Biografi Achmad Bakrie

11,840 views

Published on

biografi achmad bakrie

Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
11,840
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
556
Actions
Shares
0
Downloads
105
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Biografi Achmad Bakrie

  1. 1. TO OL CONTROLFull Screen Mode Ctrl+LExit Full Screen Mode EscSearch Shift+Ctrl+FFull Screen Mode:Next Scroll Down Left Click Down Arrow Right ArrowPrevious Scroll Up Right Click Up Arrow Left ArrowMaximize Mode:Next Scroll Down Down Arrow Right ArrowPrevious Scroll Up Up Arrow Left ArrowShortcut Click the Interactive Button
  2. 2. Bila “maestro” Achmad Bakriekurang dikenal masyarakat luas,itu lantaran dari pembawaannyatidak ingin menonjol. Bukan ka-rena rendah diri apalagi tanpa nyali.Tak ingin menonjol mungkin jus-tru kelebihannya. Tak cuma suksesmembangun kerajaan bisnisnya,ia juga terbukti sebagai ayah dansuami yang arif. Selama lebih dari40 tahun malang melintang di du-nia industri dan perdagangan. Kiatbisnis tamatan ”SD” ini belum se-luruhnya tersingkap. Namun sudahbisa dipastikan: etika bisnisnya sulitdi intervensi. Lahir di Kalianda pada1 Juni 1916, Achmad Bakie mening-gal dalam usia 72 tahun, 15 Februari1988 di Tokyo. Almarhum dikebu-mikan di TPU Karet, Jakarta
  3. 3. ACHMAD BAKRIE(1916-1988)
  4. 4. ACHMAD BAKRIESebuah PotretKerja Keras,Kejujuran, danKeberhasilanSeperti dituturkan oleh keluarga, sahabat dan pengamat Disusun olehSyafruddin PohanDan kawan-kawanDiterbitkan olehPT Bakrie & Brothers TbkDipersembahkan olehBadan Pengelola Gerakan Bakrie Untuk Negeri
  5. 5. Judul : Achmad Bakrie - Sebuah Potret Kerja Keras, Kejujuran, dan KeberhasilanPenyusun : Syafruddin Pohan, dkk.Cetakan Pertama, 1992Disain sampul dan layout : Corporate Communications Dept. BakriePenerbit : Kelompok Usaha Bakrie, JakartaPencetak : LP3ESCetakan Kedua (e-book), 2011Disain sampul dan layout : PT Bakrie & Brothers Services (BNBS) dan B;IntegratedPenerbit : PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)Dipersembahkan oleh : Badan Pengelola Gerakan Bakrie Untuk NegeriTim Editor : Siddharta Moersjid, R. Bambang Priatmono.ISBN : 978-602-98628-0-5Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang.
  6. 6. “Setengah abad pertumbuhan menuju kualitas kehidupanyang lebih baik”
  7. 7. D A F TA R I S IP E N G A N TA R viK ATA P E N G A N TA R viiiS A M B U TA N Ketua Badan Pengelola Gerakan Bakrie Untuk Negeri xB A G I A N P E RTA M AProfil Achmad Bakrie Putra Kalianda 1Bab 1 Berksperimen Dengan Naluri Bisnis 5Bab 2 Otodidak Sejati 12Bab 3 Sukses Tapi Sepi Publikasi 18Bab 4 Mendirikan Yayasan Achmad Bakrie 21Bab 5 Mendambakan Akhlak dan Harta 24BAGIAN KEDUAAchmad Bakrie Dalam Untaian Kenangan 27Bab 1 Perbincangan Relasi, Sahabat, Pengamat Bakrie Pengusaha Teladan 29 Perbincangan Achmad Tahir Dari Penjaja Potlot Sampai Pabrikan Baja 33 Perbincangan Alamsjah Ratuperwiranegara Taipan Pribumi 37 Perbincangan A.R. Soehoed AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I i
  8. 8. Dari Kultur Bisnis Sampai “Bakrie Award” 41 Perbincangan Christianto Wibisono Memilih Persahabatan Daripada Perkongsian 47 Perbincangan Hasjim Ning Fenomena Pengusaha Menarik 51 Perbincangan K.H. Kosim Nurseha Lebih Sekedar Pasien 53 Perbincangan Liem Tjing Kiat Kiat Sukses Membina Diri 55 Perbincangan Omar Abdalla Simbol Pengusaha Murni 59 Perbincangan Soedarpo Sastrosatomo Bakrie Mitra Latih Tanding 62 Perbincangan Soemitro Djojohadikusumo Besar, Dulu dan Kini 65 Perbincangan Soesilo Soedarman Tipe Manusia Dinamis 68 Perbincangan Sudomo Hari-hari di Keluarga Achmad Bakrie 72 Perbincangan Upik Rasad Pantang Minta Fasilitas 76 Perbincangan Wijarso Bakrie: Memberi Spirit Belajar 80 Perbincangan Z.A. Samil dan Suprapti Samil Sejemput Kenangan pada Achmad Bakrie 84 Perbincangan H. R Isa Danubrata, Kuntoadji, Ny. Syarif Thayeb, RM. Poedjas Santoso, Tjokropranolo.Bab 2 Penuturan Kalangan Kelompok Usaha Bakrie Pengusaha Bersahaja 87 Perbincangan Charles T. Graham Surat Al Hadid 92 Perbincangan Hutomo Saidhidayat Tuan, Ini Saya Punya Orang... 95 Perbincangan M. Hasan AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I ii
  9. 9. Sikap Membuka Diri 101 Perbincangan Prijono Tjiptoherijanto Manusia Realistis 103 Perbincangan Rizal Irwan, Iesje S. Latief, Catherine B. Susilo Trader Bervisi Industri 107 Perbincangan Tanri Abeng Mendidik Menghargai Uang 112 Perbincangan Wong Chun Sum Pernik-pernik Kenangan 115 Perbincangan Abdul Karim, Ahmad Azmi Sahupala, Ahmad Tamrella, Arjuna Muluk, Azkarmin Zaini, Bambang Hidayat, Djainun, Iesje S..Latief, Nugroho I. Purbowinoto, Nurcholid, Saimi Abdullah, Santoso W. Ramelan, Sutadi, Taufik Helmi Sobirin. Kenangan Orang Lama 140 Perbincangan Hamizar Hamid, Tamsir Muljoatmodjo, Harris Abidin, Jimmy Muljohardjo, Koesnadi A. Sadjadi, Halomoan Hutabarat, Nasika, Inem, Sudarno.Bab 3 Penuturan Keluarga Lebih Terkesan Seniman 146 Perbincangan Ibu H. Roosniah Bakrie Keluarga adalah Dasar 149 Perbincangan Ike Indira Nirwan Bakrie Atuk Pandai Bersyukur 152 Perbincangan Shahla Rooswita Indriani Kusmuljono Human Interest 154 Perbincangan B.S. KusmulJ’ona, Chaizir, Habibah, Iskandar Zulkarnain, Jaya llsman Yamin, Masfalah, Masani, M. Ali Yamin, Roosniah Bakrie, Rusli Hasan, Tatty Aburizal Bakrie. Disiplin dan Kerja Keras 157 Perbincangan Achyaruddin, Amrin Yamin, Indra U.Bakrie, Iskandar Zulkarnain, M. Sof yan Nasution, Nirwan D. Bakrie, Rusli Hasan, Shahla R.I. Kusmuljono. Selamat Jalan “Atuk” 160Bab 4 Achmad Bakrie Dalam Komentar dan Kolom Haji Achmad Bakrie, Figur Idola 163 Oleh Azkarmin Zaini AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I iii
  10. 10. Cerita Tentang Seorang Pengusaha Indonesia yang Berhasil 180 Oleh B.M. Diah Bakrie yang Kukenang 186 Oleh Charles T. Graham Pengusaha Berpikir Jauh 194 Oleh Eiichi Miyoshi Achmad Bakrie: Kesan dan Kenangan 196 Oleh Kees de Jong Wawancara Eksklusif 207 Dengan Aburizal BakrieBAGIAN KETIGAEpilog 225 Nama-nama Responden 234 Daftar Kepustakaan 238 AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I iv
  11. 11. P E N G A N TA R Jika kami berharap buku ini mendapat sambutan luas, itubukan karena aspek penulisannya tapi karena tokohnya. Dalamdunia usaha, Achmad Bakrie disebut-sebut jarang duanya. Ter-utama etika bisnisnya, yang dengan itu ia dikenal sebagai pengusahapribumi tanpa kompromi. Ia misalnya anti fasilitas khusus dan yangserumpun dengan itu. Dengan demikian, buku ini diterbitkan bu-kan untuk menonjolkan pribadi Achmad Bakrie. Tapi sebagai suriteladan bagi masyarakat bisnis Indonesia, termasuk - malah mung-kin terutama - bagi generasi muda alias pengusaha muda. Inilahbukti kesuksesan usaha dengan dukungan idealisme dan keko-kohan etika bisnis. Namun buku ini sendiri tidak dirancang atau tidak sang-gup untuk mengungkap seluruh kiprah bisnis dan non bisnis tokohcerita. Sebab, pertama, buku ini bukan biografi, melainkan sketsacerita-cerita yang maksimal layak disebut memoar. Kedua, ceritayang lengkap tentang “Achmad Bakrie” hanya Achmad Bakrie yangpunya. Mungkin juga orang-orang paling dekatnya dari berbagaimedium proximity. Dan ternyata, belum semua mau bicara karena“Achmad Bakrie tak suka menonjolkan diri,” alasan mereka. Lagipula, memoar ini dikerjakan (cuma) dalam tempo lima bulan. Dari meneliti kepustakaan, mewawancarai sekitar 100sumber di lingkungan keluarga, karyawan, sahabat dan tokohmasyarakat dan pejabat, sampai menyiapkan naskah. Bahan men-tah wawancara, yang pukul ratanya dua jam perorang alias sekitar AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I v
  12. 12. 40 lembar transkrip, masih memerlukan pengecekan ulang sambilmenyusun rough draft. Proses itulah yang ditempuh hingga naskahakhirnya bisa naik pangkat: final version, persis ketika deadline taklagi bisa ditawar. Meski begitu, yang muncul terus di benak kami ialahbagaimana cerita ini bisa dinikmati tanpa mengorbankan obyek-tivitas. Kedengarannya mungkin basa-basi. Tapi itu adalah taruhan“prestasi” kepenulisan kami, yang tak bisa takluk dalam kemepetanwaktu. Dan dengan itu, walaupun boleh dikata pekerjaan ini mele-lahkan, toh enjoyable. Maka, kami menyampaikan terimakasih pada semua pihakatas alokasi waktu, informasi, dan dukungan morilnya hingga sketsaini bisa rampung. Terutama pada segenap interviewee (termasuk de-lapan orang cucu almarhum), panitia peringatan 50 tahun Bakrie& Brothers seperti Nugroho I. Purbowinoto, Iesje S. Latief danSiddharta Moersjid, yang terkadang “batal” liburan Sabtu-Ming-gunya lantaran kami dan teman-teman yang ikhlas bergadang ber-minggu-minggu mengerjakan manuskrip. Kesempatan berkarya ini tak lepas dari “kepercayaan”Ir. Aburizal Bakrie yang tak asing lagi sebagai putra sulung almarhumsekaligus Pimpinan Puncak Kelompok Usaha Bakrie. Begitu jugaIbu Roosniah Bakrie, yang rela dua kali kami “ganggu” di rumahseraya mengenang almarhum suaminya. Azkarmin Zaini (Pemredharian Pelita) memberi kami sejumlah hasil wawancaranya denganbeberapa orang Bakrie, termasuk dengan Mr. Wong Chun Sumdi Hongkong. Sementara Rush Hasan dan M. Ali Yamin, kerabatalmarhum juga “mengawal” terus kami selama penggalian infor-masi di Kalianda-Menggala-Bandarlampung. Kepada responden pe-nyumbang tulisan serta media massa yang pernah secara khususmengulas Achmad Bakrie, juga tak kami lupa menyampaikan teri-ma kasih. Akhirnya mudah-mudahan buku ini bermanfaat, dan bisamemicu penulisan yang lebih komprehensif tentang almarhum. Jakarta, Januari 1992 Penyusun. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I vi
  13. 13. K ATA P E N G A N TA R Alhamdulillah. Puji syukur kepada Tuhan Yang MahaPandai lagi Maha Berilmu. Upaya penerbitan ulang buku “AchmadBakrie - Sebuah Potret Kerja Keras, Kejujuran dan Keberhasilan”dalam versi elektronik atau e-book ini dapat dirampungkan. PT Bakrie & Brothers Tbk, yang cikal bakalnya didirikanoleh Alm. Haji Achmad Bakrie pada 10 Februari 1942 merasa ber-kewajiban untuk turut menjaga dan menyebarkan nilai-nilai luhuryang dianut dan dijalankan oleh Haji Achmad Bakrie. Dewasa ini, nilai luhur tersebut menjadi warisan berhargabagi kita semua dalam Kelompok Bakrie, baik dari kalangan peru-sahaan, institusi sosial dan tentu saja bagi segenap Keluarga Bakrieyang merupakan keturunan langsung Alm. Haji Achmad Bakrie. Salah satu dokumen yang menyimpan butir-butir nilailuhur tersebut adalah buku “Achmad Bakrie - Sebuah Potret KerjaKeras, Kejujuran dan Keberhasilan - Seperti dituturkan olehkeluarga, sahabat dan pengamat”. Buku ini dicetak pertama kali pada tahun 1992 dalamrangka memperingati HUT ke-50 Kelompok Bakrie. Disusun olehSyafruddin Pohan dkk, dicetak oleh LP3ES dan diterbitkan olehKelompok Usaha Bakrie, dalam hal ini secara teknis dilaksanakanoleh PT Bakrie & Brothers. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I vii
  14. 14. Versi e-book yang tengah Anda baca ini diterbitkan olehBadan Pengelola Gerakan Bakrie Untuk Negeri, dan secara sub-stansial tidak mengalami perubahan, akan tetapi terdapat perbaikandan penyesuaian ejaan di beberapa tempat. Kami mengucapkan terima kasih atas kerja keras dandukungan semua pihak sehingga e-book ini dapat diluncurkan padawaktunya. Seiring dengan itu, kami juga berharap dengan adanyabuku versi elektronik ini, penyebarannya dapat lebih luas, cepatdan murah, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyakpembaca. Jakarta, 10 Februari 2011 Direktur Utama/CEO PT Bakrie & Brothers Tbk Bobby Gafur Umar AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I viii
  15. 15. S A M B U TA NKetua Badan Pengelola Gerakan Bakrie Untuk NegeriAssalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Saya merasa gembira dan tentu saja menyambut baikinisiasi PT Bakrie & Brothers Tbk untuk mencetak ulang buku“Achmad Bakrie - Sebuah Potret Kerja Keras, Kejujuran dan Ke-berhasilan” dalam versi elektronik atau e-book. Sebagai cucu dari Almarhum Haji Achmad Bakrie, tentusaja saya merasa bangga, buku yang sebagian berisi testimoni kolegaalmarhum ini dapat disebarkan secara lebih luas dan lebih murah.Dengan demikian nilai-nilai dan keteladanan dari beliau dapat lebihbanyak diresapi oleh para wirausahawan dan profesional generasisaya, yang tidak sempat mengalami “Era Achmad Bakrie”. Sebagai pengusaha sekaligus profesional dalam KelompokUsaha Bakrie, saya sangat meyakini arti penting sebuah instrumenberupa ‘Nilai’ yang memandu semua aktivitas kita, baik dalam ber-bisnis, maupun dalam kehidupan kita sehari-hari. Nilai yang di-wariskan oleh almarhum Achmad Bakrie adalah pentingnya kitamenjadi pribadi yang kontributif dimanapun kita berada. Pribadiyang memberi manfaat bagi masyarakat sekitarnya dan dalam artiyang lebih luas adalah pribadi yang memberi manfaat untuk bangsa,negara dan juga dunia. Nilai tersebut tak akan lekang, kendati jamanberubah, tuntutan dan keragaman usaha pun makin merebak. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I ix
  16. 16. Nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Haji Achmad Bakrietersirat dalam buku ini. Nilai-nilai tersebut dirangkum, ditekstual-kan dan dituangkan dalam Piagam Bakrie yang telah diluncurkanpada tanggal 10 Februari 2010, bertepatan dengan perayaan HUTke-68 Kelompok Bakrie. Piagam ini berisi Trimatra Bakrie, yakniKeindonesiaan, Kemanfaatan dan Kebersamaan. Trimatra Bakrie inimencerminkan tiga dimensi unsur-unsur keseimbangan yang harusdijaga oleh setiap manusia, yakni kecerdasan spiritual, kecerdasanintelektual dan kecerdasan emosional. Hari ini, satu tahun sejak Piagam Bakrie ditandatangani,e-book diluncurkan. Semoga kehadirannya bermanfaat tidak ha-nya bagi keluarga besar Kelompok Usaha Bakrie, namun juga bagimasyarakat luas. Selamat membaca.Wabillahitaufiq Walhidayah, Wassalamu’alaikum WarrahmatullahiWabarakatuh. Jakarta, 10 Februari 2011 Anindya N. Bakrie AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I x
  17. 17. B A G I A N P E RTA M AProfil Achmad Bakrie Putra Kalianda Masyarakat Lampung boleh berbangga, bahwa propinsihinterland di ujung selatan Pulau Sumatera ini tidak hanya terkenalkarena kepeloporannya di bidang transmigrasi sejak awal abad ke20 atau pun dengan adanya sekolah gajah di Taman Suaka AlamWay Kambas saja. Di propinsi transit Sumatera - Jawa ini juga ba-nyak melahirkan orang terkenal. Sebut saja misalnya mantan MenkoKesra Alamsjah Ratuperwiranegara, Rektor IPB Bogor Prof. DR. Ir.H. Sitanala Arsyad, tokoh pers Dja’afar H. Assegaff, sineas ayah dananak Sandy Suwardi Hassan - Faradilla “Ratapan Anak Tiri” Sandy,pengusaha pasar swalayan yang eksentrik Bob Sadino, dan pionerbisnis keluarga H. Achmad Bakrie. Kalau orang-orang beken di atas kerap muncul di mediamassa pada zaman keemasannya, maka tidak demikian pada namayang terakhir. Tanpa berpretensi serba tahu, ketokohan AchmadBakrie dalam deretan konglomerat bisnis keluarga agaknya kurangdikenal masyarakat ramai. Bahkan, karena jarang diliput mediapers, khalayak umum lebih mengenal institusi bisnis PT. Bakrie &Brothers atau malah “putra mahkota” nya sendiri, Aburizal Bakrie.Sebenarnya, yang empunya nama (Achmad Bakrie) memang tidakingin ditonjolkan lebih-lebih mau menonjolkan diri. Tidak lebih dari sebelah jari telapak tangan jurnalis me-dia cetak yang berhasil mewawancarainya in situ. Dari yang sedikititu antara lain Mutiara (1979), Swasembada (1985), dan HarianKompas (1986) atau dua tahun sebelum Achmad Bakrie wafat. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 1
  18. 18. Diluar dugaan, Azkarmin Zaini, yang terbilang “orang dalam” sendi-ri, memerlukan waktu belasan tahun membujuknya. Setelah sama-sama capek, barulah Azkarmin dan Raymond Toruan menurun-kan hasil wawancara itu tahun 1986 (Kompas, Minggu 16 Februari1986). Pembawaan low profile-nya itu pula (barangkali) yang me-ngusik orang untuk ‘mencari tahu’ siapa sih Achmad Bakrie.Sikapnya selalu merendah dan jauh dari kesan sombong atau aro-gan. Sejak zaman Jepang dia dikenal luas dalam bergaul denganrekan seangkatan sesama pengusaha pribumi dan bukan pribumi.Namanya pun bukan awam bagi para pejabat sipil/militer dan parapolitisi. “Bahkan Presiden Soeharto juga kenal, kok,” kata mantanMenparpostel, Achmad Tahir, dalam uraiannya di bagian lain bukuini. Lika-liku perjalanannya meniti sukses cukup rumit. Romadibangun tidak dalam sehari. Begitulah, sedikit bergidik bulu teng-kuk. Bersama istrinya, mereka mempersiapkan “kerajaannya de-ngan tangis, darah, dan keringat, tanpa menanti segala macam fasili-tas yang membuat orang menjadi hanya pengusaha pengemis,” pa-par jurnalis senior, BM. Diah dalam bagian akhir tulisannya di bukuini. Achmad Bakrie teguh menjalankan perinsip hidupnya: jujur,kerja keras, dan senantiasa berpedoman pada tali agama. Sadar akanpentingnya ilmu, sementara kesempatan menempuh pendidikanformal sangat terbatas, dia pun tidak cepat berputus asa. Apa yangdipelajarinya itu pula yang diperaktekkannya setiap kali. Lalu, de-ngan jiwa otodidak itu perlahan tapi pasti, ia menata dirinya sendirisehingga menjadi a self made man. Baginya keluarga adalah segala-galanya. Sejak usia dini, ia sudah terbiasa menghormati kedua orangtuanya, saudara-saudaranya, dan siapa saja yang lebih tua usianya.Kesantunan perangainya itu tetap dan terus membahana ketika iamulai berdagang kecil-kecilan. Faktor itulah membuat orang cepatpercaya dan menaruh simpati kepadanya. Dia pun, misalnya, pan-dai bersyukur. Tanpa setahu tangan kirinya, ia banyak memberikemaslahatan pada yang di-anggapnya fungsional perlu disantuni.Hal yang terakhir ini, masya Allah, banyak diketahui justru setelahwafatnya. Padahal sebagian orang, termasuk sanak familinya, bah-kan terkadang menganggap ia kikir atau tak menghiraukan nasiborang lain. Mereka barangkali tak memahami cara Achmad Bakrie AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 2
  19. 19. menunaikan kebajikan agama: kepada Tuhan dan kepada sesamamanusia. Ada kalanya, agar seseorang tidak tersinggung, ia begiturupa menempatkan perkataannya, gerak-geriknya, dan perasaan-nya. Dengan begitu setiap kali yang berbekas darinya adalah rasarespek dan kenangan yang mendalam. Dalam kapasitasnya sebagai pengusaha besar, visinya dike-nal cukup kuat. Ia tahu kapan menambah, mengurangi, bahkanmenghentikan sesuatu sama sekali. Atas dasar wisdom-nya itu iapun dapat mengatasi masalah-masalahnya dengan baik. Sukses bagiorang, relatif bagi dia, terutama kalau kebendaan sifatnya. Itulahsebabnya ia sering melontarkan suatu ungkapan: “A man who livestoo gloriously must often die violently” (seseorang yang hidupnya terlalumewah, terkadang mati dengan kekerasan). Achmad Bakrie bukanlah sosok yang hanya bisa serius. Iabisa menangis, misalnya, ketika menikmati karya seni. “Kalbunyamudah tersentuh pada hal-hal yang sepele”, Kata beberapa keluarg-anya. Tekanan suaranya yang berat dengan lidah “tilur” bila mengu-capkan (r) bila sedang marah terdengar menggelegar. Cepat marahdan cepat ramah, itu menjadi “trademark”-nya pada jajaran perusa-haannya. Sehingga ketika berbalik dari marah menjadi ramah, terse-butlah misalnya seorang stafnya sendiri diajaknya makan siang ber-sama, padahal sang bawahan masih menyimpan rasa takut. Ia jugahumoris, dan tampaknya ia memiliki pengetahuan untuk itu. Selaingaya plesetan, ia gemar pula menirukan dialek ragam suku di Indo-nesia. Kalangan petinggi negara menaruh respek atas sikapnyayang tidak menyalahgunakan arti pergaulan untuk kepentingankemajuan usahanya. Karena integritasnya seperti itu, ia dijulukiorang yang pandai menjaga martabatnya. Pendiriannya konsistendalam menjalankan pilihan hidupnya sebagai pengusaha. Walau iabanyak berhubungan dengan orang-orang politik yang beragam, iatetap menjaga posisinya yang independen. Ikhwal ketiga putranya memilih jejak yang sama, semuaterjadi secara alamiah. Sebagai orang tua tentu ia mengharapkanbisa melanjutkan apa yang telah dibangunnya bersusah payah. Duaanaknya, Aburizal dan Odi justru memilih teknik elektro dan teknikkimia. Dua yang terakhir, Nirwan dan Indra, atas kemauan sendiri AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 3
  20. 20. mengambil pendidikan manajemen di Amerika. Ketiga putranyamengawali karirnya dari bawah sebelum mencapai pimpinan pun-cak seperti sekarang ini. Ibarat telur kalau sudah matang betul, kalaudibanting yang pecah hanya kulitnya saja, sedang isinya tetap utuh.Begitulah gambaran filosofis Achmad Bakrie dalam membimbingpelanjutnya, ketika mereka menyatakan bergabung dengan sangayah. Bak kata pepatah seperti lepat dengan daun, Achmad Bakrieberistrikan Roosniah Bakrie, wanita berdarah Batak bermargaNasution. “Saya senang, dan saya tak merasa salah pilih. Istri sayasangat membantu dan selalu mengoreksi kepincangan-kepincangandalam norma-norma hidup, bukan dalam bidang usaha. Roos(panggilan istrinya) dan Odi (anak perempuan satu-satunya), duawanita yang selalu saya dengar,” tutur Achmad Bakrie dalam Mu-tiara (26 Desember 1979). Suami istri ini pun selalu akur dan sangatdihormati keempat anak-anaknya. Kedua orang tua ini tampaknyamoderat dalam bermenantu. Semua anak-anak mereka mendapat-kan jodoh bukan dari suku ayah (Lampung) dan bukan pula darisuku Ibu (Batak); keempatnya menikah dengan orang pulau Jawa. Ikatan kekeluargaan antara orang tua, anak, menantu, dancucu senantiasa terjalin baik. Tradisi makan bubur ayam masih te-rus berlanjut hingga kini. Kebiasaan lain masih tetap bertahan ada-lah makan sahur tatkala bulan puasa tiba. Aburizal hingga bulanpuasa yang lalu menyempatkan makan sahur bersama ibunya. Pa-dahal rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat, sedang Ibunya masihmenetap di Simpruk, Jakarta Selatan. Disela-sela waktu luang Achmad Bakrie menyempatkan dirimembaca buku, menikmati karya seni, atau berolahraga golf, joggingdan bermain kartu bersama keluarga dan kerabat dekat. Berkumpulbersama cucu merupakan satu hal yang paling dinikmati sang Atuk.Demikian akrab dan sayangnya kepada para cucunya itu, Atuk tahupersis apa yang menjadi kegemaran mereka masing-masing. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 4
  21. 21. Bab 1Bereksperimen Dengan Naluri Bisnis Bakrie kecil menjalani masa pra-sekolah bersama orang tuadan saudara lainnya di Kalianda. Dia bersama abangnya acapkali ke-luar masuk pasar, terletak tak jauh dari rumahnya, tanpa maksud. Suatu ketika ia iseng melihat penjual obat tradisional. Pen-jualnya orang India (Keling) yang menempati emper-emper kiospasar. Sambil mengamati sekilas barang yang digelar di situ, takdinyana orang Keling itu memintanya mendekat. Achmad Bakriemenurut saja. Lalu penjual obat itu menyuruhnya membuka te-lapak tangan lebar-lebar. “Bakrie, Bakrie. Kau akan jadi saudagar?”ledek pamannya usai Bakrie menceritakan ramalan orang India itu. Cerita sekitar tahun 1921-1922 tersebut tersimpan begitusaja. Jangankan saudagar, menjadi komisioner saja waktu itu meru-pakan hal yang langka. Saudagar adalah pedagang pilihan di manapara komisioner banyak berhubungan dengan mereka. Namundi tahun 1957, Achmad Bakrie bukan lagi sekedar saudagar saja,malah menjadi industriwan setelah memiliki NV. Kawat yang dibelidari orang Belanda. Tahun 1957 itulah sang paman menceritakanramalan itu pada Rusli Hasan (sepupu Achmad Bakrie dari garisayah) Dua bibi kembar Umi Kalsum dan Habibah (85) dari garisibu menceritakan masa kanak-kanak Achmad Bakrie. Masih lagiberusia 6-7 tahun dan belum bersekolah, Achmad Bakrie mencobabelajar berjualan. Dengan sistem konsinyasi, Achmad Bakrie men-jajakan roti tawar dan roti manis keliling kampung yang dijunjungtampah di atas kepala. “Kecil lagi dia sudah pintar cari duit. Saya AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 5
  22. 22. sering dikasih persen,” kenang H. Habibah. Masa liburan puasa ke-tika Achmad Bakrie telah bersekolah di HIS Menggala, ia berangkatke Telukbetung. Bekal pengalaman menjual roti pun dilanjutkanlagi. Dengan modal beberapa rupiah dibelinya roti lalu ditum-pangkan pada supir bus tujuan Kalianda. Roti-roti itu dijual seharga11 sen dari pokok sen. la melakukannya senang saja. “Dari pada be-ngong,” Pikirnya waktu itu. Di Menggala lain lagi. Achmad Bakrie saat itu bersekolahdi Hollandsch Inlandsche School (HIS), setingkat SD sekarang,teta¬pi ditempuh selama 7 tahun. Dulu, sekolah itu benar-benarterletak di tengah hutan; hanya ada jalan tikus menghubungkanlokasi sekolah dengan lima straat menuju onder afdeling (wilayahkabupaten). Dalam Staatsblad (lembaran negara) tahun 1929 No.362, Lampung memiliki sistem pemerintahan Belanda berbentukafdeling yang dikepalai seorang residen. Satu keresidenan Lampungterbagi atas lima onder afdeling yang dikepalai kontrolir (pegawaipemerintah Hindia Belanda yang kedudukannya di bawah AsistenResiden). Kelima onder afdeling itu berkedudukan di Telukbetung,Kota Agung, Sukadana, Kotabumi, dan Menggala. Achmad Bakrie menyelesaikan pendidikan HIS itu seki-tar tahun 1930. Dikisahkan pula: antara pukul 6.00 - 7.00, sebe-lum belajar pukul 8.00, Achmad Bakrie mencari sayur mayur laludijual¬nya ke pasar Menggala. Konon, menurut Rusli Hasan, di sisijalan tikus ke arah HIS itu banyak terdapat tanaman keras sepertikemiri, gambir, dan pohon kelapa. Di kawasan hutan belantara “takbertuan” itu Achmad Bakrie sering mengumpulkan buah kemiridan gambir lalu dibawanya ke rumah. Di akhir pekan setelah banyakterkumpul, terkadang sampai berkarung-karung, dibawa ke pekan(pasar desa) untuk dijual. Bakat berjual-belinya diduga kuat terbentuk di Menggala.Pengungkapan ini selain berasal dari sanak famili Achmad Bakriedan penduduk sekitar Menggala, juga menurut penuturan A. R.Soehoed (Mantan Menteri Perindustrian). Soehoed pernah ber-diam di Menggala, mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai KepalaKantor Pos di desa Ujung Gunung, Menggala. Selain adik kelasAchmad Bakrie (umur mereka selisih 4 tahun), keduanya bersa-habat hingga akhir hayat Achmad Bakrie. Mengapa Menggala? Dari berbagai literatur dan penutur- AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 6
  23. 23. an masyarakat setempat, Menggala adalah “kota penting yang di-tinggalkan”. Politik etis yang diciptakan Van Denem pada 1891 diparlemen Belanda, walau pada dasarnya sebatas memenuhi kebu-tuhan penjajah, memang tampak hasilnya di Lampung awal abadke-20. Berturut-turut secara bersamaan, Telukbetung (kini bagiandari Kotamadya Bandarlampung) dan Menggala (kini salah satukecamatan di Kabupaten Lampung Utara) didirikan dua jenis se-kolah tingkat dasar. Pada tahun 1900, di dua tempat itu didirikanSekolah Desa atau Sekolah Angka Dua dengan masa belajar tigatahun. Lalu, juga bersamaan pada 1905 didirikan HIS di Telukbe-tung dan Menggala. Sekolah yang terakhir ini diperuntukkan bagianak pejabat pemerintah (pasirah dan demang) pribumi setempat.Skenario Belanda adalah Telukbetung menjadi pusat pemerin-tahan, sedangkan Menggala bakal sentra perdagangan. Tapi saat iniTelukbetung malah menjadi pusat pemerintah dan perdaganganPropinsi Lampung. Dalam literatur lain disebutkan akibat Kebangkitan Na-sional (1908) daerah Menggala lebih dulu mengenyam hasil pen-didikan. Banyak tokoh berhaluan progresif berasal dari Menggalahingga tak heran kalau penduduk Menggala terkenal sebagai peda-gang cerdik, cepat mengembangkan kepribadiannya atas “andil”saluran pendidikan itu. Bahkan Syarikat Islam (SI), organisasisaudagar intelektual Islam itu, didirikan di Menggala pada 1913 - ta-hun pergantian nama dari Syarikat Dagang Islam (SDI) ke SI- olehH. A. Marzuki (asal Banjarmasin, Kalsel). Kegiatan dan perjuanganSI bergerak dalam bidang dakwah, sosial, pengajian, ukhuwah Is-lamiah, usaha-usaha perdagangan dan pertanian. Hingga kini masih bisa ditelusuri zaman keemasan Meng-gala sebagai daerah pusat perdagangan. Di aliran sungai TulangBawang terdapat Boom (pelabuhan), di desa Ujung Gunung masihberfungsi Kantor Pos dan Penjara. Di depan Kantor Pos itu dulubekas Kantor Kontrolir Belanda, tetapi kini dijadikan Puskesmas.Sebelum abad ke-20, dapat dikatakan hampir seluruh ekspor Lam-pung ke Palembang, pulau Jawa dan bahkan ke Singapura danEropa diberangkatkan dari pelabuhan Menggala, Boom itu. Mung-kin lantaran faktor keadaan alam dan tanah tidak sesubur daerahlainnya, serta pengaruh pergerakan SI yang terus meluas, hinggaBelanda membuka pelabuhan Telukbetung dan Panjang (1935). AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 7
  24. 24. Lalu sebelumnya perkebunan dibuka di Way Halim, Langkapura,Kedaton, Natar, dan Bekri dengan mendatangkan kuli kontrak daripulau Jawa permulaan abad ke-20. Menggala betul-betul menjadi “kota mati” tatkala dibukajalur angkutan darat mobil dan kereta api yang menghubungkanpelabuhan Panjang dengan Palembang, serta munculnya kota kecilKotabumi, yang kini ibu kota Kabupaten Lampung Utara. Sekaliguspula menggantikan peranan Menggala di bidang pemerintah danperdagangan. Dulu, masa Achmad Bakrie dan A. R. Soehoed bersekolahdi HIS Menggala, Boom dan sungai Tulang Bawang itu adalah duatempat yang hampir tak pernah mereka lupakan. Di saat air sungaipasang, rumah-rumah penduduk ikut tergenang hingga batas jen-dela. Dengan bertengger di pijakan jendela mereka memancing.Begitu pula di Boom bila tiba kapal KPM (Koninglijke PaketvaartMaatschappij), mereka seperti sudah mengetahui jadwalnya me-luncur ke pelabuhan itu. Aktivitas manusia dan barang di sekitardermaga pelabuhan terkesan hingar-bingar. Agaknya, menurut A.R. Soehoed, pemandangan dan suasana seperti itu menimbulkanhasrat Achmad Bakrie kelak menjadi pedagang atau pengusaha. Beberapa tahun setamat HIS Menggala, Achmad Bakriemencoba mengumpulkan duit dengan bekerja pada Kantor kontro-lir di Sukadana (Lampung Tengah). Berhasil? Tidak. la buru-burumeminta untuk mengundurkan diri saja setelah beberapa bulanbekerja, karena 3,50 Gulden gajinya per bulan tak efektif untukmodal usaha. Selepas itu Achmad Bakrie kembali ke Telukbetungtempatnya dulu mengirim roti ke Kalianda. Di Telukbetung, dicobanya melamar di perusahaan swastamilik Belanda, “Molekse Handel Maatschappij”. Ditunjang kemam-puannya berbahasa Belanda dengan lancar, ia pun diterima secaratidak terikat selaku komisioner penjualan hasil bumi: kopi dan lada.Hasil jerih payah selaku komisioner lumayan juga besarnya. Pendekkata duit bahkan cukup untuk membuka usaha. Tapi, “Buka usahasendiri pasti digilas Belanda. Mendingan ditabung saja pada Post Per-bank,” pikir Achmad Bakrie agaknya. Belum saatnya berusaha. lamemikirkan pendidikannya. Alhasil, ia pecahkan pundi-pundinyadi Post Perbank tadi lantas berangkat ke Batavia ( Jakarta) untukbelajar di Handelsinstituut Schoevers. Belum jelas benar siapa yang AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 8
  25. 25. menganjurkannya tapi ia mengambil keahlian akuntansi dan bahasaInggris. Pendidikan itu ditempuhnya dengan baik, lalu kembali lagike Lampung. Sekitar tahun 1934-1935, pemuda Bakrie mencoba lagi be-kerja pada perusahaan Belanda. Kali ini di “Zuid Sumatera Apotheek”di Telukbetung. Kalau di Molekse Handel Maatschappij bertindakselaku komisioner, di apotek itu ia ditempatkan pada bagian penjua-lan luar (salesman). Karena pemuda Bakrie telah memiliki pengeta-huan akuntansi dan bahasa Inggris (termasuk langka bagi pribumiwaktu itu) ditambah kemampuan bahasa Belanda sebelumnya,maka pendapatannya pun melesat. Gaji ditambah komisi penjualanobat dan “SPJ” mencapai 37,50 Gulden per bulan. Artinya sepuluhkali lipat lebih besar dibanding ketika ia bekerja di kantor KontrolirSukadana beberapa tahun berselang. Terbiasa hidup hemat, sebagi-an besar penghasilan itu pun disimpan pada Post Perbank, di tempatyang sama ketika menabung untuk biaya sekolah di HandelsinstituutSchoevers Jakarta. Bekerja di Apotek selama 7 tahun tentu uang pun semakintebal. Sekitar awal tahun 1942 “saudara tua” Jepang masuk. Apayang terjadi? Pecah Perang Dunia ke-II itu disusul pula bubarnyaperusahaan penjualan obat tersebut. Seluruh simpanannya ditarik,lalu pemuda Achmad Bakrie “memborong” obat-obatan itu. Naluribisnisnya mengatakan begitu agaknya. Jitu perhitungannya. Semuakapal-kapal Belanda diblokir Jepang. Praktis obat-obatan produkBarat (Eropa) tidak bisa masuk. Harga obat-obatan milik AchmadBakrie akhirnya membubung tinggi. Modal terkumpul cukup banyak. Tanpa gembar-gembor(kebiasaannya sejak kecil), berdirilah pada 10 Februari 1942“Bakrie & Brothers General Merchant And Commission Agent”di Telukbetung, Lampung. Perusahaan ini bergerak di bidang pen-jualan dan keagenan hasil bumi seperti kopi, lada, cengkeh, tapiokadan sebagainya. Ketika Jepang masuk, banyak inventaris Belanda bersera-kan. Antara lain mobil. Dalam perjalanan antara Kalianda-Teluk-betung, dua bersaudara Achmad Bakrie dan Abuyamin (abangAchmad Bakrie) melihat mobil-mobil Belanda terbengkalai di kakibukit Tarahan, bersusun-susun, tidak jauh dari pinggir jalan. Duabersaudara pendiri Bakrie & Brothers ini mendekati barang pe- AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 9
  26. 26. ninggalan Belanda itu. Di dalam mobil-mobil itu masih tersimpandengan baik dan utuh rupa-rupa kue maupun roti kering (biskuit).Timbul ide untuk mengambilnya, tetapi sukar mereka memutuskanmobil atau biskuit. Alih-alih atas pertimbangan Abuyamin, pilihanjatuh ke biskuit. Sebab, kalau mobil urusannya bisa repot. Berselang beberapa hari, di perlintasan jalan serupa, ke-dua abang-adik ini ketemu orang Jepang yang lagi bingung lanta-ran mobilnya mogok. Achmad Bakrie mulai menawarkan “jasa”karena yakin Abuyamin, mantan sopir truk, bisa membengkeli.Kalau hanya bagian mesin pasti mengerti, pikirnya. Orang Jepangitu serta merta menyambut baik pertolongan “saudara mudanya”.Sebagai “jubir” Achmad Bakrie menanyakan abangnya kira-kira apapenyebabnya. Sementara pemilik mobil naik ke jok mobil dalamkeadaan kap terbuka, “Coba!,” teriak Achmad Bakrie. Mesin punhidup, dengan sentuhan sedikit saja oleh Abuyamin. Sang Jepangberterima kasih betul pada “montir” Bakrie. Cukup terima kasih? Tidak. Beberapa hari berikutnyaorang Jepang itu menemui Achmad Bakrie di Telukbetung. Tidakdisangka ia adalah perwira polisi. Apa akal? Achmad Bakrie bukan-nya takut, malah dari polisi Jepang itu ia memperoleh lisensi trayek.“Nanti ada saja gunanya,” pikirnya barangkali. Lisensi angkutan ada, tapi mobil tak ada. Dia pun menda-tangi Oei Kian Tek, orang Cina pengusaha firma angkutan yangdikenalnya sewaktu menjadi sales di apotek. “Lu punya oto kenapa lu nggak jalanin?” “Krie, lu ini macam-macam aja. Sekarang ini sudah nggakboleh jalan!” “Lu mau jalan?” “Kayak lu aja yang kuasa, Krie?” “Nih, kalau lu mau jalan, tapi ada syaratnya!”Achmad Bakrie menunjuk lisensi pada Oei Kian Tek. Akhirnyadisepakati persyaratan: Pertama, saudara-saudara Achmad Bakriegratis naik mobil itu dari Kalianda ke Telukbetung pulang pergi.Kedua, hanya boleh membawa minyak kelapa (goreng) milikAbuyamin. Ketiga, “Lu boleh pungut mengenai ongkos penum-pang, nggak usah lu bagi gua. Lu ambil tuh semua ongkos penum-pang,” begitulah Achmad Bakrie menerangkan “aturan main” kerjasama itu. Mudah ditebak, perusahaan keluarga itu ingin memono- AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 10
  27. 27. poli produksi dan pemasaran minyak goreng. Dan benar. Keadaanini berlanjut sampai keluar peraturan: semua mobil diperlukanuntuk mendukung pendudukan Jepang disana. “Orang tua sayamengakui bahwa Oom saya itu pintar,” tutur M. Ali Yamin (47) salahseorang putra Abuyamin. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 11
  28. 28. Bab 2Otodidak Sejati Kegemaran membaca pada Achmad Bakrie sudah sejak diniterbentuk. Kebiasaan itu tetap terpelihara, di saat ia memasuki usialanjut. Terkadang ia bergumam, karena kemampuan matanya kianterbatas, seakan-akan kesenangannya terusik dengan kendala itu.Semangat membaca tetap saja tidak mengendur, misalnya ia im-bangi dengan pertolongan kaca pembesar. “Saya paling kesal, kalautidak bisa membaca,” ujarnya suatu kali pada KOMPAS. Dulu, masihbekerja pada Kantor Kontrolir Belanda di Sukadana Lampung Ten-gah, dan ketika bekerja di perusahaan dagang Belanda diupayakan-nya meminjam buku-buku tentang apa saja. Ketika pemuda Bakriememulai berdagang kecil-kecilan, hampir tidak pernah luput didalam tasnya terselip buku. Di perjalanan, atau sedang menunggusesuatu, adalah kesempatan terbaik baginya untuk membalik-baliklembaran bacaan. Keterbatasan peluang menuntut ilmu lebih tinggi, merupa-kan alasan kuat membuatnya tidak berhenti untuk belajar. Karena iaorang praktis, khazanah bacaan yang diutamakannya pun tentulahwacana praktis-praktis saja. Untuk melengkapi pengetahuannya,buku-buku teks (teoretis) tidak pula diharamkannya. Sejarah danekonomi baginya tergolong pengetahuan yang banyak mendatang-kan manfaat praktis, dus bukan buku teoretis. Dari sejarah, katanya,orang bisa mempelajari watak atau karakter suatu bangsa. Kekuatandan kelemahan suatu bangsa sangat jelas tercermin dalam pengung-kapan sejarah. Karena literatur tentang sejarah, tidak heran bukusemacam itu dimilikinya dalam jumlah yang banyak. Buku-buku AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 12
  29. 29. tentang ekonomi, terutama menyangkut kejadian-kejadian ekono-mi termasuk buku juga banyak dikoleksinya. Bahan bacaan baginya tidak selalu berbentuk buku, untukinformasi aktual diperoleh melalui penerbitan majalah dan koran.Tetapi basic (dasar) untuk memahami peristiwa ekonomi dan mo-neter, menurutnya lebih dulu dikuasai dari buku-buku ekonomi.Literatur politik tidak pula ia lewatkan begitu saja. Dulu, sekitartahun 70-an pernah beredar buku laris di Amerika Serikat. Bukuitu berjudul Mataresa Circle buah karya Ludlum yang menceritakantentang gerakan politik di bawah tanah. Satu aspek buku itu me-ngandung hikmah, memperluas wawasan fenomena keadaan poli-tik suatu bangsa. Bila kita ingin maju, katanya, jangan pernah berhenti meng-gali ilmu pengetahuan. “Bagi saya belajar tidak ada habis-habisnya;Namun kita harus menyesuaikan diri. Jangan, lalu, merasa lebih he-bat dari orang lain,” tuturnya pada tabloid Mutiara (1979). Dalamungkapan lain di Kompas (1986) pernyataan itu ditekankannya. Untuk tidak terjebak pada “penyakit” otodidak, diperlu-kan alat untuk mengontrol diri. Bergaullah dengan orang baik-baikdan orang-orang pintar. “Sebab, dari orang-orang itu kita banyakbelajar,” katanya. Kelemahan otodidak, karena berhasil mencapa-inya tanpa sekolah, lalu menjadi lupa daratan. “la merasa palingpintar, paling jago, paling berkuasa, paling hebat dan paling besar,”lanjutnya. Ketekunan Achmad Bakrie dalam membaca, Hasjim Ningmenjulukinya dengan “pengusaha yang kutu buku”. Dalam bebera-pa kesempatan sedang berkunjung ke luar negeri, pengusaha se-angkatan Achmad Bakrie ini menceritakan pula, bahwa sahabatnyaitu tak menyia-nyiakan sisa perlawatan mereka dengan membeli se-jumlah buku. Tidak pula ada keharusan membeli dulu, baru mem-baca. Pengalaman Z.A. Samil, MA., Diplomat RI untuk RepublikFederal Jerman (1966-1968), pada Achmad Bakrie menarik juga.Di hotel, tempat sahabat akrabnya itu menginap, ia dapatkan di atasmeja kamar hotel itu selain buku dan majalah, juga sebuah Bible.Menurutnya lagi, pada hotel-hotel bergengsi di Eropa dan Amerikafasilitas bacaan termasuk kitab suci umat Nasrani itu merupakan ke-lengkapan setiap kamar hotel. Kegemarannya membaca, di antaraayat-ayat Bibel itu, bahkan ada yang dihapal Achmad Bakrie. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 13
  30. 30. Karya-karya sastra semisal roman, puisi dan syair, bukan-lah sesuatu yang mesti dilewatkannya. Untuk beberapa hal malah iaterkesan menguasai beberapa karya sastra para penyair Belanda. Se-dangkan karya pujangga Inggris dan Indonesia tidak terlalu banyakdiikutinya. Kalau hati sedang dilanda sedih, Achmad Bakrie sukasekali membaca syair-syair itu. Kegemaran akan syair banyak di antaranya diciptakan-nya sendiri. Entah karena apa, syair yang dibuatnya selalu tidakberjudul, dan beberapa buah tangannya tercantum di bawah ini.Tampaknya ia rajin mencatat bagian-bagian tertentu dari bukuyang dibacanya. Dia menuliskannya pada agenda harian atau dalamlembaran-lembaran lepas dan menyimpannya dengan baik. Banyakdijumpai dalam catatan-catatan itu, kutipan ucapannya, pribahasa,ungkapan, dan istilah-istilah. Adakalanya sumber yang dikutip itutercantum namanya, ada juga tidak dimuat identitas sumbernya.“Success has to be earned, and one must preserve and strengthenthis reputation everyday.”Tonight,it shall brave the windto reach your distant doorit shall knock my dear one and whisper a soft helloBe not alarmedit’s but a mental meMe, who since in firm could not reach yourclosing embrace,has journeyed tonighton borrowed wingsthrough misty airto steal a kiss from your moistened lipsFreedom makes opportunities,Opportunities makes hope,Hope makes life and futureScience is knowledge. Knowledge cannot be unlearned.Learning is not only from schools,though better but by learning any time. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 14
  31. 31. When evening shadows gather nightand twinkling stars light up the skyI hear my master say to meI made it all for you to seeMy heart grows warm with faith and prideTo know that He is by my sideThere is a memory in my heart todayThat passing years cannot take awayAn empty space no one can fillI love you still and always willthe tears in my eyes, I can wipe away,but the ache in my heart still always stay.Pagi ini kubuka jendelakuKulihat bunga-bungaku menari ditiup anginSelamat pagi bunga-bungakuHiaslah halamanku dengan warnamuKulangkahkan kakiku dengan riangMeninggalkan bilik tidurkuSelamat pagi ibu, selamat pagi ayahSenyummu membuat aku bahagiaSelamat pagi TuhankuTerima kasih atas hari baruYang kau berikan kepadakuBimbinglah aku, hari iniDi dalam menunaikan tugasku.“Covenants without swords, die but words”. (Thomas Hobbes, l7th Century).“If music be the food of love, play on; give me excess of it.”“Knowing where the bread is buttered.”“Give your bussiness a chance without taking chances.”“One cannot help the poor by discouraging the rich.”“To find riches ia a beggars dreams, to find love is a dream of kings.” AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 15
  32. 32. THOUGHT ON TAIPOOSAM DAYOne night a man had a dream,was walking along the beachwith the Lord.Across the sky flashed scenes from his lifeFor each scene he noticed, two sets offoot-prints on the sand,One belonging to him and other to the LordWhen the last scene flashed before himlooked back at the foot-prints on the sandnoticed that many time along the parts of his lifeThere was only one set of foot-printsHe also noticed that this happened at theVery lowest and saddest times in his life.He question the Lord about itLord, you said that once I decided tofollow youYou would walk with me all the wayBut I have noticed - that during the most trouble some timesin my lifeThere is only one set of foot-printsI don’t understand why you would leave mewhen I needed you mostThe Lord replied:My son, my precious childI love you and I would you never leave meDuring your times o f trial and sufferingWhen you see only one set of foot-printsIt was then I carried youAuthor unknownContributed by K.R. AtmanathanMadras AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 16
  33. 33. Karena ke-”otodidak”-annya, tidaklah mengherankan kalaudi rumahnya tersimpan sejumlah bacaan dalam rak buku. Sebagiankecil ditaruh di kantor, dibacanya ketika ada peluang untuk itu. Keinginan kuat untuk mandiri, selain berbekas dalampikiran dan ucapannya, juga tidak jarang ia menganjurkan kepadagenerasi muda di kantornya giat menambah pengetahuan. Kebodohan dan kemalasan hanya karena tidak mau berse-kolah atau belajar adalah dua hal yang dibenci Achmad Bakrie. Se-baliknya ia menghormati orang yang pintar atau berpengetahuan,tidak peduli saudara atau bukan, karyawan atau bukan. Lebih-lebihgenerasi muda di alam serba canggih dan inovatif, Achmad Bakriemenaruh respek pada mereka yang berprestasi. Informasi baginya adalah hal yang mutlak dipunyai. Dalammasa-masa kesehatannya menurun dan diopname di rumah sakit, iamasih saja perlu mengikuti informasi. Pada kerabat famili ia memintamereka membaca isi surat kabar. Bagian rubrik penting ia minta di-bacakan seluruhnya, sedangkan yang lain minimal judul beritanya. Di dalam daftar riwayat hidup yang dibuat dan ditanda-tanganinya sendiri, ia mencantumkan pendidikannya “autodidact”.la seakan-akan ingin meyakinkan, bekal pendidikan terbatas pun,kalau tidak pernah bosan belajar dan mengejar informasi denganaktif, tidak ada jeleknya bercita-cita setinggi langit. Dan dia berhasilmenggapainya dengan kaki tetap membumi. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 17
  34. 34. Bab 3Sukses Tapi Sepi Publikasi Di antara orang-orang yang sukses di Indonesia, ia terbilangjarang sekali muncul di media massa. “Malu, ndak enak,” ucapnyasuatu kali. Dalam falsafah klasik jurnalistik, “nama membuat berita”(name makes news). Tentang apa saja yang menyangkut orang ter-nama, selalu menarik untuk diberitakan. Berulang kali ia menolakdengan disertai alasan, namun wartawan tidak bosan memburunya.Kendati demikian, setiap kali ia berhasil diwawancarai, alasan se-rupa dilontarkannya lagi pada petikan perbincangannya itu. “Sifatsaya memang tidak ingin ditonjolkan. Rasanya tidak cukup alasanuntuk itu. Tapi kali ini saya sedang terbuka,” katanya di lain kesem-patan. Menyangkut orang terkenal di luar negeri, adalah Diane vonFurstenberg - itu Princess of Fashion pilihan majalah Newsweek - per-nah berkata, bahwa sukses bukanlah hal yang mesti diumbar padaorang lain. Buah karya, katanya lagi, sudah cukup menghangatkanpribadi. Dan sukses itu ibarat kita mengerlingkan mata pada dirikita sendiri. Lalu, sukses menurut Achmad Bakrie adalah relatif. Mem-bandingkannya dengan General Motor, tentu saja belum bisa.Tetapi, membandingkannya dengan warungan tentu dapat dikata-kan sukses. Ia lebih memilih ukuran sukses pada target pribadi.Angan-angannya dulu, ketika memulai usaha di Jakarta, adalahmemiliki kantor sendiri, besar, di sana-sini berdering suara teleponseperti dilihatnya pada film Amerika. Dan sukses yang utama, seba-gai ayah dari empat anak, ialah bahwa anak-anaknya berpendidikantinggi dan taat beragama. Lantas, dalam rumah yang besar, ia bisa AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 18
  35. 35. berkumpul dengan anak-anaknya. Itulah sebabnya, sekretaris pribadi, dan tak kurang istri dananak-anaknya, merasa “surprise” betul, tatkala wartawan dijanjikanuntuk mewawancarainya. “Kok Pak Achmad Bakrie mau?” kutipMutiara menirukan nada heran sekretarisnya. Pengalaman Kompas,lain lagi. Satu dari pewawancaranya, Azkarmin Zaini, yang dekatbetul dengan keluarga Achmad Bakrie memerlukan waktu belasantahun, baru berhasil “mendekati”nya. Satu lagi tulisan eksklusif ten-tang Achmad Bakrie, pernah dimuat majalah Swasembada. Kesanwartawannya, bahwa mengherankan dalam usia mendekati 70 ta-hun, Achmad Bakrie selalu runtut menjawab monolog pertanyaanyang panjang-panjang. Berbeda dengan pengalaman dunia pers, para sahabat dankeluarganya menilai penampilan Achmad Bakrie adalah pribadiyang hangat dan mudah ditemui agaknya. “Tidak mengecilkanarti pers, tetapi setahu saya, Pak Achmad Bakrie itu terkenal luaspergaulannya,” Ujar Omar Abdalla. Tetapi, lanjutnya lagi, barang-kali masyarakat luas belum banyak mengenal Achmad Bakrie, ter-utama generasi muda. “Kalau ada keluarga yang sakit, beliau me-nyempatkan diri untuk datang. Beliau sibuk mencari ini dan itu, danmemperhatikan yang sekecil apapun,” tutur Annie Burhanuddin,istri sepupu Achmad Bakrie. Di Lampung tempat Achmad Bakriedilahirkan dan merintis usahanya, banyak warga masyarakat terke-coh, menduga Achmad Bakrie adalah keturunan Cina. Bahkan se-buah terbitan di Singapura dan di Jakarta pernah menulis, bahwaAchmad Bakrie adalah keturunan Arab. “Nggak tahu ya, yang pastiempat generasi di atas saya adalah pribumi asli,” ungkap AburizalBakrie enteng, dalam perbincangannya untuk keperluan buku ini. Pernah muncul gagasan dari Achmad Bakrie untuk me-nerbitkan buku, kalau tidak otobiografi atau biografi. Rencananyabuku itu akan digarap Azkarmin Zaini (kini di Harian Pelita). Teta-pi, mendadak kesehatan Achmad Bakrie, yang akan menjadi peranutama dalam otobiografi, mulai memburuk. Maka, beralih pilihanuntuk membuat biografi dengart prioritas utama sumbernya ber-asal dari istri dan keempat anaknya. Rencana ini kembali terken-dala, selain kesehatan Achmad Bakrie kian memburuk saja, jugafaktor kesibukan penulis dan sumber informasi dari kalangankeluarga. Namun begitu, ketiga putranya masing-masing dua kali AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 19
  36. 36. telah diwawancarai dalam kurun waktu dua tahun. Sedangkan sangistri dan putrinya seorang, dalam masa itu belum sempat dihubungiuntuk keperluan bahan tulisan biografi tersebut. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 20
  37. 37. Bab 4Mendirikan Yayasan Achmad Bakrie Kenyataan yang dialami Achmad Bakrie adalah sejakdulu banyak anak-anak cerdas dan berbakat tak bisa melanjutkanpendidikannya, karena kesulitan hidup orang tua. Tatkala AchmadBakrie kian mapan, segera saja timbul niatnya untuk sekedar mem-bantu mereka. Dia memulai dari orang-orang yang terdekat di ling-kungannya. Tetapi, karena ia pun makin sibuk dengan usaha yangterus semakin membesar, ia mulai berpikir menyalurkan bantuanlewat institusi sosial. Setahun setelah pembicaraan antar keluarga, maka bulatlahmufakat untuk mendirikan Yayasan Achmad Bakrie. Melalui AkteNotaris Koesbiono Sarmanhadi di Jakarta, dengan modal Rp 5 juta,pada 15 Juni 1981 resmilah wadah sosial itu berdiri. Dalam aktenomor 35 itu tercatat 6 orang pendiri, Achmad Bakrie dan istri be-serta keempat anaknya. Pada perkembangan selanjutnya, yayasan yang didanai daripara pendirinya ini, mulai berfungsi dengan baik. Hingga tahun1989, dari 249 orang, sebanyak 60 orang dari berbagai perguruantinggi negeri dan swasta berhasil menyelesaikan studinya. Sedang-kan tingkat SMTA (STM/SMEA/SMA) 25 siswa dapat menyele-saikan pelajarannya. Sejak berdiri 1981, yayasan ini menyalurkan beasiswa kepada 16 lembaga dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia antara lain ITB, UGM, UNAIR, USU, IAIN, dan Universitas Cen- derawasih. Yayasan juga menyalurkan santunan kepada beberapa instansi pemerintahan seperti Dharma Wanita unit Lemsettina BPPT, Persit Kartika Chandra Kirana, dari jenjang SLTP sampai AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 21
  38. 38. perguruan tinggi. Selain itu, sebanyak 13 orang menerima bantuanbeasiswa secara perorangan. Bantuan yang diberikan bukan keseluruhan biaya pen-didikan, tetapi sebatas pembayaran iuran pendidikan. Untuk per-orangan yayasan langsung mengadakan penyeleksian dengan mem-buktikan prestasi belajar, berasal dari keluarga tidak mampu dengansurat keterangan dari RT/RW dan kepala sekolahnya. Penyaluranpada lembaga pendidikan dan pemerintahan sepenuhnya ditentu-kan lembaga tersebut, dengan tetap memberlakukan persyaratanyayasan. Begitu pula berlaku pengaturan pergantian tempat bagiyang telah lulus atau terkena penghentian bantuan karena tidak lagimemenuhi ketentuan yayasan. Pengiriman bantuan itu dilakukan tiga bulan dimuka bagipenerima kolektif dan perorangan diberikan setiap bulan langsungatau via kantor pos. Untuk memantau prestasi belajarnya, setiappenerima santunan mengirimkan nilai belajar setiap semester ataudua kali dalam setahun. Untuk mengendalikan organisasi yayasan ini dibentukbadan pengurus sebanyak enam orang terdiri dari :K e t u a : Ny. Roosniah BakrieWakil Ketua : Ny. Tatty Aburizal BakrieBendahara : Ny. Roosmania Bakrie-KusmuljonoSekretaris 1 : Ny. Ike Nirwan D. BakrieSekretaris 2 : Ny. Dotty Indra U. BakriePelaksana Harian : Ny. Annie Burhanuddin Yayasan ini tidak memberlakukan ikatan apa-apa kepadayang telah berhasil menamatkan pendidikannya. Hanya dianjurkan,bagi yang telah bekerja, secara ikhlas membantu seberapa bisa, ka-rena calon penerima bertambah banyak saja. Rasa terharu bagi pengurus yayasan adalah, ketika hendakdiwisuda; banyak yang melayangkan surat undangan untuk meng-hadirinya. Atau, ucapan terima kasih kepada yayasan. Rasa terha-ru juga pernah dialami pengurus yayasan, ketika mahasiswa ITBmenyampaikan permohonan beasiswa perorangan. Selain indeksprestasi (IP) mencapai 3,8, juga selama itu ia membiayai kuliahdengan jalan meloper koran. Lembaga perpanjangan yayasan diITB tidak bisa merekomendasikan mahasiswa itu, sebab penerimareguler belum ada yang mundur. “Ibu Bakrie tidak tegaan, lalu me- AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 22
  39. 39. nyetujuinya lewat perorangan,” ujar Annie Burhanuddin, pelaksanaharian yayasan itu. Hal serupa terjadi pada siswa SMP di Jakarta.Tanpa sengaja, Annie, menjumpai siswa itu di sebuah pasar sedangmenawarkan jasa untuk mengangkut belanjaannya. Ternyata, siswaitu berprestasi baik di kelasnya, ia anak Betawi yang terpaksa men-cari biaya sendiri, karena ayahnya sakit-sakitan dan ibunya telah ti-ada. Sampai sekarang (1991) si anak belum tertampung di yayasan,karena menunggu lowong dari sekolahnya. Ada juga beberapa mahasiswa “nakal”, berkedok terusir darikeluarga dan mahasiswa abadi, alias MA. Permohonan bantuanperorangan padanya segera ditolak, karena mencoba mengelabuipengurus yayasan. Seorang penerima reguler terpaksa dihentikan,karena setelah beberapa kali perpanjangan, kuliahnya di akademiselama 8 tahun tak kunjung selesai. Calon penyandang beasiswa semakin bertambah sajadengan adanya pengajuan baru dari lembaga lain, sementara danayayasan juga terbatas. Sambil mencari alternatif lain, yayasanmenyelenggarakan penjualan lukisan di Wisma Bakrie. Seluruhkeuntungan dari penjualan lukisan itu dilimpahkan pada yayasan.Lukisan memang banyak tergantung di ruangan dan floor lantai VIIWisma Bakrie. Sehingga, selain yayasan beroleh suntikan dana,interior gedung kantor itu terkesan artistik dan asri. Yayasan Achmad Bakrie telah berdiri 11 tahun, seolah-olahidentik dengan pencetusnya, berhasil tetapi tidak banyak dikenalmasyarakat luas. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 23
  40. 40. Bab 5Mendambakan Akhlak dan Harta Satu unit gedung perkantoran berbentuk segi delapanberdiri anggun di kawasan Segitiga emas, Kuningan, Jakarta Selatan.Pada puncak bangunan menghadap ke Jalan H.R. Rasuna Said ituterpampang tulisan besar-besar “Wisma Bakrie”. Ketika diresmikanpemakaiannya, seorang lelaki tua dengan vokal suara berat khas,tampil mengucapkan sepatah dua patah kata di hadapan keluargadan para undangan lainnya. Pada bagian sambutannya itu, ia me-nyebut rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya yang telahtiada. Kata terima kasih barang kali terucap, karena ibundanyase-nantiasa mengingatkan akan kemauan keras sang anak. Dulu,setiap kali ia hendak berbuat sesuatu, bundanya selalu berpesandengan kata-kata, “Apa ada uangmu untuk bikin itu? Kalau ndak ada,usahlah, malu kita.” Ketika masih kanak-kanak, Achmad Bakrie memang ber-pembawaan lasak, tidak mau diam. Tempramennya pun tinggi,impulsif. Kendati demikian, terhadap orang tua ia senantiasa me-naruh rasa cinta, hormat, dan patuh. Kesantunannya itu tak pernahlekang, walaupun ia telah berumah tangga dan menjadi saudagar.Tetapi ayahnya, H. Oesman Batin Timbangan, lebih dulu me-ninggal (1957). Pada saat ayahnya sakit, di Kalianda, sang anak yangtelah menetap di Jakarta selalu menjenguk dengan penuh perhatian.Ia tuntun sendiri ayahnya ke sumur yang terpisah dengan bangunanrumah, menyempurnakan istinjak kala ayahnya hendak berwudhu.Dengan sabar dan cinta ia lakukan. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 24
  41. 41. Di Jakarta, terbiasakan setiap hendak pergi dan pulangdari kantor, ia temui dulu ibunya agak satu-dua menit sebelummenjumpai anak-istrinya. Selalu ia katakan, bahwa uang bukanlahtujuan hidup; melainkan sekedar alat untuk menyenangkan orangbanyak. “Mencari uang lebih mudah daripada menjaganya,” begitu-lah ia acapkali menceritakan pada banyak orang. Sebab, tidak jarangorang terlena, karena telah meraih apa yang dicari selama itu. Be-lajar menghargai rezeki yang sudah didapatkan, jangan borosdengan menghambur-hamburkannya untuk hal-hal yang tidakperlu betul. Harta mesti didayagunakan untuk kemaslahatan umat,untuk kemajuan manusia, dan sebagai wujud kecintaan kepadabangsa dan negara. Cara orang menghargai kita, salah satu upayaadalah bagaimana kita mengelola harta. Tidak bisa dibayangkan,umpamanya kita mempunyai banyak harta, tetapi difoya-foyakanuntuk berjudi dan main perempuan. Jadi, bagaimana orang bisamenghargai kita? “Saya punya kompas hidup, yakni agama,” ucapnya suatuwaktu. Manusia yang berakhlak, kalau disertai dengan harta, kayaraya, itu sangat ideal. Itulah mengapa, seandainya terpaksa harusmemilih: harta atau akhlak, ia lalu mengatakan, “Saya pilih akhlakmeskipun hidup secukupnya saja,” ia tidak pernah “mengklaim”atau berani memproklamirkan, bahwa ia berhasil secara ideal me-madukan akhlak dan harta. Artinya, berprestasi mencapai nilai itudengan pandangan kasat mata. Bahwa, kendati demikian, malahanpengakuan dari orang banyak tertuju padanya. Dan apa yang mere-ka simpulkan Achmad Bakrie tampaknya berhasil mewujudkannya.Figur Achmad Bakrie memang cenderung selalu berpembawaanlow profile. Tidak menjadi keharusan, misalnya setelah ia kaya,lalu menghambur-hamburkan uang sekehendak hatinya. Ia bela-jar menghargai rezeki yang dilimpahkan Tuhan. Memberi dengantangan kanan, tanpa sepengetahuan tangan kiri. la dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang patuh denganagama. Seperti umumnya masyarakat Lampung, pengenalan sopansantun akhlakul karimah, mereka dapatkan sejak dini. Mengaji kesurau, atau bertukar kaji dengan orang yang lebih pandai. Bahkanuntuk melengkapi rukun Islam kelima - naik haji - telah dilakukandatuknya (H. Menak Kemala Bukik) dengan naik perahu, berangkatke Tanah Suci. Di Menggala, tempat ia bersekolah di HIS, suasana AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 25
  42. 42. keislaman cukup mengental dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Syarikat Islam (SI) telah berdiri di situ pada 1913. Menurutsebuah sumber di situlah pertama kali SI berdiri untuk WilayahKeresidenan Lampung. Di tempat ini pula Achmad Bakrie menda-patkan dua dasar yang kuat: agama dan dagang. Mencontohkan akhlak ia lakukan terhadap keempat anak-anaknya, semasa mereka masih kecil-kecil. Tidak heran, bahkan halyang sama berlanjut pada cucu-cucunya, misalnya dengan menga-jak mereka salat di rumah atau ke masjid. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 26
  43. 43. BAGIAN KEDUAAchmad Bakrie Dalam Untaian Kenangan Masa 72 tahun adalah rentang waktu yang cukup panjang.Andaikan ada tiga aktivitas kehidupan dalam tiga kelompok, makaapabila dibagi rata, bilangan itu menjadi 24 tahun belajar, 24 tahunbekerja, dan 24 tahun bermasyarakat. Sungguh banyak pengala-man, kenangan, dan kesan tertinggal pada orang yang pernah me-ngenalnya. Mereka itu bisa jadi saudara dan keluarganya, pegawaidi perusahaannya, sahabat, warga masyarakat, ataupun mereka me-ngetahuinya lewat berbagai sumber. Alih-alih, bila hendak diser-takan orang-orang yang pernah (lama atau singkat) mengenalnya,tidak cukup waktu dan ruang untuk menampung kenangan itu.Padahal sangat mungkin orang-orang yang tidak tercantum disinicukup credible dan significant untuk keperluan ini. Secara otomatis, sumber informasi ini dikelompokkanmenjadi beberapa kategori, yaitu: l. Keluarga, 2. Karyawan Kelom-pok Usaha Bakrie, 3. Relasi, sahabat dan pengamat, 4. Orang asing,dan 5. Warga Masyarakat. Mengapa tidak tercantum pejabat sipil/militer. Alasan-nya, karena umumnya sudah tertampung pada kategori ketiga.Untaian kenangan dari sumber informasi berkisar tentang ke-disiplinan/kerja keras, dan kejujuran dan keberhasilan sebagaikepala keluarga, pengusaha dan pribadi; kiat bisnis: kepeloporan,kemandirian, intuisi/visi, etika, dan integritas; “human interest”fungsi sosial, refleksi keagamaan : kedermawanan, akhlak dan harta,olah-raga dan pendidikan; serta lain-lain. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 27
  44. 44. Para responden atau penyumbang informasi itu ada yangmenuturkan sendiri lewat perbincangan, kiriman tulisan dan kuti-pan dari media massa (cetak) berupa opini, komentar, dan ula-san. Konsekuensi dengan keanekaragaman sumber tersebut, makadalam penyajiannya ada yang berbentuk: perbincangan, by line(oleh), dan uraian kolektif. Diakui, statistik ini tidak seluruhnyaberhasil, atau malahan terkesan ada redundancy dan discrepancy. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 28
  45. 45. Bab 1Perbincangan Relasi, Sahabat, PengamatBakrie Pengusaha TeladanPerbincangan Achmad Tahir Serupa tapi tak sama, meminjam rubrik uji mata Selecta,hiburan yang sangat populer di zamannya. Begitulah kalau kitaiseng-iseng mengutak-atik dua pasang suami istri ini. Persama-annya: nama depan suami (boleh juga pakai gelar haji) sama-samaHaji Achmad, dan panggilan kepada istri masing-masing juga Roos(Rooslila Tahir dan Roosniah Bakrie). Suami sama-sama di garisdepan sementara istri lebih banyak di belakang alias ibu rumahtangga, tidak pernah terbalik- ada kalanya istri yang lebih terkenal,contohnya seperti Margareth Thatcher. Siapa yang tidak mengenal Achmad Tahir. Terakhir jabatankondang yang disandangnya adalah Menteri Pariwisata, Pos danTelekomunikasi pada Kabinet Pembangunan IV. Kini pengabdian-nya pada masyarakat adalah Ketua Yayasan Universitas PancasilaJakarta. Dengan gaya khasnya yang ramah dan tidak formil me-ngajak berseduduk di ruang kerjanya dibagian belakang yang lebihterkesan teras merangkap perpustakaan. “Almarhum mendapat tempat khusus di hati kami seba-gai abang teladan,” ucapnya menatap lurus. Sebutan “abang” padaAchmad Bakrie menandakan takzim dan dekatnya persahabatan diantara mereka. Keteladanan Achmad Bakrie menurut Tahir terujipada sisi pengusaha, kepala keluarga, pribadi, dan warga negara. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 29
  46. 46. Sebagai pengusaha, Bakrie tidak mengecoh mitranya dantidak pernah terdengar suara sumbang atas perilaku bisnisnya.Sebagai kepala keluarga, Bakrie pantas diteladani. Selain pendidi-kan formal anak-anaknnya berhasil semua, juga pendidikan agamamereka. Integritas pribadinya dapat diandalkan seperti jauh darigosip, tidak mencampuradukkan persahabatan dengan bisnis yangditekuninya, dan pergaulannya luas meliputi semua lapisan. “Salah satu kekuatan beliau adalah, tidak suka mencerita-kan atau menjelek-jelekkan orang lain,” Tahir mengingatkan dulu,biasanya sesama pengusaha mengedarkan gosip dan menjelek-jelekkan pribadi dan perusahaan-perusahaan. Bahkan Tahir tidakmenafikan bahwa kenyataan itu masih terjadi sekarang. Integritaspribadi lainnya, bahwa Bakrie itu pengusaha kaliber besar yangrendah hati, ramah dan selalu hangat di tengah-tengah pergaulan-nya dengan sense of humor yang tinggi. “Biasanya orang sekaliberdia dari jauh saja sudah kelihatan. Mudah-mudahan sifat beliaumenurun kepada generasi kedua.” Tahir mengakui sulit menyamai almarhum Bakrie. Per-alihan generasi di tubuh perusahaan keluarga sering diakhiri den-gan pertengkaran ayah dengan anak-anak atau antar anak-anaksendiri. Sukses generasi pertama malah sering menimbulkanmacam-macam kompleks seperti “conflict of interest”. Pada keluargaBakrie, Tahir tidak melihat sedikit pun tanda-tanda ke arah itu bah-kan sejak kepergian Bakrie, generasi pelanjut tampak kian tegardan membesar. Untuk hal seperti ini, Tahir suatu kali berujar padaistri Bakrie. “Saya bilang sama kakak (Ibu Roosniah Bakrie, pen.),Aburizal ini langka. Dia memiliki tanggung jawab begitu besar. Kitadoakan supaya terus berlanjut, ... Ical (Aburizal) kini menjadi asetnasional yang berhasil.” Keteladanan lain Bakrie menurut jenderal berbintang tigapurnawirawan dari kesatuan (korps) infantri ini adalah komitmenpada negara. “Rasanya yang tidak dikerjakan almarhum adalah me-nyuap. Dia tetap mematuhi segala peraturan dan moral bangsa, tidakmelakukan suap menyuap di bawah meja dan sebagainya,” lebihjauh Tahir melihat, bahwa Bakrie ikut mewujudkan pertumbuhanekonomi. Dalam memilih bidang usaha. misalnya, selain menekuniperdagangan umum, Bakrie merintis industri dengan mendirikan AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 30
  47. 47. pabrik pipa. Itu menurut Achmad Tahir bukan pekerjaan main-main. Secara ekonomi banyak devisa bisa kita hemat tanpa meng-gantungkan sepenuhnya pada impor pipa. Sehingga perintisan itumenuju kepada kemandirian bangsa. Belakangan banyak orang ter-sadar bahwa pilihan atas industri pipa adalah bidang strategis danuntuk mewujudkannya, selain modal besar sudah tentu memerlu-kan manajemen teknik yang canggih. Kita pernah mengalami kesulitan pipa yang banyak dibu-tuhkan negara. “I’m a steel man, bukan ditulis still, ha ha ha...” kenangTahir menirukan suatu bentuk kehangatan pribadi Bakrie. Kepiawaian Bakrie memilih industri pipa baja dan kiat-kiatbisnis lainnya yang sarat nilai menjadi penawar luka bagi pengusahabumiputra, yang sejak masa kolonial sudah tertanam citra burukbahwa “inlander” (pribumi) itu bodoh segala-galanya. Selalu dika-takan bahwa kita ini tidak pintar berdagang. Padahal “orang kita”banyak yang pintar dan “orang itu” ada juga yang bodoh. “Lihatlahwajah buronan di televisi...” gurau Tahir. Akan halnya totalitas keberhasilan Bakrie, menurut man-tan Anggota Musyawarah Pembantu Perencanaan PembangunanNasional ini adalah suatu sumbangsih perjuangan masyarakatPancasila yang kita dambakan. Bukan hanya itu, lanjut penerimaBintang Mahaputera Adipradana (1987) tersebut, Bakrie layakmenerima penghargaan dari pemerintah atas jasa-jasanya itu. “Tinggal dikumpulkan bahan-bahannya untuk diusulkanpada pemerintah. Pemerintah juga kenal kok, malah Presiden tahusiapa itu Achmad Bakrie,” ujarnya lagi. Peran serta Bakrie dalam pembangunan ekonomi nasionaldirefleksikan Tahir sebagai bagian perjuangan nasional. Misalnyadalam merekrut puluhan ribu tenaga kerja yang berarti mengu-rangi beban pengangguran dan memberikan pemasukan pajak bagipemerintah. Ketekunan, keuletan dan keteguhan Achmad Bakrie dibidang bisnis patut ditiru. Setiap kali dua sahabat ini berjumpa,Tahir dapat menangkap bahwa Bakrie sangat arif dan dapat mem-baca keadaan pasar, baik nasional maupun internasional. “Kelebihan almarhum juga terlihat pada daya antisipasiyang tinggi. Cuma nggak dibilangnya,” ujar mantan Duta Besar RIuntuk Perancis ini dengan derai tawa. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 31
  48. 48. Ayah enam putra-putri yang mengaku sangat menikmatikarunia Allah dengan kesehatan yang baik di usia 67 tahun ini, me-ngenang almarhum Bakrie sebagai tokoh idola yang membekaskansinar keteladanan. “Pembuatan buku ini jangan hanya dipandangsebagai aset moral support, tetapi mencari wisdom masa kini.” Kekuatan Bakrie sebagai pengusaha menurut Tahir adalahkemampuan memadukan nilai-nilai agama dan bisnis yang tam-paknya saat ini merupakan sesuatu yang langka. “Nilai-nilai agama itu landasannya. Berpegang ke tali Allahkelihatan dari penampilannya. Ini yang saya katakan sebagai idola,sehingga ia tidak serta merta menjadi kapitalis,” kunci Tahir. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 32
  49. 49. Dari Penjaja Potlot Sampai Pabrikan BajaPerbincangan Alamsjah Ratuperwiranegara Mungkin ia tak mempercayai pilihan yang ditekuni seorangseniornya berpendidikan sekolah Belanda, kok menjadi penjaja ke-liling. Padahal, jenjang pendidikan setaraf itu, kalau hanya lehrling(magang) bagian administrasi di kantor Belanda tanpa melamarpun “laku”. Pada bulan pertama bekerja, misalnya bisa ia perolehgaji sebesar f 5,3, bulan berikutnya f 7,5, lebih bersabar lagi f 12,5-15 bisa ia dapatkan setelah tiga tahun bekerja. Uang sejumlah itucukup besar. Pecel saja paling satu sen sebungkus. Andaikata kelak ia ingin menjadi ambtenaar dengan bekalijazah HIS (Hollandsch Inlandsche School) itu juga bisa; ke MULOdan MOSVIA (sekolah Pamongpraja) bukan tak mungkin dapatdigapainya. Tapi anehnya, lagi-lagi ia bingung atas pilihan senior-nya, pada 1937 itulah ia saksikan sendiri sang senior berseliweran diemper-emper toko di kota Tanjungkarang - mendagangkan potlotparker. “Susah menangkap jalan pikiran beliau waktu itu,” ungkapAlamsjah (67), adik kelas Achmad Bakrie di HIS Manggala. Ber-selang lima tahun dari perjumpaan itu, mantan Menko Kesra inimulai menaruh salut, yakni dengan berdirinya perseroan koman-diter Bakrie & Brothers pada 10 Pebruari 1942 di Telukbetung. Itupun makin diyakininya setelah didengarnya dari beberapa kalangan,“Dia itu si Bakrie.” Konon, menurut empunya cerita ini, tekad untuk meneguh-kan pendirian Achmad Bakrie menjadi saudagar berkaitan denganharga sebuah kehormatan. Dulu, sekitar awal tahun 1940, AchmadBakrie yang pedagang komisioner “berkisah-kasih” dengan putriseorang demang. Lalu entah mengapa, profesi komisioner diang-gap tak bermasa depan, sementara gadis yang sebetulnya mau ituadalah putri seorang ambtenaar. “Saya akan membuktikan, bahwasaya bisa jadi orang,” Papar Alamsjah menirukan Achmad Bakrie.Dan pada masa lalu ia pernah mendengar lecutan Achmad Bakrie,bahwa orang adakalanya mesti dihina agar keluar dari kungkunganpenderitaan. Pembawaan Achmad Bakrie yang tak mudah dikecewa- AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 33
  50. 50. kan orang, membuatnya sebagai pengusaha selalu berhati-hati.Umpamanya tidak ingin persahabatan menjadi retak karenamasalah bisnis. Kendati dengan prinsip seperti itu, tidak membuatAchmad Bakrie menjauhi pergaulan. “Dia mudah bergaul. Begitubersalaman seolah-olah sudah kenal sejak lama. Mudah bergaul,tidak sombong dan selalu hangat, membuatnya cepat dikenal,” ujarmantan Menteri Agama ini. Menteri-menteri kabinet banyak me-ngenal dan dikenal Achmad Bakrie dan sekedar berpendidikandasar tak membuatnya lantas minder. Ia selalu berbicara baik, dantidak pernah menonjol-nonjolkan apa yang berhasil diperolehnya.“Saya bangga melihatnya sebagai pengusaha dan dia bangga melihatsaya menjadi Jenderal. Kalau di rumah, kebesarannya sebagai pen-gusaha tak terbawa-bawa,” kata Jenderal Purnawirawan berbintangtiga ini. Sifat teliti, hemat, dan memiliki perhitungan, merupakanakar kekuatan kesejajaran Achmad Bakrie dengan warga keturunan.Dalam pertemuan keluarga se-Sumatera Selatan, atau ketika merekasaling berkunjung, selalu saja diutarakan Achmad Bakrie. “Hubung-an kekeluargaan bercampur bisnis, tunggulah dua hal hilang sekali-gus: uang dan keluarga.” Mendengar Achmad Bakrie membeli pabrik kawat, Alam-sjah tak terkejut. Sebab “Menurut saya dia punya indera keenam,”semua orang tahu, bahwa pada masa membeli pabrik kawat, pakudan pipa kecil, keadaan ekonomi dalam negeri tak tentu arah. “Anehkan? Yang lain banyak ambruk, malah dia membeli pabrik kawat.” Politik Benteng menurut Alamsjah adalah zaman lucu.Mengapa? tak jelas mana pengusaha dan mana yang politisi.“Banyak pengusaha beli mobil, membangun rumah di Puncak, danmalah ada yang tambah nyonya...,” ujarnya sambil tertawa. Pro-gram politik Benteng itu, lanjutnya, bukan awal kebangkitan Bakrie& Brothers. Institusi Bakrie & Brothers lebih dulu lahir sebelumpolitik Benteng. “Bakrie sudah berbasis kuat. Kebetulan saja poli-tik Benteng muncul dan itu jelas mendukung kegiatannya sebagaiimportir.” Namun begitu, munculnya politik pemberian lisensi imporbagi pribumi itu, harus dilihat sebagai upaya dan kemauan poli-tik pemerintah waktu itu untuk membuat bangsa Indonesia lebihmaju daripada zaman penjajahan. Itu pun wajar, sebagai wujud AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 34
  51. 51. kemerdekaan dan memberi kesempatan pada pengusaha yangbetul-betul sadar akan kemajuan. Karena itu Alamsjah pun me-ngatakan, “Bahwa lahirnya politik Benteng ikut memberi keuntung-an bagi usahanya, saya setuju.” Pada awal kemerdekaan pengusaha-pengusaha keturunanribuan jumlahnya. Bisa dimaklumi sebab sejak zaman penjajahan,bisnis merupakan lahan mereka. Berselang beberapa tahun ke-sempatan pada mereka jauh berkurang. Hanya sedikit jumlahnya.Sementara itu di kalangan pengusaha pribumi banyak yang mulaidekat dengan Bung Karno. Ada pula yang tidak dekat. “AchmadBakrie dekat tidak, musuh pun bukan” Ujarnya diplomatis. Kecepatan menangkap situasi merupakan letak keunggul-an Achmad Bakrie. Mendirikan pabrik pipa, siapa yang terpikir,bahwa pipa itu banyak gunanya. “Bahwa akhirnya pipa diguna-kan dalam segala macam keperluan industri, itu kan sekarang?”tukasnya. Contoh kecepatan menangkap peluang lainnya adalahketika Achmad Bakrie memutuskan segera masuk ke bisnis per-kebunan. Dengan membeli Uni Royal di Kisaran, Sumatera Utara,bukan mengundang kekaguman, malah banyak yang menertawakanAchmad Bakrie. “Tetapi setelah tiga tahun, Bakrie ternyata mem-peroleh untung besar. Giliran siapa yang tertawa?” katanya. Persahabatan mereka, kendati tidak dalam konteks bisnisnamun perkembangan usaha Achmad Bakrie selalu dekat denganpengamatannya. Bertemu dalam upacara keluarga, pengajian, danbahkan naik haji pun sama pada 1969. Seusai menunaikan rukunIslam yang kelima itu, pasangan suami istri dan Odi (putri AchmadBakrie), tak melewatkan kesempatan mengunjungi Libanon danMesir. Ada hari-hari bercanda ada pula hari-hari membuat rasaduka dan iba. Kesehatan seniornya di HIS dulu, semakin menu-run saja. Waktu dirawat di RS. Sumber Waras, Alamsjah mencobamenghiburnya dalam bahasa Lampung. “Orang mati bukan karenasakit, karena ajal datang. Abang jangan kecil hati. Mau hidup terusatau mau kawin lagi,” mula-mula menangis dan akhirnya tertawa,kenang Alamsjah. Semakin hari tambah menurun saja kesehatan AchmadBakrie. Sang “adik” menyarankan berobat ke Tokyo Jepang. KeTokyo? Rupanya Alamsjah pernah menyarankan Hasyim Ning dira- AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 35
  52. 52. wat di Tokyo. Semula Hasyim menolak, tetapi akhirnya berangkatjuga dan pulang ke Tanah Air dalam keadaan sehat. Upaya membujuk agar berobat ke Tokyo terlaksana jua.Namun apa hendak dikata, manusia hanya berusaha, tapi Tuhan-lah yang menentukan. Senin 15 Februari 1988 sahabat dan saudaratercintanya ini meninggal dunia di Tokyo, Jepang. Sang “adik” juaakhirnya bertindak selaku inspektur upacara pemakaman sang“abang” dengan penuh haru dan takzim. Inna lillahi wa inna ilaihiraji’un... AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 36
  53. 53. Taipan PribumiPerbincangan A.R. Soehoed Pernah dengar gajah masuk sekolah? Itulah dulu yang dikha-watirkan A.R. Soehoed, ketika ia masih sekolah di HIS Menggala,Lampung. Namun mantan Menteri Perindustrian RI 1978-1983,itu lebih memfokuskan ceritanya tentang Achmad Bakrie, sahabatsekaligus teman se-“almamater”-nya di HIS tadi. Di perbukitanMenggala itu terdapat dusun kecil namanya Ujung Gunung. AyahA.R Soehoed kepala kantor Pos Menggala waktu itu, bermukim disitu bersama sejumlah “elit” Menggala. Tak jauh dari Ujung Gu-nung mengalir sungai Tulang Bawang, yang waktu itu sebuah der-maga kecil hingga kapal KPM (Koninglijke Paketvaart Maatschappi)bisa berlabuh. Di daerah aliran sungai itulah para saudagar Meng-gala menetap, termasuk keluarga Achmad Bakrie. Meskipun terpencil, desa Menggala di tahun 1920-an sa-ngat masyhur dengan kekayaan flora dan faunanya di mancanega-ra. Gajah, harimau, dan berbagai jenis ular berbisa dari Menggalamisalnya, antara lain dikirim ke Taman Margasatwa Hamburg(Hagenbeck Tierpark, ed.). Hasil buminya seperti kopi, lada hitam,cengkih dan rupa-rupa hasil hutan di Menggala ini adalah komodi-tas andal propinsi Lampung sejak dulu. Namun tak jelas betul kemana, di akhir tahun 50-an pelabu-han di aliran Sungai Tulang Bawang itu menghilang begitu saja.Padahal di belakang dermaga alias pelabuhan kecil tadi adalah tem-pat ekonomi rakyat dan para pedagang yang barang dagangannyakeluar-masuk lewat pelabuhan itu. Keadaan perdagangan marakbetul. Malah ada toko ABC segala. Bila sebuah kapal menyandar,anak-anak kampung “menyerbu” pelabuhan yang waktu itu disebut“boom”. Mereka menjadi saksi kesibukan para saudagar dan petinggiBelanda hilir mudik. Transportasi darat belum ada hingga ke sentraperdagangan itu mesti berjalan kaki sejauh 1,5 km. Karena siklus kehidupan sosial tidak begitu kompleks.A.R. Soehoed yang lebih muda tidak merasa canggung bergauldengan Achmad Bakrie, empat tahun lebih tua dari A.R. Soehoed.Hanya A.R. Soehoed tahu diri : ”Achmad Bakrie terus saja saya pang-gil abang sampai akhir hayatnya.” Latar belakang keluarga pun bukan AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 37
  54. 54. penghalang jalinan perkawanan mereka, ayah Soehoed ambtenaardan ayah Achmad saudagar. Mereka biasanya menangkap ikan ber-sama. Bahkan saat Sungai Tulang Bawang banjir kami “nangkapikan dari jendela rumah,” kenang A.R. Soehoed. Beraninya merekapun sesekali memburu ular, atau sekedar ke hutan mencari penabuat latihan menulis Arab-Melayu. Keduanya sangat menghormatiguru mereka di HIS, Tuan Husar. Tulang Bawang ikut mempengaruhi jalan hidup AchmadBakrie. Terutama di belakang “boom” tadi. Apalagi di HIS menye-diakan kebun kecil buat mengenal jenis-jenis tanaman dan praktekbercocok tanam, yang tentu menggelitik rasa kemandirian. Sebagaiadik kelas, A.R. Soehoed merasakan betul kemampuan persuasiAchmad Bakrie, sayang keduanya berpisah, karena si “adik” harusmengikuti ayahnya yang dimutasikan ketempat lain. Kontak mere-ka terjadi kembali setelah Proklamasi Kemerdekaan, namun barusetelah A.R. Soehoed lulus dari Technische Hogeschool Bandung (kiniITB) pada 1951, keduanya pun agak sering bertemu. Padahal jauhsebelumnya, yakni pada masa pendudukan Jepang, nama Bakrie &Brothers telah sampai ke telinga A.R. Soehoed. la memang meng-aku belum yakin betul itu milik “abangnya.” Apalagi ada nama-namakesohor yang lain seperti Djohan Djohor, Dasaad Musin dan Rah-man Tamin. Adalah keluarga Yakub Salim, ketua Warung Bon - per-kumpulan pedagang beras di Senen untuk menampung produksipetani ketimbang di jual pada perantara non pribumi - meyakinkan-nya bahwa B & B milik Achmad Bakrie. Suatu saat pemerintah orde lama berencana untuk me-ningkatkan peranan sektor swasta. Ketika itu Menteri Berdikariadalah Dr. TD. Pardede dengan konsep Bamunas. Dari situ lahirbeberapa organisasi semacam Gapensi, Gapernas (Inkindo), danmasih ada beberapa lagi. A.R. Soehoed sebagai konsultan saat itu membuatnya seringbertemu dengan Achmad Bakrie. Apalagi setelah ia masuk kedalamjajaran birokrasi mulai 1966, ketika ditunjuk menjadi PenasihatMenteri Utama Industri/Pembangunan. Lalu, ketika ia menjabatWakil Ketua BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), Men-teri Perindustrian hingga menjabat Ketua Otorita PengembanganProyek Asahan, dimana hubungannya dengan Achmad Bakrie ber-langsung paling intensif. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 38
  55. 55. Di masa Orde Baru, mereka sering mengikuti rangkaianseminar yang diselenggarakan CSIS (Central Strategic InternationalStudies) di berbagai kota seperti Jakarta, Denpasar, dan Medan.Seminar yang melibatkan para pengusaha nasional seperti HasjimNing dan Ali Nur. Suatu kali ikut seminar di Denpasar. Udara panasbetul, perut keroncongan dan mata mulai terkantuk-kantuk. Seketi-ka Achmad Bakrie memberi kode supaya satu persatu keluar diam-diam mencari santapan di restoran Padang. Dalam banyak kesem-patan berseminar, Achmad Bakrie tidak pernah mau bertanya ataupun menanggapi para pembicara. Achmad Bakrie yang dikenalnya adalah seseorang yangtidak pernah berubah, mendadak menjadi sombong atau sok. Se-lalu saja menghubungi rekan-rekannya untuk berkumpul ataubersuka cita. “Oh, spesial, saya disambut seperti raja bukan karenasaya menteri, tapi karena hubungan baik,” cerita Soehoed tatkala di-undang meresmikan BPI (Bakrie Pipe Industries) di Bekasi, dulu.“Saya bangga seolah-olah turut memiliki,” tambahnya. Kehangatanpribadi Achmad Bakrie tidak ditunjukkannya di depan umum. Baruseusai peresmian mereka berfoto-foto dan bercanda ria. Sampaisekarang foto-foto itu tersimpan baik di album A.R. Soehoed. Dalam kenangan lain, suatu kali Achmad Bakrie memberisurprise padanya. “Hei, Soehoed, kita makan-makan, yuk. Nanti sayajemput, ya!” ujar Achmad Bakrie dari gagang telepon. Undanganmakan rupanya sebagai sarana saja. Seusai makan lantas jalan-jalanmelewati Kuningan. “Lihat nama itu?” Achmad Bakrie menun-juk tulisan. “Lho, sudah ada kantor?”. Jadi, cara menunjukkan rasabangganya tidak terkesan sombong, familiar sekali. Masih men-jabat Ketua Otorita Asahan, tokoh yang nama lengkapnya AbdoelRaoef Soehoed ini ditemui Achmad Bakrie. Waktu itu produk pipabaja Bakrie mendapat sertifikat standar American Petroleum Institute(API). Bukan main gembiranya Achmad Bakrie, betapa pengakuanstandardisasi itu semakin meneguhkan terobosannya di bidangindustri. Di kala menjabat Menteri Perindustrian, A.R. Soehoedadakalanya berperan membantu pengusaha pribumi termasukAchmad Bakrie, karena selain mereka berprestasi juga menurutnyauntuk berlaku adil. Tanpa menyebut nomornya, dalam suatu SKmenyiratkan makna bahwa pemerintah berhak demi keadilan “me- AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 39
  56. 56. nyimpang” dari peraturan itu. Pada pengusaha non pribumi hal itupun ditegaskannya secara terang-terangan. Sebab katanya, kalauperaturan dijalankan sebatas kekuatan uang, dengan sendirinya nonpribumi saja yang terus menanjak. Tidak banyak kalangan pribumi mempersiapkan dirinyadengan baik di dunia bisnis. Achmad Bakrie meyakini harus adatransformasi dan modernisasi cara-cara berpikir dalam organisasiperusahaannya. Dibudayakanlah seminar dan ceramah terbatas dikalangan para manajer dan eksekutifnya dan A.R. Soehoed satudari sejumlah pakar untuk mengisi kegiatan itu. Antisipasi Ach-mad Bakrie seperti itu menunjukkan dua ciri pokok yang melekatpada dirinya. Pertama, wisdom (kebijaksanaan) pada saat yang tepatuntuk bertindak dan mengarahkan orang-orangnya. Kedua, meto-dik. Artinya ia pandai membaca keadaan dan kemampuan institu-sinya dengan menentukan arah seberapa cepat untuk mencapainya. “Dia bukan pemurung dan tak suka menggerutu. Biarpunnggak kena, dia masih bisa tertawa. Sifatnya fair to fight, menangsyukur, kalah nggak apa-apa. Dia tidak pendendam,” ungkap lelakitinggi besar itu. Sedangkan kepedulian pada bidang politik, lan-jutnya, cuma ala kadarnya. Tidak ada sifat keberpihakan pada suatukekuatan sosial politik tertentu alias independen. “Dalam orde apasaja (lama dan baru, pen.) untuk berdiri independen, sudah barangtentu memerlukan keberanian,” tambahnya. Achmad Bakrie sepanjang yang dikenalnya adalah pribadiyang kuat, tidak mudah terpengaruh, tidak membeberkan keber-hasilannya ke mana-mana. Terkadang untuk menyakinkan sesuatuitu benar dikomunikasikannya secara senda gurau. Kendati banyakorang tidak memahami jalan pikirannya sewaktu memasuki indus-tri pipa baja dan seamless, Achmad Bakrie berhasil menyakinkan diridan orang lain bahwa yang dilakukannya adalah bidang strategis.“Lantaran industri minyak memerlukannya dan belum ada yangmemikirkannya. Intuisinya seolah-olah mengatakan negara bakalmaju.” Pandai menjaga ikatan persahabatan, tidak banyak menge-luh, dan dia selalu tampil prima. A.R. Soehoed mengibaratkanAchmad Bakrie “taipan” pribumi. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 40
  57. 57. Dari Kultur Bisnis Sampai “Bakrie Award”Perbincangan Christianto Wibisono Christianto Wibisono, Direktur Pusat Data Bisnis Indone-sia (PDBI) yang diresmikan Wapres Adam Malik 21 Februari 1980,tampak antusias ketika memberikan ulasan dan pandangannyatentang kiprah Achmad Bakrie di dunia bisnis Indonesia. Begitu antusias dan serius. Selain berkaitan dengan wadahyang dipimpinnya, juga figur Achmad Bakrie menurutnya bagiantak terpisahkan dari tokoh perintis dan pelaku dunia bisnis pribu-mi sejati. Achmad Bakrie yang memulai usahanya sejak sebelumkemerdekaan dipandang Chris (begitu ia biasa dipanggil) sebagaihal yang penting dan karena itu perlu diaksentuasikan secara khu-sus pula. “Biasanya orang kurang melihat adanya pengusaha pribumidi zaman penjajahan. Masa kolonial itu melulu masyarakat ketu-runan Timur asing saja sehingga pribumi tidak ada yang menon-jol,” ungkapnya bersemangat. Padahal, lanjutnya, Achmad Bakrie,adalah contoh wiraswasta pribumi yang sudah aktif sejak zamanHindia Belanda, seperti Abdul Ghany Azis sesepuh dan pendiri PT.Masayu termasuk rekan seangkatannya seperti H. Eddie Kowara(besan Presiden Soeharto) Djohan Djohor, Rahman Tamin,Tasripien dan belasan pribumi lainnya yang sejak semula sudahmenekuni wiraniaga sebagai profesi mereka. Menurut Chris, Achmad Bakrie benar-benar membalikkan“cultural determination” Bahwa kewiraswastaan, naluri bisnis dan jiwadagang yang selama ini diasosiasikan sebagai monopoli perkaumanbukanlah diturunkan lewat genetika dan asal usul ras seseorang. Achmad Bakrie contoh pribumi hebat. Sehingga tam-paknya kita perlu berhati-hati terhadap teori Cultural DeterminationConfucianism dan Naga Kecil. “Kalau mau bicara konfusianisme,mengapa penduduk RRC yang 1 milyar tidak menjadi business-man semua?” ujar Chris sambil membetulkan letak dasinya. Chrisdan institusinya kukuh dalam prinsip bahwa umat manusia dimuka bumi ini mempunyai peluang sama untuk menjadi apa saja:tergantung kemauan sendiri untuk mengubah nasib berbuat nyataseperti halnya Achmad Bakrie. AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 41
  58. 58. Menunjuk ulasan pers, termasuk pengamat dan tajukrencana media berpengaruh beberapa hari berselang meninggalnyaAchmad Bakrie, Christianto berpendapat bahwa pers ingin mem-beri suatu motivasi kepada pribumi. “Supaya pribumi jangan minder. Seolah-olah tak tahu bis-nis, menjadi birokrat atau politisi saja. Bakrie memberi contoh adabusinessman yang maju tanpa fasilitas. Sejak zaman Belanda pribumidianaktirikan, digencet. Toh Bakrie tanpa kemudahan bisa sukses.Itulah contoh untuk menggugah pribumi secara keseluruhan.” Perjalanan Achmad Bakrie sejak membuka perusahaan diawal tahun 1942 dengan merek “Bakrie & Brothers General MerchantAnd Commission Agent” di Telukbetung, Lampung, sampai akhirhayatnya memperlihatkan kemampuannya bisa bertahan pada lin-tasan sejarah dan politik yang berliku-liku. Adalah sangat musykilbahwa dia menggantungkan usahanya pada sistem politik yang ber-laku. Kemampuan dan ketangguhannya bisa bertahan adalah suatufenomena yang unik. Menurut Chris, kalau pengusaha mengadakanpendekatan politis maka dia bisa jatuh berbarengan dengan ron-toknya sistem politik tersebut. Tapi kalau mengadakan pendekatanpasar, maka politik yang bagaimana pun, sepanjang pasar masihterus mengalir dan menerima produknya, dia akan tetap langgeng. Antara bisnis dan politik selalu berkaitan di negara sedangberkembang. Tidak mungkin sepenuhnya steril? Jadi sampai di manakita mempertahankan independensi terhadap politik, tidak me-lampaui asas-asas profesionalisme, etika bisnis dan kewajaran me-kanisme pasar. Sehingga perubahan politik tidak akan mengerdil-kan perusahaan. Chris menyebutkan sejumlah nama pengusahapribumi yang sekarang ini tidak kelihatan bekasnya. Mengapa?mungkin dosis usahanya berkadar politis padahal sama-sama beru-saha dengan Achmad Bakrie sejak zaman sebelum merdeka. Akan halnya dominasi non pribumi di bidang bisnis, man-tan pengurus Bakom PKB Pusat yang sejak 1984 jadi ManggalaBP 7, itu berpendapat: itu harus diukur secara lebih rasional. Biladiteliti secara mikro perusahaan yang mampu bertahan seperti PT.Bakrie & Brothers selama 50 tahun dapat dikatakan jarang terdapatdi kalangan non pribumi sekalipun. “Terus terang, sekarang ini bisnis keluarga yang sudah men-capai dua generasi masih sedikit. Ny. Meneer itu masih peralihan AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 42
  59. 59. 2-3 generasi sudah mau jatuh, juga Dji Sam Soe. Malah yang lainpendirinya masih ikut seperti Corn Liem yang baru transfer keAnthony. Ibnu Sutowo juga masih transisi dengan Ponco.” Oom Liem, Oom William dan Oom-oom lain masih harusmembuktikan apakah mereka akan mampu mengatasi gejolakpolitik, persaingan yang sehat, jujur dan terbuka tanpa proteksipolitik atau keistimewaan berupa lisensi monopoli dan koneksi bi-rokrasi khusus. Secara perspektif bisnis keluarga belum bisa dinilai.Perusahaan institusional milik keturunan Cina bisa dihitung hanyaberjumlah paling banyak puluhan saja. Termasuk perusahaan insti-tusional adalah yang berbadan hukum NV dan PT. Kelas warunganatau toko kecil-kecilan - pa and ma store - memang bisa bertahanturun-temurun. Skalanya tetap saja kecil, eceran, statis dari gene-rasi ke generasi, dan skala nil ekonominya stagnan. Dan, karena ituposisi mereka tetap saja kerdil. Jika kita mengukur perusahaan Indonesia dengan takaranMulti National Corporation (MNC), maka hanya beberapa gelintiratau puluhan unit saja yang bisa dihitung derajat survivalnya danmasih bisa eksis sampai kini. Prestasi Bakrie memang termasuk luarbiasa, karena non pribumi jarang yang mampu menembus angka 50tahun atau setengah abad. Bisnis keluarga di tangan generasi keduamenurut Chris harus mampu menyediakan transformasi. Kalaudulu bisnis mengandalkan entrepreneurship yang sifatnya one manshow, sekarang ini mulai mengandalkan manajemen profesional,keterbukaan informasi serta memiliki akses kecanggihan perang-kat teknologi. Terutama untuk memantau dan menyerap perkem-bangan zaman dan cara-cara mengantisipasinya. Sejauh pengamatan Chris, Ical mau go public, go interna-tional, karena sudah memanfaatkan manajemen profesional danmelakukan serangkaian inovasi. “Itu saya rasa keberanian moraldan etika yang luar biasa di tengah masa transisi tradisional menujumasyarakat modern.” Pendekatan manajemen profesional itu, lan-jut Chris mempertahankan kelembagaan Bakrie & Brothers supayabisa melampaui 3 generasi dan seterusnya. Karena itu Ical perlumengadakan langkah-langkah strategis mengubah kultur one manshow menuju “public company.” Obsesi Achmad Bakrie, suatu saat Bakrie & Brothersmenjadi public company, menurut Chris merupakan ikhtiar peme- AWA L K E M B A L I K E D A F TA R I S I 43

×