Sayap bidadari

4,617 views

Published on

1 Comment
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
4,617
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
46
Actions
Shares
0
Downloads
62
Comments
1
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Sayap bidadari

  1. 1. Sayap BidadariSebuah cerita fiksi yang ditulis oleh Bois, penulis copoyang masih harus banyak belajar. Cerita ini hanyalahsarana untuk mengilustrasikan makna di balikkehidupan semu yang begitu penuh misteri. Perluanda ketahui, orang yang bijak itu adalah orang yangtidak akan menilai kandungan sebuah cerita sebelumia tuntas membacanya.e-book ini gratis, siapa saja dipersilakan untukmenyebarluaskannya, dengan catatan tidak sedikitpunmengubah bentuk aslinya. Jika anda ingin membaca/mengunduh cerita lainnya silakan kunjungi : www.bangbois.blogspot.com www.bangbois.co.ccSalurkan donasi anda melalui:Bank BCA, AN: ATIKAH, REC: 1281625336 1
  2. 2. SATU Benih CintaT in! Tin! Tin! Suara klakson bersautan di tengah macetnya jalan yang melintasi pasar, anginsepoi-sepoi pun terus bertiup dibawah naungan senjayang teduh. Saat itu seorang gadis tampakmelangkah—menyusuri ramainya jalan yang melintasiarea pertokoan. Gadis itu tampak anggun, melangkahdengan gaya bak seorang model di atas catwalk—memperagakan u can see putih, berpadu jeans biruketat yang sangat serasi dan begitu pas melekat ditubuhnya yang aduhai. Rambutnya pun tampakbagus—panjang sebahu dan dibiarkan tergerai.Sesekali gadis itu tersenyum, teringat akan kenanganmanis yang begitu indah. Kini gadis itu sedangmenaiki sebuah angkot yang akan mengantarnyamenemui seorang teman lama. Maklumlah, sudahhampir setahun ini dia tak menjumpainya, dan semuaitu dikarenakan kesibukannya yang membosankan, 2
  3. 3. bahkan seringkali membuatnya marah, sedih, dantentu saja kesepian. Apa lagi kalau bukan rutinitasnyasehari-hari yang bercampur dengan perkara cintayang tak kunjung ada kepastian. Di dalam perjalanan, mata gadis itu sempatmenangkap kemesraan yang ditunjukkan olehsepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.Sungguh tampak membahagiakan dan membuatnyabetul-betul iri, bahkan di benaknya terbayang sudahbagaimana bahagianya jika dia yang dipeluk, dicium,dan dibelai oleh sang Pujaan Hati. Lama gadis itu larutdalam angan yang membuai hingga akhirnya dia tibadi tempat tujuan. Kini gadis itu tampak turun dariangkot dan langsung melangkah menuju rumahtemannya. Ketika melintasi sebuah warung, tiba-tiba"Angel!" seru seorang pemuda memanggilnya. Seketika gadis itu menoleh, bersamaan dengan itusenyumnya pun mengembang, memperlihatkan gigiputihnya yang bagaikan untaian mutiara. "Raka!"pekiknya gembira seraya buru-buru menghampiripemuda yang dilihatnya tampak begitu santai, duduk 3
  4. 4. di depan warung yang lumayan sepi. "Apa kabar?"tanya Angel seraya menjabat tangan pemuda itu. "Baik?" jawab Raka singkat. “Eng… kau sendiribagaimana?” Raka balik bertanya. "Masih sama seperti dulu, Kak. Bete…” “Kau itu, masih saja tidak berubah. Eng... Kaudatang ke sini betul-betul mau belajar komputer kan?”tanya Raka kemudian. “Iya, Kak. Belakangan ini aku memang sedangkursus komputer, dan masih ada pelajaran yangbelum aku mengerti. Maklumlah, gurunya terkadangmemang kurang jelas saat memberi pelajaran.” jawabAngel. “Eng… Kalau begitu, yuk langsung ke kamarku!"ajak Raka kemudian. “Ka-Kamar!” ucap Angel terbata, seketika ituingatannya langsung tertuju ke masa lalu--dimana dikamar itu dia pernah dibuat menangis. “Ayo, An! Apa yang kau tunggu?” tanya Rakamembuyarkan ingatan Angel. “I-iya, Kak.!” 4
  5. 5. Lantas kedua muda-mudi itu segera melangkahke kamar yang dimaksud, dan tak lama kemudiankeduanya sudah tiba di tempat tujuan. Sejenak Angelmemperhatikan sekekeliling ruangan, dilihatnyatempat tidur Raka yang senantiasa bersih, jugaberbagai pernak-pernik hiasan yang indah dan tidakbanyak berubah. Di atas sebuah meja belajar,dilihatnya sebingkai foto yang tampak kosong. Lamajuga angel memperhatikan bingkai foto yang kosongitu, hingga akhirnya Raka pun ikut memperhatikanbingkai foto itu seraya berkata. “Tahukah kau? Hinggasaat kini aku belum menemukan gadis yang pantasmengisi bingkai itu?” kata pemuda itu seraya dudukditepian tempat tidurnya. “Eng… Sa-sabarlah Kak! Aku yakin, suatu harinanti Kakak pasti akan menemukannya,” ucap Angelterbata. “Entahlah… Aku tidak terlalu yakin. Eng… Biarlahwaktu yang akan menjawabnya. O ya, bagaimanakalau kita mulai belajarnya sekarang!” ajak Rakakemudian. 5
  6. 6. “Yuk, Kak.” Timpal Angel seraya duduk didepankomputer. Bersamaan dengan itu, Raka pun segera dudukdisebelahnya dan langsung terlibat didalam aktifitasbelajar mengajar. Namun, belum juga lima belasmenit berlalu, tiba-tiba "Kak, sudah dulu ya belajarnya!Kepalaku mulai pusing nih. Eng… Bagaimana kalausekarang kita ngobrol saja!" ajak Angel kepada Raka. "Lha...?" ucap Raka heran seraya mengerutkankeningnya, kemudian dia pun cengar-cengir merasalucu sendiri. Sungguh pemuda itu tidak tahu kalautujuan Angel yang sebenarnya adalah bukan maubelajar, melainkan mau curhat mengenai cintasejatinya. Tak lama kemudian, keduanya sudah larut didalam perbincangan yang begitu hangat, hinggaakhirnya. "Kak, baca deh ceritaku ini! Terus terang,aku mau tahu pendapat Kakak," pinta Angel serayamemperlihatkan kisah nyatanya yang ditulis dengansepenuh hati. 6
  7. 7. "Wah, maaf ya, An! Terus terang, aku tidak punyawaktu. Maklumlah, cerita temanku saja belum sempatkubaca," tolak Raka. Saat itu Angel langsung kecewa, sungguh apayang diharapkan mengenai kisah nyatanya samasekali tidak terwujud. Namun kekecewaan itu takberlangsung lama, kini dia justru tertarik dengan ceritayang dikatakan Raka tadi. "Eng... Ngomong-ngomong,cerita temanmu itu tentang apa, Kak?" tanya Angelpenasaran seraya menutup buku catatannya. "Mana aku tahu, aku kan belum sempatmembacanya. Tapi, sepertinya sih tentang cinta," jelasRaka sambil memperhatikan Angel yang kini tampaktertunduk dengan jemari yang menepuk-nepuk bukucatatannya. "Eng, kisah nyata bukan?" tanya Angel lagi serayamemandang Raka dengan pandangan yang membuatpemuda itu langsung teringat kembali akan kenanganindah yang pernah mereka alami. "Mmm… Mungkin juga. Kalau begitu, sebentarya!" pinta Raka seraya beranjak mengambilkan 7
  8. 8. naskah temannya dan memberikannya pada Angel."Nih, kau lihat saja sendiri!" pinta pemuda itukemudian. Angel pun segera menanggapi naskah itu danmelihat bentuk fisiknya. "Hmm... Tebal juga," katanyadalam hati seraya membaca judul yang ada di covermuka. "Hmm... Demi Cinta Sejati, apa maksudnyaya?" tanya Angel dalam hati seraya memperhatikangambar sepasang muda-mudi yang tampak menghiasicover, keduanya tampak begitu mesra—berbaring ditempat tidur. "Hmm... Cover ini bagus juga," pujinyadalam hati seraya membaca nama penulisnya."Hmm... Namanya Bobby. Eng... Ganteng tidak yaorangnya?" tanya Angel lagi dalam hati seraya mulaimembaca sinopsisnya. Tak lama kemudian, "Bagaimana, An?" tanyaRaka tiba-tiba. "Sekilas, cerita ini tampak menarik Kak," katagadis itu mengomentari "Eng... Apa kau mau membacanya?" tanya Rakaserius. 8
  9. 9. "Kalau boleh sih, tentu saja mau," jawab Angel takkalah serius. "Baiklah… Kalau begitu, biar kau saja yangmembacanya!" kata Raka setuju. "Benar nih?" tanya Angel hampir takmempercayainya. "Eng... Ngomong-ngomong, KakBobby mengizinkan tidak?" tanyanya kemudian. "Dia pasti mengizinkan. Sebab, sebelumnya diapernah bilang kalau siapa saja boleh membacanya." "O ya, Kak. Ngomong-ngomong, siapa yangmembuat cover cerita ini?" tanya Angel lagi serayakembali memperhatikan cover yang menarik hatinya. "Ya, dia sendiri," jawab Raka singkat. Seketika Angel terdiam, "Hmm... Bagaimana yajika cover ceritaku dibuat sebagus ini?" tanya gadis itudalam hati seraya membayangkan cover ceritanyayang tampak bagus. "O ya, Kak. Ngomong-ngomong,mau tidak ya dia membuatkan cover untuk ceritakuini?" tanyanya kemudian. "Wah, aku juga tidak tahu. Eng… Bagaimanakalau kau tanyakan saja langsung pada orangnya! 9
  10. 10. Hmm... Bagaimana kalau sekarang kita ke rumahnya,sekalian berkenalan dengan dia?" "Eng... Oke deh. Tapi, sekalian antar aku pulangya!" "Beres, Non. Ayo…!" ajak Raka seraya melangkahmenuju ke sepeda motornya. Tak lama kemudian, keduanya sudah berangkatmenuju ke rumah Bobby. Sementara itu di sebuahkamar yang agak berantakan, seorang pemuda barusaja mengenakan pakaian seadanya. Maklumlah, diaitu baru saja mandi dan memang tidak berniat kemana-mana. Kini pemuda itu sudah di depan TVsambil menikmati segelas teh manis dan sepiring rotisumbu. Saat itu dia tampak begitu santai, menikmatikesendiriannya yang tengah asyik berhayal menjaditokoh utama di dalam kisah Butterfly Effect yangdisaksikannya. "Assalamu’alaikum!" ucap seseorang di luarrumah tiba-tiba. Mendengar itu, Bobby segera mengintip lewatjendela, "O... Si Raka. Mau apa ya dia datang malam- 10
  11. 11. malam begini?" tanya pemuda itu seraya melangkahmenemuinya. Tak lama kemudian, Bobby sudah bertatap mukadengan Raka, bersamaan dengan itu dia punlangsung diperkenalkan dengan Angel—seoranggadis yang entah kenapa tiba-tiba membuatnya jadisalah tingkah. Apa mungkin karena dia itu seorangjomblo yang baru saja menemukan belahan jiwanya.Pada saat yang sama, Angel tampak sedangmemikirkan pemuda itu. "Hmm... Ternyata diamemang pemuda yang tampan." "Yuk, masuk!" ajak Bobby tiba-tiba membuyarkanpikiran Angel. Lantas dengan agak terkejut, Angel pun segeramerespon, "Bi-biar di sini saja, Kak," ucapnya terbata. "Ayolah, jangan malu-malu! Anggap saja rumahsendiri," ajak Bobby lagi. "Iya, An. Yuk, masuk!" ajak Raka menimpali. Lantas dengan malu-malu, akhirnya Angel maujuga melangkah masuk dan duduk di kursi teras. KiniBobby dan Angel sudah duduk berdampingan. Pada 11
  12. 12. saat yang sama, Raka langsung ke ruang tengahguna menemui adik Bobby yang kebetulan barupulang dari luar negeri. Maklumlah, Raka memangsudah lama tidak bertemu dan mau mengetahuikabarnya, juga sekalian mau minta oleh-oleh. Karena ditinggal berdua, Bobby pun semakinsalah tingkah. Saat itu, berbagai hal yang berkenaandengan Angel seketika kembali terlintas di benaknya,"Aduh... Kenapa dengan diriku? Kenapa perasaankutiba-tiba jadi tidak karuan kayak gini. Hmm… Apamungkin aku telah mencintainya?" tanya Bobby dalamhati. "Kakak penulis, ya?" tanya Angel tiba-tibamembuyarkan pikiran pemuda itu. "Eng… Se-sebetulnya bukan. Menulis bagikuhanyalah media untuk menumpahkan perasaan,sedangkan profesiku sebenarnya adalah seorangpengacara, alias pengangguran banyak acara.Hehehe… Sebetulnya saat ini aku sedang belajarmenjadi seorang graphic designer, dan dengankemampuanku membuat program permainan, maka 12
  13. 13. aku pun berniat merintis sebuah studio kreatifperangkat lunak yang islami." "O, jadi benar kalau cover ini Kakak yang buatsendiri." "Iya, betul. Memang kenapa?" "Terus terang, menurutku cover ini bagus sekali,Kak." "Benarkah bagus?” tanya Bobby serayatersenyum, “Padahal, aku sendiri tidak yakin kalaucover itu betul-betul bagus. Sebab, aku memang tidaksepenuh hati saat mengerjakannya,” sambungnyakemudian. "Wah, tidak sepenuh hati saja bisa sebagus itu.Bagaimana jika Kakak mengerjakakannya dengansepenuh hati tentu akan jauh lebih bagus. Tapi jujursaja, walaupun aku tidak mengerti akan makna yangterkandung di dalamnya, namun menurut pandanganmataku cover yang Kakak buat itu memang tampakbagus. Eng, bukankah karya seni itu bersifat relatif,dan bagus tidaknya sangatlah tergantung dari seleradan sudut pandang orang yang melihatnya. " 13
  14. 14. "Eng, kalau begitu terima kasih atas penilaianmu,"ucap Bobby tulus. Angel pun tersenyum. “O ya, Kak. Kembali ke soaltulis-menulis, sebetulnya aku ini juga suka menulisloh. Ketahuilah! Ketika Raka memperlihatkan naskahKakak, lantas aku pun jadi tertarik. Karenanyalah kiniaku datang kemari agar bisa mengenal Kakak lebihjauh. Barangkali saja Kakak mau mengajarikubagaimana caranya menjadi menulis yang baik." "Wah, sebetulnya aku pun masih belajar. Terusterang, aku merasa belum pantas untuk itu. Selamaini kan tulisanku belum diakui publik, dan karenanyaaku tidak tahu apakah tulisanku itu baik atau tidak.Karenanyalah, apakah pantas jika akumengajarkannya padamu?" "Kak, tadi aku sempat melihat-lihat naskah Kakaksedikit, dan sepertinya tulisan kakak itu sudah bagusdan pantas dinikmati sebagai sebuah karya sastra.Menurut penilaianku, kakak itu sudah pastas untukmengajariku. Sebab, jika dibandingkan dengankaryaku, jelas karya Kakak itu jauh lebih baik. 14
  15. 15. Karenanyalah, jika Kakak mau mengajariku tentu akuakan senang sekali." "Wah, aku betul-betul merasa tersanjung.Sungguh aku tidak menyangka, kalau kau akanmenilai karyaku seperti itu. Baiklah… Jika kaumemang menilaiku demikian, sungguh tidaksepantasnya jika aku sampai menolak. Terus terang,aku merasa berdosa jika sampai tak mau berbagi ilmudenganmu." "Terima kasih, Kak." "Kembali kasih. O ya, ngomong-ngomong...Selama ini kau sudah menulis berapa judul?" "Ya, lumayanlah, Kak. Tapi semua itu cumasebatas cerpen. Sedangkan untuk menulis novel barukumulai beberapa bulan yang lalu, dan itu pun dimulaidengan kisah nyataku. O ya, Kak. Ngomong-ngomong, ini dia kisah nyataku," kata Angel serayamenyodorkan buku catatannya yang baru diambilnyadari dalam tas. Pada saat itu, Bobby tampak diam. Jangankanuntuk membaca, menyentuh saja sepertinya enggan. 15
  16. 16. Karena itulah Angel langsung kecewa dan segeramenyimpan buku catatannya kembali. Dalam hati,gadis itu langsung menghakimi Bobby sebagaipemuda yang tidak berperasaan, pemuda yang tidakbisa menghargai karya orang, walau pun hanyasekedar saja. "Huh, dia sama sekali tidak tertarikdengan ceritaku. Jika begitu, bagaimana mungkin diamau membuatkan cover-nya." Begitulah Angel, jadiberpikiran yang tidak-tidak. Padahal dalam benaknya,Bobby ingin sekali membaca cerita yang katanyakisah nyata itu. Sebab dengan demikian, tentunya diabisa mengenal karakter Angel lebih jauh, yaitu melaluirentetan cerita yang ditulisnya. Namun karena saat itudia sedang tidak mood membaca, lantas dia punmemilih untuk tidak menghiraukannya. Maklumlah,saat itu dia memang lebih tertarik untuk terusmemperhatikan kecantikan Angel. Karena mengetahui Angel kecewa, Bobby punsegera memberi alasan. "Eng, ceritamu itu belumselesai kan? Terus terang, rasanya agak sulit bagikuuntuk memberikan penilaian terhadap sebuah karya 16
  17. 17. yang belum selesai. Sebaiknya kau selesaikan sajadulu, jika sudah selesai pasti aku akan membacanya,"jelas Bobby seraya tersenyum pada Angel. Karena alasan itulah, akhirnya Angel kembaliceria. Namun tak lama kemudian, keduanya sontakterdiam, merasakan getaran aneh yang begitu tiba-tiba—terasa begitu syahdu, bagaikan duduk di tepiantelaga yang tampak tenang, di temani oleh mendunyasimfoni alam dan pesona keindahan bunga warna-warni yang tumbuh di atas hijaunya hamparan rumput.Sungguh sangat membahagiakan dan begitumembuai sukma. Begitulah perasaan dua insan yangkini sedang dilanda asmara, merasakan indahnyacinta yang terus tumbuh berkembang dengan begitucepat. Akibatnya, mereka pun jadi tidak konsentrasi,hingga akhirnya mereka tak mampu lagimengungkapkan berbagai hal yang sebetulnyamenarik untuk dibicarakan. "Hmm... Sungguh dia memang manis sekali.Andai saja dia mau jadi pacarku... tentu aku akanbahagia sekali," ungkap Bobby dalam hati. "Tapi..." 17
  18. 18. seketika Bobby teringat dengan seorang gadis yangdijodohkan dengannya. Dialah Wanda, gadis manisyang menjadi pilihan orang tuanya. "Duhai Allah...Kenapa mesti dia? Mungkinkah aku bisa mencintaigadis yang selama ini hanya kulihat fotonya dankudengar suaranya saja. Jika aku boleh memilih, akulebih suka jika Angel yang menjadi pendampingku." "Kak Bobby, aku pulang ya!" pamit Angel tiba-tibamembuyarkan pikiran pemuda itu. "Pu-pulang? Bu-bukankah kau belum lama di sini.O, iya... Aku betul-betul lupa untuk menyuguhkanmuminum. Maaf ya, An! Sungguh aku benar-benar lupa,soalnya aku terlalu asyik berbincang-bincangdenganmu," ucap Bobby yang baru menyadari kalaudia memang belum menyuguhkan minum. Sungguhsaat itu Bobby tidak menghendaki jika Angel pergi darisisinya, yang kini sudah membuatnya begitu syahdu. "Kak... Sebetulnya aku mau pulang bukan karenaitu, tapi justru karena saat di rumah Raka aku sudahkebanyakan minum." 18
  19. 19. "Benarkah…? Jika begitu kenapa tidak bilang daritadi? Aku kan bisa menunjukkan kamar kecilnya." "Tidak usah deh, Kak. Terima kasih. Lagi pula,bukankah sekarang sudah terlalu malam." "Eng, baiklah… Kalau begitu, tunggu sebentar ya!Biar kupanggilkan Raka," pinta Bobby serayamemanggil Raka dan memberitahukan keinginanAngel. Maklumlah, saat itu Bobby menyadari kalauAngel adalah tamunya yang harus dihormati,bukannya pacar yang bisa ditahan dengan rayuangombal. Kini Bobby, Raka, dan Angel sudah kembalibertatap muka. "Kok cepat sekali ngobrolnya, An?"tanya Raka heran, padahal dia sendiri masih mauberlama-lama mendengar cerita adik Bobby soalpengalamannya di luar negeri. "Sudah cukup, Kak." jawab Angel tak maumengatakan hal yang sebenarnya. "O, ya. Bagaimana soal cover-nya, sudah belum?"tanya Raka lagi. "Nanti saja deh, kapan-kapan," jawab Angel. 19
  20. 20. Akhirnya Raka dan Angel pamit meninggalkanrumah Bobby. Pada saat yang sama, Bobby tampakmemperhatikan kepergian mereka dengan penuhperasaan rindu. Saat itu dia cuma bisa berharap,semoga dia bisa segera berjumpa lagi dengan gadisyang kini sudah melekat di hatinya. Setelah kedua tamunya kian menjauh, Bobby punsegera melangkah masuk. Kini pemuda itu sudahberada di atas tempat tidurnya, kedua matanya yangbening tampak memandang ke langit-langit, sedangpikirannya terus melayang—memikirkan gadis yangtelah mencuri hatinya. Sungguh saat itu dia sudahdimabuk cinta, sehingga perasaan rindu terusmendera dan membuatnya serba salah. Pada saatyang sama, Angel yang sudah tiba di rumah jugasedang memikirkan Bobby. Sungguh perasaan anehyang dirasakannya kini telah membuatnya betul-betulbingung. "Hmm... Apakah aku telah mencintainya?"tanya gadis itu dalam hati. "Sebab di-dia... Tidak...!!!Aku tidak boleh mengkhianati cinta sejatiku, sampaikapan pun aku akan terus mencintainya," kata Angel 20
  21. 21. yang tiba-tiba teringat kembali dengan cinta sejatinya."Ya, Tuhan... Sungguh aku merasa sangat berdosakarena hampir menghianati cinta sejatiku? Sungguhaku tidak mengerti, kenapa aku bisa sampai sepertiitu. Apakah itu lantaran kami tidak mungkin bersatu?Ya, Tuhan… Sungguh aku tidak mengerti, kenapahanya perbedaan lantas kami tak bisa bersatu?Padahal, kami begitu saling mencintai danmenyayangi. Sungguh aku tidak mengerti, kenapaEngkau membiarkan saja keinginan orang tuanyayang merasa berhak memisahkan kami?" tanya Angellagi seraya kembali teringat dengan berbagai kejadianyang begitu meresahkan hatinya. Malam itu, Angeldan Bobby sempat bertemu di dalam mimpi. Sungguhsebuah mimpi yang membuat keduanya seolah sudahbegitu dekat, hingga membuat cinta mereka kiantumbuh bersemi. 21
  22. 22. Esok paginya, Angel tampak sedang membacanaskah milik Bobby. Sungguh dia tidak menyangkakalau apa yang sedang dibacanya itu ternyata miripdengan apa yang dialaminya, yaitu mengenai cintasejati yang tak mungkin bisa bersatu. Dalam cerita itu,sang tokoh utama yang seorang pemuda tampanmemutuskan untuk melupakan cinta sejatinya. Hinggaakhirnya pemuda itu memutuskan untuk menikahigadis yang bukan cinta sejatinya lantaran alasanibadah. Walau pada mulanya gadis itu bukan cintasejatinya, namun pada akhirnya dia bisa mencintainyadengan sepenuh hati—layaknya dia mencintai cintasejatinya. Begitulah cinta, tumbuh karena terbiasa.Saat kekurangan bisa diterima dan perbedaanbukanlah masalah, maka manusia tak bisa mengelakdari cinta, cinta yang begitu membahagiakan danmembuat perasaan syahdu kala bersama orang yangdicintainya. "Ah, akhirnya selesai juga aku membacanya.Hmm… Menarik juga cerita ini, walaupun alurnyaagak sedikit berbelit-belit dan membuatku bingung. 22
  23. 23. Hmm... Ini pasti kisah nyata yang bercampur dengankisah fiktif. Entah yang mana yang nyata dan yangfiktif, tetapi aku yakin tokoh utamanya itu adalahpenulisnya sendiri. Hmm... Jadi, dia itu orang yangmudah jatuh cinta," pikir gadis itu mencurigai. Laludalam sekejap, perasaan cinta yang semula bersemimendadak mati begitu saja. "Tidak, aku tidak mungkinmencintai orang seperti dia, yang begitu mudahnyajatuh cinta. Sungguh dia tidak seperti cinta sejatikuyang selalu setia," pikir Angel lagi seraya menyimpannaskah yang baru dibacanya. "Tapi... Bukankah akujuga seperti dia, begitu mudahnya jatuh cinta," kataAngel lagi ketika dia kembali teringat denganperasaannya malam itu. Kini gadis itu tampak mengambil buku catatannyadan mulai membaca kisah nyata yang dialaminya, dansetiap kali dia membaca kisah itu, setiap kali itu puladia teringat akan kenangan indah yang pernahdialaminya. Duhai belahan jiwaku tercinta... Duhaipujaan hatiku tersayang.... Ketahuilah! Kalau akusangat mencintaimu, dan aku sangat menderita tanpa 23
  24. 24. kehadiranmu. Maafkanlah aku yang hampirmengkhianati cintamu!" Angel terus terlena di dalam lamunannya yangbegitu membuai jiwa. Sementara itu di tempat lain,Bobby tampak sedang memikirkan gadis yang kinisudah mengisi relung hatinya. Bahkan setiap usaisholat dia selalu berdoa agar Angel bisa menjadiistrinya yang shalehah dan kelak bisamembahagiakannya, hingga akhirnya pemuda itutersadar, kalau apa yang dicita-citakannya bisa sajatidak terwujud, dan itu semua karena dia menyadarikalau apa yang diinginkannya itu belum tentu sesuaidengan keinginan Tuhan. Karena itulah, dia punmenjadi lebih waspada untuk tidak sampai terjeratoleh jerat cinta yang membutakan dan tetap berusahamembuka diri untuk bisa mencintai yang lain. Sekilas dugaan Angel memang benar, kalauBobby memang orang yang mudah jatuh cinta. Tapisayangnya, gadis itu tidak menyadari kalau Bobbyjatuh cinta karena dia telah menangkap sinyal kimiayang telah dilepas Angel saat pertama kali mereka 24
  25. 25. berjumpa. Cinta Bobby sebetulnya bukan karena diamudah jatuh cinta, namun dia menjadi jatuh cintakarena Angel telah mengirim sinyal kimiakepadanya—yang tanpa disadari sudah terlepasketika dia menilai kalau Bobby adalah pemuda yangtampan. Jadi, sebetulnya Bobby itu bukanlah mudahjatuh cinta, namun mudah untuk mencintai. Sekilaskeduanya tampak sama, namun sebetulnya berbeda.Mudah jatuh cinta karena nafsu yang membutakan,yang mana berlandaskan hanya kepada kesenangansemata. Namun, mudah mencintai karena fitrahkemanusiaan, yang mana berlandaskan cintanyakepada Tuhan. "Duhai Allah... Jadikanlah dia sebagai istriku yangshalehah, istri yang bisa membahagiakanku di alamfana ini. Amin..." pinta Bobby yang lagi-lagi berdoakepada Tuhan setiap kali dia usai sholat. "Tapi...Bagaimana dengan gadis yang hendak dijodohkandenganku itu? Menurut ibuku, dia itu gadis yang baik,anak seseorang yang juga dari keluarga baik-baik.Bahkan Agustus nanti dia sudah diwisuda, dan itu 25
  26. 26. artinya sudah tidak ada kendala lagi untuk pernikahankami. Tidak seperti Angel yang statusnya belum jelassama sekali, apalagi dia itu masih sangat muda danmungkin belum ada pikiran untuk menikah. DuhaiAllah... Kenapa harus seperti ini? Kenapa aku harusmencintai gadis yang belum jelas itu. Apakah dia itumemang cinta sejatiku, sehingga aku begitumudahnya jatuh cinta. Padahal, aku sendiri belummengenalnya dengan baik." Pemuda itu terusmemikirkan pujaan hatinya, hingga akhirnya diatertidur dan bertemu dengannya di dalam mimpi. 26
  27. 27. DUA Cinta buta dan cinta sejatiT ut! Nat! Net! Not! Nat! Net! Not! Di hari minggu yang cerah, di sebuah telepon umum,seorang gadis tampak asyik berbincang-bincang.Rupanya Angel sedang menelepon Raka gunamengabarkan perihal naskah yang sudah dibacanya.Tak lama kemudian, “Nah, begitulah Kak. Tanpaterasa, akhirnya cerita itu selesai juga kubaca ," kataAngel mengabarkan. "Gila... Cepat juga kau membacanya," komentarRaka kagum. "Iya dong. Memangnya Kakak, biarpun sudahbulukan dan dimakan rayap tak akan pernahmembacanya." "Eit, jangan salah! Itu hanya berlaku untukkarangan penulis lain, tapi kalau untuk karanganBobby tentu ada pengecualian. Dia itu kan sahabatbaikku, dan aku merasa berkewajiban untuk bisa 27
  28. 28. menyelesaikannya walaupun dengan waktu yang agaklama." "Benarkah?" "Tentu saja. Ketahuilah! Selama ini Bobby sudahbegitu sering membantuku, bahkan dia rela untukmengalahkan kepentingannya sendiri. Sungguh dia itusahabat yang baik, dan tidak sepantasnya akumembalasnya dengan menyakiti perasaannya.Karenanyalah, biarpun aku tidak hobi membaca, tapiaku tetap berusaha untuk menyelesaikannya. Ya,seperti yang aku bilang tadi, walaupun dengan waktuyang agak lama. Tapi untunglah, Bobby bisamemahamiku sehingga dia pun tidak merasa kecewakarenanya." "O ya, Kak. Ngomong-ngomong, aku bacalanjutannya dong! Sebab, kata Kak Bobby adalanjutannya." "Lanjutan apa?" "Lanjutan dari cerita yang kubaca ini. Kalau tidaksalah, judulnya Demi Buah Hatiku" "Lha... Naskah itu sih tidak ada padaku." 28
  29. 29. "Lantas, naskah yang ada pada Kakak itu apa?" "Yang ada padaku itu, Menuai Masa Lalu." "Ya... Bagaimana dong?" "Telepon dia saja!" "Aduh, Kak. Aku kan baru kenal. Masa sihlangsung menelepon dia." "Mmm... Bagaimana ya?" Raka tampak berpikirkeras. "Aduh, telmi amat sih nih kepala. Masamasalah begitu saja tidak bisa mikir," kata Rakaseraya melangkah berputar-putar sambil terusmenggenggam telepon selularnya. "Eng… Nanti sajadeh, An. Biar aku pikirkan dulu," kata Raka menyerah. "Iya, deh. Nanti kalau sudah kabari aku ya!" Setelah berkata begitu, Angel pun langsungmemutus sambungan dan melangkah pergi—meninggalkan telepon umum yang hanya berjaraklima meter dari rumahnya. Kini gadis itu sudahmerebahkan diri di tempat tidur. Kali kini dia tidakmemikirkan soal perasaannya kepada Bobby,melainkan lebih kepada lanjutan cerita dari naskahyang sudah dibacanya. "Hmm... Lanjutannya seperti 29
  30. 30. apa ya? Kata Kak Bobby waktu itu sih soal anak-anakdari tokoh utama yang sudah remaja dan menginjakdewasa. Pasti ceritanya akan lebih seru dari ceritayang baru kubaca itu, dan isinya pun tentu mengenaicinta anak remaja yang masih seumuran denganku." Angel terus memikirkan itu, hingga akhirnya diapun kebelet pipis. Sementara itu di tempat berbeda,Bobby tampak sedang memikirkan gadis yang maudijodohkan dengannya. Siapa lagi kalau bukanWanda. "Hmm... Kata ibuku, dia itu gadis yang patuhkepada orang tua. Dan katanya lagi, dia itu tidakmungkin menolak jika orang tuanya memang setuju.Aku heran, pada zaman modern ini masih ada sajagadis yang seperti itu. Dan aku sendiri, mau sajadijodoh-jodohkan. Hmm... Apakah itu karena akusudah putus harapan karena tak mampu mencarisendiri? Dan itu karena aku yang senantiasa berkatajujur, bahwa aku akan langsung menikahi gadis yangkucintai. Dan akibatnya, kebanyakan wanita justrumerasa takut karena belum siap, atau merasa takutkalau segala yang kukatakan adalah sebuah 30
  31. 31. kebohongan. Apalagi jika mereka tahu kalau akuadalah salah seorang yang mengerti dan setujudengan poligami, maka akan semakin menjauh sajamereka. Padahal mengerti dan setuju itu kan belumtentu akan menjadi pelakunya. Justru karenakemengertianku soal poligamilah yang membuatkujustru merasa takut untuk berpoligami. Sebab, bagiorang yang mengerti kalau berpoligami itu tidakmudah, tentu dia akan lebih mencari selamat, yaitudengan hanya beristri satu. Hmm... Bagaimana dengan Angel? Apakah diajuga akan seperti itu? Ya... Aku rasa dia pun sepertiitu. Kalau begitu, memang tidak ada salahnya jika akudijodohkan oleh orang tuaku. Aku sadar, kini akusudah semakin bertambah usia, dan orang tuakutentu sangat mengkhawatirkan aku yang hingga kinibelum juga menikah. Padahal, hampir semua temansebayaku sudah membina mahligai rumah tangga,malah dari mereka ada yang sudah dikarunia tigaorang anak. Mungkin juga orang tuaku sudah tidaksabar ingin menggendong cucu—anak dari buah 31
  32. 32. hatinya tercinta. Tapi... Bisakah aku bahagia bersamagadis pilihan orang tuaku itu tanpa dasar cinta samasekali. Terus terang, aku takut membina hubungantanpa didasari cinta. Beruntung jika kelak akumencintainya, kalau tidak... Bukankah itu akanmenimbulkan masalah." Bobby terus memikirkan perihal perjodohan itu,hingga akhirnya dia merasa pusing sendiri. BegitulahBobby yang senang sekali mendramatisasi keadaansehingga membuat kepalanya semakin mau pecah.Maklumlah, dia itu kan seorang penulis yang biasamendramatisir peristiwa yang biasa saja menjadiperistiwa yang luar biasa. Dan memang hal sepertiitulah yang dituntut bagi seorang penulis agar bisamenghasilkan karya sastra yang bagus dan bisadinikmati oleh pembacanya. Dua hari kemudian, Bobby menelepon Rakalantaran dia sudah sangat merindukan sang Pujaan 32
  33. 33. Hati. Maklumlah, selama dua hari ini dia selalumemimpikan Angel dan membuatnya merasa perluuntuk terus mencintainya. "Eh, nanti malam dia mau main ke rumahku,” jelasRaka mengabari. “Eng… Katanya, dia juga mau kerumahmu untuk mengembalikan naskah kemarin danmau membaca cerita lanjutannya.” "Benarkah?” tanya Bobby hampir takmempercayainya. “Benar, Bob. Tapi sayangnya, saat ini motorku lagiada masalah, dan karenanyalah aku tidak mungkinmengantarnya sampai ke rumahmu." Mengetahui itu, Bobby pun segera merespon,“Eng... Kalau begitu, biar aku saja yang ke sana.” “Baiklah, Bob. Kalau begitu, kami akanmenunggumu di warung tempat biasa. ” “Iya, Ka. Sampai nanti malam ya. Bye..." pamitBobby dengan perasaan senang bukan kepalang.Maklumlah, nanti malam rindunya tentu akan segeraterobati. 33
  34. 34. Kini pemuda itu tampak duduk di ruang tamusambil memikirkan perihal pertemuannya malamnanti. Ketika sedang asyik-asyiknya melamun, tiba-tiba ibunya datang menemui. "Bob, Ibu mau bicara,"kata sang Ibu seraya duduk di sebelahnya. "Soal apa, Bu?" tanya Bobby seraya berusahamenerka dalam hati. "Begini, Bob. Tadi, ibu baru pulang dari rumahWanda, dan Ibu kembali berbincang-bincang perihalniat lamaran itu. Sungguh ibu tidak menduga, kalaukedatangan ibu telah disambut dengan begituberlebihan. Sampai-sampai mereka membuat kuespesial segala hanya demi menyambut kedatanganibu. Sungguh saat itu Ibu merasa tidak enak, belumapa-apa mereka sudah menyambut seperti itu.Bagaimana jika nanti ibu datang melamar, pastimereka akan menyambutnya dengan begitu meriah. Oya, Bob. Kata ibunya Wanda, sebelum Ayah dan Ibudatang melamar sebaiknya kau dan Wandadipertemukan dulu. Sebab katanya, pernikahan itubukanlah perkara main-main. Setelah menikah, kalian 34
  35. 35. tentu akan hidup bersama untuk selamanya—salingsetia dalam mengarungi bahtera rumah tangga hinggaajal memisahkan. Karenanyalah, agar tidak menyesalnantinya, kalian harus saling mengenal lebih dulu.Karena itulah, mereka sangat mengharapkankedatanganmu. Ketahuilah, Bob! Malam Kamis besokmereka mengundangmu untuk datang menemuiWanda," jelas sang Ibu panjang lebar. "Tapi, Bu..." "Sudahlah… Tidak ada tapi-tapian! Soalnya tadiIbu sudah berjanji, kalau kau akan datang MalamKamis besok. Malah Ibu sudah memberitahu, kalaukau itu anak yang berbakti pada orang tua dan tidakmungkin mau menolak keinginan kami yangmenghendaki Wanda menjadi istrimu," potong sangIbu tak mau mendengar alasan Bobby. "Jadi, itu artinya Bobby memang harusmenemuinya?" "Tentu saja, memangnya kini kau sudah tidak mauberbakti kepada orang tuamu lagi. Lagi pula, apa lagi 35
  36. 36. yang masih kau pikirkan, Bob? Wanda itu jelas gadisyang manis, baik, dan juga patuh kepada orang tua." "Bu... Se-sebenarnya. Bo-Bobby..." pemuda itutampak menggantung kalimatnya, "Eng... Bobby maludatang ke sana, Bu," lanjut pemuda itu tak maumengungkap hal yang sebenarnya, kalau dia itu sudahmempunyai gadis pilihannya sendiri, dialah Angel—gadis yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu. "Kau tidak perlu malu, Bob! Atau... Kalau perlu Ibuakan menyuruh Randy untuk menemanimu." Saat itu Bobby tak mempunyai pilihan lain yangterbaik, tampaknya dia memang harus datang kerumah Wanda demi baktinya kepada orang tua."Duhai Allah... Kenapa harus seperti ini? Padahal kiniaku sudah begitu mencintai Angel, seorang gadisyang menurutku baik dan bisa mengerti aku.Entahlah... Ini cinta buta atau bukan, yang jelas akusudah mempertimbangkannya dengan matang dansudah menerima apa pun kekurangannya. Jikademikian adanya, benarkah itu cinta buta, bukannya 36
  37. 37. cinta sejati yang tumbuh karena bertemu sangBelahan Jiwa?" ratap pemuda itu membatin. Sungguh pemuda itu sedang dilandakebingungan, apakah ia benar-benar telah terjeratoleh cinta yang membutakan sehingga ia pun menjadibegitu gegabah dalam memberikan penilaian.Padahal, dia sendiri belum mengenal Angel denganbaik. Sungguh mengherankan, kenapa dia bisasampai seperti itu? Bukankah banyak orang yangselalu menolak cinta lantaran belum saling mengenal,tapi dia justru malah sebaliknya—mengobral cintanyakepada orang yang baru dikenal. Benarkah itu cintabuta? Namun, bagaimana jika itu memang cintasejati? Malam harinya, Bobby segera memenuhi janjiuntuk mengantarkan naskah yang akan dibaca Angel.Setibanya di warung tempat Raka biasa nongkrong,dilihatnya Angel tampak duduk menunggu. Saat ituBobby langsung menghampiri dan duduk disebelahnya. "Hi, An. Apa Kabar?” sapa Bobby. 37
  38. 38. “Baik, Kak,” jawab Angel. “O ya, An. Ngomong-ngomong, Raka ke mana?"tanya Bobby yang tidak melihat kehadiran sahabatnya. "Dia lagi mengikuti pengajian rutin, Kak. Mungkinjam sepuluh nanti dia baru kembali. "O, begitu ya,” ucap Bobby seraya sekilasmemperhatikan wajah Angel yang manis. ”Aneh...Kenapa aku tidak merasakan perasaan seperti malamitu? Kenapa kini aku jadi biasa saja, tidak merasakangetaran cinta sama sekali?" tanya Bobby dalam hatimerasa heran. Wajar saja saat itu Bobby merasaheran, sebab saat itu dia tidak tahu kalau Angel takmelepaskan sinyal kimia lantaran dia lebih mencintaicinta sejatinya, dan dia sudah mengganggap Bobbyhanyalah sebagai teman biasa. Begitu pun denganBobby yang kini sedang bingung mengenaiperasaannya pada Angel, apakah yang dirasakannyaitu cinta buta atau bukan. Karena itulah, saat itukeduanya tidak bisa merasakan getaran emosionalyang biasa dirasakan jika mereka saling melepaskanzat kimia. Karena saat itu mereka tidak sedang 38
  39. 39. dipengaruhi oleh perasaan emosional, maka merekapun bisa berbincang-bincang dengan tanpa kendala. Kedua muda-mudi itu terus berbincang-bincangmengenai topik yang mereka minati, yaitu perihal tulis-menulis yang kini sudah semakin jauh berkembang.Disaat kebersamaan itu, hanya sesekali merekasempat merasakan getaran cinta, yaitu ketika matamereka saling beradu pandang. Namun hal itu tidakberlangsung lama, sebab keduanya selalu berusahaberpaling dan membuat getaran cinta itu kembalipadam. Kedua muda-mudi itu terus ngobrol hinggaakhirnya malam pun semakin larut. Namun ketikaRaka sudah pulang mengaji, saat itulah Angel mintadiantar pulang. Karena saat itu Raka tidak mungkinmengantarnya pulang, maka Bobby pun langsungmenawarkan diri. Tak lama kemudian, sepasang muda-mudi itutampak sudah melaju menyusuri jalan yang mulaisepi. Di dalam perjalanan, Bobby kembali merasakangetaran cinta sama seperti yang dirasakannya malamitu. Begitu pun dengan Angel, saat itu dia tidak bisa 39
  40. 40. membohongi hatinya sendiri yang memang mencintaiBobby. Kini kedua anak manusia itu sudah kembalisaling mencintai, bahkan mereka sudah kembali bisaberkomunikasi dengan cara menebarkan zat kimiayang ditangkap oleh sensor khusus sehinggamembuat mereka merasa betul-betul syahdu. Selamadalam perjalanan, tak ada yang dipikirkan olehkeduanya selain cinta dan cinta, dan tak ada perasaanlain yang dirasakan selain bahagia dan bahagia. Danakibatnya, tidak sedikit para pengguna jalan yangmenjadi kesal lantaran ulah Bobby yang tampakmengusai jalan. Saat itu, sepertinya motor yangdikendarai Bobby berjalan dengan sendirinya, miripsekali dengan si mobil pintar yang bernama Kit dalamfilm Knight Rider, yang memang bisa berjalan sendirikarena telah dilengkapi dengan program pemanduotomatis. Tampaknya saat itu Bobby pun sedangmenggunakan pemandu otomatis yang berasal darialam bawah sadarnya, bahkan perjalanan yanglumayan jauh itu seperti sekejap saja dilewati, tahu-tahu kini mereka sudah berada di ujung sebuah gang. 40
  41. 41. Saat itulah, tiba-tiba Angel tersadar dan memintanyaberhenti. "Stop, Kak! Stop...! Sudah, Kak. Sampai disini saja!" pintanya kepada Bobby. Seketika Bobby tersadar dan segeramenghentikan laju sepeda motornya. "A-apa? Sampaisini saja?" tanya Bobby seraya memperhatikan kesekelilingnya. "Eng... Kau yakin aku tidak perlumengantarmu sampai ke rumah?" tanyanyakemudian. "Iya, Kak. Aku tidak mau merepotkanmu. Rakapun biasa mengantarku hanya sampai di sini. Sebab,rumahku kan masih cukup jauh, biarlah aku naikangkutan umum saja. Lagi pula, helm Kakak kancuma satu, nanti jika ada razia, Kakak pasti akan kenatilang." "Hmm... Kalau begitu baiklah. O ya, An. Kalausudah selesai membaca naskahku, jangan lupatelepon aku ya!" pinta Bobby kepada gadis itu. "Iya, Kak. Kalau sudah aku pasti akanmeneleponmu," janji Angel seraya turun dari motor 41
  42. 42. dan menatap pemuda itu. "Terima kasih ya, Kak! Kausudah mau mengantarku," ucapnya kemudian. "Sama-sama, An," balas Bobby seraya tersenyum. "Sudah ya, Kak! Aku pulang," pamit Angel. "Hati-hati ya, An!" pesan Bobby serayamemperhatikan kepergiannya. Tak lama kemudian, pemuda itu sudah kembalimelaju dengan sepeda motornya. Saat itu Bobbybegitu senang lantaran sudah bertemu dengan sangPujaan Hati. Dalam perjalanan, dia tak henti-hentinyamembayangkan wajah Angel yang begitu manis.Sungguh terasa menyejukkan jiwa, dan juga membuathatinya begitu berbunga-bunga. Sungguh dia tidakhabis pikir, kenapa perasaan itu bisa hadir kembali—perasaan yang sama seperti malam itu, yang manaterasa begitu syahdu karena telah berkali-kali diterpaoleh dasyatnya sinyal kimia yang ditebarkan Angel. Setibanya di rumah, Bobby langsung merebahkandiri di tempat tidur. Saat itu, ingatannya langsungmenerawang ke berbagai peristiwa yang barudialaminya. Sungguh semuanya itu adalah kenangan 42
  43. 43. terindah yang membuatnya betul-betul bahagia."Hmm... Angel memang betul-betul gadis yang manis.Candanya... Tawanya... Tatapannya... dan jugakeluguannya... Sungguh betul-betul membahagiakan.Oh, Angel… Aku sangat mencintaimu. Andai saja kaupunya telepon atau HP, tentu aku akan langsungmenghubungimu sekarang. Terus terang, baru jugakita berpisah, namun entah kenapa aku sudah begitumerindukanmu?" Bobby terus melamunkan Angel, hingga akhirnya,"Hmm... Dua hari lagi dia pasti sudah menghubungiku.Sebab, aku yakin sekali kalau dia akanmenyelesaikannya dalam waktu dua hari," dugaBobby seraya memejamkan kedua matanya karenasudah sangat mengantuk, hingga akhirnya pemuda itubetul-betul terlelap bersama mimpi indahnya. Sungguhsebuah mimpi yang begitu membahagiakan danmembuatnya betul-betul yakin kalau Angel-lah cintasejatinya. 43
  44. 44. Esok paginya Bobby sudah terbangun, dia dudukdi tepian tempat tidur sambil terus mengingat mimpiindahnya semalam. Di dalam mimpinya, Bobby danAngel sudah menjadi sepasang kekasih dan tengahberlibur dengan sebuah kapal pesiar. Lalu tanpadiduga-duga, kapal yang mereka tumpangi dihantambadai yang begitu dasyat, hingga akhirnya mereka punbisa menyelamatkan diri dengan sebuah sekocipenyelamat yang terus terapung-apung dan akhirnyamendekati sebuah pulau perawan. Sungguh indahnian pulau yang terpampang di hadapan mereka.Nyiur berjajar di sepanjang pantai, dan di belakangnyatampak bukit kecil yang menjulang—indah menghijau.Tak lama kemudian, sekoci yang mereka tumpangitampak merapat di tepian pantai berpasir putih, yangsaat itu terlihat laksana karpet yang membentangbersih. Lantas, keduanya pun melompat di atasnya,dan dengan kedua kaki yang sedikit terbenam—mereka tampak menyeka peluh di kening masing-masing. Maklumlah, cuaca saat itu memang sedang 44
  45. 45. cerah-cerahnya, dan itu semua lantaran sang Mentariyang sedang bergembira ria, membiaskan cahayanyadengan tanpa aling-aling. Sebagai ganti rasa panasyang menyengat itu, langit pun memberikankeindahan yang membahagiakan. Di atas kepalamereka, terlihat warna biru yang indah dengan hiasanawan putih yang berarak. Bersamaan dengan itu,beberapa burung camar tampak lincah menunggangiudara, bernyanyi riang dengan diiringi debur ombakyang menerpa pantai. Kini kedua muda-mudi itu tampak melangkahkankaki menuju teduhnya nyiur yang melambai. Saat itu,Bobby sempat mendongak melihat teriknya sinarmentari yang dengan sangat perlahan terus menurunmenuju horizon di ufuk barat. Setelah menikmati airkelapa yang dipetik Bobby, keduanya tampak dudukberdampingan sambil menikmati hembusan anginsepoi-sepoi yang terus bertiup. Sungguh terasa begitusejuk, sesejuk air kelapa yang baru saja menyegarkankerongkongan mereka. Tak terasa waktu begitu cepatberlalu, saat itu senja sudah tiba dengan 45
  46. 46. menyuguhkan panorama yang begitu menakjubkan.Betapa indahnya sang Mentari yang tengah kembalikeperaduan, sinarnya yang keemasan tampaksemakin mempesona oleh hiasan lembayung merahjingga, sungguh suasana saat itu terasa benar-benarbegitu romantis. Saat itulah Bobby dan Angel salingberciuman, dan ketika Angel hendak membukakancing baju Bobby, seketika itu pula Bobby langsungmenahannya dan mengatakan kalau perbuatan yangakan mereka lakukan itu adalah dosa. "Heran...? Kenapa dalam mimpi aku masih takutmelakukan itu? Padahal itu kan cuma dalam mimpi,tentu tidak berdosa jika aku sampai melakukannya,"kata Bobby menyesali dirinya yang sudah bertindakbodoh di dalam mimpinya. "Hmm… Lain kali, jika akubermimpi seperti itu, aku akan berusaha untuk tidakakan takut lagi. Sebab, hanya itulah kesempatankuuntuk bisa menikmati perbuatan dosa dengan tanpaberdosa," gumam Bobby asal seraya berkemas untukmandi. 46
  47. 47. Beberapa menit kemudian, Bobby sudah duduk didepan komputer dan menulis apa yang dialami didalam mimpinya. Dia sengaja menulis pengalaman didalam mimpinya sebagai bahan cerita yang kelakakan digarapnya. Apalagi kejadian seperti itu memangsangat jarang dialami, kebanyakan yang seringdialaminya adalah pertarungan melawan pocong,kuntilanak, ular, atau penjahat yang inginmembunuhnya. Dalam pertarungan itu, terkadang iamenang dan terkadang ia juga kalah dan matiterbunuh. Atau juga mimpi yang sangat mengerikan,seperti mimpi hujan meteor yang membuatnya betul-betul bisa merasakan kepanikan seperti yang pernahdisaksikannya pada film Armagedon. Atau juga perihalkehidupan setelah terjadinya perang nuklir, saat itu diamati dan dibangkitkan di padang masyar, di manabanyak orang yang mengantri menunggu giliran. Ataujuga mimpi aneh yang membingungkan, seperti saatdia mati dan akhirnya menjadi cahaya yang terbangmenembus jagad raya. Dan mimpi yang belum lamadialaminya adalah ketika dia menjadi salah satu 47
  48. 48. korban bom "teroris". Anehnya saat itu dia justrumerasa senang, bahkan disaat kematiannya diasempat tersenyum seraya mengucap dua kalimatsyahadat, dan bersamaan dengan itu rohnya punkeluar perlahan dari jasadnya. Saat itulah diamenyadari kalau dirinya sudah mati. Dan bukan itusaja, bahkan dia sempat menyaksikan teman dankerabatnya tampak berduka di saat pemakamannya.Bobby pun sangat senang dengan kematiannya itu.Sebab, dia bisa mengetahui kalau apa yangdilakukannya semasa hidup adalah benar. Buktinyasaat itu dia bisa bertemu dengan orang-orang yangsemasa hidup telah berjuang menegakkan kebenaran,dan dia pun telah dinyatakan mati syahid walaupunsaat itu kematiannya karena disebabkan oleh bom"teroris". Intinya adalah, siapapun dia, dan bagaimanapun cara kematiannya, jika selama hidupnya ditujukanuntuk berjuang di jalan Allah, maka matinya adalahsyahid fisabillillah, dan hal itulah yang sebenarnyamembuat dia begitu senang dengan kematiannya. 48
  49. 49. Sungguh semua mimpi Bobby itu terjadi karenadia mempunyai hobi nonton berbagai jenis film danmembaca beragam jenis bacaan. Akibat dari semuayang telah disaksikan, didengar, dan dibacanya itutentu akan terekam di memorinya, dan semua itusewaktu-waktu bisa keluar dalam bentuk mimpi,walaupun dia tahu kalau mimpi tak sekedar bungatidur namun ada juga yang merupakan pesan dariTuhan dan godaan setan. Karena semua itu keluardalam bentuk mimpi, maka Bobby pun bisa lebihmenjiwai karena saat itu dia memang betul-betulmengalaminya, yaitu di dalam mimpinya. Bobby punseringkali memanfaatkan mimpinya itu sebagai bagiandari proses kreatifnya dalam menulis cerita fiksi. "Nah selesai sudah... Judul cerpennya Terdampardi Teluk Biru. Cerita ini tentu akan menjadi menarikjika ternyata di pulau yang mempunyai teluk biru itudihuni oleh monster buas yang penuh misteri. Kalaubegitu aku akan mencoba untuk menulisnya," kataBobby seraya mulai menulis buah pikiran yang baru 49
  50. 50. tercipta di kepalanya, yaitu guna mengembangkancerpennya yang terinspirasi dari alam mimpi. Mendadak aku dikejutkan oleh suara yang begitumenyeramkan, sebuah raungan panjang yangterdengar begitu memilukan. “Hmm… Suara hewanapakah itu?” tanyaku dalam hati. Tiba-tiba suarahewan itu kembali terdengar, lantas aku pun mencobauntuk mendengarkannya dengan penuh seksama.Sungguh terdengar begitu menyeramkan, suaranya itukadang seperti lolongan memilukan dan terkadangseperti raungan amarah yang meluap-luap. Kini akuberdiri dari dudukku, lantas kupadangi bukit yangdipenuhi kabut. Lagi-lagi suara itu kembali terdengar.Saat itu keadaan memang sudah semakin gelap,namun begitu, sekilas aku sempat melihat sekelebatsinar merah yang menembus di kegelapan malam.Deg…kuterkejut bukan kepalang. Tiba-tiba saja sinaritu sudah mengarah kepadaku, bentuknya pun tampaksudah semakin jelas, yaitu menyerupai mata yangtampak begitu buas memandangku. Seketika aku 50
  51. 51. bergidik dan segera merapatkan tubuhku di sebatangpohon nyiur, tak jauh dari kekasihku yang kini sedangterlelap. Sejenak kuperhatikan kekasihku yangmungkin saja sedang bermimpi indah, dan ketika akukembali memandang ke arah sepasang mata ituberada, ternyata sepasang mata itu telah menghilang.Saat itu aku berniat untuk membangunkan kekasihku,namun... "Hmm... apa lagi ya?" tanya Bobby berusahamemikikan kejadian selanjutnya. Pemuda itu terus asyik dengan fantasinya, apalagisaat itu dia sedang berfantasi terdampar bersamagadis yang dicintainya. Sementara itu di tempatberbeda, Angel tampak sedang duduk termenung.Rupanya gadis itu sedang memikirkan Bobby,seorang pemuda tampan yang akan menjadi salahsatu tokoh dalam novel kisah nyatanya. Tak lamakemudian, gadis itu sudah mengambil pena dansegera menuliskan kisah yang dialaminya, yaitu dariawal pertemuannya dengan Bobby hingga akhirnya 51
  52. 52. dia jatuh cinta. Gadis itu terus menulis dan menulis,bahkan setiap kali dia mengingat semua itu, setiap kaliitu pula rasa cintanya kian tumbuh bersemi.Maklumlah, apa yang dialaminya bersama Bobbymemang hal-hal yang menyenangkan hatinya. Entahsuatu hari nanti, mungkin dia akan menangis setiapkali akan menggoreskan pena hitam miliknya. 52
  53. 53. TIGA Dering KegelisahanK RIIING…! KRIIING...! KRIIING...! terdengar dering telepon yang begitu menyebalkan.Sungguh bunyi itu telah mengganggu kenyamananBobby yang saat itu sedang serius menyimakperbincangan di televisi. KRIIING...! KRIIING...!KRIIING...! Telepon kembali berdering, namun tak adaseorang pun yang mau mengangkatnya. Mengetahuiitu, akhirnya Bobby terpaksa mengangkatnya sendiri."Ya, hallo!" sapanya kepada orang di seberang sana. "Eng, bisa bicara dengan Pak Dullah!" pinta orangdi seberang sana. "O, tunggu sebentar!" Pinta Bobby serayamengecek keberadaan ayahnya, dan tak lamakemudian dia sudah kembali. "Hallo!" sapanyakemudian. "Ya, Hallo." "Maaf, Pak. Pak Dullahnya baru saja pergi." 53
  54. 54. "Eng... Kalau begitu bisa titip pesan!" "Ya, silakan!" "Eng... Tolong bilang sama Pak Dullah, agarsegera menghubungi Pak Saman, Penting!" "Iya, Pak. Akan saya sampaikan." "Kalau begitu, terima kasih ya... Permisi..." TUT... TUT... TUT... "Aduh, pesan lagi," keluh Bobby karena terpaksadia harus terus mengingat amanat itu. Sebab jikatidak, dia pasti lupa. Maklumlah, Bobby itu memangpelupa, dan dia benar-benar merasa terbebani olehberbagai hal yang berhubungan dengan ingat-mengingat. Tadinya sih dia mau mencatat pesan itu,namun karena ballpoint yang biasanya ada di dekattelepon menghilang lagi, terpaksa Bobby jadi harusterus mengingat. Kini Bobby sudah kembali duduk di depan TV.Namun baru saja dia duduk sebentar, tiba-tibaKRIIING...! KRIIING...! KRIIING...! lagi-lagi teleponberdering dan membuat tensi Bobby menjadi naik.Kali ini Bobby tidak mempedulikannya, hingga 54
  55. 55. akhirnya ibunya yang baru saja selesai sholat buru-buru mengangkatnya. Begitulah keadaan setiap harinya, betul-betulmembuat Bobby merasa jengkel. Maklumlah, ayahBobby adalah seorang pejabat daerah tingkat rendah,dan ayahnya itu juga berkecimpung di dalam jaringanperdagangan benda antik maupun benda gaib, yangrelasinya adalah para kolektor dan juga para mafiabenda antik. Setiap harinya, ada saja orang mencariayahnya dan menitipkan pesan macam-macam,sehingga membuat Bobby terpaksa sering menjadisekretaris dadakan ayahnya. Esok harinya. KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...!lagi-lagi terdengar bunyi dering telepon yang begitumenyebalkan. Namun entah kenapa kali ini Bobbyburu-buru mengangkatnya, padahal semula diatampak begitu serius membaca buku. Sungguh sikappemuda itu lain dari biasanya, dia tampak begitu 55
  56. 56. bersemangat, bahkan rasa sakit akibat lututnyaterkena tepi meja tak dipedulikannya lagi. "Ya, hallo!"sapanya dengan hati berdebar. "Hallo! Bisa bicara dengan Pak Dullah!" pintaorang di seberang sana. "Aduh, ternyata bukan dia," keluh Bobby dalamhati seraya merasakan sakit di lututnya. "SebentarPak!" Pinta Bobby seraya mengecek keberadaanayahnya dengan agak terpincang-pincang. Tak lamakemudian, dia sudah kembali. "Hallo!" sapanyakepada si Penelpon. "Ya, Hallo." "Maaf, Pak. Pak Dullah tidak ada." "Eng... Kalau begitu bisa titip pesan!" "Ya, silakan!" "Emm... Tolong bilang sama Pak Dullah agarsegera menghubungi Pak Dudung, Penting." "Iya, Pak. Insya Allah akan saya sampaikan." "Kalau begitu, Terima kasih ya... Permisi..." TUT... TUT... TUT... 56
  57. 57. "Pesan lagi, pesan lagi..." keluh Bobby karenaterpaksa harus mengingat lagi. "Hmm... kenapa Angelbelum juga menghubungiku?" tanya Bobby serayakembali ke tempat duduknya. "Masa sih dia belumjuga selesai. Aku saja membaca dua naskahku sendirihanya membutuhkan waktu 6 jam, masa hingga kinidia belum juga selesai. Hmm... Apa dia sedang begitusibuk sehingga tidak sempat membacanya? Hmm...Apa dia malas untuk membacanya? Tidak...! Dia itugadis yang baik, dia pasti punya rasa tanggung jawabuntuk segera membacanya. Seperti halnya diriku,yang mana setiap kali diminta seorang teman untukmembaca naskahnya pasti langsung segerakuselesaikan. Sebab, aku yakin temanku itu tenturesah jika menunggu terlalu lama, tentunya waktubegitu berharga buat dia, sehingga jika aku sampaimenunda-nunda sama saja dengan menzoliminya.Aku yakin, Angel tidak akan mau menzolimiku, sebabdia itu gadis yang baik dan penuh tanggung jawab.Hatinya pun begitu lembut—selembut sutra, bahkansangat penyayang dan begitu perhatian. Hmm... kira- 57
  58. 58. kira kesibukan apa yang telah menghambatnyahingga dia tidak dapat menyelesaikan kewajibannya.Ah, sudahlah... Tentu kesibukannya itu lebih pentingdaripada harus membaca naskahku. Aku rela, jikakesibukan itu memang lebih penting. Biarlahnaskahku itu agak terlambat dari jadwal yang sudahkutentukan, asalkan dia bisa senang dan bahagiadengan segala urusannya." Kini Bobby sudah kembali membaca. Namun barusaja dia menyelesaikan satu halaman, tiba-tiba…KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...! lagi-lagi terdengardering telepon yang membuat pemuda itu buru-burumengangkatnya. "Ya Hallo!" sapanya kemudian. "Eng... Bisa bicara dengan Pak Dullah!" "Aduh, ternyata bukan dia," keluh Bobby lagi-lagikecewa. "Maaf, Pak. Pak Dullah tidak ada." "Eng... Kalau begitu bisa titip pesan!" "Ya, silakan!" "Emm... Tolong bilang sama Pak Dullah, agarsegera menghubungi Pak Manap, Penting." "Iya, Pak. Insya Allah akan saya sampaikan." 58
  59. 59. "Kalau begitu, Terima kasih ya... Permisi..." TUT... TUT... TUT... "Pesan lagi, pesan lagi..." keluh Bobby karenaterpaksa harus mengingat dua pesan yangmenjengkelkan itu. Kejadian serupa terus berlanjut, hingga akhirnyaBobby memutuskan untuk tidak mempedulikan deringtelepon berikutnya. Ketika Bobby baru selesaimenuntaskan bacaannya, tiba-tiba KRIIING...!KRIIING...! KRIIING...! lagi-lagi terdengar deringtelepon yang begitu menyebalkan. "Ah, biar ibuku sajayang mengangkatnya. Sekarang lebih baik kau nontonTV saja. " KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...! telepon kembaliberdering, namun ibu Bobby tak jua mengangkatnya."Hmm... bagaimana kalau itu telepon dari Angel. Jikatidak ada yang mengangkatnya bisa-bisa diamenyangka di rumah tidak ada orang. Kalau begitu,aku harus segera mengangkatnya," pikir Bobbyseraya mengangkat telepon yang terus berdering itu."Ya, hallo!" sapanya kemudian. 59
  60. 60. "Eng... Bisa bicara dengan Bobby!" "Aduh, ternyata bukan dia," keluh Bobby lagi-lagikecewa karena yang bicara itu bukan seorang gadis."Siapa, nih?" tanya Bobby kemudian. "Ini aku, Bob. Parhan." "O, kau Han. Ada apa?" "Emm... Kau mau beli tinta printer?" "Wah, tintaku masih banyak tuh." "O, kalau begitu ya sudah. O ya, Bob. Kalau sudahhabis telepon aku ya!" "Insya Allah, Han..." "Sudah ya, Bob. Bye..." "Bye..." TUT... TUT... TUT... "Duhai Allah... Kenapa harus seperti ini? Kenapadia belum juga meneleponku. Padahal, aku sudahbegitu merindukannya." Kini Bobby tampak terduduk lesu dengan keduamata yang memandang ke layar kaca. Saat itu, filmkartun Sponge Bob yang biasanya membuatnya 60
  61. 61. terpingkal-pingkal kali ini tidak berpengaruh samasekali. Hari demi hari telah berlalu, dan setiap deringtelepon yang didengar Bobby sungguh membuatnyaresah dan gelisah. Entah bagaimana dia harusbersikap terhadap dering telepon yang sering kaliberbunyi itu, haruskah dia mengangkatnya karenakhawatir Angel yang menelepon, atau tetap didiamkankarena dia tak mau dibebani lagi oleh berbagai pesanyang menyebalkan. KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...!tiba-tiba dering kegelisahan kembali berdering.Karena merasa khawatir, lantas Bobby pun segeramengangkatnya. "Hallo! Assalamu’alaikum...!" sapaorang yang ada di seberang sana. Saat itu hati Bobbybegitu senang bukan kepalang karena yangdidengarnya barusan adalah suara seorang gadis. "Ya, Wa’allaikum salam...!" sapa Bobby senang. 61
  62. 62. "Eng... Bisa bicara dengan Ibu Haji!" pinta gadisitu. "O, ini dari siapa?" tanya Bobby agak kecewa. "Dari Wanda, anak Bu Haji Endah." "Wanda?" Bobby agak terkejut karena gadis yangmenelepon itu ternyata gadis yang hendak dijodohkandengannya, dan gadis itu pun ternyata telahmengecewakan hatinya itu. Maklumlah, terakhir kalimereka bicara—mereka sempat bertengkar lantaranberpedaan pendapat. "Eng... Tunggu sebentar!" pinta Bobby serayamemanggil ibunya. Tak lama kemudian, Bobby sudah datangbersama ibunya. Saat itu Bobby langsung dudukmenonton TV, sedangkan sang Ibu langsungberbincang-bincang dengan Wanda. "O, begitu... Baiklah, nanti malam Ibu akan kesana. O ya, ngomong-ngomong kau mau bicaradengan Bobby?" tanya Ibu Bobby kepada Wanda."Tidak apa-apa, dia lagi tidak sibuk kok," jelas Ibu 62
  63. 63. Bobby melanjutkan, "Tunggu sebentar Ya!," pintanyakemudian. "Bob, ini Wanda mau bicara denganmu," katasang Ibu seraya menyerahkan telepon yang adadigenggamannya. "Ya, Hallo!" sapa Bobby kepada gadis itu. Saat itu Winda diam saja. "Kenapa kau hanya diam, Wan? Bicaralah…!"pinta Bobby kepada Wanda yang belum juga bicara. "Eng... Apa kabar, Kak?" tanya Wanda kepadaBobby. "Baik," jawab Bobby singkat seraya menunggukata-kata Wanda selanjutnya. "Kak... Ayo dong bicara!" pinta Wanda. "Lho, bukankah kau yang mau bicara?" "Aku bingung, Kak. Terus terang, aku tidak tahuharus bicara apa? Hmm... Enaknya bicara apa ya?" "Entahlah... Aku juga tidak tahu?" "Kak, kenapa sih sekarang Kakak jadi berubah?Kemarin-kemarin, Kakak begitu pandai bicara. 63
  64. 64. Kenapa sekarang jadi lain?" tanya Wanda yangmerasakan ada perubahan pada diri Bobby. "Entahlah... Mungkin karena sekarang aku lagitidak mood saja." "Eng.. Kalau begitu, kita bicaranya lain kali sajadeh, kalau Kakak sudah mood." "Maaf ya, Wan!" ucap Bobby yang mengetahuikekecewaan Wanda. "Tidak apa-apa, Kak. Kalau begitu sudah ya. O ya,salam buat Ibu. Wassalamu’alaikum..." "Wa’allaikum salam..." ucap Bobby serayamenutup telepon dan kembali duduk menonton TV. Kini Bobby kembali teringat dengan perbedaanpendapat waktu itu, yaitu perihal wanita karir yangtelah menjadi cita-cita Wanda. Oleh karena itulah,Bobby pun merasa tidak cocok jika menikah denganWanda. Maklumlah, Bobby memang tidakmenghendaki mempunyai istri yang seorang wanitakarir. Apalagi saat itu Wanda mengatakan kalau diasudah bertekad untuk menjadi wanita karir, walau apapun yang terjadi. Sejak mengetahui itulah, Bobby 64
  65. 65. memutuskan untuk menjauhi Wanda dan memilihAngel sebagai pendampingnya. Bahkan dia sudahyakin sekali kalau Angel akan menjadi ibu rumahtangga yang baik. Selain itu, dia pun mulai meyakinikalau Angel itulah cinta sejatinya yang sengajadipertemukan Tuhan demi untuk membahagiakannya. Kini Bobby sudah tidak memikirkan Wanda lagi,melainkan memikirkan Angel yang hingga kini belumjuga menelepon. "Ya, Tuhan... Aku bisa gila jika harusterus menunggu dan menunggu. Sampai kapan akuakan dibuat gelisah oleh setiap dering telepon yangberbunyi di rumah ini? Duhai Allah... Aku betul-betulresah dan gelisah..." Bobby terus memikirkan Angel. Sungguhperasaannya kini sudah menjadi tidak karuan. Segalakerinduan dan dering kegelisahan yang disebabkanoleh dampak pertemuannya dengan Angel betul-betulmembuatnya ingin mati saja. Begitulah cinta, yangdengannya manusia bisa menjadi serba salah.Terkadang bisa membuatnya bahagia dan terkadang 65
  66. 66. bisa membuatnya menderita. Sungguh cinta sebuahmisteri yang sulit untuk dipecahkan. Hari berikutnya, Bobby tampak sedangmelanjutkan kerangka karangan yang sedangdibuatnya. "Hmm... apa lagi ya?" tanya Bobby serayaberpikir keras mengenai peristiwa apa lagi yang akanditulis. "Hmm... Pada Bab Delapan ini harus adaperistiwa baru yang pembuka masuknya karakter Liadi dalam kehidupan Irfan. Hmm... Tapi peristiwa apaya yang enak untuk mempertemukan kedua karakterini?" tanya Bobby lagi-lagi berpikir keras. "Hmm... Liaitu kan sahabat Wina—gadis yang Infan cintai.Selama ini, Winalah yang telah memberikan saranuntuk Lia agar meninggalkan Irfan, sebab Lia menilaiIrfan hanyalah seorang buaya darat yang cuma maumempermainkan Wina. Selama ini Lia mengetahuiperihal Irfan cuma dari Lia, dan Lia sendiri memangbelum mengenal Irfan secara langsung. Begitu pun 66
  67. 67. dengan Irfan, dia malah tidak tahu kalau ada sahabatWina yang bernama Lia. O ya, bukankah Wina itupunya hobi chatting. Bagaimana jika merekaberkenalan di chat room saja, dan sejak perkenalanitulah mereka akhirnya akrab, dan Lia pun akhirnyamencintai Irfan yang saat itu menggunakan namasamaran Handi. Lia mencintai Handi karena Liamenilai Handi adalah pria yang baik dan penuhperhatian, apalagi ketika mereka saling bertukar Foto,maka semakin cintalah Lia karena Handi memangseorang pemuda yang tampan. Begitu pun denganHandi, lantaran dia sudah putus dengan Wina, dia punberniat menjadikan Lia sebagai pacar barunya. Hinggaakhirnya, jadilah mereka sepasang kekasih. Namunpada suatu ketika, Wina, Lia, dan Handy bertemu.Dan... Bingo!" Seru Bobby gembira seraya buru-burumenulis berbagai kejadian dramatis yang tiba-tiba sajatercipta di dalam benaknya. "Ah, akhirnya... Bisa jugaaku menemukan sebuah konflik yang justru membuatWina semakin mencintai Irfan! Dan itu karenakejujuran Lia yang memberikan penilaian siapa Irfan 67
  68. 68. itu sebenarnya. Dulu, Lia telah menganjurkan Winauntuk meninggalkan Irfan, namun karena Lia sudahmengenal Irfan, maka dia pun merasa berdosa jikatak berusaha mempersatukan mereka kembali.Hmm… Jika aku berhasil menutup cerita ini dengansebuah ending bahagia yang mengharukan, tentuceritaku ini akan menjadi cerita cinta yang menarik,"pikir Bobby penuh percaya diri. Setelah menemukan endingnya, akhirnya Bobbymulai menyelesaikan kerangka karangannya yangdiberi judul Keluguan dan Praduga. "Hmm... Tapikapan ya aku bisa mulai mengembangkan kerangkaini. Sungguh sekarang-sekarang ini aku sedang tidakmood menulis. Tapi..." tiba-tiba Bobby teringat denganartikel berjudul Sure! Kita tidak butuh Mood, Kok!Sebuah artikel yang bersumber dari Dunia Kata. Ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim. Salah satu berhala yang banyak dipuja olehpenulis—apalagi penulis fiksi—adalah mood. Merekabisa menulis dengan baik kalau sedang mood. 68
  69. 69. Sebaliknya, mereka akan berhenti menulis kalau lagitidak ada mood. Lama-lama mereka dikuasai mood.Mereka menulis atau tidak, bergantung pada moodatau suasana hati. Saya tidak tahu sejak kapan penulis sangatbergantung pada mood. Begitu bergantungnya padamood sampai-sampai mereka percaya mood sangatmenentukan lancar tidaknya menulis. Padahal, kitalahyang seharusnya menentukan diri kita sendiri. Kalaukita membiasakan diri untuk menulis apa saja; dalamsuasana gaduh atau tenang, dalam suasana penuhsemangat atau dingin tak bergairah, kita akan lebihproduktif sekaligus melahirkan tulisan yang lebihberbobot. Satu hal yang harus kita pompakan, menuliskarena memang ada yang harus kita sampaikan.Kalau mood sedang tidak bersahabat dengan kita,jangan dikasih hati. Tetaplah menulis. Insya Allah, kitaakan terbiasa sehingga dapat menulis dengan bagusanytime, anywhere, kapan saja, dan di mana saja. Pipiet Senja adalah contoh luar biasa. Dalamdirinya bergabung ketekunan, kerja keras, dan 69
  70. 70. kemampuan menulis kapan saja, di mana saja. Tidakbergantung pada mood. Pipiet Senja bisa menulissaat sakit, ketika harus terbaring di rumah sakit, atauketika sedang menghadapi beratnya persoalan hidup.Ia menulis dari zaman Remy Silado, ketika saya barubelajar membaca, sampai sekarang ketika penulis-penulis muda yang bersemangat sedang tumbuh. Adakemauan belajar yang luar biasa. Ada semangat yangsangat dahsyat untuk bisa senantiasa produktifmenulis kapan saja. Sekali lagi, kapan saja tanpabergantung pada mood. Ibu kita yang memiliki nama asli Etty HadiwatiArief ini sekarang sudah menghasilkan tidak kurangdari lima puluh lima buku, terdiri dari 25 buku ceritaanak dan 30 novel. Belum lagi ratusan cerpen yangtersebar di berbagai media massa dan belum sempatdibukukan. Luar biasa! Begitulah isi artikel yang membuat Bobby kembalibersemangat untuk menulis walaupun sedang tidakmood. Namun di lain sisi, dia pun merasa berat jika 70
  71. 71. harus menulis sedangkan pikirannya sedang tidakkonsentrasi lantaran memikirkan sang Pujaan Hati.Apalagi soal perjodohannya itu, sungguh membuatnyabetul-betul tertekan. Untuk saat ini, dia merasa yangenak itu bukan mengembangkan kerangka karanganyang baru diselesaikannya, melainkan hanya menulispuisi cinta mengenai perasaannya kepada sangBelahan Jiwa. "Hmm... Apakah kini aku sedang diperdaya olehbisikan setan yang menyesatkan, sehingga akumenjadi terlena dengan cinta yang membutakan.Padahal, masih banyak sekali hal penting yang bisaaku kerjakan. Bukankah aku ini diciptakan untukmenjadi khalifah, minimal untuk diriku sendiri, danbukan hanya memikirkan soal cinta yang justrusemakin membuatku tidak produktif. Tapi... Bisakahaku tetap produktif tanpa seorang pendamping yangmen-support aku, dan bisakah aku bertahan hiduptanpa perhatian dan kasih sayang dari orang yangmencintaiku. Bukankah sewaktu masih di surga, NabiAdam juga merasa kesepian karena tidak ada wanita 71
  72. 72. yang mendampinginya. Dan karena rasa kesepiannyaitulah lantas Allah menciptakan Hawa untuknya. Disurga saja Nabi Adam merasa seperti itu, apalagi akuyang hanya tinggal di dunia, yang di dalamnya penuhdengan duri-duri yang menyakitkan. Hmm…Tampaknya cintaku kepada Angel hanyalah cintabuta, sebab akibat dari cinta itulah kini aku menjadidemikian. Bukankah cinta sejati itu adalah cinta yangmembuat manusia justru semakin bersemangat dalammengisi kehidupannya." KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...! telepon tiba-tibakembali berdering. "Ah, sudahlah... Biarpun dia ituAngel atau hanya orang sakit jiwa yang mau mencaribenda magis aku tidak perlu mengangkatnya.Pokoknya kini aku sudah tidak peduli, dari padanantinya aku dipusingkan dengan berbagai pesanyang tak penting—pesan yang sebetulnya malas akusampaikan karena membuatku ikut terlibat denganurusan yang kuanggap berdosa itu, yaitu mengenaiperdagangan benda magis. 72
  73. 73. Sungguh aku sangat menginginkan ayahku itumau sadar, kalau apa yang dilakukannya selama ini—memperdagangkan jimat atau benda magis adalahsalah. Namun saat ini aku memang tidak bisa berbuatbanyak, soalnya ilmu agamaku hanya sedikit,sedangkan ilmu agama ayahku yangmemperbolehkan kepemilikan jimat atau benda magissudah sangat beliau kuasai. Kata ayahku, kalausebenarnya jimat atau benda magis secara khususmemang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAWsehingga tidak masuk ke dalam Syariat Islam yangdiajarkan olehnya. Sebab firman Allah terbagi menjadidua bagian, yaitu yang tersurat berupa Al-Quran danyang tersirat yaitu segala kemahakuasaan Allah SWTyang tampak di mata dan hati manusia. Sungguhsebuah pendapat yang betul-betul membingungkanku.Tapi, ya sudahlah... Aku tetap pada keyakinankusendiri, dan biarlah ayahku dengan keyakinannyapula, yang penting buatku adalah aku tidak mau ikutcampur dan terlibat dengan segala urusannya yangtak sejalan denganku. Kini yang bisa aku lakukan 73
  74. 74. hanyalah berdoa agar beliau mau kembali ke jalanyang lurus, amin…" ucap Bobby penuh harap. KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...! telepon kembaliberdering, saat itu Bobby masih tak maumenghiraukannya. KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...!telepon masih terus berdering, namun Bobby masihtak menghiraukannya, saat itu dia malah asyikmenulis sebuah puisi kerohanian. Pada saat yangsama, di seberang sambungan, di sebuah teleponumum yang sepi, seorang gadis tampak berdiri resah."Hmm... Kenapa belum juga diangkat?" tanya Angelgelisah. "Mmm... Apa mungkin di rumahnya sedangtidak ada orang. Tapi... Bukankah kata Raka, Bobbyitu jarang pergi ke mana-mana. Apa lagi ibunya, yangsetiap hari selalu ada di rumah. Hmm... Apa mungkinsaat ini aku sedang sial? Sebab, bisa saja saat inimereka memang sedang pergi. Kalau begitu,sebaiknya aku telepon lain waktu saja," pikir Angelseraya menutup telepon dan segera melangkah pergi. Malam harinya, Angel kembali menelepon Bobby.Namun saat itu masih tak ada seorang pun yang 74
  75. 75. mengangkatnya. "Hmm... kalau begitu besok sajakutelepon dia," kata Angel yang masih bisa bersabar.Sungguh Angel tidak tahu, kalau sebetulnya Bobbysudah melepas line telepon lantaran kesal danmerasa terganggu oleh dering telepon yang di rasakanbegitu menyebalkan. 75
  76. 76. EMPAT pertemuanC esss! Cesss! Cesss! Harum minyak wangi tercium hampir di sekujur tubuh Bobby.Rupanya di malam Kamis yang mendebarkan ini,Bobby terpaksa datang menemui Wanda gunamemenuhi keinginan orang tuanya. Dia sengajadatang sendiri lantaran tidak mau jika perjodohannyasampai tersebar luas dan menjadi gosip tak sedapyang beredar di kampungnya. Maklumlah,sebelumnya Bobby juga pernah dijodohkan denganseorang gadis manis. Belum juga mereka salingbertemu, ternyata gosip sudah merebak hingga kepelosok kampung. Kontan Bobby dan gadis itumenjadi malu dibuatnya, apalagi setelahpertemuannya waktu itu, yang membuat Bobbyterpaksa menolak si Gadis lantaran tak mencintainya.Akibatnya, mereka pun terpaksa menanggung maludua kali lebih berat lantaran batalnya perjodohan. 76
  77. 77. Bobby tak mencintai gadis itu lantaran dia terlaluserius, bahkan tingkahnya pun terlalu kaku dan sukadibuat-buat. Padahal, Bobby lebih suka kepada gadismanja yang bertingkah apa adanya. Maklumlah, dia ituseorang pekerja keras yang sering bergelut denganurusan serius. Karenanyalah, dia mendambakanseorang wanita yang tidak terlalu serius dan bisamenghiburnya dengan segala tingkahnya manjanya.Saat itu Bobby betul-betul kasihan dengan gadis yangterpaksa menanggung malu lebih berat dari yangdipikulnya. Sebab, gadis itu sempat cerita kepadabeberapa temannya kalau Bobby adalah calon suamiyang sangat dicintainya. Karena pengalaman itulah,akhirnya Bobby lebih berhati-hati dan tak mau sampaimengulangi untuk yang kedua kali. Setibanya di rumah Wanda, Bobby langsungdipersilakan duduk dan segera dipertemukan dengangadis yang selama ini hanya dilihat fotonya dandidengar suaranya saja. "Hmm... Ternyata dia lebihmanis daripada fotonya, dan jika dibandingkan 77
  78. 78. dengan Angel jelas dia itu lebih manis," ungkap Bobbydalam hati. "Kok diam saja, Kak?" tanya Wanda kepadaBobby. "Aku bingung, Wan," jawab Bobby singkat. "Kalau bingung, kenapa tidak pegangan saja,Kak?" Mengetahui anjuran itu Bobby langsungmembatin, "Heran...? Memangnya tidak ada kalimatyang lain, apa? Kenapa harus kalimat itu yang dipakaiuntuk anjuran orang yang sedang bingung?" "Kenapa, Kak?" tanya Wanda heran karena Bobbytak merespon kelakarnya. "Tidak... Aku cuma heran saja. Kita ini kan barubertemu, tapi kenapa kau justru menganjurkankuuntuk memegang tanganmu," jawab Bobby asal. Mendengar itu Wanda langsung merespon, "Enaksaja... Bukan pegang tanganku, tahu. Tapi apa sajayang bisa dibuat pegangan." "Apa coba. Memang di dekatku ada yang bisadibuat pegangan selain tanganmu itu?" 78
  79. 79. "Hmm... Memangnya Kakak sering berpikirannegatif ya?" "Negatif? Bukannya kau yang berpikiran begitu,masa baru bertemu sudah memintaku untukmemegang tanganmu." "Sudah ah, Kak! Aku tidak mau membahas soalitu. Lebih baik kita bicara yang lain saja!" "Hmm… Enaknya bicara apa ya?" tanya Bobbybingung. "Eng... Apa ya…? O ya, kenapa Kakak mau sajadijodoh-jodohkan? Memangnya Kakak tidak bisa carisendiri ya?" “Enak saja tidak bisa cari sendiri. Eh, Wan? Kalaukau mau tahu, sebenarnya…” Bobby tidakmelanjutkan kata-katanya. “Sebenarnya kenapa, Kak?” tanya Wandapenasaran. "Mmm... Sebenarnya aku mau dijodoh-jodohkankarena aku percaya kalau pilihan orang tuaku-lahyang terbaik. Ya benar, kalau itu memang yang 79
  80. 80. terbaik, kenapa tidak. O ya, ngomong-ngomong… Kausendiri kenapa mau saja dijodoh-jodohkan?" "Aku ini kan anak yang berbakti kepada orang tua,Kak. Jadi, apa pun yang menurut mereka baik, tentubaik untukku." "Kok jawabannya nyontek sih?” “Tidak kok, memang begitu kenyataannya.” “Benarkah begitu? Eng… Sekarang aku tanyapadamu. Seandainya kau itu bukan dijodohkandenganku, namun dengan seorang lelaki separuhbaya yang jelek. Apa kau tetap mau berbakti?" "Kak... Orang tuaku tidak mungkinmenjodohkanku dengan lelaki seperti itu." "Lho, kenapa tidak mungkin? Jika orang tuamumeyakini kalau orang itu baik dan bisa membuatmubahagia, kenapa tidak?" "Jelas saja tidak… Sebab, mana mungkin akubisa bahagia dengan orang seperti itu." "Apa kau sudah pernah mencobanya?" "Belum sih... Tapi kan, aku sudah bisamemprediksi." 80
  81. 81. "Prediksi? Itu artinya kau masih ragu, dankeraguan itu tidak bisa dijadikan sebuah pegangan." "Kau betul, Kak. Itu memang tidak bisa dijadikanpegangan. Tapi, bukankah yang terbaik itumeninggalkan sesuatu yang masih meragukan.Soalnya hal itu kan berisiko tinggi. Beruntung jika akubisa bahagia. Kalau tidak, bagaimana coba?" "Kau benar. Jawabanmu itu memang tepat sekali.Andai saja kau bisa menerapkan hal itu dalam urusanakhirat, tentu kau akan menjadi wanita yangberuntung." "Lho... Apa hubungannya?" "Begini, Wan. Bukankah sekarang ini banyakorang yang berani melakukan hal-hal yang masihmeragukan. Misalkan pacaran, dusta putih, bungabank, dan masih banyak lagi. Bukankah hal seperti itumasih meragukan karena adanya berbedaanpendapat, bahkan kini sudah menjadi polemik yangterus berkepanjangan. Ketahuilah…! Hal seperti itujelas sangat berisiko untuk urusan akhirat. Bukankahkau bilang, yang terbaik itu meninggalkan sesuatu 81
  82. 82. yang masih meragukan, dan hal itu pulalah yangmenjadi salah satu penyebab aku tidak mau pacaran.Ketahuilah…! Selama ini, setiap kali aku mencintaiseorang gadis, maka aku akan berusaha untuk segeramenikahinya. Namun karena mereka memang tidaksiap, akhirnya aku pun terpaksa terus menjomblo.Karena itulah, akhirnya orang tuaku tidak sabar lagidan berusaha menjodohku dengan pilihan mereka.Dan karena aku tidak mempunyai pilihan terbaik,terpaksa aku menurut saja, itung-itung demi baktikupada mereka. Lagi pula, aku percaya kalau orangtuaku tidak akan membuatku menderita, mereka pastimencarikan gadis yang terbaik untukku. Bukankahkau juga demikian, mempercayai kedua orangtuamu?" "Ya, aku pun begitu, Kak. Karenanyalah, aku puntidak menolak ketika dijodohkan dengan Kakak.Hingga akhirnya, malam ini kita sengaja dipertemukanagar bisa lebih saling mengenal." "Ya, kau benar. Semoga kita bisa saling mengenaldengan cara yang benar, yaitu tidak berkembang 82
  83. 83. menjadi proses pacaran yang di luar batas kesusilaan,seperti yang selama ini dilakukan oleh kebanyakanorang. Akibatnya, banyak sekali wanita yang menjadikorban, yaitu hamil di luar nikah. Bahkan tidak sedikityang menjadi pembunuh lantaran tidak menghendakianak yang dikandungnya. Sungguh semua itu adalahbukti kalau pacaran sangatlah berbahaya. Beruntungbagi mereka yang masih mempunyai iman, kalau tidaktentu akan bernasib sama." "Kak… Aku pun tidak mau jika pertemuan ini akanberkembang menjadi seperti itu. Karena itulah, akuharap Kakak mau jujur dalam mengungkap jati diriKakak yang sebenarnya. Setelah itu, aku pun akanmelakukan hal yang sama. Jika kita sudah salingmengenal, walaupun cuma sebatas kulitnya, lalu mauberkomitmen untuk menerima berbagai hal yang kitasepakati bersama, tentunya tidak ada alasan bagi kitauntuk tidak segera menikah. Namun, jika ternyata kitatidak bisa berkomitmen karena adanya perbedaanyang sangat prinsipil, tentunya tidak ada alasan pulabagi kita untuk terus melanjutkannya." 83
  84. 84. "Ya, aku setuju. Sekarang pun aku akan memulaidengan memberitahu beberapa sifatku yang mungkintidak kau sukai. Ketahuilah! Aku ini orang yang agakkeras kepala dan pemarah. Tapi kau jangan khawatir,kekerasan kepalaku dan kemarahanku itu adalahInsya Allah sesuatu yang tidak bertentangan denganAl-Quran dan Hadits Rasul, atau boleh dikatakan akumemegang teguh prinsipku dalam upaya menegakkankebenaran. Sebab manusia yang tidak mempunyaiprinsip itu bagaikan air di daun talas, yang tidakmempunyai pendirian yang kuat sehingga bisa mudahterombang-ambing oleh pengaruh lingkungan." "Ya... Sepertinya memang begitu. Dari semula akusudah bisa menduga, kalau Kakak memanglah orangyang demikian. Ketahuilah, Kak! Aku pun sebenarnyaorang yang seperti itu. Dan bukan itu saja, aku jugaseorang yang kekanakan dan bisa membuat kesalbanyak orang. Sesungguhnya yang memberikanpenilaian begitu bukanlah aku, tapi orang tua dan jugateman dekatku yang selama ini sudah begitumengenalku." 84
  85. 85. "Benarkah demikian?" Wanda mengangguk. "Eng... Apa menurut Kakak,aku ini bisa menjadi pendamping yang baik buatKakak?" "Kenapa tidak. Jika kau memang mau mengikutipetunjuk Al-Quran dan Hadits aku percaya kau pastibisa menjadi pendamping yang baik untukku." "Eng… Kalau ternyata aku tidak mau mengikutipetunjuk kedua kitab itu, bagaimana?" "Lho... Bukankah kau itu orang Islam. Sebagaiorang Islam, kau wajib untuk mengikuti petunjukkeduanya. Kalau tidak, tentu keislamanmu itu perludipertanyakan. Ketahuilah! Dulu aku ini termasukorang yang tidak mau mengikuti petunjuk Al-Qurandan Hadits. Namun begitu, aku tidak mau menyerahkalah. Karenanyalah aku terus belajar untuk menjadilebih baik, dan aku akan terus berusaha untuk bisamenyempurnakannya, yaitu dengan berpegang teguhkepada ajaran Rasulullah, yaitu hidup hari ini haruslebih baik dari hari kemarin. Dan ukuran lebih baik itubukanlah materi, melainkan takwa dan keimanan. 85
  86. 86. Itulah kenapa manusia dikaruniakan dengan akalpikiran, yang dengannya manusia dituntut untuk terusbelajar dan belajar sehingga ia bisa memahami tujuanhidup yang sesungguhnya. Ketahuilah! Hidup itu adalah memilih takdir, danjika manusia memilihnya berdasarkan Al-Quran danHadits Rasul, maka nilainya adalah ibadah. Namunjika tidak, maka nilainya adalah durkaha. Buah dariibadah adalah pahala, dan buah dari durkaha adalahdosa, maka hasil timbangan dari keduanya itulah yangakan menentukan takdir manusia masuk surga atauneraka. Untuk lebih jelasnya aku akanmenggambarkan sebuah diagram yang berhubungandengan hal itu. Kalau boleh, bisakah akumeminjamkan ballpoint dan selembar kertas!" "Kalau begitu tunggu sebentar ya, Kak!" kataWanda seraya melangkah ke kamar. Tak lamakemudian, dia sudah kembali. "Ini, Kak," kata Wandaseraya menyerahkan selembar kertas dan ballpointkepada Bobby. 86
  87. 87. "Terima kasih, Wan. Sekarang coba kauperhatikan baik-baik diagram yang kugambar ini!"pinta Bobby seraya menggambarkan sebuah diagramsederhana. Saat itu Wanda tampak memperhatikandengan penuh seksama. "Nah... Selesai sudah. Kiniaku akan menjelaskannya padamu. MANUSIA & JIN DI DUNIA BERBAGAI TAKDIR TAKWA DURKAHA TIMBANGAN AMAL SURGA KEPUTUSAN ALLAH NERAKA Lantas, Bobby pun mulai menjelaskannya,"Ketahuilah! Kalau manusia dan jin itu dipersilakanuntuk memilih berbagai takdir yang sudah tersediadan tertulis jelas pada kitab Lauhul Mahfuzh. Kitab ituadalah "Listing Program" kehidupan manusia dan jindi Jagad Raya, dan juga keadaan Jagad Raya itusendiri. Sebab, dari awal penciptaan hingga 87
  88. 88. kematiannya, segala tingkah laku dan perbuatanmanusia memang sudah ditentukan di dalam kitabtersebut, baik itu segala yang baik maupun segalayang buruk, bahkan segala potensi yang dimilikinyapun sudah tertulis dengan jelas. Begitu pun dengankeadaan Jagad Raya ini, yang dari awalpenciptaannya adalah bermula dari sebuah ledakanDahsyat (Big Bang) hingga akhirnya menjadi Jagadraya yang sempurna dan terus mengikuti HukumSunatullah (Hukum ketentuan Allah) yangkesemuanya sudah ditentukan pada kitab LauhulMahfuzh. Bahkan dari partikel debu hingga keadaanJagad Raya seluruhnya, semua sudah ditentukan.Juga dari sebuah huruf hingga ensiklopedia,semuanya juga sudah ditentukan. Subhanallah...Coba kau bayangkan! Sebuah daun kering yangsedang gugur! Daun kering itu tampak terbangmelayang dengan berliuk-liuk, kemudian jatuh di atasaliran sungai, lalu hanyut bersama aliran air yang terusmengalir, hingga akhirnya daun itu tenggelam di dasarsungai, kemudian membusuk dan terurai. Sungguh 88
  89. 89. semua peristiwa itu—dari mulai gugurnya daun hinggasampai mengurainya sudah tertulis jelas di kitabLauhul Mahfuzh. Lantas untuk bisa memilih dengan baik, Allah punmenurunkan kitab suci dan juga para rasul yang bisadijadikan teladan oleh umat manusia. Bukan hanyamanusia, tapi juga oleh bangsa jin yang hidup di alamgaib. Untuk lebih jelasnya, aku pun akanmenggambarkan diagram berikut ini," kata Bobbyseraya kembali menggambar sebuah diagram. "Nah...selesai sudah. Sekarang Coba kau perhatikan baik-baik!" pinta Bobby kepada Wanda. Mengetahui itu, Wanda pun segeramemperhatikan diagram itu dengan penuh antusias.Diperhatikannya alur takdir yang sama sekali belumdimengertinya, dahinya pun tampak berkerut penuhtanda tanya. Pada saat itu, kepalanya pun langsungpening tujuh keliling. Namun begitu, dia tidak maumengungkap hal itu kepada Bobby lantaran takutmembuatnya tersinggung. Karenanyalah, Wanda punterus memperhatikan diagram itu sambil terus 89
  90. 90. berusaha memahami maksudnya. "Maaf, Kak. Akumasih belum mengerti. Bisakah Kakakmenjelaskannya padaku!" pinta gadis itu menyerah. "Eng... Baiklah... Aku akan menjelaskannyapadamu. Kalau begitu, tolong perhatikan baik-baik!"kata Bobby seraya mulai menjelaskan diagram yangtelah membuat kepala Wanda jadi pening. ALLAH ADAM & HAWA KITAB SUCI DUNIA MANUSIA & JIN DI DUNIA BERBAGAI TAKDIR TAKWA DURKAHA TIMBANGAN AMAL SURGA KEPUTUSAN ALLAH NERAKA "Ketahuilah! Sebelum manusia, Allahmempercayakan kalau dunia yang diciptakan-Nyaagar ditempati, dinikmati, dan dirawat baik-baik olehbangsa jin. Namun ternyata bangsa jin justru 90
  91. 91. merusaknya dan tidak mau menikmatinyasebagaimana mestinya, yaitu menikmatinya sesuaidengan keinginan Allah. Karena itulah lantas Allahmembuat sebuah skenario baru, yaitu agar manusiabisa menggantikan peran jin di dunia. Untuk tujuanitulah lantas Allah menciptakan Adam dan Hawa yangdengan perantara Iblis akhirnya harus tinggal di dunia.Penciptaan Adam pun sebetulnya juga sebagai ujianuntuk golongan jin, apakah mereka memang masihpantas menyandang gelar kekhalifahan di muka bumi.Namun ternyata, bangsa jin memang sudah tidakpantas lagi. Terbukti, saat itu jin yang paling taat danpaling cerdas di antara golongannya ternyata malahmembangkang ketika disuruh melakukan sujudpenghormatan kepada Adam, dan itu akibat darikesombongannya. Dialah jin yang bernama Iblis,pemimpin dari golongan jin yang memang tak pantasmenyandang gelar khalifah lantarankesombongannya. Coba kau bayangkan!Pemimpinnya saja sudah seperti itu, lantasbagaimana dengan yang dipimpinnya? Sungguh 91
  92. 92. mereka memang sudah tidak pantas lagi untukmenjadi khalifah di muka bumi. Begitulah cara Allah bekerja, yaitu denganmenciptakan berbagai takdir yang harus dipilih olehmakhluk ciptaan-Nya. Lantas agar manusia bisamemilih dengan baik, Allah pun membekali manusiadengan akal dan hati nurani agar bisa melindungimanusia dari pilihan yang salah. Karena kedua hal itumasih belum cukup, lantas Allah pun menurunkanNabi dan Rasul yang membawa pesan kebenaran.Hingga akhirnya pesan kebenaran itu menjadi kitab-kitab suci yang kita kenal sekarang, yaitu Zabur,Taurat, Injil, dan yang telah disempurnakan yaitu Al-Quran, yang diturunkan sebagai Mukjizat untuk Rasulyang paling dicintai-Nya yaitu Muhammad SAW. Ketahuilah! Sewaktu di alam roh, setiap jiwasudah menandatangani kontrak perjanjiannya denganAllah, yaitu manusia bersedia untuk menjadi khalifahdi muka bumi ini—yaitu untuk menjadi seorangpemimpin yang bisa membuat kehidupan di duniamenjadi seperti keinginan Allah. Jika setiap jiwa tidak 92
  93. 93. melanggar perjanjian itu, maka ia akan dihadiahkanSurga. Namun jika dia melanggar, tentu saja dia akanmendapat sangsinya, yaitu Neraka. Itulah salah satuhakikat tujuan diciptakannya manusia, yaitu menjadikhalifah yang bertakwa kepada Allah—TuhanSemesta Alam, yang senantiasa menyembah danberibadat hanya kepada-Nya." "Benarkah begitu?" tanya Wanda ragu. "Ya begitulah yang selama ini telah kupelajari, dansemua itu memang ada di dalam Al-Quran." "Tapi kenapa aku tidak ngeh." "Mungkin itu karena selama ini kamu cumamembacanya saja, namun tidak menghayatinyadengan sepenuh hati." "Wajar saja aku cuma bisa membacanya, aku kantidak mengerti bahasanya." "Lho bukankah Al-Quran terjemahan BahasaIndonesia yang dilengkapi dengan tafsir sudah banyakberedar. Dan jika kau masih bingung, kau pun bisamenanyakannya kepada orang yang kau anggappandai. Ketahuilah! Jika orang memang bersungguh- 93
  94. 94. sungguh mau belajar, aku yakin… dengan kuasa-Nya,Allah akan membukakan pintu taufik dan hidayahkepada hamba-Nya yang memang mau bersungguh-sungguh. Dengan begitu, orang itu pun akan semakingiat untuk mau belajar dan belajar, hingga akhirnyadia bisa menemukan apa yang sedang dicarinya, yaitukebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan kebahagiaanitu sendiri bersifat relatif, tergantung bagaimana iabisa menyikapinya. Kaya, sederhana, maupun miskinbukanlah ukuran dan tidak bisa menjamin seseorangakan bahagia. Sebab, biarpun kaya, jika manusiatidak bersyukur, maka ia akan menderita. Tapi,biarpun miskin, namun jika ia senantiasa bersyukur,maka ia pun akan bahagia. Untuk lebih jelasnya, akuakan menggambarkan sebuah diagram lagi untukmu,"jelas Bobby seraya mulai menggambar. "Nah selesaisudah. Sekarang coba kau perhatikan baik-baik!"pinta Bobby kepada Wanda. "Lagi-lagi diagram," keluh Wanda dalam hatiseraya menuruti apa yang Bobby katakan. 94

×