Penanganan Cidera Muskuloskelatal

17,767 views

Published on

materi pelatihan dasipena jawa timur

Published in: Education, Technology, Business
0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
17,767
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
80
Actions
Shares
0
Downloads
1,038
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Penanganan Cidera Muskuloskelatal

  1. 1. PENANGANAN CIDERA MUSKULOSKELATAL DINKES PROPINSI JAWA TIMUR 2008
  2. 2. ANATOMI <ul><li>Tulang : </li></ul><ul><ul><li>Tl batang badan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Tl belakang. </li></ul></ul><ul><ul><li>Tl tengkorak. </li></ul></ul><ul><ul><li>Tl Pembentuk badan. </li></ul></ul><ul><li>Tulang gerak : </li></ul><ul><ul><li>Gerak atas </li></ul></ul><ul><ul><li>Gerak bawah </li></ul></ul><ul><li>Persendian : </li></ul><ul><li>Otot : </li></ul>
  3. 5. Mekanisme Trauma <ul><li>Langsung : </li></ul><ul><ul><li>Kena pukulan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Jatuh dari ketinggian. </li></ul></ul><ul><li>Tidak langsung : </li></ul><ul><ul><li>Efek benda lain yg kena trauma (pengemudi terbentur dasboard saat mobil tabrakan). </li></ul></ul><ul><li>Melintir </li></ul><ul><ul><li>Mis : kasus olahragawan gulat, </li></ul></ul>
  4. 7. Akibat trauma pada musculoskelatal <ul><li>Fraktur </li></ul><ul><li>Dislokasi </li></ul><ul><li>Amputasi </li></ul><ul><li>Strain </li></ul><ul><li>Sprain </li></ul><ul><li>Putus ligament </li></ul><ul><li>Ruftur tendon </li></ul><ul><li>Kerusakan neurovaskuler. </li></ul><ul><li>Kompartemen sindrome </li></ul>
  5. 9. Posisi trauma perlu dikaji ? <ul><li>Posisi pasien dlm kendaraan saat kecelakaan (pengemudi, penumpang). </li></ul><ul><li>Poses kecelakaan (dlm mobil, terlempar keluar). </li></ul><ul><li>Kerusakan mobil (bag luar dan bag dalam). </li></ul><ul><li>Penggunaan sabuk pengaman. </li></ul><ul><li>Apakah pasien jatuh, berapa jaraknya, bgmn mendaratnya. </li></ul><ul><li>Apakah terlindas.ccc </li></ul><ul><li>Apakah terjadi ledakan.  cedere lain. </li></ul><ul><li>Pejalan kaki tertabrak kendaraan. </li></ul>
  6. 10. Tipe Trauma <ul><li>Terbuka. </li></ul><ul><ul><li>Terjadi kerusakan kulit dan disertai perdarahan. </li></ul></ul><ul><li>Tertutup. </li></ul><ul><ul><li>Tdk terjadi kerusakan kulit ttp kemungkinan adanya perdarahan di dalam bisa terjadi </li></ul></ul>
  7. 11. Cedera penyerta <ul><li>Cedera saraf </li></ul><ul><li>Cedera arteri </li></ul><ul><li>Cerera vena </li></ul><ul><li>Cedera jaringan lunak </li></ul>
  8. 12. CIDERA JARINGAN LUNAK
  9. 13. I. CIDERA JARINGAN LUNAK TERTUTUP <ul><li>Cidera jaringan penghubung tulang dan tulang (ligament) akibat peregangan berlebihan sehingga jaringan lunak yang mengikat rusak </li></ul><ul><li>Gejala : </li></ul><ul><li>- Nyeri/ tidak berfungsi bagian tubuh </li></ul><ul><li>- korban merasa seperti ada yang retak </li></ul><ul><li>- pembengkakan </li></ul><ul><li>- Ketidakmampuan bergerak </li></ul>
  10. 14. <ul><li>Tindakan : </li></ul><ul><li>1. Tinggikan bagian yang cedera </li></ul><ul><li>2. Kompres es </li></ul><ul><li>3. Pasang bidai atau elastis verban </li></ul><ul><li>4. Pembidaian selama 3-4 minggu </li></ul>
  11. 15. <ul><li>Peregangan tendon atau otot yang berlebihan karena terkilir </li></ul><ul><li>tanda : </li></ul><ul><li>- Nyeri yang sangat berat, rasa perih </li></ul><ul><li>lokal </li></ul><ul><li>- Luka akibat efek bagian pasif </li></ul><ul><li>- Pembengkakan </li></ul><ul><li>- Lebam setelah beberapa hari </li></ul><ul><li>tindakan : </li></ul><ul><li>- Istirahat dan bidai </li></ul><ul><li>- Tinggikan bagian yang cidera </li></ul><ul><li>- Kompres es 24-48 jam </li></ul><ul><li>- Penghangatan setelah 48 jam </li></ul><ul><li>-Hindari pergerakan bila timbul nyeri dan bengkak </li></ul>
  12. 16. 2. CIDERA JARINGAN LUNAK TERBUKA <ul><li>Luka serut : akibat gesekan atau terkelupasnya bagian terluar kulit, sangat sakit, perdarahan ringan </li></ul><ul><li>Lacerasi : luka cukup dalam, pinggir luka bergerigi tidak teratur, penyembuhan lama </li></ul><ul><li>Luka sayat : luka cukup dalam disebabkan oleh benda tajam, tepiluka rata </li></ul><ul><li>Luka tusuk dan luka tembus : benda tajam atau tembakan </li></ul>
  13. 17. Luka tusuk dengan benda tertancap <ul><li>Merupakan suatu keadaan luka tusuk dimana benda masih tertancap </li></ul><ul><li>Penatalaksanaan ; </li></ul><ul><li>- Amankan benda secara manual agar tak </li></ul><ul><li>bergerak </li></ul><ul><li>- Buka daerah luka, singkirkan pakaian, ttp </li></ul><ul><li>tgn sampai benda yang tertancap </li></ul><ul><li>bergerak </li></ul><ul><li>- Kontrol perdarahan </li></ul><ul><li>- Gunakan pembalut besar untuk </li></ul><ul><li>menstabilkan benda </li></ul>
  14. 18. hal-hal yang perlu diperhatikan : <ul><li>Luka tetutup : </li></ul><ul><li>1. Bila memar cukup luas kompres </li></ul><ul><li>dingin </li></ul><ul><li>2. Perubahan warna yang luas curigai </li></ul><ul><li>perdarahan </li></ul><ul><li>3. Memar besar anggota gerak  </li></ul><ul><li>Kemungkinan fraktur </li></ul><ul><li>4. memar besar di kepala, perut, dada  </li></ul><ul><li>perdarahan dalam </li></ul>
  15. 19. <ul><li>Luka terbuka : </li></ul><ul><li>1. Buka pakaian korban </li></ul><ul><li>2. Kontrol perdarahan, dgn tekanan </li></ul><ul><li> langsung dan peninggian </li></ul><ul><li>3. Cegah kontaminasi, jaga luka tetap </li></ul><ul><li>bersih </li></ul><ul><li>4. Jangan pernah mencabut benda </li></ul><ul><li>tertancap </li></ul><ul><li>5. Balut luka dengan kassa steril dan kering </li></ul><ul><li>6. Periksa nadi distal sebelum dan sesudah </li></ul><ul><li>pembalutan </li></ul>
  16. 21. PEMBEBATAN Penutupan suatu bagian tubuh yang cedera dengan bahan tertentu dan dengan tujuan tertentu
  17. 22. TUJUAN PEMBEBATAN <ul><li>Menahan sesuatu seperti: </li></ul><ul><ul><li>menahan penutup luka </li></ul></ul><ul><ul><li>menahan pita traksi kulit </li></ul></ul><ul><ul><li>menahan bidai </li></ul></ul><ul><ul><li>menahan bagian tubuh yang cedera dari gerakan dan geseran (sebagai &quot;splint&quot;) </li></ul></ul><ul><ul><li>menahan rambut kepala di tempat </li></ul></ul><ul><li>Melindungi bagian tubuh yang cedera. </li></ul><ul><li>Mengatasi perdarahan </li></ul><ul><li>Mengurangi bengkak </li></ul>
  18. 23. SYARAT UMUM PEMASANGAN BEBAT <ul><li>Usahakan penderita nyaman posisinya </li></ul><ul><li>Tahan dan bantu bagian yang cedera </li></ul><ul><li>Usahakan simpul bebat tidak menganggu kenyamanan penderita </li></ul><ul><li>Balutan harus rapat rapi jangan terlalu erat, karena dapat mengganggu sirkulasi. </li></ul><ul><li>Jangan terlalu kendor sehingga mudah bergeser atau lepas. </li></ul><ul><li>Ujung-ujung jari dibiarkan terbuka untuk mengetahui adanya gangguan sirkulasi. </li></ul>
  19. 24. MACAM - MACAM BAHAN PEMBEBATAN <ul><li>PEMBEBAT SEGITIGA (MITELLA) pembalut biasa, tourniquet, penahan bidai/penyangga (sling). </li></ul><ul><li>PEMBEBAT BENTUK PITA( Pembalut kasa gulung, Pembalut elastik, Pembalut gips). </li></ul><ul><li>PLESTER </li></ul>
  20. 40. FRAKTUR <ul><li>Nyeri dan kemerahan. </li></ul><ul><li>Pembengkakan. </li></ul><ul><li>Deformitas. </li></ul><ul><li>Krepitasi. </li></ul><ul><li>Keterbatasan gerak sendi. </li></ul><ul><li>Bone expose. </li></ul><ul><li>Perubahan posisi. </li></ul>
  21. 41. Pengkajian <ul><li>ABC. </li></ul><ul><li>Mekanisme terjadinya cedera </li></ul><ul><li>Cedera lain : kepala, cervikal, spine, thorak, abdomen, ektremitas atas dan bawah. </li></ul><ul><li>Pemeriksaan DCAP-BTLS (Deformity, Contusio, Abrations, penetration, burns, tenderness, laceration, swelling) </li></ul><ul><li>Periksa ada tidaknya ketidakstabilan dan krepitasi, pelvis hati-hati </li></ul><ul><li>Periksa ada tidaknya nyeri pada semua sendi </li></ul><ul><li>Periksa dan catat PMS (pulse, motorik, sensasi) </li></ul>
  22. 42. PENGELOLAAN <ul><li>Penanganan cedera muskuloskeletal yang baik dan benar akan mengurangi nyeri, kecacatan, dan menghindari komplikasi </li></ul><ul><li>Antisipasi syok perdarahan pada fraktur femur dan pelvis </li></ul><ul><li>Reduksi dilakukan dengan segera dengan cara traksi (menarik) dan gentle </li></ul><ul><li>Bila ada tahanan pada saat reduksi jangan dipaksa, lakukan pembidaian pada posisi yang nyaman menurut pasien </li></ul>
  23. 43. PENGELOLAAN <ul><li>Selalu catat PMS sebelum dan sesudah pembidaian </li></ul><ul><li>Perawatan luka, pencegahan infeksi, dan tetanus </li></ul><ul><li>Fr terbuka harus tangani perdarahannya. </li></ul><ul><li>Gunakan balut tekan. </li></ul><ul><li>JANGAN gunakan torniquet  kerusakan neurovaskuler . </li></ul>
  24. 44. Pembidaian. <ul><li>Pengertian : </li></ul><ul><ul><li>Memasang alat untuk mempertahankan kedudukan tulang. </li></ul></ul><ul><li>Indikasi : </li></ul><ul><ul><li>Patah tulang terbuka / tertutup </li></ul></ul><ul><li>Tujuan : </li></ul><ul><ul><li>Mencegah pergerakan tulang yang patah. </li></ul></ul><ul><ul><li>Mengurangi nyeri. </li></ul></ul><ul><ul><li>Mencegah cedera lebih lanjut. </li></ul></ul><ul><ul><li>Mengistirahatkan daerah patah tulang. </li></ul></ul><ul><ul><li>Mengurangi perdarahan. </li></ul></ul>
  25. 45. <ul><li>Prinsip pembidaian : </li></ul><ul><ul><li>Pastikan ABC aman. </li></ul></ul><ul><ul><li>Kontrol perdarahan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Pasien sadar : informasikan adanya nyeri. </li></ul></ul><ul><ul><li>Buka daerah yg akan dibidai. </li></ul></ul><ul><ul><li>Periksa dan catat PMS (pulse, motor, sensasi) sebelum dan sesudah. </li></ul></ul>
  26. 46. <ul><ul><li>Pada angulasi yang besar dan pulsasi (nadi di perifer) hilang lakukan penarikan secara gentle. </li></ul></ul><ul><ul><li>Luka terbuka tutup dgn kasa steril. </li></ul></ul><ul><ul><li>Bidai mencakup sendi atas dan bawah cedera. </li></ul></ul><ul><ul><li>Berikan bantalan yang lunak. </li></ul></ul><ul><ul><li>Bila ragu-ragu apakah ada fraktur/tdk sebaiknya lakukan bidai untuk pencegahan. </li></ul></ul>
  27. 47. BIDAI <ul><li>Alat yang dipakai untuk mempertahankan kedudukan atau letak tulang yang patah. </li></ul><ul><li>Berupa sepotong tongkat, bilah papan, keras, tidak mudah bengkok ataupun patah. </li></ul>
  28. 48. SYARAT-SYARAT PEMBIDAIAN <ul><li>Lebar dan panjangnya sesuai dengan kebutuhan </li></ul><ul><li>Panjang bidai melampaui dua sendi untuk mempertahankan kedudukan tulang yang patah </li></ul><ul><li>Beri bidai dengan lapisan empuk agar tidak nyeri </li></ul><ul><li>Bidai tidak boleh terlalu kencang atau ketat </li></ul>
  29. 55. 1 2 3
  30. 71. Tourniquet <ul><li>Tourniquet sebaiknya hanya digunakan pada keadaan ; amputasi (crush injury) </li></ul><ul><li>Sebagai alternatif terakhir untuk mengontrol perdarahan ketika semua cara gagal. </li></ul><ul><li>T ourniquet dapat menghentikan seluruh aliran darah pada anggota gerak, gunakan hanya pada ujung anggota gerak sudah teramputasi (terpotong). </li></ul><ul><li>Tourniquet menyebabkan kerusakan yang menetap pada saraf, otot dan pembuluh darah dan mungkin berakibat hilangnya fungsi dari anggota perak tersebut. </li></ul><ul><li>Selalu coba dulu dengan tekanan langsung. </li></ul>
  31. 72. Tourniquet (tourniquet) <ul><li>Cara pemasangan tourniquet : </li></ul><ul><li>Pilih perban yang lebarnya 4 inci dan buatlah 6 – 8 lapis. </li></ul><ul><li>Lilitkan di sekeliling anggota gerak, diproksimal (sebelum) luka. </li></ul><ul><li>Talikan simpulpada perban. Kemudian tempatkan sebuah batang kecil/pensil diatasnya talikan batang pensil pada erban. </li></ul><ul><li>Putar batang pensil sampai perdarahn berhenti kemudian kunci batang pada posisinya. </li></ul><ul><li>Catat waktu </li></ul>
  32. 77. Terima Kasih

×