Seni Suara

18,684 views

Published on

Published in: Education, Technology, Sports
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
18,684
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
16
Actions
Shares
0
Downloads
148
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Seni Suara

  1. 1. SENI SUARA SENI suara sama ada bunyi-bunyian, muzik dan nyanyian adalah sebahagian daripada budaya hidup manusia. Setiap bangsa mempunyai seni suara yang tersendiri. Pada umumnya seni suara bertujuan mendapat hiburan dan keseronokan. Antara hiburan yang dapat menghibur jiwa dan menenangkan hati serta mengenakkan telinga ialah nyanyian. Hal ini dibolehkan oleh Islam, selama tidak dicampuri cakap kotor, cabul dan yang kiranya dapat mengarah kepada perbuatan dosa. Tidak salah pula kalau disertainya dengan muzik yang tidak membangkitkan nafsu. Bahkan disunatkan dalam situasi gembira, guna melahirkan perasaan riang dan menghibur hati, seperti pada hari raya, perkahwinan, kedatangan orang yang sudah lama tidak datang, saat walimah, akidah dan pada waktu lahirnya seorang bayi.
  2. 2. Seni Suara Menurut Pandangan Islam 4) Imam Asy-Syaukani, dalam kitabnya NAIL-UL-AUTHAR 5) Abu Ishak Asy-Syirazi dalam kitabnya AL-MUHAZZAB 6) Al-Alusi dalam tafsirnya RUH-UL-MA‘ANI 7) ‘Abd-Ur-Rahman Al-Jazari di dalam kitabnya AL-FIQH ‘ALA AL-MADZAHIB-IL ARBA‘A
  3. 3. 1) Imam Asy-Syaukani, dalam kitabnya NAIL-UL-AUTHAR menyatakan sebagai berikut. a. Ulama’ berselisih pendapat tentang hukum menyanyi dan alat muzik. Menurut mazhab Jumhur adalah haram, sedangkan mazhab Ahl-ul-Madinah, Azh-Zhahiriyah dan jama‘ah Sūfiyah memperbolehkannya. b. Abu Mansyur Al-Baghdadi (dari mazhab Asy-Syafi‘i) menyatakan: "‘ABDULLAH BIN JA‘FAR berpendapat bahawa menyanyi dan muzik itu tidak menjadi masalah. Dia sendiri pernah menciptakan sebuah lagu untuk dinyanyikan para pelayan (budak) wanita (jawari) dengan alat muzik seperti rebab. Ini terjadi pada masa Amir-ul-Mu’minin ‘Alibin Abi Thalib r.a. c. Imam Al-Haramain di dalam kitabnya AN-NIHAYAH menukil dari para ahli sejarah bahwa ‘Abdullah bin Az-Zubair memiliki beberapa jariyah (wanita budak) yang biasa memainkan alat gambus. Pada suatu hari Ibnu ‘Umar datang kepadanya dan melihat gambus tersebut berada di sampingnya. Lalu Ibnu ‘Umar bertanya: "Apa ini wahai shahabat Rasulullah? " Setelah diamati sejenak, lalu ia berkata: "Oh ini barangkali timbangan buatan negeri Syam," ejeknya. Mendengar itu Ibnu Zubair berkata: "Digunakan untuk menimbang akal manusia." d. Ar-Ruyani meriwayatkan dari Al-Qaffal bahwa mazhab Maliki membolehkan menyanyi dengan ma‘azif (alat-alat musik yang berdawai). e. Abu Al-Fadl bin Thahir mengatakan: "Tidak ada perselisihan pendapat antara ahli Madinah tentang, menggunakan alat gambus. Mereka berpendapat boleh saja." Ibnu An Nawawi di dalam kitabnya AL-‘UMDAH mengatakan bahwa para shahabat Rasulullah yang membolehkan menyanyi dan mendengarkannya antara lain ‘Umar bin Khattab, ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Abd-ur-Rahman bin ‘Auf, Sa‘ad bin Abi Waqqas dan lain-lain. Sedangkan dari tabi‘in antara lain Sa‘id bin Musayyab, Salim bin ‘Umar, Ibnu Hibban, Kharijah bin Zaid, dan lain-lain.
  4. 4. 2) Abu Ishak Asy-Syirazi dalam kitabnya AL-MUHAZZAB berpendapat: a. Diharamkan menggunakan alat-alat permainan yang membangkitkan hawa nafsu seperti alat musik gambus, tambur (lute), mi‘zah (sejenis piano), drum dan seruling. b. Boleh memainkan rebana pada pesta perkawinan dan khitanan. Selain dua acara tersebut tidak boleh. c. Dibolehkan menyanyi untuk merajinkan unta yang sedang berjalan.
  5. 5. 3) Al-Alusi dalam tafsirnya RUH-UL-MA‘ANI a. Al-Muhasibi di dalam kitabnya AR-RISALAH berpendapat bahwa menyanyi itu haram seperti haramnya bangkai. b. Ath-Thursusi menukil dari kitab ADAB-UL-QADHA bahwa Imam Syaf‘i berpendapat menyannyi itu adalah permainan makruh yang menyerupai pekerjaan bathil (yang tidak benar). Orang yang banyak mengerjakannya adalah orang yang tidak beres pikirannya dan ia tidak boleh menjadi saksi. c. Al-Manawi mengatakan dalam kitabnya: ASY-SYARH-UL-KABIR bahwa menurut mazhab Syafi‘i menyanyi adalah makruh tanzih yakni lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan agar dirinya lebih terpelihara dan suci. Tetapi perbuatan itu boleh dikerjakan dengan syarat ia tidak khawatir akan terlibat dalam fitnah. d. Dari murid-murid Al-Baghawi ada yang berpendapat bahwa menyanyi itu haram dikerjakan dan didengar.
  6. 6. e. Ibnu Hajar menukil pendapat Imam Nawawī dan Imam Syafi‘i yang mengatakan bahwa haramnya (menyanyi dan main muzik) hendaklah dapat dimengerti karena hal demikian biasanya disertai dengan minum arak, bergaul dengan wanita, dan semua perkara lain yang membawa kepada maksiat. Adapun nyanyian pada saat bekerja, seperti mengangkut suatu yang berat, nyanyian orang ‘Arab untuk memberikan semangat berjalan unta mereka, nyanyian ibu untuk mendiamkan bayinya, dan nyanyian perang, maka menurut Imam Awza‘i adalah sunat. f. Jama‘ah Sufiah berpendapat boleh menyanyi dengan atau tanpa iringan alat-alat muzik. g. Sebagian ‘ulama’ berpendapat boleh menyanyi dan main alat muzik tetapi hanya pada perayaan- perayaan yang memang dibolehkan Islam, seperti pada pesta pernikahan, khitanan, hari raya dan hari-hari lainnya. h. Al-‘Izzu bin ‘Abd-us-Salām berpendapat, tarian-tarian itu bid‘ah. Tidak ada laki-laki yang mengerjakannya selain orang yang kurang waras dan tidak pantas, kecuali bagi wanita. Adapun nyanyian yang baik dan dapat mengingatkan orang kepada akhirat tidak mengapa bahkan sunat dinyanyikan. i. Imam Balqini berpendapat tari-tarian yang dilakukan di hadapan orang banyak tidak haram dan tidak pula makruh kerana tarian itu hanya merupakan gerakan-gerakan dan belitan serta geliat anggota badan. Ini telah dibolehkan Nabi s.a.w. kepada orang-orang Habsyah di dalam masjid pada hari raya. j. Imam Al-Mawardi berkata: "Kalau kami mengharamkan nyanyian dan bunyi-bunyian alat-alat permainan itu maka maksud kami adalah dosa kecil bukan dosa besar."
  7. 7. 4) ‘ABD-UR-RAHMAN AL-JAZARI di dalam kitabnya AL-FIQH ‘ALĀ AL-MADZĀHIB- IL ARBA‘A mengatakan: a. ‘Ulama’-‘ulama’ Syafi‘iyah seperti yang diterangkan oleh Al-Ghazali di dalam kitab IHYA ULUMIDDIN. Beliau berkata: "Nash nash syara' telah menunjukkan bahwa menyanyi, menari, memukul rebana sambil bermain dengan perisai dan senjata-senjata perang pada hari raya adalah mubah (boleh) sebab hari seperti itu adalah hari untuk bergembira. Oleh karena itu hari bergembira dikiaskan untuk hari-hari lain, seperti khitanan dan semua hari kegembiraan yang memang dibolehkan syara'. b. Al-Ghazali mengutip perkataan Imam Syafi'i yang mengatakan bahwa sepanjang pengetahuannya tidak ada seorangpun dari para ulama Hijaz yang benci mendengarkan nyanyian, suara alat-alat muzik, kecuali bila di dalamnya mengandung hal-hal yang tidak baik. Maksud ucapan tersebut adalah bahwa macam-macam nyanyian tersebut tidak lain nyanyian yang bercampur dengan hal-hal yang telah dilarang oleh syara'.
  8. 8. c. Para ulama Hanfiyah mengatakan bahwa nyanyian yang diharamkan itu adalah nyanyian yang mengandung kata-kata yang tidak baik (tidak sopan), seperti menyebutkan sifat-sifat jejaka (lelaki bujang dan perempuan dara), atau sifat-sifat wanita yang masih hidup ("menjurus" point, lead in certain direction, etc.). Adapun nyanyian yang memuji keindahan bunga, air terjun, gunung, dan pemandangan alam lainya maka tidak ada larangan sama sekali. Memang ada orang orang yang menukilkan pendapat dari Imam Abu Hanifah yang mengatakan bahwa ia benci terhadap nyanyian dan tidak suka mendengarkannya. Baginya orang-orang yang mendengarkan nyanyian dianggapnya telah melakukan perbuatan dosa. Di sini harus dipahami bahwa nyanyian yang dimaksud Imam Hanafi adalah nyanyian yang bercampur dengan hal-hal yang dilarang syara'. d. Para ulama Malikiyah mengatakan bahwa alat-alat permainan yang digunakan untuk memeriahkan pesta pernikahan hukumnya boleh. Alat muzik khusus untuk momen seperti itu misalnya gendang, rebana yang tidak memakai genta, seruling dan terompet. e. Para ulama Hanbaliyah mengatakan bahwa tidak boleh menggunakan alat-alat musik, seperti gambus, seruling, gendang, rebana, dan yang serupa dengannya. Adapun tentang nyanyian atau lagu, maka hukumnya boleh. Bahkan sunat melagukannya ketika membacakan ayat-ayat Al-Quran asal tidak sampai mengubah aturan-aturan bacaannya.
  9. 9. PRAKTIK SENI SUARA DALAM SEJARAH ISLAM Riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘A’isyah r.a. ia berkata (Lihat SHAHIH BUKHARI, Hadits No. 949, 925. Lihat juga SHAHIH MUSLIM, Hadits No. 829 dengan tambahan lafazh:( (ِ ْ‫َ َيْ َ َا ُ َ ّي َي‬ ‫و ل ست مغن َت ن‬ Kedua-duanya" (perempuan itu) bukanlah penyannyi"): "Pada suatu hari Rasulullah masuk ke tempatku. Di sampingku ada dua gadis perempuan budak yang sedang mendendangkan nyanyian (tentang hari) Bu‘ats (Bu‘ats adalah nama salah satu benteng untuk Al- AWS yang jaraknya kira-kira dua hari perjalanan dari Madīnah. Di sana pernah terjadi perang dahsyat antara kabilah Aus dan Khazraj tepat 3 tahun sebelum hijrah).(di dalam riwayat Muslim ditambah dengan menggunakan rebana). (Kulihat) Rasūlullāh s.a.w. berbaring tetapi dengan memalingkan mukanya. Pada sa‘at itulah Abu Bakar masuk dan ia marah kepada saya. Katanya: "Di tempat Nabi ada seruling setan?" Mendengar seruan itu, Nabi lalu menghadapkan mukanya kepada Abu Bakar seraya bersabda: "Biarkanlah keduanya, hai Abu Bakar!". Tatkala Abu Bakar tidak memperhatikan lagi maka saya suruh kedua budak perempuan itu keluar. Waktu itu adalah hari raya di mana orang-orang Sudan sedang (menari dengan) memainkan alat-alat penangkis dan senjata perangnya (di dalam masjid)....."

×