Menggagas Paradigma Learn How to Learn dalam Proses Belajar Mengajar (PBM)
                                oleh Rendra Pri...
ketrampilan semacam ini dibawa si anak sampai ia menjadi seorang dewasa dan
berkecimpung dalam kehidupannya yang sarat mas...
memadai bisa digunakan powerpoint, flash dan semacamnya. Ajarkan pada kerangka
bertanya 5W 1H (What, Where, When, Why, Who...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Menggagas Learn How to Learn

873 views

Published on

Artikel saya yang dimuat Jawa Pos dalam program Untukmu Guruku tahun 2008

Published in: Education, Business
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
873
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
19
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Menggagas Learn How to Learn

  1. 1. Menggagas Paradigma Learn How to Learn dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) oleh Rendra Prihandono*) Suatu hari seorang alumni yang kini menempuh pendidikan tingginya di salah satu universitas ternama di Vancouver Kanada datang berkunjung dan bercerita banyak tentang apa yang dialaminya serta beberapa alumni sekolah kami di sana. Dengan bangga ia bercerita bahwa di semester pertama rata-rata mahasiswa asal Indonesia termasuk ia dan teman-temannya meraih indeks prestasi akademik yang sangat baik. Jauh lebih baik daripada mahasiswa asal Kanada sendiri. Namun, setelah menempuh semester kedua atau ketiga, indeks prestasi mereka rata-rata jeblok dan sebagian besar memiliki masalah akademik di perkuliahannya. Saya tertarik dengan fenomena itu dan bertanya, menurut dia, apa yang menyebabkan kondisi itu terjadi. Dengan gamblang ia menuturkan bahwa di semester pertama perkuliahan berjalan mirip dengan situasi belajar mengajar di Indonesia. Banyak teori-teori dasar yang harus dihafalkan, dan ini sangat dikuasai mahasiswa Indonesia. Mereka sangat kuat dalam menghafal. Sehingga tidak aneh ketika ujian mereka menguasai materi perkuliahan dengan sangat baik. Namun, ketika di semester kedua, perkuliahan menjurus pada kegiatan-kegiatan problem solving dan berpikir kritis dalam menghadapi situasi kehidupan nyata. Di sinilah, menurutnya, mahasiswa sebagian besar tidak siap. Mereka tidak terbiasa untuk melihat dan mencari alternatif selain dari yang ia hapal. Ketika diminta berpikir di luar kerangka teori, mereka kebanyakan mati kutu. Belum lagi, kendala bahasa Inggris yang digunakan dalam perkuliahan semakin rumit dan menuntut lebih dari sekedar mampu bercakap-cakap. Intinya, menurut alumni kami ini, mahasiswa Indonesia lemah berpikir. Kondisi hampir serupa juga terjadi beberapa tahun yang lalu dengan para siswa kami yang mengikuti program beasiswa studi lanjut dari sebuah institusi terkenal di Singapura. Para siswa ini adalah kaum terpilih karena mereka diseleksi secara akademik oleh tim guru di sekolah kami. Namun, sebagian besar ternyata gagal. Berdasarkan analisa tim guru pemberi beasiswa institusi Singapura tersebut, 90% kegagalan disebabkan para siswa tidak mampu mengerjakan soal-soal problem solving dan logika (bukan matematika). Ternyata anak-anak kami lemah dalam menghadapi soal-soal yang membutuhkan ketrampilan berpikir dan mencari alternatif pemecahan masalah. Kedua cerita di atas adalah gambaran bahwa secara umum proses belajar mengajar yang terjadi di sekolah kita masih berkutat dan menekankan diri pada penguasaan materi (content mastery), bukan penguasaan konsep (conceptual mastery). Anak-anak kita juga jarang, bahkan mungkin tidak pernah, diajak dan dibiasakan dengan pola berpikir tingkat tinggi (high order thinking). Dan yang lebih parah, kita sebagai pendidik secara sengaja maupun tidak sengaja, mungkin tidak pernah menanamkan learn how to learn (belajar untuk mempelajari sesuatu). Karena itu wajar bila anak-anak kita tidak berdaya ketika diminta berpikir dan bukan menjawab soal. Reduksi konsep learning (belajar) menjadi penguasaan materi (content mastery) sungguh mencemaskan. Learn How to Learn memayungi sejumlah besar konsekuensi ketrampilan berpikir anak. Anak yang tahu cara belajar akan tahu apa yang harus dilakukan ketika sebuah fenomena menimbulkan pertanyaan. Kala seorang bertanya,”Di manakah Surabaya?”, anak yang tahu cara belajar akan memikirkan beberapa alternatif pemecahan di mana ia harus mencari jawabannya. Di peta? Di Internet? Bertanya pada ayah? Guru? Dan sebagainya dan sebagainya. Ia tak akan beku dalam kebingungan. Ia tahu bagaimana harus mencari jawaban. Walaupun ia sendiri belum tahu jawabannya. Coba Anda bayangkan bila
  2. 2. ketrampilan semacam ini dibawa si anak sampai ia menjadi seorang dewasa dan berkecimpung dalam kehidupannya yang sarat masalah, akan sangat luar biasa, bukan? Learn How to Learn juga mendidik anak untuk tahu bahwa pengetahuan (knowledge) bisa didapatkan dengan berbagai cara (ways of knowing). Agar tahu cara bersepeda tidak bisa diraih dengan membaca buku cara bersepeda, tapi dengan melakukannya atau berlatih bersepeda. Agar tahu nama gadis cantik di sebelah rumah tidak bisa diraih dengan browsing di internet, tapi cukup dengan bertanya langsung kepada yang bersangkutan. Agar tahu mengapa terjadi gerhana bulan tidak bisa diraih dengan melihat bulan setiap malam, tapi bisa dengan membaca buku tentang tatasurya, browsing di internet, bertanya pada guru fisika, dan sebagainya. Intinya, anak tahu bahwa untuk tahu bisa dilakukan dengan berbagai cara namun masih dalam konteks yang sama, yaitu belajar (to learn). Pertanyaannya adalah, bagaimana menanamkan Learn How to Learn ini dalam proses belajar mengajar keseharian? Pertama, mengurangi dorongan untuk berusaha memberi informasi atau berbicara terlalu banyak di kelas. Secara tradisional, guru memang banyak berbicara untuk menjelaskan sesuatu. Secara alamiah, kita sebagai guru akan menggunakan pendekatan verbal untuk menyampaikan informasi yang menurut kita tidak diketahui siswa. Pendekatan ini ternyata tidak efektif. Orang hanya menyerap 10% saja ketika mendengar sesuatu. Bahkan, penggunaan bahasa verbal secara masif cepat menimbulkan kebosanan. Apalagi siswa secara umum hanya punya rentang konsentrasi maksimal 15-17 menit dalam konteks verbal. Tidak heran banyak masalah timbul di kelas yang banyak didominasi pendekatan verbal. Anak yang bosan cenderung mencari hal-hal lain yang menarik untuknya. Sangat alamiah, namun sering tidak kita pahami sebagai guru. Seperti saya utarakan di atas, orang mendapatkan informasi atau pengetahuan dengan berbagai cara (ways of knowing). Karena itu, siswa bisa mencari penjelasan dengan berbagai cara pula. Penjelasan verbal bukan satu-satunya. Oleh karena itu guru bisa melakukan guided inquiry (pencaritahuan mandiri terarah). Siswa akan mencari sendiri informasi yang ia perlukan untuk mengetahui sesuatu atau menjawab suatu permasalahan dengan sejumlah sumber informasi variatif yang sudah dipersiapkan guru sebelumnya. Bagi sekolah tanpa akses internet yang baik dan perpustakaan yang memadai, sang guru harus lebih rajin melakukan kliping berita atau sumber baca apapun sebagai sumber informasi. Atau, pergunakan orang-orang kompeten di daerah sekitar sebagai narasumber. Undang mereka ke kelas untuk berinteraksi dengan siswa, atau ajak siswa keluar dan berinteraksi dengannya di area kerjanya. Variasi pencarian sumber di dalam sekolah dan di luar sekolah (outdoor) akan menumbuhkan motivasi siswa. Bagi sekolah dengan akses internet dan perpustakaan memadai, tentu lebih mudah. Yang perlu diperhatikan adalah sering meng-update bahan-bahan baca dan CD ROM audio video yang ada. Penggunaan narasumber langsung di atas juga dianjurkan untuk sering dilakukan. Bila ada peluang siswa mencoba melakukan yang dilakukan narasumber sehari-hari, lakukanlah. Selain pencarian informasi, yang paling penting dari semua proses belajar mengajar adalah setiap anak mengalami pengalaman belajar yang bermakna secara individu. Pengalaman belajar inilah yang sering hilang dari pembelajaran di kelas kita dewasa ini, sehingga anak tidak betah di sekolah. Kedua, ajarkan anak untuk gemar bertanya. Karena bertanya bukan budaya kita selama ini, maka pancing anak untuk bertanya dengan memberikan ilustrasi yang menarik, maksimalkan pendekatan visual; untuk sekolah yang memiliki fasilitas multimedia yang
  3. 3. memadai bisa digunakan powerpoint, flash dan semacamnya. Ajarkan pada kerangka bertanya 5W 1H (What, Where, When, Why, Who dan How). Sering-seringlah memancing keingintahuan anak terhadap suatu fenomena aktual. Keingintahuan adalah akar dari sikap suka bertanya. Ketiga, maksimalkan Bloom’s Taxonomy. Level berpikir Bloom’s Taxonomy sangat dikenal dalam ilmu pedagogi. Namun dalam implementasi kurang diperhatikan, bahkan diabaikan. Seandainya masing-masing guru mata pelajaran mau mengadaptasi bagaimana setiap jenjang Bloom’s Taxonomy bisa terwujud dalam kegiatan belajar mengajarnya, tentu para siswanya akan terbiasa dengan berpikir kritis dan problem solving. Bukan hanya dalam pembelajaran, Bloom’s Taxonomy mestinya juga banyak diaplikasikan dalam penilaian belajar siswa, untuk mengetahui seberapa kritis cara berpikir siswa setelah mengalami pengalaman belajar selama beberapa waktu. Terakhir, tanamkan kebiasaan membaca. Membaca adalah kegiatan berpikir aktif. Ketika membaca, siswa akan secara mental berusaha membentuk makna dari yang ia baca. Makna inilah pengetahuan. Karena itu ajarkan anak ketrampilan membaca yang segera memberi mereka makna atas sesuatu, misalnya speed reading. Bimbing mereka agar membaca secara efisien, misalnya dengan ketrampilan menggali inti sebuah alinea. Dan yang terpenting, biasakan anak membaca dengan dua bahasa (bilingual). Ingat, adalam era global ini, pencarian informasi tidak lagi hanya bisa mengandalkan bahasa ibu. Penggunaan bahasa asing seperti bahasa Inggris sudah tidak terelakkan lagi. Mengingat begitu pentingnya elemen ketiga ini, maka agak memprihatinkan ketika pada sebuah pemberitaan di media ini beberapa waktu lalu ditemukan bahwa sangat sedikit sekolah di Surabaya dan Jawa Timur ini yang memiliki perpustakaan yang memadai. Jangankan yang memadai, sekedar ada saja tidak. Perlu digarisbawahi bahwa tanpa perpustakaan sekolah tidak akan berfungsi sebagai tempat belajar yang baik. Ketiadaan perpustakaan yang memadai ini juga mendorong guru akhirnya kembali pada pendekatan verbal, menjadikan dirinya sumber belajar utama, dan yang lebih menyedihkan menjadikan LKS (lembar kerja sekolah) sebagai alat sekaligus sumber belajar. Karena itu sudah saatnya pengelola sekolah dan Dispendik untuk lebih serius memikirkan cara agar sekolah- sekolah di Metropolis setidaknya punya perpustakaan yang cukup memadai. Memadai bukan hanya dalam kuantitas buku, namun juga kualitas. Bagaimana materi yang tersedia akan menunjang siswa agar bisa lebih mandiri dalam mencari tahu apa yang ingin diketahuinya. Demikian, semoga artikel ini memberi ilham bagi rekan-rekan sejawat. Wassalam. *) penulis adalah mantan pendidik di Sekolah Ciputra khususnya dalam bidang Theory of Knowledge dan kini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP YPPI 2 Surabaya. No. Rekening BCA a/n Rendra Prihandono : 1520246441

×