Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Masyarakat tugutil

510 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Masyarakat tugutil

  1. 1. MASYARAKAT TOBELO DALAM (MTD), KOMUNITAS ENCLAVE KAWASAN TN AKETAJAWE LOLOBATA Nurpana Sulaksono1 “ Taman Nasional Aketajawe Lolobata merupakan salah satu taman nasional di Indonesia yang masih didiami oleh suku terasing. Masyarakat Maluku Utara menyebut suku terasing tersebut dengan nama suku Tobelo Dalam atau dikenal dengan sebutan suku Togutil. Namun orang suku ini tidak senang bila disebut dengan suku Togutil, mereka lebih senang disebut dengan Masyarakat Tobelo Dalam (MTD). Hal itu menjadikan Taman Nasional Aketajawe Lolobata menjadi terasa istimewa dan memerlukan perhatian lebih”. Catatan ataupun tulisan mengenai masyarakat Togutil atau Masyarakat TobeloDalam (MTD) di Pulau Halmahera ternyata sudah banyak yang menulisnya khususnya parailmuan sosial budaya luar negeri. Sayangnya tulisan-tulisan tersebut tidak banyak beradadi Maluku Utara sehingga kita tidak mengetahui secara jelas analisis sosial budayamasyarakat suku Togutil dari sudut pandang mereka sebagai orang Barat dan sebagaiilmuan Eropa, yang jelas berbeda dari ilmuan Timur. Namun tidak ada salahnya bila kitauntuk kembali melihat lagi bagaimana kehidupan masyarakat suku Togutil setelahbanyaknya mereka berkenalan dengan pengaruh dari luar mereka. Apakah ada perubahansecara sosial budaya? Atau ternyata masih ada kebiasaan budaya mereka yang masihdipertahankan dan mengapa? Dalam tulisan ini kita akan menyebut mereka dengansebutan Masyarakat Tobelo Dalam sebab mereka tidak senang bila disebut suku Togutil. Perjalanan untuk kembali melihat kehidupan Masyarakat Tobelo Dalam (MTD)secara detail tanpa mengabaikan hal-hal yang biasa mereka lakukan baru saya sadari saatini setelah 5 tahun bekerja di Taman Nasional. Banyaknya cerita dan pandangan negatifatau positif masyarakat terhadap MTD mendorong saya untuk mengenal lebih dekat MTD.Dengan mengenal lebih dekat maka akan mudah untuk menjelaskan kebiasaan dan1 Staf pada Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Maluku Utara 1
  2. 2. budaya yang ada pada komunitas MTD dengan tidak menjadikan ukuran kebudayaanpribadi sebagai dasar penilaian.Siapa itu Masyarakat Tobelo Dalam? Masyarakat Tobelo Dalam (MTD) merupakan salah satu masyarakat yangmendiami Pulau Halmahera. Keberadaannya menyebar di seluruh Pulau Halmahera mulaidari Kabupaten Halmahera Tengah, Kota Tidore Kepulauan, Halmahera Barat danHalmahera Timur. Beberapa kelompok Masyarakat Tobelo Dalam diketahuikeberadaannya ada di daerah enclave Taman Nasional Aketajawe Lolobata sehingga tidakjarang kami bertemu mereka didalam hutan dan membawa mereka sebagai porter(pembawa barang) ketika masuk hutan. Salah satu MTD yang bermukim di daerah enclave Taman Nasional AketajaweLolobata adalah MTD Tayawi. MTD ini ada dalam wilayah Dusun Tayawi, Desa Koli,Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan. Kelompok ini dikenal dengan sebutan MTDTayawi, mengapa? Karena kelompok MTD ini tinggal di bantaran sungai Tayawi yang adadi desa Koli. MTD di wilayah Tayawi berjumlah 12 (duabelas) keluarga dengan jumlah totalanggota keluarga sebanyak 57 orang. Jumlah ini meningkat sebanyak 7 orang dari tahun2010 dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Mulyati dkk, 2010. Sedangkan kepalakeluarga hanya meningkat sebanyak 1 keluarga. Jumlah tersebut terdiri dari 28 orang lakilaki dan 29 orang perempuan sebagaimana tabel dibawah ini. Sebaran Masyarakat Tobelo Dalam di Blok Tayawi Berdasarkan Jenis Kelamin JENIS KELAMIN JUMLAH Laki Laki 28 Perempuan 29 Jumlah 57 Sumber : Survey Lapangan, 2012 Nama Keluarga dan Jumlah Anak MTD Wilayah Tayawi 2
  3. 3. No Nama Keluarga Jumlah Keterangan Anak 1. Antonius Jumati 2 2. Manase 6 3. Misak 3 4. Melianus - 5. Dokobus 1 6. Lepa 3 7. Hehewete 4 8 Bohe 2 9 Elly 9 2 Istri 10 Tyson 4 11 Dedy 1 12 Take - Jumlah 35 Sumber : Survey Lapangan, 2012 Asal usul keberadaan Masyarakat Tobelo Dalam Tayawi sampai saat ini masihbelum diketahuI secara pasti. Menurut mereka, mereka bukan penduduk asli dari sungaiTayawi. Pertanyaannya adalah bagaimana mereka bisa sampai di Sungai Tayawi danberasal dari manakah MTD Tayawi ini. Menurut mereka keberadaan mereka hingga disungai Tayawi diawali dengan perilaku mereka yang berpindah-pindah (nomaden) dalamrangka mencari hewan buruan sebagai mata pencaharian mereka. Perjalanan di dalamhutan dengan menyusuri sungai hingga sampailah di sungai Tayawi. Menurut merekawilayah di sekitar sungai Tayawi ini masih memiliki potensi hewan yang melimpah baikrusa, babi ataupun udang. Dan yang lebih penting lagi adalah sungai Tayawi ini tidakdikuasai oleh MTD lainnya. Beberapa sungai lain di Halmahera sudah dikuasai oleh MTDdiantara adalah MTD Dodaga, menguasai sungai Dodaga di Halmahera Timur, dan MTDAkejira, menguasai sungai Akejira di Halmahera Tengah. Masyarakat Tobelo Dalam Tayawi, MTD Dodaga dan MTD Akejira masih memilikihubungan kekerabatan. Ada salah satu anggota MTD Tayawi yang orang tuanya berasaldari MTD Dodaga Halmahera Timur. Dia adalah istri dari Antonius. Antonius menceritakanbahwa Istrinya sewaktu kecil pernah bermukim di sungai Dodaga dengan kedua orang 3
  4. 4. tuanya. Hal ini menjelaskan bahwa ada sebagian dari kelompok MTD Tayawi berasal dariMTD Dodaga. Selain berasal dari Dodaga, MTD Tayawi juga ada yang berasal dari wilayah SungaiAkejira yang terletak di sebelah timur tayawi, Halmahera Tengah. Kelompok Akejira danTayawi sebelumnya memiliki hubungan baik namun dikarenakan ada suatu masalahsehingga sampai saat ini hubungan tersebut menjadi hubungan permusuhan. KelompokMTD tayawi tidak bisa melewati wilayah Akejira dan begitu pula sebaliknya. Permusuhanini diawali dengan diculiknya perempuan Akejira yang waktu itu sedang melakukanperburuan di wilayah sungai Tayawi. Perempuan itu diculik dan dijadikan istri oleh Kahohoyang merupakan ketua suku MTD wilayah tayawi. Setelah beberapa tahun menikahperempuan yang diculik tersebut meminta ijin Kahoho untuk menemui keluarganya diAkejira. Kahoho mengijinkan dan mengantar istrinya pergi menemui keluarganya. Sampaidi Akejira, istrinya tidak mau kembali ke Tayawi bersama Kahoho dan Kahoho diusirpaksa oleh MTD wilayah Akejira. Selama proses pengusiran tersebut terjadi pertarunganyang menyebabkan tewasnya 2 (dua) orang dari wilayah Akejira. Berawal dari peristiwatersebut antara MTD Tayawi dan Akejira saling bermusuhan sampai saat ini walaupundulunya pernah ada hubungan diantara mereka. MTD Tayawi juga ada yang berasal dari wilayah sekitar yaitu Desa Payahe danSidanga. Hal ini terjadi dikarenakan adanya perkawinan antara MTD dengan pendudukwilayah tersebut. Terdapat 4 (empat) pasangan yang suami/ istrinya bukan merupakanketurunan asli MTD yaitu keluarga Antonius (Suami berasal dari Payahe), Mishak (Istriberasal dari Sidanga), Lepa (Istri berasal dari Sidanga) dan Dokobus (Istri berasal dariSidanga). Berdasarkan dari hasil data lapangan di atas dapat diketahui bahwa MTD WilayahTayawi bukan merupakan suku asli wilayah tersebut. Mereka berasal dari wilayah wilayahlain (Dodaga dan Akejira) yang kemudian membentuk komunitas baru di wilayah SungaiTayawi. Komunitas ini terbentuk karena perilaku mereka yang suka berpindah pindah danmasih menggantungkan terhadap hasil hutan baik hewan atau tumbuhan. 4
  5. 5. Kehidupan Ekonomi MTD Tayawi MTD merupakan salah satu kelompok masyarakat asli halmahera yang mempunyaikehidupan mengembara di hutan halmahera. Pola pengembaraan semacam ini dalamkajian antropologi dapat didefinisikan sebagai kelompok berburu dan meramu (Indriani,2009). Ciri paling khas dari kelompok berburu meramu adalah memanfaatkan seluruhpotensi sumber daya alam secara tradisional demi kelangsungan hidupnya. Prosesmempertahankan hidup dilakukan dengan memenuhi kebutuhan akan makanan,kebutuhan tempat tinggal dan kebutuhan dasar lainnya. Pada MTD Tayawi, kebutuhan akan makan dilakukan dengan cara berburu dihutan dalam jangka waktu tertentu. Kegiatan berburu di hutan biasanya mereka lakukanselama 5 (lima) hari yaitu hari Senin hingga Jumat lalu kembali pada hari sabtu hinggaminggu untuk beribadah di gereja. Kegiatan berburu yang umumnya dilakukan adalahberburu babi hutan, rusa, biawak, sugili (belut) dan kuskus. Cara berburu kelompok ini pun masih menggunakan cara yang sederhana. Merekaberburu dengan memasang jerat di daerah yang merupakan tempat/ jalur babi hutan ataurusa. Dengan menggunakan tegakan yang masih muda, mereka mengikat tali padategakan tersebut dan menariknya hingga melengkung. Tali dibuat simpul sedemikian rupasehingga hewan buruan yang menginjak tali tersebut dapat tersangkut dan tertarik olehtegakan yang melengkung. Hewan buruan yang terjerat kemudian dipanah atau ditusukdengan tombak hingga mati. Pada masa dahulu ketika mereka masih tinggal nomaden(berpindah-pindah), hewan hasil buruan itu akan langsung dimakan bersama-sama dalamsatu kelompok itu tetapi sekarang, karena mereka sudah memiliki tempat tinggal yangbisa dikatakan menetap maka semua hewan hasil buruan tersebut dikumpulkan untukkemudian dimakan bersama saat beribadah di gereja. Seiring dengan perkembanganzaman dan pertemuan dengan dunia luar, mereka sekarang sudah mengenal nilaiekonomis dari daging hewan buruan mereka. Jadi selain untuk dikonsumsi sendiri, adasebagian daging hewan buruan tersebut yang dibuat makanan olahan yaitu dendeng 5
  6. 6. daging babi atau rusa. Lalu mereka menjualnya ke masyarakat desa sekitar atau orangyang menyukai makanan itu. Sumber foto : Dok. TNAL, 2012 Babi Hutan Hasil Buruan yang Di Asap Untuk Dibuat Dendeng Selain berburu hewan di hutan, sekarang mereka sudah mengenal bercocoktanam. Perkenalan mereka dengan bercocok tanam bukan karena dikenalkan tetapikarena melihat masyarakat desa Koli dan orang Jawa –tidak jauh dari tempat tinggal MTDada perkampungan transmigrasi yang seluruhnya adalah orang Jawa—yang bercocoktanam. Tanaman yang Masyarakat Tobelo Dalam tanam diantaranya adalah tanamantahunan seperti kelapa dan coklat dan tanaman musiman seperti ubi jalar, ketela pohon,pepaya dan pisang. Metode bercocok tanam yang dilakukan masih sangat sederhana dantidak beraturan. Hal itu disebabkan karena ternyata mereka belum mengenal pengolahanlahan sebelum penanaman, pemupukan ataupun pengairan. Peralatan yang digunakanpun masih sebatas parang untuk membersihkan lahan. Cangkul yang seharusnyadigunakan untuk mengolah lahan juga masih belum mereka manfaatkan secara optimal.Kenyataan tersebut terjadi karena mereka tidak memiliki pengetahuan tentang menanamdan tidak ada yang mengajarkan mereka tentang cara bercocok tanam yang benar. Jadicukup wajar jika hasil kebun yang diperoleh masih sangat terbatas dan bahkan kuranguntuk kebutuhan sehari hari. Namun dalam memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari 6
  7. 7. mereka selain berasal dari berburu, berkebun dan memancing, mereka juga masihmendapatkan makanan dengan cara meramu2. Biasanya mereka mengambil buah-buahanyang telah matang di pohon seperti buah pisang, matoa dll, dan juga mereka terkadangmengolah pohon sagu untuk menjadi sumber makanan karbohidrat.Tempat Tinggal MTD TAyawi MTD Tayawi lebih banyak melakukan aktivitasnya di dalam hutan. Bagi merekahutan merupakan tempat tinggalnya. Untuk tempat tidur dan tempat bernaung merekamembuat rumah yang sangat sederhana. Mereka membuat dari bahan bahan alami yangmudah ditemukan dan didapatkan dari hutan. Pohon yang mereka tebang dan kemudiandibelah digunakan sebagai tiang rumah atau lantai rumah. Lantai rumah dibuat panggunguntuk menghindari luapan sungai dan ancaman binatang buas. Atap rumah dibuat daridaun woka yang disusun sedemikian rupa sehingga matahari dan air hujan tidak tembus.Ada juga perapian untuk memasak dan menghangatkan badan kala cuaca dingin. Gambar 2 Rumah Tempat Tinggal MTD Tayawi Pada MTD Tayawi terdapat beberapa keluarga yang memiliki rumah sedikit bagus,yaitu rumah milik Anton dan Mishak. Rumah Anton berbentuk panggung berukuran2 Meramu adalah kegiatan mengumpulkan makanan dari tanaman yang tumbuh sendiri di sekitar mereka. 7
  8. 8. kurang lebih 6 X 8 m dan sudah terdapat kamar, dapur serta ruang keluarga. Rumahtersebut sudah memiliki dinding berupa papan dan atap terbuat dari seng. Sedangkanrumah keluarga Mishak merupakan sisa bantuan proyek rumah dari Dinas Kota TidoreKepulauan yang saat ini hanya tersisa 2 (dua) unit yaitu milik pendeta dan Misakh (ketuasuku). Sedangkan perumahan yang lain sudah dibongkar dan dirobohkan dan kayu sisasisa rumah digunakan untuk kayu bakar, kembali ke bentuk rumah asli mereka. Merekamerobohkan rumah karena masih belum bisa tinggal dirumah yang tertutup danberatapkan seng. Hal ini disebabkan atap seng mengeluarkan bunyi keras ketika hujan.Suara keras tersebut seperti suara tembakan yang membuat mereka, MTD, takut dantidak mau tinggal. MTD Tayawi juga memiliki rumah yang terdapat dalam hutan. Rumah tersebutmerupakan rumah singgah yang dibuat dan digunakan pada waktu mereka sedangmelakukan kegiatan berburu pada lokasi yang sangat jauh. Selain itu, rumah tersebut jugadijadikan tanda sebagai wilayah kekuasaan sehingga MTD dari wilayah lain tidak akanmasuk dalam wilayah tersebut. Bagi MTD keberadaan satu rumah menandakan adanya satu keluarga batih. Jikapada suatu tempat terdapat satu sampai lima rumah maka berarti ada satu sampai limakeluarga batih yang mempunyai pertalian keluarga. Biasanya setelah hidup di tempattersebut beberapa bulan maka kemudian mereka berpindah dan membuat tempatkediaman di kawasan lain (Farida, 2009). Saat ini MTD Sungai Tayawi sudah mengenal bentuk rumah yang berdinding danberatapkan seng seperti rumah masyarakat pada umumnya. Mereka sudah mulai terbiasadengan bunyi keras yang dikeluarkan seng pada waktu hujan. Hal ini dikarenakan sudahada sebagian MTD tayawi yang sudah berubah dengan membuat rumah seperti rumahmasyarakat pada umumnya. 8
  9. 9. Sistem perkawinan Dilihat dari sistem perkawinanannya, MTD Tayawi tidak mengenal ritualpernikahan. Bila seorang laki laki dan perempuan saling suka maka mereka bisa langsungtidur bersama dan mengikrarkan sebagai suami istri. Tapi jika yang perempuan tidak sukamaka biasanya sang laki laki akan menculik perempuan tersebut untuk diajak hidupbersama tanpa ada suatu acara ritual apapun bahkan persetujuan orang tua dari keduabelah pihak. Budaya menculik perempuan pada MTD tersebut menuntut seorang laki laki lebihmenjaga istrinya. Seorang laki laki akan selalu membawa istri dan anak-anaknyakhususnya ketika masuk hutan untuk berburu. Mereka cukup jarang sekali meninggalkanistri dan anaknya tinggal di rumah sendirian. Seorang laki laki dapat merebut istri oranglain dengan berbagai cara baik secara terang terangan maupun sembunyi sembunyi baikdengan bujukan atau paksaan. Pada MTD Tayawi juga dijumpai kebiasaan poligami dan pada kasus tertentu adakecenderungan terjadi poliandri. PAda komunitas MTD TAyawi terdapat satu perempuanyang memiliki dua suami. Mereka tinggal dalam satu pemukiman. Hal ini menunjukkanbahwa seorang perempuan juga diberikan kebebasan menerima laki laki lain selainpasangannya jika memang sang perempuan itu menyukai lelaki tersebut (Farida, 2009). Dalam MTD juga sering dijumpai hubungan incest yaitu perkawinan antar saudaraatau yang memiliki hubungan sedarah. Hal ini terjadi dalam MTD Tayawi dimana terdapatperkawinan antar saudara sepupu. Farida (2009) menuliskan bahwa hubungan incest lebihsering terjadi pada kelompok kecil dimana jumlah individunya tidak terlalu banyak.Kebutuhan untuk memperbesar anggota kelompok mendorong hal tersebut terjadi.Apalagi diperlukan jumlah pendukung yang loyal sehingga saat hubungan incest terjadidiharapkan keturunannya dapat menjadi pendukung yang loyal. Kondisi bisa berbeda padakelompok besar dimana pilihan pasangan cukup tersedia sehingga hubungan incestberkurang. 9
  10. 10. Satu hal lagi yang unik dari kelompok masyarakat ini yaitu dalam hal prosespersalinan, seorang suami memiliki peran yang sangat penting dalam proses ini. Suamilahyang bertanggung jawab dalam membantu proses persalinan mulai dari mengeluarkananak sampai memotong tali pusar. Proses persalinan ini tanpa dibantu oleh siapapuntermasuk keluarga. Selama proses persalinan, sang suami memanaskan air sampai prosespersalinan selesai. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dan memperlancar prosespersalinan istrinya. Air mendidih yang dimasak dipercaya dapat menstabilkan suhu tubuhistri dan bayi yang dikandungnya sehingga proses persalinan dapat berjalan lancar.Sebab MTD berpindah pindah MTD merupakan salah satu masyarakat tradisional di Indonesia yang hidupnyamasih sangat tergantung pada sumber daya hutan. Hutan merupakan rumah utamamereka tempat melakukan semua aktivitas seperti berburu rusa/ babi, berkebun, mencariikan/udang dan bahkan aktivitas suami istri. Mereka hidup secara nomaden dan selaluberpindah pindah dari satu lokasi ke lokasi. Beberapa hal yang mendorong MTDberpindah yaitu : 1. Adanya anggota komunitas yang meninggal Jika ada salah satu anggota dari komunitas MTD yang meninggal maka dianggap lokasi/ wilayah tersebut sudah tidak layak dijadikan tempat tinggal. Mereka beranggapan bahwa orang yang meninggal jiwanya sudah menyatu dengan roh/ arwah jahat yang dapat membawa malapetaka bagi mereka. Kepercayaan itu yang mendorong MTD untuk meninggalkan lokasi tempat tinggalnya/ 2. Hewan piaraan (anjing) yang mati Anjing merupakan hewan piaraan yang dianggap paling mulia oleh MTD. Anjing adalah teman setia yang menjaga keselamatan dan membantu MTD dalam mencari kebutuhan nafkah sehari hari. Begitu sayangnya dengan hewan piaraannya mereka rela tinggal berjauhan antara satu keluarga dengan keluarga 10
  11. 11. yang lain. Hal ini untuk menghindari adanya perkelahian antar hewan piaraan. Jika antar hewan piaraan bertengkar maka akan diteruskan dengan pertengkaran antar pemilik sehingga menyebabkan konflik dalam komunitas MTD. Adanya hubungan yang erat tersebut dan adanya anggapan bahwa anjing adalah bagian dari keluarga maka mereka memperlakukan anjing seperti manusia. Jika ada anjing yang mati maka mereka juga akan meninggalkan lokasi tersebut dan mencari lokasi baru. 3. Terdapat anggota yang sakit kritis dan dianggap tidak memiliki harapan hidup Anggota komunitas MTD yang menderita sakit kritis dan dianggap sudah tidak bisa disembuhkan lagi akan ditinggalkan komunitasnya. Mereka hanya meninggalkan beberapa buah pisang di dekat anggota yang sakit tersebut. Mereka beranggapan bahwa orang yang sakit dan tidak bisa disembuhkan akan merepotkan komunitas tersebut. 4. Keberadaan hewan buruan Keberadaan hewan buruan merupakan faktor penentu dalam pemilihan suatu lokasi. Selain dekat dengan sungai, tidak didaerah yang kena banjir akibat luapan air sungai, dalam penentuan lokasi pemukiman juga bergantung dari banyak tidaknya hewan buruan di wilayah tersebut. Wilayah hutan yang dianggap sudah tidak ada hewan buruannya akan mereka tinggalkan dan mencari lokasi baru. Perilaku MTD yang suka berpindah pindah (nomaden) ini berpengaruh terhadapbentuk bangunan rumah yang mereka buat. Mereka membuat rumah yang sangatsederhana berbentuk panggung yang terbuat dari kayu dan beratapkan daun woka tanpadinding. Rumah tersebut hanya berukuran 3 x 3 m atau bahkan ada yang hanya 2 x 3 m.Dikomunitas MTD Blok Tayawi hanya ada 3 (tiga) keluarga yang memiliki rumah sedikitlayak (beratap seng dan berdinding) yaitu keluarga Anton, Melianus dan Mishak.Sedangkan 8 (delapan) keluarga yang lain bisa dikatakan mendiami tempat tinggal yangbagi kita masyarakat modern tempat itu tidak bisa disebut sebagai rumah karena tidak 11
  12. 12. layak untuk dihuni. Bentuk rumah yang sederhana memudahkan mereka dalam membuatdan merobohkan jika sudah tidak digunakan lagi. Seiring dengan berjalannya waktu dan pertemuan dengan masyarakat luar,Masyarakat Tobelo Dalam Tayawi telah mengalami sedikit pergeseran kebiasaan hidupmereka. Bahkan sejak kedatangan misionaris ke perkampungan mereka. Pergesarantersebut diantaranya adalah mereka sudah mengenal hidup menetap meskipun bersifatsementara dan telah mengenal agama. Di tengah-tengah perkampungan mereka sudahada bangunan gereja, tempat mereka beribadah di hari minggu. Dengan adanya agama inimenjadikan mereka tidak bisa berlama-lama tinggal di dalam hutan karena mereka harussegera pulang untuk beribadah. Selain mereka telah mengenal agama, sumber matapencaharian merekapun bertambah dengan dikenalnya berkebun walaupun masih sangatsederhana. Meskipun mereka telah mulai berinteraksi dengan orang di luar mereka dansedikitnya telah menerima perubahan sayangnya perubahan tersebut berjalan lambat dantidak banyak mempengaruhi kehidupan mereka.Sumber : TNAL, 2012 Kebun MTD Yang Ditanami Tanaman Tahunan dan Musiman 12
  13. 13. Penutup Setiap kebudayaan yang ada dalam suatu masyarakat pasti akan mengalamiperubahan baik itu perubahan yang berjalan dengan cepat maupun lambat. Bahkanperubahan dapat terjadi secara sengaja maupun tidak disengaja. Contohnya adalahmasyarakat MTD Tayawi yang berdasarkan cerita di atas, juga telah mengalami perubahandiantaranya adalah mereka telah mengenal agama, setelah dahulunya mereka beralirananimisme, sekarang juga mereka sudah mengenal berpakaian, beras –mengganti makananutama dari hasil hutan menjadi beras,mengenal rokok, dan handphone –alat komunikasiini tidak digunakan untuk berkomunikasi tetapi untuk mendengarkan lagu-lagumasyarakat Tobelo. Hewan buruan yang dulunya hanya digunakan untuk memenuhikebutuhan sendiri sekarang sudah mulai dijual belikan. Sayangnya sampai saat ini MTDTayawi masih belum mengenal diantaranya adalah pendidikan dan kesehatan yang baik. Kenyataan tersebut mendorong kami untuk sedikit demi sedikit mendorongterjadinya perubahan kebudayaan ke arah yang lebih baik khususnya perubahan dalamupaya menjaga dan melindungi hutan yang menjadi tempat sumber mata pencaharianmereka. Karena pada dasarnya perubahan kebudayaan dapat juga direncanakan (Ember R,Carol dan Melvin Ember, 1973). Dengan demikian diharapkan kami sebagai pemerintahdapat mengenalkan perubahan kebudayaan yang baru secara sadar kepada merekakhususnya dalam menjaga dan mengurangi kerusakan di kawasan hutan Taman NasionalAketajawe Lolobata sebagai sumber kehidupan mereka.Daftar PustakaIndriani Farida, 2009. Komunitas Tobelo Dalam Di Sekitar Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Laporan teknis No. 07 Program Kemiteraan Untuk Pengelolaan Konservasi di Kawasan TN Aketajawe Lolobata. Burung Indonesia, Bogor.Ember R Carol dan Ember Malvin, 1973. Cultural Anthropology (terjemahan). Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 13

×