Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
1               BEBERAPA FAKTOR YANG BERPENGARUH            TERHADAP HARGA JUAL CABE DI TINGKAT PETANI                    ...
2penggunaan mulsa plastik untuk menekan pertumbuhan gulma dan mempertahankankelembaban tanah.       Pemasaran     merupaka...
3       Harga jual cabe pada tingkat petani dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:biaya pokok, harga pasar, jumlah ...
4perbaikan dibidang tataniaga, karena selai bertujuan meningkatkan pendapatan petanijuga terutama untuk kesejahteraan peta...
5   2.   Kondisi permintaan yang meliputi pendapatan, harga, selera, pilihan-pilihan,        jumlah penduduk dan ekspor   ...
6dan studi pustaka. Pengambilan sample untuk petani produsen dilakukan secara sensusyaitu terhadap petani yang melakukan u...
7petani. Atas dasar itu maka pemerintah mengharapkan petani agar mampu menerapkanteknologi tepat guna untuk meningkatkan p...
8pada tingkat petani akan meningkat jika terjadi perambatan harga.           Harga pasarmerupakan harga yang diketahui oel...
9       Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah produksi sesuai dengan penguasaanlahan petani bervariasi antara 5.000 kg...
10tawar menawar dan para pelaku tataniaga akan bertindak lebih bijaksana dalammenetapkan harga dengan alasan langganan.   ...
11perasaan tidak tega untuk menekan harga cabe pada petani.             Para petani yangberlangganan dengan pedagang pengu...
12bersangkutan. Hubungan antara petani yang menggunakan modal panjar dengan hargajual disajikan pada Tabel berikut.Tabel 2...
13aspek pengalaman berusahatani ini dapat diukur dengan lamanya / umur petanimelaksanakan usahatani pada komoditas yang di...
145. Kesimpulan   1. Besar kecilnya keuntungan yang diperoleh petani cabe sangat erat kaitannya        denga harga jual ca...
15Marius P. Angiora. 2002. Dasar-dasar Pemasaran. PT. Raja Grafindo Persada. JakartaWasrob Prakoso. 2000. Ilmu Usahatani. ...
16BiodataNama                : Yana Chefiana, S.P., M.Si.Tempat Tgl lahir    : Ciamis, 16 April 1974Alamat              : ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Beberapa faktor yang berpengaruh

5,066 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Beberapa faktor yang berpengaruh

  1. 1. 1 BEBERAPA FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP HARGA JUAL CABE DI TINGKAT PETANI Oleh: Reny Sukmawani Yana Chefiana ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi hargajual cabe pada tingkat petani. Teknik yang digunakan dalam penelitian adalah surveidengan objek penelitian menggunakan variable-variabel yang berhubungan denganpenelitian yaitu factor-faktor yang mempengaruhi harga jual cabe pada tingkat petani.Unit analisis yang digunakan adalah petani cabe di Kecamatan Sukaraja KabupatenSukabumi pada kegiatan usahatani cabe musim tanam 2005. Pengambilan sampledilakukan secar sensus, teknik penentuan sample adalah simple random sampling. Faktor-Faktor yang mempengaruhi harga jual cabe di tingkat petani dilakukansecara deskriptif, diuji dengan menggunakan alat Bantu uji statistik melalui analisisregresi liner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga jual cabe di pengaruhi olehbeberapa faktor, diantaranya biaya usahatani, harga pasar menurut petani, jumlahproduksi, sistem langganan dengan pedagang pengumpul, modal panjar dan pengalamanusahatani cabe. Berdasarkan hasil analisis pada masing-masing faktor yang berpengaruhterhadap harga jual cabe pada tingkat petani menunjukkan bahwa faktor yang palingmempengaruhi harga jual cabe pada tingkat petani adalah informasi harga pasar cabemenurut petani dan sistem penjualan cabe berlangganan dengan pedagang pengumpul.Kata kunci: Cabe, biaya usahatani, harga, produksi1. Pendahuluan1.1. Latar Belakang Cabe merupakan salah satu jenis sayuran yang paling banyak diusahakan diantarajenis tanaman sayuran lainnya karena banyak disukai. . Cabe dapat ditanam pada dataranrendah maupun dataran tinggi. Sebagian besar petani telah melakukan usahatani cabedengan menggunakan teknologi anjuran tepat guna. Salah satu indikatornta adalah
  2. 2. 2penggunaan mulsa plastik untuk menekan pertumbuhan gulma dan mempertahankankelembaban tanah. Pemasaran merupakan syarat mutlak dalam pembangunan pertanian.Keberhasilan atau strategi pemsaran tergantun kepada besar atau posisi masing-masingperusahaan. Perusahaan besar mampu menerapkan strategi tertentu yang tidak mampudilakukan oleh perusahaan kecil. Tetapi dengan skala besar saja tidak menjaminkeberhasilan tanpa didukung dengan strategi yang mantap yang mampu meningkatkanhasil yang tinggi dari perusahaan besar (Kotler, 1999). Namun sayang kondisi ini tidak bisa diterapkan di tingkat petani. Apalagi petanisayuran yang kepemilikan lahannya sempit, kepemilikan modal terbatas serta tingkatpengetahuan yang rendah. Permintaan sayuran yang tinggi di beberapa daerah tidaksejalan dengan peningkatan pendapatan petani. Karena seperti kita ketahui bersamaharga penjualan produk pertanian tidak ditentukan oleh petani sebagai produsen, namunditentukan oleh para pedagang pengumpul yang berpedoman pada harga jual di pasarinduk. Demikian pula halnya dengan cabe. Usahatani cabe jika tidak dilaksanakan sesuaijadual tanam yang tepat jika diitung melalui analisa usahatani yang dihitung berdasarkanharga pada tingkat konsumen akan mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Hargajual cabe pada saat-saat tertentu, misalnya menjelang hari raya akan mencapai Rp 15.000– 30.000. Peningkatan harga yang cukup tinggi belum tentu dinikmati oleh para petanikarena harga jual tidak ditentukan oleh petani, melainkan ditentukan oleh para pelakupasar khususnya para pedagang baik pedagang pengumpul, pedagang besar maupunpedagang eceran.
  3. 3. 3 Harga jual cabe pada tingkat petani dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:biaya pokok, harga pasar, jumlah produk yang dipasarkan, biaya transportasi, biayatataniaga serta beberapa faktor lainnya. Selain itu harga cabe ditentukan pula olehpanjang pendeknya rantai tataniaga dari mulai tingkat produsen hingga konsumen.Semakin pendek rantai tataniaga berarti semakin efisien tataniaga cabe dan semakinrendah biaya tataniaga sehingga petani dapat menikmati harga yang lebih layak. Kondisi tersebut di atas merupakan fenomena umum bagi petani di seluruhIndonesia bahwa harga jual pada tingkat petani ditentukan oleh berbagai faktor. Hasilanalisa faktor-faktor yang mempengaruhi harga jual cabe pada tingkat petani merupakansalah satu materi yang menarik untuk dianalisa lebih jauh, sehingga akan menjadi bahankebijakan pemerintah untuk turut membantu para etani agar dapat meningkatkankesejahteraan keluarganya melalui kebijakan pemasaran..1.2. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari biaya pokok,harga pasar, jumlah produksi, sistem berlangganan, modal panjar dan pengalaman usahatani terhadap harga cabe di tingkat petani di kecamatan Sukaraja kabupaten Sukabumi.2. Pendekatan masalah Hubungan yang erat antara produksi, tataniaga dan pendapatan petani akanmempengaruhi perkembangan usahatani. Produksi yang melimpah jika tidak diikutidengan kondisi pemasaran yang baik akan merugikan berbagai pihak terutama produsenatau petani. Upaya peningkatan di bidang produksi harus diimbangi dengan upaya
  4. 4. 4perbaikan dibidang tataniaga, karena selai bertujuan meningkatkan pendapatan petanijuga terutama untuk kesejahteraan petani. Dilihat dari segi ekonomi hal tersebut dapat dipahami karena untuk meningkatkanproduksi , petani harus mengeluarkan biaya tambahan. Pengeluaran tambahan biaya inijika tidak disertai dengan harga yang baik akan berakibat timbulnya masalah finansialdalam usahatani. Harga jual cabe pada tingkat petani dipengaruhi oleh beberapa faktordiantaranya: biaya pokok, harga pasar, jumlah produk yang dipasarkan, biayatransportasi, biaya tataniaga serta beberapa factor lainnya. Menurut Marius P. Agippora(2002) dalam teori ekonomi ada beberapa konsep yang saling berkaitan yaitu harga(price), nilai (value) dan manfaat (utility). Sistem ekonomi di Negara kita tidakdirancang berdasarkan sistem tukar menukar, maka pengertian nilai dan manfaat darisebuah produk dapat sebanding dengan produk lain yang tidak dapat digunakan, tetapikita lebih mendayagunakan uang sebagai dominator nilai. Harga merupakan elemen penting dalam kegiatan pemasaran dan harussenantiasa dilihat dalam hubungannya dengan pemasaran. Dari sudut pandangpemasaran, harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang danjasa) yang ditukarkan untuk memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barangdan jasa. Pengertian ini sejalan dengan konsep pertukaran dalam pemasaran. Menurut Wasrob (2002), kekuatan yang mempengaruhi harga-harga hasilpertanian hasil pertanian dapat dikelompokkan ke dalam 4 kategori: 1. Keadaan penawaran yang mempengaruhi harga output yang meliputi keputusan produksi usahatani, cuaca, hama dan penyakit, luas areal dan impor pangan
  5. 5. 5 2. Kondisi permintaan yang meliputi pendapatan, harga, selera, pilihan-pilihan, jumlah penduduk dan ekspor 3. Sektor tataniaga hasil pertanian 4. Pengaruh kebijakan pemerintah, misalnya melalui subsidi harga, pengendalian penawaran, kebijakan perdagangan.Khusus harga-harga komoditi pertanian tidak dapat ditentukan oleh petani sebagaiprodusen. Harga komoditi pertanian ditentukan secara bersama oleh permintaankonsumen, penawaran usahatani dan system tataniaga. Perubahan pada salah satu sisimembawa dampak penyesuaian pada factor lainnya, karenanya tidak begitu jelas untukmenyatakan alasan tentang dimana tepatnya harga-harga usahatani ditentukan. Kelemahan dalam sistem pertanian di negara berkembang termasuk di Indonesiaadalah kurangnya perhatian dalam bidang pemasaran. Fungsi-fungsi pemasaran seringtidak berjalan seperti yang diharapkan sehngga efisiensi pemasaran menjadi lemah.Keterampilan untuk melaksanakan efisiensi pemasaran memang terbatas, sementaraketerampilan dalam mempraktekkan unsur-unsur manajemen juga demikian. Belum lagikalau dari segi kurangnya penguasan informasi pasar sehingga kesempatan-kesempatanekonomi menjadi sulit dicapai.3. Metode Penelitian Penelitian yang dilaksanakan pada musim tanam 2005 di Kecamatan SukarajaKabupaten Sukabumi ini dilakukan dengan metode survei. Data yang dikumpulkanberupa data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari petani responden melaluiwawancara dan kuisioner sedangkan data sekunder diperoleh dari dinas instansi terkait
  6. 6. 6dan studi pustaka. Pengambilan sample untuk petani produsen dilakukan secara sensusyaitu terhadap petani yang melakukan usahatani cabe sebanyak 35 orang petani. Data yang diperoleh berupa data kualitatif dan kuantitatif yang kemudianditabulasikan dan diuraikan secara deskriptif. Untuk menjawab identifikasi tentangfaktor-faktor yang mempengaruhi harga jual cabe di tingkat petani dilakukan secaradeskriptif. Faktor-Faktor yang mempengaruhi harga jual cabe diuji dengan menggunakanalat bantu uji statistik melalui analisis regresi linier.4. Hasil Penelitian dan PembahasanBiaya Pokok Biaya pokok adalah biaya produksi usahatani dibagi dengan jumlah produksidalam satu areal tertentu sehingga diperoleh harga biaya pokok per kilogram produkusahatani. Biaya produksi adalah semua pengeluaran yang diperlukan untukmenghasilkan jumlah produk dalam periode produksi. Menurut Fadholi Hernanto (1993),biaya produksi usahatani adalah biaya yang dikeluarkan oleh seorang petani dalam prosesproduksi. Biaya dibagi dalam empat katagori yaitu biaya tetap, biaya variabel, biayatunai dan biaya tidak tunai. Biaya tetap adalah biaya yang penggunaannya tidak habisdalam satu masa produksi, biaya variabel adalah biaya yang berubah-ubah dimana besardan kecilnya biaya dipengaruhi oleh besarnya skala produksi, biaya tunai adalah biayayang penggunaannya langsung dalam dalam proses produksi dan biaya tidak tunai adalahbiaya yang diperhitungkan seperti biaya tenaga kerja keluarga. Biaya usahatani yang rendah serta jumlah produksi yang maksimal berdampakpada rendahnya harga pokok dan kemungkinan besar akan meningkatkan pendapatan
  7. 7. 7petani. Atas dasar itu maka pemerintah mengharapkan petani agar mampu menerapkanteknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas usahataninya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya usahatani cabe umumnya berkisarantara Rp. 34.376.666,67 – Rp 41.062.000,00 per hektar dengan rata-rata Rp.38.198.053,97 per hektar. Biaya usahatani cabe yang bervariasi ini dipengaruhi olehtingkat penerapan teknologi serta penggunaan sarana produksi yang berbeda pula.Jumlah produksi per hektar pada usahatani cabe akan dipengaruhi oleh jumah biayausahatani yang digunakan. Dengan variasi biaya usahatani tersebut di atas jumlahproduksi yang dihasilkan pun bervariasi antara 22.000 kh – 26.000 kg per hektar dengannilai rata-rata produksi 24.368,44 kg per hektar. Dari biaya usahatani dan jumlahproduksi tersebut di atas diperoleh biaya pokok Rp 1.441,80 / kg – Rp. 1.747,35 / kgdengan rata-rata biaya pokok Rp. 1.569,69 / kg. Biaya pokok berdasarkan literatur dapatditekan jika para petani mampu meningkatkan jumlah produksi dengan cara menerapkanteknologi tepat guna yang dianjurkan dan menekan biaya sarana produksi dengan caramenekan penggunaan pupuk seoptimal mungkin. Berdasarkan teori dasar semakin tinggi biaya pokok maka harga jual cabe harusmakin tinggi agar petani memperoleh keuntungan yang optimal. Namun karena hargaditentukan oleh pedagang atau posisi petani sebagai penerima harga maka harga jual cabetidak mampu dipengaruhi oleh besarnya biaya pokok.Harga Pasar Secara teori peningkatan harga jual eceran pada tingkat konsumen akanberdampak pada harga jual pada tingkat petani atau produsen. Peningkatan harga jual
  8. 8. 8pada tingkat petani akan meningkat jika terjadi perambatan harga. Harga pasarmerupakan harga yang diketahui oelh para petani melalui media komunikasi. Informasi pasar merupakan salah satu faktor penting yang turut menentukandalam harga jual cabe di tingkat petani. Informasi pasar dapat dijadikan bahanpertimbangan dalam menjual hasil usahatani cabe. Penguasaan informasi pasar dapatmeningkatkan posisi tawar petani cabe, meskipun para petani cabe bukan penentu hargamelainkan penerima harga. Informasi pasar umumnya diperoleh dari siaran radio,sebagai salah satu media yang memberitakan harga jual produk pertanian pada beberapapasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga pasar cabe berdasarkan pengetahuanpetani cukup bervariasi yaitu Rp 9.000 / kg – Rp 14.000 / kg. Informasi ini diperoleh daripasar setempat dan dari para pedagang sembako eceran di desa-desa, sehinggamemunculkan harga yang bervariatif. Kondisi ini menggambarkan bahwa petani sangattergantung pada informasi harga jual dari pedagang pengumpul. Sebagian besar petanihanya memanfaatkan radio sebagai media hiburan semata bukan merupakan mediainformasi usahatani.Jumlah Produksi Jumlah produksi hasil usahatani yang cukup banyak merupakan salah satu faktorpendukung agar petani mempunyai posisi tawar yang lebih baik. Jumlah produksi yangcukup tinggi akan meningkatkan harga jual cabe, terutama pada sat-sat pasokan cabesedang langka di pasaran.
  9. 9. 9 Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah produksi sesuai dengan penguasaanlahan petani bervariasi antara 5.000 kg – 37.000 kg. Petani yang memiliki jimlahproduksi yang lebih tinggi memperoleh harga jual yang lebih layak, yakni 8.500 / kgdibandingkan dengan petani yang memiliki tingkat produksi yang lebih rendah. Jumlah produksi akan dipengaruhi oleh teknologi usahatani yang diterapkan.Teknologi usahatani akan membutuhkan sarana produksi yang memadai. Saranaproduksi yang sesuai dengan teknologi tepat guna membutuhkan biaya usahatani yangcukup tnggi. Sebaliknya sarana produksi yang cukup belum tentu akan menghasilkanproduktivitas yang tinggi tergantung pada sistem teknologi usahatani yang diaplikasikandi lapangan. Jumlah produksi usahatani cabe per hektar berkisar antara 22.000 kg –26.000 kg. Jumlah produksi cabe yang cukup banyak seharusnya menjadi bahanpertimbangan bagi petani untuk memilih rantai tataniaga, yaitu dengan menjual hasilproduksinya langsung pada pedagang pengumpul besar atau pedagang besar. Hasilpenelitian menunjukkan petani cabe yang memiliki jumlah produksi cukup banyak tetapmenjual pada pedagang pengum[ul. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikanyang masih kurang, pembinaan aparat pemerintah yang masih terbatas serta hubungankekerabatan dan faktor lainnya dengan pedagang pengfumul yang menyebabkanrendahnya harga jual cabe.Langganan dengan Pedagang Pengumpul Petani yang telah lama berlangganan baik dengan pedagang pengumpul maupunpedagang besar akan lebih akrab sehingga saat menjual produk usahataninya akan terjadi
  10. 10. 10tawar menawar dan para pelaku tataniaga akan bertindak lebih bijaksana dalammenetapkan harga dengan alasan langganan. Petani yang telah menjalin hubungan baik dengan pedagang pengumpul didugaakan memberikan pengaruh pada harga jual cabe di tingkat petani. Harga jul cabe padapetani yang sudah berlangganan akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan petani yangtidak berlangganan. Kondisi tersebut bisa berubah sebaliknya, karena sistem penjualanyang berlangganan menjadi salah satu belenggu sehingga petani tidak dapat berhubungandengan pedagang lainnya meskipun menawarkan harga jual yangn lebih tinggi. Hubungan antara petani yang berlangganan denan pedagang pengumpul danpetani yang tidak berlangganan dengan harga jual digambarkan pada Tabel berikut:Tabel 1. Hubungan Penjualan Sistem Berlangganan dan Tidak berlangganan dengan Harga Jual CabeN0 Petani Jumlah Harga Jual Rp. 8.000 Rp. 8.5001 Langganan 15 4 112 Tidak Berlangganan 20 0 20 Jumlah 35 3 31 Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 15 orang petani yang berlangganan denganpedagang pengumpul 11 orang diantaranya memperoleh harga jual yang lebih tinggi,yakni Rp. 8.500 dan 4 orang memperoleh harga jual cabe Rp 8.000 / kg. Sedangkanpetani responden yang tidak berlangganan sebanyak 20 orang memperoleh harga jualcabe Rp. 8.000 / kg. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa dengan berlangganan menjadikan salahsati penyebab kedekatan batin antara petani dengan pedagang, sehingga pedagang ada
  11. 11. 11perasaan tidak tega untuk menekan harga cabe pada petani. Para petani yangberlangganan dengan pedagang pengumpul disebabkan oleh beberapa faktor diantaranyakarena pertalian kekerabatan, tetangga serta hubungan lainnya seperti pinjaman uangdengan pedagang pengumpul.Modal Panjar Terbenturnya kebutuhan sehari-hari sengan biaya usahatani menghadapkan petanipada kondisi yang sulit. Petani yang memiliki keterbatasan modal, maka petani akanmencari sumber modal lain untuk kegiatan usahataninya. Pinjaman modal usahatanidapat diperoleh melalui pedagang pengumpul yang memiliki modal cukup dengan carapembayaran dari hasil usahatani para petani peminjam. Pinjaman modal ini dapatdikatakan sebagai modal panjar. Modal panjar yang diberikan hanya pada waktu-waktu tertentu, terutama padasaat petani cabe terdesak kebutuhan sehari-hari yang menyebabkan kebutuhan modaluntuk operasional usahatani cqbe tidak bisa terpenuhi. Selain itu modal panjardiberikan kepada petani apabila permitaan cabe cukup tingi di pasaran, sehingga parapedagang bersaing untuk mendapatkan pasokan cabe yaitu dengan cara mengikat petanidengan memberikan modal panjar agar hasilnya dijual kepada pedangang yang memberipanjar. Para petani cabe terikat untuk selalu mempertahankan loyalitas kepadalanggananya, baik pada saat menerima panjar maupun tidak. Sekalipun kesepakatan initidak dilakukan secara tertulis, tetapi bila petani tidak memenuhi kesepakatan tersebut,maka penjualan hasil produksi berikutnya tidak akan diterima lagi oleh pedagang yang
  12. 12. 12bersangkutan. Hubungan antara petani yang menggunakan modal panjar dengan hargajual disajikan pada Tabel berikut.Tabel 2. Hubungan anatar Petani Pengguna Modal Panjar dan Petani yang tidak Menggunakan Modal Panjar dengan Harga Jual cabeN0 Petani Jumlah Harga Jual Rp. 8.000 Rp. 8.5001 Modal Panjar 10 9 12 Non Modal Panjar 25 15 10 Jumlah 35 24 11 Tabel di atas menunjukkan bahwa akibat kurangnya permodalan, sebagian besarpetani cabe menjual produknya melalui pedagang pengumpul dengan harga yang lebihrendah.Pengalaman Usaha Tani Pengalaman berusahatani merupakan salah satu karakteristik petani cabe yangpenting dalam mengelola usaha pertanian. Pengalaman dalam menjalankan usahatanicabe akan memberika corak penanaganan usaha baik mulai dari penyediaan faktor-faktorproduksi, cara atau teknis berproduksi, pengelolaan tataniaga bahkan sampai denganupaya pengembangan usahatani cabe. Semakin banyak pengalaman usahatani yang dimiliki oleh seorang petani, makaakan semakin efektif pengelolaann usahataninya, termasuk semakin selektif dalammemilih lembaga tataniaga yang paling menguntungkan bagi kelangsungan hidupusahataninya. Lama pengalaman usahatani sejalan dengan umur petani yangbersangkutan, selama petani tersebut konsisten dengan jenis usahataninya. Ukuran dari
  13. 13. 13aspek pengalaman berusahatani ini dapat diukur dengan lamanya / umur petanimelaksanakan usahatani pada komoditas yang dimaksud. Petani yang lebih lama pengalamannya dalam usahatani cabe seharusnyamemiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi sehingga berdampak pada keberhasilanusahataninya. Usahatani cabe membutuhkan pemeliharaan yang intensif sehinggapengalaman menjadi salah satu guru terbaik pada kegiatan usahatani cabe. Hal tersebutjuga sangat berkaitan dengan pengalaman petani dalam berusahatani cabe. Petani yangmemiliki pengalaman lebih lama akan mengetahui kondisi usahataninya beserta kondisipemasaran yang ada. Sehingga terdapat kecenderungan di dalam memilih lembagatataniaga atau cara negosiasi harga yang sesuai dengan kondisi usahataninya, dimanapetani yang memiliki pengalaman usahatani yang lebih lama memiliki motivas yang kuatdan percaya diri untuk menanggung resiko kerugian dan ketidakpastian dalam prosespenjualan produk. Pada kenyataanya jumlah petani cabe yang befpengalaman lebih dari10 tahun jumlahnya cukup banyak, namunbelum mampu mendorong iklim usahatani danpemasaran cabe di wilayah penelitian ini menjadi lebih terarah. Hal ini disebabkan karena tidak disukung oleh daya adopsi teknologi daninformasi pasar yang tinggi, mengingat sebagian besar patani cabe responden tingkatpendidikannya masih rendah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingginyapengalaman usahatani cabe belum mengindikasikan sistem usahatani dan pemasaranyang dilakukan petani lebih efisien.
  14. 14. 145. Kesimpulan 1. Besar kecilnya keuntungan yang diperoleh petani cabe sangat erat kaitannya denga harga jual cabe yang diterima petani Harga jual cabe di tingkat petani dipengaruhi oleh biaya usahatani, harga pasar menurut petani, jumlah produksi, sistem berlangganan dengan pedagang pengumpul, modal panjar dan pengalaman usaha tani. 2. Salah satu faktor penetu yang penting dalam menunjang keberhasilan usahatani adalah informasi pasar. Produksi yang melimpah jika tidak diikuti dengan kondisi pemasaran yang baik akan merugikan berbagai pihak terutama petani Petani akan memperoleh keuntungan yang maksimal apabila memperoleh pemasaran yang baik berdasarkan informasi pasar yang akurat.6. Saran 1. Petani diharapkan lebih memanfaatkan media informasi dalam pemasaran cabe. Karena petani yang menguasai informasi pasar akan dapat meningkatkan posisi tawar dalam menjual cabe pada pedagang pengumpul. 2. Pemerintah diharapkan lebih meningkatkan pendampingan pada petani agar usahataninya memperoleh keuntungan maksimal dan pembinaan dalam kegiatan pasca panen, sortasi serta grading sehingga mampu meningkatkan harga jual cabe para petani.7. Daftar PustakaFadholi Hernanto. 1993. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta.Kotler P. 1999. Manajemen Pemasaran. Marketing manajemen Analisis. Perencanaan dan Pengendalian. Erlangga. Jakarta.
  15. 15. 15Marius P. Angiora. 2002. Dasar-dasar Pemasaran. PT. Raja Grafindo Persada. JakartaWasrob Prakoso. 2000. Ilmu Usahatani. Universitas Terbuka. Yakarta.Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. 2005. laboran tahunan 2005. Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi. Sukabumi. Riwayat HidupBiodataNama : Reny Sukmawani, S.P., M.P.Tempat Tgl lahir : Sukabumi, 12 Oktober 1974Alamat : Perum Cigunung Indah Blok C no. 34-35 Cisaat, SukabumiPekerjaan : Dosen UMMIJabatan : Ketua Program Studi Agribisnis UMMIJabatan Akademik : LektorRiwayat Pendidikan : 1. SD negeri Cipelang leutik II Sukabumi, lulus tahun 1987 2. SMP Negeri 1 Sukabumi, lulus tahun 1990 3. SPP-SPMA Tanjungsari - Sumedang , lulus tahun 1993 4. Sarjana Unpad Bandung, Jurusan Agronomi, lulus tahun 1999 5. Magister Pertanian UNWIM Bandung, lulus tahun 2009Riwayat Pekerjaan : 1. 1999 – 2003 : Wiraswasta 2. 2003 - sekarang : Dosen UMMI 3. 2008 - sekarang : Wakil Direktur CV EXA Family
  16. 16. 16BiodataNama : Yana Chefiana, S.P., M.Si.Tempat Tgl lahir : Ciamis, 16 April 1974Alamat : Perum Cigunung Indah Blok C no. 34-35 Cisaat, SukabumiPekerjaan : - PNS Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi - Dosen Luar Biasa UMMIRiwayat Pendidikan :1. SD negeri Lugina Ciamis, lulus tahun 19872. SMP Negeri 1 Cisaga, lulus tahun 19903. SPP-SPMA Tanjungsari - Sumedang , lulus tahun 19934. Diploma III IPB jurusan Mekanisasi pertanian, lulus tahun 19965. Sarjana UNWIM, Jurusan Sosek, lulus tahun 20036. Magister sains STIAMI Jakarta, lulus tahun 2007Riwayat Pekerjaan : 4. 1999 – 2002 : Wiraswasta 5. 2002 - sekarang : PNS di Badan Ketahanan Pangan kabupaten Sukabumi 6. 2008 - sekarang : Dosen Luar Biasa UMMI

×