Pembangunan Karakter BangsaMelalui Agama (Bagian Kedua)         Muslimin B Putra     Dosen STIA Paris Makassar
Pengantar Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional  (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 dengan tegas  mencantumkan aspek akhlak...
Pengantar Metode pembelajaran yang menonjolkan  Penghafalan adalah bentuk kemampuan berpikir  tingkat rendah (low cogniti...
Pengantar Daniel Goleman (1995) pernah melakukan  penelitian dengan hasil sekitar 80 persen  keberhasilan seseorang dari ...
Pengantar Individu-individu yang memiliki kecerdasan  emosional inilah yang seharusnya memegang  peran dalam dunia pendid...
Melalui Agama Dalam agama Islam, aspek pembangunan  karakter manusia memiliki peran strategis. Dalam sebuah hadist diseb...
Melalui Agama Pembangunan karakter melalui agama  dicontohkan sendiri oleh Nabi Muhammad Saw  melalui perilakunya sehari-...
Melalui Agama Quraish Shihab mengatakan bahwa karakter  terpuji merupakan hasil internalisasi nilai-nilai  agama dan mora...
Melalui Agama Ilmu tidak mampu menciptakan akhlak atau iman  melainkan dengan mengasuh kalbu sambil  mengasah nalar yang ...
Melalui Agama Nilai-nilai yang dihayati membentuk  karakter, maka nilai-nilai yang dihayati seseorang  atau satu bangsa d...
Melalui Agama Membangun kembali karakter bangsa  mengandung arti upaya untuk memperkuat  ingatan kita tentang nilai-nilai...
Melalui Agama Semakin matang dan dewasa satu masyarakat,  semakin mantap pula pengejewantahan nilai-nilai  yang mereka an...
Pembentukan Karakter Pembentukan karakter bangsa harus bermula  dari individu anggota-anggota masyarakat  bangsa, karena ...
Pembentukan Karakter Membentuk karakter individu bermula dari  pemahaman tentang diri sebagai manusia,  potensi positif d...
Pembentukan Karakter Untuk mewujudkan karakter yang dikehendaki  diperlukan lingkungan yang kondusif, pelatihan  dan pemb...
 SEKIAN dan Terima kasih
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Pembangunan karakter bangsa (bagian kedua)

3,592 views

Published on

Materi Kuliah Mahasiswa STIA Paris Makassar pada hari Ahad, 03 Juni 2012

Published in: Education
  • Be the first to comment

Pembangunan karakter bangsa (bagian kedua)

  1. 1. Pembangunan Karakter BangsaMelalui Agama (Bagian Kedua) Muslimin B Putra Dosen STIA Paris Makassar
  2. 2. Pengantar Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 dengan tegas mencantumkan aspek akhlak mulia sebagai tujuan penting dari sistem pendidikan nasional. Untuk mencapai tujuan peserta didik yang berakhlak mulia, dibutuhkan metode pembelajaran yang menonjolkan kecerdasan emosional (emotional intelligence) sebagai unsur penting pembentukan karakter. Kecerdasan emosional dibangun berdasarkan pendidikan agama baik disekolah maupun diluar sekolah.
  3. 3. Pengantar Metode pembelajaran yang menonjolkan Penghafalan adalah bentuk kemampuan berpikir tingkat rendah (low cognitive skills) yang kurang berkorelasi positif pada pembentukan karakter peserta didik. Metode penghafalan sebagai bentuk pembelajaran memang dapat meningkatkan kemampuan intelektual (Intelectual Quotient - IQ). Tetapi kecerdasan dengan IQ yang tinggi tidak serta merta menjadi faktor penentu keberhasilan pembentukan karakter.
  4. 4. Pengantar Daniel Goleman (1995) pernah melakukan penelitian dengan hasil sekitar 80 persen keberhasilan seseorang dari faktor Kecerdasan Emosional (EI) sedang sisanya 20 persen berasal dari faktor Kecerdasan Intelektual (IQ). Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena seseorang yang memiliki Kecerdasan Emosional memiliki kemampuan menerima, mengenal dan mengelola emosinya. Dengan demikian, Kecerdasan Emosional (EI) dibangun dari karakter dan akhlak seseorang yang disebut Soft Skills sedang Kecerdasan Intelektual (IQ) disebut Hard Skills (Kompetensi Teknikal).
  5. 5. Pengantar Individu-individu yang memiliki kecerdasan emosional inilah yang seharusnya memegang peran dalam dunia pendidikan dan dunia politik agar dapat membentuk peradaban dan karakter suatu bangsa. Maka tidak salah bila aspek pembangunan karakter bangsa tersirat dalam tujuan pendidikan nasional yang memiliki akhlak mulia.
  6. 6. Melalui Agama Dalam agama Islam, aspek pembangunan karakter manusia memiliki peran strategis. Dalam sebuah hadist disebutkan “Sesungguhnya aku (Muhammad) ini diutus ke dunia semata- mata demi menyempurnakan Akhlak umat manusia”.
  7. 7. Melalui Agama Pembangunan karakter melalui agama dicontohkan sendiri oleh Nabi Muhammad Saw melalui perilakunya sehari-hari seperti dapat dipercaya, menjaga amanah, membantu sesama manusia dalam kebaikan, menghindari pertikaian dan mendorong jalan musyawarah dan juga menjaga kelestarian alam. Akhlak dibentuk dari dasar Syariah dan Akidah.
  8. 8. Melalui Agama Quraish Shihab mengatakan bahwa karakter terpuji merupakan hasil internalisasi nilai-nilai agama dan moral pada diri seseorang yang ditandai oleh sikap dan perilaku positif sehingga berkaitan erat dengan kalbu. Bisa saja seseorang memiliki pengetahuan yang dalam tetapi tidak memiliki karakter terpuji atau sebaliknya amat terbatas pengetahuannya namun memiliki karakter amat terpuji.
  9. 9. Melalui Agama Ilmu tidak mampu menciptakan akhlak atau iman melainkan dengan mengasuh kalbu sambil mengasah nalar yang memperkukuh karakter seseorang. “Sesungguhnya dalam diri manusia ada suatu gumpalan, kalau ia baik, baiklah seluruh (kegiatan) jasad dan kalau buruk, buruk pula seluruh (kegiatan jasad). Gumpalan itu adalah hati”.
  10. 10. Melalui Agama Nilai-nilai yang dihayati membentuk karakter, maka nilai-nilai yang dihayati seseorang atau satu bangsa dapat diukur melalui karakternya. Perubahan yang terjadi pada karakter, bisa jadi karena perubahan nilai yang dianut atas dasar kesadaran mereka, dan bisa juga karena terperdaya atau lupa oleh satu dan lain sebab. Dari sini diperlukan nation and character building.
  11. 11. Melalui Agama Membangun kembali karakter bangsa mengandung arti upaya untuk memperkuat ingatan kita tentang nilai-nilai luhur yang telah kita sepakati bersama dan yang menjadi landasan pembentukan bangsa, - dalam hal ini adalah Pancasila, disamping membuka diri untuk menerima nilai-nilai baru yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar pandangan bangsa. Inilah yang dapat menjamin keuntuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta kelestarian Pancasila sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa.
  12. 12. Melalui Agama Semakin matang dan dewasa satu masyarakat, semakin mantap pula pengejewantahan nilai-nilai yang mereka anut dalam kehidupan mereka. Masyarakat yang belum dewasa, adalah yang belum berhasil dalam pengejewantahannya dan masyarakat yang sakit adalah yang mengabaikan nilai-nilai tersebut.
  13. 13. Pembentukan Karakter Pembentukan karakter bangsa harus bermula dari individu anggota-anggota masyarakat bangsa, karena masyarakat adalah kumpulan individu yang hidup di satu tempat dengan nilai- nilai yang merekat mereka. Masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu yang terbentuk berdasar tujuan yang hendak mereka capai. Ini karena setiap individu lahir dalam keadaan hampa budaya, lalu masyarakatnya yang membentuk budaya dan nilai-nilainya, yang lahir dari pilihan dan kesepakatan mereka .
  14. 14. Pembentukan Karakter Membentuk karakter individu bermula dari pemahaman tentang diri sebagai manusia, potensi positif dan negatifnya serta tujuan kehadirannya di pentas bumi ini. Selanjutnya karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius, ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, maka tentu saja pemahaman tentang tentang hal-hal tersebut harus bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa / ajaran agama.
  15. 15. Pembentukan Karakter Untuk mewujudkan karakter yang dikehendaki diperlukan lingkungan yang kondusif, pelatihan dan pembiasaan, presepsi terhadap pengalaman hidup dan lain-lain. Disisi lain katrakter yang baik harus terus diasah dan diasuh, karena ia adalah proses pendakian tanpa akhir. Dalam bahasa agama penganugerahan hidayat Tuhan tidak terbatas, sebagaimana tidak bertepinya samudra ilmu “ Tuhan menambah hidayatnya bagi orang yang telah memperoleh hidayat” dan Tuhanpun memerintahkan manusia pilihannya untuk terus memohon tambahan pengetahuan.
  16. 16.  SEKIAN dan Terima kasih

×