Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
<ul><li>Pengantar</li></ul>Pemerintah sebagai pengayom hajat hidup rakyat, berkewajiban untuk mengangkat taraf hidup rakya...
IMF menyebabkan makin dominannya peranan TNC (konglomerasi internasional).
IMF mendorong dikorbankannya kepentingan rakyat banyak untuk menyelamatkan para bankir.
IMF menyebabkan meningkatnya komersialisasi pelayanan publik.
IMF menyebabkan semakin meluasnya pengangguran.
IMF menyebabkan semakin merosotnya upah buruh.
IMF menyebabkan semakin terpinggirkannya kaum perempuan.
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Imf

799 views

Published on

Published in: Business
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Imf

  1. 1. <ul><li>Pengantar</li></ul>Pemerintah sebagai pengayom hajat hidup rakyat, berkewajiban untuk mengangkat taraf hidup rakyat Indonesia. Hal tersebut teraplikasi melalui kebijakan-kebijakan perekonomian negara dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah harus mampu meningkatkan daya beli masyarakat melalui kebijakan perekonomian yang dijadikan sebagai pondasi dasar pembangunan bangsa ini. Ada begitu banyak persoalan perekonomian yang melanda bangsa Indonesia sehingga menghantarkan negara ini menjadi negara yang memiliki begitu tinggi nilai kemiskinan dan angka pengangguran. Indikator tersebut memberikan bukti bahwa masih belum maksimalnya kinerja pemerintah dalam mengeluarkan masyarakat dari krisis.<br />Sejak Juli 1997 bangsa Indonesia dilanda krisis moneter, yang kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi bahkan berlanjut menjadi krisis kepercayaan. Kondisi krisis dengan berbagai dampak negatifnya tersebut, sama sekali berbeda nuansa dengan masa-masa sebelumnya yang lebih menjanjikan bagi kemajuan bangsa dan negara. Hal ini, antara lain, dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi selama kurun waktu 1969 - 1997 yang tidak pernah mengalami penurunan, bahkan laju pertumbuhannya termasuk paling tinggi di antara negara-negara sedang berkembang. Berdasarkan harga konstan 1983, naiknya Produk Domestik Bruto (PDB) yang dijadikan tolok ukur pertumbuhan ekonomi, selama kurun waktu tersebut meningkat rata-rata sekitar 7 persen, dan pendapatan riil per kapita yang menggambarkan tingkat kemakmuran bangsa naik sebesar 5 persen per tahun. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut telah dapat mengentaskan berjuta-juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan serta dapat membuka peluang kerja yang makin luas. Lebih dari itu kapasitas produksi juga berhasil ditingkatkan baik secara fisik, sarana dan prasarana produksi, maupun dalam bentuk meningkatnya jumlah dan kualitas sumber daya manusia. Khususnya dalam hal sumber daya manusia, peningkatan jumlah dan kualitasnya, antara lain, tercermin dari meningkatnya angka partisipasi di berbagai jenjang pendidikan, serta naiknya tingkat pendidikan, keterampilan dan penguasaan teknologi para pekerja. Selain itu juga kesejahteraan penduduk telah meningkat, antara lain, tercermin dari meningkatnya usia harapan hidup atau menurunnya tingkat mortilitas yang disertai dengan menurunnya tingkat kelahiran yang disebabkan oleh keberhasilan program keluarga berencana dan makin tingginya tingkat pendidikan perempuan. Bahkan, sejak tahun 1980-an penurunan tingkat kelahiran tersebut cenderung lebih cepat daripada penurunan tingkat mortilitasnya, sehingga laju pertumbuhan penduduk cenderung menurun.<br />Dalam kurun waktu yang lebih dini, yaitu 1985 - 1997 tampak perekonomian Indonesia mampu tumbuh dengan rata-rata 7,5 persen per tahun dan pendapatan per kapita tumbuh dengan rata-rata 5,8 persen per tahun, sedangkan laju inflasi dapat terkendali pada tingkat kurang dari 9 persen. Bersamaan dengan itu jumlah penduduk miskin berhasil diturunkan hingga mencapai 22,5 juta orang atau tinggal sekitar 11 persen pada tahun 1996. Sementara itu angkatan kerja yang berkualitas makin banyak dapat ditampung dalam kegiatan formal sejalan dengan meningkatnya kapasitas produksi. Tambahan pula depresiasi rupiah terhadap mata uang asing (dolar) relatif rendah dan defisit transaksi berjalan mampu diimbangi dengan surplus transaksi modal, sehingga cadangan devisa terus meningkat. Bahkan selama periode 1993/94 - 1996/97 anggaran belanja negara berhasil mencapai surplus. Semua keberhasilan tersebut tidak terlepas dari efektivitas kebijakan deregulasi yang ditempuh secara berlanjut.<br />Namun di balik keberhasilan yang telah dicapai bangsa Indonesia sampai dengan pertengahan tahun 1997 tersebut, telah terjadi pula proses melemahnya daya saing perekonomian nasional, yang diakibatkan, antara lain, oleh lemahnya kinerja dunia usaha swasta dan lembaga perbankan, termasuk kelemahan dalam hal pengawasan sistem keuangan; peningkatan upah/gaji yang tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas kerja; dan bermunculannya praktek monopoli dan oligopoli. Keseluruhan faktor tersebut pada gilirannya telah mengakibatkan bekerjanya perkonomian menjadi tidak efisien. Kondisi yang demikian telah menjadikan perkonomian Indonesia kurang mampu bereaksi terhadap berbagai perubahan yang terjadi di pasar internasional.<br />Krisis ekonomi terjadi di awali oleh melemahnya secara drastis nilai rupiah, seperti juga nilai hampir semua mata uang regional lainnya. Berbagai kelemahan yang telah dikemukakan di atas telah memperberat krisis ekonomi di Indonesia, yang dipacu pula oleh situasi politik yang tidak menentu. Kondisi demikian masih diperburuk lagi oleh berlangsungnya kemarau panjang sehingga produksi pangan menurun. Pada saat yang bersamaan harga migas telah menurun cukup tajam di pasar dunia dan berdampak negatif pada penerimaan negara dan devisa dari ekspor migas. Implikasi dari berbagai kelemahan tersebut adalah : 1) aliran modal berbalik arah dari aliran masuk (capital inflow) menjadi aliran keluar (capital outflow); 2) terjadinya kontraksi PDB yang bersumber dari menurunnya permintaan domestik; dan 3) meningkatnya jumlah pengangguran terbuka dan setengah penganggur. Ketiga hal tersebut pada akhirnya telah menurunkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat terutama dari kelompok masyarakat yang berpendapatan rendah dan tetap. Pendapatan yang sudah rendah tersebut masih harus berhadapan dengan laju inflasi yang sangat tinggi yang dipicu oleh tingginya depresiasi rupiah. Interaksi antara pendapatan rendah dengan inflasi yang tinggi tersebut pada gilirannya telah mengakibatkan jumlah penduduk miskin yang semula telah berhasil diturunkan secara cukup tajam, kini meningkat kembali dalam jumlah yang semakin besar. Akibatnya tingkat partisipasi pendidikan pada berbagai jenjang pendidikan dan derajad kesehatan yang sebelumnya terus diupayakan peningkatannya khususnya bagi golongan masyarakat miskin, kini menjadi terganggu.<br />Ketika IMF dibentuk pada Juli 1994 di Bretton Woods, New Hampshire Amerika Serikat, ekonomi dunia ketika itu sedang mengalami keguncangan terutama dengan terjadinya Perang Dunia Kedua dan masih terasanya dampak buruk dari depresi AS 1930-an. Oleh karena itulah IMF dibentuk dengan pengertian dan spirit bahwa tujuan dari pembentukan IMF untuk membantu negara-negara yang menghadapi masalah moneter, misalnya cadangan devisa menipis, kurs mata uang merosot, sistem perbankan berantakan dan neraca pembayaran mengalami defisit yang sangat besar. Sebelum mengajukan lamaran kepada IMF, sebenarnya hubungan Indonesia dengan IMF sebelum krisis kurang begitu mesra karena IMF tergolong lembaga yang cukup kritis terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Soeharto terutama setelah meningkatnya distorsi ekonomi. Namun karena AS yang ingin membantu ekonomi mensyaratkan agar Indonesia meminta bantuan melalui IMF di mana "saham" AS sekitar 15% dan posisi Indonesia di mata dunia ketika itu sudah begitu terseok. Akhirnya IMF menjadi pilihan yang tidak terelakkan. Karena kebijakan itulah maka negara-negara donor masih memperhatikan kebutuhan Indonesia. Harus kita akui kontrak kerja antara Indonesia dan IMF meski menimbulkan beberapa kesengsaraan dan bahkan terkesan menjual Indonesia dengan program divestasinya, mempunyai banyak sisi positifnya. Dengan LoI yang disepakati, pemerintah diajak oleh IMF untuk konsisten dalam mengambil kebijakan-kebijakan ekonomi. Di tengah ketidakpastian ekonomi yang sangat tinggi, demokrasi yang sedang tumbuh, dan kecenderungan tidak jelasnya pemisahan antara kepentingan ekonomi dan kekuasaan, konsistensi menjadi obat yang paling efektif untuk memulihkan ekonomi dengan cepat. <br />Sejak diundangnya IMF untuk menangani krisis moneter dan ekonomi Indonesia pada tahun 1997, krisis di Indonesia bukannya menurun apalagi pulih justru krisis semakin mendalam dan melahirkan krisis multi dimensi yang berkepanjangan. <br /><ul><li>Eksistensi IMF dan Dampaknya</li></ul>Pada tanggal 1-22 Juli 1944, 44 negara (antara lain AS, Inggeris, Perancis) menyelenggarakan konferensi keuangan dan moneter PBB di Bretton Woods, New Hampshire, AS. Konferensi ini melahirkan dua lembaga keuangan internasional yaitu IMF dan Bank Dunia. Spesialisasi fungsi IMF adalah menjaga sistem moneter dunia. Akan tetapi tujuan pendirian kedua lembaga tersebut bukanlah untuk memajukan perekonomian dunia, melainkan sarat dengan kepentingan negara-negara maju yang mempelapori pendiriannya. <br />Presiden AS George Washington mengungkapkan merupakan suatu kegilaan bagi suatu negara yang mengharapkan pertolongan negara lain tanpa memperhatikan kepentingan negara yang membantunya. (Robert: 1970). Sedangkan presiden AS Harry S Truman menyatakan bahwa negara-negara di belahan Selatan (negara berkembang) harus melakukan pembangunan. Baginya penting saat itu untuk merebut pengaruh negara-negara berkembang dari saingannya Uni Sovyet sehingga sejak saat itu pembangunanisme digalakkan dengan mengucurkan memberikan pinjaman luar negeri (Prasetyantoko: 2001).<br />Dengan demikian kelahiran IMF dan Bank Dunia adalah melanjutkan neo imperialisme negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang dan miskin yang baru melepaskan diri dari penjajahan fisik. Pendirian IMF merupakan salah satu thariqah (metode) penyebaran kapitalisme ke seluruh penjuru dunia. <br />Proses pengambilan keputusan IMF yang saat ini memiliki 182 negara anggota sangatlah tidak adil. Sesuai ketentuan, proses pengambilan keputusan di IMF berdasarkan jumlah pemilikan saham negara-negara anggota. Jika jumlah suara minimal 85% menyetujui terpenuhi maka keputusan dapat diberlakukan. Masalahnya negara-negara G-7 menguasai 45% suara, sedangkan AS saja memiliki 18% suara sehingga seluruh keputusan IMF tidak dapat diberlakukan tanpa persetujuan AS dan negara-negara G-7. Akibatnya kepentingan-kepentingan negara-negara maju khususnya AS sangat mendominasi kebijakan-kebijakan IMF.<br />Menurut Revrisond Baswir, setidaknya ada 10 dosa IMF yang menyebabkan terpuruknya kehidupan masyarakat Indonesia yaitu: <br /><ul><li>IMF menyebabkan terjadinya pelembagaan suatu sistem kolonialisme baru.
  2. 2. IMF menyebabkan makin dominannya peranan TNC (konglomerasi internasional).
  3. 3. IMF mendorong dikorbankannya kepentingan rakyat banyak untuk menyelamatkan para bankir.
  4. 4. IMF menyebabkan meningkatnya komersialisasi pelayanan publik.
  5. 5. IMF menyebabkan semakin meluasnya pengangguran.
  6. 6. IMF menyebabkan semakin merosotnya upah buruh.
  7. 7. IMF menyebabkan semakin terpinggirkannya kaum perempuan.
  8. 8. IMF menyebabkan semakin rusaknya lingkungan.
  9. 9. IMF menyebabkan semakin melebarnya kesenjangan kaya miskin.
  10. 10. IMF menyebabkan semakin parahnya krisis ekonomi. </li></ul>MAKALAH<br />MATA KULIAH : EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL<br />EKSISTENSI IMF DAN PENGARUHNYA DI INDONESIA<br />165735081915<br />Oleh :<br />SYUKRAN BATARA<br />NIM : E 13109104<br />FAKULTAS SOSIAL POLITIK<br />JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL<br /> UNIVERSITAS HASANUDDIN<br />TAHUN 2011<br />

×