Kata Pengantar       Puji syukur atas kehadirat allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, berkah,karunia, dan hidayah-Nya k...
BAB I                               KONSEP DASARI.   Teori        Pemeriksaan fisik merupakan peninjauan dari ujung rambut...
Pendekatan pengkajian fisik dapat menggunakan :1. Head to toe (kepala ke kaki)       Pendekatan ini dilakukan mulai dari k...
II.      Teknik Pemeriksaan Fisik         1. Inspeksi         Inspeksi    adalah   pemeriksaan     dengan     menggunakan ...
Palpasi adalah pemeriksaan dengan menggunakan indera peraba dengan       meletakkan tangan pada bagian tubuh yang dapat di...
PalpasiJenis              Tujuan                             TeknikPalpasi Ringan     Digunakan untuk ada tidaknya       T...
3. Perkusi       Perkusi adalah pemeriksaan yang meliputi pengetukan permukaan tubuh unutkmenghasilkan bunyi yang akan mem...
Untuk mengetuk bagian tubuh untuk memeriksa nyeri tekan atau suara yang      bervariasi sesuai dengan ketebalan atau isi j...
Perkusi, langkah ketiga pemeriksaan pasien adalah menepuk permukaan tubuh        secara ringan dan tajam, untuk menentukan...
4. Auskultasi            Auskultasi adalah tindakan mendengarkan bunyi yang ditimbulkan oleh    bermacam-macam organ dan j...
Mendengar berbagai suara napas, jantung dan usus menggunakan stetoskop.       Stetoskop yang bagus setidaknya memiliki:   ...
III.        Prinsip Dasar Pemeriksaan Fisik.                       Dalam melakukan pemeriksaan fisik, ada prinsip-prinsip ...
3.     Menyiapkan tempat dan kondisi.       Ruang pemeriksaan yang terpisah atau daerah dengan tirai pembatas harusdisedia...
Prosedur Pemeriksaan   1.      Cuci tangan   2.      Jelaskan prosedur   3.      Lakukan pemeriksaan dengan berdiri di seb...
V.       Pemeriksaan Tanda-tanda Vital         Tanda-tanda vital akan memberikan informasi keadaan pasien apakah dalamkead...
Bising Napas     Suara                 Penyebab     Wheezing              Konstriksi (penyempitan) pada bronkhioli di paru...
Tekanan Darah Normal (dengan spigmomanometer)  Pasien             Sistolik                                   Diastolik  De...
Pemeriksaan Neurologis: AVPUA         Alert           Pasien sadar penuh, membuka mata spontan, dapat                     ...
F.    Pemeriksaan umum      a.         Pemeriksaan kulit dan kuku      Tujuan      a. Mengetahui kondisi kulit dan kuku   ...
c.    Pemeriksaan kepala, wajah, mata, telinga, hidung, mulut & leher      Posisi klien : duduk , untuk pemeriksaan wajah ...
Setelah diadakan pemeriksaan wajah evaluasi hasil yang di dapat denganmembandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasika...
virus centralis dekat yang merupakan ketajaman penglihatan untuk melihatbenda benda dekat misalnya membaca, menulis dan la...
Jika pasien juga tidak bisa membaca hitungan jari maka pasien dimintauntuk melihat adanya gerakan tangan pemeriksa pada ja...
d.   Pemeriksaan telinga          Tujuan          Mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga, dan  ...
5.        Instruksikan klien untuk member tahu apakah ia masih mendengarkan        suara atau tidak.        6.        Cata...
Palpasi dan Perkusi frontalis dan, maksilaris (bengkak, nyeri, dan septumdeviasi)Normal: tidak ada bengkak dan nyeri tekan...
Pada usia 6 bulan gigi berjumlah 2 buah (dirahang bawah), usia 7-8 bulanberjumlah 7 buah(2 dirahang atas dan 4 dirahang ba...
Auskultasi : bising pembuluh darah.     Setelah diadakan pemeriksaan leher evaluasi hasil yang di dapat dengan     memband...
Perkusi: paru, eksrusi diafragma (konsistensi dan bandingkan satu sisi dengansatu sisi lain pada tinggi yang sama dengan p...
Auskultasi: bunyi jantung, arteri karotis. (gunakan bagian diafragma dan belldari stetoskop untuk mendengarkan bunyi jantu...
Persiapana)   Posisi klien: Berbaringb)   Stetoskopc)    Penggaris kecild)   Pensil gambare)   Bntal kecilf)       Pita pe...
l.         Pemeriksaan ekstermitas atas (bahu, siku, tangan)   Tujuan :1. Memperoleh data dasar tetang otot, tulang dan pe...
n.         Pemeriksaan genitalia (alat genital, anus, rectum)   Posisi Klien : Pria berdiri dan wanita litotomy   Tujuan:1...
Normal: tidak ada nyeri, tidak terdapat edema / hemoroid/ polip/ tanda-tandainfeksi dan pendarahan.Setelah diadakan pemeri...
KUMPULAN GAMBAR                  35
36
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

proposal kewirausahaan

2,031 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,031
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
33
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

proposal kewirausahaan

  1. 1. Kata Pengantar Puji syukur atas kehadirat allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, berkah,karunia, dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga izin-Nya penulis dapat menyelesaikanbuku yang berjudul Konsep Dasar dan Teknik Pemfis. Penyusunan dan pembahasan buku ini mengacu pada silabus matakuliah apapun dandapat digunakan pada program studi kesehatan terutama keperawatan.buku ini berisi materi-materi khusus tentang pemeriksaan fisik pada manusia. Penulis berharap buku ini dapatmenambah wacana buku ilmu pengetahuan pada bidang kesehatan, khusunya keperawatan.Selain itu, juga dapat membantu mahasiswa dan praktisi kesehatan agar mendapatpengetahuan yang lebih baik. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepadasemua pihak yang telah banyak membantu, serta dukungan luar biasayang diberikan kepadapenulis sehingga buku ini dapat teerselesaikan. Penulis menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulissangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun dari pembaca dan semuapihak sehingga buku ini kelak menjadi lebih sempurna dan bermanfaat. Jambi , Desember 2012 Radna Vilusa 1
  2. 2. BAB I KONSEP DASARI. Teori Pemeriksaan fisik merupakan peninjauan dari ujung rambut sampai ujung kaki pada setiap system tubuh yang memberikan informasi objektif tentang klien dan memungkinkan perawat untuk mebuat penilaian klinis. Keakuratan pemeriksaan fisik mempengaruhi pemilihan terapi yang diterima klien dan penetuan respon terhadap terapi tersebut.(Potter dan Perry, 2005) Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu, untuk memperoleh data yang sistematif dan komprehensif, memastikan/membuktikan hasil anamnesa, menentukan masalah dan merencanakan tindakan keperawatan yang tepat bagi klien. ( Dewi Sartika, 2010). Pemeriksaan fisik (Head to Toe) adalah pemeriksaan tubuh pasien secara keseluruhan atau hanya beberapa bagian saja yang dianggap perlu oleh dokter yang bersangkutan. Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Hasil pemeriksaan akan dicatat dalam rekam medis. Rekam medis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien. Prinsip umum dari pemeriksaan fisik adalah dilakukan secara komprehensif. Hal-hal yang harus dipertimbangkan yaitu:  Penjagaan kesopanan  Cara mengadakan hubungan dengan pasien  Pencahayaan dan lingkungan yang memadai  Tahap pertumbuhan/perkembangan pasien  Pencatatan data  Pengambilan tindakan yang sesuai dgn masalah klien  Pasien dalam posisi duduk/sesuai jenis pemeriksaan 2
  3. 3. Pendekatan pengkajian fisik dapat menggunakan :1. Head to toe (kepala ke kaki) Pendekatan ini dilakukan mulai dari kepala dan secara berurutan sampai ke kaki. Mulai dari : keadaan umum, tanda-tanda vital, kepala, wajah, mata, telinga, hidung, mulut dan tenggorokan, leher, dada, paru, jantung, abdomen, ginjal, punggung, genetalia, rectum, ektremitas.2. ROS (Review of System / sistem tubuh) Pengkajian yang dilakukan mencakup seluruh sistem tubuh, yaitu : keadaan umum, tanda vital, sistem pernafasan, sistem kardiovaskuler, sistem persyarafan, sistem perkemihan, sistem pencernaan, sistem muskuloskeletal dan integumen, sistem reproduksi. Informasi yang didapat membantu perawat untuk menentukan sistem tubuh mana yang perlu mendapat perhatian khusus.3. Pola fungsi kesehatan Gordon, 1982 Perawat mengumpulkan data secara sistematis dengan mengevaluasi pola fungsi kesehatan dan memfokuskan pengkajian fisik pada masalah khusus meliputi : persepsi kesehatan-penatalaksanaan kesehatan, nutrisi-pola metabolisme, pola eliminasi, pola tidur-istirahat, kognitif-pola perseptual, peran-pola berhubungan, aktifitas-pola latihan, seksualitas-pola reproduksi, koping-pola toleransi stress, nilai-pola keyakinan.4. DOENGOES (1993) Mencakup : aktivitas / istirahat, sirkulasi, integritas ego, eliminasi, makanan dan cairan, hygiene, neurosensori, nyeri / ketidaknyamanan, pernafasan, keamanan, seksualitas, interaksi sosial, penyuluhan / pembelajaran. 3
  4. 4. II. Teknik Pemeriksaan Fisik 1. Inspeksi Inspeksi adalah pemeriksaan dengan menggunakan indera penglihatan, pendengaran dan penciuman. Inspeksi umum dilakukan saat pertama kali bertemu pasien. Suatu gambaran atau kesan umum mengenai keadaan kesehatan yang di bentuk. Pemeriksaan kemudian maju ke suatu inspeksi local yang berfokus pada suatu system tunggal atau bagian dan biasanya mengguankan alat khusus seperto optalomoskop, otoskop, speculum dan lain-lain. (Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997). Inspeksi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa melalui pengamatan (mata atau kaca pembesar). (Dewi Sartika, 2010) Fokus inspeksi pada setiap bagian tubuh meliputi : ukuran tubuh, warna, bentuk, posisi, kesimetrisan, lesi, dan penonjolan/pembengkakan. Setelah inspeksi perlu dibandingkan hasil normal dan abnormal bagian tubuh satu dengan bagian tubuh lainnya. Pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa melalui pengamatan. Cahaya yang adekuat diperlukan agar perawat dapat membedakan warna, bentuk dan kebersihan tubuh klien. Fokus inspeksi pada setiap bagian tubuh meliputi : ukuran tubuh, warna, bentuk, posisi, simetris. Dan perlu dibandingkan hasil normal dan abnormal bagian tubuh satu dengan bagian tubuh lainnya. Contoh : mata kuning (ikterus), terdapat struma di leher, kulit kebiruan (sianosis), dan lain-lain. 2. Palpasi Palpasi adalah suatu teknik yang menggunakan indera peraba. Tangan dan jari-jari adalah instrumen yang sensitif digunakan untuk mengumpulkan data, misalnya tentang : temperatur, turgor, bentuk, kelembaban, vibrasi, ukuran. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan selama palpasi :  Ciptakan lingkungan yang nyaman dan santai.  Tangan perawat harus dalam keadaan hangat dan kering  Kuku jari perawat harus dipotong pendek.  Semua bagian yang nyeri dipalpasi paling akhir. Misalnya : adanya tumor, oedema, krepitasi (patah tulang), dan lain-lain. 4
  5. 5. Palpasi adalah pemeriksaan dengan menggunakan indera peraba dengan meletakkan tangan pada bagian tubuh yang dapat di jangkau tangan. Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997) Palpasi adalah teknik pemeriksaan yang menggunakan indera peraba ; tangan dan jari-jari, untuk mendeterminasi ciri2 jaringan atau organ seperti: temperatur, keelastisan, bentuk, ukuran, kelembaban dan penonjolan.(Dewi Sartika,2010) Hal yang di deteksi adalah suhu, kelembaban, tekstur, gerakan, vibrasi, pertumbuhan atau massa, edema, krepitasi dan sensasi. Merupakan metode untuk „merasakan‟ dengan tangan saat pemeriksaan fisik. Dengan pemeriksaan ini anda dapat menentukan:  Tekstur (kasar/halus)  Suhu (hangat / panas / dingin)  Kelembaban (kering, basah atau lembab)  Gerakan (diam atau tremor otot)  Konsistensi jaringan (padat atau berair) Sensitivitas Bagian TanganBagian tangan yang Hal Yang Dapat DirasakandipakaiJari-jari (ujung jari) Adanya gerakan halus jaringan atau pulsasiPermukaan tangan Getaran yang mungkin terjadi (i.e., thrills, fremitus)Punggung tangan Suhu kulit 5
  6. 6. PalpasiJenis Tujuan TeknikPalpasi Ringan Digunakan untuk ada tidaknya Tekan kulit ½ hingga ¾ abnomalitas permukaan (contoh, inci dengan ujung jari tekstur, suhu, kelembaban, elastisitas, pulsasi, organ-oran superfisial, dll)Palpasi Dalam Digunakan untuk meraba organ Tekan kulit sedalam 1½ dalam dan masa untuk melihat hingga 2 inci dengan ukuran, bentuk, simetris atau tekanan yang mantap. mobiltasnya Mungkin diperlukan juga tangan lainnya untuk membantu penekananPalpasi Digunakan untuk mengkaji organ Gunakan dua tangan, satuBimanual dalam di rongga abdomen. tangan pada sisi masing- masing bagian tubuh atau(gunakan teknik organ yang diperiksaini dengan hati-hati karena Tangan yang di bagianmungkin akan atas digunakan untukmerangsang memberikan tekanannyeri atau ketika tangan yang dimengganggu bawah digunakan untukorgan internal memeriksa jaringan yangtubuh) dalam Gunakan satu tangan untuk menekan secara dalam dinding perut abdominal untuk menggerakkan jaringan dalam arah tangan yang lainnya, dan gunakan tangan tersebut untuk merasakan jaringan yang diperiksa 6
  7. 7. 3. Perkusi Perkusi adalah pemeriksaan yang meliputi pengetukan permukaan tubuh unutkmenghasilkan bunyi yang akan membantu dalam membantu penentuan densitas,lokasi, dan posisi struktur di bawahnya.(Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997) Perkusi adalah pemeriksaan dengan jalan mengetuk bagian permukaan tubuhtertentu untuk membandingkan dengan bagian tubuh lainnya (kiri/kanan) denganmenghasilkan suara, yang bertujuan untuk mengidentifikasi batas/ lokasi dankonsistensi jaringan. Dewi Sartika, 2010). Perkusi adalah pemeriksaan dengan jalanmengetuk bagian permukaan tubuh tertentu untuk membandingkan dengan bagiantubuh lainnya (kiri kanan) dengan tujuan menghasilkan suara. Perkusi bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi, ukuran, bentuk dankonsistensi jaringan. Perawat menggunakan kedua tangannya sebagai alat untukmenghasilkan suara.Adapun suara-suara yang dijumpai pada perkusi adalah :  Sonor : suara perkusi jaringan yang normal.  Redup : suara perkusi jaringan yang lebih padat, misalnya di daerah paru-paru pada pneumonia.  Pekak : suara perkusi jaringan yang padat seperti pada perkusi daerah jantung, perkusi daerah hepar.  Hipersonor/timpani : suara perkusi pada daerah yang lebih berongga kosong, misalnya daerah caverna paru, pada klien asthma kronik. 7
  8. 8. Untuk mengetuk bagian tubuh untuk memeriksa nyeri tekan atau suara yang bervariasi sesuai dengan ketebalan atau isi jaringan di bawahnya. Dua jenis perkusi yang digunakan tergantung pada tujuan pemeriksaan ini. Pemeriksaan ini biasanya digunakan untuk memeriksa setelah area tersebut telah dipalpasi. TEKNIK PERKUSIJENIS PERKUSI TUJUAN TEKNIK PEMERIKSAANPerkusi Secara Untuk memeriksa nyeri Secara langsung lakukanLangsung tekan atau nyeri ketukan ke bagian tubuh yang dicurigai dengan satu atau dua jari secara lembutPerkusi Tidak Digunakan untuk Letakkan jari tengah diLangsung memeriksa suara di dada bagian tubuh yang atau abdomen; timpani, diperiksa resonans, hiperresonan, pekak, suara datar. Kemudian dengan jaringan yang lain ketuk jari yang menempel di tubuh (gunakan tangan yang dominan ini). Tekuk pergelangan tangan. Dengarkan suara yang dihasilakan oleh ketukan jari (dilakukan dengan menggerakan pergelangan tangan secara cepat seperti saat melakukan suntikan IM) SUARA PERKUSIJenis Penyebab Suara ContohTimpani Udara di bawah Seperti Udara di pipi, atau udara jaringan suara di saluran usus gendangResonan Sebagian seperti Hollow Suara normal paru campuran air dan jaringan padatHiperresonan Bagian udara lebih Booming Paru yang mengalami banyak emfisemaDullness Jaringan padat Suara Hati, limpa, jantung pekak 8
  9. 9. Perkusi, langkah ketiga pemeriksaan pasien adalah menepuk permukaan tubuh secara ringan dan tajam, untuk menentukan posisi, ukuran dan densitas struktur atau cairan atau udara di bawahnya. Menepuk permukaan akan menghasilkan gelombang suara yang berjalan sepanjang 5-7 cm (2-3 inci) di bawahnya. Terdapat lima macam perkusi seperti yang tercantum di bawah ini:Suara Nada/pitch Intensitas Durasi Kualitas LokasiDatar Tinggi Lembut Pendek Absolut Normal: sternum, Tidak jelas pahaTidak tajam Medium Medium Moderat (dulliness) Abnormal:(dull) Seperti suara paru-paru pukulan/jatuh, atelektatik; pendek Normal: Moderat/panjang (muffled thud) hati; organ-Resonan/gaung Rendah Keras Panjang organ lain;Hiper-resonan Sangat Sangat Panjang kandungTimpani rendah keras kencing Tinggi Keras Kosong penuh Berdebam Abnormal: efusi Seperti drum pleura, asites Normal: paru-paru Abnormal: Emfisema paru-paru Normal: gelembung udara lambung Abnormal: abdomen distensi udara  Pitch (atau frekuensi) adalah jumlah vibrasi atau siklus per detik (cycles per second/cps).  Vibrasi cepat menghasilkan nada dengan pitch yang tinggi, sedangkan vibrasi lambat  Menghasilkan nada pitch yang rendah.  Amplitudo (atau intensitas) menentukan kerasnya suara. Makin besar amplitude, makin keras suara.  Durasi adalah panjangnya waktu di mana suara masih terdengar.  Kualitas (atau timbre, harmonis, atau overtone) adalah konsep subyektif yang digunakan. 9
  10. 10. 4. Auskultasi Auskultasi adalah tindakan mendengarkan bunyi yang ditimbulkan oleh bermacam-macam organ dan jaringan tubuh.(Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997) Auskultasi Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan suara yang dihasilkan oleh tubuh. Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang didengarkan adalah : bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus.(Dewi Sartika, 2010). Auskultasi adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan suara yang dihasilkan oleh tubuh. Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang didengarkan adalah : bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus. Suara tidak normal yang dapat diauskultasi pada nafas adalah : Rales : suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat saluran-saluran halus pernafasan mengembang pada inspirasi (rales halus, sedang, kasar). Misalnya pada klien pneumonia, TBC. Ronchi : nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat inspirasi maupun saat ekspirasi. Ciri khas ronchi adalah akan hilang bila klien batuk. Misalnya pada edema paru. Wheezing : bunyi yang terdengar “ngiii….k”. bisa dijumpai pada fase inspirasi maupun ekspirasi. Misalnya pada bronchitis akut, asma. Pleura Friction Rub ; bunyi yang terdengar “kering” seperti suara gosokan amplas pada kayu. Misalnya pada klien dengan peradangan pleura. 10
  11. 11. Mendengar berbagai suara napas, jantung dan usus menggunakan stetoskop. Stetoskop yang bagus setidaknya memiliki:  „Ear plug‟ yang pas di telinga  Panjang tidak lebih dari 15 inci dengan diameter internal tidak melebihi 1/8 inci  Memiliki sisi diafragma dan bell Sisi diafragma dan bell digunakan untuk mendeteksi berbagai suara secara secara terpisah. Penggunaan Sisi Diafragma dan Bell Tujuan TeknikDiafragma Untuk mendeteksi suara Tempelkan dan tekan yang tinggi (seperti suara secara mantap di bagian napas, jantung normal tubuh yang diperiksa dan suara usus)Bell Mendengarkan suara Letakkan bagian bell di yang rendah (contoh atas bagian tubuh secara suara abnormal jantung halus dan „bruits‟) Ketika melakukan auskultasi terhadap pasien, evaluasi frekuensi, intensitas, durasi, jumlah dan kualitas suara. 11
  12. 12. III. Prinsip Dasar Pemeriksaan Fisik. Dalam melakukan pemeriksaan fisik, ada prinsip-prinsip yang harus di perhatikan, yaitu sebagai berikut: 1. Kontrol infeksi Meliputi mencuci tangan, memasang sarung tangan steril, memasang masker, dan membantu klien mengenakan baju periksa jika ada. Tindakan Pencegahan Baku untuk pencegahan Infeksi Cuci tangan dengan seksama sebelum memulai pemeriksaan dan setelah pemerikssaan selesai. Jika terdapat luka teriris, abrasi atau lesi lainnya, pakailah sarung tangan untuk melindungi pasien. Pakailah sarung tangan secara rutin jika terdapat kemungkinan kontak dengan cairan tubuh selama: Pemeriksaan oral Pemeriksaan lesi kulit Mengumpulkan sample Ketika kontak dengan permukaan atau peralatan yang terkontaminasi Gantilah sarung tangan ketika berganti kerja atau prosedur. Jika memakai sarung tangan, cucilah tangan segera setelah sarung tangan dilepas dari pasien ke pasien yang lain. Pakai masker dan perlindungan mata/wajah dan baju lab untuk melindungi kulit, membrane mukosa dan pakaian. Ikuti prosedur klinik atau lembaga untuk perawatan rutin Beri label yang jelas semua wadah peralatan agar dapat berhati-hati dan waspada terhadap cairan tubuh. 2. Kontrol lingkungan Yaitu memastikan ruangan dalam keadaan nyaman, hangat, dan cukup penerangan untuk melakukan pemeriksaan fisik baik bagi klien maupun bagi pemeriksa itu sendiri. Misalnya menutup pintu/jendala atau skerem untuk menjaga privacy klien 1. Komunikasi (penjelasan prosedur) 2. Privacy dan kenyamanan klien 3. Sistematis dan konsisten ( head to toe, dr eksternal ke internal, dr normal ke abN) 4. Berada di sisi kanan klien 5. Efisiensi 6. Dokumentasi 12
  13. 13. 3. Menyiapkan tempat dan kondisi. Ruang pemeriksaan yang terpisah atau daerah dengan tirai pembatas harusdisediakan untuk menjamin privacy dan kerahasiaan (confidentiality). Ruangantersebut harus cukup hangat. Pencahayaan yang baik dan lingkungan yang tenangmerupakan hal yang penting, walaupun kadang-kadang hal ini sulit diperoleh. Usahauntuk memperoleh efek pencahayaan yang optimal dari sinar matahari atau sumbercahaya artificial juga penting. Jika lampu berfluoresensi di atas kepala merupakansumber cahaya yang tersedia, maka pencahayaan tangensial atau samping juga harusdigunakan. Sinar fluoresens menghilangkan semua bayangan permukaan, hal yangmemang baik jika anda bekerja di meja tulis, tapi akan menghalangi kemampuan andamemvisualisasi karakteristik permukaan tubuh. Dengan menggunakan sumber cahayatangensial akan dapat diperoleh pandangan anatomi tubuh yang lebih baik misalnyauntuk melihat adanya benjolan, pulsasi atau lesi kulit. Pena cahaya, lampu yang bisaditekuk tangkainya, atau senter merupakan alat-alat yang paling sering digunakanuntuk memvisualisasi tubuh.IV. Keadaan Umum Pemeriksaan ini untuk mengetahui keadaan umum kesehatan pasien. Jikapasien dalam keadaan normal, maka akan ditemukan bahwa pasien kooperatif,gerakannya terarah, dan hanya merasa sedikit tegang atau cemas.Sebaliknya jika pasien kritis atau memburuk mungkin ditemukan kondisi yang tidakkooperatif, bingung, gerakan tidak terarah, gemetar dan tmerasa sangat cemas ataubahkan agitatif.Pada saat pemeriksaan ini akan didapatkan kesan umum mengenai keadaan pasien.Sebelum dilakukan pemeriksaan ada perlu nya melakukan prosedur sebelum tindakanberupa : 13
  14. 14. Prosedur Pemeriksaan 1. Cuci tangan 2. Jelaskan prosedur 3. Lakukan pemeriksaan dengan berdiri di sebelah kanan klien dan pasang handschoen bila di perlukan. 4. Pemeriksaan umum meliputi : penampilan umum, status mental dan nutrisi. Posisi klien : duduk/berbaring Cara : inspeksi1. Kesadaran, tingkah laku, ekspresi wajah, mood. (Normal : Kesadaran penuh, Ekspresi sesuai, tidak ada menahan nyeri/ sulit bernafas)2. Tanda-tanda stress/ kecemasan (Normal :)Relaks, tidak ada tanda-tanda cemas/takut)3. Jenis kelamin4. Usia dan Gender5. Tahapan perkembangan6. TB, BB ( Normal : BMI dalam batas normal)7. Kebersihan Personal (Normal : Bersih dan tidak bau)8. Cara berpakaian (Normal : Benar/ tidak terbalik)9. Postur dan cara berjalan10. Bentuk dan ukuran tubuh.11. Cara bicara. (Relaks, lancer, tidak gugup).12. Evaluasi dengan membandingkan dengan keadaan normal.13. Dokumentasikan hasil pemeriksaan. 14
  15. 15. V. Pemeriksaan Tanda-tanda Vital Tanda-tanda vital akan memberikan informasi keadaan pasien apakah dalamkeadaan baik atau memburuk, bahkan dapat memberikan informasi seberapa parahkondisinya. Sebagian besar hasi pemeriksaan akan menunjukkan status fungsi organ-organ vital pada saat pemeriksaan. A. Pernapasan Paramedik dapat mengkaji pernapasan untuk melihat jumlah, irama, suaraserta adekuat tidaknya pernapasan. Pernapasan yang normal akan memiliki kriteriaseperti di bawah ini: Jumlah : 8 – 20 /min Irama: teratur Kedalaman : pergerakan dada seimbang kiri kanan dengan ukuran sekitar 1-2inci Keterangan Normal 8 – 20 per menit dan teratur Apneu Tidak ada pernapasan Bradipneu < 8 / menit dan teratur Tachypnea > 20 / menit dan teratur Hiperventilasi Kecepatan dan kedalaman meningkat Hipoventilasi Kecepatan dan kedalaman menurun Cheyne- Adanya periode antara apneu and hiperventilasi Stokes Kussmaul Napas yang sangat dalam dengan ritme teratur Pernpasan Apneu yang berselang seling dengan munculnya napas yang Biot’s (ataxia) kedalamanya bervariasi (sebagian besar dangkal), serta tidak teratur 15
  16. 16. Bising Napas Suara Penyebab Wheezing Konstriksi (penyempitan) pada bronkhioli di paru-paru (‘mengi’) Snoring Sumbatan sebagian saluran napas atas oleh lidah di dekat (‘ngorok’) faring Gurgling Adanya cairan di saluran napas atas (‘kumur’) Crowing or Adanya penyumpatan di saluran napas atas di dekat laring Stridor Partial obstruction of the upper airway at the level of the (suaran kasar larynx dan jelas)B. Denyut Nadi Denyut Nadi dapat dikaji dengan menggunakan palpasi di bagian radialis(pergelangan tangan), femoralis (inguinal) atau karotid (leher). Denyut nadi normalakan memiliki kriteria:  Jumlah : 60 – 100 per menit  Irama teratur  Kekuatan denyut sama secara bilateral Disarankan untuk memeriksa denyut nadi dalam waktu satu menit khususnya saat ketidaknormalan ditemukan (contoh denyut ireguler)C. Tekanan Darah Tekanan darah dapat diperiksa melalui perkiraan kasar berdasarkan denyutnadi yang teraba. Tetapi Pemeriksaan yang akurat hanya bisa didapat melaluipemeriksaan dengan alat (spigmomanometer). Perkiraan Kasar Berdasarkan Denyut Nadi Yang Teraba Denyut Nadi Yang Perkiraan Tekanan Darah Minimum Teraba Radialis 60 mmHg Femoralis 70 mmHg Carotis 80 mmHg 16
  17. 17. Tekanan Darah Normal (dengan spigmomanometer) Pasien Sistolik Diastolik Dewasa (laki-laki) Umur + 100 (hingga 150 mmHg) 60 – 90 mmHg Dewasa Umur + 90 (hingga 140 mmHg) 50 – 80 mmHg (perempuan) Bayi dan Anak- 90 + (2 X umur dlm tahun)  batas atas 2/3 sistolik anak normal 70 + (2 X umur dlm tahun)  batas bawah normalD. Temperatur Untuk pemeriksaan yang cepat, palpasi dengan punggung tangan dapatdilakukan, tetapi untuk pemeriksaan yang akurat harus dengan termometer. Temperatur Tubuh Pemeriksaan Normal Deviasi Oral 97 – 100 oF < 97 oF or >100 oF (36-37.8 oC) (< 36 oC or > 38 oC) Rectal 1 oF lebih tinggi dari oral Axilar 1 oF lebih rendah dari oral Demam, kedinginan, menggigil, gelisahE. Tingkat Kesadaran Untuk pemeriksaan yang cepat (di „primary survey‟) periksa tingkat kesadarandengan „AVPU‟. Tetapi untuk pemeriksaan detail, penggunaan GCS (Glasgow ComaScale) lebih berguna untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Pemeriksaan GCSsangat penting untuk memeriksa status neurologis khususnya di kasus trauma seperticedera kepala. Pemeriksaan ini dapat untuk menentukan tingkat keparahan cederaotak yang terjadi.Pemeriksaan ini menggunakan stimuli suara dan nyeri dan akan dinilai berdasarkanrespon pasien (pembukaan mata, pergerakan motorik dan respon suara). 17
  18. 18. Pemeriksaan Neurologis: AVPUA Alert Pasien sadar penuh, membuka mata spontan, dapat menggerakkan kaki / tangan sebagaimana diperintahkan dan menjawab pertanyaan yang sederhana secara benarV Respond to Pasien hanya memberikan reaksi ketika dirangsang Voice dengan suara, pasien mungkin hanya bereaksi dengan suara-suara yang tidak berarti, mengerang atau hanya membuka mataP Respond to Pain Pasien hanya memberikan reaksi ketika dirangsang dengan sensasi nyeri (contoh pijitan di kuku jari), pasien hanya bereaksi dengan menarik, fleksi atau bahkan ekstensiU Unresponsive Pasien tidak menunjukkan reaksi sama sekaliPemeriksaan Neurologis: GCSKomponen Respon Nilai KeteranganEye Spontaneous 4 Mata membuka secara spontanOpening To Voice 3 Mata membuka saat direspon oleh suara atau perintah(Pembukaan To pain 2 Mata membuka dengan rangsang nyeriMata) None 1 Tidak ada responVerbal Oriented 5 Orientasi baik; contoh pasien dapatResponse menyebutkan nama, dan menyadari situasi di sekitarnya Confused 4 Pembicaraan membingungkan; tidak dapat memberikan jawaban yang informatif, memberikan jawaban yang tidak berhubungan dengan pertanyaan Innapropriate 3 Pasien berkata-kata tetapi kacau tidak speech dalam susunan kalimat, dapat bersifat makian atau teriakan Incomprehensible 2 Suara yang tidak berarti (keluhan atau speech erangan) tetapi bukan suatu kata None 1 Tidak ada responseMotoric Obeys Command 6 Secara spontan menggerakkanResponse anggota badan sesuai perintah Localizes Pain 5 18
  19. 19. F. Pemeriksaan umum a. Pemeriksaan kulit dan kuku Tujuan a. Mengetahui kondisi kulit dan kuku b. Mengetahui perubahan oksigenasi, sirkulasi, kerusakan jaringan setempat, dan hidrasi. Persiapan a) Posisi klien: duduk/ berbaring b) Pencahayaan yang cukup/lampu c) Sarung tangan (utuk lesi basah dan berair)Prosedur Pelaksanaan a. Pemeriksaan kulit Inspeksi : kebersihan, warna, pigmentasi,lesi/perlukaan, pucat, sianosis, dan ikterik. Normal: kulit tidak ada ikterik/pucat/sianosis. Palpasi : kelembapan, suhu permukaan kulit, tekstur, ketebalan, turgor kulit, dan edema. Normal: lembab, turgor baik/elastic, tidak ada edema. Setelah diadakan pemeriksaan kulit dan kuku evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut. b. Pemeriksaan kuku Inspeksi : kebersihan, bentuk, dan warna kuku Normal: bersih, bentuk normaltidak ada tanda-tanda jari tabuh (clubbing finger), tidak ikterik/sianosis. Palpasi : ketebalan kuku dan capillary refile ( pengisian kapiler ). Normal: aliran darah kuku akan kembali < 3 detik. Setelah diadakan pemeriksaan kuku evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut. 19
  20. 20. c. Pemeriksaan kepala, wajah, mata, telinga, hidung, mulut & leher Posisi klien : duduk , untuk pemeriksaan wajah sampai dengan leher perawat berhadapan dengan klien- Pemeriksaan kepala Tujuan a) Mengetahui bentuk dan fungsi kepala b) Mengetahui kelainan yang terdapat di kepala Persiapan alat a) Lampu b) Sarung tangan (jika di duga terdapat lesi atau luka)Prosedur PelaksanaanInspeksi : ukuran lingkar kepala, bentuk, kesimetrisan, adanya lesi atau tidak,kebersihan rambut dan kulit kepala, warna, rambut, jumlah dan distribusirambut.Normal: simetris, bersih, tidak ada lesi, tidak menunjukkan tanda-tandakekurangan gizi(rambut jagung dan kering)Palpasi : adanya pembengkakan/penonjolan, dan tekstur rambut.Normal: tidak ada penonjolan /pembengkakan, rambut lebat dan kuat/tidakrapuh.Setelah diadakan pemeriksaan kepala evaluasi hasil yang di dapat denganmembandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaanyang didapat.- Pemeriksaan wajahInspeksi : warna kulit, pigmentasi, bentuk, dan kesimetrisan.Normal: warna sama dengan bagian tubuh lain, tidak pucat/ikterik, simetris.Palpasi : nyeri tekan dahi, dan edema, pipi, dan rahangNormal: tidak ada nyeri tekan dan edema. 20
  21. 21. Setelah diadakan pemeriksaan wajah evaluasi hasil yang di dapat denganmembandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaanyang didapat tersebut.- Pemeriksaan mataTujuana) Mengetahui bentuk dan fungsi matab) Mengetahui adanya kelainan pada mata.Persiapan alata) Senter Kecilb) Surat kabar atau majalahc) Kartu Snellend) Penutup Matae) Sarung tanganProsedur PelaksanaanInspeksi: bentuk, kesimestrisan, alis mata, bulu mata, kelopak mata,kesimestrisan, bola mata, warna konjunctiva dan sclera (anemis/ikterik),penggunaan kacamata / lensa kontak, dan respon terhadap cahaya.Normal: simetris mata kika, simetris bola mata kika, warna konjungtiva pink,dan sclera berwarna putih.Tes Ketajaman PenglihatanKetajaman penglihatan seseorang mungkin berbeda dengan orang lain. Tajampenglihatan tersebut merupakan derajad persepsi deteil dan kontour beda.Visus tersebut dibagi dua yaitu:1. Visus sentralis.Visus sentralis ini dibagi dua yaitu visus sentralis jauh dan visus sentralisdekat, visus centralis jauh merupakan ketajaman penglihatan untuk melihatbenda benda yang letaknya jauh. Pada keadaan ini mata tidak melakukanakomodasi. (EM. Sutrisna, dkk, hal 21). 21
  22. 22. virus centralis dekat yang merupakan ketajaman penglihatan untuk melihatbenda benda dekat misalnya membaca, menulis dan lain lain. Pada keadaan inimata harus akomodasi supaya bayangan benda tepat jatuh di retina. (EM.Sutrisna, dkk, hal 21).2. Visus perifer Pada visus ini menggambarkan luasnya medan penglihatan dandiperiksa dengan perimeter. Fungsi dari visus perifer adalah untuk mengenaltempat suatu benda terhadap sekitarnya dan pertahanan tubuh dengan reaksimenghindar jika ada bahaya dari samping. Dalam klinis visus sentralis jauhtersebut diukur dengan menggunakan grafik huruf Snellen yang dilihat padajarak 20 feet atau sekitar 6 meter. Jika hasil pemeriksaan tersebut visusnyae”20/20 maka tajam penglihatannya dikatakan normal dan jika Visus <20/20maka tajam penglihatanya dikatakan kurang Penyebab penurunan tajampeglihatan seseorang bermacam macam, salah satunya adalah refraksianomaly/kelainan pembiasan.prosedur pemeriksaan visus dengan menggunakan peta snellen yaitu: Memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud tujuan pemeriksaan. Meminta pasien duduk menghadap kartu Snellen dengan jarak 6 meter. Memberikan penjelasan apa yang harus dilakukan (pasien dimintamengucapkan apa yang akan ditunjuk di kartu Snellen) dengan menutup salahsatu mata dengan tangannya tanpa ditekan (mata kiri ditutup dulu). Pemeriksaan dilakukan dengan meminta pasien menyebutkan simboldi kartu Snellen dari kiri ke kanan, atas ke bawah. Jika pasien tidak bisa melihat satu simbol maka diulangi lagi daribarisan atas. Jika tetap maka nilai visus oculi dextra = barisan atas/6. Jika pasien dari awal tidak dapat membaca simbol di Snellen chartmaka pasien diminta untuk membaca hitungan jari dimulai jarak 1 meterkemudian mundur. Nilai visus oculi dextra = jarak pasien masih bisa membacahitungan/60. 22
  23. 23. Jika pasien juga tidak bisa membaca hitungan jari maka pasien dimintauntuk melihat adanya gerakan tangan pemeriksa pada jarak 1 meter (Nilaivisus oculi dextranya 1/300). Jika pasien juga tetap tidak bisa melihat adanya gerakan tangan, makapasien diminta untuk menunjukkan ada atau tidaknya sinar dan arah sinar(Nilai visus oculi dextra 1/tidak hingga). Pada keadaan tidak mengetahuicahaya nilai visus oculi dextranya nol. Pemeriksaan dilanjutkan dengan menilai visus oculi sinistra dengancara yang sama. Melaporkan hasil visus oculi sinistra dan dextra. (Pada pasienvos/vodnya “x/y” artinya mata kanan pasien dapat melihat sejauh x meter,sedangkan orang normal dapat melihat sejauh y meter.- Pemeriksaan Pergerakan Bola MataPemeriksaan pergeraka bola mata dilakukan dengan cara Cover-UncoverTest / Tes Tutup-Buka MataTujuannya adalah untuk mengidentifikasi adanya Heterophoria.Heterophoria berhubungan dengan kelainan posisi bola mata, dimana terdapatpenyimpangan posisi bolamata yang disebabkan adanya gangguankeseimbangan otot-otot bolamata yang sifatnya tersembunyi atau latent. Iniberarti mata itu cenderung untuk menyimpang atau juling, namun tidak nyataterlihat.Pada phoria, otot-otot ekstrinsik atau otot luar bola mata berusaha lebih tegangatau kuat untuk menjaga posisi kedua mata tetap sejajar. Sehingga rangsanganuntuk berfusi atau menyatu inilah menjadi faktor utama yang membuat otot -otot tersebut berusaha extra atau lebih, yang pada akhirnya menjadi beban bagiotot-otot tersebut, wal hasil akan timbul rasa kurang nyaman atau Asthenopia.Setelah diadakan pemeriksaan mata evaluasi hasil yang di dapat denganmembandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaanyang didapat tersebut. 23
  24. 24. d. Pemeriksaan telinga Tujuan Mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga, dan fungsi pendengaran. Persiapan Alat a) Arloji berjarum detik b) Garpu tala c) Speculum telinga d) Lampu kepala Prosedur Pelaksanaan Inspeksi : bentuk dan ukuran telinga, kesimetrisan, integritas, posisi telinga, warna, liang telinga (cerumen/tanda-tanda infeksi), alat bantu dengar. Normal: bentuk dan posisi simetris kika, integritas kulit bagus, warna sama dengan kulit lain, tidak ada tanda-tanda infeksi, dan alat bantu dengar. Palpasi : nyeri tekan aurikuler, mastoid, dan tragus Normal: tidak ada nyeri tekan. Setelah diadakan pemeriksaan telinga evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.  Pemeriksaaan Telinga Dengan Menggunakan Garpu TalaA. Pemeriksaan Rinne 1. Pegang agrpu tala pada tangkainya dan pukulkan ke telapak atau buku jari tangan yang berlawanan. 2. Letakkan tangkai garpu tala pada prosesus mastoideus klien. 3. Anjurkan klien untuk memberi tahu pemeriksa jika ia tidak merasakan getaran lagi. 4. Angkat garpu tala dan dengan cepat tempatkan di depan lubang telinga klien 1-2 cm dengan posisi garpu tala parallel terhadap lubang telinga luar klien. 24
  25. 25. 5. Instruksikan klien untuk member tahu apakah ia masih mendengarkan suara atau tidak. 6. Catat hasil pemeriksaan pendengaran tersebut.B. Pemeriksaan Webber 1. Pegang garpu tala pada tangkainya dan pukulkan ke telapak atau buku jari yang berlawanan. 2. Letakkan tangkai garpu tala di tengah puncak kepala klien . 3. Tanyakan pada klien apakah bunyi terdengar sama jelas pada kedua telinga atau lebih jelas pada salah satu telinga. 4. Catat hasil pemeriksaan dengan pendengaran tersebut. e. Pemeriksan hidung dan sinus Tujuan a) Mengetahui bentuk dan fungsi hidung b) Menentukan kesimetrisan struktur dan adanya inflamasi atau infeksi Persiapan Alat a) Spekulum hidung b) Senter kecil c) Lampu penerang d) Sarung tangan (jika perlu) Prosedur Pelaksanaan Inspeksi : hidung eksternal (bentuk, ukuran, warna, kesimetrisan), rongga, hidung ( lesi, sekret, sumbatan, pendarahan), hidung internal (kemerahan, lesi, tanda2 infeksi. Normal: simetris kika, warna sama dengan warna kulit lain, tidak ada lesi, tidak ada sumbatan, perdarahan dan tanda-tanda infeksi. 25
  26. 26. Palpasi dan Perkusi frontalis dan, maksilaris (bengkak, nyeri, dan septumdeviasi)Normal: tidak ada bengkak dan nyeri tekan.Setelah diadakan pemeriksaan hidung dan sinus evaluasi hasil yang di dapatdengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasilpemeriksaan yang didapat tersebut.f. Pemeriksaan mulut dan bibir Tujuan Mengetahui bentuk kelainan mulutPersiapan Alata) Senter kecilb) Sudip lidahc) Sarung tangan bersihd) KasaProsedur PelaksanaanInspeksi dan palpasi struktur luar : warna mukosa mulut dan bibir, tekstur ,lesi, dan stomatitis.Normal: warna mukosa mulut dan bibir pink, lembab, tidak ada lesi danstomatitis.Inspeksi dan palpasi strukur dalam : gigi lengkap/penggunaan gigi palsu,perdarahan/ radang gusi, kesimetrisan, warna, posisi lidah, dan keadaanlangit2.Normal: gigi lengkap, tidak ada tanda-tanda gigi berlobang atau kerusakangigi, tidak ada perdarahan atau radang gusi, lidah simetris, warna pink,langit2 utuh dan tidak ada tanda infeksi.Gigi lengkap pada orang dewasa berjumlah 36 buah, yang terdiri dari 16 buahdi rahang atas dan 16 buah di rahang bawah. Pada anak-anak gigi sudah mulaitumbuh pada usia enam bulan. Gigi pertama tumbuh dinamakan gigi susu diikuti tumbuhnya gigi lain yang disebut gigi sulung. Akhirnya pada usia enamtahun hingga empat belas tahun, gigi tersebut mulai tanggal dan dig anti gigitetap. 26
  27. 27. Pada usia 6 bulan gigi berjumlah 2 buah (dirahang bawah), usia 7-8 bulanberjumlah 7 buah(2 dirahang atas dan 4 dirahang bawah) , usia 9-11 bulanberjumlah 8 buah(4 dirahang atas dan 4 dirahang bawah), usia 12-15 bulangigi berjumlah 12 buah (6 dirahang atas dan 6 dirahang bawah), usia 16-19bulan berjumlah 16 buah (8 dirahang atas dan 8 dirahang bawah), dan padausia 20-30 bulan berjumlah 20 buah (10 dirahang atas dan 10 dirahang bawah).Setelah diadakan pemeriksaan mulut dan bibir evaluasi hasil yang di dapatdengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasilpemeriksaan yang didapat tersebut.g. Pemeriksaan leherTujuana) Menentukan struktur integritas leherb) Mengetahui bentuk leher serta organ yang berkaitanc) Memeriksa system limfatikPersiapan AlatStetoskopProsedur PelaksanaanInspeksi leher: warna integritas, bentuk simetris.Normal: warna sama dengan kulit lain, integritas kulit baik, bentuk simetris,tidak ada pembesaran kelenjer gondok.Inspeksi dan auskultasi arteri karotis: lokasi pulsasiNormal: arteri karotis terdengar.Inspeksi dan palpasi kelenjer tiroid (nodus/difus, pembesaran,batas,konsistensi, nyeri, gerakan/perlengketan pada kulit), kelenjer limfe (letak,konsistensi, nyeri, pembesaran), kelenjer parotis (letak, terlihat/ teraba)Normal: tidak teraba pembesaran kel.gondok, tidak ada nyeri, tidak adapembesaran kel.limfe, tidak ada nyeri. 27
  28. 28. Auskultasi : bising pembuluh darah. Setelah diadakan pemeriksaan leher evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut. h. Pemeriksaan dada( dada dan punggung) Posisi klien: berdiri, duduk dan berbaring Cara/prosedur:1. System pernafasanTujuan :a) Mengetahui bentuk, kesimetrisas, ekspansi, keadaan kulit, dan dinding dadab) Mengetahui frekuensi, sifat, irama pernafasan,c) Mengetahui adanya nyeri tekan, masa, peradangan, traktil premitusPersiapan alata) Stetoskopb) Penggaris centimeterc) Pensil penadaProsedur pelaksanaanInspeksi : kesimetrisan, bentuk/postur dada, gerakan nafas (frekuensi, irama,kedalaman, dan upaya pernafasan/penggunaan otot-otot bantu pernafasan), warnakulit, lesi, edema, pembengkakan/ penonjolan.Normal: simetris, bentuk dan postur normal, tidak ada tanda-tanda distresspernapasan, warna kulit sama dengan warna kulit lain, tidak ikterik/sianosis,tidak ada pembengkakan/penonjolan/edemaPalpasi: Simetris, pergerakan dada, massa dan lesi, nyeri, tractile fremitus.(perawat berdiri dibelakang pasien, instruksikan pasien untuk mengucapkanangka “tujuh-tujuh” atau “enam-enam” sambil melakukan perabaan dengan keduatelapak tangan pada punggung pasien.)Normal: integritas kulit baik, tidak ada nyeri tekan/massa/tanda-tandaperadangan, ekspansi simetris, taktil vremitus cendrung sebelah kanan lebihteraba jelas. 28
  29. 29. Perkusi: paru, eksrusi diafragma (konsistensi dan bandingkan satu sisi dengansatu sisi lain pada tinggi yang sama dengan pola berjenjang sisi ke sisi).Normal: resonan (“dug dug dug”), jika bagian padat lebih daripada bagianudara=pekak (“bleg bleg bleg”), jika bagian udara lebih besar dari bagianpadat=hiperesonan (“deng deng deng”), batas jantung=bunyi rensonan----hilang>>redup.Auskultasi: suara nafas, trachea, bronchus, paru. (dengarkan denganmenggunakan stetoskop di lapang paru kika, di RIC 1 dan 2, di atas manubriumdan di atas trachea).Normal: bunyi napas vesikuler, bronchovesikuler, brochial, tracheal.Setelah diadakan pemeriksaan dada evaluasi hasil yang di dapat denganmembandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaanyang didapat tersebut. i. System kardiovaskuler Tujuan a) Mengetahui ketifdak normalan denyut jantung b) Mengetahui ukuran dan bentuk jantug secara kasar c) Mengetahui bunyi jantung normal dan abnormal d) Mendeteksi gangguan kardiovaskuler Persiapan alat a) Stetoskop b) Senter kecil Prosedur pelaksanaan Inspeksi : Muka bibir, konjungtiva, vena jugularis, arteri karotis Palpasi: denyutan Normal untuk inspeksi dan palpasi: denyutan aorta teraba. Perkusi: ukuran, bentuk, dan batas jantung (lakukan dari arah samping ke tengah dada, dan dari atas ke bawah sampai bunyi redup) Normal: batas jantung: tidak lebih dari 4,7,10 cm ke arah kiri dari garis mid sterna, pada RIC 4,5,dan 8. 29
  30. 30. Auskultasi: bunyi jantung, arteri karotis. (gunakan bagian diafragma dan belldari stetoskop untuk mendengarkan bunyi jantung. )Normal: terdengar bunyi jantung I/S1 (lub) dan bunyi jantung II/S2 (dub),tidak ada bunyi jantung tambahan (S3 atau S4).Setelah diadakan pemeriksaan system kardiovaskuler evaluasi hasil yang didapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikanhasil pemeriksaan yang didapat tersebut.j. Dada dan aksilaTujuana) Mengetahui adanya masa atau ketidak teraturan dalam jaringan payudarab) Mendeteksi awal adanya kanker payudaraPersiapan alata) Sarung tangan sekali pakai (jika diperlukan)Prosedur pelaksanaanInspeksi payudara: Integritas kulitPalpasi payudara: Bentuk, simetris, ukuran, aerola, putting, dan penyebaranvena.Inspeksi dan palpasi aksila: nyeri, perbesaran nodus limfe,konsistensi.Setelah diadakan pemeriksaan dadadan aksila evaluasi hasil yangdi dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikanhasil pemeriksaan yang didapat tersebut.k. Pemeriksaan Abdomen (Perut)Posisi klien: BerbaringTujuana) Mengetahui betuk dan gerakan-gerakan perutb) Mendengarkan suara peristaltic ususc) Meneliti tempat nyeri tekan, organ-organ dalam rongga perut benjolandalam perut. 30
  31. 31. Persiapana) Posisi klien: Berbaringb) Stetoskopc) Penggaris kecild) Pensil gambare) Bntal kecilf) Pita pengukurProsedur pelaksanaanInspeksi : kuadran dan simetris, contour, warna kulit, lesi, scar, ostomy,distensi, tonjolan, pelebaran vena, kelainan umbilicus, dan gerakan dindingperut.Normal: simetris kika, warna dengan warna kulit lain, tidak ikterik tidakterdapat ostomy, distensi, tonjolan, pelebaran vena, kelainan umbilicus.Auskultasi : suara peristaltik (bising usus) di semua kuadran (bagiandiafragma dari stetoskop) dan suara pembuluh darah dan friction rub :aorta,a.renalis, a. illiaka (bagian bell).Normal: suara peristaltic terdengar setiap 5-20x/dtk, terdengar denyutanarteri renalis, arteri iliaka dan aorta.Perkusi semua kuadran : mulai dari kuadran kanan atas bergerak searahjarum jam, perhatikan jika klien merasa nyeri dan bagaiman kualitas bunyinya.Perkusi hepar: BatasPerkusi Limfa: ukuran dan batasPerkusi ginjal: nyeriNormal: timpani, bila hepar dan limfa membesar=redup dan apabila banyakcairan = hipertimpaniPalpasi semua kuadran (hepar, limfa, ginjal kiri dan kanan): massa,karakteristik organ, adanya asistes, nyeri irregular, lokasi, dan nyeri.dengancara perawat menghangatkan tangan terlebih dahuluNormal: tidak teraba penonjolan tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa danpenumpukan cairanSetelah diadakan pemeriksaan abdomen evaluasi hasil yang di dapat denganmembandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaanyang didapat tersebut. 31
  32. 32. l. Pemeriksaan ekstermitas atas (bahu, siku, tangan) Tujuan :1. Memperoleh data dasar tetang otot, tulang dan persendian2. Mengetahui adanya mobilitas, kekuatan atau adanya gangguan pada bagian- bagian tertentu. Alat : Meteran Posisi klien: Berdiri. Duduk Inspeksi struktur muskuloskletal : simetris dan pergerakan, Integritas ROM, kekuatan dan tonus otot. Normal: simetris kika, integritas kulit baik, ROM aktif, kekuatan otot penuh. Palapasi: denyutan a.brachialis dan a. radialis . Normal: teraba jelas Tes reflex :tendon trisep, bisep, dan brachioradialis. Normal: reflek bisep dan trisep positif Setelah diadakan pemeriksaan ekstermitas atas evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut. m. Pemeriksaan ekstermitas bawah (panggul, lutut, pergelangan kaki dan telapak kaki). Inspeksi struktur muskuloskletal : simetris dan pergerakan, integritas kulit, posisi dan letak, ROM, kekuatan dan tonus otot Normal: simetris kika, integritas kulit baik, ROM aktif, kekuatan otot penuh Palpasi : a. femoralis, a. poplitea, a. dorsalis pedis: denyutan Normal: teraba jelas Tes reflex :tendon patella dan archilles. Normal: reflex patella dan archiles positif Setelah diadakan pemeriksaan ekstermitas bawah evaluasi hasil yang di dapat dengan membandingkan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut. 32
  33. 33. n. Pemeriksaan genitalia (alat genital, anus, rectum) Posisi Klien : Pria berdiri dan wanita litotomy Tujuan:1. Melihat dan mengetahui organ-organ yang termasuk dalam genetalia.2. Mengetahui adanya abnormalitas pada genetalia, misalnya varises, edema, tumor/ benjolan, infeksi, luka atau iritasi, pengeluaran cairan atau darah.3. Melakukan perawatan genetalia4. Mengetahui kemajuan proses persalinan pada ibu hamil atau persalinan. Alat : 1. Lampu yang dapat diatur pencahayaannya 2. Sarung tangan Pemeriksaan rectum Tujuan : 1. Mengetahui kondisi anus dan rectum 2. Menentukan adanya masa atau bentuk tidak teratur dari dinding rectal 3. Mengetahui intregritas spingter anal eksternal 4. Memeriksa kangker rectal dll Alat : 1. Sarung tangan sekali pakai 2. Zat pelumas 3. Penetangan untuk pemeriksaan Prosedur Pelaksanaan Wanita: Inspeksi genitalia eksternal: mukosa kulit, integritas kulit, contour simetris, edema, pengeluaran. Normal: bersih, mukosa lembab, integritas kulit baik, semetris tidak ada edema dan tanda-tanda infeksi (pengeluaran pus /bau) Inspeksi vagina dan servik : integritas kulit, massa, pengeluaran Palpasi vagina, uterus dan ovarium: letak ukuran, konsistensi dan, massa. Pemeriksaan anus dan rectum: feses, nyeri, massa edema, haemoroid, fistula ani pengeluaran dan perdarahan. 33
  34. 34. Normal: tidak ada nyeri, tidak terdapat edema / hemoroid/ polip/ tanda-tandainfeksi dan pendarahan.Setelah diadakan pemeriksaan di adakan pemeriksaan genitalia evaluasi hasilyang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dandokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.Pria:Inspeksi dan palpasi penis: Integritas kulit, massa dan pengeluaranNormal: integritas kulit baik, tidak ada masa atau pembengkakan, tidak adapengeluaran pus atau darah.Inspeksi dan palpassi skrotum: integritas kulit, ukuran dan bentuk, turunantestes dan mobilitas, massa, nyeri dan tonjolanNormal : integritas kulit baik, sistematika tidak ada penonjolan, tidak adanyeri tekan.Pemeriksaan anus dan rectum : feses, nyeri, massa, edema, hemoroid,fistula ani, pengeluaran dan perdarahan.Normal: tidak ada nyeri , tidak terdapat edema / hemoroid/ polip/ tanda-tanda infeksi dan pendarahan.Setelah diadakan pemeriksaan dadadan genitalia wanita evaluasi hasil yang didapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikanhasil pemeriksaan yang didapat tersebut. 34
  35. 35. KUMPULAN GAMBAR 35
  36. 36. 36

×