Kami tidak bisu (book)

4,636 views

Published on

Penulis : Kamilia Manaf
Editor : Dewi Nova Wahyuni dan Arwani
Kontributor : Ino, Panca dan Umi

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,636
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
240
Actions
Shares
0
Downloads
166
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kami tidak bisu (book)

  1. 1. KamiTidak Bisu Kongkow Lez Kamilia Manaf
  2. 2. Kami Tidak Bisu Kami Tidak Bisu Kongkow LEZ ISBN: 978-979-17983-3-4 Penulis : Kamilia Manaf Editor : Dewi Nova Wahyuni Arwani Kontributor : Umi, Panca dan Ino Disain Sampul : Estha Vadose Layout & isi : Agus Wiyono Cetakan pertama, Juni 2011 Penerbit: Institut Pelangi Perempuanii
  3. 3. Ucapan Terima KasihU capan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua temankomunitas yang pernah hadir dalam acara Kongkow Lez. Kehadiran,keberanian, partisipasi teman-teman selama ini merupakan inspirasi bagikami dan teman-teman lesbian muda dan remaja lainnya. Terima kasihjuga kepada para narasumber Kongkow Lez yang bersedia hadir di tengahkesibukan dan memberikan banyak informasi kepada komunitas kami.Terima kasih kepada para kontributor, Ino, Panca dan Umi, yang memberikankomitmen tinggi mendengarkan hasil rekaman Kongkow Lez berulang-ulang untuk mencatatkan notulensi yang sangat bermanfaat untuk teman-teman yang membutuhkan informasi ini. Terima kasih kepada sister-sister dalam perjalanan hidup penulis danInstitut Pelangi Perempuan, Sely Fitriani dan SN Laila (Damar Lampung),Kristi Purwandari (Yayasan Pulih), Yeni Rosa Damayanti, MonicaTanuhandaru, Erliny Rosalinda, Mariana Ammiruddin (Yayasan JurnalPerempuan), Vivi Widyawati (Perempuan Mahardhika). Dukungan dankehadiran kalian sangat membantu dan berarti dan mengajarkan akutentang arti sisterhood yang sebenarnya. Ibu Gadis Arivia, meskipun kamijarang sekali berkomunikasi, sebenarnya inspirasi pertama untukmenuliskan buku ini datang darinya pada tahun 2006. Dia pernahmengatakan kepada penulis pentingnya mencatatkan hasil perjalanan dandiskusi Kongkow Lez. Dukungan WRRC Sexuality Group untuk membantu iii
  4. 4. Kami Tidak Bisu dana penerbitan dan peluncuran buku ini, terutama Lin Chew dalam peran sisterhood-nya selalu menjadi teman konsultasi untuk IPP selama bertahun- tahun. Terima kasih juga kepada teman-teman yang sangat baik, menginsipirasi dan menginformasikan banyak hal tentang isu LGBT dalam penulisan buku ini, Sezen Yalcin teman baikku, Mash yang sering memotivasi penulis dalam proses pengorganisasian komunitas IPP dari awal sampai sekarang. Jen Danch dan Savoy Howe (Shape Your Life) yang memberikan banyak pelajaran tentang arti menjadi penyintas. All of you are amazing! Pastinya juga terima kasih sebesar-besarnya untuk teman-teman staf IPP, Ino, Ratna, dan Lia yang selalu berusaha memahami penulis, dengan memberikan waktu dan ruang untuk menyelesaikan buku ini. Juga Anak Pelangi Club yang berlatih setiap minggu dengan semangat untuk mendukung acara peluncuran buku ini. Mbak Dewi Nova, teman baik untuk berkonsultasi konsep penulisan buku, sekaligus editing bersama Mas Arwani. Estha Vadose dengan tangan ciamiknya membuat cover keren buku ini, serta Mas Agus yang berusaha layout cepat di waktu yang mepet. He-he.... Kedua kakakku dan Papi yang selalu berusaha memahami dan mengerti perjalanan hidupku. Dan paling spesial untuk seorang perempuan yang sangat aku cintai sampai kapan pun, Mami yang banyak mengajarkan tentang kemandirian dan ketegaran sebagai perempuan selama hidupnya. Juga saat-saat beliau berjuang melawan kanker payudara sebelum menghembuskan nafas terakhir dua tahun lalu. Ananda tuliskan kata-kata ini tepat di hari ulang tahun Mami. Terima kasih atas kasih sayangmu, Mami....iv
  5. 5. Daftar IsiUcapan Terima Kasih ....................................................................... iiiPengantar Penulis: Kami Tidak Bisu ................................................. viBab I Apakah Aku Normal? ......................................................... 1Bab II Berterus Terang kepada Orang Tua 7 .................................. 7Bab III Berterus Terang atau Menyimpannya? ............................... 19Bab IV Sentul - Kantil, Butch - Femme, dan Andro ........................ 35Bab V Relasi yang Sehat ............................................................... 49Bab VI Kesehatan Reproduksi Perempuan Lesbian ....................... 63Bab VII Safe Sex is Hot Sex ............................................................. 79Bab VIII Lesbian dan Tafsiran Agama ............................................... 99Bab IX Persaudaraan Feminis dan Lesbian .................................... 133Bab X Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusia ............................ 147Bab XI Transgender, Transeksual, Drag Queen, Drag King, dan Interseks ............................................................................ 175Tentang Penulis ............................................................................... 190Tentang Institut Pelangi Perempuan................................................ 191 v
  6. 6. Kami Tidak Bisu Pengantar Penulis Kami Tidak Bisu P ada pertengahan 2005 komunitas lesbian muda mulai tumbuh dan saling bertemu melalui nongkrong dari kafe ke kafe di wilayah Jakarta, pada setiap Jumat atau Sabtu malam. Awalnya memang sekadar ingin nongkrong bareng melepas penat setelah suntuknya hari-hari kerja, kuliah, atau sekolah. Itulah awal pertemuan kami, sebelum memutuskan menjadi organisasi lesbian muda, Institut Pelangi Perempuan, pada tahun 2006. Membicarakan kemunculan komunitas gay dan atau lesbian di Indonesia, banyak sekali orang bertanya mengapa sulit menemukan komunitas lesbian di ruang publik, seperti di beberapa klub malam, kafe-kafe, atau acara-acara komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Di beberapa negara yang pernah aku kunjungi demikian juga halnya. Memang dilihat karakter komunitasnya, laki-laki gay lebih banyak muncul, berbeda dari lesbian. Aku pun sempat mempertanyakan hal ini kepada diri sendiri. Komunitas gay lebih banyak yang cuek untuk menunjukkan identitas dirinya, ketimbang lesbian. Meskipun tidak semua laki-laki gay seperti itu, rasanya mayoritas demikian.vi
  7. 7. Setelah beberapa kali coba mengamati, aku pikir faktor budaya patriarkiyang memberikan banyak larangan dan batasan terhadap perempuan,membatasi aktivitas perempuan di ruang publik, berbicara, danmemposisikan perempuan untuk mengurus rumah tangga atau domestik,itulah yang mempengaruhi kemunculan lesbian di ruang publik. Mayoritasorang tua mendidik anak perempuan untuk menjaga sopan santun dannama baik keluarga melalui larangan-larangan dan batasan tersebut.Terlebih lagi jika berbicara soal seksualitas, label “perempuan gak bener”akan selalu dilekatkan pada perempuan jika ada yang berani keluar danberbicara hal yang dianggap tabu tersebut. Berbeda dari laki-laki yangdipandang harus lebih aktif berbicara dan aktif di ruang publik. Sehingga inipun mempengaruhi karakter dan sifat banyak perempuan lesbian, yangtidak akan lebih demonstratif menunjukkan identitas seksual merekadibandingkan dengan para laki-laki gay. Selain itu, aku juga sempat menanyakan kepada beberapa teman lesbianmuda dan remaja mengenai alasan mereka jarang muncul di acara diskusiatau ngumpul bareng teman-teman laki-laki gay. Beberapa dari merekaternyata memang merasa tidak nyaman, karena sering merasa adadominasi dari laki-laki gay pada ruang bicara dan berpendapat, yangmembuat mereka enggan bersikap lebih aktif. Jadi, kita bisa melihat bahwabudaya patriarki pun muncul pada komunitas LGBT. Terlebih lagi jikamereka berusia muda, ada sebuah budaya di Indonesia yang melekat dipemikiran mereka yang merasa harus menghormati yang lebih tua. Danmembiarkan yang lebih tua untuk lebih banyak berbicara atau berpendapat,karena menganggap mereka lebih berpengalaman dalam hidup.Menurutku, kita semua seharusnya setara, baik yang berusia muda maupuntua. Selain itu, memang mayoritas teman lesbian yang baru muncul sebagailesbian di komunitas LGBT masih merasa tidak nyaman untuk langsung vii
  8. 8. Kami Tidak Bisu bergabung dengan laki-laki gay. Meskipun orientasi seksualnya sesama, tetap saja beberapa dari mereka masih kurang nyaman untuk langsung berkumpul bersama laki-laki dalam satu komunitas. Karena itu, buat aku penting untuk membuat pertemuan yang memberikan perhatian lebih, ruang yang lebih luas kepada lesbian muda atau remaja. Kemudian ketika mereka sudah lebih merasa percaya diri, bisa diajak untuk membaur dengan kelompok LGBT lainnya, baru lebih aktif di ruang bicara yang lebih luas di forum LGBT. Melalui pendekatan seperti itu, hasilnya saat ini mulai bermunculan aktivis lesbian muda yang sudah aktif dalam pergerakan LGBT di Indonesia. Pada konteks pergerakan LGBT di Indonesia, kemunculan dan pergerakan laki-laki gay lebih maju ketimbang kelompok lesbian. Mereka sudah memulai sejak tahun 1980-an. Saat itu mereka sudah bisa mengorganisasi kelompok mereka melalui isu HIV/AIDS yang mendapat dukungan dana cukup banyak dan perhatian dari negara asing. Pastinya sebuah kesempatan yang sangat menunjang perkembangan komunitas laki-laki gay di Indonesia. Sementara kelompok perempuan lesbian, yang dianggap tidak rentan dan tidak penting terkait isu HIV/AIDS, baru berkembang pasca- reformasi tahun 1998, berkat dukungan dan bantuan kelompok feminis yang mulai makin tumbuh pada masa itu. Ini juga merupakan kritikku dalam budaya patriarki, bagaimana hak-hak istimewa yang dimiliki laki- laki menempatkkan mereka untuk lebih mempunyai akses di bidang ekonomi ketimbang perempuan. Sampai saat ini pun aku masih melihat dalam pergerakan LGBT belum mencapai kesetaraan gender, karena kepemimpinan masih didominasi laki-laki gay. Namun, semua tantangan itu tidak menyurutkan semangat kami untuk terus mengorganisasi diri. Semangat itu aku tuangkan dalam penulisan buku ini, tentang perjuangan kami sebagai kelompok perempuan lesbian muda. Di komunitas kami, proses saling mengenal kebanyakan dilakukanviii
  9. 9. Pengantar Penulismelalui media chatting internet, sebuah ruang chat komunitas lesbian.Ruang chat ini tempat berkumpul para lesbian dari seluruh Indonesia untuksaling berinteraksi dan berkomunikasi. Ada yang bertujuan sekadar untukmencari teman ngobrol sampai pada keinginan untuk mendapatkan pacar.Dalam ruang chat seperti ini, jika proses obrolan berlangsung nyaman,biasanya dilanjutkan dengan bertukar nomor telepon untuk melanjutkankomunikasi lebih intensif. Tidak jarang akan diteruskan membuat janjibertemu tatap muka, jika memang proses komunikasi melalui teleponterasa nyaman. Kita bisa melihat dalam proses ini bagaimana sebuahkepercayaan sangat penting untuk mereka, dapat membuat keputusansaling bertemu. Pertemuan itu ada yang berlanjut sebagai pertemananbiasa atau menuju hubungan percintaan yang romantis. Komunitas ini pada awalnya hanya sebuah komunitas kecil terdiri atas 5- 6 orang. Kemudian terus tumbuh, semakin bertambah banyak jumlahnyahingga sekitar 15 orang. Kami berkumpul dari satu kafe ke kafe lain diwilayah Jakarta. Masing-masing dari kami saling mengontak danmengundang teman-teman baru yang dikenal lewat jaringan internettersebut. Undangan ngumpul atau nongkrong biasanya kami sebar melaluilayanan pesan singkat (SMS) telepon seluler menjelang akhir minggu.Sering kali teman-teman baru datang ikut berkumpul. Mungkin itukeuntungan yang didapatkan komunitas lesbian di zaman sekarang yangsudah tersedia fasilitas internet dan telepon seluler yang cukup terjangkausampai ke pelosok desa sekalipun. Teknologi komunikasi dan informasi ini sangat membantu danmemudahkan kami untuk saling berinteraksi dengan rasa lebih aman dannyaman, karena memang cukup sulit untuk kami muncul dan berinteraksidi ruang publik. Sebab, kami memang kurang aman dan nyaman denganmayoritas masyarakat yang masih homofobia, dan isu lesbian yang masihsensitif di ruang publik. Apalagi sekarang sudah ada fasilitas jejaring sosial ix
  10. 10. Kami Tidak Bisu di internet seperti Friendster, Facebook, dan Twitter yang makin memudahkan komunitas kami untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi di internet. Terbayang tantangan lesbian di zaman dulu, pasti sangat sulit untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi. Setahuku, dulu sebatas menggunakan surat-menyurat melalui jasa pos. Teman-teman yang nongkrong bareng waktu itu ada yang mahasiswa, pekerja swasta, pegawai negeri sipil, pekerja LSM, ibu rumah tangga, bahkan siswa SMU. Ada yang berambut pendek, cepak, dan tomboy, ada pula yang berambut panjang dan tampak feminin. Juga ada yang berjilbab dan mantan biarawati. Ada yang berdarah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, juga Tionghoa dan Arab. Agama dan kepercayaan pun beragam, Islam, Kristen Protestan, Katholik, dan Buddha. Hal ini menunjukkan keragaman identitas dan latar belakang komunitas kami. Dari seringnya berkumpul tersebut kemudian timbul rencana membuat sebuah kegiatan positif yang dapat bermanfaat bagi perkembangan komunitas. Kami bosan dengan rutinitas nongkrong di kafe setiap minggu yang cukup menguras kocek. Mungkin tidak mahal bagi para eksekutif muda dan berasal dari kelas menengah ke atas, tapi tentu cukup mahal bagi yang masih berstatus mahasiswi atau siswi sekolah. Juga bagi mereka yang bekerja dengan gaji pas-pasan seperti yang bekerja sebagai buruh pabrik di Ibu Kota yang serba mahal. Hal itu membuktikan komunitas lesbian pun menghadapi isu perbedaan kelas. Cukup sulit waktu itu untuk menemukan sebuah tempat nongkrong bareng yang pas untuk dijangkau teman-teman dari berbagai kelas sosial. Lalu kami memikirkan untuk membuat klub badminton setiap Sabtu sore dengan menyewa sebuah lapangan badminton di wilayah Jakarta Selatan. Setiap anggota klub badminton ini membayar iuran sekitar Rp. 10.000 per minggu yang digunakan untuk membayar sewa lapangan, membeli shuttlecock, dan kebutuhan lainnya. Klub badminton yang diawali sekitar pertengahanx
  11. 11. Pengantar Penulistahun 2006 ini cukup berhasil menjadi sebuah ruang santai memobilisasibanyak teman lesbian muda yang ikut bergabung dan berkumpul bersama.Selain itu, klub badminton ini mampu menjadi kelompok pendukung bagipara anggotanya. Karena di sela-sela jam istirahat, setelah letih bermainbadminton, kami dapat saling bercanda gurau hingga berbagi permasalahanyang dihadapi. Kemudian biasanya diakhiri makan malam bersama karenalapar dan haus setelah letih berolah raga. Waktu-waktu yang menyenangkanitu juga bisa pergunakan untuk saling mengenal dan ngobrol santai tentangkehidupan sehari-hari. Dari perjalanan itu, kami mulai mengadakan Kongkow Lez, kegiatanpemutaran film dan ngobrol santai kelompok lesbian muda Indonesia,pertama kali pada Januari 2007. Kongkow Lez biasanya dihadiri para lesbianmuda yang usia 20 - 30 tahun berjumlah sekitar 25 sampai 50 orang.Kongkow ini bertujuan menjadi ruang untuk berbagi pengalaman danbertukar informasi seputar isu lesbian. Kongkow Lez yang juga selalumenampilkan wajah-wajah baru, dalam artian selalu ada teman-temanbaru yang datang dalam setiap pertemuan ini, menjadi ruang ngobrolsantai tapi juga mendalam di antara permasalahan-permasalahan yangmuncul di kalangan komunitas kami pada saat nongkrong atau di klubbadminton. Kata Kongkow Lez kami pilih dengan maksud “kongkow” yang berarti“nongkrong” dan “lez” adalah kata gaul kami, sebutan bagi lesbian, karenakami ingin melakukan kegiatan yang terkesan gaul, menyenangkan, dantidak membosankan. Kami menghindari penggunaan diksi “seminar” atau“lokakarya” yang selama ini diadakan banyak organisasi hak asasi manusiadi Indonesia. Kami khawatir jika menggunkan cara-cara konvensional itu,justru kurang diminati dan dihadiri komunitas lesbian. Apalagi memangmayoritas teman-teman komunitas pada waktu itu bukan dari kalanganaktivis atau akademisi. Kami lebih memilih strategi “Edufuntainment” xi
  12. 12. Kami Tidak Bisu (Education, Fun, and Entertainment). Pendidikan, Rasa Senang, dan Menghibur dirasa pas untuk karakter komunitas kami yang mayoritas anak muda di wilayah urban. Bukannya kami tidak berpikir bahwa hak seksualitas lesbian tidak serius, tapi kami lebih memilih strategi yang berbeda yang dapat dijangkau semua kalangan di komunitas lesbian. Pun dalam setiap acara, obrolan yang dibicarakan selalu terkait dengan hak seksualitas lesbian. Lebih dari satu tahun untuk menemukan strateginya. Aku belajar bagaimana pengorganisasian membutuhkan perkenalan, pendekatan, dan kemampuan mendengarkan persoalan keseharian komunitas, mengetahui hobi dan kegemaran komunitas, memahami karakter dan sifat individu-individu di komunitas. Selanjutnya mengajak mereka berpikir akan kebutuhan- kebutuhan untuk perkembangan komunitas dan melibatkan dalam proses pemenuhan kebutuhan komunitas. Meskipun aku harus mengakui sangat tidak mudah ketika terbentur dengan konflik-konflik yang terjadi dan memecah-belah komunitas. Hal itu sering membuat aku merasa capek dan stress sehingga ingin menjauhi komunitas. Bahkan sempat ketika menghadapi sebuah konflik pada tahun 2008, aku harus masuk ruang ICU pada tengah malam karena sulit bernafas. Dokter menyatakan hal itu dikarenakan tekanan pekerjaan yang mengharuskan aku istirahat beberapa waktu. Hal ini menjadi pembelajaran buat aku bahwa tantangan berat dalam proses pengorganisasian komunitas dengan munculnya ego-ego pribadi dari beberapa individu, termasuk diriku, yang dapat memicu konflik. Selain itu, pembelajaran akan pentingnya kepedulian terhadap diri sendiri bagi seorang aktivis dalam dunia aktivisme demi keberlanjutan perjuangan. Terkadang kita sendiri lupa terhadap diri sendiri. Hal ini membuat aku paham tentang arti penting Feminist Ethics of Self Care. Kongkow Lez selalu diawali dengan pemutaran film-film seputar isu seksualitas lesbian yang kemudian dijadikan bahan obrolan ringan terkaitxii
  13. 13. Pengantar Penulisperspektif hak seksual lesbian muda. Kesulitan kami waktu itu adalah tidakmudah mencari film-film tentang lesbian yang dapat dijadikan bahanobrolan, karena film lesbian orisinal cukup mahal dan jarang diperjualbelikandi Indonesia. Keberuntungan kami di Indonesia, sangat mudahmendapatkan film-film bajakan, terutama di Jakarta. Jadi, kami terpaksaberburu film-film lesbian di beberapa mal dan toko kaset bajakan. Bukannyakami tidak ingin menghargai hasil karya orang lain, namun beberapa alasantadi yang membuat kami harus melakukannya. Selain itu, tidak mudah pulamenemukan film bertema lesbian yang non-diskriminatif dan baik untukbahan obrolan. Sering dalam proses pencarian, kami menemukan film-filmyang sangat memojokkan lesbian. Film-film laki-laki gay lebih mudah danbanyak ditemukan ketimbang film-film bertemakan isu lesbian. Dari prosesini kami menyadari bahwa dunia perfilman LGBT lebih didominasi tema-tema isu laki-laki gay. Mayoritas film-film yang kami temukan produksiEropa Barat, Amerika Serikat, dan Kanada, dan mungkin ini akan terkesanmengikuti kebudayaan Barat. Tetapi karena film lesbian Indonesia masihdiskriminatif, tentu kurang pas untuk menjadi topik obrolan Kongkow Lezdan membuat tidak nyaman peserta. Bersyukur saat ini sudah ada filmdokumenter yang menceritakan kehidupan lesbian Indonesia yang menjadipekerja imigran di Hong Kong dalam film Pertaruhan (At Stake), yang sangatapik dan non-diskriminatif dan dirilis sekitar tahun 2009. Kongkow Lez berlangsung selama lima jam, diawali pemutaran film dandiselingi beberapa hiburan lain seperti kuis-kuis pertanyaan kepada pesertayang berhadiah kado murah dan sederhana. Juga permainan di sela-selaobrolan berlangsung, untuk menambah meriah acara. Beberapa kaliKongkow Lez mengundang narasumber dari teman-teman komunitassendiri, juga dari kalangan seniman, penulis, feminis, aktivis hak asasimanusia, ahli kesehatan reproduksi perempuan, psikolog, akademisi, tokohagama, dan lain-lain. Kami mengundang mereka disesuaikan dengan topikyang ingin diperbincangkan. Obrolan santai yang biasanya hanya xiii
  14. 14. Kami Tidak Bisu berlangsung selama dua hingga tiga jam itu membuat kami memiliki keterbatasan waktu untuk membicarakan banyak hal. Biasanya memang membutuhkan waktu lebih dari itu untuk membicarakan satu topik saja. Paling tidak, obrolan singkat tapi tidak juga terlalu sebentar itu mampu menjadi bahan pengantar peserta untuk mendapatkan informasi-informasi dasar seputar hak seksual lesbian yang jarang sekali mendapatkan ruang. Karena itu, dalam buku ini, pembaca dapat mengamati tidak banyak pula obrolan Kongkow Lez yang tercatat, dan aku berusaha menambahkan beberapa informasi dari konteks perkembangan isu seksualitas lesbian muda terkini. Kegiatan tanpa memungut biaya dari para peserta ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan teman-teman lesbian yang berasal dari kelas menengah ke bawah yang kurang mampu untuk selalu nongkrong di kafe dengan harga minuman dan makanan yang cukup mahal. Kami menyiasatinya dengan sistem “pot luck” atau makanan dan minuman seadanya yang dibawa beberapa teman untuk dinikmati bersama pada setiap pertemuan. Pada waktu itu pun kami belum memiliki tempat atau sekretariat yang cukup nyaman untuk dipakai Kongkow Lez, sehingga harus berpindah- pindah dari satu tempat ke tempat lain di wilayah Jakarta. Karena tempat yang selalu berpindah-pindah, terkadang-kadang kami harus membawa- bawa atau menggotong-gotong perlengkapan acara seperti tikar, pengeras suara, kue-kue, dan minuman. Mayoritas dari kami para pengendara sepeda motor. Kami meluncur dan melewati jalanan penuh macet di Jakarta sambil membawa semua perlengkapan yang lumayan berat dan cukup besar ukurannya. Benar-benar momen yang seru dan juga dipenuhi semangat teman-teman komunitas. Pertemuan berlangsung terkadang beralaskan tikar. Kami juga mendapatkan bantuan dan dukungan dari teman komunitas yang memiliki kafe di wilayah Jakarta Selatan yangxiv
  15. 15. Pengantar Penulismemperbolehkan kami menggunakan kafenya sebagai tempat untukKongkow Lez sebanyak dua kali pertemuan. Yayasan Jurnal Perempuan,tempat aku bekerja sebagi jurnalis radio pada tahun 2005-2006, punmendukung kegiatan kami dengan memperbolehkan menggunakankantornya. Kemudian juga kantor HIVOS South East Asia memberikandukungan memperbolehkan kami mengadakan pertemuan Kongkow Lezbeberapa kali. Kami sangat beruntung dan berterima kasih kepada merekayang telah membantu dan mendukung kegiatan Kongkow Lez sehinggabisa berlangsung secara reguler hampir tiap bulan. Karena keterbatasan sumber daya dari komunitas, maka setiappertemuan hanya diadakan di wilayah Jakarta. Namun, kami mendapatrespons positif dari teman-teman komunitas lesbian muda di luar Jakartauntuk mengadakan Kongkow Lez di daerah mereka yang merasa masihkurang informasi dan kegiatan untuk komunitas lesbian. Bahkan, teman-teman komunitas lesbian muda dari luar wilayah Jakarta seperti Bandung,Semarang, Yogyakarta, hingga Timor Leste waktu itu menyempatkanmenghadiri kegiatan ini. Kami terharu melihat betapa antusias merekauntuk bergabung di acara ini, meskipun menempuh perjalanan sangat jauh.Hal ini menunjukkan betapa lesbian muda di Indonesia mendambakansebuah ruang aman dan positif untuk bisa berbagi. Karena itu, penerbitan buku ini bertujuan untuk menyebarkan danberbagi informasi dari hasil obrolan santai atau Kongkow Lez kepadateman-teman komunitas lesbian muda di seluruh wilayah Indonesia. Kamiberharap mampu menyebarkan buku ini sampai ke tangan teman-temankomunitas lesbian muda dari Sabang sampai Merauke. Dalam penulisan buku ini, kami tidak menyebutkan nama asli parapeserta Kongkow Lez, karena kami menghargai hak privasi mereka yangmemilih untuk belum menunjukkan identitas dirinya sebagai lesbian diruang publik. Kami paham betul, tidak mudah untuk bisa menunjukkan xv
  16. 16. Kami Tidak Bisu identitas diri sebagai lesbian di Indonesia. Namun kehadiran mereka pada waktu itu dan berpartisipasi aktif dalam diskusi dengan pemikiran- pemikiran yang dituliskan dalam buku ini, tentu akan sangat membantu teman-teman lesbian lain yang masih kurang mendapatkan akses informasi tentang seksualitas lesbian. Beberapa topik obrolan Kongkow Lez telah berubah dan berbeda jika dikaitkan dengan konteks terkini. Perkembangan masing-masing individu peserta Kongkow Lez dalam perjuangan identitas dirinya sebagai lesbian menjadi proses refleksi bagi kami saat ini, bagaimana mayoritas dari mereka telah menjalani kehidupan yang lebih baik. Namun, di sisi lain, ada pula beberapa konteks perubahan situasi sosial dan politik di Indonesia yang menempatkan kelompok lesbian semakin termarjinalkan. Semua itu mudah-mudahan dapat dipahami dan dimengerti ketika membaca keseluruhan buku ini. Kata-kata dalam buku ini diupayakan membumi, ringan, dan sesederhana mungkin agar dapat dibaca dan dimengerti oleh teman-teman komunitas lesbian muda di Indonesia. Kami berusaha mengurangi istilah-istilah asing, akademisi, atau bahasa-bahasa “dewa” aktivisme yang sering dikeluhkan komunitas lesbian muda Indonesia karena terkadang sulit dimengerti. Hal ini juga menjadi kritik aku terhadap strategi aktivisme di Indonesia yang mayoritas selama ini dirasa kurang menggunakan strategi komunikasi yang tepat terhadap kelompok dampingan atau kelompok target yang ingin diberdayakan. Sebagai sesorang yang pernah mengenyam pendidikan jurusan public relations, aku sangat peduli bagaimana penggunaan metode strategi komunikasi yang tepat untuk pengorganisasian komunitas yang selama ini kulakukan terhadap komunitas lesbian muda di Indonesia. Ya, mungkin juga para aktivis yang senang bermain bahasa menggunakan kata-kata dewa tersebut sekadar ingin menunjukkan kepada khalayak betapa merekaxvi
  17. 17. Pengantar Penulisintelektual yang patut diacungi jempol, tanpa mempertimbangkanpentingnya pesan yang ingin disampaikan kepada komunitasnya dapatdicerna dan dimengerti dengan baik, sehingga mampu membangunkesadaran kritis untuk turut berpartisipasi dalam pergerakan atau aktivismeyang harus dilakukan bersama-sama, bukan seorang diri. Kami juga memilih judul “Kami Tidak Bisu”. Kami ingin memberi jawabankepada publik yang mempertanyakan, pada pergerakan LGBT di manakahsuara para lesbian di Indonesia. Mayoritas publikasi, penerbitan, danpergerakan LGBT di Indonesia didominasi isu hak-hak seksual laki-lakihomoseksual dan transgender (laki-laki ke perempuan). Sedikit sekali kitabisa menemukan publikasi tentang hak-hak seksual perempuan lesbian.Kalaupun ada, lebih membicarakan seksualitas untuk kebutuhan dankeuntungan laki-laki. Perempuan sering kali dianggap tidak punya seksualitas, terbuktimisalnya ketika berbicara tentang sejarah budaya di Indonesia, banyakorang membicarakan Indonesia memiliki tarian tradisional Warok Gemblagyang menggambarkan erotika seksualitas laki-laki homoseksual. Kemudiankelompok bisu, kelompok spiritual transgender laki-laki ke perempuan,yang dianggap sebagai orang suci pada masa ketika Islam belum masuk keIndonesia. Budaya mairil, perilaku seks sesama jenis laki-laki, di lingkunganpesantren. Sepatutnya kita pertanyakan di mana sejarah budaya seksualitasperempuan lesbian di Indonesia? Ketika mengunjungi Amerika Serikat dan beberapa negara di EropaBarat, terutama Belanda, aku cukup tercengang menemukan beberapaliteratur hasil penelitian lesbian Indonesia di toko buku atau perpustakaandi sana. Literatur itu cukup banyak disebarkan, bahkan dibicarakan banyakorang, dan jarang sekali aku mendengar itu dibicarakan oleh komunitasLGBT di Indonesia. Sayang memang hasil penelitian tersebut tidak banyakdipublikasikan dan disebarluaskan di Indonesia, tetapi banyak dipublikasikan xvii
  18. 18. Kami Tidak Bisu dan disebarkan di Amerika Serikat dan Eropa Barat dalam versi bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia, yang tentu makin mempersulit kelompok lesbian di Indonesia untuk bisa mengaksesnya. Pertanyaanku, jika memang hasil penelitian yang melibatkan banyak lesbian menjadi narasumbernya bertujuan pemberdayaan lesbian di Indonesia, tentu harus pula dapat diakses dan disebarkan kepada kelompok lesbian di Indonesia. Hal ini berkaitan pula dengan adanya kode etik penelitian yang seharusnya mengutamakan narasumber sebagai subjek dan bagaimana mereka dapat diuntungkan dari hasil penelitian tersebut, tidak hanya berperan sebagai objek penelitian. Namun ada pula beberapa peneliti dari Barat berperan dalam kemajuan pergerakan LGBT di Indonesia, yang tidak hanya mengeksploitasi kelompok LGBT di Indonesia. IPP pernah mendapati seorang peneliti mengeksploitasi komunitas kami menjadi bahan penelitian yang dipresentasikan pada konferensi internasional para akademisi di sebuah negara Eropa Barat, tanpa ada pemberitahuan kepada pihak kami sebelumnya. Selain itu banyak pula mahasiswa yang melakukan penelitian untuk skripsi ke organisasi kami, namun tidak pernah kembali dan menghubungi kami setelah proses itu selesai, tanpa kami mengetahui hasilnya. Seharusnya dia memberikan hasil penelitian tersebut kepada kami sebagai bahan pembelajaran IPP. Pengalaman buruk ini membuat aku kecewa sekali dan mengharapkan para peneliti dan akademisi lebih sensitif terhadap komunitas LGBT dan menjalankan kode etik penelitian dengan baik sebagai bentuk penghargaan akan hak privasi kami. Aku sebenarnya percaya bahwa akademisi dan aktivis bisa saling bekerja sama dan saling mendukung untuk perubahan sosial yang lebih baik, jika memang dalam jalur yang tepat. Perempuan lesbian di Indonesia diupayakan mampu menuliskan isu seksualitas dari perspektif mereka sendiri, karena sering kali dianggap isu seksualitas LGBT adalah bawaan budaya “Barat” dan bukan budayaxviii
  19. 19. Pengantar Penulis“Timur”. Tulisan dari kelompok lesbian lokal diharapkan mampu mengubahpola pikir masyarakat bahwa seksualitas bukan hanya milik “Barat”.Seksualitas hal yang manusiawi dilakukan setiap manusia. Terlebih ketikaberbicara hierarki masyakarat di dunia secara global, orang-orang kulitputih atau Barat, memiliki hak istimewa dan keuntungan untuk lebih bisaberbicara dan menuliskan mengenai seksualitas ketimbang kelompokorang-orang kulit berwarna di belahan selatan dunia seperti ras Asia danAfrika. Kita harus mengakui, penjajahan yang dilakukan kulit putih terhadapbeberapa bangsa di bagian selatan dunia selama berabad-abad masihberdampak sampai saat ini. Dari sisi hak, pendidikan kita masih jauhtertinggal dibandingkan dengan negara-negara di Barat, akibat penindasanyang membuat kita jauh terbelakang. Hal itu terlihat pula bagaimanamayoritas masyarakat di Indonesia masih mengagungkan segala sesuatuyang berasal dari kulith putih. Mengistimewakan hal-hal yang bersifatbawaan orang-orang kulit putih, karena menganggap orang kulith putihlebih pintar, memiliki banyak uang, dan tuan. Padahal, berdasarkanpengalamanku berinteraksi dengan mereka, tidak semuanya seperti itu. Dikaitkan dengan isu seksualitas, sebut saja buku-buku terbitan tentangseksualitas yang banyak menjadi acuan atau rekomendasi di duniaakademisi dan aktivisme hak seksual, mayoritas merupakan hasil karyatulisan orang-orang kulit putih. Di manakah suara-suara seksualitas darikelompok orang kulit berwarna, yang dapat menjadi acuan konteks lokalkita sendiri? Hal itu menjadi pemikiranku akan arti politik feminisme“Personal is Political” bahwa pengalaman pribadi yang dialami harus mampudituliskan dengan perspektif kita sendiri. Feminisme seharusnya tidakselalu mengandalkan pemikiran dari negara luar, tetapi pengalamanseksualitas kita di konteks lokal sendiri. Maka dalam penulisan buku ini aku tidak mengutip teori-teori ilmiah xix
  20. 20. Kami Tidak Bisu dari buku-buku seksualitas dari negara Barat, aku sekadar menuliskan berbagai pengalaman teman-teman, narasumber, dan pengalamanku di Indonesia dan di beberapa negara lain dalam proses pengorganisasian komunitas lesbian muda yang kujalankan lebih dari enam tahun. Karena aku tidak memiliki latar belakang sebagai akademisi untuk berbicara seksualitas lesbian muda, aku lebih percaya pengalaman merupakan guru berharga ketimbang buku-buku bacaan. Namun, sampai saat ini aku masih berusaha menggunakan kedua proses itu secara bersamaan untuk menunjang pengorganisasian komunitas IPP. Penulisan buku ini juga bertujuan menuliskan perjalanan IPP sebagai organisasi lesbian feminis muda di Indonesia. Jika melihat konteks pergerakan feminis, diharapkan catatan perjalanan Kongkow Lez ini membangun wacana bahwa kelompok perempuan muda dengan kreativitas dan semangat mereka mampu berpartisipasi dan berkontribusi dalam perjuangan dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Banyak pula aku melihat dan mendengar pembicaraan tentang pemberdayaan perempuan muda di Indonesia atau negara lain di dunia, tapi sering kali dalam pembicaraan itu yang aku baca dalam beberapa buku dan juga diskusi dalam beberapa forum seminar, lokakarya, konferensi, diskusi di tingkat nasional dan internasional, bukanlah perempuan muda yang berbicara atau bersuara, melainkan perempuan-perempuan yang sudah dalam tingkat senior atau berusia tidak muda. Menurutku, jika memang benar kita ingin melakukan pemberdayaan perempuan muda, maka ruang- ruang itu harus perempuan muda yang berbicara, menjadi pemimpin dan terlibat aktif dalam proses pengorganisasian. Pernyataanku ini tidak bermaksud ingin membentuk jarak yang tidak harmonis antara “yunior” dan “senior”, tetapi akan lebih baik jika perempuan muda belajar dari pengalaman sejarah para pendahulu dan sebaliknya, para pendahulu belajar dari generasi perempuan muda yang mengalamixx
  21. 21. Pengantar Penulissituasi politik dan budaya yang berbeda. Karena zaman terus berubah danstrategi yang dipergunakan tentu menyesuaikan konteks zaman tersebut,demi sebuah pergerakan yang melibatkan partisipasi lintas generasi.Feminisme adalah tentang solidaritas yang bisa dibangun dengan salingkepercayaan. Anak muda adalah adalah orang-orang pembentuk masadepan, karena itu perlu diberikan ruang dan kepercayaan untuk merekadari sekarang berpartisipasi aktif sebagai subjek pergerakan, tidak lagiberperan sebagai objek. Tidak ada revolusi tanpa partisipasi anak muda.Karena itu, kehadiran buku Kongkow Lez ini adalah sebuah keinginan kamiuntuk berpartisipasi dalam perubahan sosial di Indonesia. Kabar gembira, ketika buku yang menceritakan perjalanan lima tahunIPP ini akan diluncurkan, beberapa laki-laki gay muda dan remaja di Jakartadatang menemui kami untuk minta bergabung melakukan kegiatanbersama. Karena sampai saat ini belum ada komunitas atau organisasiyang menjadi kelompok pendukung mereka. Biasanya di beberapa negara,komunitas atau organisasi lesbian bermunculan ketika didahului pergerakanlaki-laki gay, tetapi berbeda dalam konteks perjalanan kami. Jadi, sampaisaat ini, meskipun IPP merupakan organisasi lesbian muda dan remaja,kami melibatkan beberapa teman-teman laki-laki gay muda dan remajadalam beberapa kegiatan. Sejak Oktober 2010 kelompok laki-laki gay danlesbian muda dan remaja ini tergabung dalam komunitas Klub Anak Pelangiyang sering melakukan pertunjukan seni dan budaya seperti tarian, operet,nyanyian, dan musikalisasi puisi sebagai bagian strategi kampanye hakasasi LGBT. Awalnya IPP memang fokus dan eksklusif sebagai kelompok pendukunguntuk teman-teman lesbian muda dan remaja. Namun pada tahun 2010kami menyatakan diri sebagai organisasi perempuan lesbian, biseksual,dan transgender (LBT) muda dan remaja. Sebab, dalam perjalananKongkow Lez yang kami adakan, muncul pula beberapa isu penting terkait xxi
  22. 22. Kami Tidak Bisu perempuan LBT muda dengan kehadiran mereka pula. Selain itu, kabar yang paling menggembirakan, semakin bermunculan lesbian muda di beberapa kota selain Jakarta, yang berpotensi menjadi pemimpin atau pengorganisasi komunitas di wilayah masing-masing. Bahkan beberapa dari komunitas tersebut memang sudah berjalan aktif saat ini. Bravo!xxii
  23. 23. I Apakah Aku Normal? Aku takut memetik mawar karena aku adalah mawar Lili Kaca128 Januari 2007. Itu kali pertama kami menyelenggarakan KongkowLez. Bincang-bincang santai ini diikuti 25 lesbian dari beragam latarbelakang dan ditemani Ninuk Widyantoro, seorang psikolog yang saat inijuga merupakan Ketua Yayasan Kesehatan Perempuan. Senang sekali kamidapat menghadirkan Mbak Ninuk di tengah kesibukannya. Kongkow Lez diawali pemutaran film Saving Face yang menuturkan1 Perempuan Pelangi: Kumpulan Cerpen dan Puisi Lesbian Muda Indonesia (Institut Pelangi Perempuan, 2008) 1
  24. 24. Kami Tidak Bisu kisah pasangan lesbian keturunan China yang hidup di Amerika Serikat. Beberapa adegan menggambarkan perjuangan berat seorang anak perempuan lesbian untuk berterus terang kepada orang tuanya, karena tradisi China menjunjung tinggi nama baik keluarga. Film ini juga menggambarkan betapa kebingungan seorang tokoh lesbian ketika menyadari rasa cintanya yang dalam terhadap seorang perempuan. Gambaran di film ini memang tak jauh berbeda dari pengalaman teman- teman lesbian, khususnya kegelisahan atas perasaan “tidak normal” terkait identitas lesbian. Bagi teman-teman lesbian yang sudah dapat menerima dirinya dan berterus terang kepada orang-orang di lingkungannya, penilaian normal atau tidak barangkali sudah tak lagi menggelisahkan. Namun, bagi teman- teman lesbian yang belum mendapatkan informasi mengenai homoseksualitas, uraian penilaian tersebut masih penting untuk diperbincangkan. Kondisi ini juga sebanding lurus dengan pandangan kalangan heteroseksual yang sebagian besar masih menganggap homoseksualitas sebagai kondisi yang tidak normal. Pada obrolan di antara lesbian muda, sebagian masih menyebut dirinya sekong, istilah gaul yang artinya “sakit”. Demikian juga dalam obrolan kalangan heteroseksual, mereka menyebut normal untuk ketertarikan perempuan - laki-laki dan tidak normal untuk ketertarikan sesama perempuan atau sesama laki-laki. Penilaian “tidak normal” juga dipengaruhi penggambaran lesbian oleh media, yang sebagian besar masih diskriminatif dan memberikan label negatif. Opini bentukan media ini juga yang kemudian mempengaruhi opini publik, termasuk opini sebagian besar kalangan lesbian. Lalu bagaimana gagasan hetero sebagai “normal” dan homoseks sebagai “tidak normal” menjadi arus pemikiran utama di masyarakat? Pada awal perbincangan, Mbak Ninuk memaparkan sejarah homoseksual yang tercatat sejak zaman Romawi. Bahkan realitasnya jauh sebelum itu, yaitu sejak adanya manusia. Sejarah mencatat kaum Lesbos, yang2
  25. 25. Apakah Aku Normal?dikucilkan karena perbedaan orientasi seksual. Lalu mereka pergi ke sebuahpulau untuk membangun komunitas sendiri. Jadi, tidak benar pandanganbahwa homoseksual sebagai gaya hidup yang identik dengan modern ataumasa kini. Mbak Ninuk juga mengingatkan bahwa ilmu psikologi, yang fokusutamanya mempelajari manusia, memasukkan unsur mitologi yangkemudian mempengaruhi konsep tentang manusia. Konsep yang palingmendasar adalah pemisahan anima - animus, eros - logos, feminin - maskulin,dan lain-lain. Sifat-sifat ini yang kemudian diletakkan pada manusia sesuaigender. Selalu diajarkan bahwa perempuan bersifat halus, pengalah,penyabar, pengasih, pengurus rumah tangga, dan seterusnya. Sedangkanlaki-laki memiliki sifat logis, independen, dan seterusnya. Berdasarkansifatnya, manusia diposisikan pada salah satu titik ekstrem: perempuanatau laki-laki. Walaupun kini pengotak-ngotakkan manusia seperti itusudah tidak relevan lagi. Ilmu psikologi akan sulit mempelajari manusiaapabila terbagi hanya pada dua titik ekstrem tersebut. Pengklasifikasianhomo atau hetero juga sudah tidak bisa lagi diterapkan. Kenyataannya, ditengah kedua orientasi seksual ini masih ada beberapa kategori, sepertibiseks, transeksual, dan transgender. Sebenarnya sudah puluhan tahun lalu homoseksualitas bukan lagidianggap sesuatu yang tidak normal, melainkan sebagai kondisi alamiah.Sejak tahun 1974 Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) menyatakanhomoseksualitas bukan lagi gangguan jiwa atau penyakit. OrganisasiKesehatan Dunia PBB (World Health Organization) pada 17 Mei 1990mencabut homoseksualitas dari daftar International Classification of Disease(Klafikasi Penyakit Internasional). Sejak itu 17 Mei diperingati sebagai HariInternasional Melawan Homofobia dan Transfobia (International DayAgainst Homophobia dan Transphobia atau IDAHO). Di Indonesia,Departemen Kesehatan mengeluarkan Pedoman Penggolongan danDiagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), sebuah acuan profesi kesehatan jiwa 3
  26. 26. Kami Tidak Bisu dan akademisi di seluruh Indonesia, yakni PPDGJ - II (1983) dan PPDGJ - III (1993) yang menyebutkan homoseksualitas bukan penyakit kejiwaan. Sayang semua informasi penting tersebut belum banyak disebarkan di kalangan lesbian dan masyarakat Indonesia, bahkan di kalangan psikolog dan psikiater. Bahkan seorang psikolog ternama, pada rubrik konsultasi psikologi di salah satu media cetak besar, menyarankan seorang homoseksual berupaya menjadi heteroseksual. Lalu bagaimana teman- teman lesbian menyikapi situasi ini? Mbak Ninuk menegaskan, ilmu psikologi sudah menyatakan homoseksualitas bukanlah penyakit atau kelainan. Perlu membiasakan untuk mengatakan dan meyakinkan diri bahwa “saya normal”. Penting untuk mengikis sifat menutup diri atas perasaan bersalah. Sebab, perasaan bersalah itu menimbulkan perasaan berdosa pada banyak lesbian, yang mengakibatkan semakin menjauhkan diri dari aktivitas ibadah. “Jika perasaan negatif terus menggeluti pikiran, justru bisa menimbulkan rasa lemah. Nomor satu yang paling penting adalah menerima diri sendiri dahulu.” Proses penerimaan diri itu juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Wati, lesbian berumur 24 tahun, yang bekerja pada organisasi perempuan di Jakarta membagikan pengamatannya. Ia sering mendapatkan kenyataan di sekitarnya, seperti di forum internet, teman-teman lesbian mengalami kondisi psikologis yang labil atas orientasi seksualnya. Apalagi kelompok lesbian di Institut Pelangi Perempuan (IPP) yang rata-rata berusia muda. Mereka memiliki kemungkinan kondisi mental yang lebih labil dibandingkan dengan lesbian berusia lebih dewasa. Menurut Mbak Ninuk, pilihan hidup memang harus ditetapkan dengan mantap. “Yang paling penting jangan takut. Dan, menjalaninya dengan pasti. Jika tidak, akan menimbulkan kelabilan.” Meski tidak dimungkiri seorang lesbian memerlukan proses panjang untuk membuka diri. Di tengah perbincangan, teman-teman lesbian juga mempertanyakan4
  27. 27. Apakah Aku Normal?mengapa lesbian cenderung lambat membuka diri dibandingkan dengangay. Sebagian peserta Kongkow Lez juga menguatkan bahwa hal sepertiitu tidak hanya terjadi pada lesbian di Indonesia, tetapi juga di dunia.Menurut Mbak Ninuk, penyebab utama adalah karena perempuan sejakdulu selalu dilekatkan dengan label-label yang merugikan atau stigmatisasi.“Perempuan anima yang lemah dan sabar,” kata kata Sigmund Freud.Berbeda dari laki-laki yang bertipe mandiri serta mampu membuatkeputusan akibat pelekatan sifat mandiri. Ketidaksetaraan gender yangmendarah daging pada budaya dan agama tersebut membuat perempuanterus terstigmatisasi, di luar konteks apakah dia heteroseksual ataupunhomoseksual. Intinya, untuk mencapai kesetaraan hak bagi perempuansaja sulit, apalagi bagi perempuan yang lesbian. Hal itu berimplikasi padapelabelan negatif yang lebih besar pada perempuan yang lesbiandibandingkan pada laki-laki yang gay. Tidak mengherankan bila hambatanuntuk coming out (mengakui identitas seksualnya sebagai lesbian) lebihbesar pada perempuan yang lesbian dibandingkan pada laki-laki yang gay. Seorang peserta membagi pengamatannya terkait diskriminasi terhadapperempuan atas perlakuan hukum. Menurut dia, status hukum perempuandi Indonesia diletakkan di bawah status hukum laki-laki. Misalnya, dalampembuatan paspor, pendirian perusahaan, pemakaian kontrasepsi,semuanya harus atas izin suami, bapak, atau saudara laki-laki. Fakta jugamenunjukkan perempuan lesbian yang coming out berisiko tidakmendapatkan kesempatan bekerja atau bahkan kehilangan pekerjaan.Seorang peserta, pegawai negeri sipil, membenarkan adanya risikokehilangan pekerjaan jika pegawai yang lesbian coming out. Di lingkungankerjanya, pegawai yang homoseksual lebih sulit dipromosikan dibandingkandengan pegawai yang heteroseksual. Fakta-fakta tersebut membuktikankesetaraan antara perempuan heteroseksual dan laki-laki susah diakui,apalagi bagi lesbian, perjuangannya jauh lebih berat dan panjang. “Jadi,perjuangan hak perempuan adalah usaha kita bersama, baik yang 5
  28. 28. Kami Tidak Bisu heteroseksual maupun homoseksual,” kata seorang peserta. Beruntung pelabelan negatif terhadap perempuan tersebut tidak terjadi di setiap lingkungan kerja, sebagaimana pengalaman seorang peserta yang berhasil coming out di tempat kerjanya, sebuah organisasi yang memperjuangkan hak perempuan. Di tempat ia berkiprah itu identitas lesbiannya tidak dipermasalahkan. Ia bersyukur menghadapi kenyataan bahwa tidak semua masyarakat menolak lesbian. Pengalamannya ketika muncul dan berbicara di televisi ternyata membuat beberapa ibu yang memiliki anak lesbian meneleponnya ke kantor. Perbincangan melalui telepon menyadarkan ibu-ibu tersebut bahwa realitas yang dihadapi anak mereka sebagai lesbian sangat berat. Mereka pun jadi tahu bagaimana harus bersikap kepada anaknya. Cerita menggembirakan lainnya, kisah ratusan lesbian yang mengadakan aksi dan mengundang guru-guru untuk berdiskusi. Diskusi tersebut membantu para guru bagaimana harus bersikap kepada murid atau keluarga yang anaknya lesbian. Dari cerita-cerita gembira tersebut dapat disimpulkan, ketika seseorang tidak menerima status lesbian bukan berarti tidak suka, bisa jadi karena belum paham. Karena itu, Mbak Ninuk menyarankan memperbanyak penerbitan buku-buku yang ditulis lesbian untuk membantu teman-teman lesbian yang masih tertutup agar lebih bisa menerima diri, terbuka, dan secara perlahan mengubah paradigma masyarakat yang keliru tentang lesbian dan homoseksualitas.6
  29. 29. II Berterus Terang kepada Orang Tua Menjeritkah rahim ibu bila kubisikkan sebuah rahasia Bila debaran hasratku untuk seorang perempuan Estha Vadose1T opik obrolan homoseksualitas, tinjauan psikologi, dan penerimaandiri pada Kongkow Lez pertama mengingatkan peserta pada kebutuhanuntuk berterus terang kepada orang tua dan orang-orang di lingkunganterdekat seperti keluarga, teman sekolah, lingkungan kuliah, atau tempatkerja. Banyak lesbian muda belum berani mengungkapkan orientasiseksualnya di lingkungan sekolah, kampus, tempat kerja, dan keluarga,1 Perempuan Pelangi: Kumpulan Cerpen dan Puisi Lesbian Muda Indonesia (Institut Pelangi Perempuan, 2008) 7
  30. 30. Kami Tidak Bisu terutama terhadap orang tua, karena homoseksual belum diterima masyarakat dan tidak ingin menyakiti perasaan orang tua. Kesulitan semakin menjadi ketika mengetahui pengalaman mereka yang sudah coming out dan disikapi dengan tindak kekerasan oleh orang tua. Kongkow Lez juga diikuti teman-teman laki-laki gay. Ada pula dr. Lukas Mangindaan, psikiater yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Maggy Agusta, ibu yang memiliki anak laki-laki gay dan bekerja di sebuah media berbahasa Inggris di Jakarta. Waktu itu Minggu 28 Februari 2007. Kami duduk melingkar di atas tikar di kantor Yayasan Jurnal Perempuan (YJP). Perbincangan diawali pengakuan beberapa teman saat orang tuanya mengetahui mereka lesbian atau gay. Dewita, lesbian berusia 24 tahun, berdarah Tionghoa, berbagi pengalaman ketika orientasi seksualnya diketahui orang tua, tanpa sengaja. Hal itu terjadi ketika mantan pacarnya menelepon ke rumah dan bercerita kepada ibunya. “Awalnya ibu diam saja. Beberapa hari kemudian bertanya kepada saya. Sepertinya ibu tidak menganggap serius dan meminta saya menjauhi perempuan itu,” ujarnya. Setelah itu Dewita akan dinikahkan, walaupun niat perjodohan itu akhirnya hilang sendiri. “Orang tua tidak pernah membahas lagi dan saya pun tidak pernah lagi membawa perempuan ke rumah. Meskipun demikian, adik perempuan masih suka memarahi jika saya kedapatan sedang bicara di telepon dengan perempuan.” Upaya menikah dengan laki-laki dilakoni Dian, lesbian yang masih bergelut dengan penerimaan dirinya, terutama di bawah ajaran bahwa lesbian adalah dosa. Dian yang berusia 30 tahun dan pekerja swasta pernah mencoba menjalin hubungan dengan laki-laki dan berencana menikah pada tahun 2007. “Sudah 13 tahun kami jalan bersama dan saya mencoba menyukai dia, tapi selalu perempuan yang terbayang. Akhirnya... cukup! Saya sudahi. Walau saya tidak pernah mencoba mencari perempuan, karena menurut saya, menjadi lesbian adalah dosa,” tuturnya. Ketika8
  31. 31. Berterus Terang kepada Orang Tuamengenal komunitas Institut Pelangi Perempuan, Dian bertemu teman-teman yang dapat memahami orientasinya. Hal itu menumbuhkankeberanian untuk berbicara kepada keluarganya. “Adik dan kakak sayasangat keras menghadapi ini, tapi ibu sangat toleran sambil berharap suatusaat saya berubah. Untuk saat ini saya memutuskan tetap di komunitas IPP,karena saya benar-benar menemukan seseorang yang sangat spesial,”ujarnya. Merespons penuturan tersebut, dr. Lukas Mangindaan membagikanpengetahuan mengenai homoseksualitas dan upaya menikahkan homoseksdalam konsep heteronormatif. Menurut dia, ilmu kedokteran danhumanisme membedakan rasa sayang dan eros. Jika seseorang tertariksecara erotis kepada sejenisnya disebut homoseksualitas. Istilahhomoseksualitas ini berlaku untuk perempuan lesbian dan laki-laki gay.Eros berbeda dari rasa sayang. Perempuan yang merasa sayang kepadasesama perempuan, belum tentu lesbian. Bisa saja tidak ada unsurerotisnya. Ketika ada unsur erotis baru dapat dikatakan homoseksualitas.Walau ada mitos yang memandang homoseksual sebagai penyakit menular,kini seluruh dunia sudah mengakui homoseksual bukan penyakit, melainkanidentitas atau ciri khas serta naluri yang dimiliki seseorang sejak lahir.Identitas ini harus diterima apa adanya, seperti penerimaan atas warnakulit dan suku bangsa. Jadi, penting untuk menghilangkan homofobia,yaitu sikap atau perasaan negatif, tidak menyukai gay dan lesbian danhomoseksualitas secara umum. Dokter Lukas mengingatkan bahwa menjadi homoseksual adalah naluri,tidak bisa dipilih. Banyak homoseksual menikah secara heteroseksual, tapibelum tentu ada sisi erotis. Nalurinya tetap saja seorang homoseksual.Pernikahan bisa menjadi topeng, tapi akhirnya akan terjadi kehancuranperkawinan dan mengorbankan kehidupan orang lain, yaitu pasangan. Adajuga yang menikah secara heteroseksual dan bisa berlangsung lama sepertilayaknya pasangan menikah pada umumnya. Itu juga harus dihormati, asal 9
  32. 32. Kami Tidak Bisu bisa bertanggung jawab atas pilihannya. Ada juga yang bertahan untuk hidup bersama pasangan sejenisnya. Jadi, tidak ada yang bisa disalahkan. Tidak bisa menyalahkan ibu, komunitas, atau kesalahan pergaulan. Homoseksual adalah identitas yang melekat pada seseorang. Pengetahuan tersebut memang penting untuk dipahami lesbian dan keluarganya. Lemahnya pemahaman tersebut dapat berakibat pada pemaksaan kehendak orang tua untuk mengubah orientasi lesbian, sebagaimana pengalaman Wati, 25 tahun. “Saya tidak mengaku secara langsung, karena saat itu sedang kuliah dan secara ekonomi masih bergantung pada orang tua. Ketika bergabung dengan organisasi perempuan, keterlibatan di organisasi membuat saya semakin yakin dengan identitas lesbian. Sampai akhirnya saya diwawancarai sebuah media tentang lesbian yang membuat keluarga mengetahui identitas saya. Akibatnya, saya dikurung di rumah dan tidak diberi akses komunikasi, karena dianggap terlibat kenakalan remaja. Saya dianggap membenci laki- laki akibat terlibat di organisasi perempuan. Saya dibawa ke ustad dan orang pintar untuk mendapatkan bimbingan agar mengubah orietasi seksual dari lesbian ‘kembali’ menjadi perempuan heteroseksual.” Wati mengikuti kemauan keluarganya, hingga akhirnya bisa bebas dan mandiri. Tetapi kesedihan terdalamnya adalah cara ibunya memaknai orientasi lesbiannya. “Ibu saya menyalahkan diri sendiri. Ia merasa saya menjadi lesbian akibat dirinya kurang baik mendidik saya.” Kekhawatiran orang tua bahwa anaknya berdosa dan tidak mendapatkan pahala karena lesbian juga dialami Sinta. Fotografer berusia 29 tahun ini menuturkan, di Indonesia bukan perkara mudah untuk coming out kepada orang tua. “Karena pembicaraan seks saja sudah sangat tabu di sini. Saat saya coming out, ibu takut nasib anaknya ke depan seperti apa. Takut anaknya tidak diterima masyarakat dan tidak mendapat pahala.” Pada titik itu, Sinta juga merasa konsep kebahagiaan menurut orang tuanya dan menurut dia berbeda. “Ibu saya tidak bisa memahami konsep kebahagiaan10
  33. 33. Berterus Terang kepada Orang Tuasaya. Ketika ada sesuatu yang berbeda, manusia biasanya cenderungtertutup atau takut karena tidak tahu. Manusia sering takut denganketidaktahuan. Itulah yang saya lihat dari mereka. Saya pun sulit mengertiperbedaan, mengapa orang tua saya bisa heteroseksual?” Menurut Ibu Maggy, menjadi orang tua yang terbuka sangat baik untukmendukung anaknya. “Seandainya saya dan suami tertutup, pasti Paul,anak saya, tidak akan berani berbicara.” Ibu Maggy menyadari setiap orangmemiliki pribadi yang berbeda-beda dan setiap manusia berhak atasperbedaan itu, meskipun budaya memberikan definisi tertentu. “Palingpenting dari semua itu adalah kita yakin dan percaya pada diri sendiri sertaharus menyiapkan mental,” katanya. Sedangkan Paul Agusta melihat pengalaman teman-teman lesbian jugadipengaruhi pandangan dan masyarakat terhadap perempuan. “Sayamempunyai teman yang tidak berani bercerita ke orang tua. Biasanyamereka menunggu sampai mandiri dan tinggal terpisah dari orang tua,baru berani bicara. Memang lesbian perlu membuktikan kemandirian.Sebab, salah satu ketakutan orang tua adalah anak perempuannya tidakbisa hidup sendiri. Karena kebanyakan orang tua berpikir perempuan perludinafkahi dan dilindungi.” Pengamatan Paul juga didukung pengalaman come out teman-temangay yang pengalamannya tidak lebih mudah dari pengalaman teman-teman lesbian, sebagaimana pengalamannya. Gay berusia 28 tahun yangberprofesi sebagai sutradara dan produser film independen ini menuturkan,sejak kecil ia dibiasakan terbuka kepada ibunya, karena keluarganya sangatliberal. “Suatu hari saat saya ungkapkan bahwa saya gay, ibu malah bilang‘I know that, so what?’. Jusrtu ketika berterus terang ia merokok, Pauldimarahi selama dua jam dan tidak sedikit pun dibahas tentang gay. “Untukke papa, bukan aku yang bicara, tapi mama. Papa menangis tetapi bukankarena kecewa, melainkan karena amat sayang dan takut hidupku nantitidak bahagia. Tapi sekarang papa sudah menerima.” 11
  34. 34. Kami Tidak Bisu Hal senada disampaikan Tono, 27 tahun. “ Saya lumayan dekat dengan ibu. Saat lebaran saya beranikan mengaku kepada ibu, sambil menangis menjelaskan orientasi seksual saya. Tetapi ibu biasa saja karena sudah tahu sejak dulu. Ia bisa terima hal itu dan berpesan agar saya mencari pasangan yang baik dan bisa menghargai sebuah hubungan. Paul, pasangan saya, sudah saya kenalkan dengan orang tua dan tidak masalah. Saya pun sudah berkenalan dengan orang tua Paul dan sampai saat ini hubungan kami sangat baik.” Tentu saja pengalaman dua teman gay ini tidak serta merta mencerminkan seluruh pengalaman teman-teman gay, begitu juga tuturan teman-teman lesbian. Beberapa situasi juga dipengaruhi karakter orang tua. Ria, 26 tahun, menanyakan bagaimana meyakinkan orang tua bahwa lesbian itu tidak salah. Peserta berbagi tips untuk membiasakan isu homoseksual kepada keluarga. Misalnya, mengumpulkan literatur tentang homoseksual dan menyerahkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, ke keluarga untuk dibaca. Dengan begitu, lama-lama mereka menjadi terbiasa dan berpikiran terbuka. Ria menuturkan, ia menunjukkan identitas lesbian ke ibunya dengan memotong rambut pendek dan bertanya apakah ia terlihat ganteng. Cara lain, membawa pacar perempuan menginap di rumah dan mengenalkannya dengan keluarga sampai seperti keluarga sendiri. Wati berbagi pengalaman membuka dirinya kepada keluarga. “Keluarga tahu dari media. Itulah kesalahan saya, karena tidak memberi tahu mereka secara langsung. Saya sempat mengalami proses kebingungan dan kesedihan. Beruntungnya saya waktu itu mempunyai seorang teman yang berprofesi sebagai psikolog. Ketika galau, saya menghubungi teman yang psikolog ini untuk meminta saran. Dia menyarankan saya mengikuti kemauan keluarga yang ingin mengubah oritentasi seksual dari lesbian ke heteroseksual. Saya mengikuti kemauan mereka yang sangat berat itu, agar tidak dianggap frontal dan pemberontak. Setelah mengikuti semua12
  35. 35. Berterus Terang kepada Orang Tuakeinginan mereka, saya tegaskan lagi bahwa saya tidak bisa berpura-pura,saya masih mencintai sesama perempuan. Saya tidak ingin menyakitikeluarga dan ingin tetap menjadi anak yang baik, dengan hidup mandiridan bekerja. Saya tunjukkan bisa eksis dengan diri saya sendiri. Walausampai sekarang mereka tetap tidak bisa menerima, setidaknyaketerbukaan ini membuat saya lebih lega dan beban terkurangi,” ujarnya. Sedangkan Ratih sempat kehilangan hubungan ibu dan anak yangsangat berharga ketika melakukan coming out. Ia menyarankan setiaporang harus sadar konsekuensi yang dihadapi setelah berterus terang.“Tanya diri sendiri apakah sudah siap menerima kenyataan kehilangansesuatu dari diri dan keluarga. Kalau siap, silakan nyatakan. Tetapi kalaubelum siap, jangan nyatakan.” Menurut dr. Lukas, sering kali orang tua memiliki konsep hidup idealtentang memiliki anak, menikahkan, dan akhirnya mempunyai cucu. Ketikaanaknya coming out sebagai homoseksual, tentu mengagetkan. Sedikitnyaada tiga tipe respons orang tua ketika anaknya coming out. Pertama,respons yang ekstrem. Orang tua cenderung keras dan bahkan bisamenyiksa hingga membunuh anaknya karena homoseks. Kedua, responsyang normatif. Pada awalnya orang tua bingung dan kurang menerima,kemudian bisa menjadi toleran. Ketiga, respons yang toleran. “Hanya dirisendiri yang paling mengenal sifat orang tuanya. Kalau tipe orang tua kitakeras dan bisa sampai membunuh, sebaiknya jangan berterus terang.” Menanggapi saran agar tidak berterus terang jika orang tua ekstrem,Wati pun gelisah. “Bukankah justru sikap terus menutup diri itu akanmenimbulkan tekanan pada diri anak?” tanyanya. Dokter Lukasmengatakan, yang terpenting adalah menerima diri sendiri dan percayadiri. “Jangan menyalahkan diri dan depresi sampai benci diri sendiri. Hindaripertanyaan kenapa saya homoseksual. Kenapa bergaul dengan teman-teman homoseksual. Kenapa dilahirkan sebagai perempuan, dan lain-lain.”Sikap seperti itu penting agar teman-teman dapat membangun mental 13
  36. 36. Kami Tidak Bisu sehat dan bahagia menjadi homoseksual dan menerima diri. Juga agar mampu menghadapi tantangan hidup. Yaitu menerima bahwa sudah mencoba menjadi heteroseksual tapi selalu tidak bisa adalah bagian dari tantangan yang sudah dicoba. Selain itu juga agar mampu menerima orang apa adanya. Apabila orang tua homofobia, pahami bahwa mereka memang dididik normatif, yang menganggap orang normal hanyalah heteroseksual. Ketika merasa orang tua keras tapi bisa berubah, coba pahami terus sampai menjadi toleran. Perlu pula bersikap positif terhadap diri dan orang lain. “Jangan benci diri dan teruslah bersikap baik kepada orang lain. Kalau hal- hal ini bisa dijalani, silakan berterus terang kepada orang tua,” ujar dr. Lukas. Terkait dengan pengalamannya, Wati menanyakan, apa yang harus dilakukan ketika orang tua menyalahkan diri sendiri karena menganggap salah mendidik anak. Menurut dr. Lukas, perlu dilakukan penyebarluasan penelitian yang menyatakan homoseksualitas bukan karena salah didikan orang tua. Ada yang menyimpulkan kedekatan dengan salah satu orang tua membuat orientasi anak berubah. Hasil penelitian ini hanya kebetulan. Jika diperhatikan, anak homoseksual menunjukkan gejala itu sejak kecil, karena unsur otaknya yang seperti itu. Sifat anak justru yang membuat dia cenderung dekat dengan ibu atau bapaknya. Bukan terbalik. Buktinya, banyak single parent yang anaknya heteroseksual. Selain itu, pada laki-laki homoseksual ada unsur genetik. Seorang anak homoseksual kemungkinan besar memiliki silsilah keluarga yang homoseksual. Ini tipikal pada laki-laki homoseksual, bukan lesbian. Sedangkan pada lesbian, penemuan menunjukkan ada faktor hormon laki-laki selama janin perempuan dalam kandungan. Janin ini memproduksi hormon laki-laki yang lebih banyak. Otaknya dibanjiri hormon laki-laki. Jadi, kemungkinan ada faktor hormon yang memepengaruhi perkembangan otak. Sedangkan pada laki-laki homoseksual, ada faktor kromosom sehingga sebagian dalam otaknya berorientasi seperti perempuan hetero.14
  37. 37. Berterus Terang kepada Orang Tua Perbincangan ini menggelisahkan Ferdi, 25 tahun. “Sejauh apapentingnya dukungan orang tua untuk seorang homoseksual?” tanyanya.Menurut Tono, dukungan orang tua sangat penting. “Alangkah indahnyaapabila tiap ada masalah larinya ke orang tua.” Ibu Maggy menguatkanpendapat Tono. Sungguh baik jika orang tua menerima dan mendukunganaknya untuk berkembang. Anak akan lebih bahagia, tenang, dan percayadiri. Karena, ketika seseorang merasa berbeda, itu sudah cukup membuatinferior. “Jadi, peran orang tua penting, tapi lebih penting si anak percayadan yakin diri sendiri,” kata Ibu Maggy. Wati mengingatkan perlu memahami orientasi seksual terlebih dahuluuntuk bisa meyakinkan orang tua. “Kalau kita saja masih bingung, tentuakan lebih sulit menjelaskan kepada orang tua.” Dokter Lukas menguraikan,“Intinya terima diri sendiri. Jangan merendahkan diri, lalu menganggapheteroseksual superior (kesempurnaan) dan homoseksual inferior. Identitasmenunjukkan perbedaan tanpa mengatakan superior atau inferior. Menjadilaki-laki homoseksual atau perempuan lesbian adalah menunjukkan siapaAnda (identitas Anda), bukan tentang superior atau inferior. Terima dirisebagaimana adanya. Jangan menyesali mengapa tidak dilahirkan sebagaiheteroseksual. Selama perasaan bersalah masih ada, percuma sajadukungan dari orang tua dan lingkungan, sedangkan ia tetap membencidirinya. Terima dirimu sendiri!” Setelah perbincangan anak dan orang tua, Dian, 23 tahun, bertanya,bagaimana jika keluarga liberal dan bisa menerima, tapi tidak tahanmenerima cemooh dari kerabat dan tetangga. Dokter Lukas menjawab,perlu dilakukan penyebarluasan pengetahuan bahwa homoseks bukannurture (faktor lingkungan) tapi nature (alamiah). “Bantu orang melihatkonsep multikultural (keragaman budaya) dan pluralisme (keragamanidentitas kelompok dalam suatu masyarakat. Dan mengutamakan toleransi,berinteraksi, serta membaur tanpa memicu konflik. Tidak ada yang lebihtinggi atau lebih rendah.” Selain itu penting juga memahami konsep 15
  38. 38. Kami Tidak Bisu kesehatan jiwa mengenai kemampuan menerima orang lain yang berbeda sebagaimana adanya. “Ini konsep baru, tapi jika disebarluaskan pelan- pelan ke orang tua, guru, dan teman, semoga mereka bisa memahami perbedaan dan jadi tidak melecehkan.” Gagasan pentingnya menyebarluaskan pemahaman homoseksualitas ini direspons peserta Kongkow Lez. Dedi mengajak teman-teman gay dan lesbian datang ke rumahnya, sehingga keluarga mengetahui lingkungan pergaulan Dedi dan menjadi terbiasa. Wati menaruh majalah atau bahan bacaan mengenai homoseksualitas di ruang keluarga agar dibaca dan pikiran mereka perlahan terbuka. Ibu Maggy menyarankan peserta mulai menulis mengenai homoseksualitas yang positif di media seperti koran dan majalah agar masyarakat lebih mengerti dan melihatnya dari sisi positif. “Masyarakat ada yang ekstrem dan fundamental yang mengatasnamakan moralitas, agama, dan terkadang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. Tetapi masyarakat yang netral dan bisa diajak mengerti jumlahnya lebih banyak,” kata Ibu Maggy, menutup perbincangan kami sore itu.16
  39. 39. Berterus Terang kepada Orang Tua Bertemu Perkumpulan Orang Tua LGBT Catatan Perjalanan Penulis Mendengar pengalaman-pengalaman teman-teman lesbian yangkurang menyenangkan terkait berterus terang kepada orang tua,mengingatkanku pada masa-masa sulit menjalani masa remaja sebagailesbian. Waktu itu aku sedih, bingung, dan takut. Lantas aku berusahamencari informasi di internet untuk membantu pemahamanku mengenaiorientasi seksual sebagai lesbian. Dalam proses pencarian informasiitu aku cukup tercengang ketika menemukan sebuah artikel di internettentang Rainbow Family atau Keluarga Pelangi, sebuah komunitas di SanFrancisco, Amerika Serikat, yang beranggotakan para orang tua yangmemiliki anak berorientasi homoseksual. Komunitas ini hidup untukmemberikan dukungan kepada anak-anak mereka. Selesai membacaartikel itu aku berangan-angan alangkah bahagia aku dan teman-temanlesbian remaja di Indonesia jika ada komunitas serupa di sini. Selang beberapa tahun setelah berkegiatan di Institut PelangiPerempuan, tepatnya pada tahun 2009, aku mendapatkan undanganmenjadi pembicara pada Konferensi Hak Asasi Manusia Lesbian, Gay,Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Belanda. Seorang teman aktivisLGBT di Den Haag memberikan beberapa informasi mengenai kegiatanLGBT di negaranya. Salah satu topik obrolan yang paling menarikperhatianku adalah ketika dia menyebutkan sebuah nama organisasiorang tua LGBT. Tanpa pikir panjang aku meminta informasi agar bisamenemui mereka. Teman yang baik itu menawarkan diri menghubungimereka dan mengatur janji pertemuan. Di sela-sela waktu luang berkunjung ke negara pertama di duniayang melegalkan pernikahan sejenis itu, akhirnya aku bertemu selamabeberapa jam dengan seorang ibu rumah tangga yang aktif dalamkomunitas orang tua LGBT tersebut. Ibu berkulit putih, berambut pirang,dan berusia sekitar 60 tahun itu menceritakan proses membentuk 17
  40. 40. Kami Tidak Bisu komunitas itu. Rupanya komunitas tersebut dibentuk untuk menjadi wadah saling mendukung para orang tua yang masih kesulitan atau kebingungan dalam proses memahami dan menerima identitas anaknya sebagai homoseksual. Kegiatan itu mereka lakukan sambil minum teh di salah satu rumah anggota komunitas. Melalui obrolan santai itu mereka menumbuhkan peran orang tua yang ramah terhadap anak yang homoseksual. Komunitas ini tumbuh pada tahun 1970-an dan terus berlanjut hingga sekarang. Kami tidak bisa berbicara cukup lama, karena ibu itu memiliki kesibukan lain. Yang berkesan, sekaligus membuatku terharu, ibu itu mengatakan menyempatkan diri menemuiku ketika tahu aku datang dari organisasi lesbian di Indonesia. Ia teringat ibu kandungnya yang berdarah Indonesia, sehingga merasa ingin menemui anaknya yang datang dari Indonesia. Ia pun mengatakan akan menganggapku seperti anaknya sendiri di mana pun aku berada. Di Turki, negara perbatasan Asia dan Eropa yang mayoritas penduduknya muslim, ternyata ada komunitas serupa. Informasi itu kudapat ketika berkunjung ke Istanbul untuk mewawancarai beberapa aktivis LGBT di sana, sebagai bahan penulisan buku ini. Bahkan teman- teman di sana mengupayakan agar aku bertemu dengan komunitas orang tua pendukung LGBT di Istanbul. Sayang waktuku terlalu sempit sehingga tidak berhasil bertemu mereka.18
  41. 41. III Berterus Terang atau Menyimpannya? Cinta hadir untuk siapa pun Terbingkai manis di hati hati yang jujur Naz31P ilihan coming out atau tidak menjadi kegelisahan teman-temanlesbian sejak embrio pembentukan Kongkow Lez. Pada tahun 2005 ketikaInstitut Pelangi Perempuan mengusulkan pembentukan kelompokpendukung bagi komunitas lesbian muda, sebagian besar teman menolak.Saat itu kami sudah mempunyai kebiasaan nongkrong bareng di sebuahkafe atau tempat hiburan di Jakarta. Teman-teman merasa cukup nyamannongkrong di kafe dan khawatir jika menjadi komunitas lebih formal yangjustru membahayakan posisi kami. Teman-teman tidak ingin zona aman ini1 Perempuan Pelangi: Kumpulan Cerpen dan Puisi Lesbian Muda Indonesia (Institut Pelangi Perempuan, 2008) 19
  42. 42. Kami Tidak Bisu terganggu. Selain itu, yang dibayangkan teman-teman adalah kelompok pendukung, seperti organisasi pembela HAM yang biasa berdemonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia, orasi di depan Istana Negara, atau berbicara kepada media massa dan menunjukkan identitas seksual kami kepada publik. Barangkali juga karena sebagian dari kami bekerja pada organisasi perempuan yang sering melakukan kegiatan seperti itu. Juga banyaknya berita di televisi dan surat kabar yang menggambarkan kegiatan demonstrasi dan berbicara kritis di depan publik. Ketertutupan kami selama ini bukan tanpa alasan. Membuka jalan hidup sebagai lesbian yang minoritas dan terpinggirkan memang dapat mengancam keamanan kami. Apalagi sebagian teman trauma akibat penolakan dari orang tua, teman dekat, dan lingkungan kerja. Ditambah lagi pemberitaan tentang perlakuan masyarakat yang homofobia terhadap lesbian, membuat teman-teman tidak percaya diri menghadapi situasi tersebut dan berusaha menutupinya. Intinya, semua pengalaman tersebut membuat teman-teman tidak mudah percaya kepada masyarakat heteroseksual. Institut Pelangi Perempuan berusaha menjelaskan kepada teman-teman bahwa berorganisasi tidak harus seperti yang mereka amati di media. Kelompok ini bisa memulai dengan sesuatu yang berbeda, misalnya pertemuan rutin membahas masalah keseharian hidup sebagai lesbian dan saling memberikan dukungan. Beberapa bulan kemudian muncul kesepakatan membuat pertemuan yang kami sebut Kongkow Lez. Undangan pun disebarkan melalui SMS, email, dan mailing list yang ditujukan terbatas kepada teman-teman yang kami kenal. Meskipun demikian, beberapa teman masih khawatir. Muncul pertanyaan dan kekhawatiran, apakah akan diliput media, apakah kegiatan diadakan di ruang terbuka untuk publik, siapa saja yang akan hadir. Institut Pelangi Perempuan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan memastikan acara berlangsung tertutup dan aman. Berangkat dari sejarah itu, Kongkow Lez memfasilitasi bincang-bincang20
  43. 43. Berterus Terang atau Menyimpannya?santai terkait isu tersebut. Kongkow yang diselenggarakan pada 23 Februari2008 ini ditemani Danny Yatim, akademisi dan psikolog yang peduli isu HIV/AIDS. Danny memulai perbincangan dengan penjelasan coming out. Istilahitu muncul ketika beberapa gay dan lesbian di Amerika mulai capekmenyembunyikan orientasi diri. “Gue udah bosan nih sembunyi di lemari.Gue pingin keluar. Pintunya pingin gue buka. Gue pingin kasih tahu dunia,gue gay, gue lesbian....” Dari situasi itu muncul coming out dan kemudiandisingkat lagi menjadi “out” saja. “I am out”, I am not out”. Sedangkan sikaptertutup disebut in the closet. Menurut Danny, meski ada anggapan orang Barat lebih suka berbicaraterus terang, ternyata ada situasi yang membuat lesbian dan gay di sanabersembunyi. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam diri mereka dan ingindisampaikan kepada dunia. Situasi itu berlangsung pada tahun 1970-anketika gerakan gay dan lesbian muncul bersamaan dengan gerakan feminis.Masa itu kemudian dikenal sebagai gerakan gay liberalism. Barangkalisebagian orang Indonesia menganggap gay dan lesbian bersumber dariBarat yang sistem hidupnya sudah serba bebas. Namun, andai anggapanitu benar, berarti tidak akan ada gerakan gay dan lesbian? Tidak akan adaorang yang tergerak untuk coming out. “Nah, sekarang pertanyaannya, kalau kita mau coming out, kepadasiapa?” kata Danny. Dia juga menyampaikan, Dede Oetomo dari GayaNusantara menggunakan istilah “kita ini seperti menetas dari telur”. “Jadisebenarnya kita ini coming out kepada siapa?” Dila menjawab coming outkepada keluarga lebih dulu, sedangkan Nita memilih kepada diri sendiri dulusebelum kepada orang lain. Menurut Danny, ada enam tahapan coming out.Pertama kepada diri sendiri. “Berani mengaku kepada diri sendiri bahwa guelesbian, gue gay....” Berikutnya coming out kepada teman dekat. Setelah itucoming out kepada keluarga. Selanjutnya coming out kepada lingkunganpergaulan dan orang-orang yang ditemui sehari-hari. “Lalu ada coming outdi tempat kerja dan coming out kepada dunia. Minimal secara simbolis, I’m 21
  44. 44. Kami Tidak Bisu out, I’m telling the world. Saya katakan kepada dunia bahwa saya gay.” Menurut Danny, seorang lesbian atau gay juga dapat out kepada orang tertentu dan tertutup kepada orang yang lain. Sikap terbuka kepada orang tertentu dan tertutup kepada orang yang lain itu diakibatkan banyaknya stereotipe kepada gay dan lesbian. “Stereotipe itu kadang-kadang ada pada kita sendiri, pada awalnya. Kalau kita dibesarkan di dunia yang heteroseksual, seperti lagu, dongeng, cerita anak-anak, film. Semua orang diceritakan tentang Sleeping Beauty, Cinderella dan Prince Charming, Romeo and Juliet. Semua orang diperdengarkan lagu romantisme yang menanamkan si laki-laki pasti ketemu perempuan, si perempuan pasif, karena laki-laki yang pasti datang sebagai kesatria.” Ajaran itu, menurut Danny, menimbulkan pertanyaan kepada lesbian dan gay ketika dewasa. “Kenapa sih gue nggak dikasih petunjuk? Kenapa gue suka sesama perempuan?” Pada saat pertanyaan itu muncul, lalu orang merasa penting untuk coming out. Semakin banyak yang coming out, semakin menguntungkan, karena akhirnya orang tahu bahwa ada perempuan yang suka perempuan dan bukan ia satu-satunya di dunia. Santi mengatakan, kebutuhan untuk coming out tergantung pada situasi yang dihadapi. Menurut Danny, coming out itu full of surprises, dan itu bisa bersifat negatif atau positif. Misalnya, ada seseorang yang hubungannya sangat dekat dengan orang tua, tapi ketika berterus terang, ternyata orang tua tidak bisa menerima. Lalu apakah kita perlu atau tidak coming out? Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, apakah penting buat diri kita coming out? Apakah kita merasa nyaman dengan keputusan itu? Apakah kita siap dengan konsekuensinya? Walaupun ketika kita tidak coming out dan menimbulkan ketidaknyaman karena bersembunyi, itu juga jadi persoalan juga. “Banyak hal yang mesti kita pertanyakan terlebih dahulu kepada diri sendiri, apakah ingin membuka diri atau tidak? Lalu membuka dirinya kepada siapa? Kepada keluarga, teman, atau kepada teman-teman pergaulan, seperti teman kerja?”22
  45. 45. Berterus Terang atau Menyimpannya? Merespons penjelasan tersebut, Mita menuturkan pengalamannyacoming out pada diri sendiri. Aku sebenarnya sudah merasa lesbian sejakkelas V SD, tetapi baru tiga bulan ini berani coming out pada diri sendiri.Selama ini aku selalu menutupi dan mengatakan kepada diri sendiri, “No!Aku normal.” Selama tiga bulan terakhir ini aku mencoba jujur sama dirisendiri bahwa aku memang seperti ini. Tidak ada satu orang pun teman ataukeluarga yang tahu aku punya perasaan seperti ini. Karena umurku sudah 27tahun, jadi mungkin dalam waktu dekat aku akan berani coming out kepadamereka, karena aku juga sudah bisa mandiri. Aku juga pernah pacaran samacowok tetapi tetap nggak bisa. Keberanian untuk coming out ini juga tidakmuncul begitu saja. Aku bertemu teman lama sewaktu SMA. Lalu kamibareng selama tiga tahun hanya sebagai teman, walaupun perasaan sukasudah lama ada, karena aku terus menutupi dan berusaha bahwa “aku gakseperti itu kok”. Ternyata justru teman itu yang menyadarkan aku. Akutertawa mengingat saat teman menyadarkan aku dalam keadaan mabukseperti itu. Dan aku bilang, “Oh my God... selama ini aku berciuman dengancowok.” Jadi, aku tahu begitu berciuman dengan perempuan ternyatarasanya berbeda. “Inilah yang aku cari. Ini yang sebenarnya.” Tetapi yangbikin sakit hati, dia menganggap itu kesenangan saja. Dia juga mengatakan,“Ini salah dan kamu harus berubah.” Hal itu berlangsung selama enam bulan.Karena aku gila dugem, setiap weekend setelah pulang dugem, dalamkeadaan mabuk dia suka “sayang-sayang” seperti itu sama aku danbesoknya seperti tidak terjadi apa-apa. Jadi, dia menganggap itu hanyauntuk kesenangan. Begitu ada kesempatan, dalam kadaan sadar, akumencoba berbicara dengan dia. “Bagaimana? Aku sadar dan kamu jugasadar, jadi bagaimana?” Dia hanya menjawab, “Udah, ini salah, kamu nggakbisa.” Tetapi aku tetap berpikir bahwa ini tidak salah dan selama beberapatahun aku menahannya. Jadi, aku memilih jalanku dan dia memilih jalannya.Aku bilang sama dia, “One day, walaupun kita tidak sama seperti sekarang,mungkin aku akan dengan orang lain.” Jadi, sebenarnya dia juga membantumenyadarkan aku. Mungkin kalau tidak terjadi hal itu, sampai sekarang 23
  46. 46. Kami Tidak Bisu coming out sama diri sendiri saja mungkin tidak bisa. Tuntutan coming out juga bisa muncul dari orang lain, sebagaimana pengalaman Santi. “Dua tahun lalu saya mendadak harus ke rumah sakit pada pukul 12 malam. Saat itu saya diantar teman perempuan yang kebetulan sudah dicurigai orang rumah. HP saya tertinggal di rumah, akibatnya SMS-SMS dibaca keluarga. Begitu saya pulang dari rumah sakit, saya langsung ditanya. Saat itu saya tidak bisa berbuat apa-apa. Karena tidak bisa berpikir jernih, saya mengaku. Akibatnya saya disuruh keluar dari rumah dan saya hidup di luar rumah selama empat bulan. Saat saya pulang ke rumah, keadaan sudah mulai agak tenang. Tetapi tidak berapa lama kemudian keadaan menjadi panas lagi. Sampai-sampai orang tua sujud dan menangis meminta saya menjadi seorang hetero lagi.” Santi memilih coming out meskipun akibatnya tidak enak. Kini sikap dan kondisi orang tua bisa lebih tenang. Sedangkan pengalaman Ratih menunjukkan coming out-nya ditunggu- tunggu keluarga, tetapi ia masih berpikir coming out itu penting atau tidak. Ratih merasa keluarganya sudah tahu ia lesbian. “Adik saya pun sudah tahu, karena pernah memergoki ada beberapa foto dan video-video lesbian.” Ketika di kampus dan bertemu teman-teman, Ratih juga tidak bisa coming out. Pertimbangannya, orang tuanya bekerja di kampus yang sama. “Kemudian cara saya coming out ke teman-teman, karena dulu saya pernah fitnes dan mereka mengatakan, “Gila lu telanjang?!” Terus saya jawab, “Emang kenapa? Salah ya kalau cewek sama cewek telanjang? Lagian kalau lu telanjang gue belum tentu nafsu kok.” Saya juga mengatakan, “Ya nggak masalah, orang gue lesbian, tapi gue nggak nafsu ama lu.” Teman-teman jadi bertanya, “Emang lu lesbian, ya?” Saya jawab, ’nggak kok’ sambil tertawa, tetapi dalam hati mengatakan, ‘iya’. Jadi, saya berteriak-teriak di tempat itu seolah-olah menandakan antara iya dan tidak. Toh, sampai detik ini orang tua sebenarnya hanya tinggal menunggu pengakuan saya. Seperti bom waktu.24
  47. 47. Berterus Terang atau Menyimpannya? Merespons pengalaman Ratih, Danny mengatakan, jika kita tidaksanggup menghadapi risikonya, coming out bukan tidak perlu, tetapi belumperlu. “Butuh waktu yang banyak untuk kita pikirkan dulu, sampai kitamerasa nyaman untuk coming out dengan segala konsekuensinya.” Sedangkan Mita memilih bersikap hanya menjawab jika ada yangmenanyakan tentang orientasinya. “Mungkin untuk terbuka kepada orang,seperti kepada sahabat karib, aku belum. Tetapi kalau ditanya, aku akanjawab iya. Karena bagi aku itu bukan hal yang harus aku bilang ke semuaorang. Tapi kalau dia nanya, “ya, that’s me”. Lain lagi pengalaman Julia,yang mendapatkan respons di luar dugaan dari keluarganya. “Tidakdisangka aku ketahuan adikku bahwa I am Lesbian. Adikku orangnya openmind, tetapi tidak disangka dia sempat bilang, hanya satu kalimat, “Lukurang iman.” Aku jawab, “Ok.” Akhirnya kakak perempuanku juga tahu.Kakak perempuanku sangat konservatif. Bagi dia, perempuan harus manis,rapi, cantik, bisa masak, dan sebagainya. Aku justru sebaliknya. Namun,dia bertanya, “Pacar lu siapa? Ayo dong bawa ke rumah, kenalan ama gue.”Aku kaget. “Hah? Ya udah, kapan ketemu?” Di sini tidak terduganya, adikkuyang open mind tak pernah membahas lagi, sedangkan kakakku yangkupikir sangat konservatif dengan gayanya yang sangat ibu rumah tangga,justru lebih terbuka. Terkadang kakakku bilang, “Eh aku nitip film-filmlesbian dong, entar aku pinjem.” Ratih mengalami pengalaman berbeda, setelah menyampaikan bahwaia lesbian. “Pada waktu baru masuk kuliah, saya ngobrol-ngobrol denganteman yang sudah punya pacar dan dia bukan lesbian. Saya bilang samadia, sebenarnya saya lesbian. Tiba-tiba dia ngomong, ‘Oh, thank’s God’.Setelah itu teman jadi lebih dekat dan gelendotan ke saya. Saya risih, orangmengira saya ini cowok. Kejadian terulang sampai empat kali. Bahkan,pernah dengan seorang perempuan, ibu-ibu lagi, dan sudah punya anak.Kejadiannya sama, setelah saya bilang saya seorang lesbian, kami justrujadi lebih dekat. Pernah kami berjalan di suatu ruangan dengan 25
  48. 48. Kami Tidak Bisu bergandengan tangan. Tidak tahu kenapa, saya melihat sepertinya mereka merasa lebih nyaman. Namun, ada teman dekat, sampai detik ini, saya dengan dia tidak ada komunikasi lagi. Saya memusuhi dia karena saya nggak mau dia seperti saya. Sampai saya bilang sama dia, ‘Jangan sampe lu kaya gue. Nggak enak posisi seperti ini.’ Akhirnya kami sampai sekarang benar-benar musuhan. Nggak kontak-kontakan. Danny mengingatkan cara masyarakat membesarkan kita dengan bermacam-macam stereotipe, padahal tidak semua orang memiliki stereotipe itu. Seperti Ratih sampaikan ketika didekati perempuan, “ibu- ibu lagi”, memangnya ibu-ibu kenapa? Secara tidak sadar kita juga memiliki stereotipe bahwa “lesbian harus begini”. Orientasi seksual itu cair, tidak seperti mitos heteroseksual dan homoseksual. Di film Kinsey, seorang dokter tahun 1940-an yang menerima banyak pasien, mengatakan ada tujuh kelompok manusia ad. Ada yang 100 persen heteroseksual. Ada yang 100 persen homoseksual. Lalu banyak yang berada di tengah-tengahnya. Jadi, misalnya dari yang tujuh kelompok itu ada yang 100 persen homoseksual, dan enam kelompok lagi dominan homoseksual tetapi masih ada perasaan heteroseksual juga. Intinya, manusia bisa bermacam-macam orientasi seksualnya. Makanya ada istilah MSM (Men Who Have Sex With Men) atau laki-laki yang berhubungan dengan laki-laki (LSL). Saya juga agak heran kalau sekarang di pergerakan ada laki-laki bilang, “Saya sudah MSM.” Lalu saya bilang, jangan ngomong seperti itu, karena itu bukan identitas. Di Indonesia, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) termasuk di dalamnya laki-laki gay, laki-laki yang mengaku dirinya gay, bisa juga laki- laki yang mengaku dirinya heteroseksual tetapi suka juga dengan laki-laki atau “main” dengan waria. Dan begitu bicara tentang identitas, lalu ini dijadikan satu istilah MSM. Makanya saya bilang, kita banyak dibesarkan dengan stereotipe, tetapi kita sulit keluar dari stereotipe itu. Kembali soal perlu tidaknya coming out, menurut Wati, tergantung situasi dan kondisi tiap-tiap individu. “Kalau aku melihat positifnya, coming26
  49. 49. Berterus Terang atau Menyimpannya?out itu menyehatkan diri juga. Sehat untuk psikologis diri. Karena kalau kitapendam, terlalu banyak energi yang kita habiskan untuk memikirkanmasalah ‘gue abnormal’, ‘gue berdosa’, dan sebagainya, yang sebenarnyakita normal juga. Padahal, energi kita bisa dipakai untuk berkarya,berprestasi, melakukan hal-hal yang lain.” Kalau memutuskan coming out,utamakan kepada orang yang kita percaya dan tidak harus orang tua. Temandekat bisa beragam, guru ngaji, sesama teman lesbian, dan yang lain.“Tetapi terkadang kita kecewa, ketika sudah percaya curhat sama teman,teman itu lantas bercerita ke orang lain. Jadi, buat aku penting banget untukbisa memilih dengan siapa kita akan coming out.” Wati juga mengajak untukmempertimbangkan apakah orang yang akan mendengarkan coming outitu kita yakini tidak akan bercerita kepada orang lain. Tidak akan melukaikita. “Karena ada juga yang langsung marah atau tidak suka.” Menurut Danny, coming out memang membuat perasaan lega dan“ternyata dunia gak kiamat kok, setelah saya kasih tahu bahwa saya gay”.Sebaliknya pada waktu masih tertutup, ada perasaan dunia sepi ini akanmenerkam kita, “entar gue dibilang lesbian, gue dibilang gay….” Penuhdengan ketakutan-ketakutan itu. Tetapi setelah coming out, ternyata tidakmenakutkan seperti yang dibayangkan. Danny berempati kepada teman-teman yang belum bisa coming out, karena pernah merasakan hal yangsama. Untuk bisa membuka diri dibutuhkan orang-orang yang sudahcoming out sebagai anutan dan meyakinkan bahwa “oh, ternyata ini tidakapa-apa”. Itulah mengapa dalam gerakan gay dan lesbian, coming outsangat diharapkan muncul. Walaupun tidak bisa juga menyamaratakankondisi semua orang untuk bisa melakukan itu. Contohnya Jodie Foster,bintang film Amerika. Cher, penyanyi, punya anak lesbian juga. Saatanaknya membuka diri, Cher marah. Belakangan dia memberikan alasanmengapa marah kepada anaknya. Ternyata dia marah karena sang anaktidak bercerita kepadanya, padahal dia ibunya. Tetapi mungkin sang anakjuga mempunyai banyak pertimbangan. Karena mungkin anaknya juga 27
  50. 50. Kami Tidak Bisu tidak tahu ibunya juga lesbian. Penting juga komunitas saling dukung agar tidak merasa sendirian di dunia. Kebanyakan orang tidak berani “keluar dari closet” itu, karena merasa dirinya satu-satunya di dunia ini. Namun, Wati khawatir terhadap teman-teman lesbian muda, yang menurut dia, memudahkan proses coming out. “Dia sebenarnya belum selesai dengan dirinya sendiri, tapi sudah berani coming out kepada teman- temannya, lalu masyarakat sekitarnya.” Berdasarkan pengalamannya, lebih baik tertutup dulu sampai bisa menyelesaikan kuliah. “Karena aku merasa, kalau kita sudah punya kekuatan ekonomi sendiri, itu juga bisa membantu membangun kepercayaan diri untuk coming out.” Kehawatiran serupa disampaikan Santi, yang juga masih kuliah. Merespons kekhawatiran Wati dan Santi, Julia meminta pendapat peserta Kongkow Lez apa yang dilakukan kepada lesbian muda yang telanjur coming out lalu mendapatkan penolakan dari orang tua dan itu membuat mereka terpuruk. Bahkan, ada seorang anak yang menulis semua masalahnya dalam sebuah buku, ketika orang tuanya mengetahui hal itu, anak itu diseret dan langsung dibunuh. “Karena di satu sisi mereka sudah ketahuan, mereka mendapatkan perlakuan buruk seperti nggak boleh keluar, ke mana-mana dibatasi, pulang sekolah harus langsung pulang. Di sisi lain, mereka juga ingin menunjukkan, ‘ini gue lho’. Kita juga tak bisa bilang ‘lu harus tahan’, karena setiap orang mempunyai kapasitas berbeda.” Menurut Danny, perlu mengadakan kegiatan bersama para orang tua. “Tetapi kalau untuk masing-masing individu, saya pun tidak bisa memberikan jawaban yang akurat untuk semuanya. Karena semua itu tergantung kondisi masing-masing.” Dia mengingatkan pentingnya keberadaan wadah untuk saling membantu agar tidak merasa sendirian. Sebenarnya 10 persen populasi di dunia gay dan lesbian. “Kita semua dibesarkan harus heteronormatif. Kalau jadi orang tua, cepat punya anak, nanti kalau sudah tua ada anak yang akan mengasuh dan mengurus kita. Itu semua sebenarnya hal-hal yang menimbulkan ketakutan untuk menjadi28
  51. 51. Berterus Terang atau Menyimpannya?gay dan lesbian. Jadi, bukan hanya masalah diterima atau tidak, tetapi jugakarena memikirkan tentang hidup yang sunyi, sepi. Dan masyarakat jugabelum mengakui pasangan homoseks. Orang yang sudah nyaman comingout bisa mengatakan ‘ini partner saya’. Tetapi tidak semua bisa begitu, kan?Dan ada saatnya kita ingin ‘go public’, memberi tahu bahwa ‘ini pasangansaya’. Tetapi saya juga tidak tahu, perlu tidak ‘go public’? Saya serahkankepada teman-teman.” Menyinggung sistem pernikahan, Nina menyampaikan sikapnya untuktidak coming out. “Maaf, saya hanya ingin menanggapi masalah lesbianyang menikah. Saya lesbian yang menikah dengan laki-laki, karena memilihmembahagiakan keluarga saya. Saya tidak coming out kepada mereka.Karena kebahagiaan mereka lebih penting daripada apa yang saya rasakan.Itu saja, terima kasih.” Danny merespons bahwa tidak ada yang bisa disalahkan dan dibenarkan.“Tiap-tiap orang mempunyai lingkungan yang berbeda. Kita tahu mana yangterbaik. Itu saja. Ada memang lesbian yang menikah, karena ingin punyaanak. Jadi, ada kerinduan ingin punya anak, tetapi tidak ingin punya suami.” Penolakan lingkungan setelah coming out juga kadang-kadangmenyudutkan melalui tuduhan yang tidak ada kaitan dengan orientasiseks, sebagaimana pengalaman Berti. “Ketika teman-teman tahu guelesbian, mereka nanya, ‘lu gak pikirin kalau lu bener-bener sakit, dan lu ituggak benar-lah’. Ada juga teman yang bilang, ‘kalau lu bilang diri lu belok,itu orang pedofilia, orang yang sukanya ama anak-anak kecil, lu gimanadong?’ Lalu aku jawab, ‘nggak dong, karena itu bukan aku ya, itu nafsu’.Setelah itu mereka mendiamkan aku.” Menurut Danny, anggapan homoseksual yang selalu dihubungkandengan pedofilia adalah keliru. Kenyataannya, banyak juga pedofilia yangheteroseksual. Pedofilia adalah suka berhubungan seks dengan anak-anak,tidak ada hubungan dengan orientasi seksual. Walaupun dalam pemberitaan 29

×