Tabloid Seuramoe Edisi IV

1,381 views

Published on

Tabloid Seuramoe Edisi IV

Published in: News & Politics
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,381
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
279
Actions
Shares
0
Downloads
8
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tabloid Seuramoe Edisi IV

  1. 1. PDIA Akan Mendigitalisasi DOKUMEN No.4 Tahun I / Juni 2013 Bangunan Kuno di Banda Aceh Hak Cipta©2013 Pemerintah Aceh. Dilindungi Undang-undang Hak Cipta yang berlaku di Negara Republik Indonesia. Diterbitkan oleh: DishubkomintelAceh Email: redaksi.seuramoe@gmail.com website: http://seuramoe.acehprov.go.id 10 Program Prioritas Pemerintah Aceh adalah 6. Penanggulangankemiskinan. 7. Pendidikandankesehatan, 8. Infrastrukturyangterintegrasi, 9. Sumberdayaalamberkelanjutan 10.Pembangunanlingkunganhidupdankebencanaan. 1. ReformasibirokrasidantatakelolapemerintahanAceh, 2. Keberlanjutanperdamaian, 3. DinulIslam, 4. Sosial,adatdanbudaya, 5. Ketahananpangandannilaitambahpertanian Bukti SEJARAH yang Mulai HILANG H Harun Keuchik Leumik, Arkeolog Otodidak Penyelamat Sejarah Aceh Bukti SEJARAH yang Mulai HILANG Foto Cover: TowerAir Taman Sari kini menjadiArena BermainAnak
  2. 2. No.4 Tahun I / Juni 2013 SSSSSeuramoeeuramoeeuramoeeuramoeeuramoe PublikPublikPublikPublikPublik Saleum 22222 PENGARAH: Dr. ZainiAbdullah (Gubernur Aceh) PENANGGUNG JAWAB: Drs Said Rasul (Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika Aceh) DEWAN PENYUNTING: Drs. A. Aziz. (Kabid Manajemen Data Base) Dr. Rahmawati, M. Si. (Kasubbag TU Seuramoe) PEMIMPIN UMUM: Ir. Sanasi, MM. (Kepala UPTD Seuramoe Informasi Aceh) Pemimpin Redaksi: Asriani,S.Sos Redaktur Pelaksana: Irwanda,ST,M.Si Koordinator Liputan: NiningKhairani,S.Sos Redaktur: ImranJoni Penyunting/Editor: IrandaNovandi,S.Sos Design/Layout AdityaAR Konsultan Media: Arief Rahman Fotografer: Amiruddin Dharwanda,A. Md Reporter/Kontributor: Fahmi,ST-Muslem,A.Md- DediIrawan-GitoRolis-Rahmat Keuangan:SriTrisnaFitri,SE Tata Usaha:Azhar - Syamsuarni Distribusi: Syaukani - Razali Logistik Umum: Syarwan - Amri, A. Md AlamatRedaksi:GedungSeuramoeInformasiAceh Jl.Slt.AlaidinMahmudsyah,BandaAcehNo.14.Telp.0651-33615 Email:redaksi.seuramoe@gmail.com. website: http://seuramoe.acehprov.go.id Memuseumkan Permainan Tradisional Budaya Aceh yang Hilang Jaga Kelestarian Peninggalan Sejarah Makmur, Mahasiswa di Banda Aceh Fahrijal, Mahasiswa Unsyiah Musliyadi, Dosen Universitas Serambi Mekkah Redaksi menerima sumbangan tulisan, artikel dan foto yang sesuai dengan misi penerbitan. Redaksi berhak mengubah isi tulisan tanpa mengubah maksud dan substansi dari tulisan tersebut. Tulisan harus dilampiri tanda pengenal. redaksiredaksiredaksiredaksiredaksi Menyelamatkan Bukti SejarahMenyelamatkan Bukti SejarahMenyelamatkan Bukti SejarahMenyelamatkan Bukti SejarahMenyelamatkan Bukti Sejarah PENINGGALANPENINGGALANPENINGGALANPENINGGALANPENINGGALAN sejarah ada lah bukti otentik yang dapat dira sakan atau dilihat sekarang ter- hadap kejadian-kejadian masa la lu yang pernah terjadi terhadap agama, keluarga maupun nega- ra. Peninggalan sejarah tersebut sangatlah penting dilestarikan un tuk menjadi bahan acuan/renung an terhadap apa-apa saja yang telah terjadi pada masa lampau. Di Aceh, peninggalan sejarah dalam pengelolaannya masih se batas pilih kasih, seperti pahlaw an yang terkenal akan dilakukan restorasi yang bagus, tetapi jika pahlawan yang kurang terkenal, maka restorasi yang dilakukan ju ga asal-asalan, kadang juga tidak pernah adanya niat untuk resto- rasi. Aceh yang terkenal dengan KITAKITAKITAKITAKITA melihat ada banyak perbedaan gaya hidup antara anak-anak sekarang dengan era 90-an misalnya. Perbedaan ini mung- kin disebabkan oleh pengaruh westernisa si.Westernisasiatauvirus-virusbaratmeng- incar kehidupan masyarakat timur seperti anakIndonesia.Kitabisamelihatcontohnya dalam kehidupan anak-anak Aceh jaman sekarang. Semakin hari semakin sulit kita menemukan anak-anak Aceh yang menyu kai permainan tradisional . Kita tidak lagi menemukan anak-anak Aceh di pedesaan (jangankan perkotaan) yang bermain ‘patok lele’, ‘maen ting’, ‘ma- en che’, atau permainan menciptakan ken- daraan dari batang rumbia dan banyak per mainan lainnya tergantung daerah mas- ing-masing. Sekarang anak-anak lebih me milih gem made in barat seperti game on- ASSALAMUALAIKUM.ASSALAMUALAIKUM.ASSALAMUALAIKUM.ASSALAMUALAIKUM.ASSALAMUALAIKUM. Saya sangat prihatin dengan nasib budaya Aceh sekarang, sudah jauh se kali berubah. Orang Aceh sudah mening galkan kebiasaan lamanya, baik dari segi pakaian, makanan, hiburan, dan lain-lain Misal makanan, masyarakat Aceh tidak lagi suka boh meuria (salak Aceh/rumbia) atau beurteh tum tetapi lebih menyukai KFC dan Pizza Hut. Kita bahkan sangat sulit mencari boh meuria bila tiba-tiba ing in sekali mencicipinya. Kemudian kita li hat pakaian, rindu hendak melihat anak dara Aceh memakai sarung ketika jalan- line atau jejaring sosial. Padahal permainan tra- disional merupakan wadah mengembangkan kreativitas anak-anak. Namun kita juga tak bisa menyalahkan jaman. Manusia hidup berdasarkan zamannya. Kehidu- pan masa lalu berbeda dengan hari ini apalagi esok. Tapi setidaknya permainan tradisional Aceh dapat dijadikan koleksi museum Aceh sehingga bisa dipelajari oleh anak-anak daerah lain selain penduduk asli. Memuseumkan permainan tradi- sional tampaknya akan menjadi objek wisata me- narik untuk saat ini. Kalaulah permainan tradisio- nal tersebut tak bisa lagi dimainkan anak-anak se karang, setidaknya mereka bisa melihat bekas peuneu-en orangtuanya dulu di museum. Peri- hal ini patut mendapat perhatian pemerintah Ac- eh. Semoga! jalan sore, tidak akan pernah kita dapat yang de mikian, mereka sudah pakaian legin-lah, cela na ketat, baju rapat, dan lainnya yang arat-arat. Lalu pada hiburan, mana ada anak Aceh jaman ini yang masih suka menyanyikan lagu Aceh at au mengembangkan kesenian rebana di meu nasah-meunasah, hana le atra nyan, hilang di telan globalisasi. Nah, alangkah baiknya jika ora ng Aceh untuk kembali mencintai budaya lokal nya yang murah dan meriah. Pemerintah sudah seharusnya mengingatkan rakyatnya agar mencintai budaya Aceh. sebutan Serambi Mekkah yaitu dengan agama yang sangat me- lekat tentunya banyak sekali ter- dapat peninggalan sejarah, mis- alkan adanya Monumen Islam As ia Tenggara (Monisa) yang terle- tak di Desa Paya Meuligoe, Peu- reulak,AcehTimursampaikinipro ses restorasinya masih sete ngah hati, karena banyak sekali benda -benda peninggalan yang sudah lapuk tak terurus dan hilang men- jadi barang kiloan bagi pemulung. Jika kita lihat dari sudut politik, maka Aceh memiliki peranan ya ng sangat penting yaitu sanggup membeli sebuah pesawat ter- bang jenis Dakota yang nomor pe nerbangannya 001 yang danan- ya terkumpul melalui swadaya masyarakat Aceh dengan men- jual segala hartanya untuk pros- es menuju Indonesia yang lebih baik,tetapisampaisekarangtera- sa seakan Aceh ini tidak berhar- ga di mata pemerintah, karena ji ka kita lihat pembangunan, justru Jakarta lah yang sangat maju, se- dangkan di Aceh jangankan pem- bangunan, tingkat industri pun sangat minim ditemukan hampir di seluruh Aceh. Saya berharap kepada Peme rintah Pusat dan Pemerintah Ac eh agar bisa menjaga kelestaria peninggalan sejarah yang ada di Acehagarnantinyabisadikenang dan bisa menjadi bahan cerita un tuk anak cucu kita kelak, semoga. BANGGABANGGABANGGABANGGABANGGA, ketika beberapa tahun lalu kita melihat masih banyak bukti peninggalan sejarah berdiri kokoh di tengah kota Banda Aceh yang mulai merangkak menuju kota metropolitan. Dari sekian banyak benda dan bangunan bersejarah tersebut, tidak sedikit yang bernilai tinggi bagi bangsa ini. Bahkan merupakan cikal bakal dari kelanjutan Indonesia. Salah satu contoh adalah Hotel Aceh. Di hotel berkonstruksi kayu inilah Soekarno. Presiden Pertama Indonesia mengucurkan air mata kala meminta ‘sumbangan’ masyarakat Aceh untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan. Kala itu, Indonesia nyaris tidak ada lagi. Untung saja para bpejuang Aceh masih setia dengan NKRI, sehingga melalui Radio Rimba Raya, propaganda Belanda yang mengabarkan Indonesia tidak ada berhasil dipatahkan. Sumbangan yang terkumpul di Hotel Aceh kala itu berbuah sebuah pesawat Dakota, yang kemudian diberi nomor sayap “Seulawah RI-001”. Belakangan, sebagai pesawat angkut, Seulawah RI-001 melahirkan Garuda bIndonesia Airways. Tapi di mana Hotel Aceh? Jika melintas di samping Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, tepatnya di Jalan Mohammad Djam, lihatlah ke kiri. Puluhan tiang pancang warna-warni tertanam dengan tinggi tak beraturan. Itulah Hotel Aceh. Masih banyak lagi bangunan yang menjadi bukti sejarah Aceh kini ‘menghilang’. Tower air di Taman Sari, misalnya. Kini berubah menjadi arena bermain anak-anak. Belum lagi ratusan bangunan rumah yang telah berubah menjadi gedung bertingkat atau pertokoan. Mengapa bisa terjadi? Banyak faktor yang menyebabkan bukti-bukti sejarah ini hilang. Kepedulian masyarakat dan terutama pemerintah yang minim, ditambah lagi dengan alasan pembangunan yang tidak memperhatikan kasanah budaya, menjadi penyebab utama. Maka jangan panik, jika sepuluh tahun lagi, kita tak mampu menjawab kala anak-anak kita bertanya, “Pernahkan kita punya kereta api?” atau, “Katanya Soekarno pernah ‘menangis’ di Aceh, di mana? Oleh sebab itu, mulai sekarang, mari kita selamatkan semua bukti sejarah yang ada di Aceh. Dimulai dari yang ada di lingkungan kita. Semoga anak cucu kita tidak menagih yang terlalu sulit untuk kita pertanggungjawabkan!
  3. 3. UtamaUtamaUtamaUtamaUtama No.4 Tahun I / Juni 2013 33333 Bukti Sejarah yang Mulai Hilang B Bangunan Peninggalan Masa Lalu ANYAKANYAKANYAKANYAKANYAK bukti peni- nggalan sejarah di Acehmulaihilang se- pertihalnyatowerair diTamanSariBandaAceh.Ko- nontowerairtersebutmerupa- kan sumber air warga ibu kota Aceh.KeretaapiAcehyangdu lu menjadi sarana transportasi yang menghubungkan lintas ibu kota provinsi ke wilayah ut- ara-timurAceh.HotelAcehya- ng kini tinggal tiang pancang, padahal, keberlangsungan re- publik ini sempat tercatat di ho tel tersebut. Dan banyak lagi yang kini telah tiada. Darisisitradisidanbudaya, banyak juga yang telah ter kikis. Seperti halnya adat per kawinan yang kini cendrung mengikuti budaya barat. Melihat kondisi ini, sebagai generasi penerus bangsa ini, dandemimenggalidanmeles- tarikanbuktisejarahdanbuda- ya yang menghilang ini, perlu dicari solusi bagaimana itu bi- sa terus dipertahankan dan dibangkitkan kembali. Sebab, Aceh sangat kental akan se- jarah dan budayanya. Sayangnya, seperti yang dikatakan Dra. Zunaimar, Di- rektur Pusat Dokumentasi dan InformasiAceh(PDIA),genera- si sekarang mulai tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau ‘usang’. “Kita lihat ketertarikan generasi muda kita lebih suka tehnologiinformasi.Jadiwajar- lah jika yang mengunjungi PD- IA dan yang peduli dengan bukti sejarah lainnya, hanya mereka yang melakukan pe- nelitian tentang Aceh, seperti dosen dan peneliti,” katanya Senin17Junilalu. Menyedihkanmemangjika objek-objek sejarah tak lagi mendapatperhatian.Lebihiro- nis, malah banyak objek yang kini‘dihilangkan’ataudihancur- kan, hanya untuk kepentingan pembangunan yang notabene berdampak pada pengaburan sejarah. Contoh nyata tower air Ta- manSari.Bangunantuaterse- but kini berubah menjadi bukit batuuntukpermainanprosotan dan panjat tebing anak-anak. Padahal, untuk membangun objekpermainaninibisadilaku- kan di tempat lain dalam ka- wasanTamanSari.Belumlagi kalau kita bicara Hotel Aceh. “Perlu dilakukan pelestari- an sejarah yang ada di Aceh saat ini. Sebab, jika ini tidak di- lakukanmakabukantidakmu- ngkin suatu saat Aceh akan kehilangansejarahnya.”Demi- kian dikatakan Wakil Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Ban- da Aceh, Rukaiyah Ibrahim Nain, Selasa 18 Juni 2013, di PWIAceh. Menurutnya,salahsatucara dengan membangun berb- agai reflika di sejumlah titik di ibu kota Provinsi Aceh. Reflika ini dapat dijadikan sebagai su- mber pengetahuan dan pene- litian sejarah akan kejayaan A- ceh pada tempoe doeloe. “ContohreflikakeretaapiAceh yang terletak di komplek Bara- ta Swalayan. Meskipun hanya lokomotifnya,kiranyaPemerin- tah Aceh atau Pemko Banda Aceh bisa membuat tugu kecil yang berisikan sejarah kereta apiAcehini.Inisejarah,bahwa Aceh punya kejayaan yang maju dalam dunia transportasi zamandulu,”ujarRukaiya. Rukaiyah, menegaskan ki- ni sudah saatnya Pemerintah Acehmengembalikanbuktise- jarah yang mulai menghilang. Hal ini sangat perlu, agar gen- erasimudaAcehdimasamen- datang, mengetahui identitas diri sebagai generasi yang se- lalu menjadikan sejarah seba- gai titik tolak untuk kemajuan Aceh di masa mendatang. Keprihatinanakansemakin menghilangnyasitus-situsber- sejarah ini juga diungkapkan Ketua PWI Aceh, Tarmilin Us- man.Menurutdia,semuapihak harusterlibataktifuntukmenye- lamatkan situs-situs tersebut. “Minimal, kalau tidak bisa me- nyelamatkan fisiknya, ya den- ganmendokumentasikannya,” kataTarmilin.MenurutTarmilin, media memilkiki peran penting dalam menyelamatkan situs- situs bersejarah ini. Pember- itaan dan pendokumentasian yang dilakukan media akan memberimanfaatbagigenera- si mendatang. “Jika fisiknya hi- lang dari muka bumi, paling tidak akan ada dokumentasin- ya di media,” kata Tarmilin. Keprihatinan juga disam- paikan Teuku Ali Basyah Tals- ya (TA Talsya), pelaku sejarah yang sampai kini masih meng- ikutiperkembanganAceh.Me- nurut Dia, penghancuran se- jumlah besar bangunan pen- inggalan sejarah ini membuat generasimudaAcehkedepan ‘buta’ akan kegigihan dan pa- triotisme pendahulunya. “Contoh kecil gedung Dja- watan Penerangan—kini jadi Melihat kondisi Aceh saat ini perkembangan pembangunan sangat pesat,Melihat kondisi Aceh saat ini perkembangan pembangunan sangat pesat,Melihat kondisi Aceh saat ini perkembangan pembangunan sangat pesat,Melihat kondisi Aceh saat ini perkembangan pembangunan sangat pesat,Melihat kondisi Aceh saat ini perkembangan pembangunan sangat pesat, ditambah era keterbukaan publik juga sudah menyentuh semua lapisanditambah era keterbukaan publik juga sudah menyentuh semua lapisanditambah era keterbukaan publik juga sudah menyentuh semua lapisanditambah era keterbukaan publik juga sudah menyentuh semua lapisanditambah era keterbukaan publik juga sudah menyentuh semua lapisan masyarakat, tanpa ada kecuali. Pada satu sisi, hal positif ini patut kira berimasyarakat, tanpa ada kecuali. Pada satu sisi, hal positif ini patut kira berimasyarakat, tanpa ada kecuali. Pada satu sisi, hal positif ini patut kira berimasyarakat, tanpa ada kecuali. Pada satu sisi, hal positif ini patut kira berimasyarakat, tanpa ada kecuali. Pada satu sisi, hal positif ini patut kira beri apresiasi, namun di sisi lain, karena pesatnya perkembangan zaman ini banyakapresiasi, namun di sisi lain, karena pesatnya perkembangan zaman ini banyakapresiasi, namun di sisi lain, karena pesatnya perkembangan zaman ini banyakapresiasi, namun di sisi lain, karena pesatnya perkembangan zaman ini banyakapresiasi, namun di sisi lain, karena pesatnya perkembangan zaman ini banyak hal yang telah hilang terkikis zaman.hal yang telah hilang terkikis zaman.hal yang telah hilang terkikis zaman.hal yang telah hilang terkikis zaman.hal yang telah hilang terkikis zaman. kantor Seuramo Informasi Ac- eh,diJlSultanAlaidinMahmud syahNo.14BandaAceh—yang merupakan milik Jepang dan menjadi markas Sato (peting- gi Jepang pada masa penja- jahan Jepang di Aceh). Jelang Kemerdekaan RI, pejuang Aceh berhasil mere- butnya dan dijadikan kantor Djawatan Penerangan, den- gan kepalanya yang pertama ditunjuk Said Ahmad Dahlan,” kata Talsya. Sayang, tambahnya, dja- watanyangmerupakanDepar- temen ke-5 dari Kabinet Soekarnoiniharusdihapuskan (dilebur) setelah melalui berb- agai perubahan, dari mulai KanwilPeneranganyangmeru- pakan departemen dalam bidang Politik, Hukum dan Keamanan (POLHUKAM), hingga Dinas Informasi dan Komunikasi, dan kini menjadi Dishubkomintel. TA Talsya yang pernah menjadiKepalaKantorDJawa- tanPeneranganPropinsiDaer- ah Istimewa Aceh tahun 1965- 1967inisangatmenyayangkan penerangan (informasi) yang digabung dengan perhubun- gan, sehingga menjadi kacau- balau. “Makin kacau dengan keadaan kantornya yang an- gker, gedungnya berlapis-la- pis,sehinggamasyarakattidak berani datang, apalagi orang kampung.” Ironis memang. Pemban- gunan menuju modernisasi yang kini gencar dilakukan di Aceh, tak dinyana turut andil dalammengaburkanfakta-fak- ta sejarah dengan semakin minimnyabuktifisikyangmasih terselamatkan. ningningningningning / a n d i n o v a / f a h m i / w a n d r a / a m i r/ a n d i n o v a / f a h m i / w a n d r a / a m i r/ a n d i n o v a / f a h m i / w a n d r a / a m i r/ a n d i n o v a / f a h m i / w a n d r a / a m i r/ a n d i n o v a / f a h m i / w a n d r a / a m i r WAKILWAKILWAKILWAKILWAKIL Ketua Majelis Adat Ac- eh (MAA) Banda Aceh, Rukai- yah Ibrahim Nain menilai, perlu dilakukan pelestarian sejarah yang ada di Aceh saat ini. Se- bab, jika ini tidak dilakukan ma- ka bukan tidak mungkin suatu saat Aceh akan kehilangan se- jarahnya.Salahsatucaranyade ngan mendirikan berbagai ref- lika di sejumlah titik di ibu kota Provinsi Aceh. Seperti reflika ke reta api Aceh yang terletak di komplekBarataSwalayan.Mes kipun hanya lokomotifnya, kira nyaPemerintahAcehatauPem ko Banda Aceh bisa membuat tugukecilyangberisikansejarah kereta api Aceh ini. “Ini sejarah, bahwaAcehpunyakejayaanya ng maju dalam dunia transpor- tasi zaman dulu,” ujar Rukaiya. Bagi Rukaiyah, Kereta Api (KA) Aceh memiliki kenangan tersendiri. Sebab, pada saat ma sih aktifnya KA Aceh ini, bukan sa jasebagaisaranatranportasibagi masyarakat Aceh, namun KA pa da saat itu juga menjadi objek per jalananwisatayangsangatmeny- enangkan. Bagaimana tidak, kenang to koh perempuan Aceh ini, dengan KAiabersamakeluargakerapme nggunakannya untuk berliburan dari pusat kota Koetaradja (Ban- da Aceh) yang terletak di dekat Masjid Raya Baiturrahman ke Ulee lheue. Sorenya, ia bersama keluarga pulang kembali dengan KAtersebut. Dikatakannya, gagalnya ren- cana Pemerintah Aceh untuk me nghidupkan kembali kereta api Aceh perlu ditinjau ulang. Pasal- nya KA saat ini bukan saja seba gai sarana transportasi bagi ma nusia, namun juga bisa dijadikan sebagai angkutan berbagai ko- moditi Aceh dari satu daerah ke daerah lain. “Di Jawa dan sejumlah kota besar di dunia, KA masih menja- di sarana transportasi utama, mengapa kita yang memiliki se- jarahmanisdenganKAtidakmau mengembalikan kejayaan se- jarah tersebut,” ujar Rukaiyah. Kereta Api Aceh ini memang tidak bisa lepas dari sejarah Aceh itu sendiri. Almarhum Dr Muham- mad Gade Ismail MA, Pakar Ilmu Sejarah Aceh dari FKIP Unsyiah dalam sebuah tulisannya pernah mengungkapkan, Kereta api di Aceh yang muncul pada sepe- rempat terakhir abad yang lalu dan terus berjalan dengan baik selama pertengahan pertama abad ini, memasuki tahun enam puluhan mulai berjalan tersendat- sendat dan pada akhirnya pada 1980 sama sekali terhenti keg- iatannya. Munculnya kereta api di Aceh untuk pertama kali, sa ma sekali tidak dapat dipisah- kan dari sejarah penegakan ke kuasaan Hindia Belanda di Aceh. Setelah pasukan ekspe- disi Belanda untuk kedua kalin- ya berhasil merebut Dalam/Is tana dari sultan Aceh pada awal tahun 1874, untuk menunjang operasi militer mereka di Kuta raja(sekarangBandaAceh)dan sekitarnya, mereka langsung memikirkan pentingnya komu- nikasi dan pembangunan jalan darat yang menghubungkan Uleelheue denganBandaAceh “Maka lahirlah kereta api Aceh ini. Dan generasi kita sekarang pasti tidak tahu. Ma- kanya, perlu dilestarikan se- bagai situs sejarah,” katanya. andinovaandinovaandinovaandinovaandinova Rukaiyah Ibrahim Nain: Sudah SaatnyaSudah SaatnyaSudah SaatnyaSudah SaatnyaSudah Saatnya MENGEMBALIKANMENGEMBALIKANMENGEMBALIKANMENGEMBALIKANMENGEMBALIKAN Bukti Sejarah yangBukti Sejarah yangBukti Sejarah yangBukti Sejarah yangBukti Sejarah yang HILANGHILANGHILANGHILANGHILANG Tower Taman Sari tinggal Kenangan. Seuramoe/amirSeuramoe/amirSeuramoe/amirSeuramoe/amirSeuramoe/amir
  4. 4. UtamaUtamaUtamaUtamaUtama 44444 No.4 Tahun I / Juni 2013 Apa saja yang didoku-Apa saja yang didoku-Apa saja yang didoku-Apa saja yang didoku-Apa saja yang didoku- mentasikan di PDIA ini?mentasikan di PDIA ini?mentasikan di PDIA ini?mentasikan di PDIA ini?mentasikan di PDIA ini? Zunaimar: PDIA dalam mencapai tujuannya menghim- pun dan menata segala ben- tuk publikasi/penerbitan beru- pa buku, naskah, akta, risalah, panflet, buletin dan sebagain- ya mengenai Aceh. Apa saja yang dapat memberikan infor- masi tentang Aceh mulai bah- an informasi dalam bentuk ter- cetak ataupunnonprinted mate- rial seperti peta, silsilah, naskah lama dalam tulisan arab yang disebut manuscript, rekaman. Jadi segala sesuatu tentang A- ceh didokumentasi, mengolah dan menyebarluaskan kepa- da pihak yang membutuhkan. Dari mana saja didap-Dari mana saja didap-Dari mana saja didap-Dari mana saja didap-Dari mana saja didap- atkan dokumen tersebut?atkan dokumen tersebut?atkan dokumen tersebut?atkan dokumen tersebut?atkan dokumen tersebut? Zunaimar: Sebelum dilan- da tsunami bahan tentang A ceh didapat dari Koninklijk Ins- tiute voor Taal Land Volkenkun- de (KITLV) di Leiden Belanda, sebelum lembaga ini didirikan tahun1977.Tahun1974lemba- ga itu telah mengumpulkan da- ta dan buku-buku dan menye- leksi bahan-bahan informasi yang berkaitan dengan Aceh di Negeri Belanda dan mengir- imkannya ke Aceh, seperti film, microfilm dan rekaman semen- tara dari daerah Pusat Peneli- tian Ilmu Sosial Zunaimar: Kami Akan Mendigitalisasi PDIA PUSATPUSATPUSATPUSATPUSAT Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA),Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA),Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA),Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA),Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), merupakan lembaga daerah yang dapat dikatakanmerupakan lembaga daerah yang dapat dikatakanmerupakan lembaga daerah yang dapat dikatakanmerupakan lembaga daerah yang dapat dikatakanmerupakan lembaga daerah yang dapat dikatakan sebagai penyelamat asset sejarah. Sayang, sejauhsebagai penyelamat asset sejarah. Sayang, sejauhsebagai penyelamat asset sejarah. Sayang, sejauhsebagai penyelamat asset sejarah. Sayang, sejauhsebagai penyelamat asset sejarah. Sayang, sejauh ini kantor PDIA hanya menjadi kantor ‘hening’,ini kantor PDIA hanya menjadi kantor ‘hening’,ini kantor PDIA hanya menjadi kantor ‘hening’,ini kantor PDIA hanya menjadi kantor ‘hening’,ini kantor PDIA hanya menjadi kantor ‘hening’, karena nyaris tidak ada pengunjung. Padahal, cukupkarena nyaris tidak ada pengunjung. Padahal, cukupkarena nyaris tidak ada pengunjung. Padahal, cukupkarena nyaris tidak ada pengunjung. Padahal, cukupkarena nyaris tidak ada pengunjung. Padahal, cukup banyak informasi tentang Aceh dan sejarahnyabanyak informasi tentang Aceh dan sejarahnyabanyak informasi tentang Aceh dan sejarahnyabanyak informasi tentang Aceh dan sejarahnyabanyak informasi tentang Aceh dan sejarahnya tersimpan di sini.tersimpan di sini.tersimpan di sini.tersimpan di sini.tersimpan di sini. Menurut Dra. Zunaimar, Direktur PDIA, selama iniMenurut Dra. Zunaimar, Direktur PDIA, selama iniMenurut Dra. Zunaimar, Direktur PDIA, selama iniMenurut Dra. Zunaimar, Direktur PDIA, selama iniMenurut Dra. Zunaimar, Direktur PDIA, selama ini yang mengunjungi PDIA hanya mereka yang melaku-yang mengunjungi PDIA hanya mereka yang melaku-yang mengunjungi PDIA hanya mereka yang melaku-yang mengunjungi PDIA hanya mereka yang melaku-yang mengunjungi PDIA hanya mereka yang melaku- kan penelitian tentang Aceh, seperti dosen dankan penelitian tentang Aceh, seperti dosen dankan penelitian tentang Aceh, seperti dosen dankan penelitian tentang Aceh, seperti dosen dankan penelitian tentang Aceh, seperti dosen dan peneliti. Pengunjung terseleksi sesuai kebutuhannya,peneliti. Pengunjung terseleksi sesuai kebutuhannya,peneliti. Pengunjung terseleksi sesuai kebutuhannya,peneliti. Pengunjung terseleksi sesuai kebutuhannya,peneliti. Pengunjung terseleksi sesuai kebutuhannya, meski ada juga pelajar yang mengunjungi PDIA,meski ada juga pelajar yang mengunjungi PDIA,meski ada juga pelajar yang mengunjungi PDIA,meski ada juga pelajar yang mengunjungi PDIA,meski ada juga pelajar yang mengunjungi PDIA, namun jumlahnya sangat kecil.namun jumlahnya sangat kecil.namun jumlahnya sangat kecil.namun jumlahnya sangat kecil.namun jumlahnya sangat kecil. Lalu mengapa banyak pihak yang tidak tertarikLalu mengapa banyak pihak yang tidak tertarikLalu mengapa banyak pihak yang tidak tertarikLalu mengapa banyak pihak yang tidak tertarikLalu mengapa banyak pihak yang tidak tertarik dengan pusat dokumentasi dan informasi ini? Berikutdengan pusat dokumentasi dan informasi ini? Berikutdengan pusat dokumentasi dan informasi ini? Berikutdengan pusat dokumentasi dan informasi ini? Berikutdengan pusat dokumentasi dan informasi ini? Berikut wawancara Nining dari Seuramoe Informasi denganwawancara Nining dari Seuramoe Informasi denganwawancara Nining dari Seuramoe Informasi denganwawancara Nining dari Seuramoe Informasi denganwawancara Nining dari Seuramoe Informasi dengan Direktur PDIA yang dilakukan Senin 17 Juni 2013, diDirektur PDIA yang dilakukan Senin 17 Juni 2013, diDirektur PDIA yang dilakukan Senin 17 Juni 2013, diDirektur PDIA yang dilakukan Senin 17 Juni 2013, diDirektur PDIA yang dilakukan Senin 17 Juni 2013, di kantor PDIA, Jalan Prof A Majid Ibrahim 1 No. 5kantor PDIA, Jalan Prof A Majid Ibrahim 1 No. 5kantor PDIA, Jalan Prof A Majid Ibrahim 1 No. 5kantor PDIA, Jalan Prof A Majid Ibrahim 1 No. 5kantor PDIA, Jalan Prof A Majid Ibrahim 1 No. 5 Banda Aceh.Banda Aceh.Banda Aceh.Banda Aceh.Banda Aceh. Saat tsunami, gedung i-Saat tsunami, gedung i-Saat tsunami, gedung i-Saat tsunami, gedung i-Saat tsunami, gedung i- ni merupakan salah satuni merupakan salah satuni merupakan salah satuni merupakan salah satuni merupakan salah satu bangunan yang tersapu gebangunan yang tersapu gebangunan yang tersapu gebangunan yang tersapu gebangunan yang tersapu ge lombang. Bagaimana na-lombang. Bagaimana na-lombang. Bagaimana na-lombang. Bagaimana na-lombang. Bagaimana na- sib dokumen yang tersim-sib dokumen yang tersim-sib dokumen yang tersim-sib dokumen yang tersim-sib dokumen yang tersim- pan di sini?pan di sini?pan di sini?pan di sini?pan di sini? Zunaimar: Tidak ada yang terselamatkan karena yang tinggal hanya lantai gedung. Hanya beberapa bahan yang disimpan staf terbitan PDIA, yaitu seri informasi Aceh. Bagaimana peran ma-Bagaimana peran ma-Bagaimana peran ma-Bagaimana peran ma-Bagaimana peran ma- syarakat dalam menghim-syarakat dalam menghim-syarakat dalam menghim-syarakat dalam menghim-syarakat dalam menghim- pun koleksi untuk diserah-pun koleksi untuk diserah-pun koleksi untuk diserah-pun koleksi untuk diserah-pun koleksi untuk diserah- kan ke PDIA?kan ke PDIA?kan ke PDIA?kan ke PDIA?kan ke PDIA? Zunaimar: Biasanya mere- ka yang peduli dengan Aceh dan peduli terhadap budaya Aceh, jumlahnya kecil, seba- gaimana kita tahu sedikit sekali di Aceh peminat sejarah dan budaya. Karena orang kita suka dengan hal yang baru, sementara ini adalah hal yang lama seperti masa kesultanan atau sejarah masa lalu tentang Aceh. Apa upaya yang dila-Apa upaya yang dila-Apa upaya yang dila-Apa upaya yang dila-Apa upaya yang dila- kukan PDIA dalam menye-kukan PDIA dalam menye-kukan PDIA dalam menye-kukan PDIA dalam menye-kukan PDIA dalam menye- barkan informasi yang di-barkan informasi yang di-barkan informasi yang di-barkan informasi yang di-barkan informasi yang di- miliki?miliki?miliki?miliki?miliki? Zunaimar:Kitalihatketertari- kan generasi muda kita lebih suka tehnologi informasi. Kare- na itu PDIA berencana mendig- italisasikan semua bahan infor- masi dalam upaya meningkat- kan pelayanan dengan menye- suaikan kebutu- han user, sehing ga menjadi per- pustakaan digital dan ini pasti lebih murah dan dapat diakses di mana saja pengguna berada dan sem- ua bahan informa si akan terselam- atkan. Semoga proposal yang kami ajukan ke Pemerintah Aceh dapat disetu jui. Soal minatSoal minatSoal minatSoal minatSoal minat m a s y a r a k a tm a s y a r a k a tm a s y a r a k a tm a s y a r a k a tm a s y a r a k a t seberapa be-seberapa be-seberapa be-seberapa be-seberapa be- sar untuk mengunjungisar untuk mengunjungisar untuk mengunjungisar untuk mengunjungisar untuk mengunjungi PDIA?PDIA?PDIA?PDIA?PDIA? Zunaimar: PDIA adalah badan yang bersifat mandiri sebagai salah satu perwujudan kerjasama antara Pemerintah Aceh dengan Unsyiah, bertu- juan memajukan studi men- genai Aceh dalam kedudukan dan hubungannya di wilayah nusantara dan mancanegara pada masa lalu, sekarang dan masa mendatang. PDIA ini dibangun untuk memajukan studi tentang Aceh, jadi wajarlah jika yang mengunjungi PDIA hanya mereka yang melakukan penelitian tentang Aceh, sep- erti dosen dan peneliti. Jadi pengunjung kita terseleksi kare- na kebutuhannya, sementara ada juga pelajar yang men- gunjungi PDIA, namun jumlah- nya kecil. Sejauh mana perhatianSejauh mana perhatianSejauh mana perhatianSejauh mana perhatianSejauh mana perhatian Pemerintah Aceh?Pemerintah Aceh?Pemerintah Aceh?Pemerintah Aceh?Pemerintah Aceh? Zunaimar: Saya dilantik 25 Pebruari 2013, belum dapat ke- sempatan beraudiensi dengan gubernur. Sementara saya su- dah menyampaikan kepada staf ahli dan dijanjikan dalam waktu tidak terlalu lama, kare- na saya ingin menyampaikan kepada gubernur, bahwa me- mang organisasi ini kurang po- puler dan dianggap kurang kontribusi terhadap masyara- kat namun di sisi lain saya ha- rus memperkenalkan apa yang menjadi tujuan pokok dan fungsidariPDIA.Selamainiada anggapan PDIA adalah ya- yasan, sehingga pemerintah memberi hi bah, padahal kita melakukan program pemerin- tah. Jadi alangkah tidak pan- tas jika disamakan dengan yayasan yang hanya mem- bantu bukan melakukan. PDIA menda pat bimbingan administratif dari Gubernur Aceh serta bimbingan teknis il- miah dari Rektor Unsyiah. Dan kedua pejabat tersebut meru- pakan unsur pimpinan tertinggi PDIA. Ini tercantum dalam bab 3 pasal 7 dari statuta PDIA. Wa- laupun ini hanya merupakan kerja sama Unsyiah dengan Pemerintah Aceh, di mana dari segi tehnis ilmiah merupakan tanggung jawab Unsyiah, se- mentara tanggung jawab ad- ministratif dan biaya kepada gubernur. Pekerja di PDIA sudah 11 bulan ini tidak mendapat honor karena uang operasional han- ya sampai April 2012. Kondisi ini semakin memprihantinkan dengan adanya Pergub No 93 tahun 2012 tentang Tatacara Pengangaran, Pelaksanaan dan Penatausahaan, Pertang- gungjawaban serta Monitoring dan Evaluasi Hibah dan Ban- tuan Sosial. Peraturan ini meru- pakan pil pahit bagi PDIA, ma- nakala sebuah lembaga yang telah lahir sejak 26 tahun silam (26 Maret 1977), dengan Tu- poksinya semata-mata menja- lankan program pemerintah, di- pandang sama dengan isi pa- sal 12 ayat 4, di mana hibah berupa uang kepada masya- rakat dan organisasi kema- syarakatan paling banyak Rp 100.000.000,-.PDIAsebuahlem baga mandiri yang melakukan program pemerintah hanya mendapat 100 juta pertahun. Untungnya pascatsunami PDI- A dibantu pembangunan dan biaya hunting bahan dokumen- tasi oleh BRR. Apa yang paling men-Apa yang paling men-Apa yang paling men-Apa yang paling men-Apa yang paling men- desak yang harus dilaku-desak yang harus dilaku-desak yang harus dilaku-desak yang harus dilaku-desak yang harus dilaku- kan PDIA?kan PDIA?kan PDIA?kan PDIA?kan PDIA? Zunaimar: Mendigitalkan bahan yang bernilai sejarah sehingga saudara kita yang di Seuramoe Informasi saat mewawancarai Direktur PDIA, Dra. Zunaimar: foto:niningfoto:niningfoto:niningfoto:niningfoto:nining kaki gunung dapat mengakses dengan mudah, cepat dan murah. Kemudian menyela- matkan manuscript di mana kita hanya mampu seperti membe- li sebuah buku. Sementara negara tetangga kita, Singapu- ra, Malaysia dan Brunei Darus- salam memburunya ke Aceh. Di mata orang kita, mungkin mahal dengan nilai uang yang mereka bayar, tetapi nilainya di mata dunia sangat mahal. Hampir semua sisi kehidu- pan ada dalam manuscript se- hingga kita bisa mengetahui sisi kehidupan kita sejak masa kesultanan. Karena itu, paling tidak kita mendiskripsikan pe- milik manuscript, sehingga PDIA bisa membuat katalog, yang membutuhkan bisa ber- hubungan langsung dengan pemilik manuscript demi men- jaga keselamatan manuscript. Apa pernah dokumenApa pernah dokumenApa pernah dokumenApa pernah dokumenApa pernah dokumen yang dimiliki PDIA menyel-yang dimiliki PDIA menyel-yang dimiliki PDIA menyel-yang dimiliki PDIA menyel-yang dimiliki PDIA menyel- esaikan masalah di Aceh?esaikan masalah di Aceh?esaikan masalah di Aceh?esaikan masalah di Aceh?esaikan masalah di Aceh? Zunaimar: Pernah. Persen- gketaan antara Kodam deng- an masyarakat Lambaro Ang- an mempersoalkan lapangan. Di mana Kodam mengklaim la- pangan itu milik tentara Belan- da. Padahal lapangan itu han- ya sebagai tempat latihan me- nembak tentara Belanda. Se- telah di mejahijaukan dengan bukti dokumen yang ada pada PDIA, maka lapangan tersebut kembali kepada masyarakat. Apa suka duka selamaApa suka duka selamaApa suka duka selamaApa suka duka selamaApa suka duka selama di PDIA?di PDIA?di PDIA?di PDIA?di PDIA? Zunaimar: Saya sudah 27 tahun mengabdi di PDIA. Pada masa konflik saya berusaha menyelamatkan dokumen penting dengan membawanya kemanapun saya pergi. Dan itu adalah masa sulit. Lalu pada saat menjelang pembuatan film Cut Nyak Dhien, 1986, kita memberikan referensi penting tentang Aceh, sehingga film Cut Nyak Dhien hampir sama den- gan keadaan sesungguhnya. Dan itulah saat yang memba- hagiakan. Namun hari ketiga setelah Aceh dilanda tsunami, hati dan tulang-belulang saya terasa hancur dan perasaan saya sangat sedih, karena ti- dak satupun dokumen dan ba- han informasi penting tentang Aceh terselamatkan. jak tahun 2009, sebelum ak- hirnya,Maret2013,dilantikmen- jadi Direktur PDIA. Di PDIA sendiri, Istri Amir Fauzi SAB ini sudah lebih 27 tahun mengabdi. Bagi Zunaimar, mengabdi menyelamatkan bukti sejarah tentang Aceh adalah ibadah. Karena hanya itu yang dapat dilakukan bagi bangsa dan ge nerasi yang akan datang. “Se- hingga pada saat diminta per- tanggung-jawaban di akhirat kelak tentang untuk apa sepan- jang usia digunakan, saya da- pat menjawabnya,” ujarnya ke- pada Nining, dari Seuramoe Informasi. Zunaimar mengajak gene- rasi muda, kususnya Aceh, un- tuk mau belajar tentang Aceh demi menumbuhkan rasa cinta terhadap sesama dan kepada tanah air, kare na orang Aceh “Janji bek meubah, amanah bek meu tuka dan menyo na pakat lampoh jeurat ta peugala”. “Ini adalah pengabdian saya sebagai seorang ibu. Saya ingin semua orang tau tentang betapa besar pengaruh Aceh di tengah kancah perpolitikan dunia dan banyak catatan yang menjelaskan itu. Dan Aceh telah memiliki peradaban yang maju di berbagai sendi kehidupan, tidak hanya di bidang agama Is- lam, tapi juga di bidang pemerintahan, pertanian dan ilmu pengetahuan.” DRA. ZUNAIMARDRA. ZUNAIMARDRA. ZUNAIMARDRA. ZUNAIMARDRA. ZUNAIMAR merupa- kan angkatan pertama Fakul- tas Sastra Universitas Sumat- era Utara (USU) dan merupa- kan sarjana sastra jurusan Ilmu Perpustakaan pertama di Aceh. Wanita kelahiran Meula- boh, Aceh Barat, 24 Mei 1956 ini pernah menjadi Kepala Per- pustakaan Pusat Unsyiah se- Sekilas tentang Dra. Zunaimar
  5. 5. OOOOOpinipinipinipinipini 55555No.4 Tahun I / Juni 2013 MENGEJUTKAN.MENGEJUTKAN.MENGEJUTKAN.MENGEJUTKAN.MENGEJUTKAN. Hampir setiapharimediadiAcehmen- yuguhi kita dengan berita ten- tang narkoba. Tidak nyaman memang, apalagi jika kita kait- kan dengan status Aceh yang terbalut bingkai syariat Islam. Kasus penyalahgunaan narkoba di Aceh mengalami peningkatan yang signifikan sepanjang tahun 2012. Data dari Polda Aceh, dari 605 ka- sus pada 2011, meningkat menjadi999kasuspada2012. Terjadipeningkatan394kasus atau 76 persen. Kepolisian juga berhasil mengamankan1.131orangter- sangka, dengan rincian 13 or- ang bandar, 85 pengedar dan 1.036 orang tersangka peng- gunanarkoba.Jumlahtersang- ka juga mengalami peningka- tan dari 2011 yang berjum- lah864orang. Sedangkan barang buktiyangdisitaberupagan- ja 5.931 kilogram dengan nilaiRp.4,7miliar,sabu-sabu 3,57kilogramsenilaiRp.5,3 miliar, heroin 1,99 kilogram se- nilaiRp.1,59miliarsertaeksta- si dan putaw mencapai Rp.208,9juta. Tak hanya pengguna, Aceh belakangan juga dijadi- kan pintu masuk peredaran narkoba ke Indonesia. Beru- langkali petugas Bea dan Cu- kai Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar berhasil menggagalkan penyeludupan sabu-sabu dari Malaysia dengan memanfaat- kan jasa kurir, warga lokal. Tak hanya itu, berita pene- muan hektaran ladang ganja juga menjadi santapan harian warga Aceh, di samping ter- tangkapnya para kurir dengan berbagai jenis narkoba yang dibawa, termasuk status sos- ial mereka yang beragam. Pertengahan tahun lalu Bi- reuen dan Aceh Utara sempat menjadi perhatian Badan Narkotika Nasional (BNN). Pasalnya puluhan hektare ladang ganja ditemukan di daerah pemekaran Kabupat- en Aceh Utara ini. Belum lagi temuan narkotika jenis sabu- sabudikabupatenyangsama. Satudiantarasekianbany- ak newsmaker Bireuen dan Aceh Utara saat itu adalah M Nasir, 28 tahun, warga Dusun LhokDrien,DesaSeumirah,Ni- sam, Aceh Utara. Polisi mene- mukan ladang ganja seluas 400 meter miliknya di desa ter- sebut,dengan700batangtana- manganjasiapuntukdipanen. Temuaninidilanjutkanden- gan temuan berikutnya. Ahad (28/4), Tim Kepolisian Resort (Polres)Bireuenmencabutdan memusnahkanganjadiladang seluas1,5hektare,dikawasan Krueng Meusagop, Kecama- tan Simpang Mamplam, Bi- reuen. Sayang, tidak seorang- pun pelaku yang berhasil dia- mankan. (prohaba/29/4/2012) Kok mereka mau? MA misalnya, warga Desa Tulang, Serbajadi, Aceh Timur ini mengaku terpaksa menjadi kurir ganja karena desakan ekonomi. Pria 24 tahun yang berprofesi sebagai petani ini, mengaku mendapat bayaran menggiurkan, Rp.500 ribu un- tuk tiap paket yang berhasil dibawanya. Sayangnya, be- lum tiba ditujuan, MA terjaring razia polisi di Simpang Desa Karang Inong, Ranto Peu- reulak, Selasa (4/9/2012) dini- hari. Padahal Nopember dia akan menikah. (prohaba/5 September 2012) Nasib yang sama juga di- alami Hanum Farida. Upah Rp.500 ribu membuat wanita 30-antahunininekadmemba- wa enam kilogram ganja ke Jakata. Mengaku disuruh se- orang wanita di Aceh, Hanum terpaksa menginap di sel Mapolres Binjai, setelah ter- tangkap razia di kawasan Bin- jai.SumateraUtara. Kabupaten Langkat mem- ang jadi kawasan razia polisi, khususnyaterhadapkendaran yangdatangdariAceh.Danla- gi-lagi razia yang dilakukan ja- jaran kepolisian setempat ber- hasil menggagalkan penye- lundupan ganja ke luar Aceh. Kali ini Nurpati pelakunya. Wanita 31 tahun asal Aceh itukedapatanmembawa10ki- logramganjakering,Ahad(16/ 12/2012), saat menumpang minibus menuju Medan. Lagi- lagi tersangka mengaku han- ya sebagai kurir. Janji bayaran yang menggiurkan, menjadi alasan utama mereka nekad membawa barang terlarang tersebut.(sumutpos/17/12/2012) Alternative DevelopmentAlternative DevelopmentAlternative DevelopmentAlternative DevelopmentAlternative Development Menilik alasan para ter- sangka, meski terdengar klise, rasanyakitaperlusegeramen- goreksi program pemban- gunan yang diusung Pemerin- tah Aceh. Alasan ekonomi yang digaungkan ini membuat kita urut dada. Pasalnya, daer- ah yang mendapat kucuran dana hingga Rp.11,7 triliun ini tak mampu menjauhkan rak- yatnyadariketerlibatandengan narkoba, baik sebagai peng- guna, terlebih sebagai penge- dar dan petani. Jika pernyataan para ter- sangka ini jujur, kita patut ber- sedih. Begitu sulitkah mencari nafkah di negeri ini? Atau me- mang pemerintah kita yang tidak peduli? Atau memang rakyat kita yang selalu ingin menggunakan jalan pintas? Mungkin kita harus men- gakui, semua itu tidak benar. Dan Pemerintah Aceh me- mang harus segera bertindak menggagas program yang berbasis kerakyatan se- bagai program alternative develop- mentuntukmenangkalangga- panmiringtersebut. Minimnya industri di Aceh sama artinya minim lapangan kerja yang berakibat pada tidak tertampungnya tenaga kerja produktif. Berbagai up- ayatelahdilakukanuntukmen- gatasihalini.Tapipadaumum- nya tidak berbasis kerakyatan sehingga tidak memberikan hasil yang signifikan. Lagi-lagi, mereka yang butuh ‘makan’ mengambil jalan pintas. Tapi benarkah ada petani ganja? Lalu mengapa mereka memilih menanam Ganja? Ganja (Cannabis sativa) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena zat narkotika, Tetrahidrokanabinol (THC, tet- ra-hydro-cannabinol) yang di- kandungnya dapat membuat pemakainya mengalami eufo- ria (rasa senang yang berke- panjangan tanpa sebab). Tan- aman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana. Tanamansemusiminiting- ginyadapatmencapaiduame- ter. Berdaun menjari dan han- ya tumbuh di pegunungan tro- pis dengan ketinggian di atas 1.000meterdiataspermukaan laut. Tanaman ini ditemukan hampir di setiap negara tropis. Bahkan beberapa negara ber- iklim dingin pun sudah mulai membudidayakannya dalam rumah kaca. Di Indonesia, ganja dibudi- dayakan secara ilegal di Pro- vinsi Aceh. Biasanya ganja di- tanam pada awal musim pen- ghujan,menjelangkemarausu- dah bisa dipanen hasilnya. Hasilpanenganjaberupadaun beriut ranting dan bunga serta buahnya berupa biji-biji kecil. Campuran daun, ranting, bun- ga, dan buah yang telah diker- ingkan inilah yang biasa dilint- ing menjadi rokok mariyuana. Kalau bunga betinanya dieks- trak,akandihasilkandamarpe- katyangdisebuthasyis. (http:// id.wikipedia.org/wiki/Ganja) Jauhsebelumganjamasuk dalam kategori narkotika, bagi masyarakat Aceh, tanaman ini merupakan bagian dari bum- bu dapur. Khususnya bagi masakan daging. Selain men- jadi penyedap rasa—yang di- gunakan umumnya bijinya— ganja juga menjadi bahan un- tuk melunakkan daging yang dimasak. Kuah beulangong, nama hidangan yang menjadi masakan wajib pada setiap acara kenduri di Aceh, umumnya meng- gunakan bumbu yang ditam- bah biji ganja. LaluMajelisUlamaIndone- sia(MUI/MPU)Acehmengelu- arkanfatwayangmengharam- kanganja,tahun1982.Sejakitu, ganja bukan lagi bagian bum- bu dapur. Haram, yang berarti tidak diizinkan dalam agama, menjadi alasan mengapa mereka meninggalkannya, di samping masuk dalam kate- gori narkotika dan terlarang dalam hukum negara. Pilihan petani (jika boleh disebut demikian) untuk menanam ganja, sebenarnya tidak terlalu benar. Ganja um- umnya tumbuh dengan sendi- rinyadiAceh,tanpaharusdibu- didayakan. Meskipun ada se- bagian yang membudidaya- kan tanaman ini. Sehingga sangat jarang pemilik ladang ganja yang berhasil diaman- kan aparat keamanan dalam setiap operasi pemusnahan. Bukankarenakebocoraninfor- masi,tapimemangkarenaum- umnya ladang ganja ini tanpa pemilik. Logikanya begini. Dalam setiap operasi pemusnahan ladang ganja, aparat selalu melakukan pemusnahan den- gan cara mencabut dan mem- bakartanamanharamtersebut di lokasi. Hanya beberapa ba- tang yang dibawa ke markas sebagai barang bukti. Nah, saat dicabut, butiran biji ganja inirontokdanmenyebardilua- san areal ladang. Lalu tunggu empat sampai lima bulan ke depan, di areal yang sama akan ditemukan lagi tanaman ganja, siap panen. Warga yang berdekatan dengan lokasi ini, yang kemu- dian disebut petani ganja, ha- pal betul dengan siklus terse- but. Tak harus merawat, yang nekad, kemudian mencoba memanen ‘anugerah alam’ Aceh.Kalauselamat,untungdi depanmata.Kalaulagisial,ter- tangkapsaatmemanen,yabui tempatnya. Lalu apa solusinya? Ada beberapa cara yang dapatditempuhuntukmengikis narkoba (ganja) dari bumi Ac- eh. Yang penting ada komit- mensemuapihakdiAceh,dari Pemerintah Daerah, Kepolisi- an,hinggaSKPAyangadaser- ta warga masyarakat Aceh sendiri. Pertama, mengembang- kan program alternative devel- opment. Mengganti tanaman ganja dengan tanaman pro- duktifdanberusiamuda,seperti kedelai, jagung, singkong, ca- bai, dan tanaman pro- duktif lainnya, seperti bu- ah naga dan rosella. Ha- rapannya, para petani dan petani ganja kaget- an ini beralih dari tana- man haram tersebut ke tanamanyanglebihpro- duktifdanaman. Namun pemerintah harus proaktif. Tidak sekedar mem- beri imbauan, apalagi anca- man. Sosialisasi, penyuluhan hingga penyediaan bantuan bibit, pupuk dan modal kerja serta dana untuk pengadaan pagar mutlak harus dilakukan. Yang terpenting, Pemerintah AcehmelaluiSKPAyangditun- juk terus-menerus melakukan pemantauan. Tidak sekedar melepaskanmerekatanpame mberitanggungjawabapapun. Pemerintah Aceh juga harus menyediakanlembagaatauun it usaha yang siap menampu ng hasil panen mereka. Seh- ingga tidak terjadi permainan harga, apalagi sampai hasil panenmembusuk,karenahar- ga jual yang anjlok Kedua, dengan menem- patkanwargatransmigrasiasal luar Aceh di lahan eks ladang ganja. Pemahaman akan ben- tuk tanaman canabis sativa (ganja)yangmasihminimbah- kancenderungnoliniakanda- pat membantu mengikis habis tanaman haram tersebut dari bumi Aceh. Para transmigran yangumumnyapetanimurniini tentu tidak akan membiarkan adanyatanamanliaryangtum- buh di sela-sela tanaman per- tanian mereka. Dengan semakin seringn- ya tanaman baru ganja ini di- cabut, maka akan semakin cepat tanaman yang menyebabkan aparat keamanan repot dan generasi muda kita hancur, hilang dari Bumi Iskandar Muda ini. Bagaimana Pemerintah Aceh?Solusimanayangakan diambil?Bisasatudiantaranya, bisa juga kedua-duanya. Han- ya kemauan kita semua yang menentukan apakah ini akan berhasil atau tidak. Semoga harapan kita un- tuk mengikis narkoba dari Aceh bisa tercapai.* MengikisMengikisMengikisMengikisMengikis NARKOBA NARKOBA NARKOBA NARKOBA NARKOBAdari Aceh. dari Aceh. dari Aceh. dari Aceh. dari Aceh.MUNGKINKAH? MUNGKINKAH? MUNGKINKAH? MUNGKINKAH? MUNGKINKAH?Oleh M Arief RahmanOleh M Arief RahmanOleh M Arief RahmanOleh M Arief RahmanOleh M Arief Rahman Wartawan di Banda AcehWartawan di Banda AcehWartawan di Banda AcehWartawan di Banda AcehWartawan di Banda Aceh Sekretaris SIWO PWI AcehSekretaris SIWO PWI AcehSekretaris SIWO PWI AcehSekretaris SIWO PWI AcehSekretaris SIWO PWI Aceh NARKOBANARKOBANARKOBANARKOBANARKOBA bukanbukanbukanbukanbukan lagi barang anehlagi barang anehlagi barang anehlagi barang anehlagi barang aneh di ‘Nanggroedi ‘Nanggroedi ‘Nanggroedi ‘Nanggroedi ‘Nanggroe Syariat’ Aceh.Syariat’ Aceh.Syariat’ Aceh.Syariat’ Aceh.Syariat’ Aceh. Setiap tahunSetiap tahunSetiap tahunSetiap tahunSetiap tahun terjaditerjaditerjaditerjaditerjadi peningkatanpeningkatanpeningkatanpeningkatanpeningkatan kasus, tersangkakasus, tersangkakasus, tersangkakasus, tersangkakasus, tersangka dan barang bukti.dan barang bukti.dan barang bukti.dan barang bukti.dan barang bukti. Sepanjang tahunSepanjang tahunSepanjang tahunSepanjang tahunSepanjang tahun 2012, tercatat 9992012, tercatat 9992012, tercatat 9992012, tercatat 9992012, tercatat 999 kasus narkobakasus narkobakasus narkobakasus narkobakasus narkoba dengan 1.131dengan 1.131dengan 1.131dengan 1.131dengan 1.131 tersangka sertatersangka sertatersangka sertatersangka sertatersangka serta miliaran rupiahmiliaran rupiahmiliaran rupiahmiliaran rupiahmiliaran rupiah barang bukti.barang bukti.barang bukti.barang bukti.barang bukti. araaraaraaraara
  6. 6. Arkeolog Otodidat Penyelamat Sejarah Aceh TTTTTokohokohokohokohokoh 66666 No.4 Tahun I / Juni 2013 H Harun Keuchik Leumik I RUMAHI RUMAHI RUMAHI RUMAHI RUMAH itu–dari segi ar- sitektur moderen tidak ter- kesan mewah–kini tersim- pan aneka bentuk dan rag- am jenis benda budaya peninggalan masa lalu, mulai dari senjata-senjata khastradisionalAcehyangterbuatdariber- bagai jenis logam mulia, bahan pecah belah, sampai kain songket yang terbuat dari aneka bentuk sulaman benang emas dan sutra halus yang sudah berusia ratu- san tahun. Serta banyak aneka benda bu- daya lainnya yang kini mungkin sudah ter- golong barang langka ditemukan. Rumahyangsekaliguskinitelahdifung- sikan sebagai Museum pribadi itu adalah milik H. Harun Keuchik Leumiek. Bagi se- bagian masyarakat, nama H. Harun Keuchik Leumiek boleh dibilang tidak as- ing lagi, karena lelaki berkulit kuning lang- sat dan selalu berpenampilan rapi ini ad- alah termasuk seorang tokoh masyarakat yang dikenal luas, bukan saja di Aceh, tapi juga di luar Aceh, bahkan luar negeri. Harun Keuchik Leumiek termasuk se- orang kolektor yang paling tekun dalam mencari dan memburu benda-benda bu- daya peninggalan sejarah Aceh. Sejauh ini, mungkin belum ada koleksi benda- benda budaya peninggalan sejarah Aceh yang lebih lengkap kita temukan di Aceh selain dari koleksi yang dimiliki H. Harun Keuchik Leumiek. Bahkan, koleksi benda- benda budaya warisan sejarah Aceh yang dimilikinya dapat dikatakan lebih lengkap. Sejaktahun1960-anlelakiyangmewa- risi bakat dan usaha orang tuanya, H. Keu- chik Leumiek, Harun sudah terjun dalam dunia bisnis souvenir dengan membuka sebuah toko mas, yaitu “Toko Mas & Sou- venir H. Harun Keuchik Leumiek” di Jalan Tgk. Chik Pante Kulu d/h Jalan Perdagan- gan No. 68, Pasar Aceh, kota Banda Aceh. Harun mengaku, pada awalnya cukup ba- nyak benda-benda budaya bernilai sejarah Aceh yang dijual masyarakat kepadanya, tapi barang-barang bernilai sejarah dan budaya itu setelah dibeli, kemudian dijual kembali kepada siapa yang berminat dan tertarik dengan harga yang lebih tinggi. Namun, sepuluh tahun kemudian—se- kitar tahun 1970-an—H. Harun Keuchik Le- umiek mengaku seperti mendapatkan se- macam ilham untuk menyimpan benda- benda budaya bernilai sejarah itu, sebagai warisan indatu (nenek moyang) masyara- katAcehyangharusdirawatdandiselamat- kan. Jadi, mulai saat itu, ia tidak lagi men- jual benda-benda budaya yang dibeli dan didapatkannya dari masyarakat kepada orang lain, meski tak jarang para kon- sumen yang ingin membeli kembali ba- rang-barang benilai budaya itu dengan ta- waran harga yang cukup menggiurkan. Namun barang-barang tersebut tetap tidak lagi dilepaskan Harun kepada orang lain. DDDDD TIDAK banyak yang mengetahui, kalau diTIDAK banyak yang mengetahui, kalau diTIDAK banyak yang mengetahui, kalau diTIDAK banyak yang mengetahui, kalau diTIDAK banyak yang mengetahui, kalau di dalam sebuah rumah yang terletak didalam sebuah rumah yang terletak didalam sebuah rumah yang terletak didalam sebuah rumah yang terletak didalam sebuah rumah yang terletak di Jalan Teuku Imeum Lueng Bata No.1Jalan Teuku Imeum Lueng Bata No.1Jalan Teuku Imeum Lueng Bata No.1Jalan Teuku Imeum Lueng Bata No.1Jalan Teuku Imeum Lueng Bata No.1 Desa Lamseupeung, Simpang Surabaya,Desa Lamseupeung, Simpang Surabaya,Desa Lamseupeung, Simpang Surabaya,Desa Lamseupeung, Simpang Surabaya,Desa Lamseupeung, Simpang Surabaya, Banda Aceh, tersimpan berbagai jenisBanda Aceh, tersimpan berbagai jenisBanda Aceh, tersimpan berbagai jenisBanda Aceh, tersimpan berbagai jenisBanda Aceh, tersimpan berbagai jenis benda purbakala yang merupakanbenda purbakala yang merupakanbenda purbakala yang merupakanbenda purbakala yang merupakanbenda purbakala yang merupakan warisan budaya masa lalu. Benda-bendawarisan budaya masa lalu. Benda-bendawarisan budaya masa lalu. Benda-bendawarisan budaya masa lalu. Benda-bendawarisan budaya masa lalu. Benda-benda budaya yang sebagian besar merupakanbudaya yang sebagian besar merupakanbudaya yang sebagian besar merupakanbudaya yang sebagian besar merupakanbudaya yang sebagian besar merupakan warisan peninggalan budaya masyarakatwarisan peninggalan budaya masyarakatwarisan peninggalan budaya masyarakatwarisan peninggalan budaya masyarakatwarisan peninggalan budaya masyarakat Aceh masa silam itu, kini tersimpan rapiAceh masa silam itu, kini tersimpan rapiAceh masa silam itu, kini tersimpan rapiAceh masa silam itu, kini tersimpan rapiAceh masa silam itu, kini tersimpan rapi dan terpelihara dengan baik di dalamdan terpelihara dengan baik di dalamdan terpelihara dengan baik di dalamdan terpelihara dengan baik di dalamdan terpelihara dengan baik di dalam rumah ini.rumah ini.rumah ini.rumah ini.rumah ini. Dan sejak itu, Harun Keuchik Leumiek ter- us merasa termotifasi untuk lebih tekun memburu dan mengumpulkan benda-ben da budaya yang dalam bahasa sehari-hari lebih dikenal dengan sebutan “barang antik” untuk dikoleksikan. Secara keseluruhan, tampak bahwa koleksibenda-bendawarisanbudayayang dimiliki H. Harun Keuchik Leumiek, me- mang sangat beragam jenisnya. Ia tidak memfokuskan koleksinya pada satu ben- da budaya tertentu saja, karena dalam pandangan dan penilaiannya, setiap ben- da budaya pasti memiliki pertalian dan “benang merah” dengan sejarah masa lalu, dan itu harus diselamatkan. “Yang namanya benda-benda warisan budaya sejarah Aceh, kita berusaha men- goleksi dan memeliharanya dengan baik, “ kata Harun Keuchik Leumiek. Harun telah mulai mengoleksikan ben- da-benda budaya Aceh bernilai sejarah ini sudah sejak akhir tahun 1960-an atau men jelang tahun 1970. Sejak itu ia sudah mu- lai menekuni profesinya sebagai kolektor benda-benda budaya peninggalan sejarah Aceh–di samping sebagai se- orang jurnalis. Benda-benda pening galan sejarah yang telah dikumpul- kannya saat itu, belum sempat teru- rusdenganbaik.Apalagi,sejakberu- mah tangga, selama lebih kurang 10tahuniatinggalbersamamer tuadirumahisterinyaSal biah, di Kampung Ateuk Munjeng, Banda Aceh. Harun Keuchik Leu- miek mengaku baru be- nar-benar dapat mena- ta “barang-barang antik” hasil koleksinya secara teratur dan sempurna mulai tahun 1976, sete- lah ia mampu memban- gun rumahnya sendiri di Desa Lamseupeung, Simpang Surabaya, Banda Aceh. Sampai sekarang rumah tersebut selain menjadi tempat tinggalnya bersama keluarga, sekaligus dijadikannya sebagai Museum atau gallery benda-benda budaya pening- galan sejarah Aceh milik pribadinya. “Rumah ini saya bangun tahun 1975, selesainya tahun 1976. Jadi kalau di hi- tung-hitung, meski saya sudah mengum- pulkan benda-benda bersejarah ini mulai sejak akhir tahun 1960-an, namun yang benar-benar baru dapat saya koleksikan secara lengkap dan teratur adalah mulai tahun 1976. Karena sejak itu saya sudah memiliki rumah sendiri. Maka semua pen- gaturan benda-benda koleksi saya di dalam rumah ini dapat saya atur menurut jenisnya masing-masing, sesuai dengan bentuk ruangan yang saya desain khusus untuk menata-letakkan benda-benda kole- ksi itu hingga kelihatan lebih teratur, rapi dan indah,” tutur Harun Keuchik Leumiek. Memang benda-benda budaya ber- nilai sejarah yang dikoleksikan Harun tidak dalam satu jenis. Meskipun di awal-awal memulai koleksinya hanya dalam bentuk perhiasan saja, namun kemudian Harun Keuchik Leumiek berfikir bahwa benda- benda bersejarah lainnya—seperti ren- cong,siwah(sejenisrencongyanggagang- nya tidak melengkung yang pemakaian- nya khusus bagi kaum bangsawan di Aceh), pedang, lembing dan tumbak (sen- jata memburu binatang)—yang banyak ter- dapat di Aceh, juga perlu diselamatkan. Semua senjata tradisional Aceh itu se- lain memiliki nilai sejarah, juga termasuk benda-benda budaya yang memiliki nilai seni tinggi hasil buatan orang Aceh tempo doeloe. Bahkan, menurut Harun, senjata tajam orang Aceh dulu, terutama senjata jenis rencong dan siwah selain difungsi- kan sebagai senjata sekaligus juga dijadi- kan perhiasan. Karenanya, banyak ren- cong Aceh dulu ada yang terbuat dari emas, suasa atau perak, dan gagangnya terukir dengan indah yang dibuat dari cawardi (sejenis batu yang dicampur porselin) kemudian di- masukkan ke dalam pahatan- pahatan emas hingga menim- bulkan kilauan yang sangat ind ah. Karena semua itu benda pe ninggalansejarahAceh,makaHa run menganggapnya se ba gai benda sejarah yang sangat penting untuk di koleksi dan diselamat- kannya. Itu sebabnya, koleksi Harun tidak hanya terfokus pada satu jenis benda tertentu saja, seba gaimana yang dilakukan para kolektor lain, yang ha nya mengoleksikan se- jenis “barang antik” ter- tentu yang disenanginya saja. Tidak demikian dengan Harun, kole- ksinya sangat beragam bahkan mungkin boleh dikatakan hingga kini belum ada seorang kolektor pun di Aceh yang memi- liki benda-benda budaya peninggalan se- jarah Aceh selengkap yang dimiliki dan dikoleksi H. Harun Keuchik Leumiek. Keahlian arkeologi yang dimiliki Harun Keuchik Leumiek termasuk dalam arke- ologi yang tugasnya menyangkut penyela- matan, pemeliharaan dan perlindungan benda-benda purbakala untuk kepentin- gan masyarakat masa kini dan yang akan datang. Jadi, kalau Harun mengkhusus- kan diri sebagai seorang kolektor (penye- lamat) benda-benda purbakala mengenai sejarah dan peradaban Aceh, berarti posi- si Harun Keuchik Leumiek dalam ilmu arkeologi ini adalah sebagai arkeolog yang mengemban tugas menyelamatkan ben- da-benda purbakala peradaban Aceh. Yang menarik dari sosok Harun dalam hal ini adalah adanya perpaduan keahlian arkeologi dalam dirinya. Di satu sisi sedi- kitnya Harun menguasai disiplin arkeologi secarateoritisdariprosesbelajarnyasendiri (otodidak), sedangkan di sisi lain karena pengalamannya yang luar biasa sebagai kolektor benda-benda sejarah, maka den- gan sendirinya dalam diri Harun tumbuh pula keahlian arkeologi secara alami. Per- paduan antara pengalaman dan proses belajar otodidak-nya itulah yang kemudi- an membuat H. Harun Keuchik Leumiek menjadi seorang arkeolog yang alamiah. “Saya mendalami ilmu kepurbakalaan ini memang tidak melalui studi khusus, ha nya dari pengalaman-pengalaman saya sebagai orang yang bergelut dengan ben- da-benda peninggalan sejarah. Maka de ngan sendirinya saya merasa dituntut un- tuk mempelajari ilmu-ilmu yang berhu bu ngan dengan benda-benda kepurbakala an. Seperti ilmu arkeologi, ilmu etnografi (ilmu yang mempelajari benda-benda bu daya peninggalan sejarah, seperti perhia san,peralatansenjatatajamdanhasil-hasil kerajinan lainnya yang tidak melalui pros- es ekskapasi atau suatu penggalian). Se- mua itu saya pelajari melalui teman-teman yang sudah ahli dalam hal itu. Baik dari te man-teman yang ada di Aceh, Medan, dan Jakarta,” tutur Harun Keuchik Leumiek. Di samping itu, untuk mendalami ilmu kepurbakalaan ini Harun Keuchik Leumiek juga belajar sendiri dengan membaca bu ku-buku yang membahas tentang arkeolo- gi, etnografi dan buku-buku lain yang ber- hubungan dengan itu. Di samping terus mengikuti artikel-artikel tentang sejarah dan kepurbakalaan, baik yang ditulis di ko ran-koran, majalah, maupun di jurnal-jur- nal terbitan dalam dan luar negeri. Begitu- lah cara Harun belajar sebagai seorang kolektor benda-benda sejarah dalam mendalami ilmu kepurbakalaannya. Kitaberharap,kedepanbanyaklagian- ak bangsa yang peduli dengan benda-ben da bersejarah, sehingga anak-anak Aceh mendatang, tau akan sejarah mereka. Dan tentunya, tidak menjadikan sejarah itu menjadi sebuah legenda kelak. Putri Prok- lamator Bangsa ini, Meutia Hatta dalam sebuah kesempatan berkunjung ke Mu- seum H Harun pernah berkata, peran indi- vidu dalam pelestarian dan menyimpan benda bersejarah tersebut harus menda- pat apresiasi dari pemerintah. "Kita bangga dan patut memberikan apresiasiterhadapparakolektorsepertiHa run Keuchik Leumik yang menyimpan ben da-benda bersejarah milik kerajaan Aceh tempo dulu," jelasnya. “Sebagian koleksi Harun Keuchik Leumik merupakan aset bangsa dan menjadi kebanggaan nasion- al yang harus diberi perhatian untuk mem- berikan pengetahuan sejarah bagi gene- rasi mendatang. (Iranda Novandi)(Iranda Novandi)(Iranda Novandi)(Iranda Novandi)(Iranda Novandi) Harun Keuchik Leumiek sedang memperlihatkan koleksi benda peninggalan kerajaan Aceh tempoe doeloe. (seuramo informasi/iranda novandi)(seuramo informasi/iranda novandi)(seuramo informasi/iranda novandi)(seuramo informasi/iranda novandi)(seuramo informasi/iranda novandi) Arkeolog Otodidak Penyelamat Sejarah Aceh
  7. 7. SSSSSosokosokosokosokosok 77777No.4Tahun I / Juni 2013 REKOMENDASI:REKOMENDASI:REKOMENDASI:REKOMENDASI:REKOMENDASI: Wakil Ketua Bid Organisasi HT Anwar Ibrahim dengan disaksikan Ketua PWI Aceh Tarmilin Usman dan Ketua SIWO PWI Imran Joni menyerahkan surat rekomendasi bagi Pengeliling Indonesia dengan sepeda Aminin Hamid, saat singgah di PWI Aceh, Kamis, 23 Mei 2013. (Seuramoe Informasi/iranda novandi)(Seuramoe Informasi/iranda novandi)(Seuramoe Informasi/iranda novandi)(Seuramoe Informasi/iranda novandi)(Seuramoe Informasi/iranda novandi) IKAIKAIKAIKAIKA melihat usianya, rasanya sudah tidak pantas lagi baginya untuk melakukan se- suatu yang terlalu memberatkan. Kare- na di usia senja ini seharusnya ia sudah beristirahat, kumpul bersa- ma keluarga dan anak cucu. Namun hal itu ditepis oleh Aminin Ahmad, lelaki senja beru- sia 56 tahun ini, lebih memilih mengelilingi Indonesia dari pada menghabiskan hari tua hanya duduk-duduk manis di rumah. Tekad berkeliling nusantara ini baru saja muncul, bukan keingin lama yang terpendam. Sejak ia menuntaskan berke- liling Aceh tahun 2009, tekad itu muncul untuk menaklukan nusan tara dengan menggunakan sepe- daontel.Tekaddansemangatya- ng mengebu-gebu itu memaksa- nya untuk meninggalkan Muha- mmad Dahlan, putra semata wa- yangnyayangkalaitubarumena- matkan pendidikan di jenjang Se- kolah Menengah Pertama (SMP) Dengan berbekal sepeda on- tel, Aminin, lelaki kelahiran Aceh Timur 1 Juli 1960 ini, mewujud- kan tekadnya berkeliling Indone- sia. Tepatnya pada 17 Juli 2010, ia bergerak dari kampung hala- mannya di Seulamak Baro, Gam- pong Lubuk Pempeng, Kecama- tan Peurelak, Aceh Timur menu- ju Banda Aceh dengan menggu- nakan bus umum sambil mem- bawa sepeda ontel yang telah dirancangnya secara khusus. Dari Banda Aceh, dengan me nggunakan kapal ferry, Aminin menyeberang ke Sabang deng- an target Kilometer Nol. Dari kilo- meter pertama di paling ujung ba rat Indonesia inilah, Aminin me- mulai petualangannya sejak 20 Juli 2010. Dengan semangat baja menaklukan nusantara, satu per- satu desa, kecamatan, kabupat- en dan provinsi dijamahinya. Tan- Aminin Ahmad,Aminin Ahmad,Aminin Ahmad,Aminin Ahmad,Aminin Ahmad, Pengeliling IndonesiaPengeliling IndonesiaPengeliling IndonesiaPengeliling IndonesiaPengeliling Indonesia Pembawa MisiPembawa MisiPembawa MisiPembawa MisiPembawa Misi ‘‘‘‘‘Duta Perdamaian’Duta Perdamaian’Duta Perdamaian’Duta Perdamaian’Duta Perdamaian’ J Catatan: Iranda NovandiCatatan: Iranda NovandiCatatan: Iranda NovandiCatatan: Iranda NovandiCatatan: Iranda Novandi○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ tangan pertama itu muncul di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Tepatnya di depan Terminal Pi- nang Baris, kamera saku yang dimilikinya di jambret. Pengalaman buruk ini juga dialaminya saat berada di Stasi- unJatiNegera,Jakarta.Diibukota ini, Aminin dirampok, uang, HP, KTP dan SIMnya raib. Namun, ironisnya, saat ini dilaporkan kepetugas keamanan Stasiun, malah dalam laporannya, men- erangkan bahwa barang milikn- ya tersebut tercecer. “Saya sempat membantah, dan tidak terima dibuat laporan bahwa barang saya kececer, na- mun petugas tersebut, bapak ngaku saja kececer, dari pada panjang urusannya,” ujar Aminin mengisahkan pengalamannya. Akhirnya, hingga sampai laporan ke polisipun, disebutkan barang saya tercecer, bukan dirampok. Yang lebih menyedihkan lagi, Aminin pernah diacuhkan sama Wakil Guberbur Aceh Muham- mad Nazar saat itu. Di mana, Aminin mengisahkan, dalam se- buah acara di Taman Mini, saya bertemu dengan Wagub Muha- mmad Nazar dan mengatakan, ia putra Aceh ingin berkeliling In- donesia dengan misi perdama- ian. Namun apa lacur, Nazar me- napik tangan saya dan mengata- kan, “kalau mau uang, pulang ke Aceh disini ngak ada uang”. “Saya sontak terkejut dan ra- wat wajah saya seakan-akan tak ada darah lagi, sangkin malunya, karena hal itu terjadi didepan ban- yakorang,”ujarAmininsambilme nambahkan, bahwa kedatanga- nnya ke Taman Mini bukan untuk minta uang, hanya saja kebetu- lan ada “ibunya” orang Aceh ma- kanya saya datang. Seharusnya sebagai “ibu”, bi- sa menyemangati anaknya. Bu- kan mengacuhkan begitu. Dalam pandangan Aminin, seorang wa- gub itu ibu dan seorang gu- bernur itu bap- ak. Sebagai bapak dan ibu nya orang Ac- eh saat itu, se- harusnya bisa menyemanga ti anaknya ya ng ingin berbu atterbaikuntuk Aceh, meski hanya dengan cara bersepe- da mengelilin- gi nusantara. Lagi pula, me nurut Aminin, ia berkeliling In donesia mem bawa misi per- damaian. Layaknya “Duta Perda maianAceh”di setiap kabupa ten/kota yang ia singgahi, se lalu menyam- paikan pesan damai. Mencerita- kan bagaimana saat ini bahwa A ceh sudah damai, aman dan ten- tram. Tidak ada lagi permusuhan. Masyarakat Aceh sudah bisa hi dup rukun. Dari misi ini, Aminin ju ga mengajak semua orang ya ng dijumpainya, untuk terus menja- ga perdamaian, karena konflik itu tidak enak dan menyengsarakan. Lebih lanjut, kisah Aminin, me lihat ia sangat terpukul, ada seor- ang lelaki separuh baya menjum- painya dan menyerahkan uang sebesar Rp200 ribu. “Maaf Pak, ini yang dapat saya berikan, ini da ri saya Bupati Pidie Jaya, bukan dari Wagub,” ujar Aminin meniru- kan ucapan lelaki paruh baya itu. Setelah semuanya berlalu, Aminin pun menanyakan dengan orang disekitarnya tentang lelaki paruh baya itu dan orang-orang tersebut menyampaikan bahwa ia adalah Gade Salam, Bupati Pi die Jaya (Pijay), sebuah kabupat- en pecahan dari Kabupaten In- duk Pidie. Disamping kisah yang menyedihkan, banyak juga kisah yang mengharukan dialamini Ami nin. Diantaranya, bagaimana an ak-anak di perdalaman Metro Lam pung, mengantar kepergian nya hingga 20 km dengan meng- gunakan sepeda ontel dibawah guyuran hujan. Lalu ada juga kisah menarik dialaminya di Sumbawa Besar. Saat itu, saat ia tiba di Sumbawa Besar, Aminin dihadang oleh sekelompok anak muda pelajar SMKPelayaran.Anakmudayang juga menggunakan sepeda ini berputar mengelilinginya. Dalam hati Aminin, ini sudah celaka, na- sib apes kembali menimpanya. Rasa takut dan kawatir itu se- makin menjadi-jadi, karena se- lang beberapa menit kemudian, sekelompok pelajar SMK Pela- yaran yang lain, juga mendatang- inya dan melakukan hal yang sama. Setelah sekian lama men- gelilinginya, seorang anak muda itu meloncat ke tengah dan sea- kan ingin merampas bendera Merah Putih yang terpancang di belakang sepedanya. “Saya tidak tau harus berbuat apa mengahadapi anak-anak muda itu, saya hanya bisa pas- rah,”ujarAminin.Namunapayang terjadi, ternyata bendera yang hendak “dirampas” tadi, ternyata dibentangkan. Dan sekelompok anak muda yang berkeliling itu seketika berhenti dan serempak menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. “Saya haru dan menangis melihatnya, sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya,” kisah Ami- nin sambil menambahkan, sele- pas itu ia kembali menceritakan betapa pentingnya menjaga per- damaian, karena perdamaian itu teramat mahal harganya. Akhirnya, Amininpun dilepas kepergiannya dengan dikawal “pasukan sepeda” anak-anak SMK Pelayaran, Sumbawa Be- sar menujun perbatasan. Dan iapun melanjutkan perjalanannya dengan misi damai yang terus terpatri di dalam hatinya. Kisah mengharukan lainnya, juga dialami saat ia diberi izin untuk memasuki wilayah Timor Leste, Negara tetangga yang du- lunya bagian dari Indonesia. Ia masuk ke Timor Leste melalui Desa Muta’in Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Petugas perbatasan memberi- kannyaPasporLintasBatas(PLB) untuk bisa masuk Timor Leste selama 36 Jam. Dari36jamyangdiberikanitu, ia hanya mampu bertahan sela- ma 3 jam saja. Karena, baru seki- tar 20 km masuk wilayah bekas Provinsi Timor Timur itu, setiap penduduk yang dijumpainya se- muanya menyampaikan ingin kembali menjadi warga Negara Indonesia (WNI) dan ingin juga wilayahnya masuk bagi dari wilayah Indonesia. “Melihat kondisi ini, saya pu- tuskan untuk kembali ke Muta’in, Belu. Karena kawatir bisa ber- dampak buruk, bagi masyarakat di Timor Leste tersebut dan saya sendiri. Lagi pula, misi yang saya bawa misi perdamaian,” ujar Ami nin memberi alasannya menga- pa hanya 3 jam di wilayah terse- but, kepada petugas keamanan yang menjaga diwilayah perba tasannya yang telah memberin- ya PLB. Aminin mengaku terke- san dengan keramahan para pe tugas, TNI yang berjaga diperba tasan tersebut. Dulu, ia sempat bercita-cita jadi Tentara Nasional Indonesia pada tahun 1979. De mi masuk tentara, ia ‘terpaksa’ memudanya usianya tiga tahun. Dimana, selayaknya ia lahir 1 Juli 1957, namun karena mau ma- suk tentara dibuat 1 Juli 1960. Ak hirnya, semua dokumen pribad- inya kini kelahiran 1960. Namun, upaya tersebut gagal suami Almarhumah Fatimah binti Ibrahim ini tidak diterima menja- di TNI. Namun, cita-citanya agar ada anaknya menjadi abdi nega- ra tetap besar. Kini tumpuannya ke putra semata wayangnya Mu- hammad Dahlan, yang diha rap- kan bisa menjadi anggota Polri. “Saat saya mau menghadap Kapolri, petugas meminta saya melengkapi surat-surat dari daer- ah, makanya saya kembali ke Ac eh lagi,” ujar Aminin yang sudah menjelajah 24 provinsi di Indone- sia. Aminin, ingin memohon kepa da Kapolri agar anaknya yang ba ru tamat SMA ini bisa diterima menjadi anggota Polri. Tekadnya usai melengkapi surat-surat ini, ia akan melanjutkan perjalanan ke 10provinsiyangtersisadiwilayah Timur Indonesia dan Pupua. Hing ga satu saat, jika misi keliling nu- santara ini tuntas dengan memb awa misi damai, ia akan membu kukan kisah perjalanannya. Semoga sukses Pak Aminin, Aceh sangat butuh banyak orang seperti bapak guna menyampai- kan misi perdamaian ini. Semoga niat tulus ini, bisa merajut perda maian hakiki di Nusantara yang banyak “terkoyak” di berbagai pro vinsi di Indonesia. andinovaandinovaandinovaandinovaandinova Pengeliling Indonesia dengan sepeda Aminin Hamid bersamapenulis.
  8. 8. WWWWWarisanarisanarisanarisanarisan 88888 No.4 Tahun I / Juni 2013 Gubernur Minta Kabupaten/Kota Segera Bentuk PPID IIIIInfoUPTDnfoUPTDnfoUPTDnfoUPTDnfoUPTD gito/dedygito/dedygito/dedygito/dedygito/dedy Aceh Expo Sedot Ratusan Ribu Pengunjung Drs. Said Ra Kadishubkomin SEJAKSEJAKSEJAKSEJAKSEJAK berlakunya UU No.14 tahun 2008 tentang Keterbu- kaan Informasi Publik (UU KIP), maka seluruh jajaran pemerin- tah wajib membentuk Pejabat Pengelola Informasi dan Dok- umentasi (PPID), namun untuk Aceh hingga saat ini baru 10 kabupaten/kota saja yang su- dah membentuknya. Banyak kabupaten/kota belum atau tidak membentuk PPID ini dikarenakan ketidakta huan, akan tindaklanjut dari pembentukan PPID sendiri. Sehingga, kabupaten/kota ter- sebut belum juga membentuk- nya hingga saat ini. Hal tersebut terungkap da- lam Rapat Koordinasi perce- patan dan pembentukan PPID kabuapten/kota se Aceh, Se- lasa 21 Mei 2013. Mengingat masih banyaknya daerah ya- ng belum memiliki PPID, maka dalam rapat tersebut Pemprov Aceh melalui Dinas Perhubun- gan, komunikasi, informasi dan telematika (Dishubkomintel) Aceh mengundang para sek- dakab/sekdako dan Kadis- hubkomintel kabupaten/kota. Kadishubkomintel Aceh melalui kepala UPTD Seura- moe, Sanasi mengatakan, 10 daerah yang telah memiliki PPID tersebut yakni Kota Ban- da Aceh, Lhokseumawe, Sub- ulussalam, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Singkil, Aceh Teng- gara, Bener Meriah, Siemelue, Pidie Jaya dan Aceh Timur. Sementara itu, Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah mem- inta seluruh daerah kabupaten/ kota yang belum memiliki PPID untuk segera membentuknya. Karena, PPID ini berperan da- lam memberikan informasi pub lik yang benar kepada masya rakat menyakut berbagai infor- masi pemerintahan di daerah. “Jajaran pemerintahan wa- jib membentuk PPID,” tegas gu bernur dalam amanat tertulis yang dibacakan Sekdaprov Aceh T Setia Budi saat membu- ka kegiatan tersebut di hotel berbintang di Banda Aceh. Dikatakan, di jajaran peme rintahan Aceh, PPID utama ber ada di bawah Dishubkomintel Aceh, tetapi semua SKPA dan Pemerintah kabupaten/kota la- innya perlu ada PPID yang si- fatnya mendukung. Sebab, PP- ID akan menjadi pintu gerbang bagi masyarakat yang mem- butuhkan informasi. Disamping itu,ingatgubernur,kemampuan PPID memahami UU KIP mutl ak dibutuhkan PPID harus me ngerti makna informasi yang si fatnya wajib, informasi yang si- fatnya berkala, sertamerta atau informasi yang dirahasiakan. ACEHACEHACEHACEHACEH Expo yang dilaksan- akanPemerintahAcehpada 5-9Junilalu,mampumenye- dot ratusan ribu pengunjung dari berbagai daerah di Aceh termasuk luar Aceh. Kegiatan ini menjadi semar- ak, karena banyak peserta terutama para pedangan melakukanpenjualandiare- na Aceh Expo di Lapangan Blang Padang Banda Aceh. Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah saat membuka ke- giatan tersebut mengatakan masyarakat Aceh punya po- tensi besar untuk mencipta- kan produk-produk berge- ngsihanyasajaperluseman- gatkerja,promosidanduku- nganyangkuatuntukmenu- mbuhkansebuahprodukun- tuk didistribusikan ke pasar. “MelaluiAcehExpoiniki- ta akan mempromosikan be rbagai kerajinan dan prod- uk-produkhomeindustrykar- GUBERNURGUBERNURGUBERNURGUBERNURGUBERNUR Aceh Zaini Ab- dullahmelantik20pejabatbaru EselonIIAdanBdilingkupPe- merintah Aceh. Acara pelanti- kan dilaksanakan di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur Aceh,Jumat sore,7Juni2013. Salah satu pejabat eselon II tersebut yang dilantik yakni Drs. Said Rasul yang diperca- ya sebagai Kepala Dinas Per- hubungan, Komunikasi, Infor- masi dan Telematika Aceh, menggantikan posisi Prof. Dr. Ir.Husaini,MTyang dikembali- kan ke Unsyiah. Pejabat tersebut dilantik berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Aceh nomor PEG. 821.22/006/2013tentangpeng angkatan dan pemberhentian pejabat struktural Eselon II di Aceh. “Ada yang datang, ada yang pergi itu hal yang biasa dalampemerintahan,kegiatan kepegawaian seperti ini akan terusberlanjutdiwaktumenda- tang,seiringdenganterjadinya kekosongan jabatan tertentu, maupun oleh karena adanya kebijakanlaindariPemerintah Aceh,”ujarGubernurAcehsaat melantikparapejabattersebut. Pelantikan dan bongkar pa sangpejabatini,merupakanya ng kelima dari enam kali yang sudahdilakukanpemerintahan AcehdibawahGubernurdrZai- ni Abdullah dan Wakil Guber- nur Aceh Muzakir Manaf. Se- muainidilakukangunamenca- Baru 10 Daerah TerbentukBaru 10 Daerah TerbentukBaru 10 Daerah TerbentukBaru 10 Daerah TerbentukBaru 10 Daerah Terbentuk Pemahaman terhadap isi UU KIP sangat penting, sebab akan ada konsekuensi hukum yang akan dihadapi, manaka- la PPID tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Sanksi hukum tersebut bisa berupa sanksi pidana, bisa pula sank- si dalam bentuk denda. Karenanya, gubernur mem- inta PPID wajib mempersiap- kan diri, sehingga bisa menja wab era keterbukaan informa- si sebagaimana yang tertuang dalam UU KIP tersebut. Sebab, bagaimanapun, lahirnya UU KIP merupakan langkah maju dalam sistem demokrasi di In- donesia. Menurut gubernur, UU KIP menunjukan ada inisia tif para pemimpin bangsa unt uk membuat badan publik leb- ih transparan dan bertanggub- jawab dalam menjalankan tug as-tugasnya. Badan publik ini bukan hanya jajaran pemerin- tahan atau lembaga yang men ggunakan APBD atau APBN, tapi seluruh lembaga berbad an hukum termasuk LSM, part ai politik, yayasan dan seba g ainya. “Bagi lembaga yang ti dak mematuhi aturan yang ter- tuang dalam UU KIP ini, beresi- ko terhadap gugatan ajudika- si lewat komisi informasi.” Satu contoh kasus, lanjut gu bernur, beberapa hari lalu lew at pemberitaan media disebut- kan, Pengadilan Negeri (PN) Bangil, Jawa Timur harus meng akui kekalahannya dalam si dang ajudikasi menghadapi gu gatan rakyat yang mengingin- kan transparansi dari lembaga itu. “Bayangkan saja, lembaga pengadilan saja bisa kalah, ap alagi lembaga pemerintahan yang banyak berhubungan de ngan masyarakat,” ingat gu benur. yamasyarakatAceh,”katanya. Selain memamerkan hasil karya rumahan, masih banyak lagi kreativitas masyarakat Ac- eh yang akan ditampilkan da- lam beberapa hari mendatang seperti pagelaran seni buda- ya dan penampilan Atraksi bu- daya provinsi Aceh. Di sisi lain, menurut guber- nurkejayaansektornon-migas dalammemberikontribusibagi sumberpendapatanAcehmu- lai memperlihatkan titik cerah, terbukti per tahunnya produksi non-migas di Aceh terus men- ingkat hingga 8%. Sektor yang terusberkembangtersebutse- pertipertanian,perkebunan,pe rikanan dan berbagai industri kerajinan masyarakat lainnya. SebelumnyaAcehmenga- ndalkan migas sebagai pro- duk unggulan daerah karena memiliki pertambangan miny- ak dan gas yang sangat besar Penghasilan migas Aceh kala itumampumemberikankontri- busi hingga 60% bagi sumber pendapatan daerah. Namun dalam empat tahun terakhir produksi migas terus menurun hingga 22% pertahun, penge- luarannya terhadap produk domestik regional bruto Aceh hanya tinggal 11%. “Dengan kondisi tersebut jelas sekali kalau kita tidak lagi bisa mengandalkan migas se- bagai produk unggulan daer- ah,kitaharusbangkitmengan- dalkan sektor non-migas,” ujar GubernurZainiAbdullah. Dalam pidatonya tersebut gubernur menyebutkan masa depan ekonomi dan kesejah- teraan rakyat Aceh bisa lebih stabil apabila seluruh pihak mendukung dan membangkit- kansektornon-migastersebut. Selain itu, apabila kreatifitas masyarakat Aceh bisa dit- ingkatkan,makasektornon-mi- gaspunyapotensibesaruntuk menjadi modal bagi ke- bangkitan ekonomi Aceh. Di luar itu, sejumlah usa- ha rakyat di berbagai kabu- paten dan kota di Aceh kini sudah mampu menembus pasar dunia. Seperti rumah produksiyangberhasilmen- golah minyak nilam Aceh menjadi parfum berkualitas dunia, dan sebuah home in- dustri tas bordir dan tikar khasAcehyangtelahmeng- eksporproduknyakeAmeri- ka dan Eropa. Fakta di lapangan me- nunjukkanpotensibesarya- ng dimiliki masyarakat Aceh dalam menghasilkan pro- duk-produk bergengsi yang dapat bersaing di pasar glo- bal.“Hanyasajaperlusema- ngat kerja, promosi dan du- kungan yang lebih kuat un- tuk menumbuhkan sebuah produktersebutditingkatpa- sar,”tutupZaini. gitogitogitogitogito Menggantikan Prof. HusainiMenggantikan Prof. HusainiMenggantikan Prof. HusainiMenggantikan Prof. HusainiMenggantikan Prof. Husaini ri formasi ya ng pas untuk bisa bekerja keras dalam membangun Aceh dalam li ma tahun ke depan perio de2012-2017. Sebelum- nya, pada 5 Februari2013 GubernurAc- eh melantik 422 pejabat Eselon II,III dan IV di jaja- ran pemerin- tahAceh.Lalu,pada18Febru- ari gubernur melakukan muta- si pejabat dan pengambilan sumpah pejabat baru guna memperbaiki kesalahan data dalam pelantikan pejabat pada tanggal 5 Februari 2013. Kemudian pada 21 Mei 2013Gubernurjugamelantik51 pejabat eselon di kalangan pemerintah Aceh, 5 Juni 2013 asisten III melantik 35 Pejabat eselonIIIdanIV.Terakhir11Juni 2013 Gubernur Aceh yang di- wakiliAsistenIIISetdaprovMu- zakkar A Gani kembali melan- tik dan mengambil sumpah ja- batan35pejabateselonIIIdan IV di Aula Badan Kepegawa- ian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP)Aceh.Parapejabatter- sebutditempatkandiDinasPe- ngairan, Dinas Pertanian Tan- Pengambilan Sumpah PePengambilan Sumpah PePengambilan Sumpah PePengambilan Sumpah PePengambilan Sumpah Pe Rapat Koordinasi Pembentukan PPID.Rapat Koordinasi Pembentukan PPID.Rapat Koordinasi Pembentukan PPID.Rapat Koordinasi Pembentukan PPID.Rapat Koordinasi Pembentukan PPID. Seuramoe informasi/amirSeuramoe informasi/amirSeuramoe informasi/amirSeuramoe informasi/amirSeuramoe informasi/amir
  9. 9. 99999No.4Tahun I / Juni 2013 SSSSSosialitaosialitaosialitaosialitaosialita asul ntelAceh andinovaandinovaandinovaandinovaandinova SEBANYAKSEBANYAKSEBANYAKSEBANYAKSEBANYAK 522 orang putra- putri Aceh dididik menjadi bint- ara atau brigadir Polri tahun 20 13. Mereka ini merupakan ha- sil seleksi dari penerimaan Bri gadir Polri yang dilakukan me lalui Polda Aceh. Para calon brigadir Polri ya ngditerimamelaluiseleksiPol- da Aceh sebanyak 471 menja lani pendidikan Polisi Dalmas diSPNSeulawah,SareeKabu- patenAcehBesar.Sedangkan, 51lagimenjalanipendidikanBri mob di Watukaosek. Selain 522 ini, Polda Aceh juga mendidik 20 polisi wanita (Polwan) di Jakarta. 20 calon Polwan ini, merupakan hasil seleksi akhir di Ma bes Polri. SebelumnyaPoldaAcehmen- girim 24 calon Polwan. “Mereka dididik selama 7 bulanpenuhdannantinyaakan dititipkan di Pasantren selama SEBANYAK 98SEBANYAK 98SEBANYAK 98SEBANYAK 98SEBANYAK 98 pucuk sen- jata api (senpi) ilegal dari ma- syarakatdimusnahkanolehKo mandodaerahMiliter(Kodam) IskandarMuda(IM).Pemusna- han senjata tersebut dilauku- kan dengan cara memotong- motong menggunakan mesin pemotong besi. “Senjata api ini hasil dari Pembinaan Teritorial (Binter) Kodam IM,” ujar Pangdam IM Mayjen TNI Zahari Siregar melalui Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) IM Kolo- nelArhSubagioIrianto. Dikatakan, pemusnahan senpi ilegal tersebut langsung dipimpin Pangdam IM yang di- gelardiLapangantembakMa- ta’ie Kabupaten Aceh Besar, Minggu 26 Mei 2013. Dengan cara pemotongan senpi ilegal ini dipastikan senjata tersebut tidak akan bisa dipakai lagi. Pelaksanaan Binter di jaja- ran Kodam IM di seluruh Aceh dilakukan sejak Oktober 2012 hingga Mei 2013. Pemusnah- ansenpiinidisaksikanDanrem 011/LW Kolonel Inf Hipdizah dan Danrem 012/TU Kolonel Inf Daddy Estoe Widodo. Pangdam IM Mayjen TNI ZahariSiregarmenyampaikan pemusnahan senjata yang di- gelar Kodam Iskandar Muda dapat mewujudkan situasi ke- amanan yang kondusif dan di- harapkan dapat memotivasi seluruh komponen masyara- kat untuk turut serta dalam up- aya menjaga perdamaian se- hingga kesejahteraan masya- rakat akan meningkat. “Kita berharap, dengan di- lakukan pemusnahan senpi il- egal ini, situasi keamanan di Acehmakinkondusif,”ujarPang dam sebagaimana disampai- kan Kapendam. Jenderal bintang dua TNI itujugamengharapkan,masya rakat Aceh dapat membantu KodamIMuntukmemberantas beredarnyasenjatailegalyang dapat menganggu situasi dan kondisi di Provinsi paling ujung barat Pulau Sumatera Indone- sia ini. Menyangkut pemusna- amanPangansertaBadanKe- tahananPangandanPenyulu- han. Mereka terdiri dari 9 peja- bateselonIIIdan26pejabates- elonIV. dedydedydedydedydedy N oN oN oN oN o NamaNamaNamaNamaNama JabatanJabatanJabatanJabatanJabatan PEJABAT ESELON II YANG DILANTIK 7 JUNI 2013PEJABAT ESELON II YANG DILANTIK 7 JUNI 2013PEJABAT ESELON II YANG DILANTIK 7 JUNI 2013PEJABAT ESELON II YANG DILANTIK 7 JUNI 2013PEJABAT ESELON II YANG DILANTIK 7 JUNI 2013 Ridwan Hasan, SH, MM Staf Ahli Gubernur Aceh Bidang Hu- kum dan Politik 1 Bukhari, A.Ks, MM Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga. 2 Ir. Zulkifli, MM Dinas Tenaga Kerja dan Mobili- tas Penduduk Aceh. 3 dr. M. Yani, M. Kes StafAhliGubernurAcehBidangKeistime- waandanSumberDayaManusia. 4 dr. Taqwallah Kepala Dinas Kesehatan Aceh dan Ketua P2K APBA. 5 Ir. Rizal Aswandi, Dipl. SE StafAhliGubernurAcehBidangPemban- gunandanHubunganLuarNegeri. 6 Drs. Bustami Usman, SH, M.Si Kepala Badan Pembinaan Pen- didikan Dayah Aceh. 7 Nasir Zalba, SE KepalaBadanKesatuanBangsa,Politikdan PerlindunganMasyarakatAceh. 8 Drs. Samidan Angkasa Wijaya Staf Ahli Gubernur Aceh Bidang Ekonomi dan Keuangan 9 Syahrul Badaruddin, SE, MSi Inspektur Aceh.10 A. Hamid Zein, SH, M.Hum Sekretaris Dewan Perwakilan RakyatAceh. 11 Drs. Said Rasul KepalaDinasPerhubungan,Komunikasi,In- formasidanTelematikaAceh 12 Drs. Muhammad, MM Kepala Dinas Pendapatan dan Kekayaan Aceh. 13 Drs. Zulkifli Ahmad, MM Staf Ahli Gubernur Aceh Bidang Pemerintahan. 14 KamaruddinAndalah,S.Sos,M.Si Kepala Biro Tata Pemerintahan SetdaAceh. 15 Drs. Paradis, M.Si Kepala Sekretariat Majelis Adat Aceh. 16 Bustami Hamzah, SE, M.Si Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh. 17 Drs. Muhammad Raudhi, MSi Kepala Biro Perekonomian Set- da Aceh. 18 Rusdi Husin, SE Kepala Sekretariat DPP KOR- PRI Aceh 19 Ir. Rusmiady Kepala Sekretariat Majelis Pen- didikan Daerah Aceh. 20 hanamunusiilegal,Kapendam menjelaskan, itu akan dilaku- kandalamwaktulain,sebabun tukmemusnahkanamunisihar us dipersiapan secara matang dengancaratersendiri.Sebab, pemusnahanamunisiinimemi- liki resiko yang lebih tinggi. “Amunisiilegaljugakitamu snahkan, namun waktu yang berbeda dengan persiapan yanglebihmatang,”tegasKap- endam.MenurutKapendamIM KolonelArhSubagioIrianto,pe musnahan senpi ilegal secara massal ini, merupakan yang ketiga dilakukan di Aceh, se- belumnya, Kodam IM, bersa- ma Polda Aceh dan Muspida Aceh IM memusnahkan 973 senpiilegaldiLapanganBlang- padang, Banda Aceh, 17 okto- ber2012lalu. Sama dengan senpi yang 98pucukini,ratusansenpiyang dimusnahkan tahun lalu itu, umumnya merupakan sisa konflik Aceh itu, 831 pucuk di antaranya dikembalikan war- ga melalui jajaran Polda Aceh dan sisanya dikembalikan melalui jajaran Kodam IM. Bersamaandenganpemu- snahan senpi ilegal tahun lalu itu,jugadimemusnahkan5.319 kilogram ganja dan 25.300 ba- tang ganja dengan cara mem- bakarnya. Barang bukti itu merupakan hasil operasi narkoba pada September- Oktober 2012, sebagian hasil operasi TNI. Sementara itu, sebagaim- ana diketahui, pemusnahan senpi secara massal pertama sekali dilakukan di Aceh pada tahun 2005 pasca MoU damai antarapemerintahRIdanGAM. Hanya saja, saat itu, senpi yang dimusnahkan merupa- kan serahan mantan kom ba- tanGAMkepadaAMMseban- yak 1.018 pucuk senjata api. Dari senjata serahan GAM ke AMM yang memenuhi syarat sebanyak 640 pucuk. Jumlah senpi ini sesuai dengan keha rusan yang diserahkan GAM kepadaAMMuntukdimusnah- kan. Kodam IM Musnahkan SENPI ILLEGAL SENPISENPISENPISENPISENPI ILEGALILEGALILEGALILEGALILEGAL: Pangdam IM Mayjen TNI Zahari Siregar melihat amunisi ilegalhasilserahanmasyarakathasilBinter,Minggu(26/5).Amunisiilegaliniakan dimusnahkan secara khusus. Seuramoe informasi/Pendam IMSeuramoe informasi/Pendam IMSeuramoe informasi/Pendam IMSeuramoe informasi/Pendam IMSeuramoe informasi/Pendam IM 522 Putra/Putri Aceh DIDIDIK JADI BINTARAPOLRI 3 bulan guna mendalami aga- ma,”ujarKapoldaAcehIrjenPol HermanEffendisaatpelantikan menjadi Siswa SPN pada 3 Juni2013lalu. Saat pelantikan siswa lalu, Kapolda Aceh membacakan amanatKapolriJenderalTimur Pradopo yang mengintruksi- kan semua Polda untuk meng antisifasi segala kemungkinan yang bisa mengganggu pelak- sanaan tahapan Pemilu 2014 dan menciptakan gangguan keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat. Kapolri mengungkapkan, pendidikanBrigadirPolrimeru- pakantuntutan.KarenanyaPolri harus lebih mempersiapkan SDM dan organisasi yang pro- fesional. Disamping itu, Polri memerlukan penambahan personilbaruhinggamencapai 20 ribu orang di tahun 2013. Dengan rincian 17 ribu orang untukpangkatbrigadirdantiga ribu orang pangkat tamtama. Penerimaan brigadir Polri tersebut,diantaranyaditujukan untukpenguatanposturorgan- isasi terutama dalam mengh- adapi pelaksanaan pemilu tahun2014.Sehinggapenam- bahan jumlah tersebut akan memperkuat lini terdepat pel- ayanan kepolisian. Kapolri me nekankan pentingnya persia- panmentaldanfisikselamame nempuh pendidikan tersebut, penanaman komitmen, tekad, semangat dan motivasi yang tinggi supaya bisa menjadi polisi yang patut dibanggakan. “Pelajariteoridikelas,prak- tek di lapangan maupun prog ram pelatihan lain harus dilaku kan dengan baik,” tegas Kapol ri sambil menambahkan, seti ap siswa harus menanamkan komitmen, tekad menjadi poli- si yang dapat dibanggakan. Mengikuti proses pendidi- kan latihan yang diberikan ha rus dengan penuh ketulusan dankeiklasan.Semuasiswaju ga harus selalu menjalin rasa kebersamaan, kekompakkan dan keakraban dengan sesa- ma peserta didik, instruktur maupunpelatih,sertamanfaat- kan waktu yang singkat ini se optimal mungkin untuk meng embangkan pengetahuan dan ketrampilan. “Teruslah belajar, berlatihdanmenempadiriagar menjadi Polri profesional,” kat- anya. SIRAMAN: Kapolda Aceh Irjen Pol Herman Effendi melakukan siraman kepada para siswa SPN saat pelantikan pendidikan. Seuramoe informasi/andinovaSeuramoe informasi/andinovaSeuramoe informasi/andinovaSeuramoe informasi/andinovaSeuramoe informasi/andinova andinovaandinovaandinovaandinovaandinova ejabat Eselon II.ejabat Eselon II.ejabat Eselon II.ejabat Eselon II.ejabat Eselon II. Seuramoe informasi/amirSeuramoe informasi/amirSeuramoe informasi/amirSeuramoe informasi/amirSeuramoe informasi/amir
  10. 10. WWWWWarisan Budayaarisan Budayaarisan Budayaarisan Budayaarisan Budaya 1010101010 Buah-buahan Khas yang Tinggal Kenangan S No.4 Tahun I / Juni 2013 gito/dedygito/dedygito/dedygito/dedygito/dedy EIRINGEIRINGEIRINGEIRINGEIRING dengan per kembangan zaman banyak hal yang su- dah terkikis bahkan tertinggal sebagai khasanah budaya bangsa bahkan daer- ah,inidikarenakantelahterjadi peralihan dari berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat, sehingga pola pikir masyara- kat telah berubah ke arah mo- dernisasi, salah satu contoh adalahketidaktahuananakter- hadap sesuatu yang seharus- nya di ketahui dan dirasakan, dikenal serta dilestarikan se- bagai warisan budaya endatu yang mengandung arti. Untukinidibutuhpemikiran orang-orangyangterkaitdeng- an hal tersebut baik secara la- ngsung maupun tidak langsu- ng, baik secara teknis maupun teori,baikmasyarakatataupun pemerintahsetempat,yangme rupakan panutan bagi regena- siyangakandatangdalamber tanggungjawab terhadap keas rian budaya sebagai warisan. Budidaya tanaman (tana- manyangmenghasilkanbuah) merupakansalahsatucaraun- tuk mempertahankan kekhas- an tanaman di daerah, agar ti- dak hilang dan tetap dapat di perkenalkan pada anak seba- gai pewaris budaya, melalui pembudidayaan perkebunan terhadap tanaman secara me- nyeluruh dan secara kontinyu, maka diharapkan tidak terjad- inya kelangkaan bahkan kepunahanyangtergusurden- gan perkembangan zaman. Dewasa ini banyak tana- man buah-buah yang menjadi primadona masyarakat Aceh nyaris sudah tidak terlihat lagi, miriskedengarannyajikakelak haliniterjaditerus-menerustan- pa ada perhatian dari masya- rakat Aceh dan pemerintah daerah. Akan tetapi Jika hal ini ditanggapi dengan penuh ke- seriusan dan tanggung jawab, maka tanaman yang dulu per- nah menjadi prioritas utama dalam pandangan masyara- kat Aceh mungkin akan kem- bali menjadi tanaman andalan yang bisa dikenal oleh anak cucu kita di masa mendatang. Namun ironisnya sedikit masyarakat Aceh yang mau memahami tentang hal terse- but, sehingga tanpa kita sadari bukan tidak mungkin satu saat nanti akan punah semuanya. Kelangkaan yang terjadi di bu- mi Seuramoe Aceh salah satu buktibahwatingkatkepedulian kita terhadap kelestarian bu- daya mulai terkikis, dan men- jadi sebuah kenangan dalam sejarah masyarakat Aceh. Da- lamhalinidiharapkanagarPe- merintah daerah dapat beker- jasamadenganmasyarakatun tuk membudidayakan tanam- anyangmulaipunahuntukda- pat kembali menjadi tanaman primadona bagi masyarakat Acehsepertidulu.Karenabuah yangterdapatdiAcehtidakka- lah menarik, enak dan nikmat- nya jika disejajarkan dengan buah luar negri yang sekarang inilebihdikenalolehanakcucu kita(anggur,apel,pier,dll). Berikut sebagian nama- nama tanaman yang sifatnya berbuahdanmenjadiandalan- namun telah Langka terdapat di Aceh yang pernah menjadi tuan rumah penghasil buah tersebut. 1. Boh Urout Blang:1. Boh Urout Blang:1. Boh Urout Blang:1. Boh Urout Blang:1. Boh Urout Blang: Bentukbuahnyakecil-kecildan berwarnamerah,biasanyaber- fungsiuntukmengobatipenya- kit bisul, rasnya manis jambu 2. Boh Keulayu:2. Boh Keulayu:2. Boh Keulayu:2. Boh Keulayu:2. Boh Keulayu: Bentuk buahnya kecil-kecil berwarna merah,jikasudahmatangwar- nanyamerahkehitam-hitaman rasanya manis-manis kelat 3. Boh Karieng:3. Boh Karieng:3. Boh Karieng:3. Boh Karieng:3. Boh Karieng: Bentuk buahnya bulat kecil-kecil ber- warna hitam rasanya asam buah 4. Boh Duri Susuk:4. Boh Duri Susuk:4. Boh Duri Susuk:4. Boh Duri Susuk:4. Boh Duri Susuk: Ben- tukbuahnyakecil-kecilberwar- nahitam 5. Boh Rem:5. Boh Rem:5. Boh Rem:5. Boh Rem:5. Boh Rem: Bentuk buah- nya kecil-kecil seperti anggur warnanya kuning kehijauan rasanya asam buah 6. Boh Teumeuru:6. Boh Teumeuru:6. Boh Teumeuru:6. Boh Teumeuru:6. Boh Teumeuru: Ben- tuk buahnya lonjong kecil ber- warna hijau jika sudah matang berwarnahitamdandalamnya berserat-serat rasanya asam 7. Boh Kupu:7. Boh Kupu:7. Boh Kupu:7. Boh Kupu:7. Boh Kupu: Bentuknya bulat lonjong rasanya asam buah 8. Boh Ceukok:8. Boh Ceukok:8. Boh Ceukok:8. Boh Ceukok:8. Boh Ceukok: Bentukn- ya bulat kecil warnanya hijau rasanya manis dan cara me- makannya terlebih dahulu dip- utar-putar dikedua belah tela- pak tangan hingga berwarna kemerahan 9. Boh Kupula Jangge:9. Boh Kupula Jangge:9. Boh Kupula Jangge:9. Boh Kupula Jangge:9. Boh Kupula Jangge: Bentuknyabulatlonjongberbiji warna kemerahan rasanya manis 10. Boh Kruet Mameh:10. Boh Kruet Mameh:10. Boh Kruet Mameh:10. Boh Kruet Mameh:10. Boh Kruet Mameh: Bentuknya bulat berkerut sep- erti boh kruet biasa, biasanya tumbuh di Daerah Krueng Raya 11. Boh Maken:11. Boh Maken:11. Boh Maken:11. Boh Maken:11. Boh Maken: Bentukn- ya bulat berkulit tipis warnanya hijau rasanya asam, digu- nakan untuk masakan berb- agai jenis ikan 12. Boh Reng:12. Boh Reng:12. Boh Reng:12. Boh Reng:12. Boh Reng: Bentukn- ya berkerut kecil-kecil warna hijau rasanya asam, di- gunakan untuk masakan ikan paya atau hiu dan bisa juga di- gunakan sebagai jeruk sam- bal khas aceh 13. Boh Meunteu:13. Boh Meunteu:13. Boh Meunteu:13. Boh Meunteu:13. Boh Meunteu: Ben- tuknya bulat besar warnanya hijau atau kuning, rasanya asam, dapat digunakan untuk masakan kuah 14. Boh Geulima Broek:14. Boh Geulima Broek:14. Boh Geulima Broek:14. Boh Geulima Broek:14. Boh Geulima Broek: Bentuknya bulat isinya berbiji (warnamerahdelima)sedang- kanwarnakulitkuning. 15. Boh Nipah:15. Boh Nipah:15. Boh Nipah:15. Boh Nipah:15. Boh Nipah: Bentukn- ya lonjong warna kulit luar coklat kehitam-hitaman dan keras, sedangkan isi dalamn- yaberwarnaputihmiripkelapa muda dan rasanya manis 16. Boh Keuranji:16. Boh Keuranji:16. Boh Keuranji:16. Boh Keuranji:16. Boh Keuranji: Ben- tuknya bulat kecil berangkai kulit warnanya hitam isi dalamnya ke- coklat-coklatan dan berbiji rasan- ya asam buah 17. Boh Keutapang:17. Boh Keutapang:17. Boh Keutapang:17. Boh Keutapang:17. Boh Keutapang: Ben- tuknya oval warna kulit luar coklat dan keras isi dalamnya putih ber- lapis-lapis rasanya gurih 18. Boh cirih:18. Boh cirih:18. Boh cirih:18. Boh cirih:18. Boh cirih: Bentuknya bu- lat sedang, warnanya hijau, isi da lamnya putih dan gurih rasanya 19. Boh janeng:19. Boh janeng:19. Boh janeng:19. Boh janeng:19. Boh janeng: Bentukn- ya besar, warnanya kekuning-ku ningan, rasanya gurih, cara mak annyaharusorangyangahlimem buatnya, karena jika salah dalam pemrosesan maka dapat gatal. 20. Boh gadong:20. Boh gadong:20. Boh gadong:20. Boh gadong:20. Boh gadong: Warnan- ya coklat, ungu tua dan ada yang berwarna putih, rasanya lemak, bentuknya mengikuti keadaan media tanamnya. 21. Boh koeh:21. Boh koeh:21. Boh koeh:21. Boh koeh:21. Boh koeh: Bentuknya bulat berwarna putih, isinya putih kecoklatan dan berbiji kecil, se- bagai pengharum aroma rujak.* Dr. Rahmawati ZainunDr. Rahmawati ZainunDr. Rahmawati ZainunDr. Rahmawati ZainunDr. Rahmawati Zainun SETELAHSETELAHSETELAHSETELAHSETELAH hampir setahun, akhirnya Pemerintah meng- ganti 48 uni sepeda motor mahasiswa Aceh Tengah yang dibakar saat terjadi kerusuhan pada event POP DA XII di Banda Aceh, 27 Juni tahun lalu. Pembayaran ganti rugi ini difasilitasi langsung oleh Gubernur Aceh, dr Zaini Ab- dullah. Pembayaran ganti rugi ini juga disaksikan lang- sung oleh dua bupatindi kedua daerah tersebut, Bu- pati Aceh Tengah Ir. H. Na- saruddin, MM dan Bupati Aceh Selatan, HT. Sama In- dra, SH, di Hall Olahraga Stadion Harapan Bangsa, BandaAceh,3Juni2013lalu. Perdamaian ini juga di tandai dengan peusijuek perwakilan pihak yang berseli sih antara mahasiswa Aceh Te ngah dengan mahasiswa Aceh Selatan serta penandatanga- nan berita acara perdamaian yang dilakukan kedua bupati. “Peusijuek sebagai wujud rasa syukur terhadap harmon- isasi hubungan para pihak yang berselisih paham. Tidak ada yang menghendaki konf- lik yang telah terjadi, namun hal tersebut dapat dapat semakin mempererat hu bungan ukhu- wah diantara kita,” ungkap Gu- bernur Zaini Abdullah. Gubernur juga meminta ke dua belah pihak untuk meng ambil hikmah dan berfikir agar lebih merajut kebersamaan di- masa depan. Sebab, untuk membangun Aceh ini harus di- lakukan secara bersama deng an semua lapisan masyarakat yang ada di Aceh. Pembayaran gantirugi ini di lakukan berdasarkan surat Gu bernur Aceh nomor 426.3/ 36757, 22 November 2012, tak- siran biaya bantuan ganti rugi kendaraan roda dua yang ter- bakar sebesar Rp418 juta ru- piah, dengan proporsi 50 % di- tanggung Pemprov Aceh, 25 % Pemkab Aceh Selatan dan 25 % Pemkab Aceh Tengah. Besaran jumlah bantuan per orang pun beragam, mulai dari Rp4 juta hingga Rp18 juta, tergantung dari jenis dan tingkat kerusakan masing-masing kendaraan roda dua yang dibakar saat terjadi keributan pada 27 Juni tahun lalu itu. Bupati Aceh Tengah, Nasa ruddin menilai kerusakan sepe- da motor yang dialami tidaklah seberapa dibanding dengan kebersamaan dan hubungan baik yang harus dijalin lebih e rat oleh kedua belah pihak, ter- utama dikalangan mahasiswa. “Orangtuakitadulutelahme miliki ikatan silaturrahmi, men- jadi tugas kita saat ini untuk memperkuat ikatan tersebut,” ujar Nasaruddin. Berkenaan dengan proses penyaluran da na, Nasaruddin mengatakan a gar para korban yang menda pat bantuan untuk tidak meng hiraukan bila ada pihak yang meminta kontribusi tertentu se- bagai imbal jasa pengurusan dana bantuan. Nasaruddin meyakinkan penyaluran dana sesuai den- gan itikad baik untuk mem- bantu kerugian yang dideri- ta para korban dan tidak adanya kutipan liar merupa- kan komitmen Pemprov Aceh, Pemkab Aceh Ten- gah dan Aceh Selatan. Sementara itu, Bupati Aceh Selatan, HT Sama In- dra, mengatakan hubungan baik diantara kedua daerah sebenarnya telah dijalin ol eh para pendahulu, bahkan Sama Indra menuturkan pa da tahun 70-an banyak war- ga Aceh selatan yang mem- buka kebun kopi di wilayah tengah Aceh tersebut. “Banyak orang Aceh Sel atan yang telah menjadi war ga dan bekerja di wilayah Aceh Tengah, ada petani, guru, bahkan pengusaha,” ujar Sama Indra. Lebih jauh, Sama Indra menawarkan kerjasama di- bidang pertanian dengan tukar-menukar bibit unggul yang dimiliki kedua Daerah. Sebab, di kedua daerah ini memiliki potensi pertanian yang sama-sama bisa diba nggakan untuk Aceh bah- kan nasional. “Kita ketahui kopi Gayo punya kualitas, kalau boleh kami meminta dapat dikirim ke Aceh Selatan, nanti kami kirimkan bibit pala sebagai gantinya,” katanya disambut tepuk tangan hadirin yang menhadiri perdamaian ter sebut. Gubernur Fasilitasi Perdamaian Mahasiswa Aceh Tengah - Aceh Selatan SALAM DAMAI:SALAM DAMAI:SALAM DAMAI:SALAM DAMAI:SALAM DAMAI: Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah bersama Bupati Aceh Selatan HT SamaIndra(kiri)danBupatiAcehTengahNasaruddin(kanan)bersalamdamai,usaipeny- erahangantirugi48unitsepedamotormahasiswaAcehTengahyangdibakarpadaPopda lalu. Seuramoeinformasi/andinovaSeuramoeinformasi/andinovaSeuramoeinformasi/andinovaSeuramoeinformasi/andinovaSeuramoeinformasi/andinova

×