Tebu

8,156 views

Published on

1 Comment
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
8,156
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
166
Comments
1
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tebu

  1. 1. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI GULA DI PG PAGOTTAN Oleh: TUTIK WIDARWATI A14104134 PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008
  2. 2. RINGKASANTUTIK WIDARWATI. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi ProduksiGula di PG Pagottan. Di bawah bimbingan HARMINI. Gula merupakan salah satu bahan pangan pokok yang memiliki artipenting dan posisi yang strategis di Indonesia karena sebagian besar masyarakatIndonesia mengkonsumsi gula. Permintaan gula akan terus meningkat tiaptahunnya seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan daya belimasyarakat, dan pertumbuhan industri yang menggunakan gula sebagai bahanbakunya. Permintaan gula yang meningkat disebabkan konsumsi gula rumahtangga di Indonesia yang mengalami kecenderungan yang meningkat dari tahun2003 sampai tahun 2007. Meskipun terjadi peningkatan terhadap produksi gulanasional namun angka produksi tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan guladalam negeri. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan gula nasional Indonesia harusmelakukan impor gula. Ketidakmampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan gula dalamnegeri disebabkan karena masih rendahnya produksi gula nasional. Rendahnyaproduksi nasional antara lain disebabkan oleh : (1) Penurunan luas danproduktivitas lahan, (2) Rendahnya rendemen industri gula Indonesia, (3)Efisiensi pabrik gula yang masih rendah. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan di lapang, maka diketahuibahwa kondisi inefisiensi produksi tersebut diduga juga dialami oleh PG Pagottanyang salah satunya diindikasikan oleh kualitas pasokan bahan baku tebu(rendemen) yang masih rendah. Selain itu terjadi kecenderungan pemanfaatantenaga kerja yang berlebihan di dalam menjalankan kegiatan produksinya. Sesuaidengan kondisi yang terdapat di PG Pagottan maka penelitian ini bertujuan untuk :(1) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula di PG Pagottandan (2) Menganalisis tingkat efisiensi kegiatan produksi gula di PG Pagottan. Penelitian ini dilaksanakan di PG Pagottan Madiun yang merupakan salahsatu pabrik gula yang berada di bawah pengelolaan PTPN XI wilayah kerja JawaTimur. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Mei 2008. Data utama yangdigunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder, meliputi: data output, input,serta biaya rata-rata kegiatan produksi gula di PG Pagottan dari tahun 2001 hinggatahun 2007. Analisis data yang dilakukan menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas yang diolah dengan pendugaan OLS (Ordinary Least Square). Kemudiandilanjutkan dengan analisis terhadap efisiensi kegiatan produksi gula, denganasumsi terdapat kendala biaya. Pertumbuhan total produksi gula sejak tahun 2001hingga tahun 2007 menunjukkan kecenderungan peningkatan sebesar 3,48 persenper periode. Peningkatan ini dipengaruhi oleh kecenderungan peningkatanproduksi gula tebu sendiri (TS) dan tebu rakyat (TR) masing-masing sebesar 8,73persen per periode dan 23,38 persen per periode. Peningkatan produksi gula TRterjadi tidak hanya karena perluasan areal tetapi juga disebabkan oleh perbaikanmutu intensifikasi budidaya dan introduksi varietas unggul pada areal bongkarankeprasan. Peningkatan juga terjadi pada jumlah tebu yang dipasok, rendemen, dantenaga kerja musiman. Sedangkan lama giling, jam mesin, dan bahan pembantumengalami kecenderungan yang menurun.
  3. 3. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi produksi gula di PG Pagottan,yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerjamusiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dari hasil analisis regresi denganmemenuhi asumsi OLS (uji normalitas, homoskedastisitas, non autokorelasi, tidakterdapat gejala multikolinearitas) dan uji statistik , maka diperoleh faktor-faktoryang secara nyata berpengaruh terhadap produksi gula di PG Pagottan. Faktor-faktor produksi tersebut, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, dan tenagakerja pada selang kepercayaan 95 persen . Nilai koefisien regresi dari faktor-faktor produksi tersebut masing-masing sebesar 0,066, 1,01, 1,03, dan -0,239.Nilai elastisitas yang negatif menunjukkan bahwa jika terdapat peningkatan satupersen tenaga kerja maka akan mengurangi produksi gula sebesar 0,239 persen. Selanjutnya dilakukan analisis efisiensi penggunaan faktor produksi didalam kegiatan produksi gula. Dalam penelitian ini faktor-faktor produksi yangdiukur tingkat efisiensinya adalah jumlah tebu karena faktor tersebut dapat diukurtingkat harganya dan memenuhi syarat Cobb-Douglas, yaitu nilai koefisienregrresi dari faktor poduksi tersebut antara nol dan satu.. Dengan menghitung nilairasio antara NPM (Nilai Produk Marjinal) dan BKM (Biaya Korbanan Marjinal)diketahui bahwa nilai rasio antara NPM dan BKM faktor produksi jumlah tebusebesar 0,01menunjukkan bahwa penggunaan bahan baku belum efisien.Berdasarkan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal(BKM) dari faktor produksi jumlah tebu yang tidak sama dengan satu, maka dapatdisimpulkan bahwa penggunaan faktor produksi belum efisien. Penggunaan bahanbaku tebu dalam produksi gula harus mencapai kondisi optimal agar efisiensidapat tercapai. Kondisi optimal dari penggunaan factor produksi ini terjadi apabilarasio NPM dan BKM dari faktor produksi harus sama dengan satu.
  4. 4. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI GULA DI PG PAGOTTAN Oleh : TUTIK WIDARWATI A14104134 Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008
  5. 5. Judul Skripsi : Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Gula di PG PagottanNama : Tutik WidarwatiNRP : A14104134 Menyetujui, Dosen Pembimbing Skripsi Ir. Harmini, MS NIP. 131 688 732 Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019Tanggal Lulus :
  6. 6. PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANGBERJUDUL ”ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHIPRODUKSI GULA DI PG PAGOTTAN” BENAR-BENAR HASIL KARYASENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGILAIN ATAU LEMBAGA MANAPUN. SUMBER INFORMASI YANGBERASAL ATAU DIKUTIP DARI KARYA YANG DITERBITKAN MAUPUNTIDAK DITERBITKAN DARI PENULIS LAIN TELAH DISEBUTKANDALAM TEKS DAN DICANTUMKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA DIBAGIAN AKHIR SKRIPSI INI. Bogor, September 2008 Tutik Widarwati A14104134
  7. 7. RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 14 Agustus 1986dari keluarga Bapak Darno dan Ibu Minten Widarti. Penulis merupakan anakpertama dari dua bersaudara. Pendidikan akademis penulis dimulai sejak tahun 1991 dengan bersekolahdi TK Islam Wahyu, Cimanggis, Depok. Pendidikan dasar diselesaikan penulis diSD Negeri Curug IV Depok pada tahun 1998, yang dilanjutkan denganpendidikan lanjutan tingkat pertama di SLTP Negeri 1 Cimanggis sejak tahun1998 hingga tahun 2001. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 3 Depok danpada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Seleksi PenerimaanMahasiswa Baru (SPMB). Penulis diterima sebagai mahasiswa Program StudiManajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian.
  8. 8. KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas segalarahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudulAnalisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Gula di PG Pagottan sebagaisyarat untuk melakukan penelitian yang menjadi bagian dari penelitian skripsipada Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut PertanianBogor. Skripsi ini berisi tentang penelitian mengenai PG Pagottan sebagai suatuentitas usaha yang bergerak dalam pengolahan gula. Penelitian yang akandilakukan berupaya untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhiproduksi gula di PG Pagottan serta tingkat efisiensi faktor-faktor produksitersebut. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca, dan dapat diterima sebagisyarat dalam penelitian skripsi. Bogor, September 2008 Penulis
  9. 9. UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat, hidayah serta karunia-Nya kepada kita semua dan shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepadaNabi Muhammad SAW, keluaraga, sahabat serta para pengikutnya hingga akhirzaman. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas darikerjasama dan bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan inipenulis mengucapkan terima kasih kepada:1. Ir. Harmini, MS, sebagai dosen pembimbing skripsi, yang tak hentinya memberikan nasihat, motivasi dan masukan yang sangat berguna demi kesempurnaan skripsi penulis.2. Dr.Ir. Nunung Kusnadi, MS, sebagai dosen penguji utama.3. Etriya, SP,MM, sebagai dosen penguji wakil komisi pendidkan.4. Amzul Rifin, SP. M. A. sebagai dosen Pembimbing Akademik yang juga memberikan masukan, saran dan kritikan serta motivasi selama penulis menyusun skripsi ini.5. Bapak Gampil, Bapak Arysad sebagai SKW Bagian Tanaman PG Pagottan yang telah memberikan banyak informasi kepada penulis.6. Bapak Darno, Mas Yiyin, Mba Riski, Mba Yeni atas kerjasama yang baik selama penulis melakukan penelitian.7. Pak Whumy, Pak Adit, Pak Budi, Pak Joseph yang banyak memberikan data dan informasi penting kepada penulis, pelajaran singkat mengenai gula, browsing gratis, dan kemudahannya lainnya yang telah diberikan kepada penulis.8. Dosen-dosen IPB yang telah memberikan ilmunya kepada penulis.
  10. 10. 9. Mas Ferry, Mba Etriya, Mas Yeka, Mas Arif, Mba Anita dan dosen lainnya yang pernah menjadi asdos dan memberikan ilmunya kepada penulis.10. Mba Dian, Mba Dewi, Ibu Ida dan staff lainnya atas bantuannya kepada penulis dalam mengurus birokrasi.11. Kedua orang tuaku, ibu dan bapak yang selalu memberikan bantuan baik dukungan moril maupun dukungan semangat serta kasih sayang yang tak hentinya dicurahkan kepada penulis.12. Adikku tercinta Ayub Dwi Prasetyo yang selalu meramaikan rumah dengan keisengan dan kejailannya.13. Sahabat-sahabat terbaikku di dunia Rizki Amelia, Sevia Fitrianingsih, Nur Novita Zayanty, Adisti Meisafitri, Imas Nunik Handayani, Rizal Syahrudin, Yustika Muharastri atas keceriaan, kebahagiaan, suka dan duka selama empat tahun. Semoga persahabatan kita akan selalu abadi, amin ya robbal alamin. Terimakasih setulusnya kuucapkan untuk kalian semua.14. Purdiyanti Pratiwi, Tantri Dewi Putriana, Nurhayati Zaenal, Vera Nova Gustrin, Jane Langking, dan Prety Elisabeth atas kebersamaan di rumah kontrakan Pak Ukun.15. Ss, Aries, Tejo, Yanti, Lukman, Neng-Q, Wanti, Rudi, Sastrow, Effendi, Pak De, Dian, serta teman-teman AGB 41 lainnya yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, terimakasih atas kebersamaannya selama kuliah di IPB, menjadikan empat tahun ini warna-warni yang indah dalam hidupku, sungguh beruntung mengenal kalian semua.
  11. 11. 16. Madyastato Prabudi, seseorang yang baik hatinya, memotivasi penulis dan dengan tulus serta sabar membantu dan memfasilitasi penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Ni shi wo de hen ke ai nanpengyou.17. Tante-tanteku tercinta Lek Nur dan Lek Pis, terimakasih Lek atas pelajaran hidup yang bermakna.18. Sepupu perempuanku Ayu, yang dengan baiknya membantu penulis untuk mentranslet buku-buku asing. Danke.19. Teman-teman KKP desa Cikadu Cita, Rena, dan Roni terimakasih atas kebersamaannya selama masa KKP, pengalaman tak terlupakan.20. Fotocopy Prima yang banyak membantu terwujudnya skripsi ini serta pihak- pihak yang banyak membantu penulis selama penyusunan skripsi.
  12. 12. DAFTAR ISI HalamanDAFTAR ISI ..................................................................................................... xiDAFTAR TABEL ........................................................................................... xiiiDAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xivDAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xvI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1 1.2 Perumusan Masalah ............................................................................. 6 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 7 1.4 Kegunaan Penelitian ............................................................................ 7 1.5 Ruang Lingkup Penelitian .................................................................... 8II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Komoditi Tebu ........................................................ 9 2.2 Pengusahaan Tebu ............................................................................. 12 2.3 Pengusahaan Pabrik Gula ................................................................... 15 2.4 Jenis Gula .......................................................................................... 16 2.5 Penelitian Terdahulu .......................................................................... 18III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori dan Fungsi Produksi ...................................................... 22 3.1.2 Konsep Efisiensi Produksi ...................................................... 31 3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ....................................................... 36IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................................. 39 4.2 Sumber dan Jenis Data ....................................................................... 39 4.3 Metode Analisis Data ......................................................................... 40 4.4 Pengukuran Variabel .......................................................................... 45V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1 Sejarah dan Struktur Organisasi Perusahaan 5.1.1 Sejarah Perusahaan ................................................................. 49 5.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan............................................... 50 5.2 Tinjauan Geografis dan Iklim ................................................................ 53 5.3 Kemittraan Antara Pabrik Gula dan Petani ............................................ 54 5.4 Perkembangan Produksi Pabrik ............................................................. 55
  13. 13. 5.5 Agribisnis Gula 5.5.1 Usahatani Tebu ....................................................................... 62 5.5.2 Pengolahan Tebu .................................................................... 66 5.5.3 Distribusi Gula ....................................................................... 73VI EFISIENSI PRODUKSI GULA PASIR 6.1 Pemilihan Model Fungsi Produksi...................................................... 75 6.2 Analisis Elastisitas Produksi............................................................... 80 6.3 Analisis Efisiensi ............................................................................... 83VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan ........................................................................................ 87 7.2 Saran.................................................................................................. 88DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 89LAMPIRAN ..................................................................................................... 91 xii
  14. 14. DAFTAR TABELNomor Halaman1. Perkembangan Konsumsi dan Produksi Gula Indonesia Tahun 2003-2007 .... 22. Perkembangan Impor Gula Indonesia Tahun 2003-2007 ............................... 33. Realisasi Produksi PG Pagottan Tahun 1997-2007 ........................................ 64. Jenis dan Sumber Data ................................................................................ 405. Varietas Tebu yang Digunakan PG Pagottan ............................................... 636. Standardisasi Mutu Gula Kristal Putih......................................................... 727. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula dengan Tujuh Faktor Produksi ....... 768. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula Setelah Uji Validitas Asumsi OLS 799. Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Kegiatan Produksi Gula Pasir pada PG Pagottan per Periode...................................... 85
  15. 15. DAFTAR GAMBARNomor Halaman1. Proses Terbentuknya Gula di dalam Batang Tebu ....................................... 102. Fungsi Produksi Klasik dan Tiga Tahap Produksi........................................ 283. Bagan Kerangka Pemikiran Operasional ..................................................... 384. Struktur Organisasi PG Pagottan ................................................................. 515. Bagan Pemasaran Gula di PG Pagottan ....................................................... 74
  16. 16. DAFTAR LAMPIRANNomor Halaman1. Luas Areal dan Produksi Gula Indonesia Tahun 1996-2008.......................... 922. Angka Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 ........................................... 933. Pertumbuhan Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 ................................. 964. Perkembangan Luas Areal PG Pagottan ....................................................... 975. Hasil Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor Produksi .................................. 986. Hasil Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS ............................ 997. Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Tujuh Faktor Produksi ......... 1008. Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor Produksi ..................................................................................................... 1019. Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS ........................................................................................................... 10210. Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS .............................................................................................. 10311. Dokumentasi PG Pagottan.......................................................................... 104
  17. 17. I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Gula merupakan salah satu bahan pangan pokok yang memiliki artipenting dan posisi yang strategis di Indonesia. Meskipun telah beredar bahan-bahan pemanis lainnya, seperti : madu, gula merah, fruktosa, glukosa dan gulatropika namun preferensi masyarakat Indonesia terhadap gula tebu masih lebihtinggi. Alasan kepraktisan (bentuk butiran), ketersediaan, dan berbagai kelebihanlainnya menjadikan gula tebu sebagai pilihan utama (Churmen, 2001). Hal inimengindikasikan bahwa permintaan gula akan terus meningkat tiap tahunnyaseiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan daya beli masyarakat,dan pertumbuhan industri yang menggunakan gula sebagai bahan bakunya1. Permintaan gula yang meningkat disebabkan konsumsi gula rumah tanggadi Indonesia mengalami kecenderungan yang meningkat dari tahun 2003 sampaitahun 2007 (Tabel 1). Kecenderungan konsumsi yang meningkat seiring denganmeningkatnya produksi gula. Namun, besarnya jumlah konsumsi gula tersebuttidak diimbangi dengan jumlah produksi gula. Hal tersebut menyebabkanterjadinya ketidakseimbangan antara produksi dengan kebutuhan dalam negeriyang terus meningkat. Pada Tabel 1 dapat dilihat nilai produksi gula nasional pada tahun 2003hanya sebesar 1,63 juta ton padahal nilai konsumsi gula saat itu mencapai 2,29juta ton. Kemudian pada tahun 2007 produksi gula nasional mengalami kenaikansebesar 4,7 persen dibandingkan tahun 2006 menjadi 2,42 juta ton, namun angka1 Simatupang, Pantjar. 2005. Analisis Kebijakan Tentang Kebijakan Komprehensif Pergulaan Nasional. www.pse.litbang.deptan.go.id diakses 10 April 2008.
  18. 18. 2ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan gula dalam negeri yang mencapai2,69 juta ton. Peningkatan produksi gula nasional yang terjadi lima tahun terakhirdisebabkan oleh kebijakan yang dikeluarkan pemerintah mengenai penetapanharga provenue gula pasir produksi petani yang bertujuan untuk menghindarikerugian petani dan mendorong peningkatan produksi. Selain itu pemerintah jugamenetapkan tarif spesifik untuk impor gula mentah sebesar Rp 550 per kilogram(setara 20 persen) dan gula putih Rp 700 per kilogram (setara 25 persen) yangberlaku hingga sekarang untuk merangsang petani menanam tebu.Tabel 1 Perkembangan Konsumsi dan Produksi Gula Indonesia Tahun 2003-2007 Konsumsi Gula Rumah Kekurangan Tahun Produksi Gula (ton) Tangga (ton) (ton) 2003 2.294.539 1.634.918,9 1.435.105,3 2004 2.442.000 2.051.643,8 825.304,1 2005 2.625.540 2.241.742,0 151.126,2 2006 2.664.135 2.307.027,0 383.798,0 2007 2.699.832 2.415.625,0 357.108,0Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007 Salah satu penyebab rendahnya produksi gula nasional adalah bersumberdari penurunan luas areal dan penurunan produktivitas. Sebagai contoh, rendemenyang dicapai pada tahun 1970-an masih sekitar 10 persen, sedangkan rata-ratarendemen pada sepuluh tahun terakhir hanya 7,19 persen (Lampiran 1).Menurunnya rendemen tersebut selain disebabkan oleh faktor teknis di usahatanitebu dan belum selarasnya hubungan antara PG dan petani, faktor teknis di pabrikjuga menjadi faktor penyebab (Susila, 2005). Rendahnya produktivitas usahatani tebu Indonesia disebabkan rendahnyaproduktivitas ton tebu per hektar maupun rendemen yang dihasilkan oleh tebu.Rendahnya produktivitas berkaitan dengan teknik budidaya yang belum optimaldan belum terpadunya jadwal tanam dan tebang/giling antara petani dan PG.
  19. 19. 3Kurang terpadunya jadwal tanam dan tebang mempunyai pengaruh yangsignifikan terhadap produktivitas, khususnya yang berkaitan dengan rendemen.Rendemen yang terus menurun juga berkaitan dengan rendahnya efisiensi ditingkat pabrik. Angka rata-rata rendemen selama sepuluh tahun tersebut masih jauh dibawah target rendemen rata-rata Program Akselerasi Peningkatan ProduktivitasGula Nasional sebesar 8,79 persen2. Adanya inefisiensi di pabrik gula inidisebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kondisi pabrik gula, terutama yang adadi Jawa, umumnya sudah tua sehingga tidak dapat mencapai efisiensi yangmaksimal. Berbagai upaya untuk melakukan pembaharuan beberapa peralatanmasih belum mampu menghilangkan inefisiensi secara maksimal, baik karenaketerbatasan dana maupun teknologi (PTPN XI, 2000). Faktor kedua adalahketerbatasan ketersediaan jumlah bahan baku sehingga pabrik beroperasi dibawahkapasitas optimal (Susila, 2005). Dalam mencukupi kebutuhan gula dalam negeri gula dalam negeri,pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang tataniaga impor gula yang mulaidiberlakukan sejak tahun 1967. Dari tahun 1993 hingga tahun 2004 impor gulaIndonesia terus mengalami peningkatan. Oleh karena itu, untuk mengurangiketergantungan pada impor pada pertengahan tahun 2004 pemerintahmengeluarkan kebijakan melalui SK Memperindag No. 527/2004 tentangKetentuan Impor Gula. Dalam SK tersebut disebutkan bahwa institusi yangdiizinkan untuk mengimpor gula (IT) adalah PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PT.2 RR Ariyani. 2006. Rendemen Gula PTPN XI Rendah. www.tempointeraktif.com diakses 10 April 2008.
  20. 20. 4RNI, dan PT. PPI3. Selain itu, pada tahun 2007 pemerintah telah menerbitkanpersetujuan impor gula kristal putih sebesar 250.000 ton kepada para importirterdaftar (IT) gula dan PT. PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia) untukmemenuhi kebutuhan dan mengantisipasi terjadinya defisit stok gula nasional4.Impor gula Indonesia mengalami fluktuatif dari tahun 2003 sampai tahun 2007(Tabel 2). Pada tahun 2003, Indonesia mengimpor gula sebesar 647 ribu ton.Sedangkan tahun 2007, impor Indonesia mencapai 448 ribu ton.Tabel 2 Perkembangan Impor Gula Indonesia Tahun 2003-2007 Tahun Impor Gula (ton) 2003 647.908 2004 256.644 2005 453.160 2006 216.490 2007 448.681Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007 PTPN XI merupakan salah satu institusi yang berperan dalam produksigula nasional. Pada tahun 2008, produksi gula oleh PTPN XI diperkirakanmencapai 458 ribu ton. Angka ini membuat PTPN XI menjadi perusahaan terbesarkedua yang memberikan kontribusi terhadap stok gula nasional setelah PTPN X(526 ribu ton) (Asosiasi Gula Indonesia, 2007). PTPN XI mengelola enam belaspabrik gula (PG) yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Salah satu PG yangdikelola oleh PTPN XI adalah PG Pagottan yang berada di Kabupaten Madiun.Pada tahun 2006 PG Pagottan memiliki kapasitas giling yang cukup besar yaitu2,26 ribu ton per hari. Selain itu, dilihat dari pertumbuhan rendemen dari tahun1997-2007, rata-rata pertumbuhan rendemen PG Pagottan sebesar 4,93 persen pertahun. Pada tahun 2007 rendemen PG Pagottan sebesar 7,96 persen dan3 Mansur, Natsir. 2007. Rancunya Distribusi Gula Nasional. www.bisnisindonesia.comdiakses 13 Maret 2008.4 Departemen Pertanian. 2007. Impor Gula Diharapkan Tidak Mendistorsi Pasar. www2.kompas.com diakses 13 Maret 2008.
  21. 21. 5merupakan rendemen terbesar dibandingkan dengan pabrik gula lainnya di bawahPTPN XI. Meskipun masih berada di bawah target rendemen pemerintah, namunPG Pagottan memiliki potensi untuk mengoptimalkan nilai rendemennya. Tahun 2009 pemerintah menargetkan Indonesia mencapai swasembadagula nasional dan tahun 2010 diharapkan Indonesia sudah memasuki eraliberalisasi perdagangan gula. Oleh karena itu, setiap pabrik gula termasuk PGPagottan diwajibkan untuk meningkatkan produksi dan efisiensinya. Hal inibertujuan untuk memenuhi target yang diharapkan, mencapai tujuan perusahaanserta mampu bersaing dengan produsen-produsen gula negara lain.1.2 Perumusan Masalah PG Pagottan merupakan satu dari 16 pabrik gula yang dikelola oleh PTPNXI (Persero), Surabaya. PG Pagottan sudah mulai beroperasi pada tahun 1905.Semakin tingginya konsumsi masyarakat terhadap gula merupakan peluang bisnissekaligus tantangan bagi PG Pagottan. Dengan tingginya permintaan dari masyarakat terhadap gula mendorongpeningkatan jumlah perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama, dengankata lain tingkat persaingan menjadi lebih tinggi. PG Pagottan harus mampubersaing dengan perusahan tersebut untuk tetap dapat melangsungkan prosesproduksinya. Hasil realisasi produksi PG Pagottan periode tahun 1997 sampaitahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 3. Dalam Tabel 3 terlihat bahwa pada tahun 2000 luas areal tebu mengalamipenurunan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 19,25 persen dari tahunsebelumnya. Hal ini disebabkan oleh penurunan luas areal tebu sendiri sebesar4,41 persen dan penurunan luas areal TR sebesar 35,06 persen. Penurunan luas
  22. 22. 6areal tebu ini tidak mempengaruhi produksi gula yang dihasilkan. Jumlahproduksi gula justru mengalami peningkatan sebesar 1,29 persen. Meningkatnyaproduksi gula ini disebabkan oleh adanya PG sesaudara yang ikut menggilingkantebunya di PG Pagottan.Tabel 3 Realisasi Produksi PG Pagottan Tahun 1998-2007 Produksi (ton) Hablur (ton) Tahun Luas (ha) Rendemen % /ha Jumlah /ha Jumlah 1998 3.200,348 81,4 260.440,6 5,49 4,50 14.285,40 1999 3.218,593 56,8 182.904,1 7,68 4,40 14.038,00 2000 2.598,885 75,8 197.019,9 7,22 5,50 14.219,50 2001 3.559,704 69,1 246.069,1 7,04 4,90 17.319,60 2002 3.894,294 77,8 303.053,2 6,88 5,40 20.836,70 2003 3.422,461 67,1 229.782,0 6,84 4,59 15.706,60 2004 3.277,460 77,2 252.887,7 7,58 5,85 19.160,98 2005 4.221,772 81,3 343.367,8 7,68 6,25 26.380,08 2006 4.567,937 76,6 349.845,3 8,07 6,18 28.217,20 2007 5.708,739 71,8 409.796,5 7,96 5,71 32.599,30Sumber: Litbang Bagian Tanaman PG Pagottan, 2008 Tahun 2003 produksi gula mulai mengalami kecenderungan yangmeningkat. Pada tahun 2007 produksi gula mencapai 32.599,30 ton namun tingkatrendemen menurun dari 8,07 persen pada tahun 2006 menjadi 7,96 persen padatahun 2007. Angka tersebut masih jauh dari target pemerintah sebesar 8,79 persen.Hal ini memperlihatkan bahwa terjadi ketidakefisienan dalam produksi gula di PGPagottan. Proses produksi yang efisien dipengaruhi oleh faktor-faktor produksiyang digunakan. Faktor-faktor produksi yang biasa digunakan dalam prosesproduksi antara lain modal, tenaga kerja, bahan baku, dan lain-lain. Produksi yangdilakukan akan menjadi efisien jika faktor-faktor produksi tersebut dimanfaatkansecara optimal. PG Pagottan telah melakukan berbagai upaya yang sangat erathubungannya dengan pemanfaatan faktor-faktor produksinya untuk meningkatkanproduksi gula. Upaya yang telah dilakukan adalah dengan penggantian varietasunggul, intensifikasi budidaya dan perbaikan manajemen tebang-angkut, serta
  23. 23. 7penggunaan zat pemacu kemasakan (ZPK)5. Jika PG Pagottan mampumemanfaatkan faktor-faktor produksinya secara optimal maka diharapkanperusahaan mampu berproduksi secara efisien dan mempunyai daya saing tinggi.Daya saing tersebut meliputi daya saing untuk mendapatkan bahan baku yangberkualitas baik, mendapatkan sumberdaya manusia, penggunaan teknologi, danpersaingan untuk mendapatkan konsumen. Oleh karena itu perlu ditelaahmengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula serta efisiensinya agartarget pemerintah dalam swasembada gula terwujud, tujuan perusahaan tercapaidan mampu bersaing dengan produsen lain. Berdasarkan uraian di atas maka secara spesifik permasalahan yang akandianalisis dalam penelitian ini adalah :1. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produksi gula di PG. Pagottan?2. Bagaimana tingkat efisiensi produksi gula di PG. Pagottan?1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas tujuan dari penelitian ini adalah:1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula.2. Menganalisis tingkat efisiensi produksi gula.1.4 Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada:5 PTPN XI. 2006. 16 Pabrik Gula PTPN XI Siap Giling. www.kapanlagi.com diakses 13 Maret 2008.
  24. 24. 81. Perusahaan, sebagai sumber informasi dan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam usahanya untuk dapat meningkatkan produksi dan efisiensinya.2. Pemerintah, sebagai bahan masukan dan sumber informasi agar lebih memperhatikan sektor pertanian, terutama industri gula sehingga pemerintah dapat membuat kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan efisiensi produksi sehingga produksi gula nasional meningkat dan impor dapat dikurangi.3. Penulis, penelitian ini berguna dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan dan menambah pengetahuan penulis mengenai industri gula di Indonesia serta dapat melatih kemampuan penulis dalam menganalisis setiap masalah sesuai dengan disiplin ilmu yang diperoleh selama di perguruan tinggi. Pembaca, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi dan bahan perbandingan untuk penelitian-penelitian lebih lanjut.1.5 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi hanya dalam pabrik danproduksi gula tanpa membahas dan menganalisis hasil sampingan produksi gula.Penelitian ini hanya berada pada sekup mikro, yaitu pabrik gula. Data yangdigunakan dalam penelitian ini berupa data perusahaan terutama produksi darimasa giling tahun 2001-2007 per lima belas hari (per periode) dan data-data biayadari tahun 2001-2007. Penelitian ini juga hanya menganalisis efisiensi produksisecara alokatif. Pengaruh yang diakibatkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintahtidak dibahas secara khusus dalam penelitian ini.
  25. 25. 9 II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Gambaran Umum Komoditi Tebu Tanaman tebu (Saccharum officinarum L) merupakan tanaman perkebunansemusim, yang mempunyai sifat tersendiri, sebab di dalam batangnya terdapat zatgula (Supriyadi, 1992). Batang tanaman tebu beruas-ruas, dari bagian pangkalsampai pertengahan ruasnya panjang-panjang, sedangkan di bagian pucuk ruasnyapendek. Tinggi batang antara 2-5 meter, tergantung baik buruknya pertumbuhan,jenis tebu maupun keadaan iklim. Pada pucuk batang tebu terdapat titik tumbuhyang berperan penting dalam proses pertumbuhan. Akar tanaman tebu adalah akarserabut, hal ini sebagai salah satu ciri bahwa tanaman ini termasuk ke dalam kelasmonocotyledone. Akar tebu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu akar stek dan akartunas. Akar stek disebut juga akar bibit yang masa hidupnya tidak lama, akar initumbuh pada cincin akar dari stek batang. Sedangkan akar tunas merupakanpengganti akar bibit. Pertumbuhan akar ada yang tegak lurus ke bawah dan adayang mendatar dekat permukaan tanah. Daun tanaman tebu adalah daun tidak lengkap karena terdiri dari helaidaun dan pelepah daun saja. Kedudukan daun berpangkal pada buku, denganpanjang helaian daun berkisar 1-2 meter sedangkan lebarnya 4-7 cm. Ujung daunmeruncing, tepinya seperti gigi, dan mengandung kersik yang tajam. Bunga tebumerupakan malai yang berbentuk piramida, panjangnya antara 70-90 cm. Bungatebu biasanya muncul pada bulan April-Mei. Bunganya terdiri dari tenda bunga,yaitu tiga helai daun kelopak dan satu helai daun tajuk bunga. Bunga tebumempunyai satu bakal buah dan tiga benang sari,-kepala putiknya- berbentukbulu-bulu.
  26. 26. 10 Buah tanaman tebu termasuk buah padi-padian, bijinya hanya satusedangkan besar lembaga hanya sepertiga dari panjang biji. Daur kehidupantanaman tebu dimulai dari fase perkecambahan, fase pertunasan, fasepemanjangan batang, fase kemasakan, dan fase kematian. Fase perkecambahandimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur satu minggudan diakhiri pada fase kecambah pada umur lima minggu. Fase pertunasan mulaidari umur lima minggu sampai umur 3,5 bulan, lalu dilanjutkan dengan fasepemanjangan batang, yaitu pada umur 3,5 bulan sampai sembilan bulan. Fasekemasakan merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurundan sebelum batang tebu mati. Pada fase ini kadar gula di dalam batang tebumulai terbentuk hingga titik optimal, kurang lebih terjadi pada bulan Agustus, dansetelah itu rendemennya berangsur-angsur menurun. Tahap pemasakan inilahyang disebut dengan tahap penimbunan rendemen gula. Proses terbentuknya guladi dalam batang tebu dapat dilihat pada Gambar 1. kadar gula 10 4 Agustus Gambar 1 Proses Terbentuknya Gula di Dalam Batang Tebu Sumber : Ahmad Supriyadi, 1992 Pada Gambar 1 terlihat jelas bahwa rendemen berada pada masa optimalsekitar bulan Agustus, setelah itu berangsur-angsur turun sampai titik akhir padafase kematian tanaman. Proses terbentuknya rendemen gula di dalam batang tebuberjalan dari ruas ke ruas yang tingkat kemasakannya tergantung pada umur ruas.
  27. 27. 11Ruas di bawah (lebih tua) lebih banyak tingkat kandungan gulanya dibandingkandengan ruas di atasnya (lebih muda), demikian seterusnya sampai ruas bagianpucuk. Oleh karena itu, tebu dikatakan sudah mencapai masak optimal apabilakadar gula di sepanjang batang telah seragam, kecuali beberapa ruas di bagianpucuk. Menurut Mubyarto dan Daryanti (1991), tanaman tebu merupakantanaman yang sangat peka terhadap perubahan unsur-unsur iklim. Oleh karena itu,waktu tanam dan panen harus diperhatikan agar tebu dapat membentuk guladengan optimal. Tanaman tebu banyak membutuhkan air selama masapertumbuhan vegetatifnya dan membutuhkan sedikit air pada saat pertumbuhangeneratifnya. Terdapat dua cara penanaman tebu, yaitu di lahan sawah dengan sistemReynoso (cara pengolahan tanah sawah untuk tanaman tebu) dan di lahan tegalandengan sistem tebu lahan kering. Perbedaan antara dua cara ini terletak padatersedia tidaknya fasilitas pengairan dan lamanya penggenangan air di musimhujan. Lahan sawah merupakan lahan pertanian yang memiliki pengairan danmengalami genangan air lebih dari 30 hari secara terus menerus (memilikipengairan yang cukup). Lahan sawah hanya terdapat di Pulau Jawa. Sedangkanlahan kering tidak memiliki pengairan dan kemungkinan mengalami genangan airkurang dari 30 hari berturut-turut, dan lahan kering ini hanya menggantungkan airpada curah hujan (Adisasmito, 1989 dalam Nurrofiq, 2005). Mubyarto dan Daryanti (1991), menyatakan bahwa perbedaan mendasarkedua jenis lahan tersebut adalah kondisi tanah yang membawa konsekuensi padateknis budidaya yang diharapkan dapat memberi kondisi yang cocok bagi
  28. 28. 12pertumbuhan tanaman tebu. Selanjutnya dikatakan bahwa budidaya tebu di lahansawah bercirikan penggunaan tenaga kerja dan drainase yang intensif disertaipemberian air yang cukup. Sedangkan budidaya tebu di lahan kering dicirikanpada tidak adanya pengairan, pendayagunaan air dalam tanah dan air hujan secaraoptimal, pengolahan tanah sebagian atau seluruhnya secara mekanis yangditujukan pada kelestarian dan peningkatan produktivitas lahan. Selain itu,perbedaan antara dua cara ini terletak pada pengolahan permukaan tanah. Padasistem Reynoso tidak semua permukaan tanah diolah, namun hanya dibuat salurandan guludan saja. Sedangkan di lahan tegalan dilakukan dengan pembajakan ataudengan traktor. Teknologi budidaya yang tepat dan penggunaan varietas unggul yangpaling sesuai dengan kondisi lahannya dapat menghasilkan tebu dengan tingkatrendemen yang tinggi. Selain itu perlu diperhatikan kegiatan pasca panennyakarena kerusakan tebu pada saat penebangan maupun pengangkutan danbanyaknya kotoran pada tebu dapat menyebabkan penurunan tingkat rendemen.Tebu yang berkualitas adalah tebu yang memenuhi kriteria MBS (manis, bersih,segar). Manis berarti tebu sudah cukup tua atau masak dengan Faktor Kemasakan25-30 persen, Koefisien Daya Tahan dan Koefisien Peningkatan sebesar 90-100persen. Bersih berarti tebu terbebas dari unsur non tebu (kotoran) maksimal limapersen. Sedangkan kriteria segar secara teoritis adalah saat tebu ditebang dandigiling maksimal 36 jam, kriteria ini yang paling sulit untuk dideteksi.2.2 Pengusahaan Tebu Pada masa penjajahan Belanda, di tahun 1930 Indonesia pernah menjadinegara pengekspor gula terbesar di dunia setelah Kuba. Keberhasilan tersebut
  29. 29. 13salah satunya bersumber pada kemudahan pabrik-pabrik gula dalalmmemanfaatkan lahan yang subur untuk pertanaman tebu dengan sistem sewapaksa dari petani. Kemudahan itu dijamin dalam UU Agraria 1870 (AgrarischeWet 1870) dan UU Sewa Tanah (Grondhuur Ordonantie 1918). Pada saat ituIndonesia mampu memproduksi gula sebesar 3 juta ton dengan luas lahan sekitar200.000 hektar. Setelah era kemerdekaan banyak pabrik-pabrik gula yangdinasionalisasi. Walaupun pemerintah telah mengambil alih pabrik-pabrik gulatersebut tetapi sistem sewa tetap digunakan, yaitu pabrik gula menyewa lahanmilik petani lalu mengusahakannya sendiri. Dengan sistem sewa tersebut petanihanya memperoleh pendapatan dari sewanya dan petani tidak memperolehkesempatan untuk meningkatkan pendapatannya. Berdasarkan hal-hal di atas, maka pada tahun 1975 dikeluarkan Inpres No.9 Tahun 1975 mengenai Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI). Pokok-pokok pikiranyang terkandung di dalamnya dapat diringkas sebagai berikut:1) Mengganti sistem sewa yang biasa dijalankan oleh pabrik gula dengan sistem tebu rakyat. Petani melakukan usaha budidaya di lahannya sendiri dengan menerapkan teknologi yang telah dianjurkan. Dalam pengelolaan usahatani tebu dilakukan dalam satuan kelompok hamparan. Sedangkan pabrik gula berperan sebagai perusahaan pengelola, yaitu bertanggung jawab secara operasional dan sebagai pimpinan kerja pelaksana budidaya tanaman tebu di wilayah kerjanya, serta menyusun perencanaan areal, melaksanakan bimbingan teknis, menyediakan dan menyalurkan bibit.2) Melaksanakan program intensifikasi tebu dengan sistem BIMAS (Bimbingan Masyarakat).
  30. 30. 143) Mendudukkan pabrik gula sebagai penggiling tebu yang dihasilkan oleh rakyat hingga menjadi gula pasir dengan sistem bagi hasil. Program TRI ini sebenarnya telah berhasil meningkatkan luas areal tebu,yaitu mencapai 428.000 hektar pada tahun 1994. Namun perluasan luas arealtanaman tebu tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas karena sebagianbesar perluasan areal tebu dilakukan di lahan kering tanpa irigasi. Kemudiankebijakan ini dihapuskan pada tahun 1997 mengikuti persyaratan IMF(International Monetary Fund) sehingga menurunkan luas areal produksi yangtelah ada. Akibatnya produksi tebu yang dihasilkan juga rendah dan menurun. Pada tahun 2002, Departemen Pertanian menerapkan Program AkselerasiPeningkatan Produktivitas Gula Nasional, yang meliputi kegiatan rehabilitasi atauperemajaan perkebunan tebu (bongkar ratoon). Program ini bertujuanmemperbaiki komposisi tanaman dan varietas sehingga produktivitasnyamendekati produktivitas potensial. Selain itu, program ini diperkirakan dapatmemberikan peningkatan hasil pada tahun-tahun mendatang. Hal ini disebabkanoleh adanya pergantian ratoon seluas 7000 hektar, peningkatan produktivitaslahan dengan adanya penggunaan bibit berkualitas, dan peningkatan modalusahatani tebu melalui Kredit Ketahanan Pangan (KKP), serta pengendalian hargamelalui implementasi kebijakan tata niaga pergulaan nasional.Selain itu bongkar ratoon ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat rendementebu nasional dari 7,6 persen pada tahun 2007 menjadi delapan persen di tahun2008. Sehingga pada tahun 2008 ditargetkan akan terjadi peningkatan produksigula nasional menjadi sebesar 2,6 juta – 2,7 juta ton6.6 www.els.bappenas.go.id “Deptan Optimis Tak Perlu Impor Gula” diakses 7 Februari 2008.
  31. 31. 152.3 Pengusahaan Pabrik Gula Sejak tahun 1975 pabrik gula telah dinyatakan secara resmi sebagai usahapemroses atau pengolah tebu menjadi gula pasir. Pabrik gula juga berperansebagai pembimbing petani dalam budidaya tebu. Kerja sama tersebut dilakukanuntuk memperoleh jumlah dan kualitas tebu sesuai harapan. Sebagai imbalan ataspemrosesan tebu menjadi gula pasir, pihak pabrik gula menerima “ongkos giling”yang dinyatakan dalam persen dari keseluruhan hasil giling. Sistem pembagianhasil ini ditetapkan oleh pemerintah. Prinsip dasar pembagian adalah semakintinggi rendemen tebu yang digilingkan semakin tinggi pula persentase bagianyang diterima petani. Dengan demikian, semakin banyak hasil gula semakinrendah ongkos gilingnya. Walaupun telah beberapa kali dilakukan peninjauan,ketentuan bagi hasil ini tidak banyak berubah. Ketentuan bagi hasil yangtercantum dalam SK Mentan No.03/SK/Mentan/BIMAS/VI/187 menyatakanbahwa:1) Petani tebu akan mendapatkan 62 persen gula yang dihasilkan dari tebu yang nilai rendemennya sampai dengan delapan persen, bila rendemen melampaui delapan persen maka petani mendapatkan tambahan hasil.2) Petani tebu akan mendapatkan bagian tetes sebanyak 4,5 kilogram untuk setiap kuintal tebu yang digilingkan. Berdasarkan kepemilikannya sebagian besar pabrik gula di Indonesiaadalah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan sisanya adalah BUMS (BadanUsaha Milik Swasta). Pada tahun 1930, Indonesia memiliki 179 pabrik gula (PG).Jumlah PG semakin menurun karena secara ekonomis tidak menguntungkan.Tahun 2006 tercatat sebanyak 50 unit PG milik BUMN (diusahakan oleh PTPN
  32. 32. 16dan RNI) dan delapan PG milik swasta 7. Pada umumnya pabrik-pabrik yang adaberoperasi dibawah kapasitas giling. Sebagian besar PG mempunyai kapasitasgiling yang kecil (kurang dari 3.000 TCD) karena mesin yang sudah tua sertatidak mendapat perawatan yang memadai yang menyebabkan biaya produksi perkilogram gula tinggi.2.4 Jenis Gula Menurut Moerdokusumo (1993) sesuai dengan negara tujuan, secaraumum dikenal tiga jenis gula utama, yaitu gula mentah, gula merah (tidaktermasuk gula jawa, aren, dsb), dan gula putih (termasuk gula rafinade, SHS).1) Gula mentah Yang dimaksud dengan gula mentah adalah sejenis gula merah yangberbutir tidak terlalu halus, terutama diperuntukkan sebagai bahan baku pabrikgula rafinade. Gula mentah ini meliputi HS, NA, dan Muscovado. Jenismuscovado sudah sejak lama tidak lagi dipakai sebagai bahan baku pabrikrafinade. Negara yang menggunakan gula mentah dari Indonesia untuk bahanrafinadenya adalah Hongkong, Jepang, Australia, Selandia Baru, Korea, China,India, dan beberapa negara di Eropa. Sebagai gula mentah untuk bahan rafinade, HS dan NA terutama harusmemenuhi persyaratan ukuran butiran kristal gula, kadar air dan polarisasi.Pasaran gula mentah ini sebagian besar telah hilang karena Indonesia tidakmampu mengekspor gulanya. Hal ini diakibatkan produksi yang sangat merosotbahkan untuk konsumsi dalam negeri pun masih kurang. Dalam rangkamemantapkan kebijakan pangan, timbul gagasan untuk tidak mengimpor gula7 www.bei.co.id/images/_res/opini. “Mengembalikan Kejayaan Si Manis” diakses 10 April 2008.
  33. 33. 17putih melainkan mengimpor gula mentah (gula merah) untuk kemudiandiputihkan di pabrik gula tertentu di luar tahun gilingnya sendiri.2) Gula merah Ada beberapa jenis gula merah, antara lain:a) HS atau gula utama adalah jenis gula dengan polarisasi minimal 98°V. Kebanyakan HS yang dijual mempunyai polarisasi antara 99,4°V sampai 99,5°V yang dapat lebih tinggi jika bahannya diambil dari SHS yang diberi campuran karamel. Berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu untuk konsumsi langsung atau bahan rafinade, HS masih dibagi lagi menjadi beberapa golongan menurut nomor tipe warna standar Belanda. Daerah pasaran HS untuk konsumsi langsung adalah Indonesia dan Malaysia.b) NA (New Assortiment), yaitu gula dengan polarisasi 96,5°V – 97,25°V dan kadar bahan gula antara 2,5 sampai tiga persen. Faktor tahan simpan tidak boleh melebihi 0,27. Jenis NA tidak digolongkan khusus menurut tipe warna.3) Muscovado Muscovado digolongkan dalam Java Assortiment dan termasuk gula merahyang memiliki polarisasi minimal 96,5°V. Sebagai bahan mentah gula rafinade,muscovado sudah jarang digunakan.Meskipun polarisasinya sama dengan NA, pada dasarnya kedua jenis gula tersebutberlainan terutama sifat fisik dan kimianya. Muscovado dibuat dengan caramencampurkan HS dengan karamel untuk memperendah warna. Muscovado lebihmudah dikeringkan dan lebih tahan lama daripada NA.
  34. 34. 184) Gula tetes MS, gula sirup SS, dan gula sirup superior SSS Meskipun warnanya merah, gula tetes tidak termasuk jenis gula kristalmerah tetapi jenis gula sirup. Gula sirup (SS) dan gula sirup superior (SSS)dikenal sebagai soft sugar. Jenis gula ini tidak banyak diproduksi. SSS adalahjenis gula berbutir halus merata yang telah dicampur dengan larutan gula invest.5) Gula putih Gula putih yang dimaksud adalah SHS dan gula rafinade. Untuk SHStidak ada pembagian atas dasar spesifikasi butir yang ketat.6) Gula pasir dan bahan pemanis non gula pasir Menurut Sawit et al. (1999) pemanis digolongkan menjadi dua, yaitu guladan non gula. Kelompok gula meliputi gula kristal, gula bukan kristal, dan gulacair. Golongan non gula terdiri dari pemanis yang dibuat dari bahan tanaman(misalnya dari Stevia) dan pemanis sintesis seperti saccharine (sodium).2.5 Penelitian Terdahulu Meiditha (2003), menganalisis mengenai efisiensi produksi gula pasir diPG Kebon Agung. Dalam pendugaan modelnya produksi gula dipengaruhi olehtujuh faktor produksi dan satu peubah dummy. Faktor produksi tersebut terdiri daribahan baku tebu, rendemen tebu, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerjamusiman, residu dan jumlah bahan pembantu. Sedangkan variabel dummyditambahkan untuk mengetahui pengaruh dari kebijakan tataniaga gula dantataniaga impor terhadap produksi gula. Setelah dilakukan analisis regresidihasilkan lima variabel yang berpengaruh nyata, yaitu jumlah tebu, rendemen,jam mesin, tenaga kerja tetap, dan tenaga kerja musiman serta variabel dummy.
  35. 35. 19Analisis efisiensi yang dilakukan dengan membandingkan antara NPMxi denganBKMxi hanya dapat menilai tiga faktor produksi, yaitu tebu, tenaga kerja tetap,dan tenaga kerja musiman yang ketiganya dinyatakan belum efisien secaraekonomis. Sedangkan dua faktor produksi lainnya, yaitu rendemen dan jam mesintidak dapat dilihat efisiensinya karena tidak dapat diukur tingkat harganya. Hidayat (2003), menganalisis kinerja produksi dan keuangan di PT PGRajawali II Unit PG Subang. Analisis yang dilakukan antara lain: Pertama,analisis rasio untuk mengukur rentabilitas, aktivitas, dan leverage. Kedua, analisistitik impas dan analisis profitabilitas untuk mengetahui hubungan biaya produksiterhadap titik impas dan profitabilitas. Ketiga, analisis Du Pont untuk melakukanidentifikasi hubungan antara struktur biaya dengan kinerja keuangan. Hasilanalisis digunakan untuk merumuskan alternatif-alternatif perbaikan kondisiperusahaan. Kinerja keuangan PG Subang cenderung naik pada tahun 1999-2001dan menurun pada tahun 2002 untuk rentabilitas dan likuiditas. Nurrofiq (2005), menganalisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhiproduksi gula di PG Djatiroto. Dalam analisisnya terdapat enam faktor produksiyang diduga berpengaruh terhadap produksi gula di PG Djatiroto, yaitu jumlahtebu, rendemen, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, danlama giling. Dari keenam peubah tersebut hanya lima faktor produksi yangberpengaruh nyata terhadap model produksi gula di PG Djatiroto, yaitu jumlahtebu, rendemen, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, dan lama giling.Pengolahan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan model regresi yangmenganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi gula di PG Djatiroto serta rasio
  36. 36. 20NPM dan BKM untuk melihat efisiensi alokatif pabrik tersebut. Untuk perumusanmodel produksi gula dipergunakan model fungsi produksi linier berganda. Wahyuni (2007), di dalam penelitiannya terdapat enam faktor produksiyang diduga mempengaruhi produksi gula di PG Madukismo, Yogyakarta.Faktor-faktor produksi tersebut antara lain: tenaga kerja tetap, tenaga kerja tidaktetap, jumlah tebu, bahan pembantu, lama giling, dan jam mesin. Namun setelahdianalisis menggunakan model regresi, ternyata hanya ada lima faktor produksiyang berpengaruh nyata terhadap produksi gula, yaitu tenaga kerja tetap, tenagakerja tidak tetap, jumlah tebu, lama giling, dan jam mesin. Kemudian faktor-faktor tersebut diukur tingkat efisiensinya dengan melihat perbandingan antaranilai NPM dan BKM. Dalam penelitian ini, faktor-faktor produksi yang diukurtingkat efisiensinya adalah jumlah tebu, tenaga kerja tetap, dan tenaga kerjamusiman karena ketiga faktor produksi tersebut dapat diukur tingkat harganya.Dari nilai NPM dan BKM dari setiap faktor produksi dapat dijelaskan bahwapengalokasian sumberdaya dari ketiga faktor produksi belum optimal. Untukperumusan model produksi gula menggunakan model fungsi produksi linierberganda. Dari penelitian-penelitian terdahulu, dapat disimpulkan faktor-faktor yangdiduga berpengaruh terhadap produksi gula dapat dilihat dari berbagaikarakteristik, yaitu usahatani, karakteristik dalam pabrik, keadaan pasar, sertakarakteristik kebijakan. Dalam segi usahatani faktor-faktor yang biasa didugaberpengaruh terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu, dan tingkat rendemen.Dalam pabrik faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula,yaitu jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, residu, jumlah bahan
  37. 37. 21pembantu, dan lama giling. Sedangkan karakteristik di pasar berupa harga gula dipasaran (domestik dan impor) serta kebijakan pergulaan yang dikeluarkanpemerintah. Untuk penelitian yang dilakukan di pabrik gula Pagottan faktor-faktoryang diduga berpengaruh terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu, rendemen,tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, jam mesin, serta lamagiling. Pendugaan ini berasal dari penelitian-penelitian terdahulu dan pengamatanyang dilakukan di lapang. Dapat disimpulkan metode yang digunakan untukmelihat faktor-faktor yang berpengaruh, yaitu metode OLS (Ordinary LeastSquare). Model fungsi produksi yang biasa digunakan yaitu model fungsi Cobb-Douglas dan model fungsi Linier. Dalam penelitian ini digunakan metode OLS (Ordinary Least Square)dengan fungsi produksi Cobb-Douglas. Efisiensi merupakan hal penting yangperlu diperhatikan dalam peningkatan produksi gula nasional. Efisiensi dapatbermacam-macam, yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensiekonomis. Efisiensi teknis dapat diukur dengan melihat perbandingan antarapersentase kapasitas giling dengan kapasitas terpasangnya, atau dapat juga denganmengukur antara rasio bahan baku dan gula yang dihasilkannya. Efisiensi alokatifdapat diukur dengan membandingkan antara NPM dan BKM. Sedangkan efisiensiekonomis dapat dilihat dari persentase harga pokok dengan persentase hargaprovenue, nilai titik impas serta nilai kemampuan laba. Dalam penelitian ini akandicari tingkat efisien alokatifnya. Dengan efisiensi alokatif ini maka diketahuiefisiensi dari faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula,dimana efisiensi alokatif menilai pengorbanan yang dibutuhkan untuk menambahsuatu input terhadap hasil.
  38. 38. 22 III KERANGKA PEMIKIRAN3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis3.1.1 Teori Dan Fungsi Produksi Produksi merupakan kegiatan menghasilkan barang dan jasa. Untukmemproduksi barang dan jasa tersebut digunakan sumberdaya yang disebutsebagai faktor produksi (Lipsey et al, 1995). Faktor produksi seperti lahan, pupuk,tenaga kerja, modal dan sebagainya sangat berpengaruh terhadap besar kecilnyaproduksi yang diperoleh. Keputusan kombinasi penggunaan sumberdaya untukmencapai target produksi ditentukan oleh kebijaksanaan produsen. Untukmenjelaskan kombinasi-kombinasi input yang diperlukan untuk menghasilkanoutput, para ekonom menggunakan sebuah fungsi yang disebut fungsi produksi.Pappas (1995) menambahkan fungsi produksi adalah sebuah pernyataan deskriptifyang mengaitkan masukan dengan keluaran, yang memperlihatkan keluaranmaksimum yang dapat diproduksi dengan jumlah masukan tertentu. Umumnyauntuk menghasilkan output diperlukan lebih dari satu input. Secara matematisfungsi produksi dapat ditulis sebagai berikut: Y = f(X1, X2, X3,....,Xn) (1)Dimana: Y : output X1, X2, X3,....,Xn : input-input yang digunakan dalam proses produksi Dengan fungsi produksi tersebut di atas, maka hubungan Y dan X dapatdiketahui dan sekaligus hubungan X1, X2,…, Xn dan X lainnya juga dapat
  39. 39. 23diketahui. Berbagai macam fungsi produksi telah dikenal dan dipergunakan olehberbagai peneliti, tetapi yang umum dan sering dipakai (Soekartawi, 1990), yaitu:a. Fungsi Produksi Linier Secara matematis fungsi produksi linier dapat ditulis sebagai berikut: Y = f (X1, X2, X3,....,Xn)Dimana: Y : variabel yang dijelaskan (dependent variable) X : variabel yang menjelaskan (independent variable) Fungsi produksi linier dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi produksi liniersederhana dan linier berganda. Perbedaan ini terletak pada jumlah variabel X yangdipakai pada model. Fungsi produksi linier sederhana biasa digunakan untukmenjelaskan hubungan dua variabel. Model ini sering digunakan karenaanalisisnya dan hasilnya mudah dimengerti secara cepat. Sedangkankelemahannya terletak pada jumlah variabel X yang digunakan dalam model.Karena hanya satu variabel yang dimasukkan maka peneliti akan kehilanganinformasi karena ada variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. Secaramatematis dapat dituliskan sebagai berikut: Y = a + Bx + eDimana: a : intersep (perpotongan) b : koefisien regresi e : error term Untuk mengatasi masalah di atas maka peneliti biasanya menggunakanfungsi produksi linier berganda. Berbeda dengan fungsi produksi linier sederhana,
  40. 40. 24fungsi produksi linier berganda menggunakan jumlah variabel lebih dari satu.Secara matematis hal ini dapat ditulis berikut: Y = f (X1, X2, X3,....,Xn); atau Y = a + b1X1 + b2X2 + …. + biXi + … + b nXn + eDimana a, b, X,Y, dan e telah dijelaskan sebelumnya. Estimasi garis regresi linier berganda ini memerlukan bantuan asumsi danmodel estimasi tertentu sehingga diperoleh garis estimasi atau garis penduga yangbaik.b. Fungsi Produksi Kuadatrik Rumus matematik dari fungsi produksi kuadratik atau juga disebut denganfungsi produksi polynomial kuadratik biasanya dituliskan sebagai berikut: Y = a + bX + cX2 + eDimana: Y : variabel yang dijelaskan X : variabel yang menjelaskan a,b,c : parameter yang diduga e : error term Berbeda dengan garis linier (sederhana dan berganda) yang tidak memilikinilai maksimum, maka fungsi kuadratik justru mempunyai nilai maksimum.Dalam proses produksi pertanian, dimana berlaku hukum kenaikan hasil yangsemakin berkurang, maka fungsi kuadratik dapat dituliskan sebagai berikut: Y = a + bX – cX2 + ec. Fungsi Produksi Eksponensial Secara umum fungsi produksi eksponensial dapat dituliskan sebagaiberikut:
  41. 41. 25 Y = aXb (biasanya disebut fungsi Cobb-Douglas) Menurut Soekartawi (2003) fungsi Cobb-Douglas adalah suatu fungsi ataupersamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana variabel yang satudisebut dengan variable yang dijelaskan (Y), dan yang lain disebut variabel yangmenjelaskan, (X). Penyelesaian hubungan antara Y dan X adalah biasanya dengancara regresi dimana variasi dari Y akan dipengaruhi oleh variasi dari X. Dengandemikian kaidah-kaidah pada garis regresi juga berlaku dalam penyelesaian fungsiCobb-Douglas. Karena di dalam fungsi produksi eksponensial ini ada bilanganberpangkat maka penyelesaiannya diperlukan bantuan logaritma.d. Fungsi Produksi CES Fungsi produksi CES untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Arrow,dkk (1960). Fungsi ini dipakai jika berlaku asumsi atau situasi constant return toscale (CRS). Rumus matematik dari CES adalah sebagai berikut: Y = γ[δK-P + (1 - δ)L-P1-1/P]Dimana: Y : output γ : parameter efisiensi (γ > 0) δ : distribusi parameter (0 < δ < 0) K : kapital L : input tenaga kerja p : parameter substitusi (p > -1) Oleh Fletcher (1968), fungsi produksi CES tersebut dimodifikasi dan jugadipakai oleh Soskie (1968). Selanjutnya model CES yang telah di modifikasi inidilaporkan oleh Lau dan Fletcher (1969) dengan VES (variable elasticity ofsubstitution). Secara matematis fungsi VES dapat ditulis sebagai berikut:
  42. 42. 26 γ = γ [δK-p + (1 - δ)µ (KL)-C(1+p)L-p]-1/pDimana: µ dan C adalah konstan. Persamaan VES ini mempunyai cirri antara lain mempunyai produkmarjinal yang positif dan menurun ke bawah dan homogenitas. Persamaan VESini mempunyai ciri antara lain mempunyai produk marjinal yang positif danmenurun ke bawah dan homogenitas derajat satu. Sedangkan kelemahan darifungsi VES ini adalah jumlah variabel yang dipakai terbatas, yaitu hanya duavariabel. Bila digunakan lebih dari dua variabel maka penyelesaiannya akanmenjadi relatif lebih sulit.e. Fungsi Produksi Transcendental Rumus umum dari fungsi produksi transcendental adalah sebagai berikut: 1 1 1 2 2 2 Y=A 1 2 +uDimana: Y : output X : input a, b, c : parameter yang akan diduga e : bilangan konstan u : galat (disturbance term) Dalam kondisi-kondisi tertentu fungsi produksi transcendental ini akanmenjadi fungsi Cobb-Douglas. Keunggulan fungsi ini adalah dapatmenggambarkan kondisi dimana produk marjinal dapat menaik, menurun, danmenurun dalam “negatif” (negative marginal products). Sebaliknya kelemahandari fungsi ini adalah bila salah satu dari nilai X adalah nol maka fungsi tersebuttidak dapat diselesaikan karena fungsi Y menjadi nol.
  43. 43. 27f. Fungsi Produksi Translog Fungsi produksi translog dapat dituliskan sebagai berikut: log Y = log A + b1 log X1 + b2 log X2 + b3 (log X1 log X2) + uDimana: Y : output X : input b1, b2, b3 : parameter yang diduga A : parameter yang juga berfungsi sebagai intersep u : galat (disturbance term) Fungsi produksi translog ini dapat berubah bentuknya menjadi fungsiproduksi Cobb-Douglas jika parameter b tidak berbeda nyata dengan nol. Bentuk fungsi produksi dipengaruhi oleh hukum ekonomi produksi, yaitu“Hukum Kenaikan Hasil yang Semakin Berkurang (The Law of DiminishingReturn)”. Hukum ini menyatakan bahwa jika faktor produksi terus menerusditambahkan pada faktor produksi tetap maka tambahan jumlah produksi persatuan akan semakin berkurang. Hukum ini menggambarkan adanya kenaikanhasil yang negatif dalam kurva fungsi produksi. Fungsi produksi tersebut dapatdilihat pada Gambar 2. Menurut Doll dan Orazem (1984) fungsi produksi klasik dapat dibagimenjadi tiga wilayah atau tahap, masing-masing tahap tersebut penting dari segiefisiensi penggunaan sumberdaya. Tiga tahap tersebut ditunjukkan pada Gambar2. Tahap I terjadi ketika MPP lebih besar daripada APP. APP adalah peningkatanseluruh Tahap I, mengindikasikan bahwa nilai rata-rata dimana input variabel, X,ditransformasi menjadi produk, Y, meningkat hingga APP mencapai nilaimaksimum pada akhir Tahap I.
  44. 44. 28Y= output (a) (b) TPP I II III X= inputMPP, APP MPP APP I II III X= input Gambar 2 Fungsi Produksi Klasik dan Tiga Tahap Produksi Sumber: John P. Doll dan Frank Orazem, 1984 Tahap II terjadi ketika MPP menurun dan kurang dari APP, tetapi lebihbesar dari nol. Efisiensi fisik dari input variabel mencapai puncak pada awalTahap II, hal ini terjadi ketika MPP sama dengan APP, batas ini ditunjukkan olehgaris putus-putus (a). Di sisi lain, efisiensi input tetap terbesar adalah pada akhirTahap II. Hal ini dikarenakan angka unit-unit input tetap yang konstan, biasanyapada angka satu. Oleh sebab itu, output per unit dari input tetap harus menjadiyang terbesar ketika output total dari proses produksi mencapai nilai maksimum.
  45. 45. 29Tahap III terjadi dimana MPP bernilai negatif. Tahap III terjadi ketika jumlahinput variabel sudah berlebih dikombinasikan dengan input tetap yang sangatbesar, padahal total produksi sudah mulai menurun. Garis putus-putus (b) padaGambar 2. menunjukkan batas antara Tahap II dan Tahap III. Berdasarkan nilai elastisitasnya, fungsi produksi dibagi atas tiga daerah,yaitu elastisitas produksi yang lebih besar dari satu (daerah I), elastisitas produksiantara nol dan satu (daerah II), dan elastisitas produksi lebih kecil dari nol (daerahIII). Daerah produksi I mempunyai nilai elastisitas produksi lebih dari satu,artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkanpenambahan produksi lebih besar dari satu persen. Keuntungan maksimum masihbelum tercapai karena produksi masih dapat ditingkatkan dengan penggunaanfaktor produksi yang lebih banyak. Oleh karena itu, daerah I disebut daerahirrasional. Daerah II elastisitas produksinya bernilai antara nol dan satu. Hal iniberarti bahwa setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akanmenyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendahnol. Pada tingkat penggunaan faktor produksi tertentu pada daerah ini akantercapai keuntungan maksimum. Oleh karena itu, daerah ini disebut daerah yangrasional karena produsen harus menetapkan tingkat produksi yang dapat mencapaimaksimum. Elastisitas produksi pada daerah III adalah lebih kecil dari nol, yangartinya setiap penambahan faktor-faktor produksi akan menyebabkan penurunanjumlah produksi yang dihasilkan. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaianfaktor-faktor produksi yang tidak efisien. Daerah ini disebut daerah irrasional.
  46. 46. 30Produsen yang rasional akan berhenti berusaha atau berupaya mencari alternatiflain. Menurut Doll dan Orazem (1984) elastisitas produksi didefinisikan sebagaisebuah konsep yang mengukur derajat responsivitas antara input dan output.Elastisitas produksi, seperti elastisitas lainnya, tidak bergantung pada unit-unitpengukuran. Elastisitas produksi ( p) dirumuskan sebagai berikut: p =Dari sini, elastisitas produksi ditentukan menjadi: p = Y Y ÷ X X = . = Pada Tahap I, MPP lebih besar dari APP. Oleh sebab itu, p lebih besardari satu. Pada Tahap II, MPP lebih kecil dari APP sehingga p kurang dari satutetapi lebih besar dari nol. Pada Tahap III, MPP bernilai negatif sehingga pbernilai negatif. Menurut Lipsey et al (1990) ada beberapa macam nilai elastisitas baikjangka panjang maupun jangka pendek, yaitu:1. Jika nilai elastisitas sama dengan nol (E = 0), keadaan seperti ini dikatakan inelastis sempurna, dimana jumlah yang diminta atau yang ditawarkan tidak berubah dengan adanya perubahan harga.2. Jika nilai elastisitas antara nol dan satu (0 < E < 1), keadaan ini dikatakan inelastis atau tidak responsif karena jumlah yang diminta atau yang
  47. 47. 31 ditawarkan berubah dengan persentase yang lebih kecil daripada perubahan harga. Pada kondisi ini perubahan satu persen variabel indepeden menyebabkan perubahan variabel dependen kurang dari satu persen.3. Jika nilai elastisitas sama dengan satu (E = 1), keadaan seperti ini disebut unitary elastis, dimana jumlah yang diminta atau yang ditawarkan berubah dengan persentase yang sama dengan perubahan harga.4. Jika nilai elastisitas lebih dari satu (E > 1), keadaan seperti ini dikatakan elastis atau responsif karena jumlah yang diminta atau yang ditawarkan berubah dalam persentase yang lebih besar daripada perubahan harga. Pada kondisi ini perubahan satu persen variabel independen akan menyebabkan perubahan variabel dependen lebih dari satu persen.3.1.2 Konsep Efisiensi Produksi Pada umumnya efisiensi diartikan sebagai perbandingan antara nilai hasilatau output terhadap nilai masukan atau input (Lipsey et al, 1995). Suatu metodeproduksi dikatakan lebih efisien dari metode produksi lainnya apabilamenghasilkan produk yang lebih tinggi nilainya untuk nilai tingkat korbanan yangsama atau dapat mengurangi korbanan untuk memperoleh produk yang sama. Jadikonsep efisiensi merupakan konsep yang bersifat relatif (Soekartawi, 2003). Konsep efisiensi mengandung tiga pengertian, yaitu efisiensi teknis,efisiensi alokatif, dan efisiensi ekonomi. Efisiensi teknis menyatakan sejumlahproduk yang dapat diperoleh dengan penggunaan kombinasi masukan yang palingsedikit. Efisiensi teknis akan tercapai apabila di dalam mengalokasikan sumber-sumber produksi tidak terdapat barang yang dapat diproduksi tanpa keharusanuntuk mengurangi produksi barang lainnya. Efisiensi alokatif menyatakan nilai
  48. 48. 32produk marginal sama dengan oportunitas dari masukan yang berarti setiaptambahan biaya yang dikeluarkan untuk faktor produksi mampu menghasilkantambahan penerimaan yang besarnya sama dengan tambahan biaya. Produksioutput dikatakan efisien secara alokatif jika tidak ada cara lain untukmemproduksi output yang dapat menggunakan seluruh nilai input dengan jumlahyang lebih sedikit. Efisiensi teknis dan efisiensi alokatif merupakan komponendari efisiensi ekonomi (Semaoen, 1992 dalam Januarsini, 2000). Menurut Doll dan Orazem (1984) efisiensi ekonomi adalah kombinasiinput-input yang memaksimalkan tujuan individu atau sosial. Efisiensi ekonomiditentukan dalam dua syarat, yaitu syarat kebutuhan dan syarat kecukupan. Syaratkebutuhan ditemukan pada proses produksi ketika: pertama tidak mungkinmemproduksi output dalam jumlah yang sama dengan input yang lebih sedikit,dan kedua tidak mungkin memproduksi lebih banyak output dengan input yangsama. Dalam analisis fungsi produksi, syarat ini ditemukan pada Tahap II dimanajika elastisitas produksi sama dengan atau lebih dari nol dan sama dengan ataukurang dari satu (0 p 1). Berbeda dengan syarat kebutuhan yang objektif, syaratkecukupan untuk efisiensi meliputi tujuan-tujuan individu atau sosial. Kondisi efisien pada suatu perusahaan terkait dengan tujuan perusahaanpada umumnya, yaitu untuk memaksimumkan keuntungan (profit). Keuntungantersebut dapat dicapai antara lain dengan cara memanfaatkan sejumlah input padatingkat optimumnya (Gambar 2). Secara matematis penggunaan input yangoptimum dapat diturunkan dari pengurangan keuntungan dengan biaya totalnya,sesuai dengan persamaan berikut: = Py.Y – Px.X – TFC
  49. 49. 33 Dimana: : keuntungan Py : harga output Px : harga input Y : output X : input TFC : biaya input total (Total Fixed Cost) Sedangkan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimum jikadiasumsikan bahwa di suatu perusahaan tidak terdapat kendala internal, makadiisyaratkan bahwa turunan pertama dari persamaan di atas sama dengan nol. = Py Px = 0Sehingga persamaan umum menjadi: (2) = Py. MPPxi Pxi = 0 (3) Py. MPPxi = Pxi Atau (4)Dengan membagi ruas kiri dan kanan dengan Py, maka persamaan menjadi: MPPxi = (5)Dengan demikian secara matematis dapat diketahui besarnya marginal produk. Apabila harga faktor produksi tidak dipengaruhi oleh jumlah pembelian NPMXi = BKMxifaktor produksi, persamaan dapat ditulis sebagai berikut: (6) =1 (7) Untuk penggunaan lebih dari satu faktor produksi (i faktor produksi),maka keuntungan maksimum dapat dicapai jika:
  50. 50. 34 = = = =1 (8) NPM Xi BKM xi Apabila rasio < 1, maka penggunaan faktor produksi telahmelampaui batas optimal sehingga produsen yang rasional akan mengurangipenggunaan faktor produksi agar mencapai kondisi optimal. Namun di dalamkegiatan untuk mencapai keuntungan yang maksimum, pada umumnyaperusahaan akan dihadapkan oleh beberapa kendala, terutama berupa kendalainternal. Kendala tersebut dapat berupa keterbatasan modal yang dimilikiperusahaan untuk membeli faktor-faktor produksi sehingga dapat mencapaikondisi yang efisien. Jika diasumsikan perusahaan menghadapi kendala internal berupa biaya Co = i=1 xi viproduksi maka kondisi tersebut dapat ditulis dalam bentuk persamaan berikut: n (9)Dimana: C : kendala biaya xi : faktor produksi ke-i vi : harga faktor produksi ke-i i : 1,2,3,...,n Dengan melibatkan unsur kendala berupa keterbatasan modal, maka untukmencapai kondisi maksimum profit dapat digunakan pendekatan teknik optimasiklasik (clasical optimization technique). Dengan menggunakan fungsiLagrangian, maka pendapatan yang diperoleh perusahaan dapat dirumuskan L = Py + [ Co i=1 xi vi ]sebagai berikut: n (10)
  51. 51. 35Dimana: L : pendapatan perusahaan p : harga output y : jumlah output : multiplier Lagrange xi : faktor produksi ke-i vi : harga faktor produksi ke-i i : 1,2,3,...,n Sedangkan untuk mencapai kondisi keuntungan maksimum, makadisyaratkan turunan pertama dari persamaan (10) terhadap variabel X dan =p v =0multiplier Lagrange ( ) sama dengan nol. Sehingga persamaan umum menjadi: (11) = C x v =0 (12)Dimana: : Marjinal produk dari xi : Nilai Produk Marjinal dari xiDari persamaan (11) dan (12), maka diperoleh persamaan sebagai berikut: = NPMxi vi (13) Jika di dalam produksi digunakan lebih dari 1 faktor produksi (i faktorproduksi), maka dapat diperoleh persamaan sebagai berikut: = = NPMx1 NPMx2 NPMxi v1 v2 vi (14)
  52. 52. 36 Jika diasumsikan bahwa harga faktor produksi tidak dipengaruhi olehjumlah pembelian faktor produksi, maka persamaan (14) dapat dinyatakan dalambentuk: = = = (15) Sehingga dapat diketahui bahwa dengan adanya kendala tertentu di NPM Xi BKM xiperusahaan kondisi efisien tidak lagi mutlak terjadi pada saat = 1, namun NPM Xi BKM xidapat terjadi pada saat = , dengan lamda ( ) adalah suatu nilai tertentu.3.2 Kerangka Pemikiran Operasional PG Pagottan merupakan salah satu pabrik gula terbesar di Jawa Timur.Luas lahan HGB (Hak Guna Bangunan) PG Pagottan adalah 225.891 m2.Kegiatan utama pabrik ini adalah memproduksi gula. Pabrik ini diindikasikanmengalami masalah dalam penggunaan faktor-faktor produksi. Pabrik tersebutmempunyai rata-rata produktivitas tebu per periode yang cukup besar, yaitu 75,8ton per hektar selama tahun 2001 sampai 2007. Namun untuk rata-rata rendemendan produktivitas gula per periode dinilai masih rendah, yaitu sebesar 7,50 persendan 5,69 ton per hektar (Lampiran 3). Berdasarkan studi terdahulu, teori-teori serta pengamatan di lapang makaproduksi gula di Pabrik Gula Pagottan diperkirakan dipengaruhi oleh beberapavariabel, yaitu jumlah tebu yang dipasok ke pabrik baik dari tebu rakyat maupuntebu sendiri (tebu dari lahan sewa ke petani), rendemen tebu, jam mesin, tenagakerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dugaanpengaruh variabel tersebut terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu diduga
  53. 53. 37berpengaruh secara positif karena dengan semakin banyaknya tebu yang akandigiling maka jumlah gula yang akan dihasilkan juga semakin banyak. Rendemen tebu diduga berpengaruh positif, dengan semakin tinggirendemen tebu maka jumlah gula yang dihasilkan juga akan semakin banyak. Jammesin diduga berpengaruh positif karena jika jumlah jam mesin yang tinggi makagula yang dihasilkan juga semakin banyak. Tenaga kerja tetap dan tenaga kerjamusiman diduga berpengaruh positif terhadap produksi gula, secara umumsemakin banyak tenaga kerja maka semakin banyak produksi gula yangdihasilkan. Jumlah bahan pembantu diduga berpengaruh positif terhadap produksigula karena dengan semakin banyak jumlah bahan pembantu yang digunakanmaka kotoran-kotoran yang menganggu dalam proses produksi semakin sedikitdan proses produksi semakin cepat sehingga gula yang dihasilkan juga akansemakin banyak. Sedangkan lama giling diduga berpengaruh negatif terhadapproduksi gula karena semakin lama waktu giling maka rendemen akan semakinturun dan selanjutnya produksi gula akan menurun.
  54. 54. 38PG Pagottan merupakan salah satu pabrik gula yang memiliki kapasitasgiling besar di bawah PTPN XI. Rendemen tebu yang dihasilkan masih rendah. Terjadi inefisiensi terhadap penggunaan faktor- faktor produksi.Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula:Karakteristik Usahatani: Karakteristik Pabrik:1. Jumlah tebu 1. Tenaga kerja tetap2. Rendemen 2. Tenaga kerja musiman 3. Lama giling Model Fungsi Produksi Cobb-Douglas dengan pendugaan OLS. Analisis Elastisitas Analisis Efisiensi Efisiensi Produksi Gula di PG Pagottan Gambar 3 Bagan Kerangka Pemikiran Operasional
  55. 55. 39 IV METODE PENELITIAN4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di PG Pagottan, Madiun, Jawa Timur.Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbanganbahwa pabrik gula ini merupakan salah satu pabrik gula terbesar di Jawa Timuryang masih dapat beroperasi dengan baik di saat banyak pabrik gula yang tutupsehingga pabrik ini sangat berpotensi membantu penyediaan kebutuhan gulanasional. Penyusunan rencana penelitian (proposal penelitian) dilakukan pada BulanMaret 2008 sampai dengan Bulan April 2008. Selanjutnya pengumpulan data dilapang berlangsung mulai Bulan Mei 2008. Kegiatan pengolahan data danpenyusunan skripsi dilakukan mulai Bulan Juni sampai Agustus 2008.4.2 Sumber dan Jenis Data Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan berupa data primer dan datasekunder. Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunderdiperoleh dari catatan atau dokumen yang terdapat di Pabrik Gula Pagottan danlembaga-lembaga lain yang terkait. Data sekunder yang merupakan data timeseries (deret waktu) terdiri dari data output dan input sejak tahun 2001 sampaitahun 2007 serta harga input dan output rata-rata di PG Pagottan dari tahun 2001-2007. Sedangkan untuk data primer diperoleh dari wawancara terhadapadministratur, kepala bagian, karyawan pabrik, dan petani serta pengamatan
  56. 56. 40langsung untuk mendapatkan informasi tambahan. Secara terperinci jenis datayang dibutuhkan dapat dilihat pada Tabel 4.Tabel 4 Jenis dan Sumber Data Penelitian Keterangan Jenis Data Sumber a. Sejarah Umum Pabrik b. Tinjauan Geografis dan Iklim c. Perkembangan Pabrik Gambaran Umum Perusahaan Pabrik Gula Pagottan d. Proses Produksi Gula e. Struktur Organisasi Perusahaan Output a. Produksi Gula b. Produktivitas Gula c. Harga Gula Input a. Produksi Tebu Data Output dan Input b. Rendemen Tebu Pabrik Gula Pagottan c. TK Tetap d. TK Musiman e. Bahan Pembantu f. Lama Giling g. Harga Tebu h. Gaji TK Tetap i. Upah TK Musiman4.3 Metode Analisis Data Data dan informasi yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dankuantitatif. Pengolahan secara kualitatif digambarkan dengan perkembanganperusahaan secara umum, proses produksi serta sistem agribisnis gula.Pengolahan kuantitatif menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas untukmenganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula di Pabrik Gula NPMx1 BKMx1Pagottan serta rasio untuk melihat efisiensi alokatif pabrik tersebut. Bentukmodel fungsi produksi yang digunakan untuk membuat fungsi produksi gulaadalah model fungsi produksi Cobb-Douglas. Model ini dipilih karena fungsiproduksi Cobb-Douglas merupakan model yang umum digunakan dalam
  57. 57. 41penelitian ekonomi selain itu menurut Soekartawi (2003) terdapat tiga alasanpokok mengapa fungsi produksi Cobb-Douglas lebih banyak dipakai oleh parapeneliti, yaitu: Pertama, penyelesaian fungsi produksi Cobb-Douglas relatif lebihmudah dibandingkan dengan fungsi yang lain, seperti fungsi kuadratik karenafungsi Cobb-Douglas dapat dengan mudah ditransfer ke bentuk linier. Kedua,hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb-Douglas akan menghasilkan koefisienregresi yang sekaligus juga menunjukkan besaran elastis. Ketiga, besaranelastisitas tersebut sekaligus menunjukkan tingkat besaran return to scale. Namunkarena penyelesaian fungsi Coob-Douglas selalu dilogaritmakan dan diubahbentuk fungsinya menjadi fungsi linear, maka ada beberapa persyaratan yangharus dipenuhi sebelum peneliti menggunakan fungsi Cobb-Douglas. Persyaratanini antara lain:a. Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol. Sebab logaritma dari nol adalah suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui (infinite).b. Dalam fungsi produksi, perlu asumsi bahwa tidak ada perbedaan teknologi pada setiap pengamatan (non-neutral difference in the respective technologies). Ini artinya jika fungsi Cobb-Douglas yang dipakai sebagai model dalam suatu pengamatan dan diperlukan analisis lebih dari satu model (dua model) maka perbedaan model tersebut terletak pada intercept dan bukan pada kemiringan garis (slope) model tersebut.c. Tiap variabel X adalah perfect competition.d. Perbedaan lokasi (pada fungsi tersebut) seperti iklim adalah sudah tercakup pada faktor kesalahan, u.
  58. 58. 42 Fungsi produksi Cobb-Douglas untuk produksi gula dapat dituliskansebagai berikut: i=1 Xi 7 bi Y= euDimana: Y : jumlah hasil produksi (kuintal) Xi : faktor produksi ke-i i : 1,2,3,…,7 X1 : jumlah tebu (ton) X2 : rendemen (persen) X3 : jam mesin (jam) X4 : tenaga kerja tetap (orang) X5 : tenaga kerja musiman (orang) X6 : bahan pembantu (ton) X7 : lama giling (hari) : intersep u : error term (galat) 1, 2,..., 6 : nilai dugaan besaran parameter Untuk variabel independent seperti jumlah tebu giling ( 1>0), rendemen 2>0), jam mesin ( 3>0), tenaga kerja tetap ( 4>0), tenaga kerja musiman ( 5>0),bahan pembantu ( 6>0) diduga berpengaruh positif terhadap produksi gula,artinya setiap penambahan satu satuan dalam variabel-variabel tersebut akanmenambah jumlah tertentu (satuan) variabel produksi gula di pabrik. Sedangkanuntuk lama giling ( 7<0) diduga berpengaruh negatif terhadap produksi gula,artinya setiap penambahan jumlah hari giling dalam periode optimal (170-180hari) akan mengurangi jumlah produksi gula di pabrik. Sebelum dilakukan analisis lanjutan, maka harus dilakukan pemilihanfungsi produksi Cobb-Douglas terbaik, yang sesuai untuk data produksi yang
  59. 59. 43tersedia. Pemilihan fungsi tersebut antara lain didasarkan pada asumsi OLS.Asumsi pertama dari model regresi adalah suatu model dikatakan baik jikamemenuhi asumsi normalitas. Normalitas menunjukkan bahwa residu atau sisadiasumsikan mengikuti distribusi normal. Pengujian ini dapat dilihat melaluigrafik yang dihasilkan output komputer. Apabila tebaran sisaan membentuk suatugaris lurus maka asumsi ini terpenuhi. Asumsi OLS lain yang harus terpenuhiadalah bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas di dalam fungsi. Gejalamultikolinearitas tersebut dapat ditunjukkan oleh nilai Variance Inflation Factor(VIF). Menurut Kleinbaum dalam Meidhita (2003) tingkat multikolinearitas yangtinggi ditunjukkan oleh nilai VIF yang lebih besar dari 10. Nilai VIF tersebutdapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 1 (1 ) VIFxj =Dimana: R2 VIFxj : Variance Inflation Factors peubah bebas ke-j j : nilai koefisien determinasi pada xj yang merupakan fungsi dari peubah bebas lainnya Selain itu suatu fungsi dikatakan baik apabila telah memenuhi asumsi OLSyang lain, yaitu tidak terdapat gejala autokorelasi. Autokorelasi dapatdidefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yangdiurutkan menurut waktu seperti dalam data time series atau ruang seperti dalamdata cross-sectional (Gujarati, 1991). Salah satu metode yang dapat digunakanuntuk menguji gejala autokorelasi tersebut adalah dengan menggunakan UjiDurbin-Watson (Gujarati, 1991) yang dapat diperoleh dari pengolahan datadengan menggunakan program Minitab 14. Pada output komputer dapat dilihat
  60. 60. 44apabila nilai Durbin watson mendekati dua maka tidak terjadi masalahautokorelasi (Pappas, 1995). Suatu fungsi dikatakan baik apabila memenuhi asumsi homoskedastisitas(ragam error yang sama). Untuk dapat membuktikan kesamaan varians(homoskedastisitas) secara visual dengan cara melihat penyebaran nilai-nilairesidual terhadap nilai-nilai prediksi. Jika penyebarannya tidak membentuk polatertentu seperti meningkat atau menurun, maka keadaan homoskedastisitasterpenuhi. Model terbaik juga dapat dilihat dari nilai MSE yang merupakan akar darierror term. Semakin kecil nilai MSE maka semakin baik suatu model karenaselisih jarak antara nilai aktual dan nilai model semakin kecil. Suatu fungsi produksi dikatakan semakin baik apabila memiliki nilaikoefisien determinasi (R2) yang semakin tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwasemakin tinggi nilai koefisien determinasi persamaan maka faktor-faktor produksidi dalam persamaan model fungsi produksi semakin berpengaruh terhadap hasilproduksi. Dari fungsi produksi dugaan terbaik yang telah diperoleh sebelumnya,maka dapat diketahui apakah faktor-faktor produksi telah dimanfaatkan secaraefisien. Yaitu dengan menghitung rasio antara nilai produk marjinal dan biayakorbanan marjinal untuk faktor produksi tertentu. Di dalam fungsi produksi Cobb-Douglas besarnya produk marjinal faktorproduksi ke-i (MPPxi) adalah (Heady dalam Meiditha, 2003): Y Xi MPPxi = Y i Xi = i
  61. 61. 45Dimana: MPPxi : produk marjinal faktor produksi ke-i Xi i : nilai dugaan parameter ke-i Y* : nilai dugaan output : rata-rata geometri faktor produksi ke-i i : 1,2,3,...,7 Untuk mengetahui apakah rasio tersebut sudah memenuhi kondisi efisien,maka diperlukan pengujian rasio tersebut secara statistik, yaitu dengan menguji NPMx1 BKMx1apakah nilai secara signifikan berbeda dari satu. Apabila nilai rasio yangdihasilkan lebih besar atau kurang dari satu maka faktor produksi yang digunakanbelum efisien, namun jika nilai rasionya sama dengan satu berarti faktor produksiyang digunakan sudah efisien.4.4 Pengukuran Variabel Konsep pengukuran variabel yang dipakai dalam penentuan pendugaanfungsi produksi gula ini terdiri dari variabel bebas (independent variable) danvariabel tidak bebas (dependent variable). Produksi gula merupakan variabel takbebas, yaitu peubah yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dalam model.Sedangkan variabel bebas adalah variabel yang tidak dipengaruhi oleh faktor laindalam model, seperti jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap,tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dalam menganalisis efisiensi produksi gula, variabel-variabel yang diukuradalah:

×