Perawatan Mesin Bubut

11,514 views

Published on

Tugas Akhir Perawatan Mesin

1 Comment
6 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
11,514
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
475
Comments
1
Likes
6
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Perawatan Mesin Bubut

  1. 1. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 1 esin tidak dapat lepas dari kehidupan manusia karena dapat dijadikan alat bantu kerja bagi manusia yang dapat mempermudah suatu pekerjaan dan dapat menyingkat waktu kerja. Di dalam suatu produksi, mesin sangat berguna bagi peningkatkan produk dan efisiensi waktu serta biaya. Dalam dunia pemesinan terdapat mesin yang digunakan untuk membuat bagian mesin lain salah satunya adalah mesin bubut. Mesin bubut merupakan salah satu jenis mesin perkakas. Di mana prinsip kerjanya dapat didefinisikan sebagai proses pemesinan permukaan luar benda silindris atau bubut rata dengan benda kerja yang berputar, dengan satu pahat bermata potong tunggal (with a single-point cutting tool), dengan gerakan pahat sejajar terhadap sumbu benda kerja pada jarak tertentu sehingga akan membuang permukaan luar benda kerja (Widarto, 2008 : 148). Di sini benda kerja akan diputar/rotasi dengan kecepatan tertentu bersamaan dengan dilakukannya proses pemakanan oleh pahat yang digerakkan secara translasi sejajar dengan sumbu putar dari benda kerja. Pada prosesnya benda kerja terlebih dahulu dipasang pada chuck (pencekam) yang terpasang pada spindle mesin, kemudian spindle dan benda kerja diputar dengan kecepatan sesuai perhitungan (Sumbodo, 2008 : 273). Alat potong yang dipakai untuk membentuk benda kerja akan disayatkan pada benda kerja yang berputar. Umumnya pahat bubut dalam keadaan diam, pada perkembangannya ada jenis mesin bubut yang berputar alat potongnya, sedangkan benda kerjanya diam. Dalam kecepatan putar sesuai perhitungan, alat potong akan mudah memotong benda kerja sehingga benda kerja mudah dibentuk sesuai yang diinginkan. Mesin bubut ada yang konvensional ada pula yang menggunakan sistem komputerisasi. Dikatakan konvensional karena untuk membedakan dengan mesin- mesin yang dikontrol dengan komputer (Computer Numerically Controlled) ataupun kontrol numerik (Numerical Control) dan karena jenis mesin konvensional mutlak diperlukan keterampilan manual dari operatornya. Pada kelompok mesin bubut konvensional juga terdapat bagian-bagian otomatis dalam pergerakannya bahkan juga ada yang dilengkapi dengan layanan sistem otomatis, baik yang dilayani dengan sistem hidraulik, pneumatik, ataupun elektrik. Ukuran mesinnya pun tidak semata-mata kecil karena tidak sedikit mesin bubut
  2. 2. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 2 konvensional yang dipergunakan untuk mengerjakan pekerjaan besar seperti yang dipergunakan pada industri perkapalan dalam membuat atau merawat poros baling-baling kapal yang diameternya mencapai 1.000 mm. Pada umumnya sebuah produk yang dihasilkan oleh manusia tidak ada yang tidak mungkin rusak, tetapi usia penggunaannya dapat diperpanjang dengan melakukan perbaikan yang dikenal dengan pemeliharaan atau perawatan, begitu juga dengan mesin bubut. Jika dibandingkan, mesin yang dirawat dengan baik tentu memiliki usia pakai lebih panjang daripada mesin yang tidak pernah dirawat. Dengan adanya perawatan yang teratur, dapat memperkecil kemungkinan terjadinya kerusakan mesin yang lebih parah yang dapat menyebabkan pembiayaan lebih sehingga lebih ekonomis. Selain itu, perawatan mesin juga dapat meningkatkan keselamatan bagi penggunanya serta menyediakan mesin yang selalu siap pakai. Pengertian perawatan (maintenance) menurut Febrianto dapat diartikan sebagai kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan pabrik dan mengadakan kegiatan pemeliharaan, perbaikan penyesuaian, maupun penggantian sebagian peralatan yang diperlukan agar sarana fasilitas pada kondisi yang diharapkan dan selalu dalam kondisi siap pakai.
  3. 3. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 3
  4. 4. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 4 erawatan umum bertujuan untuk menjaga agar mesin tidak cepat rusak, sedangkan perawatan khusus dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat,berdasarkan pengalaman dan buku petunjuk perawatan yang diberikan oleh pabrik pembuat mesin. patah. Akibat lain adalah kontak langsung Yang dapat dilakukan dalam perawatan umum pada mesin bubut adalah : a. Mesin bubut ini tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung. b. Dalam pelaksanaan perawatan seperti pengantian oli pelumasan mesin dan pemberian grease, diharuskan memakai oli yang dipersyaratkan oleh pabrik pembuat mesin. Karena pemberian oli pelumas yang tidak cocok akan mengakibatkan terjadinya pengerakkan atau laquer pada bagian yang diberi pelumasan yang lama kelamaan akan bertambah tebal akibatnya akan mengganjal gerakan bagian mesin bubut dan menutup lubang saluran minyak pelumas, sehingga fungsi minyak pelumas tidak sempurna. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya keausan yang besar dan bisa patah. c. Setelah selesai mengoperasikan mesin, bersihkan bagian-bagian mesin dari beram-beram hasil pemotongan dan cairan pendingin. d. Untuk pemasangan benda kerja pada poros utama, tidak diperkenakan memukul benda kerja secara keras dengan mengunakan palu/hammer e. Jaga dan perhatikan secara seksama selama pengoperasian mesin, jangan sampai beram-beram yang halus dan keras terutama beram besi tulang jatuh ke meja mesin dan terbawa oleh eretan. f. Setelah selesai mengoperasikan mesin, atur semua handel-handel pada posisi netral dan mematikan sumber tenaga mesin
  5. 5. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 5
  6. 6. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 6 ada perawatan khusus, yang memerlukan perawatan biasanya adalah motor pembangkit. Yang sering terjadi pada motor pembangkit adalah motor tidak mampu bekerja dan motor cepat panas. Ada 7 kemungkinan yang menyebabkan motor pembangkit tidak mau bekerja. Pertama, tegangan dari sumber tenaga yang masuk ke motor pembangkit rendah, sehingga tidak sanggup membangkitkan motor pembangkit. Jika hal ini terjadi, kita hanya perlu menaikkan tegangan listrik. Kedua, arus yang masuk ke motor pembangkit beda phasanya, maka diperlukan pengukuran arus yang masuk satu phasa atau tiga phasa sesuai dengan motor pembangkit. Ketiga, sekring pada circuit breaker putus/terbakar, apabila terjadi hal yang demikian maka gantilah sekring tersebut dengan yang baru dan spesifikasi yang sama. Keempat, tidak sempurnanya kontak-kontak pada switch atau saklar. Kelima, coil pada saklar terbakar. Keenam, tidak terjadi hubungan pada kontak limit switch. Ketujuh, rem motor tidak berfungsi secara baik. Jika motor cepat panas ada dua pemicu yang menyebabkan motor penggerak jadi cepat panas yaitu pertama perbedaan tegangan, maka tindakan yang perlu dilakukan adalah periksa tegangan listrik yang masuk. Kedua, beban motor yang terlalu berlebih dari yang ditentukan akan menyebabkan panas terlalu berlebih pada yang terlalu berlebih pada motor pengerak, karenanya butuh diatur kembali beban supaya sesuai dengan yang sudah ditentukan.
  7. 7. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 7
  8. 8. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 8 eperti mesin-mesin yang lain, mesin bubut memiliki bagian- bagian yang memiliki fungsinya masing-masing. Bagian- bagian utama pada mesin bubut konvesional pada umumnya sama walaupun merk atau buatan pabrik yang berbeda, hanya saja terkadang posisi handel/tuas, tombol, tabel penunjukan pembubutan, dan rangkaian penyusunan roda gigi untuk berbagai jenis pembubutan letak/posisinya berbeda. Demikian juga cara pengoperasiannya karena memiliki fasilitas yang sama juga tidak jauh berbeda. Bagian-bagian mesin bubut ini tentu memiliki kemungkinan mengalami kerusakan, oleh karena itu pada bagian – bagian ini perlu mendapatkan perawatan. 3.1. Sumbu Utama (Main Spindle) Sumbu utama atau dikenal dengan main spindle merupakan suatu sumbu utama mesin bubut yang berfungsi sebagai dudukan chuck (cekam), plat pembawa, kolet, senter tetap, dan lain-lain. Di dalam chuck atau cekam terdapat susunan roda gigi yang dapat digeser-geser melalui handel/tuas untuk mengatur putaran mesin sesuai kebutuhan pembubutan. Di dalam kepala tetap ini terdapat serangkaian susunan roda gigi dan roda pulley bertingkat ataupun roda tunggal dihubungkan dengan sabuk V atau sabuk rata. Dengan demikian, kita dapat memperoleh putaran yang berbeda-beda apabila hubungan di antara roda tersebut diubah-ubah menggunakan handel/tuas pengatur kecepatan (A), (C), dan (F). Roda (Pully V) bertingkat ini biasanya terdiri dari 3 atau 4 buah keping dengan sumbu yang berbeda dan diputar oleh sebuah motor listrik. Putaran yang dihasilkan ada dua macam yaitu putaran cepat dan putaran lambat. Putaran cepat biasanya dilakukan pada kerja tunggal untuk membubut benda dengan sayatan tipis, sedangkan putaran lambat untuk kerja ganda yaitu untuk membubut dengan tenaga besar dan pemakanannya tebal (pengasaran). Arah putaran mesin dapat dibalik menggunakan tuas pembalik putaran (C), hal ini diperlukan dengan maksud misalnya untuk membubut ulir atau untuk membubut dengan arah berlawanan sesuai dengan sudut mata potong pahat.
  9. 9. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 9 Gambar 3.1 : Sumbu Utama Kerusakan yang umum terjadi pada kepala tetap mesin bubut di antaranya adalah putaran poros utama tersendat-sendat dan terlalu berat, suhu atau temperatur pada kepala lepas terlalu tinggi, terjadinya suara yang bising pada kepala lepas, serta tidak senter. Hal ini biasanya dikarenakan karena bearing-bearing pada spindel utama atau poros mesin bubut sudah aus/gocak/longgar. Memang untuk menggantinya membutuhkan waktu cukup banyak, mengingat kita harus membongkar headstock sebaiknya juga memeriksa baring-bearing pada sumbu transmisi. Kerusakan yang seperti ini menyebabkan hasil bubutan seperti oval. Ketika diukur dengan posisi berbeda 90 derajat ada selisih besar diameternya. Terjadi baik kala membubut luar maupun membubut diameter dalam (lubang). Selain pada poros utama, perawatan mesin bubut berkala selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah cara menyetel roda gigi pengganti. Rangkaian roda gigi pengganti atau changing gear bubut menghubungkan rotasi spindle dengan poros otomatis pakan dan poros threading. Untuk menyetelnya bisa ditempatkan kertas tipis diantara roda gigi satu dengan yang lain. Roda gigi harus bisa berputar menggilas kertas tipis tersebut. Baut penjepit kemudian harus diperketat. Lepaskan kertas tipis tersebut. Ruang kosong antara gigi, di mana kertas tipis tadi ditempatkan, dikenal sebagai backlash, yaitu speling antar roda gigi. Pada mesin bubut yang dianjurkan adalah antara 0,007 dan 0,011 inci. Jika roda gigi yang berisik, berarti masih terlalu rapat. Setelah selesai penyetelan tambahkan sedikit pelumas diantara roda gigi.
  10. 10. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 10 Gambar 3.2 : Pengaturan Backlash dalam Rangkaian Roda Gigi Pengganti Selanjutnya, bagian mesin bubut yang memerlukan perawatan berkala adalah van belt (Tali Kipas). Sabuk ini menghantarkan daya dari motor ke poros. Untuk menemukan van belt ini, cukup membuka tutup ruang gigi dan motor pada headstock. Pastikan bahwa semua kontrol listrik mati saat melepas tali kipas. Jika Anda melihat bahwa satu atau lebih dari van belt yang tampaknya terlalu lentur atau retak, ini harus mendapat perhatian atau diganti. Periksa ketegangan van belt dengan menerapkan tekanan jari untuk van belt masing-masing pada titik tengah antara dua vully. Untuk ketegangan yang benar defleksi (kekenduran) yang diperbolehkan adalah sekitar 3 / 8 inci (9,2 mm) dalam sabuk masing-masing. Jika jumlah defleksi lebih dari 3 / 8 inci di salah satu atau lebih dari sabuk, harus diganti. Gambar 3.3 : Ruang Gear pada Headstock
  11. 11. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 11 Gambar 3.4 : Memeriksa Ketegangan Tali Kipas 3.2. Meja Mesin (Bed) Meja mesin bubut berfungsi sebagai tempat dudukan kepala lepas, eretan, penyangga diam (steady rest), dan merupakan tumpuan gaya pemakanan waktu pembubutan. Bentuk alas ini bermacam-macam, ada yang datar dan ada yang salah satu atau kedua sisinya mempunyai ketinggian tertentu. Perawatan yang harus dilakukan pada meja mesin ini adalah membersihkannya dari kotoran, beram-beram sisa pembubutan, ataupun cairan pendingin karena permukaan meja mesin ini halus dan rata, sehingga gerakan kepala lepas dan lain-lain di atasnya harus lancar sehingga mesin bubut dapat menghasilkan hasil pembubutan yang presisi. Selain itu, bedways atau lintasan merupakan salah satu bagian yang paling sering mengalami keausan, karenanya pelumasan adalah hal yang wajib dilakukan. Gambar 3.5 : Meja Mesin Bubut
  12. 12. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 12 Selanjutnya adalah perawatan pada bantalan penghapus kotoran. Perawatan kali ini kelihatan sepele, hal ini dikarenakan efek dari perawatan ini tidak terasa segera, tapi setelah kurun waktu tertentu. Kebanyakan mesin bubut dilengkapi dengan bantalan penghapus kotoran di bagian yang bersentuhan dengan bed. Bantalan ini biasanya terbuat dari karet yang akan menampung minyak pelumas. Wiper dirancang untuk mencegah chip kecil (bram/tatal) dan kotoran antara slide dan lintasan bed. Wiper menahan partikel halus dari kotoran sebelum mereka mendapatkan ruang diantara dua permukaan geser. Wiper sesekali harus dihapus, dibersihkan, dan diisi dengan minyak secara teratur. Anda tidak harus menggunakan udara bertekanan kompressor untuk membersihkan mesin bubut. Kompresi udara akan mendorong partikel halus terjebak dalam wiper antara permukaan yang bersentuhan dengan bed, menyebabkan keausan dini pada permukaan presisi. Gambar 3.6 : Wiper Pads 3.3. Eretan (Carriage) Eretan terdiri atas eretan memanjang (longitudinal carriage) yang bergerak sepanjang alas mesin, eretan melintang (cross carriage) yang bergerak melintang alas mesin, dan eretan atas (top carriage) yang bergerak sesuai dengan posisi penyetelan di atas eretan melintang. Kegunaan eretan ini adalah untuk memberikan pemakanan yang besarnya dapat diatur menurut kehendak operator yang dapat terukur dengan ketelitian tertentu yang terdapat pada roda pemutarnya. Perlu diketahui bahwa semua eretan dapat dijalankan secara otomatis ataupun manual.
  13. 13. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 13 Gambar 3.7 : Eretan Kesalahan atau kerusakan yang sering timbul pada eretan adalah pertama, eretan sangat berat meluncur pada mesin bubut maka penyelesaianya adalah lakukan pemeriksaan baut-baut penyetel kerapatan eretan, apabila terlalu kuat longgarkan baut-baut tersebut. Kedua, hasil pekerjaan tidak rata.hal ini terjadi karena adanya ganguan pada pinion gear, usaha mengatasinya ialah dengan memperbaki gigi pinion atau menganti gigi pinion yang baru. Ketiga, pemakanan pada benda kerja tidak rata pada waktu langkah otomatis atau penyayatan otomatis, hal ini disebabkan oleh tidak senternya poros trasportir. Keempat terlalu berat pada waktu pemotongan menyilang, kemungkinan ini disebabkan terlalu kuatnya pengikat baut untuk pemotongan menyilang, maka longgarkan ikatan baut. Kelima, tidak rata permukaan penyayatan menyilang (facing) yang kemungkinan disebabkan tidak tepatnya penyetelan baut-baut pengikat poros utuk pemakanan. Keenam, terlalu keras gerakan toolpost yang disebabkan oleh gangguan pemasangan pasak. Ketujuh, kedudukan toolpost kurang teliti sehingga pemakanan kurang baik. Kedelapan, pompa pada apron sangat sulit dioprasikan. Hal ini disebabkan minyak pelumas yang sudah kotor, maka lakukan pembersian atau pengantian minyak pelumas serta membersihkan pipa-pipa salurannya. Eretan Atas Handle Eretan Melintang Tuas Penghubung Handle Eretan Tuas Pengatur
  14. 14. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 14 a. Eretan Atas Eretan atas berfungsi sebagai dudukan penjepit pahat yang sekaligus berfungsi untuk mengatur besaran majunya pahat pada proses pembubutan ulir, alur, tirus, champer (pingul), dan lain-lain yang ketelitiannya bisa mencapai 0,01 mm. Eretan ini tidak dapat dijalankan secara otomatis, melainkan hanya dengan cara manual. Kedudukannya dapat diatur dengan memutarnya sampai posisi 360°, biasanya digunakan untuk membubut tirus dan pembubutan ulir dengan pemakanan menggunakan eretan atas. Untuk perawatan eretan atas, perlu dilakukan pengecekan secara rutin atau sebelum melakukan pembubutan, jika pada setiap eretan timbul gesekan berarti perlu dilakukan pelumasan. Jika pada tutup eretan pecah maka harus mengganti tutup eratan yang baru. Jika eretan atas juga menggunakan gib tirus maka hal yang kita lakukan untuk menyetelnya, sama menyetel gib pada eretan melintang, namun jika menggunakan gib lurus maka kita harus menyetel baut-baut pengunci di sebelahnya. Gambar 3.8 : Eretan Atas b. Eretan Lintang Eretan lintang berfungsi untuk menggerakkan pahat melintang alas mesin atau arah ke depan atau ke belakang posisi operator yaitu dalam pemakanan benda kerja. Pada roda eretan ini juga terdapat dial pengukur untuk mengetahui berapa panjang langkah gerakan maju atau mundurnya pahat.
  15. 15. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 15 Untuk perawatan eretan lintang, perlu dilakukan pengecekan secara rutin atau sebelum melakukan pembubutan, jika pada setiap eretan timbul gesekan berarti perlu dilakukan pelumasan. Jika pada tutup eretan pecah maka harus mengganti tutup eratan yang baru. Untuk mengetahui kelonggaran eretan, bisa dengan menggoyangkan bagian atasnya atau dengan memutar handelnya maju mundur sambil menahan bagian atas eretan. Jika terasa longgar lakukan hal berikut : pertama melonggarkan sekrup GiB yang sama di muka dan belakang eretan melintang, kemudian kembali mengencangkan sekrup depan untuk menyesuaikan GiB di posisi baru lalu mengencangkan atau memberi tahanan dengan baut di bagian belakang agar memperoleh toleransi gesekan yang cukup. Setelah penyesuaian selesai, gerakkan eretan melintang ke seluruh lintasannya untuk memastikan kelancaran gerakannya. Gambar 3.9 : Baut Penyetel di Depan 3.4. Kepala Lepas (Tail Stock) Kepala lepas digunakan untuk dudukan senter putar sebagai pendukung benda kerja pada saat pembubutan, dudukan bor tangkai tirus, dan cekam bor sebagai menjepit bor. Kepala lepas dapat bergeser sepanjang alas mesin, porosnya berlubang tirus sehingga memudahkan tangkai bor untuk dijepit. Tinggi kepala lepas sama dengan tinggi senter tetap. Kepala lepas ini terdiri dari dua bagian yaitu alas dan badan, yang diikat dengan 2 baut pengikat (A) yang terpasang pada kedua sisi alas. Kepala lepas sekaligus berfungsi untuk pengatur pergeseran badan kepala lepas untuk keperluan agar dudukan senter putar sepusat dengan senter tetap atau sumbu mesin atau tidak sepusat yaitu pada waktu membubut tirus di antara dua senter. Selain roda pemutar (B), kepala lepas juga terdapat dua
  16. 16. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 16 lagi lengan pengikat yang satu (C) dihubungkan dengan alas yang dipasang mur, di mana fungsinya untuk mengikat kepala lepas terhadap alas mesin agar tidak terjadi pergerakan kepala lepas dari kedudukannya. Sedangkan yang satunya (D) dipasang pada sisi tabung luncur/rumah senter putar, bila dikencangkan berfungsi agar tidak terjadi pergerakan longitudinal sewaktu membubut. Gambar 3.10 : Kepala Lepas Kepala lepas mudah bergetar atau tidak stabil selama pelaksanan pembubutan. Jika hal ini terjadi kemungkinan ialah kurang kuatnya pengikat baut pengikat kepala lepas dengan meja atau rangka mesin. Sehingga yang perlu dilakukan adalah mengencangkan pengikat baut kepala lepas dengan meja atau rangka mesin. Selain itu tail stock yang tidak pusat menyebabkan mesin bubut menghasilkan pemotongan yang tidak lurus. Posisi tuas pengunci penjepit bed pada tailstock harus disesuaikan dan harus ditempatkan sebelum pusat mati atas atau tidak sampai posisi 90 derajat. Hal ini dimaksudkan agar mendapatkan jepitan yang lebih kuat. Gambar 3.11 : Posisi Tuas Pengunci Penjepit Bed pada Tailstock
  17. 17. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 17 Gambar 3.12 : Penyesuaian Baut Pengunci Tailstock Tuas ini disesuaikan dengan baut mengunci yang terletak di bagian bawah plat tailstock yang menjepitnya dengan bed. Putar baut searah jarum jam untuk meningkatkan kekuatan penjepit. Bubut juga dapat dilengkapi dengan baut tambahan pada tailstock tersebut. Baut ini digunakan untuk memberikan tindakan penjepit tambahan bila diperlukan, misalnya bila menggunakan tailstock untuk proses masal dengan ukuran yang sama, sehingga tidak perlu mengencangkan tuas berulang kali, karena posisinya telah dimatikan oleh baut ini untuk sementara. 3.5. Tuas Pengatur Kecepatan Transporter dan Sumbu Pembawa Tuas pengatur kecepatan (A), digunakan untuk mengatur kecepatan poros transporter dan sumbu pembawa. Ada dua pilihan kecepatan yaitu kecepatan tinggi dan kecepatan rendah. Kecepatan tinggi digunakan untuk pengerjaan benda-benda berdiameter kecil dan pengerjaan penyelesaian, sedangkan kecepatan rendah digunakan untuk pengerjaan pengasaran, ulir, alur, mengkartel, dan pemotongan (cut off). Gambar 3.13 : Tuas Pengatur Kecepatan Transporter dan Sumbu Pembawa
  18. 18. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 18 3.6. Penjepit Pahat (Tools Post) Penjepit pahat digunakan untuk menjepit atau memegang pahat, yang bentuknya ada beberapa macam. Jenis ini sangat praktis dan dapat menjepit pahat 4 (empat) buah sekaligus sehingga dalam suatu pengerjaan bila memerlukan 4 (empat) macam pahat dapat dipasang dan disetel sekaligus. Gambar 3.14 : Toolpost 3.7. Kran Pendingin Kran pendingin digunakan untuk menyalurkan pendingin (collant) kepada benda kerja yang sedang dibubut dengan tujuan untuk mendinginkan pahat pada waktu penyayatan sehingga dapat menjaga pahat tetap tajam dan panjang umurnya. Hasil bubutannya pun halus. Gambar 3.15 : Kran Pendingin
  19. 19. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 19 3.8. Roda Pemutar Roda pemutar yang terdapat pada kepala lepas digunakan untuk menggerakkan poros kepala lepas maju ataupun mundur. Berapa panjang yang ditempuh ketika maju atau mundur dapat diukur dengan membaca cincin berskala (dial) yang ada pada roda pemutar tersebut. Pergerakan ini diperlukan ketika hendak melakukan pengeboran untuk mengetahui atau mengukur seberapa dalam mata bor harus dimasukkan. 3.9. Transporter dan Sumbu Pembawa Transporter atau poros transporter adalah poros berulir segi empat atau trapesium yang biasanya memiliki kisar 6 mm, digunakan untuk membawa eretan pada waktu kerja otomatis, misalnya waktu membubut ulir, alur, atau pekerjaan pembubutan lainnya. Sedangkan sumbu pembawa atau poros pembawa adalah poros yang selalu berputar untuk membawa atau mendukung jalannya eretan. Gambar 3.16 : Transporter dan Sumbu Pembawa 3.10. Tuas Penghubung Tuas penghubung sebagaimana digunakan untuk menghubungkan roda gigi yang terdapat pada eretan dengan poros transpoter sehingga eretan akan dapat berjalan secara otomatis sepanjang alas mesin. Tuas penghubung ini mempunyai dua kedudukan. Kedudukan di atas berarti membalik arah gerak putaran (arah putaran berlawanan jarum jam) dan posisi ke bawah berarti gerak putaran searah jarum jam. Sumbu transporter Sumbu pembawa
  20. 20. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 20
  21. 21. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 21 4.1. Cekam (Chuck) Cekam adalah sebuah alat yang digunakan untuk menjepit benda kerja. Jenisnya ada yang berahang tiga sepusat (Self centering chuck), dan ada juga yang berahang tiga dan empat tidak sepusat (Independenc chuck). Gambar 4.1 : Cekam Cekam rahang tiga sepusat, digunakan untuk benda-benda silindris, di mana gerakan rahang bersama-sama pada saat dikencangkan atau dibuka. Sedangkan gerakan untuk rahang tiga dan empat tidak sepusat, setiap rahang dapat bergerak sendiri tanpa diikuti oleh rahang yang lain, maka jenis ini biasanya untuk mencekam benda-benda yang tidak silindris atau digunakan pada saat pembubutan eksentrik. Gambar 4.2 : Jenis Cekam Perlu diketahui bahwa cekam rahang tiga maupun rahang empat dapat digunakan untuk menjepit bagian dalam atau bagian luar benda kerja. Posisi rahang dapat dibalik apabila dipergunakan untuk menjepit benda silindris atau untuk benda yang bukan silindris, misalnya flens, benda segi empat, dan lain-lain. Rahang penjepit Lubang tangkai pemutar cekam
  22. 22. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 22 Pada chuck sering terjadi kebalingan, jumlah baut pengikat poros chuck dalam yang kurang, atau baut chuck patah. Maka chuck tersebut harus disetel kembali ke keadaan semula serta sering dibersihkan agar hasil penyayatan lebih baik. Gambar 4.3 : Cara Membersihkan Cekam Pada kunci chuck adalah bagian alat yang sangat penting, karena alat yang sering digunakan untuk membuka dan mengencangkan pencekam, perawatan yang harus dilakukan adalah : 1. Periksa bagian pengencang/ mulut pengunci terlihat aus atau tidak, jika terjadi aus maka pengencangangan terjadi slip. 2. Jika terjadi aus, perlu penambahan daging, dengan cara pengelasan listrik. 3. Setelah dilas kemudian, fraislah pengunci hingga terbentuk persegi (segi empat). 4. Setelah terbentuk, rapihkanlah bagian yang tajam agar tidak melukai pekerja.
  23. 23. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 23 4.2. Plat Pembawa Plat pembawa ini berbentuk bulat pipih digunakan untuk memutar pembawa sehingga benda kerja yang terpasang padanya akan ikut berputar dengan poros mesin, permukaannya ada yang beralur, dan ada yang berlubang. Gambar 4.4 : Plat Pembawa 4.3. Pembawa Pembawa ada 2 (dua) jenis, yaitu pembawa berujung lurus dan pembawa berujung bengkok. Pembawa berujung lurus digunakan berpasangan dengan plat pembawa rata sedangkan pembawa berujung bengkok dipergunakan dengan plat pembawa beralur. Caranya benda kerja dimasukkan ke dalam lubang pembawa, terbatas dengan besarnya lubang pembawa kemudian dijepit dengan baut yang ada pada pembawa tersebut, sehingga akan dapat berputar bersama-sama dengan sumbu utama. Hal ini digunakan bilamana dikehendaki membubut menggunakan dua buah senter. Gambar 4.5 : Pembawa 4.4. Penyangga Penyangga ada dua macam yaitu penyangga tetap (steady rest), dan penyangga jalan (follower rest). Penyangga ini digunakan untuk membubut benda-benda yang panjang, karena benda kerja yang panjang apabila tidak
  24. 24. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 24 dibantu penyangga maka hasil pembubutan akan menjadi berpenampang elip/oval, tidak silindris, dan tidak rata. Apalagi bila membubut bagian dalam maka penyangga ini mutlak diperlukan. Penyangga tetap diikat dengan alas mesin sehingga dalam keadaan tetap pada kedudukannya, sedang penyangga jalan diikatkan pada meja eretan, sehingga pada saat eretan memanjang bergerak maka penyangga jalan mengikuti tempat kedudukan eretan tersebut. Gambar 4.6 : Penyangga 4.5. Kolet (Collet) Kolet digunakan untuk menjepit benda silindris yang sudah halus dan biasanya berdiameter kecil. Bentuknya bulat panjang dengan leher tirus dan berlubang, ujungnya berulir dan kepalanya dibelah menjadi tiga. Gambar 4.7 : Kolet Kolet mempunyai ukuran yang ditunjukkan pada bagian mukanya yang menyatakan besarnya diameter benda yang dapat dicekam. Misalnya kolet berukuran 8 mm, berarti kolet ini dipergunakan untuk menjepit benda kerja berukuran 8 mm. Pemasangan kolet adalah pada kepala tetap dan dibantu dengan kelengkapan untuk menarik kolet tersebut. Karena kolet berbentuk tirus, alat penariknya pun berbentuk lubang tirus, dengan memutar ke kanan uliran batangnya.
  25. 25. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 25 4.6. Senter Senter terbuat dari baja yang dikeraskan dan digunakan untuk mendukung benda kerja yang akan dibubut. Ada dua jenis senter yaitu senter mati (tetap) dan senter putar. Pada umumnya senter putar pemasangannya pada ujung kepala lepas dan senter tetap pemasangan-nya pada sumbu utama mesin (main spindle). Bagian senter yang mendukung benda kerja mempunyai sudut 60°, dan dinamakan senter putar karena pada saat benda kerjanya berputar senternya pun ikut berputar. Berlainan dengan senter mati (tetap) untuk penggunaan pembubutan di antara dua senter, benda tersebut hanya ikut berputar bersama mesin namun ujungnya tidak terjadi gesekan dengan ujung benda kerja yang sudah diberi lubang senter. Walaupun tidak terjadi gesekan sebaiknya sebelum digunakan, ujung senter dan lubang senter pada benda kerja diberi greace/gemuk atau pelumas sejenis lainnya. Gambar 4.8 : Senter 4.7. Kelengkapan Tirus (Taper Attachment) Alat ini digunakan untuk membubut tirus. Selain menggunakan alat ini membubut tirus juga dapat dilakukan dengan cara menggeser kedudukan kepala lepas ataupun menggunakan eretan atas. Gambar 4.9 : Kelengkapan Tirus
  26. 26. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 26
  27. 27. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 27 Yang dimaksud dengan alat potong adalah alat/pisau yang digunakan untuk menyayat produk/benda kerja. Dalam pekerjaan pembubutan alat potong yang digunakan adalah : a. Pahat bubut rata kanan. Memiliki sudut baji 80º dan sudut-sudut bebas lainnya. Pada umumnya digunakan untuk pembubutan rata memanjang yang pemakanannya dimulai dari kiri ke arah kanan mendekati posisi cekam. b. Pahat bubut rata kiri Memiliki sudut baji 55º dan sudut-sudut bebas lainnya. Pada umumnya digunakan untuk pembubutan rata memanjang yang pemakaiannya dimulai dari kiri ke arah kanan mendekati posisi kepala lepas, c. Pahat bubut muka Memiliki sudut baji 55° dan sudut-sudut bebas lainnya. Pada umumnya digunakan untuk pembubutan rata permukaan benda kerja (facing) yang pemakanannya dapat dimulai dari luar benda kerja ke arah mendekati titik senter dan juga dapat dimulai dari titik senter ke arah luar benda kerja tergantung arah putaran mesinnya. d. Pahat bubut luar Prosesnya adalah benda kerja yang akan dibubut bergerak berputar sedangkan pahatnya bergerak memanjang, melintang, atau menyudut tergantung pada hasil pembubutan yang diinginkan. e. Pahat bubut dalam Digunakan untuk membubut bagian dalam atau memperbesar lubang yang sebelumnya telah dikerjakan dengan mata bor. f. Pahat potong Menggunakan tangkai digunakan untuk memotong benda kerja. g. Pahat bentuk Digunakan untuk membentuk permukaan benda kerja dan bentuknya sangat banyak dan dapat diasah sesuai bentuk yang dikehendaki operatornya. h. Pahat keras
  28. 28. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 28 Pahat yang terbuat dari logam keras yang mengandung bahan karbon tinggi yang dipadu dengan bahan-bahan lainnya, seperti cemented carbid, tungsten, wide, dan lain-lain. Pahat jenis ini tahan terhadap suhu kerja sampai dengan kurang lebih 1.000° c, sehingga tahan aus/gesekan tetapi getas/rapuh dan dalam pengoperasiannya tidak harus menggunakan pendingin, sehingga cocok untuk mengerjakan baja, besi tuang, dan jenis baja lainnya dengan pemakanan yang tebal namun tidak boleh mendapat tekanan yang besar. Di pasaran pahat jenis ini ada yang berbentuk segi tiga, segi empat, dan lain-lain yang pengikatan dalam tangkainya dengan cara dipateri keras (brassing) atau dijepit menggunakan tangkai dan baut khusus. Jenis bahan pahat bubut yang banyak digunakan di industri-industri dan bengkel-bengkel antara lain baja karbon, hss, karbida, diamond, dan keramik.
  29. 29. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 29 Selain pahat, yang termasuk ke dalam alat potong pada mesin bubut adalah bor senter yang digunakan untuk membuat lubang senter di ujung benda kerja sebagai tempat kedudukan senter putar atau tetap yang kedalamannya disesuaikan dengan kebutuhan yaitu sekitar dari panjang bagian yang tirus pada bor senter tersebut. Selain bor, ada juga kartel. Kartel adalah suatu alat yang digunakan untuk membuat alur-alur kecil pada permukaan benda kerja, agar tidak licin yang biasanya terdapat pada batang-batang penarik atau pemutar yang dipegang dengan tangan. Hasil pengkartelan ada yang belah ketupat dan ada yang lurus tergantung gigi kartelnya. Karena alat potong sangat penting pada proses pembubutan maka perlu pengecekan dan pengasahan alat potong sesuai bentuk mata potongnya.
  30. 30. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 30
  31. 31. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 31 ujuan pelumasan pada bagian-bagian mesin bubut yang pertama adalah mengurangi gesekan, gesekan langsung antara dua permukaan bagian-bagian mesin yang bergerak. Dengan adanya lapisan pelumas diantara dua permukaan benda tadi, maka gesekan tidak menjadi langsung, tetapi didasari/dialasi oleh lapisan minyak pelumas sehingga dapat mengurangi tahanan gesek atau perlawanan gerak. Hasil yang diperoleh, dengan adanya lapisan minyak pelumas saat adanya gerakan untuk saat akan bergerak berputar lebih kecil, panas yang timbul akibat gesekan juga berkurang, pada akhirnya akan mengurangi biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan alat tersebut. Dengan adanya lapisan pelumas maka gesekan yang ditimbulkan pada bagian- bagian mesin akan berkurang sehingga keausan yang terjadi akan dapat berkurang. Yang kedua adalah mengurangi keausan, berkurangnya keausan akan memperoleh keuntungan ganda antara lain, mencegah biaya yang tinggi dari penggantian suku cadang (spare part) yang aus. Di samping itu juga mencegah kerugian yang diakibatkan oleh terhentinya proses produksi akibat kerusakan yang dialami oleh peralatan bersangkutan yang memerlukan waktu dan biaya perbaikan. Yang ketiga mengurangi panas, panas merupakan hasil kerja dari gesekan ataupun adanya sistem kerja pada suhu tinggi seperti kerja motor bakar dan lain sebagainya. Untuk memelihara suhu yang dikehendaki sekitar bagian-bagian mesin yang dilumasi tersebut, maka panas yang terjadi dapat diserap oleh minyak pelumas dan batasan jumlah panas yang diserap bergantung kepada kemampuan dan proses pelumasan yang digunakan. Dengan sistem pelumasan sirkulasi, maka panas yang diserap oleh minyak pelumas dibawa ke suatu sistem pendingin dan kembali lagi ke dalam sistem pelumasan pada suhu yang lebih rendah sesuai dengan yang diinginkan. Panas dalam kotak transmisi atau dalam kotak roda gigi, sebagian besar diteruskan ke dinding melalui minyak pelumas yang ada di dalamnya. Yang keempat mencegah karat, pada beberapa kondisi dalam sistem pelumasan seperti adanya udara yang mengandung uap air, adanya debu dan kotoran yang melekat, sehingga akan terjadi oksidasi di sekitar bagian-bagian
  32. 32. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 32 mesin dan akibat dari semua itu akan menimbukan proses pengkaratan dari peralatan terutama pada bagian- bagian yang langsung berhubungan dengan udara luar. Dengan adanya pelumas atau gemuk maka bagian- bagian mesin atau permukaan logam tersebut terlindungi dari pengaruh proses pengkaratan tersebut. Oleh karena itu semua minyak pelumas harus memiliki sifat-sifat yang dapat menetralkan pengotor atau harus dapat menjaga kestabilan pengaruh buruk yang berasal dari pengotor. Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh minyak pelumas antara lain : sifat kebasaan (alkalinity), sifat deterjensi (daya mencuci yang dapat menurunkan tegangan permukaan) dan dispersi atau penyebaran yang baik dan sifat yang tahan terhadap oksidasi atau menghambat proses pengkaratan. Sifat kebasaan untuk menetralisir asam-asam yang terbentuk karena pengaruh dari luar (gas buang) maupun asam- asam yang terjadi akibat terjadinya korosi. Sifat deterjensi untuk membersihkan saluran-saluran atau bagian-bagian mesin yang dilalui minyak pelumas sehingga tidak akan terjadi penyumbatan. Sifat dispersi untuk menjadikan kotoran yang dibawa oleh minyak pelumas tadi tidak jadi mengendap di dalam carter yang lama kelamaan akan menjadi endapan berbentuk lumpur atau kotoran. Dengan sifat dispersi maka kotoran-kotoran tadi akan dipecah menjadi partikel-partikel yang lebih halus dan dapat mengambang di dalam minyak pelumas, sehingga saat minyak pelumas melalui sistem penyaringan maka semua kotoran akan tersaring dan tertahan di dalam filter, selanjutnya kotoran dapat dibuang pada saat pembersihan dan penggantian elemen filter. Sifat tahan terhadap oksidasi bertujuan untuk mencegah beroksidasi dengan uap air di dalam karter saat suhu mesin dingin, akan berubah menjadi embun dan bercampur dengan minyak pelumas. Oksidasi ini akan berakibat minyak pelumas menjadi lebih kental, karena adanya air dan belerang dari sisa pembakaran yang bereaksi menjadi asam sulfat yang sangat korosif. 6.1. Meja Mesin (Bed) Permukaannya halus dan rata, sehingga gerakan kepala lepas dan lain-lain di atasnya lancar. Bila alas ini kotor atau rusak akan mengakibatkan jalannya eretan tidak lancar sehingga akan diperoleh hasil pembubutan yang tidak baik atau kurang presisi. Untuk menjaga agar jalannya eretan tetap rata, maka diperlukan pelumasan secara berkala pada permukaan meja mesin. Untuk proses
  33. 33. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 33 pelumasannya dengan teknik pelumasan siram atau teknik pelumasan semir, dengan cara disemprot atau dikus dengan oli pelapis anti karat. 6.2. Eretan (Carriage) Eretan terdiri atas eretan memanjang (longitudinal carriage) yang bergerak sepanjang alas mesin, eretan melintang (cross carriage) yang bergerak melintang alas mesin, dan eretan atas (top carriage) yang bergerak sesuai dengan posisi penyetelan di atas eretan melintang. Kegunaan eretan ini adalah untuk memberikan pemakanan yang besarnya dapat diatur menurut kehendak operator yang dapat terukur dengan ketelitian tertentu yang terdapat pada roda pemutarnya. Perlu diketahui bahwa semua eretan dapat dijalankan secara otomatis ataupun manual. Pada eretan teknik pelumasan dengan cara pelumasan teknik tekan atau dengan sistem hidrolik pada tuas pemompa oli atau pelumas kesela-sela antara meja dengan eretan. Mengapa digunakan sistem pelumasan seperti ini, agar proses pelumasan lebih cepat, praktis,dan dapat menjangkau bagian yang sempit seperti poros transportir penggerak maju mundur eretan pada saat digunakan. 6.3. Kepala Lepas (Tail Stock) Kepala lepas sebagaimana digunakan untuk dudukan senter putar sebagai pendukung benda kerja pada saat pembubutan, dudukan bor tangkai tirus, dan cekam bor sebagai menjepit bor. Kepala lepas dapat bergeser sepanjang alas mesin, porosnya berlubang tirus sehingga memudahkan tangkai bor untuk dijepit. Tinggi kepala lepas sama dengan tinggi senter tetap. Kepala lepas ini terdiri dari dua bagian yaitu alas dan badan, yang diikat dengan 2 baut pengikat (A) yang terpasang pada kedua sisi alas. Kepala lepas sekaligus berfungsi untuk pengatur pergeseran badan kepala lepas untuk keperluan agar dudukan senter putar sepusat dengan senter tetap atau sumbu mesin atau tidak sepusat yaitu pada waktu membubut tirus di antara dua senter. Selain roda pemutar (B), kepala lepas juga terdapat dua lagi lengan pengikat yang satu (C) dihubungkan dengan alas yang dipasang mur, di mana fungsinya untuk mengikat kepala lepas terhadap alas mesin agar tidak terjadi pergerakan kepala lepas dari kedudukannya. Sedangkan yang satunya (D) dipasang pada sisi tabung luncur/rumah senter putar, bila dikencangkan berfungsi agar tidak terjadi pergerakan longitudinal sewaktu membubut. Pada sistem pelumasan pada tail stok menggunakan sistem pelumasan
  34. 34. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 34 tekan, yang cara pelumasannya oli dimasukkan dan ditekan pada baut penyetel maju mundur, yang berada pada samping tuas pengunci. Gambar 6.1 : Kepala Lepas 6.4. Penjepit Pahat (Tools Post) Penjepit pahat digunakan untuk menjepit atau memegang pahat, yang bentuknya ada beberapa macam. Jenis ini sangat praktis dan dapat menjepit pahat 4 (empat) buah sekaligus sehingga dalam suatu pengerjaan bila memerlukan 4 (empat) macam pahat dapat dipasang dan disetel sekaligus. Untuk penjepit pahat menggunakan teknik pelumasan eles atau siram dengan alat kuas atau semprotan oli. 6.5. Eretan Atas Eretan atas berfungsi sebagai dudukan penjepit pahat yang sekaligus berfungsi untuk mengatur besaran majunya pahat pada proses pembubutan ulir, alur, tirus, champer (pingul), dan lain-lain yang ketelitiannya bisa mencapai 0,01 mm. Eretan ini tidak dapat dijalankan secara otomatis, melainkan hanya dengan cara manual. Kedudukannya dapat diatur dengan memutarnya sampai posisi 360°, biasanya digunakan untuk membubut tirus dan pembubutan ulir dengan pemakanan menggunakan eretan atas. 6.6. Eretan Lintang Eretan lintang berfungsi untuk menggerakkan pahat melintang alas mesin atau arah ke depan atau ke belakang posisi operator yaitu dalam pemakanan benda kerja. Pada roda eretan ini juga terdapat dial pengukur untuk mengetahui berapa panjang langkah gerakan maju atau mundurnya pahat.
  35. 35. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 35
  36. 36. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 36 Ada beberapa instruksi standar keselamatan kerja terkait dengan proses pembubutan, di antaranya adalah : 1. Baca dulu instruksi manual sebelum mengoperasikan mesin. 2. Upayakan tempat kerja tetap bersih dengan penerangan yang memadai. 3. Semua peralatan harus digrounded. 4. Yakinkan bahwa kondisi sumber tenaga berfungsi dengan baik, semua indikator berfungsi baik. 5. Yakinkan bahwa kondisi elemen-elemen mesin terpasang pada tempatnya dan berfungsi sebagai unsur gerak mekanis untuk masing- masing keperluan, misal perangkat/perlengkapan (attachment) untuk pembubutan konis, pembubutan ulir, dan sebagainya. 6. Gunakan selalu alat pelindung diri setiap saat bekerja dengan mesin. 7. Hindari pengoperasian mesin pada lingkungan yang berbahaya, seperti lingkunganyang banyak mengandung bahan mudah terbakar. 8. Yakinkan bahwa switch dalam keadaan OFF sebelum menghubungkan mesin dengan sumber listrik. 9. Lakukan pemanasan (running maintenance) selama ± 5 s/d 10 menit, agar semua komponen menyesuaikan gerakan dan semua pelumas yang ada di bak pelumas sudah beredar melumasi elemen-elemen mesin. 10. Jika pemanasan sudah cukup, pasang/jepit benda kerja pada ragum (chuck) yang sudah terpasang pada mesin, dengan posisi sesuai dengan bentuk pengerjaan, dan yakinkan bahwa benda kerja sudah terpasang dengan baik dan kuat. 11. Memilih elemen perangkat pengerjaan (attachment) yang akan dipakai. 12. Kemudian pasang alat potong pada pemegangnya (tool post), kemudian lakukan setting dengan benda kerjanya. 13. Melakukan proses pemotongan, dengan mengatur pemakanan (feed), putaran mesin (rpm) sesuai dengan kecepatan potong, serta kedalaman pemakanan (depth of cut).
  37. 37. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 37 14. Untuk menjaga keawetan mesin, pada waktu bekerja diwajibkan selalu memeriksa/memberi pelumas pada elemen mesin yang bergerak. 15. Pertahankan kebersihan tempat kerja, bebas dari kekacauan (clutter), minyak dan sebagainya. 16. Tetapkan batas aman untuk pengunjung. 17. Jika sudah selesai digunakan mesin dibersihkan dari segala kotoran, kemudian lumasi bagian-bagian yang perlu agar terbebas dari korosi yang diakibatkan oleh oksidasi. Ketika membersihkan mesin, upayakan mesin dalam keadaan mati, akan lebih baik jika hubungan dengan sumber listrik diputus. 18. Gunakan selalu alat dan perlengkapan yang ditentukan. 19. Gunakan selalu alat yang benar.
  38. 38. Perawatan Mesin Bubut Konvensional 38 DAFTAR RUJUKAN Anonim. 2011. Belajar Mesin Bubut. (Online). (http://an-tika.blogspot.com). Diakses 25 November 2013. Catur, A.S. & Djunaidi. 2008. Kegiatan Pelumasan pada Peralatan Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy. Artikel disajikan dalam Seminar Nasional IV SDM Teknologi Nuklir, Yogyakarta, 25-26 Agustus. Januari. 2010. Perawatan pada Mesin Bubut. (Online). (http://4.bp.blogspot.com). Diakses 25 November 2013. Sukardi, T. & Wijanarka, B.S. 2012. Materi Bimbingan Teknis Pengelola Laboratorium/Juru Bengkel SMK Bidang Teknik Pemesinan. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta. Sumbodo,W., dkk. 2008. Teknik Produksi Mesin Industri untuk SMK Jilid 2. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal, Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

×