Bab I<br />Pendahuluan<br />Latar belakang Masalah<br />Sastra berbicara tentang hidup dan kehidupan, tentang berbagai per...
Pembagian genre sastra anak berdasarkan analogi pembagian genre sastra dewasa dengan masih memanfaatkan pembagian lukens. ...
Bab i
Bab i
Bab i
Bab i
Bab i
Bab i
Bab i
Bab i
Bab i
Bab i
Bab i
Bab i
Bab i
Bab i
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Bab i

2,755 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,755
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
45
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab i

  1. 1. Bab I<br />Pendahuluan<br />Latar belakang Masalah<br />Sastra berbicara tentang hidup dan kehidupan, tentang berbagai persoalan hidup manusia, tentang kehidupan di sekitar manusia yang diungkapkan dengan cara dan bahasa yang khas. Artinya, baik cara pengungkapan maupun bahasa yang dipergunakan untuk mengungkapkan berbagai persoalan hidup, atau biasa disebut gagasan adalah khas sastra, khas dalam pengertian yang lain dari pada yang lain. Artinya, pengungkapan dalam bahasa sastra berbeda dengan cara-cara pengungkapan bahasa selain sastra, yaitu cara-cara pengungkapan yang telah menjadi lazim. Dalam bahasa sastra lebih bernuansa keindahan daripada kepraktisan. Karakteristik tersebut juga berlaku dalam sastra anak. <br />Sastra mengandung eksplorsi mengenai kebenaran kemanusiaan. Sastra juga menawarkan berbagai bentuk motivasi manusia untuk berbuat sesuatu yang dapat mengandung pembaca untuk mengidentifikasikannya. Apalagi jika pembaca itu adalah anak-anak yang fantasinya baru berkembang dan dapat menerima segala macam cerita terlepas dari cerita itu masuk akal atau tidak. <br />Sastra anak diyakini memiliki kontribusi yang besar bagi perkembangan kepribadian anak dalam proses menuju kedewasaan. Sastra diyakini mampu mempergunakan sebagai salah sarana untuk menanam, memupuk, mengembangkan, dan bahkan melestarikan nilai-nilai yang diyakini baik dan berharga oleh keluarga, masyarakat dan bangsa. Karena adanya pewarisan nilai-nilai itulah eksistensi suatu masyarakat dan bangsa dapat dipertahankan. Penanaman nilai-nilai dapat dilakukan sejak anak masih belum dapat berbicara dan belum membaca. Nyanyian-nyanyian yang biasa didendangkan seorang ibu untuk membujuk agar si buah hati segera tidur atau sekadar untuk menyenangkan, pada hakikatnya juga bernilai kesastraan dan sekaligus mengandung nilai yang besar bagi perkembangan kejiwaan anak, misalnya nilai kasih sayang dan keindahan. Anak tidak dapat tumbuh secara wajar tanpa dukungan kasih sayang dan kasih sayang itu, antara lain: dapat diekspresikan lewat nyanyian yang bernilai keindahan. Berbagai cerita yang dimaksudkan untuk dikonsumsikan kepada anak dapat diperoleh dan diberikan, antara lain lewat sastra anak (children literature). Anak memiliki potensi keindahan, potensi yang bernilai seni dalam dirinya, baik dalam pengertian menikmati maupun berekspresi. Dalam hal ini si ibulah yang mula-mula berjasa menggali potensi itu, berjasa menanam dalam jiwa, menikmati dalam rasa dan indera, dan mengekspresikan dalam bentuk tingkah laku verbal dan nonverbal.<br />Rumusan masalah<br />Dari Latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan sebagai berikut.<br />Jelaskan Pengertian sastra anak?<br />Jelaskan perbedaan genre sastra anak dengan genre sastra dewasa?<br />Sebutkan dan jelaskan genre sastra anak, menurut Lukens?<br />Bagaimana cara perkembangan kontribusi sastra anak ke dalam nilai personalia?<br />Apa saja nilai pendidikan kontribusi sastra anak yang sedang dalam proses pertumbuhan?<br />Tujuan penulisan<br />Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut .<br />Agar dapat mengetahui sastra anak<br />Agar dapat mengetahui apa perbedaan genre sastra anak dengan genre sastra dewasa.<br />Agar dapat mengetahui macam-macam sastra anak menurut Lukens.<br />Agar dapat mengetahui cara perkembangan kontribusi sastra anak ke dalam nilai personalia.<br />Agar dapat mengetahui apa saja nilai pendidikan kontribusi sastra anak.<br />Bab II<br />Pembahasan<br />Pengertian Sastra Anak<br />Disekolah Dasar, Pembelajaran Sastra dimaksudkan Untuk meningkatkan kemampuan siswa mengapresiasikan karya sastra. Menurut Huck (1987 : 630-623) bahwa pembelajaran sastra di SD harus memberi pengalaman pada siswa yang akan berkontribusi pada 4 tujuan, yakni :<br />Pencarian kesenangan Pada buku<br />Menginterprestasikan bacaan sastra<br />Mengembangkan kesadaran bersastra<br />Mengembangkan apresiasi<br />Pembelajaran sastra di SD adalah Pembelajaran sastra anak. Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 6-13 tahun. Sastra anak menurut lukens (2003:9) menawarkan dua hal utama, yaitu kesenangan dan pemahaman. Sedangkan menurut Hunt (1995:61), sastra anak adalah sastra yang menyangkut baik kehidupan manusia, binatang, tumbuhan, maupun kehidupan yang lain. Namun, apapun isi kandungan cerita yang dikisahkan mestilah berangkat dari sudut pandang anak, berada dalam jangkauan pemahaman emosional dan pikiran anak. <br />Dari beberapa kutipan diatas disimpulkan bahwa sastra anak adalah karya sastra yang dapat dipahami oleh anak, Sastra anak bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan. Di dalam buku sastra anak dapat mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi seorang anak. Jenis sastra anak meliputi prosa, puisi, dan drama. Jenis prosa dan puisi dalam sastra anak sangat menonjol.<br />Perbedaan Genre Sastra Anak Dengan Genre Sastra Dewasa?<br />Perbedaan Genre sastra anak dengan sastra dewasa. Menurut Lukens (2003:8) perbedaan antara keduanya bukan terdapat spesies atau hakikat kemanusiaan, melainkan pada tingkat pengalaman dan kematangan. Perbedaan antara sastra anak dan dewasa adalah terdapat dal hal tingkatan pengalaman yang dikisahkan, bukan pada hakikat kemanusiaan yang dikisahkan. Sama halnya dengan sastra dewasa, sastra anak pun hadir untuk menawarkan kesenangan dan pemahaman. Hanya saja sastra anak memiliki sejumlah keterbatasan baik yang menyangkut pengalaman kehidupan yang dikisahkan maupun bahasa yang dipergunakan untuk mengekspresikan. Pengalaman anak masih terbatas, maka anak belum dapat memahami cerita yang melibatkan pengalaman hidup yang kompleks. Bahasa sastra anak masih lebih lugas, apa adanya, dan tidak terbelit. Alur cerita haruslah sederhana, mudah dipahami, dan diimajinasikan.<br />Genre dapat dipahami sebagai suatu macam atau tipe kesastraan yang memiliki seperangkat karakteristik umum (Lukens, 2003:13). Sedangkan menurut Mitchell (2003:5-6) genre menunjuk pada pengertian tipe atau kategori pengelompokan karya sastra yang biasanya berdasarkan atas stile, bentuk, atau isi. Pembicaraan tentang genre sastra anak dengan perbedaan genre dalam sastra dewasa, yaitu dalam tiga besar genre puisi, fiksi, dan drama dengan masing-masing memiliki subgenre. Namun, gengre sastra anak faktanya tidak sederhana itu, maka perbedaan genre kedalam tiga macam terseebut sengaja dilakukan.<br />Di bawah ini dikemukakan genre sastra anak lukens (2003:14-34). Perbedaan itu tampak berbeda dengan genre sastra dewasa, dan juga berdasarkan tiga pemikiran perlunya pembicaraan genre di atas. Ia terlihat lebih rinci, tetapi terjadi ketumpangtindihan di sana-sini karena suatu cerita dapat dimasukkan ke dalam lebih dari satu subgenre dengan kriteria yang berbeda.<br />Secara garis besar Lukens mengelompokan genre sastra anak ke dalam enam macam, yaitu<br />Realisme<br />Realisme dalam sastra dapat dipahami bahwa cerita yang dikisahkan itu mungkin saja ada dan terjadi walau tidak harus bahwa ia memang benar-benar ada dan terjadi. Peristiwa dan jalinan pristiwa yang dikisahkan masuk akal, logis. Cerita merepresentasikan berbagaia peristiwa, aksi dan interaksi, yang seolah-olah memang benar, dan penyelesaiannya pun masuk akal dan dapat dipercaya (plusibel). Jadi, karakteristik umum cerita realisme adalah narasi fiksional yang menampilkan tokoh dengan karakter yang menarik yang dikemas dalam latar tempat dan waktu yang dimungkinkan. Ada, beberapa cerita yang dapat dikategorikan ke dalam realisme yaitu cerita realistik, realisme binatang, realisme historis, dan cerita olahraga.<br />Fiksi Formula<br />Genre ini sengaja disebut fiksi formula karena memiliki pola-pola tertentu yang membedakanya dengan jenis yang lain. Walau hal itu tidak mengurangi orisinalitas cerita yang dikreasikan oleh penulis, keadaan itu mau tidak mau merupakan sesuatu yang bersifat membatasi. Jenis sastra anak yang dapat dikategorikan kedalam fiksi formula adalah cerita misteri dan detektif, cerita romantis, dan novel serial.<br />Fantasi <br />Fantasi dapat dipahami sebagai “the willing suspension of disbelief”, (Coleridge, via Lukens, 1999:20), cerita yang menawarkan sesuatu yang sulit diterima. Cerita fantasi dikembangkan lewat imajinasi yang lazim dan dapat diterima sehingga sebagai sebuah cerita dapat diterima oleh pembaca. Jenis sastra anak yang dapat dikelompokkan ke dalam fantasi ini adalah cerita fantasi, fantasi tingkat tinggi, dan fiksi sain.<br />Sastra Tradisional<br />Istilah “Tradisional” dalam kesastraan (Traditional literature atau folk literature). Sastra Tradisional adalah sastra rakyat yang tidak jelas kapan penciptaannya dan tidak pernah diketahui pengarangnya yang diwariskan secara turun-temurun terutama lewat sarana lisan atau dalam tulisan (tangan). Tampaknya ada banyak cerita tradisional yang bersifat “universal”, dan itu menunjukan adanya universalitas keinginan dan kebutuhan manusia. Kisah semacam Cinderella misalnya, dapat ditemukan di berbagai belahan didunia dalam bentukyang mirip. Jenis cerita yang dikelompokkan ke dalam genre ini adalah fabel, dongeng rakyat, mitologi, legenda, dan epos.<br />Puisi<br />Puisi adalah bentuk sastra didalamnya terdapat pendayagunaan berbagai unsur bahasa untuk mencapai efek keindahan. Genre puisi anak dapat berwujud puisi-puisi lirik tembang-tembang anak tradisional, lirik tembang-tembang ninabobo, puisi naratif, dan puisi tradisional. Puisi personal adalah puisi modern yang sengaja ditulis untuk anak-anak oleh penulis dewasa maupun anak-anak. Puisi jenis ini dapat berbicara tentang apa saja sepanjang yang menarik perhatiaan penulis. Misalnya, berbicara tentang alam, keindahan alam, ibu dan kebaikan hati ibu, adik baru, persahabatan, binatang piaraan, dan lain-lain sebagaimana yang dapat dilihat misalnya, pada majalah anak-anak.<br />Nonfiksi<br />Bacaan nonfiksi yang sastra ditulis secara artistik sehingga jika dibaca oleh anak , anak akan memperoleh pemahaman dan sekaligus kesenangan. Ia akan membangkitkan pada diri anak perasaan keindahan yang berwujud efek emosional dan intektual. Untuk kepentingan praktis, bacaan nonfiksi dapat dikelompokan ke dalam subgenre buku informasi dan biografi.<br /><ul><li>Pembagian Genre yang Diusulkan
  2. 2. Pembagian genre sastra anak berdasarkan analogi pembagian genre sastra dewasa dengan masih memanfaatkan pembagian lukens. Genre sastra anak cukup dibedakan ke dalam fiksi, nonfiksi, puisi, sastra tradisional, dan komik dengan masing-masing memiliki subgenre. Dasar pembagiannya adalah bentuk pengungkapan dan isi yang diungkapkan, namun juga mempertimbangkan adanya sastra tradisional. Sebagaimana Lukens dan dengan argumentasi yang sama, genre drama sementara tidak dimasukan dalam pembagian genre ini.</li></ul>Nilai Personal<br />Perkembangan Emosional<br />Anak usia dini yang belum dapat berbicara atau baru berada dalam tahap perkembangan bahasa satu kata atau kalimat dalam dua-tiga kata ikut tertawa-tawa ketika diajak bernyanyi bersama sambil bertepuk tangan. Hal itu dapat dipahami bahwa sastra lisan yang berwujud puisi-lagu tersebut dapat merangsang kegembiraan anak, merangsang emosi anak untuk bergembira, bahkan ketika anak masih berstatus bayi.<br />Dalam perkembangan selanjutnya setelah anak dapat memahami cerita, baik diperoleh lewat pendengaran, misalnya diceritai atau dibacakan, maupun lewat kegiatan membaca sendiri, anak akan memperoleh demonstrasi kehidupan sebagaimana yang diperagakan oleh para tokoh cerita akan bertingkah laku baik secara verbal maupun nonverbal yang menunjukan sikap emosionalnya, seperti ekspresi gembira, sedih, takut, terharu, simpati dan empati, benci dan dendam, memaafkan dan lain-lain secara kontekstual sesuai dengan alur cerita.<br />Perkembangan Intektual<br />Lewat cerita, anak tidak hanya memperoleh “kehebatan” kisah yang menyenangkan dan memuaskan hatinya. Cerita menampilkan urutan kejadian yang mengandung logika pengurutan, logika pengaluran. Logika pengaluran memperlihatkan hubungan antarperistiwa yang diperani oleh tokoh baik protagonis maupun antagonis. Hubungan yang dibangun dalam pengembangan alur pada umumnya berupa hubungan sebab akibat. Artinya, suatu peristiwa terjadi akibat atau mengakibat terjadinya peristiwatersebut yang lain. Untuk dapat memahami cerita itu, anak harus mengikuti logika hubungan tersebut.<br />Hal itu berarti secara langsung atau tidak langsung anak “mempelajari” hubungan yang terbangun itu, dan bahkan juga ikut mengkritiskannya. Mungkin saja anak mempertanyakan alasan tindakan lain yang lebih bernuansa “mengapa”-nya. Jadi, lewat bacaan yang dihadapinya itu aspek intektual anak ikut aktif, ikut berperan, dalam rangka pemahaman dan pengkritisan cerita yang bersangkutan. Dengan kata lain, dengan kegiatan membaca cerita itu, aspek intektual ank juga ikut terkembangkan.<br />Perkembangan Imajinasi<br />Berhadapan dengan sastra, baik itu yang berwujud suara maupun tulisan, sebenarnya kita lebih berurusan dengan masalah imajinasi, sesuatu yang abstrak yang berada di dalam jiwa, sedang secara fisik sebenarnya tidak terlalu berarti. Dengan membaca bacaan cerita sastra imajinasi anak dibawa berpetualang ke berbagai penjuru dunia melewati batas waktu dan tempat, tetapi tetap berada di tempat, dibawa untuk mengikuti kisah cerita yang dapat menarik seluruh kedirian anak. Lewat cerita itu anak akan memperoleh pengalaman yang luar biasa (vicarious experince) yang setengahnya mustahil diperoleh dengan cara-cara selain membaca sastra.<br />Pertumbuhan Rasa Etis dan Religius <br />Selain menunjang pertumbuhan dan perkembangan unsur emosional, intektual, imajinasi, dan rasa sosial, bacaan cerita sastra juga berperan dalam pengembangan aspek personalitas yang lain, yaitu rasa etis dan religius. Nilai-nilai sosial, moral, etika, dan religius perlu ditanamkan kepada anak sejak dini secara efektif lewat sikap dan perilaku hidup keseharian. Contoh sikap dan perilaku tokoh cerita yang diberikan kepada anak, lewat cerita ibu (pencerita) atau membaca sendiri jika sudah bisa, dapat dipandang sebagai salah satu cara penanaman nilai-nilai tersebut kepada anak. <br />Nilai Pendidikan<br />Eksplorasi dan Penemuan<br />Ketika membaca cerita, pada hakikatnya anak dibawa untuk melakukan sebuah eksplorasi, sebuah penjelajahan, sebuah pertualangan imajinatif, ke sebuah dunia relatif yang belum dikenalnya yang menawarkan berbagai pengalaman kehidupan.<br />Dalam penjelajahan secara imajinatif itu anak dibawa dan dikritiskan untuk mampu melakukan penemuan-penemuanprediksi bagaiman solusi ditawarkan. Misalnya ikut menebak sesuatu seperti dalam cerita detektif dan misterius, menemukan bukti-bukti, alasan bertindak, menemukan jalan keluar kesulitan yang dihadapi tokoh, dan lain-lain temasuk memprediksikan bagaiman penyelesaian kisahnya. Beerpikir secara logis dan kritis yang demikian dapat dibiasakn atu dilatihkan lewat eksplorasi dan penemuan-penemuan dalam bacaan cerita sastra.<br />Pengembangan Bahasa<br />Bahasa digunakan untuk memahami dunia yang ditawarkan, tetapi sekaligus sastra juga berfungsi meningkatkan kemampuan berbahasa anak, baik menyimak, membaca, berbicara, maupun menulis. Anak akan belajar cepat karena bahasa yang diperolehnya langsung berada dalam konteks pemakaian yang sesungguhnya. Disamping itu, dalam akuisisi bahasa itu anak akan mengerahkan seluruh aspek personalitasnya, sikap dan egonya terbuka lebar. Hal itu akan sulit diulangi pmbelajar bahasa dewasa karena sikap egonya sudah ikut berbicara dan cenderung menutup diri.<br />Pengembangan nilai keindahan<br />Ketika anak berusia 1-2 tahun dininabobokkan dengan nyanyina, dengan kata-kata yang bersajak dan berirama indah, anak sebenarnya belum dapat memahami makna di balik kata-kata itu, tetapi sudah dapat merasakan keindahan. Hal itu dapat dilihat dan reaksi anak, misalnya yang berupa ekspresi wajah yang ceria dan tertawa-tawa, atau gerakan anggota tubuh yang lain. Barangkali perlu disepakati bahwa berbagai aktivitas yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan bahasa anak tersebut dapat dikategorikan sebagai tahap awal pengenalan sastra kepada anak, pengenalan dan pemicu bakat dan apresiasi keindahan kepada anak.<br />Sebagai salah satu bentuk karya seni, sastra memiliki aspek keindahan. Keindahan itu dalam genre puisi antara lain dicapai dengan permainan bunyi, kata, dan makna. Keindahan dalam genre fiksi antara lain dicapai lewat penyajian cerita yang menarik dan diungkap lewat bahasa yang tepat. Artinya, aspek bahasa itu mampu mendukung hidupnya cerita, mendukung ekspresi, sikap dan prilaku tokoh, mendukung gagasan tentang dunia yang disampaikan, dan dari aspek bahasa, stuktur dan ungkapanyang tepat. Cerita menjadi indah karena isi kisahnya mengharukan dan dikemas dalam bahasa yang menyenangkan.<br />Penanaman Wawasan Multikultural<br />Lewat sastra dapat dijumpai berbagai sikap dan perilaku hidup yang mencerminkan budaya suatu masyarakat yang berbeda dengan masyarakat yang lain. Misalnya, perbedaan invisible culture di antara berbagai kelompok sosial mengundang konflik jika kita tidak pandai-pandai menempatkan diri dalam bersikap ketika berhadapan dengan warga dari kultur lain. Tingkah laku dan sikap seseorang dapat dibentuk dan diajarkan lewat pendidikan, lewat pembelajaran pemahaman antarbudaya dan salah satunya lewat bacaan sastra.<br />Menurut Norton & Norton (1994:355), aktivitas pembacaan buku sastra komparatif merupakan cara dan sumber penting pembelajaran wawasan multikultural karena ia akan memberanikan anak untuk mengidentifikasi dan mengapresiasi kemiripan dan perbedaan litas dan budaya.<br />Penanaman Kebiasaan Membaca<br />Kata-kata bijak yang mengatakan bahwa buku adalah jendela ilmu pengetahuan. Tetapi, penyakit malas membaca ini menjangkiti siapa saja, sejak dari anak-anak sekolah, mahasiswa, guru dan dosen. Sungguh keadaan ironis dan memperhatikan. Pentingnya budaya membaca huga telah ditegaskan Taufik Ismail (2003). Dalam tulisanya yang berjudul “Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca Tak Pincang Mengarang” (2003:9), ia mengatakan peradaban bangsa ditentukan oleh penanaman literasi buku di sekolah. Misalnya, dengan penyediaan buku bacaan yang baik dan menarik di sekolah.<br />Penutup<br />Kesimpulan<br />Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa sastra anak adalah karya sastra yang sangat penting bagi seorang anak. Karena sastra anak dapat memberikan suatu pemahaman dan kesenangan bagi seorang anak. Didalam buku sastra anak dapat mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi seorang anak. Anak juga dapat mengetahui apa saja perbedaan-perbedaan antara genre sastra anak dengan genre dewasa. Misalnya, perbedaan antara genre sastra anak dengan genre sastra dewasa dilihat dari pengalaman dan kematang. Sastra anak memiliki keterbatasan baik yang menyangkut pengalaman kehidupan yang dikisahkan maupun bahasa yang dipergunakan untuk megekspresikan. Pengalaman anak masih terbatas, maka anak belum dapat memahami cerita yang melibatkan pengalaman hidup yang kompleks. Sedangkan sastra dewasa lebih banyak sebuah pengalaman dibandingkan sastra anak karena tingkat penalaran, pemahaman , pemikiran lebih luas kematangannya. Sastra anak diyakini memiliki kontribusi yang besar bagi perkembangan kepribadiaan anak dalam proses pertumbuhan menuju kedewasaan itu dapat dilihat dari nilai personal dan nilai pendidikan. Tahap perkembangan nilai personal antara lain perkembangan emosional, perkembangan intektual, perkembangan imajinasi, pertumbuhan rasa etis dan religius. Sedangkan nilai-nilai pendidikan sastra anak antara lain eksplorasi, perkembangan bahasa, pengembangan nilai keindahan, penanaman wawasan multikultural dan penanaman kebiasaan membaca.<br />Saran<br />Sastra anak sangatlah penting terutama bagi seorang anak, karena dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan sastra anak.<br />Sastra anak juga dapat mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta dapat memberikan pengetahuan keterampilan praktis bagi seorang anak.<br />Sastra anak dapat memberikan suatu pemahaman dan kesenangan bagi seorang anak. Oleh karena itu, baca dan pahamilah buku sastra anak.<br />Daftar Pustaka<br />Ismail,Taufik.2003.”Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca Tak Pincnag Mengarang”,Yogyakarta: Pidato Penganugerahan Gelar Kehormatan Doktor Honoris Causa di Bidang Pendidikan Sastra, di Universitas Negeri Yogyakarta.<br />Nurgiantoro,Burhan.2005.Pengantar Pemahaman Dunia Anak.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.<br />Mula,Harahap.2007.Tentang Sastra Anak.blogspot.com.diakses 16-04-2007.<br />www.wahidin.com/Hakikat anak/2009/18/03/apresiasi.html.<br />

×