berisi air raksa. 2. Menurunkan posisi air raksa dalam pipa kapiler termometer serendah-rendahnya. 3. Memasang termometer pada tubuh teman (di mulut atau di ketiak) sehingga bagian yang berisi air raksa terkontak degan tubuh pasien. 4. Menunggu beberapa menit (membiarkan termometer menempel di tubuh pasien selama beberapa menit). 5. Mengambil termometer dari tubuh pasien dengan memegang bagian ujung termometer yang tidak berisi air raksa. 6. Membaca tinggi air raksa dalam pipa kapiler dengan posisi mata tegak lurus. Skor yang dicapai Skor maksimum 6 Skala penilaian, penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala rentang memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinuum di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala rentang tersebut, misalnya, sangat kompeten – kompeten – agak kompeten – tidak kompeten. Penilaian sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu penilai agar faktor subjektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian lebih akurat. Berikut contoh skala penilaian. Contoh Skala Penilaian Keterampilan Penggunaan Termometer No. Aktivitas yang Diamati Penilaian 1 2 3 4 5 1. Mengeluarkan termometer dari tempatnya dengan memegang bagian ujung termometer yang tak berisi air raksa. 2. Menurunkan posisi air raksa dalam pipa kapiler termometer serendah-rendahnya.
  28. 28. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 28 3. Memasang termometer pada tubuh teman (di mulut atau di ketiak) sehingga bagian yang berisi air raksa terkontak degan tubuh pasien. 4. Menunggu beberapa menit (membiarkan termometer menempel di tubuh pasien selama beberapa menit). 5. Mengambil termometer dari tubuh pasien dengan memegang bagian ujung termometer yang tidak berisi air raksa. 6. Membaca tinggi air raksa dalam pipa kapiler dengan posisi mata tegak lurus. Skor yang dicapai Skor maksimum Tafsiran angka: 1: sangat kurang, 2: kurang, 3: cukup, 4: baik, 5: sangat baik. Rubik, adalah pedoman penskoran yang digunakan untuk menilai unjuk kerja siswa berdasarkan jumlah skor dari beberapa kriteria dan tidak hanya menggunakan satu skor saja. Ini memuat klasifikasi nilai yang dapat diberikan pada siswa sesuai dengan unjuk kerja yang ditampilkan. Banyak ahli yang meyakini bahwa rubrik bisa meningkatkan hail belajar siswa. Pada saat guru memeriksa hasil karya proyek, guru tersebut akan mengetahui secara implisit tentang bagaimana karya yang baik dan mengapa suatu karya digolongkan baik. Demikian halnya, pada saat siswa menerima rubrik lebih awal, mereka akan memahami bagaimana mereka akan dinilai dan mereka bisa mempersiapkan diri berdasarkan itu. Rubrik tersebut akan berfungsi sebagai scaffolding (acuan) yang dibutuhkan untuk meningkatkan mutu karya dan pengetahuan mereka. Contoh Rubrik Penilaian Unjuk Kerja Perencanaan Penyelidikan Nilai Kriteria 4 Amat Baik  Merumuskan gagasan secara jelas dan memprediksi apa yang akan diuji.  Mengumpulkan informasi awal yang relevan.  Merencanakan pelaksanaan penyelidikan secara rinci.  Memilih alat dan bahan yang paling tepat.
  29. 29. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 29  Mengajukan saran perbaikan yang tepat untuk kebutuhan penyelidikan tersebut. 3 Baik  Merumuskan gagasan yang perlu diuji dalam percobaan/penyelidikan.  Merencanakan suatu urutan pelaksanaan penyelidikan.  Memilih alat dan bahan yang cocok.  Mengajukan saran perbaikan penyelidikan tersebut. 2 Cukup  Dengan bimbingan guru, dapat mengajukan gagasan sederhana yang akan diuji.  Merencanakan percobaan tunggal secara garis besar.  Memilih alat dan bahan yang cocok.  Dapat menunjukkan adanya kelemahan dari rencana yang dibuat. 1 Kurang  Dengan bimbingan guru, dapat mengajukan gagasan sederhana yang akan diuji.  Terdapat banyak kelemahan dalam rencana penyelidikan yang dibuat.  Alat dan bahan yang dipilih kurang sesuai.  Tidak menyadari adanya kelemahan dari rencana yang dibuat. 0 Sangat Kurang  Tidak dapat mengajukan gagasan yang secara benar.  Belum memahami langkah-langkah penyelidikan.  Alat dan bahan yang dipilih tidak sesuai. c. Penilaian proyek. Adalah penilaian berbasis kelas terhadap tugas yang harus disesuaikan dalam waktu tertentu. Penilaian proyek dilakukan mulai dari pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data. Penilaian produk adalah penilaian hasil kerja peserta didik terhadap penguasaan ketrampilan peserta didik dalam membuat suatu produk dan penilaian kualitas hasil kerja peserta didik tertentu. Misalnya : siswa diberi tugas untuk membuat kliping Koran tentang bencana alam di Indonesia, selanjutnya siswa diberi tugas untuk mengomentarinya dan solusi untuk meringankan beban mereka. Penilaian melalui tugas dilakukan terhadap tugas yang dilakukan siswa secara individual atau secara kelompok untuk periode tertentu. Tugas sering berkaitan dengan pengumpulan data/bahan, analisis data, penyajian data atau bahan, dan pembuatan laporan. Tugas dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman dan pengetahuan siswa
  30. 30. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 30 dalam bidang tertentu, mengetahui kemampuan siswa menerapkan pengetahuan dalam penyelidikan tertentu, dan mengetahui kemampuan siswa dalam menginformasikan subjek tertentu secara jelas (Puskur, 2002) dalam Wiyono (2004: 36). Penilaian tugas dapat dilakukan terhadap proses selama pengerjaan tugas atau terhadap hasil tugas akhir. Dengan demikian, guru bisa menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan daftar cek (checklist) atau skala penilaian (rating scale). Penilaian penugasan atau proyek merupakan penilaian untuk mendapatkan gambaran kemampuan menyeluruh/umum secara kontekstual, mengenai kemampuan siswa dalam menerapkan konsep dan pemahaman mata pelajaran tertentu. Penilaian terhadap suatu tugas yang mengandung aspek investigasi harus selesai dalam waktu tertentu. Investigasi dalam penugasan memuat beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pengumpulan data, pengolahan data, dan penyajian data. Contoh Rubrik Penilaian Tugas Proyek Aspek Kriteria dan Skor 3 2 1 Persiapan Jika memuat tujuan, topik, alasan, tempat penelitian, daftar pertanyaan dengan lengkap. Jika memuat tujuan, topik, alasan, tempat penelitian, daftar pertanyaan kurang lengkap. Jika memuat tujuan, topik, alasan, tempat penelitian, daftar pertanyaan tidak lengkap. Pengumpulan Data Jika daftar pertanyaan dapat dilaksanakan semuanya dan data tercatat dengan rapi dan lengkap. Jika daftar pertanyaan dapat dilaksanakan semuanya, tetapi data tidak tercatat dengan rapi dan lengkap. Jika daftar pertanyaan tidak dapat dilaksanakan semuanya dan data tidak tercatat dengan rapi dan lengkap. Pengolahan Data Jika pengolahan data sesuai tujuan penelitian. Jika pembahasan data kurang menggambarkan tujuan penelitian. Jika sekedar melaporkan hasil penelitian tanpa membahas data. Pelaporan Jika sistematika Jika sistematika Jika penulisan kurang
  31. 31. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 31 tertulis penulisan benar, memuat saran, bahasa komunikatif. penulisan benar, memuat saran, namum bahasa kurang komunikatif. sistematis, bahasa kurang Penilaian produk akan menilai kemampuan siswa dalam: 1) Bereksplorasi dan mengembangkan gagasan dalam merancang; 2) Memilih bahan yang tepat; 3) Menggunakan alat; 4) Menunjukkan inovasi dan kreasi; 5) Memilih bentuk dan gaya dalam karya seni. Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik. 1) Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan pada tahap appraisal. 2) Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan. Contoh Format Penilaian Produk Alat Peraga No. Aspek yang Dinilai Nilai 1 2 3 4 1. Keaslian ide alat peraga 2. Pengetahuan yang mendukung 3. Alat dan bahan yang digunakan 4. Cara pembuatan 5. Penampilan alat peraga 6. Kepraktisan penggunaan alat peraga 7. Manfaat alat peraga Jumlah Skor Maksimum 28 Catatan: Kolom nilai diisi dengan angka yang sesuai: 1 = kurang 2 = sedang 3 = baik 4 = amat baik
  32. 32. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 32 d. Penilaian Sikap merupakan penilaian berbasis kelas. Terhadap suatu konsep psikologi yang komplek. Penilaian sikap dalam berbagai mata pelajaran secara umum dapat dilakukan berkaiatan dengan berbagai obyek sikap antara lain, a) Sikap terhadap mata pelajaran, b) Sikap terhadap guru mata pelajaran, c) Sikap terhadap proses mata pelajaran, d) Sikap terhadap materi pembagian. Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan berbagai cara observasi perilaku, pertanyan langsung, laporan pribadi, penggunaan skala sikap. e. Penilaian Portofolio. Penilaian portofolio (portofolio assesment) merupakan salah satu bentuk “performance assesment”. Portofolio (portfolio) adalah kumpulan hasil tugas/tes atau hasil karya siswa yang dikaitkan dengan standar atau kriteria yang telah ditentukan. Dengan kata lain, portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa yang sistematis dalam satu periode. Mardapi (2000) dalam Wiyono (2004: 35) mengemukakan bahwa portofolio (portfolio) adalah pengumpulan pekerjaan individu secara sistematis. Kumpulan hasil karya atau hasil pekerjaan tersebut merupakan refleksi kemajuan belajar dan berpikir siswa dan sekaligus menunjukkan prestasi dan ketrampilan siswa. Penilaian portofolio (portfolio assesment) merupakan strategi untuk mengetahui kemampuan siswa yang sebenarnya, serta untuk mengetahui perkembangan siswa dalam bidang tertentu. Hasil kerja siswa diperbarui secara berkelanjutan yang mencerminkan perkembangan kemampuan siswa. Guru menggunakan penilaian portofolio sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Nilai diagnostik portofolio akan bisa diperoleh informasi tentang proses dan hasil belajar siswa. Penilaian portofolio (portfolio assesment) dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar siswa dalam berbagai bidang studi, termasuk bidang bahasa, matematika atau ilmu pengetahuan alam. Portofolio juga dapat digunakan untuk menilai perkembangan siswa dalam bidang ilmu-ilmu sosial, misalnya menganalisis masalah-masalah sosial dan sejenisnya. Prinsip dalam penilaian portofolio (portfolio assesment) adalah dokumen atau data hasil pekerjaan siswa, baik berupa pekerjaan rumah, tugas atau tes tertulis seluruhnya digunakan untuk membuat inferensi kemampuan dan perkembangan kemampuan siswa. Informasi ini juga digunakan untuk menyusun strategi dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Jadi, portofolio adalah suatu metode pengukuran dengan melibatkan peserta didik untuk menilai kemajuannya dalam bidang studi tersebut. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penilaian portofolio adalah sebagai berikut:
  33. 33. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 33  Karya yang dikumpulkan adalah benar-benar karya yang bersangkutan.  Menentukan contoh pekerjaan mana yang harus dikumpulkan.  Mengumpulkan dan menyimpan sampel karya.  Menentukan kriteria untuk menilai portofolio.  Meminta peserta didik untuk menilai secara terus menerus hasil portofolionya.  Merencanakan pertemuan dengan peserta didik yang dinilai.  Dapat melibatkan orang tua dalam menilai portofolio. Penilaian dengan portfolio memiliki karakteristik tertentu, sehingga penggunaannya juga harus sesuai dengan tujuan dan substansi yang diukur. Mata pelajaran yang memiliki banyak tugas dan jumlah peserta didik yang tidak banyak, penilaian dengan cara portfolio akan lebih cocok. Menurut Bartons dan Collins (1997) semua obyek portofolio atau avidence di bedakan menjadi empat macam yaitu (a) Hasil karya peserta didik (arti facts), yaitu hasil kerja peserta didik yang dihasilkan di kelas. (b) Reproduksi (reproduction) yaitu hasil kerja peserta didik yang dikerjakan di luar kelas. (c) Pengesahan (affes tations) yaitu pernyataan dan hasil pengamatan yang dilakukan oleh guru atau pihak lainnya tentang peserta didik. (d) Produksi (productions) yaitu hasil kerja peserta didik yang dipersiapkan khusus untuk portofolio. 3. Manfaat Penilaian Berbasis Kelas a. Umpan balik bagi siswa dalam mengetahui kemampuan dan kekurangannya sehingga menimbulkan motivasi untuk memperbaiki hasil belajarnya. b. Memantau kemajuan dan mendiagnosis kemampuan belajar siswa sehingga memungkinkan dilakukannya pengayaan dan remidiasi untuk memenuhi kebutuhan siswa sesuai dengan kemajuan dan kemampuannya. c. Memberikan masukan kepada guru untuk memperbaiki program pembelajarannya di kelas. d. Memungkinkan siswa mencapai kompetensi yang telah ditentukan walaupun dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda. e. Menjamin agar proses pembelajaran peserta didik tetap sesuai dengan kurikulum. 4. Prinsip – Prinsip Penilaian Berbasis Kelas a. Valid, penilaian memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar siswa. b. Mendidik, penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian belajar siswa.
  34. 34. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 34 c. Berorientasi pada kompetensi, penilaian harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum. d. Adil, penilaian harus adil terhadap semua siswa dengan tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa dan gender. e. Terbuka, kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan harus jelas dan terbuka bagi semua pihak. f. Berkesinambungan, penilaian dilakukan secara berencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar siswa sebagai hasil kegiatan belajarnya. (Depdiknas, 2002). 5. Keunggulan Penilaian Berbasis Kelas a. Pengumpulan informasi kemajuan belajar baik formal maupun non formal diadakan secara terpadu, dalam suasana yang menyenangkan, serta senantiasa memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang diketahui, dipahami dan mampu dikerjakan siswa. b. Pencapaian hasil belajar siswa tidak dibandingkan dengan prestasi kelompok (norm reference assessment), tetapi dibandingkan dengan kemampuan sebelumnya kriteria pencapaian kompetensi, standar pencapaian, dan level pencapaian nasional, dalam rangka membantu anak mencapai apa yang ingin dicapai bukan untuk menghakiminya. c. Pengumpulan informasi menggunakan berbagai cara, agar kemajuan belajar siswa dapat terdeteksi secara lengkap. d. Siswa perlu dituntut agar dapat mengeksplorasi dan memotivasi diri untuk mengerahkan semua potensi dalam menanggapi, mengatasi semua masalah yang dihadapi dengan caranya sendiri, bukan sekedar melatih siswa memilih jawaban yang tersedia. e. Untuk menentukan ada tidaknya kemajuan belajar dan perlu tidaknya bantuan secara berencana, bertahap dan berkesinambungan, berdasarkan fakta dan bukti yang cukup akurat. 6. Contoh Penerapan Penilaian Berbasis Kelas Penilaian berbasis kelas dilaksanakan secara terus menerus dan berkala. Terus menerus berarti penilaian dilaksanakan selama proses pembelajaran, sedangkan berkala berarti penilaian dilaksanakan setelah mempelajari satu kompetensi, pada akhir jenjang satuan pendidikan dan setiap akhir semester.
  35. 35. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 35 Penerapan penilaian berbasis kelas dilakukan sesuai dengan jenis dan bentuk penilaian yang digunakan di kelas. Menurut Masnur Muchlis (2007: 92), dalam penggunaan penilaian berbasis kelas, hal-hal berikut ini perlu diperhatikan: a) Memandang penilaian sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran. Di sini penilaian merupakan hal terpenting dari proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran harus diakhiri dengan penilaian. b) Mengembangkan strategi pembelajaran yang mendorong dan memperkuat proses penilaian sebagai kegiatan refleksi (bercermin diri dan pengalaman belajar). c) Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pembelajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar siswa. d) Mengakomodasi kebutuhan siswa. e) Mengembangkan sistem pencatatan yang menyediakan cara bervariasi dalam pengamatan belajar siswa. f) Menggunakan penilaian dalam rangka mengumpulkan informasi untuk membuat keputusan tentang tingkat pencapaian siswa. 7. Analisis Kasus tentang Pelaksanaan Penilaian Berbasis Kelas Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki banyak koruptor. Sedangkan sebagian besar dari para koruptor justru berasal dari kalangan yang berpendidikan yang unggul dalam aspek kognitif, namun kurang dalam aspek afektif. Sedangkan pendidikan tidak bisa lepas dari proses pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Pembelajaran seperti apa yang dapat diterapkan oleh guru agar softskill dan hardskill siswa dapat berkembang dengan seimbang? 8. Solusi Kasus Guru menjadi model. Dengan pembelajaran seperti ini guru disarankan mampu menjadi panutan dan teladan yang baik bagi siswa. Guru tidak hanya memberi contoh, tapi juga harus mampu menjadi contoh yang baik bagi siswanya. Misalnya dengan berdisiplin datang tepat waktu, memberi salam dan mengajak berdoa ketika memulai pembelajaran, berpakaian rapi dan sopan, serta bertutur kata yang santun. Guru memahami materi dengan baik. Menjadi guru yang berkompeten dan professional serta mampu menyampaikan materi dengan baik sehingga bisa diterima juga dengan baik oleh siswanya. Guru bersikap terbuka kepada siswa, tidak kasar, serta dapat berkomunikasi dengan baik dengan siswanya sehingga siswa tidak takut membagi pengalaman, bertanya tentang materi yang belum mereka pahami, dan menata psikologi mereka sehingga mereka merasa mendapat teman belajar yang menyenangkan.
  36. 36. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 36 Guru melatih diri membuat soal yang baik, agar soal tidak sekedar sulit namun mampu memotivasi siswa untuk belajar sehingga soal tersebut bermakna. Guru tidak hanya melakukan pembelajaran di dalam kelas, namun sesekali waktu dapat mengajak siswa melakukan pembelajaran di luar kelas atau bengkel. Seperti penyampaian materi di taman, atau siswa diajak ke tempat-tempat yang menunjang pembelajaran, misalnya di museum atau pabrik industri. Hal ini dimaksudkan selain agar siswa lebih dapat mendalami materi dengan pendemonstrasian secara langsung, juga dapat dijadikan kegiatan refreshing. Guru menyelipkan nasehat-nasehat kehidupaan yang relevan pada setiap pembelajaran, cerita yang dapat memotivasi, dsb. Guru mendemonstrasikan pembelajaran yang melibatkan kegiatan praktik sesuai prosedur kerja dengan tidak meninggalkan penggunaan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja, penggunaan alat pelindung diri yang sesuai, kewajiban merawat peralatan kerja, serta mendemonstrasikan bagaimana sikap yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan selama melakukan pekerjaan di bengkel.
  37. 37. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 37 3. PENILAIAN ACUAN KRITERIA
  38. 38. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 38 1. Konsep Dasar Penilaian Acuan Kriteria Penilaian Acuan Kriteria (PAK) adalah model pendekatan penilaian yang mengacu kepada suatu kriteria pencapaian tujuan (TKP) yang telah ditetapkan sebelumnya. PAK merupakan suatu cara menentukan kelulusan siswa dengan menggunakan sejumlah kriteria. Bilamana siswa telah memenuhi kriteria tersebut maka dinyatakan berhasil. Tetapi bila siswa belum memenuhi kriteria maka dikatakan gagal atau belum menguasai bahan pembelajaran tersebut. Nilai-nilai yang diperoleh siswa dihubungkan dengan tingkat pencapaian penguasaan siswa tentang materi pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Siswa yang telah melampaui atau sama dengan kriteria keberhasilan dinyatakan lulus atau memenuhi persyaratan. Guru tidak melakukan penilaian apa adanya melainkan berdasarkan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan sejak pembelajaran dimulai. Guru yang menggunakan model pendekatan PAK ini dituntut untuk selalu mengarahkan, membantu dan membimbing siswa ke arah penguasaan minimal sejak pembelajaran dimulai, sedang berlangsung dan sampai berakhirnya pembelajaran. Kompetensi yang dirumuskan dalam TKP merupakan arah, petunjuk, dan pusat kegiatan dalam pembelajaran. Penggunaan tes formatif dalam penilaian ini sangat mendukung untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa. Pelaksanaan PAK tidak memerlukan perhitungan statistik melainkan hanya tingkat penguasaan kompetensi minimal. Dengan PAK setiap individu dapat diketahui apa yang telah dan belum dikuasainya. Bimbingan individual untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dapat dirancang, demikian pula untuk memantapkan apa yang telah dikuasainya dapat dikembangkan. Guru dan setiap peserta didik (siswa) mendapat manfaat dari adanya PAK. Melalui PAK berkembang upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melaksanakan tes awal (pre test) dan tes akhir (post test). Perbedaan hasil tes akhir dengan test awal merupakan petunjuk tentang kualitas proses pembelajaran. Pembelajaran yang menuntut pencapaian kompetensi tertentu sebagaimana diharapkan dan termuat pada kurikulum saat ini, PAK merupakan cara pandang yang harus diterapkan. PAK juga dapat digunakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kurang terkontrolnya penguasaan materi, terdapat siswa yang diuntungkan atau dirugikan, dan tidak dipenuhinya nilai-nilai kelompok berdistribusi normal. PAK ini menggunakan prinsip belajar tuntas (mastery learning). Dengan menentapkan batas toleransi terhadap fluktuasi prestasi peserta didik dari kelas ke kelas dan dari tahun ke tahun dengan pertimbangan profesional seorang pengajar menetapkan batas bawah tingkatan prestasi yang dianggap memadai memenuhi syarat (lulus)
  39. 39. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 39 sedang yang di bawahnya tidak memenuhi syarat, seperti yang telah dijelaskan diatas. Perlu dijelaskan bahwa kriteria yang digunakan dalam PAK bersifat mutlak. Artinya kriteria itu bersifat tetap, setidaknya untuk jangka waktu tertentu dan berlaku bagi semua siswa yang mengikuti tes di lembaga yang bersangkutan. 2. Manfaat Penilaian Acuan Kriteria Untuk menentukan apakah seorang peserta didik, yang sesuai dengan tingkatanya sudah menguasai tujuan instruksional yang telah ditetapkan oleh instansi pendidikan atau yang ada didalam kurikulum. Pendidik dapat memilih PAP bila mereka ingin mengetahui sejauh mana peserta didik telah mengusai suatu pengetahun atau keterampilan yang diharapkan dapat dicapai. Dalam penggunaanya PAP harus terlebih dahulu ditetapkan kriteria keberhasilan yaitu batas lulus (cutoffs). Jika peserta didik telah menetapkan nilai ujian antara 90-100 dari standar akan mendapat nilai angka A, maka siapapun yang nilai ujiannya mencapai 90 akan mendapat nilai A. Jika seluruh kelas nilai ujiannya yang tertinggi hanya 80 dari standar maka tidak ada satupun yang mendapat nilai angka A. 3. Prinsip – Prinsip Penilaian Acuan Kriteria a) Objektif, berarti penilaian berbasis pada standar dan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilai. b) Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan. c) Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya. d) Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diakses oleh semua pihak. e) Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya. f) Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru. (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian) 4. Keunggulan Penilaian Acuan Kriteria a) Dapat membantu guru merancang program remidi b) Tidak membutuhkan perhitungan statistik yang rumit=7 c) Dapat mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran d) Nilainya bersifat tetap selama standar yang digunakan sama.
  40. 40. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 40 e) Hasil penilaian dapat digunakan untuk umpan balik atau untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai atau belum. f) Banyak digunakan untuk kelas dengan materi pembelajaran berupa konsep. g) Mudah menilai karena ada kriteria 5. Keterbatasan Penilaian Acuan Kriteria a) Memakan waktu dan biaya b) Metode dapat membosankan c) kemungkinan terjadi tidak ada siswa yang lulus 6. Penerapan Penilaian Acuan Kriteria Misalkan untuk dapat diterima sebagai calon penerbangan disebuah lembaga penerbangan, setiap calon harus memenuhi syarat antara alain tinggi badan sekurang- kurangnaya 165 cm dan memiliki tingkat kecerdasan (IQ) serendah-rendahnya 130 berdasarkan hasil tes yang diadakan oleh lembaga yang bersangkutan. Berdasarkan kriteria itu, siapapun calon yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut dinyatakan gagal dalam tes atau tidak akan diterima sebagai siswa calon penerbang. Contoh lain misalkan Universitas Negeri Malang mempunyai penilaian acuan kriteria nilai sebagai berikut: Nilai 85-100 : A = 4 Nilai 80-85 : A- Nilai 65-79 : B = 3 Nilai 55-64 : C = 2 Nilai 40 s.d. 54 : D = 1 Nilai < 40 : E = 0 ( Tidak lulus). Dan ditentukan batas passing grade sebesar 55 atau C, artinya mahasiswa yang belum menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dituntut suatu mata kuliah sekurang kurangnya 55 %, belum dapat dinyatakan lulus dan harus mengikuti ujian ulang. Dan mahasiswa yang mendapat nilai 0- 39 berarti gagal atau tidak lulus dan harus mengikuti kuliah kembali mata kuliah itu pada semester berikutnya. Contoh lain misalnya untuk dapat diterima sebagai calon tenaga pengajar di perguruan tinggi adalah IP minimal 3,00 dan setiap calon harus lulus tes potensi akademik yang diadakan oleh lembaga yang bersangkutan. Berdasarkan kriteria di atas siapapun calon yang tidak memenuhi persyaratan di atas maka dinyatakan gagal dalam tes atau tidak diterima sebagai calon tenaga pengajar.
  41. 41. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 41 Seperti uraian di atas tingkat kemampuan atau kelulusan seseorang ditentukan oleh tercapai tidaknya kriteria. Misalnya seseorang dikatakan telah menguasai satu pokok bahasan / kompetensi bilamana ia telah menjawab dengan benar 75% dari butir soal dalam pokok bahasan / kompetensi tersebut. Jawaban yang benar 75% atau lebih dinyatakan lulus, sedang jawaban yang kurang dari 75% dinyatakan belum berhasil dan harus mengulang kembali. Muncul pertanyaan bahwa apakah siswa yang dapat menjawab benar 75% ke atas juga akan memperoleh nilai yang sama? Hal ini tergantung pada sistem penilaian yang digunakan. Jika hanya menggunakan kriteria lulus dan tidak lulus, berarti siswa yang menjawab benar 75% ke atas adalah lulus, demikian juga sebaliknya siswa yang menjawab benar kurang dari 75% tidak lulus. Apabila sistem penilaian yang digunakan menggunakan model A, B, C, D atau standar yang lain, kriteria ditetapkan berdasarkan rentangan skor atau skala interval. 7. Analisis Kasus tentang Pelaksanaan Penilaian Acuan Kriteria 8. Solusi Kasus
  42. 42. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 42 4. PENILAIAN ACUAN NORMA
  43. 43. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 43 1. Konsep Dasar Penilaian Acuan Norma PAN (Norm Referenced Evaluation) dikenal pula dengan sebutan “Standar Relatif” atau norma kelompok. Pendekatan ini menafsirkan hasil tes yang diperoleh siswa dengan membandingkannya dengan hasil tes siswa lain dalam kelompoknya. Alat pembanding itu ditentukan berdasarkan skor yang diperoleh siswa dalam satu kelompok. Ini berarti bahwa standar kelulusan baru dapat ditentukan setelah diperoleh skor siswa. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa standar yang dibuat untuk kelompok tertentu tidak dapat digunakan untuk kelompok lainnya. Begitu pula dengan standar yang digunakan untuk hasil tes sebelumnya tidak dapat digunakan untuk hasil tes sekarang atau yang akan datang. Jadi setiap kali kita memperoleh data hasil tes, kita dituntut untuk membuat norma baru. Jika dibandingkan antara norma yang satu dengan yang lainnya mungkin saja akan ditemukan standar yang sangat berbeda. Jika kelompok tertentu kebetulan siswanya pintar-pintar, maka norma/standar kelulusannya akan tinggi. Sebaliknya jika siswanya kurang pintar, maka standar kelulusannya pun akan rendah. Itulah sebabnya pendekatan ini disebut standar relatif. Pendekatan PAN ini mendasarkan diri pada asumsi distribusi normal, walaupun kadar kenormalannya tidak selalu sama untuk tiap kelompok. Dengan demikian, walau tiap-tiap kelompok sama-sama menghasilkan kurva normal, mean kurva yang satu dengan kurva lainnya mungkin saja berbeda. Sebagai konsekuensinya, seorang siswa yang memperoleh nilai tinggi dalam suatu kelompok mungkin akan memperoleh nilai rendah jika ia dimasukkan ke dalam kelompok lainnya. Demikian pula sebaliknya. Ada beberapa pendapat lain tentang pengertian Penilaian Acuan Norma, yaitu: a) Acuan norma merupakan elemen pilihan yang memberikan daftar dokumen normatif yang diacu dalam standar sehingga acuan tersebut tidak terpisahkan dalam penerapan standar. Data dokumen normatif yang diacu dalam standar yang sangat diperlukan dalam penerapan standar. b) Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan mengacu pada norma atau kelompok. Cara ini dikenal sebagai penilaian acuan norma (PAN). c) PAN adalah Nilai sekelompok peserta didik (siswa) dalam suatu proses pembelajaran didasarkan pada tingkat penguasaan di kelompok itu. Artinya pemberian nilai mengacu pada perolehan nilai di kelompok itu. d) Penilaian Acuan Norma (PAN) yaitu dengan cara membandingkan nilai seorang siswa dengan nilai kelompoknya. Jadi dalam hal ini prestasi seluruh siswa dalam kelas / kelompok dipakai sebagai dasar penilaian.
  44. 44. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 44 Dari beberapa pengertian ini dapat disimpulkan bahwa Penilaian Acuan Norma adalah penilaian yang dilakukan dengan mengacu pada norma kelompok; nilai-nilai yang diperoleh siswa diperbandingkan dengan nilai-nilai siswa yang lain yang termasuk di dalam kelompok itu. 2. Manfaat Penilaian Acuan Norma Penilaian Acuan Norma (PAN) digunakan untuk mengklasifikasikan peserta didik. PAN dirancang untuk membedakan pencapaian nilai peserta didik yang tinggi dengan yang rendah. PAN digunakan untuk membuat ranking pencapaian prestasi peserta didik. 3. Prinsip – Prinsip Penilaian Acuan Norma a) Penilaian Acuan Normatif digunakan untuk menentukan status setiap peserta didik terhadap kemampuan peserta didik lainnya. Artinya, Penilaian Acuan Normatif digunakan apabila kita ingin mengetahui kemampuan peserta didik di dalam komunitasnya seperti di kelas, sekolah, dan lain sebagainya. b) Penilaian Acuan Normatif menggunakan kriteria yang bersifat “relative”. Artinya, selalu berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi dan atau kebutuhan pada waktu tersebut. c) Nilai hasil dari Penilaian Acuan Normatif tidak mencerminkan tingkat kemampuan dan penguasaan siswa tentang materi pengajaran yang diteskan, tetapi hanya menunjuk kedudukan peserta didik (peringkatnya) dalam komunitasnya (kelompoknya). d) Penilaian Acuan Normatif memiliki kecenderungan untuk menggunakan rentangan tingkat penguasaan seseorang terhadap kelompoknya, mulai dari yang sangat istimewa sampai dengan yang mengalami kesulitan yang serius. e) Penilaian Acuan Normatif memberikan skor yang menggambarkan penguasaan kelompok, sehingga seorang siswa yang memperoleh nilai tinggi dalam suatu kelompok mungkin akan memperoleh nilai rendah jika ia dimasukkan ke dalam kelompok lainnya. 4. Keunggulan Penilaian Acuan Norma a) Hasil PAN dapat membuat guru bersikap positif dalam memperlakukan siswa sebagai individu yang unik. b) Hasil PAN akan merupakan informasi yang baik tentang kedudukan siswa dalam kelompoknya. c) PAN dapat digunakan untuk menyeleksi calon siswa yang dites secara ketat.
  45. 45. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 45 5. Keterbatasan Penilaian Acuan Norma a) Dianggap tidak adil. b) Membuat persaingan yang tidak sehat di antara siswa. c) Alat pembanding itu ditentukan berdasarkan skor yang diperoleh siswa dalam satu kelompok. Ini berarti bahwa standar kelulusan baru dapat ditentukan setelah diperoleh skor siswa. d) Bersifat relatif, karena standar yang dibuat untuk kelompok tertentu tidak dapat digunakan untuk kelompok lainnya. Sehingga setiap dilaksanakan tes, harus membuat norma/standar baru. 6. Penerapan Penilaian Acuan Norma Untuk menetapkan persentase jumlah mahasiswa yang diluluskan dapat dilakukan dengan beberapa cara. Cara pertama, dengan menggunakan penetapan persentase mahasiswa yang diluluskan (A, B+, B, C+, C) dengan cara mengurutkan nilai tertinggi sampai yang terendah. Cara kedua, menggunakan perhitungan MEAN (nilai rata-rata) dan SD (standart deviasi) yang diperoleh. Cara kedua ini berbeda dengan cara pertama, dan persentase kelulusan mungkin tidak sama dibandingkan bila dilakukan dengan cara pertama. Konversi didasarkan pada Mean dan Standar Deviasi (SD) yang dihitung dari hasil tes yang diperoleh. Oleh karena itu untuk membuat standar penilaian atau pedoman konversi, terlebih dahulu kita harus menghitung Mean dan SD-nya. Jika dihubungkan dengan skala penilaian, maka pedoman konversi untuk PAN dapat mempergunakan berbagai skala, misalnya skala lima, sembilan, sepuluh, dan seratus. PAN tidak dapat digunakan untuk mengukur kadar pencapaian tujuan dan tingkat penguasaan bahan. PAN sering digunakan untuk fungsi prediktif, meramalkan keberhasilan pendidikan siswa di masa mendatang atau untuk menentukan peringkat/kedudukan siswa dalam kelompok. Batas lulus yang dipakai tidak lagi memperhatikan penguasaan tujuan instruksional tapi pada angka rata-rata dan besarnya simpangan baku. Lazimnya batas lulus ditetapkan berdasarkan persentase jumlah mahasiswa yang akan diluluskan dalam ujian yang sedang berlangsung. Contoh penerapannya adalah dalam satu kelas, peserta ujian terdiri dari 9 orang dengan skor mentah 50, 45, 45, 40, 40, 40, 35, 35, dan 30. Jika menggunakan pendekatan penilaian acuan normal (PAN), maka peserta tes yang mendapat skor tertinggi (50) akan mendapat nilai tertinggi, misalnya 10. sedangkan mereka yang mendapat skor di bawahnya akan mendapat nilai secara proporsional, yaitu 9, 9, 8, 8, 8, 7, 7, 6. Penentuan nilai dengan skor di atas dapat
  46. 46. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 46 juga dihitung terlebih dahulu persentase jawaban benar. Kemudian, yang memperoleh persentase tertinggi diberikan nilai tertinggi. Contoh yang lain adalah dalam sebuah seleksi, misalnya dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), daya tampung untuk program studi S-1 Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang adalah sebanyak 112 calon mahasiswa. Maka digunakan Penilaian Berbasis Norma untuk menentukan siapa saja yang lolos seleksi, yaitu dengan cara diurutkan seluruh hasil tesnya mulai dari yang tertinggi sampai terendah, lalu diambil yang tertinggi pertama sampai yang ke-112, mereka itulah yang dinyatakan lolos seleksi. 7. Analisis Kasus tentang Pelaksanaan Penilaian Acuan Norma Jika pada suatu kasus 3 kelas pada mata pelajaran tertentu diajar oleh guru yang sama, guru telah memberi perlakuan yang sama pada 3 kelas tersebut, namun Ulangan Harian menunjukkan kesenjangan hasil yang jauh antara kelas satu dengan lainnya. 8. Solusi Kasus Guru dapat mencari data siswa yang dianggap pandai untuk ditempatkan pada 3 kelas tersebut secara sama rata agar dapat menjadi virus positif bagi siswa yang lain.
  47. 47. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 47 5. VALIDITAS DAN RELIABILITAS
  48. 48. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 48 1. Konsep Dasar Validitas dan Reliabilitas Linn dan Gronlund (1995: 47) menyatakan bahwa tes yang baik harus memenuhi tiga karakteristik, yaitu: validitas, reliabilitas, dan usabilitas. Validitas artinya ketepatan interpretasi hasil prosedur pengukuran, reliabilitas artinya konsistensi hasil pengukuran, dan usabilitas artinya praktis prosedurnya. Di samping itu, Cohen dkk. (1992: 28) juga menyatakan bahwa tes yang baik adalah tes yang valid artinya mengukur apa yang hendak diukur. Nitko (1996 : 36) menyatakan bahwa validitas berhubungan dengan interpretasi atau makna dan penggunaan hasil pengukuran peserta didik. Messick (1993: 13) menjelaskan bahwa validitas tes merupakan suatu integrasi pertimbangan evaluatif derajat keterangan empiris yang mendasarkan pemikiran teoritis yang mendukung ketepatan dan kesimpulan berdasarkan pada skor tes. Adapun validitas dalam model Rasch adalah sesuai atau fit dengan model (Hambleton dan Swaminathan, 1985: 73). Reabilitas tes adalah tingkat keajegan (konsitensi) suatu tes, yakni sejauh mana suatu tes dapat dipercaya untuk menghasilkan skor yang ajeg, relatif tidak berubah walaupun diteskan pada situasi yang berbeda-beda. Reliabilitas suatu tes adalah taraf sampai dimana suatu tes mampu menunjukkan konsisten hasil pengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketetapan dan ketelitian hasil. Reliabel tes berhubungan dengan ketetapan hasil tes. 2. Jenis Validitas dan Reliabilitas Messick (1993: 16) menyatakan bahwa validitas secara tradisional terdiri dari: (1) validitas isi, yaitu ketepatan materi yang diukur dalam tes; (2) validitas criterion-related, yaitu membandingkan tes dengan satu atau lebih variabel atau kriteria, (3) valitidas prediktif, yaitu ketepatan hasil pengukuran dengan alat lain yang dilakukan kemudian; (4) validitas serentak (concurrent), yaitu ketepatan hasil pengukuran dengan dua alat ukur lainnya yang dilakukan secara serentak; (5) validitas konstruk, yaitu ketepatan konstruksi teoretis yang mendasari disusunnya tes. Linn dan Gronlund (1995 : 50) menyatakan hahwa valilitas terdiri dari: (1) konten. (2) test-criterion relationship, (3) konstruk, dan (4) consequences, yaitu ketepatan penggunaan hasil pengukuran. Sedangkan menurut Oosterhof (190 : 23) yang mengutip berdasarkan "Standards for Educational and Psychological Testing, 1985" yang didukung oleh Ebel dan Frisbie (1991 : 102-109), serta Popham (1995 : 43) bahwa tipe validitas adalah validitas: (1) content, (2) criterion, dan (3) construction. 3. Manfaat Validitas dan Reliabilitas 4. Prinsip – Prinsip Validitas dan Reliabilitas 5. Keunggulan Validitas dan Reliabilitas
  49. 49. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 49 6. Keterbatasan Validitas dan Reliabilitas 7. Penerapan Validitas dan Reliabilitas 8. Analisis Kasus tentang Validitas dan Reliabilitas Konsep reliabilitas diartikan sebagai sejauh mana suatu alat ukur diyakini memberi-kan informasi yang konsisten tentang karakteristik peserta tes yang diujikan. Jika mahasiswa berspekulasi dalam mengerjakan tes, bagaimana tester menyikapi mahasiswa yang bersikap demikian? Apakah uji reliabilitas ini masih dapat dikatakan bermakna? 9. Solusi Kasus Di samping validitas, informasi tentang reliabilitas tes sangat diperlukan. Nitko (1999 : 62) dan Popham (1995 : 21) menyatakan bahwa reliabilitas berhubungan dengan konsistensi hasil pengukuran. Pernyataan ini didukung oleh Cohen dkk, yaitu bahwa reliabilitas merupakan persamaan dependabilitas atau konsistensi (Cohen dkk : 192 : 132) karena tes yang memiliki konsistensi/reliabilitas tinggi, maka tesnya adalah akurat, reproducible; dan gereralizable terhadap kesempatan testing dan instrumen tes yang sama. (Ebel dan Frisbie (1991 : 76). Faktor yang mempengaruhi reliabilitas yang berhubungan dengan tes adalah: (1) banyak butir, (2) homogenitas materi tes, (3) homogenitas karakteristik butir, dan (4) variabilitas skor. Reliabilitas yang berhubungan dengan peserta didik dipengaruhi oleh faktor: (1) heterogenitas kelompok, (2) pengalaman peserta didik mengikuti tes, dan (3) motivasi peserta didik. Sedangkan faktor yang mempengaruhi reliabilitas yang berhubungan dengan administrasi adalah batas waktu dan kesempatan menyontek (Ebel dan Frisbie, 1991: 88-93). Linn dan Gronlund menyatakan bahwa metode estimasi dapat dilakukan dengan mempergunakan: (1) metode test-retest, yaitu diberikan tes yang sama dua kali pada kelompok yang sama dengan interval waktu; tujuannya adalah pengukuran stabilitas; (2) metode equivalent form, yaitu diberikan dua tes paralel pada kelompok yang sama dan waktu yang sama; tujuannya adalah pengukuran menjadi ekuivalen; (3) metode test-retest dengan equivalen form, yaitu diberikan dua tes paralel pada kelompok yang sama dengan interval waktu; tujuannya adalah pengukuran stabilitas dan ekuivalensi; (4) metode split-half, yaitu diberikan tes sekali, kemudian skor pada butir yang ganjil dan genap dkorelasikan dengan menggunakan rumus Spearman-Brown; tujuannya adalah pengukuran konsistensi internal; (5) metode Kuder-Richardson dan koefisien Alfa, yaitu diberikan tes sekali kemudian skor total tes dihitung dengan rumus Kuder-Richardson, tujuannya adalah pengukuran konsistensi internal; (6) metode inter-rater, yaitu diberikan satu set jawaban peserta didik untuk diskor/judgement oleh 2 atau lebih rater; tujuannya adalah pengukuran konsistensi rating. Menurut Popham (1995: 22), reliabilitas terdiri dari 3 jenis yaitu: (1) stabilitas, yaitu
  50. 50. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 50 konsistensi hasil di antara kesempatan testing yang berbeda, (2) format bergantian (alternate form), yaitu konsistensi hasil di antara dua atau lebih tes yang berbeda, (3) internal konsistensi, yaitu konsistensi melalui suatu pengukuran fungsi butir instrumen. Reliabilitas skor tes dalam teori respon butir adalah penggunaan fungsi informasi tes. Menurut Hambleton dan Swaminathan (1985: 236), pengukuran fungsi informasi tes lebih akurat bila dibandingkan dengan penggunaan reliabilitas karena: (1) bentuknya tergantung hanya pada butir-butir dalam tes, (2) mempunyai estimasi kesalahan pengukuran pada setiap level abilitas. Pernyataan ini didukung oleh Gustafson (1981 : 41), yaitu bahwa konsep reliabilitas dalam model Rasch memerankan bagian subordinate sebab model pengukuran ini diorientasikan pada estimasi kemampuan individu. Untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes perlu dilakukan analisis butir soal.
  51. 51. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 51 6. MENGEMBANGKAN BUTIR SOAL (KISI- KISI DAN INDIKATOR)
  52. 52. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 52 1. Konsep Dasar Pengembangan Butir Soal Bahan ujian atau soal yang bermutu dapat membantu pendidik meningkatkan pembelajaran dan memberikan informasi dengan tepat tentang peserta didik mana yang belum atau sudah mencapai kompetensi. Salah satu ciri soal yang bermutu adalah bahwa soal itu dapat membedakan setiap kemampuan peserta didik. Semakin tinggi kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran, semakin tinggi pula peluang menjawab benar soal atau mencapai kompetensi yang ditetapkan. Makin rendah kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran, makin kecil pula peluang menjawab benar soal untuk mengukur pencapaian kompetensi yang ditetapkan. Syarat soal yang bermutu adalah bahwa soal harus sahih (valid), dan handal. Sahih maksudnya bahwa setiap alat ukur hanya mengukur satu dimensi/aspek saja. Mistar hanya mengukur panjang, timbangan hanya mengukur berat, bahan ujian atau soal PKn hanya mengukur materi pembelajaran PKn bukan mengukur keterampilan/kemampuan materi yang lain. Handal maksudnya bahwa setiap alat ukur harus dapat memberikan hasil pengukuran yang tepat, cermat, dan ajeg. Untuk dapat menghasilkan soal yang sahih dan handal, penulis soal harus merumuskan kisi-kisi dan menulis soal berdasarkan kaidah penulisan soal yang baik (kaidah penulisan soal bentuk objektif/pilihan ganda, uraian, atau praktik). Linn dan Gronlund (1995: 47) menyatakan bahwa tes yang baik harus memenuhi tiga karakteristik, yaitu: validitas, reliabilitas, dan usabilitas. Validitas artinya ketepatan interpretasi hasil prosedur pengukuran, reliabilitas artinya konsistensi hasil pengukuran, dan usabilitas artinya praktis prosedurnya. Di samping validitas, informasi tentang reliabilitas tes sangat diperlukan. Reliabilitas merupakan persamaan dependabilitas atau konsistensi (Cohen dkk : 192 : 132) karena tes yang memiliki konsistensi/reliabilitas tinggi, maka tesnya adalah akurat, reproducible; dan gereralizable terhadap kesempatan testing dan instrumen tes yang sama. (Ebel dan Frisbie (1991 : 76). Untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes perlu dilakukan analisis butir soal. 2. Langkah Pengembangan Butir Soal A. Menyusun spesifikasi tes 1) Menentukan tujuan tes Tujuan penilaian sangat penting karena setiap tujuan memiliki penekanan yang berbeda-beda. Misalnya untuk tujuan tes prestasi belajar, diagnostik, atau seleksi. Contoh untuk tujuan prestasi belajar, lingkup materi/kompetensi yang ditanyakan/diukur disesuaikan seperti untuk kuis/menanyakan materi yang lalu,
  53. 53. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 53 pertanyaan lisan di kelas, ulangan harian, tugas individu/kelompok, ulangan semester, ulangan kenaikan kelas, laporan kerja praktik/laporan praktikum, ujian praktik. Setelah menentukan tujuan, maka perlu memperhatikan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD). Standar kompetensi merupakan acuan/target utama yang harus dipenuhi atau yang harus diukur melalui setiap kompetensi dasar yang ada atau melalui gabungan kompetensi dasar. 2) Menyusun kisi-kisi tes Kisi-kisi (test blue-print atau table of specification) merupakan deskripsi kompetensi dan materi yang akan diujikan. Tujuan penyusunan kisi-kisi adalah untuk menentukan ruang lingkup dan sebagai petunjuk dalam menulis soal. Kisi- kisi yang baik harus memenuhi persyaratan berikut ini : (1) kisi-kisi harus dapat mewakili isi silabus/kurikulum atau materi yang telah diajarkan secara tepat dan proporsional, (2) komponen-komponennya diuraikan secara jelas dan mudah dipahami, (3) materi yang hendak ditanyakan dapat dibuatkan soalnya. Sedangkan untuk kisi-kisi non tes, biasanya formatnya berisi dimensi, indikator, jumlah butir soal per indikator, dan nomor butir soal. Formatnya seperti berikut ini. NO DIMENSI INDIKATOR JUMLAH SOAL PER INDIKATOR NOMOR SOAL JUMLAH SOAL = Untuk mengisi kolom dimensi dan indikator, penulis soal harus mengetahui terlebih dahulu validitas konstruknya yang disusun/dirumuskan melalui teori. Cara termudah untuk mendapatkan teori adalah membaca beberapa buku, hasil penelitian, atau mencari informasi lain yang berhubungan dengan variabel atau tujuan tes yang dikehendaki. Oleh karena itu, peserta didik atau responden yang hendak mengerjakan tes ini (instrumen non-tes) tidak perlu mempersiapkan/belajar materi yang hendak diteskan terlebih dahulu seperti pada tes prestasi belajar. Setelah menyusun kisi-kisi, maka selanjutnya adalah menyusun indikator. Indikator dalam kisi-kisi merupakan pedoman dalam merumuskan soal yang
  54. 54. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 54 dikehendaki. Kegiatan perumusan indikator soal merupakan bagian dari kegiatan penyusunan kisi-kisi. Untuk merumuskan indikator dengan tepat, guru harus memperhatikan materi yang akan diujikan, indikator pembelajaran, kompetensi dasar, dan standar kompetensi. Indikator yang baik dirumuskan secara singkat dan jelas. Syarat indikator yang baik adalah menggunakan kata kerja operasional (perilaku khusus) yang tepat, menggunakan satu kata kerja operasional untuk soal objektif, dan satu atau lebih kata kerja operasional untuk soal uraian/tes perbuatan, serta dapat dibuatkan soal atau pengecohnya (untuk soal pilihan ganda). S Penulisan indikator yang lengkap mencakup A = audience (peserta didik) , B = behaviour (perilaku yang harus ditampilkan), C = condition (kondisi yang diberikan), dan D = degree (tingkatan yang diharapkan). Ada dua model penulisan indikator. Model pertama adalah menempatkan kondisinya di awal kalimat. Model pertama ini digunakan untuk soal yang disertai dengan dasar pernyataan (stimulus), misalnya berupa sebuah kalimat, paragraf, gambar, denah, grafik, kasus, atau lainnya, sedangkan model yang kedua adalah menempatkan peserta didik dan perilaku yang harus ditampilkan di awal kalimat. Model yang kedua ini digunakan untuk soal yang tidak disertai dengan dasar pertanyaan (stimulus). 3) Memilih bentuk tes Menentukan jenis alat ukurnya, yaitu tes atau non-tes atau mempergunakan keduanya. Untuk penggunaan tes diperlukan penentuan materi penting sebagai pendukung kompetensi dasar. Syaratnya adalah materi yang diujikan harus mempertimbangkan urgensi (wajib dikuasai peserta didik), kontinuitas (merupakan materi lanjutan), relevansi (bermanfaat terhadap mata pelajaran lain), dan keterpakaian dalam kehidupan sehari-hari tinggi (UKRK). Langkah selanjutnya adalah menentukan jenis tes dengan menanyakan apakah materi tersebut tepat diujikan secara tertulis/lisan. Bila jawabannya tepat, maka materi yang bersangkutan tepat diujikan dengan bentuk soal apa, pilihan ganda atau uraian. Bila jawabannya tidak tepat, maka jenis tes yang tepat adalah tes perbuatan: kinerja (performance), penugasan (project), hasil karya (product), atau lainnya. 4) Menentukan panjang tes Penentuan materi yang akan diujikan sangat penting karena di dalam satu tes tidak mungkin semua materi yang telah diajarkan dapat diujikan dalam waktu yang terbatas, misalnya satu atau dua jam. Oleh karena itu, setiap guru harus menentukan materi mana yang sangat penting dan penunjang, sehingga dalam
  55. 55. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 55 waktu yang sangat terbatas, materi yang diujikan hanya menanyakan materi-materi yang sangat penting saja. Materi yang telah ditentukan harus dapat diukur sesuai dengan alat ukur yang akan digunakan yaitu tes atau non-tes. B. Menulis soal tes Penulisan butir soal tes tertulis merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam penyiapan bahan ulangan/ujian. Setiap butir soal yang ditulis harus berdasarkan rumusan indikator soal yang sudah disusun dalam kisi-kisi dan berdasarkan kaidah penulisan soal bentuk obyektif dan kaidah penulisan soal uraian. Penggunaan bentuk soal yang tepat dalam tes tertulis, sangat tergantung pada perilaku/kompetensi yang akan diukur. Ada kompetensi yang lebih tepat diukur/ditanyakan dengan menggunakan tes tertulis dengan bentuk soal uraian, ada pula kompetensi yang lebih tepat diukur dengan menggunakan tes tertulis dengan bentuk soal objektif. Bentuk tes tertulis pilihan ganda maupun uraian memiliki kelebihan dan kelemahan satu sama lain. C. Menelaah soal tes Telaah soal atau analisis kualitatif soal adalah mengkaji secara teoritik soal tes yang telah tersusun. Telaah ini dilakukan dengan memperhatikan tiga aspek, yaitu aspek materi, aspek konstruksi, dan aspek bahasa. D. Melakukan uji coba tes Uji coba soal pada dasarnya adalah upaya untuk mengetahui kualitas soal tes berdasarkan pada empirik atau respon dari peserta tes. Hal ini dapat terwujud manakala dilakukan analisis empirik atau analisis kuantitatif, baik menggunakan teori klasik maupun teori modern. E. Menganalisis butir soal Untuk mengetahui kualitas butir soal, maka hasil uji coba harus dianalisis secara empirik. Ada dua pendekatan yang digunakan untuk melakukan analisis empirik ini, yaitu: teori klasik dan teori respon. Masing-masing pendekatan ada kelebihan dan kekurangannya. Untuk responden yang kecil (kurang dari 100) lebih cocok menggunakan teori klasik, sebaliknya untuk responden yang besar (lebih besar dari 200) lebih cocok menggunakan teori respon butir. F. Memperbaiki tes Setelah uji coba dilakukan dan kemudian dianalisis, maka langkah berikutnya adalah melakukan perbaikan-perbaikan tentang bagian soal yang masih belum sesuai dengan yang diharapkan.
  56. 56. PORTOFOLIO EVALUASI PENDIDIKAN 56 G. Merakit tes Merakit soal adalah menyusun soal yang siap pakai menjadi satu perangkat/paket tes atau beberapa paket tes paralel. Dasar acuan dalam merakit soal adalah tujuan tes dan kisi-kisinya. Untuk memudahkan pelaksanaannya, guru harus memperhatikan langkah-langkah perakitan soal. H. Melaksanakan tes Tes yang disusun diberikan kepada testee untuk diselesaikan. Pelaksanaan tes dilakukan sesuai waktu yang telah ditentukan. Dalam pelaksanaan tes ini perlu dilakukan pengawasan agar tes tersebut benar-benar dikerjakan dengan jujur dan sesuai dengan ketentuan yang digariskan. I. Menafsirkan hasil tes 3. Manfaat Pengembangan Butir Soal Kegunaan indikator : A. Sebagai pertanda atau indikasi pencapaian kompetensi B. Menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur C. Mengacu pada materi pembelajaran sesuai kompetensi Sedangkan kisi-kisi berguna sebagai pedoman penyusunan dan perakitan soal. 4. Prinsip – Prinsip Pengembangan Butir Soal Pengembangan materi penting dilakukan dengan memperhatikan kriteria:  Urgensi, yaitu materi secara teoritis mutlak harus dikuasai oleh peserta didik,  Kontinuitas, yaitu materi lanjutan yang merupakan pendalaman dari satu atau lebih materi yang sudah dipelajari sebelumnya,  Relevansi, yaitu materi yang diperlukan untuk mempelajari atau memahami, mata pelajaran lain,  Keterpakaian, yaitu rnateri yang memiliki nilai terapan tinggi dalam kehidupan sehari-hari. 5. Penerapan Pengembangan Butir Soal A. Penulisan Kisi-Kisi Kisi-kisi dapat didefinisikan sebagai matrik informasi yang dapat dijadikan pedoman untuk menulis dan merakit soal menjadi instrument tes. Dengan menggunakan kisi-kisi, pembuat soal dapat menghasilkan soal-soal yang sesuai dengan tujuan tes. Berbagai instrument tes yang memiliki tingkat kesulitan, kedalaman materi dan cakupan materi sama (paralel) akan mudah dihasilkan hanya dengan satu kisi-kisi yang baik. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam menyusun kisi-kisi

×