Imunisasi tumbuh kembang 1

3,885 views

Published on

Published in: Education
  • Be the first to comment

Imunisasi tumbuh kembang 1

  1. 1. Skenario 2 Bagaimana imunisasi pada anak saya ?...
  2. 2. Keyword  Ny. An inpartu  Prematur  Bblr 1800gr  hbsAg (+)  Ny. Es inpartu  Bblcb 2700gr  Ibu tb paru aktif 1 bulan  Imunisasi
  3. 3. Klarifikasi istilah  BBLR : berat bayi lahir rendah, setiap bayi baru lahir dengan berat badan kurang atau sama dengan 2500gr  Inpartu : seorang wanita yang sedang dalam keadaan persalinan  Pervagina : persalinan yang dimulai secara sepontan beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama proses persalinan.
  4. 4.  BBLCB : partus matur atau aterm dengan masa kehamilan 37-42 minggu atau janin matur dengan BB 2500-4000gr.  Imunisasi : imunisasi dan vaksinasi sering diartikan sama , imunisasi adalah suatu pemindahan antibodi secara pasif, vaksinasi sebagai pemberian vaksin yang dapat dirangsang pembentukan imunitas dari sistem imun di dalam tubuh.  HbsAg : merupakan parameter untuk mengetahui atau sebagai penanda awal apakah seorang terinfeksi hepatitis B.
  5. 5. Rumusan masalah Apa tujuan dari imunisasi ?  Apa penyebab kehamilan prematur ?  Adakah pengaruh ibu bermasalah dengan BBL ?  Apakah anak bisa tertular dari ibu hepatitis B dan TB paru positif ?  Apa yang harus dilakukan dokter pada anak ny. An dengan kehamilan prematur, BBLR 1800gr, dan ibu HBSAg (+)?  Bagaimana penatalaksanaan awal untuk anak dari ibu TB paru positif ?  Bagaimana jadwal imunisasi kdua anak tersebut?  Apa dampak jika tidak dilakukan pencegahan pada kedua bayi tersebut?  Pemeriksaan penunjang apa yang bisa dilakukan untuk kedua anak tersebut?
  6. 6. Hipotesis  Apa tujuan dari imunisasi ? jawab : untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat, menurunkan prevalensi penyakit, membuat kekebalan tubuh, eradikasi penyakit.  Apa penyebab kehamilan prematur ? jawab : faktor ibu ( nutrisi, infeksi, preklamsi, penyalahangunaan obat2an,ketuban pecah dini,insufisiensi placenta, faktor fetal : kehamilan ganda atau multiple, distress janin, eritoblastosis, hidrop fetalis faktor placenta ( previa ), solusio
  7. 7.  Adakah pengaruh ibu bermasalah dengan BBL ? jawab : ada, karena BBLR dapat terinfeksi dari ibu  Apakah anak bisa tertular dari ibu hepatitis B dan TB paru positif ? jawab ? Bisa, hepatitis B: cairan tubuh, darah ibu saat melahirkan TB paru : placenta, menghirup amnion yang tercemar atau melalui pernafasan setelah bayi lahir.
  8. 8.  Apa yang harus dilakukan dokter pada anak ny. An dengan kehamilan prematur, BBLR 1800gr, dan ibu HBSAg (+)? jawab : saat lahir segera berikan vaksin hepatitis B dan HBIG 0,5ml IM kurang dari 12 jam.  Bagaimana penatalaksanaan awal untuk anak dari ibu TB paru positif ? jawab :, hanya beri INH 5 mg/kg sekali sehari oral, 8 minggu baru test mantoux, tb positif beri OAT, segera lakukan pemeriksaan anatomi placenta
  9. 9.  Bagaimana jadwal imunisasi kedua anak tersebut? jawab : anak dari ibu hepatitis B : kurang dari 12 jam saat lahir, 1-2 bulan setelah vaksin pertama, 3-6 bulan,, butuh dosis HB 1, Hb 2, Hb 3, Hb 4, - < 2000gr samapai 4 kali pemberian vaksin, periksa HbsAg pada usia 9-15 bulan. - ulangan umur 5 tahun dan 19 tahun - jika anti HbsAg <10 dilakukan booster
  10. 10.  Apa dampak jika tidak dilakukan pencegahan pada kedua bayi tersebut? jawab : ibu TB : bayi terkena TB sekitar 50% pada tahun pertama yang disebut sebagai tuberkolisis prenatal, kematian akibat Tb kongenital yang tidak terobati - ibu hepatitis B : 9-10 bayi yang dilahirkan akan menjadi karier selama hidupnya jika tidak mendapat vaksinasi, ada masalah pada livernya - infeksi hepatitis kronis  Pemeriksaan penunjang apa yang bisa dilakukan untuk kedua anak tersebut? jawab : tes HbsAg, tes TB, tes foto thorax, shake test, darah rutin, analisis gas darah,histologi lambung, aspirasi lambung
  11. 11.  Bagaimana prognosis untuk anak tersebut? jawab : - baik jika ada penanganan dini
  12. 12. LO  Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami imunisasi ( definisi,syarat, manfaat,jadwal,jenis ( combo ) dan tata cara : penyimpanan, persiapan alat, transportasi, teknik safe injection, pencatatan dan pelaporan ), isi, kontraindikasi, teknik .  Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami bayi lahir dari ibu bermasalah  Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami dasar imunologi vaksinasi  Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami imunokompremise yang mempengaruhi vaksinasi
  13. 13. Imunisasi Risyuana Ulfa Cholily
  14. 14. Definisi  Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit  Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal pada bayi yang baru lahir sampai usia satu tahun untuk mencapai kadar kekebalan diatas ambang perlindungan. (Depkes RI, 2005) Definisi Definisi
  15. 15. Tujuan  Tujuan umum : yakni untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi akibat Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Penyakit dimaksud antara lain : Difteri, Tetanus, Pertusis(batuk rejam), Measles (campak), Polio dan Tuberculosis
  16. 16.  Tujuan khusus : a) Tercapainya target Universal Child Immunization (UCI), yaitu cakupan imunisasi lengkap minimal 80% secara merata pada bayi di 100% desa Kelurahan pada tahun 2010.
  17. 17. b) Tercapainya ERAPO (Eradiksi Polio), yaitu tidak adanya virus polio liar di Indonesia yang dibuktikan dengan tidak ditemukannya virus polio liar pada tahun 2008. c) Tercapainya ETN (Eliminasi Tetanus Neonatorum), artinya menurunkan kasus TN sampai tingkat 1 per 1000 kelahiran hidup dalam 1 tahun pada tahun 2008
  18. 18. d) Tercapainya RECAM (Reduksi Campak), artinya angka kesakitan campak turun pada tahun 2006.
  19. 19. Manfaat 1. Untuk anak, bermanfaat mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit menular yang sering berjangkit 2. Untuk keluarga, bermanfaat menghilangkan kecemasan serta biaya pengobatan jika anak sakit 3. Untuk negara, bermanfaat memperbaiki derajat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara (Depkes RI, 2001)
  20. 20. Syarat  Menurut Depkes RI (2005) : 1. Diberikan pada bayi atau anak yang sehat 2. Vaksin yang diberikan harus baik 3. Disimpan di lemari es dan belum lewat masa berlaku 4. Pemberian imunisasi dengan teknik yang tepat 5. Mengetahui jadwal imunisasi dengan melihat umur dan jenis imunisasi yang diterima 6. Meneliti jenis vaksin yang diberikan 7. Memberikan dosis yang sesuai 8. Mencatat nomer batch pada buku anak atau kartu imunisasi serta memberikan informent concent kepada orang tua atau keluarga sebelum melakukan tindakan imunisasi yang sebelumnya telah dijelaskan kepada orang tua apa manfaat dan efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi yang timbul setelah pemberian imunisasi.
  21. 21. Keadaan yang tidak boleh memperoleh imunisasi  Sakit keras  Keadaan fisik lemah  Dalam masa tunas suatu penyakit  Sedang mendapat pengobatan dengan kortikosteroid atau obat imunosupresif
  22. 22. Jadwal imunisasi
  23. 23. Jadwal imunisasi  BCG Imunisasi BCG diberikan optimal pada usia 2-3 bulan. Dosis untuk bayi dan anak < 1 tahun adalah 0,05 ml. cara pemberian intrakutan di daerah insersio M. deltoideus kanan.
  24. 24.  Hepatitis B Diberikan sedini mungkin setelah lahir. Pemberian imunisasi hepatitis B harus berdasarkan status HBsAg ibu pada saat melahirkan sebagai berikut : A. Bayi lahir dari ibu dengan status HBsAg yang tidak diketahui. Diberikan vaksin rekombinan (HB Vax-II 5 µg atau energerix B 10 µg) atau vaksin plasma derived 10 µg, IM , dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan umur 1-2 bulan dan dosis ketiga umur 6 bulan. Apabila pada pemeriksaan selanjutnya diketahui ibu HbsAg-nya positif, segera berikan 0,5 ml HBIG (sebelum 1 minggu)
  25. 25. B. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif dalam waktu 12 jam setelah lahir, secara bersamaan, diberikan 0,5 ml HBIG dan vaksin rekombinan, IM di sisi tubuh yang berlainan. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan sesudahnya dan dosis ketiga diberikan pada usia 6 bulan. C. Bayi lahir dari ibu dengan HBsAg negatif diberikan vaksin rekombinan atau vaksin plasma derived secara IM , pada umur 2-6 bulan. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan kemudian dan dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah imunisasi pertama.
  26. 26.  DPT Imunisasi DPT dasar diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan dengan interval 4-6 minggu. 1. DPT 1 diberikan pada umur 2-4 bulan 2. DPT 2 pada umur 3-5 bulan 3. DPT 3 pada umur 4-6 bulan. Ulangan (DPT4) selanjutnya diberikan satu tahun setelah DPT 3 yaitu pada umur 18-24 bulan dan DPT 5 pada saat masuk sekolah umur 5-7 tahun (BIAS). Ulangan DT 6 diberikan pada umur 12 tahun, mengingat masih dijumpai defteri pada umur .> 10 tahun
  27. 27.  Polio  Polio-0  saat bayi baru lahir akan dipulangkan dr rs  Polio- 2, 3, 4  usia 2, 4, 6 bulan; interval antar 2 imunisasi tidak kurang dr 4 minggu  Imunisasi polio ulangan  1 th sejak imunisasi polio-4  selanjutnya saat masuk sekolah usia 5-6 th  Bila terlambat, jangan mengulang vaksinasi dr awal, tetap lanjutkan dan lengkapi vaksinasi sesuai jadwal, tanpa melihat jarak waktu dari pemberian sebelumnya
  28. 28.  Campak Diberikan pada umur 9 bulan , dalam satu dosis 0,5 ml sub-kutan dalam. Pemberian vaksin campak ulangan pada saat masuk sekolah dasar (5-6 tahun).
  29. 29.  MMR  Vaksin I  usia 15-18 bln, min interval 6 bulan dgn imunisasi campak (usia 9 bln)  Dosis 0,5 ml subkutan  Diberikan minimal 1 bulan sebelum atau sesudah imunisasi lain  MMR-2 diberikan pd usia 6 th
  30. 30.  Hib (H. influenzae tipe B) Diberikan sejak umur 2-4-6 bl, ulangan pada 18 bulan, Dosis: 0,5 ml secara intramuskular. Bila anak belum pernah vaksinasi Hib, datang pada usia 1-5 th  Hib hanya diberikan 1x
  31. 31.  Pneumokokus Terdapat 2 jenis vaksin : 1. Polisakarida murni  23 serotipe - “pneumococcus polysaccharide vaccine” (PPV23) - Imunitas jangka pendek : Pneumo-23 (sanofi p) 2. Polisakarida konjugasi  pneumococcal conjugate vaccine” - 7 serotipe  PCV7 - 10 serotipe  PCV10 - imunitas jangka panjang : Prevenar,
  32. 32.  Vaksin PCV diberikan sjk usia 2 bln – 9 th, Dosis pertama tdk diberikan sebelum usia 6 minggu. Bayi BBLR ( 1500g)  diberikan usia kronologis 6-8 mgg, tanpa memperhatikan usia kehamilan
  33. 33.  Hepatitis A  Umur > 2 tahun, dosis  2-12 tahun 720 U ~ 0,5 ml  > 19 tahun 1440 U ~ 1 ml  2 dosis, ulangan 6 -12 bulan berikutnya
  34. 34.  Varisella  Diberikan usia 1 th, dosis 0,5 ml, subkutan, 1x Anak yg kontak dgn pasien varisela  dapat mencegah bila diberikan < 72 jam setelah kontak usia > 13 th / dewasa  diberikan 2x dng jarak 4- 8 minggu
  35. 35.  Rotavirus  Monovalen dan Pentavalen ( 5 strain virus)  Dosis :  Monovalen : oral 2x, dosis pertama usia 6-14 mgg, dosis kedua minimal interval 4 minggu. Tidak melampaui usia 24 minggu  Pentavalen : oral 3x, dosis pertama usia 6-12 mgg, interval dr ke-2 dan ke-3 adalah 4-10 mgg, diberikan pd usia < 32 mgg (interval min 4 mgg)
  36. 36. Jenis – Jenis Imunisasi dan Kombo Gita Risti Novianti 201110330311013
  37. 37. Vaksin BCG Berasal dari kuman Bacillus Calmette Guerin yg telah dilemahkan ; Memberikan kekebalan terhadap penyakit TBC DPT Berasal dari kuman Bordetella Pertusis yg telah dimatikan ; Memberikan kekebalan terhadap penyakit Difteria pertusis dan Tetanus Hepatitis B Berasal dari protein kuman hepatitis B; Melindungi anak dari virus hepatitis B yang dapat menginfeksi hati Campak Berasal dari virus yang dilemahkan; Memberikan kekebalan terhadap penyakit campak Polio Berasal dari kuman yg dilemahkan ; Memberikan kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis Influenza Bertujuan untuk memberikan kekebalan bagi tubuh terhadap serangan virus influenza
  38. 38. Vaksin MMR Virus yang dilemahkan Hepatitis A Strain hepatitis A inaktivasi ; HPV melindungi terhadap dua jenis virus penyebab penyakit menular seksual yang merupakan penyebab paling umum kanker serviks
  39. 39. Jadwal Imunisasi
  40. 40. Vaksin Kombo  Vaksin Kombo merupakan gabungan beberapa antigen tunggal menjadi satu jenis produk antigen untuk mencegah penyakit yang berbeda. Misalnya vaksin kombinasi DPT/Hb adalah gabungan antigen D-P-T dengan antigen Hb untuk mencegah penyakit difteria, pertusis, tetanus, dan Hb.
  41. 41. Mengapa ada Vaksin Kombinasi?  Alasan utama pembuatan vaksin kombinasi adalah : 1. Kemasannya lebih praktis dibandingkan dengan vaksin monovalen, sehingga mempermudah pemberian maka dapat meningkatkan vakupan imunisasi 2. Mengurangi frekuensi kunjungan ke fasilitas kesehatan sehingga mengurangi biaya pengobatan 3. Untuk mengejar imunisasi yang terlambat.
  42. 42. 4. Memudahkan menambah vaksin baru ke dalam program imunisasi yang telah ada.
  43. 43. Vaksin Kombinasi
  44. 44.  Indikasi : Vaksin ini digunakan untuk pencegahan terhadap difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B, dan infeksi Haemophilus influenzae tipe B secara stimultan.  Cara Pemberian: disuntikkan secara im pada anterolateral vastus lateralis  Jadwal imunisasi : tidak diberikan pada BBL, vaksin ini efektif aman digunakan bersamaan dengan vaksin BCG, campak, polio, vitamin A, yellow fever.  Efek samping : KIPI yang terjadi tidak berbeda secara bermakna dengan vaksin yang diberikan secara terpisah.
  45. 45.  Kontraindikasi : Hipersensitif Pada dosis pertama DPT mis. Kejang yg KI trhdp komponen pertusis diganti dengan vaksin DT saja, sedangkan vaksin Hep. B dan HiB diberikan secara terpisah  Penyimpanan : Harus disimpan dan ditransportasikan pada suhu antara +2 dan 8 derajat celcius.
  46. 46. LOKASI PENYUNTIKAN &TEKNIK PENYUNTIKAN  Jarum suntik harus disuntikkan dengan sudut 45°-60° ke otot vastus lateralis atau otot deltoid.  Pada otot vastus, jarum diarahkan ke lutut, pada deltoid jarum diarahkan ke pundak.  Otot vastus lateralis dipakai pada bayi <12 bulan
  47. 47. BCG  Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan dengan 4 ml pelarut NaCl 0,9%. Melarutkan dengan menggunakan alat suntik steril dengan jarum panjang.  Dosis pemberian 0,05 ml pada neonatus dan 0,1 pada usia 2-3 bulan, sebanyak 1 kali IC.
  48. 48. POLIO  Sebelum digunakan pipet penetes harus dipasangkan pada vial vaksin.  Diberilan secara oral, 1 dosis adalah 2 (dua) tetes sebanyak 4 kali (dosis) pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu.  Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang baru.  Di unit pelayanan statis, vaksin polio yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 2 minggu dengan ketentuan :  vaksin belum kadaluarsa  vaksin disimpan dalam suhu 2 derajat Celcius sampai dengan 8 derajat Celcius  tidak pernah terendam air  sterilitasnya terjaga  VVM (Vaksin Vial Monitor)
  49. 49. DPT  Pemberian dengan cara intra muskuler 0,5 ml pada tengah pangkal paha.  Diberikan pada bulan ke 2, 4, 6, 18, tahun ke 5, dan 12.  Dalam pelayanan di unit statis, vaksin yang sudah dibuka dapat dipergunakan paling lama 4 minggu dengan penyimpanan sesuai ketentuan.  Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari.
  50. 50. HEPATITIS  Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen.  Sebelum disuntikkan, kondisikan vaksin hingga mencapai suhu kamar.  Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1(buah) HB, pemberian suntikkan secara intra muskuler, sebaiknya pada anterolateral paha.  Pemberian sebanyak 3 dosis.  Dosis pertama diberikan pada usia <12 jam, kedua pada usia 2 bulan dan yang ketiga pada usia 6 bulan.  Di unit pelayanan statis, vaksin HB yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu.Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah
  51. 51. CAMPAK  Sebelum disuntikkan vaksin Campak terlebih dahulu harus dilarutkan dengann pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut aquabidest.  Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan atas, pada usia 9- 11 bulan. Dan ulangan (booster) pada usia 6-7 tahun (kelas 1 SD) setelah cath-up campaign Campak pada anak Sekolah Dasar kelas 1-6.  Vaksin campak yang sudah dilarutkan hanya boleh digunakan maksimum 6 jam.  Efek samping dapat berupa demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah
  52. 52. Pelayanan Imunisasi Tambahan Pencatatan dan Pelaporan Widya Wahyuningtias 201110330311111
  53. 53. Pencatatan dan Pelaporan Definisi : Pencatatan dan pelaporan imunisasi adalah pencatatan dan pelaporan data program imunisasi, meliputi hasil cakupan imunisasi, data logistik, dan inventaris peralatan imunisasi dan kasus yang diduga KIPI atau KIPI
  54. 54. Pencatatan dan Pelaporan Manfaat : 1. Memantau hasil kegiatan dan mengambil tindakan koreksi secara cepat terutama pada tingkat puskesmas dan kabupaten/kota 2. Memantau distribusi serta efiisiensi penggunaan logistik 3. Membuat analisis untuk perbaikan program dan perencanaan 4. Sebagai pertanggungjawaban akuntabilitas program
  55. 55. Pencatatan  Pelayanan Luar Gedung (Tingkat Desa)  Data cakupan imunisasi  Pelayanan Dalam Gedung (Tingkat Puskesmas)  Data cakupan imunisasi  Data rekapitulasi pelayanan imunisasi  Data Vaksin dan Logistik Lainnya  Data Suhu Lemari Es
  56. 56. Pelaporan Cakupan imunisasi rutin setiap bulan dari puskesmas ke kabupaten/kota, provinsi, pusat  UCI desa dilaporkan dalam periode satu tahun  Cakupan imunisasi dan pemakaian vaksin dan logistik BIAS  Laporan pemakaian vaksin dan logistik  Laporan keadaan rantai vaksin  Kasus KIPI atau diduga KIPI
  57. 57. Pelaporan KIPI  Identitas anak lengkap dan jelas  Jenis vaksin yang diberikan, dosis, nomor batch, siapa yang memberikan. Vaksin sisa disimpan dan diperlakukan seperti vaksin utuh (perhatikan cold chain)  Nama dokter yang bertanggung jawab  Riwayat KIPI pada imunisasi terdahulu
  58. 58.  Gejala klinis yang timbul dan atau diagnosis. Pengobatan yang diberikan dan perjalanan . Hasil laboratorium, penyakit lain  Waktu pemberian imunisasi  Saat timbulnya KIPI hingga diketahui, berapa lama interval waktu antara pemberian imunisasi dengan terjadinya KIPI, lama gejala KIPI.  Apakah terdapat gejala sisa, setelah dirawat dan sembuh  Bagaimana cara menyelesaikan masalah KIPI  Adakah tuntutan dari keluarga
  59. 59. Bayi lahir dari ibu yang bermasalah
  60. 60. Definisi  Bayi Baru Lahir yang terlahir dari Ibu yang bermasalah menderita suatu penyakit sebelum, selama hamil, atau pada saat menghadapi proses persalinan.
  61. 61. penyakit  kecurigaan infeksi intra uterin, Hepatitis B, Tuberkulosis, Diabetes Mellitus, Sifilis,  dan HIV yang tampaknya jumlah penderita semakin meningkat serta Ibu dengan  kecanduan Obat.
  62. 62. Tanda tanda ibu mengalami infeksi  Ibu mengalami panas tubuh lebih atau sama dengan 38 C selama proses  persalinan sampai 3 hari pasca persalinan,  Cairan ketuban hijau keruh apalagi berbau busuk,  Cairan ketuban pecah 18 sampai 24 jam sebelum bayi lahir, Atau pecah pada saat umur kehamilan baru menginjak 37 minggu.
  63. 63. Ibu dg hepatitis b  1. Bila ibu mengidap HBsAg positif untuk jangka waktu lebih dari 6 bulan dan tetap positif selama masa kehamilan dan melahirkan.  2. Bila status HbsAg positif tidak disertai dengan peningkatan SGOT/PT maka, status ibu adalah pengidap hepatitis B.  3. Bila disertai dengan peningkatan SGOT/PT pada lebih dari kali pemeriksaan dengan interval pemeriksaan 2-3 bulan, maka status ibu adalah penderita hepatitis B kronik.  4. Status HbsAg positif tersebut dapat disertai dengan atau tanpa HBeAg positif.
  64. 64. PENGELOLAAN BAYI BARU LAHIR DENGAN IBU HEPATITIS B  Ibu yang menderita hepatitis akut atau test serologis HBsAg positif, dapat menularkan hepatitis B pada bayinya :  Berikan dosis awal Vaksin Hepatitis B (VHB) 0,5 ml segera setelah lahir, seyogyanya dalam 12 jam sesudah lahir disusul dosis ke-2, dan ke-3 sesuai dengan  jadwal imunisasi hepatitis. Bila tersedia pada saat yang sama beri Imunoglobulin Hepatitis B 200 IU IM  (0,5 ml) disuntikkan pada paha yang lainnya, dalam waktu 24 jam sesudah lahir (sebaiknya dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir).  Mengingat mahalnya harga immunoglobulin hepatitis B, maka bila orang tua tidak mempunyai biaya, dilandaskan pada beberapa penelitian, pembelian HBIg tersebut tidak dipaksakan. Dengan catatan, imunisai aktif hepatitis B tetap diberikan secepatnya.  Yakinkan ibu untuk tetap menyusui dengan ASI, apabila vaksin diatas sudah diberikan (Rekomendasi CDC), tapi apabila ada luka pada puting susu dan ibu mengalami Hepatitis Akut, sebaiknya tidak diberikan ASI.
  65. 65. Penatalaksanaan khusus a. Dilakukan pemeriksaan anti HBs dan HbaAg berkala pada usia 7 bulan (satu bulan setelah penyuntikan vaksin hepatitis B ketiga) 1, 3, 5 tahun dan selanjutnya setiap 1 tahun. 1) Bila pada usia 7 bulan tersebut anti HBs positif, dilakukan pemeriksaan ulang anti HBs dan HBsAg pada usia 1, 3, 5 dan 10 tahun. 2) Bila anti HBs dan HBsAg negatif, diberikan satu kali tambahan dosis vaksinasi dan satu bulan kemudian diulang pemeriksaan anti HBs. Bila anti HBs positif, dilakukan pemeriksaan yang sama pada usia 1, 3, dan 5 tahun seperti pada butir a. 3) Bila pasca vaksinasi tambahan tersebut anti HBs dan HBsAg tetap negatif, bayi dinyatakan sebagai non responders dan memerlukan pemeriksaan lanjutan yang tidak akan dibahas pada makalah ini karena terlalu teknis.
  66. 66. 4) Bila pada usia 7 bulan anti HBs negatif dan HBsAg positif, dilakukan pemeriksaan HBsAg ulangan 6 bulan kemudian. Bila masih positif, dianggap sebagai hepatitis kronis dan dilakukan pemeriksaan SGOT/PT, USG hati, alfa feto protein, dan HBsAg, idealnya disertai dengan pemeriksaan HBV-DNA setiap 1-2 tahun.  b. Bila HBsAg positif selama 6 bulan, dilakukan pemeriksaan SGOT/PT setiap 2-3 bulan. Bila SGOT/PT meningkat pada lebih dari 2 kali pemeriksaan dengan interval waktu 2-3 bulan, pertimbangkan terapi anti virus.
  67. 67. Bayi lahir dengan ibu TB  Bila menderita Tuberkulosis paru aktif dan mendapat pengobatan kurang dari 2 bulan sebelum melahirkan, atau didiagnosis TBC setelah melahirkan :  Jangan diberi vaksin BCG saat setelah lahir;  Beri profilaksis Isoniazid (INH) 5 mg/kg sekali sehari secara oral;  Pada umur 8 minggu lakukan evaluasi kembali, catat berat badan dan lakukan  pemeriksaan tes Mantoux dan radiologi bila memungkinkan : bila ditemukan kecurigaan TBC aktif, mulai berikan pengobatan anti TBC lengkap (sesuaikan dengan program pengobatan TBC pada bayi dan anak dan kirim ke pusat pelayanan kesehatan setempat);  bila bayi baik dan dan hasil tes negatif, lanjutkan pencegahan dengan isoniazid selama waktu 6 bulan
  68. 68.  Tunda pemberian vaksin BCG sampai 2 minggu setelah pengobatan selesai. Bila  vaksin BCG sudah terlanjur diberikan, ulang pemberiannya 2 minggu setelah  pengobatan INH selesai.  Yakinkan ibu bahwa ASI tetap boleh diberikan. Lakukan tindak lanjut terhadap  bayinya tiap 2 minggu untuk menilai kenaikan berat bayi.  Obat yang diminum ibunya seperti INH, Rifampisin, Ethambutol, aman untuk  Breast Feeding. Tapi pemberian PAS pada ibu, hati hati karena efek pada bayinya.
  69. 69. Dasar Imunologi Imunisasi -Diah Intan Firdaus- -079- -Erfian Prissantika- -115-
  70. 70. Ilmu yang mempelajari reaksi/ perubahan yang terjadi di dalam tubuh sebagai akibat masuknya benda asing atau yang dianggap asing oleh tubuh Imunologi
  71. 71. Sistem Imun Respon imune Innate (Nonspecific) 1o line of defense Adaptive (Specific) 2o line of defense Protects/re-exposure Cellular Components Humoral Components Cellular Components Humoral Components Interactions between the two systems
  72. 72. Sistem Imun Innate/non spesifik Adaptive/ spesifik Imunitas nonspesifik yang tidak memerlukan kontak dengan antigen First line of defense Second line of defense Imunitas yang didapat dengan cara pemaparan antigen pada penjamu yang responsif. Third line of defense
  73. 73. Sistem Imun humoral biokimia
  74. 74. Adaptive Immunity IMMUNE RESPONSE
  75. 75. Hours Days Time after infection Complement 6 12 1 3 5 NK cells Phagocytes Epithelial barriers Microbe T lymphocytes B lymphocytes Antibodies Effector T cells Adaptive immunityInnate immunity 0 Innate and adaptive immunity IMMUNE RESPONSE
  76. 76. IMMUNE RESPONSE
  77. 77. IMMUNE RESPONSE
  78. 78. 8 0 Fungsi Efektor Antibodi Abbas.A, Basic Immunology, 2 ed, 2004 A IMMUNE RESPONSE
  79. 79. IMMUNE RESPONSE
  80. 80. IMUNITY ACQUIRED NATURAL RESISTANCE PASSIVE ARTIFICIAL NATURAL ACTIVE ARTIFICIAL NATURAL
  81. 81. Natural Artificial Imunitas Aktif  Exposure to subclinical infections  Attenuated Organisms  Killed Organism  Sub-celluler fragments  Toxins  etc
  82. 82. Imunitas Pasif  Placental Transfer of IgG  Colostral transfer of IgA  Antibodies or immunoglobulin  Immune cells Natural Artificial
  83. 83. Istilah • Imunisasi : pemindahan / transfer antibodi secara pasif • Vaksinasi : pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh • Istilah imunisasi lebih umum dipakai mencakup kedua pengertian di atas
  84. 84. Imunisasi Aktif • Tubuh anak akan membuat sendiri zat anti setelah mendapat rangsangan antigen • Membutuhkan waktu yang lama untuk membuat zat anti • Kekebalan bertahan lama (bertahun-tahun) • Ex: vaksin BCG Imunisasi Pasif • Zat anti diperoleh dari luar anak • Tidak butuh waktu yang lama untuk membuat zat anti • Kekebalan tdk brlgsg lama (hanya bbrapa bulan) • Ex: pemberian HBIg Untuk memperoleh kekebalan yang cukup, jumlah zat anti dalam tubuh harus meningkat Dasar Imunisasi
  85. 85. Kelebihan dan Kekurangan Imunisasi Pasif Advantages  Immediate Protection Disadvantages  No Long term Protection  Serum Sickness  Risk Of hepatitis and Aids  etc
  86. 86. Keuntungan Vaksin
  87. 87. Infection dan Immunity infection immunity Bolus of infection x virulence immunity Disease = Jaminan imunisasi terhadap suatu penyakit ≠ 100%. Jadi bisa saja anak terkena peny. ttt meski telah diimunisasi. Namun akan berlangsung ringan dan tidak
  88. 88.  Sistem imun yang melindungi tubuh terhadap mikroba penyerang dan benda benda yang ada dalam lingkungan ,ada dua bentuk : Imunitas alamiah,yg sudah ada sejak lahir dan melindungi neonatus dari mikroba patogen. Imunitas adaptif,atau didapat yg timbul pada inang sebagai akibat terkena pajanan mikroba atau benda asing. Imunology Klinik,medical notes,Michael J.Parmely
  89. 89. IMMUNOCOMPROMISED  Immunocompromised adalah suatu kondisi abnormal dimana kemampuan seseorang untuk melawan infeksi mengalami penurunan.hal ini dapat disebabkan oleh proses penyakit,obat-obatan tertentu,atau kondisi saat lahir. kamuskesehatan
  90. 90.  Fungsi primer sistem imun adalah melenyapkan agen infeksi dan meminimalkan kerusakan yg terjadi
  91. 91. FAKTOR PENYEBAB IMMUNOCOMPROMISED  Neutropeni  Adanya kerusakan pada imunitas seluler dan humoral  Perubahan pada sawar fisik  Gizi buruk  Adanya obstruksi Saripediatri.IDAI.or.id/abstrak
  92. 92.  Defek genetik  Infeksi Immunodefisiensi transien (campak,varicella) Immunodefisiensi permanent (infeksi HIV,infeksi Rubella kongenital)  Obat atau toksin Immunosupresan(kortikosteroid,siklosporin) Antikonvulsan(fenitoin)  Penyakit nutrisi atau metabolik Malnutrisi(misal kwashihorkor),defisiensi vitamin(biotin,transkobalamin) Stiehm dkk,2005
  93. 93.  Kurang tidur  Racun tubuh Tubuh memproduksi racun sendiri selama metabolisme.jika racun tidak berhasil keluar tubuh dapat berdampak buruk pada sistem kekebalan tubuh  Paparan zat berbahaya Bahan pembersih kimia biasanya sering ditemukan dirumah.  Kekurangan gizi Dimana tubuh memerlukan mikronutrien seperti vitamin dan mineral.Kekurangan gizi berkepanjangan bisa berakibat fatal
  94. 94. Putrinda Wisty Anailyka Imunokompremise yang mempengaruhi vaksinasi
  95. 95. Imunisasi Polio Kontraindikasi OPV untuk pasien : - Pasien yang sedang terapi kortokosteroid - Pasien HIV Kontaindikasi IPV untuk : - Tidak ada kontraindikasi untuk bayi yang terinfeksi HIV untuk tidak diberikan imunisasi polio secara IPV - Vaksin polio pada ibu hamil tidak diberikan
  96. 96. Imunisasi BCG  Kontraindikasi : - anak yang positif HIV - sedang mendapat terapi imunosupresi atau radioterapi
  97. 97. Imunisasi Campak  Kontraindikasi : - pada pasien yang mengalami imunodefisiensi - pasien yang menderita gangguan respon imun karena leukimia atau limfoma - wanita hamil
  98. 98. Imunisasi MMR  Kontraindikasi untuk :  penderita HIV  Pasien yang mendapat terapi imunosupresif, antimetabolit,alkylating agent atau radiasi  Wanita hamil  Pasien dengan terapi imunokompremise berat dapat diberikan imunisasi setelah 3 bulan
  99. 99. Imunisasi pada kelompok berisiko Pasien imunokompremise Bayi prematur Pasien Transplantasi sumsum tulangPasien HIV Pasien terapi kortikosteroid
  100. 100. Pasien imonokompremise Kenapa tidak boleh di imunisasi??? Tidak boleh diberi vaksin hidup karena vaksin akan bereplikasi didalam tubuh Vaksin OPV, MMR, BCG
  101. 101. Imunisasi yang boleh diberikan Hepatitis B, hepatitis A, DPT, influenza dan HIB
  102. 102. Pasien dalam terapi kortikosteroid  Pasien dengan terapi kortikosteroid topikal,injeksi lokal misal aerosol,salep kulit, kortikosteroid dosis rendah boleh diberikan vaksin hidup  Jika terapi kortikosteroid dosis tinggi setiap hari atau selang hari selama lebih dari 14 hari  bisa diberikan vaksin hidup setelah penghentian pengobatan 1 bulan
  103. 103. Pasien infeksi HIV  Vaksin hidup tidak dapat diberikan karena akan mengaktifkan sistem imun yang dapat meningkatkan replikasivirus HIV sehingga memperberat penyakit HIV
  104. 104. Pasien transplantasi sumsum tulang  Pasien resipien akan mengalami imunodefisiensi karena : - pengobatan imunosupresi terhadap penyakit primer - kemoterapi atau radioterapi yang diberikan pada penjamu -reaktivitas imunologi - pengobatan imunosupresi yang diberikan setelah transplantasi diberikan  Jadi pasien ini bisa diberikan imunisasi sebelum melakukan tranplantasi seperti imunisasi polio dan DPT
  105. 105. 1. Ny. An menunjukkan HbsAg (+) melahirkan anak laki-laki usia kehamilan prematur dengan BBLR 1800 gr. Permasalahan : Virus Hepatitis B menyebabkan penyakit hepatitis pd manusia. Manifestasi klinis berupa hepatitis akut; berkembang menjadi kronis dan dapat berakibat menjadi hepatoselular karsinoma fatal. Bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg (+) dapat terinfeksi saat periode perinatal (transmisi vertikal) dan resiko infeksi hepatitis kronis pada bayinya sebesar 80 sampai 95% Pembahasan:
  106. 106. PRENATAL • kunjungan pertama bumil dan trisemester ketiga lakukan screening Hepatitis B • imunisasi HBV pd bumil dengan faktor resiko tinggi (pasangan sex >1 dalam 6 bln terakhir, evaluasi atau pengobatan terdahulu utk PMS, penggunaan obat- obatan injeksi, pasangan sex HbsAg (+)) • 1 minggu sebelum taksiran partus, usahakan pula pemberian HBIG • diskusikan dg dokter spesialis anak atau bidan yang akan menolong persalinan. PERINATAL • POST EXPOSURE IMMUNOPROPHYLAXIS WITH HEPATITIS B VACCINE AND HBIG CAN EFFECTIVELY PREVENT INFECTION AFTER EXPOSURE TO THE VIRUS” • beri vaksin HB-1 0,5 mL IM setelah lahir (<12 jam) • usahakan beri HBIG 200 IU IM (0,5mL) pada paha lainnya (<12jam) • tetap beri ASI, apabila vaksin diatas sudah diberikan (Rekomendasi CDC), bila ada luka di puting susu ibu dg hepatitis akut pemberian ASI sebaiknya tidak dilakukan. PASCA PERIODE PERINATAL • jadwal imunisasi HBV berikutnya diberikan sesuai dengan jadwal  HB-2 usia 1 bln, HB-3 usia 3-6 bln. (BBLR <2000gr memerlukan 4 serial dosis vaksin pada usia 0, 1, 2-3, 6-7 bln • testing Anti-HBs dan HbsAg pada usia 7 bln lalu 1,3,5 th dan selanjutnya tiap th • Bila HBsAg (+) selama 6 bulan, lakukan pemeriksaan SGOT/PT tiap 2-3 bln. Bila SGOT/PT meningkat pd lebih dari 2 kali pemeriksaan dg interval 2-3 bln, pertimbangkan terapi anti virus • pemantauan tumbuh- kembang, gizi, serta pemberian imunisasi, dilakukan sebagaimana pemantauan terhadap bayi normal lainnya.
  107. 107. 2. Ny. Es menderita TB paru aktif melahirkan bayi perempuan BBLCB 2700gr. Permasalahan : Pada ibu yang menderita Tuberkulosis aktif, penularan dapat terjadi sebelum bayi lahir melalui plasenta, atau menghirup amnion yang tercemar, atau melalui pernapasan setelah bayi lahir . Yang sangat tinggi resiko terjadi TB bayi adalah pada saat proses persalinan dan segera sesudah lahir Pembahasan
  108. 108. PRENATAL • screening TB pd bumil dg faktor resiko (kemiskinan, penggunaan obat- obatan, HIV, lingkungan tinggal, imigran dr daerah endemis) • pemberian vaksin BCG kontraindikasi pd bumil • terapi pencegahan dg INH sangat efektif dan tak ada resiko teratogenik dg dosis standar (max 300 mg/hri) selama 6-12 bln PERINATAL • jangan diberi vaksin BCG saat setelah lahir • beri profilaksis Isoniazid (INH) 5 mg/kg sekali sehari secara oral • yakinkan ibu bahwa ASI tetap boleh diberikan. Lakukan tindak lanjut terhadap bayinya tiap 2 minggu untuk menilai kenaikan berat bayi • Obat yang diminum ibunya seperti INH, Rifampisin, Ethambutol, aman untuk Breast Feeding. PASCA PERIODE PERINATAL • jadwal imunisasi BCG ditunda sampai 2minggu pengobatan selesai • pada umur 8 minggu lakukan evaluasi, catat berat badan dan lakukan pemeriksaan tes Mantoux dan radiologi • bila ditemukan kecurigaan TBC aktif, mulai berikan pengobatan anti TBC lengkap (sesuaikan dengan program pengobatan TBC pada bayi dan anak • § bila bayi baik dan dan hasil tes negatif, lanjutkan pencegahan dengan isoniazid selama waktu 6 bulan. • pemantauan tumbuh- kembang, gizi, serta pemberian imunisasi, dilakukan sebagaimana pemantauan terhadap bayi normal lainnya.
  109. 109. Jadwal Imunisasi lainnya pada bayi- bayi tersebut SAMA
  110. 110. Makasih...

×