Asuhan Keperawatan Lansia dengan Reumatoid Artritis         DAFTAR ISI        KATA PENGANTAR        DAFTAR ISI        BAB ...
BAB I      PENDAHULUAN1.1     Latar Belakang           Perubahan-perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan ...
2.1.1 Definisi                  Kata arthritis berasal dari dua kata Yunani. Pertama, arthron, yang berarti sendi. Kedua, ...
2.1.3 Patofisiologi            Pada rheumatoid arthritis, reaksi autoimun (yang dijelaskan sebelumnya) terutama terjadi   ...
2.1.4 Manifestasi Klinis         Pada lansia, AR dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok.    ü Kelompok 1 adalah RA klasi...
2.1.5 Komplikasi             Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptik yang       ...
Diagnosis artritis reumatoid dikatakan positif apabila sekurang-kurangnya empat dari tujuh       kriteria ini terpenuhi. E...
Gejala                Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stres pada sendi; kekakuan       pada pagi ...
7.           Nyeri/ kenyamanan         Gejala                  Fase akut dari nyeri ( mungkin tidak disertai oleh pembengk...
Mandiri1.    Kaji keluhan nyeri, kukalitas, lokasi,      Membantu menentukan kebutuhan     intensitas (skala 0-10), dan wa...
8.     Libatkan dalam aktivitas hiburan yang    Memfokuskan kembali          sesuai situasi individu                    pe...
Ditandai dengan§ Keengganan untuk mencoba bergerak atau ketidakmampuan untuk bergerak dalam lingkungan     fisik§ Membatas...
leher     7.      Dorong klien memeprtahankan postur      Memaksimalkan fungsi sendi,           tegak dan duduk tinggi, be...
§ Peningkatan penggunaan energy, ketidakseimbangan mobilitas  Ditandai dengan§ Respon verbal terhadap perubahan struktur a...
6.    Ikutkan klien dalam merencanakan        Meningkatkan perasaan kompetisi atau           perawatan dan membuat jadwal ...
Tindakan/intervensi                        Rasional           Mandiri     1.     Diskusikan tingkat fungsi umum (0-4)     ...
Ditandai dengan§ Pertanyaan atau permintaan informasi, pernyataan kesalahan konsep§ Tidak dapat mengikuti instruksi atau t...
sebelum tidur                              kadar darah serta mengurangi                                                 ke...
RA adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kroni yang tidak diketahui penyebabnya,       dikarakteristikkan oelh kerusaka...
Stanley, Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Alih Bahasa; Nety Juniarti, Sari Kurnianingsih.       Editor; Eny Meiliya...
IV.2. ANATOMI DAN FISIOLOGISistem muskuloskeletal adalah penunjang bentuk tubuh dan berperan dalam pergerakan. Sistemini t...
dan disokong oleh ligamen, sehingga hanya memungkinkan suatu gerakan yang terbatas. Adadua tipe sendi kartilaginosa.Sinkon...
ditemukan pada tulang rawan sendi sangat hidrofilik sehingga memungkinkan tulang rawantersebut menerima beban yang berat.T...
sensitif terhadap peregangan dan perputaran. Nyeri yang timbul dari kapsul sendi atau sinoviumcenderung difus dan tidak te...
.Selain serat-serat, proteoglikan adalah zat penting yang ditemukan dalam substansi dasar.Proteoglikan adalah molekul besa...
Osteoarthritis merupakan bentuk penyakit sendi yang paling sering ditemukan. Diperkirakan ⅓dari orang berusia >35 tahun, m...
arthritis inflamatorik).B.Keluhan dan GejalaGejala klinis osteoartritis bervariasi, bergantung pada sendi yang terkena, la...
- MekanikNyeri akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas lama dan akan berkurang pada waktuistirahat. Mungkin ada h...
C. Pemeriksaan Penunjang         LaboratoriumPemeriksaan laboratorium berguna untuk menyingkirkan penyakit sendi lain, kar...
bila perlu dengan pemeriksaan laboratorium tertentu. Diagnosis bandingnya terutama denganpenyakit sendi yang sering ditemu...
•           Koreksi semua faktor-faktor yang menimbulkan stress berlebihan pada rawan sendi.Tindakan ini bukan saja akan m...
diberikan pada orang dengan alergi NSAID, asma.IV.4. ARTHRITIS RHEUMATOIDMenurut definisi, artritis rheumatoid adalah peny...
di artikulasio interfalangeal proksimal, metakarpofalangeal), kemudian kaki (pada artikulasiometatarsofalangeal, interfala...
terhadap pemberian besi.Cairan sinovial normal bersifat jernih, berwarna kuning muda hitung sel darah putih kurang dari200...
merupakan faktor resiko untuk mendapatkan efek samping gastrointestinal akibat AINS. Bagipasien yang sensitif dapat diguna...
jaringan sekitar sendi (tofi). Gout juga merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompokgangguan metabolik yang ditandai o...
Tahap kedua adalah arthritis gout akut. Pada tahap ini terjadi pembengkakan mendadak dan nyeriyang luar biasa, biasanya pa...
Serangan akut dari artritis gout dapat terjadi pada tahap ini. Tofi terbentuk pada masa goutkronik akibat insolubilitas re...
D. PenatalaksanaanPenatalaksanaan terapi artritis gout sebaiknya mengikuti pedoman terapi sebagai berikut :•           Hen...
salah satunya adalah probenesid dengan dosis 500 mg tiap 12 jam dan dapat ditingkatkan hinggamencapai 3 gram/hari untuk ka...
Amiloidosis terdapat dalam berbagai macam bentuk yang berbeda secara klinis dan biokimiawi,yang dikelompokkan berdasarkan ...
4. Amiloidosis heredofamilial, jenis kelainan neuropati [tipe AF transtiretin (praalbumin)],ginjal, kardiovaskuler, dan ge...
Diagnosis spesifik amiloid bergantung kepada pengumpulan spesimen jaringan melalui biopsidan penemuan amilod melalui pewar...
prednisone / melphalan / kolkisin dapat memperpanjang harapan hidupIV.7. OSTEOPOROSISOsteoporosis adalah suatu keadaan ber...
Hilangnya tulang Terutama trabekuler Trabekuler dan kortikalDerajat hilang tulang Dengan percepatan Tanpa percepatanLeta f...
GnRH-agonist therapy, Tetrasiklin,Isoniazid meningkatkan insiden terjadinya osteoporosis.D. Pemeriksaan Penunjang•        ...
menyebabkan berkurangnya fungsi osteoblast.        Estrogen menghambat fungsi osteoklas, sehingga berkurangnya kadar estro...
Selain osteoartritis, gangguan lain pada muskuloskeletal yang juga sering dapat menimbulkandisabilitas yaitu artritis rheu...
http://www.ehp.niehs.nih.gov/docshttp://www.google.comASUHAN KEPERAWATAN PADA LANJUT USIA (LANSIA)17 April 2010 yha_prince...
4. Pencemaran pelayanan kesehatan    5. Kewajiban Pemerintahterhadap orang cacat dan jompo    6. perkembangan ilmu    7. P...
seperti pada lanjut usia aktif, dengan bantuan penuh oleh anggota keluarga atau petugas.Khususnya bagi yang lumpuh, perlu ...
Disamping itu kemunduran kondisi fisik akibat proses penuaan, dapat mempengaruhi ketahanantubuh terhadap gangguan atau ser...
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Askep lansia dg ra&terapi
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Askep lansia dg ra&terapi

9,108 views

Published on

kep kom2

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
9,108
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
135
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Askep lansia dg ra&terapi

  1. 1. Asuhan Keperawatan Lansia dengan Reumatoid Artritis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I IPENDAHULUAN......................................................................... 1 BAB 2 TINJAUAN TEORI....................................................................... 22.1 TINJAUAN TEORITIS MEDIS....................................... 22.1.1 Definisi................................................................................... 22.1.2 Etiologi................................................................................... 22.1.3 Patofisiologi............................................................................ 32.1.4 Manifestasi Klinis................................................................... 52.1.5 Komplikasi.............................................................................. 62.1.6 Kriteria Diagnostik................................................................. 62.1.7 Penatalaksanaan...................................................................... 72.2.... TINJAUAN TEORITIS KEPERAWATAN.................... 82.2.1 Pengkajian.............................................................................. 82.2.2 Diagnosa/Intervensi................................................................ 10 BAB 3 Kesimpulan dan Saran.................................................................... 19 3.1 Kesimpulan............................................................................... 19 3.2 Saran......................................................................................... 19 DAFTAR PUSTAKA
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Perubahan-perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua system musculoskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan reumatik. Salah satu golongan penyakit reumatik yang sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan gangguan musculoskeletal terutama adalah atritis rheumatoid. Kejadian penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia manusia. Reumatik dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Arthritis rheumatoid memang lebih sering dialami oleh lansia, untuk itu perlu perawatan dan perhatian khusus bagi lansia dengan arthritis rheumatoid terutama dalam keluarga. Asuhan keperawatan harus didasarkan pada kepercayaan bahwa pemeliharaan mobilitas merupakan hal yang kritis untuk kesehatan, kesejahteraan dan kualitas hidup. Perawat juga memainkan suatu peran penting dalam mengenali dan mengajarkan kepada orang lain tentang kerentanan lansia karena perpaduan antara faktor-faktor yang berhubungan dengan perubahan usia dan kemungkinan adanya faktor iatrogenic yang terjadi pada lansia yang dirawat di rumah sakit kerena gangguan mobilitas mereka. BAB II TINJAUAN TEORITIS2.1 TINJAUAN TEORITIS MEDIS
  3. 3. 2.1.1 Definisi Kata arthritis berasal dari dua kata Yunani. Pertama, arthron, yang berarti sendi. Kedua, itis yang berarti peradangan. Secara harfiah, arthritis berarti radang sendi. Sedangkan rheumatoid arthritis adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. Artritis rheumatoid merupakan penyakit inflamasi sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya, dikarakteristikkan oleh kerusakan dan proliferasi membrane synovial yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis, dan deformitas. AR adalah suatu penyakit kronis, seistemik, yang secara khas berkembang perlahan-lahan dan ditandai oleh adanya radang yang sering kambuh pada sendi-sendi diartrodial dan struktur yang berhubungan. AR sering disertai dengan nodul-nodul rheumatoid, arthritis, neuropati, skleritis, perikarditis, limfadenopati, dan splenomegali. AR ditandai oleh periode-periode remisi dan bertambah parahnya penyakit.2.1.2 Etiologi Penyebab penyakit rheumatoid arthritis belum diketahui secara pasti, namun faktor predisposisinya adalah mekanisme imunitas (antigen-antibodi), faktor metabolik, dan infeksi virus. Penyebab utama kelainan ini tidak diketahui. Ada beberapa teori yang dikemukakan mengenai penyebab artritis reumatoid, yaitu : 1. Infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus non-hemolitikus 2. Endokrin 3. Autoimun 4. Metabolik 5. Faktor genetik serta faktor pemicu lainnya. Pada saat ini, artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin disebabkan oleh karena virus dan organisme mikoplasma atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderita.
  4. 4. 2.1.3 Patofisiologi Pada rheumatoid arthritis, reaksi autoimun (yang dijelaskan sebelumnya) terutama terjadi dalam jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. Enzim- enzim tersebut akan memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan turut terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot (Smeltzer & Bare, 2002). Lamanya rheumatoid arthritis berbeda pada setiap orang ditandai dengan adanya masa serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada orang yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Namun pada sebagian kecil individu terjadi progresif yang cepat ditandai dengan kerusakan sendi yang terus menerus dan terjadi vaskulitis yang difus (Long, 1996).
  5. 5. 2.1.4 Manifestasi Klinis Pada lansia, AR dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok. ü Kelompok 1 adalah RA klasik. Sendi-sendi kecil pada kaki dan tangan sebagian besar terlibat. Terdapat faktor rheumatoid, dan nodula-nodula rheumatoid sering terjadi. Penyakit dalam kelompok ini dapat mendorong ke arah kerusakan sendi yang progresif. ü Kelompok 2 termasuk klien yang memenuhi kriteria dari American Rheumatologic Association untuk AR karena mereka mempunyai radang sinovitis yang terus-menerus dan simetris, sering melibatkan pergelangan tangan dan sendi-sendi jari. ü Kelompok 3, sinovitis terutama memengaruhi bagian proksimal sendi, bahu, dan penggul. Awitannya mendadak, sering ditandai dengan kekakuan pada pagi hari. Pergelangan tangan pasien sering mengalami hal ini, dengan adanya bengkak, nyeri tekan, penurunan kekuatan genggaman, dan sindrom carpal tunnel. Kelompok ini mewakili suatu penyakit yang dapat sembuh sendiri yang dapat dikendalikan secara baik dengan menggunakan prednisone dosis rendah atau agens antiinflamasi dan memiliki prognosis yang baik. Jika tidak diistirahatkan, AR akan berkembang menjadi empat tahap. 1. Terapat radang sendi dengan pembengkakan membrane synovial dan kelebihan produksi cairan synovial. Tidak ada perubahan yang bersifat merusak terlihat pada radiografi. Bukti osteoporosis mungkin ada. 2. Secara radiologis, keruakan tulang pipih atau tulang rawan dapat dilihat. Klien mungkin mengalami keterbatasan gerak tetapi tidak ada deformitas sendi. 3. Jaringan ikat fibrosa yang keras menggantikan pannus, sehingga mengurangi ruang gerak sendi. Ankilosis fibrosa mengakibatkan penurunan gerakan sendi, perubahan kesejajaran tubuh, dan deformitas. Secara radiologis terlihat adanya kerusakan kartilago dan tulang. 4. Ketika jaringan fibrosa mengalami kalsifikasi, ankilosis tulang dapat mengakibatkan terjadinya imobilisasi sendi secara total. Atrofi otot yang meluas dan luka pada jaringan lunak sepewrti nodula-nodula mungkin terjadi.
  6. 6. 2.1.5 Komplikasi Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komlikasi utama penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit ( disease modifying antirhematoid drugs, DMARD ) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid. Komplikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas , sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis.2.1.6 Kriteria Diagnostik Diagnosis arthritis reumatoid tidak bersandar pada satu karakteristik saja tetapi berdasar pada evaluasi dari sekelompok tanda dan gejala. Kriteria diagnostik adalah sebagai berikut: 1. Kekakuan pagi hari (sekurangnya 1 jam) 2. Arthritis pada tiga atau lebih sendi 3. Arthritis sendi-sendi jari-jari tangan 4. Arthritis yang simetris 5. Nodula reumatoid dan Faktor reumatoid dalam serum 6. Perubahan-perubahan radiologik (erosi atau dekalsifikasi tulang)
  7. 7. Diagnosis artritis reumatoid dikatakan positif apabila sekurang-kurangnya empat dari tujuh kriteria ini terpenuhi. Empat kriteria yang disebutkan terdahulu harus sudah berlangsung sekurang-kurangnya 6 minggu.2.1.7 Penatalaksanaan Penanganan medis bergantung pada tahap penyakit ketika diagnosis dibuat dan termasuk dalam kelompok mana yang sesuai dengan kondisi tersebut. Untuk menghilangkan nyeri dengan menggunakan agens antiinflamasi, obat yang dapat dipilih adalah aspirin. Namun, efek antiinflamasi dari aspirin tidak terlihat pada dosis kurang dari 12 tablet per hari, yang dapat menyebabkan gejala system gastrointestinal dan system saraf pusat. Obat anti-inflamasi non steroid sangat bermanfaat, tetapi dianjurkan untuk menggunakan dosis yang direkomendasikan oleh pabrik dan pemantauan efek samping secara hati-hati perlu dilakukan. Terapi kortikosteroid yang di injeksikan melalui sendi mungkin di gunakan untuk infeksi di dalam satu atau dua sendi. Injeksi secara cepat dihubungkan dengan nekrosis dan penurunan kekuatan tulang. Biasanya, injeksi yang diberikan ke dalam sendi apapun tidak boleh diulangi lebih dari tiga kali. Rasa nyeri dan pembengkakan umumnya hilang untuk waktu 1 sampai 6 minggu. Penatalaksanaan keperawatan menekankan pemahaman klien tentang sifat alami AR kronis dan kelompok serta tahap-tahap yang berbeda untuk memantau perkembangan penyakit. Klien harus ingat bahwa walaupun pengobatan mungkin mengurangi radang dan nyeri sendi,mereka harus pula mempertahankan pergerakan dan kekuatan untuk mencegah deformitas sendi. Suatu program aktivitas dan istirahat yang seimbang sangat penting untuk mencegah peningkatan tekanan pada sendi. 2.2 TINJAUAN TEORITIS KEPERAWATAN2.2.1 Pengkajian Data dasar pengkajian pasien tergantung padwa keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya ( misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal ), tahapan misalnya eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya. 1. Aktivitas/ istirahat
  8. 8. Gejala Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stres pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan. Tanda § Malaise Keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit, kontraktor/ kelaianan pada sendi.2. Kardiovaskuler Gejala Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat intermitten, sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).3. Integritas ego Gejala § Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis; finansial, pekerjaan, ketidakmampuan, § Faktor-faktor hubungan. Keputusan dan ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan ) § Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi ( misalnya ketergantungan pada orang lain).4. Makanan/ cairan Gejala § Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat: mual, anoreksia § Kesulitan untuk mengunyah Tanda Penurunan berat badan, Kekeringan pada membran mukosa.5. Hygiene Gejala Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi.6. Neurosensori Gejala Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan.
  9. 9. 7. Nyeri/ kenyamanan Gejala Fase akut dari nyeri ( mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan lunak pada sendi ). 8. Keamanan Gejala Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, Lesi kulit, ulkus kaki. Kesulitan dalam ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan menetap Kekeringan pada mata dan membran mukosa. 9. Interaksi sosial Gejala Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain; perubahan peran; isolasi.2.2.2 Diagnosa 1. Nyeri (akut ) Berhubungan dengan Agen pencedera : distensi jaringan oleh akumulasi cairan atau proses inflamasi destruksi sendi. Ditandai dengan § Keluhan nyeri atau ketidaknyamanan, kelelahan § Berfokus pada diri/penyempitan focus § Perilaku distraksi/respon autonomic § Perilaku berhati-hati atau melindungi Kriteria hasil/ kriteria evaluasi § Menunjukkan nyeri hilang/terkontrol § Terlihat rileks, dapat tidur atau beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan § Mengikuti program farmakologis yang diresepkan § Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam program control/nyeri Tindakan Keperawatan Tindakan/intervensi Rasional
  10. 10. Mandiri1. Kaji keluhan nyeri, kukalitas, lokasi, Membantu menentukan kebutuhan intensitas (skala 0-10), dan waktu. Catat manajemen nyeri dan keefektifan faktor yang mempercepat dan tanda rasa program sakit nonverbal2. Berikan matras/kasur lembut dan bantal Matras lembut dan bantal kecil kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai mencegah pemeliharaan kesejajaran kebutuhan tubuh yang tepat, mengistirahatkan sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan sendi yang terinflamasi/nyeri3. Berikan posisi nyaman waktu Penyakit berat/eksaserbasi, tirah tidur/duduk di kursi. Tingkatkan istirahat baring diperlukan untuk membatasi di tempat tidur sesuai indikasi nyeri atau cedera sendi4. Pantau penggunaan bantal, karung Mengistirahatkan sendi yang sakit dan pasir, bebat, dan brace mempertahankan posisi netral. Catatan : penggunaan brace menurunkan nyeri, dan mengurangi kerusakan sendi.5. Anjurkan mandi air hangat/pancuran Panas meningkatkan relaksasi otot dan pada waktu bangun. Sediakan waslap mobilitas, menurunkan rasa sakit dan hangat untuk mengompres sendi yang kekakuan di pagi hari. Sensitivitas sakit beberapa kali. pada panas dapat hilang dan luka dermal. Dapat sembuh6. Berikan massase yang lembut Meningkatkan relaksasi atau mengurangi ketegangan otot.7. Gunakan teknik manajemen stress, Meningkatkan relaksasi, memberikan missal, relaksasi progresif dan distraksi, rasa control, dan meningkatkan sentuhan terapeutik, biofeedback, kemampuan koping. visualisasi, pedoman imajinasi, hipnotis diri dan pengendalian napas.
  11. 11. 8. Libatkan dalam aktivitas hiburan yang Memfokuskan kembali sesuai situasi individu perhatian,memberikan stimulasi, meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat. Kolaborasi 9. Berikan obat sesuai petunjuk - Asetilsalisilat (Aspirin) ASA bekerja antiinflamasi dan efek analgesic ringan mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas. - NSAID lainnya ; ibuprofen, Digunakan bila tidak ada efek naproksen, piroksikam, fenoprefen terhadap aspirin - D-penisilamin ( cuprimine ) Mengontrol efek sistemik rematoid arthritis jika terapi lainnya tidak - Antasida berhasil Diberikan dengan agen NSAID untuk meminimalkan iritasi atau - Produk kodein ketidaknyaman lambung. Narkotik umumnya kontraindikasi karena sifat kronis dari kondisi. 10. Bantu dengan terapi fisik, missal sarung Member dukungan panas untuk sendi tangan parafin yang sakit 11. Siapkan intervensi operasi Penangkatan sinovium yang meradang ( sinovektomi ) mengurangi nyeri dan membatasi progresif perubahan degenerative.2. Kerusakan mobilitas fisik Berhubungan dengan § Deformitas skeletal § Nyeri, ketidaknyamanan § Intoleransi terhadap aktivitas, penurunan kekuatan otot.
  12. 12. Ditandai dengan§ Keengganan untuk mencoba bergerak atau ketidakmampuan untuk bergerak dalam lingkungan fisik§ Membatasi rentang gerak, ketidakseimbangan koordinasi, penurunan kekuatan otot/kontroldan massa (tahap lanjut). Kriteria hasil/kriteria evaluasi§ Mempertahankan fungsi posisi dengan pembatasan kontraktur§ Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/atau kompensasi bagian tubuh§ Mendemonstrasikan teknik/perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas. Tindakan Keperawatan Tindakan/intervensi Rasional Mandiri 1. Evaluasi pemantauan tingkat Tingkat aktivitas atau latihan inflamasi/rasa sakit pada sendi tergantung dari perkembangan proses inflamasi2. Pertahankan tirah baring.duduk. jadwal Istirahat sistemik dianjurkan selama aktivitas untuk memberikan periode eksaserbasi akut dan seluruh fase istirahat terus-menerus dan tidur malam penyakit untuk mencegah kelelahan, hari mempertahankan kekuatan.3. Bantu rentang gerak aktif/pasif, latihan Meningkatkan fungsi sendi, kekuatan resistif dan isometrik otot dan stamina4. Ubah posisi dengan sering Menghilangkan tekanan jaringan dan meningkatkan sirkulasi5. Posisikan dengan bantal, kantung pasir, Meningkatkan stabilitas jaringan bebat, dan brace (mengurangi risiko cedera), mempertahankan posisi sendi yang diperlukan dan kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktur.6. Gunakan bantal kecil/tipis di bawah Mencegah fleksi leher
  13. 13. leher 7. Dorong klien memeprtahankan postur Memaksimalkan fungsi sendi, tegak dan duduk tinggi, berdiri, serta mempertahankan mobilitas berjalan 8. Berikan lingkungan aman, misal Menghindari cedera akibat menaikkan kursi, menggunakan kecelakaan/jatuh pegangan tangga pada bak/pancuran dan toilet, penggunaan alat bantu mobilitas atau kursi roda Kolaborasi 9. Konsul dengan ahli terapi fisik atau Memformulasikan program latihan okupasi dan spesialis vokasional berdasarkan kebutuhan individual dang mengindentifikasi bantuan mobilitas. 10. Berikan matras busa atau pengubah Menurunkan tekanan pada jaringan tekanan yang mudah pecah dan mengurangi risko imobilitas dan dekubitus. 11. Berikan obat sesuai indikasi : - Agen antireumatik, misal emas, natrium Krisoterapi (garam emas) tiomelat (myochrysin) atau auranofin menghasilkan remisi terus-menerus, (ridaura) tetapi mengakibatkan inflamasi rebound bila terjadi penghentian/efek samping, mis pusing, penglihatan kabur, syok anafilaksis. - Steroid Menekan inflamasi sistemik.3. Gangguan Gambaran Diri Berhubungan dengan § Perceptual kognitif § Psikososial § Perubahan kemampuan untuk melakukan tugas umum
  14. 14. § Peningkatan penggunaan energy, ketidakseimbangan mobilitas Ditandai dengan§ Respon verbal terhadap perubahan struktur atau fungsi dari bagian tubuh yang sakit§ Bicara negative tentang diri sendiri, focus pada kekuatan/fungsi masa lalu, dan penampilan§ Perubahan gaya hidup/kemampuan fisik untuk melanjutkan peran, kehilangan pekerjaan, dan ketergantungan pada orang terdekat§ Perubahan padea keterlibatan social, rasa terisolasi§ Perasaan tidak brdaya, putus asa Kriteria hasil/kriteria evaluasi§ Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan gaya hidup, dan kemungkinan keterbatasan§ Menerima perubahan gaya tubuh dan mengintegrasikan ke dalam konsep diri§ Menyusun tujuan/rencana realitas untuk masa depan§ Mengembangkan keterampilan perawatan diri agar dapat berfungsi dalam masyarakat. Tindakan Keperawatan Tindakan/intervensi Rasional Mandiri 1. Dorong pengungkapan mengenai proses Berikan kesempatan mengidentifikasi penyakit dan harapan masa depan rasa takut/kesalahan konsep dan menghadapi secara langsung 2. Diskusikan persepsi klien mengenai Isyarat verbal atau nonverbal keluarga bagaimana keluarga menerima berpengaruh pada bagaimana klien keterbatasan memandang dirinya 3. Bantu klien mengekspresikan perasaan Untuk mendapatkan dukungan proses kehilangan berkabung yang adaptif 4. Perhatikan perilaku menarik diri, Menunjukkan emosional/metode penggunaan menyangkal/terlalu koping maladaptive sehingga memperhatikan tubuh membutuhkan intervensi lebih lanjut/dukungan psikologis. 5. Bantu klien mengidentifikasi perilaku Membantu mempertahankan control positif yang membantu koping diri dan meningkatkan harga diri.
  15. 15. 6. Ikutkan klien dalam merencanakan Meningkatkan perasaan kompetisi atau perawatan dan membuat jadwal aktivitas harga diri, mendorong kemandirian, dan partisipasi terapi. 7. Berikan bantuan positif Memungkinkan klien merasa senang terhadap dirinya; menguatkan perilaku positif;serta meningkatkan percaya diri Kolaborasi 8. Rujuk pada konselling psikiatri Klien/keluarga membutuhkan dukungan selama berhadapan dengan proses jangka panjang 9. Berikan obat sesuai indikasi (missal Dibutuhkan saat munculnya depresi antiansietas) hebat sampai klien dapat menggunakan kemampuan koping efektif.4. Kurang Perawatan Diri Berhubungan dengan § Kerusakan musculoskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan, dan nyeri pada waktu bergerak § Depresi § Pembatasan aktivitas Ditandai dengan § Ketidakmampuan mengatur aktivitas kehidupan sehari-hari (makan, mandi, berpakaian, dan eliminasi). Kriteria hasil/kriteria evaluasi § Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan kemampuan individual § Mendemonstrasikan perubahan teknik atau gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri § Mengidentifikasi sumber pribadi atau komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri. Tindakan Keperawatan
  16. 16. Tindakan/intervensi Rasional Mandiri 1. Diskusikan tingkat fungsi umum (0-4) Melanjutkan aktivitas dengan sebelum timbul penyakit beradaptasi pada keterbatasan saat ini 2. Kaji respons emosional klien terhadap Perubahan kemampuan merawat diri merawat kemampuan merawat diri yang dapat membangkitkan perasaan cemas menurun dan beri dukungan emosional. dan frustasi, dimana dapat mengganggu kemampuan lebih lanjut 3. Pertahankan mobilitas, control terhadap Mendukung kemandirian fisik atau nyeri dan program latihan emosional 4. Kaji hambatan terhadap partisipasi Meningkatkan kemandirian yang akan dalam perawatan diri. Identifikasi meningkatkan harga diri modifikasi lingkungan. 5. Beri dorongan agar berpartisipasi Partisipasi klien dalam merawat diri dalam merawat diri. Aktivitas yang meningkatkan harga diri dan terjadwal memungkinkan waktu untuk menurunkan perasaan ketergantungan. merawat diri. 6. Biarkan klien mengontrol lingkungan Memberi kesempatan mengontrol sebanyak mungkin, bantu klien hanya dapat meningkatkan harga diri dan jika diminta. menurunkan perasaan ketergantungan. 7. Jelaskan berapa lama kemampuan Dapat mengurangi ketakutan akan merawat diri yang menurun diharapkan ketergantungan jangka panjang atau untuk bertahan, jika diketahui. permanen. Kolaborasi 8. Konsultasi dengan ahli terapi okupasi Menentukan alat bantu memenuhi kebutuhan individu.5. Kurang Pengetahuan (Kebutuhan Belajar), mengenai Kondisi, Prognosis, dan Pengobatan Berhubungan dengan § Kurangnya pemajanan/mengingat § Kesalahan interpretasi informasi
  17. 17. Ditandai dengan§ Pertanyaan atau permintaan informasi, pernyataan kesalahan konsep§ Tidak dapat mengikuti instruksi atau terjadinya komplikasi yang dapat dicegah. Kriteria hasil/kriteria evaluasi§ Menunjukkan pemahaman tentang kondisi/prognosis dan perawatan§ Mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk modifikasi gaya hidup yang konsisten dengan mobilitas atau pembatasan aktivitas. Tindakan Keperawatan Tindakan/intervensi Rasional Mandiri 1. Tinjau proses penyakit, prognosis, dan Memberikan pengetahuan dimana harapan masa depan klien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi. 2. Diskusikan kebiasaan klien dalam Tujuan control penyakit adalah untuk penatalaksanaan proses sakit melalui diet, menekan inflamasi atau jaringan lain obat, latihan dan istirahat. untuk mempertahankan fungsi sendi dan mencegah deformitas 3. Bantu dalam merencanakan jadwal Memberikan struktur dan mengurangi aktivitas terintegrasi yang realitas, ansietas pada waktu menangani proses istirahat, perawatan pribadi, pemberian penyakit kronis kompleks. obat, terapi fisik dan manajemen stress. 4. Tekankan pentingnya melanjutkan Keuntungan dari terapi obat manajemen farmakoterapeutik tergantung pada ketepatan dosis, missal aspirin diberikan secara regular untuk mendukung kadar terapeutik darah 18-25 mg. 5. Rekomendasikan penggunaan aspirin Preparat bersalut dicerna dengan bersalut atau salisilat nonasetil makanan, meminimalkan iritasi gaster, mengurangi risiko perdarahan. 6. Anjurkan mencerna obat dengan Membatasi iritasi gaster. Pengurangan makanan, susu, atau antasida pada nyeri dapat meningkatkan tidur dan
  18. 18. sebelum tidur kadar darah serta mengurangi kekakuan pada pagi hari.7. Tinjau pentingnya diet yang seimbang Meningkatkan perasaan sehat dan dengan makanan yang banyak perbaikan atau regenerasi jaringan. mengandung vitamin, protein, dan zat besi.8. Dorong klien obesitas untuk Penurunan berat badan mengurangi menurunkan berat badan dan berikan tekanan pada sendi, terutama pinggul, informasi penurunan berat badan sesuai lutut, pergelangan kaki, dan telapak kebutuhan kaki.9. Berikan informasi mengenai alat bantu, Mengurangi paksaan untuk missal tongkat atau palang keamanan. menggunakan sendi dan memungkinkan klien ikut serta seecara lebih nyaman dalam aktivitas yang dibutuhkan.10. Diskusikan teknik menghemat energy, Mencegah kepenatan, memberikan misal, duduk daripada berdiri untuk kemudahan perawatan diri, dan mempersiapkan makanan dan mandi kemandirian.11. Dorong mempertahankan posisi tubuh Mekanika tubuh yang baik harus yang benar pada saat istirahat dan waktu menjadi bagian dari gaya hidup klien melakukan aktivitas, misal, menjaga agar untuk mengurangi tekanan sendi dan sendi tetap meregang, tidak fleksi nyeri. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan
  19. 19. RA adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kroni yang tidak diketahui penyebabnya, dikarakteristikkan oelh kerusakan dan poriliferasi membrane synovial yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis, dan deformitas. Sebagian besar penderita menunjukkan gejala penyakit kronik yang hilang timbul, yang jika tidak diobati akan menyebabkan terjadinya kerusakan persendian dan deformitas sendi yang progresif yang menyebabkan disabilitas bahkan kematian dini. Walaupun faktor genetik, hormon sex, infeksi dan umur telah diketahui berpengaruh kuat dalam menentukan pola morbiditas penyakit ini.hingga etiologi AR yang sebenarnya tetap belum dapat diketahui dengan pasti. 3.2 Saran Penyakit musculoskeletal bukan merupakan suatu konsekuensi penuaan yang tidak dapat dihindari dan karenanya harus dianggap sebagai suatu proses penyakit spesifik, tidak hanay sebagai akibat penuaan. Sebagai seorang perawat , untuk mengatasi terjadinya cedera sebagai akibat efek perubahan postur tubuh sebagai seorang perawat kita harus dapat menjadi perawat yang terpercaya untuk meningkatkan kesehatan merekan sendiri dan melakukan latihan yang teratur, postur tubuh dan diet yang benar setiap hari dalam kehidupan mereka sendiri, kemudian dalam merawat lansia yang mengalami masalah musculoskeletal kita harus dapat memahami suatu pemahaman terkait masalah tersebut, agar asuhan keperawatan dapat berjalan dengan baik. DAFTAR PUSTAKAAzizah,Lilik Ma’rifatul. Keperawatan Lanjut Usia. Edisi 1. Garaha Ilmu. Yogyakarta. 2011http://akhtyo.blogspot.com/2009/04/rheumatoid-artritis.html. Askep Muskuloskeletal. dipostkan Tyo di 07.56 PM ( Diakses tanggal 11 April 2012)Kushariyadi. Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia. Salemba Medika. Jakarta. 2010Mubaraq, Chayatin, Santoso. Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep Dan Aplikasi. Salemba Medika. Jakarta. 2011
  20. 20. Stanley, Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Alih Bahasa; Nety Juniarti, Sari Kurnianingsih. Editor; Eny Meiliya, Monica Ester. Edisi 2. EGC. Jakarta. 2006Tamher, S. Noorkasiani. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta. 2011 GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PADA LANSIA 12:28 KTI kebidanan PENDAHULUAN Perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya usia. Perubahan ini terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya gangguan muskuloskeletal. Adanya gangguan pada sistem muskuloskeletal dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Di daerah urban, dilaporkan bahwa keluhan nyeri otot sendi-tulang (gangguan sistem musculoskeletal) merupakan keluhan terbanyak pada usia lanjut. Adapun sebab-sebab gangguan muskuloskeletal pada lansia dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1. Mekanik : penyakit sendi degeneratif (osteoarthritis), stenosis spinal 2. Metabolik : osteoporosis, myxedema, penyakit paget 3. Berkaitan dengan keganasan : dermatomyositis, neuromiopati 4. Radang : polymyalgia rheumatica, temporal (giant cell) arthritis, gout 5. Pengaruh obat Dari sekian banyak jenis gangguan sistem muskuloskelatal, dalam pembahasan refarat ini akan dibahas lebih lanjut beberapa yang paling sering terjadi pada lansia seperti osteoarthritis, arthritis rheumatoid, arthritis gout, osteoporosis dan amiloidosis.
  21. 21. IV.2. ANATOMI DAN FISIOLOGISistem muskuloskeletal adalah penunjang bentuk tubuh dan berperan dalam pergerakan. Sistemini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligament, bursa, dan jaringan – jaringan khususyang menghubungkan struktur tersebut.A.SendiSendi adalah pertemuan dua atau lebih tulang. Tulang-tulang ini dipadukan dengan berbagaicara, misalnya dengan kapsul sendi, pita fibrosa, ligamen, tendon, fasia, atau otot.Ada tiga tipe sendi, yaitu :1. Sendi fibrosa (sinarthroidal), merupakan sendi yang tidak dapat bergerak.2. Sendi kartilaginosa (amphiarthroidal), merupakan sendi yang sedikit bergerak.3. Sendi sinovial (diarthroidal), merupakan sendi yang dapat bergerak dengan bebas.A.1. Sendi fibrosa ( Sinarthroidal )Sendi ini tidak memiliki lapisan tulang rawan, dan tulang yang satudengan yang lainnya dihubungkan oleh jaringan penyambung fibrosa. Contohnya terdapat padasutura tulang-tulang tengkorak. Yang kedua disebut sindesmosis, dan terdiri dari suatumembrane interosseus atau suatu ligament antara tulang. Hubungan ini memungkinkan sedikitgerakan, tetapi bukan gerakan sejati. Contohnya ialah perlekatan tulang tibia dan fibula bagiandistal.A.2. Sendi kartilaginosa ( amphiarthroidal )Sendi kartilaginosa adalah sendi dimana ujung – ujung tulangnya dibungkus oleh rawan hialin
  22. 22. dan disokong oleh ligamen, sehingga hanya memungkinkan suatu gerakan yang terbatas. Adadua tipe sendi kartilaginosa.Sinkondrosis adalah sendi-sendi yang seluruh persendiannya diliputi oleh tulang rawan hialinSendi-sendi kostokondral adalah contoh dari sinkondrosis. Simfisis adalah sendi yang tulang-tulangnya memiliki suatu hubungan fibrokartilago, dan selapis tipis tulang rawan hialin yangmenyelimuti permukaan sendi. Simfisis pubis dan sendi-sendi pada tulang punggung adalahcontoh-contohnya.A.3. Sendi sinovial ( diarthroidal )Sendi sinovial adalah sendi-sendi tubuh yang dapat digerakkan. Sendi-sendi ini memiliki ronggasendi dan permukaan rongga sendi dilapisi tulang rawan hialin.Kapsul sendi terdiri dari suatu selaput penutup fibrosa padat, suatu lapisan dalam yang terbentukdari jaringan penyambung berpembuluh darah banyak dan sinovium yang membentuk suatukantung yang melapisi seluruh sendi, dan membungkus tendon-tendon yang melintasi sendi.Sinovium tidak meluas melampaui permukaan sendi, tetapi terlipat sehingga sehinggamemungkinkan gerakan sendi secara penuh. Lapisan-lapisan bursa diseluruh persendianmembentuk sinovium. Periosteum tidak melewati kapsul.Sinovium menghasilkan cairan yang sangat kental yang membasahi permukaan sendi. Cairansinovial normalnya bening, tidak membeku dan tidak berwarna. Jumlah yang ditemukan padatiap-tiap sendi relatif kecil (1 sampai 3 ml). Hitung sel darah putih pada cairan ini normalnyakurang dari 200 sel/ml dan terutama adalah sel-sel mononuklear. Asam hialuronidase adalahsenyawa yang bertanggung jawab atas viskositas cairan sinovial dan disintesis oleh sel-selpembungkus sinovial. Bagian cair dari cairan sinovial diperkirakan berasal dari transudat plasma.Cairan sinovial juga bertindak sebagai sumber nutrisi bagi tulang rawan sendi.Kartilago hialin menutupi bagian tulang yang menanggung beban tubuh pada sendi sinovial.Tulang rawan ini memegang peranan penting dalam membagi beban tubuh. Rawan senditersusun dari sedikit sel dan sebagian besar substansi dasar. Substansi dasar ini terdiri darikolagen tipe II dan proteoglikan yang berasal dari sel-sel tulang rawan. Proteoglikan yang
  23. 23. ditemukan pada tulang rawan sendi sangat hidrofilik sehingga memungkinkan tulang rawantersebut menerima beban yang berat.Tulang rawan sendi pada orang dewasa tidak mendapat aliran darah, limfe, atau persarafan.Oksigen dan bahan-bahan metabolisme lain dibawa oleh cairan sendi yang membasahi tulangrawan tersebut. Perubahan susunan kolagen pembentukan proteoglikan dapat terjadi setelahcedera atau usia yang bertambah. Beberapa kolagen baru pada tahap ini mulai membentukkolagen tipe I yang lebih fibrosa. Proteoglikan dapat kehilangan sebagian kemampuanhidrofiliknya. Perubahan-perubahan ini berarti tulang rawan akan kehilangan kemampuannyauntuk menahan kerusakan bila diberi beban berat.Sendi dilumasi oleh cairan sinovial dan oleh perubahan-perubahan hidrostatik yang terjadi padacairan interstitial tulang rawan. Tekanan yang terjadi pada tulang rawan akan mengakibatkanpergeseran cairan kebagian yang kurang mendapat tekanan. Sejalan dengan pergeseran sendi kedepan, cairan yang bergerak ini juga bergeser ke depan mendahului beban. Cairan kemudianakan bergerak kebelakang ke bagian tulang rawan ketika tekanan berkurang. Tulang rawan sendidan tulang-tulang yang membentuk sendi biasanya terpisah selama gerakan selaput cairan ini.Selama terdapat cukup selaput atau cairan, tulang rawan tidak dapat aus meskipun dipakai terlalubanyak.Aliran darah ke sendi banyak yang menuju ke sinovium. Pembuluh darah mulai masuk melaluitulang subkondral pada tingkat tepi kapsul. Jaringan kapiler sangat tebal di bagian sinovium yangmenempel langsung pada ruang sendi. Hal ini memungkinkan bahan-bahan di dalam plasmaberdifusi dengan mudah ke dalam ruang sendi. Proses peradangan dapat sangat menonjol disinovium karena di dalam daerah tersebut banyak mengandung aliran darah, dan disamping itujuga terdapat banyak sel mast dan sel lain dan zat kimia yang secara dinamis berinteraksi untukmerangsang dan memperkuat respons peradangan.Saraf-saraf otonom dan sensorik tersebar luas pada ligamen, kapsul sendi, dan sinovium. Saraf-saraf ini berfungsi untuk memberikan sensitivitas pada struktur-struktur ini terhadap posisi danpergerakan. Ujung-ujung saraf pada kapsul, ligamen, dan adventisia pembuluh darah sangat
  24. 24. sensitif terhadap peregangan dan perputaran. Nyeri yang timbul dari kapsul sendi atau sinoviumcenderung difus dan tidak terlokalisasi. Sendi dipersarafi oleh saraf-saraf perifer yangmenyeberangi sendi. Ini berarti nyeri yang berasal dari satu sendi mungkin dapat dirasakan padasendi yang lainnya, misalnya nyeri pada sendi panggul dapat dirasakan sebagai nyeri lutut.B.Jaringan PenyambungJaringan yang ditemukan pada sendi dan daerah-daerah yang berdekatan terutama adalahjaringan penyambung yang tersusun dari sel-sel dan substansi dasar. Dua macam sel yangditemukan pada jaringan penyambung adalah sel-sel yang tidak dibuat dan tetap berada padapada jaringan penyambung seperti pada sel mast, sel plasma, limfosit, monosit, dan leukositpolimorfonuklear. Sel-sel ini memegang peranan penting pada reaksi-reaksi imunitas danperadangan yang terlihat pada penyakit-penyakit rheumatik. Jenis sel yang kedua dalam jaringanpenyambung ini adalah sel-sel yang tetap berada dalam jaringan, seperti kondrosit, fibroblas, danosteoblas. Sel-sel ini mensintesis berbagai macam serat dan proteoglikan dari substansi dasar danmembuat tiap jenis jaringan penyambung memiliki susunan sel yang tersendiri.Serat-serat yang didapatkan di dalam substansi dasar adalah kolagen dan elastin. Setidaknyaterdapat 11 bentuk kolagen yang dapat diklasifikasikan menurut rantai molekul, lokasi danfungsinya. Kolagen dapat dipecahkan oleh kerja kolagenase. Enzim proteolitik ini membuatmolekul stabil berubah menjadi molekul tidak stabil pada suhu fisiologik dan selanjutnyadihidrolisis oleh proses lain. Perubahan sintesis kolagen tulang rawan terjadi pada orang-orangyang usianya makin lanjut. Peningkatan aktivitas kolagenase terlihat pada bentuk-bentukpenyakit reumatik yang diperantarai oleh imunitas seperti pada arthritis reumatoid.Serat-serat elastin memiliki sifat elastin yang penting. Serat ini didapat dalam ligamen, dindingpembuluh darah besar dan kulit. Elastin dipecah-pecah oleh enzim yang disebut elastase.Elastase dapat menjadi penting pada proses pembentukan arteriosklerosis dan emfisema. Adabukti-bukti yang menunjukkan bahwa perubahan dalam sistem kardiovaskuler karena penuaan,dapat terjadi oleh karena peningkatan pemecahan serat elastin
  25. 25. .Selain serat-serat, proteoglikan adalah zat penting yang ditemukan dalam substansi dasar.Proteoglikan adalah molekul besar terbuat dari rantai polisakarida panjang yang melekat padapusat polipeptida. Proteoglikan pada tulang rawan sendi berfungsi sebagai bantalan pada sendisehingga sendi dapat menahan beban-beban fisik yang berat. Hubungan proteoglikan dan denganproses imunologi dengan proses peradangan adalah kompleks. Limfokin dapat menginduksi sel-sel jaringan penyambung untuk memproduksi proteoglikan baru, menghambat produksi, ataumeningkatkan pemecahan. Proteoglikan dapat menjadi fokus aksi autoimun pada gangguanseperti arthritis reumatoid. Pertambahan usia mengubah proteoglikan di dalam tulang rawan,proteoglikan ini akan kurang melekat satu dengan lainnya dan berinteraksi dengan kolagen.Perubahan fungsional dan struktural utama yang menjadi bagian dari proses penuaan normalmenyebabkan perubahan biokimia dari jaringan penyambung dan terjadi terutama pada serat danproteoglikan.Evaluasi Cairan SinovialTiap-tiap gangguan rheumatik dapat mempengaruhi perubahan cairan sinovial secara berbeda-beda. Uji beku musin dilakukan dengan menambahkan asam asetat pada cairan sinovial. Zat iniakan membentuk presipitasi karena berinteraksi dengan asam hialuronat. Uji ini akanmemberikan hasil yang semakin tidak akurat dengan semakin banyaknya cairan peradangan,karena asam hialuronat telah dipecahkan oleh enzim-enzim lisosomal sehingga jumlahnya tidakcukup lagi untuk membentuk presipitasi ketika ditetesi asam asetat. Kejernihan cairan sinovialnormal akan menghilang dengan peningkatan sel-sel dan protein pada keadaan patologik.IV.3. OSTEOARTHRITISOsteoarthritis adalah suatu penyakit sendi degeneratif yang terutama terjadi pada orang yangberusia lanjut dan ditandai oleh degenerasi kartilago artikularis, perubahan pada membransinovia serta hipertrofi tulang pada tepinya. Rasa nyeri dan kaku, khususnya setelah melakukanaktivitas yang lama akan menyertai perubahan degeneratif tersebut.A. Insidens, Etiologi dan Patologi
  26. 26. Osteoarthritis merupakan bentuk penyakit sendi yang paling sering ditemukan. Diperkirakan ⅓dari orang berusia >35 tahun, menunjukkan bukti radiografik yang memperlihatkan penyakitosteoarthritis dengan prevalensi yang terus meningkat sampai 80 tahun. Meskipun mayoritaspasien, khususnya yang berusia muda, menderita penyakit ringan dan relatif asimptomatik,osteoarthritis merupakan salah satu dari beberapa penyebab utama yang menimbulkan disabilitasorang yang berusia > 65 tahun.Osteoarthritis mungkin bukan satu penyakit melainkan beberapa penyakit yang semuanyamemperlihatkan gambaran klinis dan patologis yang serupa. Akan tetapi terdapat dua perubahanmorfologis utama, yaitu kerusakan fokal tulang rawan sendi yang progresif dan pembentukantulang baru pada dasar lesi tulang rawan dan tepi sendi yang dikenal sebagai osteofit. Penelitianmenunjukkan bahwa perubahan metabolisme tulang rawan sendi sudah timbul sejak awal prosespatologis osteoarthritis. Perubahan metabolisme tulang tersebut berupa peningkatan aktivitasenzim-enzim yang merusak makromolekul matriks tulang rawan sendi yaitu kolagen danproteoglikan. Perusakan ini membuat kadar proteoglikan dan kolagen berkurang sehingga kadarair tulang rawan sendi juga berkurang.Hal tersebut diatas membuat tulang rawan sendi rentan terhadap beban biasa. Permukaan tulangrawan sendi menjadi tidak homogen, terpecah-pecah dan timbul robekan-robekan. Dalam halinilah, diduga pembentukan tulang baru yaitu osteofit adalah merupakan mekanisme pertahanantubuh untuk memperbesar permukaan tulang dibagian inferior tulang rawan sendi yang telahrusak tersebut. Dengan menambah luas permukaan tulang dibawahnya diharapkan distribusibeban yang ditanggung persendian tersebut dapat merata.Beberapa faktor turut terlibat dalam timbulnya osteoarthritis ini. Penambahan usia semata tidakmenyebabkan osteoarthritis, sekalipun perubahan selular atau matriks pada kartilago yang terjadibersamaan dengan penuaan kemungkinan menjadi predisposisi bagi lanjut usia untuk mengalamiosteoarthritis. Faktor-faktor lain yang diperkirakan menjadi predisposisi adalah obesitas, trauma,kelainan endokrin (misalnya diabetes mellitus) dan kelainan primer persendian (misalnya
  27. 27. arthritis inflamatorik).B.Keluhan dan GejalaGejala klinis osteoartritis bervariasi, bergantung pada sendi yang terkena, lama dan intensitaspenyakitnya, serta respons penderita terhadap penyakit yang dideritanya. Pada umumnya pasienosteoartritis mengatakan bahwa keluhan-keluhannya sudah berlangsung lama, tetapi berkembangsecara perlahan-lahan.Secara klinis, osteoartritis dapat dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu :1. Subklinis.Pada tingkatan ini belum ada keluhan atau tanda klinis lainnya. Kelainan baru terbatas padatingkat seluler dan biokimiawi sendi.2. Manifest.Pada tingkat ini biasanya penderita datang ke dokter. Kerusakan rawan sendi bertambah luasdisertai reaksi peradangan.3. DekompensasiRawan sendi telah rusak sama sekali, mungkin terjadi deformitas dan kontraktur. Pada tahap inibiasanya diperlukan tindakan bedah.Keluhan-keluhan umum yang sering dirasakan penderita osteoartritis adalah sebagai berikut :• Nyeri SendiMerupakan keluhan utama yang sering kali membawa pasien datang ke dokter.Nyeri biasanyabertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat.Beberapa gerakan tertentumenimbulkan rasa sakit yang berlebih dibanding gerakan lain. Pada osteoartritis terdapathambatan sendi yang biasanya bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan denganbertambahnya rasa nyeri. Asal nyeri dapat dibedakan, yaitu :- PeradanganNyeri yang berasal dari peradangan biasanya bertambah pada pagi hari atau setelah istirahatbeberapa saat dan berkurang setelah bergerak. Hal ini karena sinovitis sekunder, penurunan pHjaringan, pengumpulan cairan dalam ruang sendi yang menimbulkan pembengkakan danperegangan simpai sendi. Semua ini menimbulkan rasa nyeri.
  28. 28. - MekanikNyeri akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas lama dan akan berkurang pada waktuistirahat. Mungkin ada hubungannya dengan keadaan penyakit yang telah lanjut dimana rawansendi telah rusak berat. Nyeri biasanya terlokalisasi hanya pada sendi yang terkena, tetapi dapatjuga menjalar• Kaku SendiMerupakan keluhan pada hampir semua penyakit sendi dan osteoartritis yang tidak begitu berat.Pada beberapa pasien, nyeri dan kaku sendi dapat timbul setelah istirahat beberapa saat misalnyasehabis duduk lama atau bangun tidur. Berlawanan dengan penyakit inflamasi sendi sepertiartritis rheumatoid, dimana pada artritis rheumatoid kekakuan sendi pada pagi hari berlangsunglebih dari 1 jam,maka pada osteoartritis kekakuan sendi jarang melebihi 30 menit.• Pembengkakan SendiMerupakan reaksi peradangan karena pengumpulan cairan dalam ruang sendi. Biasanya terabapanas tanpa adanya kemerahan. Pada sendi yang terkena akan terlihat deformitas yangdisebabkan terbentuknya osteofit. Tanda-tanda adanya reaksi peradangan pada sendi (nyeritekan, gangguan gerak, rasa hangat yang merata, dan warna kemerahan) mungkin dijumpai padaosteoartritis karena adanya sinovitis.• Perubahan Gaya JalanSalah satu gejala yang menyusahkan pada pasien osteoartritis adalah adanya perubahan gayajalan. Hampir pada semua pasien osteoartritis, pergelangan kaki, tumit, lutut atau panggulnyaberkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan gangguan fungsi sendi yang lainmerupakan ancaman besar untuk kemandirian pasien lanjut usia.• Gangguan FungsiTimbul karena ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi. Adanya kontraktur, kemungkinanadanya osteofit, nyeri dan bengkak merupakan penyebab yang menimbulkan gangguan fungsi.Pada osteoartritis tidak terdapat gejala-gejala sistemik seperti kelelahan, penurunan berat badanatau demam.
  29. 29. C. Pemeriksaan Penunjang LaboratoriumPemeriksaan laboratorium berguna untuk menyingkirkan penyakit sendi lain, karena tidak adasatupun yang spesifik untuk osteoartritis. Pemeriksaan hematologis umumnya normal, jumlahleukosit dan laju endap darah normal, kecuali jika disertai infeksi lain. Cairan sendi dapatdiambil dari sendi manapun yang bengkak dan tindakan ini dapat mengurangi rasa nyeripenderita. Pada osreoartritis, cairan sendi akan meningkat jumlahnya, berwarna kuningtransparan, kental, terdapat gumpalan musin, jumlah leukosit kurang dari 2000/mm3 denganproporsi sel normal (25% PMN). Mungkin ditemukan kristal kalsium pirofosfat dan hidroksi-apatit sebagai penyebab reaksi peradangan. Dapat juga ditemukan serpihan tulang rawan padatingkat lanjut penyakit. RadiologisPemeriksaan radiologis membantu diagnosis osteoartritis, tetapi adanya kelainan radiologis tidakterlalu berarti bahwa ini sebagai penyebab satu-satunya keluhan penderita. Kriteria radiologisosteoartritis adalah sebagai berikut : Osteofit pada tepi sendi atau tempat melekatnya ligamen Adanya periartikuler ossicle terutama pada DIP dan PIP Penyempitan celah sendi disertai sklerosis jaringan tulang subkondrial Adanya kista dengan dinding yang sklerotik pada daerah subkondrial Perubahan bentuk tulang, misal pada caput femur.Kriteria diagnosis radiologis, yaitu :1. Meragukan : bila ditemukan 1 dari 5 kriteria diatas2. Osteoartritis ringan : bila ditemukan 2 dari 5 kriteria diatas3. Osteoartritis moderate : bila ditemukan 3 dari 5 kriteria diatas4. Osteoartritis berat : bila ditemukan 4 dari 5 kriteria diatasD. DiagnosisDiagnosis osteoartritis ditegakkan berdasarkan anannesis, pemeriksaan jasmani, radiologis, dan
  30. 30. bila perlu dengan pemeriksaan laboratorium tertentu. Diagnosis bandingnya terutama denganpenyakit sendi yang sering ditemui dalam praktek sehari-hari, yaitu artritis gout dan artritisrheumatoid.E. Penatalaksanaan OsteoarthritisStadium awal osteoarthritis paling baik bila ditangani dengan tindakan konservatif, termasukpengobatan dengan obat-obat anti inflamasi non steroid (NSAID) seperti preparat piroxicam10mg 2x1 hari, preparat naproxen 250-500 mg 2x1 hari,tetapi harus mewaspadai efek yangtimbul di lambung dan reaksi alergi.Dapat juga dengan latihan-latihan fisioterapi atau tanpapengobatan sama sekali. Intervensi pembedahan merupakan tindakan yang terlambat setelahterjadi perkembangan penyakit yang berarti.Penggunaan injeksi sodium hyaluronate yang berfungsi sama seperti cairan sinovial pada ronggasendi dapat juga digunakan. Dosis yang dipakai adalah 1 X 2 ml/minggu selama 5 mingguberturut-turut.Indikasi bedah dilakukan bila nyeri dan pengurangan fungsi masih ada setelah pemberian obat-obat anti inlamasi non steroid, suntikan steroid ke dalam sendi dan penggunaan bidai kecil.Osteoarthritis lanjut pada persendian perifer sering memerlukan pembedahan untuk meringankanrasa nyeri dan memperbaiki fungsi sendi, misalnya tindakan menyatukan sendi atau arthroplastireseksi untuk menyumbat rongga sendi, osteotomi untuk menghasilkan kembali keseimbanganberbagai gaya mekanis, atau artroplasti penggantian sendi secara total untuk membentuk kembalipermukaan artikulasi sendi.Selain dari pengobatan medis seperti diatas, dapat juga disertai dengan penatalaksanaan lainseperti sebagai berikut :• Meyakinkan penderita bahwa penyakitnya tidak progresif karena biasanya penderitatakut sekali menjadi lumpuh atau cacat. Rencana pengobatan selanjutnya dijelaskan dandisesuaikan dengan keadaan umum penderita, sendi-sendi yang terkena, keluhan dan sikap hidupsehari-hari.• Istirahat atau proteksi terhadap sendi yang terkena
  31. 31. • Koreksi semua faktor-faktor yang menimbulkan stress berlebihan pada rawan sendi.Tindakan ini bukan saja akan mengurangi beban pada rawan sendi, tetapi juga memperlambatproses degenerasi sehingga akan lebih memberi kesempatan proses regenerasi berlangsung.• Diet, selain untuk mengurangi berat badan, tidak ada bukti bahwa diet berperanlangsung terhadap pengobatan osteoartritis. Dengan menghilangkan kegemukan penderitaosteoartritis sendi penyokong berat badan maka akan mengurangi keluhan.• Fisioterapi, terutama pemanasan dan latihan yang adekuat. Pemanasan badan (moisthealth) lebih nyaman daripada pemanasan kering. Massage, penggunaannya sangat terbataskarena hanya berefek pada otot yang melingkupi sendi, sedang sendinya sendiri tidak dapatdicapai. Massage berguna untuk mengurangi nyeri karena spasme otot.• Alat bantu, misalnya traksi atau pemakaian soft collar untuk spondilosis leher, korsetuntuk spondilosis lumbal, tongkat untuk osteoartritis lutut atau pinggul.Berdasarkan perkembangan penelitian tentang osteoartritis, untuk pengobatan terbaruosteoartritis dapat dipakai kombinasi Chondroitin Sulfate (CS) dan Glucosamine Sulfate (GS).Dengan kombinasi ini sangat efektif untuk menghilangkan nyeri pada osteoartritis juga nyeripada artritis rheumatoid.Glucosamine adalah bentuk polisakarida terbuat dari kulit kerang yang merupakan bahan dasarpembentuk tulang rawan sendi. Cara kerjanya menstimulasi fungsi dan kerja sendi sehinggadapat terjadi regenerasi sel rawan sendi secara berkesinambungan. Zat tersebut disisipkanmelalui pergesekan sendi ke dalam rawan sendi untuk membentuk sel-sel rawan. Chondroitinsulfat terbuat dari tulang rawan ikan hiu dan paus. Khasiatnya adalah antiinflamasi (peradangan)dan penghilang rasa sakit. Zat itu juga bisa menetralisasi perusakan enzim dan meningkatkankualitas cairan sendi. Kombinasi preparat Glocosamine HCL 250 mg dengan ChondroitinSulphate 200 mg dengan dosis 3x1.Obat-obatan golongan terbaru pada pengobatan osteoartritis:Golongan cox-2 inhibitors berperan dalam menghambat enzim siklooksigenase yang berfungsimengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin yang berperan dalam timbulnya inflamasi dannyeri sehingga mengurangi terjadinya perdarahan lambung dan gangguan pada ginjal.Contoh obatnya : Celecoxib 100mg 2x1 hari, Valdecoxib 10-20mg 1x1 hari, tidak boleh
  32. 32. diberikan pada orang dengan alergi NSAID, asma.IV.4. ARTHRITIS RHEUMATOIDMenurut definisi, artritis rheumatoid adalah penyakit inflamasi yang mengenai jaringan ikatsendi, bersifat progresif, simetrik, dan sistemik serta cenderung menjadi kronik. Atau arthritisreumatoid adalah kelainan sistemik dengan manifestasi utama pada persendian yang berkembangsecara perlahan-lahan dalam beberapa minggu.A. Insidens, Etiologi dan PatogenesisJaringan sinovia menjadi hiperplastik dan mengalami infiltrasi oleh limfosit serta sel-sel plasma.Sejumlah zat pengantar inflamasi, termasuk interleukin 1, prostaglandin, dan imunoglobulinditemukan dalam cairan sinovia.B. Keluhan dan gejalaSebagian besar pasien arthritis reumatoid yang berusia lanjut menderita penyakit tersebut sebagaisuatu proses yang tengah berlangsung dan sudah dimulai.Kalau arthritis reumatoid baru terjadiketika seseorang sudah berusia lanjut, onsetnya dapat timbul perlahan atau terjadi secara akut.Pada kebanyakan pasien, keadaan artritis disertai dengan gejala konstitutional yang ringan atausedang.Biasanya arthritis reumatoid terutama ditemukan pada persendian yang kecil pada tangan (yaitu
  33. 33. di artikulasio interfalangeal proksimal, metakarpofalangeal), kemudian kaki (pada artikulasiometatarsofalangeal, interfalangeal) dan pergelangan tangan, baru kemudian penyakit inimengenai persendian yang besar (misalnya sendi siku, bahu, lutut). Kalau onsetnya terjadi secaratiba-tiba selama waktu beberapa hari saja, pasien sering mengalami gejala malaise, anoreksia,penurunan berat badan dan depresi. Gejala panas dan perspirasi malam hari kadang-kadangdikemukakan. Pada akhirnya, arthritis reumatoid akan menjadi penyakit tambahan yang simetrispersendian seperti halnya arthritis reumatoid pada pasien yang berusia muda.C. Hasil LaboratoriumBeberapa hasil uji laboratorium dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis arthritisreumatoid. Sekitar 85% penderita arthritis reumatoid mempunyai autoantibodi didalam serumnyayang dikenal sebagai faktor reumatoid. Autoantibodi ini adalah suatu faktor anti-gama globulin(IgM) yang bereaksi terhadap perubahan IgG. Titer yang tinggi, lebih besar dari 1:160, biasanyadikaitkan dengan nodula reumatoid, penyakit yang berat, vaskulitis, dan prognosis yang buruk.Faktor reumatoid adalah suatu indikator diagnosis yang membantu, tetapi uji untuk menemukanfaktor ini bukanlah suatu uji untuk menyingkirkan diagnosis reumatoid arthritis. Hasil yangpositif dapat juga menyatakan adanya penyakit jaringan penyambung seperti lupus eritematosussistemik, sklerosis sistemik progresif, dan dermatomiositis. Selain itu, sekitar 5% orang normalmemiliki faktor reumatoid yang positif dalam serumnya. Insidens ini meningkat denganbertambahnya usia. Sebanyak 20% orang normal yang berusia diatas 60 tahun dapat memilikifaktor reumatoid dalam titer yang rendah.Laju endap darah (LED) adalah suatu indeks peradangan yang bersifat tidak spesifik. Padaarthritis reumatoid nilainya dapat tinggi (100 mm/jam atau lebih tinggi lagi). Hal ini berartibahwa laju endap darah dapat dipakai untuk memantau aktivitas penyakit.Arthritis reumatoid dapat menyebabkan anemia normositik normokromik melalui pengaruhnyapada sumsum tulang. Anemia ini tidak berespons terhadap pengobatan anemia yang biasa dandapat membuat penderita cepat lelah. Seringkali juga terdapat anemia kekurangan besi sebagaiakibat pemberian obat untuk mengobati penyakit ini. Anemia semacam ini dapat berespons
  34. 34. terhadap pemberian besi.Cairan sinovial normal bersifat jernih, berwarna kuning muda hitung sel darah putih kurang dari200/mm3. Pada arthritis reumatoid cairan sinovial kehilangan viskositasnya dan hitungan seldarah putih meningkat mencapai 15.000 – 20.000/ mm3. Hal ini membuat cairan menjadi tidakjernih. Cairan semacam ini dapat membeku, tetapi bekuan biasanya tidak kuat dan mudah pecah.D. Kriteria DiagnostikDiagnosis arthritis reumatoid tidak bersandar pada satu karakteristik saja tetapi berdasar padaevaluasi dari sekelompok tanda dan gejala.Kriteria diagnostik adalah sebagai berikut:1. Kekakuan pagi hari (sekurangnya 1 jam)2. Arthritis pada tiga atau lebih sendi3. Arthritis sendi-sendi jari-jari tangan4. Arthritis yang simetris5. Nodula reumatoid dan Faktor reumatoid dalam serum6. Perubahan-perubahan radiologik (erosi atau dekalsifikasi tulang)Diagnosis artritis reumatoid dikatakan positif apabila sekurang-kurangnya empat dari tujuhkriteria ini terpenuhi. Empat kriteria yang disebutkan terdahulu harus sudah berlangsungsekurang-kurangnya 6 minggu.E. PengobatanTerapi farmakologis yang utama untuk artritis reumatoid adalah penggunaan obat anti inflamasinon steroid (AINS). Obat anti inflamasi non steroid umumnya diberikan kepada arthritisreumatoid sejak masa dini penyakit ini dimaksudkan untuk mengatasi rasa nyeri sendi akibatinflamasi. Keterbatasan dalam penggunaan AINS adalah toksisitasnya. Toksisitas AINS yangpaling sering dijumpai adalah efek sampingnya pada gastrointestinal, terutama jika AINSdigunakan bersama obat lain, alkohol, kebiasaan merokok, atau dalam keadaan stress. Usia juga
  35. 35. merupakan faktor resiko untuk mendapatkan efek samping gastrointestinal akibat AINS. Bagipasien yang sensitif dapat digunakan preparat AINS dalam bentuk supositoria, enteric coated.Preparat dalam bentuk ini kurang berpengaruh dalam mukosa lambung dibandingkan denganpreparat biasa. Pada pihak lain, walaupun AINS dalam bentuk ini seringkali dianggap kurangmenyebabkan timbulnya iritasi gastrointestinal akibat kontak langsung dengan mukosagastroduodenal, umumnya obat dalam bentuk ini tetap memiliki efek sistemik terutama menekansintesis prostaglandin sehingga obat ini juga harus digunakan secara hati-hati terutama padapasien yang telah memiliki gangguan gastoduodenal. Efek samping lain yang mungkin dijumpaipada pengobatan AINS antara lain adalah reaksi hipersensitivitas, gangguan fungsi hati danginjal serta penekanan sistem hematopoetik.Selain AINS pengobatan arthritis rematoid juga dilakukan dengan terapi fisik dan okupasionalyang harus dilakukan bersama-sama dengan exercise serta pemakaian peralatan penopang danmungkin pula cara-cara jasmaniah untuk meringankan rasa nyeri (misalnya kompres hangat ataudingin pada tempat yang sakit). Meskipun istirahat perlu dianjurkan pada saat-saat kambuhnyapenyakit, immobilitas irreversibel dapat terjadi jika seorang pasien lanjut usia dibiarkan tirahbaring dalam waktu yang lama.Jika pasien tidak memperlihatkan respon yang memuaskan terhadap pengobatan dan terapi fisikdalam waktu 6 hingga 12 minggu, terapi pilihan kedua (second line therapy) harus segeradimulai. Banyak pasien dengan inflamasi yang aktif pada persendian memberikan responterhadap terhadap preparat kortikosteroid sistemik (misalnya pemberian prednison selama 1bulan yang dimulai dengan takaran 25 mg/hari dan kemudian diturunkan secara perlahan-lahandengan cara tappering-off menjadi 5 hingga 10 mg/hari). Efek jangka panjang (osteoporosis,katarak, kesembuhan luka yang jelek, hiperglikemia, hipertensi dan peningkatan resiko infeksi)harus seimbang dengan manfaat yang diberikan oleh pengobatan ini. Pemberian preparat steroidintra artikular dapat membantu mengatasi inflamasi rheumatoid akut yang mengenai satu sendi.IV.5. ARTHRITIS GOUTArtritis gout adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi kristal asam urat pada
  36. 36. jaringan sekitar sendi (tofi). Gout juga merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompokgangguan metabolik yang ditandai oleh meningkatnya konsentrasi asam urat (hiperurisemia).A. Insidens dan PatogenesisGout dapat bersifat primer maupun sekunder. Gout primer merupakan akibat langsungpembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau ekskresi asam urat yang berkurang akibatproses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu.Masalah akan timbul bila terbentuk kristal-kristal dari monosodium urat monohidrat pada sendi-sendi dan jaringan sekitarnya. Kristal-kristal berbentuk jarum ini mengakibatkan reaksiperadangan yang bila berlanjut akan mengakibatkan nyeri hebat yang sering menyertai serangangout.. Jika tidak diobati endapan kristal akan menyebabkan kerusakan hebat pada sendi danjaringan lunakPada keadaan normal kadar urat serum pada pria mulai meningkat setelah pubertas. Pada wanitakadar urat tidak meningkat sampai setelah menopause karena estrogen meningkatkan ekskresiasam urat melalui ginjal. Setelah menopause kadar urat serum meningkat seperti pada pria.Gout jarang terjadi pada wanita. Sekitar 95% penderita gout adalah pria. Gout dapat ditemukandi seluruh dunia, pada semua ras manusia. Ada prevalensi familial dalam penyakit gout yangmengesankan suatu dasar genetik dari penyakit ini. Namun ada sejumlah faktor yang agaknyamempengaruhi timbulnya penyakit ini, termasuk diet, berat badan, dan gaya hidup.B. Gambaran KlinisTerdapat empat tahap dari perjalanan klinis penyakit gout yang tidak diobati. Tahap pertamaadalah hiperurisemia asimtomatik. Dalam tahap ini penderita tidak menunjukkan gejala-gejalaselain dari peningkatan asam urat serum. Hanya 20% dari penderita hiperurisemia asimptomatikyang menjadi serangan gout akut.
  37. 37. Tahap kedua adalah arthritis gout akut. Pada tahap ini terjadi pembengkakan mendadak dan nyeriyang luar biasa, biasanya pada sendi ibu jari kaki dan metatarsofalangeal. Arthritis bersifatmonoartikular dan menunjukkan tanda-tanda peradangan lokal. Mungkin terdapat demam danpeningkatan jumlah sel darah putih. Serangan dapat dipicu oleh pembedahan, trauma, obat-obatan, alkohol, atau stress emosional. Tahap ini biasanya mendorong pasien untuk mencaripengobatan segera. Sendi-sendi lain dapat terserang, termasuk sendi jari-jari tangan, lutut, matakaki, pergelangan tangan, dan siku. Serangan gout akut biasanya pulih tanpa pengobatan, tetapidapat memakan waktu 10 sampai 14 hari.Perkembangan dari serangan akut gout umumnya mengikuti serangkaian peristiwa sebagaiberikut. Mula-mula terjadi hipersaturasi dari urat plasma dan cairan tubuh. Selanjutnya diikutioleh penimbunan di dalam dan sekeliling sendi-sendi. Mekanisme terjadinya kristalisasi uratsetelah keluar dari serum masih belum jelas dimengerti. Serangan gout seringkali terjadi sesudahtrauma lokal atau ruptura dari tofi (timbunan natrium urat), yang mengakibatkan peningkatancepat dari konsentrasi asam urat lokal. Tubuh mungkin tidak dapat mengatasi peningkatan inidengan baik, sehingga terjadi pengendapan asam urat di luar serum. Kristalisasi dan penimbunanasam urat akan memicu serangan gout. Kristal-kristal asam urat memicu respons fagositik olehleukosit, sehingga leukosit memakan kristal-kristal urat dan memicu mekanisme responsperadangan lainnya. Respons peradangan ini dapat dipengaruhi oleh lokasi dan banyaknyatimbunan kristal asam urat. Reaksi peradangan dapat meluas dan bertambah sendiri, akibat daripenambahan timbunan kristal dari serum.Pembengkakan tangan kiri pada penderita goutTahap ketiga setelah serangan gout akut adalah tahap interkritical. Tidak terdapat gejala-gejalapada masa ini yang dapat berlangsung dari beberapa bulan sampai tahun. Kebanyakan orangmengalami ulangan serangan gout dalam waktu kurang dari 1 tahun jika tidak diobati.Tahap keempat adalah tahap gout kronik dimana timbunan urat terus bertambah dalam beberapatahun jika pengobatan tidak dimulai. Peradangan kronik akibat kristal-kristal asam uratmenyebabkan nyeri, sakit, dan kaku, juga pembesaran dan penonjolan dari sendi yang bengkak.
  38. 38. Serangan akut dari artritis gout dapat terjadi pada tahap ini. Tofi terbentuk pada masa goutkronik akibat insolubilitas realtif dari urat. Bursa olekranon, tendon Achilles, permukaanekstensor lengan bawah, bursa infrapatelar, dan heliks telinga adalah tempat yang seringdihinggapi tofi.C. DiagnosisDiagnosis artritis gout didasarkan pada kriteria American Rheumatism Association (ARA), yaitu:• Terdapat kristal urat dalam cairan sendi atau tofus dan atau• Bila ditemukan 6 dari 12 kriteria tersebut dibawah ini :1. Inflamasi maksimum pada hari pertama2. Serangan artritis akut lebih dari satu kali3. artritis nonartikuler4. Sendi yang terkena berwarna kemerahan5. Pembengkakan dan sakit pada sendi metatarsofalangeal6. Serangan pada sendi metatarsofalangeal unilateral7. Serangan pada sendi tarsal unilateral8. Adanya fokus9. Hiperurisemia10. Pada foto sinar-x tampak pembengkakan sendi asimetris11. Pada foto sinar-x tampak kista subkortikal tanpa erosi12. kultur bakteri cairan sendi negatifDiagnosa banding terutama dengan penyakit artritis monoartikular dan artritis yang timbulnyaakut, yaitu pseudogout, artritis piogenik, demam reumatik, artritis reumatoid, artritis virus danlain-lain. Dalam praktek sehari-hari ada dua jenis penyakit sendi yang harus dibedakan denganpenyakit pirai sendi yaitu pseudogout dan artritis piogenik.
  39. 39. D. PenatalaksanaanPenatalaksanaan terapi artritis gout sebaiknya mengikuti pedoman terapi sebagai berikut :• Hentikan serangan nyeri yang hebat pada serangan artritis gout akut• Berikan kolkisin sebagai pencegahan terhadap serangan berulang dari artritis gout• Evaluasi kadar asam urat dalam urine selama 24 jam setelah terapi nonfarmakologidiberikan yaitu diet rendah purin dijalankan• Penanggulangan untuk artritis gout kronisAdapun pengobatan artritis gout dibagi atas:1. Serangan akutCara yang efektif dan sederhana mengatasi serangan artritis gout yang akut adalah penggunaanobat-obat anti inflamasi non-steroid. Kesembuhan akan terlihat dalam waktu 24 jam dangejalanya menghilang setelah 3 hari. Preparat colchicine IV dengan takaran 1 sampai 2 mg yangdiencerkan dengan larutan NaCl 0,9% dan disuntikkan selama waktu 20 menit merupakanpreparat yang sangat efektif untuk meredakan gejala yang akut. Preparat colchicine oral dengantakaran 0,5 mg 2 X sehari hingga 4 X sehari selama 2 sampai 3 hari mungkin diperlukan untukkesembuhan total. Namun karena efek sampingnya yaitu timbulnya gejala toksisitasgastrointestinal, pengobatan ini sudah mulai ditinggalkan.Tindakan efektif lainnya yaitu dengan cara pungsi cairan sinovia dan penyuntikan deposteroiddengan dosis 40 mg (triamsinolon). Tindakan ini efektif terutama pada pasien yang tidakmendapat pengobatan per oral atau tidak dapat mentolerir pemakaian NSAID ataupun colchicine.Preparat urikosurik dan alopurinol harus dihindari selama serangan akut. Insidensi terjadinyaartritis gout akut yang rekuren dapat diturunkan dengan pemberian colchicine 2 X 0,5 mg/haridalam jangka waktu lama.2. Tindakan untuk menurunkan kadar asam urat serumTindakan untuk menurunkan kadar asam urat serum dapat diberikan preparat urikosurik yang
  40. 40. salah satunya adalah probenesid dengan dosis 500 mg tiap 12 jam dan dapat ditingkatkan hinggamencapai 3 gram/hari untuk kadar sama urat serum sampai 6 mg/dl.. Alternatif lain dapatdiberikan sulfinpirazon yang relatif bekerja singkat dan harus diberikan tiap 6 jam dengan dosisterbagi yang berkisar dari 300 – 1000 mg/hari.Allopurinol merupakan preparat urikosurik yang sangat efektif bekerja dengan menyekat lintasanmetabolik yang memproduksi asam urat, khususnya dengan menghambat kerja enzim xantinoksidase. Dosis sebesar 2 X 100 mg/hari dapat ditingkatkan hingga mencapai dosis 600 mg/hariuntuk mendapatkan efek yang diinginkan. Pada penyakit gout dengan tofus yang berat, preparatalopurinol dapat digunakan bersama-sama preparat urikosurik lainnya.VI.6. AMILOIDOSISAmiloidosis adalah suatu sindroma klinis yang ditandai penumpukan protein amiloid yangberbentuk fibrin pada jaringan tubuh. Penumpukan ini disebabkan oleh produksi yang berlebihandan pengeluaran yang menurun. Protein ini memiliki sifat biokimiawi yang unik. Ia dapattertumpuk secara setempat, tidak mempunyai arti klinis, atau secara klinis, atau secara nyatamengenai sistem organ manapun dalam tubuh, yang menyebabkan perubahan patofisiologi yangberat, atau penyakit ini dapat berupa pertengahan di antara keduanya. Bagi pasien dankeluarganya, amiloidosis adalah suatu hal yang menakutkan, karena itu pencegahan danpengobatan yang efektif adalah penting.A. KlasifikasiFibril amiloid dibentuk dari prekursor protein dengan berat molekul besar. Sebagai pengecualianadalah tipe amiloid yang berkaitan dengan hemodialisis, di mana ß2 mikroglobulin dapat terlibat.Bila amiloid sudah terbentuk, ia memiliki resistensi terhadap enzim proteolitik.Dalam bentuksekunder ( AA ), perubahan dari penyakit inflamasi atau stimulus imunologis kadang – kadangdiikuti dengan resorpsi komplet.
  41. 41. Amiloidosis terdapat dalam berbagai macam bentuk yang berbeda secara klinis dan biokimiawi,yang dikelompokkan berdasarkan susunan fibrin yang dimilikinya. Fibril amiloid memilikikomposisi kimiawi bervariasi dan berdasarkan hubungannya dengan sindroma klinisnya, ada tigajenis amiloid yang dominan. Amiloid AA, biasanya berhubungan dengan penyakit inflamasiyang lama, amiloid AL yang berhubungan dengan produksi yang berlebihan dariimmunoglobulin rantai pendek, dan amiloid ß2 mikroglobulin yang berhubungan denganhemodialisis.Selain tiga jenis amiloid tadi juga terdapat amiloid ASc yang biasa ditemukan pada pasien di atasumur 60 tahun, dengan penyakit jantung. Juga terdapat amiloid tipe AF yang menyertai tipeklinis dari amiloidosis familialTipe amiloidosis yang paling umum adalah :1.. Amiloidosis primer, biasanya berhubungan dengan kelainan sel plasma,multipel myeloma dan disebabkan amiloid tipe AL yang diproduksi berlebihan.2. Amiloidosis sekunder, berhubungan dengan penyakit inflamasi kronis,seperti rheumatoidarthritis, osteomyelitis, malaria, tuberkulosis, lepra, dan demam mediteranea familial, dandisebabkan fibril amiloid tipe AA, yang disintesis berlebihan.3. Amiloidosis familial (herediter), berhubungan dengan neuropathy, cardiomyopathy familial,disebabkan protein transthyretin abnormal yang diproduksi di hepar.4. Amiloidosis hemodialisis, yang berhubungan dengan hemodialisis ginjal, disebabkan ß2mikroglobulin yang tidak dapat dikeluarkan ginjal pada waktu hemodialisis.Selain itu juga terdapat penggolongan lain adalah penggolongan yang secara klinis:1. Amiloidosis (tanpa bukti akan atau sedang timbulnya penyakit) primer(tipe AL)2. Amiloid yang berkaitan dengan multiple mieloma (juga tipe AL)3. Amiloidosis sekunder atau yang reaktif (tipe AA) yang berkaitan dengan penyakit infeksikronis (misalnya osteomielitis, tuberkulosis, lepra) atau penyakit radang kronik (misalnyaarthritis rheumatoid)
  42. 42. 4. Amiloidosis heredofamilial, jenis kelainan neuropati [tipe AF transtiretin (praalbumin)],ginjal, kardiovaskuler, dan gejala lainnya, serta amiloidosis yang berkaitan dengan demamMediteranea yang bersifat familial (tipe AA)5. Amiloidosis setempat (fokal, seringkali menyerupai tumor, penumpukan timbul pada organyang terisolasi, seringkali kelenjar endokrin, tanpa tanda terserang secara sistemik)6. Amiloidosis yang berkaitan dengan usia, terutama pada jantung dan dalam otak7. Amiloidosis yang berkaitan dengan hemodialisis yang telah berlangsung lamaB. Manifestasi klinisAmiloid dapat menyerang persendian secara langsung dengan keberadaanya di membran sinovialdan cairan sinovial atau di tulang rawan sendi. Arthritis amiloid dapat menyerupai beberapapenyakit rheumatik karena timbul sebagai arthritis simetris pada persendian kecil dengan nodul,kekakuan sendi pada pagi hari dan kelelahan.Banyak pasien dengan arthropati amiloid ternyatamenderita multiple mieloma. Cairan sinovial biasanya mengandung sedikit sel darah putih,bekuan musin yang baik sampai tingkat menengah, predominansi sel mononuclear, dan tanpakristal. Penelitian dari contoh pembedahan dengan angka kejadian yang mencolok menunjukkanterdapatnya amiloid di tulang rawan, kapsul dan sinovial pada osteoarthritis. Penyebaran amiloiddi otot dapat mengakibatkan pseudomiopati.Amiloidosis pada endokardium atrial kiriGejala klinis lainnya tergantung dari sistem organ yang terkena. Bila mengenai paru – paru dapattimbul dyspneu, penyakit paru interstitial. Akibat infiltrasi amiloid pada miokard dan endokard,dapat timbul kardiomyopathi, aritmia, angina pektoris, gagal jantung kongestif. Pada ginjal dapattimbul sindroma nefrotik dan gagal ginjal. Bila terdapat di otak, dapat timbul gejala demensia,sehingga dianggap berperan dalam penyakit Alzheimer.Amiloidosis primer pada ginjal( Amiloidosis primer pada ginjal )C. Diagnosis
  43. 43. Diagnosis spesifik amiloid bergantung kepada pengumpulan spesimen jaringan melalui biopsidan penemuan amilod melalui pewarnaan yang tepat. Bila seorang pasien menderita penyakitkronik yang mengarah ke amiloid seperti arthritis rheumatoid, tuberkulosis, paraplegia, multiplemieloma, bronkiektasis, atau lepra yang disertai hepatomegali, splenomegali, malabsorpsi,gangguan jantung atau yang paling penting proteinuria, pikirkanlah kemungkinan amiloidsekunder. Bila diagnosis sudah terarah lakukanlah aspirasi pada lemak abdomen atau biopsirectum. Semua jaringan yang terkumpul harus diberi pewarnaan congo red dan diperiksamenggunakan mikroskop polarisasi untuk mencari sinar birefringence hijau.Potongan melintang amiloid pada miokardium dengan pewarnaan LugolD.Prognosis dan TerapiBila amiloidosis timbul pada pasien dengan arthritis rheumatoid, hal ini jarang diketahui bilaarthritisnya kurang dari 2 tahun.Waktu rata – rata arthritis sebelum menjadi amiloidosis adalah16 tahun.Berbagai lembaga telah melaporkan amiloidosis yang menyertai infeksi yang dapat diterapi,seperti osteomielitis, setidaknya remisi sebagian terjadi setelah penyakit primer diterapi.Amiloidosis generalisata biasanya merupakan penyakit yang berjalan perlahan dan mematikandalam beberapa tahun, tetapi prognosisnya lebih baik daripada yang terdahulu. Angka rata – ratalama hidup pada kelompok adalah 1- 4 tahun, tetapi pada beberapa pasien amiloid , dapatmencapai 5 – 10 tahun bahkan lebih.Tidak ada terapi spesifik untuk semua jenis amiloidosis. Terapi yang rasional adalah berupa :1. Mengurangi rangsangan antigen yang menghasilkan amiloid.2. Menghambat sintesis dan penumpukan fibril amiloid ekstraseluller.3. Memacu lisis atau mobilisasi penumpukan amiloid yang telah ada.Percobaan baru – baru ini menunjukkan bahwa ini pemberian prednisone (melphalan) atau
  44. 44. prednisone / melphalan / kolkisin dapat memperpanjang harapan hidupIV.7. OSTEOPOROSISOsteoporosis adalah suatu keadaan berkurangnya massa tulang sedemikian hingga dapatmenimbulkan patah tulang dengan trauma yang minimal. Definisi menurut WHO adalahpenurunan massa tulang > 2,5 kali standard deviasi massa tulang rata-rata dari populasi orangmuda, kerusakan arsitektur tulang, dan meluasnya kerapuhan tulang sehingga menurunkankekuatan tulang dan dicapainya ambang patah tulang. Penurunan massa tulang ini terjadi sebagaiakibat dari berkurangnya pembentukan, meningkatnya perusakan (destruksi) atau kombinasi darikeduanya. Penurunan masa tulang antara 1-2,5 standar deviasi dari rata-rata usia muda disebutosteopenia. Karakteristik dari tulang yang mengalami osteoporosis:• Massa tulang menurun, terjadi perubahan susunan dan komposisi pada tulang.• Penurunan densitas tulang karena toleransi tekanan yang maksimal, elastisitas danabsorpsi energi menurun.• Perubahan pada mikroarsitektur yang mempengaruhi kerangka trabekulum sehinggaketahanan terhadap tekanan menurun.• Perubahan pada makroarsitektur, diantaranya cortex menipis, kanalis medularismembesar, rasio korteks-medulla menurunA.Klasifikasi1. Osteoporosis PrimerMerupakan osteoporosis yang terjadi bukan sebagai akibat penyakit lain, dibedakan atas : Osteoporosis tipe I (pasca menopause) : kehilangan tulang terutama dibagian trabekula. Osteoporosis tipe II (senilis): terutama kehilangan massa tulang daerah korteks. Osteoporosis Idiopatik : terjadi pada usia muda dengan penyebab yang tak jelas.2. Osteoporosis SekunderTerjadi akibat penyakit lain (hiperparatiroid, gagal ginjal kronis).Tabel Perbedaan osteoporosis tipe pasca menopause dan tipe senilisTipe pasca menopause Tipe senilisUsia terjadinya (tahun) 51-75 >70Rasio jenis kelamin (W:P) 6:1 2:1
  45. 45. Hilangnya tulang Terutama trabekuler Trabekuler dan kortikalDerajat hilang tulang Dengan percepatan Tanpa percepatanLeta fraktur Vertebral dan radius Vertebral dan pinggulPenyebab utama Berhubungan dengan menopause Berhubungan dengan proses menua.B. Penyebab osteoporosisImobilisasi Defisiensi vitamin D TirotoksikosisMenopause Defisiensi vitamin C GastrektomiBerhubungan dengan usia Defisiensi florida AlkoholismeDefisiensi kalsium Kelebihan steroid MerokokDefisiesi protein Artritis reumatoid Penyakit hati lanjutHiperparatiroidisme Diabetes melitus Pengobatan dengan heparinC. Gejala KlinikGejala osteoporosis pada lanjut usia (terutama osteoporosis primer)bervariasi. Sesuai dengandinyatakan kejadian osteoporosis adalah silent disease dimana tulang digerogoti massanyasampai pada ambang patah tulang tanpa keluhan-keluhan klinis (tidak menunjukkan gejala).Seringkali juga menunjukkan gejala klasik berupa nyeri punggung, nyeri pada lutut terutamasehabis sholat atau duduk bersila. Nyeri seringkali dipicu oleh adanya stress fisik, akan hilangdengan sendirinya setelah 4-6 minggu.penderita lain mungkin datang dengan gejala patah tulang,turunnya tinggi badan, bungkuk punggung ( Dowagers hump). Perlu ditanyakan hal-hal yangmenunjang terjadinya osteoporosis, seperti : apakah tinggi badan menurun, bagaimana asupankalsiumnya, apakah ada aktivitas olahraga, diluar rumah (pajanan matahari yang cukup), dangaya hidup merokok atau alkohol berlebihan serta pemakaian obat-obatan yang menurunkanpembentukan tulang. Untuk yang wanita perlu ditanya tentang haidnya apakah teratur atau tidakdan barapa lama. Mereka yang termasuk rawan yaitu mereka yang punya tubuh kecil(kuranggizi), pecandu rokok, kopi, alkohol, mereka yang mempunyai otot kurang terbentuk karenakurang latihan, yang sudah mengalami oovektomi, yang mempunyai sindromamalabsorbsi(penyerapan yang kurang baik), uremic bone disease(gangguan fungsi ginjal), selainitu pemakaian obat-obat seperti Glucokortikoid, Anticonvulsant, Antasid pengikat fosfat, obat
  46. 46. GnRH-agonist therapy, Tetrasiklin,Isoniazid meningkatkan insiden terjadinya osteoporosis.D. Pemeriksaan Penunjang• Pemeriksaan laboratorium biasanya tidak banyak membantu. Sering kali kadarkalsium dan fosfat serum/urin normal.• Pemeriksaan osteokalsin serum dan pirilodin cross link urin yang menggambarkanaktivitas pembentukan dan pengrusakan tulang.• Penilaian Bone Mass sangat berguna untuk mendiagnosis osteoporosis secara dinidan secara cepat menilai hasil pengobatan.• Ct scan• Biopsi tulang walaupun memberikan gambaran yang baik tetapi tidak disukai karenamenggunakan cara invasif yang menggandung resiko.E. Penatalaksanaan Tindakan Dietetik : diet tinggi kalsium (sayur hijau, dan lain-lain). Hindari makanan tinggiprotein, tidak merokok, tidak minum alkohol, tidak minum kopiTerapi ini lebih bermanfaat sebagai tindakan pencegahan. Pada usia lanjut harus diberikanbersama jenis terapi yang lain. OlahragaYang terbaik adalah yang bersifat mendukung beban (weight bearing), misalnya jogging,berjalan cepat, dan lain-lain. Lebih baik dilakukan dibawah sinar matahari pagi karenamembantu pembuatan vitamin D. Obat-obatanYang membantu pembentukan tulang (steroid anabolik, fluorida)Yang mengurangi perusakan tulang (estrogen, kalsium, difosfonat, kalsitonin).• Terapi pengganti hormon berupa estrogen untuk osteoporosis pasca menopause.Osteoporosis Pada WanitaPada wanita yang telah mengalami menopause karena berkurangnya hormon estrogen maka yangterjadi adalah: Osteoblast mempunyai reseptor estrogen sehingga berkurangnya kadar estrogen
  47. 47. menyebabkan berkurangnya fungsi osteoblast. Estrogen menghambat fungsi osteoklas, sehingga berkurangnya kadar estrogenmenyebabkan peningkatan fungsi osteoklas. Estrogen merangsang sekresi kalsitonin, kalsitonin melindungi kerangka terhadapresorbsi kalsium yang berlebihan, berkurangnya kadar estrogen menyebabkan pergeserankeseimbangan kalsium yang negatif.Osteoporosis disadari setelah tulang mengalami kelainan seperti fraktur karena beban mininalsekalipun.Gejala-gejala yang sering didapatkan:1. Suatu saat penderita merasa nyeri pada tulang belakang secara mendadak.2. Mereka bisa menunjukan darimana asal nyeri, gerak apa yang membuat nyeri.3. Nyeri akan terasa hebat bila dipakai duduk dan berdiri.4. Nyeri akan kambuh jika bersin atau buang air besar.5. Bila patah di daerah punggung penderita akan bongkok dan tinggi badan berkurang sertaperasan tidak enak disekitar tulang iga. Patah tulang ini sering terjadi pangkal paha, iga danpergelangan tangan,Penanganan osteoporosis untuk mempertahankan masa tulang:1. Pemberian diet yang baik pada pertumbuhan anak sehingga terbetuk tulang yang prima.2. Mengatur makan dan kebiasaan gaya hidup.3. Untuk wanita post menopause diberi diet tinggi kalsium dan preparat estrogen, vit D3 danajuran agar melakukan latihan fisik.IV.8. KESIMPULANSejumlah gangguan muskuloskeletal dapat timbul pada lansia. Beberapa diantaranya merupakankelanjutan dari penderitaan sebelum usia lanjut dan sering menimbulkan kecacatan. Denganmeningkatnya populasi lansia, meningkat pula prevalensinya pada lansia akibat prosesdegeneratif. Dan tak jarang pula gangguan muskuloskeletal pada lansia menimbulkankemunduran fisik dan disabilitas yang sangat berpengaruh dalam hidup lansia. Diantarabanyaknya penyebab gangguan muskuloskeletal pada lansia, osteoarthritis merupakan salah satudari beberapa penyebab utama yang menimbulkan disabilitas orang yang berusia > 65 tahun.
  48. 48. Selain osteoartritis, gangguan lain pada muskuloskeletal yang juga sering dapat menimbulkandisabilitas yaitu artritis rheumatoid, artritis gout, osteoporosis juga amiloidosis. Untukmemulihkan penderita dari disabilitas akibat gangguan muskuloskeletal diperlukan tindakanrehabilitasi yang merupakan gabungan pengobatan medis dan fisioterapi, bila perlu tindakanpembedahan.DAFTAR PUSTAKAAsdie, Ahmad H. Harrisons Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Volume 4, Edisi BahasaIndonesia. Jakarta: EGC. 2000.Dambro. Griffiths 5 – Minutes Clinical Consult. USA: Lippincott Williams and Wilkins. 2001.Hazzard, W.R. et al. Principles of Geriatrtrics Medicine and Gerontology, Second Edition. USA:MC Graw Hill.1996.Lonergen, Edmund T. A Lange Clinical Manual Geriatrics, First Edition. London: Prentice –Hall International.1996.Noer, HM S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.1996.Price, S A and Wilson L M. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Buku Kedua,Edisi Kempat. Jakarta: EGC.1995.R.Boedhi-Darmojo. Buku Ajar Geriatri. Jakarta : FKUI. 1999.Smith, A.N. Exton M.D. and P.W. Overstall MB; Guidelines an Medicine Geriatrics Volume 1;University Park Press; Baltimore, 1979.NN. UV Intensity May Affect Autoimmune Disease, available from
  49. 49. http://www.ehp.niehs.nih.gov/docshttp://www.google.comASUHAN KEPERAWATAN PADA LANJUT USIA (LANSIA)17 April 2010 yha_princess Tinggalkan Komentar Go to commentsBAB IPENDAHULUANLatar BelakangDalam Lokakarya Nasional Keperawatan di Jakarta (1983) telah disepakati bahwa keperawatanadalah “suatu bentuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang didasarkan pada ilmu dankiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual yang didasarkanpada pencapaian kebutuhan dasar manusia”. Dalam hal ini asuhan keperawatan yang diberikankepada pasien bersifat komprehensif, ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat, baikdalam kondisi sehat dan sakit yang mencakup seluruh kehidupan manusia. Sedangkan asuhanyang diberikan berupa bantuian-bantuan kepada pasien karena adanya kelemahan fisik danmental, keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemampuan dan atau kemauan dalammelaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri.Pada makalah ini akan dibahas secara singkat asuhan keperawatan pada pasien lanjut usia ditatanan klinik (clinical area), dimanan pendekatan yang digunakan adalah proses keperawatanyang meliputi pengkajian (assessment), merumuskan diagnosa keperawatan (Nursing diagnosis),merencanakan tindakan keperawatan (intervention), melaksanakan tindakan keperawatan(Implementation) dan melakukan evaluasi (Evaluation). Dibawah ini ada beberapa alasantimbulnya perhatian kepada lanjut usia, yaitu : 1. Pensiunan dan masalah-masalahnya 2. Kematian mendadak karena penyakit jantung dan stroke 3. Meningkatnya jumlah lanjut usia
  50. 50. 4. Pencemaran pelayanan kesehatan 5. Kewajiban Pemerintahterhadap orang cacat dan jompo 6. perkembangan ilmu 7. Program PBB 8. Konfrensi Internasional di WINA tahun 1983 9. Kurangnya jumlah tempat tidur di rumah sakit 10. Mahalnya obat-obatanBAB IIPEMBAHASAN 1. A. Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi LansiaKegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lansia menurut Depkes, dimaksudkan untukmemberikan bantuan, bimbingan pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usiasecara individu maupun kelompok, seperti di rumah / lingkungan keluarga, Panti Werda maupunPuskesmas, yang diberikan oleh perawat. Untuk asuhan keperawatan yang masih dapatdilakukan oleh anggota keluarga atau petugas sosial yang bukan tenaga keperawatan, diperlukanlatihan sebelumnya atau bimbingan langsung pada waktu tenaga keperawatan melakukan asuhankeperawatan di rumah atau panti.Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan, disesuaikan pada kelompok lanjut usia,apakah lanjut usia aktif atau pasif, antara lain:1 Untuk lanjut usia yang masih aktif, asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentangpersonal hygiene: kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu: kebersihan diritermasuk kepala, rambut, badan, kuku, mata serta telinga: kebersihan lingkungan seperti tempattidur dan ruangan : makanan yang sesuai, misalnya porsi kecil bergizi, bervariai dan mudahdicerna, dan kesegaran jasmani.2 Untuk lanjut usia yang mengalami pasif, yang tergantung pada orang lain. Hal yang perludiperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif pada dasarnya sama
  51. 51. seperti pada lanjut usia aktif, dengan bantuan penuh oleh anggota keluarga atau petugas.Khususnya bagi yang lumpuh, perlu dicegah agar tidak terjadi dekubitus (lecet).Lanjut usia mempunyai potensi besar untuk menjadi dekubitus karena perubahan kulit berkaitandengan bertambahnya usia, antara lain: 1. Berkurangnya jaringan lemak subkutan 2. Berkurangnya jaringan kolagen dan elastisitas 3. Menurunnya efisiensi kolateral capital pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tipis dan rapuh 4. Adanya kecenderungan lansia imobilisasi sehingga potensi terjadinya dekubitus. 1. B. Pendekatan Perawatan Lanjut Usia 1. Pendekatan fisikPerawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang dialamiklien lanjut usia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yangmasih bias di capai dan dikembangkan, dan penyakit yang yang dapat dicegah atau ditekanprogresifitasnya. Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagianyaitu: 1. Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih mampu melakukan sendiri. 2. Klien lanjut usia yang pasif atau yang tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit. Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien usia lanjut ini terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan keberhasilan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya.Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan, mengingatsumber infeksi dapat timbul bila keberhasilan kurang mendapat perhatian.
  52. 52. Disamping itu kemunduran kondisi fisik akibat proses penuaan, dapat mempengaruhi ketahanantubuh terhadap gangguan atau serangan infeksi dari luar. Untuk klien lanjut usia yang masih aktifdapat diberikan bimbingan mengenai kebersihan mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan,kebersihan rambut dan kuku, kebersihan tempat tidur serta posisi tidurnya, hal makanan, caramemakan obat, dan cara pindahdari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya. Hal ini pentingmeskipun tidak selalu keluhan-keluhan yang dikemukakan atau gejala yang ditemukanmemerlukan perawatan, tidak jarang pada klien lanjut usia dihadapkan pada dokter dalamkeadaan gawat yang memerlukan tindakan darurat dan intensif, misalnya gangguanserebrovaskuler mendadak, trauma, intoksikasi dan kejang-kejang, untuk itu perlu pengamatansecermat mungkin.Adapun komponen pendekatan fisik yang lebuh mendasar adalah memperhatikan atau membantupara klien lanjut usia untuk bernafas dengan lancar, makan, minum, melakukan eliminasi, tidur,menjaga sikap tubuh waktu berjalan, tidur, menjaga sikap, tubuh waktu berjalan, duduk,merubah posisi tiduran, beristirahat, kebersihan tubuh, memakai dan menukar pakaian,mempertahankan suhu badan melindungi kulit dan kecelakaan.Toleransi terhadap kakuranganO2 sangat menurun pada klien lanjut usia, untuk itu kekurangan O2 yang mendadak harusdisegah dengan posisi bersandar pada beberapa bantal, jangan melakukan gerak badan yangberlebihan.Seorang perawat harus mampu memotifasi para klien lanjut usia agar mau dan menerimamakanan yang disajikan. Kurangnya kemampuan mengunyah sering dapat menyebabkanhilangnya nafsu makan. Untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menghidangkan makananagak lunak atau memakai gigi palsu. Waktu makan yang teratur, menu bervariasi dan bergizi,makanan yang serasi dan suasana yang menyenangkan dapat menambah selera makan, bila adapenyakit tertentu perawat harus mengatur makanan mereka sesuai dengan diet yang dianjurkan.Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan, mengingatsumber infeksi bisa saja timbul bila kebersihan kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu,kebersihan badan, tempat tidur, kebersihan rambut, kuku dan mulut atau gigi perlu mendapatperhatian perawatan karena semua itu akan mempengaruhi kesehatan klien lanjut usia.

×