Dokumen konsili vatikan ii

2,662 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,662
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
21
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Dokumen konsili vatikan ii

  1. 1. DOKUMENKONSILI VATIKAN II
  2. 2. KATA PENGANTAR Ketua Presidium KWIKetika persediaan buku Tonggak Sejarah Pedoman Arah, dokumen Konsili Vatikan IIterbitan Departemen Dokumentasi dan Penerangan MAWI tahun 1983 mulai menipisjumlahnya, telah dipikirkan masak-masak oleh KaDokPen KWI, apakah akan mencetakulang ataukah justru mengusahakan sekaligus adanya suatu terjemahan baru. Mengingatbuku tersebut disana-sini dirasa perlu disempurnakan terjemahannya, baik yangmenyangkut judul, ungkapan maupun isi, maka dianggap mendesak adanya terjemahanbaru.Semula dipikirkan oleh KaDokPen KWI, dokumen tersebut akan diterjemahkan oleh sebuahteam yang terdiri dari beberapa teolog dosen STFT dan STFKAT dari berbagai daerahdiseluruh Indonesia. Namun cita-cita tersebut ternyata sulit dilaksanakan, karena tidakmudah menemukan dikalangan mereka seseoarang yang mempunyai waktu dan bersediamenterjemahkan dokumen tersebut.Presidium bersyukur bahwa Pater R. Hardawiryana SJ yang semula diharapkan menjadikoordinator para penterjemah akhirnya bersedia menjadi penterjemah tunggal. Pada rapattanggal 18 s/d 20 April 1990, Presidium menyetujui usulan KaDokPen agar Pater R.Hardawiryana SJ, akan menterjemahkan seluruh dokumen Vatikan II, sedikit demi sedikit.Untuk tahap pertama, setiap kali satu dokumen selesai diterjemahkan, langsungditerbitkan oleh DOKPEN KWI sebagai Seri Dokumen Gerejani, kemudian disebar, sambilmohon agar mereka yang telah membaca, dan memakai untuk sarana perkuliahan,seminar dls., berkenan menyampaikan koreksi dan usulan penyempurnaan. Setelah semuadokumen selesai diterjemahkan, sertakoreksi telah masuk pula, seluruh dokumen akandicetak ulang menjadi satu kesatuan, setelah diperiksa ulang oleh para ahli yangberkompeten.Kami bergembira bahwa akhirnya dapat diterbitkan seluruh dokumen Konsili Vatikan IIdalam satu buku. Semoga buku baru ini dapat melayani kebutuhan Gereja Indonesia,karena buku lama telah habis. Dengan semakin sempurna diterjemahkan, inspirasisemangat dan ajaran Konsili Vatikan II yang kita hargai bersama itu dapat semakin baikdibaca, ditangkap, direnungkan, dan diresapkan.Dalam kesempatan ini, tak lupa kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pater R. Hardawiryana SJ yang telah begitu banyak menyisihkan waktukarena berkenan menjadi penerjemah tunggal. Demikian pula kepada DOKPEN KWI sertasemua pihak yang turut serta dalam usaha penerbitan buku baru ini, kami ucapkanbanyak terima kasih. Setiap saran, koreksi dan usulan perbaikan tidak hanya kami terimadengan senang hati, melainkan juga sangat kami harapkan. Jakarta, 2 Februari 1993 Mgr. J. Darmaatmadja. SJ Ketua Presidium KWI
  3. 3. KATA PENGANTAR DOKPEN KWI Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II telah diterjemahkan secara lengkap atasmandat dari MAWI (KWI) oleh Bapak Dr. J. Riberu yang pada waktu itu menjabat sebagaiKepala Dokpen MAWI. Terjemahan ini terbit menjadi satu buku pada permulaan tahun1984 dan sampai dengan tahun 1992 telah mengalami cetak ulang beberapa kali. Dalamcetakan ulang judul buku diubah dengan judul yang lebih tepat : “DOKUMEN KONSILIVATIKAN II. Tonggak Sejarah, Pedoman Arah”. Tak dapat disangkal bahwa buku ini dipakaisecara luas diseluruh Indonesia, tidak hanya dikalangan umat Katolik tetapi juga yangbukan Katolik. Sementara itu, dirasakan oleh para pe makai bahwa dalam terjemahan ini terdapatpelbagai kelemahan dan ketidaktepatan: judul buku, bahasa, kosakata dan sebagainya.Presidium KWI akhirnya dalam rapatnya tanggal 18 s/d 20 April 1990 memutuskan supayaseluruh dokumen itu diterjemahkan sekali lagi dengan melibatkan sebanyak mungkin ahli,sehingga terjemahan baru tersebut dapat lebih sempurna dan diterima oleh seluasmungkin pemakai. Tugas ini diserahkan kepada Departemen Dokumentasi dan Penerangan(DOKPEN) KWI. Setelah semua teolog dari STFT dan STF yang ada di Indonesia di Hubungi, ternyatahampir tak ada yang sanggup untuk membantu menterjemahkannya. Syukur kepadaTuhan, bahwa Rama R. Hardawiryana, SJ menyanggupkan diri untuk melakukannyasedikit demi sedikit. Sekarang pekerjaan besar dan berat itu sudah selesai dan sementaraitu sudah diterbitkan secara periodik dalam Dokumen Gerejawi yang diterbitkan olehDOKPEN KWI. Dan sekarang buku yang ada di tangan Anda ini menjadi bukti kerja kerastadi. Kita patut berterimakasih yang sebesar-besarnya kepa danya. Bahaya dari penerjemahan tunggal ini ialah bahwa kemungkinan untuk berbuatsalah menjadi cukup besar. Hal ini kami coba imbangi dengan mengundang para pemakai,khususnya para ahli, untuk menyampaikan penyempurnaannya kepada penerjemah ataukepada kami selaku koordinator. Keuntungan dari penerjemahan tunggal ialah bahwamutu dan gaya bahasa serta kadar ketelitian dapat dipertanggungjawabkan dalam seluruhdokumen; sesuatu yang agak sulit dipertahankan bila dokumen yang sama diterjemahkanoleh banyak orang. Akhirnya kami berharap bahwa para pemakai dapat merasakan bahwa terjemahanbaru ini sungguh lebih baik dari yang lama dan buku ini dapat lebih berguna bagikeberadaan Gereja Katolik di Indonesia dalam, bersama dengan umat lain, bergereja,bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tercinta ini.Jakarta, 17 Februari 1993Alfons S. Suhardi, OFMKADOKPEN KWI
  4. 4. KONSILI VATIKAN II : 1962 – 1965 Konsili Vatikan II merupakan Konsili Ekumenis ke-21 dalam sejarah Gereja. Antaratgl. 11 Oktober 1962 dan tgl. 8 Desember 1965 diadakan empat periode sidang. JumlahUskup yang hadir lebih banyak dan berasal dari lebih banyak negara daripada yangmenghadiri Konsili-Konsili sebelumnya(1). Jumlah dokumen yang dihasilkannyapun lebihbanyak, dan dampak-pengaruhnya atas kehidupan Gereja katolik lebih besar dari peristiwamanapun sesudah jaman reformasi pada abad XVI.PERSIAPAN Baik Paus Pis XI (1922-1939) maupun Paus Pius XII (1939-1958) pernah berfikirtentang membuka kembali Konsili Vatikan I (1869-1870), yang karena pecahnya perangantara Perancis dan Prusia (Jerman) terpaksa dihentikan secara mendadak ( 2). Tetapi PausYohanes XXIII-lah yang mengejutkan umat katolik sedunia dengan maklumat beliau yangpenuh optimisme pada tgl. 25 Januari 1959, bahwa beliau bermaksud mengundang suatuKonsili ( 3). Yang beliau maksudkan bukan sekedar melanjutkan Konsili Vatikan I,melainkan menyelenggarakan Konsili yang baru sama sekali (4). Beliau mengharapkanKonsili akan mengajak Gereja semesta mengevaluasi kehidupan serta pelaksanaan misinya.Ada tiga sasaran yang mau dicapai, yakni : pembaharuan rohani dalam terang injil,penyesuaian dengan masa sekarang (“aggiornamento”) untuk menanggapi tantangan-tantangan zaman modern(5), dan pemulihan persekutuan penuh antara segenap umatkristen (6). Persiapan Konsili dimulai dengan undangan yang ditujukan kepada semua Uskupdiseluruh dunia, para pemimpin tarekat-tarekat imam religius, universitas-universitas sertafakultas-fakultas katolik, dan para anggota Kuria Romawi, untuk mengemukakan saran-saran mereka bagi permusyawarahan dan penyusuanan acar Konsili. Disepanjang sejarahGereja belumpernah diadakan konsultasi seluas itu (7). Hasilnya ialah lebih dari 9300saran. Seluruh bahan itu dipilah-pilah, didaftar, dan dibagi-bagikan kepada sepuluh komisipersiapan, yang oleh Paus Yohanes diangkat pada tgl. 5 Juni 1960 untuk menyiapkankonsep-konsep naskah (“schemata”) untuk dibahas dalam Konsili. Komisi-komisi mengadakan rapat-rapat kerja antara bulan November 1960 danbulan Juni 1962, dan menghasilkan lebih dari 70 naskah yang kemudian dirangkummenjadi sekitar 20 naskah. Setiap naskah diperiksa oleh Komisi Persiapan Pusat,1 Pada Pembukaan Konsili hadirlah 2540 Bapa Konsili. Baiklah dikenangkan pula dampak relatif cukup besar 29 pengamat dari 17 Gereja lain dan undangan yang bukan katolik, para pendengar pria maupun wanita, perhatian besar media cetak, dan makin banyak tersedianya informasi tentang Konsili.2 Tentang Konsili Vatikan I, lihat : H. Jedin, “Sejarah Konsili”, Yogyakarta: Kanisius 1973, hlm.111-138; T. Jacobs, “Latar Belakang dekat Konsili Vatikan II”, khususnya hlm.60-633 Paus Yohanes XXIII, Konstitusi apostolik “Humanae Salutis”, tgl. 25 Desember 1961, memandang sebagai suatu motivasi untuk mengundang Konsili; membuka kemungkinan bagi Gereja untuk memberi sumbangan efektif demi pemecahan soal-soal zaman modern.4 Dalam konstitusi apostolik “Humanae Salutis”, tgl. 25 Desember 1961Paus Yohanes XXIII mencetuskan harapan beliau: semoga Konsili Vatikan II merupakan ulangan Pentekosta bagi umat kristen. Juga dogma- dogma Tradisi Gereja ditempatkan dalam konteks baru dan ditafsirkan secara baru.5 Paus Paulus VI pada sidang terakhir Konsili mengartikan “aggiornamento” sebagai usaha untuk makin mendalami semangat Konsili dan penerapan setia norma-norma yang digariskan.6 Amanat Paus Yohanes XXIII pada pembukaan Konsili, tgl. 11 Oktober 1962, antara lain menekankan perlunya meningkatkan p ersatuan kristen, bahkan seluruh “keluarga manusia”. Maksud itu terungkap dengan jelas misalnya ketika pada tgl.5 Januari 1964 Paus Paulus VI dalam kunjungan beliau ke Tanah Suci merangkul Atenagoras, Patriark Ortodoks utama dari Gereja Timur. Peristiwa lain: pernyataan bersama, yang diumumkan di Istanbul dan di Vatikan pada tgl. 7 Desember 1965, tentang peristiwa-peristiwa pada tahun 1054, yang menimbulkan perpecahan antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks di Istanbul. “Pernyataan Katolik-Ortodoks” itu mengungkapkan kerinduan akan persekutuan makin penuh antara Gereja di Istanbul dan Gereja katolik.7 Konstitusi apostolik Paus Yohanes XXIII “Humanae Salutis”, tgl. 25 Desember 1961, menampilkan pentingnya konsultasi seluas itu dalam proses persiapan Konsili.
  5. 5. diperbaiki dengan memperhatikan catatan-catatan yang dilampirkan, dan akhirnyadimohonkan persetujuan Paus. Pada musim panas tahun 1962 sejumlah naskah diedarkandiantara para Uskup sedunia sebagai bahan untuk periode Sidang yang akan dimulai padamusim gugur.SIDANG PERTAMA Konsili Vatikan II menyelenggarakan empat periode sidang, yakni: 11 Oktober – 8Desember 1962, 29 September – 4 Desember 1963, 14 September – 21 November 1964, dan14 September – 8 Desember 1965. Dalam uraian pengantar ini tidak mungkin memaparkanikhtisar sejarah Konsili(8). Tetapi baiklah disajikan catatan tentang periode Sidang Pertama,yang paling dramatis dan paling penting. Suasana dan keputusan-keputusan yang diambilketika itu menggariskan haluan dasar seluruh Konsili. Ada empat moment yangmempunyai relevansi khas. Momen relevan yang pertama ialah Amanat Pembukaan yang disampaikan oleh PausYohanes XXIII pada tgl.11 Oktober 1962. Beliau mendesak supaya Konsili menempuh arahpastoral ( 9). Menghadapi dunia yang memerlukan uluran belaskasihan(10). Bukan maksudutamanya untuk mengulang-ulangi saja apa yang jelas sudah merupakan ajaran katolik,atau melontarkan kecaman-kecaman (“anathema”) terhadap kesesatan-kesesatan. Kendatimendesaknya tantangan-tantangan zaman, para Uskup diundang untuk menjauhkan sikapmurung terhadap dunia modern, dan untuk merenungkan : mungkinkah Allah justruhendak memulai suatu era baru dalam sejarah manusia? Mereka diharapkan membedakanantara pokok-pokok iman disatu pihak, dan dipihak lain cara-cara mengungkapkannyayang tergantung juga dari situasi dan kondisi yang silih berganti, serta bagaimanapun jugaharus menanggapinya. Jadi soal utama ialah : bagaimana pusaka iman diungkapkandalam konteks situasi masa kini, untuk sungguh menyentuh hati manusia zaman sekarangdan memecahkan masalah-masalahnya yang aktual. Momen kedua yang relevan ialah : ketika pada sidang kerja pertama para Uskupmenyatakan tidak bersedia untuk begitu saja menerima para anggota komisi-komisiKonsili, yang disodorkan dalam daftar yang sudah siap, melainkan memutuskan untukmemilih sendiripara anggota komisi-komisi. Ketika itu peristiwa itu dianggapmengungkapkan, bahwa cukup banyak Uskup tidak setuju dengan nada dan isi pokokbanyak naskah yang telah disiapkan. Mereka menginginkan waktu secukupnya untuksaling mengenal, dan memilih para anggota komisi-komisi, sehingga tidak begitu sajadiulangi tekanan-tekanan naskah-naskah persiapan. Momen ketiga yang sinyifikatif ialah perdebatan Konsili tentang Skema mengenaiLiturgi. Diskusi itu mencerminkan, bahwa mayoritas para Uskup mendukung ajakan Pausuntuk membaharui kehidupa n Gereja. Maksud mereka makin jelas, ketika dimulaiperdebatan tentang Skema “Tentang Sumber-Sumber Pewahyuan”. Teks itu oleh banyakUskup dikritik dengan tajam sekali, dan pada pemungutan suara menjelang akhir diskusilebih dari 60% menghendaki agar Skema dibatalkan. Meskipun jumlah suara itu tidak mencukupi untuk mengembalikan Skema, PausYohanes memerintahkan perombakannya sama sekali. Momen keempat yang dramatis itumenampilkan maksud mayoritas para Uskup untuk menempuh haluan, yang dalamberbagai aspek menyimpang dari sikap-sikap dan strategi-strategi, yang menandaiKatolisisme Romawi selama 150 tahun sebelumnya. Paus Yohanes XXIII meninggal pada bulan Juli 1963, dan digantikan oleh PausPaulus VI. Salah satu tindakan Paus baru yakni : mengumumnkan bahwa Konsili akandilanjutkan, dan harus tetap mengikuti haluan yang telah digariskan oleh Paus Yohanesdan dikukukhkan selama periode Sidang I. Selama tiga periode Sidang berikut yangdiketuai oleh Paus Paulus VI terlaksanalah karya pokok Konsili.8 Lihat : Daftar “Beberapa Peristiwa Penting Selama Konsili Vatikan II”.9 Menurut “Presbyterorum Ordinis” 12, tujuan pastoral Konsili ialah : 1) Pembaharuan Gereja, 2) pewartaan Injil diseluruh dunia, dan 3) dialog dengan dunia modern.10 Amanat Paus Paulus VI pada hari raya Natal 1965 menggarisbawahi, bahwa suasana dominan selama Konsili diilhami oleh gambaran Injili tentang Gembala Baik, yang tidak berhenti mencari sebelum menemukan domba yang sesat.
  6. 6. DOKUMEN-DOKUMEN KONSILI Konsili Vatikan II menghasilkan enam belas dokumen, yakni empat Konstitusi(tentanag Liturgi, tenteng Gereja, tentang Wahyu Ilahi, dan tentang Gereja dalam DuniaModern), sembilan Dekrit (tentang Upaya-Upaya komunikasi sosial, tentang Gereja-GerejaTimur Katolik, tentang Ekumenisme, tentang Tugas Pastoral para Uskup dalam Gereja,tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius, tentang Pembinaan Imam, tentangKerasulan Awam, tentang Kegiatan Misioner Gereja, dan tentang Pelayanan dan Kehidupanpara Imam), dan tiga Pernyataan (tentang Pendidikan Kristen, tentang Hubungan Gerejadengan Agama-agama Bukan Kristen, dan tentang Kebebasan Beragama). Judul-judul itusudah menampakkan, betapa luaslah jangkauan Konsili. Dokumen utama Konsili ialah Konstitusi dogmatis tentang Gereja (“Lumen Gentium”)( 11). Titik tolaknya ialah Eklesiologi resmi yang dominan menjelang Konsili, dan ditandaidengan tekanan pada dimensi-dimensi kelembagaan Gereja ( 12). Konstitusi mulai denganpandangan tentang Gereja sebagai Misteri, sebagai persekutuan beriman, yang dipanggiluntuk ikut menghayati hidup Tritunggal maha kudus. Persekutuan dalam Allah itumemperbuahkan persekutuan antara para anggota Gereja, yang menjadikan mereka umatAllah, Tubuh Kristus dan Kenisah Roh Kudus. Dalam satu Gereja dimensi Ilahi danmanusiawi menciptakan suatu gejala sosial tersendiri, Gereja Kristus yang “berada dalam”Gereja Katolik Romawi, kendati banyak unsur-unsurnya yang baku terdapat juga diluarbatas-batasnya yang kelihatan (13). Selanjutnya “Lumen Gentium” menguraikan, bahwa dalam Gereja sebagai umat Allahterwujudlah Misteri dalam kurun sejarah antara Kenaikan Kristus ke Sorga danKedatangan-Nya pada akhir zaman ( 14). Ditekankan kesejahteraan fundamental martabatpara anggota, yang mendasari pembedaan-pembedaan antara hirarki, kaum awam danpara religius. Orang menjadi warga penuh dalam Gereja, bila ia memiliki Roh Kristus, danberada dalam persekutuan iman, Sakramen – Sakramen, dan tata-laksana serta strukturGerejawi. Gereja itu bersifat “ katolik”, artinya : menjangkau semua bangsa dankebudayaan, dipanggil untuk menghimpunnya dibawah Kristus Tuhan, dan untukmemperkaya Gereja semesta melalui pertukaran timbal balik sumber-sumber budayapelbagai bangsa. Dalam Konstitusi ini dan dalam dokumen-dokumen Konsili kuat-kuatmenekankan teologi Gereja setempat; dengan kata lain : prinsip, bahwa misteri Gerejaselalu diwujudkan dalam jemaat-jemaat setempat, paroki-paroki, keuskupan-keuskupan,wilayah-wilayah geografis dan budaya yang lebih luas. Perspektif itu khususnya nampakdengan jelas dalam Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja (“Ad Gentes”). Perspektif teologis dan rohani dua bab pertama “Lumen Gentium” dijabarkan dalamKonstitusi dogmatis tentang Wahyu Ilahi (“Dei Verbum” ) dan Konstitusi tentang Liturgi(“Sacrosanctum Consilium” ) ( 15). “Dei Verbum” memandang perwahyuan sebagai komunikasidiri Allah melalui sabda dan karya-Nya, yang mencapai kesempurnaannya dalam YesusKristus. Perwahyuan pembawa penebusan itu disalurkan melalui Kitab Suci dan Tradisi.Dalam uraiannya tentang kedua pengantara perwahyuan itu Konsili menekankan peranansentral Kitab suci, dan mendukung sahnya penelitian modern secara kritis ilmiah.Digarisbawahi pula peranan Tradisi, yang dimengerti sebagai proses hidup menerima sertamenafsirkan Kitab suci dalam kenyataan hidup Gereja sehari-hari.11 Lih. T. Jacobs, “Gagasan-gagasan pokok …”, hlm.25-38. Suatu “Skematisasi” dokumen-dokumen Konsili Vatikan II dalam tiga bagian (pemahaman diri Gereja, pendalaman tentang hidup Gereja sendiri, dan pendalaman tentang misi Gereja): lih. Martadiatmaja, “Gagasan-gagasan Dogmatik …”, hlm.10-11.12 “Lumen Gentium”, dan karena itu seluruh Eklesiologi Vatikan II, dikembangkan berpangkal pada pandangan “Mystici Corporis”, seperti dirumuskan dalam skema I tentang Gereja. “Vatikan II memang membuka pandangan baru terhadap Gereja, tetapi tidak menolak yang lama”, bdk. T. Jacobs, “Gagasan-gagasan Pokok …”, hlm.44.13 Lih. LG.8; bdk. UR.3.14 Seperti terungkap dalam Bab I dan II, pandangan baru tentang Gereja berarti, Suatu sentralisasi vertikal pada Kristus dan suatu desentralisasi horisontal pada umat Allah”, Y. Congar, “L’Eglise : De saint Augustin a I’epoque modernr:, Paris : Cerf 1970, hlm.473.15 Tentang bagaimana “Sacrosanctum Concilium” melengkapi “Lumen Gentium”, lihat T. Jacobs, “Gagasan- gagasan Pokok …”, hlm. 28.
  7. 7. Sesudah pengantar teologis tentang peranan Liturgi dan khususnya Ekaristi suciyang bagi Gereja penting sekali, Konstitusi “Sacrosanctum Concilium” menggariskanprinsip-prinsip pembaharuan hidup liturgis Gereja secara mendalam. Upacara-upacarperlu diperbaharui sedemikian rupa, sehingga lebih jelas melambangkan misteripenyelamatan dan memungkinkan partisipasi aktif yang lebih penuh oleh semua wargaGereja. Seusai pembahasan Gereja sebagai Misteri dan Umat Allah, “Lumen Gentium”mengarahkan perhatian kepada penggolongan anggota Gereja. Bab III menguraikanperanan hirarki (16), khususnya episkopat, dengan maksud mengimbangi tekanan KonsiliVatikan I pada wewenang dan “tidak dapat sesatnya” (“infallibilitas”) Paus, denganmenempatkan pelayanan kesatuan dalam konteks lebih luas Dewan para Uskup. Diajarkansifat sakramental episkopat, begitu pula tanggung jawab Uskup atas Gereja setempat danatas kesejahteraan Gereja semesta. Ajaran Konsili Vatikan I tentang Wewenang Mengajar(“Magisterium”) diulangi, tetapi sekaligus ditafsirkan secara lebih penuh dari yang mungkintercapai pada tahun 1870. Dua artikel terakhir menguraikan imamat, dan mencantumkankeputusan untuki memulihkan diakonat sebagai pelayanan tetap. Bahan Bab III itudilengkapi dengan Dekrit-Dekrit tentang Tugas Pastoral para Uskup (“Christus Dominus”),tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam (“Presbyterorum Ordinis”), dan tentangPembinaan Imam (“Optatam Totius”). Bab IV “Lumen Gentium” menguraikan peranan kaum awam ( 17). Disajikan“gambaran tipologis” awam sebagai orang kristen, yang berhak penuh untuk ikutmenghayati hidup dan menunaikan misi Gereja, dengan hidup secara kristen dalam duniasekular. Awam menghadirkan Gereja didunia, dan dipanggil untuk menghadapi masalah-persoalan sehari-hari dengan sabda serta rahmat Kristus. Sekaligus ia menyumbangkanpandangan maupun pengalamannya tentang hidup sekular demi pembangunan Gereja.Prinsip-prinsip yang digariskan dalam Bab ini secara lebih penuh dijabarkan dalam Dekrittentang Kerasulan Awam (“Apostolicam Actuositatem”). Bab VI tentang para religius dalam Gereja menjelaskan makna tiga kaul, yangdiikrarkan oleh para religius untuk menerima tangtangan nasehat-nasehat Injili. Bab inimendorong mereka untuk menunaikan tanggung jawab mereka sendiri demi kehidupandan misi Gereja. Dekrit “Perfectae Caritatis” menyajikan prinsip-prinsip tentangPembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius ( 18), yang sekaligus mencerminkan cita-cita“aggiornamento” untuk seluruh Gereja. 1) kembali kepada Injil sebagai pedoman hidupyang utama; 2) kembali kepada sumber-sumber karisma dan spiritualitas masing-masingtarekat; 3) integrasi dalam Gereja seluruhnya; 4) menanggapi kebutuhan jaman dalamperihidup maupun kerasulan; 5) penghapusan deskriminasi antara para anggota (19). Dalam Bab V dan VII “Lumen Gentium” kembali memandang Gereja semesta, sambilmenekankan panggilan semua orang untuk kesucian dan persekutuan Gereja di duniadengan Gereja yang jaya dalam Kerajaan Allah. Bab terakhir Konstitusi dipersembahkankepada Santa Perawan Maria, dan menjadikan peranannya sebagai anggota maupunlambang Gereja kunci untuk menafsirkan teologi tentang Maria. Eklesiologi “Lumen Gentium” yang lebih mendalam dan lebih kaya besar sekalidampaknya atas hubungan-hubungan ekumenis antara Gereja katolik dengan Gereja-Gereja serta jemaat-jemaat kristen lainnya. Hubungan-hubungan itu oleh Konsili dijajagibaik dalam “Lumen Gentium” maupun dalam Dekrit tentang Ekumenisme (“Unitarisredintegratio”), Dekrit tentang Gereja-Gereja Timur Katolik (“Orientalium Redintegratio”), danDekrit tentang hubungan Gereja dengan Agama-agama bukan kristen (“Nostra Aetate”).Dokumen-dokumen itu mencetuskan kesanggupan Gereja yang antusias untukmenggantikan sikap curiga dan bermusuhan antar Gereja dan antar Agama dengan sikapdialog dan kerjasama (20).16 Lih. T. Jacobs, “Gagasan-gagasan Pokok …”, hlm.31-32.17 Lih. T. Jacobs, “Gagasan-gagasan Pokok …”, hlm.33-35.18 J. A. Komonchak membuat kesalahan dengan menukarkan bab V (tentang panggilan untuk kesempurnaan) dengan bab VI (para religius), cf. hlm.1075.19 Bdk. T. Jacobs, “Gagasan-gagasan Pokok …”, hlm.37.20 Sebelas hari sesudah Konstitusi tentang Gereja resmi diumumkan pada tgl.21 November 1964, Paus Paulus VI untuk pertama kalinya mengunjungi India, sesudah pada awal tahun itu juga beliau mengunjungi Yordania dan Israel.
  8. 8. Konsili juga menyajikan dua dokumen untuk menanggapi situasi Gereja dalamdunia modern. “Gaudim Et Spes”, Konstitusi Pastoral tentang Gereja Dalam Dunia Modern,menyajikan citra Gereja yang berbagi kegembiraan dan harapan, penderitaan dankegelisahan dengan sesama sezaman ( 21).Konstitusi GS mengandaikan semua yang telahditetapkan oleh Konsili tentang Gereja, tetapi juga melengkapinya, sejauh menekankanbahwa anggota Gereja ialah anggota masyarakat (bdk. GS 1). Dan bahwa Gereja wajibbekerja sama dengan masyarakat (bdk. GS 40) (22). Bersama mereka semua Gereja ikutmerasa bertanggung jawab untuk mengisi sejarah dunia. Bagian I dokumen menyajikanrefleksi teologis tentang hubungan Gereja dan Dunia, serta secara istimewa menekankan,bahwa pihak yang satu mempunyai sumbangannyakepada pihak lain. Asas-asas ituditerapkan dalam bagian II pada masalah-masalah aktual tentang perkawinan dankeluarga, kebudayaan, kehidupan ekonomi, sosial dan politik, serta tentang damai danperang (23). Deklarasi tentang Kebebasan Beragama (“Dignitatis Humanae”) mencantumkanpandangan Konsili tentang soal Gereja dan negara. Konsili membela hak pribadimanusiaatas kebebasan b eragama, dan menentang camput tangan pemerintah dalampelaksanaan hak itu. Dalam dokumen itu dan dalam Konstitusi “Gaudium et Spes” Konsilimenganjurkan sikap yang jauh lebih terbuka terhadap dunia modern daripada yangterdapat dalam gereja katolik Roma selama 150 tahun sebelumnya. Konsili ditutup pada tgl. 8 Desember 1965 dengan amanat Paus Paulus VI ( 24), danpembacaan “Pesan- Pesan Konsili”, yang atas nama para Bapa Konsili dibawakan olehbeberapa Kardinal, dan ditujukan kepada pelbagai kelompok: para pemimpin negara, kaumintelektual, para seniman, kaum wanita, kaum miskin, mereka yang sakit dan menderita,kaum buruh dan generasi muda.DAMPAK – PENGARUH KONSILI Sebagai peristiwa Konsili mempunyai pengaruh yang besar sekali. Dalam kenanganGereja Konsili merupakan pengalaman pertama pelaksanaan kolegial Kewibawaan tertinggigerejawi (25). Gereja, yamh samapai saat itu sering membanggakan sifatnya tetap takberubah, menjalani evaluasi diri yang mendalam dan bersikap kritis terhadap dirinya.Banyak sikap-sikap dan strategi-strateginya ditinjau kembali dan ditantang dalam terangInjil dan dalam Konfrontasi dengan kebutuhan-kebutuhan zaman sekarang. Gejala itu berkelanjutan dimasa pasca Konsili. Perubahan-perubahan yang palingmenonjol terjadi dalam Liturgi. Sebab Paus Paulus VI tidak hanya menghendaki supayaseruan Konsili untuk membaharui diri dilaksanakan sepenuhnya, tetapi bahkan supayapembaharuan itu lebih jauh lagi dari apa yang diharapkan Konsili. Dipelbagai bidangkehidupan Gereja disetujuai usaha-usaha pembaharuan : hubungan-hubungan antaraklerus dan awam, antara Uskup dan para imam, antara Roma dan Gereja-Gereja setempat,21 Amanat Para Bapa Konsili pada awal Periode Sidang I, tgl.20 Oktober 1962, memandang sebagai isyu yang mendesak secara khas; disamping perdamaian, masalah keadilan sosial, mengacu kepada Ensiklik Paus Yohanes XXIII “Mater et Magistra”. Juga “Pesan-Pesan Akhir Konsili”, Yang disampaikan oleh Paus Paulus VI dan para Bapa Konsili pada tgl.8 Desmber 1965, menggarisbawahi makin perlunya umat kristen melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat modern. Tentang GS lihat T. Jacobs, “Gagasan-Gagasan Pokok …”, hlm.39- 42.22 Boleh dikatakan juga, bahwa “Lumen Gentium” harus dibaca kearah “Gaudium et Spes”, bdk. T. Jacobs, “Gagasan-Gagasan Pokok …”, hlm.23.23 Amanat para Bapa Konsili pada awal Periode Sidang I, tgl.20 Oktober 1962, mengacu kepada amanat radio Paus Yohanes XXIII , tgl. 11 September 1962, yang menekankan kerinduan umat manusia akan perdamaian.24 Dibacakan “Breve” (amanat tertulis singkat) Paus pada hari itu juga, yang menyatakan Konsili ditutup secara resmi, dan bahwa semua Dekrit harus “dilaksanakan dengan seksama oleh segenap umat beriman”.25 Dengan diselenggarakannya Konsili Vatikan II ternyata prinsip kolegial dan sinodal dalam kepemimpinan Gereja bukan hanya tidak dihapus, melainkan bahkan dilaksanakan. Sementara Paus diakui primatnya (Vatikan I dan II), Paus tidak dapat diidentikkan begitu saja dengan Dewan para Uskup (Vatikan II).
  9. 9. antara umat katolik dan umat beragama lain, dan sebagainya. Usaha-usaha pembahruanyang secara resmi di restui dan didukung sering pula diirngi dengan gerakan-gerakandikalangan umat yang penuh semangat. Diantara gerakan-gerakan itu ada yangmenanggapi serua Konsili dan serasi dengan usaha-usaha pembaruan yang resmi. Adapula yang bersifat lebih radikal dari apa yang digambarkan atau diperintahkan oleh Konsili. Konsili disambut secara berlain-lainan dipelbagai kawasan dunia dan olehbermacam-macam lingkungan buday. Tetapi kiranya tidak berlebihan mengatakan, bahwatiada Gereja di dunia yang sama sekali tidak terkena dampak dari pembaharuan yangdiamanatkan oleh Konsili. Itu sendiri sudah membenarkan tekanan Konsili dalam Gerejasetempat dan pada peran serta dan tanggung jawab semua orang kristen dalam kehidupanGereja. Di beberapa bidang perubahan-perubahan itu begitu pesat dan cukup mendalam,sehingga boleh dipandang sebagai suatu “krisis” dalam Gereja. Dua puluh tahun sesudah Konsili masih berlangsunglah suatu diskusi yang hangatbaik tentang makna Konsili maupun tentang nilai apa yang terjadi sejak saat itu. Padagaris besarnya terdapat tiga tafsiran. Pandangan yang progresif menganggap Konsilimoment yang sudah sangat terlambat bagi Gereja yang terlanjur sudah tidak relevan lagi,yang akhirnya mau menatap tantangan-tantangan zaman modern. Pandangan yangtradisional menyepakati, bahwa Konsili mengakibatkan perubahan-perubahan yang cukupbesar, tetapi apa yang oleh kelompok yang progresif tadi disambut baik, oleh kelompoktradisional dianggap sebagai suatu “kapitulasi” Gereja yang patut disayangkan terhadapprinsip-prinsip dan gerakan-gerakan yang sebelum itu dengan tepat ditentangnya sejakRevolusi Perancis. Kedua pandangan itu sepakat melihat makna Konsili yang cukupberbobot, sungguhpun keduanya sama sekali tidak setuju dalam cara mereka menilaiperkembangan itu. Diantara kedua posisi yang sama-sama ekstrim itu terdapat pandangan “jalantengah” yang masih penuh ketegangan juga. Ada yang menganggap Konsili “melulu”sebagai usaha pembahruan, sebenarnya tanpa memaksudkan banyak perkembangan yangde facto menyusulnya. Atas perkembangan-perkembangan itu yang mereka anggapbertanggungjawab ialah kaum progresif, yang mengabaikan cara Konsili merumuskanamanatnya (“huruf” Konsili) untuk membela apa yang mereka anggap “semangat Konsili”.Menurut kelompok “jalan tengah” yang pertama itu, kekeruhan-kekeruhan pasca Vatikan IIhanya dapat dijernihkan dengan kembali baik kepada “huruf” maupun kepada semangatKonsili yang sejati. Kelompok “jalan tengah” lainnya mempertahankan, bahwa - entah apa yangdimaksudkan oleh para Bapa Konsili sendiri- banyak usaha “pembaharuan” yang dulumereka dukung de facto mempunyai dampak cukup “revolusioner” bagi sikap-sikap,strategi-strategi dan adat kebiasaan umat katolik sehari-hari. Secara khas merekamenunjuk kepada sikap Konsili yang lebih terbuka terhadap dunia modern, kepadaseruannya untuk “mawas diri”, dan kepada dukungannya terhadap perwujudan Gerejasecara konkrit ditingkat lokal. Menurut tafsiran mereka, Konsili sendirilah yangbertanggungjawab atas banyaknya perubahan-perubahan yang cukup besar dalam Gerejasejak Konsili. Dokumen-dokumen Konsili perlu ditekankan makna historis-sosiologisnyadalam konteks dunia katolik modern. Sinode para Uskup di Roma pada tahun 1985, yangbersidang untuk merayakan ulang tahun ke-20 penutupan Vatikan II, membuka forumdiskusi tentang makna Konsili. Perdebatan tidak menampakkan tanda-tanda mereda, Apakah sebenarnya Konsiliitu, betapa relevan dan berjasanya Konsili bagi Gereja, hanya dapat ditentukan dalamrangka penerimaannya oleh Gereja semesta. Agaknya dua dasawarsa masih terlampausingkat untuk mengadakan evaluasi final tentang Konsili Vatikan II. Banyak unsur ajaranKonsili telah dipraktekkan dan diterima penuh syukur dikalangan luas Gereja. Unsur-unsur lain sekarangpun masih perlu dilaksanakan. Tetapi sudah jelaslah, bahwa KonsiliVatikan II merupakan titik balik dalam sejarah dunia modern Gereja katolik, suatu momendalam proses Gereja mewujudkan diri secara nyata, proses yang baru mulai menampilkankesungguhan dan kekuatannya.
  10. 10. CATATAN : 1. Uraian pe ngantar tentang konsili Vatikan II ini sebagian merupakan saduran karangan Joseph A. Komonchak, “Vatikan Council II” dalam The New Dictionary of Theology, diterbitkan oleh Joseph A. Komonchak, Mary Collins, Dermot A. Lane, Dublin: Gill and Mac-milland Ltd, edisi 1, 1987, hlm.1072-1077. Kecuali itu digunakan sebagai nara sumber antara lain : 2. Konstitusi Paus Yohanes XXIII, Humanae Salutis, tgal.25 Desember 1961 untuk mengundang Konsili Vatikan II. 3. Amanat Paus Yohanes XXIII pada pembukaan Konsili, tgl.11 Oktober 1962. 4. Amanat para Bapa Konsili kepada umat manusia pada awal periode Sidang I Konsili, tgl. 20 Oktober 1962 5. Dr. B. S. Mardiatmaja SJ, “Gagasan – Gagasan Dogmatik Seputar Konsili Vatikan Kedua”, Spektrum XIV:1-2 (1986) hlm.1-22 (termasuk Daftar Kepustakaan). 6. Tom Jacobs, “Gagasan-Gagasan Pokok Konsili Vatikan II”. Spektrum XIV:1-2 (1986) hlm. 23-53 (termasuk Daftar Kepustakaan). 7. Tom Jacobs, “Latar Belakang Dekat Konsili Vatikan II, Spektrum XIV:1-2 (1986) hlm. 54-71 (termasuk Daftar Kepustakaan). 8. Dr. C.Groenen OFM, “Gereja Yesus Kristus dari awal (th. ±30) samapai Konsili Vatikan I (1870)”, Spektrum XIV:1-2 (1986) hlm. 72-104 (termasuk Daftar Kepustakaan). 9. Dr. P.Go O.Carm, “Beberapa Aspek Moral Hasil Konsili Vatikan II”, Spektrum XIV:1-2 (1986) hlm. 105-150. 10. Dr. P. Go O.Carm, “Beberapa Aspek Hukum Kanonik Hasil Konsili Vatikan II”, Spektrum XIV:1-2 (1986) hlm. 151-165 11. Adolf heuken SJ, Katekismus Konsili Vatikan II, Jakarta: Cipta Loka Caraka 1987, 224 hlm. Robert Hardawiryana SJ.
  11. 11. DAFTAR ISIKONSILI VATIKAN II : 1662-1965SIDANG III (4 Desember 1965)KONSTITUSI “SACROSANCTUM CONCILIUM”TENTANG LITURGI SUCIPENDAHULUANBAB I : ASAS-ASAS UMUM UNTUK MEMBAHARUI DAN MENGEMBANGKAN LITURGI I. Hakekat dan Makna Liturgi Suci Dalam Kehidupan Gereja5. Karya keselamatan dilaksanakan oleh Kristus6. Karya keselamatan, yang dilestarikan oleh Gereja, terlaksana dalam liturgi7. Kehadiran Kristus dalam Liturgi8. Liturgi di dunia ini dan Liturgi di sorga9. Liturgi bukan satu-satunya kegiatan Gereja10. Liturgi puncak dan sumber kehidupan Gereja11. Perlunya persiapan pribadi12-13 Liturgi dan ulah kesalehanII. Pendidikan Liturgi dan Keikut-sertaan aktif14. Pendahuluan15. Pembinaan para dosen Liturgi16-18 Pendidikan Liturgi kaum Rohaniwan19. Pembinaan Liturgis kaum beriman20. Sarana-sarana audio-visual dan perayaan LiturgiIII. Pembaharuan Liturgi21. PendahuluanA. Kaidah-kaidah umum22. Pengaturan Liturgi23. Tradisi dan perkembangan24. Kitab suci dan Liturgi25. Peninjauan kembali buku-buku LiturgiB. Kaidah-kaidah berdasarkan hakekat Liturgi sebagai tindakan Hirarki dan jemaat26. Liturgi sebagai perayaan Gereja27. Perayaan bersama28-29 Martabat perayaan30-31 Keikut-sertaan aktif umat beriman32. Liturgi dan kelompok-kelompok sosialC. Kaidah-kaidah berdasarkan sifat pembinaan dan pastoral Liturgi33. Pendahuluan34. Keserasian upacara-upacara35. Kitab suci, pewartaan dan katekese dalam Liturgi36. Bahasa LiturgiD. Kaidah-kaidah untuk menyesuaikan Liturgi dengan tabiat perangai dan tradisi bangsa-bangsa37. Gereja memelihara kekayaan bangsa-bangsa38. Penyesuaian dan tuntutan masa dan tempat39. Batas-batas penyesuaian40. Penyesuaian Liturgi, terutama di daerah misiIV. Pembinaan kehidupan Liturgi dalam keuskupan dan paroki41. Kehidupan Liturgi dalam keuskupan
  12. 12. 42. Kehidupan Liturgi dalam parokiV. Pengembangan pastoral Liturgi43. Pembaharuan Liturgi, rahmat Roh Kudus44. Komisi Liturgi nasional45. Komisi Liturgi keuskupan46. Komisi-komisi musik dan kesenian LiturgiBAB II : MISTERI EKARISTI SUCI47. Ekaristi suci dan misteri Paska48-49 Keikut-sertaan aktif kaum beriman50. Peninjauan kembali Tata Perayaan Ekaristi51. Supaya Ekaristi diperkaya dengan sabda Kitab suci52. Homili53. Doa umat54. Bahasa Latin dan bahasa pribumi dalam perayaan Ekaristi55. Komuni suci, puncak keikut-sertaan dalam Misa suci, Komuni dua rupa56. Kesatuan Misa57-58 KonselebrasiBAB III : SAKRAMEN-SAKRAMEN LAINNYA DAN SAKRAMENTALI59. Hakekat sakramen60. Sakramentali61. Nilai pastoral Liturgi, hubungannya dengan misteri Paska62. Perlunya meninjau kembali upacara Sakramen-Sakramen63. Bahasa; rituale Romawi dan rituale khusus64. Katekumenat65. Inkulturasi inisiasi66. Peninjauan kembali upacara babtis67. Peninjauan kembali upacara pembabtisan kanak-kanak68. Upacara pembabtisan yang singkat69. Upacara pelengkap70. Pemberkatan air babtis71. Peninjauan kembali Sakramen Krisma72. Peninjauan kembali upacara tobat73. Peninjauan kembali upacara Pengurapan Orang Sakit74. Upacara berkesinambungan untuk orang sakit75. Upacara pengurapan Orang Sakit76. Peninjauan kembali Sakramen Tahbisan77. Peninjauan kembali Sakramen Perkawinan78. Perayaan perkawinan79. Peninjauan kembali sakramentali80. Pengikraran kaul religius81. Peninjauan kembali upacara pemakaman82. Upacara penguburan anak-anakBAB IV : IBADAT HARIAN83-85 Ibadat harian, karya Kristus dan Gereja86-87 Nilai pastoral Ibadat Harian88-89 Peninjauan kembali pembagian waktu Ibadat menurut tradisi90. Ibadat harian, sumber kesalehan91. Pembagian mazmur-mazmur92. Penyusunan bacaan-bacaan93. Peninjauan kembali madah-madah94. Saat mendoakan Ibadat Harian95-97 Kewajiban mendoakan Ibadat harian
  13. 13. 98. Pujian kepada Allah dalam tarekat-tarekat religius99. Ibadat Harian bersama100. Keikut-sertaan umat beriman101. BahasaBAB V : TAHUN LITURGI102-105 Makna tahun Liturgi106. Makna hari Minggu ditekankan lagi107-108 Peninajauan kembali tahun Liturgi109-110 Masa Prapaska111. Pesta para kudusBAB VI : MUSIK LITURGI112. Matabat musik Liturgi113. Liturgi meriah114. Umat beriman diharapkan berperan serta115. Pendidikan musik116. Nyanyian Gregorian dan Polifoni117. Penerbitan buku-buku nyanyian Gregorian118. Nyanyian rohani umat119. Musik Liturgi di daerah-daerah Misi120. Orgel dan alat-alat musik lainnya121. Panggilan para pengarang musikBAB VII : KESENIAN RELIGIUS DAN PERLENGKAPAN IBADAT122. Martabat kesenian religius123. Corak-corak artistik124. Karya-karya seni yang menyinggung cita rasa keagamaan125. Gambar-gambar dan patung-patung126. Panitia keuskupan untuk Kesenian Liturgi127. Pembinaan para seniman128. Peninjauan kembali peraturan tentang kesenian ibadat129. Pembinaan kesenian bagi kaum rohaniwan130. Penggunaan lambang-lambang jabatan UskupLAMPIRAN : Pernyataan Konsili Ekumenis Vatikan II tentang Peninjauan Kembali Penanggalan LiturgiDEKRIT “INTER MIRIFICA”TENTANG UPAYA-UPAYA KOMUNIKASI SOSIALPENDAHULUAN1. Makna suatu ungkapan2. Mengapa Konsili membahas masalah komunikasi sosialBAB I: AJARAN GEREJA3. Tugas-kewajiban Gereja4. Hukum moral5. Hak dan informasi6. Kesenian dan moral7. Pemberitaan kejahatan moral8. Pendapat umum9. Kewajiban-kewajiban para pemakai media komunikasi sosial
  14. 14. 10. Kewajiban-kewajiban kaum muda dan para orang tua11. Kewajiban-kewajiban para penyelenggara12. Kewajiban-kewajiban pemerintahBAB II: KEGIATAN PASTORAL GEREJA13. Kegiatan para gembala dan umat beriman14. Prakarsa-prakarsa umat katolik15. Pembinaan para produsen16. Pembinaan para pemakai jasa17. Upaya-upaya teknis dan ekonomis18. Sekali setahun : hari komunikasi nasional19. Sekretariat pada Takhta suci20. Wewenang para Uskup21. Biro Nasional22. Organisasi-organisasi internasionalPENUTUP23. Instruksi pastoral24. Anjuran akhirS I D A N G V (21 November 1964)KONSTITUSI DOGMATIS “LUMEN GENTIUM” TENTANG GEREJABAB I: MISTERI GEREJA1. Pendahuluan2. Rencana Bapa yang bermaksud menyelamatkan semua orang3. Perutusan Putera3. Roh Kudus yang menguduskan Gereja4. Kerajaan Allah5. Aneka gambaran Gereja6. Gereja, Tubuh mistik Kristus7. Gereja yang kelihatan dan sekaligus rohaniBAB II: UMAT ALLAH9. Perjanjian Baru dan Umat Baru10. Imamat umum11. Pelaksanaan imamat umum dalam Sakramen-Sakramen12. Perasaan iman dan karisma-karisma umat kristiani13. Sifat umum dan katolik Umat Allah yang Satu14. Umat beriman katolik15. Hubungan Gereja dengan orang kristen bukan katolik16. Umat bukan kristen17. Sifat misioner GerejaBAB III: SUSUNAN HIRARKIS GEREJA, KHUSUSNYA EPISKOPAT18. Pendahuluan19. Dewan para Rasul didirikan oleh Kristus20. Para Uskup pengganti para Rasul21. Sakramentalitas episkopat22. Dewan para Uskup dan Ketuanya23. Uskup setempat dan Gereja universal24. Tugas para Uskup pada umumnya25. Tugas mengajar
  15. 15. 26. Tugas menguduskan27. Tugas menggembalakan28. Para imam biasa29. Para diakonBAB IV: PARA AWAM30. Prakata31. Apa yang dimaksud dengan istilah “awam”32. Martabat kaum awam sebagai anggota umat Allah33. Hidup kaum awam berhubungan dengan keselamatan dan kerasulan34. Keikut-sertaan kaum awam dalam imamat umum dan ibadat35. Keikut-sertaan kaum awam dalam tugas kenabian Kristus36. Keikut-sertaan kaum awam dalam pengabdian rajawi Kristus37. Hubungan kaum awam dengan Hirarki38. PenutupBAB V : PANGGILAN UMUM UNTUK KESUCIAN DALAM GEREJA39. Prakata40. Panggilan umum untuk kesucian41. Bentuk pelaksanaan kesucian42. Jalan dan upaya kesucianBAB VI : PARA RELIGIUS43. Pengikraran nasehat-nasehat Injil dalam Gereja44. Makna dan arti hidup religius45. Hubungan para religius dengan Hirarki46. Penghargaan terhadap hidup religius47. PenutupBAB VII : SIFAT ESKATOLOGIS GEREJA MUSAFIR DAN PERSATUANNYA DENGAN GEREJA DI SORGA48. Pendahuluan49. Persekutuan antara Gereja di sorga dan Gereja di dunia50. Hubungan antara Gereja didunia dan Gereja di sorga51. Beberapa pedoman pastoralBAB VIII : SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH DALAM MISTERI KRISTUS DAN GEREJAI. Pendahuluan52. Santa Perawan dalam misteri Kristus53. Santa Perawan dan Gereja54. Maksud KonsiliII. Peran Santa Perawan dalam tata keselamatan55. Bunda Almasih dalam Perjanjian Lama56. Maria menerima warta gembira57. Santa Perawan dan kanak-kanak Yesus58. Santa Perawan dan hidup Yesus dimuka umum59. Santa Perawan sesudah Yesus naik ke sorgaIII. Santa Perawan dan Gereja60-62 Maria hamba Tuhan63-64 Maria pola Gereja65. Keutamaan-keutamaan Maria, pola bagi Gereja
  16. 16. IV. Kebaktian kepada Santa Perawan dalam Gereja66. Makna dan dasar bakti kepada Santa Perawan67. Semangat mewartakan sabda dan kebaktian kepada Santa PerawanV. Maria, tanda harapan yang pasti dan penghiburan bagi umat Allah68-69 ……………………………………………………………………………………..PENGUMUMAN OLEH SEKRETARIS JENDRAL KONSILI1. Kadar teologis Konstitusi “De Ecclesia”2. Arti kolegialitasCATATAN PENJELASAN PENDAHULUANDEKRIT “ORIENTALIUM ECCLESIARUM”TENTANG GEREJA-GEREJA KATOLIK1. Pendahuluan Gereja-gereja khusus atau ritus-ritus2. Kemacam-ragaman dalam persekutuan Gereja katolik3. Kesamaan martabat, hak-hak dan kewajiban-kewajiban4. Kelestarian Ritus-Ritus dalam suatu persekutuan Melestarikan pusaka rohani Gereja-Gereja Timur5. Hak serta kewajiban Gereja-Gereja untuk melestarikan tata-laksana masing-masing6. Melestarikan upacara-upacara Liturgis Ritus Timur Para Patriark Timur7. Siapa Patriark Timur itu?8. Semua Patriark sederajat martabatnya9. Wewenang Patriark dan sinode10. Uskup Agung Utama11. Didirikan patriarkat-patriarkat baru sejauh perlu Tata-laksana Sakramen-Sakramen12. Konsili mengukuhkan tata-laksana Sakramen-Sakramen13. Pelayanan Sakramen Krisma14. Penerimaan Sakramen Krisma15. Ekaristi suci16. Pelayanan Sakramen Tobat17. Diakonat dan tahbian-tahbisan tingkat rendah18. Pernikahan campur Liturgi19. Hari-hari raya20. Hari raya Paska21. Penyesuaian diri dengan Ritus setempat
  17. 17. 22. Pujian Ilahi (ibadat harian)23. Penggunaan bahasa daerah Pergaulan dengan para anggota Gereja-Gereja yang terpisah24. Memelihara persekutuan menurut Dekrit tentang Ekumenisme25. Syarat untuk kesatuan; kewenangan menjalankan kuasa Tahbisan26-28 “Communicatio in sacris”29. Bimbingan para Hirark setempat30. PenutupDEKRIT “UNITATIS REDINTEGRATIO”TENTANG EKUMENISMEPENDAHULUANBAB I : PRINSIP-PRINSIP KATOLIK UNTUK EKUMENISME.2. Gereja yang satu dan tunggal3. Hubungan antara saudara-saudari yang terpisah dan Gereja katolik4. EkumenismeBAB II : PELAKSANAAN EKUMENISME5. Ekumenisme : tanggung jawab segenap umat beriman6. Pembaharuan Gereja7. Pertobatan hati8. Doa bersama9. Saling mengenal sebagai saudara10. Pembinaan ekumenis11. Cara mengungkapkan dan menguraikan ajaran iman12. Kerja sama dengan saudara-saudari yang terpisahBAB II : GEREJA-GEREJA DAN JEMAAT GEREJAWI YANG TERPISAHKAN DARI TAKHTA APOSTOLIK DI ROMA13. PendahuluanI. Tinjauan khusus tentang Gereja-Gereja Timur14. Semangat dan sejarah Gereja-Gereja Timur15. Tradisi Liturgi dan hidup rohani dalam Gereja-Gereja Timur16. Ciri khas Gereja-Gereja Timur berkenaan dengan soal-soal ajaran17. PenutupII. Gereja-Gereja dan jemaat-jemaat gerejawi yang terpisah di dunia Barat19. Situasi khusus Gereja-Gereja dan jemaat-jemaat20. Iman akan Kristus21. Pendalaman Kitab suci22. Hidup sakramental23. Kehidupan dalam Kristus24. Penutup
  18. 18. S I D A N G VII ( 28 Oktober 1965)DEKRIT “CHRISTUS DOMINUS”TENTANG TUGAS PASTORAL PARA USKUP DALAM GEREJAPENDAHULUANBAB I : PARA USKUP DAN GEREJA SEMESTAI. Peranan para Uskup terhadap Gereja semesta4. Pelaksanaan kekuasaan oleh Dewan para Uskup5. Majelis atau sinode para Uskup6. Para Uskup ikut serta memperhatikan semua Gereja-Gereja7. Cinta kasih yang nyata terhadap para Uskup yang dianiayaII. Para Uskup dan Takhta suci8. Kuasa para Uskup dalam keuskupan mereka sendiri9. Konggregasi-konggregasi dalam Kuria Romawi10. Para anggota dan para pejabat konggregasi-konggregasiBAB II : PARA USKUP DAN GEREJA-GEREJA KHUSUS ATAU KEUSKUPAN- KEUSKUPANI. Para Uskup diosesan11. Faham “diosis” atau keuskupan, dan peranan para Uskup dalam keuskupan mereka12. Tugas mengajar13. Cara menyajikan ajaran Kristen14. Pendidikan kateketis15. Tugas para Uskup untuk menguduskan16. Tugas penggembalaan Uskup17. Bentuk-bentuk khusus kerasulan18. Keprihatinan khusus terhadap kelompok-kelompok umat tertentu19. Kebebasan para Uskup, hubungan mereka dengan Pemerintah20. Kebebasan dalam pengangkatan para Uskup21. Pengunduran diri Uskup dari jabatannyaII. Penentuan batas-batas keuskupan22. Perlunya meninjau kemabali batas-batas keuskupan23. Peraturan-peraturan yang harus dipatuhi24. Diperlukan pendapat Konferensi UskupIII. Para rekan sekerja Uskup diosesan dalam reksa pastoral1. Para Uskup Koajutor dan Auksilier25. Peraturan-peraturan untuk mengangkat Uskup koajutor dan Auksilier26. Wewenang Uskup Auksilier dan Koajutor2. Kuria dan Panitia-Panitia Keuskupan27. Organisasi Kuria Keuskupan dan pembentukan Panitia Pastoral3. Klerus Diosesan28. Para imam disesan29. Para imam yang menjalankan karya antar paroki30. Para pastor paroki
  19. 19. 31. Penunjukan, pemindahan, pemberhentian dan pengunduran diri pastor paroki32. Pembubaran dan pengubahan paroki4. Para Religius33. Para religius dan karya-karya kerasulan34. Para religius rekan sekerja Uskup dalam karya kerasulan35. Asas-asas kerasulan para religius dalam keuskupanBAB III : KERJASAMA PARA USKUP DEMI KESEJAHTERAAN UMUM BERBAGAI GEREJAI. Sinode, Konsili, dan Khususnya Konferensi Uskup36. Sinode dan Konsili khusus37. Pentingnya Konferensi Uskup38. Hakekat, wewenang dan kerjasama Konferensi-KonferensiII. Penentuan batas-batas Provinsi-Provinsi gerejawi dan penetapan kawasan-kawasan gerejawi39. Prinsip untuki meninjau kembali batas-batas yang telah ditetapkan40. Beberapa pedoman yang harus yang harus dipatuhi41. Perlu dimintakan pandangan Konferensi-Konferensi UskupIII. Para Uskup yang menjalankan tugas antar keuskupan42. Pembentukan biro-biro khusus dan kerjasama dengan para Uskup43. Vikariat Angkatan Bersenjata44. KETETAPAN UMUMDEKRIT “PERFECTAE CARITATIS”TENTANG PEMBAHARUAN DAN PENYESUAIAN HIDUP RELIGIUS1. Pendahuluan2. Asas-asas umum untuk mengadakan pembaharuan yang sesuai3. Norma-norma praktis pembaharuan yang disesuaikan4. Mereka yang harus melaksanakan pembaharuan5. Unsur-unsur yang umum pada pelbagai bentuk hidup religius6. Hidup rohani harus diutamakan7. Tarekat-tarekat yang seutuhnya terarah kepada kontemplasi8. Tarekat-tarekat yang bertujuan kerasulan9. Kelestarian hidup monastik konventual10. Hidup religius kaum awam11. Serikat-serikat sekular12. Kemurnian13. Kemiskinan14. Ketaatan15. Hidup bersama16. Pingitan / klausura para rubiah17. Busana religius18. Pembinaan para anggota19. Pendirian tarekat-tarekat baru20. Bagaimana melestarikan, menyesuaiakan atau meninggalkan karya khusus tarekat
  20. 20. 21. Tarekat-tarekat dan biara-biara yang mengalami kemerosotan22. Perserikatan antara tarekat-tarekat religius23. Konferensi para Pemimpin tinggi24. Panggilan religius25. PenutupDEKRIT “OPTATAM TOTIUS”TENTANG PEMBINAAN IMANPENDAHULUAN1. I. Penyusunan metode pembinaan imam disetiap negaraII. Pengembangan panggilan imam secara lebih intensifIII. Tata-laksana Seminari-seminari tinggi4. Seluruh pembinaan harus berhubungan erat dengan tujuan pastoral5. Para pembimbing seminari hendaknya dipilih dengan saksama dan dibina secara efektif6. Penyaringan dan pengujian para seminaris7. Seminari hendaknya diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan para seminarisIV. Pembinaan rohani yang lebih intensif8. Belajar hidup dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal9. Belajar membaktikan diri dalam Gereja10. Belajar menghayati selibat imam11. Menuju kedewasaan kepribadian12. Waktu untuk pembinaan rohani yang lebih intensif; masa pembinaan pastoralV. Peninjauan kembali studi gerejawi13. Studi persiapan untuk studi gerejawi14. Studi gerejawi hendaknya lebih diserasikan15. Peninjauan kembali studi filsafat16. Peningkatan studi teologi17. Metode pendidikan yang cocok dalam pelbagai vak18. Studi khusus bagi mereka yang berbakat tinggiVI. Pembinaan pastoral19. Pembinaan dalam pelbagai bentuk reksa pastoral20. Pembinaan untuk pengembangan kerasulan21. Melatih diri melalui praktek pastoral22. VII. Pembinaan seusai studiPENUTUP
  21. 21. PERNYATAAN “GRAVISSIMUM EDUCATIONIS”TENTANG PENDIDIKAN KRISTENPendahuluan1. Hak semua orang atas pendidikan2. Pendidikan kristen3. Mereka yang bertanggung jawab atas pendidikan4. Aneka upaya untuk melayani pendidikan kristen5. Pentingnya sekolah6. Kewajiban dan hak-hak orang tua7. Pendidikan moral dan keagamaan disekolah8. Sekolah-sekolah katolik9. Berbagai macam sekolah katolik10. Fakultas dan universitas katolik11. Fakultas teologi12. Koordinasi di bidang persekolahanPenutupPERNYATAAN “NOSTRA AETATE”TENTANG HUBUNGAN GEREJA DENGAN AGAMA-AGAMA BUKAN KRISTEN1. Pendahuluan2. Berbagai agama bukan kristen3. Agama Islam4. Agama Yahudi5. Persaudaraan semesta tanpa diskriminasiS I D A N G VIII (18 November 1965)KONSTITUSI DOGMATIS “DEI VERBUM”TENTANG WAHYU ILAHIPENDAHULUANBAB I : TENTANG WAHYU SENDIRI2. Hakekat wahyu3. Persiapan wahyu Injili4. Kristus kepenuhan wahyu5. Menerima wahyu dalam iman6. Kebenaran-kebenaran yang diwahyukanBAB II : MENERUSKAN WAHYU ILAHI7. Para Rasul dan pengganti mereka sebagai pewarta Injil8. Tradisi suci9. Hubungan antara Tradisi dan Kitab suci10. Hubungan keduanya dengan seluruh Gereja dan Magisterium
  22. 22. BAB III : ILHAM ILAHI KITAB SUCI DAN PENAFSIRAN11. Fakta ilham dan kebenaran Kitab suci12. Bagaimana Kitab suci harus ditafsirkan13. Turunnya AllahBAB IV : PERJANJIAN LAMA14. Sejarah keselamatan dalam kitab-kitab Perjanjian Lama15. Arti Perjanjian Lama untuk umat kristen16. Kesatuan antara kedua perjanjianBAB V : PERJANJIAN BARU17. Keluhuran Perjanjian Baru18. Asal-usul Injil dari para Rasul19. Sifat historis Injil20. Kitab-kitab Perjanjian Baru lainnyaBAB VI : KITAB SUCI DALAM KEHIDUPAN GEREJA21. Gereja menghormati kitab-kitab suci22. Dianjurkan terjemahan-terjemahan yang tepat23. Tugas kerasulan para ahli katolik24. Pentingnya Kitab suci bagi teologi25. Dianjurkan pembacaan Kitab suci26. Akhir kataDEKRIT “APOSTOLICAM ACTUOSITATEM”TENTANG KERASULAN AWAMPENDAHULUANBAB I : PANGGILAN KAUM AWAM UNTUK MERASUL2. Keikut-sertaan awam dalam perutusan Gereja3. Asas-asas kerasulan awam4. Spiritualitas awam dalam tata kerasulanBAB II : TUJUAN-TUJUAN YANG HARUS DICAPAI5. Pendahuluan6. Kerasulan dimaksudkan untuk mewartakan Injil dan menyucikan umat manusia7. Pembaharuan tata dunia secara kristen8. Amal kasih, meterai kerasulan kristenBAB III : PELBAGAI BIDANG KERASULAN9. Pendahuluan10. Jemaat-jemaat gerejawi11. Keluarga12. Kaum muda13. Lingkungan sosial14. Bidang-bidang nasional dan internasionalBAB IV : BERBAGAI CARA MERASUL
  23. 23. 15. Pendahuluan16. Pentingnya aneka bentuk kerasulan perorangan17. Kerasulan awam dalam situasi-situasi tertentu18. Pentingnya kerasulan yang terpadu19. Aneka bentuk kerasulan terpadu20. “Aksi Katolik”21. Pengharapan terhadap organisasi-organisasi22. Kaum awam yang secara istimewa berbakti kepada gerejaBAB V : TATA-TERTIB YANG HARUS DIINDAHKAN23. Pendahuluan24. Hubungan-hubungan dengan hirarki25. Bantuan para imam bagi kerasulan awam26. Upaya-upaya yang berguna bagi kerja sama27. Kerja sama dengan umat kristen dan umat beragama lainBAB VI : PEMBINAAN UNTUK MERASUL28. Perlunya pembinaan untuk merasul29. Dasar-dasar pembinaan awam untuk kerasulan30. Mereka yang wajib membi na sesama untuk kerasulan31. Upaya-upaya yang digunakanAJAKANSIDANG IX (7 Desember 1965)PERNYATAAN “DIGNITATIS HUMANAE”TENTANG KEBEBASAN BERAGAMAPENDAHULUANI: AJARAN UMUM TENTANG KEBEBASAN BERAGAMA2. Objek dan dasar kebebasan beragama3. Kebebasan beragama dan hubungan manusia dengan Allah4. Kebebasan jemaat-jemaat keagamaan5. Kebebasan beragama dan keluarga6. Tanggung jawab atas kebebasan beragama7. Batas-batas kebebasan beragama8. Pembinaan penggunaan kebebasanII : KEBEBASAN BERAGAMA DALAM TERANG WAHYU9. Ajaran tentang kebebasan beragama berakar dalam Wahyu10. Kebebasan dan Faal iman11. Cara bertindak Kristus dan para Rasul12. Gereja menempuh jalan Kristus dan para rasul13. Kebebasan Gereja14. Peranan Gereja15. Penutup
  24. 24. DEKRIT “AD GENTES”TENTANG KEGIATAN MISIONER GERAJAPENDAHULUANBAB I: ASAS-ASAS AJARAN2. Rencana Bapa3. Perutusan Putera4. Perutusan Roh Kudus5. Gereja diutus oleh Kristus6. Kegiatan misioner7. Alasan dan perlunya kegiatan misioner8. Kegiatan misioner dalam hidup dan sejarah umat manusia9. Sifat eskatologis kegiatan misionerBAB II : KARYA MISIONER SENDIRI10. PendahuluanArt I. Kesaksian kristen11. Kesaksian hidup dan dialog12. Kehadiran cinta kasihArt II. Pewartaan Injil dan penghimpunan umat Allah13. Pewartaan Injil dan pertobatan14. Katekumenat dan inisiasi kristenArt III. Pembinaan jemaat kristen15. Pembinaan jemaat kristen16. Pengadaan klerus setempat17. Pendidikan para katekis18. Pengembangan hidup religiusBAB III : GEREJA-GEREJA KHUSUS19. Kemajuan Gereja-Gereja muda20. Kegiatan misioner Gereja-Gereja khusus21. Pengembangan kerasulan awam Kemacam-ragaman dalam kesatuanBAB IV : PARA MISIONARIS23. Panggilan misioner24. Spiritualitas misioner25. Pembinaan rohani dan moral26. Pembinaan dalam ajaran dan kerasulan27. Lembaga-lembaga yang berkarya di daerah-daerah misiBAB V : PENGATURAN KARYA MISIONER28. Pendahuluan29. Organisasi umum30. Organisasi setempat di daerah Misi31. Koordinasi pada tingkat Regio32. Organisasi kegiatan Lembaga-Lembaga33. Koordinasi antara Lembaga-Lembaga34. Koordinasi antara Lembaga-Lembaga ilmiah
  25. 25. BAB VI : KERJA SAMA35. Pendahuluan36. Kewajiban misioner segenap umat Allah37. Kewajiban misioner jemaat-jemaat kristen38. Kewajiban misioner para imam39. Kewajiban misioner tarekat-tarekat religius40. Kewajiban misioner kaum awamPENUTUPDEKRIT “PRESBYTERORUM ORDINIS”TENTANG PELAYANAN DAN KEHIDUPAN PARA IMAMPENDAHULUANBAB I : IMAMAT DALAM PERUTUSAN GEREJA2. Hakekat imam3. Situasi para imam di duniaBAB II : PELAYANAN PARA IMAM I. Fungsi para imam4. Para imam, pelayan sabda Allah5. Para imam, pelayan Sakramen-Sakramen dan Ekaristi6. Para imam, pemimpin umat Allah II. Hubungan para imam dengan sesama7. Hubungan para Uskup dengan para imam8. Persatuan persaudaraan dan kerja sama antara para imam9. Hubungan para imam dengan kaum awam III. Penyebaran para imam dan panggilan-panggilan imam10. Penyebaran para imam11. Usaha para imam untuk mendapat panggilan-panggilan imamBAB III : KEHIDUPAN PARA IMAM I. Panggilan para imam untuk kesempurnaan12. Panggilan para imam untuk kesucian13. Pelaksanaan ketiga fungsi imamat menuntut dan sekaligus mendukung kesucian14. Keutuhan dan keselarasan kehidupan para imam II. Tuntutan-tuntutan rohani yang khas dalam kehidupan imam15. Kerendahan hati dan ketaatan16. Selibat : diterima dan dihargai sebagai kurnia17. Sikap terhadap dunia dan harta duniawi. Kemiskinan sukarela III. Upaya-upaya yang mendukung kehidupan para imam18. Upaya-upaya untuk mengembangkan hidup rohani19. Studi dan ilmu pastoral21. Balas jasa yang wajar bagi para imam22. Pembentukan kas umu, dan pengadaan jaminan sosial bagi para imamKATA PENUTUP DAN AJAKAN
  26. 26. KONSTITUSI PASTORAL “GAUDIUM ET SPES”TENTANG GEREJA DALAM DUNIA MODERNPENDAHULUAN1. Hubungan erat antara Gereja dan segenap keluarga bangsa-bangsa2. Kepada siapa amanat Konsili ditujukan?3. Pengabdian kepada manusiaPENJELASAN PENDAHULUAN : KENYATAAN MANUSIA DI DUNIA MASA KINI4. Harapan dan kegelisahan5. Perubahan situasi yang mendalam6. Perubahan-perubahan dalam tata masyarakat7. Perubahan-perubahan psikologis, moral dan keagamaan8. Berbagai ketidak-seimbangan dalam dunia sekarang9. Aspirasi-aspirasi umat manusia yang makin universal10. Pertanyaan-pertanyaan mendalam umat manusiaBAGIAN I : GEREJA DAN PANGGILAN MANUSIA11. Menanggapi dorongan Roh KudusBAB I : MARTABAT PRIBADI MANUSIA12. Manusia diciptakan menurut gambar Allah13. Dosa manusia14. Kodrat manusia15. Martabat akalbudi, kebenaran dan kebijaksanaan16. Martabat hati nurani17. Keluhuran kebebasan18. Rahasia maut19. Bentuk-bentuk dan akar-akar ateisme20. Ateisme sistematis21. Sikap Gereja menghadapi ateisme22. Kristus Manusia BaruBAB II : MASYARAKAT MANUSIA23. Maksud Konsili24. Sifat kebersamaan panggilan manusia dalam rencana Allah25. Pribadi manusia dan masyarakat manusia saling tergantung26. Memajukan kesejahteraan umum27. Sikap hormat terhadap pribadi28. Sikap hormat dan cinta kasih terhadap lawan29. Kesamaan hakiki antara semua orang dan keadilan sosial30. Etika individualis harus diatasi31. Tanggung jawab dan keikut-sertaan32. Sabda yang menjelma dan solidaritas manusiaBAB III : KEGIATAN MANUSIA DISELURUH DUNIA33. Masalah-persoalannya34. Nilai kegiatan manusiawi35. Norma kegiatan manusia36. Otonomi hal-hal duniawi yang sewajarnya37. Kegiatan manusia dirusak karena dosa38. Dalam misteri Paska kegiatan manusia mencapai kesempurnaannya39. Bumi baru dan langit baru
  27. 27. BAB IV: PERANAN GEREJA DALAM DUNIA JAMAN SEKARANG40. Hubungan timbal balik antara Gereja dan dunia41. Bantuan yang oleh Gereja mau diberikan kepada setiap orang42. Bantuan yang diusahakan oleh Gereja untuk diberikan kepada masyarakat manusia43. Bantuan yang diusahakan oleh Gereja melalui umat Kristen bagi kegiatan manusiawi44. Bantuan yang diperoleh Gereja dari dunia jaman sekarang45. Kristus, Alfa dan OmegaBAGIAN II : BEBERAPA MASALAH YANG AMAT MENDESAKPENDAHULUANBAB I : MARTABAT PERKAWINAN DALAM KELUARGA47. Perkawinan dan keluarga dalam dunia jaman sekarang48. Kesucian perkawinan dalam keluarga49. Cinta kasih suami-istri50. Kesuburan perkawinan51. Penyelarasan cinta kasih suami-istri dengan sikap hormat terhadap hidup manusiawi52. Pengembangan perkawinan dan keluarga merupakan tugas semua orangBAB II: PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN PendahuluanArt I Situasi kebudayaan pada jaman sekarang54. Pola-pola hidup yang baru55. Manusia pencipta kebudayaan56. Kesukaran-kesukaran dan tugas-tugasArt II Berbagai kaidah untuk dengan tepat mengembangkan kebudayaan57. Iman dan kebudayaan58. Hubungan antara Warta Gembira tentang Kristus dan kebudayaan manusia59. Mewujudkan keserasian berbagai nilai dalam pola-pola kebudayaanArt III Beberapa tugas umat kristen yang cukup mendesak tentang kebudayaan60. Hak atas buah-hasil kebudayaan hendaknya diakui oleh semua dan diwujudkan secara nyata61. Pendidikan untuk kebudayaan manusia seutuhnya62. Menyelaraskan kebudayaan manusia dan masyarakat dengan pendidikan kristenBAB III: KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI63. Beberapa segi kehidupan ekonomiArt I Perkembangan ekonomi64. Perkembangan ekonomi melayani manusia65. Kemajuan ekonomi dikendalikan oleh manusia66. Perbedaan-perbedaan besar dibidang sosial ekonomi perlu disingkirkanArt II Beberapa prinsip yang mengatur seluruh kehidupan sosial ekonomi67. Kerja, Persyaratan kerja, istirahat68. Peran-serta dalam tanggung jawab atas perusahaan dan seluruh pengaturan perekonomian; konflik-konflik mengenai kerja69. Harta-benda bumi diperuntukkan bagi semua orang70. Penanaman modal dan masalah moneter
  28. 28. 71. Soal memperoleh harta-milik dan milik perorangan; masalah tuan tanah72. Kegiatan sosial ekonomi dan Kerajaan KristusBAB IV: HIDUP BERNEGARA73. Kehidupan umum jaman sekarang74. Hakekat dan tujuan negara75. Kerja sama semua orang dalam kehidupan umum76. Negara dan gerejaBAB V: USAHA DEMI PERDAIAN DAN PEMBENTUKAN PERSEKUTUAN BANGSA-BANGSA Pendahuluan78. Hakekat perdamaianArt I Menghindari perang79. Keganasan perang harus dikendalikan80. Perang total81. Perlombaan senjata82. Larangan mutlak terhadap perang, dan kegiatan internasional untuk mencegah perangArt II Pembangunan masyarakat internasional83. Sebab-musabab perpecahan dan cara mengatasinya84. Persekutuan bangsa-bangsa dan lemba ga-lembaga internasional85. Kerja sama internasional dibidang ekonomi86. Beberapa pedoman yang sesuai untuk jaman sekarang87. Kerja sama internasional sehubungan dengan pertambahan penduduk88. Peranan umat kristen dalam pemberian bantuan89. Kehadiran Gereja yang efektif dalam masyarakat internasional90. Peranan orang-orang kristen dalam lembaga-lembaga internasionalPENUTUP91. Tugas setiap orang beriman dan Gereja-Gereja khusus92. Dialog antara semua orang93. Membangun dunia dan mengarahkannya kepada tujuannyaINDEKS ANALITISLAMPIRAN 1. BEBERAPA PERISTIWA PENTING SELAMA KONSILI VATIKAN II 2. KONSILI-KONSILI EKUMENIS
  29. 29. PAULUS USKUP HAMBA PARA HAMBA ALLAH BERSAMA-BAPA-BAPA KONSILI SUCI DEMI KENANGAN ABADI KONSTITUSI TENTANG LITURGI SUCI PENDAHULUAN 1. KONSILI SUCI bermaksud makin meningkatkan kehidupan kristiani diantara Umat beriman; menyesuaikan lebih baik lagi lembaga-lembaga yang dapat berubah dengan kebutuhan zaman kita; memajukan apa saja yang dapat membantu persatuan semua orang yang beriman akan Kristus; dan meneguhkan apa saja yang bermanfaat untuk mengundang semua orang dalam pangkuan Gereja. Oleh karena itu Konsili memandang sebagai kewajibannya untuk secara istimewa mengusahakan juga pembaharuan dan pengembangan Liturgi. 2. Sebab melalui Liturgilah dalam Korban Ilahi Ekaristi, “terlaksanalah karya penebusan kita”(1). Liturgi merupakan upaya yang sangat memba ntu kaum beriman untuk dengan penghayatan mengungkapkan Misteri Kristus serta hakekat asli Gereja yang sejati, serta memperlihatkan itu kepada orang-orang lain, yakni bahwa Gereja bersifat sekaligus manusiawi dan Ilahi, kelihatan namun penuh kenyataan yang tak kelihatan, penuh semangat dalam kegiatan namun meluangkan waktu juga untuk kontemplasi, hadir di dunia namun sebagai musafir. Dan semua itu berpadu sedemikian rupa, sehingga dalam Gerja apa yang insani diarahkan dan diabdikan kepada yang ilahi, apa yang kelihatan kepada yang tidak nampak, apa yang termasuk kegiatan kepada kontemplasi, dan apa yang ada sekarang kepada kota yang akan datang, yang sedang kita cari(2). Maka dari itu Liturgi setiap hari membangun mereka yang berada didalam Gereja menjadi kenisah suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh(3), sampai mereka mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus(4). Maka Liturgi sekaligus secara mengagumkan menguatkan tenaga mereka untuk mewartakan Kristus, dan dengan demikian menunjukan Gereja kepada mereka yang diluarnya sebagai tanda yang menjulang diantara bangsa-bangsa(5). Dibawah tanda itu puter-putera Allah yang tercerai berai dihimpun menjadi satu( 6), sampai terwujudlah satu kawanan dan satu gembala(7). 3. Oleh karena itu pengembangan dan pembaharuan Liturgi Konsili suci berpendapat: perlu meningkatkan lagi azas-azas berikut dan menetapkan kaedah- kaedah praktis. Diantara azas-azas dan kaedah-kaedah itu ada beberapa yang dapat dan harus diterapkan pada ritus romawi maupun pada semua ritus lainnya. Namun kaedah-kaedah praktis berikut harus dipandang hanya berlaku bagi ritus romawi, kecuali bila menyangkut hal-hal yang menurut hakekatnya juga mengenai ritus-ritus ini.1 Doa persembahan pada hari Minggu IX sesudah Pentekosta.2 Lih. Ibr 13:14.3 Lih. Ef 2:21-22.4 Lih. Ef 4:13.5 Lih. Yes 11:126 Lih. Yoh 11:52.7 Lih. Yoh 10:16
  30. 30. 4. Akhirnya, setia mengikuti tradisi, Konsili suci menyatakan pandangan Bunda Gereja yang kudus, bahwa semua ritus yang diakui secara sah mempunyai hak dan martabat yang sama. Gereja menhendaki agar ritus-ritus itu dimasa mendatang dilestarikan dan dikembangkan dengan segala daya upaya.Konsili menghimbau agar bilamana perlu ritus-ritus itu ditinjau kembali dengan seksama dan secara menyeluruh, sesuai dengan jiwa tradisi yang sehat, lagi pula diberi gairah baru, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan zaman sekarang. BAB SATU AZAS-AZAS UMUM UNTUK MEMBAHARUI DAN MENGEMBANGKAN LITURGI I. HAKEKAT DAN MAKNA LITURGI SUCI DALAM KEHIDUPAN 5. (Karya keselamatan dilaksanakan oleh Kristus) Allah menghendaki supaya semua manusia selamat dan mengenal kebenaran (1 Tim 2:4). Setelah Ia pada zaman dahulu berulang kali dan dengan pelbagai cara bersabda kepada nenek-moyang kita dengan perantaraan para nabi (Ibr 1:1), ketika genaplah waktunya, Ia mengutus PuteraNya, sabda yang menjadi daging dan diurapi Roh Kudus, untuk mewartakan Kabar Gembira kepada kaum miskin, untuk menyembuhkan mereka y ang remuk redam hatinya(8), “sebagai tabib jasmani dan rohani” ( 9 ), Pengantara Allah dan manusia(10 ). Sebab dalam kesatuan pribadi sabda kodrat kemanusiaan-Nya menjadi upaya keselamatan kita. Oleh karena itu dalam Kristus “pendamaian kita mencapai puncak kesempurnaannya, dan kita dapat melaksanakan ibadat Ilahi secara penuh”(11). Adapun karya penebusan umat manusia dan permuliaan Allah yang sempurna itu telah diawali dengan karya agung Allah ditengah umat Perjanjian Lama. Karya itu diselesaikan oleh Kristus Tuhan, terutama dengan misteri Paska: sengsara-Nya yang suci, kebangkitan-Nya dari alam maut, dan kenaikan-Nya dalam kemuliaan. Dengan misteri itu Kristus “menghancurkan maut kita dengan wafat-Nya, dan membangun kembali hidup kita dengan kebangkitan-Nya”(12). Sebab dari lambung Kristus yang beradu di salib muncullah Sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan(13). 6. (Karya keselamatan yang dilestarikan oleh Gereja, terlaksana dalam Liturgi) Oleh karena itu, seperti Kristus diutus oleh Bapa, begitu pula Ia mengutus para rasul yang dipenuhi Roh Kudus. Mereka itu diutus bukan hanya untuk mewartakan Injil kepada makhluk( 14), dan memberitakan bahwa Putera Allah dengan wafat dan kebangkitan-Nya telah membebaskan kita dari kuasa setan(15) dan maut, dan telah memindahkan kita ke Kerajaan Bapa; melainkan juga untuk mewujudkan karya keselamatan yang mereka wartakan itu melalui kurban dan8 Lih. Yes 61:1; Luk 4:189 S. IGNASIUS Martir, Surat kepada Jemaat di Efesus, 7,2:FUNK I, 218.10 Lih. 1 Tim 2:5.11 Tata-upacara sakramen dari Verona (Sacramentarium Veronense/Leonianum): MOHLBERG, Roma 1956, n. 1265, hlm.162.12 Prefasi pada hari Raya Paska dalam Misal Romawi.13 Lih. Doa sesudah bacaan kedua pada malam Paska menurut Misal Romawi, sebelum pembaharuan Pekan Suci.14 Lih. Mrk 16:15.15 Lih. Kis 26:18.
  31. 31. Sakramen-sakramen, sebagai pusat seluruh hidup Liturgis. Demikianlah melalui babtis orang-orang dimasukkan kedalam misteri Paska Kristus : mereka mati, dikuburkan dan dibangkitkan bersama Dia(16); mereka menerima Roh pengangkatan menjadi putra, dan dalam Roh itu kita berseru : Abba, Bapa (Rom 8:15); demikianlah mereka menjadi penyembah sejati, yang dicari oleh Bapa(17). Begitu pula setiap kali mereka makan perjamuan Tuhan, mereka mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang( 18). Oleh karena itu pada hari Pentekosta, ketika Gereja tampil didepan dunia, mereka yang menerima amanat Petrus “dibabtis”. Dan mereka “bertekun dalam ajaran para Rasul serta selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa … sambil memuji Allah, dan mereka disukai seluruh rakyat” (Kis 2:41-47). Sejak itu Gereja tidak pernah lalai mengadakan pertemuan untuk merayakan misteri Paska; disitu mereka membaca “apa yang tercantum tentang Dia dalam seluruh Kitab suci (Luk 24:27); mereka merayakan Ekaristi, yang menghadirkan kejayaan-Nya atas maut”(19), dan sekaligus mengucap syukur kepada “Allah atas karunia-Nya yang tidak terkatakan” (2Kor 9:15) dalam Kristus Yesus, “untuk memuji keagungan-Nya” (Ef 1:12) dengan kekuatan Roh Kudus. 7. (Kehadiran Kristus dalam Liturgi) Untuk melaksanakan karya sebesar itu, Kristus selalu mendampingi Gereja-Nya terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Ia hadir dalam Korban Misa, baik dalam pribadi pelayan, “karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan Diri di kayu salib( 20), maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi. Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam Sakramen-sakramen sedemikian rupa, sehingga bila ada orang yang membabtis, Kristus sendirilah yang membabtis(21). Ia hadir dalam sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab suci dibacakan dalam Gereja. Akhirnya Ia hadir, sementara Gereja memohon dan bermazmur karena Ia sendiri berjanji : bi la dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitulah Aku berada diantara mereka (Mat 18:28). Memang sungguh, dalam karya seagung itu, saat Allah dimuliakan secara sempurna dan manusia dikuduskan, Kristus selalu menggabungkan Gereja, mempelai-Nya yang amat terkasih, dengan diri-Nya Gereja yang berseru kepada Tuhannya dan melalui Dia berbakti kepada Bapa yang kekal. Maka memang sewajarnya juga Liturgi dipandang bagaikan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus; disitu pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda- tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing; disitu pula dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh mistik Yesus Kristus, yakni Kepala beserta para anggota-Nya. Oleh karena itu setiap perayaan liturgis sebagai karya Kristus sang Imam serat Tubuh-Nya yakni Gereja, merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. Tidak ada tindakan Gereja lainnya yang menandingi daya dampaknya dengan dasar yang sama serta dalam tingkatan yang sama. 8. (Liturgi di dunia ini dan Liturgi di Sorga) Dalam Liturgi di dunia ini kita ikut mencicipi Liturgi sorgawi, yang di rayakan dikota suci Yerusalem, tujuan peziarahan kita. Disana Kristus duduk disisi kanan Allah, sebagai pelayan tempat tersuci dan kemah yang sejati(22). Bersama dengan16 Lih. Rom 6:4; Ef 2:6; Kol 3:1; 2Tim 2:11.17 Lih. Yoh 4:23.18 Lih. 1Kor 11:26.19 KONSILI TRENTE, Sidang 13, 11 Oktober 1551, Dekrit tentang Ekaristi Suci, bab 5: CONCILIUM TRIDENTINUM, Diariorum, Actorum, Epistolarum, Tractatuum nova collectio, terb. Soc. Gorresiana, jilid VIII, Actorum, bagian IV Freiburg im Breisgau, 1961,hlm.202.20 KONSILI TRENTE, Sidang XXII, 17 September 1562: Ajaran tentang korban Misa suci, Bab 2: CONCILIUM TRIDENTINUM, terbitan yang telah dikutib, jilid VIII, Actorum, bagian V, Freiburg im Breisgau 1919, hlm. 960.21 Lih. S. AGUSTINUS, Tentang Injil Yohanes, Tractat VI, I, 7: PL 35,1428.22 Lih. Why 21:2; Kol 3:1; Ibr 8:2.
  32. 32. segenap bala tentara sorgawi kita melambungkan kidung kemuliaan kepada Tuhan. Sementara menghormati dan mengenangkan para Kudus kita berharap akan ikut serta dalam persekutuan dengan mereka. Kita mendambakan Tuhan kita Yesus Kristus penyelamat kita, sampai Ia sendiri, hidup kita, akan nampak, dan kita akan nampak bersama dengan-Nya dalam kemuliaan(23). 9. (Liturgi bukan satu-satunya kegiatan Gereja) Liturgi suci tidak mencakup seluruh kegiatan Gereja. Sebab sebelum manusia dapat mengikuti Liturgi, ia perlu dipanggil untuk beriman dan bertobat: “bagaimana ia akan berseru kepada Dia yang tidak mereka imani? Atau bagaimana mereka akan mengimani-Nya bila mereka tidak mendengar tentang Dia? Dan bagaimana mereka akan mendengar bila tidak ada pewarta? Lalu bagaimana mereka akan mewartakan kalau tidak diutus?” (Rom 10:14-15). Oleh karena itu Gereja mewartakan berita keselamatan kepada kaum tak beriman, supaya semua orang mengenal satu-satunya Allah yang sejati dan Yesus Kristus yang diutus-Nya lalu bertobat dari jalan hidup mereka seraya menjalankan ulah tapa(24). Tetapi kepada Umat berimanpun Gereja selalu wajib mewartakan iman dan pertobatan; selain itu harus menyiapkan mereka untuk menerima sakramen-sakramen, mengajar mereka mengamalkan segala sesuatu yang telah dipe rintahkan oleh Kristus(25), dan mendorong mereka untuk menjalankan semua amal cinta kasih, kesalehan dan kerasulan. Berkat karya-karya itu akan menjadi jelas bahwa kaum beriman kristiani memang bukan dari dunia ini, melainkan menjadi terang dunia dan memuliakan Bapa dihadapan orang-orang. 10. (Liturgi puncak dan sumber kehidupan Gereja) Akan tetapi Liturgi itu puncak yang dituju kegiatan Gereja, dan serta merta sumber segala daya-kekuatannya. Sebab usah-usaha kerasulan mempunyai tujuan ini: supaya semua orang melalui iman dan babtis menjadi putear-putera Allah, berhimpun menjadi satu, meluhurkan Allah ditengah Gereja, ikut serta dalam Korban dan menyantap perjamuan Tuhan. Dilain pihak Liturgi sendiri mendorong Umat beriman, supaya sesudah dipuaskan “dengan Sakramen-sakramen Paska menjadi sehati-sejiwa dalam kasih”(26). Liturgi berdoa supaya “mereka mengamalkan dalam hidup sehari-hari apa yang mereka peroleh dalam iman”(27). Adapun pembaharuan perjanjian Tuhan dengan manusia dalam Ekaristi menarik dan mengobarkan Umat beriman dalam cinta kasih Kristus yang membara. Jadi dari Liturgi, terutama dari Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan permuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya. 11. (Perlunya persiapan pribadi) Akan tetapi supaya hasil guna itu diperoleh sepenuhnya, Umat beriman perlu datang menghadiri Liturgi suci dengan sikap-sikap batin yang serasi. Hendaklah mereka menyesuaikan hati dengan apa yang mereka ucapkan, serta bekerja sama dengan rahmat sorgawi, supaya mereka jangan sia-sia saja menerimanya(28). Maka dari itu hendaklah para gembala rohani memperhatikan dengan seksama, supaya dalam kegiatan Liturgi jangan hanya dipatuhi hukum-hukumnya untuk merayakannya secara sah dan halal, melainkan supaya Umat beriman ikut merayakannya dengan sadar, aktif dan penuh makna.23 Lih. Flp 3:20; Kol 3:4.24 Lih. Yoh 17:3; Luk 24:27; Kis 2:38.25 Lih. Mat 28:20.26 Doa Penutup pada malam pasaka dan hari Minggu Paska.27 Doa Pembukaan pada hari Selasa dalam Pekan Paska.28 Lih. 2Kor 6:1.
  33. 33. 12. (Liturgi dan ulah kesalehan) Akan tetapi hidup rohani tidak tercakup seluruhnya dengan hanya ikut serta dalam Liturgi. Sebab semua manusia kristiani; yang memang dipanggil untuk berdoa bersama, toh harus memasuki biliknya juga untuk berdoa kepada Bapa ditempat yang tersembunyi(29). Bahkan menurut amanat Rasul (Paulus) ia harus bertanjang dalam doa(30). Dan Rasul itu juga mengajar, supa ya kita selalu membawa kematian Yesus dalam tubuh kita, supaya hidup Yesus pun menjadi nyata dalam daging kita yang fana(31). Maka dari itu dalam korban Misa kita memohon kepada Tuhan, supaya dengan menerima persembahan korban rohani, Ia menyempurnakan kita sendiri menjadi korban abadi bagi diri-Nya(32). 13. Ulah kesalehan Umat kristiani, asal saja sesuai dengan hukum-hukum dan norma-norma Gereja, sangat dianjurkan, terutama bila dijalankan atau penetapan Takhta Apostolik. Begitu pula ulah kesalehan yang khas bagi Gereja-gereja setempat memiliki makna istimewa, bila dilakukan atas penetapan para Uskup, menurut adat- kebiasaan atau buku-buku yang telah disahkan. Akan tetapi, sambil mengindahkan masa-masa Liturgi, ulah kesalehan itu perlu diatur sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan Liturgi suci; sedikit banyak harus bersumber pada Liturgi, dan menghantar Umat kepadaNya; sebab menurut hakekatnya hal besar Liturgi memang jauh unggul dari semua ulah kesalehan itu. II. PENDIDIKAN LITURGI DAN KEIKUT-SERTAAN AKTIF 14. Bunda Gereja sangat menginginkan, supaya semua orang beriman dibimbing kearah keikut-sertaan yang sepenuhnya, sadar dan aktif dalam perayaan-perayaan Liturgi. Keikut-sertaan seperti itu dituntut oleh Liturgi sendiri, dan berdasarkan Babtis merupakan hak serta kewajiban umat kristiani sebagai “bangsa terpilih, imamat rajawai, bangsa yang kudus, Umat kepunyaan Allah sendiri” (1Ptr 2:9; Lih. 2:4-5). Dalam pembaharuan dan pengembangan Liturgi suci keikut-sertaan segenap Umat secara penuh dan aktif itu perlu beroleh perhatian yang terbesar. Sebab bagi kaum beriman merupakan sumber utama yang tidak tergantikan, untuk menimba semangat kristiani yang sejati. Maka dari itu dalam seluruh kegiatan pastoral mereka para gemabala jiwa harus mengusahakannya dengan rajin melalui pendidikan yang seperlunya. Akan tetapi supaya itu tercapai tiada harapan lain kecuali bahwa lebih dahulu para gembala jiwa sendiri secara mendalam diresapi semangat dan daya Liturgi, serta menjadi mahir untuk memberi pendidikan Liturgi. Oleh karena itu sangat perlulah bahwa pertama-tama pendidikan Liturgi klerus dimantapkan. Maka Konsili suci memutuskan ketetapan-ketetapan berikut. 15. (Pembinaan para dosen Liturgi) Para dosen, yang ditugaskan untuk mengajarkan mata kuliah Liturgi di seminari- seminari, rumah-rumah pendidikan para religius dan fakultas-fakultas teologi, perlu dididik dengan sungguh-sungguh dilembaga-lembaga yang secara istimewa diperuntukkan bagi tujuan itu, untuk menunaikan tugas mereka.29 Lih. Mat 6:6.30 Lih. 1Tes 5:17.31 Lih. 2Kor 4:10-11.32 Doa Persembahan pada hari Senin dalam Pekan Pentekosta.
  34. 34. 16. (Pendidikan Liturgi kaum rohaniwan)Di seminari-seminari dan dirumah-rumah pendidikan para religius mata kuliahLiturgi harus dipandang sebagai mata kuliah wajib dan penting, sedangkan difakultas-fakultas teologi sebagai salah satu mata kuliah utama. Mata kuliah Liturgihendaknya diajarkan dari segi teologi dan sejarah maupun dari segi hidup rohani,pastoral dan hukum. Selain itu hendaklah para dosen mata kuliah lain-lainnya,terutama teologi dogmatis, Kitab suci, teologi hidup rohani dan pastoral, - denganbertolak dari persyaratan instrinsik masing-masing pokok bahasan, - menguraikanmisteri Kristus dan sejarah keselamatan sedemikian rupa, sehingga jelas-jelasnampak hubungannya dengan Liturgi dan keterpaduan pembinaan iman.17. Hendaklah para rohaniwan di seminari-seminari maupun di rumah-rumahreligius, mendapat pembinaan liturgis demi hidup rohani mereka, baik melaluibimbingan yang memadai untuk memahami upacara-upacara suci sendiri, punjuga melalui ulah kesalehan lainnya yang diresapi oleh semangat Liturgi. Begitupula hendaklah mereka belajar mematuhi hukum-hukum Liturgi, sehinggakehidupan diseminari-seminari dan tarekat-tarekat religius dirasuki semangatLiturgi secara mendalam.18. Hendaklah para imam baik diosesan maupun religius, yang sudah berkaryadi kebun anggur Tuhan, dibantu dengan segala upaya yang memadai, supayamereka semakin mendalam memahami apa yang mereka laksanakan dalampelayanan-pelayanan suci, menghayati hidup liturgis, dan menyalurkannyakepada Umat beriman yang dipercayakan kepada mereka.19. (Pembinaan kaum Liturgis beriman)Hendaklah para gembala jiwa dengan tekun dan sabar mengusahakan pembinaanLiturgi kaum beriman serta secara aktif, baik lahir maupun batin, sesuai denganumur, situasi, corak hidup dan taraf perkembangan religius mereka. Dengandemikian mereka menunaikan salah satu tugas utama pembagi misteri-misteriAllah yang setia. Dalam hal ini hendaklah mereka membimbing kawanan merekabukan saja dengan kata-kata, melainkan juga dengan teladan.20. (Sarana-sarana audio-visual dan perayaan Liturgi)Siaran-siaran upacara suci melaui radio dan televisi, terutama bila meliputperayaan Ekaristi, hendaklah berlangsung dengan bijak dan penuh hormat,dibawah bimbingan dan tanggung jawab seorang ahli, yang ditunjuk oleh paraUskup untuk tugas itu. III. PEMBAHARUAN LITURGI21. Supaya lebih terjaminlah bahwa Umat kristiani memperoleh rahmatberlimpah dalam Liturgi suci, Bunda Gereja yang penuh kasih inginmengusahakan dengan seksama pembaharuan umum Liturgi sendiri. Sebab dalamLiturgi terdapat unsur yang tidak dapat diubah karena ditetapkan oleh Allah,maupun unsur-unsur yang dapat berubah, yang disepanjang masa dapat ataubahkan mengalami perubahan, sekiranya mungkin tel;ah disusupi hal-hal yangkurang serasi dengan inti kakekat Liturgi sendiri, atau sudah menjadi kurangcocok.Adapun dalam pembaharuan itu naskah-naskah dan upacara-upacara harusdiatur sedemikian rupa, sehingga lebih jelas mengungkapkan hal-hal kudus yangdilambangkan. Dengan demikian Umat kristiani sedapat mungkin menangkapnyadengan mudah, dan dapat ikut serta dalam perayaan secara penuh, aktif dandengan cara yang khas bagi jemaat.Maka Konsili suci menetapkan norma-norma berikut yang lebih bersifat umum.
  35. 35. A. Kaidah-kaidah umum 22. (Pengaturan Liturgi) (1) Wewenang untuk mengatur Liturgi semata-mata ada pada pi mpinan Gereja, yakni Takhta Apostolik, dan menurut kaidah hukum pada uskup. (2) Berdasarkan kuasa yang diberikan hukum, wewenang untuk mengatur perkara-perkara Liturgi dalam batas-batas tertentu juga ada pada pelbagai macam Konferensi Uskup sedaerah yang didirikan secara sah. (3) Maka dari itu tidak seorang lainnya pun, meskipun imam, boleh menambahkan, meniadakan atau mengubah sesuatu dalam Liturgi atas prakarsa sendiri. 23. (Tradisi dan perkembangan) Supaya tradisi yang sehat dipertahankan, namun dibuka jalan juga bagi perkembangan yang wajar, hendaknya selalu diadakan lebih dulu penyeklidikan teologis, historis, dan pastoral, yang cermat tentang setiap bagian Liturgi yang perlu ditinjau kembali. Kecuali itu hendaklah dipertimbangkan baik patokan- patokan umum tentang susunan dan makna Liturgi, maupun pengalaman yang diperoleh dari pembaharuan Liturgi belakangan ini serta dari izin-izin yang diberikan di sana-sini. Akhirnya janganlah kiranya diadakan hal-hal baru, kecuali bila sungguh-sungguh dan pasti dituntut oleh kepentingan Gereja; dan dalam hal ini hendaknya diusahakan dengan cermat, agar bentuk-bentuk baru itu bertumbuh secara kurang lebih organis dari bentuk-bentuk yang sudah ada. Sedapat mungkin hendaknya dicegah juga, jangan sampai ada perbedaan- perbedaan yang menyolok dalam upacar-upacara di daerah-daerah yang berdekatan. 24. (Kitab suci dan Liturgi) Dalam perayaan Liturgi Kitab suci sangat penting. Sebab dari Kitab sucilah dikutib bacaan-bacaan, yang dibacakan dan dijelaskan dalam homili, serta mazmur- mazmur yang dinyanyikan. Dan karena ilham serta jiwa Kitab sucilah dilambungkan permohonan, doa-doa dan madah-madah Liturgi; dari padanya pula upacara serta lambang-lambang memperoleh maknanya. Maka untuk membaharui, mengembangkan dan menyesuaikan Liturgi suci perlu dipupuk cinta yang hangat dan hidup terhadap Kitab suci, seperti ditunjukkan oleh tradisi luhur ritus Timur maupun ritus Barat. 25. (Peninjauan kembali buku-buku Liturgi) Hendaknya buku-buku Liturgi selekas mungkin ditinjau kembali, dengan meminta bantuan para ahli dan berkonsultasi dengan para Uskup di pelbagai kawasan dunia. B. Kaidah-kaidah berdasarkan hakekat Liturgi sebagai tindakan Hirarki dan jemaat26. Upacara-upacara Liturgi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan Gereja sebagai sakramen kesatuan, yakni Umat kudus yang berhimpun dan diatur dibawah para Uskup( 33).33 S. SIPRIANUS, Tentang Kesatuan Gereja Katolik, 7: CSEL (HARTEL) III, 1, hlm.215-216. Lih. Surat 66, n. 8,3: CSEL III, 2, hlm. 732-733
  36. 36. Maka upacara-upacara itu menyangkut seluruh Tubuh Gereja danmenampakkan serta mempengaruhinya; sedangkan masing-masing anggotadisentuhnya secara berlain-lainan, menurut keanekaan tingkatan, tugas sertakeikut-sertaan aktual mereka.27. (Perayaan bersama)Setiap kali suatu upacara, menurut hakekatnya yang khas, diselenggarakansebagai perayaan bersama, dengan dihadiri banyak Umat yang ikut-serta secaraaktif, hendaknya ditandaskan, agar bentuk itu sedapat mungkin diutamakanterhadap upacara perorangan yang seolah-olah bersifat pribadi. Terutama itu berlaku bagi perayaan Misa, tanpa mengurangi kenyataan, bahwasetiap Misa pada hakekatnya sudah bersifat resmi dan umum, begitu pula bagipelayanan Sakramen-sakramen.28. (Martabat perayaan)Pada perayaan-perayaan Liturgi setiap anggota, entah pelayan (pemimpin) entahUmat, hendaknya dalam menunaikan tugas hanya menjalankan, dan melakukanseutuhnya, apa yang menjadi perannya menurut hakekat perayaan serta kaidah-kaidah Liturgi.29. Juga para pelayan Misa (putera altar), para lektor, para komentator dan paraanggota paduan suara benar-benar menjalankan pelayanan liturgis. Makahendaknya mereka menunaikan tugas dengan saleh, tulus dan saksama,sebagaimana layak untuk pelayanan seluhur itu, dan sudah semestinya dituntutdari mereka oleh Umat Allah. Maka perlulah mereka secara mendalam diresapi semangat Liturgi, masing-masing sekadar kemampuannya, dan dibina untuk membawakan peran merekadengan tepa t dan rapih.30. (Keikut-sertaan aktif Umat beriman)Untuk meningkatkan keikut-sertaan aktif, hendaknya aklamasi oleh Umat,jawaban-jawaban, pendarasan mazmur, antifon-antifon dan lagu-lagu, pun pulagerak-gerik, peragaan serta sikap badan dikembangkan. Pada saat yang tepathendaklah diadakan juga saat hening yang kidmat.31. Dalam meninjau kembali buku-buku Liturgi hendaklah diperhatikan dengansaksama, supaya rubrik-rubrik juga mengatur peran Umat beriman.32. (Liturgi dan kelompok-kelompok sosial)Kecuali perbedaan berdasarkan tugas Liturgi dan Tahbisan suci, dan selainpenghormatan yang menurut kaidah-kaidah Liturgi harus diberikan kepada parapemuka-pemuka masayarakat, janganlah diberikan kedudukan istimewa kepadapribadi-pribadi atau kelompok-kelompok tertentu, baik dalam upacara maupundengan penampilan lahiriah.
  37. 37. C. Kaidah-kaidah berdasarkan sifat pembinaan dan pastoral Liturgi 33. Meskipun Liturgi suci terutama merupakan ibadat kepada Keagungan Ilahi, namun mencakup banyak pengajaran juga bagi Umat beriman(34). Sebab dalam Liturgi Allah bersabda kepada Umat-Nya; Kristus masih mewartakan Injil. Sedangkan Umat menanggapi Allah dengan nyanyian-nyanyian dan doa. Bahkan bila imam, yang selaku wakil Kristus memimpin jemaat, memanjatkan doa-doa kepada Allah, doa-doa itu diucapkan atas nama segenap Umat suci dan semua orang yang hadir. Adapun lambang-lambang lahir, yang digunakan dalam Liturgi suci untuk menandakan hal-hal ilahi yang tidak nampak, dipilih oleh Kristus atau Gereja. Oleh karena itu bukan hanya bila dibacakan “apa yang telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita” (Rom 15:4), melainkan juga sementara Gereja berdoa atau bernyanyi atau melakukan sesuatu, dipupuklah iman para peserta, dan hati mereka diangkat kepada Allah, untuk mempersembahkan penghormatan yang wajar kepada-Nya, dan menerima rahmat-Nya secara lebih melimpah. Maka dari iru dalam mengadakan pembaharuan kaidah-kaidah umum berikut harus dipatuhi. 34. (Keserasian upacara-upacara) Hendaklah upacara-upacara bersifat sederhana namun luhur, singkat, jelas, tanpa pengulangan-pengulangan yang tiada gunanya. Hendaknya disesuaikan dengan daya tangkap Umat beriman, dan pada umumnya jangan sampai memerlukan banyak penjelasan. 35. (Kitab suci, pewartaan dan katekese dalam Liturgi) Supaya nampak dengan jelas bahwa dalam Liturgi upacara dan sabda berhubungan erat, maka : (1) Dalam peryaan-perayaan suci hendaknya dimasukkan bacaan Kitab suci yang lebih banyak, lebih bervariasi dan lebih sesuai. (2) Dalam rubrik-rubrik hendaknya dicatat juga, sejauh tata upacara mengizinkan, saat yang lebih tepat untuk kotbah, sebagai bagian perayaan Liturgi. Dan pelayanan pewartaan hendaknya dilaksanakan dengan amat tekun dan saksama. Bahannya terutama hendaklah bersumber pada Kitab suci dan Liturgi, sebab kotbah merupakan pe wartaan keajaiban-keajaiban Allah dalam sejarah keselamatan atau misteri Kristus, yang selalu hadir dan berkarya ditengah kita, teristimewa dalam perayaan-perayaan Liturgi. (3) Dengan segala cara hendaknya diusahakan pula katekese yang secara lebih langsung be rsifat liturgis; dan dalam upacar-upacara sendiri bila perlu, hendaklah disampaikan ajakan-ajakan singkat oleh imam atau pelayan (petugas) yang berwenang. Tetapi ajakan-ajakan itu hendaknya hanya disampaikan pada saat-saat yang cocok, menurut teks yang sudah ditentukan atau dengan kata-kata yang senada. (4) Hendaknya dikembangkan peryaan Sabda Allah pada malam menjelang hari- hari raya agung, pada beberapa hari biasa dalam masa Adven dan Prapaska, begitu pula pada hari-hari minggu dan hari-hari raya, terutama ditempat- tempat yang tiada imamnya. Dalam hal itu perayaan hendaknya dipimpin oleh diakon atau orang lain yang diberi wewenang oleh Uskup. 36. (Bahasa Liturgi) (1) Penggunaan bahasa latin hendaknya dipertahankan dalam ritus-ritus lain, meskipun ketentuan-ketentuan hukum khusus tetap berlaku.34 Lih. KONSILI TRENTE, Sidang 22, 17 September 1562, Ajaran tentang Korban Misa, bab 8: CONCILIUM TRIDENTINUM, terbitan yang telah dikutib, VIII, 961.

×