Mediakom 41

2,334 views

Published on

Mediakom 41

Published in: Health & Medicine
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,334
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
27
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Mediakom 41

  1. 1. etalase mediakom 41 | APRIL | 2013 | i
  2. 2. perlu info kesehatan APA ITU HALO KEMKES? Halo Kemkes adalah layanan kesehatan yang memberikan informasi kesehatan dan penerimaan laporan pengaduan serta masukan di bidang kesehatan melalui telepon CARA MENGHUBUNGI halo kemkes 500567 Telp : Telp ke (kode lokal) 500567 Telp rumah : tekan 500567 Hp : tekan (kode lokal) 500567 Faximili : (021) 529 21669 SMS : 081281562620 Email : kontak@kemkes.go.id Surat : Halo Kemkes Pusat Komunikasi Publik Gedung Kementerian Kesehatan RI, Blok Ruang 109 Jl. HR Rasuna Said Blok X5 Kav. 4 - 9, Jakarta, 12950 * Untuk Penelpon dari wilayah di luar Jabotabek menggunakan kode area wilayah masing -| masing. ii | mediakom 41 | april 2013
  3. 3. etalase Rokokmu Penyakitmu foto drg. Murti Utami, MPH B agi pecandu rokok, sulit untuk berhenti merokok. Tak terkecuali orang miskin. Walau sulit beli kebutuhan pokok, tapi mampu beli rokok. “Lebih baik tak makan dari pada tidak merokok”, begitu ungkapan yang sering terdengar. Sekalipun sudah tahu kerugian merokok, tetap saja merokok dengan berbagai alasan. Bahkan ribuan alasan dapat mereka temukan agar tetap merokok. Untuk mencari alasan agar tetap merokok, ibarat “mati satu tumbuh seribu”. Ngak ada matinya. Wajar jumlah pecandu rokok dunia maupun Indonesia makin bertambah besar. Ada banyak penyakit akibat rokok. Mulai penyakit fisik, psyikis, ekonimis dan ngeyel. Penyakit fisik mulai dari kanker, jantung, darah tinggi, paru-paru, bahkan banyak orang tubuh dapat sakit yang diakibatkan asap rokok. Penyakit psikis, bisa dalam bentuk ketagihan. Bila tak merokok, kurang kosentrasi, marah-marah, tak bisa mikir, gelisah dan lainlain. Secara ekonomis jelas. Hasil riset kesehatan dasar 2010 menunjukkan, banyak orang miskin pecandu rokok, lebih banyak membelajakan uangnya untuk beli rokok dibanding beli makanan pokok, susu anak, lauk pauk, sayur mayur dan biaya pendidikan anak sekolah. Kuatnya daya candu, membuat perokok ketagihan, sulit berhenti merokok. Bahkan sangat sedikit sekali yang mampu berhenti merokok. Umumnya mereka yang berhenti merokok, terjadi setelah sakit parah. Berhentinya juga bukan permanen, setelah sembuh dan merasa kuat dan sehat . Kelompok pecandu rokok seperti ini mempunyai penyakit tambahan ngeyel. Mereka memiliki kemampuan untuk ngeyel yang luar biasa. Terutama setelah sembuh dari sakitnya, kemudian mulai merokok lagi. Awalnya, coba-coba. Ketika diingatkan, alasanya sekedar untuk menghilangkan rasa asam di mulut. Bila terus ada yang mengingatkan, Ia menyebut tuh, orang yang tidak merokok meninggal muda. Noh...Kakek fulan, perokok berat umur 80 tahun sehat-sehat aja. Ketika menadapat nasehat terus menerus, Ia jawab “merokok mati, tak merokok mati. "Biarlah saya merokok, kalau sakit, toh saya sendiri yang merasakan”. Sehingga yang memberi nasehat bosan sendiri. Akhirnya mengatakan terserah...! Nah, bagaimana pemerintah melindungi masyarakat yang belum merokok agar tidak jatuh menjadi pecandu rokok? Mediakom mengangkat tema ini dalam rubrik Media Utama. Selain itu ada berita menarik dan ringan dalam rubrik stop press, ragam, daerah dan lentera. Edisi ini juga menampilkan wajah baru yang menawan dan enak dibaca. Selamat menikmati.*redaksi SUSUNAN REDAKSI PENANGGUNG JAWAB: drg. Murti Utami, MPH PEMIMPIN REDAKSI: Dyah Yuniar Setiawati, SKM, MPS SEKRETARIS REDAKSI: Sri Wahyuni, S.Sos, MM REDAKTUR/PENULIS: Dra. Hikmandari A, M.Ed Busroni S.IP Prawito, SKM, MM M. Rijadi, SKM, MSc.PH, Aji Muhawarman, ST, Resty Kiantini, SKM, M.Kes, Giri Inayah, S.Sos, MKM, Dewi Indah Sari, SE, MM, Awallokita Mayangsari, SKM, Waspodo Purwanto, Hambali, Rahmadi, Eko Budiharjo, Juni Widiyastuti, SKM, Dessyana Fa’as, SE, Siti Khadijah DESIGN GRAFIS & FOTOGRAFER: drg. Anitasari, S,M, Wayang Mas Jendra, S.Sn, SEKRETARIAT: Endang Retnowaty, Iriyadi, Zahrudi ALAMAT REDAKSI: PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK, Gedung Kementerian Kesehatan RI, Blok Ruang 109, Jl. HR Rasuna Said Blok X5 Kav. 4 - 9, Jakarta, 12950 Telepon: 021-5201590 ; 021 - 52907416-9 Fax: 021-5223002 ; 021-52960661 Email: infodepkes.go.id ; kontak@depkes.go.id Call Center : 021 – 500567 • • • • • • • • • REDAKSI MENERIMA NASKAH DARI PEMBACA, DAPAT DIKIRIM KE ALAMAT EMAIL: kontak@depkes.go.id mediakom 41 | APRIL | 2013 | 1
  4. 4. surat pembaca Apa yang dimaksud dengan Mandatory? Dalam penanggulangan HIV/AIDS, apa yang dimaksud dengan asas mandatory dan apa dasar hukum dari asas tersebut? Nur Khotimah, Kebumen Jawa Tengah Jawab; Terima kasih atas pertanyaanya; Asas Mandatory dalam penanggulangan HIV/AIDS, artinya memaksa seseorang untuk ditindaklanjuti pemeriksaan / tes HIV dan untuk diketahui status HIV seseorang. Kebijakan Kementerian Kesehatan hal tersebut TIDAK PERNAH diberlakukan, karena hal tersebut merupakan mutlak hak pasien untuk mengetahui status HIV dirinya. Kebijakan Kementerian Kesehatan, memberi pengetahuan yang cukup kepada pasien agar memahami tentang risiko dari HIV/AIDS. Apabila sudah memiliki kesadaran, kemudian ingin melakukan tes HIV, maka diarahkan kepada konselor. Harapannya, pasien memiliki kesiapan untuk menerima apapun hasil tes HIV tersebut. Namun bagi petugas kesehatan (dokter, perawat, bidan) melihat indikasi faktor risiko pada diri pasien untuk tertular HIV, petugas kesehatan harus MENAWARKAN tes HIV dengan melihat kondisi fisik atas penyakitnya. Namun, mau atau tidak melakukan tes, tetap menjadi hak pasien. Pasien harus dirujuk ke pelayanan konseling, bila belum melakukan tes. Redaksi Kepesertaan Jamkesmas Saya anak PNS, setelah menikah jaminan kesehatan askes, tidak berlaku lagi. Saya sangat membutuhkan jamkesmas, karena mempunyai penyakit gagal ginjal kronis dan saya memakai CAPD. 2 | mediakom 41 | april | 2013 Saya sangat membutuhkan cairan untuk membilas patrineal dialisis / cuci darah 3 x sehari. Saya bekerja di instansi pemerintah dengan honor Rp 300.000,-. Padahal cairan tersebut harganya Rp 4.700.000,-. Sementara stok cairan itu tinggal untuk 2 minggu lagi. Apabila tidak ada cairan lagi, tentu akan membahayakan nyawa. Mohon keterbukaan hati untuk saya. Terima kasih atas bantuanya. ghazalipasca@gmail.com Kabupaten Bondowoso Jawab; Saudara Ghazali yang berbahagia, Banyak kasus seperti Saudara, sangat membutuhkan kartu jamkesmas karena berbagai sebab penyakit. Atau ketidakakuratan pendataan dan lain sebagainya, sehingga masyarakat miskin belum mendapat kartu jamkesmas. Atau sebelumnya mempunyai kartu jamkesmas, setelah adanya perubahan kartu jamkesmas baru (kartu biru), yang bersangkutan tidak terdaftar sebagai peserta, padahal sedang menjalani pengobatan cuci darah. Untuk Saudara Ghazali dan anggota masyarakat miskin yang lain, kami sarankan segera mengajukan permohonan kartu Jamkesmas ke Dinas Kesehatan setempat dengan melampirkan surat keterangan tidak mampu dari RT/RW dan Kelurahan setempat. Semoga pada saat ada penggantian kepesertaan anggota jamkesmas, saudara dapat diikut sertakan sebagai peserta jamkesmas. Redaksi *Bila perlu penjelasan lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes (kode lokal) 500567 daftar isi mediakom edisi 41 ETALASE info sehat Cara bahagia di tempat kerja 1 4-5 stop press IPMA – InMA: Pencapaian Kreativitas Insan Media Gold Winner, the best of Government Inhouse Magazine (InMA) 2013 6 Rekrutmen PKHI: Memintarkan, bukan mencari orang pintar 7 Pro Kontra Sunat Perempuan 8 10 48 52 kolom Dian Ayubi Prawito Waspodo Purwanto
  5. 5. daerah media utama Jawa Tengah yang Tak Pernah Sudah Harap-harap Cemas Jelang ‘JKN’ Waspada, Siaga dan Awas bersama Radio Komunitas Desa Kami di Sini Pengaturan Rokok di Indonesia Pokok Pokok Isi PP Tembakau Mengapa Konsumsi Rokok Perlu Diatur Bahaya Rokok Menurut Pandangan Al-qurían dan As-sunNah 11 12 Capaian Kinerja Kemkes 2012 BOK Untuk Perluasan Cakupan 21 22 13 38 43 44 46 birokrasi bersih melayani Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi "Saya tidak membenci perokokî ragam Mutu Perencanaan: Rasa Cabe Naga Jokia? Tingkatkan Pelayanan Publik Kemenkes luncurkan e-Regalkes dan SSO Utamakan Kesehatan Ibu, Bayi dan Balita Peningkatan Kualitas Hidup Anak siapa dia 28 29 62 63 64 65 67 31 lentera 25 Rizna Nyctagina Rizal Idrus Nikita Willy resensi potret 54 untuk rakyat 15 19 50 Kasus Malpraktek Di Tiga Daerah, Masuk Ruang Sidang Komisi Ix Dpr Ri 33 peristiwa Rapat Kerja Kesehatan Nasional dr. Untung Suseno, 58 mediakom 41 | APRIL | 2013 | 3
  6. 6. info sehat ruang/ meja kerja dengan membereskan segala barang yang berserakan. Kemudian, buatlah daftar rencana kegiatan yang akan Anda lakukan pada hari itu (berdasarkan prioritas). Cara bahagia di tempat kerja B anyak orang bekerja namun tidak bahagia dengan pekerjaannya. Dan entah berapa banyak orang-orang yang bekerja setiap hari namun tidak mencintai pekerjaannya tersebut. Akibatnya yang mereka hadapi adalah hari-hari horor yang tidak menyenangkan. Pergi pagi, pulang sore kadang lembur sampai malem. Sementara yang didapat hanya kepenatan, tekanan, depresi dan stress. Mereka bekerja tapi tidak bahagia. Apakah Anda juga mengalaminya? Nah, kalau Anda adalah salah satu dari mereka, yang merasa tidak bahagia di tempat kerja, tidak bahagia dengan pekerjaan Anda, simak cara menjadi bahagia di tempat kerja berikut ini: 4 | mediakom 41 | april | 2013 2 Kenakan pakaian yang meningkatkan mood Banyak dari kita yang diharuskan untuk memakai seragam atau mematuhi aturan pakaian untuk bekerja. Jika Anda memiliki lebih banyak kebebasan untuk berpakaian, cobalah untuk mengenakan pakaian atau aksesoris yang dapat meningkatkan mood dan kepercayaan diri Anda. Dengan menambahkan sesuatu yang istimewa pada pakaian kerja akan membuat hari Anda lebih berwarna. 1 Atur kehidupan kerja Anda Jika aktivitas kerja Anda sering membuat Anda merasa stress dan kewalahan, sekarang saatnya untuk menenangkan dengan membuat segalanya lebih terorganisir. Pertama, pastikan Anda tiba beberapa menit lebih awal di tempat kerja untuk memberikan Anda sedikit waktu dalam mengatur tugas-tugas Anda untuk hari itu dan mempersiapkan mental. Kedua, menata 3 Melakukan beragam variasi tambahan Variasi merupakan bumbu kehidupan, dan ini perlu dilakukan ketika Anda memulai rutinitas seharihari dalam pekerjaan Anda. Rutinitas yang sama setiap hari akan membuat Anda cepat bosan. Jadi cobalah membuat setiap hari sedikit berbeda
  7. 7. dengan cara apapun yang Anda bisa. Misalnya, melakukan tugas-tugas rutin dalam urutan yang berbeda, berbicara dengan orang baru atau mengambil rute yang berbeda untuk bekerja (atau mungkin menggunakan mode yang berbeda dari transportasi, seperti bersepeda, jika Anda mampu). baik untuk meningkatkan harga diri, melepaskan stres, dan juga melepaskan zat kimia di otak seperti endorphin dan anandamide yang dapat meningkatkan mood dan membuat Anda merasa bahagia. Jika tempat kerja Anda memiliki fasilitas untuk mandi, lakukan setelah Anda makan siang. 6 4 Hiasi meja kerja Penelitian telah menunjukkan bahwa pekerja yang menambahkan hiasan pada ruang kerja/meja mereka, 40 persen lebih bahagia ketimbang mereka yang tidak melakukannya. Meskipun Anda mungkin tidak memiliki kewenangan untuk menghias atau mengatur ulang seluruh ruang kantor, Anda bisa melakukan dengan cara yang sederhana misalnya, membeli beberapa alat tulis bagus, memasang foto, kalender lucu atau sepotong kecil karya seni, atau menaruh tanaman kecil pada meja kerja Anda. 5 Tetap aktif di kantor Jika hari kerja Anda membuat Anda tak bersemangat, cobalah memberi rangsangan pada diri Anda dengan melakukan beberapa latihan sederhana ketika istirahat makan siang. Latihan ini Makan camilan yang bikin happy Sediakan beberapa camilan sehat di atas meja kerja Anda. Mengapa? Karena, nutrisi tertentu dalam makanan dapat mempengaruhi perasaan seseorang. Ada beberapa makanan yang dapat mendorong rasa bahagia seperti kenari (asam lemak Omega-3), pisang (mengadung serotonin yang memproduksi tryptophan dan magnesium. Serotonin memiliki efek untuk meningkatkan suasana hati, menenangkan dan mengurangi depresi). Pastikan camilan Anda mengandung karbohidrat kompleks untuk memperlambat pelepasan energi dan menjaga tingkat gula darah tetap rendah untuk mencegah depresi dan kelelahan. 7 gosip dikantor, dan memperlakukan setiap orang sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Penelitian menunjukkan bahwa memberikan senyum benar-benar dapat membuat seseorang lebih bahagia, jadi cobalah untuk memberikan senyum setiap Anda bertemu dengan orang di kantor. 8 Menghargai dan mencintai pekerjaan Anda Cobalah memberikan sesuatu yang terbaik dari apa yang Anda miliki dan mengidentifikasi hal apa saja yang dapat membuat Anda merasa lebih bersemangat untuk bekerja. Misalnya, bercita-cita untuk memperoleh posisi atau jabatan yang lebih baik dalam pekerjaan. Dengan adanya target yang Anda buat, ini akan membuat memacu semangat Anda saat bekerja. Berpikir positif dan ramah terhadap rekan kerja Terlepas dari apakah Anda sedang stres, cobalah tetap mengadopsi sikap positif dan ramah ketika berbicara dengan rekan kerja Anda. Bahkan meskipun mereka kerap tidak memiliki pemikiran yang sama dengan Anda! Cobalah untuk menyelesaikan setiap konflik, menghindari 9 Pertimbangkan mencari pekerjaan lain yang sesuai minat Anda Ini adalah jalan terakhir yang perlu Anda pertimbangkan setelah 8 tips di atas tidak mampu membuat Anda bahagia. Melakukan sebuah pekerjaan yang sesuai dengan hobi Anda adalah cara yang paling ampuh untuk untuk menjadi lebih bahagia. mediakom 41 | APRIL | 2013 | 5
  8. 8. stop press IPMA – InMA: Pencapaian Kreativitas Insan Media Gold Winner, the best of Government Inhouse Magazine (InMA) 2013 K ata-kata memang masih sangat penting, tapi grafis jauh lebih penting. Isi memang penting, tapi bungkus bisa lebih menarik. Kata-kata tidak bisa menggantikan fungsi grafis tapi grafis bisa menggantikan fungsi kata-kata. Maka perpaduan antara kata-kata , gambar, dan grafis menjadi kekuatan yang barangkali bisa diandalkan untuk membuat media cetak akan tetap eksis di masa depan. Itu adalah kata-kata Dahlan Iskan, Ketua Umum Serikat Perusahaan Pers (SPS) pada sambutan Indonesia Print Media Awards (IPMA) tahun 2010, sudah lama memang tetapi belum aus. IPMA – InMA diselenggarakan setiap tahun dalam rangkaian acara Hari Pers Nasional (HPN). 6 | mediakom 41 | april | 2013 Tahun ini, IPMA memasuki tahun ke empatnya, sedangkan InMA lahir belakangan. Tahun 2012 lalu, jadi tahun perdana buat pergelaran InMA yang diselenggarakan di kota Jambi. InMA dan IPMA 2013 bertujuan untuk memberikan apresiasi atas karya kreatif sampul muka majalah internal dan media cetak Indonesia terkait dengan isi majalah. Karena bukan perkara mudah untuk meramu foto, tulisan, dan elemen lain yang menciptakan halaman depan yang menarik hati. Pada tahun 2013 merupakan tahun kedua Majalah Mediakom yang dikelola Pusat Komunikasi Publik berkesempatan mengikuti ajang InMA tersebut. Ajang InMA Award 2013 diikuti 162 entri majalah dari 54 lembaga kategori Lembaga Pemerintah, BUMN, BUMD, Perguruan Tinggi, Perusahaan Multi Nasional & Swasta. Dewan Juri untuk InMA adalah Oscar Motuloh (Kepala/Kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara), Prof.Dr. Ibnu Hamad (Dosen Fisip UI), Daniel Surya (DM IDHolland Singapura), Ndang Sutisna (Excecutive Creative Director First Position), Dian Umar Anggraeni (Senior Consultant, Senior Partner DASA Strategic Communication). Hasil yang diperoleh, Mediakom mendapatkan Gold Winner, the best of Government Inhouse Magazine (InMA) 2013 untuk edisi 38/Oktober 2012. Sementara tahun 2012 pada kompetisi ini Mediakom mendapatkan dua award/trophy : Silver Winner, the best of Government Inhouse Magazine (InMA) 2012 untuk : Mediakom, edisi 31/ Agustus 2011 dan Mediakom, edisi 33/ Desemebr 2011 Prestasi yang di peroleh Mediakom ini tak lepas dari usaha dan kerja keras dari Tim Redaksi Mediakom, yang selalu kompak dan seringkali dikejar-kejar dead line. Dari Tim Redaksi Mediakom kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, teman-teman Puskom atas partisipasi, dedikasinya dan kerjasamanya serta rajin berkontribusi dalam membangun majalah Mediakom ini. Bravo buat Tim Redaksi Mediakom. Tingkatkan terus prestasinya dan tahun 2014 harus mendapat lebih baik lagi.*
  9. 9. Rekrutmen PKHI: Memintarkan, bukan mencari orang pintar H ampir setiap tahun, lebih 30 ribu peserta yang mendaftar menjadi Petugas Kesehatan Haji Indonesia (PKHI), untuk memperebutkan formasi kurang lebih 1.800 kursi petugas haji. Besarnya animo masyarakat untuk mendaftar petugas haji, umumnya karena mereka ingin menunaikan ibadah haji, apalagi bagi peserta yang belum pernah haji. Bahkan menurut A.Hafiz Staf Pusat Kesehatan Haji, ada peserta pelatihan petugas kesehatan haji yang siap bekerja sebagai petugas kesehatan haji, walau tidak dapat honor. Bagi mereka, yang penting dapat pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Alasan mereka cukup masuk akal, sebab menunaikan ibadah haji, tidak cukup hanya punya uang saja. Betapa banyak orang beruang, tapi sudah antri bertahun-tahun belum berangkat haji juga. Menurut Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr. H.Azimal, M.Kes, banyak pendaftar petugas kesehatan haji yang niatnya berhaji sambil menjadi petugas kesehatan haji. Paradigma seperti ini akan menyulitkan diri sendiri dan jemaah, bila menjadi petugas kesehatan haji. Mengapa ? “ Begitu sampai di tanah suci, ketika melihat Masjidil Haram, langsung lupa kalau dirinya sebagai petugas kesehatan haji. Setiap hari sibuk dengan urusan ibadah diri sendiri. Walau, mereka yang seperti ini hanya 1-2 orang dari total petugas”. Hal ini disampaikan dr. H. Azimal, M.Kes, saat memberikan penjelasan kepada peserta pertemuan sosialisasi recruitment Petugas Kesehatan Haji Indonesia (PKHI), 05 Februari 2013, di Bekasi Jawa Barat. “Untuk itu, pelatihan PKHI harus lebih banyak memberi muatan sisi penguatan mental. Menjadi pribadi yang mampu memberikan pelayanan jemaah haji secara tulus ikhlas, penuh pengabdian, hanya untuk mengabdi kepada Illahi Robbi dari seluruh kegiatannya. Saat di tanah air, tanah suci, hingga tanah air kembali”, jelas dr. Azimal. Lebih lanjut, Kapus Kesehatan Haji menambahkan, PKHI memang memerlukan orang yang terampil dan kompeten dalam bidang kesehatan. Tapi yang dibutuhkan petugas yang memiliki kepedulian untuk melayani bukan minta dilayani. Sebab, kalau tidak punya kepedulian untuk melayani, sekalipun terampil dan kompeten, tak akan dapat membantu jemaah secara optimal. “Untuk mengukur tingkat kepedulian, kesiapan melayani dan kemampuan bertahan di bawah tekanan kerja, peserta PKHI akan mengikuti pemeriksaan dokumen, tes psikometri, kompetensi dan pembekalan integrasi”, ujar dr. Azimal. Secara sistem, pendaftaran dan seleksi PKHI sudah mempunyai mekanisme khusus melalui online. Para pendaftar akan mendapat perlakuan sama dalam seleksi. Perlakuan ini dimulai dari saat pendaftaran dan pemasukan dokumen. Sebagai contoh; dalam mengisi form pendaftaran, nama peserta harus mengisi nama dengan tiga kata missal: Prawito Sadino Kariotaruno. Bila, peserta mengisi nama kurang dari tiga kata, maka pada saat verikasi, sudah langsung tereliminasi. “Proses rekrutmen petugas kesehatan haji Indonesia, bukan untuk mencari tenaga yang bagus, tapi melatih petugas sehingga menjadi bagus. Setelah dilatih, petugas mampu bekerja atas dasar pemahaman yang benar, yakni melayani jemaah, tapi punya kesempatan melakukan ritual ibadah haji, bukan sebaliknya”, ujar Azimal.* mediakom 41 | april | 2013 | 7
  10. 10. stop press PRO KONTRA SUNAT PEREMPUAN S unat perempuan di Indonesia masih menjadi kontroversi. Ada yang mendukung, tidak sedikit pula pihak yang menentangnya. Bahkan isu ini sudah mendunia sejak PBB dan WHO terlibat dengan mengeluarkan pernyataan tegas untuk melarangnya. Mengapa menjadi pro dan kontra? Penasaran dengan situasi ini, kami mencoba menggali dan memandangnya dari berbagai sisi dan tidak memihak atau menyudutkan kelompok manapapun. Praktik sunat atau khitan perempuan sudah berlangsung sejak lama. Kegiatan ini dilakukan di beberapa negara atas alasan budaya dan norma yang berlaku di keluarga dan lingkungannya, terutama di sebagian besar negara yang mayoritas beragama islam seperti negara-negara di benua asia, afrika dan kawasan timur tengah. Di kawasan afrika diperkirakan lebih dari 3 juta perempuan setiap tahunnya berisiko mengalami mutilasi genital dan sekitar 140 juta wanita di seluruh dunia telah disunat. WHO mengistilahkan sunat perempuan yang 8 | mediakom 41 | april | 2013 dilakukan di wilayah tersebut dengan Female Genital Mutilation (FGM). Tindakan FGM tersebut dilakukan dengan memotong seluruh klitoris perempuan dan menjahit labia mayora dengan tujuan agar perempuan tidak dapat melakukan hubungan seks sebelum menikah dan kalaupun menikah agar tidak dapat menikmati hubungan seks. Hal ini sudah menjadi adat kebiasaan turun temurun di wilayah tersebut dan tidak terkait sama sekali dengan aspek kesehatan dan agama. Situasi inilah yang memicu PBB dan WHO untuk melarang kegiatan tersebut. PBB pada akhir November 2012 telah mengeluarkan resolusi yang menyerukan 193 negara anggotanya untuk menghilangkan praktik sunat permpuan. Menurut penjelasan dari situs WHO (www.who.int), ada 4 tipe FGM yakni pertama pemotongan dengan atau tanpa mengiris/menggores bagian atau seluruh klitoris (clitoridectomy). Kedua pemotongan klitoris dengan disertai pemotongan sebagian atau seluruh labia minora (excision). Ketiga pemotongan bagian atau seluruh alat kelamin luar disertai penjahitan/penyempitan lubang vagina (infibulation). Keempat, tidak terklarifikasi, untuk tujuan non medis, termasuk penusukan, pelubangan atau pengirisan/penggoresan terhadap kelamin wanita. Bagi pihak yang menentang, praktik sunat perempuan merupakan pelanggaran hak asasi manusia pada kelompok remaja putri dan wanita dewasa. Selain itu juga dinilai telah menabrak upaya memperkuat kesetaraan gender/diskriminasi pada perempuan yang salah satunya melalui ratifikasi konvensi internasional tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Dampak khitan yang mungkin timbul akibat kesalahan penanganan sangat beragam, diantaranya, depresi, pendarahan, infeksi saluran kemih, radang panggul, frigiditas, risiko kemandulan, hingga kematian. Ini berbeda dengan sunat pada pria (male circumcision) yang memang bermanfaat bagi kesehatan. Di Indonesia sendiri, sunat
  11. 11. perempuan banyak terjadi di sebagian besar daerah di Indonesia khususnya di kawasan Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Praktiknya juga didasari pada adat istiadat dan kepercayaan agama yang dianut. Berbeda dengan cara yang dilakukan di negara-negara Afrika yang diistilahkan dengan FGM, di Indonesia praktik ini hanya dengan menggores selaput yang menutupi klitoris. Sayangnya praktik ini tidak dilakukan dengan cara yang benar dan oleh orang yang tepat. Seringkali juga pihak keluarga tidak punya pilihan lain karena disarankan oleh tetangga, keluarga dekat bahkan ditawarkan oleh perawat atau tenaga medis yang menangani bayi perempuan ketika baru dilahirkan. Pemerintah sendiri berada pada posisi netral menanggapi situasi ini. Kementerian Kesehatan pernah mengeluarkan 2 kebijakan yang berbeda perihal sunat perempuan, yakni melalui Surat Edaran Dirjen Binkesmas pada tahun 2006 dan Permenkes pada tahun 2010. Surat edaran Dirjen Binkesmas mengatur tentang larangan medikalisasi sunat perempuan oleh petugas kesehatan. Selanjutnya pada tahun 2008 Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang Hukum Khitan Perempuan yang isinya antara lain menyatakan bahwa khitan bagi laki-laki dan perempuan termasuk fitrah (aturan) dan syiar islam, dan khitan terhadap perempuan adalah bersifat ibadah yang sangat dianjurkan (makrumah) asalkan tidak dilakukan secara berlebihan seperti memotong dan melukai klitoris yang berbahaya dan merugikan. Permenkes Nomor 1636 Tahun 2010 sendiri sebenarnya tidak mewajibkan kaum perempuan untuk melakukan sunat perempuan, inilah yang disalahartikan oleh banyak orang. Permenkes tersebut justru mengatur tata cara/prosedur sunat perempuan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan kaum perempuan yang ingin melakukan praktik sunat perempuan. Tidak sembarangan praktik ini dapat dilakukan. Berdasarkan Permenkes tersebut, sunat perempuan harus memiliki sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Permenkes ini mengatur pelaksanaan sunat perempuan agar sesuai dengan ketentuan agama, standar pelayanan dan standar profesi untuk menjamin keamanan dan keselamatan perempuan yang disunat. Masih menurut aturan dalam Permenkes tersebut, sunat hanya dapat dilakukan oleh dokter, bidan dan perawat yang telah memiliki izin praktek/izin kerja serta dilakukan atas permintaan dan persetujuan perempuan yang disunat, orang tua dan/atau walinya. Diatur pula mengenai persyaratan ruangan, peralatan dan prosedur tindakan serta larangan dan batasannya. Secara medis dan empiris, memang banyak yang menilai sunat perempuan tidak terbukti bermanfaat, sehingga wajar bila hal ini banyak ditentang. Dilain pihak, menurut banyak kalangan, khususnya kalangan agama Islam, praktik ini merupakan bagian dari ibadah yang sifatnya makrumah tadi. Menurut MUI, lebih baik hal ini tidak dilarang karena akan berdampak negatif, sebab bagi sebagian kalangan yang tetap mempercayai khitan akan tetap melakukannya secara illegal dan ini malah berbahaya dan mengancam keselamatan. Pemerintah dan semua pihak harus melihat ini dengan bijak. Pemerintah sepertinya harus terus giat memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa sunat perempuan di Indonesia merupakan budaya yang sudah lama ada dan secara religi sudah dianut oleh sebagian besar umat islam serta tindakan yang dilakukan tidaklah seperti yang terjadi di negara-negara lain seperti kekuatiran banyak orang. Kebijakan yang pemerintah lahirkan tidak berarti melegalisasikan praktik sunat perempuan tetapi justru mengatur agar dilakukan dengan aman dan higienis. Masyarakat harus diberikan kebebasan untuk memutuskan, apakah bayi/anak dan/atau keluarganya akan disunat atau tidak. Pilihan ini juga harus diketahui dan dilaksanakan oleh pihak pemberi layanan, baik dokter praktik mandiri, klinik, puskesmas dan rumah sakit, sehingga dengan demikian semua ‘kubu’ yang terkait soal ini dapat terakomodir kepentingannya.*(AM) mediakom 41 | april | 2013 | 9
  12. 12. kolom healthy happy family: kenapa tidak? foto Dian Ayubi Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Dosen di Departemen Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia B eberapa waktu lalu saya mendengar kisah seorang anak usia sekolah dasar dipukul oleh ayahnya ketika si anak diketahui merokok. Lebih menyedihkan lagi ketika saya tahu bahwa sang ayah adalah seorang perokok. Mungkin banyak kisah-kisah lain ketika keluarga tidak menjadi tempat yang baik untuk menumbuhkan perilaku sehat. Dahlgreen dan Whitehead (1991) menjelaskan diterminan sosial kesehatan dimana ada beberapa lapisan yang dapat mempengaruhi kesehatan seseorang. Lapisan pertama adalah gaya hidup seseorang dan lapisan kedua adalah lingkungan sosial dan komunitas. Keluarga termasuk dalam lapisan kedua. Keluarga adalah struktur terkecil dalam masyarakat. Ibarat sebuah bangunan masyarakat, maka keluarga adalah salah satu batu bata yang membangunnya. Jika tiap keluarga memiliki perilaku sehat maka masyarakat pun akan menjadi sehat begitu juga sebaliknya. Peran keluarga dalam menumbuhkan perilaku sehat bagi anggota keluarganya dapat dilakukan dalam dua bentuk. Pertama adalah orang tua menjadi contoh bagaimana berperilaku sehat. Pepatah mengatakan buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya. Terlebih bagi 10 | mediakom 41 | april | 2013 anak-anak balita, dapat dikatakan hampir seluruh perilakunya adalah hasil mencontoh orang dekatnya. Jangan heran jika melihat anak-anak merokok kalau orang tuanya pun perokok. Meskipun orang tua tidak merokok, tetapi banyak orang tua tidak sadar mengucapkan ‘ini uang rokok’ saat memberi upah atau tip ke orang lain. Hal ini dapat dikesankan oleh anak-anak bahwa orang tuanya menganjurkan untuk merokok. Sebaiknya katakana saja ‘ini uang lelah’ atau ‘ini uang trasport’. Hal lain yang jarang dicontohkan oleh orang tua adalah menegur orang lain ketika merokok di tempat-tempat umum. Pengalaman saya menunjukkan bahwa jika kita menegur dengan cara yang santun untuk tidak merokok dan mengucapkan terima kasih, maka orang tersebut tidak akan marah. Ini lebih efektif daripada kita mengibasibaskan tangan di depan wajah atau menutup hidung untuk memberi isyarat agar orang tertentu tidak merokok di depannya. Peran kedua adalah membentuk lingkungan yang sehat. Lingkungan mencakup fisik maupun norma-norma dalam keluarga. Contoh lingkungan fisik adalah tidak menyediakan asbak rokok di ruang tamu atau tempat lainnya. Tidak menempel gambar, poster, atau tampilan lainnya dimana terdapat gambar rokok. Termasuk juga didalamnya adalah membentengi anak-anak dari derasnya iklan rokok di media televisi. Orang tua seharusnya memberikan pendampingan untuk menjaga anak-anaknya dari pengaruh buruk tayangan iklan tersebut. Norma yang dapat dibangun dalam keluarga antara lain tidak mengizinkan orang lain merokok didalam rumah meskipun itu adalah keluarga dekat kita. Mungkin dapat menjadi perdebatan. Teman saya mengizinkan anaknya untuk mencoba merokok namun harus dilakukan di depan orang tuanya. Ini dilakukan agar sang anak tidak mencoba bersama teman-temannya. Orang tua dapat memberikan edukasi tentang bahaya akibat merokok, sedangkan teman sebayanya belum tentu demikian. Dari uraian di atas maka peran keluarga dalam menumbuhkan perilaku sehat bermula dari orang tua. Perilaku sehat harus dipupuk tidak hanya di dalam rumah maupun di luar rumah misal ketika sedang berbelanja di pusat perbelanjaan dan rekreasi di tempattempat wisata. Jika semua tersebut dilakukan bersama-sama dan dalam suasana yang nyaman, maka tidak sulit untuk mewujudkan keluarga sehat dan bahagia…health happy family.*
  13. 13. m e d i a u t a m a PENGATURAN ROKOK DI INDONESIA Jadi, efek buruk rokok bagi kesehatan bukan sekadar penyakitpenyakit fisik saja, tetapi juga dapat berpen­ aruh buruk pada kesehatan g jiwa. Terutama jika orang itu merokok sejak usia muda atau bahkan anakanak. Oleh karena itulah konsumsi rokok pada anak usia sekolah harus dikurangi semaksimal mungkin, atau bahkan dilarang sama sekali. Mengandalkan pelaran­ an pada g kesadaran orang tua agaknya tidak cukup. Diperlukan pula intervensi negara melalui pengaturan. Untuk itulah pemerintah Indonesia kemudian berinisi­ tif untuk mengatur a dan membatasi konsumsi rokok di masyarakat. Yang kemudian dituangkan dalam sebuah PP No 109 tahun 2012, tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan. Diantaranya berisi tentang peringatan kesehatan, pengaturan kawasan tanpa rokok, perlind­ ungan anak dan wanita hamil, serta pengendalian iklan rokok di media. Diharapkan dengan peraturan tersebut, konsumsi ro­ ok akan dapat k ditekan seminimal mungkin. Dan pada target jangka panjang akan dapat mengurangi jumlah pen derita penyakit fisik, akibat dari rokok.* mediakom 41 | april | 2013 | 11 Flickr.com T embakau sebagai komoditas dagang diperke­ alkan n oleh Belanda ke Indonesia pada abad ke-17. Benda ini kemudian menjadikan Indo­ nesia sebagai salah satu penghasil tembakau terbaik, di wilayah Asia Timur. Pada waktu itu Belanda praktis memonopoli perdagangan tembakau di dunia, terutama di wilayah Asia. Berbeda dengan negara-negara Eropa yang lain yang membawa tem­ akau b langsung dari Amerika, Belanda juga membuka perkebunan tembakau di berbagai wilayah di Afrika dan Asia. Hal tersebut kemudian menjadi sebuah budaya tersendiri di kalangan masyarakat, yaitu budaya mero­ kok. Tingginya permintaan akan rokok membuat indus­ ri tembakau t semakin berkembang dari abad ke abad. Namun pengetahuan tentang dampak buruk tembakau terhadap kesehatan baru muncul di awal abad ke-20. Tahun 1939, dokter Franz H. Muller untuk pertama kali membuktikan melalui studi epidemiologis, bahwa mero­ ok k berkaitan dengan kanker paru-paru. Mereka berkesimpulan bahwa asap rokok, bukan han­ a nikotin saja y yang berbahaya tetapi juga zat-zat lain yang terdapat dalam asap rokok. Diantaranya adalah tar sebagai hasil pembakaran tembakau, yang ikut menyumbang bahaya rokok bagi kesehatan. Bahaya tersebut diperkuat oleh efek kecanduan dari nikotin. Sehingga zat-zat berbahaya tadi makin menumpuk dalam tubuhnya, dan secara berangsur mendekatkan kepada risiko penyakit akibat rokok.
  14. 14. m e d i a u t a m a Pokok Pokok Isi PP Tembakau P eraturan Pemerintah No 109 tahun 2012, tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan, diantaranya berisi peringatan kesehatan, pengaturan kawasan tanpa rokok, perlindungan anak dan wanita hamil, serta pengendalian iklan. Khusus, peringatan kesehatan, setiap produsen dilarang untuk mencantumkan keterangan atau tanda apapun yang menyesatkan atau kata yang bersifat promotif. Juga dilarang mencantumkan kata “light, ultra light, mild, extra mild, low tar, slim, special, full flavour, premium” dan kata lain yang mengindikasikan kualitas, superioritas, rasa aman, pencitraan, kepribadian atau kata-kata apapun dengan arti yang sama. 12 | mediakom 41 | april | 2013 Selain itu, PP ini juga mengatur Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mewujudkan KTR. Yakni ruang atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok, menjual, memproduksi, mengiklankan atau mempromosikan produk tembakau. Adapun yang dimaksud kawasan tanpa rokok meliputi: fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja dan tempat umum lain yang telah ditetapkan. Secara khusus, PP ini juga memuat perlindungan anak dan perempuan hamil terhadap bahan yang mengandung zat adiktif, berupa produk tembakau. Perlindungan ini dilakukan secara komprehensif, mulai dari pencegahan, pemulihan kesehatan fisik, mental dan pemulihan sosial. Kegiatan pemulihan dilaksanakan melalui kegiatan pemeriksaan fisik dan mental, pengobatan, pemberian terapi psikososial, pemberian terapi mental dan melakukan rujukan. Sedangkan kegiatan rehabilitasi sosial dilakukan kegiatan dalam bentuk; motivasi dan diagnosis psikososial, perawatan dan pengasuhan, pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan, bimbingan mental dan bimbingan fisik. Selain itu, juga mendapat bimbingan sosial dan konseling psikososial, pelayanan aksesibilitas, bantuan dan asistensi sosial, bimbingan resosialisasi, bimbingan lanjut dan rujukan. Terkait dengan pembinaan dan pengawasan, Menteri, Menteri terkait, kepala badan, pemerintah daerah sesuai kewenangannya melakukan upaya pengawasan dan dapat memberi sanksi berupa teguran lisan, tertulis, penarikan produk, rekomendasi penghentian sementara kegiatan dan rekomendasi penindakan kepada instansi terkait.*
  15. 15. MENGAPA KONSUMSI ROKOK PERLU DIATUR T embakau sebagai komoditas dagang diperkenalkan oleh Belanda ke Indonesia pada abad ke 17 dan menjadikan Batavia sebagai pusat perdagangan tembakau di wilayah Asia Timur. Belanda mengambil tembakau dari perkebunan mereka di Srilanka yang waktu itu juga merupakan jajahan Belanda. Baru di pertengahan kedua abad ke 18 Belanda mulai menanam tembakau di Indonesia. Pada abad ke-17 itu Belanda praktis memonopoli perdagangan tembakau di dunia, terutama di wilayah Asia. Berbeda dengan negara-negara Eropa yang lain yang membawa tembakau langsung dari Amerika, Belanda membuka perkebunan tembakau di berbagai wilayah di Afrika dan Asia. Dalam buku Tobacco (A Cultural History of How an Exotic Plant Seduced Civilization), Iain Gately menceritakan kelihaian Belanda dalam perdagangan tembakau. Dengan membuat suku Hottentot di Afrika Selatan ketagihan tembakau, Belanda dapat memperoleh Tanjung Harapan (Afrika Selatan) dari suku tersebut yang ditukar dengan tembakau. Diceritakan juga bagaimana Belanda membujuk pemakan sirih di Indonesia agar menukar sabut pinang dengan tembakau sebagai pembersih ludah dan gigi setelah makan sirih. Juga bagaimana Belanda mengajari orang Jawa yang gemar menggigit cengkeh untuk mencampurkannya dengan tembakau dan dijadikan rokok, yang kini bernama kretek. “The Javanese, who were addicted to cloves, were provided with tobacco mixed with pieces of clove. These fragments made an attractive crackling noise upon combustion, which was believed to ward off evil spirits…” Ketika negara-negara Eropa lain lebih melihat tembakau sebagai produk untuk kesenangan, Belanda sudah memanfaatkan sifat ketagihan tembakau untuk memperkaya negaranya. Persis seperti pengusaha rokok sekarang ini yang memanfaatkan sifat adiktif tembakau untuk memperkaya dirinya sendiri. Pengetahuan tentang dampak buruk tembakau terhadap kesehatan baru muncul di awal abad ke-20. Di tahun 1939, dokter Franz H. Muller dari Jerman untuk pertama kali membuktikan melalui studi epidemiologis, bahwa merokok berkaitan dengan kanker paru-paru. Pemerintah Jerman pun kemudian menyatakan “perang” terhadap rokok, antara lain dengan menyebarkan gambar Hitler dengan tulisan “Fuhrer kita, Adolf Hitler tidak minum alkohol dan tidak merokok”. Tetapi suasana perang dan juga perlawanan dari industri rokok membuat kampanye anti rokok itu tidak terdengar gaungnya. Perlawanan industri rokok tersebut, seperti diceritakan dalam buku Tobacco di atas, antara lain dilakukan dengan menyuap Partai Nazi. Meskipun demikian, pemerintah tetap melarang orang merokok di tempat umum dan dalam kendaraan umum. Juga melarang mediakom 41 | april | 2013 | 13
  16. 16. m e d i a u t a m a merokok bagi anggota Luftwaffe (Angkatan Udara). Nikotin sebagai zat adiktif Pengetahuan tentang dampak buruk rokok bagi kesehatan semakin lama semakin meningkat dengan makin banyaknya laporan bukti-bukti ilmiah di berbagai jurnal kedokteran dunia. Ternyata dari asap rokok, bukan hanya nikotin saja yang berbahaya tetapi juga zat-zat lain yang terdapat dalam asap rokok serta tar sebagai hasil pembakaran tembakau, ikut menyumbang bahaya rokok bagi kesehatan. Bahaya tersebut diperkuat oleh efek mencandu dari nikotin. Dengan adanya kecanduan, perokok akan selalu mencari rokok setiap kali ketagihan, dan dengan demikian membuat zat-zat berbahaya tadi makin menumpuk dalam tubuhnya, sehingga secara berangsur mendekatkan kepada risiko penyakit akibat rokok. Meskipun pengetahuan tentang bahaya rokok sudah cukup lama dan bahwa rokok menimbulkan kecanduan, pengetahuan tentang mekanisme bagaimana nikotin dapat mengakibatkan kecanduan relatif belum terlalu lama. Mekanisme bagaimana kerja nikotin dalam menimbulkan kecanduan antara lain dirangkum oleh Neal L. Benowitz, dalam majalah kedokteran terkemuka New England Journal of Medicine, edisi 17 Juni 2010. Nikotin menimbulkan kecanduan dengan cara mengikat sel-sel tertentu di otak yang memacu produksi dopamin, zat yang dapat menimbulkan rasa nyaman, dan selanjutnya membuat sel itu selalu memerlukan nikotin untuk 14 | mediakom 41 | april | 2013 memproduksi dopamin. Dari rangkuman tersebut juga diungkapkan bahwa kecanduan nikotin akan makin sulit dihentikan pada perokok yang sudah mulai merokok sejak usia muda. Jadi meskipun nikotin itu sendiri kecil peranannya dalam menimbulkan berbagai penyakit akibat rokok, sifatnya yang adiktif membuat perokok akan selalu menghisap rokok dan sekaligus menghisap zat-zat racun yang ada dalam rokok dan asapnya. Tetapi karena nikotin juga mempengaruhi pusat “rasa nyaman” dan pusat emosi, maka rokok juga mempunyai efek pada perkembangan kejiwaan terutama pada perokok usia muda. Jie Wu Weiss di tahun 2005 melaporkan dalam Journal of Adolescence bahwa kecanduan nikotin telah membuat remaja menjadi mudah marah, bermusuhan, dan depresi. Apakah faktor ini yang telah membuat banyak anak usia sekolah yang gemar melakukan tawuran , kekerasan di Indonesia, menarik untuk diteliti. Tetapi kecanduan nikotin sebagai awal (pintu masuk) ke kecanduan narkoba yang lebih keras sudah banyak dilaporkan. Selain melalui jalur depresi ataupun melalui peningkatan kekuatan zat adiktif. Sebagaimana diketahui, sifat kecanduan nikotin sangat tergantung dosis. Artinya kalau sudah kecanduan pada dosis tertentu, ia tidak akan terpuaskan kalau belum menghisap nikotin sebesar dosis tersebut. Kalau ia diberi rokok dengan nikotin dosis kecil, maka jumlah batangnya akan ditambah supaya dosis yang ia perlukan terpenuhi. Buruknya, dosis ini makin lama bisa makin meningkat. Kalau sebelumnya cukup dengan sebungkus sehari, lama kelamaan akan meningkat menjadi dua bungkus, dan seterusnya. Kalau kemudian ia membutuhkan dosis yang lebih tinggi lagi, ia tidak akan terpusakan oleh nikotin, lalu pindah ke zat adiktif yang lebih kuat, misalnya heroin. Oleh karena itu pada perokok remaja, akan mudah ia kelak beralih ke zat narkoba yang lebih kuat. Jadi, efek buruk rokok bagi kesehatan bukan sekadar penyakitpenyakit fisik seperti kanker, serangan jantung, dan lahir cacat bagi janin yang sejak di kandungan terpapar asap rokok, tetapi juga dapat berpengaruh buruk pada kesehatan jiwa. Terutama jika orang itu merokok sejak usia muda atau bahkan anak-anak. Oleh karena itulah konsumsi rokok pada anak-anak dan remaja harus dikurangi semaksimal mungkin, atau bahkan dilarang sama sekali. Mengandalkan pelarangan pada kesadaran orang tua agaknya tidak cukup. Diperlukan pula intervensi negara melalui pengaturan.*
  17. 17. Bahaya Rokok Menurut Pandangan Al-qur’an dan As-sunNah B erita-berita yang muncul tentang bahaya rokok terhadap perokok aktif maupun pasif sudah bukan hal yang baru lagi. Tetapi, menurut sebuah studi baru-baru ini, yang dipublikasikan oleh American Journal of Public Health, statistik bisa menunjukkan betapa seriusnya akibat rokok. Rokok, siapa yang tidak kenal dengan benda satu ini. Ia telah menyatu dalam kehidupan sebagian manusia. Baik orang awam atau kaum intelek, miskin atau kaya, pedesaan atau kota , pria bahkan wanita, semua kalangan. Kehidupan mereka seperti dikendalikan oleh rokok. Mereka sanggup untuk tidak makan berjamjam, tetapi ‘pusing’ jika berjam-jam tidak merokok. Mengaku tidak ada uang untuk bayar sekolah, tetapi selalu ada uang untuk memembeli rokok sungguh mengherankan! Tulisan ini diturunkan dalam rangka menyelamatkan umat manusia, , dari bahaya rokok, serta bahaya para propagandis (pembela)nya dengan ketidak pahaman mereka tentang nash-nash syar’i (teks-teks agama) dan qawaidusy syar’iyyah (kaidah-kaidah syariat). Atau karena hawa nafsu, mereka memutuskan hukum agama karena perasaan dan kebiasaannya sendiri, bukan karena dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah, serta aqwal (pandangan) para ulama Ahlus Sunnah yang mu’tabar (yang bisa dijadikan rujukan). Lantaran mereka, umat terus terombang ambing dalam kebiasaan yang salah ini, dan meneladani perilaku yang salah, lantaran menemukan sebagian orang pecandu rokok. Mereka beralasan ‘tidak saya temukan dalam Al Qur’an dan Al Hadits yang mengharamkan rokok.’ Sungguh, ini adalah perkataan yang mengandung racun berbahaya bagi orang awam, sekaligus menunjukkan keawaman pengucapnya, atau kemalasannya untuk menelusuri dalil. Sebab banyak hal yang diharamkan dalam Islam tanpa harus tertera secara manthuq (tekstual/jelas tertulis) dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Kata-kata ‘rokok’ jelas tidak ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah secara tekstual, sebab bukan bahasa Arab, nampaknya anak kecil juga tahu itu. Nampaknya, orang yang mengucapkan ini tidak paham bahwa keharaman dalam Al Qur’an bisa secara lafaz (teks tegas mengharamkan) atau keharaman karena makna/pengertian/maksud. Kebenaran bukan dilihat dari orangnya, tapi lihatlah dari perilakunya, sejauh mana kesesuaian dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Kami amat meyakini dan berbaik sangka, para pengguna dari kalangan bawah maupun kalangan intelek (atas) sekalipun yang merokok sebenarnya membenci apa yang telah jadi kebiasaan mereka, hanya saja karena sudah candu, mereka sulit meninggalkanya. Akhirnya, tidak sedikit di antara mereka yang mencari-cari alasan untuk membenarkan rokok. Sungguh, Ahlus Sunnah adalah orang yang berani beramal setelah adanya dalil, bukan beramal dulu, baru cari-cari dalil dan alasan. Berikut ini akan kami paparkan mediakom 41 | april | 2013 | 15
  18. 18. m e d i a u t a m a Bahaya Merokok 1. Penyakit jantung Rokok menimbulkan aterosklerosis atau terjadi pengerasan pada pembuluh darah. Kondisi ini merupakan penumpukan zat lemak di arteri, lemak dan plak memblok aliran darah dan membuat penyempitan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan penyakit jantung. Jantung harus bekerja lebih keras dan tekanan ekstra dapat menyebabkan angina atau nyeri dada. Jika satu arteri atau lebih menjadi benar-benar terblokir, serangan jantung bisa terjadi. Semakin banyak rokok yang dihisap dan semakin lama seseorang merokok, semakin besar kesempatannya adillatusy syar’iyyah (dalil-dalil syara’) dari Al Qur’an dan As Sunnah tentang haramnya rokok, yang tidak ada keraguan di dalamnya, berserta kaidahkaidah fiqhiyyah yang telah disepakati para ulama mujtahidin, dan kami paparkan pula pandangan ulama dunia tentang rokok. Wallahul Musta’an! Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan Janganlah kalian menjerumuskan diri kalian dengan tangan kalian sendiri ke dalam jurang kerusakan.” (QS. Al Baqarah (2): 195) “Dan Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri ..” (QS. An Nisa (4): 29) Perhatikan dua ayat ini, tidak syak (ragu) lagi, merokok merupakan tindakan merusak diri si pelakunya, bahkan tindakan bunuh diri. Para pakar kesehatan telah menetapkan adanya 3000 racun berbahaya, dan 200 diantaranya amat berbahaya, bahkan lebih bahaya dari Ganja (Canabis Sativa). Mereka menetapkan bahwa sekali hisapan rokok dapat mengurangi umur 16 | mediakom 41 | april | 2013 hingga beberapa menit. Wallahu A’lam bis Shawab. Pastinya, umur manusia urusan Allah Ta’ala, namun penelitian para pakar ini adalah pandangan ilmiah empirik yang tidak bisa dianggap remeh. Al Ustadz Muhamad Abdul Ghafar al Hasyimi menyebutkan dalam bukunya Mashaibud Dukhan (Bencana Rokok) bahwa rokok bisa melahirkan 99 macam penyakit. Lancet, sebuah majalah kesehatan di Inggris menyatakan bahwa merokok itu adalah penyakit itu sendiri, bukan kebiasaan. Perilaku ini merupakan bencana yang dialami kebanyakan anggota keluarga, juga bisa menurunkan kehormatan seseorang. Jumlah yang mati karena rokok berlipat ganda. Majalah ini menyimpulkan, asap rokok lebih bahaya dari asap mobil. Begitu pula ayat ‘Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri’, artinya, yang haram yaitu 1. Bunuh diri, dan 2. Perilaku atau sarana apapun yang bisa mematikan diri sendiri. mengembangkan penyakit jantung atau menderita serangan jantung atau stroke. 2. Penyakit paru Risiko terkena pneumonia, emfisema dan bronkitis kronis meningkat karena merokok. Penyakit ini sering disebut sebagai Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Penyakit paru-paru ini dapat berlangsung dan bertambah buruk dari waktu ke waktu sampai orang tersebut akhirnya meninggal karena kondisi tersebut. Orang-orang berumur 40 tahun bisa mendapatkan emfisema atau bronkitis, tapi gejala biasanya akan jauh lebih buruk di kemudian hari, menurut American Cancer Society. zat berbahaya dalam rokok Nikotin Zat ini mengandung candu bisa menyebabkan seseorang ketagihan untuk terus menghisap rokok Pengaruh bagi tubuh manusia : * Menyebabkan kecanduan / ketergantungan. * Merusak jaringan otak * Menyebabkan darah membeku * Mengeraskan dinding arteri
  19. 19. 3. Kanker paru dan kanker lainnya Kanker paru-paru sudah lama dikaitkan dengan bahaya rokok, yang juga dapat menyebabkan kanker lain seperti dari mulut, kotak suara atau laring, tenggorokan dan kerongkongan. Merokok juga dikaitkan dengan kanker ginjal, kandung kemih, perut pankreas, leher rahim dan kanker darah (leukemia). Merokok meningkatkan resiko terjadinya diabetes, menurut Cleveland Clinic. Rokok juga bisa menyebabkan komplikasi dari diabetes, seperti penyakit mata, penyakit jantung, stroke, penyakit pembuluh darah, penyakit ginjal dan masalah kaki. Bahan dasar pembuatan aspal yang dapat menempel pada paru-paru dan bisa menimbulkan iritasi bahkan kanker Pengaruh bagi tubuh manusia : * Membunuh sel dalam saluran darah * Meningkatkan produksi lendir diparu-paru * Menyebabkan kanker paruparu Karbon Monoksida Gas yang bisa menimbulkan penyakit jantung karena gas ini bisa mengikat oksigen dalam tubuh * Pengaruh bagi tubuh manusia : * Mengikat hemoglobin, sehingga tubuh kekurangan oksigen Rokok merupakan faktor resiko utama untuk penyakit pembuluh darah perifer, yang mempersempit pembuluh darah yang membawa darah ke seluruh bagian tubuh. Pembuluh darah ke penis kemungkinan juga akan terpengaruh karena merupakan pembuluh darah yg kecil dan dapat mengakibatkan disfungsi ereksi/ impoten. 6. Menimbulkan Kebutaan 4. Diabetes Tar 5. Impotensi Seorang yang merokok menimbulkan meningkatnya resiko degenerasi makula yaitu penyebab kebutaan yang dialami orang tua. Dalam studi yg diterbitkan dalam ‘Archives of Ophthal mology pada tahun 2007 menemukan yaitu orang merokok empat kali lebih mungkin dibanding orang yang bukan perokok untuk mengembangkan degenerasi makula, * Menghalangi transportasi dalam darah Zat Karsinogen Pengaruh bagi tubuh manusia: * Memicu pertumbuhan sel kanker dalam tubuh Zat Iritan Zat-zat asing berbahaya tersebut adalah zat yang terkandung dalam dalam ASAP ROKOK, dan ada 4000 zat kimia yang terdapat dalam sebatang ROKOK, 40 diantaranya tergolong zat yang berbahaya misalnya : hidrogen sianida (HCN) , arsen, amonia, polonium, dan karbon monoksida (CO). * Mengotori saluran udara dan kantung udara dalam paruparu. Menyebabkan batuk. yang merusak makula, pusat retina, dan menghancurkan penglihatan sentral tajam. 7. Penyakit mulut Penyakit mulut yang disebabkan oleh rokok antara lain kanker mulut, kanker leher, penyakit gigi, dan nafas. 8. Gangguan Janin Merokok berakibat buruk terhadap nafas terganggu dan bau mulut tak sedap kesehatan janin dalam kandungan keguguran, kematian janin, bayi lahir berat badan rendah, dan sindrom, kematian mendadak bayi 9. Gangguan Pernafasan Merokok meningkatkan risiko kematian karena penyakit paru kronis hingga sepuluh kali lipat. Sekitar 90% kematian karena penyakit paru kronis disebabkan oleh merokok. “ Tidak (boleh melakukan /menggunakan sesuatu yang) berbahaya atau membahayakan” (Riwayat Ahmad dalam Musnadnya, Malik dan Atturmuzi) Demikian juga (rokok diharamkan) karena termasuk sesuatu yang buruk (khabaits), sedangkan Allah ta’ala (ketika menerangkan sifat nabi-Nya Shalallahu ‘Alaihi Wassalam) berfirman: “dia menghalalkan bagi mereka yang baik dan mengharamkan yang buruk“ (Al A’raf: 157) Allah Subhanahu Wataala berfirman:“Jangan kalian bunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap diri kalian “ (An-Nisa: 29) Merokok sama seperti bunuh diri secara perlahan-lahan. Dalam ayat yang laen Allah SWT berfirman:“Jangan kalian lemparkan diri kalian dalam kehancuran” (Al-Baqarah : 195) Merokok adalah pemborosan yang mubazir setiap yang mubazir adalah perbuatan setan. “ Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mediakom 41 | april | 2013 | 17
  20. 20. m e d i a u t a m a Cara Berhenti Merokok 1. Niat yang sungguh-sungguh untuk berhenti merokok. 2. Belajar membenci rokok 3. Bergaullah dengan orang yang tidak merokok 4. Sering-sering pergi ke tempat yang ruangannya ber-AC 5. Pindahkan semua barang-barang yang berhubungan dengan rokok. 6. Jika ingin merokok, tundalah 10 menit lagi. 7. Beritahu teman dan orang terdekat kalau kita ingin berhenti merokok. 8. Kurangi jumlah merokok sedikit demi sedikit. 9. Hilangkan kebiasaan bengong atau menunggu. 10. Sering-seringlah pergi ke rumah sakit, agar tahu pentingnya kesehatan. mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata darinya “ (Al Baqarah: 267) “ Tidak (boleh melakukan / menggunakan sesuatu yang) berbahaya atau membahayakan” (Riwayat Ahmad dalam Musnadnya, Malik dan Atturmuzi) Demikian juga (rokok diharamkan) karena termasuk sesuatu yang buruk (khabaits), sedangkan Allah ta’ala (ketika menerangkan sifat nabiNya Shalallahu ‘alaihi wassalam) berfirman: “…dia menghalalkan bagi mereka yang baik dan mengharamkan yang buruk“ (Al A’raf : 157) Dunia kedokteran telah membuktikan bahwa mengkonsumsi barang ini dapat membahayakan, jika membahayakan maka hukumnya haram. Sebagai generasi muda bangsa yang dituntut lebih 18 | mediakom 41 | april | 2013 11. Cari pengganti rokok, misalnya permen atau gula. 12. Coba dan coba lagi jika masih gagal. Semoga informasi tentang bahaya merokok atau bahaya rokok diatas bisa memberikan kita pencerahan dan pemahaman yang lebih baik tentang dampak bahaya rokok Inilah nasihatku untuk diriku sendiri, dan saudaraku sebangsa dan setanah air, juga para laki-laki maupun para wanita atau anak bangsa, yang masih terbelenggu dengan candu rokok ….. untuk mereka yang mencari ketenangan dengan merokok, padahal seorang mu’min mencari ketenangan melalui dzikir dan shalat … untuk mereka yang tengah mencari kejelasan dan kebenaran …. untuk merekalah risalah ini dipersembahkan….* aktif dan berperan dalam negara, baiknya kita bisa memahami dan ikut mengkampanyekan ‘no smoking’ bukan hanya di hari kampanye Hari Tanpa Tembakau Seduania (HTTS) setiap tanggal 31 Mei, akan tetapi setiap hari dan setiap saat. Mirisnya, saat ini rokok sudah dikonsumsi oleh anak-anak dibawah umur dan sudah menjadi sebuah ‘keharusan’ dalam artian mereka sudah candu terhadap rokok tersebut. Mereka seakan terbebaskan oleh sebatang rokok yang mereka isap. Rokok lebih besar madhorotnya, seperti sudah diterangkan di atas merokok bisa menyebabkan berbagai penyakit. Jika saja anda adalah salah satu orang yang merokok aktif, cobalah untuk berhenti merokok dengan melakukan cara sebagai berikut. Hal penting yang harus dilakukan dalam berhenti merokok adalah NIAT yang sungguh-sungguh.*
  21. 21. dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH "Saya tidak membenci perokok” S osok wanita cerdas kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan, 14 Juli 1940 ini, sebelumnya tidak banyak dikenal oleh masyarakat awam. Tetapi kemudian setelah diangkat sebagai Menteri Kesehatan RI oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, namanya mulai ramai dibicarakan. Terutama setelah menggalakkan kampanye anti rokok di kalangan masyarakat dan instansi pemerintahan. Bagi sebagian kalangan masyarakat nama dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH, dikenal sebagai istri dari Brigjen Purn dr. Ben Mboi MPH, mantan Gubernur NTT. Beliau mempunyai karir di bidang kedokteran yang cukup panjang sejak tahun 1964. Mulai dari menjadi karyawan Departemen Kesehatan adalah sebagai Kepala Rumah Sakit Umum, Ende, Flores (1964 - 1968), Kepala Seksi Perijinan pada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Provinsi NTT, Kupang (1979 - 1980), Kepala Bidang Bimbingan dan Pengendalian Pelayanan Kesehatan Masyarakat (BPPKM) pada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Provinsi NTT, Kupang (1980 - 1985). Sejak menjadi pelajar dr. Nafsiah Mboi juga telah aktif menjadi aktivis berbagai organisasi kesehatan dan sosial. Bahkan hingga beranjak dewasa beliau telah menjadi aktivis untuk keluarga berencana hingga penanggulangan HIV/AIDS. Bahkan di era kepemimpinan Alm.Presiden Soeharto, beliau sangat terkenal dengan gebrakan mengenalkan kesehatan perempuan di NTT. Pada saat itu perempuan benar-benar diarahkan tenaganya untuk kerja kolektif sosial, ada keberhasilan terbesar Soeharto dalam menggerakkan kerja perempuan dalam bentuk volunteer atau sukarelawan di tengah masyarakat yaitu  PKK dan Posyandu. Ini salah satunya adalah berkat kerja keras beliau. Sebagai seseorang yang berasal dari keluarga terpandang dan memiliki mediakom 41 | april | 2013 | 19
  22. 22. m e d i a u t a m a wawasan yang luas. dr. Nafsiah Mboi juga memiliki ketertarikan untuk menimba ilmu sebanyak mungkin. Kakak pertama dari Nafsiah, Prof Andi Hasan Walinono, merupakan mantan Rektor Unhas. Hasan juga mantan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Rl, dan pernah menjadi Menteri Pendidikan. Dengan demikian tidak heran jika akhirnya beliau banyak menempuh pendidikan lanjutan di luar negeri. Hingga akhirnya meraih Master of Public Health (MPH) Royal Tropical Institute, Antwerpen, Belgia (19901991) dan terpilih sebagai Research Fellow untuk Takemi Program bidang kesehatan Internasional Universitas Harvard (1990-1991). Kepedulian menegakkan dan komitmennya untuk anti diskriminasi dan kesetaraan dalam masyarakat, akhirnya membuat dr. Nafsiah Mboi menjadi aktivis untuk hak-hak asasi manusia. Diantaranya kemudian menjadi salah satu pendiri Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, (KPAI) anggota Komnas HAM, dan Wakil Ketua Komnas Perempuan. Berkat peran inilah kemudian diangkat menjadi Ketua Komite PBB untuk Hak-Hak Anak periode 1997 - 1999, dan menjabat Direktur Department of Gender and Women’s Health, WHO, Geneva Switzerland pada tahun 1999 – 2002. Kerja keras Nafsiah adalah memperjuangkan ‘pengakuan kerja perempuan’ dalam sektor kesehatan publik, akhirnya membuatnya mendapat penghargaan bergengsi ‘Magsaysay Award’ pada tahun 1986, yang kemudian mempopulerkan namanya. Ia juga mendapat penghargaan nasional lainnya yaitu Satya Lencana Bhakti Sosial tahun 1989. Berbagai kepeduliannya inilah yang 20 | mediakom 41 | april | 2013 kemudian membawa dr. Nafsiah Mboi kepada sebuah pemahaman dan sikap terhadap kebiasaan merokok di antara masyarakat Indonesia. Menurutnya di dalam rokok terdapat ribuan racun yang terkandung dalam nikotin dan tar. Dari ribuan itu, 60 persen merupakan zat karsinogenik yang memicu penyakit kanker. Rokok juga menyebabkan stroke. Menurut dr. Nafsiah Mboi rokok tidak hanya merugikan penghisapnya, tapi juga orang-orang di sekitarnya, yang secara langsung menjadi perokok “Ini bukan perang. Saya tidak suka istilah perang dan tidak ada yang menang dan kalah dalam perang. Saya lebih senang kalau kita mencapai win-win solution bagi kita semua karena pemenang disini adalah masyarakat Indonesia,” pasif. “Apakah Anda tega, menyakiti keluarga atau orang yang Anda cintai?” tanyanya lebih jauh lagi..  Dalam sebuah kunjungannya ke Singkawang, Kalimantan, beliau juga menyebutkan, “Kalau sebelumnya penyebab kematian banyak disebabkan penyakit infeksi, justru sekarang yang besar itu penyakit terkait rokok seperti stroke, jantung, tumor, kanker tenggorokan, kanker paru-paru dan sebagainya,” Menteri Kesehatan dr. Nafsiah Mboi sangat bersemangat untuk melindungi penduduk di Indonesia dari asap rokok, karena beliau mempunyai pengalaman keluarganya yang juga perokok. Bahkan ayah kandungnya meninggal dunia akibat kanker, setelah menjadi perokok berat. “Saya tidak bosan bercerita tentang keluarga saya yang perokok. Ayah kandung saya meninggal akibat kanker karena ayah perokok berat, penderitaan yang dialami tidak bisa dibayar dengan uang,” ungkap dr. Nafsiah Mboi dalam Sosialisasi PP Nomor 109 tahun 2012, tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, di Gedung DPR, Jakarta, bulan Februari lalu. Ia mengakui, isu rokok sensitif dan kompleks, tetapi siapa pun tak boleh menoleransi dampak kesehatan akibat merokok, terutama bagi kaum ibu, bayi, dan anak-anak. ”Mereka harus dilindungi dari paparan asap rokok para perokok aktif,” ujarnya. Saat gencar melakukan kampanye anti merokok dr. Nafsiah Mboi juga menyadari dengan langkah melindungi masyarakat dari asap rokok, bisa mendapat tendangan balik dari industri rokok karena menentangnya. Tapi Nafsiah menekankan, PP Tembakau bukan memunculkan peperangan. “Ini bukan perang. Saya tidak suka istilah perang dan tidak ada yang menang dan kalah dalam perang. Saya lebih senang kalau kita mencapai win-win solution bagi kita semua karena pemenang disini adalah masyarakat Indonesia,” tegasnya.  Untuk itulah, ia bersyukur dengan lahirnya PP ini. Dengan aturan ini, diharapkan para perokok pasif bisa dilindungi dan perokok aktif bisa disembuhkan. “Saya tidak membenci perokok karena mereka adalah korban zat adiktif.” Demikian trgas Menkes.*
  23. 23. m e d i a u t a m a Capaian Kinerja Kemkes 2012 M embangun masyarakat sehat seutuhnya, merupakan cita-cita Bangsa Indoensia. Salah satu caranya dengan meningkatkan derajat kesehatannya. Cita-cita itu diwujudkan dalam pembangunan kesehatan secara berjenjang dan bertahap. Berjenjang, mulai dari janin dalam kandungan, bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa dan manula. Sedangkan bertahap, pemerintah melakukan target-target tertentu secara terukur. Diantaranya, target MDG’s bidang kesehatan. Kesehatan bayi, balita dan ibu mendapat prioritas. Mengapa ?, karena ketiganya merupakan kelompok rentan yang harus mendapat perlindungan dari berbagai penyakit. Untuk itu, pemeriksaan kehamilan oleh petugas kesehatan harus mendapat prioritas. Pemeriksaan ini untuk memastikan janin dalam keadaan sehat dan lahir selamat. Ibu sehat bayi selamat. Bila ada kemungkinan terjadi komplikasi pada ibu hamil, maka telah disediakan antisipasi dengan program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K). Upaya ini menekankan pada deteksi dini, penyedaan akses pelayanan gawat darurat kasus kebidanan di tingkat puskesmas. Tahun 2012 telah tersedia 2.570 puskesmas yang mampu melayani Obtetri Neonatal Emergensi Dasar ( PONED). Tidak cukup sampai di situ. Untuk meningkatkan kelangsungan hidup anak juga telah disiapkan program pemeriksaan minimal 3 kali kepada setiap bayi setelah lahir. Pemeriksaan pertama dilakukan saat bayi berumur 6 - 48 jam. Selanjutnya bayi berumur 29 hari sampai 11 bulan mendapat imunisasi dasar. Imunisasi ini bertujuan untuk mencegah penyakit tuberkolusis, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, polio dan campak. Selanjutnya, balita umur 12-29 bulan diberikan pemeriksaan dan stimulasi tumbuh kembang dan pemberian vitamin A. Ketika mereka menginjak remaja, harus diarahkan kegiatan kesehatatannya melalui usaha kesehatan sekolah (UKS), kesehatan peduli remaja (PKR) dan pelayanan kesehatan kepada korban kekerasan terhadap anak ( KTA). Kegiatan ini bertujuan menjauhkan anak dari peralaku tidak sehat, seperti merokok, narkoba dan pergaulan bebas. Setelah dewasa, mereka tetap harus melakukan kebiasaan pola hidup besih dan sehat. Seperti tidak merokok, makan sesuai kebutuhan kalori, berolah raga teratur dan istrihatat yang cukup. Saat menjadi manusia usia lanjut ( manula), maka harus segera mengikuti program kesehatan manula. Untuk menunjang program ini, pemerintah telah menyediakan program antara lain; puskesmas santun lansia, pengembangan poliklinik geriatric dan layanan perawatan di rumah. Guna mendukung pelayanan kesehatan yang paripurna, telah dikembangkan pelayanan kesehatan indra, peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan. Pengembangan layanan kesehatan jiwa, akreditasi rumah sakit, pengembangan rumah sakit kelas internasional dan tren wisata kesehatan ( health tourism). Bahkan secara khusus untuk memperkokoh operasional layanan kesehatan di tingkat puskesmas, pemerintah telah meluncurkan program biaya operasional kesehatan ( BOK) sejak tahun 2010. Semua itu terangkum dalam rangkaian capaian kinerja kemkes 2012, yang dirangkai dalam beberapa tulisan berikut.*(Pra) mediakom 41 | april | 2013 | 21
  24. 24. m e d i a u t a m a BOK Untuk Perluasan Cakupan D engan diluncurkannya Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) pada tahun 2010, semakin memperluas cakupan pemenuhan hak-hak warga negara terhadap pelayanan kesehatan. Disamping penambahan rumah sakit, yang diikuti dengan peningkatan peran rumah sakit dalam membuka akses pelayanan yang lebih luas. Selain itu, BOK diharapkan dapat mempercepat pencapaian sasaran Millenium Development Goals (MDG). Penggunaan BOK diprioritaskan untuk 6 upaya kesehatan yaitu kesehatan ibu dan anak/keluarga berencana, imunisasi, gizi, promosi 22 | mediakom 41 | april | 2013 kesehatan, kesehatan lingkungan dan Pengendalian Penyakit; kegiatan penunjang program; kegiatan manajemen Puskesmas dan pemeliharaan ringan Puskesmas. Selain itu dana BOK juga untuk membiayai upaya kesehatan lainnya sesuai dengan risiko dan masalah kesehatan utama di wilayah setempat, antara lain penyuluhan pada pengguna NAPZA, penyuluhan kesehatan haji, pembinaan pengobatan tradisional, kesehatan kerja dan olahraga. BOK juga dapat digunakan untuk kegiatan pendataan ibu hamil, ibu bersalin, kasus risiko tinggi, kegiatan surveillans, pelayanan Posyandu, kegiatan penemuan kasus, penjaringan, pengambilan spesimen, pengambilan vaksin, pengendalian dan pemberantasan vektor, kegiatan promosi dan penyuluhan kesehatan, pemberian makanan tambahan untuk balita gizi kurang 6 – 59 bulan serta ibu hamil dengan kurang energi kronis serta kegiatan luar gedung lainnya. Pada tahun 2012 jumlah alokasi dana BOK sebesar Rp. 1.096.485.050.000 untuk total 9.323 Puskesmas sasaran, serta dukungan pengelolaan di 497 kabupaten/kota. Alokasi dana ini meningkat dibanding dengan dana tahun 2011 yamg hanya sebesar Rp 904.555.000.000 dan
  25. 25. disalurkan ke 8.967 Puskesmas. Besaran dana BOK karena perbedaan geografis di berbagai regional. Pada tahun 2012, penyerapan dana BOK telah mencapai 96,57% atau Rp 1.058.887.679.977,-. Peningkatan jumlah Puskesmas, renovasi fasilitas dan peningkatan fungsi pelayanan kesehatan dari non keperawatan menjadi perawatan, telah meningkatkan layanan kesehatan yang merata dan bermutu. Sejak Desember 2009 – Desember 2012 telah terjadi penambahan jumlah Puskesmas, menjadi 9.510 Puskesmas. Berdasarkan hasil Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) pada tahun 2011, diantaranya melakukan identifikasi kondisi fasilitas kesehatan di daerah. Hasil Rifaskes menunjukkan fasilitas kesehatan baik, rusak berat, rusak sedang, rusak ringan dan tak ada data, tercatat 62% Puskesmas memiliki kondisi bangunan baik, sementara 36 % bangunan Puskesmas memerlukan perbaikan. Untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi, Puskesmas didorong untuk menjadi tempat rujukan terdekat yang mampu memberikan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED). Dengan adanya Puskesmas PONED, Puskesmas PONED Alalak Selatan Kota Banjarmasin, Propinsi Kalimantan Selatan Peningkatan Jumlah Puskesmas Tahun 2009 – 2012 6.033 6.085 2.920 2.704 2009 Perawatan 6.293 2011 Non Perawatan penyulit pada ibu dan bayi baru lahir akibat persalinan dapat diatasi. Jumlah Puskesmas mampu PONED mengalami peningkatan dari 1.579 di tahun 2011 menjadi 2.570 pada tahun 2012. Peningkatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan memfasilitasi dan mendorong peningkatan kuantitas dan kualitas rumah sakit. Baik penyebaran maupun pemerataan rumah sakit di seluruh Indonesia. Hal ini 6.358 3.152 3.028 2010 9.510 9.321 9.005 8.737 2012 Total Puskesmas akan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan rujukan. Tahun 2012, jumlah rumah sakit yang telah diregistrasi mencapai 2.083, bertambah 362 rumah sakit dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Disamping itu, Kemkes mendorong berdirinya Rumah Sakit Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 jam. Yakni rumah sakit yang menyelenggarakan pelayanan kedaruratan ibu dan anak secara komprehensif dan terintegrasi. Diharapkan, rumah sakit mampu PONEK dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Rumah Sakit Mampu PONEK terus mengalami peningkatan dari tahun 2009 ke tahun 2012. Indonesia memiliki penduduk yang tersebar di ribuan pulau dan keterbatasan jumlah tenaga kesehatan, sehingga Kementerian Kesehatan melakukan terobosan dengan menerapkan pelayanan diagnosa dan konsultasi jarak jauh melalui jaringan Internet yang dikenal dengan telemedicine, untuk memenuhi mediakom 41 | april | 2013 | 23
  26. 26. m e d i a u t a m a tuntutan pelayanan kesehatan yang membutuhkan diagnosa medis yang cepat dan tepat. Tahun 2012 telah dikembangkan telemedicine di delapan provinsi yang meliputi teleradiology . Teleradiology mampu membaca hasil rontgen pasien dari jarak jauh melalui media internet di 10 rumah sakit yang dibina oleh RSUP dr. Cipto Mangunkusmo. Ia juga mampu membaca hasil pemeriksaan irama jantung dari jarak jauh melalui internet di 19 fasilitas pelayanan kesehatan yang dibina oleh RS Jantung Pusat Harapan Kita. Beberapa daerah yang sudah mengembangkan program SPGDT call center yakni Bandung, Bali, Padang, Manado, dan Yogyakarta. “Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) di Puskesmas sangat berpengaruh pada kelancaran aktivitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Sebelum dialokasikan BOK setiap Puskesmas hanya bergantung dengan pemberian anggaran dari pemda melalui operasional dinas kesehatan setempat. Dengan dukungan dana BOK maka Puskesmas bersangkutan dapat melakukan program layanan kesehatan terutama kepada ibu hamil, balita dan masyarakat setempat,” Kepala Dinas Kesehatan Biak, dr Imran Ohoirella [TVOne, 24 Mei 2012] Guna meningkatkan kualitas penanganan terpadu pasien dalam kondisi gawat darurat, Kementerian Kesehatan telah bekerjasama dengan berbagai pihak sejak tahun 2000. Kerjasama terus ditingkatkan baik dalam jumlah dan mutu pelayanan kegawatdaruratan medis. Pada tanggal 8 Agustus 2012 Kementerian Kesehatan bersama dengan PT Telkom Indonesia menandatangani Nota Kesepahaman tentang Kerjasama Terkait Pengembangan Layanan E-Health. Dalam kesepakatan tersebut, dirumuskan tentang penyiapan aplikasi 24 | mediakom 41 | april | 2013 dan infrastruktur proyek percontohan Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) untuk wilayah DKI Jakarta (Call Center 119). Aplikasi SPGDT ini menggunakan Call Center 119 atau nomor panggilan darurat untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam melakukan panggilan kegawatdaruratan ke fasilitas pelayanan kesehatan (Puskesmas/ rumah sakit). Penggunaan angka 119 telah mendapat penetapan dari Menteri Komunikasi dan Informatika sebagai “Kode Akses Panggilan Darurat”. Beberapa daerah yang sudah mengembangkan program SPGDT call center yakni Bandung, Bali, Padang, Manado, dan Yogyakarta. Untuk mendukung program SPGDT, telah disiapkan program peningkatan kemampuan teknis keperawatan gawat darurat basic 2 dengan jumlah keseluruhan 893 perawat di 9 regional.*(Pra)
  27. 27. Utamakan Kesehatan Ibu, Bayi dan Balita I bu, bayi dan balita, merupakan kelompok rentan yang harus dilindungi dari berbagai penyakit. Melalui konsep continuum of care atau pelayanan berkesinambungan, yakni pelayanan kesehatan masa kehamilan, melahirkan dan setelah melahirkan (nifas). Kemkes, berkomitmen kuat untuk meningkatkan pelayanan kesehatan tersebut. Hal itu diungkap Menkes dr. Nafsiah Mboi, pada pembukaan Hari Kesehatan Nasional ke 48, tahun 2012 di Jakarta. Peningkatan kesehatan ibu hamil, diwujudkan dengan pelayanan kesehatan ibu hamil (antenatal care) sekurang-kurangnya empat kali selama masa kehamilan. Pemeriksaan antenatal berguna dalam menjamin kesehatan ibu hamil dan atau janin. Pencapaian dari upaya ini dapat dilihat dari kunjungan pertama (K1), yang berarti tingkat cakupan ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal untuk pertama kalinya. Kemudian kunjungan keempat (K4) yaitu cakupan ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar, paling sedikit empat kali sesuai jadwal yang dianjurkan. Pada tahun 2011 cakupan K1 telah mencapai 96,57%, hal ini menunjukkan membaiknya akses masyarakat pada pelayanan kesehatan ibu hamil yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Pencapaian cakupan K4 tercatat 88,27%, (target 88%). Sampai bulan September 2012, cakupan K4 telah mencapai 70,09% dan akhir tahun 2012, target cakupan sebesar 90% diperkirakan terpenuhi. Upaya peningkatan cakupan pelayanan sebelum melahirkan, juga mediakom 41 | april | 2013 | 25
  28. 28. m e d i a u t a m a dilakukan melalui kegiatan Kelas Ibu Hamil di desa-desa. Tujuannya, untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap dan perilaku ibu agar memahami cara menjaga kehamilan, persiapan persalinan, perawatan nifas, dan perawatan bayi baru lahir. Kelas ibu hamil, maksimal pesertanya 10 orang, difasilitasi dan dibina oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Tahun 2011 sudah terbentuk 2.508 kelas. Sedangkan pada tahun 2012, jumlah kelas ibu hamil bertambah menjadi 5.115 kelas. Untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), telah dilaksanakan program Kemitraan Bidan dan Dukun bayi. Program ini dimulai tahun 2009 dan sampai tahun 2012 tercatat sebanyak 72.963 dukun bermitra dengan bidan. Melalui kemitraan ini dukun tidak lagi menjadi penolong persalinan tetapi beralih peran menyediakan bantuan yang tidak bersifat medis bagi ibu hamil selama masa kehamilan dan pasca melahirkan. Bagi ibu hamil yang tinggal di daerah geografis sulit atau jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan, menjelang hari taksiran persalinan diupayakan sudah berada di “Rumah Tunggu” yang berlokasi dekat dengan fasilitas kesehatan. Rumah Tunggu dapat berupa fasilitas khusus yang disiapkan, maupun rumah sanak saudara yang dekat dengan fasilitas kesehatan. Hingga tahun 2012, tercatat sebanyak 2.748 Rumah Tunggu yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Untuk mendukung pelayanan kesehatan ibu, anak dan balita, pemerintah meluncuran dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) sejak tahun 2010. Program ini memberi dukungan dana kepada Puskesmas, Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan 26 | mediakom 41 | april | 2013 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Sehingga setiap unit kesehatan tersebut dapat mengintensifkan pelayanan kesehatan bagi ibu bersalin dan nifas, termasuk dalam melakukan kunjungan rumah bagi yang tidak datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Selain BOK juga diluncurkan program Jaminan Persalinan (Jampersal) tahun 2011. Program ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi baru lahir. Jampersal dimaksudkan untuk menghilangkan kendala keuangan bagi ibu hamil dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang mencakup pemeriksaan kehamilan, persalinan, pelayanan nifas, pelayanan bayi baru lahir, dan pelayanan Keluarga Berencana pasca melahirkan. Pendanaan Jampersal bersumber dari APBN dan pengelolaannya terintegrasi dengan kegiatan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Pada tahun 2011, sebanyak 1.572.751 ibu bersalin telah memanfaatkan pelayanan program Jampersal di tingkat pelayanan dasar. Oktober tahun 2012, meningkat menjadi 1.902.319 ibu yang memanfaatkan program Jampersal. Pencegahan dan Penanganan Komplikasi Upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia juga dilakukan melalui Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Program ini menitikberatkan pada upaya deteksi dini seperti melakukan screening/ penapisan ibu hamil, penyediaan akses serta pelayanan gawat darurat untuk kasus kebidanan (maternal) dan bayi baru lahir (neonatal) di tingkat Puskesmas yang mampu melaksanakan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED). Jumlah Puskesmas mampu PONED mengalami peningkatan tahun 2011 sebanyak 1.579 puskesmas, tahun 2012 meningkat menjadi 2.570 puskesmas. Sampai dengan tahun 2011, tercatat 61.784 desa telah melaksanakan P4K. Sebagai bentuk evaluasi atau pembelajaran untuk kasus kematian ibu dan bayi baru lahir, telah dilakukan juga Audit Maternal Perinatal (AMP) sebagai upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Upaya pencegahan dan penanganan komplikasi maternal diukur melalui indikator cakupan penanganan komplikasi maternal (cakupan PK). Pencapaian cakupan PK dari tahun 2008 sampai 2011 memperlihatkan kecenderungan peningkatan, walau sempat menurun pada tahun 2009. Cakupan PK tahun 2008 mencapai 44,84%, tahun 2009 turun menjadi 42,29%, pada tahun 2010 mencapai 58,82%, dan pada tahun 2011 mencapai 59,68%. Khusus pelayanan menyeluruh yang sering disebut Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK), diselenggarakan di Rumah Sakit PONEK 24 jam. Rumah sakit ini menyelenggarakan pelayanan kedaruratan ibu dan anak secara komprehensif dan terintegrasi. Rumah sakit mampu PONEK terus mengalami peningkatan, sejak tahun 2009 hingga tahun 2012, tercatat sebanyak 410 unit RS PONEK. Generasi Masa Depan yang Sehat Arah kebijakan operasional upaya kesehatan anak meliputi peningkatan kelangsungan hidup (bayi baru lahir, bayi dan anak balita), peningkatan kualitas hidup anak dan peningkatan perlindungan kesehatan anak. Upaya tersebut juga termasuk perlindungan
  29. 29. dari kekerasan terhadap anak, kesehatan anak di panti atau lembaga pemasyarakatan dan pelayanan kesehatan untuk anak berkebutuhan khusus. Upaya peningkatan kesehatan anak menggunakan pendekatan continuum of care throughout the lifecycle yaitu semua anak sejak janin hingga remaja mempunyai akses mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar pada setiap fase kehidupannya. Selain itu juga harus menggunakan pendekatan continuum of care throughout the level of cares yaitu semua anak sejak janin hingga remaja mempunyai jaminan mendapatkan penanganan sesuai standar atas masalah kesehatan yang dialaminya. Termasuk ketersediaan dan kemudahan akses mendapatkan pelayanan kesehatan sejak di rumah, pelayanan kesehatan dasar hingga ke tingkat rujukan, sehingga anak tidak terlambat mendapatkan pelayanan. Kementerian Kesehatan juga telah berhasil mendorong terbentuknya Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Kesehatan Ibu – Anak dan Gizi (KIA – Gizi) yang resmi berdiri pada September 2012. Perguruan Tinggi dapat memberikan kontribusi dalam formulasi kebijakan melalui berbagai riset, ikut aktif dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi terhadap program kesehatan. Perguruan tinggi yang telah menandatangani kesepakatan bersama Kemkes melalui Ditjen Bina Gizi dan KIA dalam upaya percepatan pencapaian MDG 1, 4 dan 5 terdiri dari 32 Fakultas dari 23 perguruan tinggi dari 21 provinsi Peningkatan Kelangsungan Hidup Anak Salah satu upaya menurunkan kematian bayi baru lahir adalah dengan melakukan pemeriksaan minimal tiga kali kepada setiap bayi baru lahir. Pemeriksaan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan. Pemeriksaan pertama dilakukan pada saat bayi berumur 6 sampai 48 jam atau dikenal dengan sebutan Kunjungan Neonatal Pertama (KN1). Selama 2010 – 2011 cakupan pelayanan bayi baru lahir cenderung meningkat. Tahun 2010 capaian KN1 mencapai 84,01% dari target 84%, sedangkan tahun 2011 mencapai 90,51% melampaui target 86%. Pada bulan Oktober tahun 2012 cakupan kunjungan KN1 telah mencapai 64,53%. Sedangkan target yang harus dicapai adalah 88%. Selanjutnya, untuk meningkatkan kelangsungan hidup bayi umur 29 hari sampai 11 bulan dilakukan imunisasi dasar untuk mencegah penyakit tuberculosis, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, polio dan campak. Untuk mendeteksi ada tidaknya kelainan tumbuh kembang pada bayi dilakukan kegiatan Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), pemberian vitamin A pada bayi, penyuluhan perawatan kesehatan bayi serta penyuluhan ASI Eksklusif, MPASI dan rujukan jika ada gejala sakit dengan menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit. Tahun 2010 cakupan pelayanan kesehatan bayi mencapai 84.04% dan pada tahun 2011 mencapai 85.21%. Sedangkan capaian pada bulan Oktober di tahun 2012 mencapai 69.98%. Bagi anak balita umur 12 – 29 bulan diberikan pemeriksaan dan stimulasi tumbuh kembang pada anak serta pemberian vitamin A. SDIDTK dilakukan untuk melakukan deteksi dini pada keterlambatan perkembangan, gangguan daya ingat dan daya dengar. Kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan posyandu dan Pembinaan Anak Usia Dini (PAUD). Selain itu, ada konseling keluarga pada kelas ibu balita melalui pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Termasuk didalamnya adalah konseling perawatan anak balita, pemberian ASI sampai 2 tahun, serta informasi makanan gizi seimbang. Secara nasional, target cakupan pelayanan kesehatan anak balita telah tercapai pada tahun 2010 dan 2011. Cakupan pelayanan pada tahun 2010 mencapai 78.01% dan tahun 2011 mencapai 80.96% dari target. Sedangkan pada bulan Oktober tahun 2012, capaian pelayanan kesehatan anak balita mencapai 58.69% atau mencakup 9.022.176 anak balita. Peningkatan pemanfaatan buku KIA juga merupakan salah satu upaya dalam peningkatan pelayanan kesehatan bayi dan balita melalui pemberdayaan masyarakat dan keluarga. Berdasarkan Riskesdas 2010 telah 25.5% balita memiliki buku KIA. Angka ini meningkat bila dibandingkan hasil Riskesdas 2007 yaitu 13%. Terobosan untuk wilayah yang belum memiliki jumlah tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang memadai, masyarakat dilibatkan dalam Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat (MTBS-M). Caranya dengan ikut mempromosikan deteksi dini penyakit berat pada balita dan memberikan pertolongan atau pengobatan sederhana di rumah untuk penyakit ringan. Kegiatan ini baru diujicobakan di tahun 2012 di beberapa kabupaten di Papua dan akan diperluas ke provinsi-provinsi lain pada tahun 2013.*(pra) mediakom 41 | april | 2013 | 27
  30. 30. m e d i a u t a m a kabar.priangan.com Terutama masalah pada kelompok umur remaja sangat terkait dengan perilaku yang berisiko terhadap kesehatannya. Peningkatan Kualitas Hidup Anak M uda merokok, seperti menjadi trend gaya hidup anak dan remaja. Mereka sudah mulai merokok sejak umur 10-14 tahun, sebesar 10,3% tahun 2007, kemudian meningkat menjadi 17,5 % pada tahun 2010. Sedang kelompok umur 15–19 tahun, terjadi peningkatan jumlah perokok dari 33,1% menjadi 43,3% (Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010). Melihat besarnya masalah kesehatan anak dan remaja tersebut, perlu dilakukan intervensi peningkatan kualitas hidup anak usia sekolah dan remaja dilaksanakan melalui kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) dan pelayanan kesehatan kepada 28 | mediakom 41 | april | 2013 korban Kekerasan Terhadap Anak (KtA). Usaha ini dilaksanakan secara komprehensif dan terintegrasi dengan semua unsur multi-sektoral, baik sektor kesehatan, pendidikan, swasta maupun masyarakat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja tentang kesehatan reproduksi dan perilaku hidup sehat serta memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada remaja. Agar pelayanan kepada remaja lebih efektif, maka remaja dilibatkan untuk menjadi konselor sebaya. Pelayanan Kesehatan Korban Kekerasan Terhadap Anak Pembinaan kesehatan anak yang komprehensif dan terarah itu, diantaranya masalah kesehatan yang mengancam kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak maupun masalah lainnya yang berdampak pada kesehatan dan penurunan kualitas hidup anak. Permasalahan tersebut seperti masalah Kekerasan Terhadap Anak (KtA), termasuk anak yang berada di Lembaga Pemasyarakatan karena menghadapi proses pelanggaran hukum. Sejak tahun 2010, cakupan pelayanan pada anak korban kekerasan telah mencapai 41,41%, dan meningkat menjadi 54,12% pada tahun 2012yang meliputi 999 Puskesmas di 269 kabupaten/kota. Sampai bulan Oktober tahun 2012 capaian sudah mencapai angka 67,40% dari target 60%. Berarti, jumlah Puskesmas yang mampu menyelenggarakan pelayanan kesehatan KtA pada tahun 2012 sudah mencapai 1.383 Puskesmas. Pelayanan kesehatan pada korban KtA mencakup pelayanan kesehatan, dan rujukan baik rujukan psikososial maupun rujukan hukum. Selain itu, sebagai upaya pencegahan kasus KtA, Puskesmas mampu tatalaksana kasus KtA juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat terkait dampak KtA pada tumbuh kembang anak dan anak didik di sekolah. *(pra)
  31. 31. ragam mutu perencanaan: rasa cabe naga jokia? Nagiot Cansalony Tambunan Alumni Magister Perencanaan & Kebijakan Publik FEUI Kabid Program, Kerjasama dan Informasi di Balai Besar Litbang Tanaman Obat & Obat Tradisional Tawangmangu, Badan Litbangkes, Kemenkes A da semangat bahwa hari ini ya hari ini, esok urusan nanti. Ada juga, berperilakulah layaknya pikiran dan strategi Sang Pecatur, 10 langkah atau lebih jauh ke depan. Juga, keberhasilan dipengaruhi oleh perencanaan dan proses yang bermutu dan selaras. Banyak semangat-semangat berwawasan stratejik yang sudah muncul dan menjadi acuan dari perilaku institusi dalam berkreasi dan berinovasi. Perlu diingat, titik awalnya adalah PERENCANAAN. Seperti kita ketahui dan aplikasikan, utamanya perencana-perencana di setiap unit kerja, rencana kerja setiap organisasi bermula dari hasil penilaian kinerja tahun sebelumnya dan rencana terobosan yang dibutuhkan, kemudian dilakukan analisis prioritas. Analisis yang substansial kegiatan tersebut diterjemahkan dalam kerangka acuan dan rincian anggaran dan biaya (RAB), yang merupakan ikhtisar dari rencana kegiatan/kerja, memiliki informasi what (apa materi), where (dimana dilaksanakan), when (kapan dilaksanakan), why (kenapa dilaksanakan), who (siapa pelaksana), whom (siapa penerima manfaat), how (bagaimana dilaksanakan) dan how much (berapa biaya yang dibutuhkan). Aspek perencanaan mikro dan sederhana ya! Sinkronisasi Perencanaan Kegiatan dan Anggaran Kenapa butuh sinkronisasi terhadap kegiatan yang direncanakan dan biaya yang dibutuhkan? Jawaban bisa banyak namun satu pemahaman/ arti bahwa agar rencana kegiatan dapat diimplementasikan sampai menghasilkan produk/kinerja terukur dan bermanfaat. Perlu diingat, proses yang dilalui dalam mekanisme perencanaan sarat dengan telaahan dan pembahasan RAB -di samping kerangka acuan dan data dukung rencana kegiatan- yang merupakan “jeroan” dari kegiatan, memberikan dan memroses jalannya kegiatan dengan sumber daya-sumber daya. Lagipula, kita sudah tahu bahwa aspek perencanaan memiliki bobot tertinggi dalam penilaian kinerja dan pengawasan/audit kinerja. Aspek sederhana yang bombastis, sisi hulu perencanaan yang memiliki rasa cabai terpedas di dunia (Cabai Naga Jokia dari India). Tanaman yang kecil dan memiliki efek konsumsi yang luar biasa pedassssss. Begitulah analogi perencanaan, aspek sederhana dan cenderung diakselerasi namun memiliki pengaruh terhadap keberlanjutan proses kegiatan dan penilaian kinerja. Sangat mudah memahami suatu rencana kegiatan, apakah memiliki nilai logis dan bermanfaat, melalui telaahan dan pembahasan RAB. Namun sayang, proses ini lebih dominan dilaksanakan di lingkup Direktorat Jenderal Anggaran Kemenkeu (DJA) untuk lingkup APBN. Apakah sudah optimal diselenggarakan di masing-masing organisasi, dan bagaimana proses yang dilakukan, apakah ada perbaikan bila ditemukan ketidakselarasan antara rencana kegiatan dan kebutuhan biaya? Hal yang mudah, karena sudah menjadi kewajiban dan juga setiap orang sudah memiliki rasa dan pengetahuan tentang hitung-hitungan yang lojik. Contoh sederhana mengenai keselarasan rencana kegiatan dan kebutuhan biaya adalah misalnya mediakom 41 | april | 2013 | 29
  32. 32. ragam tahapan yang harus dilalui untuk menghasilkan suatu dokumen berupa pedoman. Secara konvensional, perlu pertemuan-pertemuan untuk tahap persiapan, pembahasan, finalisasi, dan sosialisasi, yang membutuhkan lebih dari 1 satu kali untuk setiap tahapan. Daya kreasi dan inovasi yang berkembang, sudah mampu mereduksi tahapantahapan konvensional secara efisien melalui peningkatan mutu proses. Pertemuan persiapan dapat dilakukan hanya dalam lingkup rapat internal di kantor, pertemuan pembahasan diperpanjang hari dengan dasar efisiensi biaya bahkan bisa sekaligus finalisasi. Contoh lain, mereduksi biaya-biaya tinggi dan/atau tidak produktif dalam hal belanja bahan dan operasional kesekretariatan kegiatan (yang sebenarnya sudah ada pos alokasi juga di pos alokasi keperluan perkantoran rutin). Optimalisasi Unit Kerja P2ME Disinilah manfaat adanya unit kerja yang bertugas dan berfungsi dalam perencanaan program/kegiatan, penganggaran, monitoring dan evaluasi (P2ME). Kita tahu bahwa secara organisasi dan manajemen ada 2 jenis unit kerja dalam organisasi, yaitu 1) unit kerja yang memberikan layanan kepada eksternal organisasi dan 2) unit kerja yang memberikan layanan kepada internal organisasi. Unit kerja pertama biasa disebut dengan unit kerja teknis (unit kerja yang melaksanakan tugas utama dari organisasi, unit kerjanya adalah direktorat dan sub direktorat, pusat dan bidang) dan unit kerja kedua biasa disebut unit kerja generik (unit kerja yang melaksanakan tugas pendukung dan pendamping untuk pelaksanaan tugas utama dari organisasi, unit kerjanya 30 | mediakom 41 | april | 2013 adalah sekretariat dan bagian). Nah, perlu ada keselarasan aplikasi fungsi dari masing unit kerja. Unit kerja pertama merancang kegiatan-kegiatan teknis dan bersama unit kerja kedua melakukan telaahan dan pembahasan RAB. Sangat sederhana, sudah ada acuan telaahan dan pembahasan, ada Standar Biaya Masukan/Keluaran, ada aturan perjalanan dinas, ada aturan pengadaan barang dan jasa pemerintah, dll. Secara paripurna dan integral, proses ini memberikan pembelajaran aspek teknis dan aspek generik. Kedua unit kerja sebagai bagian dari tim besar (organisasi), tidak bisa lagi berargumen bahwa itu (aspek lain) bukan tanggung jawabnya, padahal ianya adalah bagian dari tim. Hal ini penting, karena setiap unit kerja, di luar tugas dan fungsi yang sudah diamanahkan secara tertulis, mempunyai esensi tanggung jawab P2ME, baik aspek teknis dan generik. Manfaat RAB Menurut penulis, keberhasilan menyusun RAB dan kerangka acuan merupakan tampilan dari kualitas perencana dan tim perencana, baik unit teknis maupun unit generik. Dalam hal ini, RAB dan kerangka acuan adalah dokumen yang sesuai kriteria mutunya, yaitu ada informasi 6 W + 2 H, kalau kriteria RAB adalah tampilan dari angka-angka biaya yang memiliki arti sama dengan arti narasi kalimat dalam kerangka acuan. Contoh keselarasan kriteria adalah cara pencapaian tujuan dalam kerangka acuan diterjemahkan dalam tahapan proses yang dibiayai dalam RAB sesuai aturan. RAB juga dapat menjadi kendali mutu dari implementasi kegiatan, baik biaya maupun proses. Dapat dicegah keinginan-keinginan berbiaya tinggi sehingga menjadi kebutuhan riil dan dapat dilaksanakan. Begitu sederhana namun masih dimarjinalkan dalam kendali mutu perencanaan. Bisa dilihat dari frekuensi revisi DIPA/ RKA/POK, tanda “bintang” dalam hasil pembahasan dengan DJA, kurangnya data dukung RAB dan kerangka acuan, atau bahkan temuan dari hasil audit. Begitu sederhana, sehingga tidak ada toleransi dan alasan untuk diabaikan. Memasuki tahun anggaran 2013, dengan pengalaman-pengalaman mekanisme perencanaan program/kegiatan dan penganggaran di badan legislatif dan eksekutif akhir-akhir ini, harapannya adalah semakin terbuka kesadaran untuk melakukan hal yang benar daripada sekedar melakukan hal-hal dengan benar. Kembali pada alinea pertama, perencanaan saat ini memberi arti dari kinerja yang dihasilkan dan dinilai. Mari berperilaku stratejik dan benar. Tabik dan Tahniah. Salam SEHAT.*
  33. 33. M enteri Kesehatan RI, yang diwakili oleh Wakil Menteri Kesehatan Menteri, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, Ph.D meluncurkan e-Regalkes dan Single Sign On (SSO) di Kantor Kemenkes, pada penghujung 2012 di Jakarta. Fitur SSO diluncurkan dalam rangka pengembangan Indonesia National Single Window (INSW) sebagai solusi untuk mempermudah Pengguna menggunakan sistem INSW dan sistem e-Regalkes secara terintegrasi. Pengguna hanya perlu Login satu kali saja maka selanjutnya dapat mengakses semua sistem. Kementerian Kesehatan meluncurkan sistem e-Regalkes atau Registrasi Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) secara online untuk meningkatkan pelayanan publik khususnya pada pelayanan perizinan di bidang alat kesehatan dan PKRT. Dengan sistem ini pemohon perizinan mediakom 41 | april | 2013 | 31
  34. 34. ragam tidak perlu datang di loket Unit Layanan Terpadu (ULT) Kemenkes RI yang ada di Jakarta, karena semua dokumen perizinan dapat disampaikan secara elektronik. Sistem ini sangat efektif dan efisien bagi pemohon perizinan mengingat wilayah NKRI yang demikian luasnya. Layanan publik yang dilayani dalam bidang alat kesehatan dan PKRT antara lain izin penyalur alat kesehatan, izin produksi alat kesehatan dan PKRT, izin edar alat kesehatan dan PKRT, dan pemberian Certificate of Free Sales (CFS). Diharapkan dengan kemudahan dalam mendapatkan ijin edar maka dapat mencegah dan mengurangi masuknya alat kesehatan illegal (tidak terdaftar) ke wilayah Indonesia. Salah satu upaya untuk mencegah masuknya alat kesehatan dan PKRT ilegal ke Indonesia, sejak tahun 2008 Kemenkes bergabung dengan INSW melalui Kepmenkes RI No. 825/Menkes/ SK/IX/2008 Tentang Pemberlakukan Sistem Elektronik dalam Kerangka INSW di lingkungan Kementerian Kesehatan. Melalui INSW, semua izin edar alat kesehatan dan PKRT yang dikeluarkan Kemenkes terhubung dengan portal INSW. Dengan demikian izin edar alat kesehatan dan PKRT yang dikategorikan Larangan Terbatas (Lartas), harus memerlukan izin dari Kementerian Kesehatan. Mekanisme Lartas akan mencegah masuknya Alkes impor yang di bawah standar, seperti teknologi yang membahayakan manusia maupun lingkungan serta bermutu rendah karena ketidakjelasan produsen, dan lain-lain. Dengan demikian Kementerian Kesehatan mampu melindungi rakyat sepenuhnya. Menkes juga menyampaikan, salah 32 | mediakom 41 | april | 2013 satu tugas dan fungsi Kementerian Kesehatan adalah  menjamin alat kesehatan yang beredar di masyarakat sesuai standar keamanan, mutu, manfaat, tepat guna dan terjangkau melalui pengendalian pre-market dan post-market. Alat kesehatan selain mempunyai fungsi sosial untuk menyembuhkan, mendiagnosis dan mengatasi penyakit serta mempertahankan/ meningkatkan kesehatan, selain itu juga mempunyai fungsi ekonomi. Pengembangan e-Regalkes dan fitur SSO dalam INSW merupakan sumbangsih Kementerian Kesehatan bagi bangsa dan negara serta dunia. Hal ini merupakan kerjasama lintas sektor dari 18 Kementerian/Lembaga. Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 mengamanatkan, alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga yang beredar di Indonesia harus memiliki izin edar. Pemberian izin diselenggarakan melalui mekanisme pelayanan publik yang baik. Pelayanan publik yang efektif dan efisien serta transparan merupakan tuntutan yang tidak dapat ditawar lagi. Alat kesehatan selain mempunyai fungsi sosial untuk menyembuhkan, mendiagnosis dan mengatasi penyakit serta mempertahankan/meningkatkan kesehatan, selain itu juga mempunyai fungsi ekonomi. Saat ini alat kesehatan dan perbekalan rumah tangga merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan terutama di negara ASEAN, khususnya Indonesia. Diperkirakan kebutuhannya akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya tingkat pengetahuan dan daya beli rakyat Indonesia. Dalam pelayanan kesehatan alat kesehatan adalah salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari obat dan tenaga kesehatan. Dengan diterapkannya Universal Coverage maka diperkirakan kebutuhan alat kesehatan akan meningkat signifikan 2,5 (dua setengah) sampai 3 (tiga) kali lipat. Oleh karena itu ketersedian alat kesehatan yang memenuhi standar keamanan, mutu dan manfaat harus tetap terjaga. Berdasarkan Survei Integritas Sektor Publik tahun 2012 oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pelayanan Registrasi dan Sertifikasi Alat Kesehatan dan PKRT berada pada urutan ke 5 dari 20 instansi Pusat dan Nomor 8 dalam skala Nasional dengan nilai integritas di atas 7.* (YN)
  35. 35. peristiwa Rapat Kerja Kesehatan Nasional S etiap tahun Kementerian Kesehatan Nasional menyelenggarakan Rapat Kerja Kesehatan Nasional yang diikuti oleh dinas kesehatan dinas kesehatan dari seluruh Propinsi di Indonesia, pada tahun ini Rakerkesnas 2013 dibagi menurut wilayah, yaitu wilayah Indonesia bagian barat, tengah dan timur. Penyelenggaran kegiatan dikonsentrasikan pada bulan April, wilayah barat diselenggarakan pada tanggal 18 - 20 Maret 2013 di Jakarta, wilayah tengah 1 - 3 April 2013 di Surabaya, dan wilayah timur pada tanggal 15-17 April 2013 di Makassar. Tahun ini Rakerkesnas menelurkan 5 rekomendasi penting sebagai acuan program Kemenkes saat ini dan ke depan. Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) Regional Barat telah selesai dilaksanakan, acara yang berlangsung di Jakarta pada tanggal 17–20 Maret 2013, ditutup dengan pembacaan rekomendasi oleh Sekretaris Jenderal Kemkes RI, dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS. Rekomendasi diperoleh berdasarkan arahan Menteri Kesehatan dan paparan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), hasil Sidang Komisi, dan Sidang Pleno Komisi serta diskusi. Rakerkesnas Regional Barat diikuti oleh 734 peserta yang terdiri dari: Kepala BPKP, Wakil DPR, Plt. Kepala mediakom 41 | APRIL | 2013 | 33
  36. 36. peristiwa BKKBN, Kepala Badan POM, Seluruh Pejabat Eselon I dan II Kemenkes, Kepala UPT Kementerian Kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Prov/Kab/ Kota dan Direktur RS Prov/Kab/kota serta Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi wilayah Barat, kepala BPKP Wilayah di 33 Provinsi, PT. Askes (Persero), dan stakeholder kesehatan terkait (IDI, PPNI, IBI, PERSI dll). Selanjutnya Rakerkesnas Regional Tengah akan dilaksanakan di Surabaya pada tanggal 1-3 April 2013, dan Rakerkesnas Regional Timur akan dilaksanakan di Makassar pada tanggal 14-17 April 2013. Sementara itu untuk wilayah tengah di selenggarakan pada 1-4 April 2013, dibuka oleh Menteri kesehatan RI. Kegiatan ini diikuti perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang berasal dari 10 Provinsi, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Dalam kesempatan ini, Menkes menyerahkan tiga penghargaan Provinsi di regional tengah yang berprestasi dalam pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs) melalui program Gizi atau Kesehatan Ibu-Anak. Dinas Kesehatan Provinsi DI Yogyakarta didaulat sebagai peraih penghargaan peringkat pertama untuk Program Kesehatan Ibu dan Anak Terbaik tahun 2012. Selanjutnya, untuk program Gizi Terbaik tahun 2012, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan dan Bali, berturut-turut mendapatkan peringkat ketiga dan pertama. Seperti telah diumumkan sebelumnya pada Malam PraRakerkesnas 2013 Regional Barat (18/3), peraih penghargaan Program Kesehatan Ibu dan Anak tahun 2012, yaitu: Dinas 34 | mediakom 41 | april | 2013 Peletakan batu pertama poskestren Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung – Bone Sul-Sel di sela Rakerkesnas 2013 Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (Terbaik I); Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara (Terbaik II); dan Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung (Terbaik III). Sementara itu, penghargaan Program Gizi Terbaik tahun 2012, diraih oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bali (Terbaik I); Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan (Terbaik II); dan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan (Terbaik III). Menkes juga melakukan ReLaunching Sistem e-Catalog Obat Generik untuk Pengadaan Pemerintah. Sistem e-Catalog Obat Generik adalah sistem informasi elektronik yang memuat informasi seputar daftar nama obat, jenis, spesifikasi teknis, harga satuan terkecil, dan pabrik penyedia. Harga yang tercantum dalam e-Catalog adalah harga satuan terkecil, sudah termasuk pajak dan biaya distribusi. Dengan adanya sistem e-Catalog Obat Generik, selain dapat meminimalisasi penyimpangan, juga dapat memudahkan pihak pemerintah untuk

×